SKRIPSI ANALISIS AKUNTANSI ATAS KERUGIAN PIUTANG TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PADA BANDARA SULTAN HASANUDDIN MAKASSAR PT. ANGKASA PURA I (PERSERO)

91  Download (0)

Full text

(1)

PT. ANGKASA PURA I (PERSERO)

NURLAELAH 10573 02106 10

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2014

(2)

OLEH NURLAELAH 10573 02106 10

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2014

(3)

iii

PT. Angkasa Pura I (Persero), telah disahkan oleh panitia ujian Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar No. Tahun 1435/ 2014 yang dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 21 Agustus 2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 21 Agustus 2014 Panitia Ujian:

1. Pengawas Umum : Dr. H. Irwan Akib, M. Pd. (..…..………….) (Rektor Unismuh Makassar)

2. Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung, MA (……….) (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

3. Sekretaris : Drs. H. Sultan Sarda, MM (...….………….) (WD I Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

Tim Penguji:

1. Drs. H. Sultan Sarda, MM (....……….) 2. Abd.Salam HB, SE. M. Si. Ak (...….………….) 3. Muttiarni, SE. M. Si (....……….) 4. Ismail Rosulong, SE. MM (....……….)

(4)

ii

BANDARA SULTAN HASANUDDIN MAKASSAR PT.

ANGKASA PURA I (PERSERO) Nama Mahasiswa : NURLAELAH

No. Stambuk/NIM : 10573 02106 10

Jurusan : AKUNTANSI

Fakultas : EKONOMI DAN BISNIS

Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi ini telah diperiksa dan diujikan oleh tim penguji pada Hari/

Tanggal: Kamis, 21 Agustus 2014.

Makassar, Agustus 2014

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. H. Andi Rustam, SE., MM.Ak Abd.Salam HB, SE. M. Si. Ak

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Ketua Jurusan Akuntansi

Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Ismail Badollahi, SE., M.Si., Ak.

NBM: 497 794 NBM: 107 3428

(5)

iv MM.Ak dan Abd. Salam HB. SE., M.Si.Ak).

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yaitu menguraikan dan menjelaskan mengenai jumlah bruto piutang Airlines pada tahun 2013 dan jumlah piutang yang tertagih dari masing-masing total piutang pada tahun yang sama.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kerugian piutang yang dibebankan oleh PT. Angkasa Pura I (Persero) pada tahun 2013 atas Pelayanan Jasa Penerbangan yang diberikan kepada perusahaan maskapai.

Penelitian ini dilaksanakan di PT. Angkasa Pura I (Persero), untuk memperoleh data digunakan dua sumber yakni responden dan dokumen dan menggunakan teknik wawancara dengan staf Dinas Akuntansi PT. Angkasa Pura I (Persero). Teknik lain yang digunakan yakni dengan menganalisis dokumen yang diperoleh dari perusahaan.

Kerugian Piutang yang dibebankan oleh perusahaan pada tahun 2013 adalah Rp 4.658.244.268,- untuk Penerbangan Domestik, Rp 18.079.784.545,- untuk Penerbangan Internasional, dan Rp 22.604.742.235,- untuk Penerbangan Lintas (Overflying). Dalam hal pencadangan kerugian piutang yang ditetapkan oleh perusahaan adalah sebesar 50% dalam periode satu tahun.

Persentase kerugian piutang terhadap tingkat pendapatan dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh perusahaan tersebut merupakan salah satu kebijakan manajemen perusahaan dalam mengolah dan mengendalikan penerimaan piutang yang dimiliki oleh perusahaan kepada para pelanggan atau konsumen jasa pelayanan penerbangan.

Kata Kunci: Kerugian Piutang dan Tingkat Pendapatan

(6)

v

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan inyah-Nya, sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan, meskipun dalam bentuk yang sederhana sekaligus merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

Skripsi ini terdiri dari lima Bab, yaitu : Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, Bab III Metode Penelitian, Bab IV Gambaran Umum Perusahaan, Bab V Hasil dan Pembahasan, Bab IV Kesimpulan dan Saran.

Penulis sangat menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah memberikan petunjuk dan saran-sarannya, penulis tidak dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Olehnya itu penulis menyampaikan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Ayahanda, Dr Irwan Akib, M. Pd. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar .

2. Dr, H. Mahmud Nuhung, M.A Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ismail Badollahi, SE.,M.Ak Selaku ketua jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

(7)

vi

saran yang sangat berharga dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini.

5. Para dosen dan staf yang ada dilingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah membimbing dan mendidik penulis selama dibangku kuliah, baik yang bersifat akademik maupun non akademik.

6. Teristimewa kepada kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Alm. Nur Said dan Ibunda Boyo Dg Te’ne yang telah membesarkan, mengasuh serta senantiasa mendoakan dengan hati yang tulus.

7. Buat saudaraku Jawaria Nur, Yuliana Nur dan AdekQ Long_Bambang yang selalu memberi semangat sehingga saya sampai pada tahap akhir penyelesaian studi.

8. Rekan-rekan mahasiswa Akuntansi Angkatan 2010, buat AK-9_10, St.

Mardinah, Fatimah, Wulandari N, Harnita, Amelia Jayanti, Hasniawati, St.

Fatmawati, Fatmawati, marsyuki Mansyur serta rekan-rekan lain yang tidak sempat dipaparkan namanya satu persatu, semoga semua yang telah kita lewati (suka-duka) menjadi kenangan terindah yang tak terlupakan.

9. Buat special someone Daeng Masiga yang selalu memberikan semangat dan yang sangat berperan penting di hidup saya, dan bersedia mendampingi saya dalam mengerjakan skripsi, terima kasih untuk semuanya.

Penulis telah berusaha seoptimal mungkin menghadirkan karya terbaik, namun sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan,

(8)

vii

Manusia adalah makhluk yang sering lupa dan khilaf, tak ada yang sempurna selain Allah SWT pencipta langit dan bumi, Akhir kata semoga segala kebaikan dan ketulusannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah S.W.T, Dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri, Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, khususnya dikalangan pembaca. Semoga Allah SWT memberikan jalan kemudahan dalam menjalankan aktivitas dan kegiatan kita. Amin…

Wabillahi taufiq walhidayah Wassalamu alaikum Wr. Wb

Makassar, Agustus 2014

Nurlaelah

(9)

viii

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan dan kegunaan penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Piutang ... 6

B. Piutang Usaha ... 7

C. Piutang Tak Tertagih ... 9

D. Kerugian Piutang ... 12

E. Metode Pencatatan Kerugian Piutang ... 13

F. Penjualan Jasa ... 17

G. Pendapatan ... 19

H. Kerangka Fikir ... ... 23

I. Hipotesis... 23

BAB III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 24

B. Metode pengumpulan Data ... ... . 24

(10)

ix

BAB IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Singkat Perusahaan ... . 28

B. Visi dan Misi Perusahaan ... 30

C. Struktur Organisasi ... 31

D. Tugas dan Tanggung jawab Setiap Devisi ... ... 32

E. Gambaran Umum Operasi Perusahaan ... ... 41

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil ... ... 48

B. Pembahasan ... 53

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... ... 68

B. Saran ... ... 69 DAFTAR PUSTAKA

(11)

x

2. Struktur Organisasi PT Angkasa Pura I... 31

(12)

xi

2. Daftar Saldo Piutang Airlines Internasional (Periode 2013) ... 50

3. Konversi Saldo Piutang Internasional Dalam Nilai Rupiah ... 51

4. Daftar Saldo Piutang Penerbangan INT+OF (Periode 2013) ... 52

5. Piutang Tertagih Airlines Domestik (Periode 2013) ... 58

6. Piutang Tertagih Airlines Internasional (Periode 2013) ... 59

7. Piutang Tertagih Penerbangan INT+OF (Periode 2013) ... 60

8. Rekapitulasi Saldo Piutang Aeronautika (Periode 2013) ... 62

9. Rekapitulasi Kerugian Piutang Aeronautika (Periode 2013) ... 66

(13)

xii

2. Rekapitulasi Saldo Piutang Airlines Domestik Per Des 2013 ... 74

3. Rekapitulasi Saldo Piutang Airlines Internasional Per Des 2013 ... 75

4. Rekapitulasi Saldo Piutang PJP INT + OF Per Des 2013 ... 76

5. Kurs Transaksi Bank Indonesia per 31 Des 2013 ... 77

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di era globalisasi saat ini, persaingan bisnis dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Keadaan ini mendorong dunia bisnis untuk bergerak cepat supaya mampu bertahan dan siap bersaing dengan perusahaan-perusahaan baru.

Di Indonesia telah banyak perusahaan yang berkembang sangat pesat baik dibidang dagang maupun jasa. Perusahaan-perusahaan tersebut selain bersaing juga saling bekerja sama antar perusahaan. Oleh karena itu, bukan hanya komunikasi yang perlu dieratkan, namun intensitas pertemuan juga salah satu hal yang penting supaya dapat menjaga hubungan bisnis dengan baik.

Hubungan bisnis antar perusahaan tidak hanya terjalin di satu daerah yang sama, tetapi saat ini banyak perusahaan yang menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan lain. di daerah atau wilayah provinsi yang berbeda, bahkan hubungan bisnis antar negara. Melihat fakta tersebut, untuk menunjang hubungan bisnis yang baik maka tidak dipungkiri bahwa alat transportasi sangat dibutuhkan demi kelancaran komunikasi.

Alat transportasi yang dibutuhkan bukan hanya alat transportasi darat melainkan alat transportasi udara sangat dibutuhkan untuk membantu perusahaan dalam kelancaran bisnisnya. Namun bukan hanya pelaku bisnis yang memerlukan

1

(15)

jasa transportasi udara, masyarakat umum juga banyak yang membutuhkan jasa transportasi udara untuk liburan atau pun untuk berpergian keluar daerah.

Alat transportasi udara merupakan alat transportasi yang tercepat untuk mengantarkan seseorang dari suatu daerah ke daerah lain bahkan dari suatu negara ke negara lain. Alasan inilah yang menjadikan banyak munculnya perusahaan jasa pesawat udara yang siap melayani masyarakat untuk berbagai daerah tujuan.

Terbentuknya sejumlah perusahaan jasa pesawat udara (Airlines) tentunya meningkatkan persaingan untuk memberikan mutu pelayanan perusahaannya.

Faktor inilah sehingga banyak masyarakat yang memilih alat transportasi udara sebagai alat transportasi yang tercepat dengan biaya yang terjangkau untuk tiba di tempat tujuan.

Jasa pesawat udara tentunya tidak dapat bergerak sendiri, sebab ini membutuhkan perusahaan lain yang mampu mengatur siklus penerbangan dan memberi informasi dan komunikasi antara daerah keberangkatan dan daerah tujuan yang dikenal dengan bandar udara. Bandar udara pada setiap provinsi dikelola oleh sebuah perusahaan milik negara yang akan memberikan jasa pelayanan penerbangan kepada setiap jasa pesawat udara (Airlines) yang membutuhkannya.

Dengan diberikannya jasa pelayanan penerbangan, maka setiap jasa pesawat udara juga akan membayar jasa pelayanan tersebut kepada pihak perusahaan yang memberikan pelayanan penerbangannya. Hasil dari pemberian jasa penerbangan tersebut merupakan pendapatan bagi pihak perusahaan.

Selanjutnya pendapatan tersebut akan dibayar secara tunai maupun secara kredit

(16)

sesuai dengan terjadwal atau tidak terjadwalnya penerbangan pesawat udara tersebut.

Jika penerbangan pesawat tidak terjadwal, maka pembayaran jasa pelayanan penerbangan akan dibayar secara tunai, namun jika penerbangan pesawat yang bersangkutan terjadwal, maka pembayaran jasa pelayanan penerbangan tersebut akan dibayar secara kredit (piutang).

Menurut Donald E. Kieso (2007:346-347) “Piutang (receivables) adalah klaim uang, barang, atau jasa kepada pelanggan atau pihak-pihak lainnya”.

Piutang timbul akibat dilakukannya penjualan kredit, namun tak jarang penjualan kredit juga berdampak pada munculnya sejumlah piutang yang tak dapat tertagih oleh kreditur kepada debitur sehingga perusahaan akan mencadangkan kerugian piutang atas piutang yang tak tertagih dalam jangka waktu tertentu.

Piutang yang tertagih akan disetorkan langsung ke rekening perusahaan oleh setiap Airlines yang telah menerima faktur tagihannya. Namun tak jarang pula piutang yang dimiliki oleh PT. Angkasa Pura I tidak dapat tertagih oleh debitur (pihak Airlines) karena beberapa sebab seperti membandelnya pihak Airlines , namun adapun kemungkinan terjadinya piutang yang tak dapat

tertagih, maka perusahaan menetapkan penyisihan piutang ragu-ragu atau pencadangan kerugian piutang berdasarkan Pedoman Akuntansi Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero).

Menurut Pedoman Akuntansi Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero) (Nomor: KEP.97/KU.02/2009:13) menetapkan bahwa penyisihan piutang ragu- ragu (cadangan kerugian piutang) sebesar 50% (lima puluh persen) dalam jangka

(17)

waktu masa tagih 1 (satu) sampai dengan 2 (dua) tahun. Kebijakan penetapan atas cadangan kerugian piutang merupakan keputusan kantor pusat yang wajib dijalankan oleh kantor cabang PT.Angkasa Pura I (Persero).

Dalam rangka memperbesar atau mengoptimalkan tingkat pendapatan perusahaan. Peranan piutang dapat membantu meningkatkan pendapatan atau meningkatkan penerimaan kas, salah satu cara dengan Pengendalian piutang dapat mencegah terjadinya kerugian piutang terhadap tingkat pendapatan untuk keberhasilan perusahaan. Oleh karena itu penting artinya untuk menetapkan kebijakan piutang yang efektif dan prosedur penagihan untuk menjamin penagihan tepat waktu dan mengurangi tidak tertagihnya piutang. Hal ini akan dapat menimbulkan dampak yang baik terhadap kelancaran aktivitas perusahaan, Realisasi pengendalian piutang merupakan salah satu penilaian atas kemampuan suatu perusahaan dalam menciptakan kas atau laba yang optimal untuk masa yang akan datang.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik unutuk mengangkat kedalam tugas akhir dengan judul “Analisis Akuntansi atas Kerugian piutang terhadap tingkat pendapatan pada Bandara Sultan Hasanuddin Makassar PT.

Angkasa pura I (Persero).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Bagaimana pengaruh Kerugian Piutang terhadap tingkat pendapatan pada PT. Angkasa Pura I (Persero)”

(18)

C. Tujuan dan kegunaan Penelitian 1. tujuan penelitian

Untuk mengetahui pengaruh Kerugian Piutang terhadap tingkat pendapatan pada PT. Angkasa Pura I (Persero).

2. kegunaan penelitian

a. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan untuk mengetahui pengaruh Kerugian Piutang terhadap tingkat Pendapatan perusahaan dimasa yang akan datang.

b. Untuk bahan bacaan dan informasi bagi yang ingin mengetahui Analisis akuntansi atas kerugian piutang.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Piutang

Piutang merupakan harta perusahaan atau koperasi yang timbul karena terjadinya transaksi penjualan secara kredit atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Menurut Donald E. Kieso (2007:346-347)

“Piutang (receivables) adalah klaim uang, barang, atau jasa kepada pelanggan atau pihak-pihak lainnya”. Piutang diklasifikasikan sebagai lancar (jangka pendek) atau tidak lancar (jangka panjang). Piutang lancar diharapkan akan tertagih dalam satu siklus operasi berjalan, mana yang lebih panjang. Semua piutang lain diklasifikasikan sebagai piutang tidak lancar.

Sedangkan definisi Piutang menurut Benny Alexandri (2009:117)

“Piutang adalah sejumlah uang hutang dari konsumen pada perusahaan yang membeli barang dan jasa secara kredit pada perusahaan”. Piutang diklasifikasikan ke dalam piutang usaha (dagang/jasa), piutang wesel, dan piutang lain-lain. Piutang usaha adalah tagihan kepada pelanggan yang berasal dari penjualan barang atau jasa secara kredit dan tidak disertai instrumen kredit secara formal. Jika piutang disertai dengan instrument kredit secara formal berupa promes, wesel, ataupun askep, maka piutang disebut piutang wesel. Dalam promes/wesel/askep, debitur menyatakan bahwa akan membayar utangnya pada tanggal tertentu di masa mendatang tanpa syarat.

6

(20)

Piutang lain-lain meliputi nondagang seperti pinjaman kepada para pejabat perusahaan, piutang kapada karyawan, dan piutang restitusi pajak.

Menurut Pedoman Akuntansi Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero) (Nomor: KEP.97/KU.02/2009:13) “Piutang usaha meliputi piutang yang timbul karena penyerahan barang atau jasa dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan’.

Jadi pengertian dari piutang merupakan aktiva yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas dalam waktu satu tahun atau dalam satu periode akuntansi. Piutang pada umumnya timbul dari hasil usaha pokok perusahaan.

Namun selain itu, piutang juga dapat ditimbulkan dari adanya usaha dari luar kegiatan pokok perusahaan.

Menurut definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa piutang merupakan kebijakan yang diberikan perusahaan kepada pelangganya untuk memberikan kemudahan pada waktu penjualan kredit, sehingga perusahaan mempunyai hak tagih kepada pelanggan tersebut.

B. Piutang Usaha

Menurut Haryono Jusup (1995:51) “Piutang Usaha merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari si penjual kepada si pembeli yang timbul karena adanya suatu transaksi”.

a. Dua jenis piutang usaha yaitu antara lain:

1. Piutang dagang (account receivable) adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pembeli kepada perusahaan. Piutang dagang umumnya berjangka waktu kurang dari satu tahun.

(21)

2. Piutang wesel (notes receivable) adalah piutang yang di dalamnya membuat suatu janji tertulis kepada kreditur untuk membayar sejumlah uang yang tercantum dalam surat janji tersebut pada waktu tertentu di masa yang akan datang.

b. Piutang menurut sumber atau asal terjadinya dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

1. Piutang Dagang, yaitu tagihan-tagihan yang timbul dari transaksi penjualan barang atau jasa.

2. Piutang Bukan Dagang, yaitu tagihan-tagihan yang timbul dari transaksi selain penjualan barang atau jasa.

3. Piutang Pendapatan, yaitu pendapatan yang sudah terjadi tetapi belum diterima (accrued receivable).

Penilaian Piutang Dagang Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia

“Piutang dagang harus dicatat dan dilaporkan sebesar nilai kas (netto) yang bisa direalisasikan yaitu jumlah kas bersih yang diperkirakan dapat diterima”.

Piutang dinyatakan sebesar jumlah bruto tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat tertagih. Jumlah bruto piutang yang harus tetap disajikan pada neraca diikuti dengan penyisihan untuk piutang ragu-ragu atau taksiran jumlah yang tidak dapat diterima. Piutang usaha diakui pada saat faktur tagihan diterbitkan.

Penghapusan piutang dapat dilaksanakan atas persetujuan Pemegang Saham dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Piutang yang telah disetujui untuk dihapuskan tidak berarti menghilangkan

(22)

kewajiban untuk melakukan penagihan dan dicatat secara “Extra Comptable”.(PT. AP I, KEP 97/KU.02/2009:13)

C. Piutang Tak Tertagih

Penjualan atas dasar selain penjualan tunai beresiko menimbulkan kegagalan untuk menagih piutang. Piutang usaha tak tertagih adalah kerugian pendapatan, yang memerlukan, melalui ayat jurnal pencatatan yang tepat dalam akun, penurunan aktiva piutang, serta penurunan yang berkaitan dengan laba dan ekuitas pemegang saham. Kerugian pendapatan dan penurunan laba diakui dengan mencatat beban piutang ragu-ragu atau beban piutang tak tertagih. (Donald E. Kieso:2007:350)

Menurut Warren & Reeve (2006:407-410) “Beban piutang tak tertagih atau beban piutang ragu-ragu merupakan beban operasi yang muncul karena tidak tertagihnya piutang”. Jika seorang debitur gagal untuk membayar piutang sesuai kontrak penjualan ataupun weselnya belum dibayar saat jatuh tempo, tidak berarti bahwa utang-utang tersebut tidak akan dapat ditagih lagi.

Bangkrutnya debitur adalah salah satu petunjuk yang paling signifikan mengenai tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang.

Menurut Benny Alexandri (2009:118) “Bila suatu barang atau jasa dijual secara kredit, biasanya sebagian dari piutang langganan tidak dapat ditagih”. Hal ini sudah merupakan gejala umum dan resiko yang harus ditanggung oleh perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan penjualan kredit.

(23)

Menurut Warren & Reeve (2006:407-410) “Bagaimana jumlah piutang tak tertagih? Estimasi piutang tak tertagih pada akhir periode fiskal didasarkan pada pengalaman perusahaan di masa lalu dan prediksi kegiatan perusahaan di masa depan. Jika perekonomian secara umum kinerjanya baik, jumlah beban piutang tak tertagih biasanya lebih rendah dibandingkan jika perekonomian sedang mengalami resesi. Estimasi piutang tak tertagih biasanya didasarkan pada jumlah penjualan (dalam laporan laba rugi) dan jumlah piutang dan umur piutang (dalam neraca akhir periode)”.

Terdapat dua metode pembebanan biaya piutang tak tertagih ini.

Pertama pembebanan atau penghapusan secara langsung (direct write off) ketika piutang sudah tidak tertagih lagi. Dengan cara ini, pengakuan biaya piutang tak tertagih menggunakan prinsip realisasi dengan mengurangi saldo piutang dan memunculkan biaya piutang tak tertagih.

Metode yang kedua adalah metode penyisihan atau pencadangan.

Metode ini merupakan perwujudan aplikasi prinsip konservatisme dalam akuntansi di mana pembebanan biaya dilakukan kalau memang sudah dapat diprediksikan akan timbul biaya tersebut.

1. Penyisihan piutang tak tertagih

Pada jenis usaha kopersi yang didalam usaha simpan pinjam yang dijalankan oleh koperasi dikenal sebuah perkiraan dalam neraca yang disebut penyisihan piutang tak tertagih. Pekiraan ini berada di kelompok aktiva. Berbeda dengan perkiraan yang lainnya (dalam kelompok aktiva)

(24)

perkiraan ini bernilai minus (sama dengan perkiraan akumulasi penyusutan).

Perkiraan ini hampir sama penggunaannya dengan perhitungan NPL (Non performing Loan) pada bank. Di dalam koperasi tidak dikenal istilah NPL , akan tetapi perkiraan ini lah yang dipakai oleh usaha simpan pinjam koperasi. Biasanya perkiran ini di bukukan pada saat akhir bulan, akan tetapi banyak juga yang menjalankannya pada saat akhir tahun.

Penyisihan Piutang tak tertagih atau ada juga yang mengatakan penghapusan piutang macet biasanya dihitung (dibukukan) dari analisa prosentase jumlah peminjam yang kurang lancar, meragukan dan macet.

Dengan adanya perkiraan Penyisihan piutang tak tertagih ini maka pembiayaan pada masalah pinjaman macet akan lebih bisa di prediksikan.

Jadi dengan menggunakan metode seperti ini, saat terjadi penghapusan pada salah satu piutang macet, sudah bukan merupakan biaya lagi, karena biayanya sudah dibiayakan rutin sedikit demi sedikit pada setiap bulannya.

2. Penghapusan piutang tak tertagih

Dengan berlakunya Pasal 6 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.03/2010 tanggal 9 Maret 2010 yang mengatur mengenai piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, maka Direktur Jenderal Pajak

(25)

mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER- 22/PJ/2010 tanggal 9 April 2010 untuk mencabut Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-238/PJ./2001, sehingga saat ini ketentuan mengenai perlakuan atas piutang yang tidak dapat ditagih berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.03/2010 adalah “Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya, yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan upaya- upaya penagihan yang maksimal atau terakhir oleh wajib pajak.

(dikutip dari online; www.google.com/2012/piutangtaktertagih.html,

D. Kerugian Piutang

Kerugian dalam akuntansi dikenal dengan berbagai nama , seperti kerugian piutang, biaya piutang tak tertagih, dan biaya piutang ragu-ragu.

Dalam akuntansi, kerugian akibat piutang tak tertagih dicatat dengan mendebet rekening Kerugian Piutang. Kerugian semacam itu dalam dunia usaha dianggap sebagai hal yang normal dan merupakan resiko yang sudah selayaknya bagi perusahaan yang melakukan penjualan secara kredit.

Kerugian piutang adalah kerugian akibat sejumlah piutang tidak bisa ditagih disebut piutang tak tertagih. Bila perusahaan mengalami tidak bisa menagih piutangnya atau meyakini bahwa piutang tidak dapat ditagih karena ada pemberitahuan resmi bahwa debitur dinyatakan pailit oleh instansi yang berwenang atau permohonan dari debitur untuk menghapus sebagian atau

(26)

keseluruhan hutangnya karena perusahaanya tidak mampu lagi membayar hutang atau sebab-sebab lain misalnya tiba-tiba debitur menghilang karena tidak mampu bayar, atau apa sajalah intinya piutang tidak dapat ditagih. Maka perusahaan yang punya piutang menghapus piutang tersebut dalam catatan laporan keuangannya dengan cara mendebit kerugian piutang dan mengkredit piutang dagang.

E. Metode Pencatatan Kerugian piutang

Penjualan secara kredit akan menguntungkan perusahaan karena menarik bagi calon pembeli sehingga volume penjualan meningkat di sisi lain penjualan kredit sering juga mendatangkan kerugian ketika debitur tidak mampu atau tidak mau membayar kewajibannya.

Dalam Praktek Akuntansi yang dikenal dalam perusahaan-perusahaan terdapat dua macam pencatatan kerugian piutang menurut Donald E. Kieso (2007:351) yaitu:

1. Metode Penghapusan Langsung. Dalam metode ini tidak ada ayat jurnal yang dibuat sampai suatu akun khusus telah ditetapkan secara pasti sebagai tidak tertagih. Kerugian tersebut dicatat dengan mengkredit Piutang Usaha dan mendebet Beban Piutang Tak Tertagih.

2. Metode Cadangan (Penyisihan). Suatu estimasi dibuat menyangkut perkiraan piutang tak tertagih dari semua penjualan kredit atau dari total piutang yang beredar. Estimasi ini dicatat sebagai beban dan pengurang tidak langsung terhadap piutang usaha (melalui kenaikan akun penyisihan) dalam periode di mana penjualan itu dicatat.

(27)

Kedua metode ini mempunyai perbedaan yang sangat mendasar.

Walaupun kedua metode ini masih banyak dipraktekkan namun hanya metode cadangan yang diakui dalam Stansar Akuntansi Keuangan (SAK). Sedangkan metode penghapusan langsung tidak. Untuk lebih jelasnya berikut ini pembahasan dari kedua metode tersebut.

1. Metode Penghapusan Langsung

Metode ini biasanya digunakan dalam perusahaan-perusahaan kecil atau perusahaan yang tidak dapat menaksir kerugian piutang dengan benar.

Pada akhir periode tidak ada taksiran kerugian piutang yang dibebankan, tetapi kerugian piutang baru diakui pada waktu diketahui ada piutang yang tidak dapat ditagih.

Menurut Zaki Baridwan (2004:133) “Penggunaan metode penghapusan langsung tidak dapat menunjukkan jumlah piutang yang diharapkan akan ditagih dalam neraca, karena neraca hanya menunjukkan jumlah piutang bruto”.

Dalam penerapan metode ini jumlah kerugian tidak perlu ditaksir dan dalam pembukuan tidak digunakan rekening Cadangan Kerugian Piutang. Apabila suatu piutang diyakini tidak akan dapat ditagih lagi, maka kerugian akibat piutang tersebut langsung didebetkan ke dalam rekening Kerugian Piutang dan rekening Piutang Dagang dikredit.

Pencatatan untuk metode penghapusan langsung adalah sebagai berikut:

- Saat menghapus piutang:

Kerugian piutang xxx -

(28)

Piutang Dagang - xxx

- Saat debitur menyatakan akan melunasi kembali (dalam tahun yang sama):

Piutang Dagang xxx -

Kerugian Piutang - xxx

- Saat debitur menyatakan akan melunasi kembali (tahun yang berbeda):

Piutang Dagang xxx -

Penerimaan Piutang yang telah dihapus xxx 2. Metode Cadangan (Penyisihan)

Metode cadangan merupakan suatu estimasi yang dilakukan untuk perkiraan piutang yang tidak tertagih dari semua penjualan kredit atau dari total piutang yang beredar”. Estimasi tersebut dimasukkan sebagai beban dan pengurangan tak langsung dalam piutang usaha (melalui suatu kenaikan dalam perkiraan penyisihan) dalam periode penjualan tersebut dicatat.

Menurut Skousen & Albrecht (2001:309) “Metode penyisihan lebih memuaskan dalam segi prinsip penandingan karena metode tersebut menghitung piutang yang tidak tertagih untuk periode yang sama dengan terjadinya penjualan”. Dengan metode ini suatu perusahaan menggunakan pengalamannya untuk estimasi jumlah piutang tak tertagih yang mungkin terjadi dari penjualan kredit tahin ini.

Dalam metode cadangan ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan adalah :

(29)

1. Kerugian piutang tak dapat tertagih ditentukan jumlahnya melalui taksiran dan dibandingkan (matched) dengan penjualan pada periode akuntansi yang sama dengan periode terjadinya penjualan.

2. Jumlah piutang yang ditaksir tidak akan dapat diterima, dicatat dengan mendebet rekening kerugian piutang dan mengkredit Rekening Cadangan Kerugian Piutang.

3. Kerugian piutang yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebet Rekening cadangan kerugian piutang dan mengkredit Rekening piutang dagang pada saat dihapus dari pembukuan.

Menurut Zaki Baridwan (2004:126-127) “Dalam menentukan cadangan setiap akhir periode dilakukan penaksiran jumlah kerugian piutang yang akan dibebankan ke periode yang bersangkutan”. Ada dua dasar yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah kerugian piutang antara lain:

1. Kerugian Piutang Dihitung Atas Dasar Jumlah Penjualan

Kerugian piutang dihitung dengan cara mengalikan persentase tertentu dengan jumlah penjualan periode tersebut. Persentase kerugian piutang dihitung dari perbandingan piutang yang dihapus dengan jumlah penjualan tahun-tahun lalu kemudian disesuaikan dengan keadaan tahun yang bersangkutan. Kerugian piutang timbul karena adanya penjualan kredit, oleh karena itu sebaiknya kerugian piutang juga dihitung dari penjualan kredit.

2. Kerugian Piutang Dihitung Atas Dasar Saldo Piutang

(30)

Perhitungan kerugian piutang atas dasar saldo piutang akhir periode dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu (1) jumlah cadangan dinaikkan sampai persentase tertentu dari saldo piutang, (2) cadangan ditambah dengan persentase tertentu dari saldo piutang dan (3) jumlah cadangan dinaikkan samapi suatu jumlah yang dihitung dengan menganalisis umur piutang.

Pencatatan untuk metode cadangan adalah sebagai berikut:

- Saat melakukan penyesuaian taksiran kerugian piutang:

Kerugian Piutang xxx -

Cadangan Kerugian Piutang - xxx

- Saat menghapus piutang:

Cadangan Kerugian Piutang xxx -

Piutang Dagang xxx

- Saat debitur menyatakan akan melunasi kembali:

Piutang Dagang xxx -

Cadangan Kerugian Piutang xxx

F. Penjualan Jasa

Definisi Penjualan Soehardi sigit (2001:18) adalah “Proses dimana sang penjual memuaskan segala kebutuhan dan keinginan pembeli agar dicapai manfaat baik bagi sang penjual maupun sang pembeli yang berkelanjutan dan yang menguntungkan kedua belah pihak.”

(31)

Penjualan merupakan sumber hidup suatu perusahaan, karena dari penjualan dapat diperoleh laba serta suatu usaha memikat konsumen yang diusahakan untuk mengetahui daya tarik mereka sehingga dapat mengetahui hasil produk yang dihasilkan.

Penjualan tatap muka adalah Interaksi antar individu, saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan pihak lain.

Penjualan jasa biasanya menyangkut pelaksanaan tugas yang secara kontraktual telah disepakati oleh perusahaan. Jasa tersebut dapat diserahkan selama satu periode atau selama lebih dari satu.

Menurut Thamrin Abdullah (2012:82) “Jasa adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak pada pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud serta tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu”.

Jasa pada dasarnya merupakan aktivitas-aktivitas yang tidak nyata yang memberikan keinginan, kepuasan yang tidak perlu melekat pada penjualan daripada produk atau jasa lainnya.

Layanan adalah berbagai tindakan atau kinerja yang ditawarkan suatu produk kepada orang lain yang pada dasarnya tidak dapat dilihat dan tidak menghasilkan hak milik terhadap sesuatu. Produksinya dapat berkenaan dengan produk fisik atau tidak.

(32)

Penjualan jasa biasanya menyangkut pelaksanaan tugas yang secara kontraktual telah disepakati oleh perusahaan. Jasa tersebut dapat diserahkan selama satu periode atau selama lebih dari satu periode.

Pada saat perusahaan menjual barang/jasa, maka diperoleh pendapatan.

Jumlah yang dibebankan kepada pembeli/pengguna jasa untuk barang dagang/jasa yang diserahkan merupakan pendapatan perusahaan yang bersangkutan. Penjualan dapat dilakukan secara kredit maupun tunai

Penjualan tunai yaitu penjualan barang/jasa yang pembayarannya dilakukan secara kontan/tunai, sedangkan penjualan kredit yaitu penjualan barang/jasa yang pembayarannya dilakukan kemudian secara sekaligus atau dicicil dengan adanya tenggang waktu sejak penyerahan barang atau jasa sampai diterimanya uang. Dalam tenggang waktu tersebut penjualan mempunyai tagihan kepada pembeli. Tagihan bisa timbul dari berbagai macam sumber, tetapi jumlah yang terbesar biasanya timbul dari penjualan barang atau jasa. Tagihan-tagihan yang dimiliki perusahaan dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu;

1. Tagihan-tagihan yang tidak didukung dengan janji tertulis disebut piutang;

2. Tagihan-tagihan yang didukung dengan janji tertulis disebut piutang wesel.

G. Pendapatan

Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian

(33)

tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi.

Standar Akuntansi Keuangan NO.23 mendefinisikan pendapatan sebagai arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Selain itu menurut Daryanto (2012:143) menjelaskan bahwa

“Pendapatan adalah kenaikan kotor (gross) dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan, pelaksanaan jasa kepada pelanggan atau klien, penyewaan harta, peminjaman uang, dan semua kegiatan usaha serta profesi yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan”.

Sedangkan definisi pendapatan (revenue) menurut Skousen (1995 : 15) adalah kenaikan (inflows) dari aktiva yang berasal dari operasi kegiatan normal perusahaan.

Pendapatan diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan perusahaan dalam memanfaatkan faktor-faktor produksi untuk mempertahankan diri dan pertumbuhan. Seluruh kegiatan perusahaan yang menimbulkan pendapatan secara keseluruhan disebut earning process. Secara garis besar earning process menimbulkan dua akibat yaitu pengaruh positif atau pendapatan dan keuntungan dan pengaruh negatif atau beban dan kerugian.

(34)

Pendapatan berasal dari penjualan barang dan pemberian jasa dan diukur dengan jumlah yang dibebankan kepada langganan, klain atas barang dan jasa yang disiapkan untuk mereka. Juga termasuk laba dari penjualan atau pertukaran asset (kecuali dari surat berharga), hak deviden dari investasi dan kenaikan lainnya pada equity pemilik kecuali yang berasal dari modal donasi dan penyesuaian modal

Jadi Pendapatan merupakan jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan. Bagi investor, pendapatan kurang penting dibanding keuntungan, yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran. Pertumbuhan pendapatan merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan jasa perusahaan tersebut. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten, dan juga pertumbuhan keuntungan, dianggap penting bagi perusahaan yang dijual ke publik melalui saham untuk menarik investor.

Definisi Menurut Pedoman Akuntansi Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero) (Nomor: KEP.97/KU.02/2009:45) “Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.

Menurut Pedoman Akuntansi Keuangan PT Angkasa Pura I (Persero) (Nomor: KEP.97/KU.02/2009:45) “Pendapatan terdiri atas Pendapatan Usaha dan Pendapatan Non Usaha. Pendapatan Usaha adalah

(35)

pendapatan yang berasal dari aktivitas utama perusahaan dan bersumber pada pelayanan jasa navigasi, jasa penyediaan fasilitas kebandarudaraan.

Pendapatan usaha terdiri atas Pendapatan Aeronautikan Air Traffic Service (ATS), Pendapatan Aeronautika Non Air Traffic Service, dan Pendapatan Non Aeronautika”.

Yang termasuk dalam Pendapatan Aeronautika ATS adalah pendapatan Pelayanan Jasa Penerbangan (PJP) yang berasal dari pelayanan jasa penerbangan domestic, penerbangan internasional yang melintas dan mendarat di bandar udara yang dikelola perusahaan, dan penerbangan lintas/over flying.

Pendapatan Aeronautika Non ATS adalah pendapatan yang diperolah sebagai imbalan dari jasa penyediaan fasilitas kebandar udaraan di bidang Aeronautika yang terdi atas;

1. Pendapatan Pendaratan;

2. Pendapatan Penempatan;

3. Pendapatan Penyimpanan;

4. Pendapatan Parking Surcharge;

5. Pendapatan Extended;

6. Pendapatan Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U);

7. Pendapatan Pemakaian Garbarata (aviobridge)

(36)

H. Kerangka Fikir

Gambar 1 Bagan Desain Penalitian Kerugian Piutang

Dari gambar diatas, dapat dijelaskan bahwa piutang yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan, sangat erat kaitannya dengan perolehan pendapatan, baik piutang tak tertagih, piutang tertagih maupun kerugian piutang. Semakin besar piutang yang tertagih maka semakin besar pendapatan yang diperoleh.

Namun, semakin besar piutang tak tertagih , maka semakin besar kerugian piutang yang diperoleh perusahaan.

I. Hipotesis

Dengan mengacu pada masalah pokok yang dikemukakan, maka hipotesis yang dikemukakan pada penelitian ini adalah: “diduga bahwa dalam Analisis Akuntansi atas kerugian piutang terhadap tingkat pendapatan pada PT.

Angkasa Pura I (Persero) sudah Efektif”.

Piutang

Piutang Tertagih Piutang Tak Tertagih

Kerugian Piutang Tingkat Pendapatan

PT. Angkasa Pura I (Persero)

Penyebab Piutang Tertagih dan Tak Tertagih kepada Perusahaan Maskapai

Sebagai Debitur

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penlitian ini dilakukan penulis di PT. Angkasa Pura I (Persero) yang beralamat di Jl. Bandara lama Sultan Hasanuddin Makassar, Perusahaan ini bergerak di bidang jasa dan perdagangan perusahaan, adapun waktu penelitian yang digunakan mulai tanggal 21 April 2014 sampai dengan 31 Mei 2014.

C. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode antara lain:

1. Wawancara (Interview)

Merupakan teknik untuk mendapatkan data dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak-pihak yang bersangkutan guna mendapatkan data dan keterangan yang menunjang analisis dalam penelitian.

2. Observasi

Yaitu pengamatan langsung ke perusahaan untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai perusahaan tersebut, disamping mengumpulkan data untuk kepentingan penulis.

24

(38)

3. Analisis Dokumen

Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang berisi data dan keterangan yang menunjang analisis dalam penelitian.

C. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Data

Adapun Jenis Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Data kualitatif, yaitu data yang penulis peroleh bukan dalam bentuk angka-angka melainkan berupa informasi-informasi tentang rencana selanjutnya.

2. Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka yang penulis peroleh dari penelitian.

b. Sumber Data

Adapun Sumber Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Data primer, yaitu data yang secara langsung diperoleh dari perusahaan melalui wawancara dan pertanyaan yang diajukan.

2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan berupa dokumen dan informasi tertulis lainnya yang berhubungan dengan penulisan ini.

(39)

D. Metode Analisis

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yaitu menguraikan dan menjelaskan mengenai jumlah bruto piutang dan jumlah piutang yang tertagih dari masing-masing total kerugian piutang.

E. Sistematika Penulisan

Dalam pembahasan proposal ini, penulis membaginya menjadi tiga bab, yaitu:

BAB I. Pendahuluan :

Mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian. Manfaat penelitian.

BAB II. Tinjauan Pustaka

Mencakup pengertian piutang, piutang usaha, piutang tak tertagih, kerugian piutang, dan Metode pencatatan kerugian piutang, serta Penjualan jasa dan Pendapatan.

BAB III. Metode penelitian

Mencakup daerah penelitian, metoda pengumpulan data, jenis dan sumber data, metoda analisis, serta sistematika penulisan

BAB IV. Gambaran Umum Perusahaan

Mencakup tentang sejarah singkat Perusahaan, Visi dan Misi Perusahaan, Struktur Organisasi, Tugas dan Tanggung Jawab Setiap Devisi, Gambaran umum Operasi Perusahaan.

(40)

BAB V. Pembahasan dan Hasil

Mencakup mengenai Hasil dan Pembahasan Penelitian tentang Saldo Piutang Airlines

BAB VI. Penutup

Mencakup Kesimpulan dan Saran DAFTAR PUSTAKA

(41)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Singkat Perusahaan

PT Angkasa Pura I (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam lingkungan Departemen Perhubungan yang bergerak dibidang pengelolaan dan pengusahaan jasa pelayanan bandar udara di Indonesia.

Pada awalnya PT Angkasa Pura I (Persero) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1962 dengan nama Perusahaan Negara (PN) Angkasa Kemayoran dengan tugas pokok mengurus dan mengusahakan Bandar Udara Kemayoran. Pada tahun 1965 melalui Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1965 PN Angkasa Kemayoran berubah nama menjadi PN Angkasa Pura.

Perubahan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan pengelolaan Bandar udara selain Bandar udara Kemayoran.

Pada tahun 1974, melalui Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1974, ditetapkan bahwa dari ”Perusahaan Negara” berubah bentuk menjadi ”Perusahaan Umum” yang selanjutnya disebut Perusahaan Umum (PERUM) Angkasa Pura.

Pada tahun 1973 Bandar Udara Halim Perdana Kusuma ditetapkan menjadi bandar udara Internasional dan merupakan bandar udara kedua yang dikelola manajemen Angkasa Pura.

Pada tahun 1985, dengan selesainya pembangunan Bandar Udara Cengkareng yang saat ini dikenal sebagai Bandar Udara Soekarno-Hatta, merupakan titik awal dibentuknya Perum Angkasa Pura I dan Perum Angkasa Pura II. Perum Angkasa Pura I bertugas mengelola bandar udara di luar Jakarta dengan kantor pusat di

28

(42)

Jakarta (Bekas Bandar Udara Kemayoran) dan Perum Angkasa Pura II yang mengelola Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menginginkan agar terhadap BUMN yang telah dinilai baik dan mampu untuk lebih menekankan dan berorientasi pada keuntungan, maka dengan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1992 Perum Angkasa Pura I berubah menjadi PT Angkasa Pura I (Persero).

Setelah akta pendirian perusahaan ditandatangani pada tanggal 2 Januari 1993, maka PT Angkasa Pura I (Persero) secara resmi berdiri.

PT Angkasa Pura I (Persero) diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk mengelola 13 bandar udara di Kawasan Tengah dan Kawasan Timur Indonesia serta mengelola 2 (dua) Cargo Warehousing serta Pusat Pengendali Lalu lintas Penerbangan, yaiitu:

1. Bandar Udara Ngurah Rai-Denpasar;

2. Bandar Udara Ahmad Yani-Semarang;

3. Bandar Udara Juanda-Surabaya;

4. Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin-Makassar;

5. Bandar Udara Sepinggan-Balikpapan;

6. Bandar Udara Frans Kasiepo-Biak;

7. Bandar Udara Sam Ratulangi-Manado;

8. Bandar Udara Adisutjipto-Yogyakarta;

9. Bandar Udara Adisumarno-Surakarta;

10. Bandar Udara Syamsuddin Noor-Banjarmasin;

11. Bandar Udara Pattimura-Ambon;

(43)

12. Bandar Udara Seleparang-Mataram;

13. Bandar Udara Eltari-Kupang;

14. Warehousing Bandar Udara Hasanuddin Makassar;

15. Warehousing Bandar Udara Sepinggan Balikpapan; dan 16. Pusat Pengendali Lalu lintas Penerbangan – Makassar.

B. Visi dan Misi Perusahaan 1. Visi Perusahaan

Visi PT Angkasa Pura I (Persero) adalah menjadi pengelola bandar udara kelas dunia yang memberikan manfaat dan nilai tambah kepada stakeholder.

2. Misi Perusahaan

Dalam rangka mewujudkan visi PT Angkasa Pura I (Persero), maka misi perusahaan diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan, yaitu:

a. Menyediakan pengusahaan jasa kebandarudaraan melalui pelayanan yang memenuhi keamanan, keselamatan dan kenyamanan.

b. Memberikan pengalaman suasana kebandarudaraan yang berkesan bagi pengguna jasa.

c. Meningkatkan nilai perusahaan dan kesejahteraan pegawai.

d. Mendukung peningkatan perekonomian untuk kesejahteraan masyarakat.

(44)

GAMBAR STRUKTUR ORGANISASI PT. ANGKASA PURA I (PERSERO)

KANTOR CABANG BANDAR UDARA INTERNASIONAL SULTAN HASANUDDIN – MAKASSAR

SUMBER : PT. ANGKASA PURA I (PERSERO) SULTAN HASANUDDIN INTERNASIONAL MAKASSAR 2014 GENERAL

MANAGER

KANIT SMK ATS DUTY MANAGER

MANAGER ATC

MANAGER

OPS.SUPPORTS MANAGER TEKNIK MANAJER

KOM,KEU,PUM

SAMAN ADC ASMAN APP

ASMAN PS &

KOMPEN ASMAN

RANGTIKA

ASMAN TEK.

OTOMASI

ASMAN PUM

ASMAN AKUNTANSI

&

ANGGARAN ASMAN ACC

I

ASMAN ACC

II ASMAN FDM ASMAN NAV.

RADAR

ASMAN TEL.

PEN

ASMAN PERBENDAHAR

AAN

ASMAN PENDAPAT

AN AERO ATS 31

(45)

D. Tugas dan Tanggung Jawab Setiap Divisi

Tugas dan tanggung jawab masing-masing divisi pada Kantor Cabang Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin ditetapkan berdasarkan Keputusan Direksi PT Angkasa Pura I (Persero) No. KEP.67/OM.00/2008 yang tersusun sebagai berikut:

1. General Manager (GM)

General Manager bertanggung jawab terhadap direksi. Fungsi dan tugasnya

adalah memberikan pengawasan terhadap setiap divisi dan dinas melalui data-data laporan yang disampaikan oleh setiap manajer.

2. Divisi Operasional Bandar Udara

Divisi Operasional Bandar udara memiliki fungsi pengelolaan pelayanan operasi Bandar udara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam rangka menyelenggarakan fungsi unit kerja, Divisi Operasional Bandar udara memiliki tugas-tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pelayanan jasa operasi terminal, sisi darat, dan penerangan bandar udara;

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pelayanan jasa operasi sisi udara bandar udara;

c. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pelayanan jasa operasi pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadaman kebakaran (PKP-PK) dan salvage.

Divisi ini terdiri atas 3 (tiga) dinas, dimana setiap dinas memiliki tugas membuat rencana kerja, penyelenggaraan, dan melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan

(46)

pelayanan jasa operasi bandar udara. Dinas-dinas di bawah divisi operasional Bandar udara antara lain:

a. Dinas Operasi Terminal, Sisi Darat, dan Penerangan Bandar udara

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan sisi darat (land side), terminal, dan penerbangan Bandar udara sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Operasi Bandar Udara.

b. Dinas Operasi Sisi Udara

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan operasi sisi udara (air side) sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Operasi Bandar Udara.

c. Dinas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadaman Kebakaran (PKP-PK)

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan operasi pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadaman kebakaran dan salvage sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Operasi Bandar Udara.

3. Divisi Sekuriti Bandar Udara

Divisi Sekuriti Bandar Udara memiliki fungsi pengelolaan pelayanan sekuriti penerbangan dan non penerbangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(47)

Dalam rangka menyelenggarakan fungsi unit kerja, Divisi Sekuriti Bandar Udara memiliki tugas-tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pemeriksaan/screening orang dan barang yang memasuki daerah terbatas (RPA dan NPA) di terminal penumpang maupun daerah kargo termasuk terminal khusus;

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan penjagaan pengamanan, ketertiban umum, pengoperasian CCTV sekuriti, patroli di kawasan terminal bandar udara;

c. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan penjagaan pengamanan, ketertiban umum, patroli di kawasan non terminal, objek vital, perkantoran, dan air side.

Divisi sekuriti Bandar udara terbagi atas 3 (tiga) dinas, yaitu:

a. Dinas Pemeriksaan/Screening Orang dan Barang

Bertanggung jawab sebagai penyelenggara sekuriti untuk pemeriksaan orang dan barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Sekuriti Bandar Udara.

b. Dinas Sekuriti Terminal Bandar udara

Bertanggung jawab sebagai penyelenggara sekuriti Bandar udara di wilayah terminal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Sekuriti Bandar Udara.

(48)

c. Dinas Sekuriti Non Terminal Bandar udara

Bertanggung jawab sebagai penyelenggara sekuriti Bandar udara di wilayah non terminal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Sekuriti Bandar Udara.

4. Divisi Teknik Umum

Divisi Teknik Umum memiliki fungsi pengelolaan penyediaan fasilitas teknik umum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam rangka menyelenggarakan fungsi unit kerja, Divisi Teknik Umum memiliki tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas bangunan untuk operasi penerbangan dan operasi bandar udara;

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas landasan, dan tata lingkungan bandar udara;

c. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas teknik alat-alat besar dan instalasi air.

Divisi teknik umum terbagi atas 3 (tiga) dinas, yaitu:

a. Dinas Teknik Bangunan

Fungsinya sebagai penyiapan pakai fasilitas bangunan gedung terminal, gedung kargo, bangunan gedung lapangan lainnya sesuai dengan

(49)

ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Teknik Umum.

b. Dinas Teknik Landasan dan Tata Lingkungan

Fungsinya sebagai penyiapan pakai fasilitas teknik landasan dan tata lingkungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Teknik Umum.

c. Dinas Teknik Alat-Alat Besar dan Instalasi Air

Fungsinya sebagai penyiapan pakai fasilitas teknik alat-alat besar, dan instalasi air sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Teknik Umum.

5. Divisi Teknik Elektronika dan Listrik

Divisi Teknik Elektronika dan Listrik memiliki fungsi pengelolaan penyediaan fasilitas teknik elektronika dan listrik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam rangka menyelenggarakan fungsi unit kerja, Divisi Teknik Elektronika dan Listrik memiliki tugas-tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas teknik elektronika bandar udara;

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas teknik listrik bandar udara;

(50)

c. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan fasilitas teknik mekanikal dan AC.

Divisi Teknik Elektronika dan Listrik terbagi atas 3 (tiga) dinas, yaitu:

a. Dinas Teknik Elektronika Bandar Udara

Bertanggung jawab sebagai penyiapan pakai fasilitas teknik elektronika sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Teknik Elektronika dan Listrik.

b. Dinas Teknik Listrik Bandar Udara

Bertanggung jawab sebagai penyiapan pakai fasilitas teknik listrik sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Teknik Elektronika dan Listrik.

c. Dinas Teknik Mekanikal dan AC

Bertanggung jawab sebagai penyiapan pakai fasilitas teknik mekanikal dan AC sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manager yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manager Teknik Elektronika dan Listrik.

6. Divisi Komersial dan Pengembangan Usaha (PU)

Divisi Komersial dan Pengembangan Usaha memiliki fungsi pengelolaan kegiatan komersial, pengembangan usaha dan pemasaran jasa-jasa kantor cabang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Divisi komersial dan pengembangan usaha memiliki tugas sebagai berikut:

(51)

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pengembangan usaha, pemasaran dan pembinaan pendapatan non aeronautika.

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pengembangan usaha, pemasaran dan pembinaan pendapatan aeronautika non air traffic services.

Divisi Komersial dan Pengembangan Usaha (PU) terbagi atas 2 (dua) dinas, yaitu:

a. Dinas Pendapatan Non Aeronautika

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pengembangan usaha, pemasaran, pembinaan, dan pemungutan jasa pelayanan non aeronautika sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Komersial dan Pengembangan Umum (PU).

b. Dinas Pendapatan Aeronautika Non ATS

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pengembangan usaha, pemasaran, pembinaan, dan pemungutan jasa pelayanan aeronautika non air traffic services sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin

oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Komersial dan Pengembangan Umum (PU).

(52)

7. Divisi Keuangan

Divisi Keuangan memiliki fungsi pengelolaan keuangan kantor cabang yang optimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam rangka penyelenggaran fungsi unit kerja, Divisi Keuangan memiliki tugas-tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan akuntansi dan anggaran bandar udara;

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan perbendaharaan bandar udara;

c. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Divisi Keuangan terbagi atas 3 (tiga) dinas, yaitu:

a. Dinas Akuntansi dan Anggaran

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pencatatan dan pelaporan akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, akuntansi persediaan, dan aktiva tetap serta penyusunan, pengendalian, dan pelaporan anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Keuangan.

b. Dinas Perbendaharaan

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas/bank, administrasi, dan penyimpanan utang piutang, dana, perpajakan, pengelolaan gudang persediaan, dan kegiatan administrasi lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang

(53)

asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Keuangan.

c. Dinas Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pengelolaan penyaluran dana serta pengendalian PKBL sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Keuangan.

8. Divisi Personalia dan Umum

Divisi Personalia dan Umum memiliki fungsi pengelolaan personalia, umum, hukum, Humas, Sistem Informasi Manajemen (SIM) serta data dan laporan kantor cabang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam rangka menyelenggarakan fungsi unit kerja, Divisi Personalia dan Umum memiliki tugas-tugas sebagai berikut:

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pengelolaan personalia bandar udara;

b. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pengelolaan ketatausahaan kantor, pelayanan umum dan hukum;

c. Menyiapkan, melaksanakan, mengendalikan, dan melaporkan kegiatan pengelolaan Sistem Informasi Manajemen (SIM), Data dan Laporan (Tapor) serta Hubungan Masyarakat (Humas).

Divisi Personalia dan Umum terbagi atas 3 (tiga) dinas, yaitu:

a. Dinas Personalia

(54)

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pengelolaan perencanaan, pengembangan, dan administrasi personalia sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Personalia dan Umum.

b. Dinas Umum dan Hukum

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan ketatausahaan kantor, pelayanan dan penyiapan fasilitas umum perkantoran serta pelayanan bidang hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Personalia dan Umum.

c. Dinas Sistem Informasi Manajemen (SIM), Data dan Laporan (Tapor) serta Hubungan Masyarakat (Humas).

Fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan Sistem Informasi Manajemen (SIM), Data dan Laporan (Tapor) serta Hubungan Masyarakat (Humas) sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dipimpin oleh seorang asisten manajer yang dalam menjalankan fungsi dan tugasnya bertanggung jawab kepada Manajer Personalia dan Umum.

9. Airport Duty Manager

Airport Duty Manager merupakan staf fungsional yang menyelenggarakan

kegiatan pengawasan, koordinasi, dan penanggulangan masalah pelayanan operasional kebandarudaraan selama waktu berlangsungnya kegiatan pelayanan Bandar udara, yang menjalankan tugasnya secara bergiliran

(55)

sehingga kegiatan operasional pelayanan jasa kebandarudaraan terjamin selalu berkualitas dan bernilai komersial tinggi sesuai dengan ketentuannya.

E. Gambaran Umum Operasi Perusahaan 1. Kegiatan Produksi

Kegiatan utama PT Angkasa Pura I (Persero) yaitu melaksanakan pelayanan jasa Bandar udara yang meliputi pelayanan pesawat udara, pelayanan angkutan barang serta pelayanan penerbangan (non aeronautika), maka PT Angkasa Pura I (Persero) mempunyai alat-alat produksi antara lain:

a. Landasan/Taxiaway/Apron, Ground Handling/GSE b. Tempat parkir kendaraan

c. Gedung

d. Alat-alat perhubungan udara

e. Alat-alat pengangkutan dan lain-lain f. Alat-alat kantor

g. Instalasi air h. Instalasi telepon i. Peralatan mekanikal j. Publik informasi sistem k. Detektor

Secara umum pendapatan PT Angkasa Pura I (Persero) terdiri atas 2 (dua) bagian, yaitu:

(56)

1. Pendapatan Aeronautika

Pendapatan Aeronautika adalah pendapatan yang berasal dari kegiatan yang berhubungan langsung dengan penerbangan, antara lain:

a. Pendapatan Jasa Pendaratan, Penempatan, Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U), yaitu pendapatan perusahaan yang diperoleh dari pendaratan, penempatan, dan penyimpanan pesawat udara airlines. PJP4U dikenakan pada perusahaan penerbangan domestik maupun internasional.

b. Pendapatan Jasa Pelayanan Penumpang Pesawat Udara (PJP3U), yaitu pendapatan yang diperoleh dari penumpang pesawat udara yang berangkat dan dikenakan bea pelayanan penumpang udara PSC (Passenger Service Charge). PSC dikenakan kepada penumpang domestik maupun

internasional.

c. Pendapatan Jasa Pelayanan Penerbangan Udara (PJP2U), yaitu pendapatan perusahaan yang diperoleh dari pelayanan pemandu dan pengguna lampu landasan oleh pesawat terbang, baik itu yang berasal dari domestik maupun internasional serta pesawat lintas udara di wilayah yuridiksi Bandar udara Sultan hasanuddin.

d. Pendapatan Jasa Pemakaian Garbarata (aviobridge usage)

Pengoperasian garbarata dilakukan oleh petugas AMC dan digunakan sebagai penghubung antara pesawat dengan boarding lounge di dalam terminal. Dengan pemakaian garbarata penumpang tidak perlu khawatir kepanasan, ataupun kehujanan. Pembebanan biaya dikenakan berdasarkan MTOW.

(57)

e. Pendapatan Extended Fee

Pendapatan yang berasal dari pelayanan jasa aeronautika yang diberikan kepada perusahaan penerbangan diluar jam operasi untuk penerbangan domestik atau internasional.

2. Pendapatan Non Aeronautika

Pendapatan Non Aeronautika adalah pendapatan yang berasal dari kegiatan yang secara tidak langsung berhubungan dengan penerbangan atau dengan kata lain memberikan dukungan kepada penerbangan agar dapat berjalan dengan lancar, antara lain:

a. Pemakaian counter, adalah jumlah penumpang pesawat udara yang menggunakan counter yang dinyatakan dalam satuan pax serta dibedakan untuk penerbangan dalam dan luar negeri.

b. Sewa ruang, merupakan jumlah dari seluruh ruangan yang terjual untuk disewakan dalam satuan m2x bulan.

c. Konsesi, merupakan jumlah penjualan kotor dari konsesi yang berusaha dalam Bandar udara yang dinyatakan dalam satuan rupiah (omzet).

d. Sewa tanah, merupakan jumlah luas tanah yang disewakan untuk pemakai jasa yang dinyatakan dalam satuan m2x bulan.

e. Parkir mobil, merupakan jumlah karcis parkir mobil yang terjual dan dinyatakan dalam satuan lembar.

f. Pemakaian listrik, merupakan jumlah pemakaianlistrik yang digunakan oleh pemakai jasa dan dinyatakan dalam satuan Kwh.

Figure

Updating...

References

Related subjects :
Outline : Penjualan Jasa

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in