9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
1. Novie Kurniawati, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Judul penelitian “Perilaku Berpacaran Pada Remaja Usia Madya : Studi Kasus Di Daerah Di Kabupaten Merangin Propinsi Jambi”.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa kesimpulan yang dapat diambil oleh peneliti, yaitu sebagai berikut:
Perilaku berpacaran pada remaja usia madya sangatlah beragam namun secara garis besar perilaku tersebut terbagi dalam tiga kategori perilaku yaitu (1) melakukan hal yang sewajarnya seperti mengobrol, berpegangan tangan, melirik pasangan, makan berdua dan jalan-jalan; (2) melakukan kontak fisik berupa pegangan tangan, pelukan, cium pipi, kening, necking, dan cium bibir menurut remaja madya itu hal yang wajar dilakukan oleh orang berpacaran; dan (3) melakukan yang tidak sewajarnya seperti memegang atau mencium payudara, memegang area/bagian sensitive, dan melakukan hubungan seksual.
2. Anggita Fani Rosalina1 dan Agustin Handayani2, Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Judul penelitian “Perilaku Seksual Remaja Ditinjau Dari Religiusitas Dan Pola Asuh Permisif Pada Sma “X” Rowosari Kendal”. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan ada hubungan antara religiusitas dan pola asuh permisif dengan perilaku seksual pada remaja. Lebih lanjut, perilaku sesksual remaja memiliki korelasi yang negative dengan religiusitas. Apabila religiusitas remaja
10
baik maka cenderung akan rendah dalam melakukan perilaku beresiko yang terkait relasi seksual dengan lawan jenis. Disisi lain pola asuh orang tua berperan dalam perilaku anak sebagaimana hasil penelitian ini yakni pola asuh orang tua yang otoriter berkorelasi secara positif dengan perilaku seksual remaja.
3. Vidya Tweriza Nuandri Iwan Wahyu Widayat, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Judul penelitian “Hubungan Antara Sikap terhadap Religiusitas dengan Sikap terhadap Kecenderungan Perilaku Seks Pranikah pada Remaja Akhir yang Sedang Berpacaran di Universitas Airlangga Surabaya”. Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap religiusitas dengan sikap terhadap kecenderungan perilaku seks pranikah pada remaja akhir yang sedang berpacaran di Universitas Airlangga Surabaya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara kedua variabel, dimana semakin tinggi sikap terhadap religiusitas maka semakin rendah sikap terhadap kecenderungan perilaku seks pranikahnya dan berlaku sebaliknya. Kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut tergolong besar. Hal ini membuktikan bahwa religiusitas sangat efektif sebagai cara untuk menunda atau bahkan mencegah diri kita mengarah pada kecenderungan perilaku seks pranikah.
4. Vidya Tweriza Nuandri dan Iwan Wahyu Widayat, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Judul penelitian “Hubungan Antara Sikap terhadap Religiusitas dengan Sikap terhadap Kecenderungan
11
Perilaku Seks Pranikah pada Remaja Akhir yang Sedang Berpacaran di Universitas Airlangga Surabaya”. Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap religiusitas dengan sikap terhadap kecenderungan perilaku seks pranikah pada remaja akhir yang sedang berpacaran di Universitas Airlangga Surabaya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara kedua variabel, dimana semakin tinggi sikap terhadap religiusitas maka semakin rendah sikap terhadap kecenderungan perilaku seks pranikahnya dan berlaku sebaliknya.
B. Kerangka Teori 1. Religiusitas
Ada beberapa istilah religiusitas diantara religion (inggris), religi (Belanda) religio/relegare (Latin) dan dien (Arab). Kata religion (Bahasa Inggris) dan religie (Bahasa Belanda) adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu Latin "religio" dari akar kata "relegare"
yang berarti mengikat.5
Dalam Bahasa Arab, agama di kenal dengan kata ad-din dan al- milah. Kata ad-din sendiri mengandung berbagai arti. Ia bisa berarti al- mulk (kerajaan), al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-adat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan
5 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hal.13
12
pemerintahan), al-tadzallulwa al-khudu (tunduk dan patuh), al-tha'at (taat), al-Islam at-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan).6
Gazalba mengemukakan bahwa religiusitas berasal dari kata religi dalam bahasa latin “religio” yang akar katanya adalah religure yang berarti mengikat. Dengan demikian mengandung makna bahwa religi atau agama umumnya memiliki aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemeluknya. Kesemuanya itu berfungsi mengikat seseorang atau sekelompok orang yang dalam hubungannya dengan tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya.7
Religi, yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini adalah sebagian dari moral, sebab dalam moral sebenarnya diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta perbuatan yang dinilai tidak baik sehingga perlu diindari.
Agama, mengatur juga tingkah laku baik-burk, secara psikologis termasuk dalam moral. Hal lain yang termasuk dalam moral adalah sopan-santun, tata krama, dan norma-norma masyarakat lain.8
Dari beberapa istilah agama inilah kemudian muncul yang dinamakan religiusitas. Sebagai sikap batin, religiusitas tidak dapat dilihat secara langsung namun bisa tampak dari implementasi perilaku religiusitas itu sendiri. Keberagamaan seseorang menjadikan individunya mampu merasakan kedekatan pada Tuhannya dan memberikan rasa aman pada dirinya.
6 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hal.13
7 Khairunnisa Ayu, Hubungan Religiusitas dan Kontrol Diri, eJournal Psikologi, www.ejournal.psikologi.fisip-unmul.org, eJournal Psikologi, 2013, 1 (2)
8 Sarwono, Sarlito W., Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.109
13
Ancok dan suroso mendefinisikan religiusitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Sumber jiwa keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Adanya ketakutan- ketakutan akan ancaman dari lingkungan alam sekitar serta keyakinan manusia itu tentang segala keterbatasan dan kelemahannya. Rasa ketergantungan yang mutlak ini membuat manusia mencari kekuatan sakti dari sekitarnya yang dapat dijadikan sebagai kekuatan pelindung dalam kehidupannya dengan suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya yaitu Tuhan.9
Adams & Gullota menyebutkan bahwa agama menyajikan kerangka moral sehingga seseorang bisa membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa menerangkan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia. Agama menawarkan perlindungan dan rasa aman, khususnya bagi remaja yang sedang mencari eksistensi dirinya.10
Menurut penelitian Kementerian Negara dan Lingkungan Hidup dan dalam penelitian yang dilakukan oleh Glock dan Stark (Widiyanta, 2005), ada lima dimensi religiusitas, yang oleh peneliti akan dijadikan aspek-aspek dalam menyusun skala religiusitas yaitu:
9 Ancok, Suroso, Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2001), hlm 77
10 Sarwono, Sarlito W., Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.113
14
A. Religious practice (the ritualistic dimension)/Aspek Islam
Tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agamanya, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.
B. Religious belief (the ideological dimension)/Aspek Iman
Sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam ajaran agamanya. Misalnya kepercayaan tentang adanya Tuhan, malaikat, kitab-kitab, Nabi dan Rasul, hari kiamat, surga, neraka, dan yang lain-lain yang bersifat dogmatik.
C. Religious knowledge (the intellectual dimension)/Aspek ilmu
Seberapa jauh seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Hal ini berhubungan dengan aktivitas seseorang untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam agamanya.
D. Religious feeling (the experiental dimension)/Aspek Ikhsan
Dimensi yang terdiri dari perasaan-perasaan dan pengalaman- pengalaman keagamaan yang pernah dirasakan dan dialami.
Misalnya seseorang merasa dekat dengan Tuhan, seseorang merasa takut berbuat dosa, seseorang merasa doanya dikabulkan Tuhan, dan sebagainya.
E. Religious effect (the consequential dimension)/Aspek Amal
Dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotivasikan oleh ajaran agamanya di dalam kehidupannya.
Misalnya ikut dalam kegiatan konversasi lingkungan, ikut melestarikan lingkungan alam dan lain-lain.11
11 Widiyanta Ari, Sikap Terhadap Lingkungan Dan Religiusitas, PSIKOLOGIA, Volume I, (Desember, 2005), hlm.88
15 2. Perilaku Berpacaran
Pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih, kekasih. Berpacaran adalah bercintaan, berkasih-kasihan.12
Menurut Marliani, remaja berpacaran bukanlah merupakan hal yang biasa, dibuktikan dari hampir sebagian responden remaja menyatakan bahwa mereka pernah atau sedang berpacaran. Sebagiannya lagi beranggapan bahwa pacaran juga memberikan dampak positif seperti lebih terpacu untuk belajar dengan giat dan sering masuk sekolah akan tetapi hal yang ditakutkan sekarang adalah dampak negatif tersebut yaitu perilaku remaja yang mengarah ke seksualitas.13
Adapun yang dimaksud dengan perilaku seksual menurut Sarwono dalam bukunya dikatakan bahwa, perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk tingkah laku ini dapat bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama. Objek seksualnya dapat berupa orang lain, orang dalam khayalan maupun diri sendiri. Perilaku seksual adalah perilaku yang melibatkan perasaan yang didasari atau didorong oleh hasrat seksual antar lawan jenis yang disertai kontak fisik. Objek dari perilaku tersebut dapat berupa khayalan, diri sendiri maupun orang lain.14
12 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan), https://kbbi.web.id/pacar, diakses pada 23-04-19 pukul 10:33
13 Marliani, R., Psikologi Perkembangan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), hlm.178
14 Sarwono, Sarlito W., Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.147
16
Jenis perilaku seksual menurut Sarwono, 2007 (dalam Abrori, dkk., 2017), yang mana bentuk tingkah laku seks bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik, pacaran, kissing, kemudian sampai intercourse meliputi:
1) Kissing
Ciuman yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan seksual, seperti dibibir disertai dengan rabaan pada bagiab-bagian sensitif yang dapat menimbulkan rangsangan seksual. Berciuman dengan bibir tertutup merupakan ciuman yang umum dilakukan. Berciuman dengan mulut dan bibir terbuka, serta menggunakan lidah itulah yang disebut french kiss. Kadang ciuman ini juga dinamakan ciuman mendalam/ soul kiss.
2) Necking
Berciuman disekitar leher ke bawah. Necking merupakan istilah yan digunakan untk menggambarkan ciuman disekitar leher dan pelukan yang lebih mendalam.
3) Peeting
Perilaku menggesek-gesekan bagian tubuh yang sensitif, seperti payudara dan organ kelamin. merupakan langkah yang lebih mendalam dari necking. in termasuk merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangan termasuk lengan, dada, buah dada, kaki, dan kadang- kadang daerah kemaluan, baik di dalam atau diluar pakaian.
4) Intercrouse
17
Bersatunya dua orang secara seksual yang dilakukan oleh pasangan pria dan wanita yang ditandai dengan penis pria yangereksi masuk ke dalam vagina untuk mendapatkan kepuasan seksual.15
3. Remaja Akhir
Konsep tentang “remaja”, bukanlah berasal dari bidang hukum, melainkan berasal dari bidang ilmu-ilmu sosial lainnya seperti Antropologi, Sosiologi, Psikologi, dan paedagogik. Kecuali itu, konsep
“remaja” juga merupakan konsep yang relatif baru, yang muncul kira-kira setelah era industrialisasi merata di negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya. Dengan perkataan lain, masalah remaja baru menjadi pusat perhatian ilmu-ilmu sosial dalam 100 tahun terakhir ini saja.16
Kata “remaja” berasal dari bahasa Latin yaitu adolescene yang berarti to grow atau to grow maturity.17 Remaja /re-ma-ja / berarti mulai dewasa, sudah sampai umur untuk kawin, ia sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi.18 Istilah adolescence mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.19
Piaget mengatakan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya
15 Abrori, Qurbaniah Mahwar, Infeksi Menular Seksual, (Pontianak: UM Pontianak Press), hlm.25
16 Sarwono, Sarlito W., Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.6
17 Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Prenamedia Group, 2011), hlm.219
18 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus versi online/daring (dalam jaringan), https://kbbi.web.id/remaja, diakses pada 16-04-19 pukul 17:58
19 Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga), hlm.206
18
dalam masalah hak. . . . Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebig berhubungan dengan masa puber. . . . Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. . . . Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai intergarasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataanya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.20
Lazimnya masa remaja dianggap mulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usi amatang secara hukum. Namun, penelitian tetang perubahan perilaku, sikap, dan nilai- nilai sepanjang masa remaja tidak hanya menunjukkan bahwa setiap perubahan terjadi lebih cepat pada awal masa remaja dari pada tahap akhir masa remaja, tetapi juga menunjukkan bahwa perilaku, sikap dan nilai-nilai pada awal masa remaja berbeda dengan pada akhir masa remaja.
Menurut undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah.
Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal. Menurut undang-undang perkawinan No.1 tahun 1979, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak-anak laki-laki.
20 Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga), hlm.206
19
Monks, membagi remaja menjadi tiga kelompok usia, yaitu: (a) remaja awal, berada pada rentang usia 12 sampai 15 tahun; (b) remaja pertengahan, dengan rentang usia 15 sampai 18 tahun; (c) remaja akhir, berkisar pada usia 18 sampai 21 tahun. Penelitian ini berfokus pada remaja yang berusia 16 samapai 18 tahun yang masuk dalam kategori remaja tengah dengan berkembangnya kemampuan berfikir dan mampu mengarahkan diri sendiri.21
4. Perilaku Seksual Remaja
Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan kebiasaan belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, termasukjuga penyimpangan sosial seperti merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
Menurut WHO (1975) yang dikutip oleh Population Reports (1995) definisi remaja sebagai pertumbuhan yang sangat cepat dari munculnya karakteristik seks sekunder menuju pada kematangan seksual dan reproduksi, proses perkembangan mental dan identitas dewasa dan masa transisi dari ketergantungan sosio-ekonomi menuju pada kebebasan yang relatif.
21 Monks, F. J, Knoers, A. M. P, Haditono, S. R, Psikologi Perkembangan. Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. (Yogyakarta: Gadjah Mada Unirversity Press, 2002), hlm.262
20
Karena meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasimengenai seks. Hurlock menyebutkan bahwa sebagian besar remaja tidak merasa cukup mendapatkan informasi mengenai seks dari orang tuanya. Hanya sedikit remaja yang berharap bahwa seluk beluk tentang seks dapat dipelajari dari orang tuanya. Oleh karena itu, remaja mencari berbagai informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya karena higiene seks di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman –teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan mastrubasi, bercumbu, atau bersenggama. Pada akhir masa remaja sebagian besar remaja laki-laki dan perempuan sudah mempunyai cukup informasi tentang seks guna memuaskan keingintahuan mereka.22
Masa ini merupakan masa transisi dimana individu mengalami peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial yang berlangsung pada dekade kedua masa kehidupannya. Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa yang sulit bagi remaja maupun orang tuanya. Adapun sejumlah alasan untuk ini, diantaranya adalah:
1. Remaja mulai menyampaikan kebebasan dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini dapat menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan dapat menjauhkan ia dari keluarganya.
22 Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga), hlm.226
21
2. Remaja lebih mudah dipegaruhi teman-temanya dari pada ketika masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah.
Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga.
Contoh-contoh yang umum yaitu mode pakaian, potongan rambut atau musik, yang semuanya harus mutakhir.
3. Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik pertumbuhan maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yan mulai muncul dapat menakutkan, membingungkan, dan menjadi sumber perasaan salah dan frustasi.
4. Remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, mangkibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.23
Berbagai hasil studi yang dilakukan oleh Sarwono, bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena adanya beberapa faktor. Diantara faktor yang dapat mempengaruhi masalah tersebut yaitu:
1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.
2. Penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum karena adanya
23 Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan, cetakan ke-4, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hlm.225-226
22
undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan adanya batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-lain).
3. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku di mana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangan lebih jauh kepada tingkah laku yang lain seperti berciuman dan mastrubasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja lerangan-larangan tersebut.
4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih (video cassette, fotokopi, satelit, VCD, telepon genggam, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa, khususnya karena mereka pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.
5. Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini.
23
6. Di pihak lain, tidak dapat diingkari bahwa adanya kecenderungan pergaulan yang semakin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita semakin sejajar/ setara dengan pria.24
Hal yang serupa dikatakan oleh Jahja Yudrik mengenai faktor- faktor yang menjadi penyebab remaja melakukan perilaku-perilaku seksual. Adapun faktor-faktor dapat yang dapat mempengaruhi perilaku menyimpang pada remaja, antara lain:
1. Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memerhatikan nilai-nilai moral).
2. Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno.
3. Kurang dapat memanfaatkan waktu luang.
4. Kehidupan moralitas msayarakat yang bobrok.
5. Hidup menganggur.
6. Kehidupan ekonomi keluarga yang morat-marit (miskin/fakir) 7. Jual beli minuman keras/ obat-obatan terlarang secara bebas.
8. Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol.
9. Perceraian orang tua.
10. Perselisihan atau konflik orang tua (antara anggota keluarga).
11. Sikap perlakuan orang tua yang buruk terhadap anak.25
24 Sarwono, Sarlito W., Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.187-188
25 Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan, cetakan ke-4, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hal.
225
24