• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

33

Universitas Kristen Petra

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS 4. 1. Hasil Penelitian

4. 1. 1. Gambaran Objek Penelitian

Penelitian ini menguji data dengan menggunakan program IBM SPSS versi 23.

Setelah menerapkan kriteria tertentu pada penyaringan sampel, diperoleh sampel akhir dengan total 325 pengamatan dari total 65 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2011 hingga 2015, dimana 12 perusahaan dari subsektor otomotif dan komponen, 12 perusahaan dari subsektor makanan dan minuman, 16 perusahaan dari subsektor produk logam dan sejenisnya, 10 perusahaan dari subsektor plastik dan kemasan, serta 15 perusahaan dari subsektor tekstil dan garmen. Proses penyaringan sampel dapat dilihat pada tabel 4.1. sebagai berikut:

Tabel 4. 1. Rangkuman Hasil Penyaringan Sampel

Kriteria Sampel Jumlah

Pengamatan 1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia

153

2. Perusahaan manufaktur yang tergabung dalam subsektor yang memiliki kurang dari 10 perusahaan dalam satu subsektor

(81)

3. Perusahaan manufaktur tidak menerbitkan saham sebelum tahun 2010

(5)

4. Perusahaan manufaktur yang memiliki tahun buku tidak berakhir pada tanggal 31 Desember selama periode pengamatan dari tahun 2011 hingga tahun 2015

(2)

Sampel akhir 65

Total sampel akhir (5 tahun observasi) 325

(2)

34

Universitas Kristen Petra

4. 1. 2. Analisa Statistik Deskriptif

Analisa deskriptif digunakan dalam penelitian untuk menggambarkan secara umum mengenai data penelitian yang ada, seperti nilai rata-rata, terkecil, terbesar, dan simpangan baku. Hasil analisa ini dapat dilihat pada Tabel 4. 2. di bawah ini.

Tabel 4. 2. Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

RM 325 0,004 1,29 0,8106 0,27451

ATO 325 0,02 0,81 0,2057 0,18101

PM 325 -1,03 0,53 -0,3591 0,13010

LEV 325 0,04 4,98 0,5938 0,51695

SIZE 325 17,51 26,23 21,1675 1,53775

Valid N (listwise) 325

Sumber: Lampiran 3

Hasil pada Tabel 4. 2. menunjukkan nilai rata-rata manajemen laba riil (RM) yang dilakukan perusahaan sebesar 0,8106. Nilai minimum sebesar 0,004, nilai maksimum sebesar 1,29, dan standar deviasi sebesar 0,27451 mengindikasikan bahwa manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di Indonesia sangat beragam. Tingkat manajemen laba tertinggi dimiliki oleh IMAS dari subsektor otomotif dan komponen, sedangkan tingkat manajemen laba terendah dimiliki oleh DLTA dari subsektor makanan dan minuman.

Selisih antara nilai rata-rata ATO sebesar 0,2057 dengan nilai maksimum

sebesar 0,81 menunjukkan bahwa terdapat perusahaan yang menerapkan strategi

cost leadership sebagai strategi bisnisnya. Nilai ATO tertinggi dimiliki oleh SIAP

dari subsektor plastik dan kemasan, sedangkan nilai ATO terendah dimiliki oleh

MYTX dari subsektor tekstil dan garmen. Hasil penelitian ini juga menemukan

bahwa PM memiliki nilai rata-rata sebesar -0,3591 dan nilai maksimum sebesar

0,53. Selisih yang cukup besar menunjukkan bahwa terdapat pula perusahaan yang

menggunakan strategi differentiation. SIMA dari subsektor plastik dan kemasan

memiliki nilai PM tertinggi, sedangkan DLTA dari subsektor makanan dan

minuman memiliki nilai PM terendah.

(3)

35

Universitas Kristen Petra

4. 1. 3. Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, penelitian ini akan melakukan uji asumsi klasik untuk membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan memenuhi persyaratan statistik. Uji ini meliputi uji normalitas, autokorelasi, heterokedastisitas, dan multikolinearitas.

1. Uji Normalitas

Uji ini dilakukan untuk menguji apakah residual memiliki distribusi normal.

Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:

1. Histogram

Data memiliki distribusi yang normal apabila memiliki bentuk diagram simetris. Pada gambar 4. 1. (kiri) dapat dilihat bahwa bentuk histogram menunjukkan bentuk yang simetris, tidak melenceng ke kanan ataupun ke kiri, sehingga model regresi dianggap berdistribusi normal

2. P-P Plot

Data terdistribusi normal apabila data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Pada gambar 4. 1. (kanan) dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar dan berhimpit pada garis diagonal, sehingga model regresi dapat dikatakan memiliki distribusi yang normal

(Sumber Data: Hasil Output SPSS)

Gambar 4. 1. Hasil Uji Normalitas- Histogram dan P-P Plot

(4)

36

Universitas Kristen Petra

2. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah suatu model regresi memiliki korelasi error antar periode. Model regresi yang baik adalah model yang bebas dari korelasi antar periode. Penelitian ini menggunakan uji Durbin- Watson. Model regresi dikatakan bebas dari autokorelasi apabila nilai DW berada di antara -2 dan +2. Hasil pengujian pada Tabel 4. 3. menunjukkan nilai DW sebesar 1,365 yang artinya model dalam penelitian ini bebas dari autokorelasi.

Tabel 4. 3. Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson

1,365 Sumber: Lampiran 3

3. Uji Heterokedastisitas

Uji ini dilakukan untuk melihat apakah antara residual dengan variabel bebas tidak terdapat hubungan. Model regresi yang baik adalah model yang tidak memiliki heterokedastisitas. Pengujian dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Rank Spearman, yaitu apabila nilai signifikansi hubungan antara unstandardized residual dengan variabel independen lebih dari 5% maka dapat dikatakan tidak terdapat heterokedastisitas dalam model regresi. Hasil uji pada Tabel 4. 4. menunjukkan bahwa tingkat signifikansi (p-value) antar residual dan seluruh variabel independen lebih dari 5%, sehingga model regresi dinyatakan lulus uji heterokedastisitas.

Tabel 4. 4. Hasil Uji Heterokedastisitas No Variabel

Penelitian

Korelasi Rank Spearman

P-value Keterangan

1 ATO -0,051 0,358 Tidak terjadi heterokedastisitas

2 PM -0,064 0,253 Tidak terjadi heterokedastisitas

3 ATO*PM 0,055 0,327 Tidak terjadi heterokedastisitas

4 LEV -0,028 0,618 Tidak terjadi heterokedastisitas

5 SIZE -0,002 0,976 Tidak terjadi heterokedastisitas

Sumber: Lampiran 3

(5)

37

Universitas Kristen Petra

4. Uji Multikolinearitas

Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah pada model regresi terdapat korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik adalah model yang tidak memiliki multikolinearitas. Uji ini dapat dilakukan dengan melihat nilai toleransi dan VIF. Suatu model regresi dikatakan tidak terdapat multikolinearitas apabila nilai toleransi lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF lebih kecil dari 10. Pada Tabel 4. 5. dapat dilihat bahwa nilai toleransi semua variabel independen lebih dari 0,1 dan nilai VIF lebih kecil dari 10, sehingga dapat dikatakan model dalam penelitian ini tidak terdapat multikolinearitas.

Tabel 4. 5. Hasil Uji Multikolinearitas No Variabel Penelitian Tolerance VIF Keterangan

1 ATO 0,274 3,644 Tidak ada multikolineatitas

2 PM 0,297 3,367 Tidak ada multikolineatitas

3 ATO*PM 0,228 4,386 Tidak ada multikolineatitas

4 LEV 0,886 1,129 Tidak ada multikolineatitas

5 SIZE 0,834 1,200 Tidak ada multikolineatitas Sumber: Lampiran 3

4. 1. 4. Model Regresi Linier Berganda

Adapun hasil pengolahan dari analisis regresi linier berganda dengan variabel dependen RM (Y) dan variabel independen ATO (X

1

), PM (X

2

), ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM), LEV (debt to asset ratio), dan SIZE (ukuran perusahaan) dapat dilihat pada Tabel 4. 6. di bawah ini.

Tabel 4. 6. Nilai Koefisien

Variabel Bebas Koefisien Regresi

Konstanta 0,856

ATO (X

1

) -0,297

PM (X

2

) 1,183

ATO*PM -1,142

LEV -0,134

SIZE 0,021

Sumber: Lampiran 3

(6)

38

Universitas Kristen Petra

Berdasarkan Tabel 4. 6, dapat disimpulkan persamaan regresi yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = 0,856 - 0,297X

1

+ 1,183X

2

- 1,142ATO*PM - 0,134LEV + 0,021SIZE + ε Dari persamaan regresi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai berikut:

1. b

0

= Konstanta = 0,856 menunjukkan besarnya nilai RM (Y). Jika variabel independen yaitu variabel ATO (X

1

), PM (X

2

), ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM), LEV (debt to asset ratio), dan SIZE (ukuran perusahaan) sama dengan nol atau konstan, maka Y sebesar 0,856.

2. b

1

= Koefisien regresi untuk X

1

= -0,297 yang berarti setiap adanya peningkatan pada variabel ATO (X

1

) sebesar satu satuan, maka mengakibatkan variabel RM (Y) turun sebesar 0,297 satuan dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

3. b

2

= Koefisien regresi untuk X

2

= 1,183 yang berarti setiap adanya peningkatan pada variabel PM (X

2

) sebesar satu satuan, maka mengakibatkan variabel RM (Y) naik sebesar 1,183 satuan dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

4. b

3

= Koefisien regresi untuk ATO*PM = -1,142 yang berarti setiap adanya peningkatan pada variabel ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM) sebesar satu satuan, maka mengakibatkan variabel RM (Y) turun sebesar 1,142 satuan dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

5. b

4

= Koefisien regresi untuk LEV = -0,134 yang berarti setiap adanya peningkatan pada variabel LEV (debt to asset ratio) sebesar satu satuan, maka mengakibatkan variabel RM (Y) turun sebesar 0,134 satuan dengan asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

6. b

5

= Koefisien regresi untuk SIZE = 0,021 yang berarti setiap adanya

peningkatan pada variabel SIZE (ukuran perusahaan) sebesar satu satuan,

maka mengakibatkan variabel RM (Y) naik sebesar 0,021 satuan dengan

asumsi variabel bebas lainnya adalah konstan.

(7)

39

Universitas Kristen Petra

4. 2. Pengujian Hipotesis

4. 2. 1. Nilai R

2

(Koefisien Determinasi)

Nilai koefisien determinasi (R squared) menjelaskan sejauh mana variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Hasil yang diperoleh pada Tabel 4. 7. di bawah ini menunjukkan bahwa nilai R

2

yang dihasilkan dalam penelitian ini sebesar 0,147. Hal ini berarti bahwa variabel independen yaitu ATO (X

1

), PM (X

2

), ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM), LEV (debt to asset ratio), dan SIZE (ukuran perusahaan) dapat menjelaskan RM (Y) sebagai variabel dependen sebesar 14,7% dan sisanya sebesar 85,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas pada penelitian ini.

Tabel 4. 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summary

b

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 0,384

a

0,147 0,134 0,25549

a. Predictors: (Constant), SIZE, LEV, ATOPM, PM, ATO b. Dependent Variable: RM

Sumber: Lampiran 3 4. 2. 2. Uji F

Uji F dilakukan untuk menguji apakah seluruh variabel independen dapat mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama, serta memastikan validitas dari suatu model regresi. Hasil pada Tabel 4. 8. menunjukkan bahwa nilai F

hitung

sebesar 11,009 dengan tingkat signifikan lebih kecil dari 5% yaitu sebesar 0,000.

Hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel independent yaitu ATO (X

1

), PM

(X

2

), ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM), LEV (debt to asset ratio), dan

SIZE (ukuran perusahaan) dapat bersama-sama mempengaruhi variabel dependen

yaitu RM (Y) secara signifikan. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa

model regresi yang digunakan adalah absah.

(8)

40

Universitas Kristen Petra

Tabel 4. 8. Hasil Uji F ANOVA

a

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 3,593 5 0,719 11,009 0,000

b

Residual 20,822 319 0,065

Total 24,415 324

a. Dependent Variable: RM

b. Predictors: (Constant), SIZE, LEV, ATOPM, PM, ATO

Sumber: Lampiran 3 4. 2. 3. Uji T

Uji t pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh suatu variabel independen terhadap variabel dependen secara individu pada taraf α = 5%

dimana variabel independen yang lain diasumsikan konstan. Variabel independen dikatakan berpengaruh signifikan secara individu apabila tingkat signifikansi dari hasil uji t kurang dari 0,05 (lebih kecil dari α). Hasil uji t penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4. 9. di bawah ini.

Tabel 4. 9. Hasil Uji T Variabel bebas t-hitung Tingkat

signifikan Kesimpulan

Konstanta 3,645 0,000 Berpengaruh

ATO (X

1

) -1,987 0,048 Berpengaruh

PM (X

2

) 5,908 0,000 Berpengaruh

ATO*PM -2,959 0,003 Berpengaruh

LEV -4,594 0,000 Berpengaruh

SIZE 2,069 0,039 Berpengaruh

Sumber: Lampiran 3

Hasil dari Tabel 4. 9. di atas menunjukkan bahwa variabel ATO (X

1

), PM (X

2

),

ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM), LEV (debt to asset ratio), dan SIZE

(ukuran perusahaan) dapat berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu RM (Y)

(9)

41

Universitas Kristen Petra

secara parsial, yang dapat dilihat dari tingkat signifikansi variabel-variabel tersebut yang kurang dari 5%.

Variabel ATO (X

1

) memiliki nilai t hitung sebesar -1,987 dan tingkat signifikansinya sebesar 0,048 (lebih kecil dari 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi cost leadership berpengaruh terhadap manajemen laba perusahaan secara signifikan (H1

1

diterima dan H0

1

ditolak). Pengaruh strategi cost leadership terhadap manajemen laba merupakan signifikan negatif, dimana peningkatan pada penerapan strategi cost leadership akan mengurangi tingkat manajemen laba yang dilakukan perusahaan.

Variabel PM (X

2

) memiliki nilai t hitung sebesar 5,908 dan tingkat signifikansinya sebesar 0,000 (memiliki pengaruh yang kuat di tingkat 1%), sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi differentiation berpengaruh terhadap manajemen laba perusahaan secara signifikan (H1

2

diterima dan H0

2

ditolak).

Pengaruh strategi differentiation terhadap manajemen laba adalah signifikan positif, dimana penerapan strategi differentiation yang semakin meningkat juga akan menaikkan tingkat manajemen laba yang dilakukan perusahaan.

Variabel ATO*PM memiliki nilai t hitung sebesar -2,959 dan tingkat signifikansinya sebesar 0,003 (lebih kecil dari 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa interaksi antara strategi cost leadership dan strategi differentiation berpengaruh terhadap manajemen laba perusahaan secara signifikan. Pengaruh interaksi antara strategi cost leadership dan strategi differentiation terhadap manajemen laba adalah signifikan negatif, dimana penerapan kombinasi kedua strategi tersebut yang semakin meningkat dapat mengurangi tingkat manajemen laba suatu perusahaan.

Variabel LEV (debt to asset ratio) memiliki nilai t hitung sebesar -4,594 dan tingkat signifikansinya sebesar 0,000 (memiliki pengaruh yang kuat pada tingkat 1%), sehingga dapat disimpulkan bahwa leverage berpengaruh terhadap manajemen laba perusahaan secara signifikan. Pengaruh leverage terhadap manajemen laba adalah signifikan negatif, dimana leverage suatu perusahaan yang semakin tinggi akan menurunkan praktik manajemen laba suatu perusahaan.

Variabel SIZE memiliki nilai t hitung sebesar 2,069 dan tingkat signifikansinya

sebesar 0,039 (lebih kecil dari 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran

(10)

42

Universitas Kristen Petra

perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba perusahaan secara signifikan.

Pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba adalah signifikan positif, dimana ukuran suatu perusahaan yang semakin besar akan menaikkan aktivitas manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

4. 3. Temuan dan Interpretasi

Berikut ini akan dilakukan pembahasan lebih lanjut mengenai hasil-hasil pengujian dari sub-bab sebelumnya.

4. 3. 1. Pengaruh Strategi Cost Leadership terhadap Earnings Management Hasil uji pengaruh ATO (X

1

) terhadap manajemen laba (Y) dengan analisa regresi linier berganda menunjukkan hasil koefisien regresi negatif yaitu dengan tingkat signifikansi dari pengujian secara parsial sebesar 0,048 < 0,05. Atas hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama dari penelitian ini (H1

1

) diterima dan H0

1

ditolak. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa perusahaan yang lebih berfokus pada efisiensi biaya akan cenderung lebih mengurangi manipulasi terhadap laporan keuangan perusahaan (Bentley-Goode et al., 2012).

Berdasarkan Teori Kontingensi, perusahaan akan memilih strategi sesuai dengan keinginannya dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian yang mungkin terjadi (Higgins et al., 2011). Bagi perusahaan yang menerapkan strategi cost leadership, perusahaan dapat melakukan aktivitas produksinya secara efisien sehingga dapat meminimalisir resiko gagalnya pembuatan suatu produk dan menghemat penggunaan sumber daya perusahaan. Hal ini menyebabkan praktik manajemen laba perusahaan tersebut akan menurun dimana perusahaan tidak tertekan dengan kondisi keuangan. Semakin suatu perusahaan menggunakan strategi cost leadership, maka aktivitas bisnis perusahaan semakin efisien, sehingga perusahaan akan menurunkan praktik manajemen laba (Miles et al., 1978).

Perusahaan cost leadership juga menerapkan stuktur sentralisasi yang ketat

pada aktivitas bisnisnya yang menyebabkan manajer kesulitan dalam melakukan

praktik manajemen laba untuk memaksimalkan kompensasi bonus yang akan

diterimanya (Miles et al., 1978). Sehingga, apabila perusahaan semakin menganut

strategi ini, manajer akan semakin mengurangi tingkat manajemen laba dalam

memaksimalkan bonusnya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa strategi cost

(11)

43

Universitas Kristen Petra

leadership yang diterapkan sebagai gaya operasional bisnis perusahaan

berpengaruh terhadap praktik manajemen laba yang perusahaan.

4. 3. 2. Pengaruh Strategi Differentiation terhadap Earnings Management Hasil uji pengaruh PM (X

2

) terhadap manajemen laba (Y) dengan analisa regresi linier berganda menunjukkan hasil koefisien regresi positif yaitu dengan tingkat signifikansi dari pengujian secara parsial sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan strategi differentiation memiliki pengaruh yang sangat kuat yaitu di tingkat 1% terhadap manajemen laba, yang berarti hipotesis kedua dari penelitian ini (H1

2

) diterima dan H0

2

ditolak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa perusahaan yang berfokus pada diferensiasi produk cenderung memanipulasi laba perusahaan (Bentley-Goode et al., 2012).

Berdasarkan Teori Kontingensi, perusahaan akan memilih strategi sesuai dengan keinginannya dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian yang mungkin terjadi (Higgins et al., 2011). Bagi perusahaan yang menggunakan strategi differentiation, aktivitas bisnis yang dilakukan perusahaan memiliki resiko yang tinggi dimana naik turunnya laba tidak mudah diprediksi, adanya resiko gagalnya produk dan kebutuhan akan dana yang besar (Banker et al., 2014). Para pihak eksternal tentunya menginginkan perusahaan yang memiliki laba yang stabil, sehingga perusahaan differentiation akan berupaya untuk memanipulasi laba sehingga memenuhi harapan para pihak eksternal.

Perusahaan differentiation juga memiliki karakteristik desentralisasi dengan

alur aktivitas bisnis yang kompleks sehingga memudahkan manajer untuk

memanipulasi kinerja keuangan (Miles et al., 1978). Adanya motivasi-motivasi

tersebut membuat perusahaan differentiation terpacu untuk menaikkan praktik

manajemen laba. Maka dari itu, apabila suatu perusahaan semakin menganut

strategi differentiation, perusahaan tersebut akan semakin meningkatkan praktik

manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil penelitian ini membuktikan

bahwa strategi differentiation yang diterapkan sebagai gaya operasional bisnis

perusahaan berpengaruh terhadap praktik manajemen laba yang perusahaan.

(12)

44

Universitas Kristen Petra

4. 3. 3. Pengaruh Interaksi antara Strategi Cost Leadership dan Strategi Differentiation terhadap Earnings Management

Hasil uji pengaruh ATO*PM (interaksi antara ATO dengan PM) terhadap manajemen laba (Y) dengan analisa regresi linier berganda menunjukkan hasil koefisien regresi negatif yaitu dengan tingkat signifikansi dari pengujian secara parsial sebesar 0,003 < 0,05. Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan hubungan antara strategi cost leadership dan strategi differentiation memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Walaupun pengaruh variabel ini bukan merupakan fokus utama dalam penelitian ini, namun hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi dari strategi cost leadership dan differentiation dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap praktik manajemen laba. Hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian Wu et al. (2015) yang menemukan bahwa interaksi antara kedua strategi ini memiliki pengaruh yang negatif terhadap manajemen laba perusahaan.

Dalam melakukan aktivitas bisnisnya, tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa perusahaan akan menggunakan kombinasi strategi antara strategi cost leadership dan differentiation (Kim et al., 2004). Berdasarkan Teori Kontingensi, perusahaan akan memilih strategi sesuai dengan keinginannya dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian yang mungkin terjadi (Higgins et al., 2011). Bagi perusahaan yang menggunakan kombinasi strategi, perusahaan dapat memiliki marjin laba yang tinggi untuk mengurangi resiko tidak tercapainya target finansial melalui penerapan strategi differentiation dan mampu menghemat penggunaan sumber daya perusahaan untuk mengurangi resiko terbuangnya sumber daya melalui penerapan strategi cost leadership. Melalui penerapan gabungan strategi tersebut, perusahaan dapat memenuhi tujuan keuangan yang ingin dicapai melalui aktivitas bisnis yang efisien (Wu et al., 2015). Sehingga, perusahaan yang menerapkan kombinasi kedua strategi tersebut akan cenderung menurunkan praktik manajemen laba perusahaan.

4. 3. 4. Pengaruh Debt to Asset Ratio (Leverage) terhadap Earnings Management

Hasil uji pengaruh LEV terhadap manajemen laba (Y) dengan analisa regresi

linier berganda menunjukkan hasil koefisien regresi negatif yaitu dengan tingkat

(13)

45

Universitas Kristen Petra

signifikansi dari pengujian secara parsial sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan leverage memiliki pengaruh yang sangat kuat yaitu di tingkat 1% terhadap manajemen laba. Hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa leverage memiliki pengaruh negatif terhadap manajemen laba perusahaan (Park dan Shin, 2004). Apabila hutang suatu perusahaan tinggi, maka pihak kreditor akan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap perusahaan tersebut, sehingga perusahaan akan kesulitan untuk melakukan praktik manajemen laba (Park dan Shin, 2004).

4. 3. 5. Pengaruh Ukuran Perusahaan (Firm Size) terhadap Earnings Management

Hasil uji pengaruh SIZE (ukuran perusahaan) terhadap manajemen laba (Y) dengan analisa regresi linier berganda menunjukkan hasil koefisien regresi positif yaitu dengan tingkat signifikansi dari pengujian secara parsial sebesar 0,039 < 0,05.

Atas hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini

konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa ukuran (size)

memiliki pengaruh yang positif terhadap manajemen laba (Moses, 1987). Apabila

ukuran suatu perusahaan semakin besar, maka pihak eksternal seperti regulator dan

investor akan memberikan perhatian lebih untuk memonitor perusahaan tersebut,

sehingga perusahaan akan berupaya memanipulasi kinerja keuangannya untuk

dapat mengurangi perhatian dari pihak-pihak tersebut (Moses, 1987).

Gambar

Tabel 4. 1. Rangkuman Hasil Penyaringan Sampel
Tabel 4. 2. Statistik Deskriptif
Gambar 4. 1. Hasil Uji Normalitas- Histogram dan P-P Plot
Tabel 4. 3. Hasil Uji Autokorelasi  Durbin-Watson
+4

Referensi

Dokumen terkait

Globalisasi yang melanda dunia saat ini berpengaruh pada perkembangan bahasa di seluruh dunia. Terjadi penyerapan berbagai unsur dari berbagai bahasa akibat

Sebagaimana yang telah di uraikan di bab sebelumnya, bahwa Pondok Pesantren al Urwatul Wutsqo adalah pondok yang mengajarkan santrinya untuk memperbanyak amal

Dalam rangka memeriahkan HUT Paroki SanMaRe yang ke-3, akan diadakan bazar pada hari Minggu, 25 Agustus 2013, bazar terbuka bagi seluruh umat. Bagi yang berminat membuka

[r]

Masih rendahnya motivasi dan kemampuan koneksi matematis siswa dan adanya perubahan paradigma pendidikan,dari paradigma mengajar menjadi paradigma belajar, guru

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan bahwa dari enam elemen dari analisis risiko pemakaian alat pelindung diri masker dan sumbat telinga pada pekerja tekstil di

Sebagai akibat dari sikap otoriter ini, anak menunjukkan sikap pasif (hanya menunggu saja), dan menyerahkan segalanya kepada orang tua. Tingkah laku yang tidak

Seluruh proses pelaksanaan reformasi birokrasi harus didokumentasikan dengan baik sesuai dengan siklus rencanakan, laksanakan, monitoring dan evaluasi serta lakukan perbaikan...