1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang panjang. HIV menyebabkan kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit (Nursalam, 2013). Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang apabila virus tersebut masuk ke dalam saluran peredaran darah. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui transeksual atau hubungan sesama jenis, ibu yang positif HIV ke anaknya dan melalui darah yang masuk kedalam tubuh manusia, baik menggunakan jarum suntik bergantian, alat tindik yang terpapar virus HIV, transfusi darah, transplantasi organ, hemodialisa dan perawatan gigi (Nasronudin, 2014). Virus ini menyebabkan daya tahan tubuh melemah terhadap penyakit lain bahkan dapat mengakibatkan kematian. Karakteristik penyakit ini adalah penurunan sistem imun akibat defisiensi dan gangguan fungsi sel limfosit T, dengan kondisi akhir yang dikenal sebagai Acquired Immunodeficiency Syndrom (AIDS) (Syafrudin. 2011).
Jumlah infeksi HIV/AIDS terus bertambah diseluruh dunia, kasusnya terus meningkat sampai 100 kali lipat sejak pertama kali ditemukan dan menyebar paling sedikit 166 negara di dunia (Figueroa et all,2018). HIV/AIDS sudah merupakan global effect dengan kecepatan penularan penyebaran yang sangat pesat 1 menit 5 orang tertular di seluruh dunia (Hawari, 2016; Waning et al, 2009). Menurut Vrisaba (2011), angka penularan HIV di benua Asia cukup tinggi, yakni 2000 sampai 3000 per hari, berarti dalam setahun penderita HIV akan bertambah lagi antara 700.000 sampai 1.000.000 orang. Prevalensi global selama akhir tahun 2019 sebanyak 38 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS di seluruh dunia dengan 36,2 juta orang dewasa dan 1,8 juta anak-anak (0-14 tahun) (WHO,
2019). 81% dari 38 juta ODHA mengetahui bahwa menderita HIV dan sekitar 7,1 juta tidak mengetahui jika menderita HIV. Data WHO orang baru terinfeksi HIV tahun 2019 sebanyak 1,7 juta orang dan 690.000 orang meninggal dikarenakan AIDS pada 2019, termasuk anak-anak sekitar 230.000 dan dilaporkan oleh TAHOD (Treat Asian HIV Observational Database) sebanyak 74% pasien HIV telah melakukan tes CD4 sehingga diperkirakan sekitar 0,8% kelompok usia 15 – 49 tahun mengidap HIV dan 90% orang dengan HIV/AIDS tersebar di 12 negara di Asia dan Pasifik.
Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbanyak untuk penderita HIV mencapai 100.000 dan AIDS sebanyak 40.000 ditahun 2016. Jumlah tersebut 1.700 terinfeksi setiap bulannya (UNAIDS, 2016). Indonesia merupakan negara yang menempati urutan pertama dalam penularan HIV/AIDS di Asia Tenggara.
Dari total populasi penduduk sebanyak 240 juta jiwa, Indonesia memiliki prevalensi HIV sebesar 0,24% dengan estimasi ODHA 186.000, bahkan bisa mencapai 200.000 (UNAIDS, 2019). Jawa Timur menempati peringkat pertama di Indonesia terkait kasus penderita HIV/AIDS. Ada 18.008 kasus yang ditemukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS selama tahun 2017, sedangkan presentasi persebaran tahun 2018 total penderita AIDS di Jawa Timur sebanyak 2.767 orang dengan banyaknya penderita AIDS tertinggi berada di daerah Kabupaten Malang sebanyak 254 orang dan banyaknya penderita AIDS rendah berada di Kabupaten Madiun sebanyak 2 orang (Infograsi, 2019).
Pasien dengan HIV/AIDS rentan mengalami berbagai penyakit oportunistik pada paru, terutama infeksi dan keganasan. Menurut MOPH, Division Epidemiology, Departement of Communicable Disease Control Thailand (2017), menyatakan bahwa presentase infeksi oportunistik yang tersering adalah TBC (Tuberculosis) 35%, PCP (Pneumocystis Jiroveci) 26%, Cryptococcosis 24%, Candidiasis & oesophageal 8%, Pneumonia & Emfisema 7%. Gangguan sistem pernapasan pada pasien HIV/AIDS merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting, bahkan pada pasien-pasien yang rutin mendapat terapi antivirus (P.A. Fishman , et al., 2018). Berbagai macam kelainan paru oportunisitik pada pasien yang terinfeksi HIV/AIDS dapat dideteksi dengan pemeriksaan foto toraks. Walaupun tidak terdapat gambaran foto toraks yang
patognomonis untuk penyakit tertentu, beberapa gambaran radiologi mengarah pada diagnosis yang spesifik. Sebuah literatur mengungkapkan bahwa pada kebanyakan kasus, keadaan klinis dan temuan foto toraks sudah cukup meyakinkan untuk menegakkan diagnosis kelainan paru. Selain itu prosedur pemeriksaan ini cukup mudah dan tidak invasif, sehingga sangat bermanfaat untuk skrining awal dan observasi kelainan paru oportunistik pada pasien HIV/AIDS.
Gambaran kelainan paru oportunistik yang dapat terlihat pada foto toraks adalah infiltrat, konsolidasi, nodul, kalsifikasi, kavitas, bayangan kistik, massa, fibrosis, atelektasis, bayangan retikuler, peribronchial cuffing, tramline, gambaran groundglass, emfisema, proses pada pleura, dan pembesaran kelenjar mediastinum maupun perihiler. Berbeda dengan pasien normal, manifestasi klinis pada penderita HIV/AIDS dengan kelainan paru sering tidak khas (atipikal). Bahkan beberapa penyakit paru oportunistik pada pasien HIV/AIDS seperti tuberkulosis paru, infeksi Mycobacterium non tuberculosis, sarkoma kaposi, dan neoplasia lainnya, sering tidak memberikan gejala (asimtomatik). Pada keadaan tersebut, kelainan paru mungkin baru diketahui setelah terlihatnya lesi pada foto toraks, sehingga berakibat pada keterlambatan diagnosis dan pengobatan. Masalah ini menjadi signifikan karena kebanyakan penyakit paru tersebut dapat diobati (Gold JA, et. al., 2018).
Orang dengan HIV/AIDS seringkali menderita penyakit oportunistik paru, salah satu diantaranya adalah emfisema. Emfisema adalah suatu penyakit obstruktif paru yang bersifat kronis dan progresif, ditandai dengan adanya kelainan anatomis berupa pelebaran rongga udara distal pada bronkiolus terminal dan kerusakan parenkim paru (Jonathan S., et al., 2019). Hal ini disebabkan karena adanya infeksi virus HIV yang menyerang saluran pernafasan sehingga terjadi infeksi pada saluran pernafasan dan obstruksi organ pernafasan yaitu bronkus maupun alveolus. Kemudian mengakibatkan kapasitas ventilasi menjadi menurun, suplai oksigen menurun dan kerja nafas meningkat sehingga pasien merasa sesak nafas. Selain itu, emfisema paru merupakan masalah kesehatan global saat ini, sehingga keterlambatan diagnosis dan pengobatan dapat berimplikasi pada kesehatan masyarakat secara umum (Gold JA, et. al., 2018).
Asuhan keperawatan merupakan salah satu bentuk pelayanan dalam pelaksanaan tugas dalam keperawatan. Virus HIV tidak menyebabkan kematian secara langsung, akan tetapi menurunkan system imun penderitanya secara perlahan hingga akhirnya mengakibatkan tubuh dengan mudahnya terserang infeksi bagi penderitanya. Berdasarkan studi yang dilakukan, ditemukan bahwa komplikasi pada penderita AIDS tersebut adalah emfisema. Keberadaan virus HIV dalam tubuh menyebabkan penderita mengalami gangguan pernafasan (Gold JA, et. al., 2018).
Berdasarkan studi awal yang dilakukan pada Bulan Januari 2021 di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan, telah dilakukan pengkajian pada Tn. K (42 th) yang merupakan salah satu pasien HIV/AIDS yang dirawat diruangan tersebut. Pada saat pengkajian didapatkan pasien mengeluh sesak nafas, diare, sariawan, nyeri saat BAK dan mual. Hasil wawancara pada pasien dan keluarga, didapatkan data keluarga baru mengetahui bahwa pasien menderita HIV/AIDS dan baru didiagnosa oleh dokter 3 hari rawat inap di RSUD Kanjuruhan. Berdasarkan hasil wawancara, perawat mengatakan bahwa sudah melakukan pengkajian sesuai dengan format pengkajian, menegakkan diagnosa disesuaikan dengan keluhan pasien, rencana dan tindakan keperawatan yang dibuat sesuai standar SLKI dan SIKI. Salah satu intervensi yang diberikan yaitu terapi oksigen dengan diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif.
Perawat merupakan seseorang yang telah lulus Pendidikan Perguruan Tinggi keperawatan, baik di dalam maupun luar negeri yang diakui pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perawat memiliki peran yang penting sebagai pemberi asuhan pelayanan kesehatan dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien secara menyeluruh baik biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dengan menerapkan aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti telah melakukan ” Asuhan Keperawatan Pada Tn. K Pasien HIV/AIDS Dengan Emfisema di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan’’.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien HIV/AIDS dengan Emfisema di Ruangan Airlangga RSUD Kanjuruhan?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan Karya Ilmiah Akhir Ners ini adalah untuk menganalisis asuhan keperawatan pada Tn. K (42 tahun) dengan masalah kesehatan pasien HIV/AIDS dengan Emfisema selama satu minggu praktik di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Teridentifikasi hasil pengkajian pada Tn. K (42 tahun) dengan masalah kesehatan pasien HIV/AIDS dengan Emfisema selama satu minggu praktik di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan.
2. Teridentifikasi diagnosa keperawatan pada Tn. K (42 tahun) dengan masalah kesehatan pasien HIV/AIDS dengan Emfisema selama satu minggu praktik di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan.
3. Menyusun rencana asuhan yang diberikan pada Tn. K (42 tahun) dengan masalah kesehatan pasien HIV/AIDS dengan Emfisema selama satu minggu praktik di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan.
4. Melakukan implementasi yang telah dilakukan pada Tn. K (42 tahun) dengan masalah kesehatan pasien HIV/AIDS dengan Emfisema selama satu minggu praktik di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan.
5. Menganalisis hasil evaluasi yang telah dilakukan pada Tn. K (42 tahun) dengan masalah kesehatan pasien HIV/AIDS dengan Emfisema selama satu minggu praktik di Ruang Airlangga RSUD Kanjuruhan.
1.4 Manfaat Penelitian
Penulisan laporan ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk mengatasi permasalahan pada pasien penderita HIV/AIDS dengan Emfisema, yang diantaranya sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Keilmuan
Hasil dari penulisan laporan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi bidang Pendidikan Keperawatan yang khususnya bagi keperawatan medikal bedah. Laporan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengembangan ilmu mengenai intervensi keperawatan yang diberikan pada pasien dengan diagnosa HIV/AIDS dengan Emfisema. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan sumber informasi terbaru bagi pendidikan agar menerapkan intervensi yang telah dilakukan oleh penulis sebagai salah satu pemecahan masalah. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi masukan atau ide untuk meneliti lebih lanjut mengenai tindakan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien dengan diagnosa medis HIV/AIDS dengan Emfisema.
1.4.2 Manfaat Pelayanan Keperawatan dan Kesehatan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi bidang keperawatan terkait pelayanan kesehatan di RSUD Kanjuruhan mengenai intervensi keperawatan yang dapat dilakukakan untuk menyelesaikan permasalahan pasien dengan HIV/AIDS dengan Emfisema. Laporan ini juga diharapkan dapat dijadikan masukan bagi bidang keperawatan terkait perawatan agar dapat menerapkan intervensi yang telah dilakukan menjadi penanganan rutin pada pasien dengan diagnosa HIV/AIDS dengan Emfisema.