42
Istimewa Yogyakarta yang terletak paling barat dengan batas sebelah barat dan utara adalah Propinsi Jawa Tengah dan sebelah selatan adalah Samudera Indonesia Secara geografis terletak antara 7 o 38'42" - 7 o 59'3" Lintang Selatan dan 110 o 1'37" - 110 o 16'26" Bujur Timur. Luas area adalah 58.627,5 Ha yang meliputi 12 kecamatan dan 88 desa. Dengan batas wilayah meliputi
Sebelah Utara : Kabupaten Magelang
Sebelah Timur : Kabupaten Sleman & Kabupaten Bantul Sebelah Selatan : Samudra Hindia
Sebelah Barat : Kabupaten Purworejo 1. Profil Bandara New Yogyakarta
Bandar udara merupakan salah satu fasilitas transportasi massal yang paling sering digunakan di Indonesia, definisi bandara sendiri sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 39 Tahun 2019 yang menyatakan bahwa Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan Penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya.
Bandara New Yogyakarta sendiri merupakan bandara yang resmi di bangun pada 27 Januari 2017 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Bandara ini terletak di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulonprogo yang diproyeksikan sebagai bandara utama dan bertaraf Internasional yang menggantikan Bandara Aditsutjipto yang sudah tidak di fungsikan untuk melakukan penerbangan skala internasional. Terhitung sejak mulai dibangun bandara ini di tahun 2017 barulah setelah 3 tahun pembangunan Bandara
NYIA sudah mulai beroperasi pada bulan Mei 2019, namun baru diresmikan langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo pada 28 Agustus 2020.
Bandara NYIA sendiri memiliki luas 587 hektar kemudian luas terminal sebesar 235.000 meter persegi yang dengan kapasitas ultimate mencapai 25 juta penumpang per tahun, yang nantinya menggabungkan 3 transportasi massal yaitu Jalan, Kereta Api, dan Udara. Untuk runaway sendiri memiliki panjang 3600 meter.
Bagian lahan parkir kendaraan akan memiliki kapasitas 18.727 kendaraan kemudian adanya fasilitas penunjang seperti Retail, Hotel, Perkantoran, Mass Karyawan dan Rumah Sakit. Sebagai tambahan.
Pembangunan Bandara NYIA merupakan pembangunan yang difungsikan bagi kepentingan umum di mana pembangunan di wilayah Kapanewon Temon tersebut melibatkan 5 desa dalam proses pengadaan lahannya yaitu Desa Glagah, Desa Jangkaran, Desa Kebonrejo, Desa Palihan, dan Desa Sindutan sebagai tempat yang dialih fungsikan lahannya menjadi bandara.
B. PEMBAHASAN
1. Mekanisme Pengadaan Tanah Dalam Pembangunan Bandar Udara New Yogyakarta International Airport yang Berkeadilan
a. Mekanisme Pengadaan Tanah dalam Pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport
Tanah merupakan sebuah kekayaan alam yang memiliki peran yang vital bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Tanah juga merupakan harta yang penting dikarenakan dari tanah lah segala kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dapat dilakukan dan menjadikan sebuah tanah memiliki nilai yang sangat berharga melihat seberapa krusial perannya baik bagi negara maupun masyarakat itu sendiri oleh karena itu sudah menjadi kewajiban manusia untuk memelihara dan mengatur bagaimana suatu tanah dapat digunakan secara adil dan berkelanjutan demi terwujudnya sebuah kemanfaatan bagi tiap manusia.
Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”, yang menjelaskan bahwa sejatinya segala urusan tanah dan pemanfaatannya tidak lepas dari peran negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dan pemilik hak untuk menguasai seluruh tanah yang ada di negara. Van Vollenhoven mengemukakan bahwa negara ialah organisasi tertinggi dari bangsa yang diberi kekuasaan untuk mengatur segala-galanya dan negara berdasarkan kedudukannya memiliki kewenangan untuk membuat peraturan hukum (Notonegoro 1984, 99) termasuk yang berkaitan dalam urusan dan kewenangannya terhadap tanah.
Disisi lain walaupun negara adalah pemegang kekuasaan tertinggi terhadap tanah disini bukan berarti hanya pemerintah pusat saja sebagai satu- satunya pihak yang diperbolehkan menguasai tanah dan dapat melaksanakan kewenangan pengadaan tanah, karena dalam pasal 24 ayat 1 PP No.19 Tahun 2021 dijelaskan bahwa pihak yang berwenang atas penguasaan tanah yaitu bisa berupa perseorangan, badan hukum, badan sosial, badan keagamaan, atau instansi pemerintah selama dapat menunjukan sebuah alat bukti, berupa:
1) Sertifikat Hak Atas Tanah yang Telah Berakhir Jangka Waktu Haknya Sepanjang Masih Dipergunakan dan Dimanfaatkan oleh Bekas Pemegang Haknya;
2) Surat Izin Garapan/Membuka Tanah;
3) Surat Penunjukan/Pembelian Kavling Tanah Pengganti; atau
4) Bukti Lain yang Dipersamakan Dengan Bukti Penguasaan Lainnya.
Pengaturan di pasal tersebut menandakan bahwa semua pihak bisa saja berhak menguasai dan memiliki tanah asalkan memenuhi syarat kepemilikan dan alat bukti. Namun tetap saja bahwa bagaimanapun negara adalah pihak yang paling berkuasa atas penggunaan tanah dan kegiatan lain yang menyangkut tanah. Dalam hal ini seperti yang disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA di mana negara berwenang dan memiliki hak untuk:
1) Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan atau pemeliharaannya;
2) Menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi, air dan ruang angkasa itu;
3) Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang- orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa, segala sesuatunya dengan tujuan untuk mencapai sebesar- besarnya kemakmuran rakyat dalam masyarakat adil dan makmur
Yang kemudian dari wewenang tersebut akan merujuk pada salah satu hak dan kewenangan yang dimiliki negara yaitu pelaksanaan pengadaan tanah. Pengadaan Tanah adalah kegiatan menyediakan tanah yang tujuannya adalah bagi kepentingan umum. Adanya unsur kepentingan umum ini sebenarnya merupakan syarat wajib bagi tiap pemanfaatan hak tanah yang dimiliki negara. karena wewenang dan hak yang timbul dari penguasaan tanah tersebut sejatinya hanya boleh dipergunakan ketika suatu penguasaan tanah didasarkan atas adanya kepentingan umum dalam pelaksanaaanya.
Pasal 1 ayat (7) Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang No.2 Tahun 2012 bahkan menjelaskan bahwa
“kepentingan umum adalah kepentingan bangsa, Negara, dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” kepentingan-kepentingan umum tersebut tidak hanya bagi pemerintah sebagai pelaksana pengadaan tanah dan kepentingan pemilik tanah namun juga bagi masyarakat sekitar maupun secara luas yang berkesinambungan dalam jangka Panjang di mana terkait pengadaan tanah ini menempatkan Pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo sebagai sebuah upaya pelaksanaan pengadaan tanah bagi kepentingan umum
Pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) merupakan bagian dari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada periode tahun 2015-2019 (Arifin 2018, 3) yang artinya secara tidak langsung dengan adanya tujuan sebagai salah satu sektor untuk pembangunan ekonomi Indonesia, maka secara tidak
langsung adanya Bandara NYIA berusaha mewujudkan suatu kepentingan umum. Disisi lain Pembangunan sebuah bandara sendiri merupakan salah satu objek dari pengadaaan tanah bagi kepentingan umum yang terdapat dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 123 Undang-Undang No.11 Tahun 2020 tentang Perubahan ketentuan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 20l2 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, di mana fasilitas bandara merupakan salah satu objek yang boleh melaksanakan pengadaan tanah.
Bandara New Yogyakarta International Airport ini diprakarsai oleh PT. Angkasa Pura I (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara yang diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 5 tahun 1992 dan termasuk dalam lingkungan departemen perhubungan yang dipimpin oleh seorang direktur utama yang dibantu oleh beberapa direktur yang menjalankan tugas pokoknya, yaitu mengusahakan menyelenggarakan penyediaan jasa kebendarudaraan dan bertanggung jawab kepada Rapat Umum Pemegang Saham. Pembangunan Bandara NYIA yang dilakukan PT. Angkasa Pura I (Persero) merupakan upaya bentuk peralihan fasilitas penerbangan utama di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sang sebelumnya berada di bandara Aditsutjipto Yogyakarta namun dinilai sudah overcapacity karena kapasitas untuk menampung pesawat yang minim dan hanya memiliki Panjang runaway 2200 meter serta sulit untuk dilakukan perluasan dan pengembangan terhadap luas bandara yang akhirnya membuat Bandara NYIA akan sangat membantu bagi pengembangan transportasi di Yogyakarta.
Pembangunan Bandara NYIA memiliki luas 587,3 ha dibangun dengan kapasitas ultimate 24 juta penumpang, dimensi panjang runway 3.600 m, dengan terminal seluas 235.000 m2. NYIA akan memiliki stasiun kereta api tepatnya di lantai 2 terminal keberangkatan dengan luas stasiun 11.737 m2, dilengkapi dengan lahan parkir kendaraan dengan kapasitas 18.727 kendaraan.
Dalam pembangunan bandara yang berlokasi di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo seluas 567,3 ha ini memerlukan pengadaan tanah yang memaksa
untuk mengambil lahan dari beberapa wilayah desa di lingkungan Kecamatan Temon antara lain:
Tabel 1. Luas Desa Dirinci Menurut Penggunaan Lahan Di Kecamatan Temon Tahun 2016 Dalam Satuan Hektar (Ha)
No Nama Desa Tanah Sawah
Tanah Kering
Bangunan Huta Rakyat
Hutan Negara
Lainnya Jumlah
1 Jangkaran 46,00 71,70 35,43 212,51 365,64
2 Sindutan 104,75 119,98 44,08 28,99 297,80
3 Palihan 71,70 146,53 53,34 87,14 358,71
4 Glagah 125,00 144,53 153,21 181,20 603,94
5 Kalidengen 76,00 48,87 19,32 6,56 150,75
6 Plumbon 125,00 73,68 96,69 8,31 303,68
7 Kedundang 56,50 55,37 17,55 9,60 139,02
8 Demen 43,00 34,52 14,98 5,04 97,54
9 Kulur 38,75 165,70 66,13 9,17 279,75
10 Kaligintung 59,00 96,21 33,66 29,79 218,66
11 Temon Wetan
54,00 135,00 29,38 4,31 222,69
12 Temon Kulon
54,00 45,31 50,54 5,86 155,71
13 Kebonrejo 75,00 63,19 20,80 13,46 172,45
14 Janten 68,00 36,10 16,54 12,47 133,11
15 Karang Wuluh
69,00 26,14 24,68 9,82 129,64
Jumlah Total
1.065,70 1.262,83 676,33 624,23 3.629,09
Sumber: BPS Kecamatan Temon Dalam Angka 2017
Adanya Proyek Bandara yang memaksa harus dilakukannya pengadaaan tanah bagi kepentingan umum mengharuskan pihak yang menjalankan pengadaan tanah benar-benar memerhatikan ketentuan dalam
proses pengadaan tanah. Adapun ketentuan yang dimaksud ialah berupa tata cara pelaksanaan pengadaan tanah sampai dengan ketentuan dalam ganti rugi.
Langkah-langkah pelaksanaan pengadaan tanah bagi kepentingan umum telah diatur dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2021 jo.
Pasal 13 Undang-Undang No.2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum yang antara lain:
1) Perencanaan;
2) Persiapan;
3) Pelaksanaan; dan 4) Penyerahan Hasil
Tahapan Perencanaan merupakan tahapan di mana pihak pelaksana pengadaan tanah menyusun rencana terhadap kawasan yang akan dilakukan pengadaan tanah. Pemyusunan rencana pengadaan tanah tersebut didasarkan pada beberapa hal seperti yang diatur dalam Pasal 4 ayat (1) PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 7 ayat 1 UU No.2 Tahun 2012 yakni: “Setiap Instansi yang Memerlukan Tanah bagi pembangunan untuk Kepentingan Umum membuat rencana Pengadaan Tanah yang didasarkan pada”:
1) Rencana Tata Ruang; dan
2) Prioritas Pembangunan Yang Tercantum Dalam:
a) Rencana Pembangunan Jangka Menengah;
b) Rencana Strategis; dan/atau
c) Rencana Kerja Pemerintah/Instansi yang Memerlukan Tanah.
Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dalam hal ini sudah termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah sekaligus proyek strategis nasional yang memerlukan tanah speerti yang dijelaskan bahwa Bandara NYIA adalah bagian dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada periode tahun 2015- 2019 (Arifin 2018, 3) seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Proses Perencanaan pengadaan kemudian dilaksanakan oleh Instansi yang memerlukan tanah yang dibantu oleh Lembaga atau kementerian
yang berwenang terhadap urusan tanah, dan bisa juga instansi tersebut menunjuk Lembaga ahli untuk membantu menyusun dokumen perencanaan yang dalam Pasal 6 ayat (1) PP No.19 Tahun 2021 terdiri dari
1) Maksud dan Tujuan Rencana Pembangunan;
2) Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang;
3) Prioritas Pembangunan Nasional/Daerah;
4) Letak Tanah;
5) Luas Tanah yang Dibutuhkan;
6) Gambaran Umum Status Tanah;
7) Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengadaan Tanah;
8) Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pembangunan;
9) Perkiraan Nilai Tanah;
10) Rencana Penganggaran; dan 11) Preferensi Bentuk Ganti Kerugian
Dalam tahap ini pihak pelaksana Pembangunan Bandara NYIA, yaitu PT. Angkasa Pura I (Persero) menerbitkan sebuah dokumen perencanaan yang disampaikan tanggal 19 Desember 2013 kepada Gubernur Provinsi DIY mengenai SK Penetapan Lokasi dengan surat nomor AP.I.
7191/LB.05/2013/PD-B. Namun dokumen yang diterbitkan di awal tersebut ternyata ditemukan beberapa kekurangan pada data tanah sehingga pada tanggal 25 Agustus 2014 PT. Angkasa Pura I (Persero) kembali mengirim dokumen perencanaan yang baru melalui surat Direktur Utama Nomor AP.1.4049/ LB.05.01/2014/PD-B (Dewi 2017, 114) untuk melengkapi dokumen prencanaan yang sebelumnya telah diberikan.
Setelah mendapatkan dokumen perencanaan, Gubernur kemudian akan melaksanakan tahapan persiapan Pengadaan Tanah. Di tahap ini langkah awal adalah Gubernur membentuk Tim Persiapan Pengadaan Tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 yang menjelasakan “Tim Persiapan Pengadaan Tanah yang selanjutnya disebut Tim Persiapan adalah tim yang dibentuk oleh gubernur/bupati/wali kota untuk membantu gubernur/bupati/wali kota dalam melaksanakan pemberitahuan
rencana pembangunan, pendataan awal lokasi rencana pembangunan dan Konsultasi Publik rencana pembangunan”
Yang keanggotaannya diatur dalam Pasal 10 ayat (1) PP No.19 Tahun 2021 yakni beranggotakan Bupati/Wali Kota, Perangkat Daerah Provinsi Terkait, Instansi yang Memerlukan Tanah, Instansi Pemerintah yang Menyelenggarakan Urusan di Bidang Pertanahan dan Apabila Dianggap Perlu dapat Melibatkan Instansi Terkait Lainnya. tim persiapan pengadaan tanah nantinya memiliki tugas antara lain:
1) Melaksanakan Pemberitahuan Rencana Pembangunan;
2) Melaksanakan Pendataan Awal Lokasi Rencana Pembangunan;
3) Melaksanakan Konsultasi Publik Rencana Pembangunan;
4) Menyiapkan Penetapan Lokasi Pembangunan;
5) Mengumumkan Penetapan Lokasi Pembangunan untuk Kepentingan Umum; dan
6) Melaksanakan Tugas Lain yang terkait persiapan Pengadaan Tanah bagi pembangunan untuk Kepentingan Umum yang ditugaskan oleh gubernur
Sesuai ketentuan yang tercantum dalam Pasal 11 PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 16 UU No.2 Tahun 2012 jo. Pasal 16 UU No.2 Tahun 2012 Pemberitahuan Rencana Pembangunan adalah salah satu tugas yang harus dilakukan oleh pihak Tim Persiapan yang bertujuan untuk memberi tahu kepada warga dan pihak yang terlibat pembangunan tersebut tentang bagaimana rencana kedepan terhadap pembangunan yang akan berlangsung.
Penyampaian rencana ini menurut ketentuan Pasal 13 ayat (1) PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 17 UU No.2 Tahun 2012 dapat dilakukan dengan cara langsung maupun tidak langsung. Untuk penyampaian secara langsung dapat dilakukan secara Sosialisasi, Tatap Muka atau Surat Pemberitahuan, sedangkan media massa dapat digunakan untuk menyampaikan rencana pembangunan secara tidak langsung. Terkait dengan rencana pembangunan yang disampaikan didalamnya berisi mengenai:
1) Maksud dan Tujuan Rencana Pembangunan;
2) Letak Tanah dan Luas Tanah yang Dibutuhkan;
3) Tahapan Rencana Pengadaan Tanah;
4) Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengadaan Tanah;
5) Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pembangunan; dan 6) Informasi Lainnya yang Dianggap Perlu.
Dalam rencana Pembangunan Bandara NYIA yang disampaikan diktahui sebagai berikut:
1) Maksud dan tujuan pembangunan Bandara NYIA salah satunya adalah Mendukung terwujudnya visi dari Dinas Pariwisata DIY sebagai daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara tahun 2025 serta sebagai moda tranporatsi udara yang akan menggantikan Bandara Aditsutjipto untuk melaksanakan penerbangan internasional (Kominfo 2019, 1)
2) Letak tanah yang digunakan dalam pembangunan Bandara NYIA berada di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo dengan luas total tanah yang dibutuhkan adalah 587,3 Hektar (Kominfo 2019, 1)
3) Dalam Tahapan perencanan PT. Angkasa Pura I (Persero) menerbitkan sebuah dokumen perencanaan yang disampaikan tanggal 19 Desember 2013
4) Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pembangunan Bandara NYIA kurang lebih 3 tahun terhitung sejak 27 Januari 2017 sampai dengan mulai beroperasi pada bulan maret 2019
5) Informasi lain berupa akses transportasi, peta lokasi dan konsep pembangunan , dan informasi tambahan lainnya
Tugas selanjutnya dan salah satu yang paling penting bagi tim persiapan pengadaan tanah adalah Pendataan Awal Lokasi Pembangunan, proses ini berlangsung 30 hari sejak penerimaan dokumen perencanaan yang bertujuan untuk melakukan kegiatan pengumpulan data awal Pihak yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah terhadap Pembangunan Bandara NYIA.
Yang dimaksud Pihak yang berhak adalah pihak-pihak yang telah diatur dalam Pasal 18 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 18 UU No.2 Tahun 2012 yang terdiri dari:
1) Pemegang Hak Atas Tanah;
2) Pemegang Hak Pengelolaan;
3) Nazhir untuk Tanah Wakaf;
4) Pemegang Alat Bukti Tertulis Hak Lama;
5) Masyarakat Hukum Adat;
6) Pihak yang Menguasai Tanah Negara dengan Iktikad Baik;
7) Pemegang Dasar Penguasaan Atas Tanah; dan/atau
8) Pemilik Bangunan, Tanaman, atau Benda Lain yang Berkaitan dengan Tanah.
Dalam memperoleh data Pihak yang Berhak tersebut Tim Persiapan bisa berkoordinasi dengan pejabat daerah setempat seperti lurah atau kepala desa. Kemudian Hasil pendataan awal lokasi rencana pembangunan nantinya akan dibuat bentuk daftar sementara yang harus ditandatangani oleh ketua Tim Persiapan. Daftar tersebut hanya berisi data perkiraan dan hanya digunakan sebagai bahan untuk pelaksanaan Konsultasi Publik rencana pembangunan. Data hasil pendataan kemudian digunakan sebagai dasar dalam melakukan konsultasi publik, Konsultasi publik nantinya bertujuan mendapatkan izin untuk mulai melakukan pembangunan Bandara NYIA.
Ketentuan Pasal 29 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 123 Undang- Undang No.11 Tahun 2020 tentang Perubahan ketentuan dalam Undang- Undang Nomor 2 Tahun 20l2 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, menyebutkan bahwa pelaksanaan konsultasi publik harus melibatkan Pihak yang Berhak, Pengelola Barang, pengguna Barang dan masyarakat yang terkena dampak yang tempat pelaksanaa Konsultasinya sesuai dengan kesepakatan para pihak tersebut.
Terkait hal tersebut tim Persiapan yang ditunjuk Gubernur Daerah Istimewa terhadap pengadaan tanah bagi pembangunan bandara kemudian melakukan Proses Konsultasi publik yang mana telah melakukan Konsultasi Publik selama tiga tahap yang mana diperbolehkan menurut Pasal 29 ayat (5) PP No.19 Tahun 2021. Yang terbagi menjadi Konsultasi Publik I yang dilaksanakan tanggal 25 November s/d 30 Desember 2014, kemudian Konsultasi Publik II tanggal 20 Januari s/d 5 Maret 2015 dan terakhir
Konsultasi Publik Ulang dikarenakan masih adanya pihak yang belum sepakat yang dilaksanakan pada tanggal 26 Februari dan 3 s/d 4 Maret 2015 (Putri 2019, 66) selain itu Tim Persiapan juga melakukan pelaksanaan Konsultasi Publik terhadap masyarakat di luar lokasi rencana pembangunan bandara udara. Setelah selesai Konsultasi Publik maka Gubernur akan melakukan persiapan terhadap penetapan lokasi dengan membentuk Tim Kajian yang tugasnya menurut Pasal 34 ayat (4) yakni:
1) Menginventarisasi Masalah yang Menjadi Alasan Keberatan;
2) Melakukan Pertemuan atau Klarifikasi Dengan Pihak yang Keberatan;
3) Membuat Rekomendasi Diterima atau Ditolaknya Keberatan
Tim kajian yang menampung keberatan dari pihak masyarakat atas penetepan lokasi tersebut kemudian melakukan penilaian terhadap keberatan tersebut, apakah keberatan tersebut diterima atau tidak sebagai dasar penetapan lokasi. Pada saat itu Tim Kajian yang dibentuk Gubernur DIY melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 35/Tim/2015 tentang Pembentukan Tim Kajian Keberatan atas Lokasi Pembangunan untuk Pengembangan Bandara Baru di DIY ini menemukan adanya pengajuan keberatan yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, yang kemudian dikeluarkan sebuah Surat Penolakan atas Keberatan Terhadap Rencana Lokasi Pembangunan untuk Pengembangan Bandara Baru di DIY Nomor 583/3050 tanggal 30 Maret 2015 oleh Tim Kajian Keberatan tersebut. (Putri 2019, 67)
Kemunculan surat penolakan keberatan tersebut akhirnya menjadi dasar bagi Gubernur DIY untuk segera mengeluarkan izin penetapan lokasi seperti yang disebutkan Pasai 37 ayat (1) PP No.19 Tahun 2021 bahwa berdasarkan rekomendasi Tim Kajian sebagaimana dimaksud, gubernur mengeluarkan surat diterima atau ditolaknya keberatan atas lokasi rencana pembangunan., perlu diingat bahwa alasan kenapa ijin lokasi diterbitkan oleh Gubernur adalah karena Pasal 32 ayat (8) PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 123 Undang-Undang No.11 Tahun 2020 tentang Perubahan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 20l2 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum menjelaskan bahwa tanah yang
luasnya tidak lebih luas dari 5 hektar maka bupati/walikota lah yang baru boleh mengeluarkan izin penetapan lokasi. Kembali ke penetapan lokasi bahwa pada akhirnya Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono akhirnya mengeluarkan izin penetapan lokasi dengan dikeluarkannya Keputusan Gubernur DIY Nomor 68/KEP/2015 tentang Penetapan Lokasi Pembangunan Untuk Pengembangan Bandara Baru di DIY tanggal 31 Maret 2015 (SK Penetapan Lokasi) (Putri 2019, 67) sehingga pelaksanaan pengadaan tanah sudah dapat dimulai dengan keluarnya surat izin tersebut.
Setelah Adanya tahapan perencanaan yang sebelumnya telah dilakukan oleh pihak pengadaan tanah, serta adanya persiapan ini yang akhirnya berhasil menetapkan izin lokasi, kemudian menjadi jalan bagi pelaksana pengadaan tanah untuk mulai melanjutkan pembangunan ke tahapan pelaksanaan dalam proses pembangunan Bandara NYIA di mana dalam tahapan pelaksanaan ini menurut ketentuan dalam Pasal 53 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 Kepala Kantor Wilayah dari Badan Pertanahan Nasional adalah pihak yang menjadi pelaksana pengadaan tanah. Dalam Pengadaan Tanah Bandara NYIA kepala pelaksana pengadaan tanah dipimpin oleh Arie Yuriwin S.H., M.Si. saat itu yang menjabat sebagai kepala Kanwil ATR/BPN Provinsi DIY yang dipilih setelah pihak PT. Angkasa Pura I (Persero) memberikan surat pengajuan kepada kepala kantor wilayah sesuai ketentuan Pasal 56 ayat 1 PP No.19 Tahun 2021.
Dalam pemberian Surat Pengajuan Tahap Pelaksanaan Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Bandara Udara Baru Yogyakarta dari pihak PT.
Angkasa Pura I (Persero) menurut Pasal 56 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 tidak hanya berisikan permohonan pelaksanaan saja namun diharuskan dilengkapi dengan:
1) Keputusan Penetapan Lokasi;
2) Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah;
3) Data Awal Pihak yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah;
4) Data Awal Masyarakat yang Terkena Dampak;
5) Berita Acara Kesepakatan sebagaimana Dimaksud dalam Pasal 32 Ayat (6) yaitu Hasil Kesepakatan Atas Rencana Lokasi Pembangunan dalam Konsultasi Publik Dituangkan dalam Berita Acara Kesepakatan Lokasi Pembangunan.; dan
6) Surat Pernyataan Pemasangan Tanda Batas Bidang Tanah.
Yang akhirnya PT Angkasa Pura I kemudian menerbitkan Surat Pengajuan AP.I.5442/HK.08/2015/ PDB tanggal 28 Oktober 2015 perihal permohonan pelaksanaan pengadaan tanah kepada Kanwil ATR/BPN Provinsi DIY. Yang kemudian dari pihak Kanwil ATR/BPN Provinsi DIY yang diketuai oleh Kepala Kanwil ATR/BPN membentuk Panitia Pengadaan Tanah (P2T) yang keanggotaanya diatur dalam Pasal 53 ayat (4) PP No. 19 Tahun 2021 yang terdiri atas:
1) Pejabat yang Membidangi Urusan Pengadaan Tanah di Lingkungan Kantor Wilayah;
2) Kepala Kantor Pertanahan Setempat pada Lokasi Pengadaan Tanah;
3) Pejabat Perangkat Daerah Provinsi yang Membidangi Urusan Pertanahan;
4) Camat Setempat pada Lokasi Pengadaan Tanah; dan
5) Lurah/Kepala Desa Atau Nama Lain pada Lokasi Pengadaan Tanah Panitia pelaksana pengadaan tanah Bersama dengan kepala pelaksana dalam pelaksanaannya kemudian melakukan agenda kegiatan yang telah diatur dalam Pasal 57 PP No.19 Tahun 2021 antara lain:
1) Membuat Agenda Rapat Pelaksanaan;
2) Membuat Rencana Kerja dan Jadwal Kegiatan termasuk di dalamnya yaitu Rencana Pendanaan Pelaksanaan; Rencana Waktu Dan Penjadwalan Pelaksanaan, Rencana Kebutuhan Tenaga Pelaksana, Rencana Kebutuhan Bahan Dan Peralatan Pelaksana, Inventarisasi dan Alternatif Solusi Faktor-Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan; dan Sistem Monitoring Pelaksanaan
3) Menyiapkan Pembentukan Satuan Tugas yang Diperlukan an Pembagian Tugas;
4) Memperkirakan Kendala-Kendala Teknis yang Mungkin Terjadi dalam Pelaksanaan;
5) Merumuskan Strategi Dan Solusi Terhadap Hambatan dan Kendala dalam Pelaksanaan;
6) Menyiapkan Langkah Koordinasi Pelaksanaan;
7) Menyiapkan Administrasi ang Diperlukan;
8) Mengajukan Kebutuhan Biaya Operasional dan Biaya Pendukung Pengadaan Tanah;
9) Menetapkan Penilai; dan
10) Membuat Dokumen Hasil Rapat.
Agenda tersebut akan terus berjalan seiring pelaksanaan pengadaan tanah bagi kepentingan umum dalam pembangunan Bandara NYIA hingga pelaksanaan tersebut dapat diselesaikan setelah melalui beberapa proses antara lain Investarisasi, Penilaian Tanah hingga Pemberian ganti rugi yang menuju pada pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah dari pihak pemilik tanah yang kemudian dilanjutkan dengan proses penyerahan hasil.
Penyerahan hasil merupakan tahapan terakhir dalam pelaksanaan pengadaan tanah bagi kepentingan umum yang diperoleh setelah melalui tahapan-tahapan pelaksanaan yang terutama telah menyelesaikan tahapan ganti rugi sebagai syarat utama dalam pelaksanaan pengadaan tanah, dalam hal ini permasalahan pembayaran ganti rugi dalam pengadaan tanah dalam proses pembangunan Bandara NYIA telah sebagian besar diselesaikan pada bulan April 2018 (Putri 2019, 72) yang kemudian maka hal yang selanjutnya adalah bahwa pihak pelaksana pengadaan tanah dan instansi tinggal menerima sebuah Berita Acara Penyerahan yang ketentuannya tertulis pada ketentuan Pasal 115 PP No.19 Tahun 2021 yang berisi
1) Ketua pelaksana Pengadaan Tanah menyerahkan hasil Pengadaan Tanah kepada Instansi yang Memerlukan Tanah disertai data Pengadaan Tanah, dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) Hari sejak Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah.
2) Penyerahan hasil Pengadaan Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa bidang tanah dan dokumen Pengadaan Tanah dengan penandatanganan berita acara penyerahan hasil Pengadaan Tanah.
3) Penyerahan hasil Pengadaan Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan secara bertahap dengan berita acara untuk selanjutnya dipergunakan oleh Instansi yang Memerlukan Tanah untuk pensertipikatan.
4) Tugas dan tanggung jawab pelaksana Pengadaan Tanah berakhir dengan telah ditandatanganinya berita acara penyerahan hasil Pengadaan Tanah secara keseluruhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
5) Pensertipikatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilakukan oleh Instansi yang Memerlukan Tanah dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) Hari sejak penyerahan hasil Pengadaan Tanah.
Dengan terbitnya Berita Acara Penyerahan maka pengadaan tanah bagi kepentingan umum bisa dikatakan telah selesai termasuk dengan ini bahwa tugas dari Panitia Pelaksana Pengadaan Tanah telah selesai. Selesainya proses pengadaan tanah ini akhirnya membuat tanah tersebut sudah dapat digunakan secara penuh oleh pihak yang membutuhkan tanah tersebut dalam hal ini ialah PT. Angkasa Pura I (Persero) sehingga pelaksanaan Pengadaan Tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum terhadap Bandara New Yogyakarta International Airport kemudian terwujud dan dapat beroperasi sebagai salah satu moda transportasi baru di DIY dengan ditandai mulai beroperasinya bandara secara penuh pada 29 Maret 2020. (Pura 2020, 1) b. Prinsip Keadilan dalam Pelaksanaan Pengadaan tanah Bandara New
Yogyakarta International Airport
Pengadaan tanah merupakan kegiatan yang melibatkan antara kepentingan negara dengan kepentingan masyarakat pribadi, dalam pelaksanaaanya, pengadaan tanah tentunya memiliki sebuah tujuan yang mana diatur dalam Pasal 3 UU No.2 Tahun 2012 yaitu “Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum bertujuan menyediakan tanah bagi pelaksanaan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa,
negara, dan masyarakat dengan tetap menjamin kepentingan hukum Pihak yang Berhak”. Artinya tujuan sebenarnya dari pengadaan tanah tidak lain adalah demi mengutamakan kepentingan umum untuk kemanfaatan masyarakat luas itu sendiri.
Selain bertujuan mengutamakan kepentingan umum adanya oengadaan tanah tidak boleh menyimpang dari beberapa prinsip/asas yang berlaku dalam proses pengadaan tanah tersebut. melihat dalam pengaturan di Pasal 2 Undang-Undang No.2 Tahun 2012 bahwa ada beberapa asas/prinsip yang berlaku dalam proses pengadaan suatu tanah antara lain:
1) Asas Kemanusiaan: Pengadaan Tanah haruslah dapat memberikan pelindungan serta penghormatan terhadap hak asasi manusia, harkat, dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional 2) Asas Keadilan: Asas ini mewajibkan adanya jaminan penggantian yang
layak kepada Pihak yang Berhak dalam proses Pengadaan Tanah sehingga mendapatkan kesempatan untuk dapat melangsungkan kehidupan yang lebih baik.
3) Asas Kemanfaatan: Diharapkan bahwa suatu Pengadaan Tanah mampu memberikan manfaat secara luas bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.
4) Asas Kepastian: Asas ini memberikan kepastian hukum tersedianya tanah dalam proses Pengadaan Tanah untuk pembangunan dan memberikan jaminan kepada Pihak yang Berhak untuk mendapatkan Ganti Kerugian yang layak.
5) Asas Keterbukaan: Suatu Pengadaan Tanah untuk pembangunan harus dilaksanakan dengan memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan Pengadaan Tanah.
6) Asas Kesepakatan: Suatu proses Pengadaan Tanah harus dilakukan dengan musyawarah para pihak tanpa unsur paksaan untuk mendapatkan kesepakatan bersama.
7) Asas Keikutsertaan: Bahwa harus ada bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan Pengadaan Tanah melalui partisipasi masyarakat, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dari proses perencanaan hingga sampai pada kegiatan pembangunan.
8) Asas Kesejahteraan: Pengadaan Tanah untuk pembangunan haruslah dapat memberikan suatu nilai tambah terhadap kelangsungan hidup dari Pihak yang Berhak dan masyarakat secara luas.
9) Asas Keberlanjutan: Suatu kegiatan pembangunan diharapkan dapat berlangsung secara terus-menerus, berkesinambungan, untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
10) Asas Keselarasan: Adanya suatu Pengadaan Tanah untuk pembangunan diharuskan dapat seimbang dan sejalan dengan kepentingan masyarakat dan negara bukan kepentingan tertentu saja.
Dalam mewujudkan suatu keadilan tidak hanya memperhatikan salah satu dari masing-masing asas saja namun perwujudan keadilan terhadap pengadaan tanah akan dapat terlaksana apabila semua asas tersebut dapat saling terikat dan diamalkan menjadi satu kesatuan. Kemudian suatu keadilan akan terwujud berhubungan dengan aspek terhadap proses ganti rugi yang dilakukan karena seperti yang telah dijelaskan bahwa asas keadilan adalah asas yang timbul apabila suatu pengadaan tanah akan memberikan suatu kemanfaatan apabila pihak pemilik tanah mendapatkan ganti rugi yang layak sehingga dapat mendapatkan penghidupan yang lebih baik setelah melepaskan haknya atas tanah tersebut.
Pelaksanaan prinsip keadilan dapat diwujudkan salah satunya adalah pada pelaksanaan proses musyawarah karena suatu musyawarah perlu didasarkan kepada prinsip-prinsip pengadaan tanah yang mencerminkan nilai keadilan, berupa prinsip penghormatan terhadap hak-hak atas tanah yang dimiliki oleh rakyat yang merupakan bagian dari hak asasi warga Negara.
Karena pada dasanya sebuah Musyawarah adalah kegiatan untuk saling mendengar, memberi dan menerima pendapat, serta keinginan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan masalah lain yang berkaitan dengan pengadaan tanah atas dasar kesukarelaan dan kesetaraan.
Namun disisi lain terkait terhadap pelaksanaan pengadaan tanah dalam pembangunan Bandara NYIA masalah keadilan tidak hanya terfokus pada saat pelaksanaan ganti ruginya. Dari apa yang terlihat secara garis besarnya, konflik dalam proses pengadaan tanah dan pembangunan Bandara NYIA di Kulon Progo menciptakan pihak-pihak yang merasa belum mendapatkan suatu keadilan tersebut, adanya pihak yang pro terhadap pembangunan dan yang kontra terhadap pembangunan. Adanya pihak yang merasa mendukung kegiatan pembangunan didasarkan bahwa pihak tersebut mengetahui secara lengkap dampak positif pambungan bandara. Seperti merasa bahwa nilai ganti rugi tanah diatas standar nasional. Kemudian dampak pembangunan akan mengembangkan potensi pertumbuhan ekonomi. Faktor pariwisata juga salaha satunya yang mana destinasi pariwisata yang berlokasi di Kabupaten Kulon Progo akan berkembang seiring juga dengan meningkatnya kegiatan wirausaha warga. Dan juga adanya pemikiran bahwa pembangunan dan pengadaan tanah nantinya akan membuat tersedianya lapangan kerja bagi para warga.
Namun bagi warga yang merasa kontra anatara lain adalah organisasi WTT (Wahana Tri Tunggal) berfungsi dan juga adanya perkumpulan dari para penolak pembangunan ini yang berbentuk non- struktural, yaitu Paguyuban Warga Penolak Pembangunan Kulon Progo (PWPPKP). Mereka melihat pembangunan ini sebagai upaya untuk merampas ruang hidup warga. Seperti akan menghilangkan mata pencarian utama warga kontra yang mayoritas adalah petani dan nelayan. Kemudian menganggap bahwa pembangunan bandara tidak berwawasan ekologi dan dianggap sarat kerusakan lingkungan. Dan juga pihak yang kontra menjelaskan serta meyakin bahwa pembangunan bandara justru tidak akan berpihak dan berdampak positif pada masyarakat lokal karena justru pasar ekonomi akan didominasi oleh investor asing. Dan yang menjadi alas an lain ialah pihak yang menolak karena suatu keyakinan bahwa kesejahteraan tidak bisa diukur oleh model-model makro ekonomi.
Pada akhirnya meski dalam prosesnya ada banyak penolakan terhadap pembangunan bandara yang dirasa tidak mencerminkan nilai keadilan dan nilai kemanfaatan seperti adanya pemaksaan oleh aparat dalam pengadaan tanah contohnya adalah uoaya aparat yang memutus aliran listrik terhadap pemilik tanah yang menolak (Suryani 2018, 1). Namun Pemerintah serta Angkasa Pura I telah melakukan berbagai upaya yang mengarah kepada penyelesaian yang memenuhi nilai keadilan dan kemanfaatan, dengan bentuk pemberian ganti rugi dengan nilai diatas harga pasar yang diharapkan memenuhi asas keadilan bahwa adanya suatu proses pengadaan tanah dapat memberikan penghidupan dan kemanfaatan yang lebih baik yang ditambah juga dengan adanya pemberian rumah relokasi gratis untuk beberapa warga sehingga warga yang terdampak dapat menggunakannya.
2. Apakah Pelaksanaan Ganti Rugi dalam Pengadaan Tanah telah Mengarah pada Nilai-Nilai Keadilan
Ganti rugi merupakan salah satu proses dalam tahapan pelaksanaan pengadaan tanah bagi kepentingan umum yang menjadi dasar utama sebuah pengadaan tanah dapat dilakukan sehingga sebuah hak atas objek tanah dapat diambil alih kepemilikannya karena masalah ganti kerugian merupakan hal yang krusial bahkan paling utama dalam proses pengadaan tanah seperti yang dijelaskan dalam pengertian tentang Pengadaan tanah di Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2021 jo. Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2012 yang menyatakan bahwa Pengadaaan Tanah adalah kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada yang berhak. Selain itu Ganti Rugi juga berhubungan dengan adanya kepentingan umum karena gantii rugi juga menitik beratkan pada hal adil atau tidaknya suatu pemberian ganti rugi seperti disebutkan Pasal 18 UUPA Tahun 1960 yaitu “Untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan Undang-undang”. Sehingga suatu kepentingan umum dapat terlaksana apabila proses ganti rugi juga berjalan adil dan layak.
Suatu pengadaan tanah dapat berjalan semestinya tergantung pada permasalahan dalam proses ganti kerugian ini yang tentunya juga akan berpengaruh terhadap pengadaan tanah yang digunakan sebagai pelaksanaan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport itu sendiri. Yang disini akan menjadi sebuah urusan yang harus dilakukan oleh PT. Angkasa Pura I (Persero) sebagai pihak yang menginginkan tanah tersebut dengan Warga di Kecamatan Temon sebagai para pemilik hak atas tanah beserta objek di tanah yang berhak menerima ganti kerugian.
Penentuan sebuah ganti rugi sebenarnya sudah menjadi pembahasan sejak pengadaan tanah masih dalam tahap perencanaan, karena Pasal 6 ayat (1) PP No.19 tahun 2021 menjelaskan bahwa sudah harus disusun sebuah bentuk preferensi bentuk kerugian yang akan diberikan dalam proses pengadaan tanah dalam penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah bagi kepentingan umum.
Kemudian di bagian tahap persiapan pembahasan mengenai ganti rugi juga dibahas salah satunya ketika tim persiapan melakukan proses pelaksanaan konsultasi publik terhadap rencana pembangunan yang telah dibuat sebelumnya, karena konsultasi publik merupakan proses komunikasi dialogis atau musyawarah antar pihak yang berkepentingan guna mencapai kesepahaman dan kesepakatan dalam Pengadaan Tanah bagi pembangunan untuk Kepentingan Umum dalam hal ini termasuk juga sebagai sarana komunikasi mengenai ganti rugi.
Pengaturan mengenai penilaian sampai dengan bentuk ganti kerugian bahkan sudah dibahas di dalam Konsultasi Publik ini sesuai Pasal 31 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 yang menjelaskan apa yang dibahas antar lain:
a. Tahapan dan Waktu Proses Penyelenggaraan Pengadaan Tanah;
b. Peran Penilai dalam Menentukan Nilai Ganti Kerugian;
c. Insentif yang akan Diberikan Kepada Pihak yang Berhak;
d. Objek yang Dinilai Ganti Kerugian;
e. Bentuk Ganti Kerugian; dan
f. Hak dan Kewajiban Pihak yang Berhak, Pengelola Barang dan/atau Pengguna Barang dan Masyarakat yang Terkena Dampak.
Masuk ke Proses pelaksanaan yang merupakan saat di mana waktu pelaksanan dari ganti rugi itu sendiri berjalan, dalam pelaksanaan ganti rugi sebelumnya harus memenuhi beberapa tahap sebelum dapat diputuskan nilai dari ganti kerugiannya, yaitu dengan adanya proses inventarisasi dan identifikasi, serta dengan melakukan penilaian objek ganti rugi.
Inventarisasi dan identifikasi bertujuan untuk mengkaji dan menampung beberapa permasalahan dalam proses pengadaan tanah tersebut yang dalam Pasal 34 ayat (4) huruf a berupa:
a. Klasifikasi Jenis dan Alasan Keberatan;
b. Klasifikasi Pihak yang Keberatan; dan/atau c. Klasifikasi Usulan Pihak yang Keberatan.
Hasil inventarisasi tersebut kemudian akan disusun dalam bentuk dokumen keberatan yang nanti akan dipertimbangkan sebagai salah satu tolak ukur pemberian ganti rugi.
Dalam pelaksanaan inventarisasi terhadap tanah yang digunakan pembangunan Bandara NYIA, langkah yang dilakukan ialah melakukan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) sebagai pelaksana inventarisasi, yang dibentuk oleh Kepala Kanwil ATR/BPN Provinsi DIY melalui surat Nomor 12/KPTS- PPT/XI/2015 yang dikeluarkan tanggal 20 November 2015 yang tujuannya agar Satuan petugas melaksanakan ketentuan dalam Pasal 59 PP No.19 Tahun 2021 tentang tugas dari satuan petugas yang meliputi:
a. Penyusunan Rencana Jadwal Kegiatan;
b. Penyiapan Bahan;
c. Penyiapan Peralatan Teknis;
d. Koordinasi Dengan Perangkat Kecamatan Dan Lurah/Kepala Desa Atau Nama Lain;
e. Penyiapan Peta Kerja;
f. Pemberitahuan Kepada Pihak yang Berhak Melalui Lurah/Kepala Desa Atau Nama Lain; Dan
g. Pemberitahuan Rencana Dan Jadwal Pelaksanaan Pengumpulan Data Pihak yang Berhak, Pengelola Barang Dan/Atau Pengguna Barang, Dan/Atau Masyarakat Yang Terkena Dampak Atas Objek Pengadaan Tanah.
Di Pasal 58 ayat (2) PP No.19 Tahun 2021 Satuan tugas tersebut dibagi menjadi Satuan Tugas A yang membidangi pengumpulan data fisik Objek Pengadaan Tanah yang menurut Pasal 60 PP No.19 Tahun 2021 bertugas untuk melakukan pengukuran dan pemetaan batas keliling lokasi; dan pengukuran dan pemetaan bidang per bidang. Serta Satuan Tugas B yang membidangi pengumpulan data yuridis Objek Pengadaan Tanah antara lain:
a. Nama, Pekerjaan, Dan Alamat Pihak yang Berhak;
b. Nomor Induk Kependudukan Atau Identitas Diri Lainnya Pihak yang Berhak;
c. Bukti Penguasaan Dan/Atau Pemilikan Tanah, Bangunan, Tanaman, Dan/Atau Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah;
d. Letak Tanah, Luas Tanah Dan Nomor Identifikasi Bidang;
e. Status Tanah Dan Dokumennya;
f. Jenis Penggunaan Dan Pemanfaatan Tanah;
g. Pemilikan Dan/Atau Penguasaan Tanah, Bangunan, Dan/Atau Benda Lain Yang Berkaitan Dengan Tanah;
h. Pembebanan Hak Atas Tanah; Dan i. Ruang Atas Dan Ruang Bawah Tanah.
Kedua Satgas tersebut diharuskan melakukan pengumpulan data sehingga akan menghasilkan sebuah Peta Bidang Tanah dan Daftar Nominatif sebagai penentu nilai ganti kerugian atas pelaksanaan pengadaan tanah
Dalam proses Inventarisasi terhadap pengadan tanah di kawasan Bandara NYIA pihak pada awalnya Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah beserta Satgas terlebih dahulu melakukan pemberitahuan pada 23 November 2015 kepada masyarakat di beberapa desa yaitu Desa Sindutan, Desa Glagah, Desa Kebon Rejo, Desa Palihan dan Desa Jangkaran. Yang dilakukan sejak tanggal 24 November 2015 s/d 7 Januari 2016. (Putri 2019, 67) Walau tidak terlalu berjalan mulus dikarenakan masih adanya penolakan dari masyarakat yang tidak setuju dengan pembangunan bandara udara baru.
Namun pada akhirnya Tim Satgas A dan B berhasil mendapatkan data yang dibutuhkan dengan dibuatnya Peta Bidang Tanah yang disusun per-dusun dan Daftar Nominatif yang disusun per-desa yang kemudian hasil data dari Peta Bidang Tanah dan Daftar Nominatif diumumkan dari tanggal 8 Januari s/d 27 Januari 2017 dan akan digunakan sebagai dasar penilaian ganti rugi.
Penilaian ganti rugi sendiri merupakan sebuah dasar dan patokan bagi sebuah pelaksanan ganti rugi, ganti rugi dapat diberikan ketika sebuah tanah dan segala objek yang ada di dalam tanah yang akan dipergunakan tersebut telah dinilai oleh Penilai Publik.
Penilai publik disini menurut Pasal 1 ayat (14) PP No.19 Tahun 2021 adalah orang perseorangan yang melakukan penilaian secara independen dan profesional yang telah mendapat izin praktik penilaian dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara. Tugas penilai publik terdapat di Pasal 68 ayat (1) PP No.19 Tahun 2021 bertugas melakukan penilaian besarnya Ganti Kerugian bidang perbidang tanah, yang di dalamnya meliputi:
a. Tanah;
b. Ruang Atas Tanah dan Ruang Bawah Tanah;
c. Bangunan;
d. Tanaman;
e. Benda yang Berkaitan dengan Tanah; dan/atau f. Kerugian Lain yang Dapat Dinilai.
Yang mana penilai publik dapat melakukan penilaian setelah Penilai atau Penilai Publik menerima salinan dokumen perencanaan, daftar nominatif dan peta bidang tanah, dari ketua pelaksana Pengadaan Tanah yang dituangkan dalam berita acara.
Kepala Kanwil ATR/BPN Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian menunjuk penilai publik yaitu Penilai Pertanahan Kantor Jasa Penilai Publik Muttaqin Bambang Purwanto Rozak Uswatun & Rekan (KJPP MBPRU) berdasarkan Surat Keputusan Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah Nomor 06/KPTS- PPT/IV/2016 tangal 26 April 2016 tentang Penetapan Pemenang Penilai Pertanahan
Dalam Rangka Pelaksanaan Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo. Pihak KJPP MBPRU Yogyakarta sendiri menyatakan bahwa dalam proses pelaksanaan penilaian dillakukan oleh 108 personil. dalam jangka waktu 30 hari kerja dengan jumlah bidang tanah yang dinilai mencapai 4.396 bidang (sudah termasuk tanah sisa 1.599 m2 terbagi dalam 25 bidang) (Putri 2019, 68) yang mana penilaian yang dilakukan penilai publik harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam petunjuk teknis yang ada dalam SPI No.
306. Petunjuk Teknis yang ada dalam SPI No.306 merupakan tata cara teknis bagi penilai public untuk melakukan penilaian terhadap nilai ganti rugi. Pada Bab 2 SPI 306 menjabarkan beberapa hal antara lain adalah mulai dari Lingkup Penugasan dari penilai publik yang menjadi dasar bagi penilai publik untuk menentukan pengaturan kesepakatan penugasan penilaian, tingkat kedalaman investigasi, penentuan asumsi dan batasan penilaian Penugasan penilaian pada tahap awal dimulai dengan memahami Lingkup Penugasan sesuai dengan tujuan penilaian yang akan dilaksanakan. Persyaratan dari Lingkup Penugasan harus digunakan Penilai secara konsisten, dimana sistematika dan isinya dijelaskan dalam tabel berikut yang terdapat di Petunjuk Teknis SPI 306.
Hal Referensi
SPI 103 Penjelasan
Status Penilai 5.3.1.1 Sebuah pernyataan yang menyatakan apakah : a) Identitas Penilai sebagai individu atau
instansi/Kantor Jasa Penilai Publik;
b) Penilai dalam posisi untuk memberikan penilaian objektif dan tidak memihak;
c) Penilai tidak mempunyai atau mempunyai potensi benturan kepentingan dengan subyek dan atau objek penilaian;
d) Penilai memiliki kompetensi untuk melakukan penilaian. Jika Penilai memerlukan bantuan tenaga ahli atau Tenaga Penilai lainnya, maka sifat bantuan dan sejauh mana pekerjaan dilakukan akan disepakati dan diungkapkan dalam Lingkup Penugasan.
Pemberi Tugas dan Pengguna
5.3.1.2 Bila tidak dinyatakan lain oleh peraturan dan perundangan yang berlaku, maka Pemberi tugas dan Pengguna Laporan adalah Lembaga
Pertanahan (UU No. 2 tahun 2012).
Laporan
Pemberi tugas dan pengguna laporan dapat
berbeda sepanjang diperlukan dan dibenarkan oleh peraturan yang berlaku. Dalam hal penilaian dilakukan untuk tujuan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum bukan ditujukan kepada Lembaga Pertanahan, maka ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam KEPI dan SPI harus diberlakukan, dan nama Pemberi Tugas dan Pengguna Laporan harus diungkapkan secara jelas serta dilengkapi dengan alamat resmi.
Maksud dan Tujuan Penilaian
5.3.1.3 Maksud dan Tujuan Penilaian adalah untuk memberikan opini Nilai Penggantian Wajar yang akan digunakan untuk tujuan pengadaaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.
Penilai dapat melengkapi tujuan penilaian tersebut dengan menyebutkan spesifik pekerjaannya, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih jelas.
Objek penilaian 5.3.1.4 Penilai harus mendapatkan informasi secara jelas dari Pemberi Tugas mengenai objek penilaian yang akan dinilai.
Objek penilaian yang dicantumkan dalam Lingkup Penugasan harus berdasarkan kepada Daftar Nominatif hasil inventarisasi dan identifikasi yang dilakukan Lembaga Pertanahan atau institusi lainnya sepanjang relevan dan diakui secara benar.
Penilai akan melaksanakan penilaian sesuai dengan rincian objek penilaian tersebut. Penilai harus mengklarifikasi dan membatasi dirinya untuk tidak melakukan pekerjaan selain yang diatur oleh Lingkup Penugasan.
Bentuk kepemilikan
5.3.1.5 Bukti penguasaan dan/atau kepemilikan properti harus dinyatakan sesuai dengan informasi dari Lembaga Pertanahan sebagaimana yang diatur dalam peraturan dan perundangan yang berlaku.
Informasi tentang penguasaan dan/atau kepemilikan terdapat dalam Daftar Nominatif berdasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi yang dilakukan Lembaga Pertanahan.
Dasar Nilai 5.3.1.6 Berdasarkan SPI 102 - 3.10 dan SPI 306 – 5.2 dasar nilai yang digunakan adalah Nilai Penggantian Wajar. Dasar Nilai ini harus didefinisikan sesuai dengan SPI. Bila dianggap perlu, penjelasan tentang definisi dasar nilai yang digunakan dapat dilengkapi dengan penjelasan sepanjang merujuk kepada SPI 306.
Tanggal penilaian
5.3.1.7
Penetapan lokasi yang dilakukan oleh Gubernur atau pihak resmi lainnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Mata uang yang digunakan
5.3.1.8 Hasil penilaian harus dinyatakan dalam mata uang Rupiah.
Tingkat kedalam an investig asi
5.3,1.9 Penilai harus mengungkapkan bahwa investigasi yang dilakukan dibatasi hal-hal sebagai berikut :
Data dan informasi menyangkut fisik dan legal atas objek penilaian diperoleh dari hasil inventarisasi dan identifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Pertanahan selaku pihak yang memiliki wewenang dalam pengadaan tanah sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku;
Verififikasi yang dilakukan Penilai terhadap keseluruhan atau bagian dari objek penilaian, merupakan bagian dari keperluan dan kepentingan pelaksanaan penilaian;
Pelaksanaan penilaian dibatasi penyelesaiannya dalam masa 30 (tiga puluh) hari kerja sebagaimana diatur oleh peraturan dan perundangan yang berlaku;
Bila ditemukan adanya batasan tingkat
kedalaman investigasi, maka inspeksi akan dilakukan secara sampling.
Penilai harus mengungkapkan apabila penilaian dilaksanakan tanpa informasi yang biasanya tersedia
dalam pelaksanaan penilaian.
Sifat dan sumber
informasi yang dapat
diandalkan
5.3.1.10 Data dan informasi lain yang dianggap dapat dipercaya dalam mendukung pelaksanaan penilaian dalam juknis ini dapat bersumber dari :
Pemerintah Daerah sebagai instansi rujukan data dan informasi terkait dengan peraturan daerah
Lembaga Pertanahan sebagai instansi pemberi tugas dan pengguna laporan sebagai sumber rujukan data, informasi dan hal-hal terkait kepada pertanahan
Bank Indonesia sebagai rujukan kurs bila ada
Badan Pusat Statistik (BPS)
Bank Pemerintah sebagai sumber suku bunga masa tunggu
Konfirmasi bahwa penilaian dilakukan berdasarkan KEPI dan SPI
5.3.1.11 Pernyataan bahwa pekerjaan penilaian dilakukan berdasarkan Kode Etik Penilai Indonesia (KEPI) dan Standar Penilaian Indonesia (SPI) yang berlaku.
Laporan Penilaian
5.3.2 Laporan penilaian yang akan disampaikan adalah laporan terinci (lengkap) dalam bahasa Indonesia.
Jumlah dan kelengkapan dokumen laporan penilaian
disesuaikan dengan kesepakatan Pemberi Tugas dan seharusnya dicantumkan pada Lingkup Penugasan.
Persyaratan atas Persetujuan untuk Publikasi
5.3.3 Harus dinyatakan secara jelas kepada pemberi tugas pada saat penugasan diterima, bahwa persetujuan Penilai harus didapatkan atas setiap publikasi terhadap keseluruhan atau sebagian dari laporan, atau referensi yang dipublikasikan.
Lingkup Penugasan harus memuat persyaratan mengenai hal tersebut.
Batasan atau pengecualian atas tanggung jawab kepada pihak selain pemberi tugas
5.3.4 Penilai dapat mencantumkan klausul bahwa Penilai tidak memiliki tanggung jawab kepada pihak ketiga, selama tidak menyimpang dari peraturan dan hukum yang berlaku.
Persyaratan adanya pernyataan tertulis berupa surat
representasi
5.3.5 Penilai harus mensyaratkan adanya pernyataan tertulis berupa surat representasi dari pemberi tugas mengenai kebenaran dan sifat informasi yang diberikan oleh pemberi tugas (lampiran 7).
Asumsi dan asumsi khusus
5.3.6 Asumsi khusus harus dinyatakan secara jelas apabila terdapat ketidak pastian informasi berkaitan karakteristik fisik, legal atau ekonomi dari properti, atau mengenai kondisi eksternal properti seperti kondisi pasar atau tren atau integritas data yang digunakan dalam analisis.
Apabila penilaian dilakukan dengan informasi yang terbatas, laporan harus memuat seluruh penjelasan mengenai keterbatasan tersebut.
Seluruh penyimpangan dari standar dinyatakan dan dijelaskan (bila ada).
Biaya Jasa Penilaian
5.3.7 Biaya jasa Penilaian diperhitungkan dengan merujuk
kepada standar fee/biaya yang dibuat Asosiasi Profesi Penilai
Setelah melakukan penilaian dengan cara turun ke lapangan langsung berdasarkan ketentuan penugasan yang diatur dalam SPI 306, serta mengkaji Dokumen Perencanaan, Peta Bidang Tanah serta Daftar Nominatif maka pihak penilai publik berhasil memperkirakan Nilai Penggantian Wajar (NPW) yang mana Nilai Penggantian Wajar dalam SPI 306 adalah nilai untuk kepentingan pemilik yang didasarkan kepada kesetaraan dengan Nilai Pasar atas suatu Properti, dengan
memperhatikan unsur luar biasa berupa kerugian non fisik yang diakibatkan adanya pengambilalihan hak atas Properti dimaksud (SPI 102 – 3.10). selain itu Nilai Penggantian Wajar (NPW) diartikan sama dengan Nilai Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalam UU No. 2 tahun 2012. NPW yang dikeluarkan oleh penilai publik yang dihasilkan dari kombinasi kerugian fisik dan kerugian non fisik atas suatu objek penilaian yang didapat dengan melakukan beberapa pendekatan antara lain
a. Pendekatan Pasar yang mempertimbangkan penjualan dari properti sejenis atau pengganti dan data pasar yang terkait, serta menghasilkan estimasi nilai melalui proses perbandingan. Pada umumnya, properti yang dinilai (objek penilaian) dibandingkan dengan transaksi properti yang sebanding, baik yang telah terjadi maupun properti yang masih dalam tahap penawaran penjualan dari suatu proses jual beli.
b. Pendekatan Pendapatan, yang mempertimbangkan pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan properti yang dinilai dan mengestimasikan nilai melalui proses kapitalisasi. Kapitalisasi menghubungkan pendapatan (umumnya pendapatan bersih) dengan suatu definisi jenis nilai melalui konversi pendapatan menjadi estimasi nilai. Proses ini dapat menggunakan metode kapitalisasi langsung atau metode Arus Kas Terdiskonto (Discounted Cash Flow/DCF), atau keduanya.
c. Pendekatan Biaya yang digunakan untuk menetapkan nilai properti dengan mengestimasi biaya perolehan tanah dan biaya pengganti pengembangan baru (sesuatu yang dibangun) di atasnya dengan utilitas yang sebanding atau mengadaptasi properti lama dengan penggunaan yang sama, tanpa mempertimbangkan antara lain biaya akibat penundaan waktu pengembangan dan biaya lembur. Untuk properti yang lebih tua, pendekatan biaya memperhitungkan estimasi depresiasi termasuk penyusutan fisik dan keusangan lainnya (fungsional dan eksternal). Biaya konstruksi dan depresiasi seharusnya ditentukan oleh hasil analisis perkiraan biaya konstruksi dan depresiasi sesuai dengan kelaziman yang ada di pasar atau dalam praktek penilaian.
Suatu NPW dapat ditentukan barulah dapat ditentukan apabila telah melalui pendekatan-pendekatan tersebut dan juga disertai memperkirakan Nilai Pasar yang mana adalah sebuah perkiraan terhadap sejumlah uang yang dapat diperoleh dari hasil penukaran suatu aset atau liabilitas pada tanggal penilaian, antara pembeli dengan penjual, yang dilakukan tanpa paksaan. Maka mempertimbangkan hal-hal tersebut yang kemudian dikaji oleh tim penilai publik yang ditunjuk ketua Pelaksana ternyata ditemukan bahwa nilai ganti kerugian mencapai Rp. 4.135.063.107.988 (4,1 triliun). Di mana nominal tersebut bahkan tiga kali lipat dari dana yang dianggarkan PT. Angkasa Pura I (Persero) yaitu Rp.
1.378.916.202.703 (1,3 triliun) (Putri 2019, 69).
Walaupun Nilai Penggantian Wajar tersebut sudah dihitung, ternyata pihak penilai kemudian harus melakukan penilaian ulang karena menemukan data dari Peta Bidang Tanah dan Daftar Nominantif yang dikeluarkan Satgas A dan Satgas B sudah tidak sesuai dengan fakta di lapangan yang ditemui tim penilai publik yang mana hal tersebut berhubungan dengan kondisi masayarakat di wilayah tersebut yang pada saat itu masih menolak tanahnya untuk di inventarisasi pada saat itu. Adanya hal tersebut membuat Tim Penilai kemudian perlu melakukan sebuah Penilaian ulang yang didasarkan dengan adanya pelaksanaan Inventarisasi kembali setelah dikeluarkannya Putusan diskresi dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pengadaan Tanah pada tanggal 20 April 2017 yang intinya adalah menyetujui permohonan pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi ulang terhadap obyek pengadaan tanah Bandara NYIA oleh pihak yang sebelumnya menolak. Namun dalam pelaksanaan Penilaian ulang tersebut biaya pelaksanaannya dibebankan kepada PT. Angkasa Pura I (Persero) sebagai instansi yang memerlukan tanah.
Setelah dilakukan sebuah penilaian terhadap nilai ganti kerugian yang dikeluarkan oleh Penilai Publik maka kemudian menurut Pasal 71 PP No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 37 UU Nomor 2 Tahun 20l2 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, bahwa diharuskan bagi Pelaksana Pengadaan Tanah untuk melaksanakan musyawarah terhadap bentuk ganti rugi yang akan digunakan di mana musyawarah tersebut didampingi Penilai atau Penilai
Publik dan Instansi yang Memerlukan Tanah dengan Pihak yang Berhak dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) Hari sejak hasil penilaian dari Penilai diterima oleh ketua pelaksana Pengadaan Tanah. Pasal 71 PP No.19 Tahun 2021 ayat 2 menjelaskan bahwa Proses Musyawarah dilakukan secara langsung untuk menetapkan bentuk Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian ganti kerugian yang disampaikan Pelaksana Pengadaan Tanah berdasarkan besarnya Ganti Kerugian yang ditentukan oleh Penilai publik.
Dalam proses Pelaksanaan musyawarah sebagaimana dimaksud pada Pasal 71 ayat 4 PP No.19 Tahun 2021 dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan pertimbangan jumlah Pihak yang Berhak, waktu dan tempat pelaksanaan musyawarah penetapan bentuk Ganti Kerugian. Untuk proses pelaksanaan musyawarah penetapan ganti rugi pengadaan tanah bagi pembangaun Bandara NYIA sendiri dilaksanakan dalam dua tahap. Yakni Tahap I dilaksanakan tanggal 20 Juni s/d 30 Juni 2016 dan tahap II dilaksanakan tanggal 18 s/d 27 Juli 2016.
(Putri 2019, 71) Dalam musyawarah tersebut pihak PT. Angkasa Pura I (Persero) menawarkan bentuk ganti kerugian dalam beberapa bentuk, menurut ketentuan Pasal 83 PP No.19 Tahun 2021 bahwa pemberian Ganti dapat berupa gabungan 2 (dua) atau lebih bentuk Ganti Kerugian di mana yang ditawarkan PT. Angkasa Pura I (Persero) berupa uang, tanah pengganti dan relokasi. Untuk bentuk-bentuk Ganti kerugian yang diberikan pihak yang membutuhkan tanah harus dalam bentuk ganti penggantian yang layak dan adil sesuai yang diatur dalam Pasal 76 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 123 Undang-Undang No.11 Tahun 2020 tentang Perubahan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 20l2 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum dalam hal ini bentuk ganti rugi yang diatur meliputi:
a. Uang;
b. Tanah Pengganti;
c. Permukiman Kembali;
d. Kepemilikan Saham; atau
e. Bentuk Lain yang Disetujui oleh Kedua Belah Pihak
Khusus yang dalam ganti rugi dengan cara “permukiman kembali”
adalah pihak pelaksana pengadaan tanah serta pihak yang membutuhkan tanah menentukan dan melakukan kegiatan penyediaan tanah pengganti kepada Pihak yang Berhak ke lokasi lain sesuai dengan kesepakatan dalam proses Pengadaan Tanah, di mana untuk pembuatan “pemukiman Kembali” bagi terdampak pembangunan Bandara NYIA ini sendiri sudah dilaksanakan di beberapa tempat antara lain termasuk beberapa relokasi yang berada di Desa Glagah, Desa Kedundang, Desa Palihan, dan Desa Janten (Jati 2020, 4). Diketahui dalam pelaksanaan Musyawarah yang dilakukan oleh Pelaksana Pengadaan Tanah bersama pihak yang terlibat pada 24 April 2018 telah ditemukan data sebagai berikut:
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Musyawarah
Lokasi Setuju Uang
Setuju Tana
Setuju Relokasi
Aset Pemkab
Asset pemda DIY
Aset TKD
Tanah PAG
Tidak Setuju
Tidak Hadir
Sengk eta
Tidak Diketa hui
Kebera tan ke PN
Jumlah
Desa Palihan
833 4 120 0 1 17 1 7 84 0 0 11 1078
Desa Glagah
858 2 66 15 5 16 1 90 174 9 0 0 1236
Desa Kebonrejo
462 5 19 0 0 17 0 0 7 0 0 1 511
Desa Sindutan
326 0 0 0 0 17 1 1 3 0 0 0 348
Desa Jangkaran
196 0 0 1 1 6 1 4 0 1 0 0 210
Jumlah 2675 11 205 16 7 73 4 102 268 10 0 12 4619
Sumber: (Putri 2019, 71)
Keterangan di tabel tersebut menyatakan bahwa adanya lebih dari setengah dari jumlah masyarakat yang terdampak meminta untuk pemberian bentuk ganti kerugian dalam bentuk uang. Kemudian adanya 0,24 % orang yang menyetujui menerima ganti rugi dalam bentuk tanah pengganti, 4,4 % dari jumlah orang setuju dengan relokasi yang ditawarkan dan disediakan, ada 0,35 % orang yangsetuju dengan asset pemkab, 0,15 % setuju dengan instansi lain, 1,6 % setuju
dengan asset TKD, 0,08 % setuju dengan tanah PAG (tanah Kadipaten), 2,2 % tidak setuju terhadap bentuk ganti kerugian yang ditawarkan, 5,8 % tidak menghadiri musyawarah, 0,02 % tanahnya dalam sengketa, 0,26 % mengajukan keberatan ke PN. Pelaksanaan ganti kerugian yang dilakukan oleh PT. Angkasa Pura I (Persero) mayoritas adalah dalam bentuk uang dilakukan dengan pembayaran langsung namun seperti yang dijelaskan sebelumnya ada beberapa bentuk ganti rugi lain yang disepakati yang. Proses Pelaksanaan pembayaran langsung ganti kerugian oleh PT.
Angkasa Pura I (Persero) yang kemudian dijelaskan dalam tabel berikut:
Tabel 2. Rincian Pemberian Ganti Kerugian Pengadaan Tanah Bandara Udara Baru di Kulon Progo
No Uraian Luas Nilai Ganti Rugi
1 Tanah Perorangan (Pembayaran Langsung)
357,25 ha
Rp. 2.769.935.288.819
2 Tanah perseorangan
(Pembayaran Melalui Konsinyasi 319)
37,38 ha Rp. 262.882.426.242
3 Pakualaman Ground (PAG) (Tanah Kadipaten Pembayaran melalui Konsinyasi 4 bidang
160,30 ha
Rp. 701.512.349.000
4 Tanah Instansi 31,65 ha Rp. 292.542.159.214
5 Penggarap PAG (342 warga) Rp. 72.135.320.135
6 Tanah Sisa 0,18 ha Rp. 1.319.807.040
7 Tanah Wakaf 0,28 ha Rp. 4.406.513.000
8 Hasil Dikresi
(Bangunan, Tanam Tumbuh WTT Yang Semula Menolak)
Rp. 19.960.740.250
Total 587,04
ha
Rp. 4.124.694.603.700
Sumber: Laporan Proyek Pembangunan Bandara Udara Internasional Yogyakarta Bulan April 2018 oleh PT. Angkasa Pura I (Persero), 2018.
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa adanya pemberian ganti kerugian dalam bentuk lain yaitu bentuk ganti rugi yang dijelaskan di Pasal 76 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2021 jo. Pasal 123 Undang-Undang No.11 Tahun 2020 tentang Perubahan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun