• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh Nizar Raihan Al Farisy NIM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh Nizar Raihan Al Farisy NIM:"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

KUALITAS HADIS-HADIS DALAM CHANNEL YOUTUBE REMISYA OFFICIAL

(Studi Kritik Sanad) Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S. Ag.)

Oleh

Nizar Raihan Al Farisy NIM: 11160360000047

PROGRAM STUDI ILMU HADIS FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H/2021 M

(2)

i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

KUALITAS HADIS-HADIS DALAM CHANNEL YOUTUBE REMISYA OFFICIAL

(Studi Kritik Sanad Hadis) Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S. Ag.)

Oleh

Nizar Raihan Al Farisy NIM: 11160360000047

Pembimbing

Dr. Masykur Hakim, M.Ag.

NIP: 19570223 199203 1001

PROGRAM STUDI ILMU HADIS FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H/2021 M

(3)

ii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 15 Januari 2021

Nizar Raihan Al Farisy

(4)

Skripsi berjudul KUALITAS HADIS-HADIS DALAM CHANEL YOUTUBE REMISYA OFFICIAL (Studi Kritik Sanad) telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakulas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Jum’at tanggal 7 Mei 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag.) pada Program Studi Ilmu Hadis.

Jakarta, Jum’at 7 Mei 2021 Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota, Sekertaris Merangkap Anggota,

Dr. Rifqi Muhammad Fatkhi, M.A.

NIP. 19770120 200312 1003

Dr. Abdul Hakim Wahid, M.A.

NIP. 19780424 201503 1001

Penguji 1

Anggota,

Penguji 2

Dr. Atiyatul Ulya, M.Ag.

NIP. 19700112 199603 2001

Ala’I Nadjib, M.A.

NIP. 19711205 200501 2004

Pembimbing,

Dr. Masykur Hakim, M.Ag.

NIP: 19570223 199203 1001 iii

(5)

iv

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedoman pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor: 158 Tahun 1987 dan Nomor: 0543b/U/1987.

1. Padanan Aksara

Huruf Arab Huruf Latin Keterangan

ا

Tidak dilambangkan

ب

B Be

ت

T Te

ث

Ts Te dan Es

ج

J Je

ح

H dengan titik di bawah

خ

Kh Ka dan Ha

د

D De

ذ

Dz De dan Zet

ر

R Er

ز

Z Zet

س

S Es

ش

Sy Es dan Ye

ص

Es dengan titik di bawah

ض

De dengan titik di bawah

ط

Te dengan titik di bawah

ظ

Zet dengan titik di bawah

(6)

v

ع

Koma terbalik di atas hadap kanan

غ

Gh Ge dan Ha

ف

F Ef

ق

Q Ki

ك

K Ka

ل

L El

م

M Em

ن

N En

و

W We

ه

H Ha

ء

Apostrof

ي

Y Ye

Hamzah (ء

)

yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda apostrof (’).

2. Vokal

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

A Fatḥah

I Kasrah

U Ḍammah

ي

Ai a dan i

و

Au a dan u

3. Vokal Panjang

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

(7)

vi

Ā a dengan topi di atas

ﹻ ي

Ī i dengan topi di atas

ﹹ و

Ū u dengan topi di atas

4. Ta marbūṭah

Transliterasi untuk ta marbūṭah ada dua, yaitu: ta marbūṭah yang hidup atau mendapat harkat fatḥah, kasrah, dan ḍammah, transliterasinya adalah “t”.

Sedangkan ta marbūṭah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah “h”.

Kalau pada kata yang berakhir dengan ta marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang “al-” serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbūṭah itu ditransliterasikan dengan “h”.

5. Syaddah (Tasydīd)

Syaddah atau tasydīd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydīd (ّ ا), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.

Jika huruf ى ber-tasydīd di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah, maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah (ī).

6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf (alif lam ma‘rifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf qamariah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).

(8)

vii ABSTRAK

Nizar Raihan Al Farisy

KUALITAS HADIS-HADIS DALAM CHANEL YOUTUBE REMISYA OFFICIAL (Studi Kritik Sanad Hadis)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas sanad hadis-hadis yang ada di dalam channel youtube Remisya Official. Hal ini dilakukan karena dalam channel youtube tersebut penceramah tidak menyebutkan hadisnya secara utuh, hanya potongan saja dan tidak mencantumkan sanadnya dengan lengkap sehingga menimbulkan keraguan terhadap kesahihan hadisnya yang digunakan untuk menafsirkan ayat al-Qur’an.

Setelah dilakukan penelitian dari 13 hadis tersebut, bahwa terdapat 6 hadis yang berkualitas ṣaḥīḥ, yaitu terdapat di hadis ke 3, 4, 6, 10, 11 dan 12. Hadis yang berkualitas ḥasan berjumlah 4 hadis yaitu terdapat di hadis ke 2, 7, 8 dan 9. Hadis berkualitas ḍa’īf berjumlah 3 hadis yaitu terdapat di hadis ke 1, 5 dan 13.

Pada penelitian ini penulis menggunakan dua metode yaitu analisis isi (content analysis) dan penelitian kepustakaan (library research). Analisis isi (content analysis) merupakan penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi yang termuat dalam suatu media massa. Adapun kepustaaan (library research) adalah penelitian yang menfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitian

Kata Kunci: Hadis, Sanad, Remisya.

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim.

Puji Syukur kehadirat Allah Swt, Tuhan semesta Alam, yang telah memberikan karunia rahmat dan hidayah sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini, rasanya sangat sulit untuk membayangkan skripsi ini akan terselesaikan sesuai waktu yang telah penulis rencanakan tanpa adanya rahmat dan hidayah yang Engkau limpahkan. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad Saw, para ahl al- bait, para sahabatnya serta bagi kita semua sebagai umat nabi Muhammad yang selalu beliau banggakan. Selain itu penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari keterlibatan para pihak yang telah memberi kesempatan dan dorongan.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A. Selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Yusuf Rahman, M.A. Selaku Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Rifqi Muhammad Fatkhi, M.A. Selaku Ketua Program Studi Ilmu Hadis, dan Bapak Dr. Abdul Hakim Wahid, M.A. selaku Sekertaris Program Studi Ilmu Hadis, yang telah sangat banyak membantu penulis dalam menyelesaikan studinya.

4. Bapak Dr. Masykur Hakim, M.Ag. Selaku dosen pembimbing akademik sekaligus skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk mengarahkan penulis selama mengerjakan skripsi.

5. Para Guru Besar yang mengajar di tingkat Strata Satu dan para dosen Fakultas Ushuluddin yang telah memberikan pelajaran-pelajaran terbaik selama penulis menjalani studi.

(10)

ix

6. Staf dan Karyawan Fakultas Ushuluddin, segenap Staf Perpustakaan Ushuluddin yang telah mengizinkan penulis mencari referensi- referensi terbaik sejak awal perkuliahan sampai penyelesaian skripsi.

7. Kepada orang tua penulis yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata- kata bagaimana perannya untuk kehidupan penulis.

8. Seluruh guru-guru penulis yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, mulai dari yang memperkenalkan huruf alif kepada penulis sampai penulis mampu menjadi seperti sekarang.

9. Teman-teman seperjuangan penulis semasa kuliah yang juga tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Terima kasih atas obrolan dan semangatnya.

10. Seluruh pihak lain yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini namun tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini.

Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pembangunan ilmu agama, khususnya pengembangan ilmu hadis.

Jakarta, Jum’at 7 Mei 2021

Nizar Raihan Al Farisy

(11)

x DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PERNYATAAN ...ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... iii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... iv

ABSTRAK ...vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah. ... 6

D. Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

1. Tujuan Penelitian ... 7

2. Manfaat Penelitian ... 7

F. Kajian Terdahulu ... 8

G. Metode Penelitian ... 10

1. Subjek dan Objek Penelitian ... 10

2. Teknik Pengumpulan Data ... 11

H. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Metode Kritik Sanad...14

1. Definisi Sanad Hadis...15

(12)

xi

2. Kaidah Kesahihan Hadis...16

3. Al-Jarh dan Al-Ta'dil...20

B. Profile Remisya Official...32

BAB III KRITIK SANAD HADIS DAN ANALISA HADIS ... 34

A. Kritik Sanad dan Analisis Hadis ... 35

1. Hadis ke-1...36

2. Hadis ke-2...41

3. Hadis ke-3...46

4. Hadis ke-4...48

5. Hadis ke-5...51

6. Hadis ke-6...59

7. Hadis ke-7...60

8. Hadis ke-8...65

9. Hadis ke-9...72

10. Hadis ke-10...76

11. Hadis ke-11...81

12. Hadis ke-12...86

13. Hadis ke-13...88

B. Rekapitulasi Sumber Hadis ... 94

C. Akurasi Pengutipan...94

BAB IV PENUTUP ... 99

A.Simpulan ... 99

B.Saran-saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA ... 100

Lampiran 1.1 Surat Perizinan...103

Lampiran 1.2 Suart Penelitian...104

Daftar Riwayat Hidup...,,...105

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hadis merupakan sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an, setiap permasalahan yang muncul ditengah masyarakat, tentu harus menyelesaikannya dengan berpedoman kepada al-Qur’an dan hadis.1 Salah satu fungsi hadis adalah memberikan penjelasan bayyan terhadap al-Qur’an (QS. al-Nahl/16:44). Hadis sebagai mubayyin (penjelas) juga mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat penting sebagai sumber dasar Islam.

Seorang muslim tidak mungkin dapat memahami syari’at kecuali dengan kembali kepada al-Qur’an dan hadis, begitupun seorang muktahid dan orang alim tidak mungkin mengabaikan dan mencukupkan diri hanya kepada salah satu dari keduanya.

Mempelajari hadis membutuhkan berbagai disiplin ilmu untuk membantu pemahaman terhadapnya hadis sendiri terdiri dari dua unsur, yaitu sanad dan matan. Sanad adalah mata rantai perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis2, sedangkan matan adalah beberapa lafal hadis yang membentuk beberapa makna.3 Dua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena seluruh hadis yang sampai kepada umat Islam terdiri dari dua unsur tesebut, maka peranan kritik hadis terhadap dua unsur ini sangat penting dalam menentukan kualitas hadis. Untuk mendapatkan kualitas suatu hadis, perlu akan adanya penelitian hadis baik dari segi sanad dan matan,

1Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis Ulumuh wa Musthalahuh, (Beirut: Dar al- Fikr, 1981), 35

2Abdul Majid Khon, Ulumul hadis, (Jakarta: Amzah, 2012), 107

3Abdul Majid Khon, Ulumul hadis, 113

(14)

dengan tujuan untuk melihat apakah hadis tersebut dapat diterima untuk dijadikan hujjah agama atau tidak.4

Menurut Muhammad Syuhudi Ismail bahwa terdapat enam hal mengapa penelitian hadis sangat penting: pertama, hadis Nabi merupakan salah satu sumber ajaran Islam, kedua, tidak seluruh hadis Nabi tertulis pada zaman Nabi, ketiga, sepanjang sejarah peradaban Islam telah timbul berbagai pemalsuan hadis, baik itu karena faktor kepentingan ekonomi, kesukuan, atau sangat terkenal adanya faktor politik, keempat, proses penghimpunan hadis yang memakan waktu lama, kelima, jumlah kitab hadis banyak dengan metode penyusunan yang beragam, keenam, hal yang menyebabkan kegiatan penelitian hadis begitu penting yaitu telah terjadi periwayatan hadis secara makna.5

Keotentikan hadis di masa Nabi. sangat terjaga, karena di masa itu keputusan tentang keontetikan sebuah hadis berada di tangan Nabi. sendiri.

Pada tahap awal kehadirannya, kajian hadis itu dilakukan di ruang publik secara langsung, dimana Nabi. dan para sahabat beratatap muka. Sehingga para sahabat pada gilirannya menyampaikan hadis yang sudah diterimanya kepada muridnya. Dan begitulah seterusnya. Dalam kajian hadis konvensional, relasi antara teks dan author menjadi tema pokok yang mendapat porsi perhatian yang dominan. Begitu sebuah teks hadis muncul, maka para ulama hadis segera memverifikasinya, apakah sang pengarang (author) teks itu benar-benar Nabi.

atau orang lain. Bila hasil verifikasi menunjukkan bahwa teks itu benar-benar dari Nabi. mereka melebelinya dengan lebel hadis shahīh, namun bila ternyata itu bukan berasal dari Nabi, maka mereka melabelinya dengan lebel hadis dha’īf, atau bahkan maudhu’ (palsu). Bila masih meragukan, maka dilabeli

4Nawir Yuslem, ‘Ulum al-Hadis, (Jakarta: PT. Mutiara Sumber Wijaya, 2001), 75

5M Syuhudi Ismail, Metode Penelitian Hadis (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2007), 7-20

(15)

sebagai hadis ḥasan, yang bila mencapai akumulasi tertentu dapat dianggap sebagai hadis shahīh lī ghairihi.6

Terdapat perkembangan kajian hadis dalam masa kekinian, eksistensi ajaran-ajaran Nabi. bukan hanya tersimpan melalui teks-teks hadis kitab klasik, tetapi masuk disetiap lini kehidupan umat Islam. Hasil ulama mutaqaddimin dapat diakses melalui teknologi. Adapun sekarang, kajian hadis dapat meyusup dalam bentuk booklet-nooklet, rubrik-rubrik tertentu di media masa, internet, handphone, atau bahkan sosok pribadi pribadi yang dianggap sebagai reprensentasi pewaris misi Nabi.7 Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring dengan berkembangnya zaman kajian keilmuan hadis dan bahkan keilmuan yang lainnya dalam Islam semakin modern dan berkembang pesat, sehingga guru dan murid tidak harus bertatap muka lagi. Seperti halnya mempelajari hadis yang telah tersedia di media online, seperti youtube. Hingga saat ini, media online sangat disukai dan menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka, setiap saat dan setiap waktu.8

Youtube telah menjadi fenomena yang mendunia yang merupakan situs video sharing yang berfungsi sebagai sarana untuk berbagi video secara online.

Situs ini memfasilitasi penggunaannya untuk memposting video yang diakses oleh pengguna lain diseluruh dunia. Youtube merupakan database video yang paling popular di dunia internet, dan merupakan situs video yang menyediakan berbagai informasi berupa “gambar bergerak” dan bisa diandalkan.

Keuntungan lain dari media internet youtube adalah memberikan informasi secara cepat, japngkauannya yang luas dan tentunya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dimanapun dan kapanpun kita bisa mengakses internet sesuai

6Saifuddin Zuhri dan Ali Imron¸ Model-Model Penelitian Hadis Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 17

7Saifuddin Zuhri dan Ali Imron¸ Model-Model Penelitian Hadis Kontemporer, 20

8Nurkinan, “Dampak Media Online Terhadap Perkembangan Media Konvensional”, Jurnal Poilitikom Indonesia 2, no. 16 (2017), 30

(16)

kebutuhan kita. Maka banyak kalangan masyarakat yang memanfaatkan media ini. Entah sebagai pencari informasi ataupun sebagai pemberi informasi. Tidak ketinggalan juga para pendakwah yang kerap memanfaatkan media online sebagai media dakwah. Hingga saat ini aktifitas dakwah dikalangan umat muslim masih tetap berlangsung dan perhatian kepada dakwah semakin besar.

Dakwah tidak lagi dilakukan sebatas pemberian khutbah di Masjid/Mushalla, kantor-kantor, sekolah dan lembaga formal lainnya. Seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi informasi penyebaran dakwah Islamiyah tersebar melalui media teknologi, khususnya media sosial youtube.

Dengan trend digital life, sesungghnya kemudahan dari Allah Swt untuk nasyrul fikrah semakin tersebar luas.9 Sebagaimana diketahui bahwa dakwah untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah suatu keharusan bagi umat islam. Sehingga mendapatkan keridhoan Allah Swt.

Media sosial (social networking) adalah media online dengan para pengguna yang dengan mudah berpartisipasi, berbagi, menciptakan isi, meliputi blog, forum dan sebagainya. Bisa juga didefinisikan sebagai media online yang mendukung interaksi dan media sosial menggunakan teknologi berbasis web, dari gaya komunikasi menjadi dialog interaktif. Hal ini sekaligus karakter pembeda antara media tradisional dengan media sosial. Media tradisional menggunakan media cetak dan media sosial menggunakan internet.10

Dakwah melalui media apapun perlu dipersiapkan dengan perencanaan yang matang. Karena dakwah adalah suatu upaya merekontruksi masyarakat menuju masyarakat islami. Munculnya media online seperti youtube sebagai media dakwah wujud dari kemajuan teknologi menyadarkan kaum muslimin

9Asriyanti, “Pesan Dakwah Melalui Media Sosial Youtube (Analisis Semotic Film Pendek Ramadhan Halal Yayasan Darul Qur’an)”, Skripsi S1 IAIN Kendari (2017), 2-3

10Miski, “Fenomena Meme Hadis Celana Cingkrang Dalam Media Sosial”, Jurnal Multikultural da Multireligius 16, no. 16 (2017), 293

(17)

tentang betapa pentingnya media online yaitu youtube dalam usaha dakwah.

Mampu menarik banyak perhatian orang. Karenanya praktisi penggunaannya yang cepat dan terjangkau untuk semua kalangan. Mengingat demikian, banyak channel youtube yang membuat program yang bertemakan dakwah Islam dalam acaranya, dengan menghadirkan para pendakwah kondang dan masyhur. Mereka menyampaikan syari’at Islam dengan menggunakan dalil- dalil al-Qur’an maupun hadis.

Remisya adalah organisasi remaja dan pemuda Islam yang berada dibawah naungan masjid raya Bintaro jaya. Remisya ini memiliki channel youtube yang bernama Remisya Offcial. Account youtube yang diluncurkan guna merespon wacana keislaman yang berkembang ditengah masyarakat, khususnya media sosial. Dalam menganalisis sebuah permasalahan, channel youtube ini selalu menyertakan ayat al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama. Di samping itu, pada kajian di youtube ini memiliki penjelasan yang cukup memadai serta data yang update sehingga menurut peneliti channel youtube ini cukup mumpuni sebagai objek kajian penelitian karya ilmiah dalam bidang hadis khususnya.

Melalui penelitian ini, peneliti berusaha menggali informasi mengenai penggunaan hadis di internet, fokuskan kajian pada channel youtube Remisya.

Dalam hal ini, peneliti berupaya menelusuri hadis-hadis yang digunakan penceramah dalam menyampaikan isi ceramahnya, sehingga hal ini perlu dikaji lebih lanjut agar dapat diketahui kualitas dari hadis-hadis yang di sampaikan penceramah. Apakah hadis yang disampaikan berkualitas shahih, hasan, atau dha’if.

Berdasarkan paparan di atas, maka penulis akan menganalisis hadis- hadis yang digunakan oleh para penceramah dalam channel youtube Remisya Official dan akan dituangkan dalam bentuk karya ilmiah yang berjudul:

“KUALITAS HADIS-HADIS DALAM CHANEL YOUTUBE REMISYA OFFICIAL (Studi Kritik Sanad Hadis)”.

(18)

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

a. Hadis merupakan sumber ajaran islam yang kedua setelah al-Qur’an, dilihat dari segi periwayatannya ternyata tidak semua hadis diriwayatkan secara mutawwatir. Oleh karena itu penelitian yang mendalam terhadap kualitas hadis merupakan sesuatu yang urgent dalam upaya menemukan hujjah yang kuat.

b. Banyaknya hadis-hadis dha’if dan palsu yang beredar di masyarakat dan menjadi permasalahan bagi para ahli hadis. Hadis-hadis itu ada kalanya kondang di maysrakat, bahkan menjadi dasar amalan ibadah mereka, yang dikhawatirkan setelah diteliti hadisnya itu ternyata palsu.

c. Kurangnya pengetahuan yang mendalam dalam ilmu hadis, sehingga tidak memperhatikan lagi kualitas hadis-hadis yang disampikannya, apakah hadis itu benar-benar berasal dari Nabi. atau tidak.

d. Tidak akuratnya hadis-hadis yang disampaikan para penceramah dalam menyampaikan ceramahnya. Atau tidak sesuai dengan teks hadis di kitab aslinya.

C. Pembatasan Masalah

Objek media yang penulis gunakan yaitu youtube.11 Dan untuk menghindari pembahasan yang tidak fokus dan melebar dalam skripsi ini, peneliti mengkritik hadis-hadisnya hanya pada rentan waktu satu bulan12 dan membatasi permasalah tersebut hanya pada poin c, dan d yaitu mengetahui kualitas sanad dan akurasi hadis-hadis yang disampaikan penceramah di dalam

11Alasan penulis memilih youtube sebagai objek penelitian karena youtube menjadi salah satu kebutuhan untuk mendapatkan Pendidikan, hiburan dan lain-lain. ketika masyarakat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mendatangi masjid maka masyarakat menggunakan media youtube untuk mendapatkan siraman rohani.

12alasan penulis hanya mengambil pada bulan Januari menarik, karena sesuai dengan fenomena yang sedang viral pada saat itu.

(19)

channel youtube Remisya official. Selain itu, hadis yang diteliti hanya yang bersumber dari al-Kutub al-Tis’ah selain Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Muslim.

Dalam kegiatan penelitian ini, jika redaksi hadis yang paling mirip dengan penceramah terdapat di dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Muslim, maka penulis hanya menampilkan redaksi dan tempat hadis itu dikutip.

D. Rumusan Masalah

Adapun penelitian ini memiliki perumusan masalah yaitu: Bagaimana kualitas sanad hadis-hadis yang disampaikan penceramah dalam channel youtube Remisya official?13

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Dengan mengangkat topik ini, maka diharapkan setiap individu atau seseorang dapat mengetahui kualitas suatu hadis yang merupakan sumber hukum Islam. Selain itu, penulis mempunyai beberapa tujuan lain, yaitu:

a. Untuk mengetahui hadis-hadis apa saja yang disampaikan oleh penceramah dalam chanel youtube Remisya official.

b. Untuk mengetahui kualitas hadis-hadis yang disampaikan penceramah pada program acara “kuyngaji” dalam channel youtube Remisya Official.

c. Untuk mengetahui seberapa akurat hadis-hadis yang disampaikan penceramah dengan teks asli di kitab hadis.

d. Agar masyarakat mengetahui bagaimana suatu hadis sampai kepada sumber-sumbernya yang orisinil.

13Kajian di dalam channel youtube Remisya Official memiiiki perbedaan dengan program kajian channel lain, jika di channel youtube Remisya Official mendatangkan para penceramah yang berbeda dari setiap minggunya, tema yang diangkat sesuai dengan masalah yang sedang viral dan kajian ini banyak dihadiri oleh artis-artis hijrah sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menghadiri kajian tersebut.

(20)

e. Untuk memenuhi tugas akhir perkuliahan dalam mencapai gelar Sarjana Agama Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushukuddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Manfaat Penelitian

Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

a. Memberikan sumbangsih pemikiran ilmiah dalam kajian keislaman terutama dalam hubungannya dengan hadis.

b. Menjaga keontentikan hadis, agar tidak disalahpahami oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab.

c. Menyemarakkan kajian hadis di Indonesia.

d. Hadis-hadis yang kualitasnya sudah diketahui ini dapat digunakan oleh masyarakat luas.

e. Memberikan informasi kepada masyarakat.14 F. Kajian Terdahulu

Setelah membaca kumpulan skripsi, tesis, dan disertasi serta buku-buku yang ada penulis menelusuri kajian-kajian yang pernah dilakukan orang atau memiliki unsur kesamaan. Berdasarkan hasil pengamatan telah ditemukan beberapa penelitian terdahulu, yaitu:

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2017, karya Awaludin Ramadhan Sujada yang berjudul “ Salat Sunnah Seperti Wudhu: Studi kritik Sanad Dan Matan Hadis Dalam kitab Ihya’ Al-‘Ulum Al-Din” yang berumusan masalah bagaimana kualitas sanad dan matan hadis mengenai salat setelah wudu di dalam Ihya’ al-

‘Ulum al-Din. Metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, karya Ceceng Kholilullah yang berjudul

14Karena tidak semua hadis yang disampaikan oleh penceramah berkualitas ṣaḥīḥ, ḥasan adapula yang kualitasnya ḍa’īf.

(21)

“Studi Kritik Sanad Hadis Fatwa MUI Tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan” yang berumuskan masalah bagaimana kualitas sanad dan hadis- hadis dalam fatwa MUI tentang lesbian, gay, sodomi dan pencabulan. Metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, Karya Muhammad Lutfi yang berjudul

“Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis Libas Al-Syuhrah”. Skripsi ini memiliki rumusan masalah yaitu bagaimana kajjian sanad hadis ini, apakah dapat dipertanggung-jawabkan sebagai landasan hukum yang sah secara akademisi.

Metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research).

Skripsi S1 IAIN Salatiga Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Jurusan Ilmu Hadis tahun 2019, karya Helfiani yang berjudul “Hadist-Hadist Kontradiksi Tentang Berjabat Tangan Dengan Berlawanan Jenis Yang Bukan Mahramnya: Studi Kritik Sanad Dan Matan” yang berumuskan masalah bagaimamna kritik sanad dan matan hadist-hadist yang berkaitan dengan berjabat tangan dengan lawan jenis yang buan mahramnya, metode yang digunakan adalah kepustakaan (library research). Tenik dan analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif.

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2019, karya Muhammad Abdul Qadir zaelani yang berjudul “Studi kritik Hadis Man Qala fi kitab Allah Bi Al-ra’yihi Dalam Buku Haji Pengabdi Setan karya Prof. kH. Ali Mustofa Ya’qub” yang berumusan masalah bagaimamnaah kedudukan sanad 2 hadis yang melarang menafsiran al-Qur’an bi al-Ra’ dalam buku Haji Pengabdi Setan, metode yang digunakan adalah kepustaaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, karya M Reza Syaokani yang berjudul

“Kritik Hadis-Hadis yang Disampaikan Oleh Para Khatib Semarang”

(22)

berumuskan masalah bagaimana kualitas hadis-hadis yang disampaikan oleh para khatib di 3 masjid Jami’ Semarang, Jawa Tengah, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik dan analisis data adalah deskriptif analisis.

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2017, karya Sartika yang berjudul “Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis Tentang Ancaman Allah Bagi Penghina Pemimpin” berumuskan masalah bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang ancaman Allah bagi penghina pemimpin yang diriwayatkan oleh al- Tirmidzi, Ahmad bin Hanbal, metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research).

Skripsi S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir tahun 2018, karya Uswatun Hasanah yang berjudul

“Studi Kritik Sanad dan Matan Tentang Hadis Dusta Untuk Membuat Orang Tertawa” berumuskan masalah bagaimana kualitas sanad dan matan tentang ancaman orang berdusta hanya untuk membuat orang tertawa, metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Tehnik dan analisis data adalah deskriptif analisis.

Mencermati karya-karya di atas, tidak terlihat adanya duplikasi, meski terdapat kesepadanan makna, istilah, hadis, bahkan kesamaan literatur yang dikaji, tetapi objek yang dikaji sangat berbeda jauh. Selanjutnya hasil penelusuran tersebut menjadi acuan penulis untuk tidak mengangkat persoalan yang sama, sehingga kajian ini tidak dianggap sebagai hasil plagiasi dari kajian sebelumnya.

G. Metode Penelitian

1. Subjek dan Objek Penelitian

(23)

Terdapat sumber data yang dijadikan subjek penelitian yaitu sumber primer15 dan sumber sekunder.16

Penelitian ini meggunakan penelitian kepustakaan (library research).

Adapun kepustaaan (library research) adalah penelitian yang menfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitian17 yaitu dengan merujuk pada kitab-kitab Rijāl-al-Ḥadīth, kitab-kitab Takhrīj al-Ḥadīth, kitab- kitab hadis serta data pendukung berupa jurnal ilmiah, buku-buku yang berkaitan dengan skripsi ini.

Adapun Sumber data penelitian ini adalah hadis-hadis yang disampaikan oleh penceramah dalam channel youtube Remisya official, pada bulan Januari tahun 2020.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan peneliti, pada penggunaan hadis di channel youtube Remisya official ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data secara (pengamatan) dari video-video yang terdapat dalam channel youtube Remisya official tersebut.

Penelitian skripsi ini menggunakan metode deskriptif-analitis, yaitu dengan mendeskripsikan data yang ada, kemudian data tersebut dianalisis dengan men-takhrij18 hadis-hadisnya.

Untuk men-takhrij, penulis menggunakan pencarian indeks kata, yaitu mencari kata-kata yang menjadi kata kunci dalam indeks hadis, yang dimaksud dengan kata kunci hadis adalah kata yang terdapat dalam matan hadis baik fi’li

15Sumber primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Lihat: Sandu Siyoto, Dasar Metodologi Penelitian, (Sleman:

Literasi Media Publishing, 2015), 67

16Sumber sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Lihat: Sandu Siyoto, Dasar Metodologi Penelitian, 68

17Mestika Zed, Metodologi Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), 21

18Takhrij adalah pertunjukkan terhadap tempat di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan martabatnya sesuai dengan keperluan. Lihat: Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis, (Bandung: Kelompok Humaniora-Anggota Ikapi Berkhidmat untuk Umat, 2014), 134

(24)

maupun isim. Metode ini menggunakan kitab Mu’jam Mufahrās li-Alfāẓ al- Ḥadīth al-Nabawī.19 Setelah itu penulis merujuk kepada kitab-kitab asli yang disebut dengan al-Kutub al-Tis’ah.

Kemudian penulis mengkritik sanad hadis yang terdapat di dalam al-Kutub al-Tis’ah saja selain Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim dengan menelusuri data setiap periwayat, menilai keadaannya, dan menelusuri guru dan muridnya.

Dalam menentukan kualitas sanad hadis, apabila hadis yang diteliti diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim yang terdapat dalam kitab Ṣaḥīḥ- nya maka tidak perlu dikaji ulang karena sudah dianggap ṣaḥīḥ.20

H. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah penulisan sekaligus menyajikan gambaran yang jelas mengenai sistematika penulisan yang terdapat di dalam skripsi ini, maka pada bagian ini penulis membagi pembahasannya ke dalam beberapa bagian ataupun yang penjelasannya adalah sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan, yang mengungkapkan hal-hal yang melandasi penelitian. Hal-hal tersebut terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan serta manfaat penelitian, kajian pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

19Di antara kitab yang terkenal dalam metode takhrij melalui kata-kata yang terdapat dalam matan hadis adalah Mu’jam Mufahras li-Alfāẓ al-Ḥadīth al-Nabawīyang disusun oleh beberapa orientalis. Proses penyusunan dan penerbitan kitab ini dilasanakan oleh A.J.

Weinsinck, seorang orientalis dan guru besar bahasa Arab di Universitas Leiden. Kemudian bergabung dengannya beberapa orientalis lain dengan disertai Muhammad Fuad Abd al-Baqy.

Lihat: Ahmad Izzan, Studi Tahrij Hadis (Kajian Tentang Metodologi Tahrij dan Kegiatan Penelitian Hadis), (Bandung: Kelompok Humaniora-Anggota Ikapi berkhidmat untuk umat, 2012), 12. Dengan demikian, Penelusuran hadis dengan menggunakan kitab Mu’jam Mufahras li-Alfāẓ al-Ḥadīth al-Nabawī merupakan metode yang sangat cocok dalam melakukan penelitian ini, karena hadis-hadis yang disampaikan para penceramah tidak semuanya lengkap, bahkan hanya potongan. Maka dengan demikian, untuk mengambil jalan tengahnya, maka penulis mendahulukan menggunakan kitab ini.

20Kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Muslim merupakan kitab hadis yang paling sahih bahkan kebenarannya paling benar setelah al-Qur’an. Lihat: Algifri Muqsit Jabar, membahas Kitab Hadis (Kitab Ṣaḥīḥ Bukharī dan Sunan al-Tirmīdhī), (Skripsi S1 UIN Syarif hidayatullah Jakarta, 2017), 1

(25)

Bab kedua penulis mencoba membahas kajian teori metode kritik hadis dan gambaran umum tentang Remisya official.

Bab ketiga berisi tentang analisis atau kritik hadis-hadis yang disamapikan penceramah dalam channel youtube Remisya offical, yang mana dala kajian ini mencakup dalam tiga hal, yaitu: pertama, takhrij hadis, kedua, akurasi pengutipan, ketiga, rekapitulasi hadis-hadis yang di sampaikan penceramah.

Bab keempat adalah penutup. Yaitu merinci sejumlah simpulan dari keseluruhan skripsi ini, terkait kualitas hadis-hadis di dalam channel youtube Remisya official.

(26)

14 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Metode Kritik Sanad

Kedudukan sanad sangat penting dalam Islam. Sanad merupakan keistimewaan yang hanya diberikan kepada umat Islam. Seorang Muslim harus bersandar pada sanad dalam menerima sebuah pernyataan yang diriwayatkan sebagai hadis atau khabar. Para ulama memberikan berbagai komentar tentang pentingnya sanad, antara lain sebagai berikut.

a. Muḥammad b. Sirrin (w. 110 H728 M) berkata:

مكنيد نوذختأ نّمع اورظنﺎف نيد ملعلا اذه نإ

“Sesungguhnya ilmu itu (hadis) adalah agama, perhatikanlah dari siapa kamu memngambil agama itu”

b. Muḥammad b. al-Mubārak (w. 181 H/797 M) berkata:

ءﺎش ﺎم ءﺎش نم لﺎقل دﺎنسلإا لاولو نيدلا نم دﺎنسلإا

“Sanad itu bagian dari agama, jika tidak ada sanad maka siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya”

c. Al-Zuhri berkata:

هجردب لاإ حطسلا ىقري نأ هلصيلا

“Tidak layak naik ke loteng/atap rumah kecuali dengan tangga”

Maksud tangga adalah sanad. Jadi, seseorang tidak mungkin sampai kepada Rasulullah dalam periwayatan hadis, melainkan harus melalui sanad.1

1Abdul Majid Khon, ulumul Hadis (Jakarta: Amzah, 2012), 10

(27)

Pernyataan di atas memberikan petunjuk bahwa apabila sanad suatu hadis benar-benar dapat dipertanggung jawabkan ke-ṣaḥīḥ-an-nya, maka hadis ini pada umumnya berkualitas shahih dan tidak ada alasan untuk menolaknya.2 1) Definisi Sanad

Secara etimologi, sanad adalah

دمتعلما

yang artinya sesuatu yang dijadikan sandaran, pegangan dan pedoman.

Adapun sanad menurut terminologi adalah

تلما لىإ ةلصولما لﺎجرلا ةلسلس

yang

artinya mata rantai perawi hadis yang menghubungkan sampai kepada matan hadis.3

2) Kaidah keshahihan Hadis a. Sanad yang bersambung

Sanad yang bersambung adalah setiap periwayat dalam meriwayatkan hadis betul-betul mengambil secara lansung hadis mulai dari awal sanad hingga akhirnya.4 Untuk mengetahui bersambung tidanya suatu sanad hadis, maa jalan yang ditempuh adalah:

1. Mencatat semua periwayat dalam sanad yang diteliti.

2. Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat.

3. Meneliti kata-kata yang dipakai sebagai penghubung.5

Ibnu al-Ṣalah (w. 643 H) menjelaskan bahwa muttaṣil adalah setiap perawi mendengar hadis dari orang yang meriwayatkannya, begitu seterusnya hingga akhir sanad, baik hadis itu marfū’ dengan menyandarkannya kepada Rasulullah Saw. atau mauquf yaitu, menyandarkannya kepada sahabat.

Adapun contoh periwayatan mauquf seperti hadis yng diriwayatkan oleh Mālik

2Abdul Majid Khon, ulumul Hadis, 109

3Mahmud al-Tahhan, Taysīr Muṣṭalah al-Ḥadīth, (Beirut: Dār al-Fikr, tt), 16

4Mahmud al-Tahhan, Taysīr Muṣṭalah al-Ḥadīth, 56

5M. syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadis. Telaah ktitis dan Tinjauan dengan Pendektan Ilmu Sejarah (cet. II, Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 112

(28)

dari Ibn ‘Umar dari ‘Umar r.a periwayatan ini masih terhitung muttaṣil. Al-

‘Iraqi (w. 806 H) menjelaskan jika perkataan berasal dari tabi’in, sekalipun sanadnya bersambung tida disebut muttaṣil tapi maqtū’, yaitu periwayatan yang disandarkan kepada tabi’in, namun jika ada tabi’in yang menghubungkannya dengan mengatakan: sanad ini bersambung kepada Sa’īd Ibn al-Musayyab atau sanad ini bersambung kepada Mālik, hadis tersebut dapat dihukumkan muttaṣil.6

Untuk meneliti kebersambungan sanad, 2 hal penting yang harus diperhatikan adalah: pertama, biografi masing-masing perawi. Kedua, turuq al-tahammul wa siyagh al-ada’ yaitu lafal-lafal periwayatan yang digunakan oleh para perawi hadis dalam meriwayatkan hadis.7

Turuq al-Tahammul adalah metode periwayatan yang diambil dan diterima oleh para perawi hadis gurunya. Siyagh al-Ada’ adalah lafal-lafal periwayatan yang digunaan oleh perawi hadis dalam meriwayatkan hadis.

Berikut turuq al-tahammul dan lafal-lafal al-ada’ terdapat 8 tingkatan.

a) Al-Sama’, yaitu bacaan guru untuk murid-muridnya. Metode ini berwujud dalam 4 bentuk, yakni bacaan secara lisan, bacaan dari buku, tanyajawab dan mendiktekan.

b) ‘Arḍ, yaitu bacaan oleh para murid kepada guru. Dalam hal ini para murid atau seseorang tertentu yang disebut Qāri’, membacakan hadis di hadapan gurunya dan selanjutnya yang lain mendengarkan serta membandingkan dengan catatan mereka atau menyalin dari catatan tersebut.

6Muhammad Ansari, Takhrij Hadis-Hadis Tentang Wudu Pada Kitab Fath al-Mu’in Karya Zain ad-Din ‘Abd al-Aziz al-Malibari”, Medan: Tesis IAIN Sumatra Utara (2013), Tesis, 22-23

7Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, 6

(29)

c) Ijazah, yaitu memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan sebuah hadis atau buku yang bersumber darinya, tanpa terlebih dahulu hadis atau buku tersebut dibaca dihadapannya.

d) Munawalah, yaitu memberikan kepada seseorang sejumlah hadis tertulis untuk diriwayatkan atau disebarluaskan, seperti yang dilaukan oleh al-Zuhrī kepada al-Thaurī, al-‘Auzā’ī dan lainnya.

e) Kitābah, yaitu menuliskan hadis untuk seseorang yang selanjutnya untuk diriwayatkan kepada orang lain.

f) I’lām, yaitu memberitahu seseorang tentang kebolehan untuk meriwayatkan hadis dari buku tertentu berdasarkan atas otoritas ulama tertentu.

g) Waṣiyyah, yaitu seseorang mewasiatkan sebuah buku atau catatan tentang hadis kepada orang lain yang dipercayainya dan dibolehkannya meriwayatkannya kepada orang lain.

h) Wajadah, yaitu mendapatkan buku atau catatan seseorang tentang hadis tanpa mendapatkan izin dari yang bersangkutan untuk meriwayatkan hadis tersebut kepada orang lain, dan cara seperti ini tidak dipandang oleh para ulama hadis sebagai cara untuk menerima atau mempelajari hadis.8

b. Diriwayatkan oleh perawi yang adil

Definisi perawi adil adalah

بﺎبسأ نم ﺎميلس لاقﺎع ﺎغلبا ﺎملسم يوارلا نوكي نأ

ةءرلما مراوخ نم ﺎميلس قسفلا

“seorang periwayat Muslim, baligh, berakal,

memelihara diri dari sifat yang menjerumuskannya kepada kefasikan dan senantiasa menjaga muru’ah atau moral.9

8Nawir Yuslem, Metodologi Penelitian Hadis, Teori dan Implementasinya dalam Penelitian Hadis, (Bandung: Cita Pustaka, 2008), 157-158

9Mahmud al-Tahhan, Taysīr Muṣṭalah al-Ḥadīth, 121

(30)

Kriteria dari seseorang yang dihukumi adil adalah:

a) Beragama Islam.

b) Mukallaf, yakni baligh dan berakal sehat.

c) Melasanakan ketentuan agama, yaitu tidak berbuat dosa besar, bid’ah, maksiat, dan harus berakhla mulia.

d) Memelihara muru’ah, yakni kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegaknya kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaan. Hal itu dapat diketahu melalui adat istiadat yang berlaku dimasing-masing tempat.10

Secara umum ulama telah mengemukakan cara penetapan keadilan periwayat hadis yaitu berdasarkan:

a) Popularitas keutamaan peroiwayat dikalangan ulama hadis, periwayat yang terkenal keutamaan pribadinya, misalnya Mālik b. Anas dan Sufyān al-Thaurī, tidak lagi diragukan keadilannya.

b) Penilaian dari para kritikus periwayat hadis, penilaian ini pengungkapan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri periwayat hadis.

c) Penerapan kaidah jarḥ wa ta’dīl, cara ini ditempuh bila para kritikus periwayat hadis tida sepakat tentang kualitas pribadi periwayat tertentu.11

c. Periwayat bersifat Ḍābiṭ

Secara etimologi, ḍābiṭ berarti kokoh, kuat dan tepat, mempuanyai hafalan yang kuat dan sempurna. Sedangkan menurut muḥaddithīn, ḍābiṭ adalah sikap penuh kesadaran dan tidal alai, kuat hafalannya bila hadis yang diriwayatkannya berdasarkan hafalan, benar tulisannya manakala hadis yang

10Suryadi dan Muhammad A suryadilaga, Metodolgi Penelitian Hadis, (Yogyakarta: teras, 2009), 103-104

11M. Syuhudi Ismail, Metode Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 41- 42

(31)

diriwayatkan berdasarkan tulisan , dan jika meriwayatkan secara makna, maka pintar memillih kata-kata yang tepat digunakan.

Adapun kaidah minornya sebagai berikut:

a) Periwayat ini memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya.

b) Periwayat hafal dengan baik riwayat yang diterimanya.

c) Mampu menyampaikan riwayat yang diterima dengan baik kepada orang lain kapan saja diperlukan.12

d. Terhindar dari kejanggalan (shādh)

Menurut bahasa kata shādh dapat berarti; jarang, yanag menyendiri, yang asing, yang menyalahi aturan dan yang menyalahi orang banyak. Maḥmūd Ṭahān dalam kitab Taysīr Muṣṭalāh al-Ḥadīth menyebutkan:

هنم قثوأ وه نلم ةقثلا ةفلﺎمخ وه ذوذشلا

“Shudhūdh ialah berbeda dengan hadis yang thiqah atau berbeda dengan yang lebih thiqah”

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi terjadinya shādh dalam suatu sanad, namun acuan umum yang dapat dilaukan bertitik tolak dari rumusan Imām al-Shāfi’ī yang menjelaskan bahwa: “apabila suatu hadis diriwayatkan oleh seorang perawi yang thiqah sedangkan perawi thiqah yang lain tidak ikut meriwayatkan hadis tersebut. Suatu hadis dapat dinyatakan sebagai shādh, apabila hadis yang diriwayatkan seorang perawi yang thiqah bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang juga thiqah.13 Sanad hadis yang terhindar dari shādh disebut juga dengan sanad mahfūdh.14

12Nasir Akib, “Keshahihan Sanad dan Matan Hadis: Kajian Ilmu-Ilmu Sosial”, Jurnal Shautut Tarbiyah 21, no. XIV (2008), 107-108

13Ibnu Shalah, Muqaddimah Ibnu Shalah (Madinah: Maktabah al-‘Ilmiyah, 1972), 48

14 Zubaidah, Metode Kritik Sanad Dan Matan Hadith, jurnal komunikasi dan Pendidikan Islam, vol 4, no. 1 (2015), 45

(32)

e. Tidak ada ‘illat yang mencacatkannya

Menurut Ibnu al-Ṣalah, ‘illat dimaksudkan sebagai sebab yang tersembunyi dan dapat merusa kualitas suatu hadis. Kebenaran dan munculnya

‘illat dapat menyebabkan turunnya nilai suatu hadis (tidak ṣaḥīḥ). Atas dasar itu, maka seorang kritikus dapat memngetahui ‘illat dengan memperhatikan beberapa kategori berikut ini.

1) sanad yang tampak muttaṣil dan marfū’, ternyata setelah diselidiki muttaṣil dan mauquf.

2) sanad yang tampa muttaṣil dan marfū’, ternyata setelah diselidiki muttaṣil dan mursal.

3) terjadi pencampuran sebuah hadis dengan hadis yang lainnya.

4) terdapat kesalahan ketika menyebutkan peraw, karena terdapat adanya perawi-perawi yang mempunyai kemiripan nama, sedangkan kualitasnya berbeda dan tida semuanya thiqah.

Ketika menilai adanya cacat dalam sebuah hadis dengan berpatokan kepada kriteria terahir ini (‘illat), maa diperlukan bantuan kecerdasan, intuisi, hafalan hadis dalam jumlah banyak, pendalaman pengetahuan tentang tingkat ḍābiṭ perawi serta mempunyai keilmuan dalam kajian sanad dan matan hadis.15 3) Al-Jarḥ dan Al-Ta’dīl

1. Pengertian Al-Jarḥ dan Al-Ta’dīl

Secara bahasa lafadz al-Jarh adalah masdar dari kata kerja,

– حريج - حرج حرج

yang berarti “melukai” (mencela dan meremehkan),16 selanjutnya dikatakan bahwa al-jarḥ mempunyai arti “mengaibkan” seseorang yang oleh

15Taufiqurrahman, Kritik Hadis Dalam Kawasan Kajian Sejarah, Jurnal Ulunnuha 8, no.

1 (2019), 93-94

16Lous Ma’luf, Al-Munjid Fī Al-Lughah Wa A’lim, (Beirut: Dār Al-Misyriq, 1979), 86

(33)

karenanya ia menjadi kurang. Disamping itu juga mempunyai arti menolak seperti dalam bentuk kalimat

دهﺎشلا مكﺎلحا حرج

“hakim itu menolak saksi”.

Menurut istilah, al-Jarh adalah terlihatnya sifat seorang perawi yang dapat menjatuhkan ke ‘adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur riwayatnya, atau melemahkannya hingga kemudian ditolak.17

Menurut istilah ilmu hadis, kata al-Jarḥ berarti menyifati seorang periwayat dengan sifat yang dapat membuat riwayatnya menjadi tidak kuat

ينل

atau

menjadi lemah

فعض

atau bahkan menjadikan riwayatnya tertolak

دودرم .

18

Adapun periwayat yang terkena sifat

دودرم

atau tertlak riwayatnya, maka dihukumi

ادج فعض

atau sangat lemah sehingga dia tidak dapat menguatkan periwayat dan juga tidak menjadi kuat dengan adanya dukungan dari yang lain.19

Menurut muhaddisin al-Jarḥ diartikan sebagai sifat seorang perawi yang dapat mencacatkan keadilan dan kedhabitannya, menjarah seorang perawi berarti mensifati seorang perawi dengan sifat-sifat yang dapat menyebabkan kelemahan atau tertolaknya apa yang diriwayatkannya.20

Kata al-Ta’dīl menurut bahasa berasal dari kata

ليدعت – لدعب – لدع

yang

berarti bersih, lurus tidak berlaku curang. Sedangkan menurut istilah al-Ta’dīl

17Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005) Terj. Mifdhol Abdurrahman, 82

18Abd al-‘Azīz ibn Muḥammad ibn Ibrahīm al-‘Abd al-Laṭīf, Dawābit al-Jarḥ wa al- Ta’dīl, (Al-Mamlakah al-Su’ūdiyah al-Arabiyyah, 1412 H), 10

19Abd al-‘Azīz ibn Muḥammad ibn Ibrahīm al-‘Abd al-Laṭīf, Dawābit al-Jarḥ wa al- Ta’dīl, 10-11

20Fathurrahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung: al-Ma’arif, 1991), 268

(34)

yaitu pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang mensucikannya, sehingga nampak ke ‘adalahannya, dan diterima beritanya.21 Adapun menurut Hasbi al-Shidieqi “At-ta’dil adalah mengakui keadilan seseorang, kedhabitan dan kepercayaannya.”22

Dengan demikian berdasarkan hal pengertian diatas bahwa Jarh wa Ta’dil adalah ilmu yang membicarakan hal ihwal (keadaan) para periwayatnya dari segi diterima atau ditolaknya riwayat mereka dalam meriwayatkan hadis.23 Adapun dalam kesimpulan lain Jarh wa Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihapakan kepada perawi dan tentang penta’dilannya (memandang lurus perangai para perawi) dengan memaki kata-kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.24

Ilmu al-jarḥ wa al-ta’dīl sangat berguna untuk menentukan kualitas perawi dan nilai hadisnya. Membahas sanad terlebih dahulu harus mempelajari kaidah-kaidah ilmu al-jarḥ wa al-ta’dīl yang telah banyak dipakai para ahli, mengetahui syarat-syarat perawi yang dapat diterima, cara menetapkan keadilan dan kedhabitan perawi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasan ini. Seseorang tidak akan dapat memperoleh biografi, jika mereka tidak terlebih dahulu mengetahui kaidah-kaidah jarḥ dan ta’dīl, maksud dan derajat (tingkatan) istilah yang dipergunakan dalam ilmu ini, dari tingkatan ta’dīl yang tertinggi sampai pada tingkatan jarḥ yang paling rendah.25

Adapun informasi jarḥ dan ta’dīl seorang rawi bisa diketahui melalui dua jalan, yaitu:

21Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Terj. Mifdhol Abdurrahman, 82

22Hasbi al-Shiddieqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang: 1981), 206

23Ramli Abdul Wahid, Studi Ilmu Hadis, (Bandung: Ciptapustaka Media Perintis, 2011), 147

24Manna al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, 82-83

25Mahmud at-Thahan, terj. Ridwan Nasir, Metode Takhrij dan Penelitian Sanad Hadis, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1995), 100

(35)

a. Popularitas para perawi di kalangan para ahli ilmu bahwa mereka dikenal sebagai orang yang adil, atau rawi yang mempunyai ‘aib. Bagi yang sudah terkenal dikalangan ahli ilmu tentang keadilannya, maka mereka tidak perlu lagi diperbincankan keadilannya, begitu juga dengan perawi yang terkenal dengan kefasikan atau dustanya maka tidak perlu lagi dipersoalkan.

b. Berdasrkan pujian atau pen-tarjih-an dari rawi yang adil. Bila seorang rawi yang adil menta’dilkan seorang rawi yang lain yang belum dikenal keadilannya, maka telah dianggap cukup dari rawi ersebut bisa menyandang gelar adil dan periwayatnnya bisa diterima. Begitu juga dengan rawi yang di tarjih. Bila seorang rawi yang mentarjihnya maka periwayatannya menajdi tidak bisa diterima.26

Sementara orang yang melakukan ta’dīl dan tarjih harus memenuhi syarat sebagai berikut: berilmu pengetahuan, taqwa, wara’, menjauhi sifat fanatik terhadap golongan dan mengetahui ruang lingkup ilmu jarḥ dan ta’dīl ini.

2. Tingkatan Lafadz Ta’dīl

Dalam menentukan kapasitas potensi dan kualitas rawi dengan jarḥ dan ta’dīl banyak lafadz-lafadz yang dipergunakan oleh para kritikus. Lafadz- lafadz tersebut mengandung pengertian khusus dan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi rawi dalam penilaian kritikus. Suhudi Isma’il dalam bukunya yang berjudul Kaidah Kesahihan Sanad Hadis27 menjelaskan tingkatan- tingkatan lafadz ta’dīl menurut pembagian yang dilakukan para ulama, dalam hal ini penulis mengambil pembagian lafadz-lafadz ta’dīl menurut Ibn Abi Hatim al-Razi, Ibn Shalah, dan Ibn Hajar al-Asqalani.

❖ Ibn Abi Hatim al-Razi

1. Ta’dil tingkatan pertama, mempergunakan lafadz-lafadz:

26Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), 33

27Suhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1991), 198

(36)

Orang yang tsiqah

ةقث

Orang yang teliti

نقتم

Orang yang kokoh ingatannya

تبث ّ

Orang yang menjadi hujah

جتيح

2. Ta’dil tingkatan kedua, mempergunakan lafadz-lafadz:

Orang yang jujur

قودص

Orang yang dipandang jujur

قدصلا هلمح

Tidak ada cacat padanya

هب سبألا

3. Ta’dil tingkatan ketiga, mempergunakan lafadz-lafadz:

Seorang Syekh

خيش

4. Ta’dil tingkatan keempat, mempergunakan lafadz-lafadz:

Orang yang Shalih hadisnya

ثيدلحا لحﺎص

❖ Ibn Shalah

1. Ta’dil tingkatan pertama, menggunakan lafadz:

Orang yang tsiqah

ةقث

Orang yang teliti

نقتم

Orang yang kokoh ingatannya

تبث

Orang yang menjadi hujjah

ةجح

(37)

Orang yang hafalّّ

ظفﺎح

Orang yang kuat hafalannya

ةبﺎض

2. Ta’dil tingkatan kedua, menggunakan lafadz:

Orang yang jujur

قودص

Orang yang dipandang jujur

قدصلا هلمح

Tidak ada cacat padanya

هب سبألا

3. Ta’dil tingkatan ketiga, menggunakan lafadz:

4. Ta’dil tingkatan keempat menggunakan lafadz:

Seorang Syekh

خيش

5. Ta’dil tingkatan kelima, menggunakan lafadz:

Orang yang Shalih hadisnya

ثيدلحا لحﺎص

❖ Ibn Hajar al-Asqalani

1. Ta’dil tingkatan pertama, menggunakan lafadz:

Se-tsiqah-tsiqahnya orang

سﺎنلا قثوأ

Sekokoh-kokohnya orang

سﺎنلا تبثأ

Pada puncak ketsiqahan

ةقثلا في ىهتنلما هيلا

Pada puncak kekokohan

تبثلا في ىهتنلما هيلا

Tidak ada seseorangpun yang lebih kokoh darinyaّّ

)هنم( تبثالا

Siapakah orang yang seperti fulan

نلاف لثم نم

(38)

Fulan ditanya keadaanya

هنع لأسي نلاف

2. Ta’dil tingkatan kedua, menggunakan lafadz:

Orang yang sangat tsiqah

ةثت ةقث

Orang yang sangat kokoh ingatannya

تبث تبث

ّ Orang yang sangat bisa menjadi hujjah

ةجح ةجح

Orang yang sangat kokoh ingatannya

ّ

yang tsiqah

ةثت تبث ّ

Orang yang hafal yang menjadi hujjah

ّ هجح ظفﺎح

Orang yang tsiqah yang dipercaya

نومأم ةقث

3. Ta’dil tingkatan ketiga:

Orang yang tsiqah

ةقث

Orang yang kokoh ingatannya

تبث ّ

Orang yang menjadi hujah

جتيح

Orang yang hafal

ظفﺎح

Orang yang kuat hafalannya

ةبﺎض

4. Ta’dil tingkatan keempat:

Orang yang jujur

قودص

Orang yang dipercaya

نومأم

(39)

Orang pilihan

رﺎيخ

Tidak ada cacat padanya

هب سبألا

5. Ta’dil tingkatan kelima:

Orang yang dipandang jujur

قدصلا هلمح

Banyak orang meriwayatkan darinya

هنع اوور

ّ

Orang yang tengah-tengah

طسو

Seorang Syekh

خيش

Seorang Syekh yang tengah-tengah

خيش طسو

Orang yang baik hadisnya

ثيدلحا ديج

Orang yang bagus hadisnya

ثيدلحا نسح

Orang yang hadisnya didekati

بر ﺎقم

Orang yang buruk hafalannya

ظفلحا ئيس

Orang yang jujur tetapi mempunyai wahm

ّ مهوي قودص

ّ

Orang yang jujur tetapi berubah pada akhir umurnya

يرغت قودص هرخبأ

Dituduh melakukan bid’ah

عدبب ىموي

6. Ta’dil tingkatan keenam:

(40)

Orang yang jujur Insya Allah

اللهءﺎشنا قودص

Aku berharap ia tidak cacat

هب سبأ لا نأ اوجرأ

Orang yang sedikit shalih

ّّ حليوص ّّ

Diterima hadisnya

لوبقم

3. Tingkatan Lafadz Jarḥ

Dengan mengacu pada uraian Suryadi dalam bukunya yang berjudul Ilmu Rijal al-Hadis dan Suhudi Ismail dalam Kaidah Kesahihan Sanad Hadis, tingkatan-tingkatan tarjih menurut para ulama selanjutnya akan terlihat dari pembahasan dibawah ini. Dalam hal ini penulis mengambil pembagian menurut ulama Ibn Abi Hatim, Ibn Shalah, An-Nawawi, dan Ibn Hajar al- Asqalani:

❖ Ibn Abi Hatim al-Razi, Ibn Shalah, dan An-Nawawi 1. Tajrih peringkat pertama:

Seorang pendusta

باذك

Orang yang ditinggalkan hadisnya

ثيدلحا كوترم

ّ Orang yang hilang hadisnya

ثيدلحا بهاذ

2. Tajrih peringkat kedua:

Orang yang lemah hadisnya ّّ

ثيدلحا فيعض

3. Tajrih peringkat ketiga:

Bukan orang yang kuat

يوقب سيل

ّ 4. Tajrih peringkat keempat:

(41)

Orang yang lunak hadisnya

ثيدلحا ينل

❖ Ibn Hajar al-Asqalani

1. Tajrih peringkat pertama:

Orang yang paling dusta ّّ

سﺎنلا بذكأ

Orang yang paling banyak memalsu hadis

سﺎنلا عضوأ

Padanya puncak pemalsu hadis

عضولا في ىهتنلما هيلا

Dia tiang kedustaanّ

بذكلا نكر

ّّّ

Dia sumber kedustaan

بذكلا عبنم

2. Tajrih peringkat kedua:

Seorang pendusta

باذك

ّ Seorang penipu

لﺎجد

ّ Seorang pemalsu

عﺎضو

3. Tajrih peringkat ketiga:

Orang yang tertuduh berdustaّّ

بذكلا با مهتم

Orang yang ditinggalkan hadisnyaّّ

كوترم

Orang yang hilang hadisnya ّ

بﺎهذ

Bukan orang yang tsiqahّّ

هقثب سيل

ّ Orang yang binasa

كلﺎه

(42)

Orang yang didiamkan para ulama

هنع اوتكس

Orang yang gugur

طقﺎس

ّ

Orang yang tidak dipercayaّّ

نومأم يرغ

Para ulama meninggalkannya

هاوكرت

4. Tajrih peringkat keempat:

Orang yang lemah sekaliّ

ادج فيعض

ّ

Orang yang tidak menyamai apapun

أيش ىوسي لا

Orang yang tertolak hadisnya

هثيدح ادر

Orang yang ditolak hadisnya

ثيدلحا دودرم

ّ Bukan apa-apa

ئشب سيل

5. Tajrih peringkat kelima:

Orang yang lemah

فيعض

Para ulama melemahkannyaّهوفعضّ Mudhtharib hadisnya

ثيدلحا برطضم

Hadisnya ditolak ّّ

ثيدلحا ركنم

ّ Orang yang tidak dikenal

لوهمج

6. Tajrih peringkat keenam:

Bukan orang yang kuat

يوقلبا سيل

(43)

Orang yang lunak

ينل

Ahli hadis melemahkannyaّّ

ثيدلحا لهأ فعض

Orang yang lemah

فعض

Di dalam hadisnya ada kelemahan

فعض هثيدح في

Orang yang buruk hafalannyaّّ

ظفلحا ئيس

Orang yang diingkari dan dikenal

فرعيو ركني

Padanya ada cacat yang diperselisihkan

فلخ هيف

Orang yang diperselisihkan

هيف فلتخا

Orang yang tidak menjadi hujjah

ةجبح سيل

Tidak menjadi pegangan ّّ

هدمعب سيل

Orang yang tidak kokohّّ

ينتلمبا سيل

ّ Bukan orang yang diridhaiّّ

ىضرلمبا سيل

Tidak seberapa

كلاذب سيل

Orang yang tidak aku ketahui cacaatnya ّ

ﺎسبأ هب ملعأ ﺎم

Aku berharap tidak bercacat

هب سبأ لا نأ وجرأ

(44)

B. Profile Remisya Official

Remisya merupakan sebuah organisasi remaja Masjid yang bernaung di bawah naungan Masjid Raya Bintaro Jaya. Sebagai sebuah organisasi kepemudaan Islam, Remisya memiliki tujuan yaitu “Mewujudkan Organisasi Kepemudaan Yang Unggul, Produktif, dan Berdaya Saing”. Remisya selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan dakwah Islam khususnya untuk kalangan remaja dan pemuda Islam seperti Kuy Ngaji, Ladies sit & sip, Nongkrong Yuk, Tabligh Akbar, Gerakan Pemuda Shubuh, serta kegiatan- kegiatan lainnya.

1. Visi dan Misi

a) Berupaya maksimal mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat perdaban umat.

b) Membina remaja dan pemuda untuk memahami ajaran Islam.

c) Memupuk dan memelihara silaturrahim dan kekeluargaan serta mewujudkan Kerjasama yang utuh dan jiwa pengabdia untuk agama dan masyarakat.

d) Penyelenggaraan kegiatan yang berorientasi pada pembinaan remaja dan pemuda yang memiliki nilai edukasi dan sopan santun.

e) Melahirkan kader-kader dawah muda yang professional, mandiri, serta berkarakter pemimpin berbasis Masjid.

f) Mengembalikan trend food, fashion, fun remaja dan pemuda dalam koridor Islam.

g) Kaderisasi terencana guna meneruskan tongkat estafet orgenisasi.

h) Mendidik para anggota dalam tata cara beroganisasi, berdawah, dan bermuamalah.

(45)

2. Makna Logo

a) Warna hijau sebagai representative dari nilai-nilai keislaman.

b) Dua segitiga menggambarkan hubungan antara manusia dengan Allah SWT.

c) Tulisan Remisya meskipun terlihat kau namun mengesankan ana muda yang gaul, kreatif dan inovatif.

d) Lambing oval mengartikan bahwa Remisya merangkul semua golongan.

3. Struktur Organisasi

Presiden Remisya : Tegar Achmad Sulistyo

Wakil Presiden : Alman Fatin

Sekretaris Umum : Salsabila Mutiara

Bendahara Umum : Intan Mardanih

Kep. Dept. Pengembangan Sumber Daya : Desi Astuti Kep. Dept. Sosial dan Budaya : Ferdian Rama P

Kep. Dept. Dakwah : Lutpiah

Kep. Dept. Kepemudaan dan Olahraga : Kurnia Fajar Darmawan Kep. Dept. Bisnis dan Kewirausahaan : Ahmad Fadillah

Kep. Dept. Konten dan Media : Rahmat Nurcahyo.28

28www.remisya.org

Referensi

Dokumen terkait