• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran human capital dan structural capital Dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Peran human capital dan structural capital Dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 1

Peran human capital dan structural capital Dalam meningkatkan kinerja organisasi

(suatu kajian konseptual)

Usup Riassy Christa

Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya

ABSTRACTS Human Capital and Structural Capitals a major component of intellectual capital (IC) as an internal resource who mobilize the entire organization of productive activity that was instrumental in the creation of value and the competitiveness of the organization. This study seeks to review the role of both there sources of some of the literature and empirical studies that have been conducted by some researchers as a basic conceptual argument. Some research revealed that the contribution of human capital and structural capital dominant influenced organizational performance improvement.

Optimization of human capital empowerment and organizational capital utilization will be drive achievement of high performance.

Keywords: Human Capital, Structural Capital, Organizational Performance.

PENDAHULUAN

Persaingan dalam dunia industri di era globalisasi saat ini, menunjukkan kompetitivitas bisnis yang semakin kompetitif dan menuntut perubahan paradigma bisnis klasik kearah bisnis modern berbasis ilmu pengetahuan (knowledge- management). Istilah intellectual capital digunakan untuk menjastifikasi faktor-faktor tak wujud (intangible-factors) organisasi yang dapat menciptakan nilai dan daya saing serta bermakna lebih dari sekedar “intelektual murni” tetapi memasukkan “tindakan intelektual” sebagai bagian dari ilmu pengetahuan (Galbraith., 1969 dalam Bontis., 2000). Faktor-faktor laten (intangible) tersebut berupa pengetahuan, pengalaman, kompetensi/keahlian, keterampilan (skills) dan berbagai aset lunak (soft assets), berpengaruh paling kuat meningkatkan nilai dan keunggulan daya saing perusahaan (Klein., 1988 dalam Moon dan Kym., 2006).

Pergeseran paradigma bisnis yang mengarah pada tindakan intelektual, akhir-akhir ini semakin sering diperdebatkan manakala integrasi human capital dan structural capital sebagai sumber daya internal sebagai kompetensi intiorganisasi /perusahaan sangat kompeten sebagai penentu keberhasilan pencapaian kinerja terbaik organisasi. Setiap organisasi/perusahaan bertujuan untuk mencapai kinerja terbaik, efektif dan berkesenambungan, namun keterbatasan ketersediaan sumber daya internal memiliki andil cukup signifikan sebagai faktor penghambat pencapaian kinerja.

Mengatasi permasalahan tersebut diatas membutuhkan strategi tertentu dan ketajaman berfikir manajemen, dalam mengekplorasi aset human capital dan structural capital melalui optimalisasi pemberdayaan aset-aset sumber daya internal organisasi. Dengan demikian organisasi mampu menghasilkan keunggulan bersaing (competitiveness) sebagai “kompetensi inti” organisasi/perusahaan.

Human capital (aset laten) merupakan komponen utama yang paling urgen dari modal intelektual (IC) lainnya, sebab dapat menciptakan nilai dan kemampuan bersaing bagi

(2)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 2 organisasi/perusahaan melalui kemampuan transformasi potensi manusia (brainpower) menjadi produk atau jasa (Seetharaman et al., 2001 dalam Sangkala., 2006).

Human capital menurut Sveiby (1998) merupakan kompetensi individu sebagai kapasitas karyawan untuk bertindak didalam berbagai situasi. Dilengkapi pandangan lain yang menyatakan bahwa, human capital adalah pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan melalui proses pendidikan dan pelatihan (Azua dan Azua., 1998 dalam sangkala., 2006).

Selanjutnya Marti (2001) mengemukakan human capitalmerupakan darah kehidupan bagi modal intelektual, sebagai generator dari seluruh nilai yang lahir dalam potensi inovasi dari perusahaan sekaligus kekuatan dibalikinovasi. Oleh karenanya memiliki kemampuan mendorong perbaikan produktivitas individual karyawan, meningkatkan kinerja perusahaan.

Kemampuan mengkomunikasikan dan mentransformasikan pengetahuan dengan terampil dan profesional pada pekerjaan dapat membangun nilai relasional berkesinambungan dalam bentuk kemitraan antara perusahaan sebagai stakeholder internal dengan pelanggan sebagai stakeholder eksternal(Usup R. C., 2011).

Structural capital adalah komponen utama terpenting lainnya dari modal intelektual (IC) dalam bentuk aset nyata bagi organisasi/perusahaan. Selain berfungsi sebagai wadah dimana seluruh hasil aktivitas penciptaan nilai yang dihasilkan oleh modal manusia (HC) tersimpan, Structural capital juga berfungsi sebagai infrastruktur ataupun sarana penunjang bagi modal manusia (SDM)untuk menjalankan aktivitas penciptaan nilai bagi organisasi.

Dalam konteks pengelolaan modal intelektual, maka peran modal struktural menduduki posisi yang stratejik. Peran dari structural capital dikatakan sangat strategik, karena mampu memberikan berbagai kemungkinan penciptaan nilai/aset (kekayaan) bagi organisasi/perusahaan melalui transformasi hasil kerja modal manusia.

SelanjutnyaMarti (2001) menyatakan bahwamodal structural adalah kemampuan perusahaan memanfaatkan intelektualitas dan keinovasian manusia (SDM) menciptakan kekayaan yang diaktualisasikan sebagai nilai dari prosedur, teknologi, rutinitas dan sistem yang berada didalam perusahaan, dan juga merupakan cara-cara dimana komponen-komponen didalam perusahaan disistematisir, diinternalisir dan diproses.

Pendapat diatas, mempertegas sekaligus mendukung pandangan Advinson dan Malone (1997) yang menyatakan modal struktural sebagai kerangka kerja dan perekat bagi perusahaan yang mencerminkan nilai dari sebuah perusahaan sebagai manifestasi nilai-nilai dari modal inelektual (IC) yang dimilikinya.

II. Penelitian terdahulu

Beberapa dari temuan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa peran human capitaldan structural capitaladalah bagianterpenting dari sumber daya utama didalam

organisasi bisnis maupun non bisnis, sebagai penentu tingkat pencapaian kinerja (Bontis., 1998, 1999; Bontis et al.,2000; Advinson dan Malone., 1977; Stewart., 1997; Hitt et al., 2001; Bontis dan Fitz-enz., 2002; Moon dan Kym., 2006; Maar., 2008)

Secara konseptual, peran sumber daya menjadi utamadan terpenting dikarenakan

sumber daya tersebut mencakup spektrum fenomena individu, sosial dan organisasi sebagai input dalam sebuah proses produksi, meliputi: peralatan modal, keahlian

pegawai individual, hak paten dan manajer-manajer berbakat sebagai aset tak wujud (intangible asset) dalam Hitt et al. (2001)

Human capital salah satu komponen sumber daya utama terpenting, menurut pandangan Seetharama et al. (2001) merupakan kemampuan untuk mentransfer potensi manusia menjadi produk atau jasa. Stewart (1997) menyatakan bahwa, human capital adalah kemampuan individu yang diperlukan perusahaan untuk menyediakan solusi bagi pelanggan, serta menjadi sumber inovasi dan pembaharuan.

Sedangkan structural capital merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan pasar, bentuknya bisa berupa sistem informasi, laboraturium, competitive and

(3)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 3 market intelligence, pengetahuan saluran pemasaran, dan fokus manajemen. Selanjutnya Sangkala (2006) merangkum beberapa pandangan sebelumnya bahwa, human capital direfleksikan didalam empat dimensi yaitu: (1) pendidikan dan pelatihan; (2) pengalaman; (3) kompetensi dan (4) komitmen.

Edvinsson dan Malone (1977) mengelompokkan Structural capital kedalam dua komponen yaitu: struktur internal (modal organisasional) dan struktur eksternal (modal pelanggan). Struktur internal adalah kemampuan organisasi memproses produktivitas karyawan, bisa dalam bentuk hardware, data-base, informasi, materi intelektual, dan struktur organisasi.

Sedangkan struktur eksternal (modal pelanggan) adalah hubungan yang dikembangkan dengan pelanggan kunci, yang bentuknya bisa berupa citra perusahaan, loyalitas pelanggan, hak paten, dan merek dagang.

Sejalan dengan pengembangan konsep teori dalam membangun model Intellectual Capital organisasi, Bontis et al. (1998) telah berhasil membangun konsep teori Intellectual Capital (IC) sebagai integrasi human capital, structural capital dan relational capital. Selanjutnya Bontis et al. (2000) mereplikasi penelitiannya (Bontis., 1998) dengan tingkat keyakinan dan jenis industri berbeda (α=1% industri jasa dan α=5% industry non-jasa).

Ditemukan signifikansi pengaruh human capital, structural capital dan relation capital secara keseluruhan terhadap kinerja bisnis perusahaan. Kendati demikian, pada industri jasa didapati korelasi yang tidak signifikan antara human capital dan structuralcapital, mengindikasikan perbedaan kemampuan individual karyawan mentransformasikan pengetahuan mereka pada pengetahuan non-manusia. Artinya, kemampuan karyawan industri non-jasa lebih baik dari karyawan industri jasa (banyak pengetahuan karyawanindustri jasa yang tidak terungkap), disebabkan perbedaan karakter dari jenis industri.

Perkembangan selanjutnya Bontis dan Fitz-enz (2002) mengembangkan penelitian (Bontis et al., 1998 dan Bontis et al., 2000) di Canada, dengan memetakan dan mengelom-pokkan sejumlah variabel penyebab (antecedent) dan akibat atau konsekuensi (consequent) melalui pengukuran anteseden manajemen sumber daya manusia (MSDM) efektif di 25 perusahaan industri jasa keuangan, dan 76 eksekutif senior di USA sebagai sampel penelitian.

Penelitian menggunakan data keuangan dalam bentuk metrik untuk mengukur variabel akibat (consequent), sementara data nonmetrik berupa keterangan atau penjelasan untuk mengukur variabel penyebab (antecedent) dandiukur menggunakan alat analisis SEM. Temuan penelitian menunjukkan bahwa variabl human capital effective merupakan konsekwensi dari variabel human capital, structural capital dan relational capital.

Variabel pengembangan modal manusia (human capital depelovement) merupakan variabel konsekwensi dari berbagai variabel pengetahuan (knowledge-sharing) dan integrasi pengetahuan (knowledge-integration), sementara variabel valuasi modal manusia (human capital valuation) sebagai konsekwensi dari variabel kepemimpinan (leadership) dan sentimen pegawai (employee-sentiment), berpengaruh terhadap tingkat kinerja perusahaan.

Hitt et al., 2001, melihat pengaruh langsung moderasi variabelhuman capital organisasional melalui pengaruh human capital terhadap kinerja perusahaan berdasarkan perspektif sumber daya (resources based-perspective) pada jasa profesi 100 perusahaan pengacara (lawyer) terbesar di Amerika Serikat, menggunakan data selama 4 tahun. Hasil analisis regresi moderasi menunjukkan bahwa dalam jangka panjang human capital memberi pengaruh dalam bentuk kurva linier berbentuk U-shape melalui umur perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang awalnya negatif, menjadi positif ketika level human capital tinggi.

Implikasi penelitian, kinerja jasa profesi pengacara melalui umur perusahaan memerlukan waktu penelitian jangka panjang dan jumlah data yang banyak. Dengan demikian maka kinerja bisnis baru terukur ketika human capital berada pada level tinggi, artinya pengaruh tetap berada pada posisi yang sama (rendah) dan meningkat secara perlahan.

(4)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 4 Penelitian Moon dan Kym (2006) mendukung penelitian Bontis et al., 1998, dengan melihat konsistensi sebuah model intellectual capital mencakup: human capital, structural capital dan relational capital sebagai dimensi utamanya, dan masing-masing sub-sub faktor dari ketiga dimensi sebagai indikator pengukuran, pada 50 industri manufaktur berbagai jenis manufaktur di Canada.

Pengujian dilakukan menggunakan dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan mendefinisikan modal intelektual dan (2) mendefinisikan dimensi-dimensi dasar dari modal intelektual tanpa mengajukan indeks-indeks untuk mengukurnya dengan tiga dimensi (10 sub- faktor dan 35 indikator).

Konsistensi model secara keseluruhan berkontribusi signifikan meningkatkan kinerja bisnis, sekaligus menyadarkan para manajer akan efek pentingnya peran modal intelektual dan mendorong manajer untuk berinvestasi pada unsur-unsur modal intelektual potensial terbesar, positif dan signifikan bagi peningkatan kinerja perusahaan. Meskipun demikian, hasil peneltian ini masih merupakan penelitian awal (prototipy), tidak membedakan jenis dan ukuran perusahaan, sehingga memungkinkan hasil penelitian kurang tepat jika diterapkan pada perusahaan tertentu (spesifik).

Bertolak dari konsep modal intelektual (intellectual capital) dan beberapa temuan penelitian terdahulu sebagaimana telah diuraikan diatas, nampaknya peran human capital dan structural capital sebagai komponen utama modal intelektual - IC (Edvinsson dan Malone., 1977), memiliki kontribusi signifikan mempengaruhi proses penciptaan nilai (value creation) dan pencapaian kinerja efektif (sustainable) dari sebuah organisasi/perusahaan.

III. Peran Human Capital dan Struktural Capital

Peran human capital dalam penciptaan kekayaan intelektual (intellectual assets) sangat strategis, karena hanya human capital (SDM) yang dapat menciptakan pengtahuan dan sekaligus memiliki pengetahuan. Sedangkan pengetahuan itu sendiri merupakan unsur terpenting dalam proses penciptaan nilai organisasi/perusahaan, sehingga penciptaan nilai perusahaan sangat dipengaruhi oleh modal manusia (SDM strategik).

Pendapat diatas senada dengan pandangan Edvinsson dan Malone (1977) yang menyatakan bahwa human capital (SDM strategik) merupakan kombinasi pengetahuan, keterampilan, keinovasian, dan kemampuan karyawan untuk melaksanakan tugas-tugasnya termasuk nilai-nilai perusahaan, kultur dan filosofi.

Peran structural capital dalam proses penciptaan nilai organisasi dapat dicermati melalui perannya memfasilitasi human capital. Structural capital dikatakan sebagai bagian dari modal intelektual itu sendiri, sebab pengetahuan yang sudah tercipta oleh karyawan (SDM) kemudian tersimpan didalam structural capital sebagai aset perusahaan, dapat dipergunakan kembali ketika dibutuhkan, sehingga membantu karyawan mengembangkan dan menciptakan pengetahuan baru.

Peran penting structural capital (Sangkala., 2006) adalah memberi kemungkinan kepada human capital untuk lebih produktif, lebih inovatif dan lebih cerdas dalam mengkreasikan nilai bagi perusahaan. Peran lainnya yang juga tidak kalah penting adalah sebagai teknik atau cara dari berbagai komponen didalam organisasi maupun perusahaan yang disistematisasikan, diinternalisasikan dan diproses melalui struktur organisasi, infrastruktur organisasiserta hubungan antar para pelanggan/klien perusahaan.

Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa, structural capital berperan penting dalam proses penciptaan nilai (value creation) melalui serangkaian aktivitas pemprosesan pengetahuan dari karyawan (SDM) atau pengetahuan yang sudah tersimpan didalam organisasi atau perusahaan.

(5)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 5 IV. Kinerja Organisasi

Kinerja dimaknai sebagai pencapaian hasil atas tugas tertentu. Kinerja organisasi/perusahaan adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi atau perusahaan. Sedangkan pengertian manajemen kinerja adalah keseluruhan aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja individu dan kelompok kerja (human capital) dengan dukungan modal organisasi (structural capital) meliputi: penyusunan struktur organisasi, pemilihan teknologi dan penyediaan prasarana-sarana kerja.

Kinerja akan dapat ditingkatkan ketika pemberdayagunaan pegawai efektif dan pemanfaatan modal struktural organisasi maksimal, maka semua pegawai akan termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya dan berkontribusi secara langsung terhadappeningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain dikatakan bahwa, human capital dan structural capital berpengaruh signifikan meningkatkan kinerja organisasi (bisnis-non bisnis).

 PengaruhHuman Capitalterhadap Peningkatan Kinerja Organisasi

Human capital adalah unsur yang sangat penting dari modal intelektual, karena dapat menciptakan daya saing bagi organisasi/perusahaan. Secara operasional didefinisikan sebagai kemampuan yang dimiliki setiap anggota organisasi untuk digunakan dalam proses penciptaan aset intelektual (Sangkala., 2006). Karenanya, human capital memiliki peran sangat urgen sebagai komponen kunci yang mempengaruhi tinggi-rendahnya tingkat kinerja sebuah organisasi/perusahaan.

Human capital memiliki daya dorong yang kuat guna perbaikan produktivitas individual karyawan,sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan melalui kemampuan sumber daya manusia (SDM) mengkomunikasikan pengetahuan (soft skills), terampil dan profesional dalam bekerja dan mampu membangun nilai relasional berkesinambungan dalam bentuk kemitraan antara perusahaan sebagai stakeholder internal dan pelanggan sebagai stakeholder eksternal (Usup R.

C., 2011).

 PengaruhStructural Capitalterhadap Peningkatan Kinerja Organisasi

Structural capital adalah bagian penting lainnya dari komponen utama modal intelektual (IC), karena memberi kemungkinan kepada human capital (SDM strategik) untuk lebih produktif, lebih inovatif dan lebih cerdas dalam mengkreasikan nilai sebagai kompetensi inti bagi organisasi atau perusahaan. Secara operasional structural capital didefinisikan sebagai kemampuan sumber daya internal (fisik) yang dimiliki organisasi, memfasilitasi aktivitas prosestransformasi pengetahuan individual karyawan dalam proses penciptaan nilai.

Structural capitalsebagai mediator dan fasilitator pemberdayaan human capital (SDM strategik) melalui sebuahproses transformasi pengetahuan-penciptaan nilai (value creation), memiliki kemampuan signifikan mempengaruhi peningkatan kinerja individual karyawan (SDMS) sehingga mampu mencapai kinerja efektif, dengan asumsi bahwa ketersediaan infrastruktur dan pembiayaan mendukung (Usup R. C., 2011).

KESIMPULAN

Beberapa penelitian terdahulu telah berhasil membangun konklusi, dimana ditketahui bahwa human capital dan structural capital berpengaruh signifikan meningkatkan kinerja organisasi atau perusahaan. Keterkaitanp human capitaldan structural capitalbahwa, kedua komponen tersebut merupakan serangkaian aktivitas penciptaan aset intelektual (value creation), terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya meskipun dengan peran berbeda. Peran human capital dalam penciptaan aset intelektual sangat strategis, karena hanya modal manusia (SDMS) saja yang dapat menciptakan pengetahuan dan memiliki pengetahuan sebagai kompetensi individual,sekaligus sebagai pengelola asetintelektual organisasi, namun

(6)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 6 tetapdengan dukungan structural capital. Korelasi human capital dan structural capital terkait dengan penciptaan nilai perusahaan bersifat timbal balik (Sullivan., 2000) saling melengkapi - bersinerji.

Human capital selain sebagai darah kehidupan bagi modal intelektual (IC) juga sebagai mesin penggerak atau generator dari seluruh nilai yang lahir dalam potensi inovasi dan kekuatan dibalik modal intelektual dan inovasi organisasi atau perusahaan. Oleh karenanya, peran human capital menjadi faktor kunci kesuksesan sebuah organisasi yang menyediakan kemampuan bersaing terhadap kompetitor untuk masa yang akan datang.

Peran structural capital sebagai fasilitator dan infrastruktur dalam memproses aktivitas karyawan, mentransformasikan pengetahuan individual dalam penciptaan nilai, juga berfungsi sebagai wadah atau tempat dimana hasil kreatif penciptaan nilai karyawan (MSDS) tersimpan, sehingga sebagai pendukung utama seluruh aktivitas organisasi mampu mendorong peningkatan kinerja organisasi atau perusahaan mencapai tujuan individu maupun organisasi.

Kapabilitas dan kredibilitas yang dimiliki human capital (SDMS) dalam mengkreasikan nilai, tidak akan berlangsung secara baik dan berhasil jika tanpa dukungan structural capital (fasilitas fisik-struktur organisasi) atau identik dengan kata tidak berarti apa-apa (tidak berguna).

Karenanya, interaksi timbal balik (reciprocal) human capital dan structural capital dalam konteks penciptaan nilai sangatlah penting sebagai manifestasi peran masing–masing dan signifikan meningkatkan kinerja organisasi (bisnis maupun non bisnis).

DAFTAR RUJUKAN

Bontis N. (1998). “Intellectual capital : an explanatory study that develops measures and models”, Managements Decision, Vol. 36 No. 2, pp 63 – 76.

Bontis N. (1999). “Managing organi-zational knowledge by diagnosing intellectual capital: farming and advancing the state of the field”, International Journal of Technology Management, Vol. 18 Nos 5 – 8, pp. 433 – 62.

Bontis N., Keow, W. and Richardson, S. (2000). “Intellectual capital and business performance in Malaysian industries”, Journal of Intellectual Capital, Vol. 1 No. 1, pp. 85 – 100.

Bontis, N. and Fitz-enz, J. (2002). “Intellectual capital ROI: a causal map of human capital antecedents and consequents”, Journal of Intellectual Capital, Vol. 3 No. 3, pp 223 – 47.

Edvinsson, L., and Malone, M.S. (1997). “Intellectual Capital: Realizing Your Company”s True Value by founding it Hidden Brainpower. New York: Harper Business.

Hitt, Michael A., R. Duane Ireland., H. Rrobert E. (2007). Konsep Manajemen Strategis Daya Saing

& Globalisasi. Salemba Empat, Jakarta.

Malone, Michael S. (1997). “New Metrics For A New Age: Two Experts Want This In Your Next Annual Report”, Forbes ASAP, April 7, page 40 – 41.

Moon, Y.j. and Kym, H.G., (2006). A Model for The Value of Intellectual Capital. Canadian Journal of Administration Sciences, 23(3), 253-269

Stewart, T.A. (1998). Intellectual Capital “Modal Intelektual Kekayaan Baru Organisasi”, Jakarta:

PT. Elekmedia Komputindo.

(7)

Peran human capital dan structural capital dalam meningkatkan kinerja organisasi (suatu kajian konseptual) 7 Sullivan, P. H. (2000). “A Brief History Of The Intellectual Capital Movement”,

http://www.brookings.org.es/research/projects/intangibles/ icexsum.pdfruch_luv.

Sangkala (2006). Intellectual Capital Management: Strategi Baru Membangun Daya Saing Perusahaan. Edisi Pertama, Penerbit Ikatan Penerbit Indonesia DKI Jakarta. ISBN: 979- 3274-29-8.

Usup, R. C. (2011). Pengaruh Human Capital, Structural Capital, Relational Capital Terhadap Kinerja Layanan Bank dan Kepuasan Pelanggan (Studi pada Industri Jasa Bank Umum di Kalteng). Disertasi. Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Brawijaya. Malang.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kebermanfaatan, sistem informasi, dan promosi terhadap keputusan konsumen menggunakan mobile money

Sehingga jelas ketentuan yang ada di KUHP menganut subjek hukum pidana ialah orang, hal tersebut telah ditegaskan dalam ketentuan pasal 59 KUHP. 2)

Department of International Business Faculty of Business Administration, Department of Marketing and University of Economics in Bratislava, Faculty of Commerce, Departments of

Faktor, salah satu penyebabnya, adalah frekuensi kehadiran pada habitat yang lebih besar pada Bufo melanostictus , Fejervarya cancrivora dan Limnonectes kadarsani pada

Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan, motivasi, dan arahan selama penulis menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profesionalitas kepala madrasah dalam peningkatan mutu pendidikan pada Madrasah Tsanawiah DDI Pacongang Pinrang. Penelitian ini

Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas (Santrock, 2007). Seks dalam

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan