52
Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V SDN Baran 02 Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang sebelum diadakan penelitian belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 41,46%. Hal ini disebabkan karena pembelajaran IPA di SDN Baran 02 masih menggunakan cara yang konvensional yaitu hanya dengan ceramah sehingga ketertarikan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran sangat kurang. Hal tersebut mengakibatkan pengetahuan siswa tidak berkembang hanya bergantung pada informasi yang diberikan oleh guru. Hasil belajar siswa kelas V SDN Baran 02 mata pelajaran IPA dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini :
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA Kondisi Awal No. Rentang Nilai Frekuensi Persentase (%)
1 56-62 6 14.63
2 63-69 11 26.83
3 70-76 9 21.95
4 77-83 9 21.95
5 84-90 5 12.20
6 91-97 1 2.44
Jumlah 41 100.00
Nilai Rata-rata 73
Nilai Tertinggi 92
Nilai Terendah 56
Tabel 4.1 menunjukkan hasil belajar IPA pra siklus dengan nilai rata-rata 73 dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ≥ 70. Nilai terendah yang diperoleh 56 sedangkan nilai tertinggi yang diperoleh 92. Dari tabel tersebut diketahui rentang nilai 52-62 frekuensinya sebanyak 6 dengan persentase 14,63 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 63-69 frekuensinya sebanyak 11 dengan
persentase 26,83 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 70-76 frekuensinya sebanyak 9 dengan persentase 21,95 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 77-83 frekuensinya sebanyak 9 dengan persentase 21,95 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 84-90 frekuensinya sebanyak 5 dengan persentase 12,20 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 91-97 frekuensinya sebanyak 1 dengan persentase 2,44% dari jumlah keseluruhan siswa. Berdasarkan tabel 4.1 dapat digambarkan dalam diagram 4.1 sebagai berikut :
Diagram 4.1 Distribusi Frekuensi Nilai IPA Kondisi Awal
Dari diagram diatas dapat kita lihat frekuensi nilai IPA yang diperoleh siswa kelas V SD N Baran 02 pada kondisi awal sebelum diterapkan pembelajaran inkuiri dan pemanfaatan media pembelajaran. Masih banyak siswa yang belum mencapai KKM yaitu sebanyak 17 siswa sedangkan siswa yang lainnya sudah mencapai KKM yang sudah ditentukan yaitu sebanyak 24 siswa. Dalam persentase frekuensi nilai siswa yang belum mencapai KKM sebesar 41,46% dan 58,54% siswa yang sudah mencapai KKM yang sudah ditentukan.
0 2 4 6 8 10 12
56-62 63-69 70-76 77-83 84-90 91-97
Jumlah Siswa
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kondisi awal dapat dilihat pada tabel 4.2 s
Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal Nillai Kategori
≥ 70 T
< 70 Tidak tuntas Jumlah
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan hasil belajar siswa pada kondisi awal.
Dari jumlah seluruh siswa yaitu 41, siswa yang tuntas sebanyak 24 siswa atau sebesar 58,34% siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 17 siswa atau sebesar 41.56% siswa.
Ketuntasan hasil belajar siswa padal tabel 4.2 dapat dibuat dengan diagram 4.2 sebagai berikut :
Diagram 4.2 Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ≥ 70 hasil belajar IPA kondisi awal dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2
Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
Kategori Frekuensi Persentase
Tuntas 24
idak tuntas 17
umlah 41
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan hasil belajar siswa pada kondisi awal.
jumlah seluruh siswa yaitu 41, siswa yang tuntas sebanyak 24 siswa atau sebesar 58,34% siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 17 siswa atau sebesar
Ketuntasan hasil belajar siswa padal tabel 4.2 dapat dibuat dengan diagram
Diagram 4.2 Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
58,54%
41,46%
Tuntas Tidak Tuntas
≥ 70 hasil belajar IPA
ersentase (%) 58.54 41.46 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan hasil belajar siswa pada kondisi awal.
jumlah seluruh siswa yaitu 41, siswa yang tuntas sebanyak 24 siswa atau sebesar 58,34% siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 17 siswa atau sebesar
Ketuntasan hasil belajar siswa padal tabel 4.2 dapat dibuat dengan diagram
Diagram 4.2 Ketuntasan Hasil Belajar IPA Kondisi Awal
Tidak Tuntas
4.2 Deskripsi dan Pelaksanaan Tindakan Siklus I 4.2.1 Deskripsi siklus I
Pada siklus I akan dijelaskan tentang tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, hasil observasi dan refleksi.
4.2.2 Perencanaan Tindakan
Kegiatan pembelajaran pada siklus I akan dilaksanakan dalam 2 pertemuan dengan rincian sebagai berikut :
a) Pertemuan Pertama
. Sebelum mengajar pada pertemuan pertama, maka peneliti menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya (RPP), lembar evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman awal siswa terhadap materi pelajaran, lembar observasi untuk siswa, buku pembelajaran.
Peneliti merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan pendekatan inkuiri dengan kompetensi dasar mendeskripsikan sifat-sifat cahaya.
Kemudian peneliti mempersiapkan alat peraga berupa media benda konkret. Alat peraga yang dipersiapkan berupa senter, cermin datar, buku,kayu. Selain itu peneliti juga menyiapkan daftar presensi siswa, lembar observasi siswa, lembar observasi kegiatan guru, lembar kerja kelompok, lembar penilaian kelompok dan buku pembelajaran. Selanjutnya peneliti dan guru mempelajari kegiatan pembelajaran siklus I pada pertemuan pertama.
b) Pertemuan kedua
Perencanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan kedua sebagai tindak lanjut dari hasil belajar siswa dan kekurangan/kelemahan pada pertemuan I maka pada perencanaan pertemuan kedua masih sama dengan pertemuan pertama.
Peneliti menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya (RPP), lembar evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, lembar observasi untuk siswa, buku pembelajaran, serta ruang/lokasi yang akan digunakan saat pembelajaran berlangsung.
Peneliti merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar mendeskripsikan sifat-sifat cahaya. Kemudian peneliti mempersiapkan alat peraga berupa media benda konkret. Alat peraga yang dipersiapkan berupa senter, cermin datar, gelas, air, cakram warna. Selain itu peneliti juga menyiapkan daftar presensi siswa, lembar observasi siswa, lembar observasi kegiatan guru, lembar kerja kelompok, lembar penilaian kelompok dan buku pembelajaran. Guru juga mengadakan tes evaluasi yang terdiri dari 20 soal pilihan ganda. Selanjutnya peneliti dan guru mempelajari kegiatan pembelajaran siklus I pada pertemuan kedua.
4.2.3 Pelaksanaan Tindakan dan Hasil Observasi a) Pelaksanaan Pertemuan Pertama
Pelaksanaan tindakan pada siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada Selasa, 1 April 2014 pukul 07.00-08.10 WIB. Kegiatan awal pembelajaran pada pertemuan pertama yang diawali dengan mengucapkan salam, kemudian guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Setelah itu guru mengecek kehadiran siswa. Kemudian guru menanyakan kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran, setelah itu guru memberikan apersepsi dengan memberikan pertanyaan “apa yang terjadi jika kamu berada di tempat yang gelap? Dapatkah kamu melihat benda- benda di sekitarmu?”. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menyebutkan sifat-sifat cahaya, mendeskripsikan sifat-sifat cahaya yang mengenai benda, menyebutkan macam-macam benda yang dapat memantulkan cahaya, mendeskripsikan sifat-sifat cahaya yang mengenai cermin datar dan mendeskripsikan sifat-sifat cahaya yang mengenai cermin lekung. Setelah kegiatan awal, dilanjutkan dengan kegiatan inti yang meliputi tahap mengajukan pertanyaan atau permasalahan.
Pada kegiatan tersebut guru mengajukan pertanyaan “Bagaimana arah cahaya senter apabila diarahkan mengenai sebuah benda?” (kegiatan eksplorasi).
Kemudian guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah (kegiatan eksplorasi). Selanjutnya guru membagi 41 siswa menjadi 6 kelompok, dari 6 kelompok tersebut 5 kelompok berjumlah 7 anggota dan 1 kelompok 6 anggota.
Selanjutnya tahap merumuskan hipotesis, pada tahap ini guru membimbing siswa merumuskan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap mengumpulkan data, dalam tahap ini yang dilakukan oleh guru yaitu membagikan alat peraga kepada setiap kelompok dan menyuruh siswa melakukan percobaan sesuai lembar kerja yang dibagikan, kemudian menyuruh siswa mengidentifikasi percobaan yang telah dilakukan (kegiatan elaborasi).
Selanjutnya, tahap analisis data, guru meminta siswa mendiskusikan percobaaan yang telah dilakukan, kemudian menyuruh siswa mempresentasikan hasil percobaan dan kelompok lain menanggapi apabila ada pebedaan dan memberikan alasan atau komentar. Seluruh kelompok mendapat giliran untuk maju mempresentasikan hasil percobaan yang sudah dilakukan. Kemudian guru membimbing siswa dalam berdiskusi tentang kegiatan yang sudah dilakukan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapat yaitu memberikan kesimpulan mengenai kegiatan yang sudah dilakukan dan dipelajari.
Kemudian setelah menyampaikan kesimpulan mengenai apa yang sudah dilakukan dan dipelajari oleh siswa, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami (kegiatan konfirmasi). Hal ini dilakukan supaya dapat mengetahui apa saja yang masih belum dipahami oleh siswa selama pembelajaran. Selanjutnya dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari dalam kegiatan pembelajaran dan guru juga tidak boleh lupa untuk menyuruh siswa untuk belajar materi berikutnya. Hal ini dilakukan agar dalam mengikuti pembelajaran berikutnya siswa mengetahui sedikit tentang apa yang akan dipelajari. Kemudian guru menutup kegiatan pembelajaran dengan salam.
b) Hasil Observasi Pertemuan Pertama
Hasil observasi kegiatan mengajar guru siklus I pertemuan kedua dibagi dalam beberapa aspek, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3
Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus I Pertemuan Pertama
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 3,5
2 Kegiatan awal 3
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3
4 Merumuskan hipotesis 3
5 Mengumpulkan data 3
6 Menganalisis data 3
7 Membuat kesimpulan 3
8 Strategi pembelajaran 3
9 Pemanfaatan media pembelajaran 2
10 Penggunaan bahasa 3
11 Penutup 3
Rata-Rata 2.9
Total Skor 71
Kategori Baik
Berdasarkan tabel 4.3 hasil observasi kegiatan mengajar guru diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 2,9 sehingga masih termasuk kategori cukup.
Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 71 sehingga termasuk dalam kategori baik.
Selanjutnya hasil observasi aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi yang dijabarkan dalam beberapa aspek dilihat dari tabel berikut :
Tabel 4.4
Hasil Observasi Kinerja Siswa Siklus I Pertemuan Pertama
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 3
2 Kegiatan awal 3
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,5
4 Merumuskan hipotesis 1
5 Mengumpulkan data 2,7
6 Menganalisis data 3
7 Membuat kesimpulan 2
8 Strategi pembelajaran 3
9 Pemanfaatan media pembelajaran 3
10 Penggunaan bahasa 3
11 Penutup 3
Rata-Rata 2.7
Total Skor 57
Kategori Baik
Berdasarkan tabel 4.4 hasil observasi kinerja siswa diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 2,7 sehingga masih termasuk kategori cukup.
Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 57 sehingga termasuk dalam kategori baik.
c) Pelaksanaan Pertemuan Kedua
Pelaksanaan tindakan pada siklus I pertemuan kedua dilaksanakan pada Selasa, 4 April 2014 pukul 07.00-08.10 WIB. Kegiatan awal pembelajaran pada pertemuan pertama yang diawali dengan mengucapkan salam, kemudian guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Setelah itu guru mengecek kehadiran
siswa. Kemudian guru menanyakan kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran, setelah itu guru memberikan apersepsi dengan memberikan pertanyaan
“Bagaimana bentuk pensil yang di masukkan ke dalam gelas yang berisi air jernih?”. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mendeskripsikan pembiasan, menyebutkan contoh peristiwa pembiasan cahaya, mendeskripsikan penguraian cahaya, menyebutkan contoh peristiwa penguraian cahaya. Setelah kegiatan awal, dilanjutkan dengan kegiatan inti yang meliputi tahap mengajukan pertanyaan atau permasalahan. Pada kegiatan tersebut guru mengajukan pertanyaan “Bagaimana bentuk cahaya senter apabila diarahkan ke dalam gelas yang berisi air?” (kegiatan eksplorasi). Kemudian guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah (kegiatan eksplorasi).
Selanjutnya, guru membagi 41 siswa menjadi 6 kelompok, dari 6 kelompok tersebut 5 kelompok berjumlah 7 anggota dan 1 kelompok 6 anggota.
Selanjutnya tahap merumuskan hipotesis, pada tahap ini guru membimbing siswa merumuskan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap mengumpulkan data, dalam tahap ini yang dilakukan oleh guru yaitu membagikan alat peraga kepada setiap kelompok dan menyuruh siswa melakukan percobaan sesuai lembar kerja yang dibagikan, kemudian menyuruh siswa mengidentifikasi percobaan yang telah dilakukan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap analisis data, guru meminta siswa mendiskusikan percobaaan yang telah dilakukan, kemudian menyuruh siswa mempresentasikan hasil percobaan dan kelompok lain menanggapi apabila ada pebedaan dan memberikan alasan atau komentar. Guru membimbing siswa dalam berdiskusi tentang kegiatan yang sudah dilakukan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami (kegiatan konfirmasi).
Selanjutnya dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, kemudian guru memberikan evaluasi berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal untuk dikerjakan. Setelah itu guru menyuruh
siswa untuk belajar materi berikutnya. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan salam.
d) Hasil Observasi Pertemuan Kedua
Hasil observasi kegiatan mengajar guru siklus I pertemuan kedua dibagi dalam beberapa aspek, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.5
Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus I Pertemuan Kedua
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 4
2 Kegiatan awal 3
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,3
4 Merumuskan hipotesis 3
5 Mengumpulkan data 3,8
6 Menganalisis data 3
7 Membuat kesimpulan 3
8 Strategi pembelajaran 2,3
9 Pemanfaatan media pembelajaran 2
10 Penggunaan bahasa 3
11 Penutup 3
Rata-Rata 3,0
Total Skor 78
Kategori Baik
Berdasarkan tabel 4.5 hasil observasi kegiatan mengajar guru diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 3,0 sehingga termasuk kategori baik.
Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 78 sehingga termasuk dalam kategori baik.
Selanjutnya hasil observasi kinerja siswa dibagi menjadi beberapa aspek dan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6
Hasil Observasi Kinerja Siswa Siklus I Pertemuan Kedua
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 3
2 Kegiatan awal 3
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,5
4 Merumuskan hipotesis 2
5 Mengumpulkan data 3,3
6 Menganalisis data 3
7 Membuat kesimpulan 3
8 Strategi pembelajaran 3,5
9 Pemanfaatan media pembelajaran 3
10 Penggunaan bahasa 4
11 Penutup 3
Rata-Rata 2.8
Total Skor 64
Kategori Baik
Berdasarkan tabel 4.6 hasil observasi kinerja siswa diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 2,8 sehingga masih termasuk kategori cukup.
Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 64 sehingga termasuk dalam kategori baik.
4.2.4 Refleksi Siklus I
Setelah pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus I mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan kedua maka selanjutnya akan diadakan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran siklus I. Hasil refleksi diambil dari hasil
observasi yang sudah dilaksanakan pada siklus I. Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I ada kelebihan dan kekurangan pada kegiatan mengajar guru maupun pada kinerja siswa dalam penerapan pendekatan inkuiri. Kelebihannya yaitu siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran karena menggunakan alat peraga berupa media benda konkrit.
Kelemahan mengajar guru yang terjadi pada siklus I pertemuan pertama berdasarkan hasil observasi yaitu pada aspek kesiapan pembelajaran, strategi pembelajaran dan menggunakan media pembelajaran. Dalam aspek kesiapan pembelajan guru masih perlu ditingkatkan. Pada aspek strategi pembelajaran guru belum melaksanakan pembelajaran secara runtut dengan baik karena belum menguasai sintak pembelajaran dengan baik, selain itu guru juga belum menguasai kondisi kelas dengan baik. Dalam aspek menggunakan media pembelajaran guru masih kurang melibatkan siswa dalam pemanfaatan media, selain itu guru juga belum menggunakan media secara efektif dan efisien dengan baik. Kelemahan yang terjadi pada kinerja siswa dalam kegiatan pembelajaran siklus I pertemuan pertama yaitu siswa masih belum bisa merumuskan hipotesis, pada tahap presentasi siswa masih merasa malu atau grogi dalam mempresentasikan hasil diskusi mereka. Kemudian pada tahap membuat kesimpulan ada siswa yang masih bingung dan salah dalam membuat kesimpulan.
Dalam pertemuan kedua adanya peningkatan pada aspek yang masih kurang di pertemuan pertama. Dalam pelaksanaan pembelajaran secara runtut sudah mengalami sedikit peningkatan, selain itu juga kesiapan sebelum pembelajaran juga sudah dilaksanakan dengan sangat baik. Kemudian dalam pelaksanaan pembagian kelompok sudah sangat baik. Peningkatan juga terjadi pada kinerja siswa yaitu siswa sudah cukup baik dalam merumuskan hipotesis.
Kemudian siswa juga sudah melakukan percobaan dengan sangat baik sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Pada tahap mempresentasikan hasil percobaan siswa sudah berani dan menyampaikan dengan baik. Banyak siswa sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mengerjakan lembar kerja kegiatan dengan sangat baik. Dari hasil observasi mengajar guru pertemuan pertama
memperoleh skor 71 dan pada pertemuan kedua meningkat dengan memperoleh skor 78. Sedangkan dalam hasil observasi kinerja siswa pertemuan pertama memperoleh skor 57 dan pada pertemuan kedua meningkat dengan memperoleh skor 64.
Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran di siklus II antara lain :
1) Peneliti memberikan penjelasan kepada guru tentang langkah-langkah pembelajaran inkuiri.
2) Guru harus melaksanakan pembelajaran secara runtut agar pembelajaran berjalan dengan maksimal.
3) Guru harus membuat keadaan kelas lebih kondusif.
4) Guru harus menggunakan media secara efektif dan efisien serta melibatkan siswa dalam penggunaan siswa agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
5) Guru memberikan pengarahan kepada siswa yang akan melakukan presentasi serta mengawasi siswa yang tidak presentasi agar aktivitas presentasi berjalan dengan baik.
6) Guru mengaitkan materi pembelajaran dengan realita kehidupan agar materi pembelajaran mudah diserap dengan baik oleh siswa.
4.3 Deskripsi dan Hasil Penelitian Siklus II 4.3.1 Deskripsi Siklus II
Pada siklus II ini merupakan upaya untuk perbaikan dari siklus I yang akan diuraikan tentang tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, hasil observasi dan refleksi seperti pada siklus 1.
4.3.2 Perencanaan Tindakan
Kegiatan pembelajaran pada siklus II akan dilaksanakan dalam 2 pertemuan dengan rincian sebagai berikut :
a) Pertemuan Pertama
. Sebelum mengajar pada pertemuan pertama, maka peneliti menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya (RPP), lembar evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman awal siswa terhadap materi pelajaran, lembar observasi untuk siswa, buku pembelajaran.
Peneliti merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan pendekatan inkuiri dengan kompetensi dasar mendeskripsikan sifat-sifat cahaya.
Kemudian peneliti mempersiapkan alat peraga berupa media benda konkret. Alat peraga yang dipersiapkan berupa lup, cermin datar dan kacamata. Selain itu peneliti juga menyiapkan daftar presensi siswa, lembar observasi siswa, lembar observasi kegiatan guru, lembar kerja kelompok, lembar penilaian kelompok dan buku pembelajaran. Selanjutnya peneliti dan guru mempelajari kegiatan pembelajaran siklus II pada pertemuan pertama.
b) Pertemuan kedua
Perencanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan kedua sebagai tindak lanjut dari hasil belajar siswa dan kekurangan/kelemahan pada pertemuan pertama maka pada perencanaan pertemuan kedua masih sama dengan pertemuan pertama. Peneliti menyiapkan segala sesuatu yang menunjang proses pembelajaran, diantaranya (RPP), lembar evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, lembar observasi untuk siswa, buku pembelajaran, serta ruang/lokasi yang akan digunakan saat pembelajaran berlangsung.
Peneliti merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar mendeskripsikan sifat-sifat cahaya. Kemudian peneliti mempersiapkan alat peraga berupa media benda konkret. Alat peraga yang dipersiapkan berupa karton, cermin datar, gunting, lem, kertas, plastik, kardus.
Alat dan bahan tersebut digunakan untuk membuat alat-alat optik sedrhana. Selain itu peneliti juga menyiapkan daftar presensi siswa, lembar observasi siswa, lembar observasi kegiatan guru, lembar kerja kelompok, lembar penilaian kelompok dan buku pembelajaran. Guru juga mengadakan tes evaluasi yang terdiri dari 20 soal
pilihan ganda. Selanjutnya peneliti dan guru mempelajari kegiatan pembelajaran siklus II pada pertemuan kedua.
4.3.3 Pelaksanaan Tindakan dan Hasil Observasi a) Pelaksanaan Pertemuan pertama
Pelaksanaan tindakan pada siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pada Selasa, 8 April 2014 pukul 07.00-08.10 WIB. Kegiatan awal pembelajaran pada pertemuan pertama yang diawali dengan mengucapkan salam, kemudian guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Setelah itu guru mengecek kehadiran siswa. Kemudian guru menanyakan kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran, setelah itu guru memberikan apersepsi dengan memberikan pertanyaan “alat apakah yang digunakan untuk melihat benda kecil?”. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menyebutkan alat-alat optik yang membantu penglihatan, mendeskripsikan ciri-ciri alat optik yang membantu penglihatan, menjelaskan manfaat alat optik. Setelah kegiatan awal, dilanjutkan dengan kegiatan inti yang meliputi tahap mengajukan pertanyaan atau permasalahan. Pada kegiatan tersebut guru mengajukan pertanyaan “Apakah manfaat dari alat-alat optik yang digunakan?” (kegiatan eksplorasi). Kemudian guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah (kegiatan eksplorasi).
Selanjutnya, guru membagi 41 siswa menjadi 6 kelompok, dari 6 kelompok tersebut 5 kelompok berjumlah 7 anggota dan 1 kelompok 6 anggota.
Selanjutnya tahap merumuskan hipotesis, pada tahap ini guru membimbing siswa merumuskan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap mengumpulkan data, dalam tahap ini yang dilakukan oleh guru yaitu membagikan alat peraga kepada setiap kelompok dan menyuruh siswa melakukan percobaan sesuai lembar kerja yang dibagikan, kemudian menyuruh siswa mengidentifikasi percobaan yang telah dilakukan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap analisis data, guru meminta siswa mendiskusikan percobaaan yang telah dilakukan, kemudian menyuruh siswa mempresentasikan hasil percobaan dan kelompok lain menanggapi apabila ada pebedaan dan memberikan alasan atau komentar. Guru membimbing siswa dalam berdiskusi
tentang kegiatan yang sudah dilakukan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami (kegiatan konfirmasi). Selanjutnya dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari dan menyuruh siswa untuk belajar materi berikutnya. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan salam.
b) Hasil Observasi Pertemuan Pertama
Hasil observasi kegiatan mengajar guru siklus II pertemuan pertama dibagi dalam beberapa aspek, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.7
Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus II Pertemuan Pertama
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 4
2 Kegiatan awal 4
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,7
4 Merumuskan hipotesis 3
5 Mengumpulkan data 3,8
6 Menganalisis data 4
7 Membuat kesimpulan 3
8 Strategi pembelajaran 3,3
9 Pemanfaatan media pembelajaran 2
10 Penggunaan bahasa 3
11 Penutup 3
Rata-Rata 3,1
Total Skor 85
Kategori Baik Sekali
Berdasarkan tabel 4.7 hasil observasi kegiatan mengajar guru diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 3,1 sehingga termasuk kategori baik.
Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 85 sehingga termasuk dalam kategori baik sekali.
Selanjutnya hasil observasi kinerja siswa dibagi menjadi beberapa aspek dan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.8
Hasil Observasi Kinerja Siswa Siklus II Pertemuan Pertama
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 3
2 Kegiatan awal 3,5
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,5
4 Merumuskan hipotesis 3
5 Mengumpulkan data 3,3
6 Menganalisis data 3
7 Membuat kesimpulan 3
8 Strategi pembelajaran 3,7
9 Pemanfaatan media pembelajaran 3
10 Penggunaan bahasa 4
11 Penutup 3
Rata-Rata 3,2
Total Skor 67
Kategori Baik Sekali
Berdasarkan tabel 4.8 hasil observasi kinerja siswa diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 3,2 sehingga termasuk kategori baik. Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 67 sehingga termasuk dalam kategori baik sekali.
c) Pelaksanaan Pertemuan kedua
Pelaksanaan tindakan pada siklus II pertemuan kedua dilaksanakan pada Selasa, 11 April 2014 pukul 07.00-08.10 WIB. Kegiatan awal pembelajaran pada pertemuan pertama yang diawali dengan mengucapkan salam, kemudian guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Setelah itu guru mengecek kehadiran siswa. Kemudian guru menanyakan kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran, setelah itu guru memberikan apersepsi dengan memberikan pertanyaan
“Bagaimana orang yang berada di dalam kapal selam melihat ke permukaan laut?”. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mendeskripsikan pembuatan periskop sederhana, menjelaskan kinerja periskop, mendeskripsikan kinerja kaleidoskop, mendeskripsikan pembuatan lup sederhana.
Setelah kegiatan awal, dilanjutkan dengan kegiatan inti yang meliputi tahap mengajukan pertanyaan atau permasalahan. Pada kegiatan tersebut guru mengajukan pertanyaan “Bagaimana kinerja dari periskop?” (kegiatan eksplorasi).
Kemudian guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah (kegiatan eksplorasi). Selanjutnya guru membagi 41 siswa menjadi 6 kelompok, dari 6 kelompok tersebut 5 kelompok berjumlah 7 anggota dan 1 kelompok 6 anggota.
Selanjutnya tahap merumuskan hipotesis, pada tahap ini guru membimbing siswa merumuskan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan (kegiatan elaborasi).Selanjutnya tahap mengumpulkan data, dalam tahap ini yang dilakukan oleh guru yaitu membagikan alat peraga kepada setiap kelompok dan menyuruh siswa melakukan percobaan sesuai lembar kerja yang dibagikan, kemudian menyuruh siswa mengidentifikasi percobaan yang telah dilakukan (kegiatan elaborasi).
Selanjutnya tahap analisis data, guru meminta siswa mendiskusikan percobaaan yang telah dilakukan, kemudian menyuruh siswa mempresentasikan hasil percobaan dan kelompok lain menanggapi apabila ada pebedaan dan memberikan alasan atau komentar. Guru membimbing siswa dalam berdiskusi tentang kegiatan yang sudah dilakukan (kegiatan elaborasi). Selanjutnya tahap membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan dan
member kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami (kegiatan konfirmasi).
Selanjutnya dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, kemudian guru memberikan evaluasi berupa soal pilihan ganda sebanyak 20 soal untuk dikerjakan. Setelah itu guru menyuruh siswa untuk belajar materi berikutnya. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan salam.
d) Hasil Observasi Pertemuan Kedua
Hasil observasi kegiatan guru pada siklus II pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.9
Hasil Observasi Kegiatan Guru Siklus II Pertemuan Kedua
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 4
2 Kegiatan awal 4
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,7
4 Merumuskan hipotesis 3
5 Mengumpulkan data 4
6 Menganalisis data 4
7 Membuat kesimpulan 4
8 Strategi pembelajaran 4
9 Pemanfaatan media pembelajaran 3
10 Penggunaan bahasa 3,5
11 Penutup 4
Rata-Rata 3,7
Total Skor 95
Kategori Baik Sekali
Berdasarkan tabel 4.9 hasil observasi kegiatan mengajar guru diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 3,7 sehingga termasuk kategori baik.
Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 95 sehingga termasuk dalam kategori baik sekali.
Selanjutnya hasil observasi kinerja siswa dibagi menjadi beberapa aspek dan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.10
Hasil Observasi Kinerja Siswa Siklus II Pertemuan Kedua
No Aspek Skor Rata-Rata
1 Pra pembelajaran 4
2 Kegiatan awal 4
3 Menyajikan pertanyaan atau masalah 3,5
4 Merumuskan hipotesis 3
5 Mengumpulkan data 4
6 Menganalisis data 4
7 Membuat kesimpulan 3
8 Strategi pembelajaran 4
9 Pemanfaatan media pembelajaran 3,5
10 Penggunaan bahasa 4
11 Penutup 3,5
Rata-Rata 3,7
Total Skor 75
Kategori Baik Sekali
Berdasarkan tabel 4.10 hasil observasi kinerja siswa diketahui rata-rata aspek yang diperoleh yaitu 3,7 sehingga termasuk kategori baik. Sedangkan untuk total skor yang diperoleh adalah 75 sehingga termasuk dalam kategori baik sekali.
4.3.4 Refleksi Siklus II
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh berdasarkan observasi kegiatan mengajar guru dan kinerja siswa pada siklus II beberapa aspek mengalami peningkatan dari siklus I. Pada siklus II pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien dengan melibatkan siswa dalam melakukan percobaan dan mengambil kesimpulan dari percobaan tentang sifat-sifat cahaya yang telah dilakukan. Tapi masih ada siswa yang belum aktif bertanya dan menggungkapkan pendapatnya. Guru juga sudah menguasai pembelajaran secara inkuiri dengan lebih baik dari siklus 1. Guru juga sudah menggunakan media pembelajaran yaitu media benda konkrit mengenai cahaya seperti senter, cermin danalat-alat optic sederhanadengan sangat baik sehingga siswa bisa menyerap materi yang diberikan. Banyaknya siswa yang mendapatkan nilai lebih dari sama dengan KKM yang ditetapkan meningkat dari siklus sebelumnya.
4.4 Hasil Analisis Data
Hasil dari penelitian dengan menggunakan pembelajaran inkuiri akan dianalisis dengan membandingkan data prasiklus dan data tiap siklus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SDN Baran 02 diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA mengalami setelah diterapkan pembelajaran inkuiri. Berikut hasil belajar yang diperoleh pada siklus I dan siklus II.
4.4.1 Siklus I
Pada bagian ini akan dipaparkan hasil analis data siklus I tentang hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA dengan menggunakan proses pembelajaran inkuiri dan pemanfaatan media benda konkret. Hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran 02 diperoleh dengan mengadakan tes evaluasi diakhir siklus yaitu pada pertemuan kedua. Dari hasil tes evaluasi tersebut dapat diketahui terjadi peningkatan hasil belajar IPA. Hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran 02 pada Kompetensi Dasar mendeskripsikan sifat-sifat cahaya ditampilkan pada tabel daftar nilai hasil belajar IPA sebagai berikut :
Tabel 4.11
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA Siklus I
No Nilai Frekuensi Persentase (%)
1 55-61 3 7.32
2 62-68 7 17.07
3 69-75 15 36.59
4 76-82 6 14.63
5 83-89 6 14.63
6 90-96 4 9.76
Jumlah 41 100
Nilai Rata-Rata 75
Nilai Tertinggi 95
Nilai Terendah 55
Berdasarkan tabel 4.11 distribusi frekuensi nilai IPA diketahui nilai rata- rata hasil belajar adalah 75. Nilai tertendah yang didapat 55 sedangkan nilai tertinggi yang didapat 95. Dari tabel tersebut diketahui rentang nilai 55-61 frekuensinya sebanyak 3 dengan persentase 7,32 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 62-68 frekuensinya sebanyak 7 dengan persentase 17,07 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 69-75 frekuensinya sebanyak 15 dengan persentase 36,59 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 76-82 frekuensinya sebanyak 6 dengan persentase 14,63 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 83-89 frekuensinya sebanyak 6 dengan persentase 14,63 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 90-96 frekuensinya sebanyak 4 dengan persentase 9,76% dari jumlah keseluruhan siswa.
Berdasarkan tabel 4.11 dapat digambarkan dalam diagram 4.3 yaitu sebagai berikut :
Diagram 4.3 Hasil Perolehan Nilai IPA Siklus I
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≥ 70 maka data hasil perolehan nilai siklus I dapat disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini :
Tabel 4.12
Ketuntasan Belajar Siklus I
Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)
≥ 70 tuntas 31 75.61
< 70 tidak tuntas 10 24.39
Jumlah 41 100
Ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dijelaskan bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≥ 70 sebanyak 10 siswa atau 24,39 %. Sedangkan siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 31 siswa atau sebesar 75,61 %. Dari hasil tersebut
0 2 4 6 8 10 12 14 16
55-61 62-68 69-75 76-82 83-89 90-96
Jumlah Siswa
dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal pada siklus mengalami peningkatan dari prasiklus. Akan tetapi, indikator kinerja hasil belajar IPA belum mencapai sesuai dengan yang peneliti te
%. Ketuntasan belajar siswa siklus I pada tabel 4.12 dapat dilihat dalam diagram 4.4 di bawah ini :
4.4.2 Siklus II
Pada bagian ini akan dipaparkan hasil analis data siklus II tentang hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran IPA dengan menggunakan proses pembelajaran inkuiri dan pemanfaatan media benda konkret. Hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran 02 pada Kompetensi Dasar membuat suatu karya/
model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sed
sifat-sifat cahaya ditampilkan pada tabel daftar nilai hasil belajar IPA sebagai berikut :
dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal pada siklus mengalami peningkatan dari prasiklus. Akan tetapi, indikator kinerja hasil belajar IPA belum mencapai sesuai dengan yang peneliti te
%. Ketuntasan belajar siswa siklus I pada tabel 4.12 dapat dilihat dalam diagram
Diagram 4.4 Ketuntasan Belajar Siklus I
Pada bagian ini akan dipaparkan hasil analis data siklus II tentang hasil siswa kelas V mata pelajaran IPA dengan menggunakan proses pembelajaran inkuiri dan pemanfaatan media benda konkret. Hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran 02 pada Kompetensi Dasar membuat suatu karya/
model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan sifat cahaya ditampilkan pada tabel daftar nilai hasil belajar IPA sebagai
75,61%
24,39%
Tuntas Tidak Tuntas
dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal pada siklus mengalami peningkatan dari prasiklus. Akan tetapi, indikator kinerja hasil belajar IPA belum mencapai sesuai dengan yang peneliti tentukan yaitu 80
%. Ketuntasan belajar siswa siklus I pada tabel 4.12 dapat dilihat dalam diagram
Diagram 4.4 Ketuntasan Belajar Siklus I
Pada bagian ini akan dipaparkan hasil analis data siklus II tentang hasil siswa kelas V mata pelajaran IPA dengan menggunakan proses pembelajaran inkuiri dan pemanfaatan media benda konkret. Hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran 02 pada Kompetensi Dasar membuat suatu karya/
erhana dengan menerapkan sifat cahaya ditampilkan pada tabel daftar nilai hasil belajar IPA sebagai
Tuntas Tidak Tuntas
Tabel 4.13
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPA Siklus II
No Nilai Frekuensi Persentase
1 65-70 6 14.63
2 71-76 1 2.44
3 77-82 7 17.07
4 83-88 6 14.63
5 89-94 11 26.83
6 95-100 10 24.39
Jumlah 41 100
Nilai Rata-rata 86
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 65
Berdasarkan tabel 4.13 distribusi frekuensi nilai IPA diketahui nilai rata- rata hasil belajar adalah 86. Nilai tertendah yang didapat 65 sedangkan nilai tertinggi yang didapat 100. Dari tabel tersebut diketahui rentang nilai 65-70 frekuensinya sebanyak 6 dengan persentase 14,63 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 71-76 frekuensinya sebanyak 1 dengan persentase 2.44 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 77-82 frekuensinya sebanyak 7 dengan persentase 17,07
% dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 83-88 frekuensinya sebanyak 6 dengan persentase 14,63 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 89-94 frekuensinya sebanyak 11 dengan persentase 26,83 % dari jumlah keseluruhan siswa. Nilai 95- 100 frekuensinya sebanyak 10 dengan persentase 24,39 % dari jumlah keseluruhan siswa.
Berdasarkan tabel 4.13 dapat digambarkan dalam diagram 4.4 yaitu sebagai berikut :
Diagram 4.5 Hasil Perolehan Nilai IPA Siklus II
Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≥ 70 maka data hasil perolehan nilai siklus II dapat disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini :
Tabel 4.14
Ketuntasan Belajar Siklus II
Skor Kategori Frekuensi Persentase
≥ 70 tuntas 37 90.24
< 70 tidak tuntas 4 9.76
Jumlah 41 100
0 2 4 6 8 10 12
65-70 71-76 77-82 83-88 89-94 95-100
Jumlah Siswa
Berdasarkan tabel 4.14 ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dijelaskan bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu
sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 37 siswa atau sebesar 90,24 %.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal pada siklus mengalami peningkatan dari siklus I. Indi kinerja hasil belajar IPA sudah mencapai sesuai dengan yang peneliti tentukan yaitu 80 %, bahkan melebihi dari yang peneliti tentukan. Ketuntasan belajar siswa siklus II pada tabel 4.14 dapat dilihat dalam diagram 4.6 di bawah ini :
4.4.3 Perbandingan Hasil B
Pada bagian ini akan diuraikan tentang perbandingan hasil belajar IPA siswa kelas V dari kondisi awal, siklus I, dan Siklus II.
Berdasarkan tabel 4.14 ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dijelaskan bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu ≥ 70 sebanyak 4 siswa atau 9,76 %. Sedangkan siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 37 siswa atau sebesar 90,24 %.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal pada siklus mengalami peningkatan dari siklus I. Indi kinerja hasil belajar IPA sudah mencapai sesuai dengan yang peneliti tentukan yaitu 80 %, bahkan melebihi dari yang peneliti tentukan. Ketuntasan belajar siswa siklus II pada tabel 4.14 dapat dilihat dalam diagram 4.6 di bawah ini :
Diagram 4.6 Ketuntasan Belajar Siklus II
Perbandingan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II Pada bagian ini akan diuraikan tentang perbandingan hasil belajar IPA siswa kelas V dari kondisi awal, siklus I, dan Siklus II.
90,24%
9,76%
Tuntas Tidak Tuntas Berdasarkan tabel 4.14 ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dijelaskan bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan atau 9,76 %. Sedangkan siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 37 siswa atau sebesar 90,24 %.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan minimal pada siklus mengalami peningkatan dari siklus I. Indikator kinerja hasil belajar IPA sudah mencapai sesuai dengan yang peneliti tentukan yaitu 80 %, bahkan melebihi dari yang peneliti tentukan. Ketuntasan belajar siswa siklus II pada tabel 4.14 dapat dilihat dalam diagram 4.6 di bawah ini :
Ketuntasan Belajar Siklus II
an Siklus II Pada bagian ini akan diuraikan tentang perbandingan hasil belajar IPA
Tuntas Tidak Tuntas
Perbandingan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.15 di bawah ini :
Tabel 4.15
Perbandingan Nilai Hasil Belajar IPA Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II No Ketuntasan
Belajar Nilai Kondisi awal Siklus I Siklus II
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Belum
Tuntas
<70 17 41,46 10 24,39 4 9,76
2 Tuntas ≥70 24 58,54 31 75,61 37 90,24
Jumlah 41 100 41 100 41 100
Nilai tertinggi 92 95 100
Nilai terendah 56 55 65
Rata-rata 73 75 86
Dari tabel 4.15 menunjukkan hasil belajar kondisi awal dan hasil belajar setelah dilakukan pembelajaran inkuiri pada siklus I dan II. Pada kondisi awal sebelum dilakukan pembelajaran inkuiri, 17 siswa tidak tuntas karena tidak mencapai KKM ≥70 yaitu dan 24 siswa tuntas karena telah mencapai KKM. Rata- rata yang diperoleh pada kondisi awal adalah 73. Pada siklus I mengalami peningkatan setelah dilakukan pembelajaran inkuiri, 10 siswa tidak tuntas dan 31 siswa mengalami tuntas dengan rata-rata yang diperoleh pada siklus I adalah 75.
Peningkatan juga terjadi pada siklus II, 4 siswa mengalami tidak tuntas dan 37 siswa sudah mencapai ketuntasan belajar dengan rata-rata yang diperoleh pada siklus II yaitu 86.
Pebandingan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran tunjukkan dalam diagram batang sebagai berikut :
Diagram 4.7 Perbandingan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN Baran 02
4.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SDN Baran 02, proses pembelajaran yang diterapkan di SDN Baran 02 masih didominasi oleh guru dan menggunakan buku sebagai sumber utama bagi siswa sehingga siswa cenderung hanya menghafal materi ataupun k
keadaan inilah siswa cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran serta membuat antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran menjadi kurang. Ketika pembelajaran berlangsung ada siswa yang malah bermain sendiri dan tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Pada kondisi awal atau prasiklus siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar sesuai dengan KKM
sebanyak 24 siswa sedangkan siswa yang tidak mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 17 siswa. Setelah m
belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siswa yang mencapai ketuntasan hasil 0
5 10 15 20 25 30 35 40
Kondisi Awal 41,46 %
58,54 %
Pebandingan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran tunjukkan dalam diagram batang sebagai berikut :
Diagram 4.7 Perbandingan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN Baran 02 Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SDN Baran 02, proses pembelajaran yang diterapkan di SDN Baran 02 masih didominasi oleh guru dan menggunakan buku sebagai sumber utama bagi siswa sehingga siswa cenderung hanya menghafal materi ataupun konsep dalam pembelajaran IPA. Dari keadaan inilah siswa cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran serta membuat antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran menjadi kurang. Ketika pembelajaran berlangsung ada siswa yang malah bermain sendiri dan tidak perhatikan guru yang sedang menjelaskan. Pada kondisi awal atau prasiklus siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar sesuai dengan KKM
sebanyak 24 siswa sedangkan siswa yang tidak mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 17 siswa. Setelah melaksanakan pembelajaran inkuiri pada siklus I,hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siswa yang mencapai ketuntasan hasil
Kondisi Awal Siklus I Siklus II 24,39 %
9,76 % 58,54 %
75,61 %
90,24 %
Tidak tuntas (< 70 ) Tuntas ( ≥ 70 )
Pebandingan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Baran 02 dapat
Diagram 4.7 Perbandingan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN Baran 02
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SDN Baran 02, proses pembelajaran yang diterapkan di SDN Baran 02 masih didominasi oleh guru dan menggunakan buku sebagai sumber utama bagi siswa sehingga siswa onsep dalam pembelajaran IPA. Dari keadaan inilah siswa cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran serta membuat antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran menjadi kurang. Ketika pembelajaran berlangsung ada siswa yang malah bermain sendiri dan tidak perhatikan guru yang sedang menjelaskan. Pada kondisi awal atau prasiklus siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar sesuai dengan KKM ≥ 70 adalah sebanyak 24 siswa sedangkan siswa yang tidak mencapai ketuntasan hasil belajar elaksanakan pembelajaran inkuiri pada siklus I,hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siswa yang mencapai ketuntasan hasil
Tidak tuntas (< 70 ) Tuntas ( ≥ 70 )
belajar sebanyak 31 siswa dan yang tidak mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 10 siswa. Hal ini disebabkan karena guru sudah melakukan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa yaitu dengan menggunakan pembelajaran pendekatan inkuiri. Dengan pembelajaran inkuiri siswa mampu merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan dari suatu permasalahan yang ada dalam pelajaran IPA mengenai sifat-sifat cahaya dengan melakukan percobaan menggunakan media benda konkret. Selain itu dengan menggunakan media benda konkret dalam percobaan tentang sifat-sifat cahaya membuat siswa lebih tertarik dan bersemangat untuk mengamati dan mengikuti pembelajaran. Setelah melakukan tinjauan terhadap kekurangan dalam pembelajaran siklus I maka dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II. Pada pembelajaran siklus II ini siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 37 siswa sedangkan siswa yang tidak mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 4 siswa. Dilihat dari hasil belajar sebelumnya maka pembelajaran pada siklus II ini mengalami peningkatan hasil belajar dari siklus yang I.
Pada pelaksanaan tindakan siklus I, berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa guru masih belum melakukan pembelajaran dengan runtut dan belum menguasai langkah-langkah pembelajaran inkuiri dengan baik. Selain itu ada siswa yang masih belum bisa merumuskan hipotesis dan masih takut atau malu dalam presentasi menyampaikan hasil diskusi yang sudah dilakukan. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilkuakan tindakan pada siklus II dengan melakukan diskusi dengan guru kelas tentang hal-hal yang harus diperbaiki dalam siklus II. Perbaikan yang dilakukan atas kekurangan yang masih terdapat saat siklus I dan diperbaiki dalam siklus II, hasil belajar mengalami peningkatan. Hasil dari penilitian menunjukkan peningkatan dalam hasil belajar dikarenakan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan gairah siswa dalam melakukan percobaan, melatih kepercayaan diri dalam menyampaikan hasil diskusi, memberikan kesempatan siswa untuk lebih maju dan aktif sesuai dengan kemampuan, dan meningkatkan motivasi dalam mengikuti kegiatan belajar. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Suryosubroto ( 2002 : 201 ) yang
mengemukakan beberapa kelebihan pembelajaran inkuiri yang berdampak pada peningkatan hasil belajar, antara lain :
a. Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa.
b. Membangkitkan gairah pada siswa misalkan siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan.
c. Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuan.
d. Membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan.
e. Siswa terlibat langsung dalam belajar sehingga termotivasi untuk belajar.
f. Strategi ini berpusat pada anak, misalkan memberi kesempatan kepada mereka dan guru berpartisipasi sebagai sesame dalam mengecek ide. Guru menjadi teman belajar, terutatam dalam situasi penemuan yang jawabannya belum diketahui.
Hasil penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Margono ( 2012 ) dengan judul “Peningkatan hasil belajar IPA dengan menerapkan metode inkuiri pada materi panas dan bunyi siswa kelas IV SD Negeri Pacet Kecamatan Reban Kabupaten Batang”. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Siti Maimunah ( 2012 ) yang berjudul “Upaya meningkatkan hasil belajar afektif dan kognitif IPA dengan pendekatan inkuiri pada kelas V SD Negeri Bansari Kecamatan Bansari Kabupaten Temanggung Tahun Ajaran 2011/2012”. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Imanuel Nugroho Puji Hartono ( 2012 ) dengan judul “ Upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan media benda konkret pada materi pokok menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana kelas IV SD Negeri Ngijo 01 Semarang”.
Dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa pembelajaran dengan menerapkan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V di SDN Baran 02 semester II tahun pelajaran 2013/2014.