1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) merupakan suatu persoalan yang sering terjadi di Indonesia, sesuai dalam pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum,”1 Sudah seharusnya tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) di Indonesia harus mendapat tindakan yang tegas dan serius dari aparat penegak hukum karena kenyataannya hal tersebut masih sering terjadi di Indonesia . Main hakim sendiri (eigenrichting) yang dilakukan oleh para pelaku tindak pidana bukanlah cara yang tepat, melainkan merupakan suatu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan telah memberikan kontribusi negatif terhadap proses penegakan hukum yang ada di Indonesia . Masyarakat kurang memahami bahwa tidak hanya mereka yang memiliki hak asasi, hak martabat, dan lainnya, tetapi para pelaku tindak pidana pun memiliki hak asasi yaitu hak untuk mendapatkan perlindungan hukum di muka pengadilan.2
Salah satu bentuk dari perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) yakni pengeroyokan dan pemukulan yang dilakukan baik secara beramai-ramai maupun sendiri oleh masyarakat yang tidak dapat mengontrol emosinya. Dalam hal ini masyarakat melakukan pemukulan dan pengeroyokan secara berutal kepada mereka
1 Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945
2 Eli Supianto, 2014, Tinjauan Kriminologis Terhadap Tindakan Main Hakim Sendiri (Eigenrichting) yang Dilakukan Oleh Massa Terhadap Pelaku Tindak Pidana, Makassar:
Universitas Hasanuddin Makassar, hal 2-3
2 yang diduga sebagai pelaku tindak pidana dan pelaku tindak pidana yang tertangkap tangan, tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dianggap sangat bertentangan dengan hukum yang belaku di Indonesia . Kecuali seseorang dalam keadaan terpaksa misalnya melakukan pembelaan berpotensi melakukan ancaman secara fisik.
Pengeroyokan yang dilakukan terhadap pelaku tindak pidana bukan lagi suatu persoalan yang hanya terjadi sekali saja, tetapi perbuatan ini sudah sering terjadi dalam dunia hukum kita. Di Indonesia sendiri kematian akibat dari perbuatan ini sangat banyak terjadi. International Crisis Group mencatat sekitar 2000 kematian yang terjadi setiap tahun akibat aksi pengeroyokan. Angka ini jauh lebih tinggi dari kematian yang diakibatkan konflik bersenjata di Aceh yang “hanya”
sekitar 1137 jiwa pertahun3
Tindakan Main hakim sendiri (eigenrichting) tersebut menunjukkan bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang cenderung menyiapkan kekuatan fisik sebagai langkah antisipasi dalam menyelesaikan setiap permasalahnya ketimbang menggunakan jalur hukum yang dinilai masyarakat kurang efektif. Atas kondisi demikian, peran dan fungsi dari aparat penegak hukum yakni kepolisian menjadi penting untuk menanggulangi perbuatan yang mengarah pada tindakan main hakim sendiri.
Berbagai macam upaya dapat dilakukan, baik melalui upaya perventif maupun represif. Secara preventif dapat dilakukan melalui penyuluhan/sosialisasi
3 Tribun News, Hakimi Siapapun yang main hakim Sendiri, www.aceh.tribunnews.com , diakses tanggal 28 Maret 2019
3 tentang kesadaran hukum kepada masyarakat , sedangkan dengan upaya represif yaitu dilakukan melalui penegakan hukum dengan cara menindak para pelaku tindakan main hakim sendiri. Dengan kata lain, para pelaku main hakim sendiri mempertanggungjawabkan tindakan mereka secara pidana melalui pembebanan sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).4
Perkembangan kehidupan masyarakat yang begitu cepat sebagai hasil dan proses pelaksanaan pembangunan disegala bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, keamanan, dan budaya telah membawa pula dampak negatif berupa peningkatan kualitas dan kuantitas berbagai macam kejahatan yang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat. Dengan berkembangnya jaman pada masa sekarang ini tanpa memperhatikan adanya hukum yang mengatur, maka tindakan main hakim sendiri akan menimbulkan banyak persoalan yang terjadi didalam masyarakat. Penyebab terjadinya tindakan main hakim sendiri memunculkan anggapan dari masyarakat bahwa lembaga hukum (Polisi, Jaksa, Hakim) gagal dalam menanggulangi masalah dan dianggap lambat dalam menjalankan tugasnya serta adanya ketidakpuasan masyarakat dalam penegakkan hukum yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. 5
4 Kiki Kristanto,2015, Perbuatan Main Hakim Sendiri Dalam Perspektif Hukum Pidana, Palangkaraya, Jurnal Morality , Vol.02 No.02, Fakultas Hukum. Universitas Palangka Raya.
Hal.04
5 Chandro Panjaitan & Firman Wijaya. 2018. Penyebab Terjadinya Tindakan Main Hakim Sendiri atau Main Hakim Sendiri yang menyebabkan Kematian , Jakarta, Jurnal Hukum Adigama, Vol.01, No.01, Fakultas Hukum , Universitas Tarumanegara, Hal. 3-4
4 Seringkali terjadi tersangka pelaku tindak pidana kejahatan dan merugikan masyarakat dilepas oleh penegak hukum dengan alasan kurang kuatnya bukti yang ada. Kalaupun diproses sampai pengadilan, hukum yang dijatuhkan tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Adanya anggapan yang demikian, memicu sebagian masyarakat yang merasa keamanan dan ketentramannya terganggu untuk melakukan perbuatan main hakim sendiri terhadap pelaku kejahatan tanpa mengikuti proses hukum yang berlaku. Pelaku tindak pidana melakukan perbuatan pidana, baik itu tindak pidana pencurian, pembunuhan, penganiayaan dan lain lain haruslah tetap diproses secara hukum. Namun dalam kenyataannya masyarakat terkadang melakukan perbuatan main hakim sendiri ketika mendapati pelaku tindak pidana, misalnya terhadap pelaku tindak pidana pencurian yang tertangkap tangan.
Perbuatan main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat pada dasarnya dilarang oleh undang-undang, karena yang berwenang memproses dan menyelesaikan permasalahan hukum yang terjadi di masyarakat adalah aparat penegak hukum menggunakan jalur hukum.
Masyarakat beranggapan bahwa bila pelaku tindak pidana kejahatan diserahkan kepada aparat penegak hukum yang berwewenang dalam hal ini adalah kepolisian maka, besar kemungkinan pelaku tindak pidana tersebut akan mengulangi kembali perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya dikemudian hari.
Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum menunjukan rendahnya kemampuan aparat penegak hukum untuk mencegah tindakan main hakim sendiri tersebut. kepatuhan serta ketertiban terhadap norma kehidupan bermasyarakat diperlukan dalam suatu
5 Jika dilihat dari hukum yang berlaku di Indonesia, para pelaku tindak pidana main hakim sendiri yang biasa melakukan tindakan berupa pengeroyokan, yang dilakukan secara bersama-sama yang mana tindakan tersebut dapat dikenai dengan ketentuan pasal Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan yang berbunyi :6
(1) “Barangsiapa terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Yang bersalah diancam :
1. Dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, jika dengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasan yang digunakan mengakibatkan luka-luka;
2. Dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, jika kekerasan mengakibatkan luka berat;
3. Dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika kekerasan mengakibatkan matinya orang.
(3) Pasal 89 tidak berlaku bagi pasal ini.”
Kedudukan pelaku tindak pidana atau tersangka dalam KUHAP adalah sebagai subjek, yang mana dalam hal ini setiap pemeriksaan harus diperlakukan dalam kedudukan manusia yang sebagaimana mestinya. Mempunyai harkat, martabat dan harga diri. Tersangka atau pelaku tindak pidana tidak terlihat sebagai obyek yang dilepaskan dari hak asasi dan harkat martabat kemanusiaannya dengan sewenang-wenang. Seorang tersangka atau pelaku tindak pidana tidak dapat diperlakukan dengan semena-mena oleh siapapun dengan alasan bahwa dia telah bersalah dan telah melakukan suatu tindak pidana. Karena sebagaimana dalam asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence) yang dianut di dalam proses peradilan pidana di Indonesia yang tercantum dalam pasal 8 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yakni “Setiap orang yang ditahan, disangka,
6 R.Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 1995 , Hal.146
6 ditangkap, dituntut, dan/ atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.”
Dilihat dari pemaparan diatas ada beberapa hak yang merupakan hak-hak dari pelaku tindak pidana. Yang mana dalam hal ini seseorang yang telah melakukan tindak pidana apapun masih mempunyai hak yang melekat pada diri mereka.
Karena semua orang di Indonesia dilindungi oleh hukum dan berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum. Tetapi pada dasarnya kurangnya pemahaman masyarakat terkait dengan hak-hak pelaku tindak pidana mengakibatkan masyarakat semena-mena dalam melakukan kekerasan kepada pelaku tindak pidana.
Salah satunya kasus tindak pidana main hakim sendiri yang mengakibatkan kematian menimpa salah seorang warga di Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan yakni Agung Ari Wibowo, pria yang berumur 31 Tahun warga Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, tewas diamuk massa setelah kedapatan mencuri burung di Dusun Pateguhan, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Pencurian tersebut terjadi di rumah Toni Handoko pria yang berumur 32 Tahun, sekitar pukul 03.15 WIB, pada hari Selasa (19/3/2019). Pelaku yang menyusup ke perkampungan menyasar rumah Toni.
Pelaku mengambil love bird yang ada di dalam sangkar yang tergantung di teras rumah milik Toni . Aksi pelaku ini diketahui pemilik burung yang kebetulan keluar mengecek peliharaannya itu. Melihat pelaku membawa kabur burungnya, Toni
7 spontan berteriak "maling". Teriakan suara Toni yang keras dan berulang-ulang tersebut membangunkan warga sekitar rumahnya. Seketika suasana ramai. Warga pun langsung mengejar pelaku dan berhasil menangkapnya. Pelaku lalu dikeroyok secara beramai-ramai oleh belasan warga setempat. Dalam kondisi babak belur, pelaku diseret ke Balai Desa. Beberapa saat kemudian petugas kepolisian datang mengamankan dan membawa pelaku ke Puskesmas Pandaan. Saat sampai di Puskesmas, pelaku tidak sadarkan diri dan dinyatakan sudah tidak bernyawa.
Sebelum melakukan pencurian burung love bird pelaku diketahui telah melakukan aksi pencurian sepeda motor di daerah Gempol . Dan sepeda motor yang digunakan pelaku untuk melakukan pencurian Love Bird merupakan sepeda motor hasil curian.7
Tindakan main hakim sendiri merupakan tindakan yang tidak seharusnya terus menerus terjadi di masyarakat. Hal seperti ini tentu menjadi perhatian tersendiri bagi aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas dalam menertibkan masyarakat serta mencegah agar tidak ada lagi perbuatan masyarakat yang bersifat sewenang-wenang dan tidak mengindahkan adanya aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Selain itupula peran keluarga, lingkungan, dan pemerintah diharapkan bisa menjalankan perannya dengan baik. Mengedukasi masyarakat untuk mengedepankan proses hukum.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ TINJAUAN KRIMINOLOGI
7 Muhajir Arifin, Pencuri Love Bird Di Pasuruan Tewas Dihajar Massa , https://news.detik.com , diakses tanggal 19 Oktober 2019
8 TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI (EIGENRICHTING) YANG MENGAKIBATKAN KEMATIAN (Studi Kasus Di Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan).
B. Rumusan Masalah
1. Apa faktor penyebab terjadinya tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) terhadap pelaku tindak pidana yang mengakibatkan kematian ?
2. Bagaimanakah upaya Kepolisian Polsek Pandaan terhadap perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan penelitian yakni:
1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) terhadap pelaku tindak pidana baik yang mengakibatkan kematian.
2. Untuk mengetahui peran Kepolisian dalam melaksanakan peranannya terhadap perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) di wilayah hukum Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan .
9 D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Dalam melakukan penelitian secara teoritis diharapkan dapat menambah wawasan berpikir serta ilmu pengetahuan di bidang hukum pidana khususnya dalam hal tindakan main hakim sendiri yang mengakibatkan kematian.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai sarana untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan para pembaca terkait Tindakan Main Hakim Sendiri (eigenrichting) Yang Mengakibatkan Kematian.
b. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat pula bagi kalangan masyarakat karena dengan adanya penelitian yang dilakukan ini dapat memberikan informasi serta pemahaman baru kepada masyarakat dan masukan bagi aparat penegak hukum terkait dengan tindakan main hakim sendiri yang mengakibatkan kematian.
E. Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan antara lain:
1. Dapat menjadi masukan bagi para pihak penegak hukum dalam memberikan solusi terhadap masalah-masalah dalam permasalahan Main Hakim Sendiri di wilayah hukum Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan.
10 2. Hasil Penelitian ini diharapkan mampu memberi informasi untuk memahami perkembangan terkait kasus Main Hakim Sendiri di wilayah hukum Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan baik secara praktis maupun secara teoritis.
3. Menjadi salah satu rujukan bagi para ilmuwan hukum, akademisi, praktisi, maupun mahasiswa hukum.
F. Metode Penelitian
Metode Penelitian digunakan untuk mengumpulkan data guna mendapat jawaban atas pokok permasalahan. Maka penulis dalam mengumpulkan data yang diperlukan atau dipakai sebagai materi melalui beberapa cara, antara lain:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah yuridis empiris yang dengan kata lain adalah jenis penelitian hukum sosiologis dan dapat disebut pula dengan penelitian lapangan, yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataan di masyarakat. Atau dengan kata lain yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan sebenarnya atau keadaan nyata yang terjadi dimasyarakat dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan, setelah data yang dibutuhkan terkumpul kemudian menuju kepada identifikasi masalah yang pada akhirnya menuju pada penyelesaian masalah.8.
2. Pendekatan Penelitian
8 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta; Sinar Grafika; 2002) Hal 15-16
11 Metode pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis. Pendekatan yuridis sosiologis adalah mengidentifikasi dan mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang nyata dan fungsional dalam sistem kehidupan yang nyata. Penulis akan mengkaji mengenai data lapangan dan kebijakan hukum terhadap undang-undang yang berkaitan dengan Tindakan Main Hakim Sendiri (Eigenrichting) dan implementasinya di wilayah hukum Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan . 3. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi penelitian di Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan yang beralamat di Jalan Raya Kasri No.01, Pandaan, Pasegan, Petungsari, Pasuruan, Jawa Timur. Dengan alasan karena dilokasi tersebut merupakan tempat dilakukannya penyidikan terkait kasus yang penulis angkat dan memungkinkan untuk memperoleh sumber data untuk melakukan penelitian.
4. Sumber Data
Dalam penelitian ini penulis akan mengunakan data sebagai berikut:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari sejumlah keterangan atau fakta di lapangan melalui wawancara kepada penyidik di Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan, saksi-saksi yang berkaitan serta tokoh masyarakat yang terkait dengan Tindakan Main Hakim Sendiri (eigenrechting) yang mengakibatkan kematian dilihat dari perspektif hukum dan ham.
12 b. Data Sekunder, yaitu sumber yang terkait dengan persoalan yang diteliti yang terdiri dari buku-buku, dokumen-dokumen, serta berbagai buku dan literatur.
1) Bahan hukum primer
Bahan hukum primer, yaitu: norma atau kaidah dasar, peraturan perundang-undangan, dalam penelitian ini bahan hukum primer yang digunakan adalah:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
- Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 2) Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder berupa bahan yang berkaitan dengan upaya aparat penegak hukum terhadap tindakan main hakim sendiri (Eigenrichting) yang mengakibatkan kematian dalam perspektif hukum dan ham.
3) Bahan hukum tersier:
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang mendukung bahan hukum primer dan sekunder, diantaranya berupa bahan hukum dari kamus, ensiklopedia, dan lain sebagainya.
5. Teknik Pengumpulan Data/ Bahan Hukum a. Wawancara
13 Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab dengan pihak-pihak yang terkait dan yang dianggap mengetahui pada permasalahan yang di angkat oleh penulis.
Wawancara dilakukan terhadap Kepolisian Polsek Pandaan dan Masyarakat .
b. Observasi
Yaitu penulis melakukan pengamatan secara langsung pada obyek lokasi penelitian yang berkaitan dengan permasalahan yang di angkat dalam penelitian ini.
c. Dokumentasi
Yaitu berupa pengumpulan data-data yang dimiliki oleh para pihak yaitu Kepolisian Polsek Pandaan Kabupaten Pasuruan, dalam hal ini berkenaan dengan proses penelitian serta ditambah dengan penelusuran perundang-undangan.
d. Studi Kepustakaan
Yaitu dengan membaca dan mempelajari literatur yang berhubungan dengan penulisan ini dan menjadikan hal tersebut menjadi landasan teoritis.
e. Internet
Yaitu dengan melakukan penelusuran dan pencarian bahan-bahan melalui internet dan website untuk melengkapi bahan hukum dalam penulisan ini. .
6. Analisis data
14 Dengan data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis Deskriptif Kualitatif yaitu menjelaskan, menguraikan, dan menggambarkan sesuai permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini guna memberikan pemahaman yang jelas dan terarah yang diperoleh dari hasil penelitian nantinya, sehingga diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang kesimpulan atas hasil penelitian yang dicapai. Menjelaskan tentang latar belakang masalah dan alasan pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan dari penelitian, manfaat penelitian, kegunaan penelitian, kerangka teori, dan sistematika penulisan.
G. Sistematika Penulisan
1. BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab I ini berisi Latar Belakang yang menjadi dasar maupun alasan pemikiran penulis untuk mengangkat masalah yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dibahas, serta dilanjutkan dengan rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab II ini penulis menguraikan mengenai tinjauan semua tentang teori yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas, serta tinjauan umum mengenai peran aparat penegakan hukum terhadap Tindakan Main Hakim Sendiri (Eigenrechting) yang Mengakibatkan Kematian , serta tinjauan yang mendukung mengenai penulisan ini.
15 3. BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab II ini penulis akan menjelaskan tahapan penyelesaian permasalahan yang muncul, dalam hal ini di sajikan pembahasan mengenai jawaban atas rumusan masalah yang di paparkan.
4. BAB IV : PENUTUP
Dalam bab IV ini berisikan tentang kesimpulan dan saran- saran dari pembahasan serta saran-saran yang disampaikan oleh penulis.