3.1 Analisis Faktor Eksternal Efektivitas AICHR dalam Penanganan Konflik
3.1.3 Nature of the Issue Area
Tindakan aktor dalam merespon sebuah isu diperlukan untuk dapat menetukan efektivitas dari sebuah institusi. Oleh karenanya setiap aktor yang terlibat diharuskan agar dapat memprediksi ancaman dari sebuah isu. Hal ini diperlukan agar intitusi tersbut dapat menekan dampak yang diakibatkan oleh isu tersebut. dalam hal ini, AICHR sebagai sebuah institusi tidak dapat menentukan ancaman ataupun memprediksi ancaman di dalam Asia Tenggara yang terkait dengan hak asasi manusia.
1. Tertutupnya Negara Myanmar
Salah satu bentuk ancaman yang tidak dapat diprediksi AICHR dalam penangan kasus konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar adalah keberadaan Pemerintah Myanmar yang tertutup dan enggan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai konflik yang terjadi di dalam negaranya tersebut. Tertutupnya Myanmar terhadap negara-negara anggota AICHR termasuk AICHR terkait pelanggaran masalah HAM di Rohingya tentu menghambat kinerja dari AICHR. Kurang informasi serta tidak terbukanya pihak Myanmar tentu akan berakibat pada eskalasi konflik yang lebih lanjut dan berujung pada meningkatnya jumlah korban jiwa dan eksodus besar-besaran dari etnis Rohingya keberbagai wilayah di Asia Tenggara yang tentunya akan mengganggu kestabilan dari wilayah Asia tenggara itu sendiri.
Terkait penegakan dan pemajuan HAM sendiri padahal di dalam kerangka acuan telah disebutkan mengenai hak serta kewajiban negara-negara anggota untuk memberikan laporan secara berkala pada tiap pertemuan Menteri Luar Negeri
Universitas Pertamina - 57 ASEAN. Namun, pihak Pemerintah Myanmar seolah menutupi permasalahan tersebut dan tidak membuka diri. Menurut penjelasan yang disampaikan oleh salah satu tokoh Buddha yakni Philip Wijaya, sikap pemerintah Myanmar yang terkesan menutup dirinya serta menunjukkan respon yang sangat minim atas tuntutan dunia terhadap tindakan genosida dan pelanggaran HAM yang menimpa etnis Rohingya sangat disayangkan (Ramalan, 2017). Dalam pernyataannya tersebut, ia juga menambahkan bahwa Pemeritah Myanmar memiliki kemampuan komunikasi yang buruk ke dunia Internasional dan tidak memberikan gambaran yang bagus dan sesungguhnya ataupun mengundang dunia unternasional untuk dapat turun dan menyaksikan langsung bagaimana keadaan yang sesungguhnya di Myanmar.
Sedangkan menurut Wakil Indonesia untuk AICHR yakni Yuyun Wahyuningrum mengatakan bahwa jika permasalahan ini dilihat melalui level Nasional Myanmar, permasalahan etnis Rohingya ini tidak dianggap sebagai isu yang penting bagi Pemeritah Myanmar itu sendiri (Syakur, 2019). AICHR sebagai institusi khusus yang dibentuk dalam rangka menegakkan HAM di regional tentu memiliki peran yang cukup penting dalam penyelesaian kasus ini. keberadaan Pemerintah Myanmar yang menutup diri tentu tidak hanya akan berakibat pada stabilitas kawasan namun juga akan berdampak pada stabilitas di wilayah lain, seperti Bangladesh.
2. Terganggunya stabilitas wilayah lain
Aliran migrasi dari Rohingya ke Bangladesh dimulai pada tahun 1978, saat pemerintah junta militer Myanmar melakukan operasi yang dinamakan operasi Naga Min. Setidaknya terdapat sekitar 200.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dengan tujuan untuk mencari perlindungan. Jumlah aliran migrasi
Universitas Pertamina - 58
tumbuh lebih besar, yakni 250.000 orang di tahun 1992. Saat itu pemerintah Myanmar tidak henti-hentinya melakukan tindakan represi kepada etnis Rohingya.
Pemerintah Bangladesh menerima pengungsi dari Rohingya dengan menyediakan dua puluh kamp pengungsian yang ditempatkan di distrik Cox’s Bazar (Mapelcroft, 2013). Orang Rohingya yang datang ke Bangladesh berniat ingin menghindari tekanan serta kesulitan yang didapatkan di negara asal, kebanyakan etnis Rohingya yang datang ke Bangladesh dan beberapa negara lainnya pun harus menghadapi banyak kesulitan di negara tujuan. Orang-orang yang bermigrasi biasanya kerap akan ditempati di wilayah yang tingkat kemiskinannya tinggi juga disertai dengan tingkat pembangunan yang rendah dengan jumlah kapasitas lokal yang sangat terbatas, serta tingkat sosial ekonomi dan politik yang buruk (Lwin, 2012). Oleh karenanya, permasalahan yang seringkali terjadi di wilayah-wilayah kamp pengungsian adalah sumber daya primer, seperti ketersediaan air, tempat tinggal, sanitasi, dan makanan yang buruk. Dalam menanggapi hal ini pemerintah Bangladesh mengambil sikap dengan membenahi kualitas dari tempat tinggal di tempat pengungsian, meskipun hasilnya juga tidak dapat dikatakan sebagai tempat yang layak untuk dihuni (Lwin, 2012). Peningkatan kualitas kamp pengungsi Rohingya ini tentu saja meggolontorkan dana Pemerintah Bangladesh, yang tentu sangat mengganggu stabilitas negaranya. Namun, meskipun begitu, Keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh Pemerintah Bangladesh ini tidak semerta-merta menghentikan laju migrasi korban konflik Rohingya-Pemerintah Myanmar untuk tetap masuk ke Bangladesh. Selain dikarenakan adanya faktor tidak memungkinkannya etnis Rohingya untuk tetap berada di wilayahnya sendiri (Myanmar), seperti tidak terpenuhinya akses terhadap kebebasan dasar dan
Universitas Pertamina - 59 kesempatan, faktor adanya kesamaan etnis serta agama memberikan etnis Rohingya rasa aman untuk tetap menetap di Bangladesh daripada harus kembali ke wilayahnya meskipun kamp pengungsian di Bnagladesh tidak layak untuk dihuni (Bashar, 2012).
Namun perihal migrasi dan eksodus ini tidak diprediksi oleh AICHR sebelumnya sehingga dampak yang diakibatkan oleh konflik sangat besar dan mengganggu stabilitas dari kawasan lainnya. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang terkena dampak dari adanya migrasi etnis Rohingya. Saat ini Indonesia mencoba mendorong Pemerintah Myanmar untuk dapat menindak lanjuti laporan yang berjudul “Towards a Peaceful, Fair, and Properous Future for the People of Rakhine” yang merupakan hasil investigasi yang dipimpin oleh Kofi Annan (Bashar, 2012). Laporan tersebut merupakan hasil kerjasama pejabat Pemerintah Myanmar dengan sipil lain dengan tujuan untuk meneliti akar permasalahan konflik yang terjadi di Rakhine dimana mayoritas etnis Rohingya menetap.
Salah satu pengamat Hubungan Internasional yang pernah berkecimpung langsung di dalam AICHR yakni Dinna Wisnu memberikan pandangan bahwa di satu sisi sejumlah badan dan elemen yang berada di Myanmar sebetulnya ingin bergerak untuk menegakkan dan memajukan hak asasi manusia dan mengatasi permasalahan mengenai Rohingya dan Pemerintah Myanmar, akan tetapi di sisi lainnya sebagian lebih negara ASEAN yang memiliki kepentingan di Myanmar terkait pemejuan HAM regional tidak memberikan insentif dalam bentuk apapun kepada Myanmar baik dalam bentuk ekonomi maupun politik (Wisnu, 2019).
Sehingga hal ini menjadikan Pemerintah Myanmar akan merasa tidak akan diuntungkan atau dirugikan apabila konflik tersebut tidak terselesaikan.
Universitas Pertamina - 60
3.2 Analisis Faktor Internal Efektivitas AICHR dalam Penanganan Konflik