4. PEMBAHASAN
4.1 Profil Perusahaan
PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja merupakan perusahaan yang memproduksi pakan ternak. Salah satu cabang dari PT Charoen Pokphand Indonesia merupakan PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja yang berlokasi di Jalan Raya Serang Km 30 Desa Cangkudu, Balaraja.
Produk yang dihasilkan yaitu untuk pakan ternak untuk ayam, burung puyuh dan unggas lainnya. Kapasitas produksi yang dimiliki PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja terbesar diantara beberapa cabang lainnya yang terletak di seluruh Indonesia.
Kegiatan usaha utama yang dilakukan pada PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja yaitu menjual makanan ternak untuk beberapa jenis hewan yang ada di Indonesia. Kegiatan penunjang yaitu melakukan distribusi pakan ternak ke beberapa wilayah yang ada di Indonesia termasuk aktivitas ekspor dan impor. Hasil produk yang dihasilkan dapat berupa konsentrat, tepung, butiran atau butiran halus. Pakan ternak tersebut juga diformulasikan sesuai dengan kegunaan pakan ternak tersebut yaitu ayam pedaging atau ayam petelur.
Pakan ternak ayam pedaging tersebut akan dibagi menjadi beberapa tipe sesuai dengan nutrisi yang telah diberikan. Tipe-tipe pakan ternak tersebut yaitu Pakan Ternak untuk Pre-Starter, Pakan Ternak untuk Starter dan Pakan Ternak untuk Finisher. Sedangkan produk untuk pakan ternak ayam petelur terbagi menjadi empat jenis produk yang berbeda berdasarkan kandungan nutrisi dari masa pertumbuhannya yaitu Pakan Ternak untuk Pre-Starter, Pakan Ternak untuk Starter, Pakan Ternak untuk Grower dan Pakan Ternak untuk Laying Phase.
Proses produksi yang dijalankan di PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja berjalan secara terus menerus selama 24 jam. Hari kerja pabrik yaitu hari Senin hingga hari Jumat tetapi jika permintaan konsumen belum terpenuhi maka diperlukan kerja lembur pada hari Sabtu dan hari Minggu. Pembagian shift kerja pada pabrik terbagi menjadi tiga shift kerja dalam satu hari kerja.
4.2 Proses Produksi
Hasil produk pada PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja terbagi menjadi beberapa jenis tergantung dari nutrisi dan kegunaan makanan tersebut. Nutrisi yang digunakan yaitu tergantung dari tipe jenis bahan baku yang akan dimasukkan ke dalam proses produksi. Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi tersebut terdiri dari binder, wheat flour, rice bran, lime stone fine dan lain-lain.
4.2.1 Proses Intake
Proses awal produksi pada PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja yaitu dimulai dari memasukkan bahan baku melalui intake. Bahan baku yang dituang melalui intake tersebut akan dibawa langsung menggunakan chain conveyor dan elevator. Bahan baku tersebut akan dibawa ke tong penyimpanan untuk langsung di proses lebih lanjut. Tujuan ditempatkan di tong penyimpanan merupakan sebagai cadangan bahan baku jika mengalami kelangkahan bahan baku. Proses penuangan bahan baku melalui intake dapat dilihat seperti pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Proses Penuangan Bahan Baku
Bahan baku yang dituang yaitu berupa padatan, butiran kasar dan butiran halus. Bahan baku yang sudah masuk tong penyimpanan tersebut akan diproses lebih lanjut yaitu proses grinding. Proses grinding tersebut yaitu menghaluskan material dengan menggunakan bantuan mesin hammermill.
4.2.2 Proses Grinding
Proses selanjutnya yaitu proses grinding menggunakan bantuan mesin hammermill setelah bahan baku dimasukkan melalui intake. Mesin hammermill tersebut bertujuan untuk menghaluskan bahan baku yang sebelumnya berupa butiran seperti bijih jagung, wheat bran, soy bean meal, dan lain-lain. Proses grinding tersebut berguna untuk memudahkan proses selanjutnya dalam proses pencampuran bahan baku. Karena bahan baku yang berbentuk padat dapat menyebabkan tidak dapat tercampur sempurna dengan bahan baku lainnya. Mesin hammermill yang digunakan untuk proses produksi seperti pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Mesin Hammermill
Proses selanjutnya setelah melalui mesin hammermill akan dilanjutkan proses mixing. Proses mixing tersebut bahan baku yang telah dihaluskan akan
dicampur dengan material bumbu. Bahan baku tersebut akan dicampurkan dengan cara dituang melalui mesin mixer.
4.2.3 Proses Mixing
Proses mixing merupakan proses dimana bahan baku pakan ternak akan dicampur dengan material bumbu. Pencampuran tersebut akan dilakukan dengan bantuan mesin mixer. Mesin mixer tersebut akan mengaduk bahan baku dengan bumbu hingga tercampur dengan bahan baku lainnya secara sempurna. Hasil produk setelah melewati proses mixing tersebut akan dilanjutkan ke tong penyimpanan pellet ataupun proses packing. Proses penuangan bumbu pada mesin mixer dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Proses Penuangan Bumbu di Mesin Mixer
Jadwal penuangan jenis bumbu yang akan dimasukkan ke dalam mixer tersebut didapatkan dari rancangan Departemen PPIC berdasarkan permintaan pasar. Proses mixing merupakan proses yang penting untuk jalannya produksi karena keterlambatan dari proses mixing tersebut akan mempengaruhi kapasitas produksi. Hasil produk yang telah melalui mesin mixer tersebut akan dilanjutkan proses pellet atau langsung dilanjutkan ke proses packing.
4.2.4 Proses Pellet
Proses pellet merupakan pengubahan bentuk pakan ternak dari yang sebelumnya berupa bubuk menjadi butiran. Perubahan bentuk tersebut dilakukan dengan bantuan mesin pellet. Mesin pellet tersebut akan mengubah bentuk pakan ternak tersebut dengan bantuan steam dari hasil pembakaran batu bara. Uap panas dari pembakaran batu bara tersebut akan disalurkan ke mesin pellet untuk proses pelletizing. Proses pembentukkan pellet dilakukan dengan menggunakan roller yang memutar dan melewatkan pakan ternak pada dies. Dies merupakan mesin yang berbentuk silinder yang memiliki lubang-lubang dengan diameter + 3,5 mm.
Pakan ternak yang sebelumnya berupa bubuk akan keluar melalui lubang tersebut dengan uap panas sehingga berubah menjadi butiran. Mesin pellet yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 Mesin Pellet
Pakan ternak yang telah melalui proses pellet tersebut akan mengalami proses cooling, crumbling dan screener sebelum masuk dalam proses packing.
Proses cooling tersebut merupakan pendinginan pakan ternak hingga suhu tertentu setelah melalui mesin pellet. Pengaturan suhu tersebut dibutuhkan karena pada proses pellet pakan ternak tersebut berada di suhu yang cukup tinggi. Proses
screener tersebut berguna untuk memisahkan tepung halus yang tercampur pada pakan ternak tersebut. Produk pakan ternak yang setelah melewati rangkaian proses tersebut dapat dilanjutkan ke proses packing.
4.2.5 Proses Packing
Akhir proses produksi pakan ternak pada PT Charoen Pokphand Indonesia Feedmill Balaraja merupakan proses packing. Aktivitas yang dilakukan pada proses packing adalah pengemasan produk berupa karung maupun kantung plastik. Input proses packing sendiri didapatkan dari proses pellet atau mixing yang berupa bubuk maupun butiran. Pengemasan tersebut diakhiri dengan proses penjahitan dengan bantuan mesin jahit sebelum diletakkan diatas conveyor. Hasil packing tersebut akan dikirim ke tempat penyimpanan menggunakan conveyor.
Proses packing dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5 Proses Packing
Hasil proses packing tersebut setelah ditata diatas pallet maka akan dibawa ke gudang untuk dilakukan penyimpanan. Penyimpanan hasil produksi pada gudang berguna untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan yang sangat tinggi. Pakan ternak yang telah tertata rapi diatas pallet akan dibawa operator forklift ke gudang penyimpanan.
4.3 Penjelasan Keadaan Awal Hand Add
Pemahaman kondisi awal hand add diperlukan untuk mengerti dengan baik proses produksi apa saja yang terjadi di area hand add. Proses produksi yang terjadi di area hand add merupakan penimbangan material bumbu untuk dituang ke mesin mixer. Kebersihan area kerja dan alat produksi memiliki pengaruh terhadap hasil produknya. Maka dari itu perlunya untuk menjaga kebersihan area kerja dan alat produksi agar produk tidak terkontaminasi kotoran. Kebersihan area hand add belum terjaga dengan baik dan peralatan produksi yang digunakan masih belum tertata dengan baik. Berikut merupakan contoh beberapa kejadian yang sering ditemukan di area hand add :
Peralatan Produksi Tidak Dikembalikan Setelah Selesai Digunakan
Peralatan yang dipakai untuk area hand add yaitu meliputi pisau, tali rafia, kantung plastik, dll. Banyaknya peralatan produksi yang diletakkan sembarangan setelah menggunakannya membuat area kerja hand add terlihat berantakan. Operator sering meletakkan peralatan produksi tersebut di sembarang tempat seperti pada Lampiran 1. Hal lain yang dapat ditimbulkan yaitu lamanya waktu saat operator akan menggunakannya. Operator akan mencari terlebih dahulu peralatan tersebut di area kerjanya baik di atas tumpukan bahan baku maupun tertumpuk karung. Akibat dari penempatan peralatan produksi yang tidak sesuai ini jika mendapatkan Production Order dari departemen PPIC yang banyak maka proses penimbangan akan tertunda.
Peletakkan Bahan Baku dan Hasil Produksi Tidak Terpisah Dengan Jelas Bahan baku yang akan dilakukan penimbangan dengan hasil penimbangan tidak mendapat pembagian tempat yang jelas. Area kerja hand add memang belum memisahkan area bahan baku dan hasil produksi dengan jelas seperti pada Lampiran 2. Hal ini dapat membingungkan operator forklift saat akan memindahkan hasil timbang ke area hand add tuang. Tempat peletakkan yang tidak dibedakan dengan jelas juga akan membingungkan operator baru di area hand add. Operator baru yang belum lama bekerja di area hand add akan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan operator lama. Apabila terjadi
kesalahan tersebut tentunya memiliki dampak besar saat setelah dilakukan penuangan ke mesin mixer.
Kerapian Area Hand Add Kurang Terjaga
Kerapian area kerja di area hand add tersebut tidak tertata dengan baik.
Penyebab tidak rapinya area kerja tersebut dikarenakan peralatan produksi dan peralatan kebersihan tidak memiliki lokasi penyimpanan yang tetap.
Kondisi tersebut mengakibatkan peralatan tersebut diletakkan di sembarang tempat. Aktivitas pencarian peralatan tersebut akan menyebabkan cukup banyak waktu terbuang. Peletakan peralatan produksi yang tidak sesuai dengan tempatnya tersebut akan membuat kemungkinan resiko kehilangan menjadi besar. Alasan operator meletakkan peralatan tersebut secara sembarangan karena tempat penyimpanan yang tetap berada cukup jauh dengan area kerja. Peralatan produksi yang diletakkan secara sembarangan yaitu alat pelindung diri. Alat Pelindung Diri seperti masker dan sarung tangan paling sering dijumpai di area kerja di sembarang tempat.
Semangat Kerja yang Rendah dari Operator
Semangat kerja yang rendah ini terlihat dari sikap operator. Operator akan mengeluh apabila production order dalam jumlah yang besar. Banyaknya operator yang lebih memilih pekerjaan yang berbeban ringan. Sedangkan pekerjaan yang berbeban berat tersebut akan ditinggalkan. Rendahnya semangat kerja juga ditunjukkan dari sikap operator menjaga tanggung jawab area kerja, peralatan produksi dan APD. Operator seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan area kerja maupun peralatan produksi.
4.4 Proses yang Terjadi di Area Hand Add
Area hand add merupakan salah satu proses produksi yang memiliki pengaruh yang besar terhadap kualitas produksi. Proses yang terjadi di area hand add merupakan penimbangan bumbu yang akan digunakan sebagai campuran produksi. Bumbu yang dimaksudkan yaitu seperti lysine, vitamin, kunyit dan lain- lain sebagai campuran dengan material lainnya. Material bumbu tersebut akan dilakukan penimbangan terlebih dahulu dengan jumlah tertentu. Jumlah berat
material bumbu yang akan dituang ditentukan juga berdasarkan dari kuantitas produk yang akan diproduksi pada mesin.
Proses penimbangan jumlah material bumbu yang dilakukan di area hand add berdasarkan production order yang diberikan dari Departemen PPIC.
Production order tersebut merupakan hasil dari penghitungan komposisi bumbu yang dibutuhkan untuk memenuhi jumlah produksi berdasarkan permintaan pasar.
Selain pemenuhan permintaan berdasarkan production order yang dikeluarkan Departemen PPIC juga harus mengetahui kondisi mixer. Beberapa kali terjadi permintaan dari mesin mixer harus didahulukan terlebih dahulu. Permintaan mixer didahulukan terlebih dahulu karena mengantisipasi kekosongan bumbu pada mesin mixer. Saat kekosongan terjadi maka proses produksi tidak dapat berjalan.
Proses penimbangan material pada area hand add bermula dari operator melakukan pengambilan material yang telah disediakan. Operator akan melakukan penimbangan dengan menggunakan kantung plastik atau karung sebagai media pengemasan. Setelah melakukan penimbangan sesuai dengan permintaan maka hasil penimbangan tersebut akan diletakkan diatas pallet. Hasil penimbangan tersebut lalu akan dibawa operator forklift untuk diantarkan menuju area hand add tuang. Material yang telah dilakukan penimbangan tersebut akan dituang melalui mesin mixer untuk dilakukan pencampuran dengan material lainnya.
4.5 Perancangan 5S
Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan area kerja hand add untuk lebih teratur, bersih dan memudahkan operator dalam mengidentifikasi barang.
Keadaan awal area kerja hand add sebelum dilakukan metode 5S terlihat berantakan dan area kerja yang kotor. Operator masih belum memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga area produksi maupun peralatan produksi tersebut.
Tujuan dari penerapan 5S mewujudkan area kerja yang bersih, teratur dan mempermudah pencarian maupun peletakan peralatan produksi.
4.5.1 Pembuatan Struktur Organisasi 5S
Pembuatan struktur organisasi ini merupakan awalan dari pelaksanaan metode 5S pada area hand add. Struktur organisasi ini dibuat untuk memberikan
gambaran mengenai tanggung jawab dan apa yang harus dilakukan pada setiap anggota yang termasuk dalam organisasi. Pembagian struktur organisasi dengan jelas tersebut akan memberikan dampak yang positif untuk ke depannya. Setiap anggota akan bekerja secara mandiri dengan diberikan tanggung jawab atas area dan peralatan yang digunakannya. Berikut merupakan pembagian struktur organisasi pada area hand add dapat dilihat pada Gambar 4.6.
Pembagian tanggung jawab tersebut akan membuat tiap anggota mengerti mengenai kewajiban yang harus dilakukan. Tujuan lain yaitu untuk membantu supervisor memudahkan saat melakukan pengecekan area kerja.
Langkah selanjutnya yaitu saat menjalankan program 5S tersebut supervisor akan melakukan inspeksi terhadap jalannya program 5S. Supervisor akan melakukan inspeksi secara mendadak untuk mengetahui keadaan nyata dari jalannya program 5S di area hand add. Berikut merupakan pembagian tanggung jawab yang harus dilakukan pada setiap anggota sebagai berikut:
Tabel 4.1 Tanggung Jawab Anggota Organisasi Hand Add
NO Jabatan Tanggung Jawab
1 Supervisor Produksi Mengontrol dan memberi masukan dalam pelaksanaan 5S di area hand add
Supervisor Produksi
Kepala Hand Add (Bapak Edi & Bapak
Abdul)
Anggota Team Blok 1
Anggota Team Blok 2
Anggota Team Blok 3
Anggota Team Garam
Anggota Team Hand Add Tuang
Gambar 4.6 Struktur Organisasi 5S
Tabel 4.1 Tanggung Jawab Anggota Organisasi Hand Add (Lanjutan)
NO Jabatan Tanggung Jawab
2 Kepala Hand Add
Bertanggung jawab untuk mengatur dan memberikan arahan pelaksanaan 5S di area
hand add pada shiftnya
3 Anggota Team Melaksanakan penerapan kegiatan 5S
Berikut merupakan job description tiap anggota yang berada dalam organisasi 5S yang dilakukan oleh kepala hand add dan anggota team:
Menyingkirkan barang yang tidak diperlukan di area kerja.
Mengembalikan barang yang telah digunakan ke tempat semula.
Menjaga kebersihan area kerja dan alat-alat produksi.
Melakukan kegiatan kebersihan tiap akhir shift kerja.
Melakukan prosedur produksi sesuai dengan yang telah ditentukan.
Melakukan kegiatan 5 Menit 5S pada akhir shift kerja.
4.5.2 Persiapan Implementasi Program 5S
Pembuatan form ini bertujuan untuk membantu memudahkan pekerjaan saat melakukan pengumpulan data peralatan produksi dan frekuensi pemakaian peralatan produksi. Tujuan pembuatan form ini yaitu untuk megetahui tindakan yang harus dilakukan terhadap peralatan produksi di area kerja hand add.
Peralatan produksi yang setelah diklasifikasikan tersebut nantinya akan diberikan tindakan yang sesuai.
Pengumpulan Data Peralatan Produksi
Pengumpulan data tersebut bertujuan untuk mengetahui peralatan apa saja yang diperlukan di area kerja hand add. Peralatan yang direkap yaitu meliputi peralatan produksi, alat kebersihan dan barang pribadi operator. Pengumpulan data peralatan produksi yang ada di area hand add tersebut berdasarkan hasil wawancara kepada operator dan pembimbing lapangan. Form yang digunakan untuk pengumpulan data peralatan produksi dapat dilihat pada Lampiran 3.
Frekuensi Pemakaian Peralatan Produksi
Peralatan yang telah direkap sebelumnya akan dilengkapi dengan frekuensi pemakaian peralatan produksi tersebut. Frekuensi tersebut akan terbagi lagi menjadi tiga tingkatan yaitu rendah, rata-rata dan tinggi. Tujuan pembagian tingkatan tersebut untuk menentukan tindakan yang harus diambil untuk pengaturan peletakkan peralatan produksi tersebut.
Pemasangan Poster
Pemasangan poster 5S merupakan cara untuk mengkomunikasikan tujuan program secara visual. Adanya poster diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran setiap operator untuk menjaga tanggung jawab area kerja dan peralatan produksi. Poster 5S ini akan membantu untuk mengingatkan operator tiap kali melihat poster 5S untuk selalu menjalankan program.
Pemasangan poster ini akan dilakukan penempelan pada lokasi-lokasi yang strategis. Isi dari poster tersebut akan berisi kata-kata motivasi yang dapat membangun budaya kerja 5S.
4.5.3 Perancangan dan Implementasi Langkah Seiri di Area Hand Add Langkah pertama dari program 5S merupakan pemilahan peralatan yang dibutuhkan dan sudah tidak dibutuhkan di area kerja. Tindakan yang diambil dari langkah ini yaitu dengan memisahkan barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi untuk tidak memenuhi area kerja hand add. Area kerja yang telah bersih dari peralatan yang sudah tidak dibutuhkan maka area kerja akan lebih tertata dengan baik dan rapi.
4.5.3.1 Perancangan Langkah Seiri di Area Hand Add
Program 5S merupakan langkah untuk mengubah budaya kerja yang ada saat ini untuk menjadi lebih baik. Langkah awal dalam perancangan program 5S dengan melakukan langkah seiri. Perancangan seiri merupakan pengelompokkan tiap barang yang ada di area hand add. Berdasarkan pengelompokkan tersebut dapat diketahui peralatan mana yang membutuhkan perlakuan khusus ataupun yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Klasifikasi yang dilakukan pada peralatan tersebut menjadi tiga tingkatan yaitu sebagai berikut.
Tabel 4.2 Klasifikasi Frekuensi Penggunaan Peralatan Hand Add Frekuensi
Penggunaan Peralatan
Tempat Penyimpanan
Tinggi Dekat Operator
Rata-rata Di Tengah Area Kerja
Rendah Simpan di Gudang / Buang
Peralatan yang berada di area kerja hand add tersebut nantinya akan diklasifikasikan sesuai dengan pembagian pada Tabel 4.2. Tujuan pembagian tempat penyimpanan berdasarkan frekuensi penggunaan tersebut yaitu untuk mengatur peletakkan tempat penyimpanannya. Klasifikasi tempat yang memiliki frekuensi tinggi akan diatur tempat peletakkannya di dekat operator. Tempat penyimpanan dirancang dekat operator dengan tujuan untuk memudahkan operator saat akan menggunakannya.
Tingkatan klasifikasi rata-rata tersebut yang hanya diperlukan beberapa kali dalam satu shift kerja dapat diletakkan di tengah area kerja. Tempat peletakkan di tengah area kerja tersebut untuk memudahkan operator saat akan memakainya. Sedangkan pada klasifikasi frekuensi rendah peralatan produksi memiliki tindakan untuk disimpan di area gudang atau dibuang. Karena peralatan yang sudah jarang digunakan akan memenuhi area kerja hand add.
4.5.3.2 Implementasi Langkah Seiri di Area Hand Add
Implementasi yang dilakukan pada langkah seiri ini adalah yaitu dengan melakukan pemilahan peralatan produksi. Peralatan produksi akan dipilah sesuai dengan tingkatan klasifikasi. Beberapa peralatan yang tidak dibutuhkan untuk proses produksi pada area hand add akan dipindahkan ke area gudang.
Berdasarkan hasil pemilahan yang terjadi di area hand add timbang dapat dilihat pada Lampiran 4. Sedangkan fungsi setiap peralatan produksi yang digunakan di area hand add timbang dapat dilihat pada Lampiran 5. Frekuensi penggunaan peralatan produksi di area hand add timbang dapat dilihat pada Lampiran 6 .
Pemilahan barang yang terjadi di area hand add tuang dapat dilihat pada Lampiran 7. Sedangkan fungsi setiap peralatan produksi yang digunakan di area hand add timbang dapat dilihat pada Lampiran 8. Frekuensi penggunaan peralatan produksi di area hand add timbang dapat dilihat pada Lampiran 9.
Pengambilan informasi tersebut didapatkan melalui wawancara dengan pembimbing lapangan, operator dan kepala hand add dikarenakan lebih mengerti dan paham mengenai proses produksi yang sesuai.
4.5.4 Perancangan dan Implementasi Langkah Seiton di Area Hand Add Langkah seiton yaitu menetapkan lokasi penyimpanan fungsional untuk setiap peralatan produksi. Lokasi penyimpanan peralatan produksi hanya pada satu tempat dapat memudahkan operator saat akan meletakkan setelah menggunakan juga saat akan menggunakannya. Kondisi area hand add saat ini belum mempunyai lokasi penyimpanan yang tetap. Belum adanya lokasi penyimpanan peralatan produksi yang tetap menyebabkan kondisi area kerja yang berantakan.
4.5.4.1 Perancangan Langkah Seiton di Area Hand Add
Langkah seiton adalah menetapkan lokasi penyimpanan dari peralatan produksi yang tetap. Tujuan dari perancangan lokasi penyimpanan yang tetap tersebut untuk memudahkan saat akan digunakan nantinya. Sehingga tidak perlu membuang waktu lagi untuk mencari saat akan menggunakannya. Menetapkan lokasi penyimpanan yang tetap tersebut juga akan membantu untuk membuat area kerja lebih rapi. Berikut merupakan langkah-langkah untuk melakukan perancangan langkah seiton di area hand add.
Pengelompokkan Peralatan Melalui Frekuensi Penggunaannya
Peralatan produksi pada area hand add yang telah dikelompokkan sebelumnya pada langkah seiri akan digunakan pada langkah ini. Pembagian peralatan produksi sesuai tingkatan seperti tinggi, rata-rata & rendah akan berpengaruh. Kriteria tersebut akan digunakan untuk membuat desain tempat penyimpanannya. Peralatan yang dilakukan penyimpanan meliputi pisau,
kantung plastik, stapler, dll. Peralatan tersebut akan dikelompokkan untuk memudahkan dalam pencarian barang.
Melakukan Perancangan Tempat Penyimpanan
Perancangan tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan peralatan produksi tersebut dilakukan dengan dua aspek. Aspek pertama yaitu mengenai lokasi peletakkan tempat penyimpanan tersebut. Sedangkan aspek kedua yaitu desain dari tempat penyimpanan sendiri. Lokasi rak peralatan produksi tersebut akan diletakkan di area kerja hand add. Pemilihan lokasi tersebut dikarenakan untuk memudahkan operator saat akan melakukan penyimpanan maupun akan menggunakannya. Kondisi awal ini area hand add memang memiliki tempat penyimpanan yang jauh dengan area kerja. Hal ini menyebabkan beberapa peralatan produksi tidak diletakkan pada tempat semula. Faktor lainnya yaitu desain tempat penyimpanan yang berdasarkan dari peralatan yang akan disimpan. Ukuran tempat penyimpanan tersebut dibuat berdasarkan dari peralatan seperti pisau, alat pelindung diri, kantung plastik dan penyimpanan tali rafia. Berikut merupakan beberapa kriteria yang digunakan untuk mempersiapkan tempat penyimpanan sebagai berikut:
Peralatan mempunyai lokasi penyimpanan yang tetap.
Peralatan yang sejenis disimpan pada lokasi yang sama.
Mudah untuk dicari saat akan digunakan dan pengembaliannya.
Tidak mengganggu jalannya proses produksi.
Tidak merusak fasilitas maupun kualitas.
Peralatan dengan frekuensi penggunaan yang tinggi harus diletakkan dekat dengan area kerja.
Rancangan yang akan diaplikasikan pada area hand add timbang dan hand add tuang adalah sebagai berikut. Rancangan yang dilakukan di area hand add timbang diperlukan beberapa tambahan karena belum tersedia untuk tempat penyimpanan seperti tempat penyimpanan peralatan produksi, media penuangan material dan tempat alat kebersihan. Area hand add tuang perlu penambahan tempat peralatan produksi seperti spidol, pisau dan stapler. Penambahan tersebut
dikarenakan pada area kerja sering terlihat peralatan tersebut berserakan.
Peralatan tersebut yang berantakan maka akan memberikan kemungkinan resiko hilang. Berikut merupakan penjelasan dari rancangan tempat penyimpanan sebagai berikut:
Rancangan Pertama Rak Peralatan Produksi Hand Add Timbang
Rak peralatan produksi di area hand add timbang merupakan tempat penyimpanan peralatan produksi yang akan dipakai di area hand add.
Peralatan produksi yang akan dipakai maupun selesai dipakai akan disimpan di satu area tersebut. Rak peralatan produksi tersebut dibuat dengan tujuan untuk memudahkan saat akan menggunakannya dan mengembalikan. Adanya rak ini akan membuat area kerja lebih rapi. Berikut merupakan rancangan pertama yang telah dirancang untuk penyimpanan peralatan produksi sebagai berikut:
Gambar 4.7 Rancangan Pertama Rak Peralatan Produksi
Rancangan pertama yang didesain untuk peralatan produksi yaitu seperti Gambar 4.7. Rancangan pertama yaitu berupa lemari yang memiliki 3 baris laci. Masing-masing laci penyimpanan tersebut akan digunakan sesuai dengan fungsinya. Laci paling atas yaitu yang digunakan untuk penyimpanan
peralatan produksi seperti pisau, stapler, dan alat pelindung diri. Sedangkan laci kedua yaitu digunakan untuk menyimpan barang pribadi seperti botol minum dan handphone. Laci penyimpanan paling bawah tersebut digunakan untuk penyimpananan tali rafia sebagai media ikat pada hasil timbang. Sisi samping juga terdapat seperti tangkai untuk peletakkan tali rafia yang sedang dipakai. Clipboard tersebut digunakan untuk peletakkan form production order. Pada kondisi awal belum terdapat tempat yang tetap untuk meletakkannya sehingga operator menaruh secara sembarangan.
Kelebihan rancangan pertama tempat penyimpanan peralatan produksi yaitu peralatan yang disimpan dalam laci tersebut tidak terkontaminasi kotoran dari luar dan terlihat lebih rapi. Kekurangan pada rancangan pertama ini yaitu operator akan terasa kesulitan saat akan mencari peralatan produksi yang sudah tertumpuk dengan lainnya yang berada di bawah. Selain itu juga memakan lebih banyak bahan baku saat proses pembuatan seperti paku, cat, lem, kayu dan waktu.
Rancangan Kedua Rak Peralatan Produksi Hand Add Timbang
Rancangan kedua merupakan rancangan alternatif yang akan diberikan ke pihak perusahaan. Tujuan pembuatan rancangan alternatif yaitu memberikan desain yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan perusahaan. Kegunaan dari rancangan alternatif ini sama seperti dengan rancangan pertama. Fungsi utama dari pembuatan rak peralatan produksi yaitu untuk melakukan penyimpanan peralatan produksi. Beberapa terjadi perbedaan pada rancangan yang telah diberikan untuk memudahkan saat menggunakannya. Rancangan alternatif tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.8.
Gambar 4.8 Rancangan Kedua Rak Peralatan Produksi
Rancangan kedua yang didesain untuk peralatan produksi yaitu memiliki perbedaan dengan rancangan yang pertama. Perbedaan yang terjadi yaitu pada bagian atas rak peralatan produksi tersebut dan bagian bawah dari rak peralatan produksi tersebut. Bagian atas rak tersebut didesain dengan memiliki sekat di ruang bagian atas rak tersebut. Sekat tersebut berguna untuk memisahkan pada beberapa peralatan yang diletakkan di dalam rak tersebut.
Adanya sekat juga memudahkan operator saat akan mengambil peralatan pada rak tersebut. Bagian atas rak tersebut juga diberikan sebuah penutup untuk menjaga kebersihan dari peralatan produksi. Bagian bawah rak juga diberikan sebuah sekat yang memisahkan antara lokasi penyimpanan kantung plastik 10 kg dan cadangan tali rafia. Bagian tersebut juga akan diberikan penutup untuk menjaga dari kebersihan barang yang disimpan dari kotoran yang berada di area kerja. Sisi samping juga terdapat seperti tangkai untuk peletakkan tali rafia yang sedang dipakai. Clipboard tersebut digunakan untuk peletakkan form production order.
Kelebihan rancangan kedua yaitu akan memudahkan saat melakukan pencarian peralatan yang akan digunakan dengan bantuan sekat kayu.
Penggunaan sekat kayu juga akan memberikan perbedaan yang jelas untuk setiap peralatan produksi. Kekurangan dari rancangan ini yaitu membutuhkan
kayu yang lebih banyak dari rancangan pertama. Kebutuhan kayu pada desain ini lebih banyak karena pemberian sekat pada bagian atas dan bawah.
Media Penuangan Material
Media penuangan material merupakan sarana untuk menuangkan material ke kantung plastik yang akan digunakan untuk hasil timbang. Media tersebut sebelumnya memanfaatkan ketinggian tumpukan bahan baku sebagai sarana untuk menuang material. Cara kerja tersebut akan merusak kualitas bahan baku sendiri jika terlalu lama digunakan sebagai alas penuangan material.
Media penuangan material yang akan dibuat yaitu berbentuk meja untuk menggantikan tumpukan bahan baku sebagai alas penuangan material.
Berikut merupakan rancangan untuk media penuangan material yang akan digunakan untuk memudahkan operator pada Gambar 4.9.
Gambar 4.9 Rancangan Media Penuangan Material
Media penuangan material tersebut akan menggantikan tumpukan bahan baku selama ini yang digunakan sebagai alas untuk penuangan material. Tumpukan bahan baku semakin lama digunakan sebagai alas penuangan material maka kualitas dari bahan baku tersebut dapat menurun. Media penuangan bahan
baku tersebut dirancang dengan menyesuaikan kebutuhan dari operator baik dari ketinggian dan lebar meja.
Tempat Alat Kebersihan
Peralatan kebersihan selama ini yang digunakan di area hand add yaitu berupa sapu dan sekop. Peralatan tersebut selama ini setelah dipakai oleh operator untuk membersihkan area kerja diletakkan di sembarang tempat. Hal ini tentunya membuat area kerja hand add terlihat berantakan. Karena beberapa peralatan yang diletakkan secara sembarangan. Resiko sapu yang diletakkan di tumpukan bahan baku juga dapat membuat gagang dari sapu patah. Apabila hal ini diteruskan terus menerus maka akan merugikan perusahaan. Kerugian yang ditimbulkan yaitu biaya pembelian sapu yang baru dan waktu kerja operator yang terbuang. Adanya satu tempat penyimpanan yang khusus dapat memudahkan operator saat akan memakai dan mengembalikannya. Berikut merupakan rancangan untuk peletakkan tempat kebersihan pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10 Rancangan Tempat Alat Kebersihan
Rancangan tempat alat kebersihan tersebut dibuat dengan memiliki dua gagang di bagian atas. Fungsi dari gagang tersebut untuk menahan sapu dan
sekop saat diletakkan. Gagang sebelah kiri tersebut memiliki dua cabang untuk meletakkan sekop dengan gagang panjang ataupun dengan gagang yang pendek. Tempat alat kebersihan ini dapat membuat lingkungan kerja yang lebih rapi dengan mengembalikan sesuai dengan tempatnya.
Tempat Peralatan Produksi Hand Add Tuang
Peralatan produksi pada area hand add tuang belum mempunyai tempat penyimpanan yang tetap setelah digunakan oleh operator. Peralatan yang digunakan yaitu seperti pisau, spidol dan stapler. Kebiasaan operator setelah menggunakan diletakkan di sembarang tempat dapat membuat resiko hilang semakin besar. Berikut merupakan rancangan yang diberikan untuk tempat peralatan produksi di area hand add tuang pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11 Rancangan Tempat Peralatan Produksi Hand Add Tuang
Rancangan tempat penyimpanan peralatan produksi pada area hand add tuang dapat memudahkan untuk pengambilan dan mengembalikan peralatan. Waktu yang terbuang untuk melakukan pencarian peralatan oleh operator juga dapat berkurang. Resiko hilangnya peralatan produksi di area kerja juga dapat menurun karena tertumpuk bahan baku apabila diletakkan di sembarang tempat.
Perancangan Mekanisme Pantau
Perancangan mekanisme pantau merupakan salah satu upaya secara visual yang dapat membantu jalannya program 5S. Mekanisme pantau yang dilakukan secara visual yaitu dengan melakukan pengaplikasian garis batas lokasi. Garis batas lokasi tersebut akan membatasi tempat peralatan produksi yang terletak di area hand add.
4.5.4.2 Implementasi Langkah Seiton di Area Hand Add
Implementasi dari langkah seiton yaitu membuatkan rak peralatan produksi maupun peralatan yang mendukung proses produksi. Seiton sendiri yang berarti rapi yaitu setiap peralatan harus memiliki tempat penyimpanan yang tetap.
Rancangan pada tahap sebelumnya tersebut akan diimplementasikan untuk membantu mewujudkan area kerja yang lebih rapi dan bersih.
Rak Peralatan Produksi Hand Add Timbang
Rancangan rak peralatan produksi yang digunakan yaitu rancangan kedua.
Pihak perusahaan lebih memilih rancangan kedua dikarenakan lebih memudahkan operator saat akan mengambil peralatan produksi. Rak peralatan yang rancangan kedua tersebut memiliki sekat kayu untuk memisahkan peralatan tersebut agar tidak tercampur dengan lainnya.
Rancangan pertama memungkinkan peralatan tersebut tertumpuk material lainnya sehingga menyulitkan proses pencariannya. Berikut merupakan rak peralatan produksi yang digunakan pada area kerja hand add pada Gambar 4.12.
Gambar 4.12 Rak Peralatan Produksi
Material pembuatan rak peralatan produksi tersebut menggunakan kayu sebagai kerangka dari rak peralatan tersebut. Pemilihan material kayu tersebut yaitu dengan tujuan rak peralatan tersebut tidak terlalu berat. Apabila rak peralatan tersebut terbuat dari besi maka saat operator menarik laci maupun membuka bagian atas akan lebih berat.
Media Penuangan Material
Media penuangan material merupakan peralatan yang mendukung proses produksi di area kerja hand add. Kondisi sebelumnya yaitu operator menggunakan ketinggian yang sesuai dari tumpukan material bahan baku.
Bahan baku tersebut akan digunakan sebagai alas untuk penuangan material.
Media penuangan material tersebut yang berbentuk meja tersebut akan memudahkan operator saat akan melakukan penuangan. Media penuangan material tersebut memudahkan operator supaya tidak perlu menumpuk bahan baku terlebih dahulu.
Tempat Alat Kebersihan
Tempat alat kebersihan merupakan sarana pendukung jalannya program 5S.
Kondisi awal area kerja hand add belum memiliki tempat penyimpanan alat kebersihan. Belum adanya tempat alat kebersihan tersebut membuat operator meletakkan semabarangan. Berikut merupakan tempat alat kebersihan yang akan digunakan pada area kerja hand add pada Gambar 4.13
Gambar 4.13 Tempat Alat Kebersihan
Tempat Peralatan Produksi Hand Add Tuang
Peralatan produksi pada area kerja hand add tuang belum memliki tempat penyimpanan yang tetap. Sehingga menyebabkan peralatan tersebut diletakkan pada tumpukan material bahan baku. Penyimpanan peralatan produk di atas material bahan baku tersebut tentunya akan memunculkan resiko tertumpuk bahan baku hingga hilang. Kondisi ini juga menyebabkan area kerja tidak bisa terlihat rapi. Adanya tempat penyimpanan peralatan
produksi di area hand add tersebut dapat membantu menurunkan waktu yang terbuang dan resiko kehilangan.
Mekanisme Pantau
Mekanisme pantau yang diimplementasikan pada area kerja hand add secara visual. Aplikasi mekanisme pantau di area kerja hand add menggunakan garis batas lokasi. Garis batas lokasi tersebut nantinya akan memberikan garis pada setiap peralatan yang ada di area kerja. Area kerja yang telah diberikan garis batas lokasi dapat dilihat pada Gambar 4.14.
Gambar 4.14 Garis Batas Lokasi
Garis batas lokasi tersebut nantinya akan digunakan sebagai batasan lokasi peletakkan peralatan tersebut. Apabila terdapat peralatan yang keluar garis batas lokasi tersebut maka dapat dikatakan area kerja belum rapi. Penempatan tersebut juga dapat memudahkan operator apabila telah melakukan perpindahan terhadap peralatan yang setelah digunakan. Garis batas tersebut juga dapat membantu untuk tetap menjaga kondisi area kerja seperti semula.
4.5.5 Perancangan dan Implementasi Langkah Seiso di Area Hand Add Langkah seiso merupakan upaya untuk menjaga area kerja di hand add timbang dan hand add tuang tetap dalam keadaan bersih. Tingkat kebersihan sendiri tentunya juga dapat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Maka dari itu kebersihan tersebut harus dijaga oleh setiap operator. Kebersihan yang dimaksudkan yaitu termasuk lantai area produksi, peralatan produksi dan mesin produksi. Pemenuhan langkah seiso tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
Menyediakan Alat Kebersihan Dalam Jumlah yang Cukup
Alat kebersihan yang digunakan untuk membersihkan area kerja harus dalam jumlah yang cukup. Kekurangan alat kebersihan tersebut dapat menyebabkan jalannya langkah seiso dapat terhambat. Peralatan yang dibutuhkan untuk menjaga kebersihan pada area kerja hand add tiap satu blok area yaitu satu buah sapu dan satu buah sekop. Operator akan membersihkan area kerja yang telah dipakai untuk tetap menjaga area kerja yang selalu bersih.
Melakukan Kegiatan Kebersihan Secara Berkala
Kegiatan kebersihan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh operator setiap harinya. Pembersihan yang dilakukan yaitu area kerja, peralatan produksi dan mesin produksi. Aktivitas tersebut akan mempermudah operator saat akan menggunakan kembali. Sehingga peralatan produksi tersebut siap untuk digunakan kapanpun. Kegiatan kebersihan ini juga termasuk dalam daftar periksa yang akan dilakukan supervisor.
Kebersihan merupakan salah satu poin yang dijadikan prioritas yang dilakukan penilaian.
4.5.6 Perancangan dan Implementasi Langkah Seiketsu di Area Hand Add Konsep dari perancangan langkah seiketsu adalah dimana menjaga kondisi area kerja dalam kondisi rapi dan bersih. Langkah ke-empat yaitu upaya untuk tetap menjaga jalannya program 5S di area kerja hand add. Program 5S apabila dilakukan secara terus menerus dapat menjadi budaya kerja.
4.5.6.1 Perancangan Langkah Seiketsu di Area Hand Add
Perancangan yang dilakukan untuk langkah ke-empat merupakan perancangan aktivitas inspeksi. Aktivitas inspeksi tersebut berguna untuk mengontrol jalannya program 5S di area kerja hand add. Berikut merupakan penjelasan mengenai program yang dilakukan pada langkah seiketsu sebagai berikut:
Perancangan Aktivitas Inspeksi Program 5S
Aktivitas inspeksi merupakan upaya untuk mendukung berjalannya program 5S. Inspeksi tersebut akan dilakukan oleh supervisor produksi untuk memastikan tetap berjalannya program 5S. Inspeksi yang dilakukan akan sesuai dengan poin-poin yang tertera pada daftar periksa. Daftar periksa tersebut akan berisi mengenai poin yang harus diperhatikan saat melakukan inspeksi.
4.5.6.2 Implementasi Langkah Seiketsu di Area Hand Add
Langkah seiketsu yang telah dirancang tersebut akan diimplementasikan ke area kerja hand add timbang dan hand add tuang. Implementasi program 5S tersebut akan mengubah budaya kerja pada area kerja hand add. Dimana yang sebelumnya area kerja hand add yang belum memiliki budaya 5S. Program 5S tersebut pada langkah seiketsu akan mengubah kebiasaan operator untuk menjadikan area kerja yang lebih rapi dan bersih. Berikut merupakan implementasi pada langkah seiketsu sebagai berikut:
Implementasi Aktivitas Inspeksi Program 5S
Aktivitas inspeksi program 5S akan dilakukan untuk menjaga jalannya program ringkas, rapi & resik. Hasil inspeksi tersebut juga akan berdampak pada score yang dimiliki oleh tim. Tim akan mendapatkan sanksi tertentu jika mendapatkan hasil inspeksi yang belum maksimal. Supervisor akan melakukan pengecekan sesuai dengan poin yang tertera dalam daftar periksa.
Daftar periksa yang digunakan untuk area kerja hand add timbang dan hand add tuang dapat dilihat pada Lampiran 10. Tujuan dibuatnya daftar periksa
merupakan untuk menghindari kelalaian dalam melakukan pemeriksaan.
Strategi yang digunakan untuk melakukan inspeksi yaitu dengan pada satu bulan awal penerapan akan dilakukan proses pembiasaan terhadap jalannya 5S kepada setiap operator.
Tabel 4.3 Pelaksanaan Inspeksi 5S
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5
Inspeksi 5S 0 Secara
Tiba-Tiba
Secara Tiba-Tiba
Secara Tiba-Tiba
Secara Tiba-Tiba
Apabila operator telah terbiasa dengan program 5S selanjutnya akan dilakukan inspeksi secara tiba-tiba. Inspeksi akan dilakukan dengan secara tiba-tiba yang dilakukan oleh supervisor. Pengecekan secara tiba-tiba dengan bertujuan untuk mendapatkan kondisi yang sesuai keadaan nyata. Strategi ini akan membantu jalannya program 5S baik dari pihak supervisor produksi maupun anggota tim area kerja hand add.
4.5.7 Perancangan dan Implementasi Langkah Shitsuke di Area Hand Add Langkah shitsuke merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan 5S sebagai budaya kerja dalam aktivitas sehari-hari. Hasil dari penerapan langkah shitsuke yaitu untuk mewujudkan penerapan langkah ringkas, rapi, resik dan rajin secara berulang. Eksistensi dari program 5S sendiri merupakan hasil kemauan dari tiap operator hand add sendiri. Hasil yang didapatkan pada penerapan 5S ini akan mengubah area kerja yang sebelumnya berantakan hingga menjadi area kerja yang rapi dan bersih.
4.5.7.1 Perancangan Langkah Shitsuke di Area Hand Add
Perancangan yang dilakukan untuk menerapkan langkah shitsuke pada area hand add yaitu dengan melakukan aktivitas 5S Sukses dan melakukan sistem scoring. Penjelasan mengenai program tersebut sebagai berikut:
Menjalankan Aktivitas 5S Sukses
Perancangan aktivitas 5S Sukses merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seluruh anggota tim yang bekerja di area hand add setiap akhir shift kerja.
Tujuan pembuatan 5S Sukses merupakan pembiasaan budaya kerja 5S pada tiap opertaor hand add. Berikut pada Tabel 4.4 merupakan aktivitas yang dilakukan dalam program 5S Sukses:
Tabel 4.4 Aktivitas 5S Sukses Kegiatan yang Dilakukan
Tim Operator Kepala Hand Add Membuang Segala
Sesuatu yang Tidak Diperlukan
Bertanggung Jawab Pelaksanaan Program
5S Membersihkan Area
Kerja Memberikan Arahan Terhadap Jalannya
Program 5S Mengembalikan
Peralatan ke Tempat Semula
Kegiatan aktivitas 5S Sukses ini akan membiasakan operator untuk melakukan dalam budaya kerja nya sehari-hari. Program 5S apabila telah menjadi budaya kerja yang melekat tentunya akan mendapatkan dampak positif bagi perusahaan.
Melakukan Sistem Scoring
Sistem scoring merupakan sistem untuk penilaian yang akan dipakai di area hand add. Penggunaan sistem scoring bertujuan untuk menjaga jalannya eksistensi program 5S. Sistem scoring sendiri merupakan pemberian nilai pada setiap anggota hand add yang telah diberikan tanggung jawab terhadap area kerja dan peralatan produksi. Jika score yang dimiliki anggota hand add tersebut mencapai angka tertentu maka akan mendapatkan konsekuensi yang
telah ditetapkan. Berikut pada Tabel 4.5 merupakan sanksi yang telah ditetapkan hingga mencapai nilai tertentu sebagai berikut:
Tabel 4.5 Sanksi Program 5S
Nilai Sanksi
30 - 50
Teguran Kepada Kepala Hand Add Oleh Supervisor Produksi Untuk Mengingatkan Team Untuk Lebih
Giat Melakukan Program 5S
20 – 30
Teguran Keras Kepada Kepala Hand Add dan Anggota Team Secara Langsung Oleh Supervisor Produksi Karena Kelalaian Menjalankan Program 5S 10- 20 Penambahan Beban Kerja (Contoh : Melakukan
Pembersihan Area Hand Add Secara Keseluruhan)
<10 Pihak Manajemen Melakukan Tindakan Skorsing
Penyebab pengurangan poin diatas disebabkan dari penilaian berdasarkan daftar periksa yang memiliki hasil yang belum maksimal. Apabila nilai daftar periksa yang didapatkan saat dilakukan penilaian terhadap area kerja memiliki nilai dibawah 40 maka score yang dimiliki team akan berkurang sebanyak 5 poin. Score tersebut akan dilakukan penghitungan tiap bulannya.
Tiap akhir bulan tim yang memiliki score tertinggi pada tiap akhir bulannya maka akan mendapatkan reward yang telah diatur dari pihak manajemen.
4.5.7.2 Implementasi Langkah Shitsuke di Area Hand Add
Implementasi langkah ini akan merubah budaya kerja yang dikerjakan selama ini di area kerja hand add. Penerapan dari aktivitas 5S Sukses tersebut untuk merubah budaya kerja selama ini di area kerja hand add yang selama ini dinilai masih perlu perbaikan. Aktivitas 5S Sukses tersebut apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh maka dapat membuahkan hasil yang positif. Program lainnya yaitu dengan menggunakan sistem scoring merupakan cara untuk membantu jalannya program 5S. Program tersebut akan mendorong operator tetap melaksanakan program 5S. Salah satu upaya yang digunakan untuk membiasakan
dari jalannya program 5S yaitu dengan mengikuti prosedur kerja 5S yang telah dirancangkan pada tahapan sebelumnya di akhir kegiatan shift kerja. Apabila operator lalai dalam melaksanakan program 5S maka akan mendapatkan sanksi sesuai dengan apa yang telah ditentukan.
4.5.8 Alat Bantu Implementasi 5S
Alat bantu implementasi 5S akan digunakan sebagai sarana untuk membantu jalannya 5S dengan lebih baik. Penambahan alat bantu tersebut diharapkan dapat membantu menumbuhkan semangat bagi operator untuk menjalankan program 5S. Berikut merupakan penjelasan alat bantu implementasi program 5S di area hand add:
Saran 5S
Penerapan saran 5S merupakan salah satu cara untuk terus mengembangkan program 5S ke arah yang lebih baik. Saran 5S merupakan alat bantu yang akan digunakan dengan cara menerima masukan dari operator maupun kepala hand add. Masukan yang dimaksudkan yaitu tentang jalannya program 5S pada area kerjanya. Setelah itu akan diproses oleh pihak supervisor mengenai dampak positif apa saja yang diperoleh oleh perusahaan. Apabila memungkinkan untuk diterapkan maka akan diproses lebih lanjut untuk diimplementasikan. Saran 5S ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada operator untuk dapat terlibat secara aktif.
Poster 5S
Poster 5S merupakan cara untuk memudahkan penerapan 5S secara visual. Isi dari poster tersebut mengenai bahaya yang dapat terjadi apabila tidak dilaksanakan program 5S. Rancangan poster yang dipasang pada area kerja hand add seperti pada Lampiran 11. Penempatan poster ini akan ditempatkan pada posisi yang strategis dimana yang sering dilalui oleh operator. Poster ini akan mengingatkan operator untuk menjalankan program 5S di area kerja hand add.
4.5.9 Evaluasi Penerapan 5S
Langkah setelah dilakukan implementasi program 5S pada area kerja hand add yaitu evaluasi. Evaluasi digunakan bertujuan untuk mengetahui hasil yang didapatkan setelah penerapan program 5S. Hasil tersebut akan dijadikan sebuah tolok ukur keberhasilan yang didapatkan setelah melakukan program 5S.
Berikut merupakan beberapa cara yang dilakukan untuk melakukan evaluasi penerapan program 5S:
Membandingkan Keadaan Sebelum dan Sesudah
Metode pertama yang dilakukan untuk dijadikan hasil evaluasi yaitu dengan membandingkan foto. Foto tersebut akan diambil sebelum dan sesudah dilakukan program 5S di area kerja hand add. Perbedaan akan terlihat dengan jelas mengenai kondisi area kerja yang sebelumnya dilakukan program 5S terlihat berantakan. Kondisi area kerja hand add sebelum dilakukan program 5S dapat dilihat pada Lampiran 12. Hasil penerapan program 5S akan merubah lingkungan kerja tersebut menjadi lebih bersih dan rapi. Kondisi area kerja hand add setelah dilakukan program 5S dapat dilihat pada Lampiran 13.
Membandingkan Hasil Checklist Sebelum dan Sesudah
Metode kedua yang digunakan yaitu membandingkan hasil penerapan program 5S di area kerja hand add. Total hasil penilaian checklist 5S tersebut akan dibandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah dilakukan implementasi 5S di area kerja hand add. Hasil yang didapatkan dari checklist pada kondisi setelah dilakukan program 5S menunjukkan nilai yang lebih tinggi berarti program 5S telah berjalan dengan baik di area kerja hand add.
Hasil penghitungan total nilai checklist dapat dilihat pada Lampiran 14.
Angka penilaian pada area kerja hand add dapat dilihat pada Gambar 4.15 dan Gambar 4.16.
Gambar 4.15 Grafik Sebelum dan Sesudah Area Hand Add Timbang
Data tersebut yang telah didapatkan akan dilakukan uji pengecekan signifikansi. Uji signifikansi tersebut berguna untuk mengetahui apakah perubahan yang terjadi tersebut telah signifikan atau belum. Uji yang digunakan yaitu paired test untuk membandingkan total penilaian checklist antara keadaan sebelum dan sesudah. Hipotesis yang digunakan dalam uji paired test yaitu:
H0 : Rata-rata waktu performa kerja sama H1 : Rata-rata waktu performa kerja tidak sama
Nilai P-Value yang diperoleh hasil uji paired test adalah 0,000 yang berarti adalah tolak H0 dan menerima H1. Hasil yang diperoleh berarti menandakan bahwa rata-rata waktu performa kerja tidak sama. Uji paired test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 15. Hipotesa tersebut mengindikasikan bahwa memang mengalami perubahan yang signifikan di area kerja hand add setelah dilakukan penerapan 5S.
0 10 20 30 40 50 60
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Hasil Checklist 5S
Periode
Hasil Checklist 5S
Gambar 4.16 Grafik Sebelum dan Sesudah Area Hand Add Tuang
Data tersebut yang telah didapatkan maka perlu dilakukan uji untuk mengetahui apakah hasil implementasi tersebut memiliki pengaruh. Hasil checklist 5S tersebut akan dilakukan uji paired test untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah. Berikut merupakan hipotesa yang digunakan dalam uji paired test adalah:
H0 : Rata-rata waktu performa kerja sama H1 : Rata-rata waktu performa kerja tidak sama
Nilai P-Value yang diperoleh hasil uji paired test adalah 0,001 yang berarti adalah tolak H0 dan menerima H1. Hasil yang diperoleh berarti menandakan bahwa rata-rata waktu performa kerja tidak sama. Uji paired test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16. Hipotesa tersebut mengindikasikan bahwa memang mengalami perubahan yang signifikan di area kerja hand add setelah dilakukan penerapan 5S.
Hasil penerapan program 5S pada area kerja hand add timbang telah berjalan dengan baik dari angka penilaian yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelum dilakukan program 5S. Perubahan pada area hand add tuang tidak terlihat perbedaan yang cukup jauh. Perbedaan yang tidak cukup jauh tersebut dikarenakan aktivitas yang dilakukan hanya sedikit. Faktor lainnya yaitu belum dilakukannya penambahan garis batas lokasi penyimpanan
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
Hasil Checklist 5S
Periode
Hasil Checklist 5S
material. Hal ini menyebabkan operator tidak meletakkan peralatan sesuai dengan tempatnya.
Performa Kerja Operator
Analisa ketiga yang dilakukan yaitu mengenai performa kerja operator.
Performa kerja operator tersebut akan dibandingkan dengan lingkungan kerja sebelum dan sesudah program 5S. Peningkatan performa kerja operator dapat dilihat dari segi waktu. Waktu yang dibutuhkan sebelum diimplementasikan program 5S tersebut membutuhkan lebih banyak waktu. Sebelum diimplementasikan program 5S lokasi penyimpanan peralatan produksi berada jauh dengan area kerja. Sehingga operator masih perlu kembali ke lokasi tersebut apabila terdapat peralatan yang tertinggal. Perubahan setelah implementasi 5S yaitu menetapkan penyimpanan peralatan produksi tersebut di dekat area kerja. Berikut merupakan waktu yang dibutuhkan oleh operator dalam menyiapkan 10 kantung kemasan material bumbu diantara keadaan sebelum dan sesudah.
Tabel 4.6 Waktu Performa Kerja Sebelum dan Sesudah Waktu Performa Kerja
Sebelum (Detik) Sesudah (Detik)
155 127 130 128
162 171 116 164
140 166 133 129
205 159 107 125
144 181 137 119
189 177 148 131
Rata-
Rata 164,6 Rata-
Rata 130,5
Berdasarkan Tabel 4.6 waktu tersebut dapat dilihat bahwa waktu yang dibutuhkan dapat menurun. Penurunan waktu tersebut yang berarti adanya peningkatan performa kerja sebesar 20,6 % dari kondisi sebelumnya. Faktor
yang menjadi penyebab turunnya waktu tersebut yaitu penempatan peralatan yang telah sesuai. Kondisi sebelumnya dimana peralatan produksi diletakkan secara sembarangan. Hal ini menyebabkan operator membutuhkan waktu lebih lama untuk mencari terlebih dahulu.