• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR PENGHAMBAT ASEAN INTERGOVERNMENTAL COMMISION ON HUMAN RIGHT (AICHR) UNTUK MENEGAKKAN HAM DALAM KONFLIK ETNIS ROHINGYA- PEMERINTAH MYANMAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKTOR PENGHAMBAT ASEAN INTERGOVERNMENTAL COMMISION ON HUMAN RIGHT (AICHR) UNTUK MENEGAKKAN HAM DALAM KONFLIK ETNIS ROHINGYA- PEMERINTAH MYANMAR"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR PENGHAMBAT ASEAN

INTERGOVERNMENTAL COMMISION ON HUMAN RIGHT (AICHR) UNTUK MENEGAKKAN HAM

DALAM KONFLIK ETNIS ROHINGYA- PEMERINTAH MYANMAR

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh:

Fisa Faurika 106216051

FAKULTAS KOMUNIKASI DAN DIPLOMASI PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

UNIVERSITAS PERTAMINA 2020

(2)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Tugas Akhir : Faktor Penghambat ASEAN Intergovernmental Commision on Human Rights (AICHR) untuk Menegakkan HAM dalam Konflik Etnis Rohingya-Pemerintah Myanmar.

Nama Mahasiswa : Fisa Faurika

Nomor Induk Mahasiswa : 106216051

Program Studi : Hubungan Internasional

Fakultas : Fakultas Komunikasi dan Diplomasi

Tanggal Lulus Sidang Tugas Akhir : 17 Januari 2020

Jakarta, 17 Februari 2020 MENGESAHKAN

Novita Putri Rudiany 116156

MENGETAHUI,

Ketua Program Studi Hubungan Internasional

Dr. Indra Kusumawardhana, M.Hub.Int NIP. 116123

(3)

iii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir berjudul “Faktor Penghambat ASEAN Intergovernmental Commision on Human Right (AICHR) untuk Menegakkan HAM dalam Konflik Etnis Rohingya- Pemerintah Myanmar” ini adalah benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri dan tidak mengandung materi yang ditulis oleh orang lain kecuali telah dikutip sebagai referensi yang sumbernya telah dituliskan secara jelas sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan dalam karya ini, saya bersedia menerima sanksi dari Universitas Pertamina sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pertamina hak bebas royalti noneksklusif (non- exclusive royalty-free right) atas Tugas Akhir ini beserta perangkat yang ada.

Dengan hak bebas royalti noneksklusif ini Universitas Pertamina berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkatan data (database), merawat, dan mempublikasikan Tugas Akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya

Jakarta, 17 Februari 2020 Yang membuat pernyataan,

Fisa Faurika Materai Rp 6.000

(4)

iv

ABSTRAK

Fisa Faurika. 106216051. Faktor Penghambat ASEAN Intergovernmental Commision on Human Rights (AICHR) untuk Menegakkan HAM dalam Konflik Etnis Rohingya-Pemerintah Myanmar.

Konflik etnis yang terjadi di Myanmar yang melibatkan kelompok muslim Rohingya dan Pemerintah Myanmar sulit ditemukan titik tengahnya. Perbedaan fisik, bahasa dan agama dijadikan alasan oleh pemerintah Myanmar untuk tidak menjadikan etnis Rohingya ini sebagai bagian kelompok dari masyarakat negaranya. Pemerintah Myanmar berasumsi bahwa etnis Rohingya merupakan pendatang atau imigran gelap yang tidak dapat diakui sebagai warga negara. Akar konflik ini terbagi kedalam banyak faktor yang menyebabkan kasus ini menjadi sorotan publik di lingkup internasional. Rohingya sendiri merupakan etnis minoritas di Myanmar yang kerap mendapatkan perlakuan tidak adil dan bersifat diskriminatif dari pemerintah Myanmar. Konflik ini sulit untuk diselesaikan dikarenakan alasan utama terjadinya konflik ialah perseteruan mengenai perbedaan agama antara kelompok muslim dan Budha.. ASEAN sebagai organisai yang membawahi negara-negara Asia Tenggara termasuk Myanmar, dituntut untuk berperan sebagai subjek penengah yang membantu proses penyelesaian konflik dan menciptakan perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Namun, pada nyatanya sistem yang dianut ASEAN tidak mengubah keadaan etnis Rohingya yang terus diperlakukan berbeda dengan masyarakat Myanmar pada umumnya. Sebagai sebuah entitas regional yang menaungi negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, ASEAN memegang peranan yang sangat krusial dalam menjaga stabilitas kawasan melalui pengaturan-pengaturan politik, sosial budaya, ekonomi, keamanan, dan aspek lain seperti isu kemanusiaan. Pembentukan AICHR merupakan salah satu bentuk perpanjangan peran ASEAN dalam bidang kemanusiaan yang memegang kepentingan sebagai komisi penyelesaian konflik yang berkaitan dengan pelanggaran HAM. Namun, pada nyatanya pengaplikasian AICHR masih dihadapkan oleh banyak hambatan yang berujung pada inefektivitas sebuah fungsi. Tulisan ini akan membahas hal yang melatarbelakangi inefektivitas kinerja AICHR dalam penyelesaian konflik Rohingya.

Kata kunci: ASEAN, Rohingya, Konflik Etnis, HAM, AICHR

(5)

v

ABSTRACT

Fisa Faurika. 106216051.Inhibiting Factors of the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) to Uphold Human Rights in the Rohingya Ethnic Conflict-Myanmar Government.

Ethnic conflicts that occur in Myanmar involving Rohingya Muslim groups and the Government of Myanmar are difficult to find a middle ground. Physical, linguistic and religious differences are used as a reason by the Myanmar government not to make these Rohingya ethnic groups a part of the country's community. The Myanmar government assumes that the Rohingya are immigrants or illegal immigrants who cannot be recognized as citizens. The root of this conflict is divided into many factors which have caused this case to become a public spotlight on an international scale. rohingya themselves are ethnic minorities in Myanmar who often get unfair and discriminatory treatment from the Myanmar government. This conflict is difficult to resolve because the main reason for the conflict is a dispute about religious differences between Muslim and Buddhist groups. ASEAN as an organization that oversees Southeast Asian countries, including Myanmar, is demanded to act as an intermediate subject who helps the conflict resolution process and creates peace in Southeast Asia region. However, in fact the system adopted by ASEAN does not change the state of the Rohingya ethnic group which continues to be treated differently from the people of Myanmar in general. As a regional entity that houses countries in the Southeast Asian region, ASEAN plays a very crucial role in maintaining regional stability through political, socio-cultural, economic, security, and other aspects such as humanitarian issues. The establishment of the AICHR is one form of the extension of ASEAN's role in the humanitarian field which holds an interest as a conflict resolution commission related to human rights violations. However, in reality the application of AICHR is still confronted by many obstacles that lead to the ineffectiveness of a function. This paper will discuss the background of the effectiveness of AICHR's performance in resolving Rohingya conflicts.

Keywords: ASEAN, Rohingya, Ethnic Conflict, Human Rights, AICHR

(6)

vi KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Faktor Penghambat ASEAN Intergovernmental Commision on Human Rights untuk Menegakkan HAM dalam Konflik Etnis Rohingya- Pemerintah Myanmar”.

Penulis sadar bahwa penulisan tugas akhir ini dapat selesai berkat adanya dukungan serta bantuan dari pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung selama menulis. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tua dan keluarga yang telah memberi dukungan serta doa yang tiada henti;

2. Yth. Mba Novita Putri Rudiany sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan jerih payah dengan baik dan sabar membimbing penulis dalam penulisan tugas akhir ini;

3. Seluruh Dosen dan Staf di Prodi Hubungan Internasional yang telah mendidik dan membantu penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas akhir ini;

4. Meidiana, Rara, Lukita, Amel, Mayang, Rindu, Anin, Rachel, Dewa, Salma, yang telah memberikan dukungan dan motivasi penuh kepada penulis untuk tetap semangat dalam menulis tugas ini serta dengan sabar mendengar setiap keluh kesah penulis;

(7)

vii 5. Abimanyu Putra yang telah dengan sabar mendukung dan

menemani penulis sejak awal menulis tugas akhir ini hingga selesai;

6. Teman-teman di Aceh dan di Universitas Pertamina yang namanya tidak bisa disebutkan satu-persatu;

Perlu diketahui bahwa dengan segenap kelemahan, tentunya tugas akhir dari penulis tetap jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis meminta masukkan dan kritikan yang dapat membangun penulis, yang kemudian dapat menyempurnakan laporan ini. Terakhir, tentunya penulis berharap setiap bantuan yang telah diberikan dan semoga tugas akhir ini dapat memberikan manfaat.

Jakarta, 10 Februari 2020

Fisa Faurika

(8)

viii DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tinjauan Pustaka ... 3

1.4 Kerangka Pemikiran ... 12

1.4.1 Bagan kerangka berpikir ... 19

1.5 Definisi Konseptual dan Operasionalisasi Konsep ... 19

1.6 Metodologi Penelitian ... 21

1.6.1 Tujuan Penulisan ... 21

1.6.2 Jenis data ... 21

1.6.3 Batasan Penelitian ... 21

1.7 Sistematika Penulisan ... 22

BAB II ... 23

ASEAN INTERGOVERNMENTAL COMMISSION ON HUMAN RIGHTS (AICHR) DAN KONFLIK ROHINGYA-PEMERINTAH MYANMAR ... 23

2.1 Sejarah AICHR dan HAM ASEAN ... 23

2.2 Konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar ... 32

(9)

ix 2.3 Tugas dan Fungsi AICHR Sebagai Lembaga Penegak HAM Asia

Tenggara ... 39

FAKTOR PENGHAMBAT AICHR DALAM PENEGAKAN HAM PADA KONFLIK ROHINGYA-PEMERINTAH MYANMAR ... 51

3.1 Analisis Faktor Eksternal Efektivitas AICHR dalam Penanganan Konflik Rohingya-Myanmar ... 51

3.1.1 Patterns of Interest ... 51

3.1.2 Distributions of Influence ... 52

3.1.3 Nature of the Issue Area ... 56

3.2 Analisis Faktor Internal Efektivitas AICHR dalam Penanganan Konflik Rohingya-Myanmar ... 60

3.2.1 Design Features ... 60

3.2.2 Programmatic activities ... 65

3.3 Identifikasi Perilaku Aktor ... 68

BAB VI ... 75

KESIMPULAN ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN ... Error! Bookmark not defined.

(10)

x

(11)

Universitas Pertamina - 1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Semenjak terbentuk di tahun 2009, ASEAN Intergovernmental Commision on Human Rights (AICHR) nyatanya belum mampu menjadi badan yang dapat menegakkan permasalahan terkait hak asasi manusia yang terjadi antara etnis Rohingya dan Pemerintah Myanmar. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya jumlah imigran Rohingya setiap tahunnya. Dilansir dari UNHCR, data yang ditunjukkan hingga agustus 2017, jumlah imigran Rohingya yang memasuki Bangladesh mencapai 923.000 jiwa, namun hanya 36.583 diantaranya yang terdaftar secara legal (UNHCR Family Counting Factsheet, 2017). Tidak hanya bertambahnya jumlah migrasi, korban akibat kekerasan yang dilakukan Pemerintah Myanmar juga terus bertambah. Berdasarkan data dari International Development Committee, setidaknya terdapat 200 korban jiwa pada tahun 2014 (International Development Committee ,2018) dan lebih dari 100 jiwa pada tahun 2016 (International Crisis Group, 2016). Data keseluruhan hingga tahun 2017, dilansir dari Medecins Sans Frontiers (MSF), setidaknya terdapat 9.000 korban jiwa yang 730 diantaranya merupakan anak berumur dibawah 5 tahun (International Development Committee, 2018).

Jika menarik garis permasalahan melalui sejarah, suku etnis Rohingya adalah kelompok migran yang berasal dari Bangladesh yang kemudian menetap di Arakan salah satu kota di Myanmar berabad-abad. Pada tahun 1984, sejak Burma merdeka, Rohingya kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif yang dibuktikan

(12)

Universitas Pertamina - 2

dengan dari 135 suku nasional yang terdaftar, etnis Rohingya tidak termasuk kedalamnya (Lewa, n.d). Sementara itu, pada tahun-tahun selanjutnya sikap diskriminatif kembali dialami etnis Rohingya. Ketika itu, Pemerintah Myanmar mengeluarkan kebijakan penggunaan warna untuk menggolongkan kewarganegaraan. Terdapat tiga warna utama yang melambangkan golongan yakni:

(1) merah muda untuk kewarganegaraan penuh (2) hijau untuk warga naturalisasi dan (3) untuk warga asosiasi. Dari ketiga penggolongan tersebut, etnis Rohingya tidak tergolong kedalam warna apapun (Lwin, 2012).

Akibat etnis Rohingya tidak mendapat pengakuan oleh Pemerintah Myanmar sebagai bagian dari kelompok warga negara Myanmar, kelompok ini pada akhirnya kerap mendapatkan berbagai bentuk perlakuan diskriminatif dalam berbagai aspek. Terlebih pada masa rezim militer dibawah pimpinan Ne Win hingga kurun tahun 2000, etnis Rohingya mengalami banyak kesulitan. Pada masa ini etnis Rohingya mengalami diskriminasi besar-besaran serta adanya paksaan bagi etnis Rohingya yang beragama Islam untuk menerima ajaran agama Budha serta adanya provokasi dari pihak tertentu yang semakin membuat etnis Rohingya semakin terpojok (Septiari, n.d). Konflik di Rohingya ini pada awalnya belum menjadi sorotan dunia internasional, hingga pada akhirnya pada tahun 2012 pemberitaan internasional mulai membuka fakta-fakta tentang konflik tersebut.

Konflik ini memuncak pada saat adanya pembakaran besar-besaran terhadap perumahan masyarakat etnis Rohingya oleh kelompok etnis Rakhine. (Nimer, 2010).

Setelah kasus Rohingya-Pemerintah Myanmar menjadi perhatian internasional, negara-negara ASEAN mulai mencoba memberikan respon. Melalui

(13)

Universitas Pertamina - 3 AICHR ASEAN berusaha untuk mengatasi permasalahan dan konflik dalam kawasan. dalam hal ini, AICHR menjalankan misinya seperti yang tercantum dalam Terms of Reference (TOR) AICHR pasal 1 yang beberapa diantaranya adalah sebagai berikut; melindungi hak asasi manusia serta kebebasan fundamental dari masyarakat ASEAN, menjunjung setiap hak dari masyarakat ASEAN untuk menciptakan hidup damai, bermartabat dan makmur serta menjunjung tinggi standar HAM sebagaimana yang terdapat dalam Deklarasi Universal hak asasi manusia (ASEAN, 2009). Namun, pada kenyataannya AICHR sebagai badan yang bertujuan untuk menjamin HAM di Asia Tenggara, belum mampu meredam pelanggaran HAM akibat adanya konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar. Oleh karena itulah, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji alasan mengapa AICHR dianggap belum mampu menjadi badan yang mengatasi pelanggaran HAM akibat konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian adalah “Faktor apakah yang menghambat AICHR dalam menegakkan HAM Konflik Etnis Rohingya-Pemerintah Myanmar dari Tahun 2009 Hingga 2017?”

1.3 Tinjauan Pustaka

Untuk menunjukkan signifikansi dan distingsi penelitian ini, tinjauan pustaka diperlukan sebagai referensi pendukung. Dalam hal ini, tinjauan pustaka difokuskan pada hasil penelitian terdahulu yang membahas mengenai konflik etnis Rohingya-Pemerintah Myanmar. Penelitian yang pertama ialah tulisan milik

(14)

Universitas Pertamina - 4

Ghonimah (2017) yang berjudul Tanggung Jawab Dunia Terhadap Konflik Rohingya. Penulis dalam tulisannya menjelaskan bahwa ASEAN sebagai sebuah organisasi yang membawahi regional di Asia Tenggara memegang peranan yang cukup penting demi terwujudnya proses demokratisasi bagi tiap-tiap negara anggota dalam kawasan. Peranan ASEAN ini dapat dilihat pada kasus konflik etnis Rohingya di Myanmar. Asal-usul konflik yang berawal dari perbedaan bahasa, budaya, fisik dan agama yang menjadikan etnis Rohingya tidak mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari kelompok masyarakat negara Myanmar. Selain itu penulis juga menjelaskan prinsip non-intervensi ASEAN sebagai jalan penyelesaian konflik etnis Rohingya di Myanmar dengan menekankan penggunaan pendekatan ASEAN Way. ASEAN sebagai regional kawasan dalam tulisan Ghonimah dikatakan menggunakan prinsip non-intervensi yang tetap menjaga kedaulatan masing-masing negara sehingga dinilai mampu menciptakan peranan dan partisipasi aktif dari tiap-tiap negara anggota untuk menggerakkan pertumbuhan politik di Asia Tenggara serta menyelesaikan konflik dengan cara damai (Ghonimah, 2017).

Penelitian Berikutnya membahas mengenai regionalism dan ASEAN yang terdapat dalam tulisan Regionalisme Menjawab Human Security: Studi Kasus ASEAN dalam permasalahan Human Security. Menurutnya, ASEAN meskipun merupakan salah satu bentuk hasil regionalism, pada nyatanya masih banyak pihak yang melihat institusi ini berjalan di tempat. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang diantaranya adalah arah program yang tidak berpola dan tidak jelas serta terdapat faktor-faktor lainnya seperti adanya persaingan antar negara anggota ASEAN. Dalam tulisannya, Ia menambahkan bahwa ASEAN sejak awal terbentuk

(15)

Universitas Pertamina - 5 kurang memiliki daya ikat yang kuat karena hanya mengandalkan deklarasi. Dalam tulisannya, Yustika juga membahas mengenai posisi human security yang menurutnya bahwa antara negara dan individu (manusia) harus sama-sama merasa aman, namun dalam praktiknya, negara selalu buntu dalam mendeskripsikan permasalahan keamanan bagi individunya. Hal ini dikarenakan permasalahan keamanan yang didefinisikan negara selalu berarah pada penggunaan militer (Mahendra, 2017).

Isu mengenai kemanusiaan sendiri dibahas dalam tulisan yang berjudul Human Rights in Southeast Asia: the Search for Regional Norms Milik Kraft (2005). Kraft memulai tulisannya dengan pembahasan mengenai struktur norma yang dianut negara anggota ASEAN yang kemudian dikaitkan dengan isu kemanusiaan dan kedudukan HAM di dalam ASEAN sebagai lembaga kolektif di level regional. Menurut Kraft definisi dari kemanusiaan adalah segala sesuatu tentang bentuk kehidupan individual manusia. Dimana setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih dan mendapatkan hak untuk berkembang, tumbuh dan merasa aman. Isu mengenai kemanusiaan terus mengalami perkembangan sejak tahun 1945 hingga pada akhirnya muncul Universal Declaration on Human Rights pada tahun 1947. Isu kemanusiaan terus menjadi trend di dunia dan menjadi tanggung jawab setiap lapisan masyarakat global. Tulisan Kraft membahas secara rinci setiap badan-badan yang terdapat dalam ASEAN dan mempertanyakan efisiensi dari terbentuknya badan tersebut dikaitkan dengan beberapa contoh kasus terkait pelanggaran HAM. Keberadaan prinsip non-intervensi yang dipegang teguh oleh setiap negara-negara anggota ASEAN menjadi pertanyaan besar bagi Kraft.

Bagaimana sebuah institusi regional yang seharusnya menjadi subjek penyelesaian

(16)

Universitas Pertamina - 6

konflik justru tidak ikut andil dengan alasan takut mengintervensi, sedangkan beberapa individual masyarakat regional mereka dalam keadaan yang menyedihkan dan membutuhkan pertolongan kemanusiaan. Selain itu, banyak juga pertanyaan mengenai norma yang dianut tiap negara anggota ASEAN yang menjadikan kawasan tersebut tidak ikut andil dalam menegakkan HAM dikawasan mereka sendiri. (Kraft, 2005).

Tulisan ini memiliki kaitan yang cukup erat dengan tulisan yang berjudul An Agreement to Disagree: The ASEAN Human Rights Declaration and the Absence of Regional Identity in Southeast Asia.Dalam tulisannya Davies menyebutkan bahwa sejak awal pembentukan ASEAN, institusi regional ini telah dihadapi dengan permasalahan terkait isu kemanusiaan. Sejak awal pembentukannya ASEAN terus mengurusi permasalahan-permasalahan terkait politik dan perekonomian bahkan peran wanita. Namun, tidak satupun dari agenda di dalam ASEAN mengupas secara dalam mengenai penyelesaian konflik yang bersangkutan dengan pelanggaran HAM dalam kawasan dikarenakan adanya ketakutan akan mengganggu kedaulatan negara anggota. Tiap-tiap negara anggota berusaha menghindari perdebatan mengenai pelanggaran HAM dengan dasar pemikiran ingin menjaga kepercayaan bersama yang sudah dibentuk sejak ASEAN lahir. Penyelesaian masalah yang dilakukan ASEAN dengan sebutan ASEAN Way tidak hanya menjadi titik pokok acuan penyelesaian konflik namun juga menjadi titik acuan peraturan dalam berinteraksi dan sebagai tanda kepercayaan bagi tiap- tiap negara anggota dalam ASEAN. Davies membedah satu-persatu hal-hal yang rancu dan tidak efisien di dalam ASEAN sejak masa awal pembentukannya sebagai institusi regional yang membawahi kawasan Asia Tenggara. Davies juga

(17)

Universitas Pertamina - 7 menguatkan argumennya terhadap isu kemanusiaan dengan mengangkat artikel 25(1) yang berisikan “every person who is citizen of his or her country has the right to participate in the government of his or her country, either directly or indirectly through democratically elected representatives, in accordance with national law (ASEAN, 2012)” berdasarkan artikel tersebut dikatakan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki hak untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan dalam negaranya. (Davies, 2014).

Permasalahan mengenai HAM dan keterkaitannya dengan prinsip non- intervensi di ASEAN terdapat dalam tulisan Non-Interference in ASEAN Reviewed from Human Rights Perspective. Dalam tulisan dikatakan bahwa pada dasarnya setiap orang wajib menghargai dan menghormati HAM orang lain. Selain itu, Negara yang diwakili oleh Pemerintah wajib serta bertanggungjawab untuk melindungi, menghormati dan memajukan HAM. Adanya prinsip non-intervensi yang menopang keberlangsungan regionalism di ASEAN dianggap sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan HAM yang sangat mengedepankan prinsip non diskriminasi dan kesetaraan serta prinsip penegakan hukum dan tanggung jawab negara. Tulisan ini secara garis besar memberikan pandangan bahwa penegakan HAM ditengah adanya prinsip non-intervensi di ASEAN itu sendiri masih memungkinkan (Rahmanto, 2017).

Selanjutnya pada tulisan berikutnya yang berjudul Menakar Ulang peran ASEAN dalam Penegakkan HAM Regional atas Dilema Prinsip Non-Intervensi ASEAN: Studi Kasus Konflik Moro dan Pemerintah Filipina. Dalam tulisannya, Suganda mencoba menarik garis permasalahan konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar ke konsep kedaulatan bagi rakyat yang kemudian di korelasikan kedalam

(18)

Universitas Pertamina - 8

tanggungjawab dari AICHR. Dalam tulisannya dikatakan bahwa ancaman terhadap kedaulatan tidak hanya dapat berasal dari eksternal negara namun juga dapat berasal dari internal negara itu sendiri. Suganda juga menambahkan bahwa permasalahan kedaulatan dari internal negara biasanya dipicu oleh perpecahan ataupun disintegrasi kelompok-kelompok yang dilatarbelakangi oleh perbedaan etnis, suku, budaya, ras, agama, sejarah dan ideologi yang berbeda hingga adanya perbedaan yang struktural seperti tidak meratanya ekonomi. Wilayah Asia tenggara rentan akan terjadinya konflik dalam internal negara mengingat wilayah ini memiliki perbedaan identitas yang tersebar di seluruh bagian kawasannya. Tulisan ini juga membahas bagaimana identitas dapat menjadi faktor utama terjadinya konflik internal dalam negara yang dapat mengganggu kedaulatan negara yang akan menjalar pada ketidakstabilan dalam kawasan Asia tenggara (Fatimah, 2014).

Pembahasan mengenai identitas sendiri dibahas dalam jurnal Adriani (2014) yang berjudul ASEAN and Ongoing Cultural Conflicts. Pada tulisannya, Adriani berfokus pada keberadaan budaya dan identitas dalam masyarakat ASEAN yang dinilai dapat menjadi cikal bakal terjadinya konflik yang berbasis pada perbedaan identitas. Dalam tulisannya sendiri, Adriani menyebut permasalahan tersebut dengan sebutan dilemma budaya yang kemudian dikaitkan dengan penjelasan mengenai mengapa banyak institusi gagal dalam menyelesaikan konflik terlebih konflik budaya ataupun identitas. Di dalam jurnal dituliskan setidaknya terdapat 13 indikator dilemma budaya yang disertai dengan penjelasan dan contoh studi kasus. Tidak hanya menuliskan 13 indikator dilemma budaya beserta contoh kasusnya, Adriani juga menambahkan beberapa solusi yang dapat dicapai oleh ASEAN untuk menghadapai konflik terkait budaya (Adriani, 2014).

(19)

Universitas Pertamina - 9 Menyambung tulisan milik Adriani, Zulfikar (2013) dalam tulisannya tulisan lainnya dikatakan bahwa untuk mengukur efektivitas dari peranan institusi kawasan seperti ASEAN dibutuhkan adanya indikator yang dapat mengukur tingkat keberhasilan dan hal-hal yang dianggap perlu pembenahan. Menurutnya untuk mengukur keefektifan ini harus melalui tiga tahapan analisis yakni konseptualisasi, identifikasi serta keterlibatan. Selain itu Zulfikar juga menambahkan bahwa permasalahan terkait human security dalam kawasan di tangani oleh ASEAN secara institusional. Di dalam tulisannya, Zulfikar juga menjabarkan beberapa isu kemanusiaan yang terjadi di dalam ASEAN dan melabel isu tersebut berdasarkan ada atau tidaknya keterlibatan ASEAN di isu tersebut (Zulfikar, 2013)

Tulisan selanjutnya membahas mengenai ASEAN Intergovernmental Commision on Human Rights (AICHR) milik Ahmat Reza Pahlefi Patthua (2017).

Pada awal tulisannya Patthua menjelaskan perjalanan terbentuknya AICHR sebagai badan yang terbentuk dari kelanjutan dari ASEAN Charter dengan tujuan untuk mengurangi setiap permasalahan yang memiliki keterkaitan dengan pelanggaran HAM di regional Asia Tenggara. Komisi HAM ini ada untuk menegakkan dan mempromosikan isu-isu mengenai hak asasi manusia dan kerjasama regional di dalam kawasan Asia Tenggara terkait dengan HAM. Di dalam tulisannya juga dikatakan bahwa kinerja AICHR dinilai sangat tidak memuaskan dan tidak berkontribusi penuh di dalam penegakan HAM di dalam kawasan Asia Tenggara, bahkan tidak memberikan respon terhadap adanya bentuk pelanggaran HAM yang terjadi (Patthua, 2017).

Tulisan ini berkesinambungan dengan tulisan Ananda Ruriska Saputri (2014) yang berjudul Peran ASEAN Intergovernmental Commision of Human

(20)

Universitas Pertamina - 10

Rights (AICHR) dalam Menegakkan hak Asasi Manusia di Kawasan Negara Anggota ASEAN. Dalam tulisannya Saputri mengungkapkan kronologi pembentukan AICHR sebagai komisi yang mengurusi permasalahan terkait isu kemanusiaan di ASEAN yang membawahi kawasan Asia tenggara. Selain itu, di dalam bacaan juga dijelaskan secara rinci peranan AICHR terhadap negara-negara anggota ASEAN, yakni: 1). sebagai instrument perpanjangan kepentingan negara- negara anggota ASEAN terkait penegakan HAM di dalam kawasan Asia Tenggara tanpa mempergunakan cara yang bersifat kohersif ataupun kekerasan. 2). Sebagai sarana komunikasi negara-negara anggota ASEAN yang bersifat soft approach tanpa adanya sikap yang mempergunakan kekerasan. 3). Sebagai wadah untuk mengembangkan ide serta memajukan HAM di kawasan Asia Tenggara yang bertanggungjawab sebagai institusi yang menaungi kemajuan terhadap HAM (Saputri, 2014).

Selanjutnya, dalam tulisan yang berjudul Urgensi Pembentukan Pengadilan HAM Oleh AICHR mengatakan bahwa AICHR memiliki mandat dan fungsi untuk melindungi dan memajukan HAM. Namun pada kenyataaannya kasus HAM Asia tenggara baik antar negara anggota maupun internal negara tidak berkurang jumlahnya atau menghilang bahkan setelah AICHR disahkan. Tulisan ini secara singkat menuliskan beberapa contoh kasus pelanggaran HAM yang terjadi di regional Asia Tenggara dan melakukan analisis hukum yang diimplementasikan oleh AICHR dalam mengatasi pelanggaran HAM. Menurut penulis, kebanyakan institusi-institusi HAM seringkali lalai dalam mengidentifikasi hak-hak dasar dasar dan seringkali bertentangan dengan hukum internasional (Zaimah, 2015).

(21)

Universitas Pertamina - 11 Sedangkan Verdinand Robertua (2014) dalam tulisannya Normative Tensions: European Sanction vs. ASEAN’s Non-Interference in the Case of Myanmar menambahkan perbandingan studi kasus perbedaan budaya dan identitas di Uni Eropa dan penyelesaian konflik terhadap isu kemanusiaan. Pada awal penulisannya, penulis membuka alur cerita dengan menceritakan sejarah konflik di Myanmar antara etnis Rohingya dengan pihak pemerintahan Myanmar. Pada bagian selanjutnya, penulis melakukan studi komparatif yang membandingkan institusi regional ASEAN dan institusi regional Uni Eropa (EU) dari sisi pandang normative. Tulisan Robertua berusaha menjelaskan kesinambungan antara kebijakan mengenai sanksi milik Uni Eropa dengan kebijakan constructive engagement ASEAN. Robertua juga berusaha mengkaji perbedaan pembentukan identitas ASEAN dan Uni Eropa yang menjadi basis pembentukan kebijakan bagi keduanya. Konflik Myanmar menjadi studi kasus dalam menganalisis perbedaan pengambilan kebijakan yang diambil oleh ASEAN dan Uni Eropa terkait dengan isu kemanusiaan dan pelanggaran HAM.Tulisan komparatif Robertua menarik dikarenakan adanya perbandingan antar dua institusi regional dan menjelaskan kekurangan dan kelebihan masing-masing institusi regional tersebut. Dari tulisannya Robertua cenderung menggambarkan Uni Eropa sebagai organisasi regional yang dapat menjadi contoh bagi ASEAN dikarenakan sistem pada Uni Eropa yang sudah cukup jelas dan tertata jika dibandingkan dengan ASEAN terlebih terkait dengan isu-isu mengenai HAM. Pemberian sanksi di Uni Eropa memberikan dampak yang baik terhadap penyelesaian konflik, hal ini tentu berbeda dengan ASEAN yang tidak adanya perlakuan pemberian sanksi kepada para pelanggaran HAM (Robertua, 2014).

(22)

Universitas Pertamina - 12

Berdasarkan beberapa tinjauan pustaka yang disebutkan diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar penelitian terdahulu menekankan ASEAN sebagai sebuah organisasi regional Asia Tenggara menjadi fokus utama dari penelitian. Hal ini berkaitan dengan penerapan prinsip non-intervensi yang diterapkan oleh ASEAN sehingga menjadi hambatan dalam mengatasi permasalahan pelanggaran HAM di kawasan. sementara pembahasan mengenai AICHR hanya dibahas secara umum di level regional bukan secara khusus terhadap sebuah studi kasus. Oleh karenanya, penelitian ini akan mengkaji tentang faktor yang menghambat AICHR sebagai sebuah lembaga yang mengatasi permasalahan pelanggaran HAM dalam satu studi kasus yang spesifik yakni konflik Etnis Rohingya-Pemerintah Myanmar dalam kisaran tahun 2009 hingga 2017.

1.4 Kerangka Pemikiran

Pada tulisan ini peneliti mengambil AICHR sebagai objek kajian.

Pembentukan AICHR sendiri berawal dari proses regionalisasi di kawasan Asia Tenggara yang kemudian membentuk adanya ASEAN. ASEAN sebagai sebuah organisasi kawasan Asia Tenggara kemudian melakukan memberikan mandat untuk mengatasi isu-isu dan permasalahan HAM ke dalam fungsi lainnya yang kemudian melahirkan adanya badan baru di bawah ASEAN yang bernama AICHR.

Sementara itu, menurut Columbis dan Wolfe di bukunya yang berjudul

“Introductions to International relations, Power and Justice” dikatakan bahwa terdapat setidaknya empat cara/kriteria yang dapat digunakan untuk mendefinisikan sebuah kawasan. keeempat kriteria tersebut adalah :

(23)

Universitas Pertamina - 13 1. Kriteria geografis

Kriteria ini mengelompokkan negara berdasarkan dari lokasi/letak dari negara tersebut dalam sebuah benua, sub-benua, pulau dan lain sebagainya.

2. kriteria politik/militer

kriteria ini mengelompokkan negara berdasarkan pada keikutsertaan negara tersebut pada berbagai institusi atau aliansi yang berkaitan dengan orientasi ideologi dan orientasi dari politik.

3. Kriteria ekonomi

Kriteria ini mengelompokkan negara berdasarkan pada perkembangan pembangunan perekonomian, seperti jumlah nilai GNP, GDP, dan output industri.

4. Kriteria Transaksional

Kriteria ini mengelompokkan negara kedalam jumlah dari frekuensi mobilitas penduduk, perputaran barang dan jasa seperti jumlah imigran, turis, jumlah perdagangan ekspor serta impor.

Bagi ASEAN, pengelompokkan pembagian kawasan berdasarkan pada kriteria geografis yang membagi identitas dan proses regionalisasi ASEAN berawal dari inisiatif negara-negara di Asia Tenggara untuk membentuk sebuah institusi dengan tujuan sebagai collective security untuk menghindari perpanjangan kepentingan negara-negara besar pasca perang dunia kedua. Pembentukan institusi ASEAN sebagai bentuk dari collective security berkembang menjadi kerjasama kawasan untuk meningkatkan kemajuan sosial, pertumbuhan ekonomi serta

(24)

Universitas Pertamina - 14

mengembangkan kebudayaan. (Gochhayat, 2013). ASEAN terus mengalami perkembangan hingga pada akhirnya isu HAM menjadi isu yang sering diangkat di wilayah Asia Tenggara sehingga dibentuklah komisi HAM yang disebut dengan AICHR. Kehadiran dari AICHR ini berangkat dari minimnya komitmen negara- negara ASEAN terhadap hak asasi khususnya hak politik dan hak sipil yang terbukti dari banyaknya kasus mengenai pelanggaran HAM di wilayah Asia Tenggara.

(Numnak, 2009).

AICHR hadir sebagai badan yang mengurusi permasalahan HAM di lingkup regional Asia Tenggara dan dinilai belum cukup efektif. Efektivitas sebuah institusi atau badan dapat di tentukan melalui beberapa indikator. Institusi yang efektif akan membentuk sebuah kausal dimana kinerja/operasi yang dilakukan oleh sebuah institusi akan mengubah perilaku aktor-aktor di dalamnya secara relevan.

Setidaknya terdapat 3 indikator yang menentukan sebuah institusi efektif atau tidak, yakni: faktor eksternal dalam sebuah institusi, efektifitas internal institusi dan identifikasi perilaku aktor yang kaitkan dengan karakteristik dari sebuah institusi.

(Young, 1994).

1. Faktor eksternal dalam sebuah institusi

Dalam menentukan efektifitas institusi, banyak para penstudi tertarik untuk membahas mengenai faktor eksternal yang mempengaruhi kinerja dari sebuah institusi. Faktor eksternal dalam sebuah institusi sendiri terbagi atas 3 pembabakan, yakni:

(25)

Universitas Pertamina - 15 - Patterns of Interest

Sebuah institusi akan dikatakan efektif apabila perilaku institusi di dalam menyelesaikan sebuah permasalahan berdasarkan tujuan dan kepentingannya bernilai positif. Maksudnya bernilai positif ialah, sebuah institusi dapat dengan melihat arah kebijakan dari institusinya tanpa adanya badan atau institusi lain dengan kepentingan dan tujuan yang sama. Institusi bernilai tidak positif apabila terdapat badan atau institusi lainnya yang bergerak dengan tujuan serta kebijakan yang diambil memiliki kepentingan yang sama.

- Distributions of influence

Di dalam sebuah institusi, sebuah pengaruh memiliki dampak yang besar dalam pengambilan kebijakan dari institusi tersebut. Sebuah institusi dikatakan efektif apabila negara-negara anggota memiliki partisipasi yang aktif dan memiliki pengaruh terhadap kesuksesan dari sebuah institusi dalam menghadapi suatu isu. Pengaruh dalam hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan power yang dapat berupa coercive power atau non- coercive power. Penggunaan coercive power dapat dicontohkan dengan melakukan ancaman akan melakukan serangan terhadap suatu negara atau institusi lainnya dengan penggunaan militer dan alat perang lainnya.

Penggunaan coercive power memiliki dampak yang lebih kuat dalam mendorong efektifitas dari institusi. Sedangkan non-coercive power akan berakibat pada terbentuknya penyebaran banyak pengaruh di dalam sebuah institusi. Penggunan non-coercive power biasanya melakukan pendekatan yang sifatnya tidak memaksa seperti diskusi ringan, melakukan diplomasi

(26)

Universitas Pertamina - 16

dan negosiasi serta lain sebagainya tanpa menggunakan kekerasan. Ketika negara-negara anggota dalam sebuah institusi memiliki tingkat partisipasi yang rendah dan cenderung tidak memiliki pengaruh terhadap setiap kebijakan yang diambil, maka institusi tersebut tidak bernilai efektif.

- Nature of the issue area

Perilaku aktor dalam menghadapi dan merespon sebuah isu dangat diperlukan dalam menentukan efektifitas dari sebuah institusi. Dalam hal ini tiap aktor yang terlibat dalam sebuah institusi dituntut agar dapat memiliki kemampuan atau kapabilitas untuk menganalisis atau memprediksi ancaman dari suatu isu pada suatu area. Dalam menghadapi isu pada suatu area, sebuah institusi dikatakan efektif dengan melihat sudut pandang bagaimana sikap atau tindakan yang dilakukan oleh institusi tersebut untuk menekan tingkat ancaman dari suatu isu tersebut agar tidak menyebar dan tidak mengganggu stabilitas dari negara-negara anggota lainnya. Ketika sebuah institusi tidak dapat menganalisis dan memprediksi ancaman dari suatu isu di area tertentu maka dapat dikatakan bahwa institusi tersebut belum cukup efektif.

2. Efektifitas internal institusi

Untuk mengidentifikasi efektifitas internal dari sebuah institusi, dapat dilihat melalui bagaimana sebuah institusi menentukan kebijakan yang baik, bagaimana sekretariat dalam sebuah institusi dibentuk serta program seperti apakah yang dijalankan oleh sebuah institusi. Faktor internal dalam sebuah institusi sendiri terbagi atas 2 pembabakan, yakni :

(27)

Universitas Pertamina - 17 - Design Features

Pada bagian ini sebuah institusi menentukan bagaimana international design dalam mengatasi sebuah isu yang dimulai dari proses pengambilan keputusan serta setting agenda yang dilakukan secara teknis. Nilai dari efektifitas dalam sebuah institusi dapat dinilai bagaimana sebuah institusi dapat menentukan visi dan misi dari institusinya dengan mempertimbangkan setiap nilai dan norma yang dianut oleh tiap-tiap negara anggotanya. Pertimbangan nilai dan norma ini ditujukan agar setiap negara anggotanya dapat mengasimilasi visi dan misi dari institusi tersebut sehingga tidak terdapat perbedaan kepentingan dan menghindari adanya ketidaksepahaman yang berujung pada ketidakpatuhan negara anggota terhadap institusi tersebut. Dalam penentuan visi dan misi ini, jika institusi tidak dapat merangkum kepentingan dari setiap negara anggota dan kepentingan dari berbagai pihak berbeda-beda maka suatu institusi tersebut belum dapat dikatakan sebagai sebuah institusi yang efektif.

- Programmatic activities

Untuk dapat dikatakan sebagai sebuah institusi yang efektif maka diperlukan adanya pembentukan program atau kegiatan ataupun agenda yang disusun dengan baik untuk mengatur pola kerja dari sebuah institusi.

Setiap program dan agenda yang sudah ditetapkan nantinya harus dijalankan oleh institusi tersebut. Untuk itu, agar program serta agenda dari sebuah institusi dapat berjalan dengan baik maka dibutuhkan adanya kepatuhan bagi tiap-tiap negara anggota untuk dapat berjalan mengikuti program ataupun agenda yang sudah diatur oleh institusi tersebut. Dengan kata lain,

(28)

Universitas Pertamina - 18

sebuah institusi dapat bernilai efektif ketika tiap-tiap negara anggotanya memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi, apabila institusi tersebut tidak memiliki tingkat kepatuhanyang tinggi maka institusi tersebut belum dapat dikatakan sebagai sebuah institusi yang efektif.

3. Identifikasi perilaku aktor

Dalam menentukan arah perilaku dari aktor dalam sebuah institusi dibutuhkan adanya intervensi dari institusi. Untuk itu dibutuhkan adanya kemampuan bagi sebuah institusi untuk dapat membuat para anggotanya menyepakati dan menjalankan kontrak yang berlaku dalam institusi. Sebuah institusi dikatakan efektif apabila dapat menentukan arah dari perilaku aktor (negara anggota). Dalam hal ini, apabila institusi tidak dapat menjadi sebuah mekanisme yang dapat mengatur perilaku negara maka institusi tersebut secara garis besar tidak dapat dikatakan sebagai institusi yang bernilai efektif.

Untuk itu, efektivitas AICHR dapat diukur melalui 3 indikator di atas yang nantinya akan dapat menentukan indikator manakah yang tidak efektif di dalam kinerja dan program AICHR.

(29)

Universitas Pertamina - 19 1.4.1 Bagan kerangka berpikir

1.5 Definisi Konseptual dan Operasionalisasi Konsep

Rezim adalah perilaku internasional yang terinstitusi (Ruggie, 1975). Rezim dalam skala internasional dapat didefinisikan sebagai perangkat norma, peraturan dan prosedur pembuatan kebijakan yang sifatnya eksplisit maupun implisit dimana terkumpulnya harapan dari para aktor dalam hubungan internasional (Krasner, 1981). Kepentingan dari rezim timbul dikarenakan adanya ketidakpuasan akan konsep yang mendominasi tata aturan institusi, kewenangan dan internasional (Haggard & Simmons, 1987). Rezim mengacu pada pengaruh dari perilaku institusi internasional terhadap aktor-aktor lainnya terutama negara yang berfokus pada ekspektasi terhadap aktor serta dampak yang diakibatkan oleh suatu institusi internasional. terdapat empat hal yang menjadi ciri dari rezim internasional yakni:

principles (kepercayaan), norms (norma), rules (peraturan) dan decision making

(30)

Universitas Pertamina - 20

process (proses pengambilan kebijakan) (Haggard & Simmon, 1987). Sebuah rezim internasional memuat kepentingan para aktor yang berisikan kumpulan dari norma, aturan, proses pengambilan keputusan. Pada AICHR di dalamnya berisikan kumpulan kepentingan dari negara-negara anggotanya terkait penegakan HAM di Asia Tenggara. AICHR juga menjadi bentuk dari terwujudnya institusionalisasi norma dan kepentingan dari negara-negara anggotanya yang bertujuan untuk mengelola konflik dan cenderung saling bergantung satu sama lain.

Berdasarkan penjelasan tersebut, AICHR dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk dari rezim dikarenakan pembentukan komisi ini berdasarkan pada kepercayaan untuk menegakkan HAM di kawasan Asia Tenggara yang kemudian membentuk norma serta peraturan yang juga melibatkan adanya proses dari pengambilan kebijakan untuk mencapai tujuan dari pembentukannya.

Sedangkan kata hak asasi manusia (HAM) sendiri menurut Abul A’la al- Mawdudi ialah hak-hak yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia tanpa memandang adanya perbedaan agama, ras, negara dan lain sebagainya serta hak tersebut tidak dapat dicabut oleh lembaga apapun dan siapapun dikarenakan hak tersebut adalah pemberian Tuhan. Sedangkan berdasarkan Universal Declaration of Human Right mengenai hak asasi manusia dicantumkan bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup, memperoleh pengakuan yang sama dengan yang lainnya, kemerdekaan, mendapatkan kebangsaan, bebas berpendapat, bebas memeluk agama dan lain sebagainya. (United Nations, 2015)

(31)

Universitas Pertamina - 21 1.6 Metodologi Penelitian

1.6.1 Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan sebagai sarana mengungkapkan pemikiran dan hasil penelitian yang diharapkan dapat menjadi sumber bagi ilmu pengetahuan. Selain itu dengan adanya tulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan ilmu mengenai konflik Rohingya dan Pemerintah Myanmar.

1.6.2 Jenis data

Pada penulisan ini penulis menggunakan metode pengumpulan data kualitatif. Dimana metode pengumpulan data kualitatif yang digunakan adalah dengan studi literatur. Studi literatur yang dilakukan oleh penulis adalah dengan melakukan pencarian dari berbagai jenis sumber tertulis, baik berupa buku-buku, artikel, jurnal atau dokumen-dokumen yang memiliki kesinambungan dengan permasalahan yang dikaji.

1.6.3 Batasan Penelitian

Batasan penelitian atau batasan masalah juga dibutuhkan untuk membatasi lingkup masalah yang diteliti. Hal ini dilakukan agar pembahasan yang ditulis nantinya tidak akan terlalu luas dan tidak menjauhi relevansi dari penelitian sehingga penelitian dapat menjadi lebih fokus dilakukan. Untuk itu tulisan ini membatasi penelitian pada konflik yang terjadi antara pemerintah Myanmar dan etnis Rohingya dalam kurun waktu 8 tahun terakhir berawal dari tahun 2009 sampai dengan 2017. Hal ini dikarenakan pada tahun 2009 inilah AICHR dibentuk untuk mengatasi permasalahan HAM dalam kawasan Asia tenggara dan puncak eskalasi

(32)

Universitas Pertamina - 22

konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar terjadi hingga tahun 2017 dimana terdapat eksodus besar-besaran serta jumlah korban jiwa yang mencapai ratusan ribu.

1.7 Sistematika Penulisan BAB I

Pendahuluan

Bagian ini berisikan penjelasan mengenai latar belakang dari permasalahan yang diangkat dalam tulisan, pertanyaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, pendekatan dan konsep-konsep yang digunakan dalam tulisan dan teknik pengumpulan data.

BAB II

AICHR dan konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar

Bab ini akan membahas mengenai peranan, fungsi, serta upaya yang telah dilakukan oleh AICHR dalam menangani konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar

BAB III

Analisis Hambatan AICHR dalam Konflik Rohingya-Myanmar

Bab ini akan membahas mengenai bagaimana faktor eksternal, internal dan pengidentifikasian perilaku aktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari AICHR sehingga AICHR dapat dikatakan sebagai institusi yang tidak efektif.

BAB VI Kesimpulan

Pada bagian ini, penulis akan menarik kesimpulan dari pembahasan yang sudah dibahas.

(33)

Universitas Pertamina - 23 BAB II

ASEAN INTERGOVERNMENTAL COMMISSION ON HUMAN RIGHTS (AICHR) DAN KONFLIK ROHINGYA-PEMERINTAH MYANMAR 2.1 Sejarah AICHR dan Hak Asasi Manusia ASEAN

Association of South East Asian Nations (ASEAN) dibentuk pada tahun 1967 melalui Deklarasi Bangkok yang merupakan badan regional pertama di Asia yang menangani berbagai macam kepentingan dan isu. Awalnya ASEAN terdiri dari lima negara, yaitu Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia dan Thailand.

Kemudian jumlahnya bertambah menjadi dua kali lipat di beberapa tahun setelahnya. Di dalam Deklarasi Bangkok, dikatakan bahwa pembentukan kerjasama regional di tiap negara Asia Tenggara yang dikenal sebagai ASEAN itu bertujuan untuk membentuk suatu kerjasama regional di Asia Tenggara dan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, politik, sosial dan budaya serta meningkatkan keamanan dan kestabilan regional (Spiegel, 1995).

Berbagai perbedaan dan keragaman yang dimiliki oleh tiap-tiap negara anggota ASEAN disertai dengan kurang berpengalamannya negara-negara Asia Tenggara dalam bidang kerjasama multilateral menyebabkan pembentukan ASEAN menjadi hal yang mengejutkan bagi komunitas internasional lainnya (Stubbs, 2014). Namun setelah beberapa tahun berlalu, ASEAN nyatanya masih berdiri hanya dengan berlandaskan Deklarasi Bangkok sebagai acuan dasar konstitusinya. Padahal Deklarasi Bangkok hanyalah sebuah deklarasi yang terdiri dari lima paragraf yang berisikan prinsip, tujuan serta organ internal dari ASEAN.

(34)

Universitas Pertamina - 24

Terkait hak asasi manusia, negara-negara ASEAN sebenarnya telah meratifikasi beberapa instrumen HAM internasional dan juga ikut berpartisipasi di berbagai perjanjian mengenai HAM seperti deklarasi HAM ASEAN dan Deklarasai Cha Am Hua hin (Wisnu, 2019). Deklarasi adalah perjanjian yang berisikan prinisp- prinsip hukum dan istilah ini biasanya digunakan untuk kesepakatan dan pernyataan sikap antara para pihak yang dihasilkan dari sebuah konferensi inernasional. Sesuai dengan praktek dan hukum kebiasaan, deklarasi dalam ranah hukum internasional memiliki daya hukum seperti jenis-jenis perjanjian lainnya (Spiegel, 1995).

Deklarasi Wina yang disetujui oleh negara-negara anggota ASEAN menjadi titik awal dari komitmen negara-negara anggota ASEAN untuk menegakkan hak asasi manusia di Asia Tenggara (Wisnu, 2019).

Perkembangan pembentukan badan ini terlihat dimulai dari pertemuan tingkat menteri ASEAN, yang diadakan pada Juli 2008. Pertemuan ini kemudian menyepakati adanya pembentukan dan pelaksanaan High Level Panel on Establishment for ASEAN Human Rights Body, yang bertugas untuk menyusun ToR ASEAN Human Rights Body bersama-sama dalam waktu 1 tahun sejak dibentuk.

Kesepakatan ini ialah merupakan sikap lanjutan dari Pasal 14 Piagam ASEAN, mengenai mandat pembentukan ASEAN Human Rights Body. Pada awalnya, nama yang diusulkan beberapa Negara anggota untuk ASEAN Human Rights Body adalah ASEAN Commission on Human Rights, tanpa memakai kata Intergovernmental dikarenakan adanya keinginan agar dinilai sebagai sebuah induk yang berdiri dengan mandiri. Akan tetapi kemudian, pada kenyataannya karena adanya negosiasi politik yang lebih berperan, akhirnya disepakatilah ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR, 2009).

(35)

Universitas Pertamina - 25 Selanjutnya pada KTT ke-21 Tahun 2012 ASEAN menghasilkan Deklarasi HAM yang menjadi salah satu mandat di dalam TOR AICHR. Adapun beberapa masalah penting didalam deklarasi ini adalah (AICHR, 2014) :

a. Penegasan kembali komitmen dari Negara-negara anggota ASEAN terhadap perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia dan kebebasan dasar serta prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan yang tertuang dalam piagam ASEAN

b. Penekanan kembali komitmen Negara-negara anggota ASEAN terhadap deklarasi Wina, Piagam PBB, Deklarasi Universal HAM, dan instrumen internasional HAM lainnya yang di dalamnya terdapat Negara ASEAN dan merupakan pihak yang ikut serta, serta deklarasi dan instrumen lainnya yang berkaitan dengan HAM

c. Pentingnya peran dari AICHR sebagai institusi yang bertanggung jawab bagi perlindungan dan pemajuan HAM di ASEAN yang berkontribusi terhadap terbentuknya komunitas ASEAN yang berorientasi pada konsep masyarakat sebagai sarana pembangunan sosial dan menciptakan lingkungan yang adil serta pemenuhan martabat manusia dan pencapaian kualitas hidup yang lebih baik bagi negara-negara anggota ASEAN

d. Menghargai peranan dari AICHR yang telah menyusun deklarasi secara komprehensif tentang HAM melalui adanya konsultasi dengan badan- badan yang ada di dalam ASEAN dan para pemangku kepentingan lainnya

(36)

Universitas Pertamina - 26

e. Pentingnya adanya kontribusi badan-badan dalam ASEAN dan para pemangku kepentingan lainnya dalam perlindungan dan pemajuan HAM di ASEAN serta mendorong adanya keterlibatan dan dialog yang berkelenjutan dengan AICHR (AICHR, 2014)

Piagam ASEAN atau ASEAN Charter yang diratifikasi oleh 10 negara di Asia Tenggara ini menjadi landasan utama untuk membentuk AICHR. Pada Piagam ASEAN di pasal 14 berisikan perintah kepada ASEAN untuk dapat membentuk sebuah badan ASEAN yang kemudian diwujudkan pada KTT ASEAN ke 15 di Thailand Tahun 2015 dimana AICHR diresmikan. Komposisi AICHR sendiri terdiri dari perwakilan dari 10 negara anggota ASEAN yang memiliki tanggung jawab pada pemerintah yang menunjuknya. Sebagai sebuah institusi yang berada dibawah naungan ASEAN, AICHR bekerja sama dengan seluruh badan-badan dan pihak-pihak sektoral ASEAN yang terdapat didalam 3 Pilar ASEAN yaitu Pilar Ekonomi ASEAN, Pilar Politik dan Keamanan ASEAN, dan Pilar Sosial dan Budaya ASEAN. AICHR melakukan kordinasi, konsultasi, dan kolaborasi dengan tiga pilar ASEAN tersebut (AICHR, 2014).

Perkembangan dan pemajuan HAM di dalam kawasan Asia Tenggara telah memulai babak baru semenjak terbentuknya sebuah mekanisme komisi HAM, yakni AICHR. Kehadiran AICHR dilatarbelakangi oleh minimnya komitmen dari negara-negara anggota ASEAN dalam menegakkan hak asasi manusia, khususnya hak politik dan sipil yang direfleksikan pada terus meningkatnya kasus pelanggaran HAM yang terjadi dalam kawasan meliputi eksploitasi anak, diskriminasi terhadap beberapa etnis grup, perdagangan manusia, korupsi dan konflik bersenjata (Numnak, 2009). Dalam pengertiannya Hak Asasi Manusia (HAM) menurut

(37)

Universitas Pertamina - 27 definisi para ahli yaitu, hak-hak dasar yang dimiliki setiap individu manusia sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir kedunia. Sedangkan pengertian HAM menurut perserikatan bangsa-bangsa (PBB) adalah hak yang melekat dengan kemanusiaan kita sendiri, yang mana tanpa hak tersebut kita mustahil hidup sebagai manusia (UNHCR,2017). HAM dan perwujudannya harus di selaraskan dikarenakan suatu bentuk timbal balik yang mengacu kepada konsep kesatuan mutlak HAM. HAM dapat dikatakan dilanggar seseorang, apabila seseorang tersebut telah melanggar hak dan kewajiban HAM orang lain. Contohnya seperti pembunuhan massal atau genosida, pemaksaan kehendak, hak untuk hidup, hak membentuk keluarga, hak untuk memperoleh pendidikan dan keadilan, hak memeluk agama, dll (UNHCR, 2017).

Pada dasarnya HAM dikemukakan Untuk menyadarkan manusia mengenai kebebasan dalam ketertiban, tidak bisa dikatakan HAM apabila bebas tapi tak teratur atau berantakan, tidak juga bisa dibilang tertib tapi didikte. Secara umum bidang-bidang yang termasuk kedalam HAM dan diakui oleh dunia meliputi 6 jenis yaitu;

1. Personal Right (Hak Asasi Pribadi) 2. Political Right (Hak Asasi Politik) 3. Property right (Hak Asasi Ekonomi)

4. Rights of legal equality (Hak mendapatkan perlakuan yang sama) 5. Social and culture right (Hak Asasi Social Kebudayaan)

6. Procedural right (Hak mendapatkan pembalaan hukum)

Dalam pengimplementasiannya dan menetukan batasan-batasan pada

(38)

Universitas Pertamina - 28

pelanggaran hak asasi manusia, AICHR dibawah naungan ASEAN mengadopsi kebijakan deklarasi universal terkait hak asasi manusia. Dimana pada deklarasi tersebut batasan HAM terbagi atas beberapa pembagian pasal yang tiap-tiao pasalnya menggambarkan perilaku ataupun sikap dari suatu negara atau kelompok individu terhadap sebuah negara atau kelompok individu lainnya yang dikategorikan sebagai pelanggar HAM. Diantaranya diatur dalam pasal (UNHCR, 2017):

1. Pasal 1

Semua orang yang dilahirkan merdeka serta mempunyai hak dan martabat yang sama.

2. Pasal 2

Setiap orang memiliki hak atas kebebasan tanpa adanya pengecualian apapun seperti warna kulit, ras, bangsa, jenis kelamin, agama, bahasa, politik ataupun perbedaan pendapat, kedudukan, kelahiran ataupun hak milik.

3. Pasal 3

Setiap orang memiliki hak untuk hidup, bebas dan keselamatan atas individu

4. Pasal 5

Tidak seorangpun dapat diperlakukan secara kejam, disiksa, memperoleh perlakuan atau mendapatkan hukuman secara tidak manusiawi ataupun direndahkan martabatnya.

5. Pasal 13

1. Setiap orang berhak atas kebebasan untuk bergerak atau berdiam di dalam batas-batas negara

(39)

Universitas Pertamina - 29 2. Setiap orang memiliki hak untuk meninggalkan suatu negeri, termasuk

negerinya sendiri dan juga memiliki hak untuk kembali 6. Pasal 15

Setiap orang. Berhak atas sesuatu kewarganegaraan dan tidak ada satu orangpun dapat semena-mena dapat mencabut kewarganegaraannya atau ditolak hak untuk mengganti kewarganegaraan.

7. Pasal 21

1. Setiap orang berhak untuk ikut serta dalam pemerintahan dinegerinya, baik secara langsung maupun melalui wakil-wakil yang dipilih secara bebas

2. Setiap orang memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk dapat diangkat menjadi pejabat dalam pemerintahan negerinya

3. Kehendak rakyat harus menjadi acuan dasar kekuasaan pemerintah

Beberapa pasal diatas mendefinisikan secara keseluruhan mengenai batasan-batasan dalam pelanggran HAM. AICHR dibawah naungan ASEAN juga mengadopsi prinsip dan penafsiran yang sama terkait batasan pelanggaran HAM.

Oleh karenanya, jika dilihat dari pasal-pasal tersebut, perilaku yang dilancarkan oleh pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya tentu sudah melewati batasan pelanggaran HAM dan dapat dikatakan sebagai pelaku pelanggar HAM.

Konflik yang terjadi di Myanmar antara agama Islam dan Budha berdampak jangka panjang bagi etnis Rohingya yang beragama Islam. Egoisme pemerintah Myanmar yang tidak mengakui adanya etnis Rohingya di Myanmar membuat adanya pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Rohingya. Sejak diterapkan sebuah kebijakan yang disebut burmanisasi, yaitu kebijakan yang hanya mengakui

(40)

Universitas Pertamina - 30

adanya agama Budha di Myanmar (Safdar,2015). Sebagian besar etnis Rohingya yang memilih untuk pergi atau kabur ke negara lain untuk mendapatkan perlindungan dan hidup yang lebih layak karena mereka tidak mendapatkan itu semua di negara mereka sendiri. Yang patut disayangkan dari ini semua ialah, sikap pemerintah Myanmar yang memilih untuk tidak mengakui Rohingnya sebagai bagian dari negaranya dan bersikeras bahwa mereka adalah pendatang baru dari subkontinen India, sehingga konstitusi negara itu tidak memasukkan mereka dalam kelompok masyarakat adat yang berhak mendapat kewarganegaraan (Rahman, 2000).

Konflik yang terjadi antara etnis Rohingya dan pemerinah Myanmar telah melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan seperti yang tercantum dalam beberapa pasal yan telah disebutkan. Pertama, kebebasan untuk menganut agama dan kepercayaan. Mayoritas masyarakat di Myanmar memeluk agama Buddha, sedangkan agama Islam sendiri menjadi agama minoritas yang diperkirakan hanya terdapat sekitar lima persen dari keseluruhan jumlah total penduduk Myanmar.

Selain terdapat delapan etnis utama, ada sekitar 130 jenis etnis lainnya yang juga merupakan masyarakat yang menduduki Myanmar namun kerap diabaikan dan mengalami diskriminasi dan salah satunya adalah etnis Rohingya (Rahman, 2000).

Kedua, pelanggaran hak asasi hukum karena sangat terlihat dimana mereka tidak mendapat perlindungan hukum. Etnis Rohingya sebagai korban penindasan tidak dapat hidup dengan adil dan damai, mereka terus mendapatkan pengusiran dari desa mereka, bahkan untuk pekerjaan pun dibatasi. Jika mereka mendapat perlindungan hukum tentunya konflik ini tidak akan terus berkepanjangan. Banyak dari etnis Rohingnya yang memilih untuk kabur ke negara lain untuk mendapatkan

(41)

Universitas Pertamina - 31 perlindungan dan hidup yang lebih layak karena mereka tidak mendapatkan itu semua di negara mereka sendiri (UNHCR, 2017).

Ketiga, anak-anak etnis Rohingnya tidak mendapatkan pendidikan yang layak atau bahkan tidak mendapatkan pendidikan sama sekali dan ini melanggar hak asasi sosial budaya. Dalam kasus ini juga ada pelanggaran hak asasi ekonomi karena rumah mereka dibakar dan mereka diusir dari rumah mereka dan juga dipaksa untuk tinggal dipenampungan, bahkan untuk mencari pekerjaanpun dibatasi oleh pemerintah. Mereka tidak diberi kebebasan untuk menyatakan pendapat mereka sehingga mereka hanya bisa menerima semua perlakuan pemerintah dan tidak dapat melakukan apa-apa (UNHCR, 2017).

Keempat adanya pembedaan jenis kewarganegaraan bagi kelompok masyarakat Myanmar yang membagikan tiap-tiap kelompok masyarakat kedalam beberapa kategori yang dimulai dari kelompok warga negara penuh, naturalisasi dan asosiasi. Dari ketiga kategori tersebut, kelompok Rohingya tidak termasuk kedalam kategori manapun. Kelompok ini bahkan sulit untuk dapat mengadopsi ataupun naturalisasi kewarganegaraan dikarenakan adanya anggapan umum dari pemerintah Myanmar bahwa kelompok etnis tersebut merupakan imigran pendatang dari Banglades yang tidak memiliki golongan ataupun bangsa tertentu dan tidak memiliki wilayah kekuasaan maupun wilayah untuk bertempat tinggal (Safdar, 2015).

Menilik beberapa fakta dan peristiwa yang telah disebutkan diatas, oerlakuan pemerintah Myanmar terhadap kelompok etnis Rohingya tentu dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran HAM yang dilancarkan oleh negara terhadap suatu kelompok etnis. Peristiwa-peristiwa tersebut tentu telah melanggar

(42)

Universitas Pertamina - 32

setiap ketentuan pasal yang teah disebutkan dalam deklarasi HAM universal. Oleh karenanya, konflik Rohingya dan Pemerintah Myanmar merupakan sebuah peristiwa pelanggaran HAM yang menjadi tanggungjawab AICHR dibawah naungan ASEAN sebagai sebuah institusi penegakan HAM regional yang secara legal menganut pengaturan HAM berdasar deklarasi HAM universal.

2.2 Konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar

ASEAN sebagai salah satu institusi regional di kawasan Asia Tenggara merupakan bagian dari keanggotaan PBB yang juga memiliki kewajiban untuk mewujudkan perlindungan terkait perlindungan dan penegakan HAM di wilayahnya. Namun, dalam praktiknya ASEAN kurang fokus dalam mengatasi isu- isu mengenai kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang terjadi di dalam kawasannya. Berdasarkan data dari Mapelcroft tahun 2014, negara-negara di kawasan ASEAN sebagian besar menunjukkan label berwarna merah yang mengindikasikan bahwa terjadi pelanggaran HAM tingkat tinggi di negara-negara anggotanya, salah satunya Myanmar.

Republik persatuan Myanmar atau dikenal dengan sebutan Burma atau Birma oleh negara barat, merupakan negara yang merdeka dari Inggris pada tahun 1948. Bergantinya Burma menjadi Myanmar merupakan hasil dari Junta militer Myanmar tahun 1989, dengan tujuan agar etnis non-Burma tidak mengalami diskriminasi dan menjadi bagian dari kelompok masyarakat Myanmar. Namun, perubahan nama ini ternyata tidak diadopsi oleh semua negara terlebih negara persemakmuran Inggris. Hal ini dikarenakan negara persemakmuran Inggris tidak pernah mengakui kekuasaan junta militer Myanmar (Raymond, 2014).

(43)

Universitas Pertamina - 33 Penduduk Myanmar merupakan ras keturunan Mongol, selebihnya merupakan keturunan yang berasal dari India dan Pakistan. Hampir sebagian besar penduduk Myanmar merupakan petani dikarenakan kondisi geografis wilayah ini berada di pedesaan dan hanya sedikit yang menduduki perkotaan. Mayoritas penduduk Myanmar berisikan etnis Burma. Setidaknya terdapat 8 etnis besar yang diakui dan diberi wilayah serta otonom khusu di Myanmar, yakni (Safdar, 2015) :

1. Etnis Bamar, merupakan kelompok etnis mayoritas yang terdiri atas dua pertiga total warga Myanmar. kelompok ini beragama Buddha dan bertempat tinggal di sebagian wilayah di Myanmar kecuali di pedesaan 2. Etnis Karem, etnis ini menganut agama Buddha dan Kristen atau perpaduan

antara dua agama tersebut yang memperjuangkan hak otonom selama 60 tahun dan menghuni pegunungan yang dekat dengan perbatasan Thailand 3. Etnis Khayah, merupakan etnis yang menganut agama Buddha dan dekat

dengan etnis Thai

4. Etnis Rakhine/Arakan, etnis yang kerap disebut sebagai etnis beragama Buddha yang menduduki wilayah Arakan, Myanmar Barat.

5. Etnis Mon, merupakan kelompok etnis Buddha yang menduduki kawasan selatan Myanmar

6. Etnis Kachin, etnis beragama Kristen yang terpecah dari etnis Tiongkok dan India

7. Etnis Chin, merupakan kelompok etnis beragama Kristen yang menduduki wilayah Myanmar yang berbatasan langsung dengan India

(44)

Universitas Pertamina - 34

8. Etnis Shan, kelompok etnis yang beragama Islam dan tinggal di Utara Myanmar yang bersebelahan dengan Tiongkok dan Thailand, yang mayoritasnya beragama Buddha dan agama tradisional lainnya.

Mayoritas etnis di Myanmar merupakan etnis yang beragama Buddha, sedangkan Islam menjadi agama minoritas yang diperkirakan hanya sekitar lima persen dari total penduduk Myanmar. Selain kedelapan etnis tersebut, ada sekitar 130 ragam etnis lainnya yang juga menduduki Myanmar yang kerap diabaikan dan mengalami diskriminasi termasuk salah satunya adalah etnis Rohingya (Rahman, 2000).

Myanmar merupakan salah satu contoh negara di Asia Tenggara yang terlibat dalam pelanggaran HAM. Konflik ini melibatkan pemerintah Myanmar dengan salah satu suku di dalam negaranya yakni Rohingya. Rohingya merupakan bagian dari kelompok etnis Indo-Arya yang menetap di wilayah Arakan (sekarang Rakhine) yang juga diduduki oleh kelompok etnis Rakhine. Rohingya dan Rakhine merupakan dua kelompok yang suku yang berbeda. Rohingya merupakan etnis yang mayoritasnya beragama Islam sedangkan Rakhine beragama Buddha.

Pemerintah Myanmar memperkirakan jumlah total populasi di Arakan mencapai 3,33 juta jiwa, dimana 2,2 juta jiwa diantaranya adalah umat Buddha Rakhine dan sekitar 1,8 juta jiwa lainnya merupakan etnis Rohingya. (Safdar, 2015).

Rohingya merupakan penduduk muslim keturunan Pashu dan Bengali atau Moken yang dikenal sebagai Orang Laut dalam bahasa Melayu. Penduduk Rohingya tinggal di Arakan bagian barat laut antara sekitar abad ke-9 sampai dengan abad ke-10 Masehi (Human Rights Watch, 1996). Secara estimologis etnis Rohingya adalah penduduk asli Arakan yang sejak dahulu telah menjadi area masuk

(45)

Universitas Pertamina - 35 dan berkembangnya agama Islam sekitar tahun 100 Hijriyah yang disebarkan oleh pedagang dan pelaut dari Timur Tengah (Rahman, 2000).

Perlakuan diskriminasi pada etnis Rohingya ini dimulai dikarenakan adanya perbedaan agama, identitas etnis serta ciri-ciri fisik antara etnis ini dengan etnis- etnis yang berada di Myanmar pada umumnya. Pada kisaran tahun 1948 sampai dengan 1962, etnis Rohingya pernah diakui sebagai warga negara Myanmar, bahkan terdapat beberapa etnis Rohingya yang diangkat menjadi anggota parlemen dan menteri. Namun, pada masa kekuasaan Jenderal Ne Win pada tahun 1962, etnis ini mulai mengalami diskriminasi. Terlebih sejak adanya undang-undang kewarganegaraan Burma tahun 1982 yang berisikan mengenai penghapusan etnis Rohingya sebagai warga negara Myanmar (Nuswanto, 2009). Undang-undang ini diumumkan secara resmi setelah datangnya etnis Rohingya secara massal di tahun 1978 (Maghfuri, 2012). Seseorang akan diberikan kartu dengan warna yang berbeda-beda berdasarkan dengan jenis kewarganegaraannya. Warna merah muda sebagai simbol untuk full citizenship, hijau untuk naturalized citizenship dan biru untuk associate citizenship. Status kewarganegaraan ini terbagi atas:

1. Warga negara penuh (full citizenship) adalah penduduk yang tinggal di Myanmar sebelum tahun 1823 dan atau lahir dari orang tua dengan garis keturunan warga negara Myanmar dan diharuskan berasal dari salah satu ras yang berada di Myanmar.

2. Warga naturalisasi (naturalize citizenship) adalah orang yang tinggal di Myanmar tepat sebelum 4 januari pada tahun 1948 dan melakukan pengajuan permohonan kepada Pemerintah Myanmar terkait kewarganegaraan setelah tanggal tersebut. Seseorang

(46)

Universitas Pertamina - 36

tersebut harus bisa menunjukkan bukti yang kuat bahwa orangtuanya masuk serta tinggal di Myanmar sebelum tahun 1948. Seseorang yang orangtuanya memiliki jenis kewarganegaraan salah satu dari tiga status kewarganegaraan maka memiliki hak menjadi warga naturalisasi.

3. Warga asosiasi (associate citizenship) adalah mereka yang memperoleh kewarganegaraan melalui Union Citizenship Act tahun 1948 lalu mendaftar kembali sebelum tanggal 15 Oktober 1982 pada saat pergantian undang-undang menjadi Burma Citizenship Law of 1982. Permohonan tidak akan diterima jika pengajuannya melewati tanggal tersebut.

Lebih lanjut, pada pasal 44 dari undang-undang mengenai kewarganegaraan juga mengatakan bahwa untuk mendapatkan status kewarganegaraan, harus minimal berumur 18 tahun, bisa berbahasa nasional Myanmar, memiliki karakter yang baik, berasal dari ras nasional Myanmar dan berakal sehat (Burma citizenship Law-UN ACT, 2015). Namun, sulitnya untuk memberikan bukti yang kuat mengenai garis keturunan menjadi penghambat bagi etnis Rohingya untuk dapat memperoleh status kewarganegaraannya. Meskipun sejarah etnis Rohingya pada abad kedelapan dapat dilacak, hukum negara Myanmar tidak mengakui etnis tersebut sebagai salah satu ras nasional Myanmar (Safdar, 2015) .

Penggolongan status kewarganegaraan ini mirip seperti kasta.

Penggolongan full citizenship akan memperoleh kemudahan akses terhadap pelayanan publik dan hak penuh. Sedangkan kategori yang lainnya hanya akan menerima haknya secara terbatas, terutama akses terhadap pelayanan publik dan

Gambar

Tabel 3.2.1.1 Mandat-Mandat AICHR

Referensi

Dokumen terkait

Ada hubungan bermakna antara masa kerja dengan kadar plumbum dalam darah pada polisi lalu lintas dengan nilai korelasi spearman sebesar 0,892 menunjukkan korelasi

Hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 5 Makam, dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan model

KAJIAN STRUKTUR, NILAI MORAL, DAN REPRESENTASI BUDAYA JAMBI PADA KUMPULAN CERPEN NEGERI CINTA BATANGHARI SERTA PEMANFAATAN CERPEN SEBAGAI MODUL SISWA SMP..

extract effective to decrease the amount of food and body weight of male Wistar rats of 300, 400, and 600 mg/kgBW of dose when given orally, The coefficient

Hal ini dikarenakan oleh banyaknya anggota kelompok dukungan ter- sebut, dukungan emosi yang diberikan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan baik dari segi waktu

Saran untuk penelitian selanjutnya dapat mengganti metode SIFT dalam mendapatkan fitur dari sebuah citra, sehingga diha- rapkan dapat melengkapi Singular Value Decomposition

Untuk menghindari agar tidak meluasnya pembahasan, maka penelitian ini di batasi dengan judul “Pengaruh Metode Latihan Interval 1:1 dan Metode Latihan Interval

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa a da hubungan positif antara religiusitas dengan penyesuaian diri di sekolah pada