• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI MODEL HUKUM PEMULIHAN ASET HASIL KORUPSI MELALUI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DAN GUGATAN PERDATA NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB VI MODEL HUKUM PEMULIHAN ASET HASIL KORUPSI MELALUI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DAN GUGATAN PERDATA NEGARA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

306 BAB VI

MODEL HUKUM PEMULIHAN ASET HASIL KORUPSI MELALUI PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DAN GUGATAN PERDATA NEGARA

A. Struktur Hukum (Legal Structure)

Menurut Lawrence M. Friedman struktur hukum pada intinya tubuh, kerangka, bentuk abadi dari sistem. Korelasinya dengan penegakan hukum pemulihan aset hasil korupsi struktur hukum dimaksud terkait dengan kelembagaan baik penyidik pada KPK, Polri maupun Kejaksaan dan Pengadilan.

Model hukum pemulihan aset hasil korupsi dari komponen sistem hukum yaitu struktur hukum dapat dijelaskan di bawah ini.

1. Mengoptimalkan Penyitaan Aset Tahap Penyidikan

Aset perolehan hasil korupsi yang dikuasai koruptor dan pihak lain secara tidak sah, merupakan dana publik yang seharusnya telah digunakan untuk membiayai pembangunan nasional untuk mewujudkan tujuan nasional memajukan kesejahteraan umum sebagaimana amanat Alinea ke 4 Pembukaan UUD Negera RI Tahun 1945. Untuk itu aset perolehan hasil korupsi yang dikuasai pihak lain secara tidak sah harus dipulihkan ke negara agar dapat menjadi dana publik kembali untuk membiayai penyelenggaraan pembangunan nasional.

Dana publik yang hilang akibat korupsi dalam periode waktu 5 tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan tahun 2011, berdasarkan data hasil penghitungan 100 perkara korupsi yang dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU PTPK yang ditangani KPK atau perkara korupsi yang mensyaratkan kerugian keuangan negara, mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 2.827.849.127.337,- (dua trilliun delapan ratus dua puluh tujuh milliar delapan ratus empat puluh sembilan juta seratus dua puluh tujuh ribu tiga ratus tiga puluh tujuh rupiah), sedangkan aset perolehan hasil korupsi yang dapat

(2)

dipulihkan ke kas negara paling banyak sebesar Rp 725.052.276.665,- (tujuh ratus dua puluh lima milyar lima puluh dua juta dua ratus tujuh puluh enam ribu enam ratus enam puluh lima rupiah) atau hanya sebesar 25,6 %, sehingga masih terdapat dana publik yang masih berada pada pihak lain secara tidak sah sebesar Rp 2.102.796.850.672,- (dua triliun seratus dua milyar tujuh ratus sembilan puluh enam juta delapan ratus lima puluh ribu enam ratus tujuh puluh dua rupiah) atau sebesar 74,4 % , sebagaimana terlihat pada tabel 13 di bawah ini.

Tabel 13. Rekapitulasi Pengembalian Kerugian Keuangan Negara Melalui Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti Berdasarkan Data Putusan

Pengadilan Tahun 2007 Sampai Dengan Tahun 2011

TAHUN TOTAL KERUGIAN KEUANGAN

NEGARA (RUPIAH)

TOTAL PEMBAYARAN

UANG PENGGANTI

SESUAI PUTUSAN

PIDANA TAMBAHAN

(RUPIAH)

KETERANGAN

2007 1.014.355.658.855 91.888.536.716 Jumlah pembayaran uang pengganti lebih rendah 2008 348.883.612.221 136.610.888.981 Jumlah pembayaran uang

pengganti lebih rendah 2009 930.812.683.718 379.967.262.779 Jumlah pembayaran uang

pengganti lebih rendah 2010 1.396.667.143 1.544.200.000 Jumlah pembayaran uang

pengganti lebih tinggi

(3)

Untuk itu diperlukan usaha yang keras dalam rangka pemulihan aset hasil korupsi melalui pembayaran uang pengganti dan gugatan perdata negara secara efektif dengan mencari model hukum yang tepat, baik dari aspek komponen substansi hukum, struktur hukum maupun kultur hukum, terutama pada tahap penyidikan, karena tahap penyidikan memiliki peran strategis untuk mengamankan aset tersangka.

Menurut M. Azhari Latif model adalah sesuatu yang sudah diketahui dengan baik yang dipakai untuk menjelaskan satu hal yang belum diketahui karena adanya persamaan yang mendasar. Model digunakan untuk menyederhanakan proses dan menjadikannya lebih mudah.170 Berkaitan dengan disertasi ini model yang dimaksud adalah model hukum implementasi instrumen hukum pidana pembayaran uang pengganti dan instrumen hukum perdata gugatan perdata negara agar efektif, dimana dua instrumen tersebut sangat terkait dengan tahapan awal dalam penanganan perkara korupsi yaitu penyidikan.

Upaya pemulihan aset hail korupsi pada tahap penyidikan atau melalui instrumen hukum pidana kewenangannya ada pada penyidik dalam hal ini penyidik baik penyidik Polri, penyidik Kejaksaan dan penyidik KPK.

Kewenangan yang dimaksud adalah kewenangan penyitaan dan perampasan aset hasil korupsi maupun aset lain yang tidak terkait dengan korupsi untuk dapat menjamin pembayaran uang pengganti jika tersangka nantinya diputus bersalah.

170 Definisi Teori,Hipotesis, Model, Konstruk, Hukum dan Prinsip, azharm2k wordpress.com, 20 April 2017, 20.05.

2011 532.400.505.400 115.040.388.189 Jumlah pembayaran uang pengganti lebih rendah Jumlah 2.827.849.127.337 725.052.276.665. Selisih

Rp2.102.796.850.672,-

(4)

Sampai dengan saat in dalam penanganan perkara korupsi, baik penyidik Polri, Kejaksaan dan KPK masih menghadapi kendala yang sama yaitu aset atau harta benda hasil korupsi sudah disembunyikan atau disamarkan. Akibatnya putusan pengadilan yang menghukum terdakwa berupa pidana tambahan membayar uang pengganti hanya putusan di atas kertas saja, karena aset yang disita dari tersangka atau pihak lain nilainya tidak memadai atau jauh di bawah dari nominal pembayaran uang pengganti sesuai putusan, dan semakin jauh selisihnya dengan nominal kerugian keuangan negara hasil perhitungan ahli.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, praktik pelaksanaan penyidikan di KPK, penyitaan aset milik tersangka yang tidak terkait dengan korupsi demikian telah dilaksanakan sebagai perwujudan pelaksanaan hukum yang responsif, hukum yang mengabdi kepada kepentingan rakyat, untuk menjamin apabila tersangka pada akhirnya dinyatakan bersalah oleh pengadilan maka aset tersebut dapat diperhitungkan sebagai pembayaran uang pengganti atau dengan kata lain putusan pengadilan berupa pidana tambahan pembayaran uang pengganti merupakan putusan yang efektif karena tujuan instrumen hukum pidana pembayaran uang pengganti untuk memulihkan aset hasil korupsi dapat tercapai. Model hukum demikian dapat dijadikan model oleh penyidik lain untuk mengoptimalkan penyitaan aset hasil korupsi, meskipun masih terdapat pendapat yang pro maupun kontra terhadap model hukum demikian, akan tetapi dalam praktik di peradilan pidana hal tersebut tidak menghadapi kendala karena hakim pengadilan akan memutuskan bahwa aset tersebut akan diperhitungkan sebagai pembayaran uang pengganti. Oleh sebab itu model hukum demikian akan lebih efektif lagi apabila diperkuat melalui substansi hukum yaitu diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Praktik penyitaan aset hasil korupsi pada tahap penyidikan terhadap aset tersangka yang tidak terkait dengan korupsi untuk menjamin pembayaran uang pengganti kerugian keuangan negara yang telah dilaksanakan oleh KPK tersebut , hasilnya secara rata-rata tidak lebih dari 25% dari total kerugian

(5)

keungan negara, sebagaimana telah dibahas pada Bab di depan. Tindakan hukum KPK untuk melaksanakan penyitaan aset secara optimal baik terhadap aset hasil korupsi maupun aset yang telah ada, diantaranya didasari pada pertimbangan bahwa KPK tidak memiliki kewenangan untuk mengajukan gugatan perdata negara, oleh sebab itu KPK menghindari gugatan perdata negara dengan mengoptimalkan penyitaan aset tersangka pada tahap penyidikan agar aset tidak disembunyikan.

2. Sinergitas Gugatan Perdata Negara

Pada Pasal 32, 33, 34 dan 38 huruf C UU PTPK secara jelas telah menentukan gugatan perdata negara dilakukan oleh Jaksa Pengacara Negara atau oleh Instansi yang dirugikan. Dalam praktik belum pernah terjadi gugatan perdata negara oleh instansi yang dirugikan mengajukan gugatan perdata negara terkait penerapan UU PTPK. Hal demikian terjadi karena pelimpahan berkas perkara yang berimplikasi gugatan perdata selalu dari pihak penyidik/penuntut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan perdata.

Instansi yang dirugikan dalam perkara korupsi, tentu sebagai pihak yang secara langsung sebagai pihak korban karena dengan adanya korupsi sebagaimana Pasal 2 dan 3 UU PTPK, berakibat instansi tersebut kehilangan sumber daya ekonomi untuk menjalankan tugas dan fungsi instansinya. Oleh sebab itu untuk mengefektifkan instrumen hukum perdata gugatan perdata negara maka instansi yang dirugikan sebagai korban langsung dalam perkara korupsi dilibatkan dalam gugatan perdata negara dengan model hukum berupa sinergitas antara Kejaksaan dengan Instansi yang dirugikan tersebut. Sinergitas dapat melalui supervisi gugatan perdata negara dimana Kejaksaan sebagai koordinator gugatan perdata negara atau bentuk lain yang muaranya sama yaitu untuk memulihkan aset hasil korupsi, dan sinergitas tersebut dibangun melalui nota kesepakatan dan kuasa khusus.

Selain itu Jaksa pada KPK juga memiliki kemampuan hukum untuk mengajukan gugatan perdata negara atas perkara tindak pidana korupsi yang

(6)

ditangani KPK, akan tetapi Jaksa pada KPK tidak memiliki legal standing mewakili negara untuk mengajukan gugatan perdata sebagiamana yang dimaksud dalam UU PTPK. Oleh sebab itu untuk efektivitas dan efisiensi pelaksanaan gugatan perdata negara sebaiknya dapat dilakukan oleh Jaksa pada KPK baik melalui pemberian wewenang melalui kebijkan legislasi atau melalui kuasa khusus secara insidentil dari Jaksa Pengacara Negara.

Hasil wawancara dengan Yudi Kristiana Penyidik dan Penuntut Umum pada KPK pada tanggal 9 April 2013 diperoleh pandangan-pandangan tentang problematik hukum terkait dengan pemulihan aset hasil korupsi baik berupa substansi hukum, struktur hukum dan kultur hukum yang pada pokoknya sebagai berikut:

a. Sistem hukum positif meletakkan Jaksa pada KPK tidak mempunyai wewenang mengajukan gugatan perdata negara atau sebagai Jaksa Pengacara Negara.

b. Tujuan dibentuknya UU PTPK adalah untuk pemulihan aset hasil korupsi.

Instrumen UU PTPK tidak cukup untuk pemulihan aset hasil korupsi sehingga masih diperlukan UU tentang Pembekuan Aset.

c. Dalam kebijakan legislasi terkait pemberantasan tindak pidana korupsi semangatnya untuk menghukum badan, belum ada semangat pemulihan aset kerugian Negara melalui instrumen hukum pengembalian aset untuk meringankan hukuman.

d. Integritas aparat penegak hukum, contoh dalam kasus Gayus membuktikan lebih mudah melemahkan penegakan hukum daripada pengembalian aset.

e. Dalam praktik putusan pengadilan belum merefleksikan semangat untuk membongkar kasus korupsi, contoh perkara Agus Condro yang membantu penegakan hukum dengan mengungkap adanya perkara korupsi secara luas akan tetapi masih tetap dihukum berat.

(7)

f. Balum ada hukum positif yang mengatur jika pidana tambahan pembayaran uang pengganti telah dibayar separo atau sebagian berimplikasi pada pengurangan pidana penjara pengganti secara proporsional.

g. KPK dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi menghindari adanya gugatan perdata dengan mengoptimalkan penyitaan aset hasil korupsi.

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat dianalisa sebagai berikut:

KPK dalam penanganan perkara korupsi berusaha untuk dapat merampas aset milik tersangka pada tahap penyidikan dan menghindari adanya gugatan perdata negara karena Jaksa pada KPK berdasarkan peraturan perundanng- undangan bukanlah sebagai Jaksa Pengacara Negara yang memiliki kewenangan mengajukan gugatan perdata negara. Oleh sebab itu KPK tidak pernah mengajukan gugatan perdata negara. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus Terdakwa Hengky Samuel Daud yang meninggal saat menunggu putusan tingkat kasasi Mahkamah Agung, dimana Terdakwa sebelumnya telah dijatuhi pidana oleh Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat Nomor:

22/Pid.B/TPK/2009/PN.JKT.PST. dengan pidana penjara selama 15 tahun, dihukum membayar denda Rp 500 juta dan diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 82.646.287.549,- (delapan puluh dua milyar enam ratus empat puluh enam juta dua ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus empat puluh sembilan rupiah) dalam perkara pengadaan mobil pemadam kebakaran.

Pada tingkat banding Terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 18 tahun dan membayar uang pengganti sebesar Rp 82,6 milyar, selanjutnya Terdakwa mengajukan upaya hukum kasasi dan meninggal dunia pada saat menunggu putusan kasasi.

Terhadap kasus ini KPK menyatakan akan menyerahkan berkas perkara kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan perdata, akan tetapi akhirnya Kejaksaan Agung tidak menerima berkas dimaksud sebagai dasar pelaksanakan gugatan perdata negara, sedangkan Kejaksaan tidak bisa secara pro aktif mengajukan gugatan.

(8)

Relatif banyak perkara korupsi yang gugur demi hukum karena tersangka atau terdakwa meninggal dunia atau tidak memenuhi syarat kesehatan jasmani atau jiwa sehingga perkara tidak dilanjutkan dan perkara terdakwa yang diputus bebas oleh pengadilan akan tetapi tidak diteruskan dengan gugatan perdata negara oleh Jaksa Pengacara Negara. Hal demikian diperkuat dengan pernyataan Komariah Sapradjaja yang menyatakan ; 1) Para terdakwa perkara tipikor lebih memilih masuk bui daripada membayar uang pengganti, contoh kasus PON Riau tidak banyak aset hasil korupsi yang dirampas dalam upaya pemulihan kerugian keuangan negara, dan 2) Gugatan perdata negara terhadap terpidana yang telah menjalani pidana penjara pengganti sebagai subsidair pembayaran uang pengganti melanggar hak asasi manusia.171

Oleh sebab itu diperlukan model hukum penguatan komponen struktur hukum berupa pemberian kewenangan kepada lembaga lain dalam hal ini Jaksa KPK untuk bekerjasama atau bersinergi dengan Jaksa Pengacara Negara dalam upaya pemulihan aset hasil korupsi melalui gugatan perdata, dan penguatan tersebut dapat diawali melalui nota kesepakatan.

3. Pengelolaan Aset Hasil Korupsi yang Terintegrasi

Penyelesaian perkara korupsi pada tahap penyidikan bersumber dari tiga lembaga penyidik yaitu Polri, Kejaksaan dan KPK. Selanjutnya apabila putusan perkara korupsi tersebut telah berkekuatan hukum tetap, khususnya eksekusi terhadap aset terpidana yang hasilnya selanjutnya disetor ke rekening umum kas negara, seharusnya dikelola secara transparan sejak penjualan aset sampai dengan hasil penjualan aset tersebut telah diterima Kementerian Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.

Menurut Kementerian Keuangan, Kementerian Keuangan tidak memiliki data jumlah kerugian keuangan negara perkara korupsi, dan jumlah pembayaran

171 Hasil Wawancara dengan Komariah Supradjadja , Hakim Agung pada tanggal 18 Maret 2013.

(9)

kerugian keuangan negara sesuai putusan serta jumlah pembayaran atau pengganti kerugian keuangan negara dari tiap-tiap kasus korupsi.172 Menurut Penulis hal demikian terjadi karena tidak adanya sistem yang terintegral yang dapat menghitung total kerugian keuangan negara terkait korupsi secara nasional , dan yang telah dikembalikan melalui pembayaran uang pengganti atau gugatan perdata negaradalam pelaporan kerugian keuangan negara, sejak tahap penyidikan perkara tipikor yang ditangani oleh penyidik Polri, penyidik Kejaksaan dan penyidik KPK sampai dengan pelaksanaan putusan pengadilan atau eksekusi. Perlakuan aset yang telah disita, meliputi pengamanan dan pemeliharaannya agar aset tidak mengalami penurunan nilai ekonomi melalui penganggaran yang memadai sehingga baik negara dan terpidana tidak dirugkan.

Kondisi demikian berpotensi terjadi penyalahgunaan wewenang atau abuse of function yang dapat mempengaruhi tidak optimalnya pemulihan

kerugian negara. Oleh sebab itu Menkeu selaku Bendahara Umum Negara wajib mengelola sumber keuangan negara dari non pajak secara lengkap , bukan sekedar nominalnya saja dengan membangun sistem koordinasi pelaporan aset yang disita terkait korupsi mulai penyidikan sampai dengan eksekusi bersama dengan lembaga terkait yaitu Polri, Kejaksaan dan KPK . Adapun tujuannya agar penyitaan aset hasil korupsi dapat efektif menjadi kekuatan sumber ekonomi pembangunan nasional dan tidak menciptakan korupsi baru karena penyalahgunaan wewenang.

B. Substansi Hukum (Legal Substance)

Yang dimaksud substansi hukum dalam penelitian disertasi pada sub bab ini adalah peraturan perundang-undangan yang mampu memberi fokus atau arah agar tujuan UU PTPK yakni pemulihan kerugian keuangan negara dapat terwujud, selanjutnya sebagai dasar bagi aparat penegak hukum untuk melaksanakan wewenangnya.

172 Hasil Penelitian tanggal 28 Februari 2013 di Kementerian Keuangan.

(10)

1. Pengaturan Konversi Pembayaran Uang Pengganti

Dalam putusan perkara pidana korupsi Pasal 2 dan Pasal 3 UU PTPK, Terdakwa selain dijatuhi pidana pokok penjara, juga dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti dengan pidana penjara subsidair , yang artinya apabila terpidana dalam waktu paling lama 1 bulan sejak putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap tidak dapat membayar uang pengganti maka terpidana selain menjalani pidana pokok juga akan menjalani pidana penjara subsidair.

Dalam praktik, banyak perkara dimana aset terpidana yang telah disita pada tahap penydikan, selanjutnya aset tersebut dijual setelah putusan berkekuatan hukum tetap melalui mekanisme lelang untuk diperhitungkan dengan kewajiban pembayaran uang pengganti akan tetapi nilainya masih kurang atau di bawah dari nominal sebagaimana bunyi putusan pengadilan.

Peristiwa hukum demikian tidak diakomodir dengan peraturan dimana aset yang telah disita dan dihitung untuk dikonversi mengurangi masa pidana penjara subsidair terpidana. Oleh sebab itu diperlukan model hukum konversi atau diperhitungkannya pembayaran uang pengganti yang nilainya kurang dari nominal sebagaimana tertera dalam putusan untuk mengurangi masa pidana penjara pengganti atau subsidair.

Jika konversi demikian dapat diterapkan, selain mendatangkan keadilan bagi para pihak yaitu terpidana, juga adil bagi negara karena dapat menghemat anggaran belanjanya (Anggaran Lembaga Pemasyarakatan) dan dapat memotivasi terpidana dan keluarganya untuk mengumpulkan sumber daya ekonominya untuk membayar uang pengganti agar terpidana dapat segera selesai menjalani masa pidana penjara.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Zaenuddin Panmud Pidana Mahkamah Agung tanggal 3 Juli 2013 diperlukan norma yang mengatur konversi pembayaran uang pengganti apabila terpidana hanya membayar uang

(11)

pengganti yang nominalnya hanya sebagaian saja. Secara lengkap hasil wawancara sebagai berikut;

a. Untuk mendorong agar terpidana memilih membayar uang pengganti kerugian keuangan negara sebagai pidana tambahan maka penuntut umum dan hakim dalam menetapkan pidana subsidair pembayaran uang pengganti agar masa pidananya cukup tinggi mendekati ancaman pidana pokoknya, dan tidak adil jika terpidana sudah menjalani pidana penjara subsidair atau pengganti akan tetapi masih digugat secara perdata untuk membayar uang pengganti, karena terpidana akan menjalani 2 hukuman.

Salah satu sebab terpidana memilih menjalani pidana subsidair adalah karena remisi yang signifikan. Hakim di lingkungan Mahkamah Agung tidak setuju jika terpidana telah menjalani pidana penjara pengganti akan tapi masih digugat secara perdata.

b. Tujuan dari UU PTPK adalah untuk mengembalikan kerugian negara.

Oleh sebab itu supaya para penegak hukum KPK, Polri, Kejagung dan Mahkamah Agung melakukan pertemuan untuk mencari solusi yang pasti menganai pembayaran uang pengganti kerugian negara oleh terpidana yang hanya separo atau sebagian dari besaran pidana tambahan pembayaran uang pengganti berkaitan dengan bagaimana cara menentukan lamanya waktu menjalani pidana penjara dan membuka kemungkinan untuk pembayaran secara cicilan. Hasil kesepakatan tersebut lebih tepat jika dituangkan dalam Peraturan Mahkamah Agung dan bukan dalam bentuk Surat Edaran Mahkamah Agung atau SEMA.

c. Tidak ada keharusan hakim menjatuhkan pidana tambahan pembayaran uang pengganti apabila terpidana tidak menikmati hasil korupsi, contoh apabila terdapat 4 terdakwa, ada 1 terdakwa yang hanya melaksanakan perintah dan tidak menikmati hasil kejahatan , maka terdakwa tersebut tidak dijatuhi pidana tambahan. Oleh sebab itu idealnya penyelesaian perkara yang dilakukan secara bersama-sama sebaiknya tidak dipisah atau paling tidak jarak waktu sidang tidak terlalu lama.

d. Besaran nilai uang pengganti pada prinsipnya tergantung hasil audit.

e. Kenapa pembayaran uang pengganti kerugian negara ditentukan sebesar- besarnya sebesar hasil kejahatan yang diperoleh terdakwa? Karena tidak adil jika terdakwa harus mempertanggungjawabkan nilai yang tidak dinikmati. Sebaiknya terdapat bunga dan denda dari pembayaran uang pengganti.173

Selanjutnya agar konversi pembayaran uang pengganti dapat dioperasionalkan dan mengikat pengadilan, maka diperlukan Peraturan

173 Hasil Wawancara dengan Zaenuddin , Panmud MARI pada tanggal 3 Juli 2013.

(12)

Mahkamah Agung RI untuk mengatur konversi tersebut, sehingga diperoleh rumusan perbandingan antara pengurangan waktu dengan nominal pembayaran yang sebagian/diangsur.

2. Penguatan Penyitaan Aset Melalui Kebijakan Legislasi

Pusat Analsisis Transaksi Keuangan atau PPATK berpendapat bahwa perlu segera ada undang-undang yang membatasi transaksi tunai untuk mencegah suap. RUU tentang pembatasan transaksi tunai memperoleh tanggapan keberatan terutama para pengusaha karena tidak efisien. Meskipun transaksi tunai ini tidak berdampak langsung terhadap efektifitas pemulihan aset hasil korupsi akan tetapi dengan UU ini dapat mencegah meluasnya perkara korupsi terutama suap174.

PPATK menghadapi problematik hukum berkaitan dengan pemulihan aset hasil korupsi karena belum adanya UU tentang Perampasan Aset, dan undang-undang ini derajatnya sangat dibutuhkan dalam pemberantasan korupsi karena selain memberikan daya cegah juga secara represif sangat membantu penyidik dan penuntut perkara tipikor dalam merampas aset hasil korupsi dan aset lain milik tersangka, terdawa dan keluarganya. Selain itu diperlukan Undang-Undang tentang Pembekuan Aset yang mengatur bahwa aset-aset dalam penguasaan keluarga tersangka untuk tidak dialihkan atau dipindah tangankan, dengan tujuan untuk mengamankan aset tersebut apabila dikemudian hari terbukti diperoleh atau terkait dengan korupsi tersangka, sehingga dilakukan penyitaan. Berdasarkan uraian di atas, untuk mengoptimalkan penyitaan aset hasil korupsi oleh penyidik, peran PPATK sangat signifikan dalam melacak aset hasil korupsi yang selanjutnya data aset tersebut untuk mendukung kinerja penyidik dalam pelaksanaan penyitaan aset.

3. Gugatan Perdata Negara Tanpa Atribut Perbuatan Melawan Hukum Kejaksaan Agung RI (sebagai Penggugat) telah menggugat Ahli Waris Alm. Yusuf Setiawan (Para Tergugat) di Pengadilan Negeri Depok dengan Register Perkara Nomor: 02/Pdt.G/2010/PN. DPK tanggal 23 Juni 2010, telah

174 Hasil Wawancara dengan Pejabat PPATK tanggal 28 Februari 2013 di Kantor PPATK.

(13)

diputusan dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap melalui putusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor :2493 K/Pdt/2011 tanggal 27 Juni 2012, mengabulkan gugatan perdata Kejaksaan Agung RI selaku Jaksa Pengacara Negara dengan menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng membayar ganti rugi atas kerugian keuangan negara sebesar Rp28.407.794.247,- dan menyatakan sah sita jaminan.

Gugatan ditujukan kepada Para Ahli Waris (Isteri dan anak Alm . Yusuf Setiawan) karena perkara korupsi Alm. Yusuf Setiawan penuntutannya gugur tidak dapat dilanjutkan demi hukum mengacu Pasal 77 KUHP , dengan alasan Alm. Yusuf setiawan (Terdakwa) meninggal dunia pada tahap persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Melalui putusan perkara tersebut dengan menganalisa pertimbangan hukum hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Gugatan perdata negara yang berasal dari proses hukum perkara korupsi dengan penerapan sesuai Pasal 2 dan Pasal 3 dalam UU PTPK tidak memerlukan pembuktian adanya perbuatan melawan hukum, berdasarkan azas hukum lex specialis derogate legi generali yang artinya peraturan perundang-undangan atau Undang-Undang yang bersifat khusus mengenyampingkan peraturan atau undang-undang yang umum.

b. Terbukti atau tidaknya seorang terdakwa yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi bukanlah suatu hal yang mutlak untuk alasan negara melakukan tuntutan ganti kerugian terhadap keuangan negara.

c. Unsur gugatan perdata negara yang harus dibuktikan oleh Jaksa Pengacara Negara atau instansi yang dirugikan adalah adanya kerugian keuangan negara yang nyata atau actual loss bukan potensial loss.

C. Kultur Hukum (Legal Culture)

Kultur atau budaya hukum (legal culture) dalam sistem hukum menurut Lawrence M. Friedman sebagaimana telah diuraikan di atas pada intinya

(14)

merupakan gagasan-gagasan, sikap-sikap , keyakinan-keyakinan, harapan – harapan dan pendapat tentang hukum. Gagasan-gagasan , sikap-sikap dan keyakinan , harapan dan pendapat hukum dalam penelitian disertasi ini ditujukan kepada aparat penegak hukum yang tercermin dalam tindakan hukum baik dalam proses penydikan, penuntutan, dan putusan pengadilan serta gugatan perdata negara dalam upaya pemulihan aset hasil korupsi, sehingga tindakan hukum tersebut membentuk model hukum pemulihan aset hasil korupsi sebagaimana di bawah ini.

1. Penjatuhan Pidana Penjara Pengganti Mendekati Pidana Pokok

Berdasarkan data perbandingan putusan pidana tambahan pembayaran uang pengganti dan pidana penjara subsudair yang telah di bahas pada Bab di atas, dimana pidana penjara subsidair yang relatif rendah atau ringan dibanding dengan pidana tambahan pembayaran uang pengganti, maka kondisi demikian dapat sebagai pilihan terdakwa untuk lebih memilih menjalani pidana penjara pengganti atau subsidair daripada membayar uang pengganti dengan menyembunyikan asetnya, terlebih dengan adanya praktik pemberian waktu remisi yang signifikan, sebagaimana Hasil Wawancara dengan Zaenuddin , Panmud Pidana Mahkamah Agung RI tanggal 3 Juli 2013.175

Oleh sebab itu diperlukan sikap para hakim tipikor melalui putusannya agar dalam menjatuhkan pidana penjara subsidair dari pidana tambahan pembayaran uang pengganti , masa pidana penjara subsidair mendekati pidana pokoknya untuk memberi pesan luas kepada masyarakat bahwa keuntungan yang diperoleh pelaku korupsi bahkan keluarganya adalah keuntungan bersih yang negatif. Hal demikian diyakini dapat melahirkan sikap atau pendapat masyarakat bahwa korupsi merupakan kejahatan yang telah merampas hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat yang harus dilawan atau diperangi dengan memberi stigma buruk kepada pelaku dan keluarganya.

175Zaenuddin, Op.Cit.

(15)

Langkah di atas harus sinergi dengan kebijakan pemberian remisi kepada terpidana koruptor agar tidak memilih menjalani pidana penjara pengganti atau subsidair, dengan menerapkan remisi secara terbatas dan ketat atau selektif.

2. Membangun Trust dan Penyidikan Mendalam Kepada Keluarga

Faktor internal penyidik berupa komponen kultur hukum, dalam hal ini praktik penyidikan selama ini belum mendalam kepada keluarga tersangka untuk menggali informasi aset milik tersangka baik yang terkait langsung dengan perkara maupun tidak terkait dengan perkara. Begitu juga dalam praktik penyidik belum banyak menjadikan anggota keluarga yang diduga menerima harta hasil korupsi sebagai tersangka dengan dijerat tindak pidana pencucian uang atau TPPU. Oleh sebab itu diperukan sikap penyidik untuk melepaskan permaslahan emosi pribadinya berupa belas kasihan kemanusiaan kepada keluarga Tersangka korupsi, dengan melakukan penyidikan secara mendalam kepada anggota keluarganya yang diduga secara hukum terlibat dalam perkara korupsi.

Rasionalitas model penyidikan secara mendalam kepada keluarga adalah bahwa koruptor adalah rasional dan amoral yakni telah memperhitungkan keuntungan dan kerugiannya sebelum melakukan korupsi , dan untuk memberi pesan kepada keluarga masyarakat secara luas untuk menolak korupsi dari lingkungan keluarga.

Faktor internal komponen kultur hukum penyidik yang lain yaitu masih rendahnya tingkat trust lembaga penyidik dihadapan pelaku atau tersangka.

Tingkat trsut yang tinggi menurut Penyidik KPK Yudi Kristiana diyakini dapat mempengaruhi pelaku untuk menyerahkan asetnya sebagai pembayaran uang pengganti. Oleh sebab itu Penulis berpendapat bahwa tingginya trust pelaku perkara korupsi kepada penyidik atau lembaganya dapat mengoptimalkan penyitaan aset hasil korupsi pada tahap penyidikan, karena tersangka memiliki keyakinan bahwa aset yang diserahkan kepada penyidik melalui penyitaan akan

kembali kepada negara atau tidak dikorupsi.

Gambar

Tabel 13. Rekapitulasi Pengembalian Kerugian Keuangan Negara  Melalui  Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti  Berdasarkan Data Putusan

Referensi

Dokumen terkait

Jadi, ada Ibu yang harus mau dengar, Ketua Pengadilan Tinggi Medan, tidak berhasil, tapi Mahkamah Agung sudah bicara dengan Bapak

triage, hal ini karena sebagian besar perawat yang bertugas di IGD memiliki keyakinan yang dimiliki responden akan kemampuannya dalam pelaksanaan triage dimana

Selain itu, kita akan ditanya paakah kita telah membantu orang lain untuk meluputkan kerahuan yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam keputus-asaan dan yang sering menjadi sumber

dengan tujuan penerapan Good Corporate Governance yang tertuang pada pasal (4) Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP/117/M-MBU/2002. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber... APLIKASI KAMUS BAHASA INGGRIS BERBASIS ANDROID DENGAN FITUR TEXT TO

Pemaparan di atas memberikan pemahaman bahwa baik ajaran yang disampaikan pada Pasang ri Kajang dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari- hari, maupun Zuhud yang

Masalah gizi dapat disebabkan oleh asupan makronutrien dan mikronutrien yang tidak sesuai kebutuhan. 5 Mikronutrien berperan sebagai koenzim atau bagian dari enzim pada

Atau pemilih pemula ini adalah mereka yang baru akan mempunyai pengalaman pertama kali di dalam berpartisipasi dalam pemilihan umum, khususnya pada tahun 2014