20 BAB II
WASIAT KEPADA AHLI WARIS MENURUT PENDAPAT ULAMA DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
A. Pendapat Ulama tentang Wasiat Kepada Ahli Waris
Kata wasiat diambil dari kata waṣaitu, asy-syaia, ūṣīhi, artinya auṣaltuhu (aku menyampaikan sesuatu). Maka mūṣīy (orang yang berwasiat) adalah orang yang menyampaikan pesan di waktu dia hidup untuk dilaksanakan sesudah dia meninggal dunia.28
Dalam istilah syara‟, wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain baik berupa barang, piutang ataupun manfaat untuk dimiliki oleh orang yang diberi wasiat sesudah orang yang berwasiat meninggal dunia.
Menurut para fuqaha, wasiat adalah akad yang boleh dalam arti, bahwa wasiat tersebut dapat dibatalkan sewaktu-waktu oleh salah satu pihak. Dan dalam hal ini adalah oleh pihak pemberi wasiat berdasarkan kesepakatan fuqaha. Yakni bahwa pemberi wasiat dapat mencabut kembali harta yang telah diwasiatkan, kecuali hamba mudabbar,29 karena fuqaha memperselisihkannya.30
Wasiat terdiri dari dua macam, wasiat tamlīkiyyah, seperti seseorang berwasiat dengan sebagian harta untuk diberikan kepada seseorang sesudah wafatnya. Dan wasiat ahdiyah, seperti wasiat berkaitan dengan penanganan jenazah seseorang dan wasiat untuk pelaksanaan ibadah atas nama dirinya sesudah ia wafat.31
Ahli waris yaitu mereka yang berhak menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya hubungan kekerabatan atau ikatan pernikahan.
Dengan adanya ahli waris yang masih hidup pada waktu pewaris meninggal,
28 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, penerjemah: Mudzakir, cet. 14 (Bandung: PT Alma’arif, 1987), hlm. 230.
29 Budak mudabbar adalah budak yang kemerdekaannya digantungkan pada kematian tuannya. Seperti ucapan seorang tuan pada budaknya, “jika aku meninggal dunia, anda merdeka”.
30 Ibnu Rusy, Bidayatul mujtahid: analisa fiqih para mujtahid, penerrjemah: Imam Ghazali Said dan Achmad Zaidun, jilid 3 (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), hlm. 372.
31 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, penerjemah: Masykur A.B., dkk, cet. 13 (Jakarta: Lentera Basritama, 2005), hlm. 238.
maka hak-hak kepemilikan dari pewaris bisa berpindah kepada ahli waris tersebut.
Datangnya agama Islam tidaklah menghapus dan membatalkan lembaga wasiat yang sudah diterima secara umum oleh masyarakat waktu itu.
Islam menerima institusi yang sudah lama berjalan itu dengan jalan memberikan koreksi dan perbaikan seperlunya, sehingga wasiat tetap menjadi suatu lembaga yang diperlukan yang dalam pelaksanaannya hak kaum kerabat perlu diperhatikan.32
Di kalangan para ulama berselisih pendapat tentang hukum berwasiat kepada salah seorang ahli waris yang akan mendapatkan warisan, diantaranya:
1. Pendapat Imam Syafi’i
Mengenai wasiat kepada ahli waris, Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 180.
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf33, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”.34 (QS. Al-Baqarah: 180)
Ayat ini telah di nasakh masa berlakunya oleh ayat pembagian harta warisan dengan turunnya surat al-Nisā’ ayat 11-14:35
32 Helmi Karim, Fiqh Muamalah, cet 2 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), hlm.
84.
33 Ma'ruf ialah adil dan baik. wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. ayat ini dinasakhkan dengan ayat mewaris.
34 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemah Al-Hikmah…, hlm. 44.
35 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemah Al-Hikmah…, hlm. 116-118.
Artinya: “Allah SWT mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka
untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan36; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua37, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separoh harta. dan untuk
36 Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah.
37 Lebih dari dua Maksudnya: dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi saw.
dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian- pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.
ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Nisā’: 11)
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)38. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar- benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun. (QS. al-Nisā’: 12)
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya;
dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. al-Nisā’: 13)
dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah SWT memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di
38 Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan.
Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.
dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”. (QS. al- Nisā’: 14).
Apabila dicermati lebih lanjut, ayat 11 surat al-Nisā’ di atas secara khusus menunjukkan penegasan wasiat bagi kerabat, sedangkan ayat 12 menunjukkan bahwa waris sebagai hak yang baru diberikan setelah ditunaikan wasiat dan dibayarnya hutang. Namun, apabila memperhatikan hadits Nabi, maka pembayaran hutang lebih didahulukan daripada pelaksanaan wasiat ketika memutuskan perkara (mengadili).39
Penggabungan perintah Allah SWT terhadap wasiat kepada kedua orang tua dan kerabat itu mengandung kemungkinan makna.40
a. Kedua orang tua dan para kerabat memiliki dua perintah itu secara bersama-sama, sehingga memberi wasiat harus membuat wasiat kepada mereka, sehingga mereka mengambil dengan wasiat dan mereka juga memperoleh warisan.
b. Perintah wasiat turun untuk menghapus agar wasiat tetap berlaku bagi mereka. Namun Imam Syafi’i menemukan dalil yang menunjukkan bahwa wasiat untuk kedua orang tua dan kerabat yang mewarisi itu terhapus dengan ayat-ayat tentang warisan.
Oleh karena ia telah dihapus, maka kemungkinan wasiat untuk kedua orang tua itu gugur, hingga seandainya seseorang berwasiat untuk keduanya, maka wasiat tersebut tidak boleh. Tidak ada riwayat dari Nabi SAW dan Imam Syafi’i tidak mengetahui para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Ketiadaan riwayat dan perbedaan pendapat para ulama menunjukkan pendapat yang kami sampaikan ini, meskipun dikemungkinkan bahwa yang dihapus adalah kewajibannya saja sehingga apabila seseorang berwasiat untuk mereka maka hukumnya boleh.41
39 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, jilid 10 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1997), hlm. 7442.
40 Imam Al-Syafi’i, Al Uum, Penerjemah: Misbah (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014), hlm.
496.
41 Imam Al-Syafi’i, Al Uum, Penerjemah: Misbah…, hlm. 497.
Dengan turunnya ayat mawarits tersebut, maka berakhirlah masa diwajibkannya berwasiat kepada ahli waris sesama muslim. Ayat yang mewajibkan berwasiat kepada ahli waris tersebut di atas, seperti dikemukakan oleh Abdul Wahhab Khalaf, tidak lagi berlaku umum bagi ahli waris sesama muslim, tetapi khusus bagi kerabat yang terhalang untuk mendapatkan harta warisan disebabkan berlainan agama. Misalnya, seorang anak beragama Islam sedangkan dua orang ibu-bapaknya non muslim. Maka anaknya yang muslim itu apabila mempunyai harta diwajibkan untuk mewasiatkan sebagian hartanya untuk kedua orang ibu bapaknya yang nonmuslim tersebut.42
Jika seseorang berwasiat untuk kedua orang tua lalu para ahli waris memperkenankannya, maka bukan dengan wasiat keduanya mengambil harta tersebut, melainkan mereka mengambilnya karena para ahli waris memberikan harta mereka kepada keduanya, karena Imam Syafi’i telah membatalkan hukum wasiat untuk kedua orang tua dimana nash mansukh dalam wasiat berlaku untuk kedua orang tua. Nash tersebut juga menyebutkan kerabat bersama mereka secara garis besar. Oleh karena kedua orang tua itu mewarisi, maka Imam Syafi’i mengqiyaskan setiap yang mewarisi kepada kedua orang tua.43 Oleh karena diantara para kerabat itu ada yang mewarisi dan ada yang tidak mewarisi, maka Imam Syafi’i membatalkan wasiat untuk kerabat yang mewarisi berdasarkan nash dan qiyas, serta berdasarkan riwayat:
أَا أَ يُّ اللهِ أَ خْ أَلا اللهِ عُ خْ أَ عُ خْ عُ أَ خْ عُ أَ أَ أَ خْ أَ
أَا أَ اللهِ أَا أَ عُلا عُ خْ اللهِ عُ خْ أَ أَ أَ أَ خْ أَ : :
أَا أَ أَ أَ اللهِا أَ اللهِ خْ اللهِ خْلأَ خْ أَ أَ أَا أَ أَ خْ أَ دٍ اللهِا أَ اللهِ أَ عُ خْ عُ خْ اللهِ أَلخْ اللهِ أَ أَ أَ خْ أَ
أَا خْوعُ أَا :
42 Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga..., hlm. 381.
43 Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i, Al Uum, jilid 4 (Beyrut: Dar Al- Kutub Al-Ilmiyah, 1993), hlm. 145.
اللهِ
أَ لَّ أَ أَ اللهِ خْ أَ أَ عُ أَ أَ
أَ لَّ اللهِ : عُ عُلخْ لَّزأَ
عُ لَّ أَ قٍّ أَ خْ اللهِ لَّ عُ أَ خْ أَ خْ أَ
أَ
أَلَ
اللهِ اللهِا أَواللهِا أَ لَّ اللهِ أَ اللهِ
( ئ سنا ا
44)
Artinya: “ʼUtbah bin Abdullah al-Marwaziy mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Mubarak menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma‟il bin Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari umar bin kharijah, Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan hak kepada siapa yang berhak dan tidak ada wasiat untuk ahli waris”. (HR. Al- Nasā’i)
Menurut Imam Syafi’i, berdasarkan ayat al-Qur’an surat al- Baqarah ayat 180 dan hadits Nabi SAW, dapat dipahami bahwa para ahli waris dihalangi untuk memperoleh wasiat agar mereka tidak mengambil harta mayit dari dua jalan. Karena harta yang ditinggalkan orang yang meninggal dunia itu diambil dengan jalan warisan dan wasiat. Oleh karena hukum keduanya itu berbeda, maka seseorang tidak boleh menggabungkan dua hukum yang berbeda dalam satu hukum dan dalam satu keadaan, sebagaimana tidak boleh dia diberi sesuatu dan lawan dari sesuatu itu.45
Seandainya seseorang berpandang bahwa wasiat untuk ahli waris tidak boleh mencegah kecurigaan terhadap pemberi wasiat sekiranya dia pilih kasih kepada salah satu ahli warisnya, maka seandainya bukan karena keletihan yang dirasakan sebagian orang yang menggeluti fiqh, maka menurut Imam Syafi’i orang yang berpandangan demikian tidak perlu dijawab. Karena barangsiapa yang samar memahami hal ini hingga tidak melihat dengan jelas kesalahan didalamnya, maka tampaknya dia tidak membedakan antara sesuatu dengan lawannya.46
Setiap obyek yang diwasiatkan oleh orang yang sakit pada masa sakitnya, dimana dia meninggal dunia akhibat sakit itu (diwasiatkan) untuk seorang ahli waris berupa pemilikan harta atau manfaat dengan jalan
44 Abdirrahman Ahmad Ibni Syu’aib Ibni Ali al-Khurasani al-Nasā’i, Sunan al-Kubro lin- Nasāʼi, jilid 6 (Beyrut: Muasasah al-Risalah, 2001), hlm. 158.
45 Imam Al-Syafi’i, Al Uum…, hlm. 497.
46 Imam Al-Syafi’i, Al Uum…, hlm. 498-499.
apapun itu hukumnya tidak boleh. Tidak boleh memberikan wasiat tersebut kepada ahli waris dengan jalan apapun.47
Al-Rabi’ mengabarkan kepada kami, dia berkata: Asy-Syafi’i berkata: Jika seseorang meminta izin untuk memberikan wasiat kepada seorang ahli waris, baik di waktu sehat atau sakit, baik mereka mengizinkan atau tidak mengizinkan, maka semua itu hukumnya sama.
Jika mereka merealisasikan izin mereka, maka itu lebih baik bagi mereka dan lebih bertakwa kepada Allah SWT, serta lebih bagus bagi ucapan mereka yang memperkenankannya. Jika mereka tidak melakukannya, maka hakim tidak boleh memaksa mereka untuk melakukannya.48
Pendapat ini termasuk pendapat yang dituturkan dari Rasulullah SAW tentang warisan.
أَا أَ أَ أَنخْ أَ عُ عُ خْ عُ أَ خْ عُ أَ أَ أَ خْ أَ
عُا خْوعُ أَ لَّ اللهِ خْ يُّزا عُ خْ اللهِلأَ : لَّ أَ اللهِق أَ اللهِ خْا عُ خْ أَ أَ أَ أَ :
أَ اللهِضأَا اللهِب لَّ أَخخْا أَ خْ أَ أَلعُ لَّ أَ ٌ أَلاعُف اللهِ أَ أَ خْ أَ أَلَ عُ أَهخْشأَ أَف عُ خْوعُجأَت أَلَ اللهِاخْ عُ خْحأَلخْا أَ أَا أَهأَش عُ خْنأَ عُ
أَ أَ خْكأَ اللهِ أَ اللهِلَ أَا أَ . أَ عُتأَا أَهأَش خْ أَ اللهِ عُ أَ خْ عُت خْ اللهِ خْ أَ أَ عُتأَا أَهأَش خْ أَ خْ عُت خْ عُت :
أَا أَ ˓
عُ أَ خْ عُ
عُ عُ خْ اللهِ أَحأَف عُ أَ أَ خْ أَ اللهِ لَّا يُّ اللهِ خْ يُّزا لَّلأَ : لَّلأَ أَف اللهِ خْ اللهِف عُ خْكأَكأَشأَ عُ عُ خْ اللهِسأَ لَّ عُث ˓
دٍ خْ اللهِ عُ خْ عُ أَلعُ اللهِا أَا أَ أَف أَ أَ أَ خْ أَ عُ خْاأَ أَ أَنخْلعُ
عُ خْ عُ أَف اللهِ يِّ أَسعُلخْا عُ خْ عُ خْ اللهِ أَ أَوعُ : :
أَا أَ أَف لا أَ أَلخْ اللهِف أَ خْكأَكأَش خْ أَ
قٍّ أَش أَ خْ أَ اللهِ يِّ أَسعُلخْا عُ خْ عُ خْ اللهِ أَ أَوعُ أَلَ : .
Artinya: “Sufyan bin ʼUyainah mengabarkan kepada kami, dia berkata:
Aku mendengar Az-Zuhri berkata: Ulama Irak mengklaim bahwa kesaksian orang yang dikenai sanksi had tidak boleh. Karena itu, aku bersaksi bahwa fulan benar-benar mengabarkan kepadaku, bahwa Umar bin Khattab berkata kepada Abu Bakrah,
“Bertaubatlah, niscaya kesaksianmu diterima atau jika kamu bertaubat, maka kesaksianmu diterima”. Sufyan berkata: Az- Zuhri menyebutkan nama orang yang mengabarkan kepadanya, dan aku mengahafalnya, tetapi kemudian aku lupa dan ragu.
Ketika kami berdiri, aku bertanya kepada orang yang hadir, lalu Umar bin Qais berkata kepadaku, “Dia adalah Said bin Musayyib”. Aku bertanya, “Apakah kamu ragu dengan apa yang dikatakan oleh Az-Zuhri?” Dia menjawab, “Tidak, dia adalah Said bin Musayyib, tanpa ragu”.49
47 Imam Al-Syafi’i, Al Uum…, hlm. 512.
48 Imam Al-Syafi’i, Al Uum …, hlm. 513.
49 Imam Al-Syafi’i meriwayatkan atsar ini lebih dari satu kali. Dia meriwayatkannya dalam bahasan tentang dakwaan dan kesaksian dalam bab bolehnya kesaksian orang yang dikeanai sanksi hadd. Juga dalam bahasan yang sama bab tentang pendakwa dan terdakwa, serta dalam bab
Mazhab Syafi’i mendominasi dan merupakan mazhab kebanyakan umat Islam di Asia Tenggara, fiqh mazhab Syafi’i dipakai secara turun menurun untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan sehari-hari dalam bidang ʼubudiyah, muamalah, kewarisan maupun perkawinan. Materi-materi yang bersumber dari kitab-kitab Asy- Syafi’i senantiasa menjadi acuan keputusan pengadilan. Ini menunjukkan betapa kuat pengaruh mazhab Syafi’i dalam kehidupan umat Islam di Asia Tenggara.50
2. Pendapat Mazhab Malikiyah
Pendapat yang dianut oleh Mazhab Malikiyah menyatakan bahwa larangan berwasiat kepada ahli waris tidak menjadi gugur dengan adanya persetujuan dari ahli waris yang lain. Menurut mereka, larangan seperti itu adalah termasuk hak Allah SWT yang tidak bisa gugur dengan kerelaan manusia yang dalam hal ini adalah ahli waris. Ahli waris tidak berhak membenarkan sesuatu yang dilarang Allah SWT. Menurut pandangan ini, suatu hal yang paling penting dalam hal ini ialah agar harta tidak hanya bertumpuk pada tangan ahli waris. Sebagian harta itu perlu disalurkan kepada hal-hal lain yang membutuhkannya. Seandainya ahli waris menyetujuinya juga, begitu dijelaskan dalam pandangan ini, maka statusnya bukan lagi sebagai wasiat, tetapi bertukar menjadi hibah (pemberian) dari pihak ahli waris itu sendiri, yang harus memenuhi syarat- syarat tertentu sebagaimana lazimnya hibah.51
3. Pendapat al-Muzanni dan al-Zahiri
Al-Muzanni dan al-Zahiri berpendapat bahwa tidak sah berwasiat kepada ahli waris walaupun diizinkan oleh ahli waris yang lain, karena tentang kesaksian orang yang menuduh zina secara ringkas. Imam Al-Syafi’i, Al Uum…, hlm.
513-514.
50 Abdul Hadi Muthohar, Pengaruh Mazhab Syafi‟i di Asia Tenggara (Jakarta: Wacana Ilmu, 1997), hlm. 2.
51 Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga..., hlm. 400.
Allah SWT melalui lisan Rasulullah SAW sebab harta warisan ketika itu sudah hak menjadi ahli waris. Jadi orang yang memberi wasiat terhadap harta warisan milik ahli waris itu batal (tidak sah).52
Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:
أَا أَ يُّ اللهِ أَ خْ أَلا اللهِ عُ خْ أَ عُ خْ عُ أَ خْ عُ أَ أَ أَ خْ أَ
أَا أَ اللهِ أَا أَ عُلا عُ خْ اللهِ عُ خْ أَ أَ أَ أَ خْ أَ : :
أَا أَ أَ أَ اللهِا أَ اللهِ خْ اللهِ خْلأَ خْ أَ أَ أَا أَ أَ خْ أَ دٍ اللهِا أَ اللهِ أَ عُ خْ عُ خْ اللهِ أَلخْ اللهِ أَ أَ أَ خْ أَ
أَا خْوعُ أَا :
اللهِ
أَ لَّ أَ أَ اللهِ خْ أَ أَ عُ أَ أَ
أَ لَّ اللهِ : عُ عُلخْ لَّزأَ
عُ لَّ أَ قٍّ أَ خْ اللهِ لَّ عُ أَ خْ أَ خْ أَ
أَ
أَلَ
اللهِ اللهِا أَواللهِا أَ لَّ اللهِ أَ اللهِ
( ئ سنا ا
53)
Artinya: “ʼUtbah bin Abdullah al-Marwaziy mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Mubarak menceritakan kepada kami, dia berkata: Isma‟il bin Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari umar bin kharijah, Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan hak kepada siapa yang berhak dan tidak ada wasiat untuk ahli waris”. (HR. Al- Nasa’i)
Jadi ahli waris tidak bisa menambahkan sesuatu yang bathil, tetapi jika ahli waris meninggalkan wasiat dan harta mereka, maka mereka berhak meninggalkan wasiat dan mereka bias memberikan bagian (upah) kepada orang yang mereka kehendaki.54
4. Pendapat Mazhab Hanafiyah
Menurut ulama Hanafiyah, firman Allah SWT dalam surat al- Baqarah ayat 180 itu telah di-nasakh-kan oleh ayat-ayat kewarisan. Surat al-Baqarah ayat 180 tersebut hanya memuat ketentuan hukum yang bersifat sementara untuk memberikan wasiat kepada orang tua dan karib kerabat, sebelum ayat-ayat kewarisan diturunkan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa setelah turunnya ayat-ayat yang secara khusus berbicara
52 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu…, hlm. 7478.
53 Abdirrahman Ahmad Ibni Syu’aib Ibni Ali al-Khurasani al-Nasā’i, Sunan al-Kubro lin- Nasāʼi…, hlm. 158.
54 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu…, hlm. 7478.
tentang kewarisan, maka kewajiban berwasiat kepada ahli waris tidak berlaku lagi.55
Mazhab Hanafiyah berpendapat, bahwa wasiat tidak dibenarkan kepada ahli waris yang mendapatkan warisan, walaupun hanya sedikit, kecuali ada izin dari ahli waris lainnya. Alasannya izin itu diyatakan sesaat setelah orang yang berwasiat itu meninggal dunia.56
Bahwa orang yang diberi wasiat itu bila telah tertentu, maka disyaratkan untuk sahnya wasiat agar orang itu ada di waktu wasiat dilaksanakan, baik ada secara benar-benar ataupun ada secara perkiraan.
Misalnya, bila ia mewasiatkan kepada kandungan si Fulanah; maka kandungan itu harus di waktu wasiat diterima. Adanya kandungan di waktu wasiat dibuat atau sesudah pemberi wasiat meninggal dunia itu dibuktikan dengan kelahiran anak dalam waktu kuang dari enam bulan sejak wasiat dibuat atau sejak pemberi wasiat meninggal dunia.57
5. Pendapat Mayoritas Ulama
Mayoritas Ulama berpendapat, bahwa berwasiat kepada ahli waris mutlak tidak dapat dilaksanakan kecuali atas persetujuan ahli waris lainnya. Jika mereka mengizinkan selama tidak lebih dari sepertiga harta peninggalan, maka wasiat dapat dilaksanakan dan jika tidak mengizinkan, maka hukum wasiat itu batal.58
Alasan mereka merujuk pada ayat al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 180:59
55 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu…, hlm. 13.
56 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi..., hlm. 98
57 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah..., hlm. 245.
58 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu..., hlm. 7545.
59 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemah Al-Hikmah..., hlm. 44.
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara baik, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. (QS. al-Baqarah:180).
Ayat tersebut telah di nasakh dengan beberapa ketegasan hadits Rasulullah SAW. yang di antaranya:
أَا أَ يُّ اللهِ أَ خْ أَلا اللهِ عُ خْ أَ عُ خْ عُ أَ خْ عُ أَ أَ أَ خْ أَ
أَا أَ اللهِ أَا أَ عُلا عُ خْ اللهِ عُ خْ أَ أَ أَ أَ خْ أَ : :
أَا أَ أَ أَ اللهِا أَ اللهِ خْ اللهِ خْلأَ خْ أَ أَ أَا أَ أَ خْ أَ دٍ اللهِا أَ اللهِ أَ عُ خْ عُ خْ اللهِ أَلخْ اللهِ أَ أَ أَ خْ أَ
أَا خْوعُ أَا :
اللهِ
أَ لَّ أَ أَ اللهِ خْ أَ أَ عُ أَ أَ
أَ لَّ اللهِ : عُ عُلخْ لَّزأَ
عُ لَّ أَ قٍّ أَ خْ اللهِ لَّ عُ أَ خْ أَ خْ أَ
أَ
أَلَ
اللهِ اللهِا أَواللهِا أَ لَّ اللهِ أَ اللهِ
( ئ سنا ا
60)
Artinya: “ʼUtbah bin Abdullah al-Marwaziy mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Mubarak menceritakan kepada kami, dia berkata: Isma‟il bin Abi Khalid menceritakan kepada kami, dari umar bin kharijah, Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan hak kepada siapa yang berhak dan tidak ada wasiat untuk ahli waris”. (HR. Al- Nasā’i)
Hadits yang diriwayatkan oleh al-Dar Quthny menegaskan:
أَا أَ أَ أَ اللهِا أَ اللهِ خْ اللهِ خْلأَ خْ أَ
أَا أَ : اللهِ أَا خْوعُ أَا أَ لَّ أَ أَ اللهِ خْ أَ أَ عُ أَ أَ
أَ لَّ اللهِ أَ أَلَ :
عُ أَثأَاأَوخْا أَزخْ اللهِجأَ خْ أَ لَّلَاللهِ اللهِ اللهِا أَواللهِا
( ن ا ا ا )
Artinya: “Dari Umar bin Kharijah, Rasulullah berkata: Tidak boleh berwasiat untuk ahli waris, kecuali jika dikehendaki oleh ahli waris (yang lain)”. (Riwayat al-Dar Quthny).61
Beberapa hadits tersebut menunjukkan bahwa wasiat kepada ahli waris tidak sah kecuali jika ada izin dari ahli waris yang lain.
Perizinan dari ahli waris ini merupakan suatu pertanda, bahwa hak mereka rela dikurangi. Karena bisa saja orang yang berwasiat itu mempertimbangkan tentang kemungkinan orang yang menjadi
60 Abdirrahman Ahmad Ibni Syu’aib Ibni Ali al-Khurasani al-Nasā’i, Sunan al-Kubro lin- Nasāʼi…, hlm. 158.
61 Imam Dar al-Quthny, Sunan Dar al-Quthny (Beyrut: Muasasah al-Risalah, 2004), hlm.
267.
tanggungannya itu kehidupannya akan suram dibelakang hari, seperti cacat fisik atau cacat mental. Kemungkinan lainnya adalah diantara ahli warisnya itu ada yang masih kecil, sedang yang lainnya sudah bisa mandiri atau berumah tangga. Apabila dihadapkan kepada persoalan seperti ini, maka ahli waris lainnya harus dapat memahami keinginan dari yang berwasiat itu dan hal ini sangat bergantung kepada kepribadian masing- masing orang.62
Seorang yang tamak, malah ada yang menggugat orang tuanya karena dianggapnya kurang adil, pilih kasih dan sebagainya. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang kuat imannya, dasar agamanya kurang memadai. Namun dalam mengajukan gugatan berkedok atau berdasarkan ketentuan agama.
Mewasiatkan sebagian apalagi seluruh hartanya untuk salah seorang ahli waris menurut aliran ini tidak dibolehkan selama si mati mempunyai ahli waris lain, karena tindakan seperti itu akan menimbulkan kecemburuan di hati pihak ahli waris yang tidak mendapat harta wasiat.
Oleh karena itu, wasiat kepada ahli waris menjadi boleh apabila ahli waris yang lain telah mengizinkannya.
Hal ini seperti dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhailiy dalam karyanya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, adanya izin dari ahli waris itu hendaknya tetap ada sampai pihak yang berwasiat meninggal dunia. Oleh sebab itu, jika izin diperoleh semasa ia masih hidup, namun setelah ia meninggal dunia pihak ahli waris memprotes maka wasiat itu menjadi tidak sah.63
6. Pendapat Syiah Zaidiyah, Imamiyah dan Syiah Isma’iliyah
Syiah Zaidiyah, Imamiyah dan Syiah Isma’iliyah berpendapat boleh hukumnya berwasiat kepada ahli waris tanpa ada persetujuan ahli waris lainnya dalam batas sepertiga dari jumlah harta.64
62 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi..., hlm. 97.
63 Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga..., hlm. 381.
64 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu..., hlm. 7477.
Alasan mereka memahami bahwa surat al-Baqarah ayat 180.
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara baik, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”. (QS. al-Baqarah:180).65
Dalam ayat tersebut, menurut pandangan ini tidak menasakhkan kebolehannya tetapi menasakhkan kewajiban berwasiat. Kalau sukarela tentu tidak ada larangan. Mereka menyatakan:66
أَوأَجاخْ خأَسأَ مأَزخْ أَ خْسأَ أَلَ عُ عُواخْ خأَسأَ
Artinya: “Penghapusan hukum wajib bukan berarti mengharuskan menghapus kebolehan”.
Dengan pernyataan tersebut mereka tidak sependapat dengan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa ayat diatas sudah dnasakh (dihapuskan) hukumnya sama sekali oleh ayat-ayat yang mengatur tentang pembagian harta wasian. Menurut mereka yang di nasakh hanya hukum wajibnya wasiat kepada ahli waris. Setelah hukum wajibnya dihapuskan oleh ayat-ayat yang mengatur pembagian harta warisan, maka ayat tersebut tetap berfungsi membenarkan atau membolehkan berwasiat kepada ahli waris. Sehingga menurut mereka, wasiat boleh untuk ahli waris maupun bukan ahli waris dan tidak bergantung pada persetujuan ahli waris lainnya, sepanjang tidak melebihi sepertiga harta.67
Bolehnya berwasiat kepada ahli waris menurut mereka dengan beberapa pertimbangan, antara lain dari sekian jumlah anak umpamanya, ada yang telah banyak menguras dan mengabdi kepada orang tuanya di
65 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemah Al-Hikmah..., hlm. 44.
66 Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu..., hlm. 7477.
67 Muhammad Jawad Mighniyah, Fiqih Lima Mazhab..., hlm. 240.
masa keduanya masih hidup. Untuk hal yang seperti ini adalah wajar mengkhususkan sebagian harta untuk mereka dengan jalan wasiat.68
Dan mengingat juga kadang-kadang memang sangat perlu mewasiatkan suatu tambahan bagi seorang ahli waris berdasarkan kebutuhannya yang khusus atau bisa jadi ada di antara ahli waris yang hidupnya kurang beruntung di bidang ekonomi dibandingkan dengan ahli waris yang lain. Seorang yang mempunyai lima orang anak misalnya, laki- laki atau perempuan, yang empat diantaranya kaya raya, sementara yang satu dikarenakan beberapa sebab dalam keadaan miskin atau beban hidupnya amat berat, tidak ada salahnya apabila diwasiatkan kepadanya tambahan yang tidak melebihi sepertiga harta yang akan diwariskan.
Dalam hal ini, saudara-saudaranya yang lain pun tidak selayaknya menolak wasiat tersebut, sepanjang hal itu memang diperlukan, sementara mereka sendiri tidak begitu memerlukan bagian warisan. Untuk membela nasib mereka, orang tuanya sebelum meninggal dunia mewasiatkan sebagian hartanya untuk anaknya itu yang kurang beruntung.69
Jadi menurut pandangan ini, bolehnya berwasiat kepada ahli waris bukan tujuan membeda-bedakan tanpa alasan, tetapi melalui pertimbangan yang mendasar.
Para ulama berpendapat bahwa batas maksimal wasiat yang dibolehkan ialah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Suatu riwayat menyebutkan:70
أَسخْ اللهِ أَ أَ أَ خْ أَ يُّ اللهِ لَّ ا أَ خْوعُ عُ خْ عُ خْ اللهِ أَ خْ اللهِ خْ اللهِنأَثلَّ أَ
أَ عُ خْوعُ أَ خْ خْ اللهِنخْ أَ ( خْوعُ أَ أَنأَثلَّ أَ أَ )
دٍ خْ أَ عُ
دٍ خْ أَلعُ عُ خْ أَنأَثلَّ أَ . دٍا لَّ أَ اللهِ خْ اللهِ أَ اللهِ خْ اللهِ أَ خْ أَ أَ أَ خْ عُ اللهِ خْ اللهِم أَ اللهِ خْ أَ خْ عُهيُّ عُ .
أَا أَ .
أَ لَّ أَ أَ اللهِ خْ أَ أَ عُ أَ أَ اللهِ أَا خْوعُ أَا لَّ اللهِإأَف اللهِععُ يُّ ا أَااللهِ اللهِثعُ يُّثا أَ اللهِ يُّضأَ أَا لَّنا لَّ أَ خْوأَا : أَا أَ
ٌ خْ اللهِثأَ عُثعُ يُّثا أَ عُثعُ يُّثا : دٍعخْ اللهِ أَ اللهِثخْ اللهِ أَ اللهِفأَ .
ٌ خْ اللهِثأَ خْ أَ ٌ خْ اللهِ أَ : .
68 Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga..., hlm. 401.
69 Muhammad Ma’sum Zein, Arus Pemikiran Empat Mazhab: Studi Analisis Istinbat Para Fuqaha (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hlm. 158.
70 Muslim Ibnu Hajjaz Abdul Hasan al-Khusairi al-Naisaburi, Shahīh Muslim, jilid 6 (Beyrut: Darul Ihya al-Turas al-Arabi, tt), hlm. 1253.
Artinya: “Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa al-Raziy mengabarkan kepada kami, isa (yaitu yunus) dan Abu Karib mengabarkan kepada kami. Ibnu Numair mengabarkan kepada kami, masing-masing dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Bani Abbas. Ia berkata: alangkah baiknya andaikata orang mau menurunkan dari sepertiga menjadi seperempat. Maka sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: sepertiga itu banyak. Dan dalam hadits Waki‟: sepertiga itu besar dan banyak”.
Wasiat baru dianggap sah dan bisa terlaksana bila terpenuhi semua unsurnya dan cukup pula syarat-syarat setiap unsurnya itu. Unsur (rukun) wasiat itu ada empat, yaitu pihak yang berwasiat, pihak yang menerima wasiat, obyek yang diwasiatkan dan shigat ijab kabul.71
B. Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang Wasiat kepada Ahli Waris
Lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai bentuk untuk kemaslahatan umat Islam Indonesia. Pola reformasi Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada dasarnya tidak lepas dari pola-pola ijtihad yang dikembangan oleh Ulama fiqh yang terdapat dalam segi doktriner, kodifikasi dan legislasi.72
Dilihat dari segi doktriner, Kompilasi Hukum Islam (KHI) merujuk pada sumber utama yaitu al-Qur’an dan Hadits. Dalam hal ini, Perumus Kompilasi Hukum Islam (KHI) senantiasa memperhatikan asbāb al-nuzūl suatu ayat dan asbāb al-wurūd suatu hadist.
Dilihat dari segi kodifikasi, para perumus Kompilasi Hukum Islam (KHI) ini mengambil sumber dari penalaran para fuqaha yang terdapat dalm kitab fiqh yang dikaji oleh para ulama tersebut melalui al-Qur’an dan Hadits.
Adapun dari segi legislasi terlihat dalam usaha pemerintah dan tokoh masyarakat dalam merumuskan, menghimpun dan mengesahkan dalam bentuk Intruksi Presiden (Inpres). Tahapan ini merupakan langkah dalm merumuskan garis-garis hukum Islam yang dituangkan ke dalam bahasa perundang- undangan.
71 Akhmad Kuzani, Sistem Asabah: Dasar Pemindahan Hak Milik atas Harta Tinggalan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 60.
72 Dedi Supriadi, Sejarah Hukum Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm. 391.
Usaha penyusunan Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah bagian dari upaya dalam rangka mencari pola fiqh yang bersifat khas Indonesia atau fiqh yang bersifat kontekstual, maka proses ini telah berlangsung lama sejalan dengan perkembangan hukum Islam di Indonesia atau paling tidak sejalan dengan kemunculan ide-ide pembaharuan dalam pemikiran hukum Islam Indonesia seperti yang dipelopori oleh Hazairin, Hasby ash-Shiddiqy dan sebagainya. Gagasan untuk mengadakan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia untuk pertama kali diumumkan oleh Menteri Agama RI yaitu Munawir Sadzali pada bulan Februari 1985.73
Penyusunan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dapat dipandang sebagai suatu proses transformasi hukum Islam dalam bentuk tidak tertulis ke dalam peraturan perundang-undangan. Dalam penyusunanny dapat dirinci pada dua tahapan. Pertama, tahapan pengumpulan bahan baku yang digali dan berbagai sumber baik tertulis maupun tidak tertulis. Kedua, tahapan perumusan yang berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sumber hukum Islam (al-Qur’an dan hadits).74
Pelaksanaan KHI dilakukan dengan perencanaan yang matang dan hati-hati walaupun tetap harus diselesaikan dalam waktu dua tahun seperti tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama pada bulan Maret 1985 di Yogyakarta. Dalam masa dua tahun itu sekaligus dipersiapkan hal-hal yang akan mengarah kepada pembentukan kesadaran hukum masyarakat muslim supaya siap untuk menerima hasil akhir dari KHI itu sebagai hukum yang benar dan adil. Hal ini penting sekali karena kesadaran hukum masyarakat merupakan tonggak ketiga yang menopang berlaku dan tegaknya hukum dalam suatu masyarakat.75
Dari penegasan ini tampak bahwa latar belakang pertama dan diadakannya penyusunan KHI adalah karena adanya kesimpangsiuran putusan
73 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, cet. 4 (Jakarta: CV Akademika Pressindo, 2010, hlm. 31.
74 Cik Hasan Bisri dkk, Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama dalam Sistem Hukum Nasional (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 8.
75Busthanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan dan Prospektif (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 57.
dan tajamnya perbedaan pendapat tentang masalah-masalah hukum Islam.
Menurutnya ada beberapa hal yang melatarbelakangi diadakannya Kompilasi Hukum Islam (KHI) ini. Keadaan persepsi yang tidak seragam tentang syari’ah telah menyebabkan hal-hal:76
1. Ketidakseragaman dalam menentukan apa-apa yang disebut dengan hukum Islam itu;
2. Ketidakjelasan bagaimana melaksanakan syariah Islam;
3. Akibat yang lebih jauh lagi, adalah kita tidak mampu mempergunakan jalan-jalan dan alat-alat yang telah tersedia dalam UUD 1945 dan perundang-undangan lainnya.
Faktor ulama, terutama ulama fiqh amatlah menentukan. Tidak mungkin membina dan memperkembangkan hukum Islam tanpa keikutsertakan para ulama. Suatu KHI tidak mungkin berlaku kalau hanya dibuat dan diberikan dari atas (Pemerintah, MA) saja, tanpa keikutsertakan ulama. Para ulama masih tetap memegang peranan menentukan dalam hal-hal keagamaan. Karenanya dalam hal hukum Islam, para ulama fiqh tetaplah memgang peranan yang menentukan. Dan dalam perencanaan dan pelaksanaan KHI, benar-benar tergabung para ulama, umara‟ dan zuama.77
Selain itu, masih ada lagi faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan secara matang dalam perencanaan dan pelaksanaan KHI.
Faktor-faktor itu antara lain faktor sejarah hukum Islam, faktor psikologi umat Islam yang sangat cinta dan kasih kepada negeri tempat agama Islam diturunkan dan faktor kitab-kitab fiqh dari mazhab-mazhab yang memang merupakan amal dan jasa para ulama mujtahid terdahulu. Terakhir, dipertimbangkan pula putusan-putusan peradilan agama di Indonesia sejak masa paling awal, karena memang faktor ini tidak boleh diabaikan sama sekali. Peradilan Agama telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan selama
76 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 24.
77 Busthanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam…, hlm. 58.
masa itu telah memberikan putusan-putusan hukum yang merupakan hukum yang hidup dan dihayati oleh kaum muslim di Indonesia.
Maka dengan pertimbangan semua faktor tersebut, diputuskanlah bahwa KHI itu dilaksanakan melalui jalur-jalur pengumpulan data bagi penyusunan tiga kitab hukum, yaitu: (1) Kitab Hukum tentang Perkawinan, (2) Kitab Hukum tentang Kewarisan dan (3) Kitab Hukum tentang Perwakafan.78
Ketiga kitab hukum itu memuat hukum Islam yang sekarang menjadi kewenangan Peradilan Agama dan ditulis dengan bahasa hukum/undang- undang Indonesia. Dengan demikian, hukum Islam yang termuat dalam ketiga kitab hukum itu akan menjadi bagian dari kultur hukum Indonesia dan akan menjadi bagian dari hukum Nasional Indonesia.
Usaha-usaha pengumpulan data bagi penyusunan tiga kitab hukum itu melalui jalur:79
1. Peradilan dan Hakim-Hakim Agama
Peranan dari para Hakim Agama yang mekanisme kerjanya sudah mempunyai landasan yang kokoh dengan ditetapkannya UU No. 7 tahun 1989 tentang peradilan agama, maka dalam menghadapi KHI sebagai ketentuan hukum materiel yang harus dijalankannya tidak hanya berfungsi sebagai “mulut dari kompilasi” akan tetapi dituntut untuk lebih meningkatkan peranannya dalam berijtihad menemukan hukum melalui perkara-perkara yang ditanganinya.
2. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
Majelis ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) baik secara sendiri maupun bersama-sama perlu lebih meningkatkan peranannya untuk mengkaji beberapa aspek kemasyarakatan yang berdimensi hukum yang memang sangat diperlukan
78 Busthanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam…, hlm. 59.
79 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 7-8.
oleh masyarakat dalam rangka menetapkan hukum dalam masyarakt Indonesia yang sedang membangun.
3. Lembaga-lembaga Hukum dan fatwa dari organisasi Islam
Peranan dari lembaga-lembaga hukum dan fatwa yang ditemui pada berbagai organisasi Islam yang ada di Indonesia seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan lain-lain perlu lebih ditingkatkan dalam rangka mendukung MUI dan ICMI. Namun kiranya juga perlu dijaga jangan sampai terjadi lahirnya berbagai fatwa hukum yang bersifat sangat controversial dan dapat membingungkan umat.
4. Lembaga Pendidikan Tinggi
Kegiatan penelitian dibidang hukum Islam harus lebh digalakkan.
Fakultas Syari’ah dan Hukum harus lebih meningkatkan kepeduliannya mengenai masalah-masalah hukum Islam dalam masyarakat dan mengangkatnya untuk dijadikan topik-topik penelitian yang bersifat lebih mendasar baik yang menyangkut penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan tentang pelaksanakan hukum Islam dalam masyarakat Indonesia masa lampau dan masa kini. Kemudian sudah saatnya pula dipikirkan perlunya pembentukan satu pusat kajian hukum islam yang melibatkan semua unsur untuk menggarap hal-hal yang bersifat teknis dan mendasar berkenaan dengan masalah-masalah hukum Islam.
5. Lembaga-lembaga Penelitian dan Pengkajian Pemerintah
Lembaga-lembaga Penelitian dan Pengkajian dari Pemerintah semacam LIPI, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama dan sebagainya sudah harusnya melibatkan diri dalam kegiatan penelitian dan pengkajian masalah- masalah hukum Islam yang berskala Nasional.
6. Media Massa
Peranan media massa dalam persoalan ini sangat besar sekali untuk menjembatani komunikasi ilmiyah dari berbagai pihak yang terlibat dalam pengkajian dan penelitian masalah-masalah hukum Islam.
Kompilasi Hukum Islam (KHI) merupakan salah satu hukum materiil yang dipergunakan di Peradilan Agama. Kompilasi Hukum Islam (KHI) muncul ketika beraneka ragam putusan Pengadilan Agama, antara Peradilan Agama yang satu dengan Peradilan Agama yang lain berbeda, bahkan tidak jarang pula dalam kasus yang sama putusan juga bebeda-beda. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kitab rujukan yang dipergunakan oleh Hakim Agama dalam mengadili perkara tersebut yang masih mentah dalam dalam kitab kuning. Oleh karena itu, berdasarkan surat edaran biro Peradilan Agama No. 45 tahun 1957 tentang pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah dianjurkan agar menggunakan 13 kitab kuning sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan. Kitab-kitab tersebut antara lain sebagai berikut:80
1. Al-Bajuri
2. Fathul Mu‟in dengan Syarahnya 3. Syarqawi at-Tahrir
4. Qulyubi/al-Muhalli
5. Fathul Wahab dengan Syarahnya 6. Tuhfah
7. Targhibul musytaghfirin
8. Qawanin Syar‟iyah lissayyid Usman bin Yahya 9. Qawanin Syar‟iyyah lissayyid Shadaqah Dakhlan 10. Al-Fiqhu „ala Mazhabil Arba‟ah
11. Syamsuri lil Fara‟idh 12. Bughyatul Mustarsyidin 13. Mugni al-Muhtaj.
80 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 22-23.
Melalui Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 dan No. 25 tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksana Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui Yurisprrudensi dimulailah kegiatan proyek dimaksud yang berlangsung untuk jangka waktu dua tahun. Menurut SKB tersebut ditetapkan bahwa Pimpinan Umum dari proyek adalah Busthanul Arifin. Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama Mahkamah Agung dengan dibantu oleh dua orang wakil Pimpinan Umum masing-masing Djoko Soegianto. Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Umum Bidang Hukum Perdata tidak tertulis Mahkamah Agung dan Zaini Dahlan, Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama. Sebagai pimpinan pelaksana proyek adalah Masrani Basran, Hakim Agung Mahkamah Agung dengan wakil Pimpinan Pelaksanaan Muchtar Zarkasih, Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam Departemen Agama. Sebagai sekretaris adalah Lies Sugondo, Direktur Direktorat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung dengan wakil Sekretaris Marfuddin Kosasih. Bendahara adalah Alex Marbun dari Mahkamah Agung dan Kadi dari Departemen Agama.81
Di samping itu ada pula pelaksana bidang yang meliputi:82 1. Pelaksana bidang kitab/yurisprudensi:
a. Ibrahim Husein (dari Majelis Ulama) b. Kholid (Hakim Agung Mahkamah Agung) c. Wasit Aulawi (Pejabat Departemen Agama) 2. Pelaksana bidang wawancara
a. M. Yahya Harahap (Hakim Agung Mahkamah Agung) b. Abdul Ghani Abdullah (Pejabat Departemen Agama) 3. Pelaksana bidang pengumpulan dan pengolahan data
a. Amiroeddin Noer (Hakim Agung Mahkamah Agung) b. Muhaimin Nur (Pejabat Departemen Agama)
81 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 34.
82 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 35.
Lokakarya yang pada tanggal 2-6 Februari 1988 bertempat di Hotel Kartika Chandra Jakarta, dibuka oleh Ketua Mahkamah Agung Ali Said juga memberi kata sambutan Menteri Agama Munawir Sadzali. Setelah pembukaan pimpinan proyek Busthanul Arifin memberikan beberapa penjelsan berkenaan dengan materi lokakarya dan seterusnya para peserta lokakarya dibagi ke dalam 3 komisi masing-masing:83
a. Komisi I Bidang Hukum Perkawinan diketuai oleh Yahya Harahap, sekretaris Marfuddin Kosasih, narasumber Halim Muchammad dengan anggota sebanyak 42 orang.
b. Komisi II Bidang Hukum Kewarisan diketuai oleh Wasit Aulawi dengan sekretaris Zainal Abidin Abu Bakar, narasumber A. Gani Basyir dengan anggota sebanyak 42 orang.
c. Komisi III Bidang Hukum Perwakafan diketuai oleh Masrani Basran dengan sekretaris Abdul Ghani Abdullah, narasumber Rahmat Jatnika dengan anggota sebanyak 29 orang.
Kegiatan proyek ini dilakukan sebagai usaha untuk merumuskan pedoman bagi Hakim Pengadilan Agama dengan menyusun KHI yang selama ini menjadi hukum materiil di Pengadilan Agama. Tujuannya adalah merumuskan hukum materiil bagi Pengadilan Agama dengan jalur usaha sebagai berikut:84
a. Pengkajian kitab-kitab fiqh b. Wawancara dengan para ulama c. Yurisprudensi Pengadilan Agama
d. Studi perbandingan hukum dengan negara lain
e. Lokakarya/seminar materi hukum untuk Pengadilan Agama.
Sekalipun Kompilasi Hukum Islam (KHI) telah diberlakukan di Indonesia dan telah menjadi pedoman di lingkungan Peradilan Agama (PA), hal ini bukan berarti Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak butuh
83 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 47-48.
84 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 35.
penyempurnaan. Sebagaimana watak fiqh yang mungkin selalu mengalami perubahan karena perkembangan, maka Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang satu sumber pembentukannya mengacu kepada fiqh dimungkinkan adanya perubahan.85
Adapun menurut pasal 195 ayat 2 dan 3 Kompilasi Hukum Islam (KHI) pemberian wasiat kepada ahli waris adalah boleh selama tidak melebihi sepertiga (1/3) dari harta warisan dan telah adanya izin dari ahli waris lainnya.86
Tujuan dibuatnya Pasal 195 KHI ada dua yaitu tersurat dan tersirat.
Tujuan yang tersurat mengacu pada ketentuan yang sudah ada pada pasal 195 KHI sedangkan tujuan tersiratnya adalah untuk menyatukan berbagai pandangan mazhab dan pandangan hukum agar memudahkan pemahaman terhadap isi dari pasal 195 KHI.
Bahwasanya Kompilasi Hukum Islam (KHI) khususnya tentang wasiat kepada ahli waris, pada dasarnya telah sepakat dengan pendapat yang dianut oleh jumhur Ulama dan mazhab Syafi’i. Hal ini dikarenakan keberadaan mazhab Syafi’i yang sangat mendominasi di Indonesia sehingga pemikiran hukum Islamnya pun mempengaruhi terhadap masyarakat Indonesia.
Sedangkan secara keseluruhan pendapat Hazairin tersebut terasa lebih dekat atau sejalan dengan pendapat Mazhab Ja’fariyah daripada empat mazhab yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Hanbali, Syafi’i.87
Keberadaan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam hal ini secara khusus posisi wasiat kepada ahli waris adalah masih bisa mengayomi masyarakat Indonesia Islam selama atas persetujuan ahli waris yang lain dan tidak melebihi sepertiga (1/3) dari seluruh harta warisan. Dalam hal ini, apabila ada perkara yang diajukan ke lingkungan Peradilan Agama (PA) yang berkaitan dengan wasiat kepada ahli waris, maka Hakim harus bisa
85 Suparman Usman, Hukum Islam: Asas-Asas dan Pengantar studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), hlm. 151.
86 Undang-Undang RI NOMOR 1 tahun 1974 tentang Perkawinan & Kompilasi Hukum Islam..., hlm. 382.
87 Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum Kewarisan Islam: Konsep Kewarisan Bilateral Hazairin, cet. 2 (Yogyakarta: UII Press, 2010), hlm. 194.
memutuskan perkara tersebut berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang wasiat kepada ahli waris, sehingga tidak ada perdebatan karena belum ada hukum lain yang mengaturnya karena dalam sifat penegakkan hukum ada yang bersifat normatif dan bersifat fungsional selama belum ada hukum baru.
Pengaturan mengenai wasiat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) diatur dalam pasal 194 sampai dengan pasal 209 yang terdapat dalam Bab V tentang wasiat. dalam pasal-pasal Kompilasi Hukum Islam (KHI) diatur baik mengenai orang yang berhak untuk berwasiat (subjek wasiat), bentuk wasiat, jenis-jenis wasiat, pembatalan dan pencabutan wasiat, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan wasiat.88
Terdapat dua syarat kumulatif dan satu syarat tambahan orang yang berhak berwasiat sebagian harta miliknya sebagaimana termuat dalam ketentuan pasal 194 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam, yang menetapkan bahwa: “Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa ada paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga”. Jadi dari ketentuan Pasal 194 ayat (1) bisa kita ketahui syarat kumulatif orang yang berwasiat yakni berumur sekurang- kurangnya 21 tahun dan berakal sehat, sedangkan syarat tambahan orang yang berwasiat adalah tanpa adanya paksaan.
Rupanya Kompilasi Hukum Islam (KHI) menggunakan ukuran-ukuran mengandung kepastian hukum untuk menentukan apakah seorang itu cakap atau tidak cakap melakukan perbuatan hukum melainkan mempergunakan batasan umur yaitu sekurang kurangnya 21 tahun.89
Berkenaan dengan wasiat kepada ahli waris, disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 195 yang berbunyi: (1) Wasiat dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi, atau tertulis dihadapan dua orang saksi, atau dihadapan Notaris; (2) Wasiat hanya diperbolehkan sebanyak- banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris
88 Undang-Undang RI NOMOR 1 tahun 1974 tentang Perkawinan & Kompilasi Hukum Islam…, hlm. 381.
89 A. Rachmad Budiono, Pembaharuan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia (Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, 1991), hlm. 174.
menyetujui; (3) Wasiat kepada ahli waris berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris; (4) Pernyataan persetujuan pada ayat (2) dan (3) pasal ini dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi atau tertulis di hadapan dua orang saksi di hadapan Notaris.90
Sebenarnya wasiat kepada ahli waris tidak berlaku jika mereka atau ahli waris yang lain tidak menyetujuinya, akan tetapi jika ahli waris lainnya menyetujui pemberian warisan kepada ahli waris maka sah-sah saja dilakukan dengan batas maksimal sepertiga harta warisan sesuai dengan yang telah dijelaskan dalam ketentuan KHI pasal 195 ayat (3) yang menyatakan “Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris”.
Persetujuan ahli waris yang dimaksudkan adalah untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dimana dasar filosofis pembentukan pasal 195 KHI ini didasarkan pada Hadits Riwayat Al-Dar Quthny.
أَا أَ أَ أَ اللهِا أَ اللهِ خْ اللهِ خْلأَ خْ أَ
أَا أَ : اللهِ أَا خْوعُ أَا أَ لَّ أَ أَ اللهِ خْ أَ أَ عُ أَ أَ
أَ لَّ اللهِ أَ أَلَ :
عُ أَثأَاأَوخْا أَزخْ اللهِجأَ خْ أَ لَّلَاللهِ اللهِ اللهِا أَواللهِا
( ن ا ا ا )
Artinya: “Dari Umar bin Kharijah, Rasulullah berkata: Tidak boleh berwasiat untuk ahli waris, kecuali jika dikehendaki oleh ahli waris (yang lain)”. (Riwayat al-Dar Quthny).91
Berwasiat kepada ahli waris menurut ketentuan pasal 195 KHI yang tersurat adalah wasiat dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi, atau tertulis dihadapan dua orang saksi, atau dihadapan Notaris, wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujuinya, wasiat kepada ahli waris berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris, pernyataan persetujuan pada ayat (2) dan (3) pasal ini dibuat secara lisan dihadapan dua orang saksi atau tertulis dihadapan dua orang saksi dihadapan Notaris karena seperti kita ketahui sebelum Hukum Islam di kompilasikan terdapat berbagai perbedaan pendapat diantara
90 Undang-Undang RI NOMOR 1 tahun 1974 tentang Perkawinan & Kompilasi Hukum Islam..., hlm. 382.
91 Imam Dar al-Quthny, Sunan Dar al-Quthny..., hlm. 267.