• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jepang adalah sebuah negara maju yang berada di Asia Timur. Dalam Hal keyakinan, Jepang merupakan negara yang membebaskan warga negaranya dalam beragama, seperti yang dinyatakan di dalam UUD tahun 1947, pasal 20, yakni :

Tidak satupun organisasi agama dapat menerima hak istimewa dari negara, dan tidak ada satupun yang dapat mempunyai wewenang politik apapun. Tidak seorang pun dapat dipaksa mengambil bagian dalam kegiatan, perayaan, upacara, atau praktek agama. Negara dan instansinya harus membatasi diri tidak melakukan pendidikan agama atau kegiatan agama apapun (Japan Echo Inc., 1989: 113).

Terdapat 3 agama besar yang berkembang dengan pesat di Jepang yakni Shinto, Khongucu, dan Buddha. Salah satu agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Jepang adalah agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan secara formal ke kekaisaran Yamato, oleh kerajaan Baekje dari Korea. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tahun 538. Pada saat itu, ada delegasi yang datang dari Korea, yang disertai oleh pendeta-pendeta. Sebagai tanda persahabatan, delegasi Korea menyerahkan sebuah patung Buddha dan patung-patung pendeta agama Buddha, serta salinan kitab suci dan artikel-artikel tentang adat istiadat. (Anesaki, 1963)

Di sisi yang lain, agama Buddha pada mulanya tidak serta merta diterima oleh masyarakat Jepang. Ketika penyerahan hadiah dari Korea secara resmi diberikan, kubu kekaisaran terbagi menjadi dua pihak, yaitu pihak yang mendukung masuknya agama asing tersebut dan pihak yang tidak menyetujuinya. Meski diwarnai oleh berbagai konflik, pengenalan pertama ajaran Buddha melalui penyerahan patung yang diikuti oleh gelombang masuknya misionaris, pengrajin, dan imigran-imigran Korea ke Jepang memperkuat keberadaan masuknya agama baru tersebut. Keberhasilan kaum Buddha diperkuat dengan pencapaian pangeran Shotoku, di bawah pemerintahan bibinya, permaisuri Suiko pada tahun 593.

(2)

2 Pangeran Shotoku memulai karirnya sebagai seorang bupati dan didukung oleh berbagai kalangan.

Keberhasillan Shotoku Taishi tidak lepas dari pendalaman dan pengetahuannya tentang dasar ajaran Buddha, yang mendorongnya untuk membangun sebuah bangsa yang didasarkan kerohanian dan pendidikan moral. Kontribusi pertama yang dilakukan oleh pangeran Shotoku adalah pernyataan kepada publik tentang Buddha yang dijadikan sebagai agama nasional, dan pembangunan institusi Buddha yang agung pada tahun 607 yang dikenal dengan

Tenno-ji. Institusi yang dinamakan Tenno-ji (kuil kekaisaran) ini merupakan

gabungan organisasi pendidikan, keagamaan serta organisasi-organisasi amal. Dalam tahap selanjutnya, perkembangan persatuan bangsa dan organisasi negara membuat dimungkinkannya pendirian ibukota yang permanen memungkinkan agama Buddha berkembang dengan baik. Pembangunan ibukota berlangsung selama bertahun-tahun dan akhirnya selesai pada tahun 710, di sebuah lembah yang dikelilingi 3 sisi bukit-bukit, menghadap ke arah selatan, dan kota tersebut dinamai Nara, yang dapat diartikan sebagai “tempat tinggal yang damai”, dan kuil-kuil Buddha yang megah mulai dibangun.

Pada zaman Nara, penguasa yang mempunyai peran penting dalam perkembangan agama Buddha adalah Kaisar Shomu, yang berkuasa pada tahun 724 sampai tahun 749. Prinsip-prinsip kepemerintahan yang dia terapkan merupakan inspirasi dari ajaran Buddha, oleh karena itu dia mendapatkan banyak dukungan dari pemuka agama yang mempunyai kekuasaan di Institusi-institusi keagamaan. Kuil-kuil Buddha, selain dimanfaatkan untuk kepentingan upacara keagamaan, juga membantu mengembangkan sumber daya alam negara, dan membangun komunikasi dengan negara-negara seperti Korea dan Cina. Keadaan ini mendorong stabilitas kekayaan yayasan-yayasan keagamaan. Dalam hal ini, kekayaan tersebut dapat dengan bebas digunakan untuk kepentingan sosial dan pendidikan, namun pada akhir abad ke-8, sistem ini terbukti melahirkan kecenderungan untuk melakukan aksi korupsi di kalangan pendeta.

Pada tahun 794, memasuki zaman Heian, ibukota dipindahkan dari Nara menuju Miyako (Kyoto). Pemindahan ibukota ini bertujuan untuk membebaskan

(3)

3 sistem kepemerintahan dari ikatan institusi-institusi keagamaan. Pada zaman ini, institusi-institusi agama Buddha mengambil kesempatan dengan membentuk sistem hierarki yang memonopoli ajaran-ajaran yang dianggap rumit dan misterius. Sampai di penghujung abad ke-8, agama Buddha tidak begitu berpengaruh dalam organisasi-organisasi politik akibat lahirnya institusi-institusi birokrasi yang terorganisir. Walaupun begitu, kondisi ini tidak membuat perkembangan agama Buddha di Jepang berhenti.

Pada zaman Heian mulai lahir cabang-cabang ajaran Buddha yang dibawa oleh pendeta-pendeta yang telah mendalami ajaran-ajaran Buddha dari Cina, seperti Tendai Buddhism dan Shingon Buddhism. Pada abad ke-9 sampai akhir abad ke-10, klan Fujiwara, penguasa oligarkis yang mencapai kejayaannya di pemerintahan, dan telah mengikat tali kekeluargaan dengan keluarga kekaisaran mulai memanfaatkan ajaran agama Buddha sebagai alat untuk memperluas kekuasaannya, sampai pada akhirnya pada abad ke-11 sering terjadi pembakaran kuil-kuil dari masing-masing institusi-institusi cabang agama Buddha. Pada abad ke-12, pecahnya perang saudara di ibukota mengakhiri periode kekuasaan klan Fujiwara. Di pertengahan abad ke-12, klan Taira, yang merupakan keturunan keluarga kekaisaran, masih menduduki ibukota setelah perang saudara berakhir, namun tidak butuh waktu yang lama sebelum mereka dikalahkan oleh sebuah klan Militer, yang bernama Minamoto pada tahun 1185. Kemenangan klan Minamoto menandakan dimulainya sistem pemerintahan kediktatoran berbasis kemiliteran, dan dimulainya zaman Kamakura. (Anesaki, 1963)

Pemerintahan kemiliteran yang dipimpin oleh klan Minamoto merupakan kepemimpinan yang jauh berbeda dengan pemerintahan pada zaman Heian, dimana setiap daerah dipimpin oleh masing-masing daimyo yang berkuasa. Pada zaman ini ajaran Buddha tidak lagi menonjolkan ritual-ritual keagamaan yang mewah dan megah, melainkan berfokus pada pelatihan-pelatihan yang mengutamakan kesalehan dan kesederhanaan. Terdapat 3 aliran Buddha yang lahir pada zaman ini dan mencerminkan hal-hal di atas ; Amida Buddha, Zen, dan Nichiren. Pada zaman Kamakura juga merupakan periode mulai masuknya agama

(4)

4 Kristen, tepatnya pada tahun 1549, di mana seorang misionaris Yesuit bernama Francis Xavier tiba di daerah Satsuma di Kyushu dan mulai menyebarkan ajarannya dengan cara membangun hubungan perdagangan dengan masyarakat Jepang, dan salah satu penguasa lokal yang paling berpengaruh terhadap pengenalan agama Kristen di Jepang adalah Nobunaga Oda. Walaupun begitu, setelah Nobunaga wafat pada tahun 1582, dan kekuasaan berpindah tangan ke Hideyoshi Toyotomi, agama Kristen mulai dianggap memiliki ajaran yang jauh berbeda dengan agama-agama yang eksis di Jepang pada masa itu, dan dianggap sebagai ajaran yang intoleran. Akibatnya, masyarakat dan pendeta-pendeta Kristen berada di situasi yang berbahaya, dimana Hideyoshi mengeluarkan perintah pengeksekusian terhadap misionaris-misionaris agama Kristen. Kondisi ini berlanjut sampai ke masa pemerintahan Tokugawa, dimana Jepang menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing, termasuk diantaranya pelarangan terhadap agama Kristen.

Di bawah kepemimpinan Tokugawa, seni dan literatur mulai berkembang dan hidup kembali, konflik-konflik keagamaan mulai meredup, masyarakat dan pemuka agama mulai mementingkan kedamaian di kehidupan daripada kekayaan dan kekuatan politik di institusi-institusi keagamaan. Pemerintah zaman Edo mengangkat Buddha sebagai agama nasional, dan menjalankan kebijaksanaan perlindungan terhadap kuil-kuil Buddha, yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk kepentingan penyebaran ajaran agama tersebut, melainkan sebagai alat untuk melawan pengaruh Kristen dan sebagai penghormatan terhadap warisan kuno.

Memasuki era Meiji, Jepang menghadapi tantangan ganda, yaitu penyatuan nasional dibawah kepemimpinan rezim baru, dan penyesuaian diri terhadap majunya peradaban dunia. Salah satu hal yang dilakukan Jepang adalah Restorasi (Fukko) persatuan nasional di luar divisi feodal dan pengembalian pemerintahan kekaisaran, di mana gerakan ini merupakan hal yang tradisional dan nasionalis. Langkah pertama yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal keagamaan adalah mengangkat Shinto sebagai agama nasional.

(5)

5 Pengangkatan Shinto sebagai agama nasional membuat pemerintah membangun kembali Jingi-kan (Departemen Ketuhanan), sistem birokrasi Shinto yang pernah dibentuk pada abad ke-8. Walaupun departemen ini penting dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan, institusi ini tidak begitu berpengaruh dalam politik dan keagamaan, tetapi bagi pemimpin era Meiji, pembangunan kembali ini merupakan hal yang penting. Pada saat yang bersamaan, hal ini menimbulkan penekanan hebat terhadap Buddha pada zaman Meiji, karena merupakan agama yang berkembang pesat di pemerintahan keshogunan, dan dianggap sebagai penghalang untuk mencapai negara yang modern.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di atas, penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Di Jepang terdapat 3 kepercayaan yang paling banyak dianut oleh masyarakat jepang, yakni Shinto, Buddha, dan Khongucu

2. Agama Buddha berkembang pesat pada era pemerintahan Shotoku Taishi pada tahun 593

3. Masuknya agama Buddha ke Jepang diwarnai konflik di kekaisaran 4. Selain agama Buddha, agama Kristen juga masuk ke Jepang pada

zaman Kamakura, dan didukung perkembangannya oleh Nobunaga Oda

5. Pada saat Toyotomi Hideyoshi berkuasa, terjadi pengusiran dan penindasan terhadap misionaris-misionaris masyarakat Kristen

6. Pada masa pemerintahan Tokugawa, konflik agama mereda, dan agama Buddha diangkat sebagai agama nasional

7. Pada zaman Meiji, agama Buddha kehilangan kedudukannya sebagai agama negara dan Shinto yang merupakan pandangan hidup orang Jepang mulai berkembang dan diangkat sebagai agama nasional. 8. Perkembangan agama Buddha di Jepang pada zaman Meiji mengalami

(6)

6

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, pembatasan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sejarah dan perkembangan agama Buddha sejak zaman Yamato hingga memasuki zaman Meiji

2. Perkembangan agama Buddha pada zaman Meiji

1.4 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah dan perkembangan agama Buddha di Jepang dari zaman Yamato hingga zaman Edo ?

2. Bagaimana perkembangan agama Buddha pada zaman Meiji ?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis :

1. Bagaimana sejarah perkembangan agama Buddha di Jepang dari zaman Yamato hingga akhir zaman Edo

2. Bagaimana perkembangan agama Buddha di Jepang pada zaman Meiji

1.6 Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang perkembangan agama Buddha di Jepang, khususnya pada zaman Meiji, dan untuk mendalami perubahan-perubahan yang terjadi terhadap agama Buddha dari zaman Edo ke zaman Meiji.

(7)

7

2. Bagi Pembaca

Penelitian ini juga diharapkan sebagai bahan sosialisasi agama Buddha kepada pembaca, ataupun masyarakat luas.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang ingin mengangkat tema tentang agama Buddha di Jepang.

1.7 Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi menurut Spradley dalam Sugiyono, hal ini dianggap sebagai situasi sosial yang terdiri dari tempat, pelaku, dan aktifitas (Sugiyono, 2006). Tempat yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah Jepang, kemudian pelakunya adalah orang Jepang, dan aktifitasnya adalah orang-orang yang menciptakan sebuah kondisi sosial.

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen penelitian adalah si peneliti itu sendiri, dalam hal ini maka yang menjadi instrumen penelitian adalah penulis sendiri.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumen. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen yang berupa tulisan. Pencarian dokumen dilakukan di Perpustakan Universitas Darma Persada, Perpustakaan Universitas Indonesia, dan sumber online. Data yang diperoleh dari berbagai sumber menggunakan teknik yang beragam, kemudian dianalisis. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data-data tersebut secara sistematis. Analisis historis dan kultural.

1.8 Landasan Teori 1. Agama

Nasution menyatakan bahwa agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang teguh dan dipatuhi oleh manusia. Ikatan yang dimaksud berasal dari

(8)

8 salah satu kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia, kekuatan tersebut adalah kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia (Nasution, 1986). Berbeda dengan Nasution, menurut Tylor agama adalah menaruh kepercayaan terhadap makhluk spiritual (Tylor, 1871). Sedikit berbeda dengan Nasution dan Tylor, menurut James agama adalah perasaan, tindakan, dan pengalaman seorang individu di dalam kesendirian mereka, selama mereka memahami diri mereka sendiri ketika berhubungan dengan apapun yang mereka anggap sebagai hal yang bersifat ketuhanan (ilahi) (James, 1902).

2. Buddha

Sutrisno menyatakan bahwa Buddhisme sebenarnya merupakan “jalan kebijaksanaan”, yang diajarkan dan dipraktikkan dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup dengan jalan menggeser-ubah sumber-sumber penderitaan dalam perincian kecil-kecilnya. Dalam esensinya, sebagaimana diajarkan oleh sang Buddha, Buddhisme merupakan ajaran yang relatif mudah diterima. Namun orang yang mau mengenalnya harus sadar bahwa memahami kerangka Jalan Kebijaksanaan Buddha itu cukup berbeda dengan tindak menapaki, mengikuti jalan tersebut. Mengikuti dengan tekun jalan kebijaksanaan ini tidak mudah. Selalu ada jurang perbedaan antara ‘menghayati jalan’ ini dengan ‘berbicara, membahas soal mengenai menghayati jalan’. Menghayati jalan adalah pelaksanaan yang tidak bisa diganti dengan apa pun. Ini tak sama dengan kepuasan intelektual karena harus memahami Jalan Kebijaksanaan Buddha (Sutrisno, 1993). Menurut Yutang, ajaran Buddha sering dipertanyakan apakah ajaran tersebut adalah agama atau filsafat, karena ajarannya dapat dilihat sebagai suatu sistem yang bersifat keagamaan bagi manusia untuk mengenal diri sejati dengan tujuan yang jelas, yaitu nirwana beserta jalan-jalannya dan latihan-latihan. Di samping sebuah kenyataan, bahwa ia lebih merupakan suatu ilmu pengetahuan, daripada sekedar rangkaian kepercayaan, karena seluruh ajaran Buddha lebih bersifat rasional, sistematis dan metodis. (Yutang, 2001).

Di sisi lain, Kung mengemukakan bahwa Buddisme adalah ajaran yang paling mulia dan sempurna, yang ditujukan oleh Siddharta Gautama untuk alam

(9)

9 semesta. Ajaran ini meliputi berbagai fenomena dan prinsip-prinsip yang lebih luas dari apa yang diajarkan di pendidikan modern. Berkenaan dengan waktu, Buddhisme mencakup masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Berkenaan dengan ruang, Buddhisme mencakup semua hal, mulai dari hal-hal kecil yang ada di kehidupan sehari-hari, sampai hal-hal di alam semesta yang tak terbatas. Buddhisme adalah sebuah pendidikan tentang kebijaksanaan, arti kehidupan serta alam semesta, dan Buddhisme bukanlah sebuah agama (Kung, 2000).

3. Agama Buddha

Agama Buddha merupakan agama yang mengacu ke ajaran Siddharta Gautama, atau yang lebih dikenal sebagai “Sang Buddha”. Dari beberapa landasan teori diatas, beberapa pendapat ahli menyatakan bahwa Buddha lebih cocok apabila dianggap sebagai sebuah “ajaran” atau “pedoman hidup”, daripada sebuah agama, dan sebuah agama pada umumnya memuja sebuah makhluk spiritual ataupun superior, sementara sang Buddha sejatinya adalah seorang manusia biasa yang mendapatkan pencerahan, dan menyebarkan ilmunya ke seluruh penjuru dunia.

1.9 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan didalam penelitian ini meliputi empat bab. Adapun pembagiannya sebagai berikut :

Bab I : menjelaskan latar belakang perkembangan agama Buddha di Jepang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, landasan teori dan sistematika penulisan Bab II : mengkaji sejarah perkembangan agama Buddha di Jepang dari awal masuknya sampai pada zaman Edo

Bab III : menganalisis bagaimana perkembangan agama Buddha di Jepang pada zaman Meiji.

(10)

10

Referensi

Dokumen terkait

data pra penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 13 dan 27 Maret 2011, secara realitas pelaksanaan Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Buddha (KKG PAB) di Kabupaten

Dalam kedudukannya sebagai instrumen hukum publik yang mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana maka Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang

Perlu diketahui Pondok Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan agama yang sudah turun temurun dari zaman Wali Songo, bahkan pada masa nya pun tidak memerlukan

Tidak hanya dalam media massa berupa surat kabar, mengkritik pemerintah menggunakan satire kini mulai berkembang hingga media online, salah satunya yaitu Stand up

Perkembangan zaman yang semakin maju menuntut pembangunan infrastruktur untuk semakin berkembang, salah satunya pada bidang transportasi. Salah satu bangunan infrastruktur di

Bukan hanya dalam kepercayaan Shinto saja, dalam agama Buddha yang juga merupakan kepercayaan masyarakat Jepang selain Shinto dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam

Dengan demikian, masalah penelitian yang diangkat dalam skripsi ini adalah gerakan 3R dalam pengelolaan sampah di Jepang sebagai praktik sosial menurut teori strukturasi

Bila dilihat dari letak site dari KRKB Gembiraloka dalam perkembangan Kota Jogjakarta yang terus berkembang hingga saat ini dengan mulai lengkapnya beberapa jenis fasilitas