• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

4

II. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

2.1 Kondisi Umum Lingkungan Usaha

Produksi komoditas singkong pada daerah Jawa Timur cukup tinggi, namun hal ini tidak diimbangi dengan keberagaman olahan yang dihasilkan. Pemanfaatan singkong menjadi tepung mocaf sebagai bahan baku pembuatan roti pada isian mochi merupakan salah satu upaya untuk menambah keberagaman pada hasil olahan singkong. Kebanyakan masyarakat mengenal mochi dengan isian rasa yang monoton seperti kacang, coklat, maupun stroberi. Kehadiran Munchy Mochi diharapkan dapat mengubah stigma masyarakat bahwa mochi tidak hanya tersedia dalam rasa yang itu itu saja, melainkan juga bisa dikombinasikan dengan buah segar, whipped cream, beserta roti berbahan dasar tepung mocaf. Target konsumsi kudapan ini selain sebagai camilan yang mengenyangkan juga diharapkan memberikan dampak menyehatkan pada tubuh.

Munchy Mochi merupakan produk mochi yang berisi roti lembut, whipped cream, dan isian buah segar. Roti yang digunakan terbuat dari substitusi tepung mocaf yaitu tepung singkong yang sudah dimodifikasi, serta ditambahkan whipped cream yang terbuat dari bahan rendah kalori. Proses pembuatan dan pengemasan produk dilakukan secara higienis dengan selalu menggunakan kemasan yang baru dan aman untuk mengemas makanan. Selain itu, dalam proses pembuatan dan pengemasan produk selalu memperhatikan protokol kesehatan, seperti penggunaan masker, sarung tangan plastik, serta penggunaan apron.

Target pasar Munchy Mochi adalah kalangan remaja dengan rentang usia 10- 24 tahun. Remaja dengan rentang usia tersebut dipilih karena memiliki kecenderungan untuk mengikuti trend, serta suka mencari hal-hal baru dan membagikan informasi yang mereka dapat kepada teman-temannya sehingga informasi tersebut akan lebih cepat tersebar. Makanan semacam ini umumnya disukai oleh kalangan remaja utamanya remaja perempuan, dimana mereka lebih memilih untuk memakan camilan dibandingkan makanan berat. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Przystawski, dkk. (2011), yang menyatakan bahwa selain mengkonsumsi makanan utama, remaja putri juga mengkonsumsi camilan karena sangat menyukainya.

(2)

2.2 Peluang Pasar 2.2.1 Analisa SWOT

Analisis SWOT merupakan metode perencanaan untuk mengevaluasi Strength (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman) dalam suatu bisnis usaha. Analisis ini melibatkan penentuan tujuan usaha serta identifikasi faktor internal maupun eksternal yang baik dan menguntungkan untuk mencapai tujuan tersebut (Anwar dan Utami, 2012). Faktor eksternal berperan dalam memantau lingkungan mikro dan makro ekonomi melalui peluang (opportunities) dan ancaman

(

threats) yang berhubungan dengan organisasi. Faktor internal dievaluasi dalam bentuk kekuatan (strength), dan kelemahan (weakness) perusahaan (Kotler dan Keller, 2012). Semakin jelas pemahaman tentang kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), maka semakin kecil peluang (opportunities) untuk tidak terealisasi. Peluang yang baik dapat digunakan untuk melawan ancaman (threats), sedangkan kelemahan (weakness) dapat diatasi dengan kekuatan (strength) perusahaan. (Gürel dan Tat, 2017). Bila diterapkan dengan benar, asumsi sederhana ini dapat berdampak besar pada desain strategi yang sukses dan analisis lingkungan bisnis yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman dalam perusahaan (Astuti, 2020). Berdasarkan pernyataan tersebut, maka hasil analisis SWOT dari produk Munchy Mochi adalah sebagai berikut :

a. Strengths (kekuatan)

- Bebas bahan pengawet dan pemanis buatan - Rendah gluten dan rendah kalori

- Menggunakan bahan baku yang berkualitas b. Weaknesses (kelemahan)

- Modal yang dimiliki terbatas

- Daya simpan produk tidak tahan lama - Brand keluaran baru dan belum kuat - Belum ada uji klinis mengenai produk c. Opportunities (peluang)

- Masyarakat Indonesia banyak yang menyukai camilan

(3)

- Mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengetahui kue mochi sehingga produk mudah diterima masyarakat.

d. Threats (ancaman)

- Bersaing dengan usaha sejenis

- Munculnya produk mochi yang lebih inovatif 2.2.2 Data Organoleptik

Uji organoleptik atau uji sensorik adalah metode pengujian yang menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk mengukur penerimaan produk. Dalam evaluasi pangan, sifat yang menentukan daya terima suatu produk adalah sifat organoleptiknya. Indera yang digunakan untuk menilai sifat sensorik adalah penglihatan, peraba, penciuman, dan perasa (Suryono, dkk., 2018). Syarat- syarat yang harus ada dalam uji indera adalah adanya sampel, kehadiran panelis, dan pernyataan tanggapan yang jujur. Penilaian sensori ini terdiri dari enam tahap yaitu pertama menerima materi, mengidentifikasi materi, memperjelas sifat-sifat materi, mengingat kembali materi yang diamati, serta mendeskripsikan sifat-sifat sensorik produk (Wahyuningtias, 2010). Uji organoleptik kali ini dilakukan dengan metode home-tasting menggunakan rating atribut dengan panelis tidak terlatih sebanyak 25 orang. Uji organoleptik ini meliputi aspek warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan. Panelis yang telah mencicipi sampel kemudian diminta untuk mengisi formulir yang telah disediakan.

2.2.2.1 Warna

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, dapat diketahui bahwa perbedaan proporsi penggunaan tepung ketan dan tepung mocaf memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai organoleptik warna kue mochi (P<0.05), dengan hasil rata- rata nilai organoleptik warna mochi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Hasil Analisis Organoleptik Warna Mochi oleh Formulasi Tepung Ketan dan Tepung Mocaf

Perlakuan Warna

F0 (0% tepung mocaf : 100% tepung ketan) = kontrol 3,84a

F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) 3,92a

F2 (40% tepung mocaf : 60% tepung ketan) 2,84b

F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) 2,92b

F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) 2,16c

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Duncan α 5%

(4)

Berdasarkan Tabel 1 hasil uji organoleptik warna di atas, terlihat bahwa skor parameter warna kue mochi berkisar antara 2,16-3,92 dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) yaitu sebesar 3,92 (cerah). Sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) yang menghasilkan nilai 2,16 (tidak cerah). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan tepung mocaf maka warna kue mochi akan semakin gelap. Perbedaan warna yang dihasilkan pada penggunaan tepung mocaf disebabkan karena saat proses fermentasi berlangsung, tepung mocaf belum dapat menghasilkan warna putih secara keseluruhan sehingga masih berwarna coklat. Warna gelap yang dihasilkan juga dapat berasal dari kandungan karbohidrat tepung mocaf. Apabila suatu bahan mengandung karbohidrat tinggi, maka reaksi pencoklatan yang terjadi akan semakin besar sehingga warna yang dihasilkan akan semakin gelap (Wiraswati, 2013). Tepung mocaf mengandung karbohidrat sebesar 85 gram (Asmoro, 2018), sedangkan tepung ketan memiliki kandungan karbohidrat sebesar 81,05 gram (Hafizah, 2018).

2.2.2.2 Aroma

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, dapat diketahui bahwa perbedaan proporsi penggunaan tepung ketan dan tepung mocaf memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai organoleptik aroma kue mochi (P<0.05) dengan hasil rata- rata nilai organoleptik aroma mochi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Hasil Analisis Organoleptik Aroma Mochi oleh Formulasi Tepung Ketan dan Tepung Mocaf

Perlakuan Aroma

F0 (0% tepung mocaf : 100% tepung ketan) = kontrol 3,36ab

F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) 3,44a

F2 (40% tepung mocaf : 60% tepung ketan) 2,72c

F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) 3,64a

F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) 2,84bc

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Duncan α 5%

Berdasarkan Tabel 2 hasil uji organoleptik aroma di atas, terlihat bahwa skor parameter aroma kue mochi berkisar antara 2,72-3,64 dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) yang menghasilkan nilai 3,64 (tidak berbau singkong). Sedangkan nilai terendah terdapat

(5)

pada perlakuan F2 (40% tepung mocaf : 60% tepung ketan) dengan nilai sebesar 2,72 (netral). Berdasarkan hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kue mochi dengan penambahan tepung mocaf tidak memiliki aroma singkong. Hal ini disebabkan karena tepung mocaf mengalami proses fermentasi dimana asam laktat yang dihasilkan memberikan aroma dan cita rasa yang disukai pada mocaf. Cita rasa ini dapat menghilangkan aroma apek yang biasanya terdapat pada tepung dan produk olahan dari umbi-umbian (Khotimah, 2019). Selama fermentasi tepung mocaf berlangsung, maka akan menghasilkan aroma dan citarasa khas yang dapat menutupi aroma dan citarasa singkong yang cenderung tidak menyenangkan konsumen ketika bahan tersebut diolah. Hal ini karena hidrolisis granula pati menghasilkan monosakarida sebagai bahan baku penghasil asam-asam organik, terutama asam laktat yang akan terserap dalam bahan (Fenia, 2019).

2.2.2.3 Rasa

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, dapat diketahui bahwa perbedaan proporsi penggunaan tepung ketan dan tepung mocaf memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai organoleptik rasa kue mochi (P<0,05) dengan hasil rata- rata nilai organoleptik rasa mochi dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Hasil Analisis Organoleptik Rasa Mochi oleh Formulasi Tepung Ketan dan Tepung Mocaf

Perlakuan Rasa

F0 (0% tepung mocaf : 100% tepung ketan) = kontrol 3,56a

F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) 3,24ab

F2 (40% tepung mocaf : 60% tepung ketan) 2,76bc

F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) 3,20ab

F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) 2,56c

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Duncan α 5%

Berdasarkan Tabel 3 hasil uji organoleptik rasa di atas, terlihat bahwa skor parameter rasa kue mochi berkisar antara 2,56-3,56 dengan nilai rasa tertinggi terdapat pada perlakuan F0 (tepung ketan 100%) yang menghasilkan nilai 3,56 (enak). Sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) yaitu sebesar 2,56 (netral). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak tepung ketan yang disubstitusi maka nilai organoleptik rasa kue mochi yang dihasilkan semakin menurun. Perlakuan kontrol (100% tepung ketan) mendapatkan

(6)

nilai yang lebih tinggi dapat disebabkan karena panelis lebih familiar dengan rasa mochi yang normalnya berbahan dasar tepung ketan dibandingkan dengan tepung mocaf, sehingga panelis lebih menyukai sampel perlakuan kontrol. Fermentasi singkong menyebabkan naiknya viskositas, kemudahan larut, dan cita rasa tepung mocaf menjadi netral dengan menutupi cita rasa singkong hingga 70% (Cutyanti, 2018). Menurut Harjanto (2021), adanya penambahan tepung mocaf menyebabkan nilai organoleptik rasa semakin menurun, hal ini disebabkan karena semakin banyak penambahan tepung mocaf, rasa yang dihasilkan semakin hambar dan memiliki aroma yang pahit.

2.2.2.4 Tekstur

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, dapat diketahui bahwa perbedaan proporsi penggunaan tepung ketan dan tepung mocaf memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai organoleptik tekstur kue mochi (P<0,05) dengan hasil rata- rata nilai organoleptik tekstur mochi dapat dilihat pada Tabel 4 berikut

Tabel 4. Hasil Analisis Organoleptik Tekstur Mochi oleh Formulasi Tepung Ketan dan Tepung Mocaf

Perlakuan Tekstur

F0 (0% tepung mocaf : 100% tepung ketan) = kontrol 4,00a

F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) 4,24a

F2 (40% tepung mocaf : 60% tepung ketan) 2,80c

F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) 3,44b

F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) 1,88d

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Duncan α 5%

Berdasarkan Tabel 4 hasil uji organoleptik tekstur di atas, terlihat bahwa nilai tekstur kue mochi berkisar antara 1,88-4,24 dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) yang menghasilkan nilai sebesar 4,24 (kenyal). Sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) yaitu sebesar 1,88 (tidak kenyal). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak tepung ketan yang disubstitusi, maka nilai organoleptik tekstur kue mochi semakin menurun. Nilai tekstur kue mochi ini dipengaruhi oleh kandungan amilopektin yang berperan dalam tingkat kekenyalan bahan. Semakin banyak substitusi tepung mocaf yang ditambahkan, maka tekstur mochi semakin tidak kenyal. Hal ini disebabkan karena perbedaan kandungan

(7)

amilopektin pada tepung ketan dan tepung mocaf, dimana kandungan amilopektin pada tepung ketan sebesar 87% sedangkan pada tepung mocaf sebesar 75%.

Amilopektin tidak dapat membentuk gel tetapi bersifat lengket (kohesif) dan elastis (gummy texture). Amilopektin dapat mempengaruhi kemampuan gelatinisasi sehingga kue yang dihasilkan semakin kenyal dan lengket. Semakin sedikit kadar amilopektin yang terkandung dalam suatu bahan, maka tingkat kekenyalannya akan semakin berkurang (Wiraswati, 2013). Hasil uji organoleptik ini juga sesuai dengan hasil uji tekstur menggunakan texture analyzer dimana semakin banyak penambahan tepung mocaf, maka gaya yang dibutuhkan semakin besar karena tekstur mochi semakin keras.

2.8.5 Kesukaan

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, dapat diketahui bahwa perbedaan proporsi penggunaan tepung ketan dan tepung mocaf memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai organoleptik kesukaan kue mochi (P<0,05) dengan hasil rata-rata nilai organoleptik kesukaan mochi dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5. Hasil Analisis Organoleptik Kesukaan Mochi oleh Formulasi Tepung Ketan dan Tepung Mocaf

Perlakuan Kesukaan

F0 (0% tepung mocaf : 100% tepung ketan) = kontrol 3,28a

F1 (20% tepung mocaf : 80% tepung ketan) 3,08ab

F2 (40% tepung mocaf : 60% tepung ketan) 2,92ab

F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) 3,32a

F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) 2,60b

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji Duncan α 5%

Berdasarkan Tabel 5 hasil uji organoleptik kesukaan di atas, terlihat bahwa nilai organoleptik kesukaan kue mochi berkisar antara 2,60-3,32 dengan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan F3 (60% tepung mocaf : 40% tepung ketan) yang menghasilkan nilai sebesar 3,32 (netral). Sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan F4 (80% tepung mocaf : 20% tepung ketan) yaitu sebesar 2,60 (netral).

Hal ini menunjukkan bahwa panelis memiliki nilai kesukaan yang sama antara perlakuan kontrol maupun perlakuan dengan substitusi tepung mocaf. Secara keseluruhan, panelis paling menyukai kue mochi dengan formulasi 60% tepung mocaf dan 40% tepung ketan yang memiliki nilai organoleptik warna 2,92 (netral),

(8)

aroma 3,64 (tidak berbau singkong), rasa 3,20 (netral), dan tekstur 3,44 (netral). Hal ini disebabkan karena mochi dengan tepung mocaf memiliki tekstur yang tidak terlalu lengket serta dari segi warna, aroma, dan rasa tidak berbeda jauh dengan mochi dari tepung ketan. Menurut Salim (2011), tepung mocaf adalah tepung singkong yang dibuat dari prinsip modifikasi singkong yang difermentasi. Tepung yang dihasilkan dari proses fermentasi singkong ditandai dengan bau netral (cenderung harum), tekstur lembut, warna lebih putih, mudah dicerna, lengket, kemampuan gelasi, rehidrasi dan kelarutan sangat tinggi.

2.3 Analisa Ekonomi

2.3.1 Analisa Kelayakan Usaha

Analisis studi kelayakan usaha bisnis merupakan kegiatan analisis untuk menilai sejauh mana manfaat (benefit) yang dapat diperoleh apabila suatu usaha dijalankan atau dikembangkan dengan pertimbangan dari berbagai aspek, yang keseluruhan aspek tersebut harus mengandung hal-hal positif untuk dapat dikatakan layak (Naibaho, 2014). Studi kelayakan yang juga sering disebut dengan feasibility study merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan gagasan usaha atau proyek yang direncanakan diterima atau ditolak. Penyusunan studi kelayakan bisnis lebih banyak menggunakan perhitungan yang bersifat kuantitatif, yaitu perhitungan yang berhubungan dengan perkiraan, penafsiran, dan peramalan tentang berbagai peluang serta tantangan dalam dunia usaha yang mungkin terjadi di masa mendatang (Arnold, dkk., 2020).

A. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah total tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu dan tergantung jenis kegiatan usaha yang dijalankan (Asnidar dan Asrida, 2017). Biaya penyusutan peralatan terdiri dari biaya penyusutan kompor gas sebesar Rp 21.825, regulator sebesar Rp 13.290, braiser pan sebesar Rp 21.825, timbangan digital sebesar Rp 4.430, baskom besar sebesar Rp 4.430, pengaduk plastik sebesar Rp 1.329, gelas ukur sebesar Rp1.772, ayakan sebesar Rp 2.215, baskom kecil sebesar Rp 3.322,5, roller pin sebesar Rp 4.430, cetakan kue bulat sebesar Rp 664,5, mixer sebesar Rp 21.825, oven sebesar Rp 29.100, loyang sebesar Rp 1.329, pisau sebesar Rp 1.107,5, talenan sebesar Rp 1.329, dan cetakan sebesar

(9)

Rp 1.993,5 per tahun. Biaya tetap produksi Munchy Mochi dapat dilihat pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Biaya Tetap Produksi Munchy Mochi No Fixed Cost ∑ P0 (Rp) Jumlah

P0 (Rp)

Umur Ekonomis

Nilai Tabel

Aw (Rp) 1. Kompor gas 1 150.000 150.000 8 tahun 0,1455 21.825 2. Regulator 1 60.000 60.000 5 tahun 0,2215 13.290 3. Braiser pan 1 150.000 150.000 8 tahun 0,1455 21.825 4. Timbangan digital 1 20.000 20.000 5 tahun 0,2215 4.430 5. Baskom besar 2 10.000 20.000 5 tahun 0,2215 4.430 6. Pengaduk plastik 2 3.000 6.000 5 tahun 0,2215 1.329 7. Gelas ukur 1 8.000 8.000 5 tahun 0,2215 1.772 8. Ayakan 1 10.000 10.000 5 tahun 0,2215 2.215 9. Baskom kecil 3 5.000 15.000 5 tahun 0,2215 3.322,5 10. Roller pin 1 20.000 20.000 5 tahun 0,2215 4.430 11. Cetakan kue bulat 1 3.000 3.000 5 tahun 0,2215 664,5 12. Mixer 1 150.000 150.000 8 tahun 0,1455 21.825 13. Oven 1 200.000 200.000 8 tahun 0,1455 29.100

14. Loyang 2 6.000 6.000 5 tahun 0,2215 1.329

15. Pisau 1 5.000 5.000 5 tahun 0,2215 1.107,5 16. Talenan 1 6.000 6.000 5 tahun 0,2215 1.329 17. Cetakan 3 3.000 9.000 5 tahun 0,2215 1.993,5

TOTAL 809.000 838.000 136.217

Berdasarkan Tabel 6 di atas terlihat bahwa rata-rata penggunaan biaya tetap yang harus dikeluarkan pada usaha Munchy Mochi berupa penyusutan alat sebesar Rp.136.217 per tahun.

B. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan (Asnidar dan Asrida, 2017). Biaya variabel produksi Munchy Mochi dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.

Tabel 7. Biaya Variabel (Investasi) Produksi Munchy Mochi No. Variable Cost Banyak

(per bulan)

Satuan unit

Harga/

satuan (Rp)

Harga/

bulan (Rp)

Jumlah/

tahun (Rp)

1. Tepung ketan 4 kg 10.000 40.000 480.000

2. Gula pasir 0,6 kg 13.500 8.100 97.200

3. Tepung maizena 0,36 kg 14.000 5.040 60.480

4. Tepung tapioka 0,18 kg 12.000 2.160 25.920

5. Garam 0,02 kg 8.000 160 1.920

6. Vanili 0,01 kg 50.000 500 6.000

7. Minyak sayur 0,24 L 19.500 4.680 56.160

8. Susu low fat 3 L 18.000 54.000 648.000

9. Non dairy creamer 0,36 kg 32.000 11.520 138.240

(10)

Tabel 8. Biaya Variabel (Operasional) Produksi Munchy Mochi No. Variable Cost

Banyak (per bulan)

Satuan unit

Harga/

satuan (Rp)

Harga/

bulan (Rp)

Jumlah/

tahun (Rp) 1. Isi ulang gas 1 tabung 20.000 20.000 240.000

2. Air PDAM 5 m3 7.450 37.250 447.000

3. Listrik 0,4 kWh 1.352 540,8 6.489,6

4. BBM 2,6 L 7.650 20.000 240.000

5. Tenaga kerja 2 orang 346.140 692.280 8.307.360

TOTAL 382.592 769.960,8 9.240.850

Berdasarkan Tabel 7, terlihat bahwa penggunaan biaya variabel untuk bahan baku sebesar Rp 3.808.800 per tahun. Sedangkan berdasarkan Tabel 8, terlihat bahwa biaya operasional yang harus dikeluarkan selama setahun adalah sebesar Rp 9.240.850. Biaya operasional ini terdiri atas biaya isi ulang gas, air, listrik, BBM, serta biaya tenaga kerja. Maka total biaya variabel yaitu jumlah dari biaya investasi ditambah dengan biaya operasional, dengan total nilai sebesar Rp 13.049.650/tahun.

Tabel 9. Rincian Biaya Munchy Mochi

Nama Produk

Harga Satuan

Target Penjualan (perbulan)

Jumlah Pendapatan

Perbulan (Rp)

Target Penjualan (pertahun)

Jumlah Pendapatan

Pertahun (Rp) Munchy

Mochi Rp 10.000 160 pcs 1.600.000 1.920 pcs 19.200.000 No. Variable Cost

Banyak (per bulan)

Satuan unit

Harga/

satuan (Rp)

Harga/

bulan (Rp)

Jumlah/

tahun (Rp)

10. Susu skim bubuk 0,1 kg 60.000 6.000 72.000

11. Cream of tartar 0,02 kg 75.000 1.500 18.000

12. Tepung mocaf 0,24 kg 20.000 4.800 57.600

13. Telur 1 kg 23.500 23.500 282.000

14. Stroberi 0,5 kg 40.000 20.000 240.000

15. Pisang 0,5 kg 15.000 7.500 90.000

16. Melon 0,5 kg 12.000 6.000 72.000

17. Pewarna makanan 3 botol 1.500 4.500 54.000

18. Kemasan mika + penutup

160 pcs 563 90.080 1.080.960

19. Stiker kemasan 160 pcs 121 19.360 232.320

20. Cup kertas 160 pcs 30 4.800 57.600

21. Gloves 16 pcs 200 3.200 38.400

TOTAL 425.771 454.520 3.808.800

(11)

Pengeluaran = Biaya tetap + biaya variabel + biaya operasional

= Rp 136.217 + Rp 3.808.800 + Rp 9.240.850

= Rp 13.185.867/tahun Perhitungan Net Present Value (NPV) NPV = Pendapatan – Pengeluaran

= Rp 19.200.000 - Rp 13.185.867

= Rp 6.014.133

Berdasarkan hasil perhitungan, nilai NPV usaha Munchy Mochi menunjukkan hasil Rp 6.014.133, yang menunjukka nilai positif dan memiliki nilai > 0, maka dapat disimpulkan bahwa usaha Munchy Mochi ditinjau dari perhitungan NPV layak untuk dijalankan.

Perhitungan B/C Analisis B/C = Aw B / Aw C

Aw B = EUAB (biaya pemasukan)

= Rp 6.014.133

Aw C = EUAC (biaya pengeluaran)

= Rp 13.185.867

B/C Analisis = Rp 6.014.133/ Rp 13.185.867

= 0,456 < 1

Berdasarkan hasil perhitungan, nilai B/C analisis menghasilkan nilai sebesar 0,456 yang diperoleh dari hasil bagi antara biaya pemasukan dengan biaya pengeluaran. Nilai B/C analisis menunjukkan nilai < 1 yang artinya usaha tidak layak untuk dijalankan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 0,456

Perhitungan BEP Analisis

Diketahui : Unit produksi = 1.920 pcs/tahun Harga/unit = Rp 10.000/pcs produk Biaya tetap = Rp 136.217

Biaya variabel = Rp 13.049.650/tahun Biaya per unit = Biaya variabel/Unit produksi

= Rp 13.049.650/ 1.920

= Rp 6.796,69

(12)

MK = Harga jual per unit – biaya per unit

= Rp 10.000 - Rp 6.796,69

= Rp 3.203,31 Rasio MK = MK/Harga per unit

= Rp 3.203,31/ Rp 10.000

= 0,320

BEP Unit = Biaya tetap/ MK

= Rp 136.217/ Rp 3.203,31

= 42,52 pcs

= 43 pcs

BEP Rupiah = Biaya tetap / Rasio MK

= Rp 136.217/ 0, 320

= Rp 425.678,125

Berdasarkan hasil perhitungan, usaha Munchy Mochi akan berada pada titik impas ketika dapat menjual 43 pcs produk dengan harga Rp 10.000/pcs atau menghasilkan omset sebesar Rp 425.678,125.

ROR Analisis (IRR)

Pengeluaran = Rp 13.185.867 Pemasukan = Rp 19.200.000 Tabel 10. Tabel IRR Munchy Mochi

Pertahun Nominal

Pengeluaran Rp 13.185.867

Pemasukan Rp 19.200.000

IRR 32,69%

Berdasarkan Tabel 10, nilai IRR yang dihasilkan usaha Munchy Mochi adalah sebesar 32,69% > 3,5% (MARR), sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha Munchy Mochi layak untuk diusahakan atau dikembangkan.

Perhitungan Payback Analysis Diketahui :

First Cost (I) = Rp 838.000/tahun Benefit (Ab) = Rp 19.200.000/tahun Payback periode = I/Ab

= Rp 838.000/ Rp 19.200.000

= 0,194

(13)

Tabel 11. Payback Analysis Munchy Mochi

Tahun Pengeluaran (Rp) Pemasukan (Rp) Total Biaya Pemasukan (Rp)

0 -838.000

1 -838.000 19.200.000 18.362.000

2 -838.000 19.200.000 37.562.000

3 -838.000 19.200.000 56.762.000

4 -838.000 19.200.000 75.962.000

5 -838.000 19.200.000 95.162.000

Berdasarkan perhitungan, menunjukkan bahwa usaha Munchy Mochi memiliki jangka waktu pengembalian modal selama 0,194 atau 2 bulan 9 hari. Hasil perhitungan 0,194 diperoleh dari nilai total biaya tetap pertahun sebesar Rp 838.000 dibagi dengan total keuntungan pertahun sebesar Rp 19.200.000.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan perbedaan komposisi tepung terigu yang disubtitusi dengan tepung jagung putih lokal muna pada produk mie

Hasil analisis sidik ragam dan uji lanjut DNMRT pada taraf 5% menunjukkan bahwa penggunaan tepung jagung dengan tepung tempe memberikan pengaruh nyata

Data kelangsungan hidup ikan patin selama penelitian Berdasarkan analisis sidik ragam dapat diketahui bahwa perlakuan penambahan tepung jintan hitam memberikan pengaruh

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, dapat diketahui bahwa terdapat interaksi yang nyata (p≤0,05) antara perlakuan proporsi tepung mangrove dan tepung beras

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam dan uji pembeclaan Duncan diperoleh bahwa perbedaan proporsi molase dan air kelapa sebagai media fermentasi memberikan

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan perbedaan komposisi tepung terigu yang dicampur dengan tepung ubi kayu termodifikasi dan ekstrak daun kelor

Memberikan pelatihan pembuatan makanan dari bahan tepung mocaf kepada ibu - ibu PKK di sekitar Masjid Jami’ Kintelan 5.. Memberikan pelatihan pembuatan susu ketan dan lumpia basah

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa substitusi tepung ketan hitam memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata dengan F hitung > F tabel terhadap kadar air biskuit yang