PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS BERITA DENGAN TEKNIK PEMODELAN PADA SISWA KELAS XI SMA
MUHAMMADIYAH 7 MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Rukqiya Kewa Kian
NIM: 10533 692811
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 2016
u
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar Telp. 866772
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
N a m a : Rukqiya Kewa Kian
Nim : 10533 6928 11
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Berita dengan Teknik Pemodelan pada Siswa kelas XI SMA Mummadiyah 7 Makassar
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah asli hasil karya saya sendiri dan bukan hasil jiplakan/ciptaan orang lain atau tidak dibuat oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Septeber 2016 Yang membuat pernyataan
Rukqiya Kewa Kian
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar Telp. 866772
SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rukqiya Kewa Kian
Nim : 10533 6928 11
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing, yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apa bila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Septeber 2016 Yang membuat perjanjian
Rukqiya Kewa Kian
M O T O DAN PERSEMBAHAN
Kesabaran, tekad, doa dan usaha adalah Kekuatan utama setiap insan, sekali tekad menyatu dalam dada Tak akan mundur sebelum menggapai
Pena adalah lidah dari akal dan perasaan Oleh karena itu, selama masih mau Menggores penanya, maka harapan untuk
Menjadi besar selalu ada
Karya sederhana ini ku persembahkan:
Buat Kedua orang tuaku dan kk ku yang selalu menyayangi dan mendoakanku, Saudara-saudari dan keluargaku yang selalu membesarkan hati dan semangatku, Sahabat dan teman-temanku yang selalu mendampingiku.
ABSTRAK
Rukqiya Kewa Kian, 2016 “Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita Dengan Teknik Pemodelan Pada Siswa Kelas XI SMA Muhammadiyah 7Makassar”. Skripsi. Jurusan
Pendidikan Bah asa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar ( Dibimbing oleh Dr.Hj. Andi Sukri Syanmsuri dan Andi Samsul Alam.).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan Teknik pemodelan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas ( classroom action research ). Adapun tujuan dari pada penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan menulis teks berita dengan teknik pemodelan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar yang berjumlah 34 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Peneliti ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus berlangsung 5 kali pelaksanaan tindakan dan setiap siklus terdiri dari 4 tahap sebagai berikut: tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan , observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilaksanaan dalam 2 siklus dengan menggunakan tes hasil belajar menulis teks berita pada setiap akhir siklus, dan melalui observasi yang dilakukan disaat proses pembelajaran
berlangsung. Data yang terkumpul terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis statistic dan data kuantitatf di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif.
pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H pada siklus I di analisis maka persentase tidak tuntas 53,10 % dan tuntas 47,20 %. Dibandingkan pada siklus II adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam menulis teks berita hasil di analisis maka persentase tidak tuntas 29,5 % dan tuntas 97,35 %.
Kata Kunci: teks berita dan teknik pemodelan.
KATA PENGANTAR
PujisyukurpenulispanjatkankehadiratTuhan Yang MahaEsa, yang telahmencurahkanrahmat yang berlimpahsehinggapenulisdapatmenyelesaikanskripsi denganjudul“Peningkatan Keterampilan Menulis Berita dengan Teknik Pemodelan
pada Siswa Kelas XI SMA Muhamaddiyah 7
Makassar”sebagaisalahsatupersyaratandalammenyelesaikansarjanaFakultasKeguruan danIlmuPendidikan, UniversitasMuhammadiyah Makassar.
Sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari berbagai rintangan maupun hambatan. Namun berkat rahmat dan karunia Allah semua rintagan dapat diatasi. Penulis sadar bahwa keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari motivasi dan arahan dari pembimbing. Oleh karena itu, penulis patut mengucapkan terimakasi kepada Dr.H. Andi Sukri Syamsuri., M.Hum dan Andi Syamsul Alam, S.Pd., M. Pd., sebagai pembimbing I dan pembimbing II, yang dengan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan proposal ini.
Tidaklupajugapenulismengucapkanterimakasikepada; Dr. H.Rahman Rahim, SE.,MM.RektorUniversitasMuhammadiyah Makassar, Dr.H. Andi. SukriSyamsuri., M.Hum., selaku DekanFakultasKeguruan Dan IlmuPendidikan, UniversitasMuhammadiyah Makassar, dan Dr.Munirah., M.Pd. ketua Program
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... ... iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... ... 1
B. Rumusan masalah ... ... 8
C. Tujuan penelitian ... ... 8
D. Manfaat Penelitian ... ...8
1. Manfaat Teoretis ... 8
2. Manfaat Praktis ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KARANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka ... ... 10
1. Teknik Pemodelan ... 10
2. Tujuan Teknik Pemodelan ... 11
3. Penerapan Teknik Pemodelan pada Pembelajaran Membaca Teks Berita ... 11
4. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Pemodelan ... 13
5. Konsep Tentang Menulis ... 14
6. Hakikat Menulis ... 17
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel. 1.1 Indikator Keberhasilan ………... 34
Tabel. 2.2 Statistik Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia ………... 36
Tabel. 2.3 Distribusi Frekuensi dan Presentasi Skor Hasil Belajar ………. 36
Table. 2.4 presentasi Ketuntasan Belajar Siswa Tes Ahkir Siklus I ……… 37
Table. 2.5 Hasil Analisis Kuantitatif Skor Hasil Belajar ………. 41
Table. 2.6 Distribusi Frekuansi Nilai Skor Hasail Belajar ……….. 41
Table. 2.7 presentasi Ketuntasan Belajar Siswa Tes Ahkir Siklus II …………... 42
Table. 2.8 perbandigan Hasil Tes Siklus I dan Hasil Tes Siklus II ……….. 42
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran. 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran...50
Lampiran. 2 Silabus...51
Lampiran. 3 Rubrik Penilaian...52
Lampiran. 4 Absensi Siswa...53
Lampiran. 5 Soal Siswa...54
Lampiran. 5 Foto Saat Kegiatan Pembelaran...55
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Pengertian ini dikemukakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahasa Indonesia SMA/MA. Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia selalu ada usaha-usaha yang terus-menerus untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Sebagai bagian dari kegiatan berkomunikasi, keterampilan menulis telah diajarkan seiring dengan keterampilan berbahasa yang lain, yaitu mendengarkan, berbicara, dan membaca. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP/MTs pembelajaran keterampilan menulis dan membaca mendapat alokasi waktu yang lebih banyak (34 jam dan 38 jam) daripada keterampilan berbicara dan menyimak (32 jam dan 28 jam). Alokasi waktu yang lebih banyak diharapkan dapat memberi kesempatan yang lebih luas kepada siswa untuk meningkatkan kompetensi menulis. Kompetensi menulis siswa akan meningkat apabila hal- hal berikut dapat direalisasikan: (1) pembelajaran keterampilan menulis ditangani dengan serius. (2) menggunakan strategi pembelajaran yang bervariatif. (3) siswa termotivasi untuk belajar menulis. (4) siswa banyak membaca sehingga kosa kata selalu bertambah dan (5) siswa selalu dilatih mengorganisasi dan mengembangkan ide sehingga siswa terampil menulis.
Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Keterampilan menulis memiliki sifat yang sama dengan keterampilan berbicara.
Keduanya merupakan keterampilan menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalaman kepada orang lain dengan menggunakan bahasa.
Kompetensi menulis meliputi tiga aspek, yaitu aspek isi, aspek retorika, dan aspek kebahasaan. Aspek isi mencakup masalah penulisan dan pengembangan ide pokok, pengembangan kalimat utama menjadi paragraf, dan relevansi isi dengan topik. Aspek retorika membahas pengorganisasian ide termasuk di dalamnya teknik penyampaian. Aspek kebahasaan meliputi tatabahasa, diksi, ejaan, dan tanda baca.
Kompetensi menulis pada umumnya bukan merupakan kompetensi bawaan.Kompetensi ini harus dipelajari dengan baik dan dilatih secara intensif. Untuk menjadi penulis yang terampil seseorang harus menguasai hal-hal berikut ini, yaitu penguasaan terhadap isi yang akan ditulis, penguasaan teknik untuk mengorganisasikan ide dalam tulisan, penguasaan aspek kebahasaan, dan penguasaan unsur mekanik. Penguasaan unsur mekanik yaitu, penguasaan terhadap penggunaan berbagai kata atau istilah serapan. Di samping itu, harus memahami dan melaksanakan beberapa alasan dari sepuluh alasan mengapa gemar menulis itu penting. Beberapa alasan yang dimaksud adalah (Leonhardt, 1998:19). (1) hanya anak-anak yang suka menulis saja yang akan menulis dengan sering dan teliti tentang hal yang mereka butuhkan untuk menjadi penulis ulung; (2) hanya anaka-anak yang sering bebas menulis (serta membaca) saja yang prigel (sangat terampil) dalam menggunakan stuktur kalimat yang kompleks dan benar secara tata bahasa dan (3) hanya anak-anak yang gemar menulis (dan membaca) menjadi siswa yang mudah unggul dalam hampir semua mata pelajaran.
Menurut Halim (dalam Zulkifli, 1993: 23) kegiatan menulis mencakup lima unsur penguasaan, yaitu: (1) isi karangan. (2) bentuk karangan. (3) tatabahasa. (4) gaya dan pilihan stuktur kosa kata. dan (5) penerapan ejaan dan tanda baca. Sejalan dengan Halim, Hongkey
mengungkapkan bahwa menulis melibatkan faktor psikologis, linguistik, dan kognitif. Faktor psikologis bertumpu pada kegiatan mandiri dan tidak mendapat umpan balik. Faktor linguistik itu lebih menekankan kepada kepadatan isi, kesesuaian, dan kepaduan dalam paragraf. Faktor kognitif berfokus pada usaha mental yang kompleks dan bermakna pada gagasan.
Keterampilan menulis adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Siswa SMA/ MA Kelas XI seharusnya sudah dapat menyadur, membuat ikhtisar, membuat laporan sederhana. Namun, kenyataan di kelas, siswa belum mampu menuangkan idenya dengan baik. Banyak karangan siswa yang tidak sesuai (cocok) antara topik dengan isi, diksi yang digunakan monoton, ide yang dituangkan terputus.
Menyadari betapa pentingnya keterampilan menulis bagi siswa, maka perlu pembinaan dan peningkatan keterampilan menulis. Dengan kata lain, menulis perlu diajarkan secara terus-menerus. Syafiee (1988:42) mengemukakan bahwa keterampilan menulis merupakan keterampilan yang dapat dipelajari.
Dengan demikian, dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis, Syafiee (1988: 45-47) mengemukakan bahwa untuk menghasilkan tulisan yang baik, seseorang harus memiliki beberapa kemampuan, yakni (1) kemampuan menemukan masalah yang akan ditulis. (2) kepekaan tehadap kondisi pembaca. (3) kemampuan menyusun perencanaan tulisan. (4) kemampuan menggunakan bahasa. (5) kemampuan memulai tulisan. (6) kemampuan memeriksa tulisan. Selanjutnya, Syafi‟ie (1988: 48) mengemukakan pula bahwa menulis adalah menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, dan keinginan, kemauan, dan informasi di dalam tulisan dan kemudian mengirimkannya kepada orang lain.
Berdasarkan pendapat di atas,bahwa kenyataan observasi di lapangan menunjukkan rata-rata bahwa pembelajaran menulis ini belum mencapai tujuan yang diinginkan. Studi
pendahuluan yang dilakukan Amirullah (2006) mengkaji “Penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatakan keterampilan menulis berita serta motivasi belajar siswa.
Hasil penelitian yang sama dikemukakan oleh Suci Rahmawati (2007) dengan judul
“Peningkatan Ketera mpilan Menyimak Berita Menggunakan Media Audiovisual Teknik Dengar Jawab Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri I Tersono Kabupaten Batang”. Dalam penelitian ini Suci Rahmawati menyimpulkan bahwa pembelajaran keterampilan menyimak berita melalui media audiovisual dengan teknik dengar-jawab pada siswa kelas VIII Negeri 1 Tersono Batang dapat berhasil dengan optimal.
Pembelajaran di sekolah menengah cenderung text book oriented dan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik. Guru biasa menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Akibatnya, motivasi belajar siswa sulit ditumbuhkan dan pola belajar mereka cenderung menghafal dan mekanistik. Kenyataan demikian yang mendorong peneliti untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan keterampilan menulis berita siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan di atas, masalah umum dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis berita dengan Teknik pemodelan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan Teknik pemodelan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoretis
Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi teori pembelajaran kontekstual sebagai salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis teks berita.
2. Manfaat praktis
(a) penelitian bermanfaat sebagai variasi/keragaman bentuk kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa dalam mendeskripsikan gagasannya berkenaan dengan objek yang akan ditulis, dan
(b) hasil penelitian dapat menambah dan kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran menulis teks berita, serta sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran menulis teks berita di SMA.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
Bagian ini berisi kerangka teori yang dijadikan acuan penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan guna membahas permasalahan yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan teori yang merupakan kerangka landasan dalam pelaksanaannya. Teknik pemodelan yang digunakan pada teori ini adalah pengetahuan yang dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain. Kerangka teori yang melandasi penelitian ini tersusun dalam pembahasan berikut ini.
1. Teknik Pemodelan
Penulis memilih teknik pemodelan yang merupakan salah satu komponen dari pendekatan CTL dalam pembelajaran menulis teks berita. Penulis memilih teknik pemodelan dalam penelitian ini karena dapat memperbaiki proses dan hasil pembelajaran menulis teks berita.
Teknik pemodelan (modeling) adalah cara penyajian pelajaran di mana guru menampilkan model yang bisa ditiru oleh siswanya. Siswa mengamati guru (model) yang melakukan kegiatan menulis teks berita, kemudian siswa meniru perilaku (langkah-langkah) yang dimodelkan atau terampil melakukan kegiatan menulis teks berita seperti yang dimodelkan
2. Tujuan Teknik Pemodelan
Teknik pemodelan mempunyai tujuan sebagai berikut.
a. Untuk mengubah perilaku baru siswa melalui pengamatan model pembelajaran yang dilatihkan.
b. Untuk memotivasi atau mendorong siswa tentang kegiatan menuliskan teks berita.
c. Agar siswa dapat meniru perilaku yang dimodelkan atau terampil melakukan kegiatan menulis teks berita seperti yang dimodelkan.
3. Penerapan Teknik Pemodelan pada Pembelajaran MenulisTeks Berita
Menurut Bandura (dalam Trianto, 2010: 53–54) teknik pemodelan (modeling) terdiri atas empat fase, yaitu fase atensi, fase retensi, fase produksi, dan fase motivasi. Sebuah kelas dikatakan menggunakan teknik pemodelan jika menerapkan keempat fase tersebut dalam pembelajarannya.
a. Fase Atensi: (1) Guru (model) memberi contoh kegiatan menuliskan teks berita (demonstrasi) di depan siswa. Siswa melakukan observasi terhadap keterampilan guru dalam melakukan kegiatan menulis teks berita menggunakan lembar observasi yang telah disediakan. (2) Guru bersama-sama siswa mendiskusikan hasil pengamatan yang dilakukan. Tujuan diskusi ini adalah untuk mencari kekurangan dan kesulitan siswa dalam mengamati langkah-langkah kegiatan menulis teks berita yang disampaikan oleh guru dan untuk melatih siswa dalam menggunakan lembar observasi.
b. Fase Retensi diisi dengan kegiatan guru menjelaskan struktur langkah-langkah kegiatan menulis teks berita (demonstrasi) yang telah diamati oleh siswa.
c. Fase Produksi pada fase ini siswa ditugasi untuk menyiapkan langkah-langkah kegiatan menulis teks berita (demonstrasi) sendiri sesuai dengan langkah-langkah yang telah
dicontohkan, hanya dari sudut yang berbeda. Guru dan siswa memberikan refleksi sesudah KBM berlangsung.
d. Fase Motivasi berupa presentasi hasil kegiatan (simulasi) dan kegiatan diskusi. Pada saat siswa menulis teks berita siswa lain diberi kesempatan untuk menyampaikan hasil pengamatannya. 23 Akhirnya guru dan siswa menyimpulkan hasil kegiatan menulis teks berita yang telah dilakukan.
4. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Pemodelan
Teknik pemodelan mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.
a. Kelebihan Teknik Pemodelan
1. Dapat membuat pengajaran lebih jelas dan lebih konkret.
2. Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari.
3. Proses pengajaran lebih menarik.
4. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara yang diamati dengan yang ditiru, dan mencoba melakukan sendiri.
b. Kekurangan Teknik Pemodelan
1. Teknik ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan pemodelan (demonstrasi) akan tidak efektif.
2. Fasilitas seperti peralatan dan tempat tidak selalu tersedia dengan baik.
3. Pemodelan memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang.
Pembelajaran keterampilan menulis dengan menerapkan teknik pemodelan dalam kegiatan menulis teks berita sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan menulis teks berita siswa dituntut untuk terampil atau mampu membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat, artikulasi dan volume suara yang jelas, serta ekspresi yang sesuai dengan konteks, maka 24 siswa perlu belajar untuk membacakan teks berita sampai mencapai keberhasilan sesuai dengan KKM yang ditetapkan.
5. Konsep tentang Menulis
Keterampilan menulis sebagai salah satu cara dari empat keterampilan berbahasa, mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Seperti yang dikatakan oleh Tarigan (1990: 34) bahwa menulis adalah “ Menurunkan atau melukiskan lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambar grafik tersebut”. Lebih lanjut, menurut Robert (dalam Suriamiharja, 1996: 2) mengemukakan bahwa menulis adalah “menempatkan simbol-simbol grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang kemudian, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol-simbol grafiknya.
Menurut Syamsudin (dalam Hasani, 2005: 1) menulis adalah “aktivitas seseorang dalam menuangkan ide-ide, pikiran, dan perasaan secara logis dan sistematis dalam bentuk tertulis sehingga pesan tersebut dapat dipahami oleh para pembaca”. Selanjutnya menurut Hasani (2005: 2) menulis merupakan “ keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif, sehingga penulis harus mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan stuktur bahasa dan kosa kata.
Tulisan adalah suatu sistem komunikasi manusia yang menggunakan tanda-tanda yang dapat dibaca dan dilihat dengan nyata. Menurut Nurgiantoro (1995: 11), menulis adalah
“ menyampaikan ide atau gagasan dan pesan dengan menggunakan lambang grafik”.
Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996) menulis adalah membuat huruf dengan pena. Lebih lanjut lagi menurut Asrul Wijayanto (dalam Rusilah, 2006: 6) bahwa kata menulis mempunyai dua arti yaitu: (1) menulis berarti mengubah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia menjadi tanda-tanda yang dapat dilihat. (2) menulis mempunyai arti suatu kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis.
Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberi tahu, menyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada kesimpulan yang sama meskipun ada pendapat mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda satu sama lain.
Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang berjenis ilmiah. Sementara istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis non ilmiah. Menulis dan mengarang sebenarnya dua kegiatan yang sama karena menulis berarti mengarang (baca;
menyusun atau merangkai bukan menghayal) kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi tulisan kompleks yang menyusun pokok persoalan. Pokok persoalan didalam tulisan disebut gagasan atau pikiran. Gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan tersebut. Gagasan pada sebuah tulisan biasa bermacam-macam, bergantung pada keinginan penulis. Dan melalui tulisannya, penulis biasa mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, pendapat, kehendak, dan pengalaman.
Menulis sebagai keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan media tulisan. Setiap penulis pasti memiliki tujuan dengan tulisannya anatara lain mengajak, menginformasikan, menyakinkan,
atau menghibur pembaca. Atau dengan kata lain, menulis adalah kerja kreatif dan menciptakan atau membangun sebuah dunia.
6. Hakikat Menulis
Menulis ialah keterampilan mengeluarkan, mengekspresikan isi hati dalam bentuk tulisan. Keterampilan ini erat sekali hubungannya dengan keterampilan bahasa yang lain yaitu, keterampilan membaca, keterampilan menyimak, dan keterampilan berbicara. Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Keterampilan menulis tidak langsung datang dengan sendirimya melainkan harus banyak latihan dan praktik secara teratur.
Menulis juga diartikan menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Gambar atau lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan-kesatuan bahasa. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan eksperesi bahasa (Tarigan, 1990: 36).
Dalam kehidupan modern ini jelas bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan untuk segala keperluan. Keterampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang rpelajar atau bangsa yang terpelajar (Tarigan, 1990: 23). Keterampilan menulis dapat menjadikan suatu bangsa lebih maju. Keterampilan menulis bukanlah menjadi milik golongan atau orang-orang yang berbakat saja, tetapi dapat dimiliki oleh siapa saja yang mau melakukan dengan sungguh-sungguh. Jadi, keterampilan menulis diperoleh seseorang melalui proses pelatihan yang terus-menerus.
Akhadiah, dkk (1991: 2), berpendapat bahwa kegiatan menulis merupakan suatu proses. Kemampuan menulis bukan merupakan kemampuan yang diwariskan secara turun- temurun, tetapi merupakan hasil proses dan ketekunan berlatih. Suriamiharja (1996: 1) mengatakan bahwa menulis kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan bahwa menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Selain itu menulis juga diartikan sebagai suatu kegiatan melahirkan pikiran atau perasaan. Hal ini berarti seseorang dalam menulis memerlukan proses berpikir yang akan dituangkan dalam pikirannya.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak lamgsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Selain itu, menulis juga diartikan sebagai kegiatan pelukisan lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang grafik tersebut, mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa untuk menciptakan sebuah catatan atau informasi pada media dengan menggunakan aksara.
Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berpikir. Selain itu, juga memudahkan kita merasakan daya tanggap atau persepsi kita, memecahkan masalah- masalah yang dihadapi, menyusun urutan bagi pengalaman. Hasil tulisan merupakan satu- satunya media untuk menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan.
Berkaitan dengan hal di atas, keterampilan menulis juga memiliki suatu tujuan yakni memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang. Tulisan mengandung nada yang serasi dengan maksud dan tujuannya. Menulis tidak hanya mengharuskan memilih suatu pokok
pembicaraan yang cocok dan sesuai, tetapi juga harus menentukan siapa yang akan membaca tulisan tersebut dan apa maksud tujuannya.
Tarigan (1990: 43) mengatakan bahwa setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan: (a) Bertujuan untuk memberitahukan atau mengajar. (b) Bertujuan untuk menyakinkan atau mendesak. (c) Bertujuan untuk menghibur atau menyenangkan. (d) Bertujuan untuk mengutarakan atau mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api.
Selanjutnya Tarigan (1990: 44) juga mengemukakan bahwa praktik-praktik kategori tersebut sering bertumpang tindih dan setiap penulis dapat pula menambahkan tujuan-tujuan lain yang belum tercakup dalam kategori tersebut diatas. Tetapi dalam kenyataan tujuan menulis, ada satu tujuan yang paling menonjol atau dominan dan yang dominan inilah yang memberi nama atas keseluruhan tujuan tersebut.
Setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan, tetapi karena tujuan itu sangat beranekaragam, maka bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya memperhatikan tujuan menulis, yang memberitahukan (informative), menyakinkan (persuasive), menghibur (literally), mengekspresikan perasaan dan emosi (ekspresive). Hugo Hartig (dalam Tarigan, 1990: 24) mengemukakan bahwa ada tujuh tujuan penulisan suatu tulisan yaitu: (1) tujuan penugasan. (2) tujuan altruistik (menghibur). (3) tujuan persuasive. (4) tujuan penerangan.
(5) tujuan pernyataan. (6) tujuan kreatif. (7) tujuan pemecahan masalah. 1. Tujuan Penugasan sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemaunnya sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas membuat laporan kegiatan). 2. Tujuan altruistik (menghibur), penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghidarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu. Seseorang tidak dapat menulis secara tepat guna apabila dia percaya bahwa pembaca atau penikmat karyanya itu adalah
“lawan” atau “ musuh”. Tujuan altruistik adalah kunci keterbacaan suatu tulisan. 3. Tujuan persuasif (memengaruhi) adalah menyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang utarakan dengan berbagai teknik menulis. 4. Tujuan penerangan yaitu memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca. 5. Tujuan pernyataan diri yaitu memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca agar mendapatkan pengakuan dari pembaca. 6. Tujuan kreatif yang berhubungan erat dengan
pernyataan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik atau seni yang ideal, seni idaman. 7. Tujuan pemecahan masalah adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi, dan meniliti secara cermat pikiran- pikiran dan gagasan-gagasannya agar dapat dimengerti dan diterima oleh pembaca.
Hamzah (1993: 6) mengemukakan empat tujuan umum menulis utuh dipengaruhi oleh kebutuhan dasar manusia yaitu: (1) untuk memberi informasi kepada orang lain dan memperoleh informasi dari orang lain mengenai suatu hal. (2) untuk meyakinkan seseorang mengenai suatu kebenaran akan suatu hal. (3) untuk menggambarkan atau menceritakan bagaimana bentuk dan wujud suatu barang atau objek, atau mendeskribahasa Indonesiaikan cita rasa suatu benda, hal, atau bunyi, dan. (4) untuk menceritakan kepada orang lain tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik yang dialami maupun yang didengar orang lain.
Jadi, tujuan menulis terdapat keterkaitan antara penulis dengan orang lain. Penulis memberi dan memperoleh informasi, memengaruhi sikap dan pendapat, mendeskrbahasa Indonesiaikan sesuatu, menceritakan sesuatu peristiwa baik yang dialami atau didengar dari orang lain. Pembelajaran menulis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berfikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Selain itu juga diarahkan untuk
mempertajam kepekaan perasaan siswa. Siswa tidak hanya mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung, melainkan juga disampaikan secara terselubung atau tidak langsung.
Dari beberapa pendapat pakar yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis mempunyai tujuan yang khusus seperti menginformasikan, melukiskan, dan menyarankan.Tujuan menulis adalah memproyeksikan sesuatu mengenai diri seseorang kedalam sepenggal tulisan. Penulis memegang sesuatu peranan tertentu, dalam tulisannya mengandung nada yang sesuai dengan maksud dan tujuan.
7. Berita
a. Hakikat Berita
Berita dapat kita temukan di mana-mana. Setiap saat radio, televisi, media cetak (surat kabar, majalah), dan internet menyajikan berita yang sangat beragam. Berita tersebut tidak hanya menyampaikan kejadian-kejadian yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga diluar negeri. Berita-berita itu dapat kita dengar dan nonton dengan mudah.
Sesungguhnya berita adalah hasil rekontruksi tertulis dari realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan dan laporan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang ingin diketahui oleh umum, dengan sifat-sifat aktual, terjadi di lingkungan pembaca, mengenai tokoh terkemuka akibat peristiwa tersebut berpengaruh terhadap pembaca.
Berita (news) adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual), laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa. News sendiri mengandung pengertian yang penting yaitu dari kata “new” yang artinya adalah “baru”.Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu
mengedepankan aktualisasi. Kata news sendiri bisa disejajarkan dengan “north”, “east”,
“west”, dan “south”. Artinya, sipencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat arah mata angin tersebut. Berita adalah segala sesuatu yang terkait waktu dan menarik perhatian banyak orang dan berita terbaik adalah hal-hal yang paling menarik yang menarik sebanyak mungkin orang (untuk membacanya). Berita adalah informasi yang menarik, dengan informasi itu orang sering dapat merasa senang untuk memperhatikannya.
Berita adalah sebuah laporan atau pemberitahuan mengenai terjadinya sebuah peristiwa atau keadaan yang bersifat umum dan baru saja terjadi disampaikan oleh wartawan di media massa. Faktor peristiwa atau keadaan menjadi pemicu utama terjadinya sebuah berita. Peristiwa dan keadaan itu merupakan fakta atau kondisi yang sesungguhnya terjadi, bukan rekaan atau fiksi penulisnya. Menulis berita, seorang wartawan harus mengedepankan fakta dan tidak memasukkan opini atau pendapat pribadi. Fakta dan pendapat pribadi harus dipisahkan secara tegas, bahkan dalam penulisan berita diusahakan tidak memasukkan pendapat pribadi.
Berdasarkan uraian di atas, pada prinsipnya ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dari definisi tersebut, yakni:
1. Laporan
2. Kejadian/peristiwa/pendapat yang menarik dan penting 3. Disampaikan secepat mungkin (terikat oleh waktu).
b. Pokok-Pokok Berita
Pokok-pokok berita adalah hal-hal terpenting dari sebuah informasi. Pokok-pokok berita yang sangat popular yaitu 5W+1H (What, When, Where, Who, Why, dan How). Berita yang didengar/dibaca/ditonton kemudian ditentukan 5W+1H. Siapakah tokohnya, dimana
kejadiannya, mengapa terjadinya, apa yang terjadi, kapan terjadinya, dan bagaimana bisa terjadinya.
a) What atau apa yang terjadi. Faktor utama sebuah berita adalah peristiwa atau keadaan.
Misalnya peristiwa kriminal seperti perampokan, pencurian, penipuan, pembunuhan, dan tindak kekerasaan yang lain. Bukan hanya peristiwa , misalnya keadaan seperti seorang tokoh yang berbicara mengenai sesuatu masalah.
Contoh : Aksi perampokan terjadi disiang bolong menimpa seorang wanita.
b) Where atau tempat kejadian atau dalam istilah kriminal disebut TKP (Tempat Kejadian Perkara ) yaitu tempat peristiwa atau keadaan.
Contoh : Di Stadion Gajayana kemarin Arema mengalahkan PSDS 5-1
c) When atau waktu sebuah peristiwa atau kejadian terjadi. Bisa disebut dengan pagi, siang, sore atau malam. Atau kalau mau lebih rinci bisa di sebutkan dengan hitungan jam menit, sampai detik.
Contoh : Kemarin angin ribut melanda Kecamatan Tinggimoncong yang menyebabkan seratus rumah roboh.
d) Who atau tokoh yang menjadi pemeran utama dalam berita. Tokoh dalam berita adalah orang yang paling tahu dan berperan penting dalam peristiwa.
Contoh : Artis Rafi Ahmad kemarin mendatangi Polda Metro Jaya untuk diperiksa dalam kasus penipuan pembantu rumah tangga.
e) Why atau pertanyaan untuk menguak merngapa sebuah peristiwa bisa terjadi. Pertanyaan ini bisa dikembangkan menjadi bahan berita selanjutnya. Sebab Dari penyebab ini akan diketahui banyak hal di balik kejadian tersebut.
Contoh : Hujan deras semalam menyebabkan banjir dan tanah longsor di Makassar.
f) How adalah pertanyaan untuk mengetahui keadaan bagaimana sebuah peristiwa terjadi, termasuk akibat yang ditimbulkan.
Contoh: Jerit tangis mewarnai penemuan mayat yang menjadi korban tsunami di Jepang.
b. Nilai-Nilai Berita
Berita adalah yang mengandung satu atau beberapa unsur sebagai berikut:
a. Actual (Kekinian).
Peristiwa yang diliput dan ditulis, karena baru saja terjadi atau mengandung hal kekinian.
b. Signikansi( Penting).
Peristiwa yang penting berpeluang memengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang mempunyai akibat terhadap pembaca.
c. Magnitude (Besar).
Peristiwa besar yang berpengaruh bagi kehidupan orang banyak atau peristiwa yang menyangkut angka-angka yang bila dijumlahkan akan sangat menarik bagi pembaca.
d. Proximity (Kedekatan).
Peristiwa yang terjadi dekat dengan pembaca.
e. Prominena (Tenar).
Peristiwa yang menyangkut orang, benda atau tempat yang terkenal atau sangat dikenal oleh pembaca.
f. Human Interest (Manusiawi).
Peristiwa yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca.
g. Konflik
Peristiwa yang menghadirkan dua pihak yang saling berlawanan kepentingan.
h. The Unsual (Tidak Biasa).
Peristiwa yang tidak biasa terjadi.
c. Jenis-Jenis Berita
Maryono Basuki (http://aliefnews. Word press.com/2011/01/11/konsep-dasar-berita/) membagi berita berdasarkan: (a) sifat kejadian. (b) masalah yang dicakup. (c) lingkup pemberitaan. (d) sifat pemberitaan.
a) Berdasarkan sifat kejadian ada empat jenis berita, yaitu:
1). Berita yang sudah diduga akan terjadi
Misalnya, wawancara seorang wartawan dengan Goenawan Mohammad dalam sebuah senimar
2). Berita tentang peristiwa yang terjadi mendadak sontak Misalnya, peristiwa kebakaran kantor telapon sentral.
3). Berita tentang peristiwa yang direncanakan akan terjadi Misalnya, peristiwa peringatan Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni.
4). Berita tentang gabungan peristiwa terduga dan tidak terduga Misalnya, peristiwa percobaan pembunuhan kepala Negara pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.
b) Berdasarkan masalah yang dicakup
Jenis berita berdasarkan masalah yang dicakup menurut jumlah kementrian yang ada dalam Kabinet Pembangunan 6 antara lain: berita dalam negeri, berita luar negeri, berita hukum, berita sosial, berita pendidikan, dan kebudayaan, berita pertahanan, berita pertanian, berita lingkungan hidup, berita perumahan, berita pemuda, dan olahraga, berita kesehatan, berita ilmu pengetahuan, berita koperasi, berita penerangan, berita perindustrian, berita perbankan, berita perhubungan, berita perdagangan, berita kehutanan, berita agama, berita pertambangan, dan berita pangan.
c.) Berdasarkan lingkup pemberitaan 1. Berita local
2. Berita regional 3. Berita nasional 4. Berita internasional
d). Berdasarkan sifat pemberitaan
Sifat berita bisa dilihat dari isinya.Ada isi berita yang memberitahu, mendidik, menghibur, memberikan contoh, memengaruhi, dan sebagainya.
8. Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga dan masyarakat. Melalui pendekatan kontekstual, hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran bersifat alami, karena siswa bekerja dan mengalami, bukan sekadar mentransfer pengetahuan dari guru kesiswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (Nurhadi, 2003: 1). Lima bentuk belajar dalam metode kontekstual adalah bentuk belajar relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring.Relating adalah bentuk bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata.
Experiencing adalah belajar dalam konteks kegiatan eksplorasi, penemuan, dan penciptaan.
Applying adalah belajar dalam bentuk penerapan pengalaman hasil belajar ke dalam penggunaan dan kebutuhan praktis.Cooperating adalah belajar dalam bentuk berbagai informasi dan pengalaman, saling merespon, dan saling berkomunikasi. Transfering adalah kegiatan belajar dalam bentuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang baru.
Pembelajaran kontekstual menyandarkan pada memori spasial. Pemilihan informasi didasarkan kepada kebutuhan individu siswa. Adanya kecenderungan mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin). Pembelajaran kontekstual juga selalu mengaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Dalam pelaksanannya, pembelajaran ini menerapkan penilaian autentik.
Model pembelajaran kontekstual adalah kerangka yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan pada guru untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Adapun kerangka pikir yang menjadi acuan penulis dalam melakukan penelitian ini guna menarik satu kesimpulan, sebagai konsep dasar atau kerangka pikir penelitian ini antara lain.
1. proses menulis dikelas seharusnya dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran klasik (tradisional) seperti masih sering dilakukan dikelas
2. Model pembelajaran proses dalam pembelajan menulis meliputi para menulis, menulis, memperbaiki kembali dan publikasi.
3. Proses pembelajaran dengan model pendekatan proses. Menjadikan performa bahasa anak menjadi lebih optimal dan membantu anak dalam mengembangkan ide-ide dan kreativitas yang selama ini terbendung.
4. Dan yang paling penting, melalui pendekatan proses mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran keterampilan menulis siswa dikelas khususnya menulis teks berita.
5. Dalam pembelajaran menulis siswa dikelas khususnya menulis teks berita di harapkan siswa memahami pokok permasalahan yang di ajarkan.
B. Kerangka Pikir
Secara umum tujuan penulisan sebuah karangan adalah bentuk menyampaikan suatu ide atau gagasan dan pandangan-pandangan penulis kepada pembaca sehingga pembaca dapat mengetahui maksud sang penulis. Jenis penyampaian ide atau gagasan penulis yang lazin disebut wacana (karangan) dapat berbentuk menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Jenis tulisan ini memiliki ciri atau karakteristik tersendiri.
Berdasarkan urain diatas maka, secara sederhana kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut ini.
Pengajaran Bahasa Indonesia
Berbicara
Teks berita
Teknik Pemodelan
Pramenulis mmMenulis
Menulis Memperbaiki
Kembali
Publikasi
Temuan
Menyimak Membaca Menulis
Kurikulum
Bagan Kerangka Pikir
C. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa “Jika teknik pemodelan diterapkan pada keterampilan menulis, maka dapat peningkatan kemampuan siswa kelas XI dalam hal menulis teks berita di SMA Muhammadiyah 7.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Ditinjau dari segi pendekatan penelitian, maka penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas merupakan rangkaian penelitian yang dilakukan secara siklik dalam rangka memecahkan masalah sampai masalah itu terpecahkan. PTK bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Penelitian tindakan di sini adalah kolaboratif partisipatoris, yaitu kerja sama antara peneliti dengan guru atau teman sejawat di lapangan.
Peneliti terlibat langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Adapun desain penelitian yang digunakan adalah:
1. Pengkajian teoretis melalui studi kepustakaan, artikel, buku-buku teks, laporan penelitian, dan bentuk media cetak lainnya.
2. Pengkajian praktis dan empiris terhadap variabel yang telah ditetapkan.
Pengkajian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data tentang variabel yang diteliti. Dari kajian analisis data tadi, diharapkan dapat diperoleh kesimpulan yang objektif dan saran-saran yang terarah.
B. Populasi dan Sampel
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 7 Makassar. Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari bulan Agustus hingga September 2016.
Subjek dalam penelitian ini terdiri atas dua yakni: (1) siswa, dalam kegiatan pembelajaran ini melibatkan peran siswa secara langsung dan aktif. (2) Guru, kemampuan guru dalam memberikan pembelajaran aktif, kreatif, dan efektif dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual.
B. Prosedur Penelitian
Dalam bahasa Inggris penelitian tindakan kelas (PTK) diartikan dengan classroom action research, karena itu Arikunto (2006) mengemukakan bahwa ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut yaitu, penelitian, tindakan, dan kelas. Sehubungan dengan itu, maka arikunto (2006) mengartikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
1. Siklus Pertama a. Tahap Perencanaan
i. Membuat skenario pembelajaran
ii Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar-mengajar di kelas ketika pendekatan pembelajaran kontekstual diterapkan.
iii. Menggunakan alat bantu yang sesuai dengan materi kegiatan proses belajar-mengajar dengan pendekatan pembelajaran kontekstual.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini diterapkan pembelajaran kontekstual pada beberapa materi kurikulum yang telah ditelaah pada tahap perencanaan dengan mengarahkan siswa untuk belajar bermakna dengan menemukan sendiri tugas-tugas yang diberikan, dinilai secara kualitatif dan kuantitatif.
c. Tahap Observasi
i. Mengidentifikasi dan mencatat tingkat perkembangan siswa tentang kemampuan menulis bahasa Indonesia yang diajarkan dengan pembelajaran kontekstual selama proses belajar- mengajar untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi.
ii. Melaksanakan evaluasi proses belajar-mengajar untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi.
d. Tahap Refleksi
Refleksi diadakan berdasarkan pada hasil yang diperoleh selama observasi awal dan evaluasi.Data hasil observasi dan evaluasi tersebut selanjutnya dianalisis dan direfleksi untuk penyempurnaan tindakan berikutnya.
II. Siklus Kedua a. Tahap Perencanaan
Rencana kegiatan yang dilakukan pada siklus II relative sama dengan siklus I yaitu:
i. Membuat skenario pembelajaran
ii. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar-mengajar dikelas ketika pembelajaran kontekstual diterapkan.
iii. Menggunakan alat bantu yang sesuai dengan materi kegiatan proses belajar-mengajar dengan metode pembelajaran kontekstual.
iv. Merancang tindakan perbaikan dari siklus I.
Tahap melakukam penelitian
Perencaan I Siklus I
Tindakan
Observasi Refleksi
Perencanaan Siklu II
Tindakan
Observasi Refleksi
Hasil
BAGAN SIKLUS
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini diterapkan pembelajaran kontekstual pada beberapa materi kurikulum yang telah ditelaah pada tahap perencanaan dengan mengarahkan siswa untuk belajar bermakna dengan menemukan sendiri tugas-tugas yang diberikan, dinilai secara kualitatif dan kuantitatif.
b. Tahap Observasi
Proses observasi yang dilakukan pada siklus II sama dengan siklus I yaitu:
i. Mengidentifikasi dan mencatat tingkat perkembangan siswa tentang kemampuan menulis siswa yang diajarkan dengan pembelajaran kontekstual selama belajar-mengajar berlangsung.
ii. Melaksanakan evaluasi proses belajar-mengajar untuk melihat sejauh mana perubahan terjadi.
c. Tahap Refleksi
Refleksi diadakan berdasarkan pada hasil yang diperoleh selama observasi awal dan evaluasi.Data hasil observasi dan evaluasi tersebut selanjutnya dianalisis dan direfleksi untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatakan kemampuan
menulis teks berita siswa kelas XI dengan pembelajaran kontekstual.
C. Definisi Operasional Variabel
Untuk memperoleh gambaran yang jelas, menghidari salah penafsiran dalam penelitian ini,maka dikemukakan dengan operasional variabel sebagai pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata.
D. Instrumen Penelitian Model Beritta
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Lembar tes. Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan awal peserta didik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan pembelajaran kontekstual.
2. Lembar observasi. Digunakan untuk mengumpulkan data tentang aktifitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dengan melalui pembelajaran kontekstual.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini adalah melalui test dan observasi. (1) Teknik tes disususn oleh peneliti dengan berpedoman pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Selanjutnya, tes ini digunakan pada awal pembelajaran sebagai tes kemampuan awal dan tes akhir untuk mendapatkan data tentang sejauh mana peningkatan kemampuan menulis siswa. (2) Teknik Observasi dilakukan dengan melihat langsung objek penelitian. Dalam penelitian, yang diobservasi adalah persiapan peserta didik dalam menyiapkan sarana dan prasarana pembelajaran, begitu pula yang diobservasi adalah aktivitas anak pada saat pembelajaran berlangsung.
F. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif.Untuk analisis kuatintatif digunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden. Untuk keperluan analisis kualitatif digunakan teknik kategori panguasaan. Untuk tingkat penguasaan 90%-100% dikategorikan sangat tinggi
1. Untuk tingkat penguasaan 75%-89% dikategorikan tinggi 2. Untuk tingkat penguasaan 55%-74% dikategorikan sedang 3. Untuk tingkat penguasaan 40%-54% dikategorikan rendah
4. Untuk tingkat penguasaan 0%-39% dikategorikan sangat rendah
G. Indikator Keberhasilan
Adapun indikator keberhasilan adalah seperti tagihan pada tabel 1. 1 di bawah ini:
No. Tingkat Penguasaan Kategori
1.
2.
3.
4.
5.
90 - 100%
75 - 89%
55 - 74%
40 - 45%
0 - 39%
Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas tentang hasil-hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia khususnya menulis teks berita dengan teknik pemodelan pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar. Setelah diterapkan pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H, adapun yang dianalisis adalah skor hasil belajar siswa yang diberikan setiap akhir siklus. Siswa yang diambil rekaman pengamatan dan tanggapan serta refleksi yang diberikan oleh siswa baik secara tertulis maupun komentar secara lisan.
A. Hasil Penelitian 1. Siklus I
a. Hasil analisis Kuantitatif
Pada siklus I, ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah selesai penyajian sub pokok bahasan. Adapun data siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar dengan pembelajaran menulis teks berita melalui pendekatan keterampilan proses pada siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar.
Pada siklus I dilihat pada tabel 2. 2 berikut ini. Statistik Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Apabila skor hasil belajar siswa dikelompok ke dalam 5 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti yang disajikan pada tabel 2. 3 berikut..
Statistik Nilai Statistik
Jumlah siswa
34
Skor ideal
100
Nilai maksimum 90
Nilai minimum
45
Rentang skor
70
Skor rata-rata
65
Distribusi Frekuensi dan Presentasi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0-39 40-54 55-74 75-89 90-100
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi
0 8 18
6 2
0 % 23,60 % 53,10 % 17,70 % 5,90 %
Jumlah 34
100
Apa bila tes akhir siswa pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa tes akhir siklus I dapat dilihat pada tabel 2. 4 berukut.
Skor Kategori Frekuensi Persentase 0,00-64,99 Tidak tuntas 18 29,5 % 65,00-100,00
Tuntas 16 47,20 % Jumlah 34
100
b. Hasil Analisis Kualitatif
Pada siklus I tercatat sikap yang terjadi. Pada setiap terhadap pembelajaran bahasa Indonesia sikap siswa tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang
dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
Adapun sikap siswa dari siklus I adalah sebagai berikut:
1. Pada siklus I tampak masih banyak siswa yang tidak hadir mengikuti pelajaran baik itu tidak hadir tanpa keterangan maupun yang sakit. Dengan ketidakhadiran siswa maka otomatis penerimaan atau rencana pembelajaran tentu tidak akan berjalan dengan baik, tentu hal ini menjadi faktor utama sehingga proses pencapaian tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Hadirnya siswa saja tidak menjadi jaminan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, apalagi kalau siswa sudah tidak hadir karena siswalah yang menjadi subjek sekaligus objek dari proses pembelajaran.
2. Perhatian siswa pada siklus pertama ini masih berjalan seperti biasa misalnya kurang antusiasnya siswa dalam menyelesaikan tugas secara kelompok. Terlihat siswa masih kurang memperhatikan keinginan yang besar untuk berperan aktif guna mengetahui pembahasan dalam kelompok, terlihat adanya beberapa siswa yang hanya ikut kelompok tanpa memperhatikan dengan baik materi dan tugas yang diberikan
3. Pada siklus I keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar seperti menjawab pertanyaan dan bertanya tentang materi yang dibahas masih rendah. Dalam pemberian materi guru terkadang mencoba memancing siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, namun yang terlihat masih banyak siswa yang masih memilih pasif dan hanya diam namun apabila diberikan pertanyaan berkaitan tentang materi ternyata banyak juga yang tidak dapat menjawabnya. Dengan demikian hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran tidak berlangsung dengan baik atau efektif.
4. Pada siklus I kepasifan siswa dalam proses belajar mengajar masih tinggi, dalam hal ini masih banyak siswa yang tidak mengajarkan tugas dengan baik. Dari hasil pemeriksaan tugas diperoleh bahwa masih ada beberapa ( 26 siswa) yang ternyata belum mampu
mendapat nilai yang baik, kendala pemahaman siswa dalam hal menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai yang diperoleh siswa) tersebut.
5. Pada siklus I masih banyak siswa membutuhkan bimbingan dalam proses pembelajaran terlihat masih banyak siswa yang masih belum memahami dengan baik tentang materi menulis teks berita dengan baik yang (28 siswa)
memperoleh bimbingan khusus dari bidang studi. Penyebab hal ini salah satunya karena para siswa baru pertama kali menerima menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H, sehingga menjadi siswa belum dapat langsung memahami materi tersebut.
6. Pada siklus I masih kurang serius dan tidak berani mengajukan diri untuk membacakan hasil tulisannya di depan kelas.
7. Pada siklus I saat siswa melakukan diskusi dengan anggota kelompok masih banyak siswa yang melakukan kegiatan lain sekitar 5-8 orang. Salah satu aspek yang menyebabkan sehingga pencapaian tujuan pembelajaran kurang dapat tercapai karena kurangnya motivasi belajar siswa untuk memahami materi pembelajaran, hal ini terlihat pada saat kerja kelompok ternyata masih banyak siswa yang tidak berhubungan dengan materi.
c. Hasil refleksi
Siklus I dilaksanakan 5 kali pertemuan dengan penerapan pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H (catatan harian) melalui pendekatan keterampilan proses dengan berbagai macam metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Pada siklus I tampak masih banyak siswa yang tidak hadir mengikuti pelajaran, baik itu tidak hadir tanpa keterangan maupun yang sakit. Hal ini disebabkan karena siswa menganggap bahwa pembelajaran bahasa Indonesia itu sulit.
Sebelum masuk pada materi pelajaran guru selalu menyampaikan tujuan pembelajaran kemudian memberikan motivasi kepada siswa agar siswa tertarik terhadap materi pembelajaran tersebut, tetapi dengan begitu masih banyak siswa yang tidak memperhatikan guru sehingga dalam mengerjakan tugas tidak tahu harus bagaimana menyelesaikannya.
Pada setiap selesai satu kali pertemuan guru selalu memberikan pekerjaan rumah (PR) dengan tujuan agar siswa mau belajar dan melatih diri dalam menulis hal-hal yang dialaminya sepanjang hari yang dapat dikumpul pada pertemuan berikutnya masih banyak siswa yang tidak menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) tersebut dengan berbagai alasan yang mereka berikan. Karena hasil yang dapat di siklus pertama belum menunjukkan hasil yang optimal dan metode yang digunakan belum terserap dengan baik pada siswa maka perlu dilanjutkan pada siklus II.
8. Siklus II
a. Hasil analisis kuantitatif
Sama hal pada siklus I tes hasil belajar pada siklus II ini dengan pokok bahasan menulis tek berita (catatan harian) dilaksanakan dengan bentuk ulangan harian pada siklus II dilihat pada table 2. 5 berikut
Statistik Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Statistik Nilai Statistik
Jumlah siswa
Skor ideal
Nilai maksimum
Nilai minimum
Rentang skor
Skor rata-rata
34
100
95
55
65
80
Apa bila skor hasil belajar siswa dikelompokkan dengan 6 kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti yang disajikan pada table 2. 6 berikut.
Distribusi Frekuensi dan Presentasi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0-39 40-54 55-74 75-89
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi
0 1 6 20
0 % 29,5 % 17,70 % 59,00 %
90-100 Sangat Tinggi 7 20,65 %
Jumlah 34 100
Apa bila hasil tes akhir siswa pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa tes akhir siklus II dapat dilihat pada table 2. 7 berikut.
Skor Kategori Frekuensi Persentase
0,00-64,99 Tidak tuntas 1 29,5 %
65,00-100,00 Tuntas 33 97,35 %
Jumlah 34 100
Perbandingan hasil tes siklus I dan hasil tes siklus II dilihat pada table 2. 8 berikut.
NILAI Siklus I Siklus II
0,00-64,99 53,10 % 29,5 %
56,00-100,00 47,20 % 97,35 %
b. Hasil Analisis Kualitatif
Selama penelitian, selain terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia khususnya materi menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H. Siklus I dan siklus II tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada setiap siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia.
Perubahan tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
Adapun perubahan sikap siswa pada siklus II adalah sebagai berikut:
1. Pada siklus II tampak perubahan ketidakhadiran siswa hampir tidak ada dibandingkan dengan siklus I, jumlah kehadiran siswa yang mencapai 100% menjadi hal yang sangat membantu guru pencapaian tujuan pembelajaran karena sebagaimana dikemukakan sebelumnya siswa menjadi aspek terpenting dalam proses pembelajaranPerhatian siswa pada siklus II tampak terjadi peningkatan pada saat mengerjakan tugas kelompok antara anggota kelompok terjadi dengan sering memberikan bantuan kepada anggota kelompok yang kurang memahami materi pelajaran. Hal tersebut disebabkan adanya penghargaan yang memotivasi mereka untuk saling bekerjasama terhadap masing- masing anggota kelompok sehingga memotivasi mereka untuk dapat memahami dan menghasilkan suatu hasil yang baik bagi dirinya dan kelompoknya.
2. Pada siklus II keaktifan siswa sudah meningkat dalam proses belajar mengajar seperti menjawab pertanyaan, dan sudah tampak berani dan serius dan memberikan penjelasan terhadap hasil diskusi kelompok dan sudah berani bertanya dan berebutan menaikkan tangan untuk menjawab pertanyaan dari guru. Hal ini menunjukkan peningkatan antusiasme siswa dengan memahami materi. Dengan pemahaman yang baik, akan mendorong siswa untuk lebih percaya diri dan bernai untuk mengemukakan pendapat atau menjawab pertanyaan yang diberikan.
3. Selama siklus II berlangsung, perhatian siswa sudah meningkat dengan ditandai banyaknya siswa yang menyetor tugas dan tida ada lagi siswa yang tidak ada lagi yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Dari hasil pemeriksaan tugas diperoleh bahwa selain kuantitas pekerjaan tugas yang meningkat, kualitas pekerjaan merekapun juga meningkatkan hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang diperoleh yang tidak ada lagi siswa yang memperoleh nilai sedang kebawah.
4. Pada siklus II siswa yang membutuhkan bimbingan sudah rendah, hal ini karena adanya kerjasama dalam kelompok, karena peran dari tiap kelompok yang berlangsung dengan baik, tiap anggota kelompok diberi peran dan kesempatan.
5. luas untuk aktif dalam mengemukakan pendapat dan hasil tulisannya sehingga apabila ada kekurangan dapat langsung mereka diskusikan dan mengambil suatu pemecahan kelompok bersama-sama, sehingga membantu para anggota kelompok agar dapat memahami materi bersama-sama.
6. Pada siklus II siswa sangat antusias dan berani mengajukan diri untuk membacakan hasil tulisannya di depan kelas.
7. Pada siklus II saat siswa melakukan diskusi dengan anggota kelompoknya, siswa yang melakukan kegiatan lebih sudah rendah sekitar 1-2 orang. Karena minta terhadap materi yang tinggi, disamping peran dan kesempatan yang sama dari tiap anggota kelompok untuk mengemukakan hasil tulisan teks beritanya, sehingga menjadi salah satu aspek yang mendorong siswa untuk memusatkan perhatian dan kegiatan pada tugas kelompok yang diberikan.
c. Hasil Refleksi
Begitu pula siklus II juga dilaksanakan 5 kali pertemuan dengan menerapkan pembelajaran yang sama dengan berbagai macam metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Lain halnya pada siklus II kehadiran siswa hadir hamper tidak ada yang
tidak hadir mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena rasa ingin tahu siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia khususnya materi menulis jurnal yang sebelumnya dianggap sulit itu ternyata mudah, sehingga timbul semangat untuk mengikuti pelajaran.
Begitu pula perhatian siswa semakin antusias saja dalam menerima materi pelajaran, sehingga mengerjakan tugas tidak mengganggu teman kelompoknya. Sama halnya pada pemberian PR hampir semua siswa mengerjakan dan mengumpulnya. Pada siklus II ini, semangat dan minat siswa semakin meningkat dengan adanya penghargaan yang diberikan sehingga dapat memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil analisis terhadap refleksi dapat disimpulkan hambatan-hambatan siswa dalam menerapkan pembelajaran menulis dengan menggunakan upaya meningkatkan keterampilan menulis adalah sebagai berikut:
1. Penyajian materi terlalu cepat sehingga siswa kurang mengerti.
2. Masih kurangnya sarana dan prasarana pendukung dalam meningkatkan proses belajar mengajar.
3. Dalam pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan 5W+1H (catatan harian) dengan upaya meningkatkan keterampilan menulis, membutuhkan waktu yang banyak.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran keterampilan menulis teks berita dengan teknik pemodan yang terdiri dari dua siklus. Penelitian ini membuahkan hasil yang signifikan yakni upaya meningkatkan keterampilan menulis teks berita dengan teknik pemodelan siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 7 Makassar.