• Tidak ada hasil yang ditemukan

Restorasi gambar digital menggunakan inverse problem.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Restorasi gambar digital menggunakan inverse problem."

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Pandu Arya Wijaya. 2014. Restorasi Gambar Digital Menggunakan

Inverse Problem. Skripsi. Program Studi Matematika, Jurusan Matematika,

Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Topik yang dibahas dalam skripsi ini adalah aplikasi inverse problem

dalam restorasi gambar, terutama restorasi gambar digital. Inverse Problem

merupakan suatu metode penyelesaian masalah menggunakan invers dari

permasalahan yang diselesaikan. Tulisan ini akan membahas bagaimana

mengurangi efek kabur pada gambar digital dengan meminimalkan galat yang

terjadi, sehingga diperoleh hasil restorasi yang memuat galat terkecil. Untuk itu,

diperlukan suatu kontrol galat dengan cara menghitung besarnya norma pada

gambar hasil restorasi. Dalam hal ini, teori matematika yang digunakan adalah

Singular Value Decomposition (SVD) dan model permasalahan inversnya adalah model gambar kabur. Model gambar kabur merupakan transformasi gambar asli

berdasarkan operator pengaburan.

Model gambar kabur akan ditransformasi menjadi gambar yang lebih baik

(noise minimum) dengan metode Truncated Singular Value Decomposition

(TSVD)dan metode Regularisasi Tikhonov.

(2)

ABSTRACT

Pandu Arya Wijaya. 2014. Digital Image Restoration Using Inverse

Problem. Thesis. Mathematics Study Program, Department of Mathematics,

Faculty of Science and Technology, Sanata Dharma University, Yogyakarta. The topic of this thesis is the application of inverse problems in image restoration, especially in digital image restoration. Inverse Problem is a problem solving method using inverse of problem being solved. This paper discuss how to reduce the blurring effect on digital image by minimizing the error, such that the restoration results obtained has a minimum error. For this purpose, we need to control the error by calculate the norm of image restoration. In this case, we need a mathematical theory so called Singular Value Decomposition (SVD) and the model of inverse problem is blurred image model. Blurred image model is an original image transformed by blurring operator.

The blurred image model will be transformed into a clearer image (with minimum noise) using Truncated Singular Value Decomposition (TSVD) method and Tikhonov regularization method.

(3)

MENGGUNAKAN INVERSE PROBLEM

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Program Studi Matematika

Disusun Oleh :

Pandu Arya Wijaya

NIM: 103114012

PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)

i

MENGGUNAKAN INVERSE PROBLEM

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sains

Program Studi Matematika

Disusun Oleh :

Pandu Arya Wijaya

NIM: 103114012

PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(5)

ii

USING INVERSE PROBLEM

Thesis

Presented as Partial Fulfillment of the Requirements

to Obtain the Sarjana Sains Degree in Mathematics Study Program

Written By :

Pandu Arya Wijaya

Student Number: 103114012

MATHEMATICS STUDY PROGRAM MATHEMATICS DEPARTMENT FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA

(6)
(7)
(8)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini adalah hadiah terindah Yesus Kristus untuk kado Natal 2014.

“Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.

TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya.

Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur

kepada-Nya”.

(Mazmur 28:6-7)

Karya ini aku persembahkan untuk:

Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus,

Papa, Mama dan Adikku tercinta,

Kekasih hatiku tersayang,

Teman-teman matematika angkatan 2010,

(9)
(10)

vii ABSTRAK

Pandu Arya Wijaya. 2014. Restorasi Gambar Digital Menggunakan

Inverse Problem. Skripsi. Program Studi Matematika, Jurusan Matematika,

Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Topik yang dibahas dalam skripsi ini adalah aplikasi inverse problem

dalam restorasi gambar, terutama restorasi gambar digital. Inverse Problem

merupakan suatu metode penyelesaian masalah menggunakan invers dari

permasalahan yang diselesaikan. Tulisan ini akan membahas bagaimana

mengurangi efek kabur pada gambar digital dengan meminimalkan galat yang

terjadi, sehingga diperoleh hasil restorasi yang memuat galat terkecil. Untuk itu,

diperlukan suatu kontrol galat dengan cara menghitung besarnya norma pada

gambar hasil restorasi. Dalam hal ini, teori matematika yang digunakan adalah

Singular Value Decomposition (SVD) dan model permasalahan inversnya adalah model gambar kabur. Model gambar kabur merupakan transformasi gambar asli

berdasarkan operator pengaburan.

Model gambar kabur akan ditransformasi menjadi gambar yang lebih baik

(noise minimum) dengan metode Truncated Singular Value Decomposition

(TSVD)dan metode Regularisasi Tikhonov.

(11)

viii ABSTRACT

Pandu Arya Wijaya. 2014. Digital Image Restoration Using Inverse

Problem. Thesis. Mathematics Study Program, Department of Mathematics,

Faculty of Science and Technology, Sanata Dharma University, Yogyakarta. The topic of this thesis is the application of inverse problems in image restoration, especially in digital image restoration. Inverse Problem is a problem solving method using inverse of problem being solved. This paper discuss how to reduce the blurring effect on digital image by minimizing the error, such that the restoration results obtained has a minimum error. For this purpose, we need to control the error by calculate the norm of image restoration. In this case, we need a mathematical theory so called Singular Value Decomposition (SVD) and the model of inverse problem is blurred image model. Blurred image model is an original image transformed by blurring operator.

The blurred image model will be transformed into a clearer image (with minimum noise) using Truncated Singular Value Decomposition (TSVD) method and Tikhonov regularization method.

(12)
(13)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah

melimpahkan berkat dan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

ini dengan baik.

Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan baik moril

maupun materiil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Ibu Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si., M.Sc., selaku Dekan Fakultas

Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma.

2. YG. Hartono, S.Si., M.Sc., Ph.D, selaku dosen pembimbing skripsi dan

Ketua Program Studi Matematika yang telah meluangkan banyak waktu

dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran.

3. Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc., selaku dosen pembimbing akademik.

4. Bapak, Ibu, dan Romo, dosen-dosen yang telah memberikan ilmu yang

berguna kepada penulis.

5. Kedua orang tua, Bapak Bambang Wijaya dan Ibu Tri Endang Hidrayani,

yang selalu mendukung penulis dengan doa, semangat, dan materi.

6. Teman-temanku: Arga, Ratri, Ayu, Tika, Astri, Sari, Dini, Celly, Leni,

Agnes, Yohan, Roy, Marsel, dan Yosi, terima kasih untuk canda tawa,

(14)

xi

7. Teman-teman 2009, 2011 dan 2012: Jojo, Indra, Bayu, Rian, Budi, Ega,

Happy, Tika terima kasih untuk doa, semangat, dan keceriaan yang selalu

diberikan kepada penulis.

8. Semua pihak yang telah ikut membantu penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun serta

menyempurnakan skripsi ini. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat

memberikan wawasan dan pengetahuan bagi pembaca.

Yogyakarta, Desember 2014

(15)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN JUDUL DALAM BAHASA INGGRIS ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR PROGRAM ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Pembatasan Masalah ... 8

D. Tujuan Penulisan ... 8

(16)

xiii

F. Metode Penulisan ... 9

G. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II LANDASAN TEORI ... 12

A. Aljabar Linier ... 12

2.1 Sistem Persamaan Linier Homogen ... 12

2.2 Ruang Vektor ... 13

2.3 Ortogonalitas ... 22

2.4 Nilai Eigen dan Vektor Eigen ... 34

2.5 Dekomposisi Nilai Singular ... 36

2.6 Norma Matriks dan Bilangan Kondisi ... 49

B. Kalkulus ... 65

2.7 Big-O ... 65

2.8 Fungsi Bernilai Vektor ... 66

BAB III INVERSE PROBLEM ... 70

A. Prinsip Dasar Inverse Problem ... 70

3.1 Kestabilan Algoritma pada Sistem ... 71

3.2 Eksistensi dan Ketunggalan Penyelesaian ... 75

B. Metode Regularisasi ... 85

3.3 Regularisasi ... 85

3.4 Regularisasi Tikhonov ... 91

BAB IV APLIKASI ... 94

A. Gambar Digital ... 94

(17)

xiv

4.2 Model Degradasi Gambar Digital ... 96

B. Restorasi Gambar menggunakan TSVD ... 98

C. Restorasi Gambar menggunakan Regularisasi Tikhonov ... 107

BAB V PENUTUP ... 117

A. Kesimpulan ... 117

B. Saran ... 118

DAFTAR PUSTAKA ... 119

(18)

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Contoh Gambar Sebelum dan Sesudah Restorasi ... 3

Gambar 1.2 Contoh Gambar Sebelum dan Sesudah Restorasi ... 3

Gambar 1.3 Contoh Gambar Sebelum dan Sesudah Restorasi ... 3

Gambar 1.4 Koordinat Spasial ... 4

Gambar 1.5 Algoritma Inverse Problem ... 7

Gambar 2.1 Hubungan geometris di antara � dan �� ... 34

Gambar 3.1 Prosedur metode Inverse Problem ... 70

Gambar 4.1 Gambar Asli dan Gambar kabur ... 97

Gambar 4.2 Gambar Asli ... 101

Gambar 4.3 Gambar terkena efek motion ... 101

Gambar 4.4 Visualisasi Matriks Pengaburan ... 102

Gambar 4.5 Gambar Asli hasil Restorasi TSVD dengan �= 200 ... 103

Gambar 4.6 Grafik TSVD ... 104

Gambar 4.7 Grafik TSVD dengan axis([50 100 0 10]) ... 105

Gambar 4.8 Grafik TSVD dengan axis([70 75 5 6]) ... 105

Gambar 4.9 Grafik TSVD dengan axis([70 75 5.7 5.8]) ... 106

Gambar 4.10 Gambar hasil Restorasi TSVD dengan � = 74 ... 106

Gambar 4.11 Gambar hasil restorasi Tikhonov dengan � = 0.01 ... 111

Gambar 4.12 Grafik Regularisasi Tikhonov ... 112

(19)

xvi

dan axis([0 0.2 0 20]) ... 112

Gambar 4.14 Gambar Regularisasi Tikhonov dengan � ∈ 0.06 , 0.12

dan axis([0.06 0.12 6 8]) ... 113

Gambar 4.15 Gambar hasil restorasi regularisasi Tikhonov

dengan � = 0,0874 ... 113

(20)

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman

(21)

xviii

DAFTAR PROGRAM

Halaman

Program 4.1a ... 120

Program 4.1b ... 121

Program 4.2a ... 122

(22)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, perkembangan teknologi dapat dikatakan sangat

berkembang pesat. Banyak peralatan elektronik yang diciptakan untuk

memenuhi kebutuhan manusia, baik dari membantu pekerjaan sampai

memenuhi kebutuhan gaya hidup. Salah satu yang cukup berkembang

adalah perkembangan gambar digital. Istilah digital merujuk pada sinyal atau data yang dinyatakan sebagai rangkaian angka 0 dan 1. Gambar

digital, merupakan bentuk perwakilan visual dari sesuatu, karena gambar

digital dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan penjelasan

mengenai sesuatu. Makna visual yang diberikan gambar dapat

memberikan informasi dengan jelas, tanpa perlu ada penyampaian

informasi detail secara lisan. Karena alasan tersebut maka banyak

peralatan elektronik dikembangkan guna menghasilkan ketajaman gambar

yang lebih baik. Gambar dengan kualitas yang baik dapat memberikan

makna visual yang jelas, sehingga tidak memberikan kesalahan persepsi

bagi yang melihat.

Memanipulasi gambar tentunya bukan merupakan sesuatu yang aneh

lagi pada era modern seperti saat ini. Banyak gambar, seperti poster,

spanduk, foto dan sebagainya dapat memiliki kualitas ketajaman gambar

(23)

animasi-animasi menarik dari video dengan kualitas grafis yang mengagumkan.

Dan itu semua, tidak lain merupakan hasil dari perkembangan teknologi

yang sangat cepat dalam pemrosesan gambar digital.

Salah satu bidang dalam pemrosesan gambar digital yang cukup

populer adalah mengenai restorasi gambar. Restorasi berasal dari kata

restore yang artinya memperbaiki. Restorasi gambar adalah cara untuk memperoleh kembali gambar asli dari gambar yang telah terdegradasi

berdasarkan informasi dari model degradasi yang masuk akal. Kata

degradasi dalam tulisan ini, berasal dari istilah degradation yang artinya bentuk asli yang telah turun kualitasnya karena suatu penyebab tertentu.

Restorasi gambar mengambil peranan yang sangat penting dalam era

gambar digital, sebab telah diketahui bahwa peralatan optik digital seperti

kamera juga memiliki keterbatasan dalam menangkap gambar. Akibatnya,

gambar yang dihasilkan menjadi kabur atau dalam pemrosesan signal

disebut sebagai derau (noise). Adapun penyebab dari derau tersebut dapat disebabkan oleh keterbatasan alat maupun manusia. Gambar yang

mengandung derau sering kali membatasi informasi yang akan

disampaikan. Itu sebabnya, derau tersebut harus dihilangkan. Sebagai

contoh, di bawah ini terdapat beberapa gambar yang menunjukkan

perbandingan antara gambar sebelum dan sesudah dilakukan proses

(24)

Sebelum Sesudah

Sumber: image-restore.co.uk

Gambar 1.1.

Sebelum Sesudah

Sumber: carlmason-liebenberg.com

Gambar 1.2.

Sebelum Sesudah

Sumber: retouchphoto.net

(25)

Dari beberapa contoh di atas, terlihat bahwa proses restorasi dapat

merubah penampilan gambar menjadi lebih bagus dibandingkan dengan

gambar aslinya. Kemudian, dengan melakukan restorasi ternyata dapat

menghilangkan efek derau yang mengganggu kualitas gambar asli,

sehingga dapat dihasilkan gambar yang lebih jelas.

Untuk lebih memudahkan dalam melakukan proses restorasi, terlebih

dahulu pastikan gambar yang akan direstorasi sudah dalam bentuk digital,

jika belum dapat digunakan scanner untuk mengubah gambar kasar menjadi gambar digital. Gambar kasar merupakan gambar hasil karya

tangan manusia misalnya lukisan. Ketika sebuah gambar sudah diubah ke

dalam bentuk digital barulah proses restorasi dapat dimulai.

Gambar digital dapat didefinisikan sebagai fungsi dua variabel,

�( , ), dimana dan adalah koordinat spasial dan nilai �( , ) adalah

intensitas (warna) gambar pada koordinat tersebut. Koordinat spasial

merupakan koordinat yang digunakan untuk merepresentasikan fakta dari

dunia nyata. Hal tersebut dapat diilustrasikan seperti pada gambar 1.4.

Sumber: anezblog.com

Gambar 1.4.

f(0,0)

f(0,y) f(x,y)

(26)

Namun dalam kondisi riil, terkadang didapatkan gambar yang mengalami

efek derau. Hal ini menyebabkan intensitas (warna) gambar pada setiap

koordinat spasial menjadi terganggu. Akibatnya, gambar yang dihasilkan

menjadi kabur.

Dalam usaha mengatasi kendala inilah, penulis menggunakan teknik

restorasi gambar digital menggunakan Inverse Problem. Untuk definisi

Inverse Problem sebenarnya belum diketahui secara pasti. Namun, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa pendapat dari matematikawan

mengenai Inverse Problem. Menurut Julia Robinson (dalam C. W. Groetsch, 1999), Inverse Problem adalah “Here you were given a solution and you had to find the equation”, artinya situasi dimana penyelesaian

suatu masalah telah diberikan dan harus ditemukan bagaimana

persamaannya. Menurut Per Christian Hansen (2010), “The inverse problem is to compute either the input or the system, given the other two

quantities”, artinya inverse problem adalah proses mendapatkan inputatau sistem, saat diketahui dua kuantitas (dalam kasus ini adalah sistem dan

output). Dari uraian di atas, secara umum Inverse Problem diartikan sebagai suatu metode penyelesaikan masalah secara tidak langsung,

artinya penyelesaian masalah menggunakan invers dari permasalahan yang

akan diselesaikan.

Pertama kali inverse problem diperkenalkan oleh Hadamard sekitar awal abad ke-20 (seseorang yang bekerja dalam bidang

(27)

well-posed jika memenuhi tiga persyaratan. Pertama, existence yaitu suatu masalah harus memiliki penyelesaian. Kedua, uniqueness bahwa hanya akan ada tepat satu penyelesaian pada suatu masalah. Ketiga, stability

adalah penyelesaian yang didapat bergantung pada data, sehingga jika data

diberi gangguan sedikit maka tidak akan menimbulkan galat yang sangat

besar pada hasil. Jika terdapat satu dari tiga persyaratan yang tidak

dipenuhi, maka masalah dikatakan ill-posed.

Metode Inverse Problem bertujuan untuk mendapatkan suatu input yang tidak diketahui, berdasarkan informasi sistem dan output dari

masalah. Prinsip dariinverse problem ini sebenarnya merupakan pengembangan dari invers matriks yang dikenal dalam aljabar linier.

Dengan cara memandang permasalahan yang akan diselesaikan sebagai

bentuk matriks, misalkan matriks =�, dimana merupakan input dari

masalah, merupakan sistem dari masalah, dan �merupakan output yang

didapat dari masalah. Dari persamaan matriks tersebut, dapat ditentukan

matriks = −1�, dimana −1 merupakan invers dari matriks . Dengan

menggunakan konsep tersebut maka inverse problem dapat juga diterapkan pada restorasi gambar digital, sehingga dapat diperoleh kembali

gambar asli yang kabur atau terdegradasi karena efek derau.

Secara umum,proses restorasi dapat dipandang sebagai persamaan

=�−1�, dimana � adalah gambar yang telah terdegradasi, �−1 adalah

model transformasi untuk mengurangi efek derau pada �, dan adalah

(28)

restorasi maka harus didapatkan �−1terbaik yang mampu meredam efek

derau dari �. Untuk mengatasi masalah itu, penulis menggunakan metode

Truncated Singular Value Decomposition (TSVD) dan metode regularisasi Tikhonov. Skema berikut ini akan menjelaskan bagaimana alur algoritma

dari invers problem,

Gambar 1.5. Inverse problem adalah proses mendapatkan input, saat diketahui dua kuantitas (sistem dan output).

B. Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini akan dirumuskan

sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan metode Inverse Problem dan bagaimana landasan teoritiknya?

2. Bagaimana penerapan metode Inverse Problem pada proses restorasi gambar digital?

Inverse Problem

Input Sistem

(29)

3. Bagaimana algoritma dan pemrograman MATLAB pada proses

restorasi gambar digital?

C. Pembatasan Masalah

Penulis akan membatasi beberapa hal untuk uraian masalah yang akan

dibahas, yaitu:

1. Tulisan ini dibatasi pada proses editing dengan restorasi untuk

menghilangkan efek derau pada gambar.

2. Data yang digunakan berupa foto atau gambar yang mengalami derau.

3. Metode dalam Inverse Problem yang digunakan adalah metode

Truncated Singular Value Decomposition (TSVD) dan Regularisasi Tikhonov untuk menghilangkan efek derau dan meningkatkan

ketajaman gambar pada data yang disediakan.

4. Gambar yang direstorasi berupa gambar grayscale.

D. Tujuan Penulisan

Tulisan ini disusun dengan tujuan agar dapat lebih memahami salah

satu teknik restorasi yang sering digunakan dalam restorasi gambar digital.

(30)

prinsip-prinsip restorasi gambar digital tersebut dalam pemrograman MATLAB.

Tulisan ini juga disusun sebagai pemenuhan tugas akhir dalam Program

Studi Matematika Universitas Sanata Dharma.

E. Manfaat Penelitian

Dengan mempelajari topik ini kita dapat mempelajari kegunaan

Inverse Problem dalam proses restorasi gambar digital. Kita juga dapat mempelajari prinsip Truncated Singular Value Decomposition (TSVD) dan Regularisasi Tikhonov dalam restorasi gambar digital. Terlebih lagi,

kita juga dapat menerapkan metode tersebut dalam algoritma dan

pemrograman MATLAB sehingga proses restorasi dapat lebih mudah

dilakukan.

F. Metode Penulisan

Penulisan menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan

(31)

G. Sistematika Penulisan

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Perumusan Masalah

C. Pembatasan Masalah

D. Tujuan Penulisan

E. Manfaat Penulisan

F. Metode Penulisan

G. Sistematika Penulisan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Aljabar Linier

B. Kalkulus

BAB III. INVERSE PROBLEM

A. Prinsip Dasar Inverse Problem

B. Metode Regularisasi

BAB IV. APLIKASI

A. Gambar Digital

B. Restorasi Gambar menggunakan TSVD

(32)

BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

(33)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Aljabar Linier

Pada subbab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori aljabar linier

yang akan digunakan sebagai landasan pembahasan pada bab-bab

berikutnya.

2.1 Sistem Persamaan Linier Homogen

Sebuah himpunan berhingga dari persamaan-persamaan linier dalam

peubah 1, 2,…, dinamakan sistem persamaan linier (SPL). Sebuah

sistem persamaan-persamaan linier dikatakan homogen jika ruas kanan

pada sistem persamaan tersebut adalah sama dengan nol, yakni sistem

yang mempunyai bentuk

11 1 + 12 2 + + 1 = 0

21 1 + 22 2 + + 2 = 0

1 1 + 2 2 + + = 0

(34)

Teorema 2.1.1

Misalkan matriks × dan adalah taksingular jika dan hanya jika

= mempunyai penyelesaian trivial 0.

Bukti:

→ Jika taksingular dan ′ adalah penyelesaian dari = , maka

== −1 ′ = −1 ′ = −1 = .

← Jika = mempunyai penyelesaian ′ = , maka ′ = −1 = .

Sehingga haruslah matriks taksingular.

2.2 Ruang Vektor

Himpunan yang dilengkapi dengan operasi penjumlahan dan

perkalian dengan skalar disebut sebagai ruang vektor, jika memenuhi aksioma-aksioma berikut dipenuhi.

A1. + = + untuk setiap dan y di .

A2. + + = + + untuk setiap , , di .

A3. Terdapat elemen di sehingga + = untuk setiap .

A4. Untuk setiap terdapat − elemen di , sehingga

+ − = .

A5. + = + untuk setiap ℝ dan setiap dan y di . A6. + = + untuk setiap skalar dan dan setiap .

A7. = untuk setiap skalar dan dan setiap .

(35)

A9. Jika dan ℝ, maka .

A10. Jika , , maka + .

Contoh 2.2.1

Himpunan matriks berukuran × , dinotasikan × merupakan ruang

vektor terhadap operasi penjumlahan matriks biasa serta perkalian dengan

skalar.

2.2.1 Ruang bagian Definisi 2.2.1.1

disebut ruang bagian dari , jika adalah subhimpunan tak kosong dari suatu ruang vektor dan memenuhi

jika untuk sembarang skalar ℝ

+ jika dan .

Contoh 2.2.1.2

Misalkan =

1

2

3

1 = 2 . Maka adalah ruang bagian dari ℝ3,

sebab

i Jika , maka harus berbentuk =

2

2

3

(36)

=

2.2.1.3 Kernel dari matriks

(37)

sehingga . Jika dan adalah elemen-elemen dari , maka

+ = + = + =

akibatnya + . Karena dan + , berarti

adalah ruang bagian dari ℝ .

2.2.2 Kebebasan Linier

Sebuah vektor disebut sebagai kombinasi linier dari vektor-vektor

1, 2,… jika vektor tersebut dapat dituliskan dalam bentuk

= 1 1+ 2 2+ +

dimana 1, 2,…, adalah skalar. Himpunan semua kombinasi linier dari

1, 2,… disebut rentang dari 1, 2,… .

Definisi 2.2.2.1

Himpunan 1, 2,… disebut himpunan perentang untuk jika dan

hanya jika setiap vektor dalam dapat ditulis sebagai kombinasi linier

dari 1, 2,… .

Definisi 2.2.2.2

Himpunan 1, 2,… dikatakan bebas linier jika kombinasi linier

1 1+ 2 2+ + = 0

(38)

2.2.3 Basis dan Dimensi Definisi 2.2.3.1

Vektor-vektor 1, 2,…, yang bebas linear dan merentang pada ruang

vektor disebut sebagai basis dan banyaknya vektor dalam basis pada ruang vektor dikatakan sebagai dimensi.

Contoh 2.2.3.2

Tentukan dari matriks

= 1 1 1 0

2 1 0 1

dan kemudian tentukan basis dan dimensi dari yang diperoleh.

Penyelesaian:

Dengan menggunakan proses eliminasi Gauss untuk menyelesaikan

(39)

1 = 3 − 4

Selain itu kedua vektor tersebut juga bebas linear, akibatnya vektor-vektor

tersebut membentuk basis untuk . Dan karena mempunyai 2

(40)

2.2.4 Ruang Baris dan Ruang Kolom Definisi 2.2.4.1

Jika adalah matriks × , maka ruang bagian dari ℝ yang direntang

oleh vektor-vektor baris dari disebut ruang baris dari , sedangkan ruang bagian dari ℝ yang direntang oleh vektor-vektor kolom dari

disebut ruang kolom dari .

Contoh 2.2.4.2

Misalkan = 1 0 0

0 1 0 , maka tentukan ruang baris dan ruang kolom

dari .

Penyelesaian:

Ruang baris dari adalah himpunan semua vektor yang berbentuk

1,0,0 + 0,1,0 = , , 0

dan ruang kolom dari adalah himpunan semua vektor yang berbentuk

1

0 +

0

1 +

0

0 = .

Misalkan adalah matriks × , vektor � ℝ berada di dalam

ruang kolom dari jika dan hanya jika �= untuk ℝ . Maka,

ruang kolom dari dapat dinyatakan sebagai ,

= � ℝ �= untuk ℝ ,

(41)

= ℝ = untuk ℝ .

Ruang kolom dari sesungguhnya sama dengan ruang baris dari .

Jadi jika dan hanya jika berada di dalam ruang baris dari .

Selanjutnya akan diperlihatkan bahwa dan adalah ruang

bagian dari ℝ .

(i) Jika � dan suatu skalar, maka untuk ℝ

�= =

sehingga � . Jika �1 dan �2 adalah elemen-elemen dari

, maka untuk 1+ 2 ℝ

�1+�2 = 1+ 2 = 1+ 2

akibatnya �1+�2 . Karena � dan �1+�2

, berarti adalah ruang bagian dari ℝ .

(ii)Jika dan suatu skalar, maka untuk ℝ

= =

sehingga . Jika 1 dan 2 adalah elemen-elemen dari

, maka untuk 1+ 2

1+ 2 = 1+ 2 = 1+ 2

akibatnya 1+ 2 . Karena dan 1+ 2

(42)

Teorema 2.2.4.3

Dua matriks yang ekivalen baris memiliki ruang baris yang sama.

Bukti:

Jika matriks ekivalen baris dengan matriks , maka dapat dibentuk

dari dengan operasi baris yang berhingga banyaknya. Ini berarti

vektor-vektor baris dari harus merupakan kombinasi linear dari vektor-vektor-vektor-vektor

baris dari . Akibatnya, ruang baris dari harus merupakan ruang bagian

dari ruang baris . Karena matriks ekivalen baris dengan matriks ,

maka dengan alasan yang sama, ruang baris dari adalah ruang bagian

dari ruang baris .

Definisi 2.2.4.4

Rank dari suatu matriks adalah dimensi dari ruang baris .

Contoh 2.2.4.5

Misalkan

=

1 −2 3

2 −5 1

1 −4 −7

Dengan mereduksi menjadi bentuk eselon baris, diperoleh

=

1 −2 3

0 1 5

(43)

sehingga 1,−2,3 dan 0,1,5 membentuk basis untuk ruang baris .

Karena dan ekivalen baris, maka menurut Teorema 2.2.4.3 matriks

memiliki ruang baris yang sama sehingga rank dari adalah 2.

2.3 Ortogonalitas

2.3.1 Ruang Hasil Kali Dalam Definisi 2.3.1.1

Hasil kali dalam pada ruang vektor riil adalah fungsi yang mengasosiasikan bilangan riil , dengan vektor dan pada ,

sedemikian sehingga aksioma-aksioma berikut terpenuhi untuk semua

, , di dan semua skalar , di ℝ:

(i) , 0; dan , = 0 jika dan hanya jika = 0.

(ii) , = , untuk setiap dan di dalam .

(iii) + , = , + , untuk setiap , , di dalam

dan setiap skalar , .

Sebuah ruang vektor yang dilengkapi dengan sebuah hasil kali

dalam disebut ruang hasil kali dalam. Salah satu contoh dari ruang hasil kali dalam adalah ruang vektor ℝ , dimana hasil kali dalam baku untuk

ℝ dihitung sebagai hasil kali skalar

(44)

Definisi 2.3.1.2

Dua vektor dan dikatakan ortogonal jika , = 0, yang dinotasikan sebagai ⊥ .

Definisi 2.3.1.3

Sebuah ruang vektor dikatakan ruang linier bernorma jika untuk setiap vektor dikaitkan dengan sebuah bilangan riil yang disebut norma

dari yang memenuhi:

(i) 0.

(ii) = 0 jika dan hanya jika = .

(iii) = � v untuk setiap ℝ.

(iv) + + untuk setiap dan di .

Teorema 2.3.1.4

Jika sebuah ruang hasil kali dalam, maka

= , untuk setiap

mendefinisikan sebuah norma pada .

Bukti:

(i) Karena nilai dari = , 0, berarti nilai terkecil yang

(45)

(ii) Jika = , maka 2 = , = , = 0. Jadi = 0.

Kemudian jika = , = , = 0, berarti haruslah = .

(iii) 2 = , = 2 , = 2. Jadi, = .

(iv) + 2 = + , +

= , + 2 , + ,

2+ 2 + 2 (ketaksamaan Cauchy-Schwarz)

= + 2

Jadi, + +

Kemudian dapat didefinisikan beberapa norma yang berbeda pada

ruang vektor yang diberikan. Seperti, di ℝ kita dapat mendefinisikan

2 = 2

=1

1 2

= , =

disebut sebagai norma-2 vektor. Selain itu, norma lainnya yang penting

pada ℝ adalah

(46)

Bukti:

(i) Untuk 1 , 0 sehingga max1 . Akibatnya,

max1 = ∞ 0.

(ii)Jika = 0, maka max1 = 0. Karena maksimal dari

= 0, = 1,2,…, berarti 1 = 2 = = = 0, akibatnya

= 0 0

0

sehingga = . Oleh karena itu haruslah suatu vektor nol.

Jika = , berarti 1 = 2 = = = 0. Akibatnya

max1 = 0 sehingga ∞ = 0.

(iii) = max1 = max1 = ∞.

(iv) + = max1 +

max

1 + max1

∞+ ∞.

Berdasarkan bukti di atas memenuhi definisi sebagai norma, maka

(47)

Contoh 2.3.1.5

Misalkan adalah vektor 4,−5,3 di ℝ3. Hitunglah 2 dan .

2 = 16 + 25 + 9 = 50 = 5 2.

∞ = max 4 , −5, 3 = 5.

Teorema 2.3.1.6 (Ketaksamaan Cauchy-Schwarz)

Jika dan adalah vektor-vektor di dalam sebuah ruang hasil kali dalam

, maka

,

Bukti:

Jika = maka , = = 0, sehingga ketaksamaan berlaku.

Jika ≠ , untuk setiap bilangan � ℝ nilai

� + � + 0

, �2+ 2 , �+ , 0

merupakan fungsi kuadrat dalam � sehingga haruslah � 0. Ini berarti

fungsi kuadrat tersebut tidak mempunyai akar berbeda. Oleh karena ini,

diskriminannya tidak mungkin positif, sehingga

4 , 2−4 , , 0

atau

4 , 2 4 , ,

(48)

, 2 2 2

dengan mengambil akar dari kedua ruas diperoleh

, .

2.3.2 Ruang Bagian Ortogonal

Vektor dan himpunan = 1, 2, . . , adalah ortogonal jika

terdapat dan untuk setiap berlaku , = 0. Dan apabila

dan ortogonal, dinotasikan sebagai ⊥ .

Definisi 2.3.2.1

Dua ruang bagian dan dari ℝ dikatakan ortogonal jika , = 0 untuk setiap dan setiap , dan apabila dan ortogonal ditulis

⊥ .

Misalkan adalah matriks × dan misalkan ( ). Karena

= sehingga

1 1+ 2 2+ + = 0

untuk = 1,2,…, . Persamaan tersebut menunjukkan bahwa ortogonal

pada setiap vektor kolom dari , maka ortogonal ke setiap kombinasi

linier dari vektor-vektor kolom . Sehingga jika adalah vektor kolom

(49)

ortogonal terhadap setiap vektor di dalam ruang kolom , yang ditulis

sebagai ⊥ . Jika dua ruang bagian memiliki sifat ini, maka

dapat dikatakan bahwa ruang bagian tersebut adalah ortogonal.

Definisi 2.3.2.2

Misalkan 1, 2,…, adalah vektor-vektor di dalam sebuah ruang hasil

kali dalam . Jika semua pasangan vektor , = 0, dimana ≠ , maka

1, 2,…, disebut sebagai himpunan ortogonal.

Definisi 2.3.2.3

Misalkan adalah ruang bagian dari ℝ . Himpunan semua vektor-vektor

di dalam ℝ yang ortogonal pada setiap vektor di akan dinotasikan

dengan ⊥,

= , = 0 untuk setiap .

Himpunan ⊥ disebut komplemen ortogonal dari .

2.3.2.4 Ruang-Ruang Bagian Pokok (Fundamental Subspaces)

Telah dijelaskan bahwa ⊥ , selanjutnya akan diperlihatkan

(50)

Teorema 2.3.2.5

Jika adalah sebuah matriks × , maka = ⊥ dan =

.

Bukti:

Diketahui bahwa ⊥ , sehingga ⊂ ⊥. Ambil

sebarang vektor di ⊥. Berdasarkan definisi komplemen ortogonal

maka ortogonal pada setiap vektor kolom dari , akibatnya = .

Padahal = ℝ = .

Jadi haruslah menjadi sebuah elemen dari , yaitu = ⊥.

Secara khusus, hasil ini juga berlaku untuk matriks = . Jadi

= = ⊥ = ⊥.

2.3.3 Masalah Kuadrat Terkecil

Masalah kuadrat terkecil pada umumnya dapat dirumuskan sebagai

sebuah sistem kelebihan persamaan linier, yaitu sistem yang memiliki

lebih banyak persamaan daripada peubah. Sistem yang seperti ini biasanya

tidak mempunyai penyelesaian. Misalkan diberikan sebuah sistem ×

yaitu = � dengan > , kemudian penyelesaian dari sistem tersebut

adalah mencari sebuah vektor ℝ sehingga sama dengan �. Berarti

vektor yang didapat untuk harus sedekat mungkin dengan �.

Diberikan sistem =�. Untuk setiap ℝ dapat dihitung sebuah

(51)

� =� −

dan jarak antara � dan diberikan sebagai

� − = � .

Untuk mendapatkan vektor ℝ yang terbaik dalam mendekati �, maka

harus dicari nilai � yang paling minimum. Sebuah vektor yang

memenuhi ini disebut sebagai penyelesaian kuadrat terkecil untuk sistem = �.

Teorema 2.3.3.1

Jika adalah matriks × yang memiliki rank , maka persamaan

normal

= �

mempunyai sebuah penyelesaian tunggal

= −1

dimana ′ adalah penyelesaian kuadrat terkecil yang tunggal dari sistem

= �.

Bukti:

Akan ditunjukkan bahwa adalah taksingular. Misalkan adalah

penyelesaian untuk = , berarti . Sehingga

1 1+ 2 2+ + = 0

menunjukkan bahwa ortogonal pada setiap vektor kolom dari , maka

(52)

Akibatnya ortogonal terhadap ( ), maka = ⊥.

Karena dan ⊥ adalah ruang bagian yang ortogonal, berarti

∩ ⊥ dan , maka = 0

sehingga = . Jika mempunyai rank maka vektor-vektor kolom

dari adalah bebas linear, sehingga = akan mempunyai

penyelesaian trivial. Jadi = dan = juga mempunyai

penyelesaian trivial. Berdasarkan Teorema 2.1.1, adalah taksingular.

Ini mengakibatkan bahwa ′ = −1 � adalah penyelesaian tunggal

untuk persamaan = �, sehingga ′ merupakan penyelesaian

kuadrat terkecil yang tunggal untuk sistem

= �.

2.3.4 Himpunan Ortonormal

Definisi 2.3.4.1

Himpunan ortogonal yang setiap vektornya mempunyai norma 1 disebut

sebagai himpunan ortonormal.

Himpunan 1, 2,…, akan menjadi ortonormal jika dan hanya

jika

, = ,

(53)

Untuk membentuk sebuah himpunan ortonormal dari himpunan ortogonal

vektor-vektor taknol 1, 2,…, dapat dilakukan dengan

mendefinisikan

= 1

=

1

. = 1 untuk = 1,2,…

Proses pengalian vektor taknol ini dengan kebalikan panjangnya untuk

mendapatkan vektor yang normanya 1 dinamakan menormalisasikan .

Definisi 2.3.4.2

Suatu basis yang anggota-anggotanya saling ortogonal dan masing-masing

memiliki norma 1 disebut basis ortonormal.

Definisi 2.3.4.3

Matriks yang berukuran × disebut sebagai matriks ortogonal, jika vektor-vektor kolom dari membentuk sebuah himpunan ortonormal di

dalam ℝ .

2.3.4.4 Sifat-sifat Matriks Ortogonal

Jika adalah matriks ortogonal × , maka

(i) =�

(ii) = −1

(iii) , = ,

(54)

Bukti:

(i) Berdasarkan definisi 2.3.4.1, sebuah matriks yang berukuran ×

adalah ortogonal jika dan hanya jika vektor-vektor kolom dari

membentuk sebuah himpunan ortonormal, yaitu

, = =

dimana = 1 jika = 0 jika ≠ .

Dan dari perhitungan , akan menghasilkan nilai-nilai untuk

entri , , ( = 1,2, . . dan = 1,2,…, ) dari sehingga

=

1 0 0 0 0

0 1 0 0 0

0 0 1 0 0

0 0 0 1

= � .

(ii) Berdasarkan sifat (i) =� maka =� −1, sehingga = −1.

(iii) , = = = � = = , .

(iv) 2 = , = = = �

(55)

2.4 Nilai Eigen dan Vektor Eigen

Apabila sebuah matriks berukuran × dan sebuah vektor ℝ ,

maka biasanya tidak ada hubungan geometris di antara vektor dan vektor

(Gambar 2.1a). Akan tetapi, ada beberapa vektor taknol , sehingga

dan merupakan kelipatan satu sama lainnya (Gambar 2.1b).

Vektor-vektor tersebut muncul secara alami dalam telaah getaran, sistem elektris,

genetik, reaksi kimia, mekanika kuanturm, tekanan mekanis, ekonomi dan

geometris. Pada bagian ini akan ditunjukkan bagaimana mencari

vektor-vektor ini.

(a) (b)

Gambar 2.1. Hubungan geometris di antara dan

Definisi 2.4.1

Misalkan adalah matriks berukuran × . Skalar � disebut sebagai nilai

eigen dari , jika terdapat vektor tak nol sehingga =� . Vektor

disebut vektor eigen yang bersesuaian dengan �.

A

x

x

A

x

(56)

Contoh 2.4.2

Diberikan matriks = 3 0

8 −1 , maka = 1

2 merupakan vektor eigen

dari matriks . Sebab merupakan kelipatan dari , yaitu

= 3 0

diperhatikan kembali definisi nilai eigen dan vektor eigen, bahwa bentuk

= � dapat ditulis sebagai

=��

− �� =

− �� = ,

dimana � adalah matriks identitas yang mempunyai bentuk

�=

persamaan − �� = . Sehingga persamaan tersebut akan mempunyai

penyelesaian tak nol jika dan hanya jika

det − �� = 0.

Jika det − �� = 0 diuraikan, akan didapatkan suatu polinomial

(57)

� � = det − �� .

Polinomial ini disebut polinomial karakteristik dan � � = det − ��

tersebut disebut sebagai persamaan karakteristik dari matriks .

Contoh 2.4.3

Carilah nilai-nilai eigen dari matriks

= 1 1

4 1

Penyelesaian:

Polinomial karakteristik dari matriks adalah

det − �� = det 1 1

4 1 − �

0

0 � = det

1− � 1

4 1− �

= 1− � 2−4.

Dan persamaan karakteristik dari matriks adalah

�22� −3 = 0,

dengan memfaktorkan �2−2� −3 = 0, diperoleh

� −3 �+ 1 = 0

sehingga penyelesaian dari persamaan ini adalah �1 = 3 dan �2 =−1.

Jadi, nilai-nilai eigen dari matriks tersebut adalah �1 = 3 dan �2 =−1.

2.5 Dekomposisi Nilai Singular (Singular Value Decomposition)

Dekomposisi nilai singular merupakan suatu teknik pemfaktoran

matriks yang berkaitan erat dengan nilai singular dari sebuah matriks yang

(58)

Teorema 2.5.1

Misalkan adalah matriks × dan �= min , . Maka terdapat

basis ortonormal 1, 2,…, untuk ℝ , 1, 2,…, untuk ℝ dan

skalar-skalar �12 > 0, sehingga mempunyai suatu

dekomposisi nilai singular, = Λ ,

dengan Λ adalah matriks × yang berbentuk

matriks diagonal yang entrinya nilai-nilai singular.

Bukti:

adalah matriks simetris berukuran × , yaitu matriks persegi yang

elemen-elemennya simetri terhadap diagonal utama. Misalkan � adalah

(59)

Dengan menggunakan Teorema 2.3.1.4, 2 = 2 =

2 = = =

karena � merupakan suatu skalar, berlaku

2 = = = 2

akibatnya

� =

2

2 0.

Asumsikan bahwa kolom-kolom dari tersusun terurut sehingga

nilai-nilai eigen yang bersesuaian memenuhi

�1 �2 � 0.

dan nilai-nilai singular dari matriks diberikan oleh

� = � , = 1,2,…, .

Misalkan � merupakan rank dari . Karena matriks simetris maka

ranknya ditentukan dari banyaknya nilai eigen taknol dari . Jadi

�1 �2 �� > 0 dan ��+1 =��+2 = =� = 0

sehingga matriks juga mempunyai rank �. Dan hubungan yang sama

juga berlaku bagi nilai-nilai singularnya

�1 �2 �� > 0 dan ��+1 = ��+2 = = � = 0

Sekarang, misalkan 1 = 1, 2,…, � dan 2 = �+1, �+2,…,

dan

Λ1 =

σ1 0 0 0

0 σ2 0 0

0 0 ⋱ 0

(60)

Jadi Λ1 adalah matriks diagonal �×� yang entri-entri diagonalnya adalah

nilai-nilai singular taknol σ1,…,σ. Selanjutnya matriks Λ × dapat

dinyatakan oleh

Λ= Λ1 .

Vektor-vektor dari 2 adalah vektor-vektor eigen dari untuk �= 0,

sehingga

= , =�+ 1,…,

dan akibatnya, vektor-vektor kolom dari 2 membentuk basis ortonormal

untuk = . Dengan demikian,

2 =

dan karena adalah matriks ortogonal, maka

� = = 1 1 + 2 2

= �= 1 1 + 2 2 = 1 1 . 2.1

Kemudian akan dibuktikan bahwa matriks ortogonal berorde ×

memenuhi

= Λ ↔ = Λ 2.2

dan dengan membandingkan � kolom-kolom pertama dari setiap ruas dari

2.2 , diperoleh

= � , = 1,…,�

sehingga

= 1

(61)

akibatnya

1 = 1,…, �

dan berdasarkan hal itu, maka

1 = 1Λ1. 2.4

Vektor-vektor kolom dari 1 akan membentuk suatu himpunan ortonormal

(62)

Karena 1,…, dan +1,…, membentuk basis ortonormal,

berarti kita dapat menuliskan 1,…, , +1,…, sebagai kombinasi

linear

1 1+ + � � + �+1 �+1 + + = 0

sehingga 1,…, akan membentuk basis ortonormal untuk ℝ .

Akibatnya adalah matriks ortogonal, dan dari persamaan 2.1 dan 2.4

diperoleh

Tentukan dekomposisi nilai singular dari matriks

=

1 1

1 1

0 0

Penyelesaian:

Langkah 1: akan dihitung

= 1 1 0

(63)

� � = det 2− � 2 membentuk matriks .

Dari nilai-nilai eigen yang telah diperoleh, dapat dicari vektor eigen yang

bersesuaian dengan �.

Untuk �1 = 4,

dengan mensubstitusikan nilai �1 ke − ��, diperoleh

−4� = 2−4 2

dan bentuk matriks diperbesar sistem tersebut dapat dinyatakan sebagai

22 22 00 .

kemudian dengan menggunakan eliminasi Gauss diperoleh

22 2200

1

2 1

1212 00 −2 1+ 2

(64)

Dari bentuk eselon baris didapat bahwa − 2 = 0 atau = 2,

Jadi, vektor-vektor eigen dari �1 mempunyai bentuk 2 1

1 , 2 ℝ.

Dengan proses normalisasi dapat dibentuk 1 sebagai

1 = = 2

dengan mensubstitusikan nilai �2 ke − ��, diperoleh

−0�= 2−0 2

dan bentuk matriks diperbesar sistem tersebut dapat dinyatakan sebagai

2 2

2 2

0 0

kemudian dengan menggunakan proses eliminasi Gauss diperoleh

(65)

Dari bentuk eselon baris didapat bahwa + 2 = 0 atau = − ,

Jadi, vektor-vektor eigen dari �2 mempunyai bentuk 1 1

−1 , 1 ℝ.

Dengan proses normalisasi dapat dibentuk 2 sebagai

2 = = 2

Dari vektor 1 dan 2 yang diperoleh dapat dibentuk matriks

(66)

=

Langkah 5: menentukan matriks

Dari langkah 4, diketahui bahwa matriks mempunyai rank 1 sehingga

dapat dibentuk basis ortonormal untuk . Dengan menggunakan

persamaan 2.3 , diperoleh

1 =

Untuk mencari vektor-vektor kolom yang lain, maka harus dibentuk suatu

basis ortonormal untuk . Karena itu perlu ditunjukkan bahwa

Bentuk eselon baris tersebut melibatkan dua peubah bebas 1 dan 3

(67)

misalkan 1 = dan 3 = , maka

dilakukan proses normalisasi sehingga

2 =

Kemudian dapat dibentuk matriks diagonal Λ dengan entrinya adalah

(68)

Λ=

Diberikan matriks = 2 2

−1 1 , carilah dekomposisi nilai singular untuk

(69)

Penyelesaian:

vektor eigen yang bersesuaian dengan �1 dan �2 sebagai

�1 = −

Jadi, SVD dari matriks adalah

(70)

Dengan SVD matriks dapat ditentukan invers matriks sebagai

2.6 Norma Matriks dan Bilangan Kondisi

Dalam menyelesaikan masalah sistem linier, akurasi dari penyelesaian

menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Sebab, semakin akurat

penyelesaian yang didapat maka semakin kecil pula galat yang terjadi.

Keakuratan penyelesaian sangat bergantung pada seberapa sensitif matriks

koefisien dari sistem terhadap adanya perubahan kecil yang terjadi.

Sensitifitas dari matriks dapat diukur dengan bilangan kondisi (condition number) matriks tersebut. Bilangan kondisi suatu matriks taksingular didefinisikan dari sudut pandang norma matriks dan norma inversnya.

Sebelum membahas bilangan kondisi, perlu dipelajari tipe-tipe dari

norma-norma matriks.

2.6.1 Norma Matriks

Berdasarkan penjelasan dalam subbab sebelumnya, kita telah

(71)

Selanjutnya pada subbab ini akan dijelaskan perhitungan norma pada

ruang vektor di × . Suatu fungsi . : × → ℝ disebut norma

matriks, jika untuk sebarang , × dan ℝ, memenuhi:

(i) 0

(ii) = 0 jika dan hanya jika =

(iii) =

(iv) + +

Teorema 2.6.1.1

Andaikan . adalah norma vektor pada ℝ , maka

= max

=1

adalah norma matriks.

Bukti:

Akan dibuktikan bahwa

= max

=1

memenuhi definisi norma.

(i) Untuk setiap = 1,

0

max

=1 0

(72)

max

=1 = 0

(ii) Jika = 0, maka max =1 = 0. Berarti = untuk setiap

ℝ , dan

� =

0 0

1

sehingga � = untuk = 1,2,…, . Oleh karena itu haruslah

suatu matriks nol.

Jika = dan ℝ , maka = . Berarti max =1 = 0

sehingga = 0.

(iii) = max

=1 = max =1 =

(iv) + = max

=1 +

max

=1 +

max

=1 + max =1

+

Akibat 2.6.1.2

Untuk setiap ≠ 0, dapat ditulis sebagai vektor tak nol

=

(73)

= max

=1 = max≠0 . = max≠0 = max≠0

.

Akibat 2.6.1.3

Untuk setiap matriks dan ≠ , maka terdapat norma natural . ,

sehingga

Bukti:

max

=1 . = . .

Dengan mengganti definisi norma vektor pada Teorema 2.6.1.1 dapat

diturunkan beberapa norma matriks. Apabila norma vektor . yang

digunakan dalam definisi adalah norma vektor . , maka

∞ = max

∞=1 ∞.

disebut sebagai norma-∞ matriks. Sedangkan, jika digunakan norma

vektor . 2 , maka

2 = max

2=1 2

.

(74)

Teorema 2.6.1.4

i Akan ditunjukkan bahwa

max

1

=1

Misalkan adalah matriks berukuran × 1, dengan =

max1 = 1.

Diberikan matriks berukuran × , sehingga

(75)

(ii) Sekarang akan ditunjukkan bahwa

1max

=1

.

Misalkan � adalah suatu bilangan bulat dengan

=1

= max

1

=1

dan vektor , dengan koordinat

(76)

Teorema 2.6.1.5

Jika adalah matriks × dengan dekomposisi nilai singular Λ ,

maka

2 =�1

dimana, �1 adalah nilai singular terbesar dari matriks .

(77)

sehingga

maksimum yang ada pada setiap baris dari matriks , sehingga

1 = 1 + 1 = 2

dari matriks kemudian menentukan nilai singularnya.

(78)

Untuk mencari nilai eigennya digunakan

�1,2 =7 ± 49−4.1.9

2 =

7 ± 13

2

sehingga

�1 =7

2+ 13

2 dan �2 = 7 2−

13 2 ,

dari hasil tersebut diperoleh

�1 = �1 = 2,3028 dan �2 = �2 = 1,3028.

Berdasarkan nilai singular yang diperoleh, maka

2 = �1 = 2,3028.

2.6.2 Bilangan Kondisi

Norma matriks dapat digunakan untuk memperkirakan sensitivitas

sistem linier terhadap perubahan yang terjadi pada matriks koefisiennya.

Definisi 2.6.2.1

Suatu matriks disebut berkondisi buruk (ill-condition) apabila perubahan yang relatif kecil dalam entri-entri menyebabkan perubahan yang relatif

(79)

berkondisi baik (well-condition) jika perubahan yang relatif kecil dalam entri-entri mengakibatkan perubahan yang relatif kecil dalam penyelesaian

= �.

Jika matriks adalah matriks berkondisi buruk, maka perhitungan

terhadap = � memberikan hasil penyelesaian yang kurang begitu

akurat. Hal ini disebabkan karena galat-galat kecil yang terjadi dalam

proses perhitungan memberikan efek yang sangat drastis terhadap hasil

penyelesaian sehingga menyebabkan galat yang sangat besar. Sebaliknya,

apabila matriks tersebut berkondisi baik maka akan didapat perhitungan

yang memberikan hasil penyelesaian akurat untuk meyelesaikan sistem

= �. Secara umum, akurasi dari penyelesaian bergantung pada kondisi

matriks yang bersangkutan.

Misalkan adalah matriks taksingular × yang memenuhi sistem

= �. Jika adalah penyelesaian eksak terhadap sistem = � dan ′

adalah penyelesaian yang menghampiri penyelesaian eksak dari sistem

= �, maka selisih di antara dan ′ menghasilkan galat perhitungan

yang ditulis sebagai

�= − ′.

Untuk menguji keakuratan dari ′ dilakukan dengan cara mensubstitusikan

kembali ′ ke dalam sistem = � sehingga diperoleh ′ = �′.

Kemudian akan dihitung selisih dari �′ dengan � sehingga diperoleh

(80)

dimana vektor r ini adalah vektor sisa. Dengan menggunakan norma .

memberikan nilai perkiraan dari galat relatif, dan nilai perkiraan tersebut

bergantung pada kondisi matriks . Secara umum, jika matriks

berkondisi buruk maka sisa relatif akan lebih kecil dari galat relatifnya.

Sebaliknya, untuk matriks berkondisi baik maka sisa relatif dan galat

relatif akan saling berdekatan.

Karena

=� − ′ = − ′ = �

dan adalah matrik taksingular × , maka �= −1 , sehingga dengan

menggunakan Akibat 2.6.1.3 diperoleh

� −1 2.5

Karena nilai merupakan penyelesaian eksak terhadap =�, dan

adalah matrik taksingular maka = −1�. Sehingga dengan menggunakan

ketaksamaan 2.7 , didapatkan

(81)

Dari ketaksamaan 2.7 dan 2.8 diperoleh

diberikan dengan lambang cond( ), sehingga

1

� , bahwa semakin bilangan kondisi mendekati nilai 1,

maka galat relatif dan sisa relatif akan berdekatan. Namun jika bilangan

kondisi besar, maka galat relatif akan beberapa kali lebih besar dari sisa

relatif.

Bilangan kondisi dari sesungguhnya memberikan informasi penting

mengenai kondisi matriks . Misalkan ′ adalah matriks baru yang

dibentuk dengan mengganti sejumlah kecil entri-entri dari . Maka, kita

dapat membentuk matriks � = ′ − sehingga ′ = +�, dimana

entri-entri dari � relatif lebih kecil daripada entri-entri pada . Matriks akan

berkondisi buruk jika untuk suatu matriks seperti � memberikan pengaruh

buruk pada perhitungan penyelesaian terhadap ′ ′ =� dan = �. Hal

tersebut mengakibatkan selisih dari kedua hasil penyelesaian tersebut

(82)

membandingkan perubahan penyelesaian relatif terhadap ′, dengan

perubahan relatif dalam matriks .

Dari

= −1�= −1 ′ ′ = −1 +� ′ = −1 ′ + −1� ′

= ′ + −1� ′

diperoleh,

− ′ = −1

Dengan menggunakan Akibat 2.6.1.3, maka

− ′ −1

atau

−1 � 2.10

Jika ruas kanan pada ketaksamaan 2.10 dikali , diperoleh

−1 � = cond � 2.11

Untuk lebih memahami maksud dan perhitungan dari ketaksamaan 2.11

(83)

Contoh 2.6.2.1

Diberikan sistem (a)

2,0000 1+ 2,0000 2 = 6,0000

2,0000 1+ 2,0005 2 = 6,0010

yang mempunyai penyelesaian eksak = 1

2 . Dan dengan melakukan

sedikit perubahan diperoleh sistem baru, sebagai sistem (b)

2,000 1+ 2,000 2 = 6,000

2,000 1+ 2,001 2 = 6,001

yang memiliki penyelesaian ′ = 2

1 . Hitunglah perbandingan perubahan

penyelesaian relatif terhadap ′dengan perubahan relatif dalam matriks .

Penyelesaian:

Dari sistem (a) dan sistem (b) dapat diperoleh matriks koefisien dan ′,

(84)

dan galat relatif dalam matriks adalah

� ∞

∞ =

0,0005

4,0005≈ 0,0001

Sedangkan bilangan kondisi dari matriks sebagai

cond = −1 = 4,0005 4000,5 ≈16004.

Dengan menggunakan ketaksamaan 2.10 dapat ditentukan batas dari

galat relatif sebagai

cond � ∞

= 16004 0,0001 = 1,6004

dan galat relatif sesungguhnya bagi sistem adalah

− ′

Jadi, perbandingan perubahan penyelesaian relatif terhadap ′dengan

perubahan relatif dalam matriks adalah

1

2< 1,6004.

Selain menggunakan . , perhitungan bilangan kondisi dari matriks

, yang dinotasikan sebagai cond dapat juga dihitung menggunakan

(85)

Teorema 2.6.2.2

Jika = Λ adalah taksingular, maka

cond2 = �1

� .

Bukti:

Karena adalah taksingular berarti memiliki invers, yaitu −1 dan

nilai-nilai singular dari −1 = Λ−1 tersusun dalam urutan menurun sebagai

Dengan menggunakan matriks pada contoh 2.6.1.6,

= 1 1

−1 2

(86)

Penyelesaian:

Berdasarkan pembahasan pada contoh 2.6.1.6 didapatkan bahwa

nilai-nilai singular dari adalah �1 = 2,3028 dan �2 = 1,3028. Dari hasil

tersebut dapat dihitung

cond2 = �1

�2

=2,3028

1,3028= 1,768.

B. Kalkulus

Pada subbab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori kalkulus yang

akan digunakan sebagai landasan pembahasan pada bab-bab berikutnya.

2.7 Big-O

Andaikan adalah fungsi bernilai riil yang didefinisikan pada kitar-

dengan pusat ℝ , yang ditulis ℝ | − < , dengan ≠ .

Misal :Ω ↦ ℝ adalah fungsi yang didefinisikan dalam suatu domain

(daerah asal) Ω ⊂ ℝ yang memuat , maka

=�( ), diartikan bahwa

( ) ( )

terbatas. Jadi, terdapat bilangan > 0 dan > 0, sehingga jika

− < , Ω berakibat

(87)

Contoh 2.7.1

Tunjukkan bahwa ℎ = 2+ 2 + 1 adalah � 2 .

Penyelesaian:

Akan ditentukan bilangan bulat positif dan sehingga untuk setiap

, berlaku

2+ 2 + 1

Ambil > 1, maka didapat

0 2+ 2 + 1 2+ 2 2+ 2 = 4 4

Dengan demikian, dari persamaan di atas diperoleh nilai = 4 dengan

= 1.

2.8 Fungsi bernilai vektor

Teorema 2.8.1

Misalkan adalah matriks invertibel dan � =1

2 − �

2. Maka,

(i) adalah titik minimum untuk � jika dan hanya jika adalah

penyelesaian persamaan =�.

(ii) Persamaan titik kritis pada � adalah � = �.

(88)
(89)

= lim

→0

1

2 − �, − � + − �, + , − �

− � − ,� −

dengan aturan , = , dan , = , menjadi

� = lim

→0

1

2 2 − �, = − ,

kemudian dengan aturan hasil kali dalam �, = , diperoleh

� = − , = − � = − �

= − � , .

Sehingga � untuk setiap ℝ ,

� = − � .

dimana � adalah vektor gradien dari �.

Kemudian agar mendapatkan persamaan titik kritisnya maka nilai dari

� = 0, sehingga

� = �. 2.12

Persamaan 2.12 yang diperoleh ini sebelumnya dikenal sebagai

(90)

(iii) Diketahui bahwa adalah matriks invertibel jika dan hanya jika

transposenya, yaitu juga invertibel dan −1 = −1 .

Kemudian dengan mengalikan kedua sisi pada persamaan 2.12

dengan −1, diperoleh

−1 = −1

(91)

BAB III

INVERSE PROBLEM

A. Prinsip Dasar Inverse Problem

Dalam matematika, terdapat dua cara untuk meyelesaikan

permasalahan, yaitu metode penyelesaian langsung dan metode

penyelesaian tidak langsung. Metode penyelesaian langsung adalah cara

penyelesaian dengan mengoperasikan input dalam sistem kemudian

diperoleh output. Metode penyelesaian tidak langsung adalah cara

penyelesaian dengan menduga input, berdasar informasi sistem dan output

yang diberikan. Pada kesempatan ini, penulis akan membahas mengenai

metode penyelesaian secara tidak langsung.

Metode penyelesaian tidak langsung pada prinsipnya untuk menduga

input berdasar dua informasi penting, yaitu sistem dan output. Menduga

input berarti menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan invers

dari permasalahan, sehingga metode penyelesaian ini dinamakan sebagai

Inverse Problem. Agar dapat lebih memahami metode invers problem, perhatikan gambar berikut.

Gambar 3.1. Prosedur metode Inverse Problem

Inverse Problem

Input Sistem

(92)

Dalam melakukan perhitungan untuk mendapatkan penyelesaian

berupa input terkadang tidak mudah. Terlebih, apabila sistem yang ada

pada masalah sulit untuk diselesaikan, sehingga tidaklah mungkin

menyelesaikannya secara manual. Karena alasan tersebut, maka

digunakanlah perhitungan dengan komputer. Sebab, komputer dapat

membantu menyelesaikan perhitungan secara lebih akurat dan cepat. Ada

beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keakuratan penyelesaian.

Pertama, sistem yang kurang stabil. Kedua, algoritma yang digunakan untuk menyelesaikan masalah invers tersebut. Dengan mengetahui

faktor-faktor tersebut, maka mengontrol penyelesaian agar menghasilkan galat

yang terkecil adalah tujuan dari metode invers problem ini. Karena semakin kecil galat, maka nilai dari penyelesaian yang didapat akan

semakin mendekati nilai penyelesaian eksaknya.

3.1 Kestabilan Algoritma pada Sistem

Seperti yang telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi keakuratan penyelesaian, salah satunya mengenai

kestabilan algoritma. Sebuah algoritma dikatakan stabil, apabila perubahan

galat kecil yang terjadi dalam data awal memberikan perubahan galat kecil

pada hasil akhir. Sebaliknya, apabila perubahan galat kecil dalam data

awal menghasilkan perubahan galat yang besar pada hasil akhir, algoritma

dikatakan tidak stabil. Gagasan mengenai kondisi dan kestabilan sistem

Referensi

Dokumen terkait

Makalah berikutnya parameter-parameter fungsi tujuan ditentukan menggunakan Singular Value Decomposition (SVD) dimana error lebih kecil dari pada menggunakan Least Square.. ACO

Tugas akhir ini bertujuan membuat perangkat lunak untuk menyisipkan watermark pada citra menggunakan teknik Singular Value Decomposition – Discrete Cosine Transform berdasarkan

Penelitian yang telah dilakukan menggunakan metode Symmetrical Singular Value Decomposition Representation (SSVDR) untuk memunculkan citra wajah iluminasi yang

Pada tugas akhir akan dilakukan pemodelan kurva karakteristik inverse non-standar rele arus lebih dengan menggunakan metode Interpolasi LagrangeB. Interpolasi adalah

Dari hasil simulasi diketahui bahwa penyelesaian inverse problem pencitraan kanker otak dengan metode transformasi Hopf-Cole lebih stabil jika dibandingkan

ABSTRAKSI “Simulasi Gerak Kepiting Menggunakan Metode Inverse Kinematics” merupakan penelitian dengan tujuan mengetahui cara gerak hewan kepiting untuk diterapkan dalam animasi 3D,

Tugas akhir ini mengimplementasikan dan menganalisis perbandingan Watermarking Menggunakan Dual Tree Complex Wavelet Transform (DT-CWT) dengan Singular Value.. Decomposition (SVD)

Mendeteksi penyakit abses pada gigi dengan radiografi periapikal melalui segmentasi citra digital dengan menggunakan beberapa metode yaitu Singular Value Decomposition (SVD)