commit to user
1
BAB 1
PENDAHULUAN
Bab Pendahuluan adalah tahap awal dari rangkaian proses penelitian. Tahap pendahuluan sering disebut dengan proposal penelitian. Didalam proposal penelitian mencakup substansi yang akan diteliti seperti tujuan, latar belakang munculnya masalah penelitian, rumusan masalah penelitian sampai pada keluaran penelitian. Proposal penelitian menjadi dasar dari proses–proses penelitian pada bab-bab selanjutnya.
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Permasalahan Permukiman Perkotaan
Penduduk adalah komponen utama yang mendiami suatu kota yang memiliki kebutuhan dasar yaitu rumah. Seiring dengan perkembangan kota yang dinamis,rumah pun mengalami perkembangan fungsi. Rumah yang pada awalnya berfungsi sebagai tempat tinggal,kemudian berkembang memegang peranan penting sebagai wadah pendidikan keluarga, persemaian budaya, dan penyiapan generasi muda. Dalam ruang kota, kumpulan rumah–rumah akan membentuk satu kesatuan permukiman yang sering disebut lingkungan permukiman perkotaan.
Menurut Bintarto (1997) dalam Sobirin (2001:46), Perkembangan permukiman pada bagian–bagian kota tidaklah sama. Perkembangan permukiman disuatu kota dipengaruhi oleh faktor seperti karakteristik kehidupan masyarakatnya, kesempatan kerja yang tersedia, pesatnya laju pertumbuhan penduduk dan sebaran prasarana kota, kondisi fisik alami serta fasilitas kota yang terutama berkaitan dengan transportasi dan komunikasi. Menurut Branch (1996) dalam Sobirin (2001:41) , Secara fisik perkembangan suatu kota dapat dicirikan dari penduduknya yang makin bertambah dan makin padat, bangunan- bangunannya yang semakin rapat dan wilayah terbangun terutama permukiman yang cenderung semakin luas, serta lengkapnya fasilitas kota yang mendukung kegiatan sosial dan ekonomi kota.
commit to user
2
Menurut Bahr (1990) dalam Sobirin (2001:47), Seiring dengan perkembangan zaman,secara alami pertumbuhan penduduk kota terus mengalami peningkatan yang diiringi dengan peningkatan kebutuhan hunian dipusat kota yang dekat dengan fasilitas–fasilitas ekonomi dan sosial. Hal ini mendorong kelompok ekonomi kuat menyukai tinggal di daerah pinggiran kota sementara penduduk ekonomi lemah bertempat tinggal di pusat kota meskipun dengan kondisi lingkungan yang marjinal
Pada akhirnya tercipta struktur permukiman berdasarkan strata sosial ekonomi yang dikenal sebagai permukiman kelas atas, permukiman kelas menengah dan permukiman kelas bawah atau permukiman kumuh. Hal ini lah yang merupakan masalah utama yang dihadapi kota-kota di negara berkembang.
Kantong-kantong permukiman kumuh diperkotaan berkembang dengan sangat cepat. Karena pada dasarnya permukiman ini tumbuh dan dibangun secara tidak terpadu, terarah dan terencana serta mengabaikan peran sarana prasarana penunjang kehidupan mereka. Perkembangan lingkungan permukiman diperkotaan yang tidak terarah menjadi permasalahan kota yang akan mempengaruhi perkembangan kota menjadi tidak terkendali.
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa perkembangan lingkungan permukiman dapat dilihat dari semakin bertambahnya permukiman,pesatnya pertumbuhan penduduk dan sebaran sarana. Permasalahan permukiman yang sering muncul dalam lingkungan permukiman kota adalah permukiman kumuh.
Meluasnya permukiman kumuh dipusat kota akan mempengaruhi perkembangan lingkungan permukiman perkotaan.
1.1.2 Relokasi Permukiman di Kota Surakarta
Kota Surakarta sebagai kota yang dinamis mengalami perkembangan aktivitas, yang kompleks sehingga muncul permasalahan-permasalahan kota, salah satunya adalah permasalahan kemiskinan dan permukiman kumuh.
Kebutuhan masyarakat kota Surakarta akan rumah didaerah yang dapat menunjang kegiatan ekonomi dan dekat dengan pusat usaha menyebabkan tingginya kebutuhan rumah di pusat kota.
commit to user
3
Secara spasial salah satu permukiman penduduk menengah kebawah di kota Surakarta menempati ruang kota pada daerah bantaran Sungai Bengawan Solo. Lingkungan permukiman pada daerah–daerah tersebut minim akan sarana prasarana lingkungan. Seperti prasarana jalan lingkungan yang tidak sesuai standart,sistem drainase yang tidak terintegrasi dengan baik, tidak adanya ruang terbuka hijau dan tempat penampungan sampah. Ditambah dengan kondisi kepadatan bangunan yang tinggi menyebabkan lokasi ini semakin terlihat semrawut. Permukiman penduduk menengah kebawah di kota Surakarta yang menempati ruang kota pada daerah bantaran Sungai Bengawan Solo dapat dikatakan sebagai permukiman kumuh. Kantong permukiman kumuh di kota Surakarta disepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo, yang berjumlah 1.571 unit ditanah bantaran seluas 38 ha yang tersebar dibeberapa kelurahan seperti kelurahan Sewu, Sangkrah, Pucangsawit, Jebres, dan Joyosuran (BAPERMAS PP dan KB Tahun 2007).
Dilihat secara normatif, bahwa permukiman dibantaran sungai bengawan solo tidak layak difungsikan sebagai fungsi permukiman karena rawan terhadap ancaman bencana banjir. Selain itu, tidak sesuai dengan rencana tata ruang kawasan perkotaan dan secara administrasi maupun hukum. Lingkungan permukiman dengan kondisi seperti itu, termasuk dalam permukiman illegal.
Dengan adanya program “Solo Without Slum” pada tahun 2012 langkah yang diambil pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan permukiman kumuh yaitu relokasi (SK Walikota nomor 362.05/25/1/2008 tentang pembentukan tim dan kelompok kerja penanganan pasca bencana banjir kota Surakarta). Melalui relokasi, diharapkan pemerintah mampu menyediakan hunian yang aman, bebas banjir, kepastian status tanah dari rumah dan lingkungan dengan infrastruktur yang memadai bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan permukiman kumuh bantaran Sungai Bengawan Solo.
Dari relokasi yang sudah dilakukan sampai tahun 2011, lokasi baru yang menjadi tujuan permukiman baru dengan jumlah penduduk paling besar adalah di RW 29 Kelurahan Mojosongo yaitu sebanyak 171 KK (data dari BAPERMAS, PP dan KB Tahun 2009).Signifikasi pertambahan penduduk secara langsung di RW
commit to user
4
29 yang lebih besar dibanding lokasi lainnya tentu akan menimbulkan pengaruh yang lebih besar terhadap kondisi permukiman yang didatangi.
1.1.3 Kondisi Lingkungan Permukiman RW 29 Kelurahan Mojosongo RW 29 terletak di Kelurahan Mojosongo Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Dalam rencana tata ruang Kota Surakarta, RW 29 diperuntukan sebagai kawasan permukiman kota. Letak RW 29 berada disisi utara kota Surakarta, sehingga wilayah ini mengalami perkembangan yang kurang pesat dibanding dengan wilayah kota Surakarta lainnya.
Kondisi alam dengan topografi yang bergelombang mengakibatkan persebaran permukiman di Mojosongo termasuk RW 29 cenderung mengikuti kontur dan tidak merata sehingga masih terlihat banyak lahan kosong. Persebaran permukiman yang tidak teratur mempengaruhi pola jaringan jalan yang ada di RW 29 yang belum terintegrasi dengan baik. Selain banyak yang belum beraspal, juga ditemui jalan–jalan setapak yang belum terhubung satu sama lain .
Kondisi fisik bangunan dilingkungan permukiman masyarakat asli RW 29 pada umumnya sudah permanen. Selain itu fasilitas umum seperti sarana pendidikan, peribadatan, sosial, kesehatan dalam lingkup RW sudah terpenuhi dengan baik. Kondisi fisik bangunan yang baik namun apabila tidak didukung dengan aksesibilitas yang baik maka tentu akan mempengaruhi tingkat ekonomi dan sosial masyarakat yang selanjutnya akan mempengaruhi kualitas fisik lingkungannya.
Menurut Yunus (2008:161), akibat dari kedatangan penduduk baru bagi suatu wilayah adalah pada aspek karakteristik pemanfaatan lahan,sirkulasi, bangunan dan permukiman. Seperti hal nya yang terjadi di RW 29 Kelurahan Mojosongo yang pada tahun 2009 silam, kedatangan penduduk baru dari kelurahan Sewu dan Pucangsawit sebanyak 171 KK.
Masih tersedianya lahan kosong yang cukup banyak di RW 29, menjadikan wilayah ini sebagai wilayah tujuan relokasi yang dianggap strategis.
Selain karena mampu menampung pertambahan penduduk secara signifikan yaitu sebanyak 171 KK yang berasal dari Kelurahan Pucangsawit dan Kelurahan Sewu juga karena faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah jarak RW 29 kelurahan
commit to user
5
Mojosongo menuju pusat kota yang tidak terlalu jauh. Sehingga masyarakat pendatang yang berasal dari kelurahan Sewu dan Pucangsawit tidak takut kehilangan mata pencahariaan dipusat kota yang memungkinkan masyarakat pendatang untuk bekerja seperti pada kondisi sebelumnya.
Peningkatan jumlah populasi disuatu wilayah mendorong meningkatnya pembangunan hunian dan sarana prasarana dalam skala besar yang mempengaruhi perubahan karakteristik bangunan dan pemanfaatan lahan. Dengan adanya pembangunan kebutuhan hunian yang meningkat, kebutuhan sarana prasarana penunjang yang lengkap dan jaringan aksesibilitas yang memadai maka pembangunan yang dilakukan secara langsung mempengaruhi kualitas lingkungan permukiman yang ada di RW 29 sebelumnya.
Dengan kedatangan masyarakat baru ke RW 29, maka pembangunan hunian/rumah baru bertambah. Untuk mendukung kehidupan masyarakat pendatang selanjutnya, sarana dan prasarana lingkungan permukiman lainnya pun turut dibangun. Seperti pembangunan jalan-jalan lokal, pemasangan pipa-pipa air bersih sebagai sumber air bersih, jaringan sanitasi, drainase, persampahan dan sarana pendukung lainnya.
Besarnya kebutuhan lahan untuk pembangunan rumah baru,jalan,dan sarana prasarana yang berakibat pada berkurangnya ruang terbuka hijau yang tersedia di RW 29. Berkurangnya ruang terbuka hijau baik secara kuantitas maupun kualitas, sebagai salah satu bentuk adanya perubahan dalam penggunaan lahan/pemanfaatan lahan di RW 29. Dimana perubahan yang mengarah pada hilangnya atau rusaknya ekosistem alami perkotaan seperti ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kerawanan wilayah atau kota dalam hal ini adalah RW 29 terhadap bencana–bencana, seperti banjir.
Pembangunan yang tidak terkendali untuk fungsi–fungsi tertentu, dengan tingkat kenyamanan yang tinggi dapat menyebabkan perubahan pada kondisi lingkungan yang ada. Pembangunan hunian dan sarana prasarana penunjang di lingkungan permukiman menyebabkan perubahan pada pola pemanfaatan lahan yang ada di RW 29. Dari yang diutarakan diatas, maka pertambahan penduduk memberikan pengaruh pada perubahan fisik lingkungan permukiman lokasi baru.
commit to user
6
Selain pertambahan secara fisik, adanya perbedaan karakteristik sosial mampu memberikan pengaruh terhadap wilayah yang didatangi. Seperti karakteristik sosial masyarakat pendatang yang lama bermukim di bantaran sungai yang kurang terlayani fasilitas sarana prasarana permukiman yang layak akan berbeda dengan masyarakat asli RW 29 yang memiliki sarana prasarana penunjang kehidupan yang lebih baik. Sehingga kebiasaan-kebiasaan bermukim dibantaran sungai baik kebiasaan positif maupun negatif yang melekat dalam kehidupan masyarakat pendatang dan belum dapat ditinggalkan sepenuhnya oleh masyarakat pendatang mampu mempengaruhi kualitas fisik dari lingkungan permukiman di RW 29 selanjutnya.
Dari uraian diatas, diketahui bahwa pertambahan penduduk karena kedatangan relokasi dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan permukiman RW 29 baik secara fisik maupun nonfisik. Untuk itu, penelitian ini mencoba untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh adanya pertambahan penduduk (masyarakat pendatang) karena relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat RW 29 di RW 29.
1.2 Rumusan Masalah
Kebijakan relokasi permukiman di Kota Surakarta dalam upaya menyediakan lingkungan permukiman yang layak,nyaman serta aman dari bencana pada perkembangannya mempengaruhi tingginya pertumbuhan penduduk di lokasi baru atau lokasi tujuan yaitu RW 29. Dimana adanya signifikansi pertambahan populasi disuatu lingkungan, akan mempengaruhi lingkungan permukiman yang sudah ada sebelumnya seperti pada perubahan penggunaan fasilitas sosial secara bersama-sama, perubahan penggunaan lahan,perubahan jaringan jalan, maupun aktivitas lainnya baik secara kualitas maupun kuantitas. Inilah latar belakang yang menarik penulis untuk meneliti kasus pengaruh relokasi permukiman di kota Surakarta, sehingga pertanyaan penelitiannya adalah: “Bagaimana pengaruh adanya relokasi permukiman
commit to user
7
bantaran Sungai Bengawan Solo di RW 29 terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat asli RW 29 di RW 29 ? “
1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian
1.3.1 Tujuan dari Penelitian ini adalah :
Mengkaji perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat asli RW 29 di RW 29 setelah kedatangan relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo.
Mengkaji pengaruh adanya relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo di RW 29 terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat asli RW 29 di RW 29.
1.3.2 Sasaran dari Penelitian ini adalah :
Mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi masyarakat pendatang.
Mengidentifikasi kualitas lingkungan permukiman di RW 29 sebelum dan sesudah kedatangan relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo.
Menganalisis perubahan kualitas lingkungan permukiman RW 29
Menganalisis pengaruh kedatangan relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo di RW 29 terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat asli RW 29 di RW 29
1.4 Keluaran Penelitian
Keluaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah kajian tentang pengaruh kedatangan pertambahan penduduk (masyarakat pendatang) di RW 29 dari relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo tahun 2009 terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat asli di RW 29. Dimana hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi terhadap kebijakan pemerintah selanjutnya, terutama terkait dengan relokasi dan pengaruhnya.
commit to user
8
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
1.5.1 Lingkup Pembahasan
Substansi yang akan dibahas pada penelitian ini adalah mengetahui signifikasi pengaruh adanya pertambahan penduduk karena kedatangan relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman di RW 29. Kualitas lingkungan permukiman dalam hal ini mencakup dari kondisi fisik yaitu sarana prasarana permukiman seperti sarana kesehatan, sarana pendidikan, sarana persampahan, sarana ibadah, sarana perdagangan dan prasarana drainase, dan kondisi aksesibilitas dilingkungan permukiman seperti kualitas dan kuantitas jalan, jenis dan trayek angkutan umum yang melayani dan juga pengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan dan kepadatan bangunannya, serta perubahan pada kualitas fisik bangunan rumah masyarakat asli RW 29 seperti dinding, lantai, air bersih, luas rumah dan sanitasi.
1.5.2 Lingkup Waktu
Penelitian ini termasuk dalam penelitian yang berifat ex post facto, karena mempelajari pengaruh dari adanya fenomena relokasi permukiman bantaran Sungai Bengawan Solo yang sudah terjadi pada tahun 2009. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi maka harus diketahui kondisi sebelum dan sesudah adanya relokasi. Oleh sebab itu, lingkup waktu untuk mengetahui kondisi sebelum adalah tahun 2007 sedangkan kondisi sesudah adalah tahun 2012.
Sebagai pertimbangan adalah dalam mempelajari adanya pengaruh dengan jarak waktu 3 tahun setelah kedatangan penduduk baru ditafsirkan sudah memberikan pengaruh terhadap perubahan yang terjadi.
1.5.3 Lingkup Lokasi
Lingkup Lokasi penelitian ini secara administratif adalah RW 29 kelurahan Mojosongo Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. RW 29 secara administratif memiliki luas 99,8 H dengan batas adiministrasi sebagai berikut : Timur : Kelurahan Plesungan , Kabupaten Karanganyar
Barat : RW 30 kelurahan Mojosongo Selatan : Kelurahan Jebres
Utara : RW 30 dan Kelurahan Plesungan,Kabupaten Karanganyar
commit to user
9
Tabel.1.1 Ruang Lingkup Wilayah Penelitian
RT Luas (Ha) Jumlah KK
Asli Pendatang
01 6,8 100 -
02 5,2 65 -
03 9 50 59
04 36,3 55 112
05 2 44 -
06 6 45 -
07 4,8 50 -
08 4 30 -
ISI 2 24,7 - -
Total 98,8 439 171
Sumber : Citra Satelit dan Lapangan, 2012
Secara administrasi terbagi menjadi 8 RT dan 3 kampung yang terbagi sebagai berikut :
RT 01 , 02 , dan 05 : Kampung Ngemplak RT 03 dan RT 06 : Kampung Mipitan
RT 04 , 07, dan 08 : Kampung Ngemplak Sutan
Peta 1.1 Peta Ruang lingkup Lokasi Penelitian
commit to user
10
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
Bab Pendahuluan, berisi tentang tahapan awal dalam penyusunan laporan penelitian. Bab ini berisi tentang proposal penelitian Perubahan Kualitas Lingkungan Permukiman di RW 29 Kelurahan Mojosongo Setelah Kedatangan Relokasi Permukiman Bantaran Sungai Bengawan Solo. Proposal penelitian mencakup dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, keluaran penelitian dan ruang lingkup lokasi dan pembahasan serta sistematika penulisan laporan penelitian.
BAB II Tinjauan Pustaka
Pada bab Tinajuan pustaka, berisi tentang teori–teori dan peraturan yang menjadi acuan dasar dalam penelitian. Teori dan peraturan yang disusun akan mendasari arah dari penelitian dan laporan penelitian. Tinjauan pustaka penting dilakukan untuk mengembangkan pola pikir berdasarkan teori–teori sehingga dapat membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berisi substansi dari laporan penelitian.
BAB III Metodologi Penelitian
Bab Metodologi Penelitian, berisi tentang metodologi, cara dan tahapan penelitian dilakukan berdasarkan kerangka pemikiran yang disusun pada tahapan sebelumnya. Metodologi penelitian meliputi metode pengumpulan data, metode sampling dan populasi, teknis analisis yang mampu memenuhi sasaran penelitian dalam penelitian ini.
BAB IV Hasil Penelitian
Bab Hasil Penelitian, berisi tentang penyajian hasil kompilasi data yaitu data perubahan dari lingkungan permukiman sebelum ada relokasi dan sesudah ada relokasi dan data kondisi fisik,sosial,ekonomi lingkungan permukiman masyarakat pendatang di RW 29. Selain penyajian data,dalam bab ini juga disajikan hasil pengolahan data menggunakan bantuan SPSS sebagai alat analisis.
BAB V Pembahasan
Bab Pembahasan yang dilakukan adalah mengkaji integrasi dari tinjauan teori dan hasil penelitian yang didapat. Sehingga diketahui pengaruh relokasi
commit to user
11
permukiman kumuh terhadap perubahan kualitas lingkungan permukiman di RW 29.
BAB VI Kesimpulan dan Saran
Bab Kesimpulan dan Saran, adalah bab penutup yang berisi kesimpulan dari penelitian yang menjawab sasaran penelitian ini. Selain itu, disajikan pula beberapa rekomendasi atau saran oleh penulis, yang dapat bermanfaat.