MAKALAH
MAKALAH
PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENDIDIKAN KARAKTER
PENDIDIKAN KARAKTER
Disusun untuk memenuhi tugas Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengarnpu : Dosen Pengarnpu : Prof. Dr. Nur Ahid, M.Ag. Prof. Dr. Nur Ahid, M.Ag.
Disusun Oleh : Disusun Oleh : Jaenuri Jaenuri PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT KEDIRI)KEDIRI) TAHUN AKADEMIK 2012/2013
ABSTRAK ABSTRAK
Pengembangan kurikulum pendidikan karakter menjadi fokus perhatian
Pengembangan kurikulum pendidikan karakter menjadi fokus perhatian
sekolah-sekolah dalam upaya membangun karakter (
sekolah-sekolah dalam upaya membangun karakter (character building character building ) peserta) peserta
didik.
didik. Dimasukkannya Dimasukkannya pengembangan pengembangan karakter karakter bagi bagi peserta peserta didik didik iniini
dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki watak yang kuat dan
dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki watak yang kuat dan
memiliki sikap terpuji ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat.
memiliki sikap terpuji ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat.
Sikap-sikap disiplin, jujur, mandiri, tidak korup, dan Sikap-sikap positif lainnya diharapkan
sikap disiplin, jujur, mandiri, tidak korup, dan sikap positif lainnya diharapkan
tertanam pada diri peserta didik. Jalan yang bisa ditempuh melalui pendidikan
tertanam pada diri peserta didik. Jalan yang bisa ditempuh melalui pendidikan
formal adalah dengan memasukkan penekanan sikap tersebut pada semua mata
formal adalah dengan memasukkan penekanan sikap tersebut pada semua mata
pelajaran melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
pelajaran melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Berkaitan dengan
Berkaitan denganmodel pengembangan kurikulum pedidikan karakter,model pengembangan kurikulum pedidikan karakter,
telah digariskan prinsip-prinsip dalam kegiatan pengembangan kurikulum
telah digariskan prinsip-prinsip dalam kegiatan pengembangan kurikulum
berdasarkan
berdasarkan kaidah-kaidah kaidah-kaidah atau atau hukum hukum yang yang akan akan menjiwai menjiwai kurikulum kurikulum tersebut.tersebut.
Secara internal kurikulum pendidikan berkarakter harus memiliki kesesuaian
Secara internal kurikulum pendidikan berkarakter harus memiliki kesesuaian
antara komponen-komponen kurikulum seperti : tujuan, bahan, strategi,
antara komponen-komponen kurikulum seperti : tujuan, bahan, strategi,
organisasi dan evaluasi.
organisasi dan evaluasi.
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut
Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut
memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan dan
memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan dan
potensi
potensi peserta peserta didik, didik, dan dan tuntutan tuntutan dan dan kebutuhan kebutuhan perkembangan perkembangan masyarakat.masyarakat.
Semua prinsip tersebut ditujukan agar pengembangan diri siswa dalam interaksi Semua prinsip tersebut ditujukan agar pengembangan diri siswa dalam interaksi belajar
belajar dari dari awal awal dan dan hingga hingga berakhirnya berakhirnya proses proses pengajaran, pengajaran, bisa bisa mencapaimencapai pembentukan siswa yang berkarakter.
pembentukan siswa yang berkarakter.
Kata kunci : Character building Kata kunci : Character building
BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
A.
A. Latar BelakangLatar Belakang
Pendidikan karakter memiliki peran penting untuk membangun Pendidikan karakter memiliki peran penting untuk membangun karakter seseorang. Bukan saja saat ini sejak 2500 tahun yang lalu, Socrates karakter seseorang. Bukan saja saat ini sejak 2500 tahun yang lalu, Socrates telah berkata bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk telah berkata bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam, sekitar membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarah Islam, sekitar 1500 tahun yang lalu. Muhammad SAW, Sang Nabi terakhir dalam ajaran 1500 tahun yang lalu. Muhammad SAW, Sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good adalah untuk mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character) dimana ajaran pertamanya adalan kejujuran (al-amien) serta character) dimana ajaran pertamanya adalan kejujuran (al-amien) serta bagaimana dapat
bagaimana dapat membangun karakter membangun karakter yang baik yang baik tersebut tersebut maka maka saat saat itu itu pulapula telah di ajar bahwa manusia harus senantiasa mampu belajar (iqra) apakah telah di ajar bahwa manusia harus senantiasa mampu belajar (iqra) apakah belajar dad ayat-ayat yang tertulis maupun ayat-ayat yang tidak tertulis.
belajar dad ayat-ayat yang tertulis maupun ayat-ayat yang tidak tertulis.
Tokoh pendidikan Barat yang mendunia seperti Kilpatrick, Lickona, Tokoh pendidikan Barat yang mendunia seperti Kilpatrick, Lickona, Brooks dan Goble seakan menggemakan kembali gaung yang disuarakan Brooks dan Goble seakan menggemakan kembali gaung yang disuarakan Socrates dan Muhamad SAW, bahwa moral, akhlak atau karakter adalah Socrates dan Muhamad SAW, bahwa moral, akhlak atau karakter adalah tujuan yang tak terhindarkan dari dunia pendidikan. Begitu juga dengan tujuan yang tak terhindarkan dari dunia pendidikan. Begitu juga dengan Marthin Luther King Jr. menyetujui pemikiran tersebut dengan mengatakan, Marthin Luther King Jr. menyetujui pemikiran tersebut dengan mengatakan, "Intelligence plus character, that is the true aim of education". Kecerdasan "Intelligence plus character, that is the true aim of education". Kecerdasan plus karakter, itulah tujuan yang ben
plus karakter, itulah tujuan yang benar dari pendidikan.ar dari pendidikan.
Melihat perjalanan sejarah pendidikan dari dekade sebelumnya, para Melihat perjalanan sejarah pendidikan dari dekade sebelumnya, para orang tua, secara subyektif, membuat perbandingan antara situasi pendidikan orang tua, secara subyektif, membuat perbandingan antara situasi pendidikan
masa kini dengan situasi di mana mereka dulu mengalami pendidikan di masa kini dengan situasi di mana mereka dulu mengalami pendidikan di sekolah, atas situasi, sikap, perilaku sosial anak-anak, remaja, generasi muda sekolah, atas situasi, sikap, perilaku sosial anak-anak, remaja, generasi muda sekarang, sebagian orang tua menilai terjadinya kemerosotan atau degradasi sekarang, sebagian orang tua menilai terjadinya kemerosotan atau degradasi sikap atau nilai-nilai budaya bangsa. Mereka menghendaki adanya sikap dan sikap atau nilai-nilai budaya bangsa. Mereka menghendaki adanya sikap dan perilaku
perilaku anak-anak anak-anak yang yang lebih lebih berkarakter, berkarakter, kejujuran, kejujuran, memiliki memiliki integritasintegritas yang merupakan cerminan budaya bangsa, dan bertindak sopan santun dan yang merupakan cerminan budaya bangsa, dan bertindak sopan santun dan ramah tamah dalam pergaulan keseharian. Selain itu diharapkan pula generasi ramah tamah dalam pergaulan keseharian. Selain itu diharapkan pula generasi muda tetap memiliki sikap mental dan semangat juang yang menjunjung muda tetap memiliki sikap mental dan semangat juang yang menjunjung tinggi etika, moral, dan melaksanakan ajaran agama.
tinggi etika, moral, dan melaksanakan ajaran agama.
Sepaham dengan pengertian di atas dewasa ini berkembang tuntutan Sepaham dengan pengertian di atas dewasa ini berkembang tuntutan untuk perubahan kurikulum pendidikan yang mengedepankan perlunya untuk perubahan kurikulum pendidikan yang mengedepankan perlunya membangun karakter bangsa. Hal ini didasarkan pada fakta dan persepsi membangun karakter bangsa. Hal ini didasarkan pada fakta dan persepsi masyarakat tentang menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau masyarakat tentang menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau generasi muda. Pada saat ini yang diperlukan sekarang adalah kurikulum generasi muda. Pada saat ini yang diperlukan sekarang adalah kurikulum pendidikan
pendidikan yang yang berkarakter, berkarakter, dalam dalam arti arti kurikulum kurikulum itu itu sendiri sendiri memilikimemiliki karakter dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter peserta karakter dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter peserta didik. Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum didik. Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri
itu sendiri (inherent (inherent ), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang dalam
berkembang dalam masyarakat dan masyarakat dan kebutuhan peserta kebutuhan peserta didik. Bagaimana didik. Bagaimana caracara mengembangkan kurikulum pendidikan karakter yang sesuai dengan mengembangkan kurikulum pendidikan karakter yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan peserta didik inilah yang harus lebih dicermati, kebutuhan masyarakat dan peserta didik inilah yang harus lebih dicermati, sehingga proses pendidikan karakter dapat merupakan keseluruhan proses sehingga proses pendidikan karakter dapat merupakan keseluruhan proses pendidikan
kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan nilai
keutamaan-keutamaan nilai moral dan moral dan nilai-nilai ideal agama.nilai-nilai ideal agama.
B.
B. Rumusan MasalahRumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat disusun rumusan Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
masalah sebagai berikut : 1.
1. Apakah Apakah pengertian kpengertian kurikulum penurikulum pendidikan kdidikan karakter?arakter? 2.
2. Bagaimana model kurikulum pendidikan berkarakter?Bagaimana model kurikulum pendidikan berkarakter? 3.
3. Apakah kunci sukses kurikulum pendidikan berkarakter?Apakah kunci sukses kurikulum pendidikan berkarakter?
C.
C. Tujuan MasalahTujuan Masalah
Adapun tujuan dari rumusan masalah diatas adalah : Adapun tujuan dari rumusan masalah diatas adalah : 1.
1. Untuk mengetahui pengertian kurikulum pendidikan berkarakter.Untuk mengetahui pengertian kurikulum pendidikan berkarakter. 2.
2. Untuk mengetahui model kurikulum pendidikan berkarakter.Untuk mengetahui model kurikulum pendidikan berkarakter. 3.
BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN
A.
A. PengertPengertian ian PengembaPengembangan Kurikulum ngan Kurikulum Pendidikan KarakterPendidikan Karakter 1.
1. Definisi KurikulumDefinisi Kurikulum
Definisi kurikulum memang sangat beragam, baik dalam arti Definisi kurikulum memang sangat beragam, baik dalam arti luas maupun dalam arti sempit. Tetapi untuk tujuan penulisan ini, kiranya luas maupun dalam arti sempit. Tetapi untuk tujuan penulisan ini, kiranya perlu
perlu dikutip dikutip pernyataan pernyataan Sukmadinata Sukmadinata yang yang mengatakan, mengatakan, kurikulumkurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar
belajar yang yang disediakan disediakan bagi bagi siswa siswa di di sekolah.sekolah.11 Dalam kurikulumDalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan.
Selanjutnya dijelaskan, dalam memahami konsep kurikulum, Selanjutnya dijelaskan, dalam memahami konsep kurikulum, setidaknya ada tiga pengertian yang harus dipahami, yaitu :
setidaknya ada tiga pengertian yang harus dipahami, yaitu :22 1)
1) Kurikulum sebagai substansi atau sebagai suatu rencana belajar Kurikulum sebagai substansi atau sebagai suatu rencana belajar 2)
2) Kurikulum sebagai suatu sistem, yaitu sistem kurikulum yangKurikulum sebagai suatu sistem, yaitu sistem kurikulum yang merupakan bagian dari sistem persekolahan dan sistem pendidikan, merupakan bagian dari sistem persekolahan dan sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat.
bahkan sistem masyarakat. 3)
3) Kurikulum sebagai suatu bidang studi, yaitu bidang kajian kurikulum,Kurikulum sebagai suatu bidang studi, yaitu bidang kajian kurikulum, yang merupakan bidang kajian para ahli kurikulum, pendidikan dan yang merupakan bidang kajian para ahli kurikulum, pendidikan dan pengajaran. pengajaran. ____________ ________________________________ 1 1
Nana Syaodih Sukmadinata,
Nana Syaodih Sukmadinata, Kurikulum & Pembelajaran Kompetensi,YayasanKurikulum & Pembelajaran Kompetensi,Yayasan,, (Bandung : Kusuma Karya, 2004), 150.
(Bandung : Kusuma Karya, 2004), 150.
2 2
Nana Syaodih Sukmadinata,
Nana Syaodih Sukmadinata, Kurikulum & Pembelajaran Kompetensi,YayasanKurikulum & Pembelajaran Kompetensi,Yayasan,, (Bandung : Kusuma Karya, 2004), 151.
Mengacu pada pendapat tersebut, dapat ditegaskan bahwa Mengacu pada pendapat tersebut, dapat ditegaskan bahwa kurikulum merupakan rancangan pendidikan, yang berisi serangkaian kurikulum merupakan rancangan pendidikan, yang berisi serangkaian proses
proses kegiatan kegiatan belajar belajar siswa. siswa. Dengan Dengan demikian demikian secara secara implisitimplisit kurikulum memiliki tujuan yaitu tujuan pendidikan. Selain itu juga jelas kurikulum memiliki tujuan yaitu tujuan pendidikan. Selain itu juga jelas bahwa
bahwa banyak faktor banyak faktor yang terkait yang terkait dengan dengan pelaksanaan pelaksanaan pendidikan, pendidikan, yaituyaitu guru, siswa, orang tua, dan li
guru, siswa, orang tua, dan lingkungan.ngkungan.
Manajemen persekolahan juga menjadi variabel penting dalam Manajemen persekolahan juga menjadi variabel penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Bagaimana iklim sekolah diciptakan, mewujudkan tujuan pendidikan. Bagaimana iklim sekolah diciptakan, turut berperan dalam mewarnai anak didik.Apakah iklim kebebasan, turut berperan dalam mewarnai anak didik.Apakah iklim kebebasan, disiplin, ketertiban, dan kreativitas benar-benar tercipta di lingkungan disiplin, ketertiban, dan kreativitas benar-benar tercipta di lingkungan sekolah.
sekolah. a.
a. Prinsip-Prinsip Pengembangan KurikulumPrinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses
pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses yang kontinue, merupakanyang kontinue, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi.
tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi.
Oemar Hamalik membagi prinsip pengembangan kurikulum Oemar Hamalik membagi prinsip pengembangan kurikulum
menjadi delapan macam, antara lain: menjadi delapan macam, antara lain:33 1)
1) Prinsip Berorientasi Pada TujuanPrinsip Berorientasi Pada Tujuan
Pengembngan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, Pengembngan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan jenjang
jenjang pendidikan pendidikan tertentu. tertentu. Tujuan Tujuan kurikulum kurikulum mengadung mengadung aspek- aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai. Yang selanjutnya aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai. Yang selanjutnya menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup tiga aspek tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung tiga aspek tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional.
dalam tujuan pendidikan nasional. 2)
2) Prinsip Relevansi (Kesesuaian)Prinsip Relevansi (Kesesuaian)
Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan system Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan system penyampaian
penyampaian harus harus relevan relevan (sesuai) (sesuai) dengan dengan kebutuhan kebutuhan dan dan keadaankeadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa, serta serasi masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa, serta serasi dengan perkembnagan ilmu pengetahuan dan tegnologi.
dengan perkembnagan ilmu pengetahuan dan tegnologi. 3)
3) Prinsip Efisiensidan Efektifitas.Prinsip Efisiensidan Efektifitas.
Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisien dan Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisien dan pendayagunaan
pendayagunaan dana, dana, waktu, waktu, tenaga, tenaga, dan dan sumber-sumber sumber-sumber yangyang tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal. Dana yang terbat tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal. Dana yang terbat harus digunakan sedemikina rupa dalam rangka mendukung harus digunakan sedemikina rupa dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran. pelaksanaan pembelajaran. __________ ____________________ __________ 3 3 Oemar Hamalik,
Oemar Hamalik, Proses Proses belajar belajar Mengajar Mengajar . (Bandung : Bumi Aksara, 2001),. (Bandung : Bumi Aksara, 2001), 99-105.
Waktu yang tersedia bagi siswa belajar disekolah juga terbatas Waktu yang tersedia bagi siswa belajar disekolah juga terbatas sehingga harus dimanfaatkan secara tepat sesuai dengan tata ajaran sehingga harus dimanfaatkan secara tepat sesuai dengan tata ajaran dan bahan pembelajaran yang diperlukan. Tenaga disekolah juga dan bahan pembelajaran yang diperlukan. Tenaga disekolah juga sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun dalam mutunya, sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun dalam mutunya, hendaknya didaya gunakan secara efisien untuk melaksanakan proses hendaknya didaya gunakan secara efisien untuk melaksanakan proses pembelajaran. Demikian juga keterbatasan fasilitas r
pembelajaran. Demikian juga keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan,uangan, peralatan, dan sumber kerterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh sswa dan sumber kerterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh sswa dalam rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan dalam rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan efektifitas atau keberhasilan siswa.
efektifitas atau keberhasilan siswa. 4)
4) Prinsip FleksibilitasPrinsip Fleksibilitas
Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya dalam kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan ketrampilan industri suatu kurikulum disediakan program pendidikan ketrampilan industri dan pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan dan pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan pertanian.,
pertanian., maka maka yang yang dialaksanakan dialaksanakan program program ketrampilan ketrampilan pendidiknpendidikn industri. Sebaliknya, pelaksanaan di desa ditekankan pada program industri. Sebaliknya, pelaksanaan di desa ditekankan pada program ketrampilan pertanian. Dalam hal ini lingkungan sekitar, keadaaan ketrampilan pertanian. Dalam hal ini lingkungan sekitar, keadaaan masyarakat, dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor masyarakat, dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.
pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum. 5)
5) Prinsip KontiunitasPrinsip Kontiunitas
Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-spek, materi, dan bahan kajian disusun secara berurutan, tidak aspek-spek, materi, dan bahan kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu sama lain memilik hubungan fungsional terlepas-lepas, melainkan satu sama lain memilik hubungan fungsional
yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur dalam yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur dalam satuan pendidikn, tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip ini, satuan pendidikn, tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip ini, tampak jelas alur dan keterkaitan didala
tampak jelas alur dan keterkaitan didalam kurikulum tersebut sehinggam kurikulum tersebut sehingga mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
pembelajaran. 6)
6) Prinsip KeseimbanganPrinsip Keseimbangan
Penyusunan kurikulum memerhatikan keseimbangan secara Penyusunan kurikulum memerhatikan keseimbangan secara proposional dan fungsional antara berbagai program dan s
proposional dan fungsional antara berbagai program dan s ub-program,ub-program, antara semau mata ajaran, dan antara aspek-aspek perilaku yang ingin antara semau mata ajaran, dan antara aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu diadakan antara teori dan dikembangkan. Keseimbangan juga perlu diadakan antara teori dan praktik,
praktik, antara antara unsur-unsur unsur-unsur keilmuan keilmuan sains, sains, sosial, sosial, humaniora, humaniora, dandan keilmuan perilaku. Dengan keseimbangan tersebut diaharapkan keilmuan perilaku. Dengan keseimbangan tersebut diaharapkan terjalin perpaduan yang lengkap dan menyeluruh, yang satu sama terjalin perpaduan yang lengkap dan menyeluruh, yang satu sama lainnya saling memberikan sumbangan terhadap pengembangan lainnya saling memberikan sumbangan terhadap pengembangan pribadi.
pribadi. 7)
7) Prinsip KeterpaduanPrinsip Keterpaduan
Kurikulum dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prinsip Kurikulum dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan, perencanaan terpadu bertitik tolak dari masalah atau keterpaduan, perencanaan terpadu bertitik tolak dari masalah atau topik dan konsistensi antara unsur-unsusrnya. Pelaksanaan terpadu topik dan konsistensi antara unsur-unsusrnya. Pelaksanaan terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik di lingkungan sekolah maupun dengan melibatkan semua pihak, baik di lingkungan sekolah maupun pada
pada tingkat tingkat inter inter sektoral. sektoral. Dengan Dengan keterpaduan keterpaduan ini ini diharapkandiharapkan terbentuk pribadi yang bulat dan utuh. Diamping itu j
terbentuk pribadi yang bulat dan utuh. Diamping itu j uga dilaksanakanuga dilaksanakan keterpaduan dalam proses pembalajaran, baik dalam interaksi antar keterpaduan dalam proses pembalajaran, baik dalam interaksi antar siswa dan guru maupun antara teori dan praktek.
8)
8) Prinsip MutuPrinsip Mutu
Pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu, yang Pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu, yang berarti
berarti bahwa bahwa pelaksanaan pelaksanaan pembelajaran pembelajaran yang yang bermutu bermutu ditentukanditentukan oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar mengajar, peralatan,/media oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar mengajar, peralatan,/media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur berdasarkan yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional
kriteria tujuan pendidikan nasional yang diaharapkan.yang diaharapkan.
b.
b. Pendekatan Pengembangan KurikulumPendekatan Pengembangan Kurikulum
Pada dasarnya strategi dan pendekatan adalah berbeda, Pada dasarnya strategi dan pendekatan adalah berbeda, perbedaan terleta
perbedaan terletak pada k pada jangkauan (cakupan) jangkauan (cakupan) bahasannya. Hal bahasannya. Hal ini berartiini berarti bahwa
bahwa strategi strategi lebih lebih sempit sempit dari dari pendekatan. pendekatan. Strategi Strategi pada pada dasarnyadasarnya adalah siasat yang ditetapkan untuk untuk memecahkan suatu masalah, adalah siasat yang ditetapkan untuk untuk memecahkan suatu masalah, sedangakan pendekatan lebih menekankan usaha dan penerapan sedangakan pendekatan lebih menekankan usaha dan penerapan langkah-langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa langkah atau cara kerja dengan menerapkan suatu strategi dan beberapa methode yang tepat, yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah methode yang tepat, yang dijalankan sesuai dengan langkah-langkah yang sistematik untuk memperolah hasil kerja yng lebih baik.
yang sistematik untuk memperolah hasil kerja yng lebih baik.
Jadi pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja Jadi pendekatan pengembangan kurikulum adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik. Sementara Shodih dan Mulyasa (2002) kurikulum yang lebih baik. Sementara Shodih dan Mulyasa (2002) mengemukakan pendekatan pengembangan kurikulum berdasarkan pada mengemukakan pendekatan pengembangan kurikulum berdasarkan pada sistem pengelolaan, fokus sasaran dan kompetensi. Maksudnya sistem sistem pengelolaan, fokus sasaran dan kompetensi. Maksudnya sistem pengelolaan
pengelolaan pengembangan pengembangan kurikulum kurikulum dibedakan dibedakan antara antara sistemsistem pengelolaan
sedangkan berdasarkan pada fokus sasaran maksudnya pengembnagn sedangkan berdasarkan pada fokus sasaran maksudnya pengembnagn kurikulum dibedakan antara pendektan yang mengutamakan penguasaan kurikulum dibedakan antara pendektan yang mengutamakan penguasaan ilmu pengetahuan, penguasaan kemampuan standar, penguasaan ilmu pengetahuan, penguasaan kemampuan standar, penguasaan kompetensi, pembentukan pribadi, dan penguasaan kemampuan kompetensi, pembentukan pribadi, dan penguasaan kemampuan memecahkan masalah sosial kemasyarakatan. Pendekatan berdasarkan memecahkan masalah sosial kemasyarakatan. Pendekatan berdasarkan kompetensi merupakan pengembangan kurikulum yang memfokuskan kompetensi merupakan pengembangan kurikulum yang memfokuskan penguasaan kompetensi tertentu berdasarkan tahap - tahap perkembangan penguasaan kompetensi tertentu berdasarkan tahap - tahap perkembangan peserta didik.
peserta didik.
2.
2. Pengertian Pendidikan Pengertian Pendidikan KarakterKarakter
Secara sederhana pendidikan berkarakter
Secara sederhana pendidikan berkarakter adalah segala sesuatuadalah segala sesuatu yang Anda lakukan yang mempengaruhi karakter anak-anak yang Anda yang Anda lakukan yang mempengaruhi karakter anak-anak yang Anda ajar. Namun secara lebih fokus, kita lihat seperti yang diutarakan Dr ajar. Namun secara lebih fokus, kita lihat seperti yang diutarakan Dr Thomas Lickona mengenai definisi Pendidikan Berkarakter, bahwa Thomas Lickona mengenai definisi Pendidikan Berkarakter, bahwa ““ pendidikan pendidikan berkarakter berkarakter adalah adalah usaha usaha sengaja sengaja untuk untuk membantu membantu orangorang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti..”” Dalam bukunya,
Dalam bukunya, Educating Educating for for Character,1Character,1 Dr Lickona menegaskanDr Lickona menegaskan bahwa
bahwa “Ketika “Ketika kita kita berpikir berpikir tentantentang jenis karakter yang kita inginkang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita,
bagi anak-anak kita, jelas bahwa kitjelas bahwa kita ingin mereka a ingin mereka bisa menilai bisa menilai apa yangapa yang benar,
benar, peduli peduli secara secara mendalam mendalam tentang tentang apa apa yang yang benar, benar, dan dan kemudiankemudian melakukan apa yang mereka yakini untuk menjadi benar - bahkan dalam melakukan apa yang mereka yakini untuk menjadi benar - bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam
menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam””..
Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang daripada yang lain. Sedangkan menurut Imam membedakan seseorang daripada yang lain. Sedangkan menurut Imam Ghazali karakter adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang Ghazali karakter adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan
pertimbangan fikiran. fikiran. Karakter Karakter adalah adalah sifat sifat kejiwaan, kejiwaan, akhlak akhlak atau atau budibudi pekerti
pekerti yang yang menjadi menjadi ciri ciri khas khas seseorang seseorang atau atau sekelompok sekelompok orang.orang. Membentuk karakter tidak semudah memberi nasihat, tidak semudah Membentuk karakter tidak semudah memberi nasihat, tidak semudah member instruksi, tetapi memerlukan kesabaran, pembiasaan dan member instruksi, tetapi memerlukan kesabaran, pembiasaan dan pengulangan,
pengulangan, sebagaimana sebagaimana yang yang dinyatakan dinyatakan dalam dalam hadits hadits yang yang artinya:artinya: “Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan “Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi san
menjadi santun.” (HR Bukhari)tun.” (HR Bukhari)
Sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan Sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses
proses pendidikan pendidikan yang yang dialami dialami peserta peserta didik didik sebagai sebagai pengalamanpengalaman pembentukan
pembentukan kepribadian kepribadian melalui melalui memahami memahami dan dan mengalami mengalami sendirisendiri nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai ideal agama, nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai ideal agama, nilai-nilai moral.
nilai moral.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber
bersumber dari dari nilai nilai moral moral universal universal (bersifat (bersifat absolut) absolut) yang yang bersumber bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa
bahwa karakter karakter dasar dasar manusia manusia terdiri terdiri dari: dari: dapat dapat dipercaya, dipercaya, rasa rasa hormathormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah atau di kampus harus Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah atau di kampus harus berpijak
berpijak kepada kepada nilai-nilai nilai-nilai karakter karakter dasar, dasar, yang yang selanjutnyaselanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah atau kampus itu s
kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah atau kampus itu s endiri.endiri. Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010) dalam Achmad Husen (2010), secara psikologis dan sosial (2010) dalam Achmad Husen (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, kognitif, dan seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, kognitif, dan psikomotorik)
psikomotorik) dalam dalam konteks konteks interaksi interaksi sosial sosial kultural kultural (dalam (dalam keluarga,keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativit
Karsa (Affective and Creativity development).y development).
Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan
pendidikan moral. moral. Menurut Menurut Hersh, Hersh, et. et. al. al. (1980) (1980) dalam dalam Achmad Achmad HusenHusen (2010), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang (2010), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak
pendekatan
pendekatan pertimbangan, pertimbangan, pendekatan pendekatan klarifikasi klarifikasi nilai, nilai, pendekatanpendekatan pengembangan
pengembangan moral moral kognitif, kognitif, dan dan pendekatan pendekatan perilaku perilaku sosial. sosial. BerbedaBerbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) dalam Achmad Husen (2010), dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) dalam Achmad Husen (2010), mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan
pendekatan kognitif, kognitif, pendekatan pendekatan afektif, afektif, dan dan pendekatan pendekatan perilaku.perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan af
tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan af eksi.eksi.
Sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan Sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses
proses pendidikan pendidikan yang yang dialami dialami peserta peserta didik didik sebagai sebagai pengalamanpengalaman pembentukan
pembentukan kepribadian kepribadian melalui melalui memahami memahami dan dan mengalami mengalami sendirisendiri nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai ideal agama, nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai ideal agama, nilai-nilai moral.
nilai moral.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan
pendidikan karakter karakter merupakan merupakan upaya-upaya upaya-upaya yang yang dirancang dirancang dandan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
berdasarkan norma-norma norma-norma agama, agama, hukum, hukum, tata tata krama, krama, budaya, budaya, dan dan adatadat istiadat.
istiadat.
Bentuk dari pendidikan karakter ini masih menyimpan Bentuk dari pendidikan karakter ini masih menyimpan kontroversial, dan sangat bergantung pada hasil yang anda inginkan. kontroversial, dan sangat bergantung pada hasil yang anda inginkan. Banyak orang percaya bahwa menghasilkan anak-anak yang patuh dalam Banyak orang percaya bahwa menghasilkan anak-anak yang patuh dalam melakukan apa yang diperintahkan adalah pendidikan berkarakter. Ide ini melakukan apa yang diperintahkan adalah pendidikan berkarakter. Ide ini
sering mengarah kepada munculnya seperangkat aturan dan sistem sering mengarah kepada munculnya seperangkat aturan dan sistem imbalan dan hukuman (reward and punishment) yang bersifat sementara imbalan dan hukuman (reward and punishment) yang bersifat sementara dan terbatas dalam merubah perilaku, namun sedikit sekali atau sama dan terbatas dalam merubah perilaku, namun sedikit sekali atau sama sekali tidak mempengaruhi karakter yang mendasar bagi anak-anak. Ada sekali tidak mempengaruhi karakter yang mendasar bagi anak-anak. Ada orang lain yang berpendapat bahwa seharusnya tujuan kita adalah orang lain yang berpendapat bahwa seharusnya tujuan kita adalah mengembangkan pemikir independen yang memiliki komitmen moral mengembangkan pemikir independen yang memiliki komitmen moral dalam kehidupan mereka, dan yang cenderung melakukan hal yang benar dalam kehidupan mereka, dan yang cenderung melakukan hal yang benar bahkan dalam keadaan menantang.
bahkan dalam keadaan menantang.
Inisiatif Pendidikan Berkarakter bisa sangat sederhana, seperti Inisiatif Pendidikan Berkarakter bisa sangat sederhana, seperti salah satu guru yang baik melakukan beberapa hal dengan benar, atau salah satu guru yang baik melakukan beberapa hal dengan benar, atau mereka dapat menjadi sangat rumit, melibatkan semua orang dan segala mereka dapat menjadi sangat rumit, melibatkan semua orang dan segala sesuatu di sekolah. Apa yang Anda lakukan mungkin akan tergantung sesuatu di sekolah. Apa yang Anda lakukan mungkin akan tergantung pada keadaan Anda. Berikut adalah beberapa pilihan.
pada keadaan Anda. Berikut adalah beberapa pilihan.
Kebijakan populer berpendapat bahwa cara terbaik untuk Kebijakan populer berpendapat bahwa cara terbaik untuk menerapkan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan holistik yang menerapkan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan pembangunan karakter ke dalam setiap aspek mengintegrasikan pembangunan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Pendekatan ini juga dikenal sebagai reformasi kehidupan sekolah. Pendekatan ini juga dikenal sebagai reformasi sekolah keseluruhan, dan itu adalah masalah besar. Berikut adalah sekolah keseluruhan, dan itu adalah masalah besar. Berikut adalah beberapa fitur yang membedakan mod
beberapa fitur yang membedakan model holistik:el holistik:
Segala sesuatu di sekolah ini disusun di sekitar pengembanganSegala sesuatu di sekolah ini disusun di sekitar pengembangan
hubungan antara dan di kalangan siswa, staf, dan masyarakat. hubungan antara dan di kalangan siswa, staf, dan masyarakat.
Sekolah adalah komunitas pelajar peduli di mana ada ikatan yangSekolah adalah komunitas pelajar peduli di mana ada ikatan yang
terasa menghubungkan siswa, staf, dan sekolah. terasa menghubungkan siswa, staf, dan sekolah.
Pembelajaran sosial dan emosional ditekankan sebanyak pembelajaranPembelajaran sosial dan emosional ditekankan sebanyak pembelajaran
akademis. akademis.
Kerjasama dan kolaborasi antar siswa ditekankan atas persaingan.Kerjasama dan kolaborasi antar siswa ditekankan atas persaingan.
Nilai-nilai seperti keadilan, menghormati, dan kejujuran adalah bagian Nilai-nilai seperti keadilan, menghormati, dan kejujuran adalah bagian
dari pelajaran sehari-hari dalam dan diluar kelas. dari pelajaran sehari-hari dalam dan diluar kelas.
Siswa diberi kesempatan yang luas untuk mempraktekkan perilakuSiswa diberi kesempatan yang luas untuk mempraktekkan perilaku
moral melalui berbagai kegiatan seperti belajar melayani. moral melalui berbagai kegiatan seperti belajar melayani.
Disiplin dan pengelolaan kelas berkonsentrasi pada pemecahanDisiplin dan pengelolaan kelas berkonsentrasi pada pemecahan
masalah daripada imbalan dan hukuman (
masalah daripada imbalan dan hukuman (reward and punishment reward and punishment ))
Model lama yang berpusat pada guru kelas ditinggalkan dan digantiModel lama yang berpusat pada guru kelas ditinggalkan dan diganti
menjadi kelas demokratis di mana guru dan siswa kelas mengadakan menjadi kelas demokratis di mana guru dan siswa kelas mengadakan pertemuan
pertemuan untuk untuk membangun membangun kesatuan, kesatuan, menetapkan menetapkan norma-norma,norma-norma, dan memecahkan masalah.
dan memecahkan masalah. 3.
3. Konsep Kurikulum Pendidikan Karakter.Konsep Kurikulum Pendidikan Karakter. a.
a. Dari Knowing Menuju DoingDari Knowing Menuju Doing
William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia ti pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia ti dak dak
terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Berangkat dari terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Berangkat dari pemikiran
pemikiran ini ini maka maka kesuksesan kesuksesan pendidikan pendidikan karakter karakter sangat sangat bergantungbergantung pada
pada ada ada tidaknya tidaknya knowing, knowing, loving, loving, dan dan doing doing atau atau acting acting dalamdalam penyelenggaraan pendidikan karakter.
penyelenggaraan pendidikan karakter.
Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), yaitu kesediaan seseorang yaitu kesadaran moral (moral awareness), yaitu kesediaan seseorang
untuk menerima secara cerdas sesuatu yang seharusnya dilakukan. untuk menerima secara cerdas sesuatu yang seharusnya dilakukan. Pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), yaitu Pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), yaitu mencakup pemahaman mengenai macam-macam nilai moral seperti mencakup pemahaman mengenai macam-macam nilai moral seperti menghormati hak hidup, kebebasan, tanggung jawab,
menghormati hak hidup, kebebasan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan,kejujuran, keadilan, tenggang rasa, kesopanan dan kedisiplinan. penentuan sudut pandang tenggang rasa, kesopanan dan kedisiplinan. penentuan sudut pandang (perspective taking), yaitu kemampuan menggunakan cara pandang (perspective taking), yaitu kemampuan menggunakan cara pandang orang lain dalam melihat sesuatu. logika moral (moral reasoning), adalah orang lain dalam melihat sesuatu. logika moral (moral reasoning), adalah kemampuan individu untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengapa kemampuan individu untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu dikatakan baik atau buruk. keberanian mengambil menentukan sesuatu dikatakan baik atau buruk. keberanian mengambil menentukan sikap (decision making), yaitu kemampuan individu untuk memilih sikap (decision making), yaitu kemampuan individu untuk memilih alternatif yang paling balk dari sekian banyak pilihan. dan pengenalan alternatif yang paling balk dari sekian banyak pilihan. dan pengenalan did (self knowledge), yaitu kemampan individu untuk menilai diri did (self knowledge), yaitu kemampan individu untuk menilai diri sendiri. Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan sendiri. Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan untuk mengisi ranah kognitif mereka.
untuk mengisi ranah kognitif mereka.
Selanjutnya Moral Loving atau Moral Feeling merupakan Selanjutnya Moral Loving atau Moral Feeling merupakan penguatan
penguatan aspek aspek emosi emosi siswa siswa untuk untuk menjadi menjadi manusia manusia berkarakter.berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu keadaran akan jati diri, percaya diri (self dirasakan oleh siswa, yaitu keadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control),k erendahan hati (loving the good), pengendalian diri (self control),k erendahan hati (humility). Kata hati memiliki dua sisi yaitu mengetahui apa yang baik, (humility). Kata hati memiliki dua sisi yaitu mengetahui apa yang baik, dan rasa wajib untuk mengerjakan yang baik itu. Penghargaan diri adalah dan rasa wajib untuk mengerjakan yang baik itu. Penghargaan diri adalah penilaian
penilaian serta serta Penghargaan Penghargaan terhadap terhadap diri diri kita kita sendiri. sendiri. Empati Empati adalahadalah penempatan
emosional dari "prospective taking'. Cinta kebaikan merupakan unsur emosional dari "prospective taking'. Cinta kebaikan merupakan unsur karakter yang paling tinggi yang mencakup kemurnian rasa tertarik pada karakter yang paling tinggi yang mencakup kemurnian rasa tertarik pada hal yang baik. Pengendalian diri adalah kesadaran dan kesediaan untuk hal yang baik. Pengendalian diri adalah kesadaran dan kesediaan untuk menekan perasaannya sendiri agar tidak melahirkan perilaku yang menekan perasaannya sendiri agar tidak melahirkan perilaku yang melebihi kewajaran. Sedang "humanity" merupakan aspek emosi dari melebihi kewajaran. Sedang "humanity" merupakan aspek emosi dari "selfknowledge" yang berbentuk keterbukaan yang murni terhadap "selfknowledge" yang berbentuk keterbukaan yang murni terhadap kebenaran dan kemampuan untu bertindak mengoreksi kesalahan sendiri. kebenaran dan kemampuan untu bertindak mengoreksi kesalahan sendiri. Setelah dua aspek tadi terwujud, maka Perilaku moral (Moral Setelah dua aspek tadi terwujud, maka Perilaku moral (Moral Acting) sebagai outcome akan dengan mudah muncul baik berupa Acting) sebagai outcome akan dengan mudah muncul baik berupa competence, will, maupun habits. Perilaku moral adalah hasil nyata dari competence, will, maupun habits. Perilaku moral adalah hasil nyata dari penerapan
penerapan pengetahuan pengetahuan dan dan perasaan perasaan moral. moral. Orang Orang yang yang memilikimemiliki kualitas kecerdasan dan perasaan moral yang baik akan kecenderungan kualitas kecerdasan dan perasaan moral yang baik akan kecenderungan menunjukkan perilaku moral yang baik pula. Kemampuan moral adalah menunjukkan perilaku moral yang baik pula. Kemampuan moral adalah kebiasaan untuk mewujudkan pengetahuan dan perasaan moral dalam kebiasaan untuk mewujudkan pengetahuan dan perasaan moral dalam bentuk
bentuk perilaku perilaku nyata. nyata. Kemauan Kemauan moral moral adalah adalah mobilisasi mobilisasi energi energi atauatau daya dan tenaga untuk dapat melahirkan tindakan atau erilaku moral daya dan tenaga untuk dapat melahirkan tindakan atau erilaku moral Sedangkan kebiasaan moral adalah pengulangan secara sadar perwujudan Sedangkan kebiasaan moral adalah pengulangan secara sadar perwujudan pengetahuan dan
pengetahuan dan perasaan perasaan moral dalam moral dalam bentuk perlaku bentuk perlaku moral moral yang teyang terusrus menerus.
menerus.
Namun, merujuk kepada tesis Ratna
Namun, merujuk kepada tesis Ratna Megawangi bahwa karakter Megawangi bahwa karakter adalah tabiat yang langsung disetir dari otak, maka ketiga tahapan tadi adalah tabiat yang langsung disetir dari otak, maka ketiga tahapan tadi perlu disuguhkan kepada siswa melalui cara
perlu disuguhkan kepada siswa melalui cara-cara yang logis, rasional dan-cara yang logis, rasional dan demokratis. Sehingga perilaku yang muncul benar-benar sebuah karakter demokratis. Sehingga perilaku yang muncul benar-benar sebuah karakter bukan
karakter di Amerika Serikat telah sampai pada ikhtiar ini. Dalam sebuah karakter di Amerika Serikat telah sampai pada ikhtiar ini. Dalam sebuah situs nasional karakter pendidikan di Amerika bahkan disiapkan lesson situs nasional karakter pendidikan di Amerika bahkan disiapkan lesson plan untuk tiap bentuk karakter yang telah dirumuskan d
plan untuk tiap bentuk karakter yang telah dirumuskan dari mulai sekolahari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah.
dasar sampai sekolah menengah. b.
b. Identifikasi KarakterIdentifikasi Karakter
Pendidikan karakter tanpa identifikasi karakter hanya akan Pendidikan karakter tanpa identifikasi karakter hanya akan menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir, petualangan tanpa peta. menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir, petualangan tanpa peta. Organisasi manapun di dunia ini yang menaruh perhatian besar terhadap Organisasi manapun di dunia ini yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan
pendidikan karakter karakter selalu selalu dan dan seharusnya- seharusnya- mampu mampu mengidentifikasimengidentifikasi karakter-karakter dasar yang akan menjadi pilar per
karakter-karakter dasar yang akan menjadi pilar perilaku individu.ilaku individu.
Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter tersebut adalah; 1) cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, 2) tersebut adalah; 1) cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, 2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri, 3) jujur, 4) hormat dan santun, 5) tanggung jawab, disiplin dan mandiri, 3) jujur, 4) hormat dan santun, 5) kasih sayang, peduli, dan kerja sama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras kasih sayang, peduli, dan kerja sama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan 9) toleransi, cinta damai dan persatuan.
hati, dan 9) toleransi, cinta damai dan persatuan.
Sementara Character Counts di Amerika mengidentfikasikan Sementara Character Counts di Amerika mengidentfikasikan bahwa
bahwa karakter-karakter karakter-karakter yang yang menjadi menjadi pilar pilar adalah; adalah; 1) 1) dapat dapat dipercayadipercaya (trustworthiness), 2) rasa hormat dan perhatian (respect), 3) tanggung (trustworthiness), 2) rasa hormat dan perhatian (respect), 3) tanggung jawab
jawab (responsibility), (responsibility), 4) 4) jujur jujur (fairness), (fairness), 5) 5) peduli peduli (caring), (caring), 6)6) kewarganegaraan (citizenship), 7) ketulusan (honesty), berani (courage), kewarganegaraan (citizenship), 7) ketulusan (honesty), berani (courage), 9) tekun (diligence) dan 10) integritas.
c.
c. Prinsip Pendidikan KarakterPrinsip Pendidikan Karakter
Character Education Quality Standards merekomendasikan 11 Character Education Quality Standards merekomendasikan 11 prinsip
prinsip mewujudkan pendidikan kmewujudkan pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut :arakter yang efektif, sebagai berikut : 1)
1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter 2)
2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakupMengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku
pemikiran, perasaan dan perilaku 3)
3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter
membangun karakter 4)
4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepeduliankepedulian 5)
5) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilakuMemberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik
yang baik 6)
6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna danMemiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua siswa, membangun karakter menantang yang menghargai semua siswa, membangun karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses
mereka dan membantu mereka untuk sukses 7)
7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para siswaMengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para siswa 8)
8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yangMemfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi ta
berbagi tanggung jawab nggung jawab untuk pendidikan untuk pendidikan karakter karakter dan sdan setia etia kepadakepada nilai dasar yang sama.
nilai dasar yang sama. 9)
9) Adanya pembagian kepeminpinan moral dan dukungan luas dalamAdanya pembagian kepeminpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter.
membangun inisiatif pendidikan karakter. 10)
10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitraMemfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.
dalam usaha membangun karakter. 11)
11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan
siswa. siswa. B.
B. Model Kurikulum Pendidikan Karakter.Model Kurikulum Pendidikan Karakter.
Keberhasilan dalam menyelenggarakan dan menanamkan nilai-nilai Keberhasilan dalam menyelenggarakan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui pendidikan karakter dapat pula dipengaruhi oleh cara atau kehidupan melalui pendidikan karakter dapat pula dipengaruhi oleh cara atau pendekatan
pendekatan yang yang dipergunakan dipergunakan dalam dalam menyampaikan. menyampaikan. Ada Ada empat empat modelmodel pendekatan penyampaian pendidikan
pendekatan penyampaian pendidikan karakter.karakter. 55 1.
1. Model sebagai Mata Pelajaran Tersendiri (monolitik).Model sebagai Mata Pelajaran Tersendiri (monolitik).
Dalam model pendekatan ini, pendidikan karakter dianggap sebagai mata Dalam model pendekatan ini, pendidikan karakter dianggap sebagai mata pelajaran
pelajaran tersendiri. tersendiri. Dalam Dalam hal hal ini ini pendidikan pendidikan karakter karakter memilikimemiliki kedudukan yang sama dan diperlakukan sama seperti pelajaran atau kedudukan yang sama dan diperlakukan sama seperti pelajaran atau bidang
bidang studi studi lain. lain. Konsekuensinya Konsekuensinya pendidikan pendidikan karakter karakter harusharus dirancangkan dalam jadwal pelajaran secara terstruktur. Kelebihan dari dirancangkan dalam jadwal pelajaran secara terstruktur. Kelebihan dari pendekatan
pendekatan ini ini antara antara lain lain materi materi yang yang disampaikan disampaikan menjadi menjadi IebihIebih terencana matang/terfokus, materi yang telah disampaikan Iebih terukur. terencana matang/terfokus, materi yang telah disampaikan Iebih terukur. Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah sangat tergantung pada Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah sangat tergantung pada tuntutan
tuntutan kurikulum. kurikulum. Penanaman Penanaman nilai-nilai tersebut nilai-nilai tersebut seolah-olah seolah-olah hanyahanya menjadi tanggung jawab satu orang guru semata, demikian pula dampak menjadi tanggung jawab satu orang guru semata, demikian pula dampak yang muncul pendidikan karakter hanya menyentuh aspek kognitif, tidak yang muncul pendidikan karakter hanya menyentuh aspek kognitif, tidak menyentuh internalisasi nilai tersebut.
menyentuh internalisasi nilai tersebut.
__________
__________________________________ __
5
5
Paul Suparno, SJ., dkk.,
Paul Suparno, SJ., dkk., Reformasi Reformasi Pendidikan Pendidikan : : Sebuah Sebuah RekomendasiRekomendasi,,
(Yogyakarta : Kanisius, 2010), 42-44
2.
2. Model Terintegrasi dalam Semua Bidang StudiModel Terintegrasi dalam Semua Bidang Studi
Pendekatan yang kedua dalam menyampaikan pendidikan Pendekatan yang kedua dalam menyampaikan pendidikan karakter adalah disampaikan secara terintegrasi dalam setiap bidang karakter adalah disampaikan secara terintegrasi dalam setiap bidang pelajaran,
pelajaran, dan dan oleh oleh karena karena itu itu menjadi menjadi tanggung tanggung jawab jawab semua semua guru guru .. Dalam konteks ini setiap guru dapat memilih materi pendidikan karakter Dalam konteks ini setiap guru dapat memilih materi pendidikan karakter yang sesuai dengan tema atau pokok bahasan bidang studi. Melalui yang sesuai dengan tema atau pokok bahasan bidang studi. Melalui model terintegrasi ini maka setiap guru adalah pengajar pendidikan model terintegrasi ini maka setiap guru adalah pengajar pendidikan karakter tanpa kecuali. Keunggulan model terintegrasi pada setiap bidang karakter tanpa kecuali. Keunggulan model terintegrasi pada setiap bidang studi antara lain setiap guru ikut bertanggung jawab akan penanaman studi antara lain setiap guru ikut bertanggung jawab akan penanaman nilai-nilai hidup kepada semua siswa, di samping itu pemahaman akan nilai-nilai hidup kepada semua siswa, di samping itu pemahaman akan nilai-nilai pendidikan karakter cenderung tidak bersifat nilai-nilai pendidikan karakter cenderung tidak bersifat informatif-kognitif, melainkan bersifat aplikatif sesuai dengan konteks pada setiap kognitif, melainkan bersifat aplikatif sesuai dengan konteks pada setiap bidang
bidang studi. studi. Dampaknya Dampaknya siswa siswa akan akan Iebih Iebih terbiasa terbiasa dengan dengan nilai-nilainilai-nilai yang sudah diterapkan dalam berbagai seting. Sisi kelemahannya adalah yang sudah diterapkan dalam berbagai seting. Sisi kelemahannya adalah pemahaman dan
pemahaman dan persepsi persepsi tentang nilai tentang nilai yang akan yang akan ditanamkan harus ditanamkan harus jelasjelas dan sama bagi semua guru. Namun, menjamin kesamaan bagi setiap guru dan sama bagi semua guru. Namun, menjamin kesamaan bagi setiap guru adalah hal yang tidak mudah, hal ini mengingat latar belakang setiap adalah hal yang tidak mudah, hal ini mengingat latar belakang setiap guru yang berbeda-beda. Di samping itu, jika terjadi perbedaan guru yang berbeda-beda. Di samping itu, jika terjadi perbedaan penafsiran nilai-nilai
penafsiran nilai-nilai di antara di antara guru sendiri guru sendiri akan menjadikan akan menjadikan siswa justsiswa justruru bingung.
bingung. 3.
3. Model di Luar PengajaranModel di Luar Pengajaran
Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dapat juga Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dapat juga ditanamkan di luar kegiatan pembelajaran formal. Pendekatan ini Iebih ditanamkan di luar kegiatan pembelajaran formal. Pendekatan ini Iebih mengutamakan pengolahan dan penanaman nilai melalui suatu kegiatan mengutamakan pengolahan dan penanaman nilai melalui suatu kegiatan
untuk dibahas dan kemudian dibahas nilai-nilai hidupnya. Model untuk dibahas dan kemudian dibahas nilai-nilai hidupnya. Model kegiatan demikian dapat dilaksanakan oleh guru sekolah yang diberi kegiatan demikian dapat dilaksanakan oleh guru sekolah yang diberi tugas tersebut atau dipercayakan kepada lembaga lain untuk tugas tersebut atau dipercayakan kepada lembaga lain untuk melaksanakannya. Kelebihan pendekatan ini adalah siswa akan melaksanakannya. Kelebihan pendekatan ini adalah siswa akan mendapatkan pengalaman secara Iangsung dan konkrit. Kelemahannya mendapatkan pengalaman secara Iangsung dan konkrit. Kelemahannya adalah tidak ada dalam struktur yang tetap dalam kerangka pendidikan adalah tidak ada dalam struktur yang tetap dalam kerangka pendidikan dan pengajaran di sekolah, sehingga akan membutuhkan waktu yang dan pengajaran di sekolah, sehingga akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih banyak.
lebih lama dan biaya yang lebih banyak. 4.
4. Model GabunganModel Gabungan
Model gabungan adalah menggabungkan antara model Model gabungan adalah menggabungkan antara model terintegrasi dan model di luar pelajaran secara bersama. Model ini dapat terintegrasi dan model di luar pelajaran secara bersama. Model ini dapat dilaksanakan dalam kerja sama dengan tim baik oleh guru maupun dalam dilaksanakan dalam kerja sama dengan tim baik oleh guru maupun dalam kerja sama dengan pihak luar sekolah. Kelebihan model ini adalah semua kerja sama dengan pihak luar sekolah. Kelebihan model ini adalah semua guru terlibat, di samping itu guru dapat belajar dari pihak luar untuk guru terlibat, di samping itu guru dapat belajar dari pihak luar untuk mengembangkan diri dan siswa. Siswa menerima informasi tentang mengembangkan diri dan siswa. Siswa menerima informasi tentang nilai-nilai sekaligus juga diperkuat dengan pengalaman melalui nilai sekaligus juga diperkuat dengan pengalaman melalui kegiatankegiatan yang terencana dengan baik. Mengingat pendidikan kegiatankegiatan yang terencana dengan baik. Mengingat pendidikan karakter merupakan salah satu fungsi dari pendidikan nasional, maka karakter merupakan salah satu fungsi dari pendidikan nasional, maka sepatutnya pendidikan karakter ada pada setiap materi pelajaran. Oleh sepatutnya pendidikan karakter ada pada setiap materi pelajaran. Oleh karena itu, pendekatan secara terintegrasi merupakan pendekatan karena itu, pendekatan secara terintegrasi merupakan pendekatan minimal yang harus dilaksanakan semua tenaga pendidik sesuai dengan minimal yang harus dilaksanakan semua tenaga pendidik sesuai dengan konteks tugas masing-masing di sekolah, termasuk dalam hal ini adalah konteks tugas masing-masing di sekolah, termasuk dalam hal ini adalah konselor sekolah. Namun, bukan berati bahwa pendekatan yang paling konselor sekolah. Namun, bukan berati bahwa pendekatan yang paling sesuai adalah dengan model integratif. Pendekatan gabungan tentu akan sesuai adalah dengan model integratif. Pendekatan gabungan tentu akan
lebih baik lagi karena siswa bukan hanya mendapatkan informasi semata lebih baik lagi karena siswa bukan hanya mendapatkan informasi semata melainkan juga siswa menggali nilai-nilai pendidikan karakter melalui melainkan juga siswa menggali nilai-nilai pendidikan karakter melalui kegiatan secara kontekstual sehingga penghayatan siswa lebih mendalam kegiatan secara kontekstual sehingga penghayatan siswa lebih mendalam dan tentu saja lebih menggembirakan siswa. Dari perspektif ini maka dan tentu saja lebih menggembirakan siswa. Dari perspektif ini maka konselor sekolah dituntut untuk dapat menyampaikan informasi serta konselor sekolah dituntut untuk dapat menyampaikan informasi serta mengajak dan memberikan penghayatan secara langsung tentang mengajak dan memberikan penghayatan secara langsung tentang berbagai informasi nilai-nilai karakter.
berbagai informasi nilai-nilai karakter. C.
C. Kunci Dari Keberhasilan Pengembangan Kurikulum PendidikanKunci Dari Keberhasilan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter.
Karakter. 1.
1. Partisipasi masyarakat.Partisipasi masyarakat. Pendidik, orangtua, siswa, dan anggotaPendidik, orangtua, siswa, dan anggota masyarakat menginvestasikan diri dalam proses pembangunan konsensus masyarakat menginvestasikan diri dalam proses pembangunan konsensus untuk menemukan landasan bersama yang sangat penting bagi untuk menemukan landasan bersama yang sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang.
keberhasilan jangka panjang. 2.
2. Kebijakan pendidikan Kebijakan pendidikan karakterkarakter.. Membuat pendidikan karakter bagianMembuat pendidikan karakter bagian dari filosofi, tujuan atau pernyataan misi dengan mengadopsi kebijakan dari filosofi, tujuan atau pernyataan misi dengan mengadopsi kebijakan formal. Jangan sebatas tulisan dan perkataan saja.
formal. Jangan sebatas tulisan dan perkataan saja. 3.
3. Kesepakatan.Kesepakatan. Ada pertemuan orang tua, guru dan perwakilanAda pertemuan orang tua, guru dan perwakilan masyarakat dan menggunakan konsensus untuk memperoleh kesepakatan masyarakat dan menggunakan konsensus untuk memperoleh kesepakatan di mana karakter untuk memperkuat dan apa definisi
di mana karakter untuk memperkuat dan apa definisi yang digunakyang digunakannya.annya. 4.
4. Kurikulum Terpadu.Kurikulum Terpadu. Membuat pendidikan karakter bagian integral dariMembuat pendidikan karakter bagian integral dari kurikulum di semua tingkatan kelas. Mengambil sifat-sifat yang telah kurikulum di semua tingkatan kelas. Mengambil sifat-sifat yang telah Anda pilih dan menghubungkan mereka ke kelas pelajaran, sehingga Anda pilih dan menghubungkan mereka ke kelas pelajaran, sehingga murid-murid melihat bagaimana suatu sifat mungkin angka ke dalam murid-murid melihat bagaimana suatu sifat mungkin angka ke dalam sebuah cerita atau menjadi bagian dari sebuah percobaan ilmiah atau sebuah cerita atau menjadi bagian dari sebuah percobaan ilmiah atau
bagaimana
bagaimana mungkin mungkin mempengaruhi mempengaruhi mereka. mereka. Membuat Membuat karakter karakter iniini merupakan bagian dari setiap kelas dan setiap subjek.
merupakan bagian dari setiap kelas dan setiap subjek. 5.
5. Pengalaman pembelajaran.Pengalaman pembelajaran. Biarkan siswa Anda untuk melihat sifatBiarkan siswa Anda untuk melihat sifat dalam tindakan, pengalaman itu dan mengungkapkannya. Sertakan dalam tindakan, pengalaman itu dan mengungkapkannya. Sertakan berbasis
berbasis masyarakat, masyarakat, dunia dunia nyata nyata pengalaman pengalaman dalam dalam kurikulum kurikulum yangyang menggambarkan karakter (misalnya, layanan belajar, pembelajaran menggambarkan karakter (misalnya, layanan belajar, pembelajaran kooperatif dan rekan mentoring). Luangkan waktu untuk diskusi dan kooperatif dan rekan mentoring). Luangkan waktu untuk diskusi dan refleksi.
refleksi. 6.
6. Evaluasi.Evaluasi.Evaluasi pendidikan karakter dari dua perspektif:Evaluasi pendidikan karakter dari dua perspektif: 1)
1) Program yang mempengaruhi perubahan positif dalam perilakuProgram yang mempengaruhi perubahan positif dalam perilaku siswa, prestasi akademik dan kognitif pemahaman tentang ciri-ciri siswa, prestasi akademik dan kognitif pemahaman tentang ciri-ciri .. 2)
2) Proses pelaksanaan menyediakan alProses pelaksanaan menyediakan alat dan dukungan guru perlu.at dan dukungan guru perlu. 7.
7. Model peran dewasa.Model peran dewasa. Anak-Anak-anak “mempelajari apa yang merekaanak “mempelajari apa yang mereka tinggal,” jadi penting bahwa orang d
tinggal,” jadi penting bahwa orang dewasa menunjukkan karakter positif ewasa menunjukkan karakter positif di rumah, sekolah dan dalam masyarakat. Jika orang dewasa tidak model di rumah, sekolah dan dalam masyarakat. Jika orang dewasa tidak model perilaku yang mereka ajarkan, seluruh program akan g
perilaku yang mereka ajarkan, seluruh program akan gagal.agal. 8.
8. Pengembangan staf.Pengembangan staf. Menyediakan waktu pelatihan dan pengembanganMenyediakan waktu pelatihan dan pengembangan untuk staf Anda sehingga mereka dapat membuat dan melaksanakan untuk staf Anda sehingga mereka dapat membuat dan melaksanakan pendidikan karakter
pendidikan karakter secara secara berkelanjutan. Termasuk berkelanjutan. Termasuk waktu untuk waktu untuk diskusidiskusi dan pemahaman dari kedua proses dan program, serta untuk menciptakan dan pemahaman dari kedua proses dan program, serta untuk menciptakan rencana pelajaran dan kurikulum.
rencana pelajaran dan kurikulum. 9.
9. Keterlibatan siswa. Melibatkan siswa dalam kegiatan yang sesuaiKeterlibatan siswa. Melibatkan siswa dalam kegiatan yang sesuai dengan usia dan memungkinkan mereka untuk terhubungkan dengan dengan usia dan memungkinkan mereka untuk terhubungkan dengan pendidikan karakter untuk pembelajaran mereka, keputusan-keputsan dan pendidikan karakter untuk pembelajaran mereka, keputusan-keputsan dan