LAPORAN PENI:i:LITfAN
PRINSIP-PRINSIP KEPARIWISATAAN DAN HAK PRIORITAS MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PARIWISATA
BERDASARKAN UNOANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG KEPARIWISATAAN
•
Peneliti:
Dr. Ocwn Cdc Uudy, SII., M.1Junl
PEN1~LrrIAN MANDIRI
FAKULTAS HUKUM IINTVERSITAS UDA YANA
DENPASAR 2017
HALA.MAN PENGESAUAN
I. Judul Pcnclitian : Prinsip - Prillsip Kepariwisal3.1n d"n Hak Prorilas Mas)'<uakal Dalam Pl:'llg.:loloaan Pariwism....
Bcrdasarkan Undans-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tellumg Kcpariwis.1taan
2. Penelili
3. X:ml~ lengktlp : Or. Oewa Gde Rudy. SH.,M.Hum b. PangkatlGollNlP : Pc-mbina n. I' 'Vb 119590114198601 1001 c. Jabalan FuogsionalJ : Lektor Kcpaln
Struktural
d. Pcngnlnman P.::nelitian : (Terlampir dalam CV)
c. Alamal rumall / HP : Jalan Baluyang Gall&\. Bangau V.C No.5 Bmubulan GIEln)'ar' Hp. 081337005156
f. E-mail
3. Jumlall Tim Penclilian .Iomng 4. Lokasi Pcnclitian
5. Jangka ~~aklu Penelitian : 3 (llga) bulan
6. Biaya yans diperlukal1 : Rp. 5.000.000,- (LimajuL.1 mpiah)
Mengclahui, Denp;\Sar, 11 Juli 2017
Ketua Bagian PencliLi,
Hukum Kcptrdataan ,
(Dr. Dewa Cdc Hud)', SH.,M.Hum)
NIP. 195503061984031003 NJP. J9590JH1986011001
~MIi)
ABSTRAK
Penelitian . i berjudul "Prinsip-Prinsip Kepariwisataan Dan Hak Prioritas Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Berdasarkan Undang
ndang Nomor LO Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan '. Fokus penelitian, pertama mengenai Prinsip-prinsip p nyelenggaraan kepariwisataan dalam Undang-Undang Pariwisata, kedua lengenai hak prioritas masyarakat dalam pengelolaan pariwisata.
Penelitian ini tennasuk penelitian hukum norrnatif yang didasarkan kepada. data sekunder yang terdiri d.ari : bahan hukwn primer dan bahan hukum se nder. Dari bahan-bahan huku yang ada diolah dan analisis secara kualitatif serta kemudian disajikan secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa prinsi dalam penyelenggaraan kapariwisataan menurut Undang-Undang Pariwisata~ a Menjunjung tinggi Norma Agama dan nilai budaya, b. Menjunjung tinggi hak azasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lolcal, . Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan kesetaraan, dan proporsionalitas, d. MemeJihara kelestarian alam dan lingkungan hidup, e.
Menjarnin keterpaduan antar sektor antar daerah antara pusat dan daerah~ f.
Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan intemasional dalam bidang kepariwisataan g. Memperkokoh keutuhan Negara esatuan Republik Indonesia. Kemudian masyarakat mempunyai ak priori as menjadi pekeIja, konsinyasi, dan pengelolaan dalam bidang usaha pariwisata. Masyarakat mempunyai daya tawar yang lebih dalam menentukan sendiri serta menikmati keuntungan pariwisata yang terd",pat di wilayahnya
Kata kunci: Prinsip-Prinsip Kepariwisataan Hale Prioritas Masyarakat, Pengelolaan Pariwisata
KATAPENGANTAR
..,
Dengan memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa maka aya dapat menyelesaikan Laporan Basil PeneJitian ini esuai dengan jad al penelitia yang sudah ditetapkan. Meskipun laporan hasil peneLitian iill masih jauh dari sempuma, namun saya tetap bersyukuT bahwa saya dapat menyelesalkannya m ngingat fanggungjawab dan tuntutan keitmuan.
Berkat bantuan daTi berbagai pihak, maka penelitian ini dapat diselesaikan, dan untuk iill tidak lupa aya ucapkan banyak terima kasih.
Menyadari hasil penelitian ini masih jaub dari empuma, namun saya tetap berharap semoga basil penelitian yang 5angat sederhana ini ada manfaatnya bagi perkembangan ilmu hukum di masa mendatang
Denpasar, 11 Juli 2017 Peneliti,
DAFfARISI
BABI PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakaog Masalah
Pariwisata merupakan salah
sam
andal dalam perolehand visa bagi pembangunan baik nasional maupun daerah.1 Hal ini sejalan dengan fungsi kepariwisataan sebagaimana tercantuID dalam Pasal 3 ndang-Undang Nomor 10 Tabun 2009 Tentang
Kepariwisataan berfungsi memenuhi jasmani, rohani dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan egara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.2 Demikian pula dengan tujuan kepariwisataan ito dinyatakan antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan.3
Pariwisata juga dapat dikatakan sebagai katalisator dalam pembangunan karena dampak yang diberikannya terhadap kehidupall perekonomian di Negara yang dikll.qjungi wisatawan.4 Tidak dapat dipungkiri sektoT pariwisata sa:r:npai saat ini masih diharapkan sebagai penghasil de ·sa yaner handal untuk membangun perekonomian Negara.
1 Made Metu Dahana, 2012, Perlindungan Hukum dan Keamanan Terhadap Wisatawan, Parami Surabaya, him. t.
2 Ibid, hIm. 2
3 Ibid.
.. Oka A. Yoeti, 2008, Ekonomi. Pariwisata Informasi dan Ap/ikasi PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta, blm. 25
Tidak dapat dipungkiri pula dengan kedatangan wisatawan mancanegara (foreign tourists) pada daerab tujuan wisata telah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi pendudukJ masyarakat setempat dimana pariwisata itu dikembangkan.5
Pariwi5ata merupakan f8.ktor penting dalam pembangunan ekonomi suatu Negara, karena mendorong perkembangan beberapa sektor perekonmian nasional misalnya~
a. Peningkatan kegiatan perekonomian sebagai akibat dibangunnya prasarana dad sarana demi pengerobangan pariwisata.
b. Meningkatkan industri-industri bam yang erat kaitannya dengan pariwisata.
c. Meningkatkan hasil pertanian dan petemakan untuk kebutuhan hotel dan restoran.
d. Meningkatkan permintaan terhadap handicraft. souvenir goods, art painting dan lain-lainnya.
c. Memperluas barang-barang lokal untuk Iebih dikenal oleh dunia internasional. termasuk makanan dan minuman.
f. Meningkatkan peroleban devisa Negara, sehingga clapat mengmangi beban defisit neraca pembayaran.
g. Memberikan kesempatan berusaha, kesempatan kerja peningkatan penerimaan pajak bagi pemerintah, dan peningkatan pendapatan nasionaJ.
h. Membantu membangun daerah-daerah terpencil yang selama ini tidak tersentnb pembangunan.
1. Mempercepat perputaran perekonomian pada Negara
negara penerima kunjungan wisatawan (Tourist Receiving Countries).
j. Dampak penggandaan yang idtimbulkan pengeluaran wisatawan, sehingga memberi dampak positif bagi pertmnbuhan Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang dikunjungi wisatawan.6
Mengingat begitu pentingnya pariwisata bagi perekonomian suatu Negara, maka pariwisata itu
hams
dikelola dengan sebaikbaiknya agar hetul-betul dapat mendatangkan kesejahteraan bagi
5 Ibid.
G Ibid, him. 27
rnasyarakat. Jadi pengelolaan tersebut dapat diartikan sebagai sua proses perencanaan. kebijaksanaan penyelenggaraan, serta pemanfaatan umber daya alam yang terkandung didalamnya secara berkel anjutan.
Definisi dan pengertian pengelolaan menggunakan beberapa pemahaman7, yaitu: Proses rnempertimbangkan hu' ungan timbal balik antara kegiatan pembangunan yang secara potensial terkena dampak kegiatan-kegiatan tersebut. Dapat juga diartikan sebagai suatu proses penyusunan dan pengarnbilan keputusan secara rasional tentang pemanfataan segenap sumber daya alam yang terkandung didalamnya secara berkelanjutan. DaIam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007, pengelolaan berarti suatu proses perencanaan.,
pemanfataan dan pengendalian pemanfaatan.8
Terkait dengan pengelolaan pariwisata, terkait dengan sejumlah prinsip-prinsip pengelolaan yang pada dasamya menekankan pada nilai-nilai kelestarian lingkungan aIarn komunitas, dan nilai-nilai sosial yang memungkinkan wisatawan menikrnati kegiatan wisatanya secara bermanfaat bagi kesejahteraan komunitas lokal.
Snatu kegiatan kepariwisataan demikian sangat kompleks, karena bersentuhan dengan berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Sebenarnya mengenai pengelolaan (manajemen) s' tern pariwisata memerl ukan pembahasan yang komprehensif dan detail. ngan adanya sistem pengelolaan yang baik yang mengacu pada prinsip
"'aI:!:1J:l~l~··'o,! p..,..~~=. diakses tanggal 14 April 2010, pukuJ 13.00 WITA
8 Undang-Undang Republik indonesia No. 26 Tahun 2007, Tentang Penataan Ruang.
prinsip pengelolaan berdasarkan ketentuall yang ada di masing-masing Negara tujuan wisata, diharapkan kegiatan kepariwisataan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Terkait dengan pengelolaan pariwisata, terikat dengan sejumlah prinsip-prinsip pengelolaan yang pada dasarnya menekankan pada nilai-nilai kelestarian lingkungan alam, komunitas dan nilai-nilai osial yang memungkinkan wisatawan menikmati kegiatan
. atawanya secara bermanfaat bagi kesejahteraan komunitas lokaL Suatu kegiatan kepariwisataan demikian sanga kompleks karena bersentuhan dengan berbagai bidang kehldupan masyarakat.
Sebenamya mengenai pengelolaan (manajemen sistem pariwisata memerlu ran pernbahasan yang komprehensif dan detail. Dengan adanya sistem pengelolaan yang baik yang mengacu pacta prinsip
prinsip pengelolaan berdasarkan ketentuan yang ada di masing-masing Negara tujuan wisata, diharapkan kegiatan kepariwisataan dapat menin 'atkan pertumbuhan ekonomi dan kesejabteraan masyarakat.
Pengelolaan kepariwisataan melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintab pemerintah daerah, pihak swasta (pelaku usaha pariwisata) dan masyarakat yang diharapkan ikut berpartisipasi. Yang dimaksud mengelola menurut ketentuan Pasa! 18 Undang-Undang Nomor 10 Tabun 2009 Tentang Kepariwisataan adalah merencanakan, mengorganisasikan, dan mengendalikan semua urusan kepariwisataan.
alam penelitian ini akan diteliti Prinsip-Prinsip Pengelolaan Penyelnggaraan Kepariwisataan mengacu pada Undang- ndang
Nomor 10 Tabun 2009. Selain itu, akan diteliti pula tentang hak prioritas masyarakat dalam pengelolaan pari· .sam. alam konteks yang terakhir ini yang dibahas tidak hanya menyanglcut partisipasi tetapi juga hak: masyarakat dalam pengelolaan pariwisata.
1.2. Rumusan Masalab
erdasarkan latar bela ang masalah sebagaimana telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan 2 (dua) masalah pokok sebagai berikut;
1. Bagaimana prinsip~prinsip penyelenggaraan kepariwisataan m nurot Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan ?
2. Bagaimana mengenai hak prioritas masyarakat daIam pengelolaan menurut Und ng-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan ?
BASH
TINJAUAN PUSTAKA
Kepariwisataan adalah selunlh kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat ultidimensi serta multidisiplin yang Wlcul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara Wlsatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pe erintah Pemerintah Daerah dan pengusaha.9
Kepariwisaman meropakan bagian integral dad pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis. terencana, terpadu, berk:elanjutan dan bertanggungjawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama. budaya yang hidup dalam masyarakat. kelestarian dan mutu lingkungan hidup serta kepentingan nasionaL10
Undang-Undang Nemer 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, materi muatannya demikian luas, beberapa diantaranya adalab memuat tentang azas. fungsi, ujuan kepariwisataan, pembangunan kepariwisataan yang komprehensif dan berkelanjutan, serta prinsip-prinsip penyelenggaraan kepariwlsataan. Seperti dimuat dalam ketentuan asal 4 Undang- ndang Kepariwisataan, tujuan penyelenggaraan kepariwisataan adalah;
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat 3. Menghapus kemiskinan
4. Mengatasi pengangguran
5. Melestarikan alarn, lingkungan dan sumber daya 6. Memajukan kebudayaan
7. Menyangkut citra bangsa
9 Pasal I Angka 4 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009
10 Bagian Menimbang Huruf C Undang~Undang Nomor 10 Tahun 2009
8, Memupuk: rasa cinta tanah air
9. Memperkukuhjati diri dan kesatuan hangsa 10. Mempererat persahabatan antar bangsa
Salah satu hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam pembangunan pariwisata, khususnya d.i Bali adalah meni gkatkan peran serta masyarakat toka!. Peran serta masyarakat dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penikmatan hasilnya. Hal ini dilakukan dengan berbagai tahapan, seperti empowering, awareness program, protecting, motivating, dan seterusnya. Inilah sesungguhnya mempakan implementasi dari konsep pariwisata berhasis kerakyatan. II
Dalam kegiatan pembangun~ partisipasi masyarakat m rupakan peIWUjudan kesadaran dan keadilan serta tanggung jawab masyarakat terhadap pentingnya pembangunan yang bertujuan untuk memperbaiki utu hidup mereka, artinya melalui partisipasi yang diberikan. berarti benar-benar menyadari bahwa kegiatan pembangunan bukanlah sekedar kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemerintah sendlri, tetapi enuntut ketertiban masyarakat.12
Undang-Undang Kepariwisataan enclid menegaskan bahwa setiap orang dan atau masyarakat berhak berperan dalam proses pembangunan kepariwisataall. Masyarakat di dalam dan disekitar destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas menjadi buruh atau pekerja, konsinyasi dan peng lolaan. Yang dimaksud dengan pengelolaan disini adalah hak
11 Penyunting I Wayan Ard 'a, 2003, Pariwisala Budaya Berkelanjutan: Refleksi dan Harapan Di Tengah Perlcembangan lobal, Program Studi Magister (82) Kajian Pariwisata Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, hIm. 63.
1.2 otok Mardikanto, H. Poerwoko Soebianto, 2012, Pemberdayo(U/ Masyarakal Do/am Perspe/uifKebijakan Publilc, Alfabeta, Bandung, him. 82.
masyarakat untuk mengusahakan s b r daya yang dimiliki dalam menunjang kegiatan usaha pariwisata.
Berdasarkan ketentuan tersebut, bahwa masyarakat .dak. diposisikan sebagai masyarakat yang termarginalkan akibat pengaruh pariwisata.
Sebaliknya roasyarakat diposisikan sebagai pihak yang mempunyai posisi tawar yang diutamakan dalam rnenentukan setiap kebijakan atau keputusan dibidang kepariwisataan. Dalam pengelolaan pariwisata kepada masyarakat diberikan bak untuk mengusahakan sumher daya yang dimiliki dalam menunjang pariwisata.
BABm
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan lmum penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Prinsip-Prinsip Pengelolaan Penyelenggaraan Kepariwisataan berdasarkan ndang-Undang Nomor 10 Tabun 2009 Tentang Kepariwisataan.
2. Tujuan &husus
a. Untuk mengetahui tentang prinsip-prinsip pengelolaan penyelenggaraan kepariwsataan berdasarkan Undang-Undang Nomor lOTahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
b. ntuk mengetahui tentang bak prioritas masyarakat dalam pengelolaan kepariwisataan berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tabun 2009 TentangKepariwisataan.
3.2. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini mempunyai manfaat teoritis bagi pengembangan keilmuan, khususnya pengembangan dibidang Hukum Kepariwisataan yang memang penting artinya bagi dunia kepariwisataan.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini mempuny~,i manfaat praktis bagi pemerintah, khususnya pembw.:i Undang-i. ndang untuk menyediakan perangkat hu~:.um di bidang kepariwisataan. Dalam perumusan peraturan perundang-undangan, penelitian ini (,,:,pat menjadi kontribusi masukan.
BABIV
METODE PENELITIAN
4.1. Jeois Peoelitiao
Penelitian yang menyangkut bidang kepariwisataan ini daJam ranah ilmu bukum~ terrnasuk penelitian hukum nonnatif. yaitu penelitian _aug memfokuskan analisa pada nonna bukum dan meletakkan nonna hukum sebagai obyek penelitian. 13 Nonna hukum yang dimaksud adalah norma hukum dalam Undang-Undang Kepariwisataan.
4.2. Jenis Pendekatan
Penelitian iill menggunakan beberapa jenis pendekatan, yaitu pendekatan perundang-undangan (the statue approach) dan pendekatan analisa konsep hukum (analytical and conceptual approach).
Pembahasan terhadap permasalahan penelitian akan diberikan argumentasi hukum dengan berlandaskan pada teori azas, dan konsep atau prinsip hukum yang relevan.
4.3. Sum er Baban Hukum
Mengingat penelitian ini tennasuk penelitian hukum nonnat:if~
maka bahan hukum yang dipergunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer" yaitu herupa peraturan rundang-undangan di bidang kepariwisataan, khususnya
13 Hans Kelsen, 2008, PenganJar Teori Hulmm, Nusa Media, Bandung, hIm. 62
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
Sedangkan bahan hukum sekunder, yaitu berupa karya ilmiah dari pam ahli hukum dalam bentuk buku teks hukum jumal hukum, dan bentuk karya tulis lainnya.
4.4. Teknik Pengumpul n Bahao Hukum
Baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder teknik pengumpulannya dila:k:ukan melalui tekinik dokumentasi (study dokumen). Penggunaan teknik dokumentasi ini tujuannya adalah untuk mencari konsepsi-konsepsi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. 14
4.5. Teknik Aoalisis BahaD Hukum
Bahan hukum yan berhasil dikumpulkan kemndian dianalisis secara alitatif, yaitu dengan menguraikan bahan-bahan hukum yang mempunyai kualitas secara sistematis dan logis. Setelah melalui proses analisa, selanjutnya bahan-bahan hukum tersebut disajikan seeara deskriptif.
14 onny Hanitidjo Sumitro, 1988, Metodologi Penelitian Hukum Dan Yurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 98
BABV
BASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan
Sesungguhnya pariwisata telah lama menjadi perhatian, baik dari segi ekonomi, politi administrasi kenegaraan, maupun sosiologi.15 Pariwisata seringkali dipandang sebagai sektor yang sangat terkemuka dalam ekonomi dunia. r6 Tidak sedikit Negara- Negara di dania menggantungkan harapan kemajuan dibidang ekonominya pada sektor pariwisata.
Pada kenyataan, dalam. pembangunan konomi suatu Negara, sektor pariwisata telab menjadi perhatian yang sangat erius.
Pengelolaan penyelenggaraan kepariwisataan diarahkan dan direncanaka secara matang, sehingga betul-betul dapat membawa manfaat tidak: aja untulc generasi sekarang, tetapi juga untuk generasi mendatang.
Dalam konteks pembangungan kepariwisataan telah dianut pembangunan kepariwisataan berkelanj utan. Pembangunan berkelanjutan sudah begitu fashionable dalam beberapa dasawarsa terakhir ini.n Pembangunan berkelanjutan mencakup usaha Wltuk mempertahankan integritas dan diversifikasi ekologis memenuhi
IS 1 Ketut uwena dan I Gusti Ngurah Widyatmaja.. 20 10, Pengetahuan Dasar Ilmu Kepariwisaman, Udayana Press, Denpasar, hIm. 12
16 James J. Spillane. SJ, 1994, PariwisaJa Indonesia Siasal Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta, hlm. 36.
11 K. Sukardika, 2004, MenaJa Bali Kedepan. Kebijakan Kullural. Pendidikan Agama CV. Bali Media Adikarsa, Denpasar, him. 76
6. Promosi atau dukungan terhadap berbagai bentuk alternative kegiamn pariwisata ang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangungan berkelanjutan.
7. Pemerintah barns mendukung dan berpartisipasi dalam nciptaan jaringan untuk penelitian, diseminasi informasi, dan transfer pengetahuan tentang pariwisata dan teknologi pariwisata ber lanjutan.
8. Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan
dukungan dan sistem pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kela.. akan untuk transformasi sektor, dan
pr gram kerjasama intemasional. L9
Pembangunan erkelanjtitan harns mencakup tiga prinsip, yaitu· 1) Ecological Suslainabilfty. 2) Social and Cultural Suslainability, dan 3) Economic Sustainability baik untuk generasi yang sekarang maupun generasi yang akan datang.2°
Dalam perkembangan Pariwisata erkelanjutan, p nekakan berkelanjutan bahkan tidak cukup rk.elanjutan ekolo' dan berkelanjutan pembangunan ekonomi. Yang tidak kalah pentingnya adalah berkelanjutan ebuday~ karena kebudayaan merupakan
19 IGN. Parikesi1 Wi iatedja, 20 II, Kebijakan Liheralisasi Pariwisala Konstru/csi Konsep Ragam Masalah dan A/lernatifSolusi Udayana University Press. Denpasar. hlrn.
23-24.
20 K. Sukardika. Op. Cit hIm. 77
salah satu sumber daya yang angat enting dalam pembangunan . . J]
kepanwlsataan. -
Menyentuh sektor pariwisata. Undang-Undan Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Kepari .sataan mengamanatkan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan ecara sisternatis, erencana, terpadu. erkelanjutan, dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terbadap nilai-nilai agama,. budaya yang hidup dalam masyaraka4 kele tarian dan mutu lingkungan hidup serta kepentingan nasional.
Pasal 2 lalu menegaskan bahwa salah satu prinsip penyelenggaraan kepariwisataan ada lab berkelanjutan.
Berdasar kerangka postulasi tersebut, maka langkah strategi elanjutnya adalah menjabarkannya dalam serangkaian kebijakan yang tentunya berikbtiar untuk mendorong, memperkuat, dan menegakkan konsep pengembangan pariwisata secara berkelanjutan. Dalam tata k.elola dan penyelenggaraan kepariwisataan hendaknya mengacu pada konsep pem angunan pariwisata berkelanjutan sebagaimana ditegaskan dalam P 2 Undang-Undang
ornor 10 Tah 200 .
.2. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Kepariwisataan
Pentingnya peranan pariwisata dalam pemhangunan ekonomi diberbagai Negara sudah tidak diragukan Iagi. Banyak Negara sejak
21 K. ukardika. Loc. Cit.
22 ION. Parikesit Widiatedja, Gp. Cit, hlm. 76
beberapa tahun terakhir menggarap pariwisata secara serius dan menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan.23 Pariwisata dengan berbagai aspek sitifn. a dipandang sebagai passport to development.
new kind of sugar, fool regional development, invisible export. non~
polluting industry, dan sebagainya.24
Menginga: pentingnya peranan pariV\orisata itu, maka pengelolaannya harus strategis dan memperhatikan prinsip-prinsip penyelenggaraannya yang sesuai dengan Undang- ndang Kepariwisataan (Nomor 10 Tahun 2009).
Pengelolaan pariwisata haruslah engacu pada prinsip-p' ip pengelolaan yang menekankan nilai-nilai kelestarian lingkungan alam, komunitas, dan nilai sosial yang memungkinkan wisatawan menikmati kegiatan wisatanya erta bermanfaat bagi kesejahteraan komunitas loka!. Menurut Cox (1985 dalam Bowling dan Fennel 2003: 2), pengelolaan pariwisata hams memperhatikan prinsip_prinsip:25
1. Pembangunan dan pengembangan pariwisata haruslah didasarkan pada kearifan lokal dan special local sense yang merefleksikan keunikan peninggalan budaya dan keunikan lingkungan.
2. Preservasi proteksi, dan peningkatan kualitas sumber claya yang menjadi basis pengembangan kawasan pariwisata.
3. Pengembangan atraksi wisata tamb an yang mengakar pada khasanah udaya lokal.
23 I Gede Pitana, 2002. Waharw Peleslarian Kebudayaan dan Dinarnika Masyaraltat Bali Universitas Udayana, Denpasar hlm. 3
1<4 Ibid
25 I Gede Pitana dan I Ketut Surya Diarta., 2009, Pengantar Ilmu Pariwisata. CV. Andi Offset, Yogyakarta, him. 1
4. Pelayanan kepada wisatawan yang berbasis keunikan budaya dan lingkungan lokal.
5. Memberikan dukungan dan legitimasi pada pembangungan dan pengembangan pariwisata jika terbukti memberikan manfaat positif tetapi sebaliknya mengendalikan danlatau menghentikan aktivitas pariwisata ersebut jika melampaui ambang baw (carrying capacity) lingkun an alam atau akseptabilitas sosial waIaupun disisi lain mampu meningkatkan pendapatan masy akat
Prinsip penyelenggaraan kepariwisataan di Indonesia didasarkan pada ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang epariwisataan. Berdasarkan ketentuan Pasal 5
dimaksu~ Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip .
a. Menjunjung tinggi norma agama dan niIai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antar manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antar manusia dan. sesama manusia, dan hubungan antar manusia dan lingkungan.
b. Menjunjung tinggi hak azasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan Iokal.
c. Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakya keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas.
d. Memelihara kelestarian slam dan lingkungan hidup.
e. Memherda akan. masyarakat setempat.
f Menjamin keterpaduan antar sektor, antar dae~ antara pusat dan daerah ang merupakan sa kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serna keterpaduan antar pemangku kepentingan.
Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam idang pariwisata; dan
h. Memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan RepubIik Indonesia.
Pada dasamya penyelenggaraan kepariwisataan eperti tersebut diatas mengandung prinsip yang mulia serta memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan budaya serta berlandaskan pada hak azasi manusia. Selain itu penyelenggaraan kepariwisataan dilandaskan pada kearifan lokal dan dapat memperdayakan masyarakat se1empat.
Slain erikat dengan prmslp-pnnslP penyelenggaraan s bagaimana dimaksu Pasal 5 ndang-Undang Kepariwisataan, Pembangunan Kepariwisataan diselenggarakan berdasarkan azas-azas sebagaimana iatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepariwisataan, yaitu; 1 Azas manfaat, 2 Azas kekeluargaan 3) Azas adil dan merata, 4) Azas keseimbangan, 5) Azas kemandirian, 6) Azas kelestarian, 7) Azas partisipasi, 8) Azas berkelanjutan 9) Azas demokratis 1 ) Azas kelestarian dan 11) Azas kesatuan.26
5.3. HakPrioritas Bagi Masyarakat Dalam Pengelolaan Pariwisata Dala pengelolaan pariwisata perlu melibatkan masyarakat atau partisipasi rnasyarakat. DaLam konteks ini asyarakat diikutsertakan da1am pengelolaan (perencanaan dan penyelenggaraan) kepariwisataan. Masyarakat harns aktif dalam keputusan-keputusan publiklpemerintah dalam bidan kepariwi at3M.
Partisipasi masyarakaf7 yaitu melibatkan seluruh warga dalam
pengelol~ seperti adanya iostitusi partisipasi masyarakat dalam
26 Made Metu Dahana, Op. Cil, him. I
27 Bobi, 2002 Modu/ Latihan Pengelolaan Perlwtaan Tinglcat Dasar; Permasalahan Keuangan Kelembagaan dan PeraturQ1J, Magister Perencanaan Kora dan Daerab. UGM, Yogyakarra, hlm. 5
pengambilan keputusan (forum dengar pendapat survey masyarakat) dan adanya lembaga-Iern aga masyarakat ang memliki bak an kernampuan untuk memberikan pendapat pada pemerintahan (asosiasi.
perkumpul lingkung~ RT/RW). Masyarakat harns aktif dalam institusi dan 1 mbaga untuk mempengaruhi keputusan publik.
Keuntungan dari pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, yakni meOlbantu menciptakan peluang barn bagi pengembangan kehidupan masyaraka pengembangan regional untuk mempelajari masa lampau, dan rnampu mempromosikan keseimbangan lingkungan allllll, benda eagar budaya tempat tinggal yang nyaman dan local genius.28
Pada bagian 1~ seperti ditegaskan dalam ketentuan Pasal 19 Unctang-Undang Kepariwisataan (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009) rnengatur rnengenai hak seseoranglmasyarakat terkai dengan kegiatan kepariwisataan sebagai berikut;
1) Setiap orang berhak
a. Memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata b. Melakukan usaha pariwisa
c. Menjadi pekerja/burub pariwisata danlatau
d, Berperan dalam proses pembangunan kepariwisataan 2) Setiap orang danlatau masyarakat di dalam dan disekitar
destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas;
a Menjadl peketjalburuh b. Konsinyasi, danlatau c. Pengelolaan
Berdasarkan penjelasan ketentuan Pasal 19 ayat 2 disebutkan bahwa dimaksud dengan pengelolaan dengan pengeloaan adalah hak masyarakat atau setiap orang untuk mengusahakan su her daya yang dimili 'nya dalam menunjang kegiatan usaha pariwisata, misaJnya
2l\ Madiun, 2010, Nuso Duo ModeJ Pengembangan Kawasan Wisata Modern, Udayana University Press, DenpasM, hlm. 53,
menyediakan angkutan disekitar destinasi untuk men~jang
pergerakan wisatawan.
Dari perspektif pekerja dan masyarakat pariwisata, PasaJ 19 ayat 2 ndang-Undang Kepariwisataan menyatakan setiap orang dan masyarakat didalam dan disekitar destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas menjadi pekerja/buruh. kODSinyas~ dan pengelolaan.
Konstruksi ini menjadikan masyarakat sekitar tidak lagi menjadi kOlmmitas marginal dan emiliki daya tawar (bargaining position) yang lebih baik untuk dapat menentukan sendiri dan me' ati keuntungan pariwisata yang terdapat diwilayabnya.29
Pembangunan pariwisata kerakyatao keuangan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan merupakan pemberdayaan masyarakat dengan lebih banyak memberi peJuang untuk berpartisipasi dalam pembangunan kepariwisataan. Dengan memberikan hak kepada m arakat guna memobilisasi kemampuan rnereka sendiri di dalam mengelola sumber claya set mpat. Kedudukan masyarakat disini adalah sebagai pemeran utama dalam membua keputusan dan rnelakukan control terhadap kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi kehidupannya.
Pemherian hak prioritas kepada masyarakat, khususnya masyarakat 10 I untuk mengelola pariwisata dapat kiranya di rikan argumentasi yang mengacu pandangan korten, yang dikenal dengan Community-Based Resource Management atau ommunity
29 IGN. Parikesit Widiatedja, Gp. ii, hlm. 76.
Management. Ada 3 (riga) alasan dasar yang diajukan Korten mengenai mengapa Community Manag ment sangat penting sebagai dukungan dasar pernbangunan yaitu;
Pertama, adanya local variety (variasi loka!) yang tidak dapat diberikan perJakuan sarna. Situasi daerah yang berbeda menuntut sistem pengelolaan yang berbeda pula dan masyarakat lokallah yang paling memahami situasi daerahnya Kedua, adanya local resources (sumber daya lokal) yang secara tradisional elab dikelola aleh masyarakat setempat dan generasi ke generasi. PengaIaman mengelola sumber daya setempat yang telah diwariskan secara tunm temurnn umumnya menimbulkan akumulasi pengetahuan tentang pengelolaan.
Penga.lllbiialihan pengelolaan ini akan dapat menimbulkan rasa ketersinggungan masyaraka dan masyarakat bersikap antipasti rhadap proyek pembangunan. Ketiga, local accountahility (tanggungjawab lokal) yang berarti babwa pengelolaan yang dilakukan olch masyaraka setempat biasanya lebih bertanggungjawab, karena berbagai hal yang mereka lakukan terhadap sumber daya akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan mereka. Pengelolaan oleh pihak Iuar kerap tidak mengandung kedekatan moral dengan masyarakat loW, sehingga tidak merasa mempunyai tanggungjawab moral yang tinggi.30
30 mG. Pudjaastawa, dk.k 2005, PariwisaJa Terpadu A/lernaJifMode/ Pengembangan Pariwisata Bali Tengah. Universitas Udayana. Denpasar) hIm. 30.
BABVl
PENUTUP
6.1. KesimpuJan
Berdasarkan pembahasan sebagairoana diuraikan diatas terkait dengan pokok pennasalahan, maka dapat diberikan kesimpulan sebagai berikut ;
1. Penyelenggaraan kepariwisataan berdasarkan ketentuan Pasal 5 ndang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan didasarkan pada beberapa prinsip, yaitu;
a. Menjunjung tinggi Norma Agama dan nitaJ budaya
b. Menjunjung tinggi hak azasi manusia., keragaman budaya, dan kearifan lokal
c. Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan kesetaraan, dan proporsionalitas
d. Memelibara kelestarian alam dan lingkungan bidup
e. Menjarnin keterpaduan antar sektor antar daerah, antara pusat dandaerah
f. Mematuhi k de etik kepariwisataan dunia dan k.esepakatan intern ional dalam bidang kepariwisataan
g. Memperkokoh keutuhan egara Kesatuan Republik Indonesia 2. S tiap masyarakat mempunyai hale prioritas menjadi
pekerja/buruh konsinyasi dan pengelolaan dalam bidang usaha pariwisata. Dalam konteks pengelola ini setiap masyarakat
l
diberikan hak untuk mengusahakan sumber daya yang dimilikinya dalam bidang usaha pariwisata. Konstruksi ini menjadikan masyarakat sekitar tidak: Iagi menjadi komunitas marginal tetapi
III miliki daya tawar (bargaining position) ang lebih dalam menentukan sendiri dan menikmati keuntungan pariwisata yang terdapat diwilayahnya.
6.2. Saran
1. Dalam mengelola penyelenggaraan kepariwisataan di Daerah hendaknya mengacu pada ketentuan hukum ormatif sebagaimana ertuang dalam Undang-Undang Nomor 10 Tabun 2009 Tentang Kepariwisataan dengan mengedepankan prinsip-prinsip dan azas
azas penyelenggaraan kepariwisataan nasional.
2. Dalam pengelolaan kepariwisataan sesuai dengan ketentuan ndang-Undang Nomor 10 ahun 2009, hendaknya melibatkan partisipasi masyaraka1. Dalam konteks ini, masyarakat diikutsertakan mulai dari perencanaan dan penyelenggaraan kepariwisataan. Masyarakat hendaknya diberikan peluang untuk.
berkontribusi aktif dalam setiap keputusan dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dibidang kepariwisataan.
DAFTARBACAAN
Buku
Bobi. 002 Latihan PengeIoIaan Perkotaan Tingkat Dasar; Permasalahan Keuangan Kelembagaan dan Peraturan Magist Perencanaan Kota dan Daerah, UGM, Yogyakarta.
Hans Kelsen 2008 Pengantar Teori Hukum, Nusa Media, Bandung.
I Gede Pitana & I Ketu1 Surya Diarta, 2009, Pengantar IImu Pariwisata, CV. Andi Offset, Yogyakarta.
Gede Pitana, 2002, Pariwisata, Wahana Pelestarian Kebudyaan dan Dinamika Mayarakat Bali, Universitas Udayana, Denpasar.
I Ketu1 Suwena & T Gusti Ngurah Widyatmaja, 2010, Pengetahuan Dasar flmu Kepariwisataan, Udayana University Press Denpasar.
lBG. Pudjaastawa, dkk, 2005, Pariwisata Terpadu; Alternatif Model Pengembangan Pariwisata Bali Tengah, niversitas Udayana, Denpasar.
IGN. Parikesit Widiatedja, 2011 Kebijakan Libera/isasi Pariwisata, Konstruksi Konsep Ragam Masalah dan Alternatif Solusi, Udayana University Press, Denpasar.
Wayan Ardika, 2003, Pariwisata Budaya Berkelanjutan' Refleksi dan Harapan Ditengah Perkembangan Global Program Studi Magister (82) Kajian Pariwisata Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
James 1. Spillane. SJ, 1994, Pariwi ata Indonesia Siasat Elwnomi dan Relrayasa Kebudayaan Kanisius Yogyakarta.
K. Sukardika 2004, Menata Bali Kedepan, Kebijakan Kultural, Pendidikan Agama, CV. Bali Media Adikars~ Denpasar.
Loekman S., 1995, Menuju Masyarakat Partisipatij, Kanisius Yogyakarta Made Metu Dahana, 2012, Perlindungan Hukum dan Keamanan Terhadap
Wisatawan, Paramita, Surabaya.
Madiun, 2010, Nusa Dua Model Pengembangan Kawasan Wisata Modern, Udayana University Press, Denpasar.
Oka A. Yoeti 2008 Ekonomi Pariwisata, Infroduksi, Informasi dan Aplikasi, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.
Hanitidjo Sumitro. 1988 Metodologi Penelitian Hukum Dan Yurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Totok ardikanto, H. Poerwoko Soebianto, 2012, Pemberdayaan Masyarakat Dalam Per ~ektifKebijakan Publik, Alfabeta, Bandung.
Penmdang-UodanganlIoternet
ndang-Undang Republik lndonesia Nomor 26 Talmo 2007 Tentang Penataan Ruang.
diakses tanggal 14 April 2010, pukuJ .00 WITA