Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020
--
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTHES DARI SAMPEL KUKU DAN TINJA PADA PEKERJA
TAMBANGDI PT. INDONESIA MOROWALI INDUSTRIAL PARK (IMIP)
Rosdarni1, La Ode Saafi 2 , Fitriani H. Karim 3.
[email protected] 1 , [email protected] 3
STIKES Mandala Waluya Kendari
ABSTRAK
Kecacingan merupakan penyakit yang menyebabkan karena masuknya parasit seperti cacing didalam tubuh manusia yang ditularkan melalui makanan, minuman, dan infiltrasi kulit dengan memerlukan tanah sebagai media penularannya. Diagnosis kecacingan dapat ditentukan dengan ditemukannya telur cacing pada pemeriksaan feses. Diagnosis feses merupakan
pemeriksaan gold standartdalam pemeriksaan feses.
Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif menggunakan rancangan cross sectional yakni perbedaan hasil pemeriksaan telur cacing Soil Transmitted Helminthes dari sampel kuku dan tinja. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuku dan tinja pekerja tambang berjumlah 28 sampel. Data penelitian dianalisis dengan uji statistik non parametrik (Run Test). Hasil uji hipotesis pada sampel kuku menunjukkan nilai sig. 0,000 < α (0,05), maka ada perbedaan hasil pemeriksaan telur cacing Soil Transmitted Helminthes dari sampel kuku dan tinja Sedangkan pada sampel feses menunjukkan nilai sig. 0.096 > α (0,05), maka tidak ada perbedaan hasil pemeriksaan telur cacing Soil Transmitted Helminthes dari sampel kuku dan tinja.
Hasil pemeriksaan dari 28 sampel kuku dan tinja didapatkan 8 sampel (28,6%) positif terinfeksi telur cacing pada sampel tinja yaitu 1 telur cacing Ascaris lumbricoides (3,6%) dan 7 telur cacing Hookworm(25%). Untuk peneliti selanjutnya untuk dapat menghindari dan mengantisipasi kesalahan dan kekurangan yang ada dalam penelitian ini sehingga diharapkan mencapai hasil yang lebih baik.
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 PENDAHULUAN
Kecacingan merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena masuknya parasit seperti cacing didalam tubuh manusia yang ditularkan dengan melalui makanan, minuman, dan infiltrasi kulit dengan memerlukan tanah sebagai tempat penularannya. Jenis-jenis cacing yang sering ditemukan dan dapatmenyebabkan infeksi pada manusia yaitujenis cacing golongan Soil
Transmitted Helminthes (STH), yang
penularan ataupun daur hidupnya membutuhkan tanah sebagai tempat untuk mencapai stadium yang infektif. Infeksi cacingan dapat menyebabkan menurunnya kondisi kesehatan penderita (Ikawati dkk, 2016).
Menurut World Health Organization
(WHO) pada tahun 2014, lebih dari 1,5 miliar manusia, atau 24% dari penduduk dunia terkena cacing Soil Transmitted Helminthes
(STH). Infeksi menyebar luas didaerah tropis atau subtropis dengan angka terbanyak terjadi di sub-Sahara Afrika, Amerika, Cina dan Asia Timur. Pada tahun 2015, total kecacingan untuk Soil Transmitted Helminthes ialah 711.000.000 (150 juta anak-anak prasekolah, 561 juta anak usia sekolah. Pada tahun 2016, total kecacingan adalah sebanyak 75% (WHO, 2014).
Aktivitas pekerja tambang tergolong dalam golongan resiko tertinggi terkena infeksi kecacingan (Tuuk dkk., 2020).
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Rizkiani dkk., (2018) menyatakan jenis cacing tambang banyak ditemukan di daerah pedesaan, dan juga banyak menginfeksi para pekerja di daerah pertambangan tersebut yang kontak langsung dengan tanah. Bebarapa penyebab yang dapat menyebabkan tertelannya telur cacing Ascaris
lumbricoides berhubungan dengan
kebiasaan tidak memotong kuku, tidak mencuci tangan dengan bersih ketika akan menyantap makanan dan setelah selesai Buang Air Besar (BAB). Beberapa penyebab masuknya larva Necator
americanus didalam kulit adalah tidak
memakai alas kaki saat melakukan aktivitas diluar rumah (Trilusiani, 2013).
Survei yang dilakukan oleh calon peneliti ditemukan bahwa para pekerja tambang kebanyakan hanya menggunakan sarung tangan yang terbuat dari kain, penggunaan alas kaki berupa sepatu boot
jarang digunakan, dan sebagian dari mereka para pekerja tidak memakai masker ketika melakukan pekerjaan sehingga hal tersebut dapat menyebabkan tertelanlannya telur dan larva cacing melalui mulut atau hidung yang diterbangkan oleh udara. Dimana, semua ini menjadi penyebab terjadinya media penyebaran Soil Transmitted Helminthes. Beberapa penelitian yang mendukung hal tersebut diantaranya, menurut Bujawati,
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 dkk (2019) penggunaan alat pelindung diri
(APD) harus dipakaidengan lengkap karena sebagian pekerja yang memakai APD tetapi tidak lengkap dapat dengan mudahkemasukkan telur cacing melalui berbagai organ tubuh yaitu tangan, kaki, dan mulut.
Kabupaten Morowali khususnya Kecamatan Bahodopi, kejadian terinfeksi cacingan masih menjadi permasalahan. Berdasarkan data yang diperoleh di Puskesmas Bahodopitahun 2020 berjumlah 29 orang terinfeksi kecacingan dalam 3 bulan terakhir. Permasalahan ini terjadi karena beberapa faktor antara lain perilaku dan kebiasaan masyarakat yang tidak sehat, situasi lingkungan masyarakatyang keadaan tanahnya lembab, ilmu pengetahuan masyarakat rendah dan profesi pekerjaan. Survei yang telah calon peneliti lakukan di klinik PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Informasi data mengenai peristiwa infeksi kecacingan khususnya pada pekerja tambang nikel di PT. IMIP sampai penelitian ini dilaksanakan belum ada.
Diagnosis feses adalah suatu pemeriksaan gold standard yang sering dikerjakan untuk mendeteksi adanya infeksi STH, tetapi menurut beberapa penelitian, pada pemeriksaan kotoran kuku juga dapat ditemukan telur cacing. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti “Perbedaan Hasil Pemeriksaan Telur Cacing
Soil Transmitted Helminthes dari Sampel
Kuku dan Tinja pada Pekerja Tambang di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)”
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif menggunakan rancangan cross sectional. Pada penelitian ini dilaksanakan untuk membedakan pemeriksaan menggunakan bahan tinja dan kuku. Populasi dalam penelitian ini yaitu pekerja tambang sebanyak 29 orang, dan sampel dalam penelitian ini yaitu pekerja tambang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling.
HASIL
Analisis Deskriptif 1. Pemeriksaan Feses
Hasil distribusi frekuensi pada pemeriksaan feses.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan Feses Hasil Pemeriksaan Frekuensi (n) Presentas e (%) Positif 8 28,6 Negatif 20 71,4 Total 28 100,0
Sumber : Data Primer, Diolah, 2020.
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat dilihat hasil penelitian yang di dapatkan bahwa dari 28 pekerja, Jumlah pekerja yang terinfeksi positif kecacingan Soil
Transmitted Helminthes (STH) pada sampel
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 negatif tidak terinfeksi STH sebanyak 20 orang
(71,4%).
Tabel 2. Hasil Identifikasi Telur Cacing
Soil Transmitted Helminthes
Pemeriksaan Feses Jenis Cacing Frekuen
si (n) Persentase (%) Ascaris lumbricoides 1 3,6 Hookworm 7 25 Negatif 20 71,4 Total 28 100,0
Sumber : Data Primer, Diolah, 2020.
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat hasil identifikasi telur cacing STH dengan sampel feses didapatkan 1 terinfeksi telur cacing
Ascaris lumbricoides dengan persentase (3,6%),
Hookworm sebanyak 7 (25%), dan yang tidak
terinfeksi telur cacing sabanyak 20 orang (71,4%).
2. Pemeriksaan Kuku
Hasil distribusi frekuensi pada pemeriksaan feses.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Hasil Pemeriksaan Kuku Hasil Pemeriksa an Frekuensi (n) Persentase (%) Negatif 28 100% Total 28 100%
Sumber : Data Primer, Diolah, 2020.
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat dilihat hasil penelitian yang didapatkan bahwa dari 28 pekerja tambang tidak didapatkan hasil positif terinfeksi cacing pada kuku pekerja dengan persentase 100% tidak terinfeksi kecacingan.
Tabel 4. Hasil Identifikasi Telur Cacing Soil Transmitted
Helminthes Pemeriksaan
Kuku Jenis Cacing Frekuensi
(n)
Persentase (%)
Negatif 28 100%
Total 28 100%
Sumber : Data Primer, Diolah, 2020.
Berdasarkan tabel 10 diatas dapat dilihat hasil identifikasi telur cacing STH dengan sampel kuku tidak ditemukan adanya telur cacing yang menginfeksi kuku pekerja tambang sehingga persentase 100% tidak ditemukan jenis telur cacing.
Analisis Inferensial 1. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data yang digunakan yaitu Shapiro-Wilk. Adapun hasil uji normalitas data dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data
Jenis jenis cacin g Shapiro-Wilk pPemeriksaa n N Df sig Kesimp ulan P pemeriksaa tinja ada 28 28 0.0 0 Tidak normal pemeriksaa kuku Tidak ada 28 28 0.0 0 Tidak normal
Sumber : Data Primer, Diolah, 2020.
Pada tabel 5 diatas dapat dilihat hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada pemeriksaan telur cacing antara tinja dan kuku karena nilai signifikan yang diperoleh 0,000 yaitu<0.05. Hal ini menunjukkan bahwa
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 data tidak berdistribusi normal
2. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dimaksudkan untuk melihat perbedaan hasil pemeriksaan telur cacing Soil Transmitted Helminthes antara sampel kuku dan tinja.
Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis
Jenis Peemeriksaan N Sig. Pemeriksaan Tinja 28 .096 Pemeriksaan Kuku 28 .000
Tabel 6 merupakan hasil uji hipotesis menggunakan Run Test. Hasil uji hipotesis pada sampel tinja menunjukkan nilai signifikan .096 yakni >0.005 yang berarti H0 dterima, H1 ditolak yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan kuku dan tinja pada pekerja tambang. Sedangkan hasil uji signifikan pada sampel kuku menunjukkan nilai signifikan .000 yakni <0,005 yang berarti H0 ditolak, H1 diterima yaitu terdapat perbedaan yang signifikan pada sampel kuku dan tinja pada pekerja tambang.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan dari 28 sampel, menunjukkan 8 sampel positif terinfeksi telur cacing Soil Transmitted Helminthes dengan persentase (28,6%) serta 20 sampel tidak terinfeksi telur cacing Soil Transmitted
Helminthes dengan persentase (71,4%).
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil telur cacing
Ascaris lumbricoides dan Hookworm pada
sampel feses. Menurut Bedah (2018) bahwa hal ini disebabkan karena Ascaris
lumbricoide tumbuh lebih baik pada tanah
dengan kelembaban dan suhu sekitar 25oC - 30oC, sedangkan untuk Hookworm
tumbuh lebih baik pada tanah dengan suhu optimum 28oC-32oC. Penyebab lain terjadinya infeksi kecacingan adalah karena keadaan cuaca. Penelitian ini dilakukan ketika dalam keadaan musim kemarau dan musim hujan yang suhunya kurang dari 30oC, ini merupakan suhu optimum yang dapat berkembangnya telur cacing.
Dengan didapatnya telur cacing
Ascaris lumbricoides dan Hookworm
dalam penelitian ini, hal ini menandakan prevalensi Ascaris lumbricoides dan
Hookworm masih cukup tinggi. Menurut
Wikandari., dkk (2019) bahwa pada umumnya prevalensi Hookworm atau cacing tambang di beberapa wilayah di Indonesia, lebih banyak didapatkan pada orang dewasa. Prevalensi lebih tinggi didapatkan pada wilayah perkebunan dan pertambangan.
Pada pemeriksaan feses ini lebih banyak didapatkan hasil positif telur cacing dari pada pemeriksaan kotoran kuku, walaupun mempunyai kebersihan kuku yang buruk (kuku kotor) akan tetapi tidak ditemukan adanya telur cacing, hal ini dapat disebabkan karena para pekerja tambang membiasakan diri mencuci
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 tangan sebelum dan memegang makanan
dengan menggunakan sabun, membersihkan, tidak membiasakan menggigit kuku dan membiasakan menggunakan sabun stelah buang air besar. Sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya seperti Lutfiansyah dkk., (2015) bahwa pada pemeriksaan kotoran kuku tidak ditemukan telur cacing.
Pada sampel feses pekerja tambang lebih banyak ditemukan telur cacing tambang
(Hookworm). Menurut hasil penelitian
Rizkiani dkk., (2018) bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para penambang pasir tersebut didapat 6 orang positif cacing tambang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan Tuuk., dkk (2020) menyatakan bahwa pada penelitian penambang yang mengalami infeksi kecacingan sebanyak 16 orang dari 86 sampel dan semua sampel positif terinfeksi cacing STH jenis Hookworm (cacing tambang). Penyebab terjadinya infeksi cacing tambang tersebut disebabkan karena para pekerja yang kontak langsung dengan lingkungan kerja yaitu tanah dan pasir. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Samidjo (2009) menyatakan bahwa jenis cacing tambang banyak terjadi di daerah pedesaan, juga banyak menginfeksi para pekerja di daerah pertambangan yang kontak langsung dengan tanah.
Dari hasil pemeriksaan feses juga didapatkan telur cacing Ascaris lumbricoides, hal ini dikarenakan tempat BAB (Buang Air Besar) di dalam perusahaan tersebut yang
kurang baik dan kebiasaan para pekerja yang selalu membeli sarapan pagi sebelum berangkat kerja dan membawanya ditempat kerja untuk dimakan, hal ini dapat menyebabkan masuknya telur cacing yang dibawah lewat udara atau lalat kedalam makanan. Menurut Krishnandita., dkk (2019) bahwa faktor resiko yang berpengaruh pada infeksi kecacingan yaitu faktor kebersihan lingkungan yang terdiri dari sumber air, tempat pembuangan kotoran manusia, dan kebersihan makanan. sejalan dengan pendapat Sihombing dan Erdiana (2018) bahwa jika lalat hinggap di tinja yang mengandung telur cacing, hal ini dapat menyebabkan sumber infeksi jika menghinggapi makanan atau minuman serta perlengkapan alat-alat makan.
Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan Run Test didapatkan hasil nilai signifikan pada sampel tinja 0,096 yang berarti >0,005. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan kuku dan tinja. Sedangkan pada sampel kuku didapatkan nilai signifikan 0,000 yang berarti <0,005. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan kuku dan tinja.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 1. Jenis parasit Soil Transmitted Helminthes
yang ditemukan pada sampel feses pekerja tambang yaitu Ascaris lumbricoides dan
Hookworm.
2. Hasil persentase yang didapatkan pada sampel kuku yaitu 100% tidak ditemukan adanya telur cacing pada kuku pekerja tambang.
3. Hasil persentase yang didapatkan pada sampel feses pekerja tambang yaitu 28,6%. 4. Perbedaan dari hasil pemeriksaan ini antara
sampel kuku dan tinja yaitu pada sampel kuku tidak ditemukan jenis cacing Soil
Transmitted Helminthes, sedangkan pada
sampel tinja ditemukan 2 jenis cacing Soil
Transmitted Helminthesyaitu telur cacing
Ascaris lumbricoides dan Hookworm.
DAFTAR PUSTAKA
Bedah, S., dan Adelina, S. 2018. Infeksi Kecacingan Pada Anak Usia 8-14 Tahun Di RW 007 Tanjung Lengkong Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur. Jurnal Ilmiah Kesehatan. 10(1). 20-31.
Ikawati, K., Rahadi, W., Ariani, L., Adi, M. S. 2016. Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sanitasi Lingkungan Terhadap Kecacingan Pada Pemulung. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat
STIKES Cendekia Utama Kudus. 2(4).
63-73.
Krishnandita, M., I Kadek, S., I Made, S. 2019. Prevalensi dan Tingkat Pengetahuan Mengenai Infeksi Soil Transmitted Helminthes pada Siswa SDN 4 Sulangai, Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Medika
Udayana. 8(6). 38-45.
Lutfiansyah, Iqbal M. R., dan Lagiono. 2015. Pemeriksaan Telur Cacing Pada Kotoran Kuku dan Personal Hygiene Siswa Kelas 1 SD Negeri Batuante Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun 2015. Keslingmas. Vol. 34. Hal. 238-241.
Rizkiani, M., Puspawati., Dewi, R. 2018. Gambaran Infeksi Cacing Tambang pada Penambang Pasir di Desa Pembataan Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru Tahun 2018. Jurnal ERGASTERIO. 6(1). 26-30.
Sihombing, J. R, Erdiana, G. 2018. Analisis Telur Cacing Ascaris lumbricoides pada Feses Anak Usia 4-6 Tahun di TK Nurul Hasanah Walbarokah (NHW) Marelan Tahun 2018. Jurnal
Kesehatan Masyarakat dan
Lingkungan Hidup. 5(1). 422-433.
Samidjo, J. 2009. Buku Kuliah Parasitologi
Medik (Medical Parasitology)
Helmmin-tologi. Stikes Jendral
Achmad Yani Bandung. Bandung.
Trilusiani, S. 2013. Hubungan Aspek personal Higiene dan Aspek Perilaku Berisiko dengan Kontaminasi Telur Cacing pada Kotoran Kuku Siswa Kelas 4,5, dan 6 Sekolah Dasar Negeri 1 Pinang Jaya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013.
Skripsi.Universitas Lampung:
Lampung.
Tuuk, H.A.V., Victor, D. P., Janno, B.B.B. 2020. Survei Penyakit Kecacingan pada Pekerja Tambang Tradisional di Desa Soyoan Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara.
Jurnal eBiomedik. 8(1). 81-89.
Wikandari, R. j., Nurul, Q., Teguh, B., Masrifan, D. 2019. Deteksi Cacingan Melalui Pemeriksaan Feses dan Kuku pada Anak Panti Asuhan Kyai Ageng Fatah Pedurungan. Jurnal
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020
LINK. 15(1). 32-35.
World Health Organization. 2014. Soil
Transmitted Helminthiases. Eliminating
Soilt Transmitted Helminthiases as a
Public Health Problem in Children.
(online). Avaible from:
http://whqlibloc.who.int/publicrelation/2
014/9789241503129 ey.pdf. Di akses