BUPATI KOTAWARINGIN BARAT
PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARATPOLA PENGEMBANGAN DAN M
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Menimbang : a. bahwa penyebaran dan pengembangan ternak yang pengadaannya bersumber dari anggaran Pemerintah diarahkan untuk meningkatkan populasi dalam rangka membentuk kawasan pengembangan ternak dan produksi ternak sekaligus meningkatkan kesejahteraan p
swasembada daging di Kabupaten Kotawaringin Barat; b. bahwa untuk pelaksanaan pengembangan dan pema
dan mekanisme
diatur pola pengembangan dan Kotawaringin Barat;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan
perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pola Pengembangan Pemerintah di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentu
Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang
Negara Republik Indonesia tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);
2. Undang-Undang Nomor 1 T
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang undangan (Lembaran Negar
Lembaran Negara Re
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Indonesia Nomor 4437), sebagaimana diubah terakhir dengan Undang Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik I
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT
PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARATNOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG
POLA PENGEMBANGAN DAN MEKANISME PENGELOLAAN TERNAK PEMERINTAH DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT,
ahwa penyebaran dan pengembangan ternak yang pengadaannya bersumber dari anggaran Pemerintah diarahkan untuk meningkatkan populasi dalam rangka membentuk kawasan pengembangan ternak dan produksi ternak sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani ternak menuju tercapainya kondisi
swasembada daging di Kabupaten Kotawaringin Barat;
ahwa untuk pelaksanaan pengembangan dan pemanfaatan hasil usaha ternak pemerintah mekanisme pengelolaan ternak pemerintah di Kabupaten
diatur pola pengembangan dan mekanisme pengelolaan ternak Pemerintah di Kabupaten Kotawaringin Barat;
ahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huru perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pola Pengembangan Pemerintah di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang
Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang
Negara Republik Indonesia tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);
Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara lik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara R
donesia Nomor 4437), sebagaimana diubah terakhir dengan Undang
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
TERNAK PEMERINTAH DI KABUPATEN
ahwa penyebaran dan pengembangan ternak yang pengadaannya bersumber dari anggaran Pemerintah diarahkan untuk meningkatkan populasi dalam rangka membentuk kawasan pengembangan ternak dan produksi ternak sekaligus meningkatkan kondisi ketahanan pangan dan faatan hasil usaha ternak pemerintah pengelolaan ternak pemerintah di Kabupaten Kotawaringin Barat, perlu pengelolaan ternak Pemerintah di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada huruf a, dan b di atas, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pola Pengembangan dan Mekanisme Ternak
Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat aerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik
ahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik
Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-a Republik IndonesiPerundang-a TPerundang-ahun 2004 Nomor 53, TPerundang-ambPerundang-ahPerundang-an
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara bahan Lembaran Negara Republik donesia Nomor 4437), sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
epublik Indonesia Nomor 4844);
Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5015);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Jenis dan Produk Hukum Daerah;
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;
13. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 417/kpts/OT.210/7/2001 tentang Pedoman Umum Penyebaran dan Pengembangan Ternak;
14. Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 14 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Kotawaringin Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2008 Nomor 14);
15. Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 18 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2008 Nomor 18, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 3).
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG POLA PENGEMBANGAN DAN MEKANISME PENGELOLAAN TERNAK PEMERINTAH DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Kotawaringin Barat;
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah;
3. Bupati adalah Bupati Kotawaringin Barat;
4. Dinas Pertanian dan Peternakan adalah Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat;
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah Perangkat Daerah selaku pengguna barang;
6. Unit Kerja adalah bagian SKPD selaku kuasa pengguna barang;
7. Tim Teknis adalah Tim Teknis Pembinaan Usaha Peternakan (PUT) yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat;
8. Sekretaris Daerah yang merupakan pengelola barang milik daerah, yang selanjutnya disebut pengelola adalah Sekretaris Daerah yang merupakan Pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab melakukan koordinasi pengelolaan barang milik daerah;
9. Pengguna Ternak Pemerintah selanjutnya disebut pengguna adalah pejabat pemegang kewenangan pengguna ternak pemerintah;
10. Kuasa Pengguna Ternak Pemerintah adalah Kepala Satuan Kerja atau Pejabat yang ditunjuk oleh pengguna untuk menggunakan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang berada dalam penguasaannya;
11. Ternak adalah hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian; 12. Ternak Pemerintah adalah barang milik daerah yaitu semua kekayaan daerah berupa ternak/hewan dan sarana produksi baik yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat maupun yang berasal dari perolehan lain yang sah beserta bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung, diukur atau ditimbang;
13. Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan barang milik daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
14. Pemanfaatan adalah pendayagunaan menggunakan ternak Pemerintah dan sarana produksi ternak yang termasuk kelompok tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat dilaksanakan dalam bentuk kerjasama pemanfaatan dengan tidak mengubah status kepemilikan;
15. Kerja sama pemanfaatan adalah pendayagunaan menggunakan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan daerah bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya;
16. Penghapusan adalah tindakan menghapus menggunakan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dengan menerbitkan Surat Keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan/atau pengelola dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas menggunakan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang berada dalam penguasaannya;
17. Penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/fakta yang obyektif relevan dengan menggunakan metode/teknis tertentu untuk memperoleh nilai ternak pemerintah dan sarana produksi ternak.
ASAS, RUANG LINGKUP PENGELOLAAN
Pasal 2
(1) Pengelolaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai;
(2) Pengelolaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang diatur melalui Peraturan Bupati ini meliputi :
a. Penggunaan; b. Penatausahaan; c. Pemanfaatan; d. Penilaian;
e. Penghapusan dan pemindah tanganan.
BAB III
STATUS PENGGUNAAN
Pasal 3
(1) Ternak pemerintah dan sarana produksi ternak ditetapkan status penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Dinas Pertanian dan Peternakan dan dapat dilaksanakan oleh pihak lain dalam rangka mendukung pelayanan umum sesuai tugas pokok dan fungsi Dinas Pertanian dan Peternakan;
(2) Status penggunaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak ditetapkan dengan Keputusan Bupati Kotawaringin Barat;
(3) Proses penetapan status penggunaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak oleh Bupati Kotawaringin Barat terhadap ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang tidak digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Dinas Pertanian dan Peternakan dilakukan dengan mekanisme Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan menyerahkan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang termasuk kelompok inventaris lainnya kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
BAB IV PENATAUSAHAAN
Pasal 4
(1) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan menyimpan dokumen kepemilikan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak;
(2) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan menyusun laporan barang semesteran dan tahunan;
(3) Laporan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bupati Kotawaringin Barat melalui pengelola;
(4) Laporan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 ayat (2), digunakan sebagai bahan untuk menyusun Neraca Pemerintah;
(5) Dalam hal pengurusan dan pelaporan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak, Pengurus barang berkoordinasi dengan Tim Pembinaan Usaha Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan.
PEMANFAATAN
Bagian Kesatu Kriteria
Pasal 5
(1) Pemanfaatan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat dilaksanakan oleh Pengguna setelah mendapat persetujuan Pengelola;
(2) Pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan pertimbangan teknis dengan memperhatikan, kepentingan negara/daerah dan kepentingan umum;
(3) Bentuk pemanfaatan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak termasuk kategori kerjasama pemanfaatan yang dilaksanakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat setelah mendapat persetujuan pengelola;
(4) Kerja sama pemanfaatan barang milik daerah dengan pihak lain dilaksanakan dalam rangka:
a. Mengoptimalkan daya guna dan hasil guna ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dan;
b. Meningkatkan penerimaan Daerah.
(5) Kerja sama pemanfaatan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dengan pihak lain dituangkan dalam surat perjanjian kerjasama antara Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dengan petani penggaduh/kelompok tani atau pihak lainnya;
(6) Demi menjamin terpeliharanya aset pemerintah, Tim Teknis Pembinaan Usaha Peternakan dapat memeriksa atau melakukan analisis atas usaha yang dijalankan sehingga dapat diperoleh pembagian yang proporsional atas bagi hasil usaha yang diperoleh maupun kerugian akibat kerjasama usaha yang dijalankan.
Bagian Kedua Bentuk Kerja sama
Paragraf 1
POLA BAGI HASIL ANAK/TURUNAN
Pasal 6
(1) Pola Bagi Hasil Anak/Turunan terdiri dari:
a. Pola Bagi Hasil Anak Turunan untuk kerjasama pemanfaatan bibit ternak sapi potong; b. Pola bagi hasil untuk kerjasama pemanfaatan jenis ternak lainnya.
(2) Pola Bagi Hasil Anak/Turunan bibit ternak sapi potong sebagaimana pasal 6 ayat (1) butir (a) di atas dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut :
a. Petani penerima pinjaman/gaduhan ternak milik pemerintah, sebanyak 2 (dua) sampai dengan 4 (empat) ekor sapi bibit/dara untuk dipelihara. Sapi tersebut dikawinkan hingga bunting dan beranak ke I. Perkawinan dilakukan dengan Inseminasi Buatan (IB) maupun kawin alam, disesuaikan dengan kondisi ternak dan jangkauan IB;
b. Setiap anak sapi/pedet yang diperoleh dari pemeliharaan ternak gaduhan, setelah melewati jangka waktu pemeliharaan tertentu minimal umur lepas sapi/pedet tersebut dinilai dengan uang sesuai harga jual ternak pada saat itu;
c. Hasil penjualan ternak keturunan tersebut disetor secara bruto dimana penggaduh ternak memperoleh 50% (lima puluh persen) dari penjualan dan 50 % (lima puluh persen) dikembalikan kepada pemerintah sebagai pendapatan daerah;
d. Jangka waktu pemeliharaan/gaduhan ternak selama 5 (lima) tahun atau sampai ternak tersebut dinyatakan tidak produktif lagi;
e. Ternak bibit yang dinyatakan tidak produktif diserahkan kembali kepada pemerintah melalui penyetoran PAD atau jika berdasarkan pertimbangan teknis memungkinkan, hasil penjualan ternak apkir tersebut digunakan untuk keperluan peremajaan ternak pemerintah sehingga kerjasama tersebut tetap berjalan;
f. Apabila ditemukan ternak dalam keadaan sakit, potong paksa, majir/tidak bisa beranak atas keterangan dari dokter hewan, maka akan dilakukan penjualan terhadap ternak tersebut dan dilakukan bagi hasil dimana peternak menerima 25% dan pemerintah 75% dari harga ternak yang merupakan Penerimaan Daerah (PAD) dan disetor secara bruto;
g. Dalam hal ternak yang dipelihara mati atau hilang karena kesalahan atau kelalaian petani, maka penggaduh tersebut tetap memenuhi kewajiban sesuai dengan perjanjian;
h. Dalam hal ternak yang dipelihara oleh penggaduh mati atau hilang yang bukan karena kesalahan atau kelalaian penggaduh, maka penggaduh yang bersangkutan bebas dari tanggung jawab untuk penggantian.
(3) Indikator teknis pola bagi hasil bibit ternak sapi potong adalah sebagai berikut :
a. Arah kegiatan adalah penambahan populasi induk/bibit untuk pembentukan lokasi sentral produk ternak sapi potong dalam rangka pencapaian sasaran populasi, produksi ternak dan PAD atas penjualan anak keturunan yang dihasilkan;
b. Sasaran kerjasama pemanfaatan adalah usaha pemeliharaan ternak di wilayah sentra/lokus yang direncanakan untuk menghasilkan PAD di lokasi sentra produksi peternakan;
c. Indikator keberhasilan pola bagi hasil bibit ternak sapi potong adalah :
1) Jumlah kelahiran anak/pedet yang dihasilkan setiap tahun dan setoran bagi hasil atas penjualan pedet/anak turunan ke kas daerah (PAD);
2) Berkembangnya populasi ternak sapi potong pada tahun-tahun berikutnya setelah penyebaran ternak pokok karena petani melakukan produksi bibit secara swadaya dengan fasilitas/insentif dari pemerintah berupa: Inseminasi buatan, pelayanan kesehatan hewan, dan bimbingan teknis;
(4) Jenis ternak yang pemanfaatannya Pola Bagi Hasil Anak/Turunan jenis ternak lainnya sebagaimana dimaksud pasal 6 ayat (1) butir (b) dapat berupa kambing, domba, babi, itik, ayam buras, dan ternak unggas lainnya;
(5) Pola Bagi Hasil ternak program penggemukan sapi potong dilaksanakan melalui pos pembiayaan dengan mekanisme dan pengelolaannya diatur dalam ketentuan tersendiri; (6) Bentuk hasil usaha peternakan yang dibagikan hasilnya melalui pola bagi hasil jenis ternak
lainnya sebagaimana dimaksud pasal 6 ayat (1) butir (b) dapat berupa : a. Anak atau keturunan dari ternak pokok;
b. Pembesaran ternak atau pertambahan bobot badan;
c. Telur atau produk ternak lainnya sesuai jenis usaha yang dikerjasamakan;
d. Ternak pokok yang secara teknis dinyatakan sudah tidak produktif (aktif) diserahkan kembali kepada pemerintah melalui penyetoran ke kas daerah (PAD) secara bruto atau jika berdasarkan pertimbangan teknis memungkinkan, hasil penjualan ternak apkir tersebut digunakan untuk keperluan peremajaan aset ternak pemerintah sehingga tetap berjalan;
e. Ketentuan mengenai porsi atas bagi hasil usaha ternak lainnya dituangkan dalam bentuk perjanjian kerjasama tersendiri sesuai jenis usaha bagi hasil yang kerja samakan.
Paragraf 2 Pola Perguliran Induk
Pasal 7
(1) Pola Perguliran Induk ternak pemerintah terdiri dari :
a. Pola perguliran induk untuk kerjasama pemanfaatan bibit ternak sapi potong; b. Pola perguliran induk untuk kerjasama pemanfaatan jenis ternak kambing/domba; c. Pola perguliran induk untuk kerjasama pemanfaatan jenis ternak Unggas meliputi
jenis/bangsa ternak itik dan jenis/bangsa ternak ayam buras dan ayam lainnya selain ayam ras pedagang.
(2) Pola perguliran induk ternak sapi potong sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat (1) butir (a) di atas dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut:
a. Petani penerima ternak pemerintah memperoleh pinjaman sebanyak 2 (dua) sampai 4 (empat) ekor sapi bibit/dara. Sapi tersebut dikawinkan hingga bunting dan beranak ke I. Perkawinan dilakukan dengan inseminasi buatan (IB) maupun kawin alam disesuaikan dengan kondisi ternak dan jangkauan IB. Setelah sapi beranak ke I dan kondisi memungkinkan, sapi dikawinkan lagi sampai bunting ke II. Pada usia kebuntingan ke II sekitar 5 s/d 6 bulan, sapi tersebut digulirkan kepada petani lain dan anak sapi ke I menjadi milik petani penerima;
b. Penentuan calon petani maupun calon lokasi penerima perguliran ternak bibit berdasarkan surat keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat;
c. Apabila ditemukan ternak dalam kondisi sakit, potong paksa, majir/tidak bisa beranak atas keterangan dari dokter hewan, maka akan dilakukan penjualan terhadap ternak tersebut dan dilakukan bagi hasil dimana peternak menerima 25% dan pemerintah 75% dari harga ternak yang merupakan Penerimaan Daerah (PAD) disetor secara bruto;
d. Perguliran ternak dilakukan 4 s/d 5 periode perguliran atau sampai dengan ternak tersebut dinyatakan tidak produktif lagi;
e. Ternak bibit yang dinyatakan tidak produktif diserahkan kembali kepada pemerintah melalui penyetoran PAD disetor secara bruto atau jika berdasarkan pertimbangan teknis memungkinkan, hasil penjualan ternak apkir tersebut digunakan untuk keperluan peremajaan aset ternak pemerintah sehingga kerjasama tersebut tetap berjalan;
f. Dalam hal ternak yang dipelihara mati atau hilang karena kesalahan atau kelalaian petani, maka penggaduh tersebut tetap memenuhi kewajiban sesuai dengan perjanjian;
g. Dalam hal ternak yang dipelihara oleh penggaduh mati atau hilang yang bukan karena kesalahan atau kelalaian penggaduh, maka penggaduh yang bersangkutan bebas dari tanggung jawab untuk penggantian;
h. Indikator Teknis Pola Perguliran induk ternak sapi potong adalah sebagai berikut : 1) Arah kegiatan pola perguliran induk ternak sapi potong adalah menciptakan
dinamika usaha perbibitan peternakan (internalisasi budi daya usaha peternakan sapi potong);
2) Sasaran kerjasama pemanfaatan adalah Introduksi ternak bibit sapi potong kepada masyarakat di luar lokasi sentra produksi peternakan;
3) Indikator keberhasilan pola perguliran induk sapi potong adalah :
a) Jumlah keluarga/petani ternak yang mendapatkan manfaat perguliran induk untuk setiap ternak pokok yang didistribusikan selama jangka usia produktif ternak pokok;
b) Meningkatnya populasi ternak sapi potong pada tahun-tahun berikutnya setelah penyebaran ternak pokok.
(3) Pola perguliran induk untuk kerjasama pemanfaatan jenis ternak kambing/domba sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat (1) butir (b) di atas dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut :
a. Petani penerima ternak bantuan memperoleh 4 (empat) ekor (1 jantan, 3 betina) bibit/dara. Dari setiap ekor kambing / domba / babi yang dikerjasamakan, penggaduh dalam jangka waktu 2 (dua) tahun harus menyerahkan keturunannya sejumlah yang diterima untuk digulirkan kepada penggaduh yang lain;
b. Penentuan calon petani maupun calon lokasi penerima perguliran ternak bibit berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat;
c. Apabila ditemukan ternak dalam kondisi sakit, potong paksa. majir/tidak bisa beranak atas keterangan dokter hewan, maka akan dilakukan penjualan terhadap ternak tersebut dan dilakukan bagi hasil dimana peternak menerima 25% dan pemerintah 75% dari harga ternak yang merupakan Penerimaan Daerah (PAD) disetor secara bruto;
d. Dalam hal ternak yang dipelihara mati atau hilang karena kesalahan atau kelalaian petani, maka penggaduh tersebut tetap memenuhi kewajiban sesuai dengan perjanjian;
e. Dalam hal ternak yang dipelihara oleh penggaduh mati atau hilang yang bukan karena kesalahan atau kelalaian penggaduh, maka penggaduh yang bersangkutan bebas dari tanggung jawab untuk penggantian.
(4) Pola perguliran induk untuk kerjasama pemanfaatan jenis ternak unggas sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat 1 butir (c) di atas dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut : a. Petani penerima ternak bantuan memperoleh 1 paket ternak bibit/dara. Dalam jangka
waktu paling lama 2 (dua) tahun penggaduh harus menyerahkan jumlah, umur dan jenis kelamin sama dengan paket yang diterima;
b. Pemberian sarana produksi peternakan lainnya yang termasuk dalam paket sebagaimana dimaksud butir (3) poin (a) di atas tidak di gulirkan dan dimaksud sebagai insentif bagi petani/penggaduh rangka pengembangan jenis/bangsa ternak yang dikerjasamakan di Kabupaten Kotawaringin Barat;
c. Pemerintah Daerah menyediakan sarana produksi ternak selain bibit ternak unggas yang akan di gulirkan untuk keperluan petani/penggaduh penerima perguliran ternak unggas tersebut;
d. Paket perguliran di mulai pada bulan ke 13 (tiga belas) melalui alternatif sebagai berikut :
1) Pengembalian dalam bentuk natura baik secara bertahap, maupun dilakukan sekaligus sesuai jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian guna digulirkan langsung kepada kelompok lainnya;
2) Pengembalian dalam bentuk natura yang dinilai dengan uang yang di kelola oleh kelompok yang bersangkutan sehingga memenuhi target nilai ternak yang ditetapkan dalam perjanjian guna digulirkan kepada kelompok lainnya.
e. Penentuan calon petani maupun calon lokasi penerima perguliran ternak bibit unggas berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat;
f. Dalam hal ternak yang dipelihara mati atau hilang atau sebab lain yang menyebabkan populasi ternak yang di kerja samakan ≤ 50% (kurang atau sama dengan 50%) akibat kesalahan/kelalaian atau kesalahan petani peternak, petani peternak tersebut tetap berkewajiban memenuhi target perguliran sesuai perjanjian;
g. Dalam hal ternak yang dipelihara mati atau hilang > 50% (lebih dari 50%) bukan akibat kesalahan/kelalaian atau bukan kesalahan petani, maka petani dibebaskan dari tanggung jawab untuk menggulirkan kembali sejumlah perjanjian awal. Jumlah ternak yang digulirkan selanjutnya dihitung dari ternak sisa.
BAB VI
TATA CARA PENILAIAN TERNAK PEMERINTAH
Pasal 8
(1) Penilaian ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dilakukan dalam rangka penyusunan Neraca Pemerintah Daerah, pemanfaatan dan pemindah tanganan ternak pemerintah;
(2) Penetapan nilai ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dalam rangka penyusunan Neraca Pemerintah Daerah dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);
(3) Terhadap ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang kondisinya telah rusak sama sekali dan tidak mempunyai nilai, tidak perlu dicantumkan dalam daftar nilai untuk membuat neraca (segera di proses penghapusannya dari buku inventaris).
BAB VII
TATA CARA PENGHAPUSAN DAN PEMINDAH TANGANAN TERNAK PEMERINTAH
Pasal 9
(1) Penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak sesuai ketentuan sampai dengan Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) dilakukan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Bupati Kotawaringin Barat;
(2) Penghapusan tersebut di atas, dengan menerbitkan Keputusan Bupati Kotawaringin Barat tentang Penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak ;
(3) Penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak berdasarkan pertimbangan/alasan-alasan yang disebabkan oleh mutasi ternak berupa kematian ternak, kehilangan ternak, potong paksa, ternak majir, dan sebab lainnya yang menyebabkan ternak secara teknis tidak layak secara bibit;
(4) Penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak karena sifatnya yang termasuk kelompok aset tetap lainnya dan bersifat khusus dilaksanakan dengan mengikuti ketentuan sebagai berikut :
a. Sesuai batas kewenangannya Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan mengajukan permohonan penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak kepada Bupati Kotawaringin Barat melalui Sekretaris Daerah disertai alasan, pertimbangan dan kelengkapan serta hasil kajian Tim Teknis Pembinaan Usaha peternakan;
b. Sekretaris Daerah melakukan penelitian dan pengkajian dan apabila memenuhi syarat, pengelola dapat mempertimbangkan untuk menyetujui usul dimaksud;
c. Bupati membentuk Panitia Penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang susunan personilnya terdiri dari unsur teknis terkait;
d. Panitia Penghapusan bertugas meneliti ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang rusak, dokumen kepemilikan, administrasi, penggunaan, pembiayaan, pemeliharaan/perbaikan maupun data lainnya yang dipandang perlu dan menuangkan hasil penelitian tersebut dituangkan dalam bentuk Berita Acara dengan melampirkan data kerusakan, laporan hilang dari kepolisian, surat keterangan sebab kematian dan lain-lain;
e. Sekretaris Daerah mengajukan permohonan persetujuan kepada Bupati mengenai rencana penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dimaksud dengan melampirkan Berita Acara hasil penelitian Panitia Penghapusan;
f. Setelah mendapat persetujuan Bupati, penghapusan ditetapkan dengan Surat Keputusan Sekretariat Daerah atas nama Bupati;
g. Ternak Pemerintah dan sarana produksi ternak yang akan dihapus dan masih mempunyai nilai ekonomis, karena sifatnya yang khusus dilaksanakan melalui cara penjualan ternak pemerintah secara langsung;
h. Hasil penjualan ternak yang menjadi bagian pemerintah disetor kepada kas daerah secara bruto. Selanjutnya apabila terdapat bagian petani dicairkan sesuai prosedur keuangan yang berlaku;
i. Ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang dihapus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan masih mempunyai nilai ekonomis dapat pula disumbangkan/dihibahkan kepada pihak lain atau dimusnahkan;
j. Hibah ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dilakukan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan selaku pengguna barang setelah mendapat persetujuan oleh Sekretaris Daerah;
k. Hibah ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dengan nilai sampai dengan Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) dilaksanakan oleh Bupati Kotawaringin Barat tanpa persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kotawaringin Barat;
l. Prosedur dan tatacara penghapusan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang dilaksanakan melalui Tim Teknis Pembinaan Usaha Peternakan diatur lebih lanjut melalui Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan.
BAB VIII
TUGAS DAN FUNGSI KEPALA DINAS DAN TIM TEKNIS PUT DALAM PENGELOLAAN TERNAK PEMERINTAH
Pasal 10
(1) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan selaku pengguna bertugas dan bertanggung jawab atas perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/ perbaikan, pengamanan dan pengawasan barang dalam lingkungan wewenangnya;
(2) Sesuai kewenangannya Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan selaku pengguna ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dalam pembinaan dan pelaksanaannya, berwenang dan bertanggung jawab :
a. mengajukan rencana kebutuhan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
b. mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
c. melakukan pencatatan dan inventarisasi ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang berada dalam penguasaannya;
d. menggunakan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
e. mengamankan dan memelihara ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang berada dalam penguasaannya;
f. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak yang ada dalam penguasaannya dan ;
g. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola sesuai sifatnya yang termasuk kelompok aset tetap lainnya.
(3) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan selaku pengguna ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dalam melaksanakan tanggung jawab dan wewenang pengelolaan ternak pemerintah membentuk Tim Teknis Pembinaan Usaha Peternakan (PUT) yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan;
(4) Tanggung jawab dan kewenangan berikut prosedur dan tata kerja Tim Teknis Pembinaan Usaha Peternakan (PUT) diatur lebih lanjut melalui Keputusan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan;
(5) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan selaku pengguna ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dalam melaksanakan tanggung jawab dan wewenang pengelolaan ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dapat dibantu oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna ternak pemerintah dan sarana produksi ternak untuk jenis dan bangsa ternak tertentu;
(6) Pengurus barang bertugas mengurus ternak pemerintah dan sarana produksi ternak dalam pemakaian pada pengguna/kuasa pada Dinas Pertanian dan Peternakan.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 11
Pada saat berlakunya Peraturan Bupati ini, maka Keputusan Bupati Kotawaringin Barat Nomor ORTAL.230/371/IV/2008 tentang Pola Pengembangan dan Mekanisme Pengelolaan Ternak Pemerintah di Kabupaten Kotawaringin Barat dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 12
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat.
Ditetapkan di Pangkalan Bun pada tanggal 27 April 2010
BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, Ttd.
Dr. H. UJANG ISKANDAR, S.T, M.Si
Diundangkan di Pangkalan Bun Pada tanggal 27 April 2010
SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT, Ttd.
Drs. A. RIDUANSYAH. H, M.Si NIP. 19551010 197901 1 004