• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA KETERPADUAN INFRASTRUKTUR WILAYAH PENGEMBANGAN STRATEGIS

1

Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSDIKLAT JALAN, PERUMAHAN, PERMUKIMAN, DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR WILAYAH

BANDUNG

2017

(2)

ii 1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

(3)

1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah i

KATA PENGANTAR

Wilayah Pengembangan Strategis adalah basis perencanaan keterpaduan infrastruktur yang menstimulasi pembangunan infrastruktur agar secara bersamaan cluster industri dan perkotaan tumbuh serta pelabuhan sebagai transportasi agar hasil ekspor mempunyai daya saing yang lebih tinggi.

Pusdiklat Jalan, Perumahan, Permukiman dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (JPPIW), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyadari bahwa untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi wilayah dan mengurangi kesenjangan antar wilayah diperlukan program pelatihan bagi Aparat Sipil Negara di lingkungan Kementerian PUPR yang kompeten dalam merencanakan keterpaduan infrastruktur wilayah pengembangan strategis.

Dalam modul I membahas tentang hakekat infrastruktur dan pengembangan wilayah yang mencakup hakekat tentang infrastruktur wilayah dan hakekat tentang pengembangan wilayah.

Semoga modul ini diharapkan dapat bermanfaat untuk peningkatan kualitas dan kompetensi SDM di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan modul ini diucapkan terima kasih

Bandung, September 2017

Kepala Pusat Pendidikan dan

Pelatihan

Jalan, Perumahan, Permukiman, dan

Pengembangan Infrastruktur Wilayah

(4)

ii 1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI... ii

DAFTAR GAMBAR ... iv

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... vi

1. Deskripsi ... vi

2. Persyaratan ... vi

3. Metode ... vi

4. Alat Bantu/Media ... vi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 2

1.2 Deskripsi Singkat ... 3

1.3 Tujuan Pembelajaran ... 3

1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok ... 3

1.5 Estimasi Waktu ... 4

BAB 2 Hakekat tentang infrastruktur ... 5

Indikator keberhasilan ... 6

2.1 Hakekat tentang Sumber Daya Air... 6

2.2

Hakekat tentang Bina Marga ... 24

2.3

Hakekat tentang Ke-Cipta Karya-an ... 36

2.4

Hakekat Tentang Perumahan ... 60

2.5 Hakekat Tentang Infrastruktur Non-PUPR ... 62

2.6 Latihan ... 95

2.7 Rangkuman... 96

BAB 3 Hakekat Tentang Pengembangan wilayah ... 98

Indikator Hasil Belajar ... 99

3.1 Hakekat Tentang Sistem Perencanaan Nasional ... 99

3.2 Hakekat Tentang Penataan Ruang... 104

(5)

1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah iii

3.3 Hakekat Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup ... 108

3.4 Hakekat Tentang Pemerintah Daerah ... 110

3.5 Hakekat Tentang Pengembangan Wilayah Strategis dan Kawasan Strategis ... 111

3.6 Latihan ... 119

3.6 Rangkuman ... 119

BAB 4 PENUTUP ... 121

4.1 Evaluasi Kegiatan Belajar ... 122

4.2 Umpan Balik Dan Tingkat Lanjut ... 123

4.3 Kunci Jawaban ... 123

DAFTAR PUSTAKA ...124

GLOSARIUM ...125

(6)

iv 1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Hubungan Antar Hirarki Kota Dengan Peranan Ruas Jalan Dalam

Sistem Jaringan Jalan Primer ... 29

Tabel 2. 2 Hubungan Antara Kawasan Kota Dengan Peranan Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder 
 ... 32

Tabel 2. 3 Fungsi Jalan Dikaitkan Dengan Penanggung jawab Pembinaan ... 35

Tabel 2. 4 Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota ... 45

Tabel 3. 1 Aspek Pengelolaan Kawasan ... 112

Tabel 3. 2 Karakteristik Kawasan Ekonomi dan Strategis Nasional di Indonesia ... 115

(7)

1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Dampak dari Pengembangan DAS yang Tidak Terkendali ... 7

Gambar 2. 2 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai ... 13

Gambar 2. 3 Peta Kodefikasi Wilayah Sungai di Indonesia ... 15

Gambar 2. 4 Peta Pembagian Wilayah Sungai (Aceh) ... 16

Gambar 2. 5 Bagan Alir Pola Dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air ... 20

Gambar 2. 6 Skema Sistem Jaringan Jalan Primer ... 30

Gambar 2. 7 Skema Sistem Jaringan Jalan Sekunder ... 32

Gambar 2. 8 Sistem penyaluran air dengan gravitasi, b. Sistem penyaluran air dengan pompa, dan c. Sistem penyaluran air gabungan (Agustina 2005) ... 44

Gambar 2. 9 Diagram Penanganan Sampah ... 48

Gambar 2. 10 Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System) ... 52

Gambar 2. 11 Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System) ... 53

Gambar 2. 12 Skematik Lay-Out Drainase Minor dan Mayor Sistem Drainase Perkotaan ... 54

Gambar 2. 13 Perubahan Paradigma Pengelolaan Drainase ... 56

Gambar 2. 14 Konsep Eko Drainase ... 57

Gambar 2. 15 Ruang Terbuka Hijau ... 59

Gambar 2. 16 Bentuk Pelabuhan Buatan (Sumber : Triatmodjo, 1992)
 ... 68

Gambar 2. 17 Bentuk Pelabuhan Alam (Sumber : Triatmodjo, 1992)... 69

Gambar 2. 18 Bentuk Pelabuhan Semi Alam (Sumber : Triatmodjo, 1992) ... 70

Gambar 2. 19 Sistem Bandar Udara Sumber: Basuki (1986) ... 81

Gambar 2. 20 Tiga Generasi Transportasi Kereta JABODETABEK ... 85

Gambar 2. 21 Ilustrasi Kereta Maglev Shanghai - China ... 86

Gambar 2. 22 Stasiun kereta api bawah tanah Jubilee di London ... 88

Gambar 2. 23 Rencana terowongan MRT Jakarta ... 89

Gambar 2. 24 Hong Kong MTR yang beroperasi pada jaringan dengan kapasitas tinggi ... 92

Gambar 2. 25 Jenis Gerbong Kereta Muatan Barang ... 94

Gambar 3. 1 Pendekatan Perencanaan Pembangunan ... 100

Gambar 3. 2 Skema Rencana Pembangunan Pusat dan Daerah ... 101

Gambar 3. 3 Kerangka Kebijakan Pembangunan 2015-2019 ... 102

Gambar 3. 4 Hirarki Perencanaan ... 103

Gambar 3. 5 RPJPN Indonesia 2005-2025 ... 104

(8)

vi 1-Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

1. Deskripsi

Modul Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah ini terdiri dari dua kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar pertama membahas terkait hakekat tentang infrastruktur dengan sub materi: hakekat tentang sumber daya air; hakekat tentang bina marga; hakekat tentang keciptakaryaan;

hakekat tentang perumahan dan hakekat tentang infrastruktur Non PUPR.

Kegiatan belajar kedua hakekat pengembangan wilayah dengan sub materi: hakekat tentang sistem perencanaan nasional; hakekat penataan ruang; hakekat tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;

hakekat tentang pemerintah daerah; hakekat tentang pengembangan wilayah strategis dan kawasan strategis. Peserta pelatihan mempelajari keseluruhan modul ini guna memudahkan dalam praktek pelaksanaannya.

2. Persyaratan

Dalam mempelajari modul ini peserta pelatihan perlu dilengkapi dengan buku Kamus istilah pengembangan wilayah yang dikeluarkan Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah

3. Metode

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara, adanya kesempatan tanya jawab, bahkan diskusi.

4. Alat Bantu/Media

Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat Bantu/Media pembelajaran tertentu, yaitu:

4.1 LCD/projector 4.2 Laptop

4.3 Papan tulis atau white board dengan penghapusnya 4.4 Flip chart

4.5 Bahan tayang

4.6 Modul dan/atau bahan ajar

(9)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 1

BAB 1

PENDAHULUAN

(10)

2 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pengembangan wilayah merupakan upaya untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antarwilayah, dan menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Kebijakan pengembangan wilayah sangat diperlukan karena kondisi fisik geografis, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang sangat berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya sehingga penerapan kebijakan pengembangan wilayah itu sendiri harus disesuaikan dengan kondisi, potensi, dan isu permasalahan di wilayah bersangkutan.

Wilayah Pengembangan Strategis adalah basis perencanaan keterpaduan infrastruktur yang menstimulasi pembangunan infrastruktur agar secara bersamaan kluster industri dan perkotaan tumbuh serta pelabuhan sebagai transportasi agar hasil ekspor mempunyai daya saing yang lebih tinggi.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, diperlukan upaya peningkatan kapasitas dan kompetensi para Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui pelatihan yang ditunjang dengan materi pengajaran yang komprehensif.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah akan melaksanakan Pelatihan Rencana Keterpaduan Infrastruktur Wilayah Pengembangan Strategis (WPS).

Modul Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah akan

membahas tentang hakekat infrastruktur dan hakekat

pengembangan wilayah dalam rangka perencanaan keterpaduan

infrastruktur wilayah pengembangan strategis. Modul ini akan

menjadi pemahaman dasar bagi para peserta pelatihan dalam

melaksanakan perencanaan keterpaduan infrastruktur di WPS

(11)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 3

1.2 Deskripsi Singkat

Mata pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali peserta pemahaman dan yang berkaitan dengan infrastruktur dan pengembangan wilayah. Pelatihan ini disajikan dengan menggunakan metode pembelajaran ekspositori dan diskusi.

1.3 Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran terdiri dari hasil belajar dan indikator hasil belajar sebagai berikut:

1.3.1 Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran ini para peserta diharapkan akan mampu memahami hakekat infrastruktur dan pengembangan wilayah.

1.3.2 Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta mampu:

Menjelaskan hakekat tentang infrastruktur

Menjelaskan hakekat tentang pengembangan wilayah

1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

Dalam modul Hakekat Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah terdapat beberapa materi yang akan dibahas, yaitu sebagai berikut:

1.4.1 Hakekat Tentang Infrastruktur

A. Hakekat Tentang Sumber Daya Air B. Hakekat Tentang Bina Marga C. Hakekat Tentang Keciptakaryaan D. Hakekat Tentang Perumahan

E. Hakekat Tentang Infrastruktur Non PUPR

(12)

4 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

1.4.2 Hakekat Pengembangan Wilayah

A. Hakekat Tentang Sistem Perencanaan Nasional B. Hakekat Tentang Penataan Ruang

C. Hakekat Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

D. Hakekat Tentang Pemerintah Daerah

E. Hakekat Tentang Pengembangan Wilayah Strategis dan Kawasan Strategis

1.5 Estimasi Waktu

Alokasi waktu yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan belajar

mengajar untuk mata pelatihan Hakekat Infrastruktur dan

Pengembangan Wilayah pada peserta pelatihan ini adalah 2 JP (jam

pelajaran).

(13)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 5

BAB 2

HAKEKAT TENTANG INFRASTRUKTUR

(14)

6 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Indikator keberhasilan

Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan hakekat tentang infrastruktur

URAIAN MATERI

2.1 Hakekat tentang Sumber Daya Air 2.1.1 Umum

Salah satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak dapat terpisahkan adalah Air. Tidak hanya penting bagi manusia Air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup baik hewan dan tubuhan. Tanpa air kemungkinan tidak ada kehidupan di dunia inti karena semua makhluk hidup sangat memerlukan air untuk bertahan hidup.

Berdasarkan UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Pengelolaan sumberdaya air didefinisikan sebagai aplikasi dari cara struktural dan non-struktural untuk mengendalikan sistem sumberdaya air alam dan buatan manusia untuk kepentingan/manfaat manusia dan tujuan-tujuan lingkungan (Kodoatie, et al., 2002). Sumber daya air merupakan bagian dari sumber daya yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan sumber daya alam lainnya.

Air adalah sumber daya yang terbarui, bersifat dinamis mengikuti siklus hydrologi yang secara alamiah berpindah-pindah serta mengalami perubahan bentuk dan sifat. Tergantung dari waktu dan lokasinya, air dapat berupa zat padat sebagai es dan salju, dapat berupa air yang mengalir serta air permukaan. Berada dalam tanah sebagai air tanah, berada di udara sebagai air hujan, berada di laut sebagai air laut, dan bahkan berupa uap air yang didefinisikan sebagai air udara.

Namun, ketersediaan air sangat bervariasi menurut ruang dan waktu.

Sosiawan, et, al. (2009) menyatakan sebagai contoh, Jawa yang penduduknya mencapai 65% dari total penduduk Indonesia, hanya tersedia 4,5% potensi air tawar nasional. Faktanya, jumlah air yang tersedia di Jawa

(15)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 7

yang mencapai 30.569,2 juta m3/tahun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bagi seluruh penduduknya. Artinya di pulau yang terpadat penduduknya ini selalu terjadi defisit air paling tidak hingga tahun 2015.

Defisit akan terus meningkat jika tidak ada upaya konservasi air dan efisiensi pemanfaatannya. Di wilayah lain, walaupun pada tahun yang sama masih tergolong surplus air, secara umum kelebihan air tersebut jumlahnya menurun, dan ketersediaannya sangat berfluktuasi antara musim hujan dan musim kemarau.

Gambar 2. 1 Dampak dari Pengembangan DAS yang Tidak Terkendali

Dewasa ini permasalahan yang cenderung dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air meliputi:

 adanya kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan;


 persaingan dan perebutan air antara daerah hulu dan hilir atau konflik antara berbagai sektor;


(16)

8 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

 penggunaan air yang berlebihan dan kurang efisien;


 penyempitan dan pendangkalan sungai, danau karena desakan lahan untuk pemukiman dan industri;


 pencemaran air permukaan dan air tanah; erosi sebagai akibat penggundulan hutan.

Manfaat sumber daya air sebenarnya sangatlah banyak. Berikut adalah beberapa contoh Pemanfaatan Sumber Daya Air bagi kehidupan manusia beserta penjelasannya.

a. Sebagai sumber pengairan dalam pertanian

Sumber daya air yang cukup sangat dibutuhkan untuk mengairi lahan pertanian. Pengairan dalam pertanian sering kali dilakukan petani saat musim kemarau dimana hujan tidak turun. Pengairan juga dilakukan ketika tanaman siap untuk dipanen. Jika tidak ada pengairan, maka tanaman pertanian tidak dapat tumbuh dengan baik. Karena hal tersebut, petani harus memiliki ketersedian sumber daya air yang cukup untuk kebutuhan irigasi.

b. Sebagai pemenuhan kebutuhan rumah tangga

Air sangat sering digunakan dalam kegiatan rumah tangga, misalnya air untuk minum, mandi, mencuci dan memasak. Sumber daya air pemenuh kebutuhan rumah tangga biasanya berasal dari air tanah. Setiap rumah biasanya mempunyai sumur air tanah dengan kedalaman 5 meter sampai 15 meter untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Tidak hanya memanfaatkan sumber air tanah, setiap keluarga hendaknya juga berusaha menjaga kelestarian sumber daya air tanah. Salah satunya adalah dengan membuat sumur resapan air hujan sebagai bentuk konservasi air tanah.

c. Sebagai sumber tenaga listrik

Sumber daya air menjadi salah satu sumber pembangkit tenaga listrik yang disebut dengan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air).

Air yang mengalir deras dari sumbernya dapat dimanfaatkan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Turbin yang berputar akan

(17)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 9

mengubah energi potensial dari air menjadi energi mekanis. Energi mekanis lalu diubah oleh generator listrik menjadi energi listrik. Hal tersebut membuat pemerintah membangun banyak waduk dan bendungan untuk menampung dan mengalirkan air sehingga mencukupi kebutuhan air untuk membangkitkan tenaga listrik.

Berkembangnya industri turut mempengaruhi meningkatnya kebutuhan akan listrik. Mesin- mesin produksi dalam kegiatan industri dan peralatan rumah tangga banyak yang menggunakan energi listrik. Pemerintah belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan listrik di semua wilayah Indonesia. Banyak daerah- daerah pedalaman yang belum mendapatkan akses listrik.

Bagi daerah yang mempunyai aliran sungai yang kuat dan belum mendapat akses listrik, dapat membuat sumber energi listrik sendiri dengan menggunakan prinsip pemanfaatan mikrohidro.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dengan cara membendung air sungai kemudian dialirkan ke parit atau bak penampungan air. Air yang telah disaring di penampungan kemudian dialirkan melalui pipa penstcok menuju ke sebuah tempat yang disebut power house. Di dalam power house terdapat turbin, generator dan tranformator yang berfungsi mengubah energi potensial air menjadi energi listrik serta memperbesar tegangan listrik.

d. Sebagai bahan baku industri

Beberapa industri memanfaatkan air sebagai bahan baku dalam proses produksi. Contohnya adalah industri pembuatan es batu dan industri air mineral dalam kemasan. Industri tetap harus mengutamakan kepentingan umum dalam pemanfaatan sumber daya air. Selain itu, industri harus berperan aktif dalam menjaga kelestarian sumber daya air. Hal itu dikarenakan volume air yang dimanfaatkan industri jauh lebih besar dari kuantitas air yang digunakan oleh masyarakat biasa.

e. Sebagai media kebersihan

Air banyak dimanfaatkan sebagai media kebersihan. Misalnya, dalam kegiatan sehari- hari manusia menggunakan air untuk

(18)

10 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

membersihkan badan, membersihkan alat masak dan juga membersihkan rumah. Membersihkan badan termasuk usaha untuk menjaga kesehatan diri. Sumber daya air secara tidak langsung juga mempengaruhi kesehatan manusia terutama dalam hal salinitas. Jika ketersediaan air untuk membersihkan badan tercukupi, maka kesehatan badan bisa tetap terjaga.

f. Sebagai indikator kelestarian lingkungan

Sumber daya air dibutuhkan oleh makhlup hidup lain. Tanaman membutuhkan air untuk tumbuh dan berkembang. Hewan juga membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Jika sumber daya air tidak tersedia, banyak tanaman yang akan mati karena kekeringan dan hewan juga kekurangan air untuk minum. Hal tersebut dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem. Jika banyak tumbuhan yang mati maka polusi udara tidak dapat diuraikan dengan baik sehingga upaya pelestarian lingkungan menjadi terhambat. Oleh karena itu, melakukan konservasi sumber daya air juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan.

g. Memperlancar perekonomian rakyat

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa air berpengaruh terhadap beberapa industri dan juga mata pencaharian masyarakat. Petani membutuhkan air untuk bercocok tanam.

Industri membutuhkan air sebagai bahan baku. Daerah tertentu juga memanfaatkan air sungai untuk sarana transportasi (baca:

Manfaat Sungai). Apabila aliran air untuk kebutuhan masyarakat lancar, maka perekonomian masyarakat juga akan berjalan lancar.

Begitu besar manfaat air bagi semua sektor baik itu dari sektor rumah tangga, pertanian hingga industri, hal diatas cukup membuktikan akan besarnya kebutuhan akan air itu sendiri. Penghematan akan air juga akan mengurangi permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi oleh semua pihak.

Permasalahan air yang semakin komplek ini menuntut pelaksanaan tanggung jawab dalam mengelola sumberdaya air sehingga dapat

(19)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 11

menunjang kehidupan masyarakat dengan baik. Perlu untuk melihat masalah tidak hanya melalui satu skenario belaka, namun dari awal pencarian masalah sampai dengan pengendalian masalah harus mempunyai banyak skenario untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi yaitu melalui penunjukan alternatif-alternatif yang memungkinkan untuk disediakan (Islamy, 2004:34). Berdasarkan UU No 7/2004 tentang Sumberdaya Air, Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air.

Dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 disebutkan, bahwa: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat secara adil dan merata”. Penguasaan yang dimaksud tidak menempatkan negara sebagai pemilik (ownership), tetapi tetap pada fungsi-fungsi penyelenggaraan negara (Sudirja, 2006:7). Selanjutnya pasal ini dijelaskan lebih lanjut dalam UU No.7/2004 tentang sumberdaya air, bahwa:

Pertama; sumberdaya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat serbaguna untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat di segala bidang baik sosial, ekonomi, budaya, politik maupun bidang ketahanan nasional

Kedua; dalam menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun, dan kebutuhan air yang cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, sumberdaya air harus dikelola, dipelihara, dimanfaatkan, dilindungi dan dijaga kelestariannya dengan memberikan peran kepada masyarakat dalam setiap tahapan pengelolaan sumberdaya air.

Ketiga; pengelolaan sumberdaya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan antar wilayah, antar sektor, dan antar generasi dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

(20)

12 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Pernyataan pasal-pasal kedua undang-undang di atas mengingatkan kepada pengelola sumberdaya air tentang pentingnya peran air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Filosofi penguasaan Negara atas air berpangkal dari ketentuan pasal ini. Negara memiliki tanggung jawab penuh terhadap keterjaminan dan keberlanjutan sumberdaya air di bumi Indonesia.

2.1.2 Wilayah Sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air menjelaskan bahwa Wilayah Sungai (WS) adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2. Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Berdasarkan lokasinya, Wilayah Sungai yang terdiri dari satu atau lebih Daerah Aliran Sungai dan/atau pulau-pulau kecil meliputi : 1. Wilayah Sungai Lintas Negara;

2. Wilayah Sungai Lintas Provinsi;

3. Wilayah Sungai Strategis Nasional;

4. Wilayah Sungai Lintas Kabupaten/Kota; dan 5. Wilayah Sungai dalam Satu Kabupaten/Kota.

Sedangkan sistem alur sungai (gabungan antara alur badan sungai dan alur sempadan sungai) merupakan sistem river basin yang membagi DAS menjadi sub-DAS yang lebih kecil. Oleh karenanya segala sesuatu perubahan yang terjadi di DAS akan berakibat pada alur sungai. Areal DAS meliputi seluruh alur sungai ditambah areal dimana stiap hujan yang jatuh di areal tersebut mengalir ke sungai

(21)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 13

yang bersangkutan. Alur sempadan sungai didefinisikan sebagai alur pinggir kanan dan kiri sungai yang terdiri dari bantaran bajir, bantara longsor, bantaran ekologi, serta bantaran keamanan.

Istilah Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak digunakan oleh beberapa ahli dengan makna atau pengertian yang berbeda-beda, ada yang menyamakan dengan cacthment area, watershed, atau drainage basin. Menurut Notohadiprawiro (1985) Daerah Aliran Sungai merupakan keseluruhan kawasan pengumpul suatu sistem tunggal, sehingga dapat disamakan dengan cacthment area. Martopo (1994), memberi pengertian bahwa, Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan daerah yang dibatasi oleh topografi pemisah air yang terkeringkan oleh sungai atau sistem saling berhubungan sedemikian rupa sehingga semua aliran sungai yang jatuh di dalam akan keluar dari saluran lepas tunggal dari wilayah tersebut.

Soemarwoto (1985), mengemukakan batasan DAS adalah suatu daerah yang dibatasi oleh igir-igir gunung yang semua aliran permukaannya mengalir ke suatu sungai utama. Atas dasar difinisi tersebut diatas maka Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat diartikan sebagai kesatuan ruang yang terdiri atas unsur abiotik (tanah, air, udara), biotik (vegetasi, binatang dan organisme hidup lainnya) dan kegiatan manusia yang saling berinteraksi dan saling ketergantungan satu sama lain, sehingga merupakan satu kesatuan ekosistem, hal ini berarti bahwa apabila keterkaitan sudah terselenggara maka pengelolaan hutan, tanah, air, masyarakat dan Gambar 2. 2 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai

(22)

14 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

lain-lain harus memperhatikan peranan dari komponen-komponen ekosistem tersebut.

(23)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 15

Gambar 2. 3 Peta Kodefikasi Wilayah Sungai di Indonesia

(24)

16 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Gambar 2. 4 Peta Pembagian Wilayah Sungai (Aceh)

(25)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 17

2.1.3 Pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air

Pola merupakan kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Sedangkan rencana pengelolaan sumber daya air merupakan hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai.

Kedua dukomen tersebut sangat diperlukan dalam pengelolaan sumber daya air yang terpadu, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam suatu wilayah sungai. Oleh karena itu setiap wilayah sungai harus memiliki dokumen pola dan rencana masing- masing, hal ini diperlukan dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air dalam satu wilayah sungai satu manajemen pengelolaannya.

Pola Pengelolaan Sumber Daya Air

Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai disusun dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat provinsi, dan dirumuskan oleh Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) wilayah sungai bersangkutan.

Mengingat pola merupakan kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, mamantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Sehingga dokumen pola berisikan tentang; kondisi wilayah sungai, isu-isu strategis wilayah sungai, analisis data wilayah sungai, kebijakan operasional pengelolaan sumber daya air dan matriks bidang arahan, kebijakan dan strategis wilayah sungai dengan 3 (tiga) skenario yaitu rendah, sedang dan tinggi. Dimana pada matriks tersebut memuat tentang sub aspek, hasil analisis, sasaran/ target yang ingin dicapai, strategi jangka pendek, jangka menengah &

(26)

18 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

jangka panjang, kebijakan operasional dan lembaga/instansi terkait. Matriks dengan skenario tersebut merupakan bagian terpenting dalam dokumen pola tersebut. Hal inilah yang akan diputuskan oleh TKPSDA sebagai dasar penyusunan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tersebut.

Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air

Adapun dokumen rencana yang berisikan tentang; gambaran umum wilayah sungai, pemilihan strategi, inventarisasi sumber daya air, analisis data dan kajian pengelolaan sumber daya air, dan upaya pengelolaan sumber daya air. Dari muatan tersebut hal yang sangat perlu diperhatikan adalah dalam pemilihan strategi dan upaya pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai tersebut.

Pemilihan strategi merupakan langkah awal dalam penyusunan rancangan rencana pengelolaan sumber daya air, dimana strategi yang dipilih dari alternatif strategi yang terdapat dalam dokumen pola pengelolaan sumber daya air yang dlakukan oleh Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) bersangkutan, dimana strategi yang dipilih oleh TKPSDA dengan skenario ekonomi rendah, sedang atau tinggi.

Penentuan tingkatanskenario ekonomi pada suatu wilayah sungai merupakan asumsi tentang kondisi pada masa yang akan datang yang mungkin terjadi, misalnya kondisi perekonomian, perubahan iklim atau perubahan politik. Skenario kondisi wilayah sungai ditinjau pada setiap aspek pengelolaan sumber daya air seperti;

konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air yang menggambarkan kondisi wilayah sungai yang ada serta kondisi wilayah sungai masa yang akan datang sesuai dengan harapan. Mengingat sulitnya melakukan asumsi terhadap kondisi perubahan iklim dan politik yang akan terjadi pada masa yang akan datang, maka dalam dokumen pola pengelolaan sumber daya air dilakukan pendekatan dengan menggunakan asumsi kondisi perekonomian.

Dalam analisis data dan kajian pengelolaan sumber daya air dimana hal-hal yang ditampilkan adalah; konservasi sumber daya air,

(27)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 19

pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, sistim informasi sumber daya air dan pemberdayaan &

pengawasan.

(28)

20 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Gambar 2. 5 Bagan Alir Pola Dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air

(29)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 21

Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi sumber dayaair berupa rencana rehabilitasi hutan dan lahan daerah aliran sungai (DAS) bertujuan untuk memulihkan fungsi hidrologi, sehingga rehabilitasi hutan dan lahan difokuskan pada pada penanganan lahan kritis dengan tingkat kekritisan antara kritis dan sangat kritis dengan prioritas utama pada hulu DAS. Dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan merujuk kepada keadaan biofisik lahan juga dipertimbangkan kondisi sosial,ekonomi dan budaya masyarakat serta sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 dimana kegiatannya meliputi; (1) rencana pemulihan hutan dan lahan, (2) rencana pengendalian erosi dan sedimentasi, (3) rencana konservasi sumber daya air dan (4) rencana pengembangan kelembagaan.

Pendayagunaan Sumber Daya Air

Pendayagunaan merupakan upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Dalam penatagunaan sumber daya air merupakan upaya untuk menentukan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air, hal ini berkaitan dengan tata ruang wilayah sungai. Penetapan zona pemanfaatan sumber air dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip; (1) meminimalkan dampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air, (2) meminimalkan potensi konflik kepentingan antar jenis pemanfaatan, (3) keseimbangan fungsi lindung dan budidaya, (4) memperhatikan kesesuaian pemanfaatan sumber daya air dengan fungsi kawasan, dan (5) memperhatikan kondisi sosial budaya dan hak ulayat masyarakat hukum adat yang berkaitan dengan sumber daya air. Penetapan zona pemanfaatan sumber air dilakukan oleh Bupati, Gubernur dan Menteri sesuai kewenangannya setelah mendapat pertimbangan dari TKPSDA pada wiayah sungai bersangkutan. Sedangkan peruntukan air pada sumber air dilakukan dengan memperhatikan;

(1) daya dukung air, (2) jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya, (3) perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber daya air, dan (4) pemanfaatan air yang sudah

(30)

22 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

ada. Penyusunanperuntukan air pada sumber air dikoordinasikan melalui TKPSDA yang bersangkutan.

Penyediaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip; (1) mengutamakan penyediaan air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada, (2) menjaga kelangsungan penyediaan air untuk pemakai air lain yang sudah ada, dan (3) memperhatikan penyediaan air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari bagi penduduk yang berdomisili di dekat sumber air atau disekitar jaringan pembawa. Penetapan urutan prioritas penyediaan sumber daya air dan rencana penyediaan sumber daya air tahunan pada setiap wilayah sungai ditetapkan oleh Menteri, Gubernur dan Bupati sesuai kewenangannya dengan memperhatikan pertimbangan dari TKPSDA yang bersangkutan.

Penggunaan sumber daya air ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya air dan prasarananya sebagai media atau materi. Dalam penggunaan sumber daya air dilakukan berdasarkan prinsip- prinsip; (1) penghematan, (2) ketertiban dan keadilan, (3) ketepatan, (4) keberlanjutan, dan (5) saling menunjang antara air permukaan dengan air tanah dengan memprioritaskan air permukaan.

Selanjutnya, pengembangan sumber daya air dilaksanakan untuk meningkatkan kemanfaatan sumber daya air melalui pengembangan pemanfaatan sumber daya air dan peningkatan ketersediaan air dan kualitas air. Pengembangan sumber daya air diselenggarakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air dan rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan; (1) daya dukung sumber daya air, (2) kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat, (3) kemampuan pembiayaan, dan (4) kelestarian keanekaragaman hayati dalam sumber air.

Pengendalian Daya Rusak Air

Pengendalian daya rusak air meliputi usaha; pencegahan sebelum terjadi bencana, penanggulangan pada saat terjadi bencana dan

(31)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 23

pemulihan akibat bencana. Upaya penanggulangan dan pemulihan dilakukan berdasarkan rencana pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu,menyeluruh dan terkoordinasi. Pencegahan sebelum terjadi bencana dapat dilakukan melalui kegiatan fisik dan non fisik atau melakukan penyeimbangan antara hulu dan hilir pada wilayah sungai. Kegiatan fisik dalam rangka pencegahan bencana dilakukan melalui pembangunan sarana dan prasarana yang ditujukan untuk mencegah kerusakan yang diakibatkan daya rusakair. Kegiatan nonfisik dilakukan melalui pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Sedangkan penyeimbangan antara hulu dan hilir dilakukan dengan mekanisme penataan ruang dan pengoperasian prasarana sungai sesuai dengan kesepakatan para pemilik kepentingan.

Penanggulangan daya rusak air diakukan dengan kegiatan yang ditujukan untuk meringankan penderitaan akibat bencana, yang meliputi penanggulangan kerusakan atau bencana akibat daya rusak air. Sedangkan pemulihan akibat bencana dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang ditujukan untuk memulihkan fungsi lingkungan hidup serta sistem prasarana sumber daya air yang diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

Upaya Pengelolaan Sumber Daya Air

Dalam rencana pengelolaan sumber daya air harus memuat matrik upaya fisik dan non fisik dalam pengelolaan sumber daya air, yang merupakan matrik dasar yang digunakan dalam penyusunan program dan kegiatan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai. Daftar upaya fisik dan non fisik merupakan indikasi atau arahan bagi lembaga/ instansi pengelola sumber daya air beserta sektor-sektor yang terkait dengan sumber daya air. Dimana matrik tersebut memuat tentang sub aspek, strategi terpilih, upaya fisik atau non fisik, jenis kegiatan, satuan, lokasi kegiatan, perkiraan biaya, perkiraan kelayakan dan waktu pelaksanaan terhadap aspek konservasi sumber daya air, aspek pendayagunaan sumber daya air, aspek pengendalian daya rusak air, aspek sistem informasi

(32)

24 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

sumber daya air dan aspek pemberdayaan dan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya air.

Dari matriks inilah akan terlihat pengelolaan sumber daya air yang melibatkan berbagai sektor terkait, pembagian peran, terpadu dan menyeluruh sehingga dibutuhkan koordinasi dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu peran lembaga koordinasi Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) maing-masing wilayah sungai sangat strategis dalam menggerakkan SKPA dan SKPD terkait dalam menjalankan tugasnya.

2.2 Hakekat tentang Bina Marga

Transportasi, dalam hal ini termasuk jaringan jalan dan jembatan yang merupakan salah satu pembentuk komponen transportasi, merupakan infrastruktur yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan terutama dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakat dan perkembangan wilayah baik itu daerah perkotaan, perdesaan maupun daerah yang lainnya. Sistem transportasi yang ada dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan mobilitas penduduk dan sumberdaya lainnya yang dapat mendukung terjadinya pertumbuhan ekonomi didaerah ini menyebabkan pengurangan konsentrasi tenaga kerja yang mempunyai keahlian dan ketrampilan pada wilayah tertentu, selain itu transportasi juga untuk membuka peluang kegiatan perdagangan antar wilayah dan mengurangi kesenjangan antar wilayah sehingga mendorong terjadinya pembangunan antar wilayah. Dengan adanya transportasi harapannya dapat menghilangkan isolasi dan memberi stimulan ke arah perkembangan di semua bidang kehidupan, baik perdagangan, industri, pariwisata, maupun sektor lainnya merata disemua daerah.

Morlok (1988) mengemukakan bahwa akibat adanya perbedaan tingkat pemilikan sumberdaya dan keterbatasan kemampuan wilayah dalam mendukung kebutuhan penduduk suatu wilayah menyebabkan terjadinya pertukaran barang, orang dan jasa antar wilayah. Pertukaran ini diawali dengan proses penawaran dan permintaan. Sebagai alat bantu proses penawaran dan permintaan yang perlu dihantarkan menuju wilayah lain

(33)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 25

diperlukan sarana transportasi. Sarana transportasi yang memungkinkan untuk membantu mobilitas berupa angkutan umum.

Ullman mengungkapkan ada tiga syarat untuk terjadinya interaksi keruangan, yaitu :

Complementarity atau ketergantungan karena adanya perbedaan demand dan supply antar daerah.

Intervening opportunity atau tingkat peluang atau daya tarik untuk dipilih menjadi daerah tujuan perjalanan.

Transferability atau tingkat peluang untuk diangkut atau dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain yang dipengaruhi oleh jarak yang dicerminkan dengan ukuran waktu dan atau biaya.

Untuk terjadinya interaksi keruangan yang lancar, maka dibutuhkan sistem jaringan transportasi yang memadai yang salah satunya adalah prasarana jalan dan jembatan.

Terkait dengan infrastruktur bina marga (jalan dan jembatan), Indonesia memiliki permasalahan sebagai berikut:

 Beban jalan terlalu tinggi akibat dominasi penggunaan jalan dibandingan moda transportasi lainnya. Proporsi penggunaan moda transportasi jalan mencapai hampir 85% untuk penumpang dan 90% untuk barang dari total pergerakan yang ada pada tahun 2012.

 Rendahnya waktu tempuh dan kerapatan jalan bebas hambatan.

 Kualitas infrastruktur jalan yang masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand.

 Kemacetan di pusat-pusat pertumbuhan dan perkotaan.

 Ketidakseimmbangan penyediaan infrastruktur antar wilayah.

Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 2004 tentang jalan dan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan, bahwa Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan

(34)

26 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

bagi pergerakan lalulintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.

Sedangkan sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarki.

Jalan menurut peranan perjalanan dapat dibedakan dalam sistem jaringan jalan, fungsi jalan, status jalan, dan kelas jalan. Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hierarki. Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu pada rencana tata ruang wilayah dan dengan memperhatikan keterhubungan antarkawasan dan/atau dalam kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan. Berdasarkan sifat dan pergerakan lalu lintas dan angkutan jalan, fungsi jalan dibedakan atas arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan.

Berdasarkan status, Jalan dikelompokkan atas jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa. Kelas jalan dikelompokkan berdasarkan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan, serta spesifikasi penyediaan prasarana jalan. Pembagian kelas jalan berdasarkan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas terdiri dari jalan kelas I, kelas II, kelas IIIA, dan kelas IIIB. Sedangkan kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan dikelompokkan atas jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil.

Jaringan jalan merupakan satu kesatuan sistem terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hirarki. Sedangkan pengelompokkan jalan berdasarkan fungsinya adalah sebagai berikut :

a. Jalan arteri, adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. Jalan arteri dibagi menjadi jalan arteri primer dan arteri sekunder. Jalan ini menghubungkan kota jenjang kesatu terletak berdampingan atau menghubungkan kota jenjang ke satu dengan kota jenjang kedua.

(35)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 27

b. Jalan kolektor, adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Jalan ini terdiri dari jalan kolektor primer dan jalan kolektor sekunder. Jalan ini menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua atau kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga.

c. Jalan lokal, adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. Jalan lokal menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil atau kota jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang dibawahnya, kota jenjang ketiga dengan persil atau kota dibawah dengan kota jenjang ketiga sampai persil. Jalan lokal dapat dibagi menjadi jalan lokal primer dan jalan lokal sekunder.

d. Jalan lingkungan, adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah. Jalan lingkungan meliputi jalan lingkungan primer dan jalan lingkungan sekunder. Jalan lingkungan primer merupakan jalan lingkungan dalam skala wilayah tingkat lingkungan seperti di kawasan perdesaan di wilayah kabupaten, sedangkan jalan lingkungan sekunder merupakan jalan lingkungan dalam skala perkotaan seperti di lingkungan perumahan, perdagangan, dan pariwisata di kawasan perkotaan.

Karakteristik Sistem Jaringan Jalan Primer adalah sebagai berikut:

 Sistem jaringan jalan primer disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang dan struktur pengembangan wilayah tingkat nasional, yang menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi. 


 Jaringan jalan primer menghubungkan secara menerus kota jenjang kesatu, kota jenjang kedua, kota jenjang ketiga, dan kota jenjang dibawahnya sampai ke persil dalam satu satuan wilayah pengembangan. Jaringan jalan primer menghubungkan kota

(36)

28 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

jenjang kesatu dengan kota jenjang kesatu antar satuan wilayah pengembangan. 


 Jaringan jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota.

Jaringan jalan primer harus menghubungkan kawasan primer.

Suatu ruas jalan primer dapat berakhir pada suatu kawasan primer.

Kawasan yang mempunyai fungsi primer antara lain: industri skala regional, terminal barang/pergudangan, pelabuhan, bandar udara, pasar induk, pusat perdagangan skala regional/ grosir.

 Jalan Arteri Primer adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang ke satu dengan kota jenjang ke satu yang terletak berdampingan atau menghubungkan 
 kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua. 


 Jalan Kolektor Primer adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua 
 dengan kota jenjang kedua atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota 
 jenjang ketiga. 


 Jalan Lokal Primer adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan 
 persil atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan persil atau menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang dibawahnya, kota jenjang ketiga dengan persil, atau kota dibawah jenjang ketiga sampai persil. 


 Yang dimaksud dengan kota jenjang kesatu ialah kota yang berperan melayani seluruh satuan wilayah pengembangannya, dengan kemampuan pelayanan jasa yang paling tinggi dalam satuan wilayah pengembangannya serta memiliki orientasi keluar wilayahnya. 


 Yang dimaksud dengan kota jenjang kedua ialah kota yang berperan melayani sebagian dari satuan wilayah pengembangannya dengan kemampuan pelayanan jasa yang lebih rendah dari kota jenjang kesatu dalam satuan wilayah pengembangannya dan terikat jangkauan jasa ke kota jenjang kedua serta memiliki orientasi ke kota jenjang kesatu. 


(37)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 29

 Yang dimaksud dengan kota jenjang ketiga ialah kota yang berperan melayani sebagian dari satuan wilayah pengembangannya, dengan kemampuan pelayanan jasa yang lebih rendah dari kota jenjang kedua dalam satuan wilayah pengembangannya dan terikat jangkauan jasa ke kota jenjang kedua serta memiliki orientasi ke kota jenjang kedua dan ke kota jenjang kesatu. 


 Yang dimaksud dengan kota di bawah jenjang ketiga ialah kota yang berperan melayani sebagian dari satuan wilayah pengembangannya, dengan kemampuan pelayanan jasa yang lebih rendah dari kota jenjang ketiga dan terikat jangkauan serta orientasi yang mengikuti prinsip-prinsip di atas. 


 Kawasan adalah wilayah yang batasnya ditentukan berdasarkan lingkup pengamatan fungsi tertentu. 


 Kawasan Primer adalah kawasan kota yang mempunyai fungsi primer. Fungsi primer (Fl) adalah fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan pelayanan kota, dan wilayah pengembangannya.

Hubungan antar hirarki kota dengan peranan ruas jalan penghubungnya dalam sistem jaringan jalan primer diberikan pada Tabel dibawah ini.

Tabel 2. 1 Hubungan Antar Hirarki Kota Dengan Peranan Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Primer

Sumber : Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006

295

Kawasan Primer adalah kawasan kota yang mempunyai fungsi primer. Fungsi primer (Fl) adalah fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan pelayanan kota, dan wilayah pengembangannya.

Hubungan antar hirarki kota dengan peranan ruas jalan penghubungnya dalam sistem jaringan jalan primer diberikan pada Tabel dibawah ini.

Tabel 14.1 : Hubungan Antar Hirarki Kota Dengan Peranan Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Primer

Kota Jenjang I Jenjang II Jenjang III Persil

Jenjang I

Arteri Arteri -- Lokal

Jenjang II

Arteri Kolektor Kolektor Lokal

Jenjang III

-- Kolektor Lokal Lokal

Persil

Lokal Lokal Lokal Lokal

Sumber : Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 2). Sistem Jaringan Jalan Sekunder

Sistem jaringan jalan sekunder disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang kota yang menghubungkan kawasan-kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder ke satu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan.

Jalan Arteri Sekunder menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.

Jalan Kolektor Sekunder menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.

Kawasan Sekunder adalah kawasan kota yang mempunyai fungsi sekunder. Fungsi

sekunder sebuah kota dihubungkan dengan pelayanan terhadap warga kota itu sendiri

yang lebih berorientasi ke dalam dan jangkauan lokal. Fungsi ini dapat mengandung

fungsi yang terkait pada pelayanan jasa yang bersifat pertahanan keamanan yang

selanjutnya disebut fungsi sekunder yang bersifat khusus.

(38)

30 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Gambar 2. 6 Skema Sistem Jaringan Jalan Primer

Karakteristik Sistem Jaringan Jalan Sekunder

 Sistem jaringan jalan sekunder disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang kota yang menghubungkan kawasan- kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder ke satu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. 


 Jalan Arteri Sekunder menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder

304 Kota

Jenjang - I

Kota Jenjang - I Jalan Arteri

Primer

Jalan Arteri Primer Jalan Arteri

Primer

Jalan Kolektor Primer

Jalan Kolektor Primer

Jalan Lokal Primer

Kota Jenjang - II Kota

Jenjang - II

Jalan Kolektor Primer

Kota Jenjang - III Kota

Jenjang - III

Jalan Lokal Primer

Kota Dibawah Jenjang - III

Jalan Lokal Primer Persil

Jalan Lokal Primer

Jalan Lokal Primer

Jalan Lokal Primer

Gambar 14.1 : Skema Sistem Jaringan Jalan Primer

(39)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 31

kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua. 


 Jalan Kolektor Sekunder menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga. 


 Kawasan Sekunder adalah kawasan kota yang mempunyai fungsi sekunder. Fungsi sekunder sebuah kota dihubungkan dengan pelayanan terhadap warga kota itu sendiri yang lebih berorientasi ke dalam dan jangkauan lokal. Fungsi ini dapat mengandung fungsi yang terkait pada pelayanan jasa yang bersifat pertahanan keamanan yang selanjutnya disebut fungsi sekunder yang bersifat khusus. 


 Fungsi primer dan fungsi sekunder harus tersusun teratur dan tidak terbaurkan. Fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua dan seterusnya terikat dalam satu hubungan hirarki. 


 Fungsi primer adalah fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan pelayanan kota, dan wilayah pengembangannya. 


 Fungsi sekunder adalah fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan penduduk kota itu sendiri. 


 Wilayah dimaksudkan sebagai kesatuan geografi beserta segenap unsur yang terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pengamatan administratif dan atau fungsional. 


 Struktur kawasan kota dapat dibedakan berdasarkan besarnya penduduk kota yang bersangkutan. 


(40)

32 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

Tabel 2. 2 Hubungan Antara Kawasan Kota Dengan Peranan Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder 


Sumber : Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006

Gambar 2. 7 Skema Sistem Jaringan Jalan Sekunder

296

Fungsi primer dan fungsi sekunder harus tersusun teratur dan tidak terbaurkan.

Fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua dan seterusnya terikat dalam satu hubungan hirarki.

Fungsi primer adalah fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan pelayanan kota, dan wilayah pengembangannya.

Fungsi sekunder adalah fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan penduduk kota itu sendiri.

Wilayah dimaksudkan sebagai kesatuan geografi beserta segenap unsur yang terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pengamatan administratif dan atau fungsional.

Struktur kawasan kota dapat dibedakan berdasarkan besarnya penduduk kota yang bersangkutan.

Tabel 14.2 : Hubungan Antara Kawasan Kota Dengan Peranan Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder

Kawasan Primer (F1) Sekunder 1 (F21)

Sekunder 2 (F22)

Sekunder 3

(F23) Perumahan

Primer (F1) -- Arteri -- -- --

Sekunder 1

(F21) Arteri Arteri Arteri -- Lokal

Sekunder 2

(F22) -- Arteri Kolektor Kolektor Lokal

Sekunder 3

(F23) -- -- Kolektor -- Lokal

Perumahan -- Lokal Lokal Kolektor --

14.4. Kaitan Antara Hirarki Jalan Dengan Sistem Jaringan Jalan Menurut Wewenang Pembinaan

Dalam panduan penentuan klasifikasi fungsi jalan di wilayah perkotaan No.

010/T/BNKT/1990 dan PP Nomor 34 tahun 2006 tentang jalan, bahwa wewenang pembinaan jalan dikelompokkan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, jalan desa/nagari, dan jalan khusus.

1). Jalan Nasional

Yang termasuk kelompok jalan nasional adalah jalan arteri primer, jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, jalan tol, dan jalan lain yang

305 F1

Kawasan Primer

Jalan Arteri Sekunder (JAS) Jalan Arteri

Sekunder (JAS)

Jalan Arteri Sekunder (JAS)

Jalan Arteri Sekunder (JAS)

Jalan Kolektor Sekunder (JKS)

F21 Kawasan Sekunder-I F12

Kawasan Sekunder-I

Jalan Arteri Sekunder (JAS)

F22 Kawasan Sekunder-II F22

Kawasan Sekunder-II

Jalan Kolektor Sekunder (JKS)

F23 Kawasan Sekunder-II

Jalan Lokal Sekunder (JLS) Perumahan

Jalan Lokal Sekunder (JLS)

Jalan Lokal Sekunder (JLS)

Jalan Lokal Sekunder (JLS)

Gambar 14.2 : Skema Sistem Jaringan Jalan Sekunder

(41)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 33

Dalam panduan penentuan klasifikasi fungsi jalan di wilayah perkotaan No.

010/T/BNKT/1990 dan PP Nomor 34 tahun 2006 tentang jalan, bahwa wewenang pembinaan jalan dikelompokkan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, jalan desa/nagari, dan jalan khusus.

a. Jalan Nasional

Yang termasuk kelompok jalan nasional adalah jalan arteri primer, jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, jalan tol, dan jalan lain yang mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan nasional. Penetapan status suatu jalan sebagai jalan nasional dilakukan dengan Keputusan Menteri.

b. Jalan Provinsi

Yang termasuk kelompok jalan Provinsi adalah :

 Jalan kolektor primer yang menghubungkan lbukota Provinsi dengan Ibukota 
 Kabupaten atau Kota. 


 Jalan Kolektor primer yang menghubungkan antar lbukota Kabupaten atau Kota. 


 Jalan lain yang mempunyai kepentingan strategis terhadap kepentingan Provinsi. 


 Jalan dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang tidak termasuk jalan Nasional. 


Penetapan status suatu jalan sebagai jalan Provinsi dilakukan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri atas usul Gubernur yang bersangkutan. 


c. Jalan Kabupaten

Yang termasuk kelompok jalan Kabupaten adalah :

 Jalan lokal primer yang menghubungkan ibukota Kabupaten dengan ibukota 
 Kecamatan, ibukota Kabupaten dengan Pusat Desa/Nagari, antar ibukota 
 Kecamatan, ibukota Kecamatan dengan Desa/Nagari, dan antar Desa/Nagari. 


(42)

34 1-Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah

 Jalan sekunder (arteri sekunder, kolektor sekunder, dan lokal sekunder) dan 
 jalan lain yang tidak termasuk dalam kelompok jalan Nasional, jalan Provinsi.

Penetapan status suatu jalan sebagai jalan Kabupaten dilakukan dengan Keputusan Gubernur, atas usul Pemerintah Kabupaten yang bersangkutan. 


d. Jalan Kota 


Yang termasuk kelompok jalan Kota adalah jaringan jalan sekunder di dalam kota. Penetapan status suatu ruas jalan arteri sekunder dan atau ruas jalan kolektor sekunder sebagai jalan kota dilakukan dengan keputusan Gubernur atas usul Pemerintah Kota yang bersangkutan. Penetapan status suatu ruas jalan lokal sekunder sebagai jalan Kota dilakukan dengan Keputusan Walikota yang bersangkutan. 


e. Jalan Desa/Nagari 


Jalan Desa/Nagari adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal sekunder yang tidak termasuk jalan Kabupaten di dalam kawasan Pedesaan/Nagari, dan merupakan 
 jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam Desa/Nagari.

f. Jalan Khusus

Yang termasuk kelompok jalan khusus adalah jalan yang dibangun dan dipelihara oleh instansi/badan hukum/perorangan untuk melayani kepentingan masing-masing. Penetapan status suatu ruas jalan khusus dilakukan oleh instansi/badan hukum/perorangan yang memiliki ruas jalan khusus tersebut dengan memperhatikan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.

Secara lebih sederhana, fungsi jalan dikaitkan dengan penanggung jawab pembinaan disajikan pada Tabel 3 berikut :

(43)

1- Hakekat Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah 35

Tabel 2. 3 Fungsi Jalan Dikaitkan Dengan Penanggung jawab Pembinaan

STATUS FUNGSI PERENCANAAN PELAKSANAAN

NASIONAL AP PEMERINTAH PUSAT KEMENTERIAN

KP 1 PEMERINTAH PUSAT KEMENTERIAN PROVINSI KP 2 PEMDA PROVINSI DINAS PROVINSI

KP 3 PEMDA PROVINSI DINAS PROVINSI

KABUPATEN LP PEMDA KABUPATEN DINAS KABUPATEN

AS, KS, LS PEMDA KABUPATEN DINAS KABUPATEN KOTA AS, KS, LS PEMERINTAH KOTA DINAS KOTA Catatan:

AP = Arteri Primer

KP 1 = Kolektor Primer yang menghubungkan Ibu Kota Provinsi KP 2 = Kolektor Primer yang menghubungkan Ibu Kota Provinsi ke

Kabupaten/Kota

KP 3 = Kolektor Primer yang menghubungkan Kota dengan Kabupaten/Kota AS = Arteri Sekunder

KS = Kolektor Sekunder LS = Lokal Sekunder LP = Lokal Primer

Suatu ruas jalan dapat ditingkatkan statusnya menjadi lebih tinggi apabila dipenuhi persyaratan sebagai berikut :


• Ruas jalan tersebut berperan penting dalam pelayanan terhadap wilayah/kawasan yang lebih luas dari wilayah/kawasan semula.


• Ruas jalan tersebut makin dibutuhkan masyarakat dalam rangka pengembangan sistem transportasi.

Suatu ruas jalan dapat diturunkan statusnya menjadi lebih rendah apabila terjadi hal-hal yang berlawanan dengan yang tersebut. di atas. Peralihan status suatu jalan dapat diusulkan oleh pembina jalan semula kepada pembina jalan dituju. Pembina jalan yang menerima usulan atau saran memberikan pendapatnya kepada pejabat yang menetapkan status semula.

Penetapan status ruas jalan dilaksanakan oleh pejabat yang berwenang menetapkan status baru dari ruas jalan yang bersangkutan, setelah mendengar pendapat pejabat yang menetapkan status semula.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini ditandai dengan penelitian lain sejenis yang mendukung penelitian ini yang telah dilalukan oleh Wahyudi pada tahun 2007 yaitu berjudul “Penerapan Pembelajaran

Konsep penciptaan dalam karya illustrasi adalah memvisualisasikan lirik Lagu Padang Bulan. Lagu ini menceritakan tentang kegiatan anak-anak ketika terjadi padang bulan atau

Oleh karena itu, didalam Peraturan Pemerintah yang baru ini ditentukan dengan tegas adanya kemungkinan delegasi wewenang dari Instansi Yang Berwenang kepada Instansi lain

Pada Gambar peta Roadroid diatas dapat dilihat bahwa ruas jalan Ruas Jalan Tinjauan (4) Duduk Sampean-Betoyo Guci memiliki kondisi yang sedang (Nilai eIRI = 4,88).. Tampak pada

Sebuah proyek sistem informasi, dalam perencanaannya harus memperhitungkan analisa resiko yang mungkin terjadi dan melakukan perencanaan solusi dengan disaster recovery

Kitosan dapat dimanfaatkan sebagai medium filter untuk mengadsorp Cr(VI) dalam larutan, terbukti dari penurunan kadar logam tersebut setelah dialirkan melalui unit filtrasi

Akan tetapi adanya growth plate juga membantu remodeling yang lebih baik dari suatu fraktur yang bukan pada growth plate

Di sisi penggunaan, sebagian besar PDRB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumahtangga sebesar 60,5 persen, diikuti oleh pembentukan modal tetap bruto 16,4 persen, ekspor neto