• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: AULIA MAHMUD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: AULIA MAHMUD"

Copied!
180
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Psikologi

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-syarat

Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 Psikologi

Oleh: AULIA MAHMUD

06320167

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2012

(2)

i

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Psikologi

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-syarat

Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 Psikologi

Oleh: AULIA MAHMUD

06320167

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2012

(3)
(4)
(5)

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmatNya sehingga karya

Terima kasih untuk segala cinta, perhatian, doa dan dukungan dari orang

Papa Suman Amrin Atas segala cinta, kasih saya

Idang Arovah Idham dan Uwa Hikmah Aryu Manda Atas segala doa, dukungan, kasih saya

Atas kepercayaan, kehangatan dan

iv

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmatNya sehingga karya sederhana ini dapat terselesaikan

Terima kasih untuk segala cinta, perhatian, doa dan dukungan dari orang terdekat di hati :

Papa Suman Amrin dan Mama Suhartati

Atas segala cinta, kasih sayang, perhatian, doa, dukungan dan bantuan

Idang Arovah Idham dan Uwa Hikmah Aryu Manda segala doa, dukungan, kasih sayang dan perhatiannya

“Keluarga Besarku” UKM Bola Basket FPSB UII

kepercayaan, kehangatan dan kebersamaannya

Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas rahmatNya sehingga karya

Terima kasih untuk segala cinta, perhatian, doa dan dukungan dari orang-orang

ng, perhatian, doa, dukungan dan bantuannya

(6)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

Dan hanya kepad

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

“Setiap orang bisa jadi guru, tapi tidak setiap orang bisa jadi murid”.

“Biasakan yang benar, jangan benarkan yang biasa”.

v

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

Dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah 94 : 5-8)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah: 286)

“Setiap orang bisa jadi guru, tapi tidak setiap orang bisa jadi murid”. (Romi Bastian)

“Biasakan yang benar, jangan benarkan yang biasa”. (Aulia Mahmud)

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

(7)

Alhamdulillahi R Wata’ala, atas rahmat dan

Terima kasih atas semua yang Allah SWT berikan sehingga hamba masih berkesempatan menjalani kehidupan ini.

Penulis menyadari bahwa telah banyak pihak yang memberikan bantuan berupa semangat, motivasi, arahan, bimbingan d

dari persiapan, tempat dan pelaksanaan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini. Untuk segala keikhlasan serta pengorbanan yang telah diberikan penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Sus Budiharto, S. Psi., M. Si.,

dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

2. Ibu Rr. Indahria Sulistyo Rini S.Psi., Psi., selaku Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

3. Ibu Yulianti Dwi Astuti, S.P

Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

4. Ibu Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi., selaku Sekretaris Program Studi Psikologi Fakultas

Indonesia sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Akademik

vi

Alhamdulillahi Rabbil‘alamin. Puji Syukur kehadirat Allah Subhanahu

dan karuniaNya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Terima kasih atas semua yang Allah SWT berikan sehingga hamba masih berkesempatan menjalani kehidupan ini.

Penulis menyadari bahwa telah banyak pihak yang memberikan bantuan berupa semangat, motivasi, arahan, bimbingan dan data yang diperlukan mulai dari persiapan, tempat dan pelaksanaan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini. Untuk segala keikhlasan serta pengorbanan yang telah diberikan penulis mengucapkan terima kasih kepada :

Bapak Sus Budiharto, S. Psi., M. Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

Ibu Rr. Indahria Sulistyo Rini S.Psi., Psi., selaku Wakil Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

Ibu Yulianti Dwi Astuti, S.Psi., M.Soc. Sc., selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam

Ibu Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi., selaku Sekretaris Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam

sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Akademik penulis.

Allah Subhanahu

skripsi ini dapat terselesaikan. Terima kasih atas semua yang Allah SWT berikan sehingga hamba masih

Penulis menyadari bahwa telah banyak pihak yang memberikan bantuan an data yang diperlukan mulai dari persiapan, tempat dan pelaksanaan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini. Untuk segala keikhlasan serta pengorbanan yang telah diberikan penulis

Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi

Ibu Rr. Indahria Sulistyo Rini S.Psi., Psi., selaku Wakil Dekan Fakultas

si., M.Soc. Sc., selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam

Ibu Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi., selaku Sekretaris Program Studi ersitas Islam

(8)

vii

6. Bapak Sonny Andrianto, S.Psi., M.Si., selaku dosen penguji angket yang telah memberikan banyak kritik dan saran sehingga skripsi penulis menjadi lebih baik.

7. Bapak Thobagus Moh. Nu’man, S.Psi., Psi., tetangga sekaligus dosen penguji skripsi penulis yang telah banyak memberikan saran, kritik serta contoh yang baik untuk penulis.

8. Mas Susilo Wibisono, S.Psi., M.A., teman sekaligus dosen penguji skripsi yang telah banyak menyempatkan waktu berharganya guna memberikan pengarahan, pemahaman, dan saran kepada peneliti.

9. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, dengan segala dedikasi yang tinggi dan kerelaannya dalam berbagi ilmu.

10. Seluruh karyawan di Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, terimakasih untuk kehangatan, keramahan dan atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis.

11. Orang tua penulis, Papa H. Suman Amrin, S.E., M.M. dan Mama Suhartati atas segala do’a, kasih sayang, kesabaran, perhatian, pengorbanan, semangat, dukungan, serta kepercayaan yang telah diberikan kepada penulis yang tidak akan pernah terbalas oleh apapun.

(9)

viii

13. Ida Ayu Nia Anggraini, atas segala cerita yang telah terbagi bersama.

14. Sahabat penulis, Fajar Styo Pambudi, S.Psi., dan Mirza Rusyda Hidayat atas segala cerita yang telah kita ukir bersama. Terima kasih banyak untuk do’a, semangat, nasehat, bantuannya selama ini dan menjadikan penulis bagian dari kalian. Terima kasih untuk waktu-waktu yang telah terlewat bersama kalian, semoga persahabatan kita terjalin selamanya. Terima kasih kawan. 15. Abang Romi Bastian, S.Psi., terima kasih atas kepercayaan, kesempatan,

ilmu serta pelajaran hidup yang telah diberikan kepada penulis.

16. Keluarga Besar UKM Basket FPSB UII : Abang-abang ku Romi, Yopie, Erik, Rona, Indra. Teman seperjuangan, Fajar, Riza, Aga, Ade, Anto, Adi, Affan, Tharen, Dino, Chandra, Ina, Uti, Miranda, Fitri, Alin, Huning, Iyud. Adik-adik ku Irvan, Oki, Yudo, Krisna, Ogi, Ganes Ibek, Fazi, Ridho, Irwan, Inal, Indra, Aul, Hady, Ines, Nia, Ika, Linda, Fera, Nda, Lusi, Ifa, Ipeh, Memey, Tyas, Nindi, Ijul, Dini, Dea, Dian, Salsa, Tyara dan semua yang pernah tergabung didalamnya. Terima kasih atas semua pengalaman, persahabatan, kekeluargaan, dukungan, kepercayaan, kehangatan, kebersamaan, cerita suka dan duka yang telah kita lewati bersama. “Play Hard, Play Smart, Play Together.“

17. Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia periode 2008-2010. Terima kasih karena telah diberikan tempat dan kesempatan berharga untuk sekedar belajar.

(10)

ix

19. Seluruh teman-teman Psikologi angkatan 2006, Fajar, Qodel, Bulbul, Awin, Rois, Yudis, Rifky, Gigih, Dimas, Ibnu, Denny, Majid, Brebah, Mukhlis, Putra, Rizal, Eka, Ayik, Riza, Wawan, Alphounsus, Bagus, Yanuar, Zuar, Herman, Dhea, Dita, Apni, Fitri, Indah, Mega, Asthri, Ulfa, Ema, Tyas, Fitra, Tina, Rini, Unyil, Ntik, Santi dan yang lainnya. Terima kasih atas pertemanan yang terjalin selama ini dan semoga tetap dapat bersilatuhrami. Sukses Kawan. 20.Kakak-kakak, teman-teman serta adik-adikku, bang Iwan, bang Tommy,

bang Helmi, Juprek, Aang, Dadit, Siggit Dinho, Sigit Ngantuk, Digit, Vikar, Jarwo, Yovie, Mahe’, Abhi, Andra, Vian, Cyntia, Age, Sigit, Andy, Risna, Icha, Ifat, Kiki, Betris, Rere,Glembor, Deas, Adhi, Edo, Penyo, Bagong, Panji,

Tommy, Bimo, Anfa, Jurek, Dede, Vea, Ayu, Iyud, Erli, Helmy, Ochy, Dyah,

Andien, Anis, Annisa, Ayu, Raya, Ajeng, Festi, Ria, Dhanie, Mira, Ambon, Andrea, Ine, Dian, Hanna dan masih banyak lagi yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu. Terima kasih atas perhatian, motivasi, dukungan, semangat, doa, dan keceriaan kalian selama ini. Raihlah setiap cita-cita kalian dan tetaplah saling menjalin silaturahmi.

21. Bapak Agus Soekamto (Alm) dan Ibu Sri Rahayu, terima kasih atas segala bantuannya, dukungannya, dan selalu mengingatkan penulis agar cepat lulus.

22. Mas-mas parkiran dan mbak-mbak kantin psikologi, terima kasih atas keramahan yang telah diberikan kepada penulis.

(11)

x dengan caranya masing-masing.

Seluruh pengalaman hidup, kesulitan dan kemudahan, kelapangan dan kesempitan, kebahagiaan dan kesedihan, semoga semuanya bermanfaat dan menjadikan diri penulis lebih dewasa dalam menyikapi hidup. Semoga skripsi ini meskipun jauh dari kesempurnaan bisa menjadi pelajaran untuk semua yang membaca dan mengkajinya. Penulis menyadari bahwa dalam tugas akhir ini terdapat kekurangan dan keterbatasan. Untuk itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Allah Subhanahu Wata’ ala membalas segala kebaikan dan keihlasan ini. Semoga memberikan manfaat dan hikmah dari karya sederhana ini. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Yogyakarta, Juni 2012

(12)

xi

HALAMAN JUDUL .………... i

HALAMAN PENGESAHAN ………... ii

HALAMAN PERNYATAAN ………... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ………... iv

HALAMAN MOTTO .…….………... v

PRAKATA .………...…... vi

DAFTAR ISI .………... xi

DAFTAR TABEL ...………... xiv

DAFTAR GAMBAR ...………..……….. xv

DAFTAR LAMPIRAN ……… xvi

INTISARI ... ... xvii

BAB I PENGANTAR ………... 1

A. Latar Belakang Masalah ………... 1

B. Tujuan Penelitian ………... 6

C. Manfaat Penelitian ……….. 7

D. Keaslian Penelitian ……….. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………. 11

A. Pemecahan Masalah ………. 11

1.Pengertian Pemecahan Masalah ...………. 11

2.Aspek-Aspek Pemecahan Masalah ……….. 21

(13)

xii

C. Hubungan Antara Kohesivitas Kelompok dengan

Pemecahan Masalah ... 32

D. Hipotesis Penelitian ……….... 40

BAB III METODE PENELITIAN ………...……… 41

A. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian …..……... 41

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ……..……….. 41

1. Pemecahan Masalah ………. 41

2. Kohesivitas Kelompok ………..……… 41

C. Subjek Penelitian ………... 42

D. Metode Pengumpulan Data ……… 42

1. Alat Pengumpulan Data ……… 43

a. Skala Pemecahan Masalah ……….. 43

b. Skala Kohesivitas Kelompok ………….………. 46

2. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ……… 47

a. Validitas ………. 47

b. Reliabilitas ………... 49

E. Metode Analisis Data ……….. 50

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN ………... 52

A. Orientasi Kancah dan Persiapan ……….. 52

1. Orientasi Kancah ……….. 52

(14)

xiii

d. Hasil Uji Coba Alat Ukur ……….. 56

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian .…………..………. 60

C. Hasil Penelitian ……….. 62

1. Deskripsi Subjek Penelitian ………. 62

2. Deskripsi Data Penelitian ………. 63

3. Uji Asumsi ………. 66 4. Uji Hipotesis ……… 68 D. Pembahasan ………... 69 BAB V PENUTUP ……… 75 A. Kesimpulan ……….. 75 B. Saran ……… 75 1. Bagi Kelompok ……….. 75

2. Bagi Individu di Dalam kelompok ……….. 76

3. Bagi Peneliti Selanjutnya ……….. 76

DAFTAR PUSTAKA ……… 78

(15)

xiv

Tabel 1. Distribusi Aitem Skala Pemecahan Masalah Sebelum Uji Coba

... 45

Tabel 2. Distribusi Aitem Skala Kohesivitas Kelompok Sebelum Uji Coba ...…………... 46

Tabel 3. Distribusi Nomor Urut Aitem Skala Pemecahan Masalah Setelah Uji Coba ... 58

Tabel 4. Distribusi Nomor Urut Aitem Yang Baru Setelah Uji Coba ... 58

Tabel 5. Distribusi Nomor Urut Aitem Skala Kohesivitas Kelompok Setelah Uji Coba ………...…… 60

Tabel 6. Distribusi Nomor Urut Aitem Yang Baru Setelah Uji Coba ………....……….. 60

Tabel 7. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ………...……… 62

Tabel 8. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ...………... 63

Tabel 9. Deskripsi Data penelitian ………..………. 64

Tabel 10. Kriteria Kategorisasi Skala …..………...……….. 64

Tabel 11. Kategorisasi Variabel Pemecahan Masalah ………. 65

Tabel 12. Kategorisasi Variabel Kohesivitas Kelompok ………. 65

Tabel 13. Hasil Uji Normalitas ……… 67

Table 14. Hasil Uji Linieritas ……… 67

(16)

xv

Gambar 1. Grafik Hasil Uji Normalitas Pemecahan Masalah ………. 154 Gambar 2. Grafik Hasil Uji Normalitas Kohesivitas Kelompok ………….. 155 Gambar 3. Grafik Sebaran Kurva Normal ……….………. 158

(17)

xvi

Lampiran 1. Skala Uji Coba ... 81

Lampiran 2. Tabulasi Data Uji Coba ... 90

Lampiran 3. Hasil Uji Coba Reliabilitas dan Validitas ... 99

Lampiran 4. Skala Penelitian ... 118

Lampiran 5. Tabulasi Data Penelitian ... 127

Lampiran 6. Data Induk Penelitian ... 136

Lampiran 7. Validitas dan Reliabilitas Setelah Penelitian ... 138

Lampiran 8. Hipotetik ……….. 145

Lampiran 9. Empirik ……….. 150

Lampiran 10. Uji Normalitas ………. 152

Lampiran 11. Uji Linieritas ………. 156

Lampiran 12. Uji Hipotesis ………. 159

Lampiran 13. Surat Permohonan Izin Penelitian ……… 161

(18)

xvii INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah pada Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan positif antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah pada Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Subjek dalam penelitian ini adalah anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Skala pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini merupakan klasifikasi oleh Polya (Ellis & Hunt, 1993) yang mencakup empat aspek, yaitu pemahaman masalah, merancang rencana, melaksanakan rencana serta evaluasi. Kohesivitas kelompok diukur dengan menggunakan skala yang merujuk kepada teori yang disampaikan oleh Forsyth (2010) yang mencakup empat aspek, yaitu kohesi sosial, kohesi kohesi tugas, kohesi perasaan dan kohesi emosi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa koefisien korelasi r = 0.712 dengan p = 0.000 (p<0.01). Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa ada korelasi antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah, dengan kata lain hipotesis penelitian yang diajukan sebelumnya diterima.

(19)

1

A. Latar Belakang Masalah

Mahasiswa erat kaitannya dengan proses belajar mengajar di dalam kegiatan perkuliahan. Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan hal akademis saja, melainkan masih banyak kegiatan lainnya, salah satunya adalah organisasi. Berkaitan dengan hubungan antara manusia, organisasi memegang peranan dalam proses interaksi dengan orang lain. Menurut Gitosudarmo (Ardana, 2008) organisasi adalah suatu sistem yang terdiri dari pola aktivitas kerjasama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.

Organisasi memegang peranan dalam proses interaksi dengan orang lain. Dunia organisasi mengajarkan mahasiswa untuk mampu bersosialisasi, saling membantu, dan bertukar pendapat. Terdapat banyak problematika di dalam organisasi, misalnya seperti perbedaan pendapat serta interaksi antar sesama anggota yang bisa saja menyebabkan masalah. Tuntutan untuk lebih mampu melakukan manajemen diri pada mahasiswa pelaku organisasi nampaknya menjadi lebih besar. Kemampuan melakukan manajemen diri ini semata-mata ditujukan agar tercapai keseimbangan antara kehidupan organisasi dan akademis yang mereka jalani. Hal tersebut ditujukan agar mahasiswa pelaku organisasi dapat menimba pengalaman di organisasi namun mereka juga tidak terlena hingga mengabaikan tugas akademisnya (Juriana, 2000).

(20)

Unit kegiatan mahasiswa atau biasa disebut UKM adalah wadah aktivitas kemahasiswaan untuk mengembangkan minat, bakat dan keahlian tertentu bagi para anggota-anggotanya. Lembaga ini merupakan partner organisasi kemahasiswaan intra kampus lainnya seperti senat mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa, baik yang berada di tingkat program studi, jurusan, maupun universitas. Lembaga ini bersifat otonom, dan bukan merupakan sub-ordinat dari badan eksekutif maupun senat mahasiswa (http://id.wikipedia.org/).

Peneliti melakukan observasi kepada salah satu UKM yang berada di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia yaitu, UKM Bola Basket FPSB UII. Peneliti melakukan observasi pada saat sedang melaksanakan latihan rutin. Terlihat bahwa setiap anggota satu dengan yang lainnya begitu akrab, para anggota sangat menikmati latihan tersebut. Selanjutnya ketika ditelusuri lebih jauh, terdapat suatu masalah di dalam tim, meskipun terlihat akrab satu dengan yang lainnya. Ketika ada sebuah masalah yang terjadi, suasana tim akan berubah drastis menjadi tidak kondusif, seperti mengacuhkan teman satu timnya, atau tidak adanya senyuman antar pemain dan terlihat tegang satu sama lain. Hal tersebut diperkuat juga dengan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada salah satu pelatih tim. Ketika ada masalah pribadi yang terjadi, maka kondisi tim akan menjadi tidak kondusif. Beberapa pernyataan yang diungkapkan dalam wawancara dengan salah satu subjek menyatakan dampaknya bisa sangat luas, bisa saja pada saat pertandingan menjadi tidak semangat. Peneliti menarik kesimpulan bahwa ketika ada masalah yang terjadi di luar tim, maka bisa saja imbasnya akan sangat berpengaruh pada kondisi tim pada saat itu.

(21)

Permasalahan yang dihadapi oleh kelompok sangatlah berpengaruh terhadap kondisi di dalam kelompok tersebut. Misalnya saja ketika salah satu anggota kelompok tidak datang latihan, akibat dari permasalahan tersebut dapat menyebabkan kelompok menjadi tidak kompak, dengan begitu kelompok pun akan menjadi tidak harmonis. Ketika kelompok tidak harmonis, maka akan dapat menyebabkan perilaku yang tidak menyenangkan yang akan berimbas kepada kondisi kelompok secara keseluruhan, dengan demikian maka tujuan kelompok tidak dapat tercapai, dalam hal ini tujuan kelompok adalah prestasi.

Kekohesifan merupakan hal yang penting karena terbukti erat kaitannya dengan produktivitas kelompok. Studi-studi secara konsisten memperlihatkan bahwa hubungan kekohesifan dengan produktivitas tergantung pada norma kinerja yang dibangun oleh kelompok tersebut. Semakin kohesif kelompok tersebut, para anggota semakin mengarah pada tujuannya. Jika norma kinerja tinggi (misalnya, output tinggi, pekerjaan berkualitas, kerja sama dengan individu di luar kelompok), maka suatu kelompok yang kohesif akan lebih produktif daripada kelompok yang kurang kohesif (Robbins, 2002).

Ketika masalah yang terjadi di setiap kelompok tidak diselesaikan maka akan ada kecenderungan berupa efek negatif, misalnya seperti tidak bersemangat, tidak datang latihan, bahkan menghilang. Jika permasalahan yang terjadi meningkat di luar kendali, maka akan dapat menghancurkan kelompok. Sebagian besar kelompok yang masih bertahan dalam menyelesaikan masalah dengan cepat, sebelum kata sepakat dicapai menyebabkan keretakan hubungan yang tetap pada anggota (Forsyth, 2010).

(22)

Adanya permasalahan yang semakin kompleks seharusnya diiringi dengan pemecahan masalah yang semakin baik yaitu menjadi pemecah masalah bukan pengumpul masalah (Stein & Book, 2004). Maka dari itu dibutuhkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dalam hal ini adalah kemampuan pemecahan masalah. Menurut Stein dan Book (2004) pemecahan masalah adalah kemampuan untuk mengenali dan merumuskan masalah, serta menemukan dan menerapkan pemecahan masalah yang tepat. Ketika menghadapi masalah, jika masalahnya memerlukan pengolahan yang majemuk, interaksi antara para anggota yang memiliki informasi yang berbeda, pertimbangan cermat dari alternatif penyelesaiannya, maka pemecahan masalah secara kelompok akan memberikan penyelesaian yang paling baik (Munandar, 2008).

Mencurahkan perhatian pada pemecahan masalah sangatlah penting. Di lingkungan kerja di mana pun, para atasan akan meminta pegawainya menghadap mereka bukan melaporkan kesulitan yang mereka hadapi, melainkan menyampaikan pemecahan masalah yang siap dijalankan. Dalam era ekonomi yang semakin sarat persaingan dewasa ini, yang dibutuhkan adalah pemecah masalah, bukan pelopor atau pengumpul masalah. Tuntutan ini, apabila kita dapat memenuhinya, akan membuat kita menjadi semakin mandiri (Stein dan Book, 2004).

Setiap orang dalam melaksanakan tugas pekerjaannya akan menemui kesulitan, menemui masalah yang bersifat perorangan dapat juga yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas oleh seluruh kelompok. Kelompok dapat membantu memecahkan masalah, yang dialami oleh salah seorang anggotanya, dengan pengumpulan data yang diperlukan serta pemberian alternatif

(23)

penyelesaian. Pada masalah yang dihadapi kelompok, para anggota kelompok dapat saling mengisi dalam usaha dan sumbangan mereka memecahkan masalah kelompoknya (Munandar, 2008).

Dalam memecahkan masalah di dalam kelompok, diharapkan antar anggota satu dengan yang lainnya dapat membantu, bukan menambahkan masalah yang ada. Dalam hal ini kebersamaan di dalam suatu kelompok sangatlah dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah kelompok. Kohesivitas merupakan kelekatan dan saling ketertarikan di antara para anggota kelompok dan bersama-sama bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Selain ketertarikan (attractiveness), dan kelekatan juga mengandung arti solidaritas, kekompakan, dan keakraban, sehingga para anggota kelompok menjadi lekat dan menjadi satu kesatuan (Sigit, 2004).

Johnson dan Johnson (Budiharto, 2004) mendefinisikan kohesivitas kelompok sebagai daya saling ketertarikan antar anggota kelompok yang menyebabkan anggota kelompok tersebut berkeinginan untuk tetap tinggal dalam kelompok tersebut, dan juga daya tarik antar individu dengan kelompok atau organisasinya. Kelompok yang memliki kohesivitas tinggi bercirikan adanya keinginan untuk menetapkan tujuan kelompok dan keinginan untuk mencapai tujuannya dengan baik. Komitmen terhadap tujuan kelompok dan keinginan untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya juga sangat tinggi.

Kelompok yang kohesif menunjukkan kecerdasan yang tinggi dan keterampilan dalam mengurangi masalah. Ketika kohesivitas kelompok tersebut rendah, tingkat nilai dan kinerja akan cenderung menurun, dan hal tersebut dapat membawa masalah tambahan (Al-Rawi, 2008). Kelompok yang kohesif

(24)

diharapkan dapat memecahkan masalah dengan baik. Dengan memecahkan masalah, maka masalah yang terjadi di dalam kelompok dapat dengan cepat terselesaikan. Dan tentunya tidak akan memberikan dampak negatif yang terlalu lama untuk kelompok tersebut. Cohen, Whitmyre, dan Funk (Craig & Kelly, 1999) menemukan bahwa kelompok yang kohesif dan terlatih dalam pemecahan masalah memiliki lebih banyak ide-ide yang kreatif daripada kelompok yang tidak kohesif.

Masalah tidak hanya tidak dapat dihindari, namun mungkin dapat menjadi topik utama untuk menciptakan kelompok yang kohesif (Forsyth, 2010). Berdasarkan uraian dan fenomena yang terjadi di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah. Untuk mengetahui hubungan antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah, maka pertanyaan penelitian adalah apakah ada hubungan antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah?

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif antara kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah pada Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

(25)

C. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah agar dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis, seperti:

1. Manfaat Teoritis

a. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah agar hasil penelitian ini akan semakin memperkaya khasanah teoritis psikologi khususnya tentang psikologi sosial, yaitu mengenai pemecahan masalah dan kohesivitas kelompok.

b. Memberikan informasi tentang ada tidaknya hubungan kohesivitas kelompok dengan pemecahan masalah agar dapat dijadikan referensi bagi peneliti lain yang ingin meneliti mengenai kohesivitas kelompok maupun pemecahan masalah.

2. Manfaat Praktis

a. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menjadi acuan untuk meningkatkan kohesivitas kelompok agar dapat pemecahan masalah pada kelompok tersebut menjadi lebih baik.

b. Dapat dijadikan saran untuk melatih pemecahan masalah serta kohesivitas kelompok untuk mengembangkan kelompok.

D. Keaslian Penelitian

Penelitian yang mengangkat topik pemecahan masalah sudah banyak dilakukan. Seperti penelitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Metode Pemecahan Masalah Terhadap Kemampuan Berpikir Rasional Siswa” yang dilakukan oleh Fitriyanti (2009). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan

(26)

metode pemecahan masalah berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir rasional siswa pada pembelajaran Ekonomi di kelas XI SMA Srijaya Negara Palembang. Penelitian lain tentang pemecahan masalah dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Dan Strategi Pemecahan Masalah Untuk Mengingkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII C SMP Negeri 1 Sukasada” yang dilakukan Subratha (2007). Penelitian ini menunjukkan hubungan penerapan model pembelajaran kooperatif dan strategi pemecahan masalah dapat meningkatkan kualitas intraksi siswa dalam pembelajaran fisika siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Sukasada.

Pardjono dan Wardaya (2009) melakukan penelitian tentang pemecahan masalah yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Analisis, Sintesis, Dan Evaluasi Melalui Pembelajaran Problem Solving”. Hasil dari penelitian tersebut, pembelajaran berbasis pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan kognitif tingkat tinggi siswa berupa kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi. Penelitian lain dilakukan oleh Japa (2008) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Terbuka Melalui Investigasi Bagi Siswa Kelas V SD 4 Kaliuntu”. Penelitian ini menunjukkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika terbuka mengalami peningkatan.

Penelitian tentang kohesivitas kelompok juga sudah banyak dilakukan sebelumnya, diantaranya adalah Budiharto (2004) yang melakukan penelitian tentang gaya kepemimpinan, kohesivitas kelompok, dan komitmen pada partai politik. Dimyati (Psikologika, 2000) melakukan penelitian tentang kohesivitas yang berjudul “Kohesivitas Tim dan Efikasi Diri Sebagai Prediktor Prestasi Olahraga Tim”.

(27)

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan asli dari segi:

1. Keaslian topik

Penelitian tentang pemecahan masalah pernah dilakukan oleh Fitriyanti (2009) dengan judul “Pengaruh Penggunaan Metode Pemecahan Masalah Terhadap Kemampuan Berpikir Rasional Siswa”. Penelitian lain tentang pemecahan masalah dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Dan Strategi Pemecahan Masalah Untuk Mengingkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII C SMP Negeri 1 Sukasada” yang dilakukan Nyoman Subratha (2007). Pardjono dan Wardaya (2009) melakukan penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Analisis, Sintesis, Dan Evaluasi Melalui Pembelajaran Problem Solving”. Penelitian lain dilakukan oleh Japa (2008) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Terbuka Melalui Investigasi Bagi Siswa Kelas V SD 4 Kaliuntu”.

Judul penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah “Kohesivitas Kelompok dan Pemecahan Masalah Pada Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia”.

2. Keaslian teori

Penelitian yang dilakukan oleh Fitriyanti (2009) menggunakan teori Dewey (Sanjaya, 2006) mengenai tahapan pelaksanaan dalam penerapan metode pemecahan masalah. Sedangkan Pardjono dan Wardaya (2009) di

dalam penelitiannya menggunakan teori Bransford (1984:12) mengenai langkah-langkah pemecahan masalah.

(28)

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori pemecahan masalah menurut Polya (Ellis & Hunt, 1993). Untuk kohesivitas kelompok, peneliti menggunakan teori kohesivitas kelompok menurut Forsyth (2010).

3. Keaslian alat ukur

Penelitian pemecahan masalah yang dilakukan oleh Pardjono dan Wardaya (2009) menggunakan model penelitian tindakan kelas yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart (1988) yang terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pemantauan, dan refleksi. Fitriyanti (2009) dalam penelitiannya menggunakan metode quasi eksperimen dengan

nonequivalen groups pretest-posttest.

Pada penelitian ini, peneliti membuat sendiri alat ukur kohesivitas kelompok berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Forsyth (2010). Demikian juga dengan pemecahan masalah, peneliti membuat sendiri alat ukur pemecahan masalah berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Polya (Ellis & Hunt, 1993).

4. Keaslian subjek penelitian

Subyek yang digunakan dalam penelitian Fitriyanti (2009) adalah seluruh siswa kelas XI Jurusan IPS SMA Srijaya Negara palembang tahun ajaran 2008/2009 berjumlah 151 siswa. Sedangkan subyek penelitian yang digunakan oleh Pardjono dan Wardaya (2009) menggunakan subyek 32 siswa Teknik Mesin Otomotif SMKN 2 Wonosari. Japa (2008) dalam penelitiannya menggunakan 35 siswa kelas V SD 4 Kaliuntu. Subyek penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Basket Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

(29)

11

A. Pemecahan Masalah 1. Pengertian Pemecahan Masalah

Ellis dan Hunt (1993) menjelaskan bahwa pemecahan masalah adalah situasi ketika mempunyai kesulitan dengan masalah, mempertimbangkan solusi: itu bisa menjadi lebih mudah dipecahkan jika mulai berpikir menyusun sebuah bentuk penyelesaian. Stevens (2002) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah tindakan untuk menjembatani kesenjangan diantara dua situasi dengan arah tindakan yang mencapai atau mendekati tujuan yang diinginkan. Situasi tersebut menggambarkan adanya kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi yang terjadi sebenarnya, sehingga diperlukan langkah-langkah pemecahan masalah untuk menghubungkan dua situasi yang berbeda tersebut agar tujuan dapat tercapai. Pemecahan masalah adalah suatu proses penyelesaian dalam mengatasi masalah dimana kelompok berada dalam suatu kondisi sedang terlibat masalah yang tidak biasa dan mulai memikirkan sebuah proses untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang efektif dan efisien (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Menurut Stein dan Book (2004) pemecahan masalah adalah kemampuan untuk mengenali dan merumuskan masalah, serta menemukan dan menerapkan pemecahan yang ampuh. Stein dan Book (2004) menjelaskan bahwa cara

(30)

memecahkan masalah bersifat multiphase dan mensyaratkan kemampuan menjalani proses berikut: (1) memahami masalah dan percaya pada diri sendiri, serta termotivasi untuk memecahkan masalah itu secara efektif. (2) menentukan dan merumuskan masalah sejelas mungkin (misalnya dengan mengumpulkan informasi yang relevan). (3) menemukan sebanyak mungkin alternatif pemecahan masalah (misalnya curah gagasan). (4) mengambil keputusan untuk menerapkan salah satu alternatif pemecahan (misalnya menimbang-nimbang kekuatan dan kelemahan setiap alternatif, kemudian memilih alternatif yang terbaik). (5) menilai hasil penerapan alternatif pemecahan yang digunakan, dan (6) mengulang proses di atas apabila masalahnya tetap belum terpecahkan.

Menurut Rakhmat (2007), pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan untuk memecahkan permasalahan dan pengambilan keputusan saat dihadapkan pada masalah yang tidak biasa dihadapinya melalui tahapan-tahapan tertentu. Chaplin (2008) menjelaskan bahwa pemecahan masalah adalah proses yang tercakup dalam usaha menemukan urutan yang benar dari alternatif-alternatif jawaban, mengarah kepada satu sasaran atau ke arah pemecahan yang ideal. Solso (2008) mengemukakan bahwa pemecahan masalah adalah pemikiran yang diarahkan pada penyelesaian masalah tertentu yang melibatkan formasi dari respon dan penyeleksian respon yang mungkin ada. Walgito (2010) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah upaya untuk mencari pemecahan dan dipacu untuk mencapai pemecahan dari suatu permasalahan.

(31)

Pemecahan masalah mengacu pada proses pemecahan masalah seperti yang terjadi di lingkungan atau "dunia nyata" (D'Zurilla & Nezu, 1982). Penelitian tentang pemecahan masalah berhubungan dengan semua jenis masalah yang mungkin mempengaruhi fungsi seseorang ataupun kelompok, termasuk masalah (misalnya, keuangan yang tidak cukup, properti dicuri), masalah pribadi atau interpersonal (emosional, perilaku, gangguan kognitif, atau kesehatan), masalah interpersonal (misalnya, konflik perkawinan, perselisihan keluarga), serta masyarakat luas dan masalah sosial (misalnya, kejahatan, diskriminasi rasial) (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Seperti yang terjadi di lingkungan alami, pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses perilaku kognitif dimana seorang individu, pasangan, atau kelompok mencoba untuk mengidentifikasi atau menemukan solusi yang efektif untuk masalah tertentu yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares). Lebih khusus lagi, proses perilaku kognitif ini (a) membuat ketersediaan berbagai pemecahan yang ampuh untuk masalah tertentu dan (b) meningkatkan kemungkinan memilih solusi yang paling efektif diantara berbagai alternatif (D'Zurilla & Goldfried, 1971). Pengertian ini menunjukkan, pemecahan masalah dipahami sebagai aktivitas yang sadar, rasional, terbukti efektif, dan bertujuan. Tergantung pada tujuan pemecahan masalah, proses ini mungkin ditujukan untuk mengubah situasi yang bermasalah menjadi lebih baik, mengurangi gangguan tekanan emosional yang dihasilkan, atau keduanya (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

(32)

Tiga konsep utama dalam model D’Zurilla dkk adalah (a) pemecahan masalah, (b) masalah, (c) solusi. Hal ini juga penting untuk teori, penelitian, dan praktek untuk membedakan antara konsep-konsep pemecahan masalah dan implementasi solusi (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004). Teori pemecahan masalah menurut D’Zurilla, Nezu dan Maydeu-Olivares dibedakan antara konsep pemecahan masalah dan implementasi solusi. Dua proses ini secara konseptual berbeda dan memerlukan beberapa keterampilan yang berbeda (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Pemecahan masalah mengacu pada proses untuk menemukan solusi terhadap masalah tertentu, sedangkan implementasi solusi mengacu pada proses solusi dalam situasi bermasalah yang sebenarnya. Keterampilan pemecahan masalah diasumsikan umum, sedangkan keterampilan implementasi solusi diharapkan berbeda-beda di setiap situasi tergantung pada jenis masalah dan solusi. Karena keduanya berbeda, keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan implementasi solusi tidak selalu berkorelasi. Oleh karena itu, beberapa individu mungkin memiliki keterampilan memecahkan masalah yang buruk tetapi memiliki keterampilan implementasi solusi yang baik atau sebaliknya. Karena kedua keterampilan tersebut diperlukan untuk berfungsi efektif atau berdasarkan kompetensi sosial, hal ini seringkali diperlukan dalam pelatihan pemecahan masalah untuk menggabungkan pelatihan dalam kemampuan memecahkan masalah dengan pelatihan dalam keterampilan sosial

(33)

dan perilaku kinerja lainnya untuk memaksimalkan hasil yang positif (McFall, 1982).

Pemecahan masalah bukan merupakan sebuah kesatuan konstruk, melainkan sebuah konstruk multidimensi yang terdiri dari beberapa hal yang berbeda tetapi saling berkaitan. Diasumsikan bahwa kemampuan pemecahan masalah terdiri dari dua bagian umum, sebagian komponen independen: (a) orientasi masalah dan (b) kemampuan memecahkan masalah (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Orientasi masalah digambarkan sebagai proses metakognitif yang melibatkan pengoperasian serangkaian skema emosional-kognitif yang relatif stabil yang merefleksikan keyakinan umum seseorang, penilaian, dan perasaan tentang masalah dalam hidup, serta kemampuan pemecahan masalahnya sendiri. Proses ini diyakini melakukan fungsi motivasi yang penting dalam pemecahan masalah. Kemampuan memecahkan masalah, di sisi lain, mengacu pada kegiatan kognitif dan perilaku dimana seseorang atau kelompok berusaha untuk memahami masalah dan menemukan "solusi" efektif atau cara mereka dalam mengatasi masalah (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004). Model ini mengidentifikasi empat keterampilan utama: (a) definisi masalah dan formulasi, (b) solusi alternatif, (c) pengambilan keputusan, dan (d) implementasi solusi dan verifikasi (D'Zurilla & Goldfried, 1971).

Orientasi masalah positif adalah satu set pemecahan masalah yang berkonstruksi kognitif yang melibatkan kecenderungan umum untuk (a) menilai

(34)

masalah sebagai "tantangan" (yaitu, kesempatan untuk manfaat atau keuntungan), (b) percaya bahwa masalah dapat dipecahkan ("optimisme"), (c) percaya pada kemampuan pribadi seseorang untuk memecahkan masalah dengan sukses ("efektivitas diri dalam pemecahan masalah"), (d) percaya bahwa pemecahan masalah yang sukses membutuhkan waktu dan usaha, dan (e) berkomitmen pada diri sendiri untuk memecahkan masalah dengan menyelesaikannya daripada menghindarinya. Sebaliknya, Orientasi masalah negatif adalah satu set disfungsional atau hambatan emosional kognitif yang melibatkan kecenderungan umum untuk (a) melihat masalah sebagai ancaman yang signifikan terhadap kesejahteraan (psikologis, sosial, ekonomi), (b) keraguan seseorang pada kemampuan diri sendiri untuk memecahkan masalah dengan sukses ("efektivitas pemecahan masalah pada diri sendiri yang rendah"), dan (c) mudah menjadi frustasi dan marah ketika dikonfrontasi oleh masalah ("toleransi frustasi rendah") (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Pemecahan masalah yang rasional adalah gaya pemecahan masalah konstruktif yang didefinisikan sebagai rasional, disengaja, dan aplikasi sistematis dari kemampuan memecahkan masalah yang efektif. Seperti disebutkan sebelumnya, model ini mengidentifikasi empat kemampuan memecahkan masalah: (a) definisi masalah dan perumusan, (b) pembentukan alternatif solusi, (c) pengambilan keputusan, dan (d) implementasi solusi dan verifikasi. Dalam definisi masalah dan perumusan, pemecah masalah mencoba untuk menjelaskan dan memahami masalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta-fakta

(35)

spesifik dan konkrit tentang masalah, mengidentifikasi tuntutan dan hambatan, dan mengaturtujuan pemecahan masalah yang realistis (misalnya, mengubah situasi untuk lebih baik, menerima situasi, dan meminimalkan gangguan emosi). Dalam pembentukan solusi alternatif, fokus pada tujuan pemecahan masalah dan mencoba untuk mengidentifikasi solusi potensial sebanyak mungkin, termasuk kedua solusi konvensional dan solusi asli. Dalam pengambilan keputusan, pemecah masalah mengantisipasi konsekuensi dari setiap solusi yang berbeda, lalu dinilai dan dibandingkan, dan kemudian memilih solusi "terbaik" atau solusi yang berpotensi paling efektif. Pada langkah terakhir, implementasi solusi dan verifikasi, seseorang dengan cermat mengawasi serta mengevaluasi hasil dari solusi yang dipilih setelah berusaha menerapkannya dalam situasi bermasalah di dalam kehidupan nyata (D'Zurilla & Goldfried, 1971; D'Zurilla & Nezu, 1999; D'Zurilla dkk., 2002).

Hasil pemecahan masalah di dunia nyata diasumsikan sangat ditentukan oleh dua proses umum, sebagian independen: (a) orientasi masalah dan (b) gaya pemecahan masalah. Pemecahan masalah yang konstruktif atau efektif digambarkan sebagai proses di mana orientasi masalah positif memfasilitasi masalah pemecahan rasional (yaitu, disengaja, aplikasi sistematis dari kemampuan memecahkan masalah secara efektif), yang pada gilirannya memungkinkan untuk menghasilkan hasil yang positif. Pemecahan masalah yang tidak efektif atau disfungsional ditunjukkan sebagai sebuah proses di mana orientasi masalah negatif berkontribusi dengan gaya kecerobohan-impulsif atau

(36)

gaya penghindaran, yang keduanya cenderung menghasilkan hasil yang negatif. Oleh karena itu, model pemecahan masalah yang paling menguntungkan kemungkinan dihasilkan oleh individu yang mendapat skor relatif tinggi pada pengukuran orientasi masalah positif, gaya kecerobohan-impulsif, dan gaya menghindar (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Pada penelitian tentang pemecahan masalah, serta penelitian dan praktek klinis dalam terapi pemecahan masalah, penting untuk menilai tidak hanya kemampuan pemecahan masalah sosial seseorang secara umum tetapi juga kekuatan dan kelemahan di berbagai komponen dari kemampuan pemecahan masalah (misalnya, orientasi masalah positif, orientasi masalah negatif, pemecahan masalah yang rasional, dll). Oleh karena itu, berguna untuk membedakan antara dua jenis umum pengukuran pemecahan masalah sosial: (a) pengukuran proses dan (b) pengukuran hasil (D'Zurilla & Maydeu-Olivares, 1995).

Pengukuran proses langsung menilai aktivitas kognitif dan perilaku umum (misalnya, sikap, keterampilan) yang memfasilitasi atau menghambat penemuan solusi yang efektif atau adaptif untuk masalah sehari-hari, sedangkan pengukuran hasil menilai kualitas solusi yang spesifik untuk masalah tertentu. Oleh karena itu, langkah-langkah proses yang digunakan untuk menilai kekuatan spesifik dan kekurangan dalam kemampuan pemecahan masalah sosial, dan hasil pengukuran digunakan untuk mengevaluasi kinerja pemecahan masalah atau kemampuan seseorang menerapkannya atau keahliannya secara efektif

(37)

untuk masalah tertentu. Sebuah pengukuran terhadap hasil dapat dilihat sebagai indikator global dari kemampuan pemecahan masalah sosial tetapi, tidak seperti pengukuran proses, tidak memberikan informasi mengenai komponen tertentu tentang kemampuan pemecahan masalah sosial (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Proses pengukuran pemecahan masalah meliputi inventori laporan diri serta uji kinerja. Inventori laporan diri memberikan survei yang luas dari sikap pemecahan masalah seseorang, strategi, dan teknik, baik positif (fasilitatif) dan negatif (hambatan). Beberapa inventori juga memperkirakan sejauh mana orang tersebut benar-benar menggunakan keterampilan pemecahan masalah yang dia memiliki, serta cara di mana teknik ini biasanya diterapkan (misalnya, efisien, sistematis, impulsif, sembarangan, dll). Bentuk pengujian kinerja ini menyajikan orang dengan tugas pemecahan masalah spesifik yang mengharuskan dia untuk menerapkan keterampilan tertentu atau serangkaian keterampilan (misalnya, pengakuan masalah, definisi masalah, generasi solusi, pengambilan keputusan). Kinerja tugas individu kemudian dinilai atau dievaluasi dan pengukuran ini dipandang sebagai indikator atau tingkat kemampuannya dalam bidang keterampilan tertentu (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Semua hasil pengukuran pemecahan masalah adalah tes kinerja. Namun, bukan pengujian satu komponen keterampilan tertentu atau kemampuan, langkah-langkah penilaian berdasarkan keseluruhan kinerja pemecahan masalah, atau kemampuan umum pemecahan masalah sosial, dengan mewakili seseorang

(38)

dengan masalah tertentu dan meminta dia untuk menyelesaikannya, setelah itu solusinya dinilai atau diperingkat di beberapa dimensi kuantitatif atau kualitatif. Contoh dari skor kuantitatif adalah jumlah cara yang relevan, atau langkah yang diskrit, yang memungkinkan pemecah masalah untuk bergerak lebih dekat ke tujuan (Platt & Spivack, 1975; Spivack, Shure, & Platt, 1985).

Pembentukan dan pemilihan item tes (masalah nyata atau hipotetis) harus didasarkan pada definisi yang jelas dan istilah spesifik mengenai masalah, pemecahan masalah, dan solusi. Sebagai contoh, di bidang mengenai masalah sosial, model pemecahan masalah yang disajikan, masalah didefinisikan sebagai suatu situasi kehidupan di mana terjadi ketidaksesuaian antara tuntutan dan ketersediaan respon koping yang efektif. Didefinisikan dengan cara ini, uji permasalahan memungkinkan mengatur kesempatan untuk pemecahan masalah, yang merupakan proses dimana seseorang mencoba untuk menemukan solusi yang efektif. Karena Jawaban para peserta tes adalah hasil dari proses ini, dapat dilihat sebagai indikator yang valid dari kemampuan pemecahan masalah. Di sisi lain, jika definisi ini tidak digunakan untuk membangun atau memilih item tes, maka seseorang tidak dapat mengasumsikan bahwa tes ini mengukur kemampuan pemecahan masalah. Sebaliknya, sebagian atau seluruh tanggapan pengujian bisa saja menjadi produk dari "pemrosesan otomatis", atau langsung, pengambilan respon langkah-tunggal koping sebelumnya belajar dari memori (Burns & D'Zurilla, 1999; Logan, 1988). Meskipun tes dapat dilihat sebagai

(39)

pengukuran, kebenarannya sebagai pengukuran kemampuan pemecahan masalah bisa serius dipertanyakan.

Kemampuan pemecahan masalah yang baik tercermin dari skor yang lebih tinggi pada orientasi masalah positif dan rasional dalam memecahkan masalah dan skor rendah pada orientasi masalah negatif, gaya kecerobohan-implusif, dan gaya menghindar. Dua tipe umum dari pengukuran pemecahan masalah sosial adalah pengukuran proses dan pengukuran hasil. Pengukuran proses menilai kekuatan dan kelemahan dalam aktivitas kognitif-perilaku yang merupakan proses pemecahan masalah (yaitu, proses pencarian solusi untuk masalah), sedangkan pengukuran hasil mengukur kualitas solusi yang spesifik untuk masalah tertentu (D’Zurilla, Nezu & Maydeu-Olivares, 2004).

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka peneliti merumuskan bahwa pemecahan masalah adalah suatu bentuk penyelesaian dalam mengatasi masalah dimana sebuah kelompok berada dalam suatu kondisi sedang terlibat masalah dan mulai memikirkan sebuah proses untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang efektif dan efisien.

2. Aspek-aspek Pemecahan Masalah

Polya (Ellis & Hunt, 1993) menjelaskan aspek-aspek pemecahan masalah, yaitu:

a. Pemahaman masalah.

Agar dapat terselesaikan, masalah harus dipahami terlebih dahulu. Terlepas dari sifat masalah, kunci untuk solusi yang sukses terletak pada

(40)

bagaimana menafsirkan masalah tersebut. Dalam menafsirkan masalah, berbagai faktor mungkin perlu diidentifikasi termasuk apa yang diketahui atau diberikan tentang masalah ini, kriteria untuk solusi, kendala ditempatkan pada solusi, dan berbagai pilihan solusi. Informasi apa yang diketahui dan yang tidak diketahui dalam masalah tersebut. Informasi apa yang hilang dan yang tidak diperlukan.

b. Merancang rencana.

Mampu menghasilkan satu solusi atau lebih dalam berbagai cara, dengan mempertimbangkan kemungkinan yang mungkin terjadi. Dapat pula menghasilkan solusi yang tidak sistematis, sebaliknya, dapat pula menghasilkan solusi yang sistematis dan terorganisir. Cari dan buat pola untuk menyelesaikan masalah tersebut. Periksa masalah terkait dan tentukan apakah pola yang sama dapat diterapkan. Periksa kasus sederhana atau khusus untuk mendapatkan wawasan tentang solusi dari masalah asli.

c. Melaksanakan rencana.

Menerapkan strategi dan melakukan tindakan yang diperhitungkan atau diperlukan. Memeriksa setiap tahap rencana dan menulis rincian yang membuktikan bahwa setiap tahapan sudah benar.

d. Evaluasi.

Mengevaluasi solusi yang telah dilakukan untuk menjadi pertimbangan dalam melihat efektifitas dari alternatif solusi. Periksa hasil dari penerapan solusi, dapat dengan menggunakan bukti. Tentukan apakah ada

(41)

metode lain untuk menemukan solusi. Jika memungkinkan, tentukan masalah yang terkait atau masalah yang lebih umum lainnya dimana rencana akan bekerja dengan baik.

D'Zurilla, Nezu dan Maydeu-Olivares (2004) mengidentifikasi empat kemampuan memecahkan masalah:

a. Definisi masalah dan perumusan.

Dalam definisi masalah dan perumusan, pemecah masalah mencoba untuk menjelaskan dan memahami masalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta-fakta spesifik dan konkrit tentang masalah, mengidentifikasi tuntutan dan hambatan, dan mengaturtujuan pemecahan masalah yang realistis (misalnya, mengubah situasi untuk lebih baik, menerima situasi, dan meminimalkan gangguan emosi).

b. Pembentukan solusi alternatif.

Dalam pembentukan solusi alternatif, fokus pada tujuan pemecahan masalah dan mencoba untuk mengidentifikasi solusi potensial sebanyak mungkin, termasuk kedua solusi konvensional dan solusi asli.

c. Pengambilan keputusan.

Dalam pengambilan keputusan, pemecah masalah mengantisipasi konsekuensi dari setiap solusi yang berbeda, lalu dinilai dan dibandingkan, dan kemudian memilih solusi "terbaik" atau solusi yang berpotensi paling efektif.

(42)

d. Implementasi solusi dan verifikasi.

Pada implementasi solusi dan verifikasi, seseorang dengan cermat mengawasi serta mengevaluasi hasil dari solusi yang dipilih setelah berusaha menerapkannya dalam situasi bermasalah di dalam kehidupan nyata.

Menurut Stein dan Book (2004) ada enam langkah dalam pemecahan masalah, yaitu:

a. Rumuskan masalah.

Perhatikan dengan seksama apa masalahnya, uraikan secermat dan serealistik mungkin. Cobalah lihat masalah tersebut dari sudut pandang orang lain, untuk memastikan bahwa pandangan kita tidak terlalu sempit. b. Temukan alternatif pemecahan.

Pikirkan sebanyak mungkin cara pemecahan dan pendekatan masalah.

c. Nilailah setiap alternatif pemecahan.

Apabila kita telah memikirkan pemecahan di benak kita bahkan yang lebih baik sudah tertuang di atas kertas, amati setiap alternatif itu dan perkirakan kemungkinan hasilnya. Susunlah prioritas alternatif pemecahan, mulai dari yang paling baik sampai yang paling kurang baik.

d. Pilih alternatif pemecahan yang paling baik.

Tiba waktunya untuk memikirkan resiko, menyadari akibat yang ditimbulkan. Yakinkan diri bahwa keputusan untuk mengambil resiko dan

(43)

tindakan telah didasarkan pada pengumpulan informasi yang masuk akal dan sudah dianalisis.

e. Laksanakan alternatif pemecahan.

Hindari pikiran berandai-andai atau seharusnya begini-begitu. Berilah kesempatan pada strategi yang telah kita pilih itu untuk dicobakan.

f. Nilai hasilnya.

Evaluasilah apakah alternatif pemecahan yang kita tetapkan itu berhasil memecahkan masalah.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka peneliti merumuskan aspek-aspek pemecahan masalah yaitu pemahaman masalah, merancang rencana, melaksanakan rencana serta evaluasi.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemecahan Masalah

Secara umum Rakhmat (2007) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemecahanan masalah diantaranya adalah faktor situasional dan personal. Faktor situasional terjadi pada stimulus yang menimbulkan masalah, pada sifat-sifat masalah seperti sulit-mudah, baru-lama, penting-kurang penting, melibatkan sedikit atau banyak masalah lain. Rakhmat (2007) juga menjelaskan bahwa beberapa penelitian telah membuktikan pengaruh, yaitu faktor biologis dan sosiopsikologis. Faktor biologis yang dimaksud seperti kelelahan, rasa lapar, kurang tidur, dan lain-lain. Sedangkan faktor sosiopsikologis yang dapat mempengaruhi pemecahan masalah adalah:

(44)

a. Motivasi.

Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas.

b. Kepercayaan dan sikap yang salah.

Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Sikap yang defensif misalnya, karena kurang kepercayaan pada diri sendiri akan cenderung menolak informasi baru, merasionalisaikan kekeliruan, dan mempersukar penyelesaian.

c. Kebiasaan.

Kecenderungan untuk mempertahankan pola berpikir tertentu, atau melihat suatu masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, menghambat pemecahan masalah yang efisien.

d. Emosi.

Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara perpikir kita. Kita tiak pernah dapat berpikir yang betul-betul objektif. Sebagai manusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Sampai disitu, emosi bukan hambatan utama. Tetapi apabila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah kita menjadi sulit berpikir efisien.

(45)

Wilson (1993) mengemukakan ada tiga faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah, yaitu:

a. Rencana-rencana terperinci dan spesifikasi-spesifikasi teknis teknis.

Wilson (1993) menjelaskan serta memberikan contoh pada kegiatan yang terjadi pada sebuah proyek jasa konstruksi. Dikemukakan bahwasanya aturan-aturan yang sangat detil dari hal yang dapat berdampak besar hingga sepele yang diterapkan di Inggris justru malah menghambat proses pembangunan. Hal tersebut justru malah mengulur waktu sehingga individu yang berperan sebagai inisiator pekerjaan seakan merasa tidak dihargai efektifitas dan efisiensinya.

b. Kelompok-kelompok besar dan terpusat yang mencoba untuk mengembangkan solusi-solusi optimal dengan cara yang benar-benar terpadu.

Faktor tersebut bukan menunjukkan bahwa tidak ada sebuah solusi yang berhasil dikembangkan oleh sebuah kelompok yang terpusat dan besar. Wilson mengemukakan bahwa bagaimanapun juga solusi-solusi lebih banyak telah berhasil dicapai oleh kebalikannya, seperti kelompok-kelompok yang kecil dan tidak terpusat yang mencoba untuk mengembangkan solusi-solusi optimal tanpa memperdulikan keterpaduan.

c. Mencari penyelesaian melalui teknologi yang canggih.

Mencari penyelesaian melalui teknologi yang canggih bukan suatu hal yang salah. Namun jika tidak hati-hati hal tersebut justru akan menjadi

(46)

penghambat individu sendiri karena terkadang individu tidak melihat tingkat kemampuan dan kebutuhannya sebelum mengambil langkah tersebut. Sehingga antara teknologi yang digunakan dengan kemampuan dan kebutuhan individu tidak sesuai.

Berdasarkan penjelasan di atas maka faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kondisi fisiologis, motivasi, kepercayaan, kebiasaan dan emosi. Sedangkan faktor eksternal atau situasional meliputi sifat masalah itu sendiri, rencana-rencana yang terperinci dan spesifikasi-spesifikasi teknis, kelompok-kelompok besar dan terpusat yang mencoba untuk mengembangkan solusi-solusi optimal dengan cara yang benar-benar terpadu serta mencari penyelesaian melalui teknologi yang canggih.

B. Kohesivitas Kelompok 1. Pengertian Kohesivitas Kelompok

Robbins (2002) menungkapkan bahwa kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut. Misalnya, anggota suatu kelompok yang kompak karena menghabiskan banyak waktu bersama, atau kelompok yang lebih berpengalaman dalam menghadapi ancaman dari luar menyebabkan anggotanya lebih dekat satu sama lain.

(47)

Robbins dan Judge (2009) menyatakan kohesivitas kelompok sebagai tingkat dimana para anggotanya saling tertarik dan termotivasi untuk tinggal dalam kelompok tersebut. Kohesivitas kelompok adalah kekuatan dalam ikatan yang menghubungkan anggota terhadap kelompok (Forsyth, 2010).

Ada beberapa definisi lain yang diungkapkan oleh beberapa ahli berdasarkan konsep intinya, yaitu: pertama jika dilihat dari daya tarik antar anggota kelompok. Lott dan Lott (Forsyth, 2010) mendefinisikan kohesivitas dalam kelompok kecil yaitu istilah daya tarik anggota dimana kelompok yang diduga berasal dari jumlah dan kekuatan perilaku positif antar anggota dari kelompok.

Kedua jika dilihat dari daya tarik anggota dengan kelompok secara keseluruhan. Konsep ini dikemukakan oleh Nixon (Forsyth, 2010), menyebutkan bahwa kohesif yang merujuk pada daya tarik anggota terhadap kelompok secara keseluruhan, semacam property sintetik atau agregatif dari jumlah daya tarik perasaan terhadap kelompok dari tiap individu anggota kelompok. Dalam konsep yang sama juga Thye, Yoon dan Lawler (Forsyth, 2010), memberikan definisi kohesi relasional sebagai rasa kebersamaan dari sesuatu yang lebih besar yang menyatukan pemain dengan aksinya,

Konsep inti yang ketiga adalah rasa kepemilikan dan moral. Bollen dan Hoyle (Forsyth, 2010), mendefinisikan rasa kohesif meliputi rasa kepemilikan seorang individu terhadap kelompok tertentu dan rasa moralnya diasosiasikan dengan keanggotaan dalam kelompok tersebut.

(48)

Keempat yaitu tentang kekuatan dari tenaga sosial yang menahan seseorang untuk tidak meninggalkan kelompok. Festinger (Forsyth, 2010) memberikan definisi kohesif dalam sebuah kelompok yaitu sebagai hasil dari semua kemampuan para anggota untuk tetap berada di dalam kelompok. Kekuatan ini mungkin bergantung pada daya tarik dan tidak menarik baik itu dari gengsi kelompoknya, anggota kelompoknya atau aktivitas yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Kelima, konsep tentang kecenderungan untuk tetap bersama atau berkumpul bersama dengan kelompok. Chan, To dan Chan (Forsyth, 2010) menjelaskan kohesi sosial juga seharusnya dipahami sebagai situasi mengenai seberapa baik orang-orang di dalam sebuah mesyarakat berkohesif atau tetap bersatu antar satu orang dengan yang lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa yang dimaksud kohesivitas kelompok adalah sebuah penyatuan kelompok dari para anggotanya yang didasari atas rasa saling memiliki, menyukai, membantu dan bersama-sama saling mendukung untuk tetap bertahan dalam sebuah kelompok untuk mencapai tujuan yang sama. Atau secara umum dapat dijelaskan sebagai kecenderungan anggota kelompok untuk membentuk suatu ikatan sosial, sehingga para anggota saling memiliki dan tetap bersatu.

(49)

2. Aspek-Aspek Kohesivitas Kelompok

Forsyth (2010) menyatakan bahwa ada empat komponen dalam kohesivitas, yakni kohesi sosial, kohesi tugas, kohesi perasaan dan kohesi emosional.

a. Kohesi sosial

Kohesi sosial merupakan suatu daya tarik antar anggota kelompok untuk membentuk sebuah kelompok sebagai suatu keseluruhan, menekankan dampak tarik-menarik (baik individu dan kelompok) pada kohesivitas.

b. Kohesi tugas

Kohesi tugas merupakan kapasitas untuk melakukan suatu keberhasilan dari unit yang terkoordinasi dan sebagai bagian dari sebuah kelompok. Kekuatan kelompok terfokus pada tugas, dan tingkat kerja sama tim yang ditampilkan oleh anggota kelompok karena mereka mengkoordinasikan upaya mereka dan tingkat kelompok dari efikasi kolektif. c. Kohesi perasaan

Kohesi perasaan merupakan kesatuan anggota kelompok yang didasarkan pada perasaan kebersamaan. Sejauh mana anggota kelompok merasa seolah-olah mereka termasuk dalam kelompok (secara individu) dan keseluruhan kelompok (secara berkelompok).

(50)

d. Kohesi emosional

Kohesi emosional merupakan intensitas emosional kelompok dan individu ketika berada dalam kelompok dan sering dideskripsikan sebagai rasa kebersamaan.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka peneliti merumuskan aspek-aspek kohesivitas kelompok yaitu kohesi sosial, kohesi tugas, kohesi perasaan kohesi emosional.

C. Hubungan Antara Kohesivitas Kelompok dengan Pemecahan Masalah

Kekompakan anggota merupakan karakteristik kelompok sebagai suatu kesatuan, dan merupakan hasil dari tingkat ikatan masing-masing anggota terhadap kelompoknya. Dalam kelompok yang kohesif, daya tarik antar pribadi yang terjadi antar anggota merupakan kekuatan positif. Bila anggota kelompok saling menyukai satu sama lain dan dieratkan dalam ikatan persahabatan, kohesivitas kelompok tersebut akan semakin tinggi. Kesesuaian tujuan pribadi anggota dengan tujuan kelompok merupakan dasar motivasi bagi para individu untuk tetap tinggal dalam kelompok tersebut (Budiharto, 2004). Motivasi individu untuk tetap bertahan dalam suatu kelompok juga dipengaruhi oleh tujuan kelompok. Ketertarikan individu pada kelompok akan bergantung pada kesesuaian antara tujuan individu dengan tujuan kelompok, dan pada seberapa sukseskah kelompok tersebut mencapai tujuannya (Taylor, Peplau & Sears, 2009).

(51)

Individu yang berhasil memecahkan masalah memandang masalah sebagai tantangan yang harus diatasi atau sebagai pengalaman berharga yang akan membantunya menjadi semakin kuat dan berkembang (Stein dan Book, 2004). Individu yang pintar memecahkan masalah mempunyai kelebihan yang vital karena dapat mengenali kendala yang mungkin menghambatnya mencapai sasaran dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan kerja (Stein dan Book, 2004). D’Zurilla dan Nezu (Stein dan Book, 2004) telah menerbitkan puluhan penelitian yang menunjukkan bahwa melatih pemecahan masalah dengan lebih baik dapat sangat berpengaruh pada kemampuan menghadapi masalah di semua bidang kehidupan.

Mencurahkan perhatian pada pemecahan masalah sangatlah penting. Di lingkungan kerja di mana pun, para penyelia akan meminta pegawainya menghadap mereka bukan melaporkan kesulitan yang mereka hadapi, melainkan menyampaikan pemecahan masalah yang siap dijalankan. Dalam era ekonomi yang semakin sarat persaingan dewasa ini, yang dibutuhkan adalah pemecah masalah, bukan pelopor atau pengumpul masalah. Tuntutan ini, apabila kita dapat memenuhinya, akan membuat kita menjadi semakin mandiri (Stein dan Book, 2004).

Dalam menghadapi masalah, jika masalahnya memerlukan pengolahan yang majemuk, interaksi antara para anggota yang memiliki informasi yang berbeda, pertimbangan cermat dari alternatif penyelesaiannya, maka pemecahan masalah secara kelompok akan memberikan penyelesaian yang paling baik (Munandar, 2008). Pada tugas yang kompleks, produktivitas kelompok akan tergantung bukan

(52)

hanya pada usaha dan keterampilan individu, tetapi juga pada kemampuan kelompok untuk mengkoordinasi aktivitas-aktivitas individual (Taylor, Peplau & Sears, 2009).

Setiap individu dalam melaksanakan tugas pekerjaannya akan menemui kesulitan, menemui masalah yang bersifat perorangan dapat juga yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas oleh seluruh kelompok. Kelompok dapat membantu memecahkan masalah, yang dialami oleh salah seorang anggotanya, dengan pengumpulan data yang diperlukan dan/atau pemberian alternatif penyelesaian. Pada masalah yang dihadapi kelompok, para anggota kelompok dapat saling mengisi dalam usaha dan sumbangan mereka memecahkan masalah kelompoknya (Munandar, 2008).

Kehadiran orang lain dapat meningkatkan dorongan atau motivasi dan memperkuat tendensi untuk menjalankan respons dominan atau respons yang sudah dikuasai dengan baik. Jika respons dominan benar, maka kinerja akan bertambah, namun jika respons dominan salah, maka kinerja akan berkurang. Peningkatan tersebut akan bergantung pada tugasnya. Jika suatu tugas membutuhkan respons yang telah dikuasai dengan baik, maka peningkatan motivasi akan membantu kinerja. Kehadiran orang lain akan meningkatkan kinerja pada tugas-tugas yang relatif sederhana. Sedangkan ketika tugas itu tidak dikuasai dengan baik, kehadiran orang lain mungkin akan menghambat kinerjanya (Taylor, Peplau & Sears, 2009).

(53)

Terkadang seseorang akan tampil lebih baik saat berada di tengah-tengah orang lain daripada sendirian, dampak seperti ini dikenal sebagai fasilitasi sosial. Teori fasilitasi sosial menyatakan bahwa kehadiran orang lain akan meningkatkan keterangsangan dan dapat memperbaiki atau memperburuk kinerja, tergantung dari tepat-tidaknya respons dominan yang muncul dalam situasi tersebut (Baron & Byrne, 2005). Fasilitasi sosial terjadi di saat orang lain juga mengerjakan tugas yang sama dan ketika orang tersebut menjadi seorang penonton atau hanya sekedar mengamati saja. Dengan adanya kehadiran orang lain baik sebagai penonton atau sebagai rekan dapat mempengaruhi kinerja kita dalam banyak tugas. Tetapi kehadiran orang lain terkadang dapat pula menghambat performa individu, reaksi ini disebut juga hambatan sosial (Taylor, Peplau & Sears, 2009). Perihal pemecahan masalah kelompok, fasilitasi sosial dapat mempengaruhi kelompok dalam memecahkan masalah.

Level kohesif yang tinggi biasanya bermanfaat bagi pelaksanaan fungsi dan tujuan kelompok. McGrath (Taylor, Peplau & Sears, 2009) menyatakan bahwa anggota kelompok yang sangat kohesif cenderung dipengaruhi oleh kelompok tersebut dan ingin menyesuaikan diri dengan norma kelompok. Anggota kelompok yang kohesif lebih siap untuk berpartisipasi di dalam pertemuan-pertemuan kelompok. Mereka lebih setuju terhadap tujuan kelompok, lebih siap menerima tugas-tugas dan peranan serta lebih mentaati norma-norma kelompok. Mereka juga memelihara dan mempertahankan norma-norma serta menolak orang lain yang merasa tidak sesuai dengan norma kelompok. Mullen dan Cooper (Taylor, Peplau &

Gambar

Gambar 1. Grafik Hasil Uji Normalitas Pemecahan Masalah ………………. 154 Gambar 2. Grafik Hasil Uji Normalitas Kohesivitas Kelompok ………….
GRAFIK HASIL UJI NORMALITASGRAFIK HASIL UJI NORMALITAS

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1)Pendekatan pembelajaran PMR dan OE terhadap kemampuan pemecahan masalah; (2) peningkatan kemampuan pemecahan masalah

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan strategi pemecahan masalah Polya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan

Penelitian ini bertujuan untuk; mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa, mengetahui apakah setelah pembelajaran rata-rata hasil kemampuan pemecahan masalah lebih

Dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus, dimana di akhir setiap siklus diberikan tes kemampuan pemecahan masalah untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah dengan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses belajar matematika siswa, kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada setiap siklus, kemampuan pemecahan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan kognitif dan pemecahan masalah siswa, level pemecahan masalah siswa, hubungan antara kemampuan kognitif

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematik siswa MTs di Kabupatan Bandung Barat dengan indikator kemampuan pemecahan masalah