• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. Uji coba lapangan utama/terbatas dilakukan di SMA Negeri 7 Surakarta dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. Uji coba lapangan utama/terbatas dilakukan di SMA Negeri 7 Surakarta dan"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Tahap pengembangan produk awal serta uji coba lapangan awal modul berbasis POE disertai RD dilakukan di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Uji coba lapangan utama/terbatas dilakukan di SMA Negeri 7 Surakarta dan uji coba lapangan operasional/efektifitas dilakukan di SMA Negeri 5 Surakarta Kelas X MIA 1.

2. Waktu Penelitian

Pelaksanaan uji lapangan operasional penelitian pengembangan modul berbasis POE disertai RD dilakukan mula bulan April – Mei 2014

B. Model Penelitian dan Pengembangan

Model penelitian dan pengembangan yang digunakan mengacu pada model Research and development (R&D) dari Borg dan Gall (1989) yang terdiri atas 10 tahap. Model R&D dari Borg and Gall dalam penelitian ini mengalami modifikasi, bukan pada tahapannya melainkan pada penerapannya di lapangan. Penerapan di lapangan menggunakan sampel yang tidak terlalu besar dikarenakan keterbatasan sumber daya. Rancangan pengembangan desain R&D dari modifikasi Borg dan Gall ini mempunyai tujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk yang digunakan dalam pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi: 1) penelitian dan

(2)

pengumpulan data; 2) perencanaan; 3) pengembangan draft produk; 4) uji coba lapangan awal; 5) revisi produk awal (tahap I); 6) uji coba lapangan utama/terbatas; 7) revisi produk tahap II; 8) uji lapangan operasional/efektifitas; 9) penyempurnaan produk akhir (revisi produk akhir);

10) diseminasi dan implementasi. Seluruh langkah-langkah penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall ini dilakukan dari awal hingga akhir dengan tujuan agar tercipta produk modul yang layak digunakan dalam pembelajaran.

C. Prosedur Penelitian dan Pengembangan

Secara garis besar prosedur penelitian dan pengembangan yang akan dilakukan disajikan dalam Gambar 3.1 berikut:

Research and information collecting (penelitian dan pengumpulan data) Planning (perencanaan)

Develope preliminary form product (pengembangan produk awal) Preliminary field test(uji coba lapangan awal)

Main product revision (revisi produk I)

Main field testing (uji coba lapangan utama)

Operasional product revision (revisi produk II) Operasional field testing (uji lapangan operasional)

Final product revision (revisi akhir)

Dissemination and implementation (penyebaran dan implementasi)

Gambar 3.1. Prosedur penelitian dan pengembangan Modifikasi Borg and Gall (1989)  

(3)

1. Penelitian dan Pengumpulan Data

Tahap penelitian dan pengumpulan data digunakan untuk menganalisis permasalahan yang ada di lapangan. Tahap ini meliputi 2 yaitu:

a. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan untuk menganalisis dan mempelajari Kurikulum, bahan ajar serta model yang digunakan guru selama pembelajaran. Studi kurikulum yang dilakukan meliputi Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), indikator dan alokasi waktu yang akan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan modul pembelajaran. Penetapan materi didasarkan dari hasil analisis Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2012/2013. Gambaran tentang KD dan indikator pembelajaran yang akan dikembangkan disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kompetensi Dasar dan Indikator yang Akan Dikembangkan Pokok Bahasan Kompetensi Dasar Indikator Pencemaran

Lingkungan

.3.10 Menganalisis data Perubahan lingkungan dan dampak dari perubahan-

perubahan tersebut bagi kehidupan

1. Merancang percobaan pencemaran lingkungan 2. Menjelaskan faktor

penyebab pencemaran lingkungan

3. Menjelaskan sumber bahan pencemaran lingkungan

4. Menganalisis dampak yang terjadi akibat pencemaran lingkungan 5. Menjelaskan upaya

pencegahan terhadap pencemaran lingkungan 6. Menjelaskan solusi

terhadap pencemaran lingkungan

(4)

b. Survey Lapangan

Survey lapangan dilakukan untuk mengetahui permasalahan di sekolah melalui kegiatan observasi, pemberian angket dan wawancara guna melengkapi kebutuhan penelitian terkait dengan pengembangan modul. Survey lapangan meliputi standar nasional pendidikan (SNP) dan analisis kebutuhan data terkait siswa dan guru di SMA Negeri 5 Surakarta.

1) SNP

Survey lapangan terkait SNP dilakukan melalui pemberian angket pada wakasek kurikulum berkaitan dengan 8 SNP di SMA Negeri 5 Surakarta.

2) Analisis Kebutuhan Data

Survey analisis kebutuhan ditujukan pada siswa kelas X dan guru biologi SMA Negeri 5 Surakarta melalui pemberian angket dan wawancara.

2. Perencanaan/planning

Tahap perencanaan digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan dalam menyusun produk modul.

Perencanaan penelitian juga didasarkan pada hasil studi pustaka dan survey lapangan. Pada tahap perencanaan diperoleh analisis Kurikulum meliputi KI dan KD, indikator pencapaian kompetensi yang ingin dicapai, tujuan pembejaran yang ingin dicapai, serta bahan ajar yang akan dikembangkan.

(5)

3. Pengembangan Draft Produk Awal

Pengembangan draft produk modul awal ini dilakukan setelah semua bahan-bahan yang diperlukan dalam pengembangan modul terkumpul, selanjutnya adalah tahap pengembangan draft produk modul yang akan digunakan dalam penelitian pengembangan. Pengembangan draft modul awal ini dilakukan sesuai dengan sintak model yang digunakan yaitu POE pada materi pencemaran lingkungan. Modul POE ini juga disertai dengan RD yang dapat mempermudah siswa mengingat kembali apa yang mereka pelajari. Modul terdiri dari 3 bagian utama, yaitu bagian awal, inti dan penutup. Secara lengkap isi pengembangan draft modul berbasis POE disertai RD serta lay out yang dikembangkan adalah seperti berikut:

a) Bagian Awal modul terdiri atas:

1) Halaman Modul

Merupakan cover atau tampilan luar modul yang dibuat menarik dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung.

2) Judul Pendahuluan

Yaitu: Modul Berbasis POE (Prediction, Observation and Explanation) disertai RD”. Materi pencemaran lingkungan.

3) Halaman Francis

Berisi judul, halaman francis dan dilengkapi oleh nama penulis, konsultan ahli dan validator yang berperan serta dalam penyempurnaan modul, meliputi: validator materi, penyajian, dan

(6)

validator bahasa. Pembuat desain dan sumber ilustrasi pada cover juga dicantumkan pada halaman francis ini.

4) Prakata

Berisi kata sambutan, ucapan terima kasih dan sedikit gambaran mengenai modul yang disampaikan oleh penulis.

5) Daftar Isi

Memuat komponen-komponen atau isi modul disertai nomor halaman.

6) Gambaran Umum Modul

Berisi gambaran isi modul yang akan dipelajari secara umum, disertai gambar dan penjelasan.

7) Petunjuk Penggunaan Modul

Memuat langkah-langkah dan tata cara penggunaan modul secara benar untuk mempermudah siswa dalam mempelajari modul.

8) Alur Kegiatan

Memuat bab yang akan dipelajari dalam modul, yaitu pencemaran air, pencemaran tanah dan pencemaran udara.

9) Kompetensi inti

Memuat 4 kompetensi inti yang telah ditetapkan dalam Kurikulum 2013.

(7)

b) Bagian inti terdiri atas:

1) Gambar dan Ilustrasi Awal

Menampilkan gambaran pada siswa tentang materi yang akan dipelajari.

2) KD dan Indikator

Memuat KD dan indikator yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran.

3) Alur Kegiatan

Berisi gambaran kegiatan yang akan dipelajari dan dilakukan siswa selama pembelajaran.

4) Wacana

Menyajikan tentang permasalahan lingkungan disertai gambar-gambar untuk selanjutnya dianalisis siswa guna menuju tahapan selanjutnya.

5) Prediction (Prediksi)

Sintaks/tahap pertama yang akan dilakukan siswa yaitu memprediksi permasalahan berdasarkan wacana yang telah disajikan.

6) Rancangan Percobaan

Memuat tahapan dimana siswa merancang satu percobaan berdasarkan hasil prediksi yang telah mereka buat.

(8)

7) Observation (Observasi)

Tahapan/sintaks kedua dimana siswa membuktikan prediksi yang telah mereka buat melalui kegiatan percobaan.

8) Explanation (Penjelasan)

Tahap/sintaks terakhir yang akan dilakukan siswa dalam menjelaskan hasil percobaan dan konsep yang telah mereka peroleh selama pembelajaran melalui RD.

9) Info Sains

Berisi informasi-informasi yang berkaitan dengan materi pada bab yang sedang dipelajari.

10) Rangkuman

Berisi ringkasan info sains. Masing-masing bab pada modul memiliki rangkuman sesuai info sains.

11) Wawasan Sains

Memuat penemuan-penemuan atau penelitian penting yang berkaitan dengan bab yang sedang dipelajari.

12) Evaluasi

Memuat soal-soal sesuai dengan indikator pada bab yang telah dipelajari.

13) Petunjuk Penilaian, Tugas Individu dan Refleksi Diri

Petunjuk penilaian digunakan untuk menilai hasil evaluasi siswa, tugas individu berisi instruksi yang harus dilakukan siswa setelah pembelajaran, dan refleksi diri berisi petunjuk bagi siswa

(9)

untuk melanjutkan bab selanjutnya apabila sudah menguasai bab sebelumnya.

c) Bagian Penutup, terdiri atas 1) Kunci jawaban

Memuat jawaban-jawaban dari soal evaluasi tiap bab yang ada dalam modul.

2) Glosarium

Memuat istilah-istilah yang berkaitan dengan materi dalam modul.

3) Daftar pustaka

Memuat referensi/pustaka sebagai acuan dalam modul.

Lay Out terkait produk awal modul disajikan pada Gambar 3.2 sampai 3.9 berikut:

     

   

 

Gambar 3.2. Lay Out Cover  

 

Judul Modul

Materi pembelajaran Pengguna  

 

Nama Pembuat Modul

Nama Instansi Tahun Penyusunan Modul Gambar ilustrasi terkait pencemaran lingkungan

(10)

               

Gambar 3.3. Lay Out Pendahuluan  

 

Gambar 3.4. Lay Out Wacana

Gambar 3.5. Lay Out Prediksi (Prediction) Bab

Materi Pembelajaran

KD

Indikator

Gambar Ilustrasi

PETUNJUK

   

WACANA Gambar

terkait wacana

Prediksi (Prediction)

Gambar

Lembar Prediksi

(11)

Gambar 3.6. Lay Out Pengamatan (Observation)

Gambar 3.7. Lay Out Penjelasan (Explanation) menggunakan RD

Gambar 3.8. Lay Out Info Sains

Pengamatan (Observation)

Gambar

Tabel Pengamatan

Penjelasan (Explanation)

Gambar

Petunjuk RD

RD 

Info Sains

gambar gambar

b

Materi

(12)

Gambar 3.9. Lay Out Evaluasi, Petunjuk Penilaian, Tugas Individu dan Refleksi Diri

4. Uji Coba Lapangan Awal

Uji coba lapangan awal ini digunakan untuk memperoleh evaluasi kualitatif awal dari draft modul yang telah dibuat. Uji coba lapangan awal ini dilakukan dengan uji validasi yang terdiri dari validasi ahli dan praktisi.

Validasi ahli pada uji coba ini terdiri atas validasi ahli materi, validasi ahli penyajian dan validasi ahli bahasa/kebahasaan. Validasi praktisi oleh 2 orang guru biologi. Uji coba lapangan ini bertujuan untuk memperoleh data berupa penilaian, pendapat, kritik dan saran terhadap pengembangan draft modul, perangkat dan instrumen yang telah disusun. Validasi materi yaitu dosen biologi berkaitan dengan materi pencemaran lingkungan, validasi penyajian oleh dosen yang ahli dibidang penyusunan dan tata letak berkaitan dengan tampilan modul, sedangkan validasi bahasa/keterbacaan oleh dosen yang ahli dibidang bahasa berkaitan dengan tata tulis dan EYD yang benar.

Evaluasi

gambar

Soal-soal

Petunjuk

Penilaian Tugas Individu

Refleksi Diri

(13)

5. Revisi Produk Tahap I

Pada tahap ini, data hasil validasi ahli dan praktisi terkait materi, penyajian dan bahasa/keterbacaan dianalisis untuk selanjutnya dilakukan perbaikan. Tujuannya agar produk modul dapat digunakan pada uji coba selanjutnya.

6. Uji Coba Lapangan Utama/Terbatas

Uji coba lapangan utama/terbatas bertujuan untuk memperoleh evaluasi kualitatif dari pengguna di lapangan yang terdiri dari praktisi pendidikan (guru biologi) dan 15 siswa di sekolah menggunakan produk modul berbasis POE disertai RD yang telah direvisi. Hasil penilaian siswa mencakup isi modul, penyajian dan bahasa/keterbacaan.

7. Revisi Produk Tahap II

Revisi produk tahap II ini dilakukan berdasarkan saran yang diperoleh dari praktisi pendidikan (guru biologi) dan siswa. Perbaikan yang telah dilakukan tersebut bertujuan untuk memperbaiki produk modul berbasis POE disertai RD pada materi pencemaran lingkungan agar lebih layak digunakan pada tahap uji coba selanjutnya yaitu uji coba lapangan operasional/efektivitas.

8. Uji Coba Lapangan Operasional/Efektivitas

Uji coba lapangan operasional/efektivitas bertujuan untuk mengetahui efektifitas modul berbasis POE disertai RD. Pelaksanaan uji coba lapangan dilakukan sesuai dengan tahap perencanaan yang telah dibuat. Pelaksanaan uji coba operasional dilakukan di SMA Negeri 5 Surakarta dengan uji

(14)

coba pemakaian menggunakan desain One Group Pretestt-Postest Design (Sugiyono, 2010). Desain uji coba pemakaian modul selengkapnya disajikan pada Gambar 3.10.

R X

Gambar 3.10. One Group Pretestt-Postest Design Keterangan:

R : Pengambilan sampel secara random O1 : Pretest kelas eksperimen

O2 :Postest kelas eksperimen

9. Penyempurnaan Produk Akhir (Revisi Produk Akhir)

Data hasil uji coba lapangan operasional yang diperoleh kemudian dianalisis dan diperbaiki apabila masih terdapat kesalahan. Hasil revisi produk akhir ini menghasilkan produk akhir yang layak digunakan untuk memberdayakan KPS dan kemampuan menjelaskan karena telah melalui tahap validasi ahli, praktisi dan penilaian dari praktisi serta siswa.

10. Diseminasi dan Implementasi

Tahap ini dilakukan apabila produk modul sudah melewati semua tahap dengan baik, seperti uji coba, validasi dan perbaikan tahap demi tahap. Produk modul berbasis POE disertai RD selanjutnya disebarkan kepada guru-guru Biologi pada sekolah Negeri yang ada di Surakarta guna memperoleh respon berupa komentar dan saran dan penilaian.

O1 O2

(15)

D. Subjek Uji Coba Produk

Subjek uji coba produk modul berbasis POE disertai RD terdiri atas:

1. Subjek Analisis Kebutuhan a) Guru Biologi

Guru yang menjadi sumber data dalam analisis kebutuhan (observasi, wawancara, dan data siswa) adalah guru mata pelajaran biologi di SMA Negeri 5 Surakarta.

b) Wakil Kepala Sekolah

Wakil kepala sekolah yang dijadikan sumber data untuk menganalisis kurikulum adalah wakil kepala sekolah bidang kurikulum (wakasek kurikulum).

c) Siswa

Siswa yang menjadi subjek pada tahap analisis kebutuhan terdiri atas 32 orang siswa. Analisis dilakukan dengan angket, wawancara dan observasi.

2. Validasi Ahli

Validasi ahli dalam penelitian pengembangan modul ini terdiri atas:

a) Validasi Ahli Materi Biologi

Validasi ahli materi biologi bertujuan untuk mendapatkan data berupa penilaian, pendapat, dan saran terhadap ketepatan dan kesesuaian materi yang ada dalam perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Validasi ahli materi ini dilakukan oleh dosen yang ahli dalam materi lingkungan dengan kualifikasi S3.

(16)

b) Validasi Ahli Pengembangan Modul (Penyajian)

Validasi ahli pengembangan modul pembelajaran bertujuan untuk mendapatkan data yang berupa penilaian, pendapat, kritik, dan saran terhadap penyusunan modul berbasis POE disertai RD terkait dengan pengembangan modul pembelajaran yang baik. Validasi ahli pengembangan dilakukan oleh dosen yang ahli dalam bidang pengembangan modul yang baik dengan kualifikasi S3.

c) Validasi Ahli Bahasa/Keterbacaan

Validasi ahli bahasa/keterbacaan modul pembelajaran bertujuan untuk mendapatkan data yang berupa penilaian, pendapat, kritik, dan saran terhadap penyusunan modul berbasis POE disertai RD terkait dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah EYD, jelas dan mudah dipahami siswa. Validasi dilakukan oleh dosen Bahasa dan Sastra Indonesia dengan kualifikasi S3.

3. Validasi Praktisi

Validasi pada praktisi dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang berupa penilaian, pendapat, kritik, dan saran terhadap penyusunan modul berbasis POE disertai RD terkait materi, penyajian dan bahasa secara keseluruhan. Validasi praktisi ini dilakukan oleh guru biologi di SMA Negeri 5 Surakarta.

(17)

4. Uji coba Produk

Uji coba produk skala kecil/terbatas dilakukan pada 15 orang siswa dan guru biologi, sedangkan uji coba operasionaldilakukan pada siswa 1 kelas dengan jumlah siswa 32.

E. Data dan Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang diperoleh dari pengembangan modul berbasis POE disertai

RD ini terbagi pada dua tahap yaitu:

1. Tahap Analisis Kebutuhan

Pada tahap analisis kebutuhan diperoleh beberapa data kualitatif, diantaranya adalah data analisis Kurikulum, bahan ajar, model dan materi pembelajaran melalui angket, observasi dan wawancara.

2. Tahap Uji Coba

Pada tahap uji coba lapangan awal, data yang didapatkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yang diperoleh berupa data hasil uji validasi ahli materi biologi, hasil validasi ahli pengembangan/penyajian modul, ahli bahasa/keterbacaan, praktisi dan siswa. Data kuantitatif diperoleh dari tiap-tiap aspek materi, penyajian dan bahasa. Hasil uji coba lapangan terbatas dilakukan oleh guru biologi dan siswa. Uji coba lapangan operasional diperoleh data KPS dan kemampuan menjelaskan melalui metode tes sebelum dan sesudah pembelajaran berlangsung, sedangkan data pendukung berupa hasil belajar diperoleh melalui metode observasi dan tes.

(18)

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian pengembangan modul berbasis POE disertai RD yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian terdiri atas:

1) Instrumen pengumpulan data awal pada saat analisis kebutuhan melalui strudi pustaka dan survey lapangan berupa pedoman wawancara dan angket.

2) Instrumen pengembangan modul berbasis POE disertai RD terdiri atas lembar validasi ahli, praktisi dan siswa. Lembar validasi terdiri atas aspek materi, penyajian dan bahasa/keterbacaan.

3) Instrumen KPS dan kemampuan menjelaskan siswa berupa tes yang dikembangkan dalam bentuk pilihan ganda dengan soal yang mengacu pada indikator masing-masing.

4) Instrumen data pendukung pada hasil belajar berupa tes, lembar observasi dan angket. Pada ranah kognitif digunakan tes pilihan ganda untuk menilai hasil terkait proses dan produk selama pembelajaran. Ranah afektif dan psikomotor diukur menggunakan LO selama proses pembelajaran dengan skala 4, 3, 2, 1 dan rubrik yang telah dibuat. Setelah proses pembelajaran selesai masing-masing ranah tersebut diukur dengan tes angket. Angket yang digunakan berupa angket langsung dan sekaligus memberikan alternatif jawaban. Angket yang digunakan dalam penelitian mengacu pada Likert. Menurut Sudjana (2010) skala Likert memiliki 5 alternatif jawaban yaitu: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak berpendapat (TB), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Skor penilaian skala Likert

(19)

bergantung pada penilai asal penggunaanya konsisten. Skor untuk pernyataan positif dan negatif adalah kebalikannya. Teknik Penilaian selengkapnya disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Teknik Penilaian Angket Skala Likert

Skor untuk aspek yang dinilai Skor

(+) ( - )

Sangat Setuju (SS) 5 1

Setuju (S) 4 2

TB (Tidak Berpendapat) 3 3

Tidak Setuju (TS) 2 4

Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5

(Sumber: Sudjana, 2010)

G. Validitas Instrumen Penelitian

Seluruh instrumen yang akan digunakan dalam penelitian pengembangan harus dijicobakan (try out) terlebih dahulu untuk mengetahui validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran soal.

1. Validitas

Validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas yang digunakan meliputi uji validitas isi dan validitas konstruk. Uji validitas instrumen tes, dilakukan dengan cara mencocokkan antara isi instrumen dengan indikator pembelajaran dan materi pelajaran yang diajarkan (Sudjana, 2010). Hal tersebut dilakukan agar tes dan angket yang digunakan dapat mengukur kemampuan siswa sesuai dengan tujuan akhir pembelajaran. Uji validitas konstruk instrumen dilakukan dengan menguji kesesuaian instrumen

(20)

dengan aspek dari variabel yang diukur. Instrumen yang telah disusun dikonsultasikan dengan ahli (Sugiyono, 2011).

Uji coba instrumen dilakukan setelah pengujian validitas isi dan konstruk oleh ahli. Sugiyono (2011) menyatakan bahwa jumlah anggota sampel yang digunakan untuk uji coba instrumen setidaknya sekitar 30 orang. Validitas butir soal dihitung dengan menggunakan rumus koefisien product moment dari Karl Pearson menurut Arikunto (2010).

rxy =

( )( )

( )

}{

( )

} {N x2 x 2 N y2 y 2

y x xy N

Keterangan:

rxy :koefisien korelasi antara x dan y

n : cacah subyek yang dikenai tes (instrumen) x : skor untuk butir ke-i

y : skor total (dari subyek try out)

Nilai rXY kemudian digunakan dalam perhitungan pada uji-t. Uji t digunakan karena responden yang digunakan dalam pengujian instrumen merupakan sampel, sehingga diperlukan generalisasi ke dalam populasi agar dapat dianggap mewakili seluruh karakteristik yang ada dalam populasi (Muhidin dan Abdurahman, 2009). Uji t dilakukan dengan rumus Riduwan (2004) yaitu:

thitung =

2 XY XY

r 1

2 r

N

Keterangan :

t : nilai t menurut perhitungan uji t rXY : koefisien korelasi antara x dan y

N : cacah subyek yang dikenai tes (instrumen)

(21)

Langkah selanjutnya adalah melihat distribusi (Tabel t) untuk taraf signifikansi (α) = 0,05 dan derajad kebebasannya (dk= N-2).

Perbandingan tersebut menghasilkan keputusan uji yaitu jika jika thitung <

ttabel maka item soal tidak valid, sedangkan jika thitung > ttabel maka item soal dapat dinyatakan sebagai soal yang valid. Hasil uji validitas soal try out kelas X SMA Negeri 7 Surakarta secara ringkas disajikan pada Tabel 3.3 berikut:

Tabel 3.3. Tingkat Validitas Soal Try Out

Tes Jumlah Soal Jumlah Soal Valid Jumlah Soal Tidak Valid

KPS 20 20 -

Menjelaskan 25 20 5

Hasil belajar

Kognitif 50 40 10

Hasil belajar

Afektif 22 20 2

Hasil belajar

Psikomotor 22 20 2

Berdasarkan Tabel 3.3 dapat diketahui bahwa hasil perhitungan uji validitas menunjukkan semua soal KPS yang berjumlah dinyatakan valid.

Soal kemampuan menjelaskan yang valid sebanyak 20 sedangkan jumlah soal yang tidak valid sebanyak 5. Jumlah soal yang valid pada hasil belajar kognitif adalah 40 dan soal yang tidak valid 10, sedangkan masing-masing soal afektif dan psikomotor memiliki jumlah soal valid sebanyak 20 dan soal tidak valid sebanyak 2. Soal yang tidak valid tersebut akan dihilangkan dan tidak digunakan dalam uji coba lapangan operasional.

2. Reliabilitas

Reliabel artinya dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan mempunyai taraf reliabilitas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap

(22)

walaupun diteskan berulang-ulang (Arikunto, 2010). Riduwan (2004) menyatakan bahwa reliabilitas instrumen tes yang memberikan jawaban yang benar bernilai 1 dan jawaban salah bernilai 0 dapat diukur menggunakan rumus Kuder Richardson (KR-20) sebagai berikut:

⎟⎟

⎜⎜

⎛ −

⎟⎠

⎜ ⎞

= −

2 2

11 1 S

pq S

k r k

Reliabilitas item soal bentuk uraian dihitung dengan menggunakan rumus Alpha (Riduwan, 2004), yaitu:

r11=

⎜ ⎞

−1 n

n ⎟⎟⎠

⎜⎜⎝

⎛ −∑ 2

2

1

t i

S S

Keterangan:

r11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan k = Banyaknya butir soal tes

n = Banyaknya item pernyataan angket S = Standar deviasi dari tes

p = Proporsi siswa yang menjawab item dengan benar q = Proporsi siswa yang menjawab item dengan salah (1 – p)

∑pq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q

∑ Si2 = Jumlah varians skor tiap-tiap item St2 = Varians total

Jika r11 < rtabel, maka korelasi tidak signifikan sehingga soal dinyatakan tidak reliabel, sebaliknya jika r11> rtabel soal tes dinyatakan reliabel. Indeks korelasi yang digunakan sebagai acuan tingkat reliabilitas instrumen disajikan pada Tabel 3.4.

(23)

Tabel 3.4. Skala Penilaian Reliabilitas Butir Soal atau Item.

No Skala r11 Keterangan

1 2 3 4 5

Antara 0,80 sampai dengan 1,00 Antara 0,60 sampai dengan 0,799 Antara 0,40 sampai dengan 0,599 Antara 0,20 sampai dengan 0,399 Antara 0,00 sampai dengan 0,199

Sangat Tinggi (ST) Tinggi (T)

Cukup (C) Rendah (R)

Sangat Rendah (SR) Hasil try out uji reliabilitas soal tes di SMA Negeri 7 Surakarta secara ringkas disajikan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Tingkat Reliabilitas Soal Try Out

Tes Skala Soal Tingkat Reliabilitas

KPS 0,768 Tinggi

Menjelaskan 0,694 Tinggi

Hasil belajar Kognitif 0,845 Sangat Tinggi

Hasil belajar Afektif 0,763 Tinggi

Hasil belajar

Psikomotor 0,838 Sangat Tinggi

Tingkat Reliabilitas Soal try out pada Tabel 3.4 menunjukkan bahwa tes KPS dan kemampuan menjelaskan dan hasil belajar afektif memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dengan skala 0,768 untuk KPS dan 0,694 untuk tes menjelaskan dan 0,763 untuk afektif. Hasil belajar kognitif dan psikomotor memiliki reliabilitas yang sangat tinggi yaitu 0,845 dan 0,838.

Reliabel artinya dapat dipercaya, maka soal tes yang memiliki taraf reliabilitas yang tinggi akan memberikan hasil yang tetap meskipun diteskan berulang-ulang (Arikunto, 2010).

3. Indeks Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang memadai artinya tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal dinyatakan dalam Indeks

(24)

Kesukaran (P). Indeks Kesukaran diperoleh dengan rumus Arikunto (2010) sebagai berikut:

J

s

P = B

Keterangan :

P : Indeks Kesukaran

B : Jumlah jawaban yang benar yang diperoleh siswa dari suatu item JS : Jumlah selurus siswa peserta tes

Indeks kesukaran diklasifikasikan menjadi 3 skala tingkatan (Arikunto, 2010) seperti yang disajikan pada Tabel 3.6 berikut:

Tabel 3.6. Skala Penilaian Indeks Kesukaran Butir Soal atau Item No Skala P Kategori Soal

1 2 3

Antara 0,10 sampai dengan 0,30 Antara 0,30 sampai dengan 0,70 Antara 0,70 sampai dengan 1,00

Sukar Sedang Mudah

Hasil uji taraf kesukaran tes try out di SMA Negeri 7 Surakarta secara ringkas disajikan pada Tabel 3.7 berikut:

Tabel 3.7. Tingkat Kesukaran Soal Try Out Tes Jumlah Soal Jumlah Soal

Mudah

Jumlah Soal Sedang

Jumlah soal Sukar

KPS 20 5 10 5

Menjelaskan 25 9 10 6

Hasil belajar

Kognitif 50 17 22 11

Berdasarkan Tabel 3.6 dapat dilihat tingkat kesukaran soal try out KPS, kemampuan menjelaskan dan hasil belajar kognitif. Tingkat kesukaran soal terdiri atas soal dengan tingkatan mudah, sedang dan sukar/sulit. Soal try out KPS dengan jumlah total soal sebanyak 20 memiliki jumlah soal tingkat mudah sebanyak 5, soal tingkat mudah sebanyak 10 dan soal dengan tingkatan sukar sebanyak 5. Soal tes

(25)

menjelaskan memiliki jumlah total soal sebanyak 25 dan setelah dianalisis dapat dilihat bahwa soal kemampuan menjelaskan memiliki soal dengan tingkat mudah sebanyak 9, soal tingkat sedang sebanyak 10 dan soal dengan tingkat sukar sebanyak 6. Soal tes hasil belajar kognitif memiliki jumlah soal mudah 17, sedang 22 dan sulit 11. Hasil tersebut menunjukkan bahwa soal KPS, menjelaskan dan kognitif tergolong soal yang “Baik”

karena memiliki tingkat kesukaran yang memadai/seimbang.

4. Daya Pembeda Soal

Daya pembeda digunakan untuk untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang (berkemampuan rendah). Perbedaan jawaban benar dari siswa yang berkemampuan rendah dengan siswa berkemampuan tinggi disebut Indeks Diskriminasi (D) diperoleh dengan rumus (Arikunto, 2010) sebagai berikut:

D =

B B A

A

J B

B −J = PA - PB

Keterangan :

J : Jumlah peserta tes

JA : Jumlah peserta kelompok atas JB : Jumlah peserta kelompok bawah

BA : Jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar BB : Jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Penilaian daya pembeda butir soal menurut Arikunto (2010) disajikan pada Tabel 3.8.

(26)

Tabel 3.8. Skala Penilaian Daya Pembeda Butir Soal.

No Nilai D Keterangan

1 2 3 4 5

Antara 0.00 sampai dengan 0.20 Antara 0.20 sampai dengan 0.40 Antara 0.40 sampai dengan 0.70 Antara 0.70 sampai dengan 1.00 Negatif

jelek (poor) cukup (satisfactory) baik (good)

baik sekali (excellent)

sangat jelek dan butir soal dibuang

Hasil try out uji daya beda butir soal di SMA Negeri 7 Surakarta disajikan pada Tabel 3.9 berikut:

Tabel 3.9. Hasil Uji Daya Beda Soal Try Out Instument

Penelitian

Jumlah Soal

Jumlah Item Dipakai

Keputusan Uji validitas Jelek Cukup Baik Baik

Sekali Negatif

KPS

Kemampuan Menjelaskan Hasil Belajar Kognitif

20 25 50

20 20 40

- 3 7

10 14 19

10 8 15

- - -

- - 9

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian pengembangan modul berbasis POE disertai RD ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial.

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis ini digunakan untuk menganalisis kelayakan modul berbasis POE disertai RD. Analisis dilakukan berdasarkan hasil angket menggunakan skala Likert. Skor yang diperoleh dari hasil penilaian modul kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Teknik persentase digunakan untuk menyajikan data yang merupakan tanggapan subjek uji coba terhadap produk modul pembelajaran. Teknik analisis ini digunakan untuk mengolah data yang diperoleh dengan rumus :

(27)

P = x100 % x

xi

∑ ∑

Keterangan :

P = Persentase penilaian

∑xi = Jumlah jawaban dari subjek

∑x = Jumlah jawaban tertinggi

Persentase keseluruhan subjek/komponen juga dapat dihitung dengan rumus:

P = n

p Keterangan:

∑p = jumlah persentase keseluruhan komponen n = banyak komponen

Hasil perhitungan persentase keseluruhan dapat membantu kita dalam mengambil keputusan terkait revisi produk modul berbasis POE disertai RD seperti yang disajikan pada Tabel 3.10 berikut:

Tabel 3.10. Pengambilan Keputusan Revisi Pengembangan

Tingkat Pencapaian Kualifikasi Keterangan 90%-100% Sangat baik Tidak perlu direvisi

75%-89% Baik Tidak perlu direvisi

65%-74% Cukup Direvisi

55%-64% Kurang baik Direvisi

0%-54% Kurang cukup Direvisi

2. Analisis Statistik Inferensial

Analisis ini digunakan untuk mengetahui efektivitas modul berbasis POE disertai RD dalam memberdayakan KPS dan kemampuan menjelaskan. Teknik analisis yang digunakan adalah uji Paired Sample t test (uji t berpasangan) menggunakan program analisis SPSS 18 for Windows dengan didahului uji prasyarat yaitu uji normalitas dan

(28)

homogenitas. Rumus uji normalitas dan homogenitas dan uji t adalah seperti berikut:

a) Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi yang normal atau tidak (Budiyono, 2004). Uji normalitas menggnakan kolmogorov-smirnov pada program SPSS 18. Hipotesis uji normalitas adalah:

H0 = Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 = Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal Kriteria pengambilan keputusan uji normalitas adalah:

Jika signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak Jika signifikansi > 0,05 maka H0 diterima b) Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah sampel penelitian berasal dari populasi yang homogen (Budiyono, 2004). Uji homogenitas menggunakan Levene-Test pada program SPSS 18.

Hipotesis uji homogenitas adalah:

H0 = Sampel berasal dari variansi yang homogen H1 = Sampel berasal dari variansi yang tidak homogen Kriteria pengambilan keputusan pada uji homogenitas adalah:

Jika sig < 0,05 maka H0 ditolak, jika sig > 0,05 maka H0 diterima

(29)

c) Uji t

Uji t dilakukan apabila data terdistribusi normal dan homogen menggunakan SPSS 18. Adapun hipotesis uji t adalah:

H0 = Tidak terdapat perbedaan KPS/kemampuan menjelaskan siswa sebelum dan stelah menggunakan modul berbasis POE disertai RD

H1 = Terdapat perbedaan KPS/kemampuan menjelaskan siswa sebelum dan stelah menggunakan modul berbasis POE disertai RD

Analisis yang dilakukan selanjutnya setelah uji t adalah mengetahui efektivitas modul berbasis POE disertai RD menggunakan teknik normalized gain atau gain score. Normalisasi N-gain adalah teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat kenaikan KPS dan kemampuan menjelaskan siswa. Gain score menurut Hake (1998) dapat dihitung dengan rumus seperti berikut:

Skor Skor

Skor Maksimal Skor

Keterangan:

< g > = gain ternormalisasi

Interpretasi nilai gain ternormalisasi menurut Hake (1998) secara rinci dijelaskan pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8. Kriteria Gain Ternormalisasi

Nilai < g > Kriteria

< g >≥ 0,7 0,7 >< g >≥ 0,3

< g >< 0,3

Tinggi Sedang Rendah

Referensi

Dokumen terkait

Gagasan dalam uji perbandingan adalah membandingkan deret yang diberikan dengan deret yang telah diketahui konvergen atau divergen. Teorema Uji Banding ini hanya berlaku

Pada tahap perencanaan (planning), ada beberapa hal yang dilakukan yaitu: menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan yaitu sumber energi dan kegunaannya,

Di dalam Surat Edaran Nomor : D.IV/E.d/17/1979 Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Islam masalah poligami dalam idah istri menyatakan bahwa seorang suami yang baru

[r]

Tim Pelaksana Kegiatan Kajian Aktual Strategis Satuan Kerja Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Praktisi pendidikan menyimpulkan bahwa produk modul layak dengan predikat sangat baik; (3) ada perbedaan signifikan nilai keterampilan berpikir kritis siswa antara pretes

P2 : Jika harga kebutuhan pokok tidak naik, maka ongkos angkutan tidak naik Kesimpulan yang sah dari dua premis di atas adalah ….. Jika ongkos naik, maka harga bahan

Keput usan Ment er i Dalam Negeri Dan Ot onom i Daer ah Nom or 43 Tahun 2000 t ent ang Pedom an Ker j asam a Per usahaan Daer ah Dengan Pihak