21
Universitas Kristen Petra 4. ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Informasi Umum Objek Penelitian
Dari penyebaran kuesioner yang telah dilakukan terdapat 54 responden dari pihak kontraktor. Para responden tersebut berasal dari 6 (Enam) kontraktor yang ada di kota Surabaya. Dari data responden kontraktor yang terdiri dari 54 responden mayoritas memiliki pengalaman bekerja di bidang konstruksi selama <
5 tahun sementara untuk minoritas memiliki pengalaman > 10 tahun seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.1
Gambar 4.1. Pengalaman Responden
Dari data responden kontraktor yang ada mayoritas pernah menangani proyek yang memiliki besaran nilai kontrak > 150 milyar sementara minoritas hanya pernah menangani proyek dengan besaran nilai kontrak 1 – 50 milyar, 50 – 100 miliyar, 100 – 150 milyar seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.2
Gambar 4.2. Besar Nilai Kontrak Bangunan Yang Pernah Ditangani Responden
22
Universitas Kristen Petra 4.2. Analisa Frekuensi Terjadinya Change Order Pada Pekerjaan
Konstruksi
Dari hasil analisa data seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pada pekerjaan finishing merupakan pekerjaan yang paling sering mengalami perubahan kontrak (change order). Hal ini terjadi karena di dalam pekerjaan finishing itu sendiri sering kali terjadi perubahan desain akibat permintaan dari pihak owner seperti mengganti ukuran keramik, mengganti wallpaper, dll.
Dapat dilihat juga pada keempat pekerjaan yang lain juga menunjukan bahwa sering terjadi perubahan kontrak (change order) sehingga dapat dipastikan bahwa pada setiap pekerjaan kontsruksi terjadi perubahan kontrak (change order).
Hal ini terjadi karena setiap pekerjaan dapat berubah tergantung dari situasi serta kondisi proyek dan termasuk perubahan-perubahan akibat dari permintaan owner itu sendiri.
Tabel 4.1. Nilai Mean dan Ranking Dari Frekuensi Terjadinya Change Order Pada Pekerjaan Konstruksi
4.3 Analisa Besaran Nilai Change Order Terhadap Nilai Kontrak Pekerjaan
Dari hasil analisa data seperti yang terdapat pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan nilai change order terhadap nilai kontrak pada pekerjaan konstruksi mulai dari pekerjaan pondasi, struktur bawah, struktur atas dan finishing untuk besar nilai change order terhadap nilai kontrak pada pekerjaan pondasi adalah sebesar 0.1 – 5%, besar nilai change order terhadap nilai kontrak
TAHAPAN PEKERJAAN Mean Ranking
Finishing 4.72 1
Struktur Atas 3.52 2
Struktur Bawah 3.33 3
Pondasi 3.04 4
23
Universitas Kristen Petra pada pekerjaan struktur bawah adalah sebesar 5.1 – 10%, sedangkan besar nilai change order terhadap nilai kontrak pada pekerjaan struktur atas adalah sebesar 10.1 – 20% dan besar nilai change order terhadap nilai kontrak pada pekerjaan finishing adalah sebesar 10.1 – 20%.
Dan dapat dilihat dari Tabel 4.2. pada pekerjaan struktur atas dan finishing ternyata memiliki besar nilai change order terhadap nilai kontrak pekerjaan yang terbesar yaitu sebesar 10.1 – 20% jika dibandingkan dengan pekerjaan konstruksi yang lain hal ini dikarenakan pada pekerjaan struktur atas memiliki pekerjaan dengan kuantitas yang besar karena jika terjadi perubahan pada pekerjaan kolom, balok, pelat maka tentu nya biaya yang dikeluarkan tidak murah sedangkan pada pekerjaan finishing disebabkan karena permintaan dari pihak owner itu sendiri maupun disebabkan karena harga material yang mahal.
Tabel 4.2. Persentase Nilai Change Order Terhadap Nilai Kontrak Pekerjaan (%)
Persentase Nilai Change Order Terhadap Nilai Kontrak Pekerjaan (%)
Pondasi Struktur Bawah
Struktur Atas
Finishing
0% 0.00% * 0.00% 1.85% 0.00%
0.1%-5% 44.44% 29.63% 22.22% 9.26%
5.1%-10% 12.96% 35.19% 29.63% 18.52%
10.1%-20% 11.11% 18.52% 31.48% 25.93%
20.1%-30% 14.81% 3.70% 1.85% 24.07%
>30% 1.85% 1.85% 1.85% 12.96%
Tidak tahu 14.81% 11.11% 11.11% 9.26%
*Jumlah Responden Dalam Persentase
24
Universitas Kristen Petra 4.4. Analisa Faktor-Faktor Penyebab Change Order
4.4.1 Analisa Faktor-Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Setiap Pekerjaan Konstruksi
4.4.1.1. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Pondasi Dari hasil analisa data yang diperoleh didapatkan persentase seperti yang terdapat pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa terdapat 2 (Dua) faktor utama penyebab terjadinya perubahan kontrak (change order) pada pekerjaan pondasi.
Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Faktor alam yang tak terduga. (70.37%) 2. Perubahan desain. (53.70%)
Faktor alam yang tak terduga dalam pekerjaan pondasi adalah faktor yang menyebabkan terjadinya change order. Faktor alam yang tak terduga ini dapat berupa banjir, tanah longsor, penurunan tanah, kondisi tanah yang buruk dan lain- lain. Faktor alam tak terduga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kontrak (change order) seperti perubahan ukuran tiang pancang dikarenakan ukuran tiang pancang yang lama kurang cukup kuat dengan kondisi tanah yang ada akibat hujan yang terjadi secara terus menerus. Bilamana terdapat kejadian alam yang tak terduga, pekerjaan pondasi mungkin tidak dapat bekerja secara efektif dan aman, maka perubahan dari rencana awal harus dibuat sehingga pekerjaan tersebut dapat dilakukan kembali (Hsieh, 2004).
Perubahan desain dapat berupa penambahan atau pengurangan dalam skala kecil maupun besar sehingga terjadi perubahan kontrak (change order).
Perubahan desain merupakan faktor yang disebabkan oleh banyak hal seperti kesalahan estimasi kuantitas, kesalahan desain, maupun permintaan dari pihak lain seperti penambahan tinggi gedung yang secara langsung mempengaruhi beban dan membutuhkan penambahan tiang pancang untuk menahan beban tambahan. Hal ini didukung dengan salah satu pengalaman responden yang mengatakan bahwa pada salah satu proyek di Surabaya terjadi adanya perubahan penambahan lantai dan tinggi gedung karena permintaan owner sehingga harus menambah jumlah tiang pancang untuk menahan beban yang ada. Perubahan desain pun dapat mencakup skala besar maupun skala kecil yang dimaksud dengan skala besar adalah perubahan desain secara total. (Barrie & Paulson, 1992)
25
Universitas Kristen Petra Tabel 4.3. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Pondasi
No FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB CHANGE ORDER PONDASI
1 Faktor alam yang tak terduga 70.37%
2 Perubahan desain 53.70%
3 Kesalahan dalam planning dan desain (gambar & spesifikasi) 48.15%
4 Ketidaksesuaian antara gambar dan keadaan lapangan 44.44%
5 Penambahan scope pekerjaan 35.19%
6 Buruknya alur informasi dari owner 35.19%
7 Kurangnya informasi tentang keadaan lapangan 33.33%
8 Owner / konsultan terlambat dalam menyetujui gambar, desain kontrak & klarifikasi 33.33%
9 Pengurangan scope pekerjaan 31.48%
10 Pembayaran Owner terlambat 31.48%
11 Perselisihan antar pihak (owner, kontraktordan desain representatif) 29.63%
12 Penambahan fasilitas untuk lingkungan penduduk 20.37%
13 Jadwal proyek yang terlalu padat 20.37%
14 Perubahan metode kerja 18.52%
15 Perubahan hukum/pemerintahan 18.52%
16 Material / peralatan supply by contractorterlambat 18.52%
17 Kurangnya QA/QC 18.52%
18 Kontrak yang kurang tegas 16.67%
19 Penghentian kontrak sementara 16.67%
20 Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak 16.67%
21 Perselisihan antar pekerja 16.67%
22 Perlambatan pekerjaan oleh owner 14.81%
23 Material yang tidak tersedia di pasar 12.96%
24 Kurangnya pengetahuan tentang karakter material (desainer) 11.11%
25 Percepatan pekerjaan oleh owner 11.11%
26 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Kontraktor 11.11%
27 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Owner 11.11%
28 Kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan 11.11%
29 Material supply by ownerterkirim tidak sesuai dengan spesifikasi 9.26%
30 Material / peralatan supply by ownerterlambat 9.26%
31 Kurang memadainya peralatan/perlengkapan 7.41%
32 Perselisihan pekerja dengan kontraktor 7.41%
33 Material supply bycontractor tidak sesuai dengan spesifikasi 5.56%
34 Faktor lain yang tak terduga : 1.85%
26
Universitas Kristen Petra 4.4.1.2. Faktor Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Struktur Bawah
Dari hasil analisa data yang diperoleh didapatkan persentase seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.4 terdapat 2 (Dua) faktor utama penyebab terjadinya perubahan kontrak (change order) pada pekerjaan struktur bawah. Faktor tersebut adalah:
1. Perubahan desain. (53.7%)
2. Faktor alam yang tak terduga. (51.85%)
Perubahan desain dapat berupa penambahan atau pengurangan dalam skala kecil maupun skala yang besar sehingga terjadi perubahan kontrak (change order). Perubahan desain merupakan faktor yang disebabkan oleh berbagai hal antara lain seperti kesalahan dari estimasi kuantitas, kesalahan desain, maupun permintaan dari pihak lain. Perubahan desain ini dapat berupa seperti penambahan maupun pengurangan tinggi ruangan basement karena berbagai pertimbangan owner dan seperti pengalaman salah satu responden yang mengatakan bahwa sering terjadi adanya perubahan fungsi bangunan yang tentunya merubah desain sebagian dari poer tersebut mulai dari merubah diameter tulangan, jarak antar tulangan dan bahkan mungkin merubah secara total dari desain poer tersebut dan jika merubah total dari desain poer tersebut maka biaya yang dikeluarkan juga tidak murah. Perubahan desain pun dapat mencakup skala besar maupun skala kecil yang dimaksud dengan skala besar adalah perubahan desain secara total dari pekerjaan tersebut dan hampir selalu pada proyek terjadi perubahan desain dalam skala kecil (Barrie & Paulson, 1992)
Faktor alam yang tak terduga pada perkerjaan struktur bawah adalah faktor yang menyebabkan terjadinya change order hal ini disebabkan karena banyak pekerjaan struktur bawah seperti pekerjaan poer, basement dan lain-lain dikerjakan di dalam tanah. Hubungan ini membuat pekerjaan tidak dapat dilaksanakan bilamana kondisi tanah di proyek tersebut jelek karena terjadi hujan secara terus menerus. Bilamana terdapat kejadian alam yang tak terduga, pekerjaan konstruksi khusunya pada pekerjaan pondasi dan struktur bawah tidak dapat bekerja secara efektif dan aman, maka perubahan dari rencana awal harus dibuat sehingga pekerjaan dapat dilakukan kembali (Hsieh, 2004).
27
Universitas Kristen Petra Tabel 4.4. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Struktur Bawah
No. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB CHANGE ORDER STRUKTUR
BAWAH
1 Perubahan desain 53.70%
2 Faktor alam yang tak terduga 51.85%
3 Perubahan metode kerja 48.15%
4 Ketidaksesuaian antara gambar dan keadaan lapangan 46.30%
5 Pembayaran Owner terlambat 46.30%
6 Buruknya alur informasi dari owner 44.44%
7 Penambahan scope pekerjaan 40.74%
8 Owner / konsultan terlambat dalam menyetujui gambar, desain kontrak & klarifikasi 40.74%
9 Pengurangan scope pekerjaan 40.74%
10 Kurangnya informasi tentang keadaan lapangan 38.89%
11 Perselisihan antar pihak (owner, kontraktor dan desain representatif) 33.33%
12 Kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan 33.33%
13 Kontrak yang kurang tegas 31.48%
14 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Owner 29.63%
15 Kesalahan dalam planning dan desain (gambar & spesifikasi) 27.78%
16 Penambahan fasilitas untuk lingkungan penduduk 27.78%
17 Percepatan pekerjaan oleh owner 27.78%
18 Kurang memadainya peralatan/perlengkapan 27.78%
19 Perubahan hukum/pemerintahan 25.93%
20 Perlambatan pekerjaan oleh owner 25.93%
21 Jadwal proyek yang terlalu padat 24.07%
22 Perselisihan pekerja dengan kontraktor 24.07%
23 Kurangnya QA/QC 22.22%
24 Material yang tidak tersedia di pasar 20.37%
25 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Kontraktor 20.37%
26 Material / peralatan supply by contractor terlambat 18.52%
27 Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak 18.52%
28 Perselisihan antar pekerja 18.52%
29 Material supply by owner terkirim tidak sesuai dengan spesifikasi 18.52%
30 Material / peralatan supply by owner terlambat 18.52%
31 Penghentian kontrak sementara 14.81%
32 Kurangnya pengetahuan tentang karakter material (desainer) 14.81%
33 Material supply by contractor tidak sesuai dengan spesifikasi 9.26%
34 Faktor lain yang tak terduga : 9.26%
28
Universitas Kristen Petra 4.4.1.3. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Struktur Atas
Dari hasil analisa data yang diperoleh didapatkan persentase seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.5 terdapat 2 (Dua) faktor utama penyebab terjadinya change order pada pekerjaan struktur atas. Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Perubahan desain. (53.70%)
2. Penambahan scope pekerjaan. (53.70%)
Perubahan desain seringkali terjadi di pekerjaan stuktur atas seperti penambahan tinggi, dan lantai gedung. Perubahan desain ini terjadi karena beberapa faktor salah satunya adalah permintaan dari pihak owner itu sendiri maupun pertimbangan dari pihak konsultan dan desainer dan juga perubahan fungsi bangunan seperti semula direncanakan akan dibuat ruang meeting akan tetapi pada berjalan nya proyek owner meminta ruang meeting tersebut untuk diganti menjadi ruangan kantor untuk karyawan maka tentunya desain dari ruangan tersebut akan berubah dan terjadilah perubahan kontrak (change order).
Faktor penambahan scope pekerjaan dapat terjadi karena keputusan dari pihak owner itu sendiri untuk menambah pekerjaan lain yang tidak termasuk pada kontrak awal dengan kontraktor, sehingga terjadilah perubahan kontrak yang mencakup scope pekerjaan yang baru. Penambahan scope pekerjaan struktur atas ini sendiri seperti penambahan ruangan kamar mandi, penambahan ruangan kantor karena berbagai pertimbangan. Penambahan scope ini pada kasus lain dapat terjadi seperti pada awal kontrak kesepakatan antara pihak owner dan kontraktor dimana semula tertulis bahwa untuk material telah disediakan sendiri oleh owner tersebut dan kontraktor hanya mengerjakan pengecoran struktur atas, akan tetapi pada berjalannya proyek ternyata owner meminta kepada kontraktor untuk menyediakan material juga sehingga scope pekerjaan kontraktor tersebut menjadi bertambah dan terjadilah perubahan kontrak (change order). Change order akibat penambahan scope pekerjaan ini akan mendorong terjadinya kenaikan harga kontrak (Soeharto, 1997).
29
Universitas Kristen Petra Tabel 4.5. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Struktur Atas
No. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB CHANGE ORDER STRUKTUR
ATAS
1 Perubahan desain 53.70%
2 Penambahan scope pekerjaan 53.70%
3 Owner / konsultan terlambat dalam menyetujui gambar, desain kontrak & klarifikasi 48.15%
4 Pembayaran Owner terlambat 48.15%
5 Pengurangan scope pekerjaan 42.59%
6 Buruknya alur informasi dari owner 40.74%
7 Percepatan pekerjaan oleh owner 37.04%
8 Perlambatan pekerjaan oleh owner 37.04%
9 Ketidaksesuaian antara gambar dan keadaan lapangan 35.19%
10 Kesalahan dalam planning dan desain (gambar & spesifikasi) 33.33%
11 Perselisihan antar pihak (owner, kontraktordan desain representatif) 33.33%
12 Kontrak yang kurang tegas 29.63%
13 Perubahan hukum/pemerintahan 27.78%
14 Material supply by ownerterkirim tidak sesuai dengan spesifikasi 25.93%
15 Material / peralatan supply by ownerterlambat 25.93%
16 Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak 24.07%
17 Material yang tidak tersedia di pasar 24.07%
18 Perselisihan antar pekerja 24.07%
19 Kurangnya QA/QC 22.22%
20 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Owner 22.22%
21 Perubahan metode kerja 20.37%
22 Penghentian kontrak sementara 20.37%
23 Jadwal proyek yang terlalu padat 20.37%
24 Kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan 20.37%
25 Penambahan fasilitas untuk lingkungan penduduk 18.52%
26 Kurang memadainya peralatan/perlengkapan 18.52%
27 Kurangnya pengetahuan tentang karakter material (desainer) 14.81%
28 Faktor alam yang tak terduga 14.81%
29 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Kontraktor 14.81%
30 Material / peralatan supply by contractorterlambat 12.96%
31 Perselisihan pekerja dengan kontraktor 11.11%
32 Kurangnya informasi tentang keadaan lapangan 9.26%
33 Material supply bycontractor tidak sesuai dengan spesifikasi 9.26%
34 Faktor lain yang tak terduga : 3.70%
30
Universitas Kristen Petra 4.4.1.4. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Finishing
Dari hasil analisa data yang diperoleh didapatkan persentase seperti yang terdapat pada Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa ada 5 (lima) faktor utama penyebab terjadinya perubahan kontrak (change order) pada pekerjaan finishing. Faktor- faktor tersebut adalah:
1. Penambahan scope pekerjaan. (79.63%) 2. Pengurangan scope pekerjaan. (72.22%)
3. Owner/konsultan terlambat dalam menyetujui gambar, desain, kontrak dan klarifikasi. (70.37%)
4. Perubahan desain. (66.67%)
5. Material tidak tersedia di pasar. (62.96%)
Faktor penambahan scope dalam pekerjaan finishing merupakan faktor yang menunjukkan nilai persentase terbesar dan penambahan scope pekerjaan ini terjadi seperti pada kesepakatan awal kontrak tertulis bahwa kontraktor hanya mengerjakan untuk pekerjaan dinding partisi saja, namun pada pertengahan proyek pihak owner memutuskan untuk meminta kontraktor juga mengerjakan pemasangan wallpaper atau pengecatan, maka terjadilah perubahan kontrak (change order) dalam pekerjaan tersebut karena owner menambah scope pekerjaan dari kontraktor tersebut. Sedangkan untuk faktor pengurangan scope pekerjaan sama seperti penambahan scope pekerjaan namun berlaku sebaliknya.
Untuk penambahan dan pengurangan scope juga dapat terjadi seperti dimana awal kesepakatan kontrak antara pihak owner dengan pihak kontraktor hanya menyelesaikan pekerjaan struktur bawah dan atas akan tetapi pada berjalan nya proyek pihak owner meminta kepada kontraktor untuk mengerjakan pekerjaan finishing yang di mana tidak terdapat kesepakatan di awal kontrak yang menyebutkan bahwa kontraktor mengerjakan pekerjaan finishing maka akhirnya terjadilah perubahan kontrak (change order) dan sebaliknya juga seperti pada awal kesepakatan kontrak disebutkan bahwa kontraktor hanya mengerjakaan pekerjaan struktur dan finishing akan tetapi, pada berjalan nya proyek dengan segala pertimbangan dari pihak owner meminta kepada kontraktor untuk mengerjakan pekerjaan struktur saja maka akhirnya terjadilah pengurangan kontrak (change order).
31
Universitas Kristen Petra Faktor lambatnya persetujuan gambar kerja oleh owner/konsultan adalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadi perubahan kontrak (change order) hal ini dikarenakan kontraktor merupakan pihak yang diberi pekerjaan oleh pihak owner, jadi peran kontraktor pada suatu proyek adalah mengerjakan pekerjaan sesuai dengan yang diminta oleh pihak owner. Kontraktor dalam bekerja mengacu kepada suatu gambar kerja yang valid yang telah disetujui oleh pihak owner dan konsultan, bilamana gambar kerja yang dimaksud tidak ada atau tidak jelas maka kontraktor tidak dapat melakukan atau melanjutkan pekerjaannya. Sehingga dengan adanya gambar kerja yang valid merupakan syarat mutlak daripada kelangsungan suatu proyek konstruksi.
Faktor perubahan desain dalam pekerjaan finishing juga menyebabkan terjadinya perubahan kontrak (change order) seperti pada pemasangan keramik pada pekerjaan finishing dapat mengalami perubahan desain dimana pihak owner ingin mengganti dengan spesifikasi atau material lain yang mungkin lebih murah atau lebih praktis maka terjadilah perubahan kontrak (change order) agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan kembali. Faktor perubahan desain paling banyak terjadi karena permintaan dari pihak owner. Bila penyebab dari perubahan desain adalah karena kesalahan desain maka sepenuhnya adalah tanggung jawab dari pihak perencana desain itu sendiri (Hsieh, 2004).
Faktor material yang tidak tersedia dilapangan disebabkan kurangnya informasi dari pihak desainer maupun kontraktor tentang stok atau ketersediaan material di lapangan dan faktor ini bisa terjadi karena pihak owner meminta material yang memang tidak ada dipasaran. Faktor ini secara tidak langsung juga berhubungan langsung dengan faktor perubahan desain dikarenakan bilamana tidak ada material seperti yang telah direncanakan sebelumnya maka tentunya diperlukan pergantian material yang lain maka terjadilah perubahan kontrak (change order) pada pekerjaan tersebut. Dalam pergantian material itu sendiri harus mendapat persetujuan oleh pihak owner dan konsultan dengan kontrak yang baru agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan kembali oleh kontraktor.
32
Universitas Kristen Petra Tabel 4.6. Faktor Utama Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Finishing
No. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB CHANGE ORDER FINISHING
1 Penambahan scope pekerjaan 79.63%
2 Pengurangan scope pekerjaan 72.22%
3 Owner / konsultan terlambat dalam menyetujui gambar, desain kontrak & klarifikasi 70.37%
4 Perubahan desain 66.67%
5 Material yang tidak tersedia di pasar 62.96%
6 Kontrak yang kurang tegas 50.00%
7 Material supply by ownerterkirim tidak sesuai dengan spesifikasi 50.00%
8 Buruknya alur informasi dari owner 48.15%
9 Kesalahan dalam planning dan desain (gambar & spesifikasi) 44.44%
10 Kurangnya pengetahuan tentang karakter material (desainer) 44.44%
11 Jadwal proyek yang terlalu padat 44.44%
12 Material supply bycontractor tidak sesuai dengan spesifikasi 44.44%
13 Perlambatan pekerjaan oleh owner 44.44%
14 Ketidaksesuaian antara gambar dan keadaan lapangan 42.59%
15 Percepatan pekerjaan oleh owner 42.59%
16 Material / peralatan supply by contractorterlambat 40.74%
17 Pembayaran Owner terlambat 38.89%
18 Perselisihan antar pihak (owner, kontraktordan desain representatif) 38.89%
19 Material / peralatan supply by ownerterlambat 37.04%
20 Kurang memadainya peralatan/perlengkapan 37.04%
21 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Kontraktor 37.04%
22 Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak 33.33%
23 Kurangnya QA/QC 33.33%
24 Perubahan metode kerja 31.48%
25 Perubahan hukum/pemerintahan 31.48%
26 Kurangnya informasi tentang keadaan lapangan 31.48%
27 Kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan 29.63%
28 Penghentian kontrak sementara 25.93%
29 Penambahan fasilitas untuk lingkungan penduduk 24.07%
30 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Owner 24.07%
31 Perselisihan antar pekerja 24.07%
32 Perselisihan pekerja dengan kontraktor 20.37%
33 Faktor alam yang tak terduga 16.67%
34 Faktor lain yang tak terduga : 9.26%
33
Universitas Kristen Petra 4.4.2. Analisa Faktor-Faktor Penyebab Change Order Secara Global Pada Pekerjaan Konstruksi
Dari hasil analisa data yang diperoleh didapatkan persentase seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.7 terdapat 1 (satu) faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kontrak (change order) pada keseluruhan pekerjaan konstruksi mulai dari pekerjaan pondasi, struktur bawah, struktur atas dan finishing. Faktor tersebut adalah perubahan desain.
Karena memang faktor perubahan desain ini menyerang ke semua tahapan pekerjaan konstruksi mulai dari pekerjaan pondasi, struktur bawah, struktur atas serta finishing. Hal ini dikarenakan pada setiap pekerjaan konstruksi hampir dipastikan terdapat perubahan-perubahan dalam skala yang kecil maupun dalam skala yang besar (Barrie & Paulson, 1992). Perubahan desain ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor antara lain seperti kesalahan dari estimasi kuantitas, kesalahan desain, maupun permintaan perubahan dari pihak owner.
Sedangkan untuk faktor-faktor yang lain tidak terlalu menyerang ke semua pekerjaan konstruksi seperti faktor alam yang terduga hanya menyerang ke pekerjaan pondasi dan struktur bawah saja karena memang untuk pekerjaan tersebut yang seringkali mengalami masalah dengan alam dikarenakan seperti masalah cuaca yang buruk saat pekerjaan pemancangan ataupun pekerjaan pembesian poer sedangkan untuk pekerjaan struktur atas dan finishing tidak terlalu terpengaruh dengan masalah faktor alam kecuali kalau faktor alam tersebut adalah gempa bumi yang dahsyat yang dapat berpengaruh terhadap struktur bangunan tersebut.
34
Universitas Kristen Petra Tabel 4.7. Faktor Global Penyebab Change Order Pada Pekerjaan Konstruksi
No. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB CHANGE ORDER PONDASI STRUKTUR BAWAH
STRUKTUR
ATAS FINISHING
1 Kesalahan dalam planning dan desain (gambar & spesifikasi) 48.15% 27.78% 33.33% 44.44%
2 Perubahan desain 53.70% 53.70% 53.70% 66.67%
3 Perubahan metode kerja 18.52% 48.15% 20.37% 31.48%
4 Kontrak yang kurang tegas 16.67% 31.48% 29.63% 50.00%
5 Penghentian kontrak sementara 16.67% 14.81% 20.37% 25.93%
6 Ketidaksesuaian antara gambar dan keadaan lapangan 44.44% 46.30% 35.19% 42.59%
7 Kurangnya pengetahuan tentang karakter material (desainer) 11.11% 14.81% 14.81% 44.44%
8 Penambahan scope pekerjaan 35.19% 40.74% 53.70% 79.63%
9 Pengurangan scope pekerjaan 31.48% 40.74% 42.59% 72.22%
10 Perubahan hukum/pemerintahan 18.52% 25.93% 27.78% 31.48%
11 Penambahan fasilitas untuk lingkungan penduduk 20.37% 27.78% 18.52% 24.07%
12 Jadwal proyek yang terlalu padat 20.37% 24.07% 20.37% 44.44%
13 Kurangnya informasi tentang keadaan lapangan 33.33% 38.89% 9.26% 31.48%
14
Material supply by owner terkirim tidak sesuai dengan
spesifikasi 9.26% 18.52% 25.93% 50.00%
15 Material supply by contractor tidak sesuai dengan spesifikasi 5.56% 9.26% 9.26% 44.44%
16 Material / peralatan supply by owner terlambat 9.26% 18.52% 25.93% 37.04%
17 Material / peralatan supply by contractor terlambat 18.52% 18.52% 12.96% 40.74%
18 Buruknya alur informasi dari owner 35.19% 44.44% 40.74% 48.15%
19
Owner / konsultan terlambat dalam menyetujui gambar,
desain kontrak & klarifikasi 33.33% 40.74% 48.15% 70.37%
20 Percepatan pekerjaan oleh owner 11.11% 27.78% 37.04% 42.59%
21 Perlambatan pekerjaan oleh owner 14.81% 25.93% 37.04% 44.44%
22 Faktor alam yang tak terduga 70.37% 51.85% 14.81% 16.67%
23 Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak 16.67% 18.52% 24.07% 33.33%
24 Kurangnya QA/QC 18.52% 22.22% 22.22% 33.33%
25 Kurang memadainya peralatan/perlengkapan 7.41% 27.78% 18.52% 37.04%
26 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Kontraktor 11.11% 20.37% 14.81% 37.04%
27 Kegagalan menyuplai tenaga kerja oleh Owner 11.11% 29.63% 22.22% 24.07%
28 Pembayaran Owner terlambat 31.48% 46.30% 48.15% 38.89%
29 Material yang tidak tersedia di pasar 12.96% 20.37% 24.07% 62.96%
30 Perselisihan antar pekerja 16.67% 18.52% 24.07% 24.07%
31 Perselisihan pekerja dengan kontraktor 7.41% 24.07% 11.11% 20.37%
32
Perselisihan antar pihak (owner, kontraktordan desain
representatif) 29.63% 33.33% 33.33% 38.89%
33 Kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan 11.11% 33.33% 20.37% 29.63%
34 Faktor lain yang tak terduga : 1.85% 9.26% 3.70% 9.26%