• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

I.1 Latar Belakang Masalah

Era persaingan bebas dan global saat ini mengharuskan setiap organisasi bisnis untuk selalu melakukan perbaikan terus-menerus guna memenangkan persaingan atau setidaknya untuk bertahan hidup (Vera, 2001). Fiermonte dan Bruning (2005) menyatakan bahwa kemampuan suatu organisasi untuk bersaing tidak hanya bersumber dari pasar produk atau jasa yang dihasilkan, namun juga dari sisi sumber daya manusia yang dimiliki. Lebih lanjut, Barling, Kelloway dan Iverson (2003) memberikan tiga alasan pengelolaan sumber daya manusia bagi organisasi, yaitu (1) manusia merupakan sumber daya yang sulit ditiru, (2) pengelolaan sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang, serta (3) manfaat atas pengelolaan sumber daya manusia dirasakan luas oleh seluruh bagian dalam suatu organisasi.

Kehadiran informasi dan teknologi komunikasi (ICT) yang semakin canggih dan memudahkan kehidupan manusia memberi pengaruh positif terhadap peningkatan efektivitas kerja serta keragaman budaya dan cara kerja suatu organisasi (Nielsen, Blandfort, Langer, dan Aerestrup, 2004; Murdoch, 2007).

Cara kerja konvensional dengan jam kerja maupun lokasi kerja yang tetap tidak lagi menjadi metode andalan. Kerja fleksibel (flexiworking) menjadi salah satu alternatif pola kerja yang sudah banyak diterapkan di beberapa perusahaan (Olmsted dan Smith, 1997; Selby dan Wilson, 2003). Terlebih, situasi bisnis saat ini seakan tidak mengenal batasan waktu dan regional (Taylor dan Kavanaugh, 2005). Beberapa sektor memiliki pola waktu kerja di luar kebiasaan, bahkan berlangsung sepanjang waktu. Fakta tersebut membuktikan bahwa kehadiran kerja fleksibel saat ini mutlak diperlukan. Sauter (2002) menambahkan, masuknya pekerja wanita serta pekerja usia non produktif ke dalam pasar tenaga kerja, turut memberi kontribusi terhadap kehadiran pola kerja fleksibel.

(2)

Secara umum, kerja fleksibel diartikan sebagai semua praktek kerja atau jenis pekerjaan yang berada di luar pola kerja tradisional. Fleksibilitas pola kerja ini dapat dilihat dari segi waktu, tempat, kontrak kerja serta proses kerja (Selby dan Wilson, 2003). Kemampuan kerja fleksibel untuk menyesuaikan pola kerja yang diterapkan dengan kebutuhan individu pekerja dan perusahaan memberikan kepuasan bagi pekerja sehingga mampu meningkatkan produktivitas kerja. Teori Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham (1980) menyatakan bahwa motivasi internal, kepuasan kerja serta kepuasan pekerja untuk berkembang dipengaruhi oleh kondisi psikologis kritis yang terbentuk dari karakteristik pekerjaan yang dilakukan. Dimensi karakteristik pekerjaan yang dimaksud meliputi:

1. Variasi keterampilan (skill variety) 2. Identitas tugas (task identity) 3. Makna tugas (task significance) 4. Otonomi (autonomy)

5. Umpan balik pekerjaan (feedback from job)

Kerja sebagai suatu sisi kehidupan manusia, menuntut ketersediaan lingkungan yang mendukung baik secara fisik maupun psikologis. Terciptanya kehidupan kerja yang positif dan berkualitas akan mewujudkan berbagai manfaat bagi pekerja dan perusahaan seperti menurunkan turnover pekerja, meningkatkan produktivitas bisnis, minimasi konflik serta pemanfaatan SDM secara optimal (Johnson, 1999). Secara umum, Davis dan Werther (1989) mendefinisikan kualitas kehidupan kerja (Quality of Work Life, QWL) sebagai kualitas hubungan antara pekerja dengan lingkungan pekerjaan. Menurut Cascio (1995), kualitas kehidupan kerja merupakan salah satu ukuran performansi organisasi yang secara operasional dapat diartikan sebagai cara memandang manusia, kerja dan organisasi dengan memfokuskan pada:

1. Karakteristik dampak pekerjaan terhadap manusia dan efektivitas organisasi.

2. Persyaratan yang dipersepsikan pekerja mengenai kondisi fisik dan mental yang sebaik-baiknya dalam bekerja.

3. Partisipasi dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan organisasi.

(3)

Karakteristik pekerjaan dan kualitas kehidupan kerja mengacu pada hal yang sama, yaitu kepuasan kerja. Hubungan antara dimensi karakteristik pekerjaan dengan kepuasan kerja telah dijelaskan secara eksplisit dalam model yang dikemukakan Hackman dan Oldham (1980). Sementara kualitas kehidupan kerja memiliki hubungan kausalitas dengan kepuasan kerja (Jamal dan Baba, 1991; Beasley, Karsh, Hagenaue, Marchand, dan Sainfort, 2005). Penelitian yang dilakukan Sirgy, Efraty, Siegel dan Lee (2001) juga menyimpulkan adanya hubungan positif linier kepuasan kerja dalam menentukan kualitas kehidupan kerja. Demikian halnya dengan keterlibatan kerja sebagai indikator kualitas kehidupan kerja, seperti diungkapkan Jamal dan Baba (1991), Igbaria, Parasuraman dan Badawy (1994), Wisnawa (1997) serta Bowin (2001). Davis dan Werther (1989) menyatakan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja adalah melalui desain ulang pekerjaan yaitu dengan terlebih dahulu mempelajari karakteristik pekerjaan. Sehingga hubungan yang terjadi antara karakteristik pekerjaan dengan kualitas kehidupan kerja merupakan aspek yang perlu dikaji lebih lanjut.

Dengan keberadaan jenis pekerjaan fleksibel saat ini, penelitian akan diarahkan pada pekerjaan fleksibel. Secara spesifik, jenis pekerjaan fleksibel yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah profesi tenaga pemasar asuransi, atau sering disebut agen asuransi. Dalam bekerja, agen asuransi memiliki keleluasaan untuk mengatur waktu, tempat serta cara kerja. Namun dalam menjalankan keleluasaan tersebut, agen asuransi harus tetap memperhatikan kepentingan perusahaan serta nasabah. Sehingga meskipun pekerjaan dilakukan pada waktu dan lokasi di luar kantor, komunikasi dengan perusahaan dan nasabah harus tetap terjalin. Dengan pertimbangan tersebut, pekerjaan agen asuransi dapat digolongkan ke dalam jenis kerja fleksibel. Beberapa penelitian mengenai agen asuransi yang ada saat ini lebih banyak menelaah aspek kompensasi serta kepemimpinan dalam dunia asuransi (Lovelock, 1988; Nielsen et al., 2004; Hoyt, Dumm, dan Carson, 2006; Leverty dan Prakash, 2007). Sehingga penelitian yang menggali pekerjaan serta kualitas kehidupan kerja yang dirasakan agen asuransi merupakan topik yang dapat dikembangkan.

(4)

Dalam industri jasa keuangan, perusahaan asuransi dihadapkan pada tekanan persaingan. Agen asuransi memiliki peranan penting dalam menentukan kesuksesan perusahaan pada persaingan tersebut (Nielsen et al., 2004; Hoyt, Dumm dan Carson, 2006). Menurut Leverty dan Prakash (2007), penggunaan sistem agen dalam memasarkan produk asuransi sangat tepat karena karakteristik produk yang kompleks serta lingkungan pasar yang tidak pasti. Scott, O’Shaughnessy dan Cappelli (1994) mendefinisikan tenaga pemasar jasa sebagai suatu pihak yang bertindak sebagai perwakilan perusahaan terhadap konsumen, sehingga kebahagiaan yang dirasakan tenaga pemasar merupakan gambaran kepuasan konsumen atas jasa yang diberikan. Skinner (2005) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pekerja yang bertugas memberikan layanan kepada manusia cenderung mengalami tekanan pekerjaan tingkat tinggi sehingga berdampak pada penurunan kinerja dan kecenderungan untuk keluar dari pekerjaan. Sebagai upaya pencapaian kinerja agen asuransi yang tinggi, perlu diketahui masing-masing dimensi karakteristik pekerjaan yang dilakukan serta pengaruh dimensi karakteristik pekerjaan terhadap kualitas kehidupan kerja yang dialami oleh agen asuransi.

Dimensi karakteristik pekerjaan agen asuransi yang akan diteliti mengacu pada Model Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham (1980). Model ini digunakan karena mampu menggambarkan hubungan antara pekerjaan dengan hasil pekerjaan yang dirasakan pekerja berupa motivasi dan kepuasan kerja.

Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Leonardi dan Frew (1991), model ini terbukti handal untuk diterapkan di berbagai sektor industri. Sementara indikator kualitas kehidupan kerja akan diadopsi dari penelitian-penelitian kualitas kehidupan kerja sebelumnya. Penelitian yang mengangkat tema ini pernah dilakukan oleh Carayon, Hoonakker, Marchand dan Schwarz (2003) pada pekerja sektor teknologi informasi. Carayon et al. (2003) mengadopsi dimensi pekerjaan dari Model Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham (1980) serta menggunakan indikator kualitas kehidupan kerja berupa kepuasan kerja, keterlibatan kerja, tekanan pekerjaan dan turnover pekerja. Kehadiran penelitian ini akan memperkaya kajian mengenai karakteristik pekerjaan dan kualitas

(5)

kehidupan kerja dari sisi pekerjaan fleksibel serta sudut pandang pengukuran yang berbeda.

I.2 Perumusan Masalah

Keleluasaan dalam menentukan jadwal, tempat serta cara kerja yang akan digunakan merupakan sebuah otonomi pekerjaan yang dimiliki agen asuransi.

Namun Teori Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham (1980) yang digunakan pada penelitian ini mensyaratkan adanya dimensi karakteristik pekerjaan lain yang harus dimiliki oleh suatu pekerjaan. Beberapa penelitian mengenai agen asuransi belum menggambarkan secara luas karakteristik pekerjaan agen asuransi. Oleh sebab itu penelitian ini mengarah pada pertanyaan

“Bagaimana dimensi karakteristik pekerjaan agen asuransi berdasarkan Teori Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham?”

Sebagai kualitas hubungan antara pekerjaan dengan lingkungan pekerjaan, salah satu hal yang menentukan kualitas kehidupan kerja adalah aspek pekerjaan.

Untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja agen asuransi, perlu diketahui dimensi karakteristik pekerjaan yang mampu mempengaruhi kualitas kehidupan kerja agen asuransi. Setelah diketahui dimensi karakteristik pekerjaan agen asuransi, penelitian selanjutnya mengarah pada pertanyaan ”Bagaimana pengaruh dimensi pekerjaan agen asuransi terhadap kualitas kehidupan kerja?”

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui dimensi karakteristik pekerjaan agen asuransi menurut Teori Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham.

2. Mengetahui pengaruh dimensi pekerjaan agen asuransi terhadap kualitas kehidupan kerja.

I.4 Batasan Penelitian

Karena luasnya bidang penelitian, maka penelitian ini diberi batasan sebagai berikut:

(6)

1. Obyek penelitian terbatas pada dimensi karakteristik pekerjaan dari Model Karakteristik Pekerjaan Hackman dan Oldham. Dorongan dari dalam diri pekerja untuk berkembang dianggap konstan.

2. Data yang digunakan pada penelitian ini hanya berasal dari persepsi subyektif sejumlah sampel agen asuransi terhadap karakteristik pekerjaan dan kualitas kehidupan kerja, yang dinyatakan dalam bentuk respon atas pertanyaan kuisioner.

I.5 Kontribusi Penelitian I.5.1 Kontribusi praktis

Dari sisi perusahaan, hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mendesain pekerjaan serta lingkungan kerja yang dapat mendukung peningkatan kinerja pekerja dan perusahaan.

Dari sisi pekerja, hasil penelitian diharapkan mampu memberi gambaran tentang karakteristik pekerjaan agen asuransi yang tengah dijalani serta pengaruh karakteristik pekerjaan tersebut dalam menciptakan kehidupan kerja yang berkualitas.

I.5.2 Kontribusi bagi ilmu pengetahuan

Penelitian diharapkan mampu memperkaya kajian tentang sumber daya manusia, khususnya dari segi pekerjaan fleksibel dan kualitas kehidupan kerja serta memungkinkan untuk dilakukan penelitian lanjutan.

I.6 Sistematika Penulisan

Untuk memecahkan masalah yang telah diidentifikasi pada penelitian ini, maka disusun sistematika penulisan sebagai berikut:

1. Bab I: Pendahuluan

Bab ini menguraikan latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, pembatasan masalah, manfaat penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian.

(7)

2. Bab II: Studi Literatur

Bab ini berisi studi literatur mengenai teori, konsep dan metode yang mendasari serta menjadi kerangka berpikir dalam pemecahan masalah penelitian. Teori yang dimuat pada bab ini meliputi pekerjaan fleksibel, karakteristik pekerjaan, kualitas kehidupan kerja serta teknik statistik yang digunakan dalam pengolahan data.

3. Bab III: Metodologi Penelitian

Bab ini menguraikan tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan sehingga penelitian memiliki arah yang jelas serta mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi perumusan masalah, penentuan tujuan penelitian, studi literatur, identifikasi variabel, perancangan instrumen penelitian, pengujian instrumen penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, analisis pengolahan data serta penarikan kesimpulan dan pengajuan sejumlah saran.

4. Bab IV: Pengumpulan dan Pengolahan Data

Bab ini berisi langkah-langkah dalam pengumpulan dan pengolahan data yang digunakan pada penelitian.

3. Bab V: Analisis

Bab ini berisi interpretasi atas hasil pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya.

4. Bab VI: Kesimpulan dan Tindak Lanjut

Bab ini menunjukkan kesimpulan yang diperoleh, dengan mengacu pada tujuan penelitian yang telah diidentifikasikan pada awal penelitian. Sub bab tindak lanjut berisi keterbatasan yang dimiliki oleh penelitian ini serta saran-saran bagi perusahaan dan penelitian selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) nilai rata-rata postes keterampilan komu- nikasi siswa pada kelas yang diterap- kan model pembelajaran berbasis

Oleh karena itu, peristiwa turunnya Al Qur’an selalu terkait dengan kehidupan para sahabat baik peristiwa yang bersifat khusus atau untuk pertanyaan yang muncul.Pengetahuan

Seringkali apabila tunggakan sewa berlaku ianya dikaitkan dengan masalah kemampuan yang dihadapi penyewa dan juga disebabkan faktor pengurusan yang lemah. Ada pula

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Analisis stilistika pada ayat tersebut adalah Allah memberikan perintah kepada manusia untuk tetap menjaga dirinya dari orang-orang yang akan mencelakainya dengan jalan

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut