BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kedaulatan suatu pemerintahan untuk mengatur jalannya negara bukan merupakan suatu hal terberi seperti yang dipercaya pada masa kerajaan abad pertengahan. Begitu pula kenyataan bahwa manusia hidup dalam negara bukan seperti pandangan Aristoteles bahwa hidup dalam negara adalah kodrat manusia. Perkembangan peradaban dalam sejarah umat manusia memperlihatkan bahwa tatanan sosial diadakan dengan sengaja demi mewujudkan kehidupan bersama yang harmonis. Bentuk tatanan sosial paling mutakhir yang kita kenal dan paling banyak dijalankan pada masa ini adalah negara demokrasi. Terlepas dari pertimbangan bahwa pelaksanaan demokrasi adalah demi penerimaan dari komunitas politik global, demokrasi semakin hari semakin dapat diterima secara luas karena membawa nilai betapa pentingnya untuk tidak membuat jurang antara pemberi kedaulatan dan pelaksana kedaulatan. Kontrak sosial rakyat adalah inti dari kuasa pemerintahan demokrasi, maka dari itu kebijakan negara seharusnya merepresentasikan pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan pemenuhan keinginan pihak yang berkuasa.
Pelaksanaan demokrasi liberal dianggap telah mapan dalam menjembatani kepentingan rakyat untuk hidup bersama yang harmonis sehingga mengikat individu dalam struktur sosial tertentu dan kebebasan pribadi. Kontrak sosial dalam demokrasi liberal diformulasikan sehingga hanya mengikat antar individu dan antar individu-individu yang diagregatkan sebagai rakyat dan negara mengenai common rights. Akan tetapi, keterbatasan kekuatan negara hanya pada permasalahan hak-hak umum sebagai rakyat membuat particular interest suatu grup sosial tertentu menjadi diabaikan karena tidak bersifat umum.
Keadaan ketakterlindungan tersebut menjadi jalan pembenaran ketidakadilan dalam bentuk dalam praktis sehari-hari. Oleh karena itu pertama-tama penelitian ini berusaha membuktikan bahwa asumsi antropologis demokrasi liberal tidak dapat diterapkan dengan baik dalam kenyataan.
Berdasarkan keadaan tersebut, penelitian ini juga berusaha membuktikan bahwa pada dasarnya demokrasi membutuhkan proses komunikasi. Warga negara butuh untuk menyampaikan pandangan dan mendengarkan pandangan yang lainnya agar dapat saling
memahami, bukan “menyamakan”. Ketika ada kelompok yang menemukan dirinya sebagai bagian pengalaman ketidakadilan karena dianggap berbeda dari standar normal, sudah selayaknya mereka berhak meminta perhatian khusus dari sosial. Seturut kondisi tersebut, ranah publik politikal, baik di tingkat masyarakat maupun pemerintahan, seyogianya menjadi tempat mengakomodir kejamakan, bukan membentuk ketunggalan. Keberadaan civil societies dan representatif khusus di pemerintahan bagi kelompok yang termarginalkan adalah dua hal inti dari partisipasi demokrasi yang bebas dari koersi eksternal. Akan tetapi kedua bentuk tersebut belum menjamin untuk bebas dari koersi internal yang membuat suatu pihak secara fisik masuk dalam forum namun tidak dilibatkan dalam diskusi. Oleh karena itu Young mengkonsepsikan normatif dalam komunikasi yang mengkondisikan komunikasi politik menjadi lebih terbuka dan menuju pada kesaling-pemahaman. Melalui greeting, rhetoric, dan narrative diharapkan proses komunikasi politik akan mengikutsertakan individu-individu dan grup-grup yang memang seharusnya terlibat dalam pembicaraan mengenai nasib mereka, bahkan dalam cara mengkomunikasikan yang dianggap tidak lazim dalam debat rasional. Komunikasi politik yang inklusif berujuan untuk merekognisi keunikan suatu grup sosial sehingga dapat memperbaiki taraf hidup anggotanya yang selama ini sulit dikembangkan karena stereotip yang dikenakan pada mereka. Wujud akhir dari perjuangan tersebut adalah kesetaraan. Kesetaraan politik sebenarnya merupakan salah satu nilai dasar liberalisme, sayangnya universal citizenship yang menjadi panduan justru dipahami dalam kerangka kesamaan.
Kerangka tersebut secara halus memaksakan asimilasi sosial pada yang berbeda yang ironisnya setelah dilakukan pun mereka akan tetap dianggap berbeda. Oleh karena itu Young mengajukan konsepsi differentiated citizenship yang memungkinkan perlakuan berbeda bagi warga negara yang telah mengalami ketidakadilan agar dapat menjadi secara sosial pula.
Oleh karena itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa rekognisi membuahkan kebijakan publik berupa keistimewaan sosial sekaligus juga keistimewaan ekonomi bagi grup sosial.
Keadaan tersebut akan mengamankan posisi anggota identitas kolektif sebagai setara secara sosial yang biasanya dikaburkan dalam masyarakat yang terbiasa dengan kerangka pikir demokrasi liberal. Liberalisme seringkali hanya memfokuskan penelahan pada sisi individu saja tanpa mempertimbangkan identitasnya dan kondisi lingkungan sosialnya. Keterikatan seseorang pada grup sosialnya bukan berarti bahwa partisipasi dirinya dalam masyarakat terbatas melalui identitas tersebut. Secara logis kerangka liberalisme sebenarnya memungkinkan keunikan beragam identitas kolektif dalam relasi sosial karena kebebasan
juga berarti kebebasan untuk berkelompok namun sekaligus tetap mengakui individu sebagai identitas yang unik karena posisinya yang dikonstitusi berbagai grup sosial. Oleh karena itu penelitian ini juga menunjukkan bahwa identitas adalah hasil relasi sosial, baik dalam tataran individu-kelompok maupun kelompok-kelompok. Pembuktian tersebut juga membuka pandangan bahwa ketidakadilan kerap kali terjadi karena berusaha mengesensialkan yang sebenarnya bersifat relasional tersebut. Penelitian ini juga membuktikan bahwa keadilan sosial sebenarnya terkait erat dengan realisasi diri. Realisasi diri memang bersifat sangat personal, namun tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari masyarakat dan tatanan sosial memiliki pengaruh sangat besar dalam aksesibilitas seseorang terhadap banyak hal dalam masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan kondisi institusional yang memungkinkan individu untuk menjejaki berbagai tatanan sosial dalam memenuhi impiannya jika diperlukan.
5.1.1 Ruang Publik sebagai Ruang Persamaan
Kesetaraan individu adalah kunci dalam mewujudkan partisipasi rakyat yang inklusif dalam demokrasi. Akan tetapi, kesetaraan individu dipahami begitu sempit dalam demokrasi liberal, yaitu hanya sebatas pada posisi asali. Asumsi antropologis ala Rawlsian tersebut sebenarnya secara tidak langsung meniadakan partisipasi karena semua orang akan memiliki opini dan tuntutan yang sama mengenai kepentingan publik. Bahkan, Rawls tampak sudah memenuhkan keadaan asumtif tersebut dengan konsep primary social goods. Hilangnya aspek partisipasi rakyat dalam ruang publik demokrasi liberal Rawlsian membuat rakyat tercerabut dari kedaulatan yang mereka investasikan pada negara. Apalagi dengan semakin berkembangnya kapitalisme, rakyat menjadi lupa akan kekuatan kedaulatan mereka tersebut karena terlalu sibuk mengkonsumsi. Oleh karena itu, teori tindakan komunikatif Habermas dikembangkan untuk memperlihatkan sisi prosedural overlapping consensus. Pada dasarnya demokrasi liberal Rawls dan demokrasi deliberatif Habermas sama dalam memandang manusia dalam perspektif humanisme abstrak universal sebagai makhluk rasional yang mampu melepaskan diri dari faktisitas ketubuhan, afektivitas, ruang dan waktu, maupun sosio-kulturalnya.
Jika Rawls mengasumsikan keadaan tersebut sebagai sebagai prasyarat untuk memasuki ruang publik, Habermas menjadikannya sebagai tujuan. Proses komunikasi memang secara setara terbuka bagi semua anggota masyarakat yang
dapat memberikan kontribusi relevan. Masalah dalam konsepsi tindakan komunikatif terletak pada kepercayaan beliau yang hanya menerima argumentasi rasional sebagai satu-satunya metode pengambilan putusan dalam semua kebudayaan. Habermas menyalahi konsep etika diskursusnya yang menyatakan bahwa proses komunikasi harus bebas dari koersi internal maupun eksternal dengan menerima bahwa rasionalitas identik dengan obyektif. Suatu hal dianggap memenuhi standar obyektif jika dapat dipahami setiap orang secara sama, apapun latar belakangnya. Syarat obyektifitas tersebut membuat transendensi sudut pandang untuk mencari persmaan dengan yang lain menjadi tidak terelakkan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegagalan konsep keadilan Rawls dan konsep demokrasi deliberatif Habermas dalam mewujudkan keadilan disebabkan oleh ketidakmemadaian asumsi antropologis mengakomodir perbedaan sehingga membiarkan masyarakat minoritas dikenai stereotip sepihak oleh mayoritas. Syarat universalitas membuat pengalaman subjektif dan atau cara bertutur individu atau grup sosial tertentu menjadi tidak relevan untuk ditampilkan di ruang publik. Akibatnya, mereka yang berbeda menjadi terbatas ruang geraknya karena mau tidak mau harus mengikuti standar agar diterima oleh masyarakat. Komunikasi dalam kondisi tersebut tidak menjadi proses kesalingpemahaman, melainkan pembentukan sikap seturut kacamata kelompok dominan.
5.1.2 Demokrasi, Tarik Menarik antara Persetujuan dan Perjuangan
Ketika ruang publik dijalankan dalam standar suatu kelompok tertentu, hal tersebut mengindikasikan ada kelompok yang diistimewakan, dan di sisi lain terdapat kelompok yang diabaikan. Padahal pengabaian tersebut seringkali bersifat sepihak dan tanpa melihat kenyataan bahwa individu lebih kompleks dari sekedar penamaan kelompok. Ketertutupan akses secara de facto untuk terlibat aktif dalam pembentukan opini publik memaksa kelompok minoritas untuk membuat ruang publiknya sendiri. Keadaan tersebut bukan merupakan ancaman terhadap demokrasi, melainkan dasar dari demokrasi yang radikal.
Rakyat bukan agregat semua warga negara menjadi a people. Rakyat adalah people (yang bersifat jamak) yang memiliki kedaulatan setara untuk mempertahankan idenya masing-masing. Demokrasi pada dasarnya adalah proses perjuangan kedaulatan rakyat untuk didengar dan diperhatikan oleh sesama warga
negara dan negara. Ranah publik yang pada umumnya dijalankan oleh mayoritas maupun sub-altern counter publics pada dasarnya adalah sama-sama wadah untuk mengumpulkan kekuatan antara individu-individu senasib untuk membawa perubahan legal dan institusional. Oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah harus bertransformasi seturut Keberagaman rakyatnya dalam memperjuangkan keadilan. Dalam masyarakat yang kompleks, perlindungan negara belum cukup hanya dengan perlindungan individu saja. Ketimpangan-ketimpangan sosial yang telah dihasilkan oleh penyalahgunaan keadaan ketakterlindungan hal-hal yang dianggap privat serta kebijakan-kebijakan universal abstrak yang disetir oleh kekuatan kelompok mayoritas menunjukan bahwa praktek kesetaraan sebagai persamaan tidak memadai.
Berdasarkan keadaan tersebut maka pemerintah selayaknya menyediakan kursi khusus di pemerintahan bagi representasi grup sosial yang telah mengalami ketidakadilan. Menuntaskan eksklusi terhadap individu-individu dan grup-grup yang dapat memberikan pertimbangan relevan karena keahlian atau karena hal yang diputuskan dapat mempengaruhi kehidupan mereka dari proses diskusi dan pembuatan keputusan dapat ditempuh melalui representasi. Kondisi yang lebih sulit diubah oleh institusional dibandingkan eksklusi eksternal tersebut adalah untuk sungguh-sungguh mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandang yang benar-benar berbeda. Kebiasaan untuk menerima sesuatu sebagai hal yang masuk akal dalam kerangka pikir logis dan tanpa emosi dalam diskusi publik membuat pengalaman personal menjadi tidak layak untuk dipertimbangkan, bahkan untuk didengarkan.
Padahal untuk mencapai pemahaman akan keadaan dan kebutuhan satu sama lain dalam masyarakat yang kompleks tidak mungkin dilandaskan pada kesamaan pengalaman. Tantangan utama dalam komunikasi adalah untuk memahami sudut pandang hal-hal yang tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah dialami. Oleh karena itu yang harus diubah bukan cakupan pengalaman dengan mencari kategori lebih luas dengan mengabstrakannya, melainkan dengan menjadi lebih mau mendengar. Young mengadaptasi etika diskursus Habermas dan memadukannya dengan teori Levinas untuk mengkonsepsikan normativitas komunikasi yang benar- benar inklusif, yang menghargai secara universal terhadap yang partikular-partikular.
Melalui greeting, rhetoric, dan narrative diharapkan hal-hal dan cara-cara yang
dianggap tidak lazim dalam debat rasional dapat dikomunikasikan, membawa orang pada sudut pandang baru, dan memampukan orang untuk merekognisi perbedaan.
Tujuan dari semua perjuangan tersebut adalah untuk memberikan kesetaraan politik dan kesetaraan sosial bagi seluruh warga negara. Ide differentiated citizenship adalah alternatif terhadap universal citizenship yang justru menjadi pembenaran bagi tuntutan kesamaan sosial oleh mayoritas. Ketidakadilan sosial karena perbedaan identitas sosial tidak dapat diselesaikan dengan cara asimilasi yang merujuk pada logika kesamaan, sumber ketidakadilan. Oleh karena itu dibutuhkan peraturan yang memungkinkan perlakuan khusus sesuai dengan kondisi sosial yang mengalami ketidakadilan agar dapat membawa mereka pada kesetaraan sosial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa politik perbedaan adalah pengembangan konsep komunikasi politik Habermas agar ruang publik dalam demokrasi bertransformasi sehingga memiliki tempat bagi pengalamanpengalaman kelompok minoritas yang selama ini dianggap tidak berkepentingan dengan kehidupan bernegara. Konsepsi politik perbedaan ini secara komprehensif meliputi asumsi antropologis, sistem politik di ruang publik, baik dari sisi rakyat dan negara, serta normatif komunikasi politik. Ke-empat hal tersebut bukan merupakan tahapan, melainkan harus diusahakan secara serempak demi mewujudkan rekognisi yang sesuai agar yang mengalami ketidakadilan karena stereotyping tidak mengalami kondisi serupa lagi sehingga dapat terwujud kesetaran sosial.
5.1.3 Posisi Politik Perbedaan dalam Konsep-konsep Afirmasi Pluralisme Rekognisi tidak hanya akan memampukan untuk mengidentifikasi praktek stereotyping yang merugikan kelompok minoritas secara sosio-kultural saja, namun juga kerugian secara ekonomi oleh karena atribut mereka. Ekonomi dan budaya adalah dua bidang yang berbeda namun bukan berarti kedua masalah tersebut terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara terpisah sama sekali. Inferioritas identitas cenderung beriringan dan berjalinan saling menguatkan dengan ketidakadilan di bidang ekonomi. Oleh karena itu menurut Young tindakan afirmasi bagi grup sosial minoritas seringkali tidak hanya butuh dalam bentuk kebijakan rekognisi budaya saja melainkan juga redistribusi ekonomi. Kesalahpahaman lain dalam merekognisi perbedaan grup sosial adalah untuk menerima pembentukan grup sosial sebagai agregat atributif dan menjadikannya sebagai esensi grup sosial tersebut.
Keterlemparan manusia ke dalam dunia dengan menyandang atribut-atribut ketubuhan memang suatu hal yang tidak terelakkan, tetapi hal tersebut tidak secara mutlak membuatnya harus masuk dalam kategori grup sosial tersebut. Pengalaman senasib dan sepenanggungan individu-individu yang umumnya sama-sama memiliki atribut tertentu adalah dasar konstitusi suatu grup sosial. Akan tetapi tidak semua aspek dalam kehidupan anggota-anggotanya akan persis sama sebab kehidupan seorang manusia adalah keunikan atas ketakberhinggaan kombinasi irisan grup-grup sosial.
Selain mengungkung individu dalam kepentingan kelompok, akibat lain dari penerimaan identitas secara esensial adalah kegagalan untuk mengidentifikasi sumber ketidakadilan. Perlakuan tidak adil yang dialami individu-individu dengan atribut tertentu adalah jelas bukan karena atribut yang dimiliki bersifat inferior, melainkan karena konstelasi sosial yang merendahkan nilainya sedemikian rupa.
Pertimbangan tersebut seringkali terlewat dalam tuntutan-tuntutan politik identitas sehingga tuntutan akan rekognisi seringkali hanya terfokus pada keamanan status sebagai negasi atas stereotip masyarakat tanpa disertai penghapusan relasi superior- inferior.
Politik perbedaan dikonsepsikan Young atas asumsi kecairan identitas individu, yaitu tanpa melepaskan manusia dari berbagai pengaruh sosial budaya tempatnya hidup serta tanpa mereduksikan identitasnya sebatas pada sosial budaya tersebut. Lebih lanjut lagi, kecairan identitas bukan hanya pada tingkat individu, melainkan juga pada tingkat kelompok. Identitas suatu kelompok seringkali hanya berupa stereotip tanpa mengetahui pengalaman nyata anggotaanggotanya. Melalui komunikasi yang inklusif, bentukan sosial yang satu sudut pandang diperluas sehingga identitas suatu kelompok dapat dimaknai secara lebih komprehensif.
Perubahan pandangan akan suatu kelompok sosial akan mengubah relasi dan status sosial kelompok-kelompok di masyarakat menjadi setara. Jadi, perbandingan antara politik perbedaan dengan teori afirmasi perbedaan lain adalah jalan untuk melihat konsistensi argumentasi politik perbedaan. Politik perbedaan unggul karena tidak hanya melihat ketidakadilan sebagai masalah rekognisi atau distribusi, melainkan keduanya. Keunggulan lainnya adalah politik perbedaan benar-benar menghargai perbedaan dengan tidak bersifat mengungkung manusia dalam esensialisme
kelompok sehingga tetap memungkinkan kebebasan individu. Kesadaran bahwa manusia tetap bisa memiliki keunikan individu juga membuka wawasan bahwa ketidakadilan itu tidak disebabkan oleh karena adanya esensi diri tertentu yang bersifat inferior seperti yang dinyatakan stereotip mayoritas selama ini, melainkan relasional.
5.1.4 Transformasi Keadilan Sosial
Kebahagiaan sebenarnya bukan cakupan keadilan karena bersifat personal eksistensial. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa manusia selalu menjadi bagian dari suatu grup sosial dan proses sosial-struktural yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pengakuan terhadap keberagaman dan hukum yang mengakomodir perbedaan dibutuhkan untuk menyediakan ruang gerak yang sesuai bagi individu untuk merealisasikan dirinya tanpa harus melepaskan atau mengaburkan identitasnya secara terpaksa. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam demokrasi yang mampu merekognisi perbedaan, baik dari tingkat kelompok maupun individu, keadilan sosial bukan lagi sematamata mengenai kehidupan sosial yang teratur, keteraturan tatanan sosial bukan pula demi pemenuhan kebaikan kelompok semata, namun terlebih untuk menyediakan tatanan sosial yang memampukan setiap individu mengejar kebahagiaan dalam hidupnya tanpa ada pihak yang harus melepaskan identitasnya.
5.2 Refleksi
5.2.1 Paradoks Dalam Praksis dan Teori
Dewasa ini pada era negara-bangsa, intensitas beragamnya perbedaan meningkat pesat karena kecenderungan lintas kelompok, etnis, ras, agama maupun sosial-budaya lainnya meningkat ekstensif sehingga merubah batasan lama sebuah bangsa. Seperti yang diperlihatkan Benedict R’OG Anderson, batasan sebuah bangsa mengalami perluasan maupun pengayaan definitif, sehingga tak lagi mengandaikan sebuah etnis atau ras tertentu saja seperti dalam batasan lamanya melainkan mencakup ‘segenap’ kelompok masyarakat yang berada dalam suatu wilayah berdaulat tertentu. Bahkan di negeri-negeri terkebelakang tempat terjadinya perang berbasis pembersihan suku seperti di segelintir negara Afrika sekalipun sudah sulit ditemui model negara ortodoks dengan kedaulatan etnis berbasis satu suku-bangsa
pokok, apalagi disertai ketunggalan agama negara seperti pada era nasionalisme ethno-religius di abad-abad lampau.
Jadi, batasan sebuah bangsa berkembang meluas, mencakup segenap individu dari berbagai kelompok, suku dan ras yang secara legal menjadi warga negara dalam satuan wilayah berdaulat. Anderson menyebutnya dengan “komunitas politik yang dibayangkan” (imagined political community) dalam kedaulatan wilayah tertentu.
Jadi baginya, bangsa lebih merupakan “sebuah komunitas politik yang dibayangkan dan secara inheren dibayangkan baik secara terbatas maupun berdaulat.1 Situasi saat ini dengan Keberagaman ekstrem dimana satu kelompok berbeda dengan yang lain bahkan suatu kelompok grup sosial bisa menjadi berbeda dengan sendirinya membawa kita pada paradoks etikopolitik yang harus dihadapi kehidupan koeksistensial manusia saat ini. Kebebasan pilihan dan kepulihan tanggung jawab etis manusia serentak diiringi penghapusan kenyamanan atas tersedianya arah universal yang seragam seperti yang pernah dijanjikan agama, ideologi atau doktrin komprehensif era modern lainnya.2 Dengan begitu, manusia harus membangun kerangka etik dan etikopolitiknya sendiri dan bagi masing-masing dirinya sendiri secara ‘pribadi’. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak lagi bisa tinggal mengambil dari narasi-narasi besar seperti era sebelumnya. Bahkan, kerangka etik serta etikopolitik itu juga harus dibangun tanpa landasan dan dari sebuah diri yang juga
1 Bagi Benedict R’OG Anderson, penalarannya adalah komunitas tersebut “imagined (‘dibayangkan’) because the members of even the smallest nation will never know most of their fellow-‐members, meet them, or even hear of them, yet in the minds of each lives the image of their communion.” Selanjutnya, bangsa tersebut
“imagined as limited (dibayangkan secara ‘terbatas’) because even the largest of them, encompassing perhaps a billion living human beings, has finite, if elastic, boundaries, beyond which lies other nations.” Selanjutnya lagi, bangsa tersebut “imagined as sovereign (dibayangkan sebagai ‘berdaulat’) because the concept was born in an age in which Enlightment and Revolution were destroying the legitimacy of the divinely-‐ordained, hierarchical dynastic realm.” Dan, terakhir, bangsa tersebut “imagined as a community (dibayangkan sebagai sebuah ‘komunitas’), because, regardless of the actual inequality and exploitation that may prevail in each, the nation is always conceived as a deep, horizontal comradeship.” Lihat: Anderson, Benedict, (2000), Imagined Communities, London: Verso, pp. 6-‐7. Cf. Cornelius Castoriadis mengenai keniscayaan karakteristik imajiner sebuah bangsa dan sangkut-‐pautnya dengan survivalitas nasionalisme. Lihat: Castoriadis, Cornelius, (1998), The Imaginery Institution of Society, Cambridge: The MIT Press, pp. 148-‐149.
2 Seperti tersurat pada paparan Bauman sebagai berikut:“The ethical paradox of the postmodern condition is that it restores to agents the fullness of moral choice and responsibility while simultaneously depriving them of the comfort of the universal guidance that modern self-‐confidence once promised. Ethical tasks of individuals grow while the socially produced resources to fulfil them shrink. Moral responsibility comes together with the loneliness of moral choice.” Lihat: Bauman, Zygmunt, (2003), Intimations of Posmodernity, London: Taylor
& Francis e-‐Library, p. xxii.
tanpa landasan fondasionalisme yang metanaratif, yang selama ini bertanggung- jawab memberi jaminan fondasional semacam itu.3
Oleh karena itu, bagi Zygmunt Bauman, penerimaan penuh atas ketakterhapusan perbedaan dan konsekuensi konstitutifnya pada adanya Keberagaman justru merupakan karakteristik pokok era ini. Jelasnya Keberagaman bukanlah kesementaraan yang bisa ditanggulangi, melainkan kualitas tak tersingkirkan eksistensi karena bersifat konstitutif.4 Sebagai kualitas konstitutif akibat maraknya perbedaan, Keberagaman harus dipahami sebagai struktur dasar masyarakat yang tak terreduksikan apalagi tersingkirkan. Dengan demikian, ambivalensi akibat ketakterpisahan Keberagaman bukanlah sesuatu yang bisa diatasi oleh kebersepakatan yang monosemik, universalitas, atau konsensus. Sebaliknya, menjadi sebuah kontingensi yang khas akibat dari pluralitas yang tak berujung, sehingga bagi Bauman, menafikan harapan palsu akan universalitas, kesamaan, dominasi dan kepastian dari mayoritas, justru merupakan langkah pertama menuju emansipasi. Manusia di era ini ditakdirkan bukan untuk “mengatasi” melainkan untuk hidup berdamai dengan “perbedaan” dan Keberagaman, jadi, menerima situasi polisemi berserta ambivalensi yang diakibatkannya termasuk dalam ranah etik maupun politik. 5
Sementara itu, dari sisi lain, tersingkirnya Komunisme, meredupnya Sosialisme, dan semakin menengahnya kecenderungan Sosial Demokrat dalam percaturan politik global membuat tertib politik dunia berjalan dalam kesatusisian hegemoni Neo/liberalisme dengan rezim demokrasi liberal konsensual-nya.
Perkembangan praksis politik global ini memang menempatkan demokrasi liberal konsensual sebagai pemenang dalam percaturan ideologis global, namun kemenangan tersebut terbukti tidak diiringi keberhasilan menanggulangi ketimpangan tertib politik-ekonomi dunia seperti janji ideologisnya, Ketakmampuan
3 Seperti tersurat lewat pernyataan Sam Smith sebagai berikut: “If we accept the postmodern diagnosis it would seem that we are left facing the task of constructing an ethics without foundations from a self without foundations.” Lihat: Smith, Sam, (1999), Ethics and Postmodernity, dalam Christopher Dowrick, et al., (ed.), General Practice and Ethics, London: Routledge, p. 99.
4 Bauman, Zygmunt, (1998), Modernity and Ambivalence, Cambridge: Polity Press, pp., p. 98.
5 Ibid, pp. 98, 231-‐234.
ini tampak jelas lewat kegagalan rezim politik-ekonomi global dalam menyempitkan jurang kesenjangan sosial-ekonomi antargarda maupun intragarda serta dalam menyusutkan angka pengangguran dan kemiskinan absolut di dunia.6
Monologisme demokrasi konsensual ini menggambarkan keterbelahannya karena adanya tuntutan keterbukaan dan Keberagaman era polisemi. Namun tuntutan akan perbedaan dan Keberagaman mengalami kesulitan pengejewantahan karena percaturan politik dunia justru hanya menghadirkan politik tunggal tanpa seteru,7 sehingga justru mengarah pada penutupan politik. Inilah paradoks praksis politik yang juga harus dihadapi politik demokrasi di era ini, dimana dominasi monosemik menghilangkan partisipasi dalam demokratisasi, yang ada hanya tuntutan kesamaan dan ketertutupan politik. Menilik Keberagaman dan keterbukaan merupakan tuntutan demokrasi sekarang ini, Dengan demikian, semua ini menghadapkan politik demokrasi pada dua paradoks yang harus secara serentak ditanggulanginya. Paradoks etikopolitik menghadapkan pada tantangan teoritik untuk menanggulangi sosiopolitik yang polisemi, sementara paradoks praksis politik menghadapkan pada tantangan dominasi tunggal untuk menanggulangi kecenderungan tertib politik global yang sedang terbelenggu dalam situasi monosemi.
5.2.2 Posibilitas Politik dan Perubahan Paradigma Demokrasi
Seturut kedua paradoks itulah, penelitian ini menelusur dua pokok permasalahan. Pertama, possibilitas politik sebagai utopia koeksistensial dalam perubahan paradigma plural,. Kedua, perubahan paradigma yang harus ditempuh politik perbedaan dalam rangka merawat kesesuaian dan kememadaian nilai-nilai Keberagaman sebagai corak politik yang koeksistensial terhadap pluralisme radikal akibat perubahan paradigma yang beragam. Situasi yang beragam seharusnya mengakibatkan hilangnya kehadiran sebuah entitas pertimbangan monolog yang
6 Lihat: Unger, Roberto Mangabeira, (2000), Democracy Realized, The Progressive Alternative, London: Verso, pp. 53, 32-‐40.
7 Di samping sisa-‐sisa rezim komunis dan sosial demokrat yang semakin kembang-‐kempis menghadapi penetrasi ideologis maupun gempuran praksis haluan neo/liberal dalam percaturan politik-‐ekonomi global, belakangan gerakan Sosialisme di sejumlah negeri Amerika Latin berhasil mengambil-‐alih tampuk kekuasaan pada tingkat negara. Betapapun, kiranya sulit ditampik kenyataan bahwa tertib politik-‐ekonomi global sangat didominasi oleh Neo/liberalisme, seperti terlihat dari kiprah dan pengaruh dominan lembaga-‐lembaga bentukannya seperti IMF dan Bank Dunia dalam percaturan politik-‐ekonomi global.
legitimasinya bisa diterima segenap pihak sebagai landasan normatif bersama, apalagi dalam pengertian universal dan tak terkontestasikan lebih lanjut lagi. Oleh karena itu, pokok permasalahan ini menyangkut possibilitas politik sebagai utopia koeksistensial dalam menghadapi kompleksitas paradoks etikopolitik, termasuk baik kemungkinannya yang masih ‘tersisa’ atau barangkali justru baru menjadi terbuka. Oleh karena itu setidaknya ada enam poin penting yang saya refleksikan dalam penelitian ini.
Pertama, politik global mutakhir menghadapkan demokrasi pada paradoks ganda. Paradoks etikopolitik menghadapkan politik demokrasi pada situasi polisemi yang parataksis,8 sementara paradoks praksis akibat stabilisasi politik global setelah tersingkirnya Komunisme, meredupnya Sosialisme, dan semakin menengahnya Sosial Demokrat sebaliknya justru menghadapkan pada bahaya politik tanpa seteru, bahaya monologisme politik demokrasi liberal pada tertib politik-ekonomi global yang monosemi. Oleh karena itu, pokok permasalahan kedua telaah ini menyangkut perumusan dan penawaran perubahan paradigma dalam memahami politik demokrasi agar segenap nilai-nilai derivatifnya seperti pengakuan atas keterbukaan, perbedaan dan keberagaman, masih dapat tetap sesuai dan memadai sebagai utopia politik koeksistensial, baik dalam menanggulangi situasi parataksis akibat paradoks etikopolitik maupun dalam menghadapi ketegangan konstitutif akibat paradoks praksis politik global, yakni ketika politik keberagaman dan keterbukaannya harus menghadapi keterbatasan dan ketertutupan politik global dewasa ini yang serba monolog akibat rasionalitas demokrasi konsensual.
Sehubungan dengan upaya memahami dan melampaui kedua permasalahan itulah, penelitian ini pertama merefleksikan bahwa perubahan drastis dewasa ini menuntut perubahan paradigma dalam memandang politik dan demokrasi, baik dalam pewacanaan maupun penerapannya. Politik dan demokrasi bahkan perlu menjalani redefinisi, yakni dari politik sebagai upaya koeksistensial menuju harmoni sehingga demokrasi merupakan politik yang sepenuhnya rasional
8 Secara harafiah ‘parataksis’ berarti klausa dan frasa dirangkai mandiri, sebuah bangunan ko-‐ordinasi dan bukan subordinasi, bahkan juga tak ada hirarkhi, atau petunjuk apakah penafsiran-‐penafsiran yang tersuguh tersebut milik kelompok yang sama atau ditarik dari dunia yangberbeda. Jadi, gamblangnya, parataksis menunjuk pada suatu situasi tanpa hierarkhi dan mengambang, dalam hal ini hierarkhi nilai tertentu. Lihat:
Bauman, (1998), op. cit., p. 180.
konsensual, menjadi politik sebagai sebentuk utopia koeksistensial manusia yang sadar dan sengaja untuk sepenuhnya mengelola perbedaan dan keberagaman sehingga demokrasi lebih merupakan politik dissensus.
Kedua, sebagai konsekuensi logisnya, penelitian ini menjejaki paradoks etikopolitik dan kondisi antesedennya. Sketsa persoalan ini berguna untuk membangun pemahaman mengenai kegentingan yang perlu kita hadapi bersama, baik konsekuensi teoritis dan praksisnya bagi kehidupan politik maupun tuntutan perubahan paradigma dalam memahami asumsi antropologis setiap relasi sosial yang terbukti bahkan menuntut redefinisi politik maupun demokrasi.
Ketiga, penelitian ini juga telah mendekonstruksi kerangka teori liberalisme akan demokrasi konsensual yang dirasa tak memadai lagi untuk memahami tuntutan perubahan dan keberagaman, terutama dalam rangka menjejaki possibilitas politik sebagai utopia koeksistensial yang masih tersisa. Demikian pula penelusuran kerangka teoritis politik perbedaan sebagai sebentuk utopia koeksistensial agar dapat menjawab perubahan etikopolitik dan menjaga otentisitas nilai-nilai dalam penerimaan perbedaan, Keberagaman, dan keterbukaan, serta konsekuensi terhadap pengarus-utamaan toleransi yang lebih inklusif.
Keempat, penelitian ini ikut memperkaya perspektif dalam mendekati realitas politik. Pendekatan atas fenomena politik yang lebih bersifat spasial serta antropologis-filosofis ini, yakni manusia kongkrit berserta keterhubungan sosialnya dalam sebuah medan perebutan artikulatif yang senantiasa antagonistis dan karena itu selalu kontingen dan memberikan kemungkinan lebih realistis, atau setidaknya lebih otentik sehingga bisa memperkaya perspektif dalam memahami realitas politik yang selama ini didominasi pendekatan behavioristis, struktural- fungsional dan moral-etis.
Kelima, penelitian ini memberikan sumbangan teoritis mengenai keniscayaan pluralisme demokrasi radikal dalam budaya politik. Demokrasi demi idealitas koeksistensi kehidupan manusia yang diperjuangkannya dapat menerima perbedaan, Keberagaman, dan keterbukaan melalui wacana-wacana yang berbeda dalam ruang publik. Tujuan tersebut membuka perspektif baru yang semakin
mengukuhkan pentingnya dan niscayanya sebuah bentuk perbedaan, Keberagaman, dan keterbukaan, bahkan melegitimasi antagonisme dan dissensus demi mememelihara ketegangan kreatif yang niscaya penting bagi mekanisme rekonstruktif dari politik sejauh dalam nilai-nilai demokratis.
Terakhir yang keenam, penelitian ini juga diharap ikut memasyarakatkan pentingnya perubahan paradigma dalam memahami maupun menerapkan politik lebih sebagai pengelolaan kekuasaan yang tidak tunggal dan demokrasi lebih sebagai politik dissensus. Harapan ini bertolak dari kesadaran historis bahwa bangsa Indonesia telah berulangkali mengalami krisis multidimensi, dan penyebab langsung maupun tak langsungnya antara lain, lantaran berlebihan menerapkan politik harmoni dan demokrasi konsensus. Politik demokrasi dalam paradigma konsensus, baik secara teoritis maupun praksis terbukti lebih mudah diselewengkan untuk melakukan pemusatan kekuasaan sehingga berkembang eksesif dan dapat menjadi totalitarian.