• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspirasi, Jurnal S1 Ilmu Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Aspirasi, Jurnal S1 Ilmu Politik"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 1 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

KETERWAKILAN POLITIK KAUM PEREMPUAN PADA PEMILU LEGISLATIF PERIODE 2019-2024 DI KABUPATEN KAPUAS HULU

Suatu Studi di Kecamatan Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu Oleh

Wendy Septiana1*

NIM. E1052151057

Dr. H. Bakran Suni, M.Ag2. Hairil Anwar,SE, M.Si2

*Email: Wendyseptiana3gmail.com

1. Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak

2. Dosen Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Tanjung Pura

ABSTRAK

Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk menjelaskan hambatan terhadap Keterwakilan Perempuan dalam Lembaga Legislatif Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Metode ini yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif walaupun secara formal keanggotan legislatif perempuan masih dibawah kuota 30% yang harus dipenuhi, akan tetapi menunjukan adanya keterwakilan politik yang baik. Budaya patriaki di kalangan masyarakat mengakar dan mendominasi dalam kehidupan bahkan dalam lingkungan terkecil seperti keluarga nuansa dominasi laki-laki sangat kuat. Dan budaya patriaki memegang peranan dalam pemerintahan politik walaupun sulit diubah namun sedikit demi sedikit telah mengalami pergeseran nilai mengenai kedudukan dan peran kaum perempuan. Ada empat faktor yang menyebabkan penghambat keterwakilan politik perempuan seperti: kendala sistem politik, sosial budaya ekonomi, psikologis menunjukan bahwa kendala sistem politik yang menjadi penghambat dalam mengikuti pemilihan umum legislatif.

Kata Kunci: Keterwakilan politik, Kaum Perempuan, Pemilu Legislatif

(2)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 2 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

COMMUNITY PARTICIPATION IN THE SIMULTANEOUS REGIONAL HEAD ELECTION OF KETAPANG REGENT IN 2015

A Study of Kantor Village, Delta Pawan Sub-District

ABSTRACT

The writing of this research is sourced from the low voter turnout in Kantor Village compared to other villages. This research aims to find out what factors causing the low voter turnout in Kantor Village. This research uses descriptive method with qualitative approach. Research results indicate that factors for low voter turnout in Kantor Village, Delta Pawan Sub-District, Ketapang Regency for the Simultaneous Regional Head Election of Ketapang Regent in 2015 include firstly, internal factors consisting of technical factor and employment factor; secondly, exsternal factors consisting of administrative factor, socialization factor, and political factor. The most dominant factors found are administrative and political factors.

Keywords: Political Participation, Regional Head Election

(3)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 3 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

A.Pendahuluan

1.Latar Belakang Penelitian

Secara realitas politik kaum perempuan masih sangat kurang. Kendala utama disebabkan oleh laki-laki dan perempuan dalam memandang dan memperlakukan perempuan. Budaya patriarki di kalangan masyarakat mengakar dan mendominasi dalam kehidupan, bahkan dalam lingkungan terkecil seperti keluarga nuansa dominasi laki-laki sangat kuat. Label dan cap diberikan pada sosok perempuan yang sangat kental sebagai orang lemah, telah di doktrin secara turun-temurun.

Pada tanggal 17 April 2019 dilakukan pemilihan umum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang diselenggarakan secara serentak untuk memilih Anggota Dewan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Daerah, serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi maupun DPRD Kabupatenp/Kota se- Indonesia periode 2019-2024. Pemilihan umum anggota DPRD di Kabupaten Kapuas Hulu dilaksanakan dengan sistem proposional terbuka, dan di ikuti oleh 14 partai politik.

Pemilu legislatif 2019 merupakan ajang untuk merekrut calon legislatif (caleg) yang diusung oleh berbagai partai untuk duduk sebagai anggota DPR,DPRD untuk masa bakti 2019- 2024. Maka itu partai politik berperan sanggat penting untuk melakukan rekrutmen terhadap

orang-orang yang berkualitas untuk diusung sebagai calegnya, karena kualitas caleg akan berpengauh kepada kualitas parlemen. Hal ini ditegaskan oleh Napitupulu (2005:70) yang menyatakan bahwa pemilu berarti rakyat melakukan kegiatan-kegiatan memilih orang atau sekelompok orang menjadi wakil rakyat atau pejabat pemerintah sehingga turut serta dalam mengambil atau menentukan keputusan nantinya. Hal ini sesuai dengan proses keterwakilan yang berarti proses pengisian jabatan pada lembaga-lembaga politik, termasuk dalam jabatan birokrasi atau administrasi negara atau partai politik.

Dalam melakukan rekrutmen ini juga ada yang harus diperhatikan yaitu keterwakilan perempuan. Dengan demikan dapat dikatakan Indonseia telah mengikat diri untuk melaksanakan kebijakan dan untuk menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, antara lain mencantumkan prinsip hak dan kewajiban, kedudukan, peranan, dan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki dalam peraturan perundang-undang. Terutama yang berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam politik.

Namun, kenyaaannya politik perempuan di Indonesia masih jauh dari idealisme tersebut. Dilihat dari proposalnya jumlah perempuan sebagai anggota parlemen masih belum signifikan. Keterwakilan politik kaum perempuan pada lembaga legislatif

(4)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 4 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

DPRD Kabupaten Kapuas Hulu dalam keikutsertaan pada pemilu tahun 2019, merupakan hak aktif kaum perempuan adalah sebagai hak untuk memperoleh kesempatan untuk ikut secara aktif baik langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan politik sedangkan hak pasif kaum perempuan adalah hak untuk bisa dipilih, ataupun diangkat untuk melaksanakan tugas- tugas kenegaraan. Sebagaimana sudah diatur dalam Undang – Undang tentang keterwakilan perempuan dalam partai politik pada saat mengikuti pemilihan umum sudah memenuhi syarat yang diatur dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008 tentang pemlihan umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pasal 53 menegaskan bahwa daftar calon legislatif memuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan. Namun pada kenyataannya, bahwa keterwakilan politik kaum perempuan masih kurang 30%. Hal tersebut dilihat dari sebelum terpenuhinya menurut Undang – Undang tentang keterwakilan perempuan di dunia politik. Atas dasar pemasalahan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji dan meneliti masalah Keterwakilan Politik Kaum Perempuan Di Lembaga Legislatif DPRD Kabupaten Kapuas Hulu Tahun 2019. Diketahui bahwa keterwakilan perempuan di legislatif

kabupaten Kapuas Hulu belum terpenuhi, bahkan belum mencapai kuota 30% yang sesuai dengan undang-undang. Tentu hal tersebut dapat mempengaruhi perempuan dalam mengeluarkan aspirasi dalam kebijakan sesuai dengan hak-hak perempuan. Kedua perempuan yang duduk dilembaga legislatif Kabupaten Kapuas Hulu adalah Silvia dari Partai Nasdem dan Maura Marsaleno Hiroh dari Partai Demokrat.

2.Fokus Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini menganalisis : Faktor-faktor penghambat keterwakilan perempuan yang terpilih pada lembaga legislatif (DPRD) Kabupaten Kapuas Hulu Tahun 2019-2024.

3.Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “mengapa keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Kapuas Hulu pada periode 2019-2024 masih rendah?”

4.Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam meneliti permasalahan ini adalah Ingin mengetahui dan mendeskripsikan faktor-faktor penghambat keterwakilan perempuan yang terpilih pada lembaga legislatif Kabupaten Kapuas Hulu Tahun 2019-2024.

(5)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 5 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

5.Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah:

a. Secara teoritis manfaat penelitian ini, dapat dijadikan sebagai bahan kontribusi terhadap perkembangan ilmu politik, khususnya studi tentang keterwakilan politik perempuan di DPRD Kabupaten kapuas hulu.

b. Secara praktis diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rekomendasi untuk partai politik, kaum perempuan dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam peningkatan keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Kapuas Hulu.

B.TINJAUAN PUSTAKA

1.Konsep Keterwakilan Perempuan

Salah satu konsep politik yang mendapat perhatian seksama dari kalangan ilmuwan dan praktisi politik, yaitu konsep perwakilan. Konsep ini merujuk pada seseorang atau suatu kelompok yang mempunyai kemampuan atau kewajiban untuk bicara, bertindak atau memperjuangkan hak politik atas nama suatu kelompok yang lebih besar. proses ini disebut dengan perwakilan yang bersifat politik (political representation). Fenomena anggota dewan perwakilan rakyat saat ini pada umumnya mewakili rakyat melalui partai politik. Harris ( 2008:17).

Menurut Sanit, fungsi lembaga legislatif terdiri dari atas perwakilan politik, fungsi perundang-undangan dan fungsi pengawasan lebih jauh Sanit (1985:253) menjelaskan:

1. Melalui fungsi perwakilan politik, lembaga legislatif membuat kebijakan atas nama anggota masyarakat yang secara keseluruhan terwakili di dalam lembaga tersebut.

2. Melalui fungsi pemndang-undangan, dalam fungsi ini tergolong pula kewenangan untuk menghasilkan anggaran pendapatan dan belanja negara, mengusulkan suatu rencana undang-undang dan mengubah suatu undang-undang (amandemen).

3. Melalui fungsi pengawasan, lembaga legislatif dapat mengoreksi semua kegiatan lemhaga kenegaraan lainnya melalui pelaksanaan berbagai haknya.

2.Bentuk-Bentuk Keterwakilan Politik Perwakilan adalah sekelompok orang yang diberikan kepercayaan, otoritas dan kemampuan yang berkorelasi dengan wakil atau yang diwakili. Dalam teori ini, menurut Darwin (2005:53) dapat dijelaskan adanya empat bentuk kemungkinan hubungan dalam memaknai relasi antara wakil dengan terwakil yaitu pertama trusthe model,

(6)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 6 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

delegation model, mandat model dan politico model.

1. Trusthe Model

Model perwakilan rakyat yang didasarkan pada perilaku seorang wakil, yang di pandang mengetahui apa yang terbaik bagi kepentingan bangsa dan masyarakat pemilihnya (konstituen) dan bertindak selaras dengan kepentingan tersebut. Maka itu, wakil rakyat pada konteks ini tidak terkait pada kepentingan partainya.

2. Delegation Model

Wakil rakyat dalam konteks ini dipandang sebagai yang mewakili kontituennya. Oleh karena itu fungsinya di DPR ditentukan oleh apa yang menjadi kepentingan masyarakat pemilihnya.

3. Mandat Model

Dalam konteks ini, pertanggungjawaban seorang wakil rakyat dinilai atas dasar apakah dia loyal atau tidak kepada partai yang mengutusnya. Jadi, segala kegiatannya sebagai wakil rakyat ditentukan oleh kepentingan partainya.

4. Politico Model

Model ini adalah gabungan dari ketiga model teori perwakilan yang telah disebutkan di atas, teori wakil rakyat dan yang diwakili yang disebut Teori mandat, menyatakan bahwa seorang wakil rakyat yang duduk perwakilan

karena mendapat mandat dari rakyat sehingga ia disebut Mandataris.

3.Faktor Penghambat Keterwakilan Kaum Perempuan di Dunia Politik

Rendahnya keterwakilan perempuan di Lembaga Legislatif mengakibatkan minimnya peran dan partisipasi perempuan dalam setiap pengambilan keputusan. Oleh karena itu, sangatlah wajar ketika kebijakan- kebijakan yang dibuat sangat maskulin dan berperspektif gender. Dalam hal ini perempuan tidak banyak terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Menurut Astrid (2009: 302) perempuan lebih banyak sebagai penikmat keputusan. Padahal keputusan yang dihasilkan sering kali sangat biasa gender, tidak memperhatikan kepentingan perempuan. Melainkan lebih

banyak membuat perempuan

menenggelamkan diri pada sektor- sektor yang sangat tidak strategis. Dalam jangka panjang, hal ini mengakibatkan posisi perempuan berada pada posisi marginal.

Hal ini sebagaimana dinyatakan ole Sri Lestari Rahayu (2001-69) bahwa terdapat lima kendala yang menghambat perempuan untuk terlibat di bidang politik antara lain dapat disimpulkan sebagai berikut: kendala pertama adalah kendala sistem politik, meliputi : (1) model maskulin yang mendominasi wanita politik dimana laki-laki lebih menentukan standar untuk evaluasi dan memformulasi aturan perempuan politik. (2) kurangnya dukungan partai dan rendahnya rekrutmen kader politik

(7)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 7 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

perempuan yang masih memberlakukan Standar ganda bagi perempuan dimana persyaratan pencalonan masih diwarnai karakterisitik kaum laki-laki, (3) lemahnya kerjasama dengan organisasi perempuan, (4) ketiadaan sistem pelatihan dan pendidikan yang memadai bagi kaum atau kader perempuan dan, (5) sistem pemilihan (distrik atau proporsional) yang akan menguntungkan kaum perempuan. Kendala kedua adalah menyangkut realitas sosial budaya yakni anggapan adanya dominasi budaya patriaki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan baik wilayah domestik maupun publik yang masih kuat, sehingga menyebabkan adanya stereotip terhadap perempuan yang ingin masuk atau berkarir di dunia politik. Kendala ketiga adalah hambatan psikologis, yakni ketakutan perempuan untuk berkuasa atau meraih kekuasaan. Dan kendala keempat adalah hambatan sosial ekonomi yakni kemiskinan dan pengangguran, lemahnya sumber-sumber keuangan yang memadai, buta huruf dan rendahnya akses pendidikan, termasuk pendidikan politik, serta beban ganda perempuan.

Faktor yang menghambat keterwakilan perempuan dalam berpolitik: (1)Kendala sistem politik, (2)Realis sosial-budaya, (3)Hambatan psikologis, (4)Sosial dan ekonomi (Rahayu,2004:69).

C. METODE PENELITIAN 1.Jenis Penelitian

Penentuan jenis penelitian yang akan digunakan adalah sesuai dengan masalah sifat dan tujuan penelitian. Jenis penelitian

ini yang akan digunakan adalah jenis deskriptif dalam bentuk kualitatif. Menurut Faisal (2012:2) bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisa, dan menginterprestasikan kondisi-kondisi sekarang ini.

2.Langkah-langkah Penelitian

Adapun menurut Rahman, (2002 36- 37) ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seorang penulis dalam melaksanakan tugas penelitiannya, tahap tersebut:

a. Memilih atau menentukan permasalahan penelitian (research problem).

b. Melakukan pra survey (pra penelitian ) yang bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi awal.

c. Membuat rencana atau desain penelitian atau yang disebut juga dengan

proposal penelitian yang memasukan unsur masalah, pertanyaan penelitian, memilih pendekatan dan jenis penelitian yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti.

d. Melaksanakan penelitian.

e. Membuat laporan hasil penelitian.

(8)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 8 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

3.Subjek dan Objek Penelitian a.Subjek Penelitian

Teknik penentuan subjek penelitian dilakukan secara Purposive artinya pengambilan infomasi disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dalam hal ini jumlah informan disesuaikan dengan keperluan dan prinsip ketercukupan informasi. Dipilihnya subjek penelitian di bawah ini dikarenakan beberapa alasan diantaranya, instansi maupun informan mempunyai sumber informasi dan data terkait Keterwakilan Perempuan Dalam Lembaga Legislatif Di Kabupaten Kapuas Hulu. Keterangan- keterangan yang diberikan oleh subjek penelitian diharapkan mampu menjadi sumber infomasi yang akurat untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di lapangan. Adapun subjek penelitian sebagai berikut :

1. Anggota legislatif Kabupaten Kapuas Hulu 3 orang

2. Caleg perempuan yang tidak terpilih 5 orang

3. Sekretaris KPU Kabupaten Kapuas Hulu

4. Masyarakat pemilih 1 orang b.Objek Penelitian

Adapun yang menjadi objek penelitian ini yaitu Keterwakilan Perempuan Dalam Lembaga Legislatif Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat Studi pada Anggota

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kapuas Hulu Tahun 2019.

4.Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini adalah di Kabupaten Kapuas Hulu, Khususnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kapuas Hulu dengan alasan bahwa di Kabupaten Kapuas Hulu anggota DPRD masih rendah atau belum memenuhi kouta 30% keterwakilan perempuan.

5.Teknik Pengumpulan Data a.Teknik Wawancara

Teknik wawancara yaitu melakukan tanya jawab secara langsung Kepada subjek penelitian. Guna pengumpulan data primer dengan mengacu kepada suatu panduan wawancara yang sudah dipersiapkan sebelumnya agar tidak menyimpang dari tujuan penelitian yang membahas tentang faktor penghambat keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Kapuas Hulu periode 2019-2024.

b.Dokumentasi

Dokumentasi yaitu penelitian yang dilakukan dengan mempelajari dokumen- dokumen pemerintah yang erat hubungannya dengan materi penelitian dan didukung oleh alat, arsip arsip dan dokumen.

(9)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 9 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

6.Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti sendiri, dimana peneliti harus mengumpulkan data yang valid dan akurat dan terlibat langsung dengan masyarakat serta untuk memudahkan pengumpulan data peneliti juga dilengkapi dengan alat-alat pengumpul data yang telah disiapkan sebelumnya. Adapun yang menjadi alat pengumpul data yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1.Pedoman wawancara

Peneliti membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan.

Pertanyaan terstruktur agar tidak menyimpang dari maksud yang dibahas untuk mendapatkan informasi yang diperlukan sesuai dengan lingkup penelitian.

Panduan wawancara ini digunakan oleh peneliti kepada informan seperti Anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu dan Caleg yang tidak terpilih.

2.Alat dokumentasi

Alat yang digunakan yaitu berupa buku catatan, kamera dan tape recorder untuk mencatat data-data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Kamera digunakan untuk mengambil gambar dari objek-objek yang penting ketika diamati.

7.Analisis Data.

a.Teknik Wawancara

Miles and Huberman (dalam Sugiyono 2007:91) mengemukakan bahwa aktifitas datam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Untuk menganalisis data-data dan infomasi yang ada, peneliti menggunakan tiga tahap analisis data, yaitu:

1.Tahap reduksi data

Data yang berhasil dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dilakukan pemisahan, dipilih hal-hal yang pokok dan lebih difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting dan dicari tema serta polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2.Penyajian data

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang telah terjadi,

(10)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 10 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Data yang sudah dipilah-pilah untuk segera diolah sehingga dapat dengan mudah ditafsirkan untuk melengkapi pada tahap penarikan kesimpulan.

3.Verifikasi data

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Tahap ini adalah tahap terakhir dalam analisis data kualitatif kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan yang didukung oleh kondisi-kondisi yang kuat dan relavan dengan masalah yang diteliti.

D.HASIL DAN PEMBAHASAN

1.Faktor Yang Menghambat Keterwakilan Perempuan Dalam Politik

Keterwakilan perempuan dalam politik, terutama di lembaga perwakilan rakyat (DPR/DPRD), bukan tanpa alasan yang mendasar. ada beberapa hal yang membuat pemenuhan kuota 30% bagi keterwakilan perempuan dalam politik dianggap sebagai sesuatu yang penting.

Beberapa di antaranya adalah tanggung jawab dan kepekaan akan isu-isu kebijakan publik, terutama yang terkait dengan perempuan dan anak, lingkungan sosial, moral yang baik, kemampuan perempuan melakukan pekerjaan multitasking, dan pengelolaan waktu. Selain itu, perlu diakui kenyataan bahwa perempuan sudah terbiasa

menjalankan tugas sebagai pemimpin dalam kelompok-kelompok sosial dan dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti di posyandu, kelompok pemberdayaan perempuan, komite sekolah, dan kelompok- kelompok pengajian. A1asan tersebut tidak hanya ideal sebagai wujud modal dasar kepemimpinan dan pengalaman organisasi perempuan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Menunjukkan bahwa perempuan dekat dengan isu-isu kebijakan publik dan relevan untuk memiliki keterwakilan dalam jumlah yang signifikan dalam memperjuangkan isu-isu kebijakan publik dalam proses kebijakan terutama di lembaga perwakilan rakyat (Adinda, 2008:1). Untuk melihat penyebab atau penghambat perempuan dalam berpolitik terutama dikabupaten Kapuas Hulu penulis melakukan tinjauan dari 4 faktor yaitu aspek sistem politik, sosial-budaya, hambatan psikologis, dan sosial ekonomi.

a.Kendala Sistem Politik

Kurangnya dukungan partai politik terhadap perempuan. Secara lebih spesipik.

sistem politik dan partai-partai politik Indonesia dinilai sangat tidak peka gender.

Akibatnya, kaum perempuan berikut isu-isu yang menyangkut diri mereka menjadi direndahkan.

Sistem politik yang semakin lama semakin canggih dan diperbarui. Dalam

(11)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 11 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

kondisi politik normal, pemilihanumum di Indonesia diadakan setiap lima tahun sekali.

Sistem politik yang terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu sedikit tidak stabil dibuktikan dengan minimnya keterwakilan perempuan dalam pemilu. keterwakilan perempuan di parlemen menuntut suatu kapasitas yang kualitatif mengingat bahwa proses rekrutmen politik sepatutnya dilakukan atas dasar meritsistem. Peningkatan kualitas perempuan dapat dilakukan, antara lain dengan meningkatkan akses terhadap fasilitas ekonomi, kesehatan dan pendidikan.

Ada alasan serupa yang diungkapkan oleh lbu SW (Caleg tidak terpilih) bahwa :

”pertama dengan sistem pemilu proporsional terbuka dalam pemilu 2019, perempuan bakat calon bukan hanya harus berjuang agar namanya masuk di dalam daftar jadi partainya, tetapi harus berada pada urutan pertama atau kedua dalam daftar calon. Kedua, daerah pemilihan. Semakin kecil kursi yang diperebutkan di suatu daerah pemilihan, semakin kecil perempuan akan terpilih.

Sebaliknya, semakin besar daerah pemilihan, maka semakin besar peluang perempuan caleg untuk terpilih.”

b.Kendala Sosial Budaya

Dalam negara yang menganut sistem nilai patriarki, seperti Indonesia, kesempatan perempuan untuk menjadi politisi

relatifterbatasi karena persepsi masyarakat mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, yang cenderung bias kearah membatasi peran perempuan wanita pada urusan rumah tangga. Namun demikian, pada masa perjuangan kemerdekaan, kebutuhan akan kehadiran banyak pejuang, baik laki-laki maupun perempuan, membuka kesempatan luas bagi para wanita untuk berkiprah di luar lingkup domestikdengan tanggung jawab urusan rumah tangga. Selain itu juga Berhubungan dengan konteks budaya di Indonesia yang masih sangat ketat asas patriarkinya. Persepsi yang sering dipegang adalah bahwa arena politik adalah untuk laki-laki, dan bahwa tidaklah pantas bagi wanita untuk menjadi anggota parlemen.

Hasil wawancara penulis terhadap lbu S (Caleg terpilih) bahwa pada umumnya:

“pencalonan perempuan di lembaga legislatif tidak serta merta menghambat perempuan sebagai ibu dan istri, mengapa..? saat kita dirumah dapat diartikan kita milik keluarga dan saat di kantor kita milik masyarakat yang akan menyejahterakan masyarakat. Sebab Rumah tangga atau keluarga merupakan lingkup terkecil dari sebuah masyarakat yang merupakan pusat awal dari pembentukan tingkah laku seseorang.

Disisi lain peran perempuan datam dunia

(12)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 12 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

politik sangat penting sebab keberadaan perempuan sebagai bagian dari masyarakat menjadikan mereka juga memiliki kewajiban yang sama untuk mewujudkan kesadaran politik pada diri mereka dan masyarakat secara umum.”

c.Hambatan Psikologis

Terlepas dari berbedaan antara laki- laki dan perempuan. Sejak dari Budaya sampai Sosial dan Ekonomi dapat menjadi hambatan psikologis bagi calon legislatif karena ditakutkan gagal tidak terpilih, selain itu kurangnya kesadaran dan kepercayaan diri perempuan untuk terlihat di bidang politik dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan perempuan di lembaga legislatif serta beban ganda yang harus ditanggung perempuan yang berkarier di bidang politik.

Kurangnya rasa kepercayaan diri adalah penyebab utama atas kurangnya keterwakilan perempuan dalam ruang · ruang publik politik : parlemen, yudikatif pemerintahan, hingga partai-partai politik.

Kekurangan atau ketidakpercayaan perempuan ini dapat kita telusuri penyebabnya. Antara lain disebabkan oleh :

a) Adanya argument mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan harus dilindungi, oleh karena itu lemahnya perempuan maka pekerjaan yang cocok bagi mereka

adalah pekerjaan dengan lingkup domestik rumah tangga seperti : mengurus anak, menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya dan lain sebagainya. Sedangkan di sisi lain, pria adalah makhluk yang kuat siap berjibaku, tangguh dan seterusnya sehingga ia pantas bekerjadiluar rumah pada ruang-ruang publik b) Adanya Argument kalau perempuan

tidak wajib menafkahi keluarga dengan begitu pencalonan legislatif tidak dapat berlaku sebab akan lebih banyak menerima gaji. Ada pula argument yang menyatakan bahwa Seluruh perempuan calon anggota DPR diharapkan dapat bersatu datam menyamakan persepsi dan visi tentang prioritas pembangunan agar dapat merealisasikan aspirasi sebagian rakyat yang masih di bawah garis kemiskinan.

c) Adanya argument kalau perempuan merupakan makhluk yang tidak lengkap, sehingga mereka tidak percaya diri untuk bersaing dengan kelompok laki-laki, sehingga manakala mereka diberi pekerjaan yang sama dengan kaum pria mereka merasa tidak cukup mampu dalam mengerjakannya. oleh sebab itu, perempuan hanya baik dan sukses apabila menjalankan kodratnya

(13)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 13 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

sebagai makhluk reproduksi semata dan bukan

bekerja di hidang pemerintahan.

Begitu juga yang di ungkapkan oleh Ibu PR (caleg tidak terpilih) menyatakan bahwa:

“Bagi saya yang paling berat ketika terjun langsung dalam dunia politik adalah faktor psikologis. Karena saya harus mendapatkan restu dari suami dan anak- anak saya. Tetapi sejauh ini keluarga saya mengizinkan saya untuk terjun ke dunia politik. Walaupun saya tidak terpilih di sinilah sebenarnya seorang perempuan di uji secara mental, bagaimana mengurus rumah tangga dan terjun ke dunia politik.”

d.Kendala Sosial Ekonomi

Faktor penghambat yang lain adalah ketergantungan ekonomi wanita terhadap laki-laki. Ketergantungan ekonomi membuat wanita lemah dalam aspek yang lain, termasuk kemandirian dalam mengambil keputusan, akses sosial. Politik dan kesempatan untuk mengembangkan diri.

Sebagian besar politisi wanita juga terbentur masalah ketergantungan ekonomi.

Kampanye politik membutuhkan dana yang tidak sedikit, di tingkat yang paling rendah (pemilihan ketua desa) sekalipun. Wanita yang secara ekonomi sangat tergantung pada laki-laki tentu saja akan menemui hambatan besar masalah pendanaan kampanye ini.

Meskipun ia-. memiliki kualifikasi seba8ai tokoh politik yang potensial, wanita yang tidak mandiri secara ekonomi tidak dapat berbuat banyak, sehingga dukungan dari keluarga atau suami sangat dibutuhkan guna mencukupi kebutuhan sosial ekonomi para caleg perempuan.

Kendala sosial ekonomi memainkan peran yang menentukan dalam rekrutmen anggota legislatif perempuan datam ruang publik baik dalam demokrasi yang baru berkembang maupun dalam demokrasi yang sudah mantap. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa status sosial ekonomi perempuan datam masyarakat mempunyai pengaruh langsung pada keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga publik formal.

Berdasarkan wawancara penulis terhadap Ibu MMH (caleg terpilih) berpendapat bahwa:

“Yang paling berat saya rasakan dalam mengikuti pemilu legislatif kemarin adalah masalah ekonomi. Dikarenakan bahwa saya harus mendanai diri saya sendiri dan juga saat ini saya sebagai pimpinan partai politik yang memerlukan biaya sebagai partai peserta pemilu.

Namun, banyaknya biaya yang saya keluarkan selama mengikuti caleg kemarin.”

E.PENUTUP 1. Kesimpulan

(14)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 14 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa keterwakilan perempuan memiliki peran yang sangat penting datam membawa kepentingan dan kebutuhan perempuan di datam kebijakan.

Namun di sisi lain perempuan membutuhkan pemberdayaan melalui peran kebijakan pemerintah untuk meningkatkan partisipasi dan keterwakilannya di parlemen. Faktor- faktor itu dapat dikategorikan ke datam bidang politik, hambatan sosial-budaya, hambatan psikologi, dan sosial-ekonomi.

Faktor-faktor politik adalah kurangnya dukungan parpol terhadap perempuan Secara lebih spesifik, sistim politik dan partai-partai politik Indonesia dinilai sangat tidak peka jender.

Akibatnya, kaum perempuan berikut isu-isu yang menyangkut diri mereka menjadi diremehkan. Faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap sistem politik ialah adanya faktor sosial-Budaya yang menganggap perempuan hanya tepat menjadi ibu rumah tangga dan tidak cocok untuk berperan aktif dalam fungsi publik di masyarakat, apalagi aktor politik. Pemikiran ini jelas sangat membatasi peluang perempuan untuk berperan aktif di panggung politik. Hambatan bagi perempuan dapat terjadi karena Kurangnya peran serta perempuan dalam politik, terutama di lembaga-lembaga politik secara tidak langsung berhubungan dengan faktor-

faktor Psikologis yang fundamental.

Kurangnya sistem pendukung dan basis dukungan bagi kaum dan kelompok- kelompok perempuan juga disoroti sebagai kendala besar terhadap partisipasi politik perempuan, belum ada satupun organisasi yang bisa berperan melakukan koordinasi pembentukan basis dukungan ini secara baik, termasuk partai politik. Faktor penghambat yang lain adalah ketergantungan ekonomi wanita terhadap laki-laki. ketergantungan ekonomi membuat wanita lemah dalam aspek yang lain, termasuk kemandirian dalam mengambil keputusan, akses sosial, politik dan kesempatan untuk mengembangkan diri.

2.Saran

1. Dalam mengatasi tantangan dan hambatan-hambatan yang ada, terlebih hambatan tersebut erat kaitannya dengan budaya, dan ideologi yang telah tertanam di masyarakat pemerintah perlu memberikan solusi seperti memberikan kesadaran publik melalui pendidikan kewarganegaraan dan pemilih, reformasi hukum, politik, kepemiluan, dan kelembagaan dukungan kapasitas, dan pengembangan jejaring dan koalisi.

2. Dalam usaha meningkatkan keterwakilan perempuan, perlu melakukan pendekatan perempuan ke partai agar partai mau mengeluarkan berbagai kebijakan yang

(15)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 15 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

dapat meningkatkan keterwakilan perempuan antara lain:

a.partai mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan kualitas perempuan seperti memberikan pendidikan dan pengkaderan politik

b.partai mengeluarkan kebijakan yang menyadarkan pemilih akan pentingnya memilih wakil-wakil rakyat yang berpihak kepada perempuan

c.Partai didorong untuk menempatkan perempuan pada jabatan- jabatan strategis dalam partai

d.Partai harus merekuit caleg perempuan dengan Kriteria khusus yaitu caleg perempuan yang memiliki amanah pemilu.

3. Pemberdayaan perempuan perlu di tingkatkan terutama pendidikan politik perempuan. Untuk sebagai wadah kaum perempuan guna memperoleh pengetahuan yang banyak tentang dunia politik agar perempuan mendapatkan akses yang sama dalam partisipasi di bidang politik. Perlu meningkatkan wawasan dan pemahaman terhadap bidang politik serta selalu aktif dalam setiap organisasi agar dapat melatih diri menjadi pemimpin politik.

F.DAFTAR PUSTAKA

Anugerah,Astrid S.H. 2009, “Keterwakilan Perempuan Dalam Politik”, Jakarta : Pancuran Alam.

Andriana, N.E. 2012. “Perempuan, Partai Politik Dan Parlemen:Studi Kinerja Anggota Legislatif Perempuan Ditingkat Lokal”. Jakatra:

PT.Gading Inti Prima

Budiardjo, Mariam.2002. “Partisipasi dan Partai Politik”, Jakarta: Gramedia Pustaka Umum

Budiardjo, Meriam. 1980. “Demokrasi Di Indonesia”, Kumpulan Karangan.

Jakarta: PT. Gramedia

Budiardjo, Meriam, 2008 “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

David Easton, 1963. “Partisipasi Politik”, Penerbit Cv Rajawali Jakarta.

Faisal, Sanapiah. 2012. “Format-Format Penelitian Sosial”, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Harris,Andi.2008. “Di Balik Optimisme Perwakilan Politik”. Jakarta: PT Pancuran Alam

Kartikasari,Dian, 2012 “Strategi Peningkatan Keterwakilan Perempuan di Parlemen”, Padang:

Sekjen Koalisi Perempuan

Kanisius, 2008. Politik Berparas Perempuan, Yogyakarta: Anggota IKAPI

Moleong, Iexy.J. 2006. “Metode Penelitian Kualitatif”. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Nugroho, R.2008. “Gender dan Strategi pengarus-Utamaannya di Indonesia”, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(16)

Wendy Septiana, Nim. E1052151057 P a g e 16 Program Studi Ilmu Politik FISIP Untan

Rahman, Arifin, 2002 “Sistem Politik Indonesia”, Surabaya: SIC

Romany Shihite. 2007. “Perempuan, Kesetaraan, dan Keadilan". Suatu Tinjauan Berwawasan Gender, Jakarta: PT.Grafindo Perkasa.

Samuel P Huntington Dan Joan Nelson, 1994.

Partisipasi Di Negara Berkembang.

Jakarta:PT Rineka Cipta

Sanit,Arbi. 1985. “Swadaya Politik Masyarakat”. Jakarta: CV.Rajawali Press

Sastroatmodjo, Sudirjono, 1995. “Perilaku Politik”. Semarang: IKIP Semarang Aress

Sjamsuddin, Nazarudin. 1993. “Dibamika Sistem Politik Indonesia”, Jakarta:

Gramedia

Sri Lestari Rahayu, 2004. “Rintangan- Rintangan Pemberlakuan Kuota 30% bagi Perempuan”

Sugiyono, 2007. “memahami penelitian Kualitatif”. Bandung: penerbit CV Alfabeta

Surbakti,A.Ramlan.1994. “Perbandingan sistem politik” Surabaya: Grafika Surbakti, A.Ramlan 2003. Memahami Ilmu

Politik, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Sugito, dkk 2011, “pedoman penulis skripsi”. Pontianak:Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura

Jurnal:

Ardian Farnas, dkk. 2007. Persepsi dan Partisipasi Politik dalam Pemilu 2004. Dinamika (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), edisi januari 2007.

Muhardjir Darwin, 2005. Gerakan Perempuan dari Masa ke Masa. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 7, No.3:1410-4946

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini, penulis melihat bahwa kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan yang tidak terlepas dari budaya Mandailing tidak membeda-bedakan antara keduanya

ILMU EKONOMI ILMU SEJARAH PSIKOLOGI SOSIAL ILMU POLITIK PSIKOLOGI SOSIAL GEOGRAFI ILMU HUKUM ETIKA SOSIOLOGI ILMU POLITIK ANTROPOLOGI BUDAYA SOSIOLOGI...

Banyak alasan yang menjadi landasan mengapa para perempuan- perempuan tersebut memutuskan untuk menjadi tenaga kerja migran seperti kesempatan ekonomi yang lebih baik dibandingkan

Dari keempat faktor penyebab terhambatnya keterwakilan politik perempuan seperti faktor sistem politik, sosial budaya, ekonomi, psikologis, penulis menyimpulkan bahwa faktor

Budaya patriarkis dalam Pemilihan Calon Legislatif pada Pemilihan Legislatif Tahun 2014 yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menjadi hambatan, apabila di

Munculnya kekerasan kepada perempuan terkait dengan gagasan budaya atau taksir dominan, sifat konfigurasi sosial, dan jejak hubungan antara laki-laki dan perempuan.UN Women sebagai

Namun hasil penelitian menunjukkan masih ada hambatan psikologis, konstruksi sosial budaya yang menyulitkan perempuan untuk berpolitik; perempuan belum berani menerobos batas patriarkhi

Dalam situasi yang demikian, baik secara sosial, politik, ekonomi, maupun budaya, perempuan masih menjadi sub- ordinatif laki-laki, sehingga tidak terlalu mengherankan bila tuntutan