ASPEK EKONOMI DAN PERAWATAN PADA SOLAR HOME SYSTEM 50 Wp

51 

Teks penuh

(1)

ASPEK EKONOMI DAN PERAWATAN PADA SOLAR HOME

SYSTEM 50 Wp

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagai persyaratan mencapai derajat sarjana S-1

Program Studi Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin

Diajukan oleh : WILLY ANTO NIM : 045214051

Kepada

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

ASPEK EKONOMI DAN PERAWATAN PADA SOLAR HOME SYSTEM 50 Wp

TUGAS AKHIR

Untuk memenuhi sebagai prasyarat Mencapai derajat Sarjana Teknik

di Teknik Mesin

Disusun Oleh :

051 5214 04 : NIM

ANTO WILLY

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

ECONOMIC ASPECT AND MAINTENANCE OF SOLAR HOME SYSTEM 50 Wp

FINAL PROJECT

Presented as Partial Fulfillment of the Requirements To Obtain the Sarjana Teknik Degree

In Mechanical of Engineering

By :

MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA

2009

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

INTISARI

Listrik merupakan kebutuhan yang penting bagi masyarakat. Pemakaian

sumber energi surya di Indonesia mempunyai prospek yang sangat baik,

mengingat bahwa Indonesia negara tropis yang dilewati khatulistiwa mempunyai

potensi energi surya yang cukup baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

biaya investasi awal dan perawatan pada penggunaan panel surya dengan daya 50

Wp.

Alat yang digunakan untuk mengkonversikan energi surya menjadi listrik ini

terdiri atas panel surya, BCR (Battery Charge Regulator), baterai, inverter dan

lampu TL. Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah nilai ekonomi dan

biaya perawatan panel surya.

Hasil dari penelitian menunjukan biaya investasi awal adalah Rp.

6.875.000,-biaya perbaikan adalah Rp. 25.800,- perbulan, 6.875.000,-biaya perawatan adalah

Rp. 1.100,- perbulan untuk penggunaan panel surya dengan daya 50 Wp.

(9)

KATA PENGANTAR

Terima kasih kepada kebesaran Tuhan yang telah selalu setia memberikan

berkat, rahmat, dan karunia-Nya kepada penulis sehingga atas ijin-Nya, sehingga

Tugas Akhir dalam mencapai gelar sarjana pun akhirnya dapat diselesaikan.

Terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan

bimbingan, dorongan, fasilitas dan bantuan yang sangat berarti bagi penulis dalam

menyelesaikan tugas akhir ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Yosef Agung Cahyanta, S.T., M.T., Dekan Fakultas Sains dan

Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Budi Sugiharto, S.T., M.T., Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Budi Setyahandana, S.T., M.T., dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan, dorongan serta meluangkan waktu untuk

membimbing penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.

4. Prof. Ir. Yohanes Sardjono, APU, dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan, dorongan serta meluangkan waktu untuk

membimbing penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.

5. Seluruh dosen, staf dan karyawan Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas kuliah, bimbingan, serta

fasilitas yang diberikan selama masa kuliah.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

TITLE PAGE ii

LEMBAR PENGESAHAN iii

DAFTAR DEWAN PENGUJI iv

LEMBAR PERNYATAAN v

LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI vi

INTISARI vii

KATA PENGANTAR viii

DAFTAR ISI x

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR TABEL xiv

BAB I : PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Tujuan Penelitian 3

1.3. Manfaat Penelitian 3

1.4. Batasan Masalah 4

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 5

2.1. Surya 5

2.2. Panel Surya 6

2.2.1. Umum 6

2.2.2. Prinsip Kerja Panel Surya 7

(12)

2.2.3. Pasar Panel Surya Dunia 14

2.2.4. Potensi Pengembangan Panel Surya di Indonesia 16

BAB III : METODE PENELITIAN 18

3.1. Skema Penelitian 18

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 18

3.3. Persiapan Bahan 19

3.4. Peralatan Pendukung 21

3.5. Pengolahan dan Analisis Data 21

BAB IV : PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 22

4.1. Tinjauan Ekonomi 22

4.2. Biaya Investasi Awal, Biaya Perbaikan dan Biaya Perawatan 23

4.3. Operasi dan Pemeliharaan 26

4.3.1. Operasi 26

4.3.2. Pemeliharaan 27

4.3.2.1. Pemeliharaan Umum 27

4.3.2.2. Pemeliharaan Teknis 30

BAB V : PENUTUP 35

5.1. Kesimpulan 35

5.2. Saran 35

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Standar spektrum radiasi surya 6

Gambar 2.2. Prinsip kerja panel surya 8

Gambar 2.3. Semikondutor sebelum disambung 8

Gambar 2.4. Semikonduktor sesaat disambung 9

Gambar 2.5. Daerah deplesi 10

Gambar 2.6. Medan listrik internal 10

Gambar 2.7. Semikonduktor n pada lapisan atas 11

Gambar 2.8. Cahaya matahari dengan panjang gelombang 12

Gambar 2.9. Ilustrasi proses konversi cahaya matahari menjadi energi listrik 13

Gambar 2.10. Spektrum radiasi sinar matahari 13

Gambar 2.11. a). Status PV beserta tipe panel surya, b). Status instalasi PV

sampai 2006 15

Gambar 3.1. Panel surya dengan daya 50 Wp 19

Gambar 3.2. BCR (Battery Charge Regulator) 20

Gambar 3.3. Baterai 20

Gambar 3.4. Inverter 20

Gambar 3.5. Lampu TL 21

Gambar 4.1. Membersihkan permukaan panel surya 28

Gambar 4.2. Batasan larutan elektrolit baterai 29

Gambar 4.3. Kondisi beban 30

Gambar 4.4. Mengukur tegangan rangkaian terbuka 31

(14)

Gambar 4.5. Mengukur arus hubungan singkat 31

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Perhitungan biaya investasi awal 23

Tabel 4.2. Perhitungan biaya perbaikan 24

Tabel 4.3. Biaya perawatan panel surya 25

Tabel 4.4. Harga paket panel surya 50 Wp dan peralatan pendukung 26

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Energi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan manusia.

Peningkatan kebutuhan energi dapat merupakan indikator peningkatan

kemakmuran, namun bersamaan dengan itu juga menimbulkan masalah dalam

usaha penyediaannya.

Program pemerintah mengenai pembangunan dan pemanfaatan energi sesuai

dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1993-1998 UU no. 17/2007

PRTP, UU no. 30/2007, PP no. 5/2006, diarahkan pada pengelolahan energi

secara hemat dan efisien dengan memperhitungkan peningkatan kebutuhan dalam

negeri, peluang ekspor dan kelestarian sumber energi untuk jangka panjang.

Upaya penganekaragaman sumber-sumber energi melalui usaha-usaha untuk

menemukan, memanfaatkan dan memasyarakatkan sumber-sumber energi

alternatif perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Dalam hal ini kemampuan nasional

dalam penguasaan ilmu dan teknologi mengenai pengadaan dan pemanfaatan

energi terutama energi baru dan terbarukan perlu terus dikembangkan.

Sumber-sumber energi baru dan terbarukan yang memiliki kemungkinan

untuk dikembangkan di Indonesia antara lain biomassa, tenaga samudra, tenaga

angin, mikrohidro dan energi surya.

Pemakaian sumber energi surya di Indonesia mempunyai prospek yang sangat

(17)

2

khatulistiwa mempunyai potensi energi surya yang cukup baik, dan dengan isolasi

rata-rata harian yang besar dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi

yang murah dan tersedia sepanjang tahun.

Pemanfaatan energi surya secara tradisional sudah banyak dilakukan misalnya

untuk pengering komoditi hasil-hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan. Pada

saat ini, pemanfaatan energi surya sudah dapat dilakukan dengan cara

mengubahnya secara langsung menjadi energi listrik melalui konversi cahaya

matahari oleh panel surya. Sebagai sumber arus, panel surya menghasilkan arus

searah (DC) yaitu arus yang mengalir ke satu arah yang ditandai dengan adanya

polaritas kutub positif dan kutub negatif, dapat dipakai langsung sebagai catudaya

listrik untuk lampu penerangan, sistem pompa air, sistem komunikasi radio,

sistem pemancar/penerima televisi dan lain sebagainya.

Pembangkit listrik yang mempergunakan konversi cahaya matahari dalam

memanfaatkan energi surya atau lebih umum dikenal sebagai Pembangkit Listrik

Tenaga Surya (PLTS) mempunyai beberapa keuntungan yaitu, diantaranya :

a) Sumber energi yang digunakan sangat melimpah dan cuma-cuma.

b) Sistem yang dikembangkan bersifat modular sehingga dapat dengan

mudah diinstalasi dan diperbesar kapasitasnya.

c) Perawatan mudah.

d) Tidak menimbulkan polusi suara dan bentuk polusi lainnya.

e) Dirancang bekerja otomatis sehingga dapat diterapkan di tempat terpencil.

f) Relatif aman.

(18)

3

1.2 Tujuan Penelitian

a) Mengetahui capital cost panel surya.

b) Mengetahui maintenance cost dan repair cost panel surya.

c) Mengetahui operasi dan teknik perawatan panel surya yang benar.

1.3 Manfaat Penelitian

a) Dapat dipergunakan pada orang-orang yang belum mengetahui tentang

teknik perawatan dan nilai ekonomi yang dihasilkan panel surya.

b) Dapat menambah literatur (pustaka) tentang teknik perawatan dan nilai

ekonomi yang dihasilkan menggunakan panel surya sebagai pembangkit

listrik.

c) Dapat diterapkan pada masyarakat yang belum mendapatkan pasokan

listrik sehingga dapat menyediakan listrik secara swadaya.

d) Dapat memicu masyarakat dan pemerintah untuk meneliti lebih dalam lagi

sehingga menghasilkan panel surya yang murah.

Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat :

a) Menambah kepustakaan tentang teknologi tenaga surya.

b) Hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan dan

disempurnakan untuk produk teknologi tenaga surya yang dapat diterima

masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.

(19)

4

1.4 Batasan Masalah

a) Unjuk kerja panel surya diletakkan di daerah Yogyakarta.

b) Panel surya yang digunakan dengan daya 50 Wp (watt peak).

c) Harga panel surya yang didapat merupakan hasil survei dari penjualan

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Surya

Surya adalah radiasi yang diproduksi oleh reaksi fusi nuklir pada inti

matahari. Matahari mensuplai hampir semua panas dan cahaya yang diterima

bumi untuk digunakan makhluk hidup. Surya sampai kebumi dalam bentuk

paket-paket yang disebut photon.

Dalam kaitannya dengan panel surya, perangkat yang mengkonversi radiasi

cahaya matahari menjadi listrik, terdapat dua paramater dalam surya yang paling

penting: pertama intensitas radiasi, yaitu jumlah daya matahari yang datang

kepada permukaan per luas area, dan karakteristik spektrum cahaya matahari.

Intensitas radiasi matahari di luar atmosfer bumi disebut konstanta surya, yaitu

sebesar 1365 W/m2. Setelah disaring oleh atmosfer bumi, beberapa sepktrum

cahaya hilang, dan intensitas puncak radiasi menjadi sekitar 1000 W/m2. Nilai ini

adalah tipikal intensitas radiasi pada keadaan permukaan tegak lurus cahaya

matahari dan pada keadaan cerah. Sebagai contoh apabila seseorang mengikuti

pergerakan matahari dalam delapan jam, maka rata-rata intensitas radiasi surya

yang diterima per hari kira-kira 1000 (8/24) = 333 W/m2. Pada permukaan yang

diam, nilai tipikal pada keadaan cerah yaitu antara 180-270 W/m2. Data surya

untuk kepentingan ekonomis umumnya direpresentasikan dalam unit insolation.

Hubungan antara rata-rata intensitas radiasi dan insolation dirumuskan dengan

(21)

6

Radiasi surya dipancarkan dari matahari pada temperatur 6000 K, yang

memberikan distribusi spektrumnya mirip dengan distribusi spektrum benda hitam

(black body). Dengan melalui atmosfer bumi, radiasi surya diatenuasikan oleh

berbagai partikel diantaranya molekul udara, aerosol, partikel debu, dll sehingga

menghasilkan spektrum seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Spektrum Pe

Gambar 2.1. Standar Spektrum Radiasi Surya.

Sumber : Solar Spectral Irradiance (AM 1,5 global)

2.2. Panel Surya 2.2.1. Umum

Panel surya adalah perangkat yang mengkonversi radiasi cahaya matahari

menjadi listrik. Efek panel surya ini ditemukan oleh Becquerel pada tahun

1839, dimana Becquerel mendeteksi adanya tegangan foto ketika cahaya

(22)

7

di Bell Telephone menemukan untuk pertama kali panel surya silikon berbasis

p-n junction dengan efisiensi 6%. Sekarang ini, panel surya silikon

mendominasi pasar panel surya dengan pangsa pasar sekitar 82% dan efisiensi

dan komersil berturut-turut yaitu 24,7% dan 15%.

2.2.2. Prinsip Kerja Panel Surya

Proses pengubahan atau konversi cahaya matahari menjadi listrik ini

dimungkinkan karena bahan material yang menyusun panel surya berupa

semikonduktor. Lebih tepatnya tersusun atas dua jenis semikonduktor; yakni

jenis n dan jenis p.

Semikonduktor jenis n merupakan semikonduktor yang memiliki

kelebihan elektron, sehingga kelebihan muatan negatif, (n = negatif).

Sedangkan semikonduktor jenis p memiliki kelebihan hole, sehingga disebut

dengan (p = positif) karena kelebihan muatan positif. Caranya, dengan

menambahkan unsur lain ke dalam semikonduktor, maka kita dapat

mengontrol jenis semikonduktor tersebut, sebagaimana diilustrasikan pada

(23)

8

Gambar 2.2. Prinsip Kerja Panel Surya

Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008

Pada awalnya, pembuatan dua jenis semikonduktor ini dimaksudkan untuk

meningkatkan tingkat konduktifitas atau tingkat kemampuan daya hantar

listrik dan panas semikonduktor alami seperti pada Gambar 2.3. Di dalam

semikonduktor alami (disebut dengan semikonduktor intrinsik) ini, elektron

maupun hole memiliki jumlah yang sama. Kelebihan elektron atau hole dapat

meningkatkan daya hantar listrik maupun panas dari sebuah semikoduktor.

Gambar 2.3. Semikonduktor Sebelum Disambung

Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008

Misal semikonduktor intrinsik yang dimaksud ialah silikon (Si).

Semikonduktor jenis p, biasanya dibuat dengan menambahkan unsur boron

(24)

9

tambahan ini akan menambah jumlah hole. Sedangkan semikonduktor jenis n

dibuat dengan menambahkan nitrogen (N), fosfor (P) atau arsen (As) ke dalam

silikan (Si). Dari sini, tambahan elektron dapat diperoleh. Sedangkan, silikon

(Si) intrinsik sendiri tidak mengandung unsur tambahan. Usaha menambahkan

unsur tambahan ini disebut dengan doping yang jumlahnya tidak lebih dari

1 % dibandingkan dengan berat , silikon (Si) yang hendak di-doping.

Dua jenis semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk

sambungan p-n atau dioda p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan

metalurgi / metallurgical junction).

Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan

elektron-elektron dari semikonduktor n menuju semikonduktor p, dan

perpindahan hole dari semikonduktor p menuju semikonduktor n. Perpindahan

elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batas

sambungan awal seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Semikonduktor Sesaat Disambung

Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008

Elektron dari semikonduktor n bersatu dengan hole pada semikonduktor p

yang mengakibatkan jumlah hole pada semikonduktor p akan berkurang.

Daerah ini akhirnya berubah menjadi lebih bermuatan positif. Pada saat yang

(25)

10

semikonduktor n yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini

berkurang. Daerah ini akhirnya lebih bermuatan positif.

Gambar 2.5. Daerah Deplesi

Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008

Daerah negatif dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion

region) ditandai dengan huruf W seperti ditunjukkan pada Gambar 2.5.

Baik elektron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan

pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena keberadaannya

di jenis semikonduktor yang berbeda.

Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah

deplesi, maka timbul dengan sendirinya medan listrik internal E dari sisi

positif ke sisi negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke semikonduktor

p dan elektron ke semikonduktor n. Medan listrik ini cenderung berlawanan

dengan perpindahan hole maupun elektron pada awal terjadinya daerah deplesi

(Gambar 2.6).

Gambar 2.6. Medan listrik Internal

(26)

11

Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan p-n berada pada titik

setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari

semikonduktor p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik kembali

kearah semikonduktor p akibat medan listrik. Begitu pula dengan jumlah

elektron yang berpindah dari semikonduktor n ke p, dikompensasi dengan

mengalirnya kembali elektron ke semikonduktor n akibat tarikan medan

listrik. Dengan kata lain, medan listrik mencegah elektron dan hole berpindah

dari semikonduktor yang satu ke semikonduktor yang lain.

Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi

listrik terjadi. Untuk keperluan panel surya, semikonduktor n berada pada

lapisan atas sambungan p yang menghadap kearah datangnya cahaya matahari,

dan dibuat jauh lebih tipis dari semikonduktor p, sehingga cahaya matahari

yang jatuh ke permukaan panel surya dapat terus terserap dan masuk ke

daerah deplesi dan semikonduktor p seperti ditunjukkan pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7. Semikondutor n pada Lapisan Atas

(27)

12

Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka

elektron mendapat energi dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari

semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya

elektron ini meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron

yang disebut dengan elektron-hole photogeneration yakni, terbentuknya

pasangan elektron dan hole akibat cahaya matahari.

Gambar 2.8. Cahaya Matahari dengan Panjang Gelombang

Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008

Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan

simbol “lambda” seperti di Gambar 2.8) yang berbeda, membuat fotogenerasi

pada sambungan p-n berada pada bagian sambungan p-n yang berbeda pula.

Spektrum merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang

lebih panjang, mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di

semikonduktor p yang akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi. Spektrum

(28)

13

daerah semikonduktor n, dikarenakan pada sambungan p-n terdapat medan

listrik, elektron hasil fotogenerasi tertarik ke arah semikonduktor n, begitu

pula dengan hole yang tertarik ke arah semikonduktor p.

Apabila rangkaian kabel dihubungkan ke dua bagian semikonduktor, maka

elektron akan mengalir melalui kabel. Jika sebuah lampu kecil dihubungkan

ke kabel, lampu tersebut menyala dikarenakan mendapat arus listrik, dimana

arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron.

Gambar 2.9. Ilustrasi Proses Konversi Cahaya Matahari Menjadi Energi Listrik

Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008

Pada umumnya, untuk memperkenalkan cara kerja panel surya secara

umum, ilustrasi pada Gambar 2.9 menjelaskan segalanya tentang proses

konversi cahaya matahari menjadi energi listrik.

(29)

14

Cahaya matahari yang terdiri dari photon-photon, jika menimpa

permukaaan bahan panel surya (absorber), akan diserap, dipantulkan atau

dilewatkan begitu saja (lihat Gambar 2.10), dan hanya photon dengan level

energi tertentu yang akan membebaskan elektron dari ikatan atomnya,

sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi

band-gap yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan untuk

mengeluarkan elektron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus

listrik. Untuk membebaskan elektron dari ikatan kovalennya, energi photon

harus sedikit lebih besar atau diatas daripada energi band-gap. Jika energi

photon terlalu besar dari pada energi band-gap, maka ekstra energi tersebut

akan dirubah dalam bentuk panas pada panel surya. Karenanya sangatlah

penting pada panel surya untuk mengatur bahan yang dipergunakan, yaitu

dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor yang

dipergunakan.

2.2.3 Pasar Panel Surya Dunia

Pada tahun 2006, industri panel surya dunia telah mencapai 1.744 MW,

mengalami kenaikan 19% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan

dibandingkan tahun 2003, telah mengalami kenaikan lebih dari 2 kali lipat

seperti terlihat pada Gambar 2.11.

Sedangkan produksi panel surya dunia telah mencapai angka 2.204 MW

tahun 2006, meningkat dari 1,656 MW tahun sebelumnya. Perusahaan

(30)

15

55% panel surya yang beredar di dunia saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa

pasar panel surya dunia semakin kompetitif dan terus mengalami kenaikan

pasar yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan panel surya

dunia akan terus meningkat dan implikasinya akan menurunkan harga dari

panel surya itu sendiri.

a)

Kapasitas (MW)

b)

Gambar 2.11. (a) Status PV (panel surya) yang terinstall sampai tahun 2003 beserta tipe panel surya.

(b) Status Instalasi PV sampai tahun 2006.

(31)

16

Sekarang ini pasar panel surya masih didominasi oleh panel surya silikon,

baik mono maupun multi-crystal silikon. Dari total 2.204 MW produksi panel

surya pada tahun 2006, 0,22 GW merupakan teknologi panel surya berbasisi

non-silikon. Pasar panel surya non-silikon diperkirakan akan naik menjadi

13% dari total produksi panel surya 10 tahun yang akan datang. Kenaikan

pasar panel surya non-silikon ini diakibatkan oleh kebutuhan akan panel surya

berbasis tanpa silikon, efisiensi lebih tinggi, harga yang lebih murah, dan juga

proses produksinya yang lebih simpel. Panel surya non-silikon ini diantaranya

panel surya berbasis lapisan tipis atau thin film panel surya, panel surya

organik & polimer, dan dye-sensitized panel surya.

2.2.4 Potensi Pengembangan Panel Surya di Indonesia

Sebagai negara tropis, limpahan cahaya matahari di Indonesia sangat

melimpah. Potensinya surya di Indonesia yaitu sekitar 4,8 kWh/m2/hari.

Namun berdasarkan data dari Departemen dan Sumber Daya Mineral

Indonesia, tahun 2005 kapasitas panel surya yang terpasang di Indonesia baru

8 MW. Nilai ini masih sangat kecil bila dibandingkan potensi tersebut.

Padahal pemanfaatan surya misalnya dalam bentuk Solar Home System untuk

daerah-daerah terpencil merupakan solusi andal untuk elektrifikasi desa-desa

tersebut. Karena bagaimanapun tingkat elektrifikasi suatu bangsa menentukan

derajat pengetahuan suatu bangsa, karena dengan listrik akan membuka jalan

akses kepada masyarakat global dimana lintas informasi dan ilmu pengetahuan

(32)

17

Pemerintah Indonesia sendiri merencanakan bahwa pada tahun 2025,

yang terbarukan berkontribusi sekitar 4% terhadap total konsumsi lokal

dimana 0,02% berasal dari energi surya. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu

dilakukan investasi baik dalam hal riset maupun untuk produksi massal

melalui misalnya subsidi bagi perusahaan yang berminat menembangkan

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Skema Penelitian

Pengumpulan Data

Desain : - Biaya Investasi - Biaya Perawatan

Aplikasi

Perawatan

Kesimpulan

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di STTL (Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan)

Gedong Kuning, Yogyakarta. Pengambilan data dilakukan selama tujuh jam

dalam sehari yaitu pada pukul 10.00 – 17.00 dan dilakukan selama 41 hari yaitu

pada tanggal 5 September – 16 Oktober 2008.

(34)

19

3.3 Persiapan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian :

• Panel Surya 50 Wp (watt peak) yang berfungsi untuk menyerap energi

yang dihasilkan oleh radiasi cahaya matahari seperti pada Gambar 3.1.

• BCR (Battery Charge Regulator) yang berfungsi untuk mengisi dan

memutus pengisian baterai secara otomatis seperti pada Gambar 3.2.

• Aki/baterai 12 volt 70 ampere dengan tipe deep cycle yang berfungsi

sebagai penyimpan listrik seperti pada Gambar 3.3.

Inverter untuk mengubah arus DC menjadi AC seperti pada Gambar 3.4.

• Tiga buah lampu TL yang dihubungkan secara paralel seperti pada

Gambar 3.5.

• Multimeter digital yang berfungsi untuk mengukur tegangan dan arus.

(35)

20

Gambar 3.2 BCR (Battery Charge Regulator)

Gambar 3.3 Baterai 12 volt 70 Ah deep cycle

(36)

21

Gambar 3.5 Lampu TL 12 V, 10 W

3.4Peralatan Pendukung

Peralatan yang digunakan dalam perawatan panel surya adalah :

a. Kain Basah

Alat ini digunakan untuk membersihkan permukaan panel surya

sehingga panel surya tersebut dapat bekerja secara optimal.

b. Air Destilasi Murni

Alat ini digunakan untuk menambahkan larutan elektrolit baterai jika

larutan elektrolit baterai berkurang atau berada pada batas minimum.

c. Gergaji

Alat ini digunakan untuk menebang dahan, ranting, cabang atau batang

tumbuhan. Bila ada tumbuhan/pohon yang menghalangi panel surya,

agar panel surya dapat bekerja secara optimal.

3.5 Pengolahan dan Analisis Data

Setelah mengumpulkan data maka dilakukan pengolahan data sebagai berikut :

a) Mengetahui capital cost panel surya.

(37)

BAB IV

PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Ekonomi

Suatu metode yang lazim digunakan dalam studi ekonomi teknik untuk

mengevaluasi investasi yang potensial adalah pembiayaan sepanjang umur (life

cycle coasting). Dalam metode ini melibatkan tiga komponen penting antara lain :

1. Biaya modal.

2. Biaya perawatan alat.

3. Penghematan biaya listrik yang akan datang.

Dalam pembiayaan sepanjang umur, jumlah biaya modal dan biaya perawatan

yang dinyatakan dalam rupiah, dibandingkan dengan nilai sekarang (present

worth) dari penghematan yang diperkirakan dapat diperoleh dari investasi selama

peralatan tersebut dipakai. Selisihnya disebut pendapatan sepanjang umur (life

cycle earning) atau kerugian.

Tujuan dari metode ini adalah untuk menentukan apakah penanaman modal

awal yang besar dapat diharapkan melebihi manfaat penghematan listrik dimasa

yang akan datang. Karena peralatan surya diharapkan pada kondisi lingkungan

yang keras, dan karena akses terhadap peralatan tersebut mungkin sulit, maka

pergaruh pergeluaran biaya perawatan dikemudian hari hendaknya tidak

diperkecil.

Dalam analisis ini, tanpa pertimbangan dari bantuan pemerintah dan kredit

pajak dan juga pengaruh investasi pada pendapatan, termasuk pengurangan pajak

(38)

23

pembayaran bunga pinjaman, ataupun tunjangan depresiasi. Karena sasaran yang

hendak dicapai adalah guna mengevaluasi kebenaran dari peralatan surya

dibandingkan dengan teknologi energi terbarukan yang dikonversi ke energi

listrik, oleh karena itu akan dilakukan analisis dari energi terbarukan berdasarkan

data yang diperoleh dari berbagai macam sumber, sehingga dapat diadakan

perbandingan untuk biaya bahan bakar tersebut secara baik dan efektif.

4.2 Biaya Investasi Awal, Biaya Perbaikan dan Biaya Perawatan

Perhitungan biaya instalasi (capital cost) panel surya dengan daya 50 Wp.

Untuk memperhitungkan biaya instalasi panel surya, ini sebuah contoh ilustratif.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperhitungkan biaya investasi awal

seperti dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Perhitungan Biaya Investasi Awal

Deskripsi Jumlah Biaya satuan Subtotal

Panel surya 50W 1 Rp. 3.500.000,- Rp. 3.500.000,-

BCR 1 Rp. 1.000.000,- Rp. 1.000.000,-

Kabel (meter) 30 Rp. 10.000,- Rp. 300.000,-

Baterai 70Ah (deep cycle) 1 Rp. 1.000.000,- Rp. 1.000.000,-

Lampu TL 12 V, 10 W 3 Rp. 25.000,- Rp. 75.000,-

Rangka 1 Rp. 500.000,- Rp. 500.000,-

Lain-lain Rp. 500.000,- Rp. 500.000,-

(39)

24

Perhitungan biaya investasi relatif mudah ketika sistem sudah didimensikan.

Selain biaya invetasi, juga perlu adanya biaya perbaikan (repair cost) atau biaya

pengantian alat-alat pendukung panel surya. Dikarenakan umur alat-alat

pendukung bervariasi, maka dibutuhkan alat-alat pendukung penganti seperti pada

Tabel 4.2. Sebagai catatan bahwa biaya perbaikan diasumsikan untuk jangka

waktu 20 tahun. Untuk kesederhanaan, biaya angkut dan instalasi sebaiknya

diabaikan.

Tabel 4.2 Perhitungan Biaya Perbaikan

Jenis Alat Jumlah Biaya Satuan Subtotal

BCR 1 Rp. 1.000.000,- Rp. 1.000.000,-

Setelah mengetahui biaya investasi dan biaya perbaikan panel surya, juga

perlu adanya biaya perawatan (maintenance cost). Sebagai catatan bahwa biaya

perawatan untuk jangka waktu 20 tahun yang dimisalkan tersebut merupakan

(40)

25

perawatan dalam penggunaan panel surya. Untuk merawat panel surya dibutuhkan

alat-alat seperti pada Tabel 4.3, agar panel surya dapat beroperasi dengan baik.

Tabel 4.3 Biaya Perawatan Panel surya

Jenis Alat Jumlah Biaya Satuan Subtotal

Kain 4 Rp. 5.000,- Rp. 20.000,-

Biaya penggunaan panel surya secara ekonomis tergolong mahal, namun

dengan biaya perawatan yang rendah sehingga dengan umur pemakaian panel

surya mencapai 15 – 20 tahun lebih ekonomis.

Sebagai pembanding juga perlu adanya biaya investasi panel surya 50 Wp

yang dihasilkan dari berbagai sumber penjualan panel surya di Indonesia. Dalam

hal ini, panel surya juga digunakan sebagai listrik rumah tangga. Cara ini

diharapkan adanya perbandingan yang berguna untuk berbagai sumber penjualan

panel surya di Indonesia. Angka-angka biaya investasi untuk penjualan panel

(41)

26

Tabel 4.4 Harga Paket Panel Surya 50 Wp dan Peralatan Pendukungnya

Sumber Harga Penjualan

Iklan Max Rp. 7.700.000,-

RDI Management Learning Rp. 6.450.000,-

Bursa Energi Rp. 5.750.000,-

Pikiran Rakyat Rp. 9.250.000,-

4.3 Operasi dan Pemeliharaan 4.3.1 Operasi

Sistem pengaman SHS telah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat

bekerja secara otomatis, walaupun demikian dalam pelaksanaannya tetap perlu

diperhatikan pedoman pemakaian beban yang telah ditetapkan agar sistem

dapat bekerja dengan lebih handal dan umur peralatan dapat lebih bertahan

lama. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengopersikan

SHS tersebut adalah :

1. Jumlah energi listrik yang dihasikan oleh SHS terbatas, sehingga

jumlah pemakaian beban per hari perlu disesuaikan.

2. Jenis beban lampu dan peralatan lain harus disesuaikan dengan

tegangan kerja sistem yaitu 12 V.

3. Perlu diperhatikan indikator lampu peraga yang terdapat pada BCR

misalnya : apabila lampu merah pada alat pengatur energi baterai

(42)

27

4. Apabila baterai dalam keadaan kosong, dan karena satu dan lain hal

sistem pengaman tidak bekerja secara otomatis, maka seluruh beban

harus dipadamkan sampai lampu merah di BCR tersebut padam

kembali.

5. Apabila beban tidak lagi dipergunakan, saklar beban atau lampu TL

harus pada posisi padam (off), dan bila ada beban lain melalui stop

kontak maka sebaiknya kabel yang berhubungan lansung dengan stop

kontak dicabut atau dilepaskan.

4.3.2 Pemeliharaan

Pemeliharaan SHS dapat dibagi atas dua kategori yaitu pemeliharaan

umum yang dilakukan secara berkala dan pemeliharaan teknis yang dilakukan

apabila terjadi kerusakan pada SHS atau untuk mengetahui dan memantau

unjuk kerja sistem pada kondisi tertentu.

4.3.2.1 Pemeliharaan Umum

Setiap melaksanakan pemeriksaan pada pemeliharaan umum,

perlu untuk mencatat kondisi peralatan. Adapun pemeliharaan umum

yang dilakukan secara berkala ini meliputi:

1) Membersihkan permukaan panel surya dari kotoran

Pembersihan permukaan panel surya ini dilaksanakan enam bulan sekali

atau apabila panel surya tampak kotor, untuk lokasi yang cukup berdebu

dapat dilakukan dua atau tiga bulan sekali.

Cara pembersihannya dapat menggunakan kain basah yang

(43)

28

permukaan menjadi bersih kembali. Bila panel surya terletak di atas atap

atau pada tempat yang tinggi maka diperlukan tangga atau tongkat

panjang sehingga permukaan panel surya dapat dicapai oleh kain basah

tersebut seperti pada Gambar 4.1.

Perlu diperhatikan bahwa pada saat membersihkan permukaan panel

surya jangan sampai tergores benda tajam atau terkena benda keras

sehingga menyebabkan gelas menjadi retak atau pecah.

Gambar 4.1. Membersihkan Permukaan Panel Surya

2) Memeriksa larutan elektrolit baterai

Apabila larutan elektrolit baterai berkurang atau berada pada batas

minimum, maka perlu agar segera ditambah dengan air aquades (air

destilasi murni) yang umum dipakai seperti pada saat menambah air

baterai mobil (botol berwarna biru atau putih) sehingga mencapai batas

(44)

29

Gambar 4.2. Memeriksa Larutan Elektrolit Baterai

3) Pemeriksaan kondisi lingkungan

Yang dimaksud dengan memeriksa kondisi lingkungan di sini adalah

memperhatikan bila ada tumbuhan/pohon yang menghalangi panel surya

dari penyinaran matahari mulai dari pagi sampai dengan sore hari.

Apabila hal ini terjadi maka dapat segera dilakukan pembebasan

halangan tersebut, misalnya dengan menebang dahan, ranting, cabang

atau batang tumbuhan tersebut.

4) Pemeriksaan kondisi beban

Apabila bola lampu TL sudah dalam keadaan rusak (pinggirnya

hitam), dan sulit untuk menyala, disarankan untuk segera diganti. Perlu

diingat bahwa dalam penggantian lampu tersebut, saklar harus pada

posisi padam (off), dan ketika menyalakan kembali lampu TL harus

selalu dalam keadaan terpasang dengan baik, hal ini bertujuan untuk

menghindari terjadinya kerusakan pada inverter lampu seperti pada

(45)

30

Gambar 4.3 Pemeriksaan Kondisi Beban

4.3.2.2 Pemeliharaan Teknis

Pada pemeliharaan teknis, perlu dilakukan beberapa pengukuran

untuk mengetahui kinerja dan fungsi dari panel surya yang mencakup:

1) Pengukuran kinerja panel surya.

Pengukuran kinerja panel surya dilakukan pada saat kondisi langit

cerah di siang hari. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam

mengukur untuk kerja panel surya ini yaitu :

• Mengukur tegangan rangkaian terbuka (Voc) dari panel surya

dengan menggunakan voltmeter. Pada cuaca cerah, nilai tegangan

Voc yang terukur seharusnya lebih besar dari 0,48 kali jumlah sel

(46)

31

Gambar 4.4. Mengukur Tegangan Rangkaian Terbuka

• Mengukur arus hubungan singkat (Isc) dari panel surya dengan

menggunakan amperemeter. Pada cuaca cerah, nilai arus Isc yang

terukur seharusnya lebih besar dari 70% arus yang ada pada

spesifikasi teknisnya seperti pada Gambar 4.5.

(47)

32

2) Pengukuran kinerja baterai.

Dalam mengukur kinerja baterai, perlu dilakukan hal-hal sebagai

berikut:

• Untuk menjaga keamanan BCR maka salah satu kabel terlebih

dahulu dilepaskan dari panel surya serta salah satu kabel yang

menghubungkan baterai – BCR dilepaskan, dan tunggu beberapa

saat. Selanjutnya dilakukan pengukuran tegangan baterai dalam

kondisi rangkaian terbuka, jika baterai dalam kondisi kapasitas

penuh, maka nilai tegangan tersebut akan lebih besar dari 12,6 V.

• Pengukuran specific grafity (SG) baterai dilakukan dengan

menggunakan hydrometer, jika baterai dalam kondisi penuh maka

nilai SG dapat mencapai 1,26.

• Pengukuran arus pengisian dilakukan dengan menggunakan

amperemeter seraca seri (kabel merah (+) amperemeter

dihubungkan dengan terminal baterai (+) baterai) dan dalam

keadaan salah satu kabel baterai masih terhubung pada baterai

BCR. Nilai arus pengisian ini akan lebih besar dari 2 A pada saat

kondisi cuaca cerah.

• Level larutan elektrolit dalam baterai dipastikan dalam keadaan

maksimum.

3) Pengukuran unjuk kerja BCR.

• Pengukuran tegangan jatuh pada ketiga terminal BCR dengan

(48)

33

tegangan minimal yang terukur harus sekitar 12,5 V dengan

ketentuan tegangan di terminal panel surya lebih besar dari

tegangan di terminal baterai dan juga lebih besar dari tegangan di

terminal beban.

• Indikator lampu peraga pada BCR diperiksa pada keadaan kondisi

baterai kosong atau baterai penuh jika ada seperti pada Gambar

4.6.

Gambar 4.6. Lampu Indikator

• Pengukuran tegangan dan SG elektrolit baterai, jika baterai dalam

kondisi kapasitas penuh, maka dengan penggunaan BCR jenis

regulator seri, tegangan panel surya yang terukur akan mendekati

17 V. Bila digunakan BCR jenis regulator shunt tegangan panel

surya yang terukur akan mendekati nol. Indikator lampu peraga

yang menyatakan baterai dalam kondisi penuh harus menyala.

• Jika ternyata baterai dalam kondisi kosong, maka indikator lampu

peraga BCR yang menyatakan bahwa baterai dalam keadaan

(49)

34

4) Pengukuran blocking diode.

Keselamatan dan keamanan dalam pemakaian SHS perlu

diperhatikan oleh setiap pengguna terutama dari gejala kemungkinan

gangguan pada komponen sistem, efek bunga api pada kerusakan di

kabel, kecelakaan akibat terkena cairan elektrolit baterai, dan lain-lain

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk keselamatan dalam

bekerja dengan SHS di antaranya:

• Bekerja tidak sendirian, mengerti prinsip kerja sistem, mengikuti

prosedur dan tempat kerja dalam keadaan bersih.

• Mempersiapkan peralatan yang ada dan digunakan dengan benar.

• Berhati-hati terhadap bahaya dan tahu cara pencegahannya seperti:

o Bahaya sengatan listrik yang dapat menyebabkan kontraksi otot

dan kebakaran.

o Bahaya baterai yang terjadi karena sengatan listrik ketika

terjadi hubungan singkat.

o Luka bakar karena asam sulfat, ledakan gas dan kebakaran.

Persyaratan dan ketentuan pengukuran yang dilakukan di sini

hampir sesuai dengan pelaksanaan pemeriksaan akhir ketika melakukan

instalasi, dengan beberapa penyederhanaan sehingga dimungkinkan

(50)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari penelitian dan perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Biaya investasi 1 unit sistem SHS 50 Wp panel sebesar Rp. 6.875.000,-.

2. Biaya penggantian 1 unit sistem SHS 50 Wp sebesar Rp. 25.800,- perbulan

dan biaya perawatan 1 unit sistem SHS 50 Wp sebesar Rp. 1.100,-

perbulan untuk jangka waktu 20 tahun operasi.

3. Pengoperasian dan perawatan 1 unit sistem SHS 50 Wp dapat lebih

optimal, jika pengoperasian dan perawatan maupun perbaikan/penggantian

1 unit sistem SHS 50 Wp mengikuti standar operasi.

5.2 Saran

Adapun saran untuk pihak yang akan mengembangkan penelitian pada bidang

ini adalah :

1. Pemerintah maupun lembaga pendidikan perlu mendorong dan

menggalakkan penelitian-penelitian maupun aplikasi dari sel surya.

2. Pemerintah maupun lembaga pendidikan perlu melakukan penelitian

terhadap sel surya agar tercipta sel surya dengan harga yang terjangkau

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Arismunandar, W. 1995. Teknologi Rekayasa Surya. Jakarta : Pradnya Paramita. Balzar, A., Stumpf, P., Eckhoff, S., Ackermann, H., Grupp, M. 1996. A Solar

Cooker Using Vacuum Tube Collectors With Integrated Heat Pipes. Solar Energy 58(1-3), pp.63-68.

Doraswami, A. 1994. A Significant Advance in Solar Cooking. Energy for Sustainable Development, vol. 1, no. 2.

Green, M. A. 2001. “Panel surya Efficiency Tables (Version 18)”, Prog. Photovolt. Res. Appl., 9, 287-9

Holman, J.P. 1994. Perpindahan Kalor. Jakarta: Erlangga.

Kumar Rakesh, Adhikari, R.S., Garg, H.P., Kumar Ashvini. 2001. Thermal Performance of A Solar Pressure Cooker Based on Evacuated Tube Solar Collector. Applied Thermal Engineering, 21, pp.1699-1706.

Shah, A., et al. 1999. “Photovoltaic Technology: The Case for Thin-Film Panel suryas”, Science, 30 July, 285, 692-8.

Sharma, S.D., Sagara Kazunobu. 2004. Solar Cooker for Evening Cooking Using Latent Heat Storage Material Based on Evacuated Tube Solar Collector, 6th Greg P. Smestad, 2002, “Optoelektronics of Panel suryas”, SPIE PRESS.

Figur

Gambar 2.1. Standar Spektrum Radiasi Surya. Sumber : Solar Spectral Irradiance (AM 1,5 global)
Gambar 2 1 Standar Spektrum Radiasi Surya Sumber Solar Spectral Irradiance AM 1 5 global . View in document p.21
Gambar 2.2. Prinsip Kerja Panel Surya
Gambar 2 2 Prinsip Kerja Panel Surya . View in document p.23
Gambar 2.3. Semikonduktor Sebelum Disambung Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008
Gambar 2 3 Semikonduktor Sebelum Disambung Sumber Aspek sains dan teknologi sel surya Juli 10 2008 . View in document p.23
Gambar 2.4. Semikonduktor Sesaat Disambung Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008
Gambar 2 4 Semikonduktor Sesaat Disambung Sumber Aspek sains dan teknologi sel surya Juli 10 2008 . View in document p.24
Gambar 2.5. Daerah Deplesi
Gambar 2 5 Daerah Deplesi . View in document p.25
Gambar 2.6. Medan listrik Internal Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008
Gambar 2 6 Medan listrik Internal Sumber Aspek sains dan teknologi sel surya Juli 10 2008 . View in document p.25
Gambar 2.7. Semikondutor n pada Lapisan Atas Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008
Gambar 2 7 Semikondutor n pada Lapisan Atas Sumber Aspek sains dan teknologi sel surya Juli 10 2008 . View in document p.26
Gambar 2.8. Cahaya Matahari dengan Panjang Gelombang Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008
Gambar 2 8 Cahaya Matahari dengan Panjang Gelombang Sumber Aspek sains dan teknologi sel surya Juli 10 2008 . View in document p.27
Gambar 2.9. Ilustrasi Proses Konversi Cahaya Matahari Menjadi Energi Listrik Sumber : Aspek sains dan teknologi sel surya, Juli 10, 2008
Gambar 2 9 Ilustrasi Proses Konversi Cahaya Matahari Menjadi Energi Listrik Sumber Aspek sains dan teknologi sel surya Juli 10 2008 . View in document p.28
Gambar 2.10. Spektrum radiasi cahaya matahari Sumber : www.globalwarmingsolutions.com
Gambar 2 10 Spektrum radiasi cahaya matahari Sumber www globalwarmingsolutions com . View in document p.28
Gambar 2.11. (a) Status PV (panel surya) yang terinstall sampai tahun 2003 beserta tipe panel surya
Gambar 2 11 a Status PV panel surya yang terinstall sampai tahun 2003 beserta tipe panel surya. View in document p.30
Gambar 3.1. Panel Surya dengan daya 50 Wp (Watt Peak)
Gambar 3 1 Panel Surya dengan daya 50 Wp Watt Peak . View in document p.34
Gambar 3.2 BCR (Battery Charge Regulator)
Gambar 3 2 BCR Battery Charge Regulator . View in document p.35
Gambar 3.3 Baterai 12 volt 70 Ah deep cycle
Gambar 3 3 Baterai 12 volt 70 Ah deep cycle . View in document p.35
Gambar 3.4 Inverter
Gambar 3 4 Inverter . View in document p.35
Gambar 3.5 Lampu TL 12 V, 10 W
Gambar 3 5 Lampu TL 12 V 10 W . View in document p.36
Tabel 4.1 Perhitungan Biaya Investasi Awal
Tabel 4 1 Perhitungan Biaya Investasi Awal . View in document p.38
Tabel 4.2 Perhitungan Biaya Perbaikan
Tabel 4 2 Perhitungan Biaya Perbaikan . View in document p.39
Tabel 4.3 Biaya Perawatan Panel surya
Tabel 4 3 Biaya Perawatan Panel surya . View in document p.40
Tabel 4.4 Harga Paket Panel Surya 50 Wp dan Peralatan Pendukungnya
Tabel 4 4 Harga Paket Panel Surya 50 Wp dan Peralatan Pendukungnya . View in document p.41
Gambar 4.1. Membersihkan Permukaan Panel Surya
Gambar 4 1 Membersihkan Permukaan Panel Surya . View in document p.43
Gambar 4.2. Memeriksa Larutan Elektrolit Baterai
Gambar 4 2 Memeriksa Larutan Elektrolit Baterai . View in document p.44
Gambar 4.3 Pemeriksaan Kondisi Beban
Gambar 4 3 Pemeriksaan Kondisi Beban . View in document p.45
Gambar 4.5. Mengukur Arus Hubungan Singkat
Gambar 4 5 Mengukur Arus Hubungan Singkat . View in document p.46
Gambar 4.4. Mengukur Tegangan Rangkaian Terbuka
Gambar 4 4 Mengukur Tegangan Rangkaian Terbuka . View in document p.46
Gambar 4.6. Lampu Indikator
Gambar 4 6 Lampu Indikator . View in document p.48

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : solar home system