I stilah akuntabilitas berasal dari istilah dalam bahasa Inggris accountability yang berarti per- tanggunganjawab atau keadaan untuk diper- tanggungjawabkan atau keadaan untuk diminta pertanggunganjawab. Akuntabilitas (accountabili- ty) yaitu berfungsinya seluruh komponen peng- gerak jalannya kegiatan perusahaan, sesuai tugas dan kewenangannya masing-masing. Akuntabil- itas dapat diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang diper- cayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik da utan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawaban- nya. Akuntabilitas terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pen- capaian hasil pada pelayanan publik dan menyam- paikannya secara transparan kepada masyarakat.
Akuntabilitas keuangan merupakan pertanggung- jawaban mengenai integritas keuangan, pengung- kapan, dan ketaatan terhadap peraturan perun- dang-undangan. Sasaran pertanggung jawaban ini adalah laporan keuangan dan peraturan perun- dang-undangan yang berlaku mencakup peneri- maan, penyimpanan, dan pengeluaran uang oleh instansi pemerintah (LAN dan BPKP, 2000).
Pemerintah diminta untuk melaporkan hasil dari program yang telah dilaksanakan sehingga mas- yarakat dapat menilai pemerintah telah bekerja dengan ekonomis, efisien dan efektif atau belum.
Akuntabilitas dapat dilihat dari perspektif akun- tansi, perspektif fungsional dan perspektif sistem akuntabilitas.
Pengertian akuntabilitas ini memberikan suatu petunjuk sasaran pada hampir semua reformasi sektor publik dan mendorong pada munculnya tekanan untuk pelaku kunci yang terlibat untuk bertanggungjawab dan untuk menjamin kinerja pelayanan publik yang baik. Prinsip akuntabilitas adalah merupakan pelaksanaan pertanggungjawa- ban dimana dalam kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang terkait harus mampu mempertang- gungjawabkan pelaksanaan kewenangan yang diberikan di bidang tugasnya. Prinsip akuntabil- itas terutama berkaitan erat dengan pertanggu- ngjawaban terhadap efektivitas kegiatan dalam pencapaian sasaran atau target kebijakan atau program yang telah ditetapkan itu.
Dalam edisi ke-V Majalah Infestera kali ini men- gangkat tema “Mengawal Akuntabilitas Keuan- gan dan Kinerja di Kemenristekdikti”, kami ingin berbagi cerita tentang sebuah konsep etika yang dekatdengan administrasi publik pemerintahan (lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatif Kehakiman) yang mempunyai beberapa arti antara lain, hal ini sering digunakan secara sinonim dengan konsep-konsep seperti yang dapat dipertanggungjawabkan.
(firman/syafira)
Terwujudnya pengawasan internal yang profesional dan berkualitas untuk mendorong Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang bermutu dan berbudaya asing
MISI
1. Menyelenggarakan pengawasan internal yang berkualitas dan bernilai tambah untuk mendukung Riset, Teknologi dan Pendidikan TinggI yang bermutu dan berbudaya saing;
2. Membina Sumber Daya Manusia (SDM) pengawasan internal yang profe- sional dan berintegritas;
3. Menyelenggarakan manajemen pengawasan internal yang berakuntabilitas
LAPORAN UTAMA
Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pemimpin PTN
REPORTASE
Pengelolaan Keuangan di PTN-BLU
Dampak Revolusi 4.0 pada Pengawasan Internal di PTN Indonesia Peran SPI dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan di Lingkungan LLDIKTI Yogyakarta
Akuntabilitas Keuangan di Universitas Negeri Lampung (UNILA) Semangat Universitas Sriwijaya dalam Meningkatkan Akuntabilitas Kinerja
ARTIKEL PENGAWASAN
Peningkatan Pengawasan Pelaksanaan Tugas Belajar di Luar Negeri (Audit Karya Siswa Jepang)
Kecukupan Pengungkapan Laporan Keuangan dalam Tantangan Akuntabilitas Pemerintahan
Penggunaan Big Data dalam Mengawal Akuntabilitas Keuangan dan Kinerja di Kemenristekdikti
6-7
8-11 14-15 18-22
26-24 27-31
32-35
DAFTAR ISI
36-42
45-52
ARTIKEL PENGAWASAN
Akuntabilitas Kinerja di Era Digital
Membangun Budaya Akuntabilitas dan Kinerja Pendidikan Tinggi
Pengaruh Akuntabilitas Kinerja dan Keuangan terhadap Opini BPK atas Laporan Keuangan Audited pada Kementerian di Indonesia
PROFIL
Profil Inspektur III Inspektorat Jenderal Kemenristekdikti
TANYA JAWAB
Itjen Menjawab
GALERI
53-60 61-65 66-69
70-72
74-75
76-79
PELANTIKAN DAN PENGAMBILAN SUMPAH JABATAN PEMIMPIN PTN,
KEPALA LLDIKTI DAN PIMPINAN TINGGI PRATAMA DI LINGKUNGAN
KEMENRISTEKDIKTI
M enteri Riset, Teknologi, dan Pen- didikan Tinggi (Mohamad Nasir) melantik delapan pejabat di Audito- rium Gedung D, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan dihadiri oleh tamu undangan. Menristekdikti menghara- pkan semoga momentum ini akan memberikan
situasi, semangat baru dan yang baru daja dilantik
diminta menaikkan perinhkat institusi dan men-
dorong riset, teknologi dan inovasi yan dapat di-
ukir melalui peningkatan jumlah publikasi, pene-
litian terapan atau inovasi. Selain itu mendorong
para innovator untuk mendaftarkan paten dan
membangun jiwa kewirausahaan anak didiknya.
“Jabatan adalah amanah. Jabatan bukan satu-sat- unya hal. Oleh karena amanah, maka laksanakan amanah itu sebaik-baiknya untuk institusi yang Saudara pimpin semuanya,” ungkapan Menristek- dikti (Mohamad Nasir).
Ia memerintahkan kepada para pejabat baru ter- seut untuk menjaga keselarasan dan keharmini- san internal perguruan tinggi dan Lembaga yang di pimpinnya. Selain itu juga berfokus pada tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan di ha- dapan masyarakat.
Daftar pejabat yang resmi dilantik:
1. Rektor Universitas Sebelas Maret, Periode 2019 – 2023, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum.
2. Rektor Universitas Tanjungpura, Periode 2019 – 2023, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M. Si.
3. Rektor Universitas Pendidikan Ganesha, Peri- ode 2019 – 2023, Dr. I Nyoman Jampel, M.
Pd.
4. Rektor Universitas Sulawesi Barat, Periode 2019 – 2023, Dr. Ir. Akhsan Djalaluddin, M.
S.
5. Rektor Institut Seni Indonesia, Periode 2019 – 2023, Prof. Dr. Muhammad Agus Burhan, M. Hum.
6. Direktur Politeknik Negeri Lhokseumawe, Periode 2019 – 2023, Rizal Syahyadi, S.T., M. Eng. Sc.
7. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Yogyakarta, Periode 2019 – 2023, Prof. Dr. Didi Ahjari, S.E., M. Com., Akt
didikan Tinggi Periode 2019 – 2023, Prof.
Dr. Ir. Anondho Wijanarko, M. Eng.
Bertindak sebagai saksi pada pelantikan adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na’im dan Direk- tur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati. Para Eselon 1 lainnya yang hadir adalah Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Staf Ahli Bidang Akademik Paulina Pannen, Staf Ahli Bidang Infrastruktur Hari Purwanto.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Mohamad Nasir) juga mengucapkan terima kasih kepada pejabat yang telat memajukan Universitas, Politeknik, dan LLDIKTI sebelumnya. Ia berharap para penggantu meneruskan program-program yang sudah baik dan menemukan kreativitas yang inovatif untuk merancang program-program baru yang bermanfaat untuk nusa bangsa. (Firman/
Fira).
P engelolaan Keuangan di PTN-BLU
P oliteknik Negeri Malang telah memper- siapkan menjadi PTN BLU sejak tahun 2011 dan mendapatkan status PPK BLU pada tahun 2012. Persiapan yang telah dilakukan oleh Politeknik Negeri Malang ada- lah dengan mempersiapkan beberapa aspek yang menjadi persyaratan satker PPK BLU diantaran- ya tata kelola, renstabis, keuangan, dan SPM.
Mekanisme pengelolaan keuangan Politeknik Negeri Malang mengacu kepada sistem pengelo- laan keuangan Negara sesuai dengan undang-un- dang no 17 tahun 2003, UU No. 1 Tahun 2004, dan UU No. 15 Tahun 2014 serta PMK 190 Ta- hun 2012 yang telah diubah menjadi PMK No.
178 Tahun 2018.
Sebagai bagian dari reformasi manajemen keuan- gan negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Per- bendaharaan Negara telah mengamanatkan berb- agai perubahan fundamental, antara lain pada pasal 68 dan pasal 69 mengenai PK BLU untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelo- laan keuangan negara dalam rangka meningkat- kan kinerja pelayanan publik.
Amanat UU No. 1 Tahun 2004 tersebut telah dijabarkan lebih lanjut dalam PP No. 23 Tahun 2005 sebagaimana telah diubah menjadi PP No.
74 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum dan 5 (lima) Peraturan
BLU merup akan imp lementasi konsep “ enterp rising the government ” d an p enganggaran
b erb asis kinerja d i lingkungan P emerintah.
Menteri Keuangan berkaitan dengan Persyaratan Administratif dalam rangka Pengusulan dan Pen- etapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah untuk Menerapkan PPK BLU, Kewenangan Pengadaan Barang atau Jasa pada BLU, Pembentukan De- wan Pengawas pada BLU, Pedoman Penetapan Remunerasi pada BLU, Tata Cara Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) serta Do- kumen Pelaksanaan Anggaran BLU. BLU mer- upakan implementasi konsep “enterprising the government” dan penganggaran berbasis kinerja di lingkungan pemerintah.
BLU diberikan fleksibilitas dalam pengelo- laan keuangan untuk mendukung produktivitas, efisiensi, dan efektifitas pelayanan publik tetapi tidak bertujuan mencari laba. Fleksibilitas BLU antara lain mengelola langsung pendapatan oper-
berasal dari APBN, pendapatan dari pelayanan, kerja sama operasional, hibah dan pendapatan lainnya. Bidang layanan umum yang diselengga- rakan instansi PK BLU adalah kegiatan pemerin- tah yang bersifat operasional dalam menyelengga- rakan pelayanan umum yang menghasilkan semi barang atau jasa (quasi public goods) meliputi penyediaan barang atau jasa, pengelola wilayah, dan pengelola dana khusus untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. BLU diharuskan menyusun Rencana Bisnis Anggaran yang akan digabung- kan dengan Rencana Kinerja Anggaran (RKA) kementerian negara/lembaga induknya.
BLU Politeknik Negeri Malang sebagai Enti-
tas Akuntansi dan Entitas Pelaporan menyusun
Laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntan-
si Pemerintahan. Laporan Keuangan BLU sebagai
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang disampaikan Presiden kepada DPR sebagai RUU pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.
58/KMK.05/2012 tanggal 24 Pebruari 2012 tentang Penetapan Politeknik Negeri Malang pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai instansi pemerintah yang menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum, Seluruh tahapan awal penerapan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Politeknik Negeri Malang telah dan atau sebagian masih da- lam proses penyusunan dan pengajuan. Berikut hal-hal yang telah dilakukan oleh Politeknik Neg- eri Malang yaitu Penyusunan Standar Pelayanan Minimum; Penyusunan Dokumen Perencanaan yang meliputi RKAKL, Renstrabis dan RBA;
Proses penyusunan dan penyempurnaan standar operasional prosedur (SOP) yang disusun dan dikembangkan oleh Tim Keuangan beserta ang- gota perwakilan dari Satuan Pengawasan Internal (SPI); Penggunaan aplikasi SAIBA untuk dapat menghasilkan laporan keuangan Badan Layanan Umum sesuai dengan PSAP Nomor 13; Telah dilakukan review atas laporan keuangan oleh SPI setiap semester, dan kedepan diharapkan SPI dapat melakukan review atas proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan juga review atas aset barang milik negara; Dilakukannya proses audit laporan keuangan standar akuntansi komer- sial oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) terdaft- ar untuk dapat meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan badan layanan umum; Telah disusun tarif layanan badan layanan umum yang terdiri dari tarif jasa layanan pendi- dikan, jasa pemanfaatan barang miliki negara, jasa pelatihan, sertifikasi dan kerjasama lainnya dalam rangka tridharma perguruan tinggi dan sampai dengan penyusunan laporan keuangan ini dis- usun; Tarif Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuli-
Pendidikan dan Kebudayaan No 73 Tahun 2014.
Permendikbud No. 55 Tahun 2013 serta Surat Edaran Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi No. 01/M/SE/V/2015 Tanggal 25 Mei 2015 tentang Evaluasi Peraturan Menteri Pen- didikan dan Kebudayaan No.73 Tahun 2014;
Tarif Layanan Badan Layanan Umum ditetap- kan melalui SK Peraturan Menteri Keuangan No.
PMK 75/PMK.05/2015 Tanggal 14 April 2015;
Telah disusun Remunerasi dan telah disetujui oleh Menteri Keuangan Melalui Keputusan Men- teri Keuangan No. KMK-1261/KMK.05/2015 Tanggal 25 Desember 2015; Telah ditetapkan Dewan Pengawas melalui Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi No. 06/
MPK.A4/KP/2015 Tanggal 29 Januari 2015.
Perencanaan kegiatan dan anggaran di Po-
liteknik Negeri Malang melalui beberapa tahapan
yang pertama, Perhitungan Target Penerimaan
Pendapatan yang merupakan kegiatan awal da-
lam proses perencanaan. Dalam hal ini pener-
imaan pendapatan yang bersifat indikatif beras-
al dari sumber dana APBN, Hibah, dan PNBP
(Pendapatan Negara Bukan Pajak. Total dari
target penerimaan pendapatan diperoleh den-
gan menjumlahkan jumlah nominal dari 3 (tiga)
sumber dana tersebut. Total target penerimaan
pendapatan digunakan sebagai dasar untuk me-
nentukan pagu belanja kegiatan diseluruh unit
kerja. Yang kedua, Alokasi Target Penerimaan In-
fikatif untuk Belanja Kegiatan Unit Kerja. Total
target penerimaan indikatif dialokasikan kepada
semua unit kerja untuk anggaran belanja kegiatan
operasional dan pembangunan Pendidikan. Da-
lam hal ini semua unit kerja menerima sejumlah
anggaran untuk pelaksanaan kegiatan. Yang keti-
ga, melakukan Penyusunan Usulan Kegiatan dan
Anggaran oleh Unit Kerja. Jadi setelah menerima
pagu anggaran, seluruh unit kerja mengusulkan
kan dalam satu tahun anggaran melalui pengum- pulan Term Of Reference (TOR) dan Rencana Anggaran Belanja (RAB) kegiatan. RAB berisi rincian rencana penggunaan anggaran keuangan pada setiap unit kerja, sedangkan TOR berisi in- formasi mengenai sasaran, indikator kinerja, latar belakang perlu diadakan kegiatan, jadwal pelaksa- naan, output yang dihasilkan, serta outcome yang diharapkan atas masing-masing rencana kegiatan unit kerja pada dalam satu tahun anggaran. Yang keempat, Menelaah Usulan Kegiatan dan Angga- ran Unit Kerja yang ditelaah oleh tim dari Satuan Pengawas Internal dan Bagian Keuangan untuk memverifikasi kesesuaiannya terhadap sasaran mutu, Standar Belanja Masukan (SBM) dan jenis belanja yang diperkenankan. Yang kelima, Meny- usun Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA).
Dengan 4 (empat) kegiatan yang berurutan diatas merupakan kegiatan-kegiatan awal untuk meny- usun Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) yang didalamnya merupakan kompilasi usulan kegiatan dari seluruh unit kerja di lingkungan Politeknik Negeri Malang dan juga tercantum pada RKA- K/L. Yang keenam, Mengusulkan dan memba- has/telaah anggaran/RBA dengan Sekertariat Jenderal Kemenristekdikti. Substansi RBA dan RKAKL dibahas Bersama Dikti pada akhirnya diterbitkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) definitif dalam bentuk petikan DIPA yang berisi jumlah pagu anggaran definitf untuk kegia- tan-kegiatan yang akan dilakukan dalam satu an- ggaran. Yang keenam, Menerima dokumen petika DIPA diterima sebaga tanda persetujuan kegiatan dan anggaran yang akan dilakukan dalam satu an- ggaran. Dalam penyusunan laporan keuangan tel-
Telah terdapat pedoman-pedoman akuntansi dan Pencatatan yang meliputi Pedoman Kas dan Se- tara Kas, Pedoman Piutang, Pedoman Persediaan, Pedoman Pendapatan, dan Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan. Untuk Proses pencatatan kas keluar masuk mengadopsi sistem pembukuan sesuai Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER 47/PB/2014 Tentang petunjuk teknis penatau- sahaan, pembukuan dan pertanggungjawaban Bendahara pada Badan Layanan Umum serta Verifikasi dan Monitoring laporan pertanggung- jawaban Bendahara pada Badan Layanan Umum.
Pencatatan kas keluar dan masuk teradministra- si dalam Buku Kas Umum dan Buku Pembantu (Buku Pembantu Kas, Buku Pembantu Kas Tu- nai, Buku Pembantu Bank, Buku Pembantu UP, Buku Pembantu LS Bendahara, Buku Pembantu UP, Buku Pembantu Pajak).
Kendala yang terjadi dalam mengawal akuntabil-
itas keuangan dan kinerja di Politeknik Negeri
Malang yaitu pemahaman yang tidak seragam
terkait dengan aspek fleksibilitas BLU sesuai PP
No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Badan
Layanan Umum, Meningkatnya tuntutan akunt-
abilitas BLU yang kurang di imbangi dengan per-
siapan Sumber Daya Manusia, dan sistem informa-
si yang belum mendukung tercapainya tata kelola
BLU yang baik. Solusi yang dilakukan biasanya
Politeknik Negeri Malang melakukan sosialisasi
mengenai Pengelolaan BLU yang meliputi aspek
Fleksibilitas dan Akuntabilitas BLU, melakukan
perbaikan sistem rekruitmen karyawan non-PNS
dan memberikan kesempatan pengembangan
kompetensi/Pendidikan, melakukan modernisasi
pengelolaan keuangan BLU dengan mengem-
Pisahkan Rekening Tabungan & Kebutuhan Sehari-hari
Membuat Anggaran Bulanan
Menyisihkan 15%
Penghasilan
Siapkan Dana Darurat
Dampak Revolusi Industri
4.0 pada
PENGAWASAN INTERNAL DI
PERGURUAN TINGGI NEGERI
INDONESIA
S atuan Pengawas Internal Perguruan Ting- gi Negeri (SPI PTN) kini berada di tengah konvergensi. Kemajuan teknologi terutama dalam otomatisasi administratif secara ro- botic dan kecerdasan kognitif dengan cepat mem- bentuk model bisnis baru untuk Perguruan Tinggi Negeri. Peningkatan efektifitas dan efisiensi menun- tut inovasi PTN dalam memberikan layanan kepada masyarakat sebagai konsumen. Inovasi merupakan langkah yang wajib diambil dalam menghadapi In- dustri 4.0 atau Revolusi Industri Keempat.
SPI PTN pun dituntut dengan cepat beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0. Ketika PTN dalam waktu bersamaan terus menerus mengadopsi te- knologi baru, SPI PTN pun perlu secara proaktif menilai dan juga menyerap wawasan baru terkait te- knologi terkini terutama yang berhubungan dengan tata kelola PTN bidang non akademik. Tata kelola bidang non akademik antara lain mencakup penga- wasan pendapatan dan belanja, manajemen asset, juga yang patut diberi perhatian lebih yaitu penga- walan Perjanjian Kinerja Pimpinan PTN. Pada Rev- olusi 1.0 Tata Kelola PTN menekankan pada pasar mahasiswa dan tenaga dosen sebagai sumber daya manusianya.
Sedangkan pada Revolusi 2.0 mulai bermunculan
mesin yang membantu proses manajemen PTN,
implikasinya berdampak pada mulainya tata kelola
PTN yang terkomputerisasi. Sehingga pada Revolusi
3.0 ketika informasi berlimpah, terjadilah tata kelola
PTN yang kolaboratif dan situs yang membuat infor-
masi dapat diakses setiap saat. Oleh karena itu, pada
era Revolusi 3.0 keberadaan SPI PTN mulai dira-
sa penting dalam mengawal tata kelola PTN demi
mewujudkan good university governance. Lalu pada
Revolusi Industri 4.0, arus teknologi yang begitu ce-
pat menghasilkan fenomena disruptif.
Disrupsi menurut Rhenald Kasali bukan sekedar fenomena hari ini (today), melainkan fenomena hari esok (future) yang dibawa oleh para pemba- haru ke saat ini. Fenomena tersebut membuat pemerintah tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan kebijakan yang antisipatif. Inovasi teknologi bahkan memungkinkan terjadinya re- distribusi dan desentralisasi dalam berbagai aspek layanan yang prima yang ditawarkan PTN.
Sehingga pendekatan yang dilakukan PTN yang melibatkan stakeholder termasuk masyarakat di-
SPI PTN berhadapan dengan perubahan pola
hubungan antara SPI PTN dengan pimpinan
PTN. Oleh karena itu, perspektif paradigma baru
pengawasan SPI dalam melaksanakan fungsi pen-
gawasan sangat dibutuhkan. Kini SPI bukanlah
berfungsi sebagai “watchdog” tetapi lebih menjadi
konsultan, yang berperan bukan sebagai pencari
kesalahan tetapi membantu PTN dalam melaku-
kan perubahan yang lebih baik dalam kebijakan
dan transformasi internal. (Firman/Syafira)
PERAN SPI DALAM MENGAWAL
AKUNTABILITAS DI LINGKUNGAN LLDIKTI V YOGYAKARTA
J umat, 26 April 2019, Tim SIP mendatangi kantor LLDIKTI V Yogyakarta. Tujuan ke- datangan Tim SIP adalah untuk melakukan wawancara dengan Kepala LLDIKTI V yang baru saja dilantik pada tanggal 12 April 2019 menggantikan Dr. Ir. Bambang Supriyadi, C.E.S., D.E.A yaitu Prof. Dr. Didi Achjari ,S.E ., M.Com., Ak., CA., beserta jajarannya di LLDIKTI V. Di da- lam LLDIKTI V terdapat 3 bagian secara gen- eral yaitu, bagian akademik kemahasiswaan dan sumberdaya, bagian kelembagaan dan sistem in- formasi, subbag perencanaan dan penganggaran, kemudian subbag hukum kepegawaian dan tata laksana, serta subbag tata usaha dan BMN yang mendukung kedua bagian yang lain, dan lebih banyak untuk internal.
Dalam rangka peningkatan kualitas Pendidikan tinggi di wilayah LLDIKTI V, cukup banyak ke- giatan yang telah dilakukan antara lain, sosialisa- si kebijakan dan aturan Kemenristekdikti yang dilakukan 12 kali dalam setahun. Tidak hanya ter- batas pada sosialisasi kegiatan, LLDIKTI V juga
melakukan pendampingan dan sosialisasi menge- nai pendirian program studi atau penggabungan Perguruan Tinggi dengan mengundang narasum- ber yang berkompeten. Program-program ini tidak hanya untuk pemimpin perguruan tinggi swasta, tetapi juga menggandeng Yayasan pemilik pergu- ruan tinggi tersebut demi keberlangsungan hidup perguruan tinggi yang ada di wilayah LLDIKTI V.
Dalam upaya meningkatkan mutu kelembagaan perguruan tinggi, LLDIKTI V melakukan pembi- naan mutu PTS dengan mengadakan BIMTEK penyusunan proposal dana hibah, pengelolaan perguruan tinggi, dan program BIMTEK terhadap program studi terakreditasi C dan B agar dapat meningkatkan menjadi A. Terkait Akuntabilitas Kinerja dan Keuangan LLDIKTI V, berikut adalah wawancara antara Tim Liputan SIP dengan pihak yang berwenang di LLDIKTI V:
SIP : Tugas LLDIKTI sekitar setahun yg lalu, dari peralihan Kopertis ke LLDIKTI banyak yg mengkhawatirkan pendelegasian tugas dari pusat ke LLDIKTI. setelah berjalan, Apakah kekhawati- ran itu masih menjadi kendala?
LLDIKTI V : Kendala paling terasa di anggaran,
dulu satu sekarang lima. Dengan adanya beda
direktorat, kan ada sekjen dan lima dirjen, mas-
ing-masing mempunyai anggaran sendiri-sendiri
yang ditampung oleh kami. Menurut kami men-
jadi sangat tidak efisien, karena perlu pendanaan
sendiri. Masih efisien dulu ketika menjadi Dirjen
Dikti. Sekarang dikavling-kavling dan menjadi rig- id. Padahal bisa saja kelembagaan kurang, kema- hasiswaan sisa. nah itu menjadi masalah, justru kami meminta bantuan dari itjen untuk menyu- arakan hal ini, karena kondisi ini tidak efisien.
contoh kami ingin menggunakan anggaran untuk yang lebih urgent tetapi karena berbeda dirjen jadi tidak bisa, itu sangat tidak efisien. padahal kan dari dana terbatas sebenernya ada yg paling ur- gent.
Kerap kali ketika ada pendelegasian, tidak ada su- rat pendelegasian. kalo yang bawah jelas, tetapi yg kami alami di penelitian tidak ada surat pendele- gasian untuk dosen muda yang meneliti, sehingga dasar hukumnya tidak ada, hanya lisan. yang kami harapkan dari itjen bisa menjembatani hal seperti ini, dulu kan ada bendahara proyek dan benda- hara rutin, bendahara proyek sekjen sedangkan bendahara rutin dari Itjen juga pada ranah inova-
si, padahal inovasi itu porsinya 25% dan banyak perguruan tinggi swasta yang mengajukan tetapi karena prosedurnya sulit sehingga banyak pergu- ruan tinggi swasta masih di kelas bawah.
SIP : Tentang akuntabilitas, di LLDIKTI Jogja
apa yang akan dilakukan untuk menegakkan dan
meningkatkan akuntabilitas kinerja dan keuangan.
Apa yang aka dilakukan agar akuntabilitas menjadi lebih baik?
LLDIKTI V : Kemarin baru saja ada evaluasi an- ggaran triwulan I dan kami merupakan yang ter- endah dalam serapan anggaran tetapi sebenarnya dari kegiatan tinggi. kendalanya adalah lamanya pencairan sertifikasi dosen, mudah-mudahan untuk triwulan berikutnya lebih lancar. Adapun terkait akuntabilitas, sekarang sudah ada aplikasi triwu- lan, semesteran, dan dari bagian perencanaan dan penganggaran aplikasi dikelola oleh masing-masing staff. Lalu kami juga didampingi oleh tim SPI di triwulan I, selain keuangan juga ada pendampingan secara penyusunan pelaporan SPI, kami didampin- gi SPI yang berjumlah lima orang, 2 dosen dan 3 dari pegawai kami sendiri. Jadi jika dari keuangan
ada yg belum benar atau belum sesuai, ada sera- pan-serapan yang lambat, ada yang mengingatkan.
Untuk meningkatkan akuntabilitas seharusnya me-
mang sudah sejak penganggaran pimpinan sampai
penanggung jawab kegiatan. Kami upayakan pen-
ganggaran itu sudah berdasarkan mengacu rel yang
seharusnya. adapun monitoring selain dari SPI, di
wilayah kami DJJB sangat perhatian pada satker di
wilayahnya, maka ketika rapot kami merah di tri
wulan I akan diundang kesana ditanya kenapa jelek,
solusi dan langkah apa yang ditempuh untuk mem-
perbaikinya. Kemudian hal itu menjadi semangat
bagi kami, intinya kami ingin memonitoring apa
yang sudah berjalan dan apa yang akan dijalankan,
dan penyesuaian atau revisi apa yang dibutuhkan,
per tiga bulan kami buat kegiatan yang terdiri dari
kepala sampai staff.
Dari penganggaran kami diskusikan setelah diim- plementasikan kami didampingi oleh SPI. SPI tidak hanya dari orang kita tetapi juga dari dosen akuntan. setelah pimpinan berubah ada tambah- an orang luar sebagai tim SPI dan kami menjadi lebih sehat, transparan, dan semua terlibat. Terkait kinerja SDM, 7.376 dosen dan 0,77% adalah guru besar, tetapi angka itu masih kecil harus dipacu, tetapi ada kendala jika ada profesor yang pindah, tetapi tidak semua, rektor kepala 7,26%, rektor 21,6% asisten ahli 35,7%, 34,2% tenaga kerja dari 7.376, yang sudah tersertifikasi ada 3.525 sedangkan yang lain belum berhak. Dilihat dari jenjang Pendidikan 12,7% S3 atau doktor 70,9% , S2 spesialis 0,9% sarjana kami masih punya kare- na belum ada program S2, maka S1 msh 7,4%.
Jadi S1 profesinya sudah menjadi dosen. Contoh kemaritiman S1 ada sudah ahli tetapi S2 dan S3 tidak ada. 2020 rencananya mau dterapkan, karena kemaritiman S2 dan S3 tidak ada. Untuk yg 7% yang masih S1 itu juga kebanyakan dosen sisa. jadi dulu tahun 2006 semua dosen otomatis dapat NIDN, tetapi semenjak NIDN diurusi oleh SDID maka diatur yang belum S2 tidak dapat NIDN. katanya PPDIKTI akan membereskan hal ini tetapi sampai saat ini belum ada, dosen yg sudah berumur 50-an pun jadi diam saja, adem ayem.
em.
TIM SIP : Bagaimana dengan peran SPI dalam mendukung akuntabilitas LLDIKTI V?
LLDIKTI V : Peran SPI dalam membuat laporan keuangan, mengawasi realisasi anggaran, jadi kalo
ada kendala lambat terserap atau program yang tidak disalurkan, SPI memberi alert kenapa ini.
Dan kami menjadi lebih waspada. Karena SPI terdiri dari dosen mereka lebih independen dalam menyampaikan, apalagi mereka di luar LLDIKTI, berbeda kalo SPI dari orang dalam mereka tidak akan berani mengkritisi atasan.
TIM SIP: Apakah idealnya SPI itu seharusnya dari luar LLDIKTI?
LLDIKTI V : Ya gabungan, tidak dari luar semua, kalau dari luar semua nanti proses bisnisnya tidak paham. Jadi yang dari luar bisa memberikan masu- kan. yang menyampaikan dari luar, yang menjem- batani proses bisnisnya seperti apa itu dari orang dalam. dari LLDIKTI 3, dari luar 2. itu komposisi SPI nya. Mereka mepunyai ruangan sendiri, seti- ap triwulan mereview langsung kuitansi-kuintasi, sebelum bendahara dibayarkan harus ditanda tan- gani terlebih dulu, bendahara bahkan tidak akan membayarkan jika kuitansi belum ditanda tangani.
TIM SIP : Apa harapan LLDIKTI V dengan peran Itjen saat ini?
LLDIKTI V : 1. Itjen diharapkan menjadi pen-
yambung aspirasi kami, yang ada di lapangan bisa
diharapkan. Itjen lebih independen, kami diang-
gap sebagai di bawah, sebagai sub, maka kurang
elok kalo langsung ke Dirjen-Dirjen, maka melalui
Itjen lebih elok. 2. Sebagai internal audit tidak
hanya sebagai compliance tetapi menjadi consul-
tant. Sering munculnya compliance, sebagai pen-
gawas, sebagai auditor. padahal consulting juga tidak kalah penting menjadi fungsi Itjen untuk pimpinan-pimpinan. Proses audit internal adalah tujuan organisasi tercapai, jika ada kendala itjen bisa menyampaikan alert pada pihak yang terkait atau pimpinan, terkait kebijakan dan seterusnya.
maka peran consulting menjadi sangat penting.
Itjen menjadi partner pimpinan untuk memberi masukan pada kendala yang dihadapi di lapangan yang menghambat tercapainya tujuan. Contoh riil jika ada peraturan tertentu yang dikeluarkan oleh salah satu direktorat yg berpotensi bersing- gungan atau bertabrakan dengan dirjen yg lain yg menghambat kinerja secara keseluruhan. Contoh di PTN BH itu peraturan di luar kementerian, PTN BH terkena kendala peraturan perpajakan itu di luar kendali kemenristekdikti, itjen mem- beri masukan “ini akan membuat PTN BH tidak berkembang karena dianggap Pengusaha Kena Pajak (PKP) institusi perusahaan itu kan tidak pas”, ini menjadi hal yang penting agar pimpinan bisa bereaksi dan merespon. Peraturan-peratur-
an yang terkait SDM, dewan pendidikan tinggi semacam think tank untuk masukan pada ment- eri, jurnal terindeks wcopus, itu membuat perilaku dosen berubah menjadi fokus pada jurnal indosco- pus bukan tri dharma perguruan tinggi, sehingga dosen rela mengabaikan tri dharma perguruan tinggi yang lain seperti pengabdian masyarakat Itu berbahaya secara nasional, tugas Itjen untuk memberi alert. Bahkan yang lebih fatal mereka mengajar menjadi enggan karena mereka melihat poin lebih besar itu ada di penelitian. mengajar hanya secukupnya. Bahkan ada yang maunya menulis buat meneliti saja padahal kan APK nya di pengajaran, satu direktorat mendorong untuk penelitian. Harapan kami kepada Itjen bisa men- yambung aspirasi kami pada kemenristekdikti tentu saja masukan tidak hanya dari kami tetapi dari berbagai institusi. (Aldino/Medisita/Nicki).
Itjen menjad i p artner p imp inan untuk memb eri masukan p ad a kend ala yang d ihad ap i d i lap angan yang
menghamb at tercap ainya tujuan.
G agasan tentang Good Governance atau tata kelola pemerintahan yang baik ser- ing terdengar akhir-akhir ini. Tata kelo- la pemerintah yang baik pada dasarnya adalah proses pencapaian keputusan dan pelak- sanaan yang dapat dipertanggungjawabkan bersa- ma antara pemerintah, korporasi dan masyarakat.
Masyarakat berharap kegiatan pemerintahan dapat dijalankan dengan penuh amanah dan tang- gung jawab, termasuk kegiatan pelayanan publik.
Menurut Deputi Bidang Reformasi Birokrasi
Akuntabilitas Aparatur Dan Pengawasan, - Ke- menterian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, nilai akuntabilitas sangat penting untuk diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Hal ini dikarenan keberadaan suatu negara termasuk pemerintahnya tergantung pada masyarakatnya.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi mengamanatkan bahwa men- teri harus melakukan evaluasi pelaksanaan stan-
AKUNTABILITAS KEUANGAN
DILINGKUNGAN UNIVERSITAS NEGERI
LAMPUNG (UNILA)
dar perguruan tinggi termasuk tanggung jawab kinerja pelayanan terhadap stakeholders. Kinerja utama yang menjadi sorotan didalam pelaksanaan kegiatan instansi pemerintah adalah kinerja di bidang keuangan, sumber daya manusia dan pe- rencanaan dan penganggaran. Salah satu Pergu- ruan Tinggi secara khusus membagikan kisahnya tentang bagaimana praktik tata kelola organisasi yang baik dapat membangun akuntabilitas kiner- ja yang andal, yaitu Universitas Lampung (Unila).
Unila adalah Univeristas tertua di provinsi Lam- pung yang didirikan pada 23 September 1965.
Persiapan atau aktifitas apa saja yang dilakukan oleh Unila dalam usaha untuk mengawal akuntabilitas keuangan?
Universitas Lampung sudah memanfaatkan te- knologi informasi alam pelaksanaan sistem pe- layanan secara maksimal. Secara umum Unila melakukan kegiatan perencanaan, pencatatan dan pelaporan dengan basis digital. Misalnya da- lam bidang keuangan, pencairan anggaran sudah dilakukan berbasis web sejak tahun 2012. Sistem berbasis web ini membantu Unila dalam mengin- tegrasi pencairan anggaran di 32 unit kerja in- ternal dan mendorong untuk penerapan konsep peperless yang mendukung kelestarian lingkun- gan. Sejak Unila diberlakukan menjadi Badan Layanan Umum dari tahun 2010, Unila selalu memperoleh predikat WTP tiap diadakan audit oleh kantor akuntan publik. Prosedur yang diter- apkan dalam kegiatan yang berhubungan dengan keuangan juga didukung oleh ISO-2001.
Dalam mengawal akuntabilitas keuangan Unila
ah, Serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah.
Apakah setiap keuangan harus tercatat di bank? misalnya pada saat Unila mengelu- arkan dana apakah langsung diambil dari bank?
Unila melakukan praktik pencegahan terjadinya pencampuran transaksi dengan cara membuat akun bendahara pengeluaran dan dalam akun tersebut dibuatkan 52 rekening dengan bank yang berbeda untuk melaksanakan segala macam transaksi. Unila juga sudah mulai merilis peng- gunaan kartu kredit pemerintah yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan.
Format laporan seperti apa yang dipa- kai oleh Unila dalam melakukan laporan keuangan?
Format laporan keuangan Unila dibuat berdasar- kan Peraturan Menteri Keuangan No 70 Tahun 2017. Meskipun belum ada aturan yang mewa- jibkan PTN BLU membuat SAK, Unila tetap menyusun SAK demi menstandarisasi pelaporan menjadi lebih baik. Dana hibah dikelola berdasar- kan aturan bahwa proses distribusi dilakukan oleh pusat dan diterima oleh Perguruan Tinggi.
Status Unila sebagai BLU membuat Unila lebih
fleksibel dalam menggunakan anggaran. Setelah
Unila melakukan penerimaan, penerimaan akan
disahkan oleh KPPN. Dana berupa PNBP dapat
digunakan Unila baik itu dalam saldo awal didapat
dari sisa akhir tahun berjalan dan tetap melalui
Selain di bidang keuangan, Unila juga menerapkan teknologi aplikasi untuk bidang perencanaan dan anggaran. Aplikasi tersebut membantu mengum- pulkan informasi kebutuhan anggaran tiap satuan kerja di Unila. Informasi tentang kebutuhan an- ggara kemudian di telaah bersama melalui Rapat Koordinasi Perencanaan. Perubahan anggaran yang terjadi akan berpengaruh pada perubahan output baik berupa output bangunan, alat bantu belajar, fasilitas kegiatan mengajar, dan lain lain.
Apakah sudah ada analisis efisiensi penggu- naan sumber daya manusia di Unila?
Dalam bidang akuntabilitas sumber daya manu- sia, penggunaan sumber daya manusia di Unila di- jalankan berdasarkan Analisis Beban Kerja. Sejauh ini alokasi sumber daya manusia sudah sesuai den- gan analisis yang telah dilakukan oleh Unila. Pada tahun 2018 lalu, dari 162 formasi CPNS Dosen,
hanya terisi sejumlah 144 dan sekitar 50 diantara nya adalah dosen yang sebelumnya telah mengajar di Unila dengan status Non-CPNS. Namun de- mikian, formasi yang belum terisi menjadi kendala tersendiri bagi Unila karena jumlah dosen merupa- kan hal yang dipertimbangkan dalam perihal akred- itasi program studi.
Dalam mencapai akuntabilitas kinerja pada suatu
organisasi memangg diperlukan sinergi dan ker-
jasama dari banyak pihak yang terlibat untuk saling
mendukung dan meningkatkan kualitas, efisiensi
dan transparansi baik itu dalam tahap proses atau
pun telah mencapai tahap pelaporan. Dalam era
digital ini, pemanfaatan teknologi informasi juga
sangat membantu untuk mendukung keandalan
informasi dalam menuju Good Governance dan ke-
giatan pemerintahan yang ramah lingkungan (pa-
perless). (Azmy/Medisita/Firman)
Semangat Universitas Sriwijaya Dalam
Meningkatkan
Akuntabilitas Kinerja
S ejak menjadi PTN-BLU pada tahun 2013, Universitas Sriwijaya (Unsri) di- harapkan dapat meningkatkan pelayanan dan mutu pendidikan. Perjuangan pan- jang yang telah dilalui oleh Unsri untuk perubahan status menjadi PTN-BLU memberikan semangat baru untuk lebih percaya diri lagi dalam mening- katkan pelayanan. Hal ini tentunya menjadikan
kan sumber Pendapatan Negara Bukan Pajak
(PNBP). Perubahan status dari Perguruan Tinggi
Negeri Satuan Kerja (PTN-Satker) menjadi Per-
guruan Tinggi Negeri berstatus Badan Layanan
Umum (PTN-BLU) ini juga membuat Unsri leb-
ih gencar menekankan Akuntabilitas kinerja pada
lingkup internalnya.
Tidak terkecuali Unsri dengan akuntabilitas kiner- ja serta keuangan yang ada di lingkungannya.
Akuntabilitas kinerja merupakan perwujudan ke- wajiban untuk mempertanggungjawabkan keber- hasilan dan kegagalan pelaksanaan misi unit or- ganisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan melalui sistem pertanggungjawa- ban secara periodik (Pusdiklatwas BPKP, 2011:
2). Tim liputan Hukum dan SIP Inspektorat Jen- deral Kemenristekdikti berkesempatan mendapa- tkan paparan langsung terkait cerminan akunt- abilitas kinerja dan keuangan di lingkungan Unsri.
Diantaranya hadir Wakil Rektor Bidang Keuan- gan dan Kepegawaian Unsri, Bapak Mukhtarud- din, SE. M.Si Ak, CA sebagai narasumber utama, ketua Satuan Pengawasan Internal (SPI) Unsri Drs. Isnurhadi, M.B.A., Ph.D, kepala BPHM Dra. Elfiani T. Marbun, kepala keuangan Bapak A. Erwin Taufik serta beberapa staf dari setiap unit.
“Bagaimana mekanisme pengelolaan
keuangan di Universitas Sriwijaya setelah menjadi PTN-BLU?”
“Universitas Sriwijaya memiliki program internal yaitu SINKEU (Sistem Informasi Keuangan) dan BIOS dari PKBLU. Universitas Sriwijaya dapat melihat tingkat input dan output masing-masing unit kerja melalui SINKEU sehingga dapat men- getahui bagaimana realisasi anggaran di Universi- tas Sriwijaya setiap saat”.
“Program apa saja yang dilakukan oleh Universitas Sriwijaya dalam meningkat- kan akuntabilitas kinerja dan keuangan?”
Universitas Sriwijaya memiliki program SIPECOKIN (SIstem PElaporan PenCapaian Output dan KINerja) sehingga dapat mengetahui akuntanbilitas kinerja dan keuangan. Semisal, ke- tika ada dana yang dikeluarkan maka harus memi- liki output”.
“Bagaimana prosedur penganggaran yang
sudah dijalankan dan apa saja yang harus
disiapkan oleh Universitas Sriwijaya?”
“Penyusunan anggaran dimulai dari pihak jurusan dan laboratorium. Universitas Sriwijaya memiliki aplikasi perencanaan yang dinamakan dengan SI- RENA (SIstem peRENcanaan Anggaran). Setiap Fakultas yang memiliki 3 akun yang akan dikelo- la oleh Kepala Laboratorium, Ketua Jurusan dan Wakil Dekan 2. Semua akun dapat dilihat oleh Dekan dan Wakil Dekan 2. Masing-masing pi- hak terkait tidak boleh melebihi pagu. Setelah SIRENA diisi maka diadakan pembahasan oleh Kabag Perencanaan dan SPI di Biro BPHM.
Berita Acara ditanda tangani oleh pihak terkait yaitu Pengusul, Kabag Perencanaan/BPHM dan SPI. Setelah itu, masuk ke dalam LHKPL kemudian diusulkan kepada kementerian. Ada 2 perencanaan ada 2 yaitu perencaaan belanja dan pengadaan. Perencanaan pengadaan dimasukkan ke dalam SIRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan). SIRUP dilakukan oleh mas- ing-masing PPK (Masing-masing Wakil Dekan 2 dan KPA unit universitas)”.
“Dalam kaitannya dengan model pengang- garan, bagaimana Universitas Sriwijaya menjalankannya?”
“Universitas Sriwijaya melakukan model pengang- garan dengan baik karena sudah terstruktur mulai dari Pengusul bertugas memberikan usulan ten- tang anggaran (Kepala Laboratorium, Ketua Juru- san dan Wakil Dekan 2), kemudian berkoordinasi dengan Kabag Perencanaan/BPHM beserta SPI agar anggaran tersebut harus sesuai aturan yang
“Semua pemasukan dan pengeluaran yang ada di Universitas Sriwijaya tercatat di bank. Dana yang masuk melalui bank, kemudian pihak bank nan- tinya yang akan membayar semua kegiatan yang ada di Universitas Sriwijaya”.
“Format laporan seperti apa yang dipakai Universitas Sriwijaya dalam melakukan laporaan keuangan?”
“Format Laporan keuangan Universitas Sriwijaya sesuai dengan standart yang berlaku. Laporan keuangan Unsri dapat dilihat melalui www.sirena.
unsri.ac.id dan www.sipecokin.unsri.ac.id ”.
“Bagaimana proses pencatatan kas keluar, masuk dan lainnya?”
“Semua tersusun dan dimasukkan ke dalam web melalui www.sirena.unsri.ac.id dan www.
sipecokin.unsri.ac.id ”.
“Adakah pihak dari luar untuk melakukan monitoring dan controlling di Universitas Sriwijaya?”
“Ya, Ada 3 pihak dari luar untuk melakukan mon- itoring dan controlling di Universitas Sriwijaya yaitu BPKP,TP4D, PU. Umumnya pihak luar hanya melakukan pengawasan pengendalian pen- gadaan”.
“Terkait dengan laporan keuangan itu, apa
saja yang ditetapkan melalui SOP?”
wijaya”
“Terkait dengan kerjasama pihak lain, apa- kah Universitas Sriwijaya memiliki stand- art sendiri?”
“Iya Universitas Sriwijaya memiliki pedoman atau aturan yang akan ditandatangani oleh Rektor.
Contoh : Pernah ada kerjasama dengan Pemprov Bangka Belitung. Maka dari itu, Universitas Sri- wijaya membutuhkan dosen di bidang geologi se- hingga waktu dan biaya yang dibutuhkan dapat diketahui dengan pasti, setelah itu pihak Universi- tas Sriwijaya yang menentukan standart gaji tena- ga ahli”.
“Jika ada hibah/bantuan dana kerjasama dari pemerintah daerah atau instansi lain- nya bagaimana mekanisme keuangan di Universitas Sriwijaya sebagai PTN-BLU?”
“Pada waktu kerjasama dengan pihak Universi- tas Sriwijaya maka dilakukan rapat (membahas tentang biaya dan kegiatan serta outputnya jika memiliki win solution maka dilakukan kerjasa- ma), kemudian kontrak kerja Universitas Sriwi- jaya. Setelah itu, pelaksanaan dan apabila ada dana dana kerjasama harus masuk terlebih dana ke Universitas Sriwijaya dan pertanggung jawa- ban tergantung bisa dari pihak Universitas atau pemerintah daerah maupun instansi lain”.
“Setelah menjadi PTN-BLU, kendala apa saja yang pernah terjadi dalam melaku- kan akuntabilitas keuangan dan kinerja di Universitas Sriwijaya? Dan Bagaimana solusinya?”
“Belum ada kendala terkait dengan keuangan
dan kinerja. Kendala Universitas Sriwijaya setelah menjadi PTN-BLU adalah PTN-BLU harus memiliki remunerasi maka dibuat sistem remu- nerasi. Dengan remunerasi dosen mendapatkan tukin. Pembayaran remunerasi menggunakan PNBP mencapai 70%. Sertifikasi dosen yang membayarkan PNBP. Terkait dengan pengadaan dosen untuk program studi baru di Universitas Sriwijaya belum terpenuhi dengan baik sehingga menjadi kendala dan belum menemukan solu- si terkait dengan kepegawaian dosen PNS dan PPPK. Kendala di Universitas Srwijaya hanya terletak pada Sumber Daya Manusia. Terkait den- gan kendala keuangan internal maka akan disele- saikan oleh SPI Universitas.
“Bagaimana cara meningkatkan akunt- abilitas kinerja pegawai di Universitas Sri- wijayah?”
Kinerja pegawai langsung dari biro kepegawaian dan pada waktu terjadi penilaian tidak baik maka punishment-nya langsung pemotongan remuner- asi. Apabila ada ST (surat tugas) luar kota akan tetapi dianggap tidak hadir maka ada verfikasi se- hingga tidak dipotong remunerasi.
“Apakah sudah dilengkapi pohon kinerja?
Apakah kinerja berjenjang sudah sesuai dengan pohon kinerja?”
“Universitas Sriwijaya belum memiliki pohon ki- nerja, akan tetapi pohon kinerja tersebut masih dalam progress”
“Apakah sudah dilaksanakan review ber-
jenjang sampai dengan SKP Pegawai dan
Dosen?”
“Universitas Sriwijaya hanya memiliki SKP pega- wai dan Dosen tetapi belum melaksanakan review berjenjang sesuai dengan pohon kinerja karena belum memiliki pohon kinerja”.
“Jika terdapat revisi/tambahan anggaran apakah mempengaruhi output kinerja?”
“Apabila ada revisi/tambahan anggaran tidak akan mempengaruhi output kinerja Universitas Sriwijaya. Output Kinerja di Universitas Sriwijaya berupa persentase”.
“Apakah sudah melakukan analisis efisien- si penggunaan sumber daya?
“Universitas Sriwijaya sudah melakukan efisien- si sumber daya dengan berbagai program yang sudah dibuat, seperti SIRENA, SINKEU, SIPECOKIN. Program-program tersebut digu- nakan untuk menggunakan sumber daya keuan- gan maupun kinerja agar lebih efisien dan efektif.
Universitas Sriwijaya juga sudah melakukan anali-
sis efisiensi penggunaan sumber daya berdasarkan
Permenristekdikti yang berlaku”. (renwi/nicki)
PENINGKATAN PENGAWASAN PELAKSANAAN TUGAS BELAJAR
DI LUAR NEGERI
(Audit Karya Siswa di Jepang)
Oleh : Ferdy Fristyansjah
P engembangan kompetensi sumber daya manusia melalui studi lanjut pendidikan formal dilakukan dengan pemberian tu- gas belajar dan ijin belajar. Tugas Bela- jar adalah penugasan yang diberikan oleh pejabat yang berwenang kepada PNS untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau yang
kan atas biaya sendiri, dan diberhentikan/dibe-
baskan sementara dari jabatannya sebagai PNS,
sedangkan Ijin Belajar adalah ijin yang diberikan
oleh pejabat yang berwenang kepada PNS untuk
melanjutkan/mengikuti pendidikan dengan biaya
sendiri dan tidak meninggalkan tugas jabatann-
ya/tetap melaksanakan tugas jabatannya sebagai
Ditinjau dari aspek kepentingan organisasi pe- merintahan, pengembangan kompetensi sumber daya manusia melalui studi lanjut pendidikan for- mal bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga PNS yang memiliki keahlian atau kom- petensi tertentu dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi serta pengembangan organisasi, se- dangkan untuk kepentingan pegawai itu sendiri, studi lanjut bertujuan untuk meningkatkan pen- getahuan, kemampuan, keterampilan, serta sikap dan kepribadian profesional PNS sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan karir. Pegawai yang melaksanakan tugas belajar dan ijin belajar disebut Pegawai Pelajar.
Dalam rangka mendukung peningkatan kompe- tensi sumber daya manusia melalui studi lanjut banyak lembaga/institusi baik pemerintah mau- pun swasta yang memberikan bantuan pendanaan atau beasiswa terkait dengan tugas belajar, dian- taranya adalah Lembaga Pengelola Dana Pendi- dikan (LPDP) dibawah kewenangan Kementeri- an Keuangan, Beasiswa Unggulan yang dikelola oleh Kemendikbud, Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI) yang dikelola oleh Kemen- ristekdikti, dan Program Research and Innovation in Science and Technology Project (RISET-Pro) yang didanai dari World Bank dan dikelola oleh Ditjen SDID Kemenristekdikti. Masing-masing lembaga/institusi menetapkan persyaratan dan ketentuan bagi penerima beasiswa tugas belajar yang mengacu pada ketentuan yang berlaku, baik ketentuan internal program beasiswa maupun ketentuan umum yang ditetapkan oleh pemer- intah sebagaimana tercantum dalam Peraturan
Ketentuan-ketentuan tersebut mencantumkan persyaratan dan kewajiban penerima beasiswa/
tugas belajar bagi dosen/pegawai pelajar, dian- taranya yaitu:
1. PNS dengan masa kerja paling kurang 1 (satu) tahun sejak diangkat sebagai PNS;
2. Mendapat surat tugas dari pejabat yang ber- wenang/SK Tugas Belajar;
3. Menandatangani perjanjian tugas belajar;
4. Mendapat persetujuan dari Sekretariat Negara Republik Indonesia untuk tugas belajar keluar negeri;
5. Program D-I, D-II, D-III, dan S-1/setara usia maksimal 25 tahun kecuali untuk daerah ter- pencil, tertinggal dan terluar atau jabatan san- gat diperlukan usia maksimal 37 tahun
6. Program S-2 usia maksimal 37 tahun kecuali
untuk daerah terpencil, tertinggal dan terluar
atau jabatan sangat diperlukan usia maksimal
42 tahun;
baskan sementara dari jabatan fungsional;
9. Jangka waktu pelaksanaan tugas belajar untuk Program D-I paling lama 1 tahun, D-II paling lama 2 tahun, D-III paling lama 3 tahun, S-I/
D-IV paling lama 4 tahun, S-2 paling lama 2 tahun, dan S-3 paling lama 4 tahun. Jangka waktu pelaksanaan ini dapat diperpanjang se- lama 1 tahun (2 semester) dengan perubahan status menjadi ijin belajar;
10. Kewajiban bekerja kembali pada instansi setelah melaksanakan tugas belajar dengan ketentuan 2 x n, n adalah masa tugas belajar;
11. Kewajiban menyampaikan laporan kemajuan pendidikan paling kurang 1 (satu) kali setiap tahun dan laporan hasil pelaksanaan tugas be- lajar pada akhir pelaksanaan penugasan;
12. Kewajiban membayar sejumlah ganti rugi atas biaya pendidikan yang telah diterima apabila tidak lulus (gagal).
Memperhatikan hasil audit pada beberapa pergu- ruan tinggi negeri dan LLDikti, terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaan tugas belajar, diantaranya adalah surat keputusan tugas belajar belum diterbitkan oleh pejabat yang berwenang namun pegawai pelajar sudah berangkat ke tem- pat belajar, pegawai pelajar belum diberhentikan dari jabatannya baik pemberhentian dari jabatan struktural maupun pemberhentian sementara dari jabatan fungsional, pegawai pelajar tidak melapor- kan kemajuan pelaksanaan studi, tidak menyele- saikan studi sesuai batas waktu yang ditentukan, dan tidak melaporkan diri untuk melaksanakan tugas setelah masa tugas belajar berakhir. Perma- salahan-permasalahan ini dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan penyelenggaraan tugas belajar bahkan dapat berpotensi menimbulkan kerugian negara karena anggaran yang dialo- kasikan tidak tercapai sesuai dengan sasaran yang ditetapkan atau negara tidak memperoleh man-
faat dari biaya yang dikeluarkan.
Untuk menggali informasi lebih mendalam dan mengetahui permasalahan-permasalahan terse- but secara langsung maka perlu dilakukan pen- gawasan oleh Inspektorat Jenderal, khususnya terhadap pelaksanaan tugas belajar di luar neg- eri. Sehubungan dengan hal tersebut, Inspektorat Jenderal telah melakukan kegiatan pengawasan berupa Audit Karya Siswa atas Program Gelar RISET-Pro di Negara Jepang selama 6 hari pada tanggal 4 s.d. 9 November 2018 dengan jumlah tim sebanyak 3 (tiga) orang, yaitu Bambang Su- darmaji (Auditor Madya pada Inspektorat III), Fer- dy Fristyansjah (Kepala Bagian Perencanaan dan Pelaporan), dan I Dewa M Tirta Meirsha (Kepala Sub Bagian Umum).
Perjalanan dinas Audit Karya Siswa Program Gelar RISET-Pro dimulai dengan pemberang- katan tim dari bandara Soekarno-Hatta di Tan- gerang Banten menuju Bandara Haneda di Tokyo pada tanggal 4 November 2018. Pertemuan awal (entry meting) dilakukan dengan Pejabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo guna menjelaskan maksud kedatangan dan menyusun langkah-lang- kah audit dengan difasilitasi oleh Ketua Perhim- punan Pelajar Indonesia (PPI) wilayah Kanto di Jepang.
Audit Karya Siswa atas Program Gelar RISET-
Pro di Negara Jepang dilakukan dengan metode
pemeriksaan dokumen, antara lain Surat Kepu-
tusan atau surat penugasan pelaksanaan Program
Gelar RISET-Pro dari pejabat yang berwenang
dan laporan kemajuan pelaksanaan studi, ob-
servasi langsung ke salah satu Perguruan Ting-
gi di Jepang yang menyelenggarakan program
Gelar Riset-Pro yaitu University Of Tsukuba,
dan melakukan wawancara kepada pegawai pe- lajar yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri dan LPNK di lingkungan Kemenristekdikti, yai- tu 1 orang di University Of Tsukuba yang beras- al dari LIPI, 4 orang di Waseda University yang berasal dari Universitas Negeri Medan, Universi- tas Telkom dan STTN BATAN, 3 orang di Tokyo Institute Of Technology yang berasal dari LIPI, BATAN dan LAPAN, serta 1 orang di Yokohama National University yang berasal dari Universi- tas Lampung yang merupakan peserta program karyasiswa LPDP. Wawancara kepada pegawai pelajar tersebut dilakukan di kantor Atase Pendi- dikan dan Kebudayaan pada Kedutaan Besar Re- publik Indonesia di Tokyo.
Kondisi yang ditemukan dalam rangka audit, diketahui bahwa pelaksanaan program gelar RISET-Pro di Jepang secara umum berjalan den- gan baik dimana seluruh peserta program mener- ima hak-haknya sebagaimana yang dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang Peserta Program Tugas Belajar RISET-Pro, yaitu biaya pendidikan, tunjangan biaya hidup, tunjangan menetap, biaya transportasi, tunjangan buku, tunjangan peneli- tian, tunjangan penyusunan tugas akhir, asuransi kesehatan dan jiwa, tunjangan pengiriman barang, serta transportasi pergi dan pulang ke Indonesia.
Peserta program juga telah melaksanakan kewa- jibannya dalam melaksanakan tugas belajar dan menyampaikan laporan kemajuan studi secara tri- wulanan.
Namun demikian, terdapat permasalahan yang
melaksanakan tugas belajar sambil bekerja di Je- pang. Tim Audit tidak memperoleh informasi yang cukup tentang keberadaan yang bersangkutan karena terkendala jarak dan komunikasi yang sulit sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan leb- ih mendalam. Permasalahan ini telah dituangkan dalam laporan hasil audit dan disampaikan kepada Dirjen SDID Kemenristekdikti untuk ditindaklan- juti.
Penyebab dari permasalahan itu dapat diidenti- fikasi bahwa pengendalian terhadap peserta pro- gram beasiswa belum dilakukan secara optimal melalui koordinasi antara penyelenggara program beasiswa dengan wakil pemerintah Indonesia di negara tujuan dalam hal ini Atase Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga informasi tentang ke- beradaan pegawai pelajar yang memperoleh bea- siswa tidak dapat diketahui melalui kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu dibutuh- kan adanya perangkat peraturan perundang-un- dangan yang diterbitkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai peng- ganti Permendiknas Nomor 48 Tahun 2009 yang mengatur tentang pelaksanaan tugas belajar bagi aparatur sipil negara di lingkungan Kemenristek- dikti.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka kegiatan pen-
gawasan atas pelaksanaan tugas belajar di luar
negeri perlu terus dilakukan secara berkelanju-
tan pada negara-negara lain yang menjadi tujuan
belajar. Hal ini untuk mengetahui keberhasilan
pelaksanaan program dan memberikan umpan
balik dalam rangka perbaikan prosedur dan me-
KECUKUPAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN DALAM TANTANGAN
AKUNTABILITAS PEMERINTAHAN
Oleh: Nur Dewi Natrini
P elaksanaan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan Negara, menurut UU No 17 Tahun 2003 mengenai Keuangan Negara mewajibkan Presiden dan Gubernur/Bupati/Walikota untuk menyam- paikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD berupa laporan keuangan yang setidaknya meliputi Laporan realisasi APBN/
APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan yang telah diperiksa BPK, selambat-lambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Sedangkan laporan keuangan yang dihasilkan mengacu pada standar akuntansi
pemerintah terbaru yaitu PP No 71 tahun 2010, dimana dalam Peraturan ini terdapat 2 bagian yang terbagi dalam periode kas menuju akrual dan akrual.Pada dasarnya pembuatan laporan keuan- gan adalah suatu bentuk kebutuhan transparansi yang merupakan syarat pendukung adanya akunt- abilitas berupa keterbukaan pemerintah atas ak- tivitas pengelolaan sumber daya publik (Mardias- mo, 2006).
Dalam pelaporan keuangan, unit pada pemerin- tahan terbagi menjadi entitas akuntansi dan en- titas pelaporan. Menurut Kerangka Konseptual
Sumber: Jurnal.co.id
Akuntansi Pemerintahan paragraf 21 – 22, enti- tas akuntansi merupakan unit pada pemerintahan yang mengelola anggaran, kekayaan, dan kewajiban yang menyelenggarakan akuntansi dan menyajik- an laporan keuangan atas dasar akuntansi yang diselenggarakannya. Sedangkan entitas pelaporan merupakan unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyajikan laporan pertanggungjawaban, berupa laporan keuangan yang bertujuan umum.
Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 25 menyebutkan setiap entitas pelapo- ran mempunyai kewajiban untuk melaporkan up- aya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara siste- matis dan terstruktur pada suatu periode pelapo-
ran untuk kepentingan sebagai berikut:
1. Akuntabilitas, yaitu mempertanggungjawab- kan pengelolaan sumber daya serta pelaksa- naan kebijakan yang dipercayakan kepada en- titas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.
2. Manajemen, yaitu membantu para penggu- na untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pel- aporan sehingga memudahkan fungsi peren- canaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset, kewajiban, dan ekuitas pemerin- tah untuk kepentingan masyarakat.
3. Transparansi, yaitu memberikan informa-
si keuangan yang terbuka dan jujur kepada
masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa
masyarakat memiliki hak untuk mengetahui
secara terbuka dan menyeluruh atas pertang- gungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang- undangan.
4. Keseimbangan antargenerasi (intergenera- tional equity), yaitu membantu para penggu- na dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialo- kasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.
5. Evaluasi kinerja, yaitu mengevaluasi kinerja entitas pelaporan, terutama dalam penggu- naan sumber daya ekonomi yang dikelola pe- merintah untuk mencapai kinerja yang diren- canakan.
Tingkat akuntabilitas salah satunya dapat dilihat dari opini audit yang dikeluarkan oleh Badan Pe- meriksa Keuangan (BPK) untuk tolak ukur kewa- jaran penyajian laporan keuangan instansi pemer- intahan sebagai bentuk transparansi keuangan dan pertanggungjawaban instansi kepada mas- yarakat sebagai stakeholder. Berdasarkan IHPS BPK Semester 1 tahun 2018 disebutkan bahwa:
1. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan memuat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap 512 (79%) dari 652 laporan keuangan.
2. Hasil pemeriksaan atas kinerja secara umum memuat kesimpulan belum sepenuhnya efek- tif pada 5 (42%) dari 12 objek.
3. Hasil pemeriksaan DTT memuat kesimpulan secara umum pelaksanaan kegiatan belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan peratur- an perundang-undangan pada 24 (67%) dari
36 objek
Secara terperinci hasil pemeriksaan BPK ber- dasarkan IHPS Semester 1 Tahun 2018 dijelas- kan bahwa permasalahan ketidakpatuhan seban- yak 8.030 permasalahan, di antaranya sebanyak 5.172 (64%) permasalahan senilai Rp10,06 triliun merupakan permasalahan ketidakpatuhan yang dapat mengakibatkan:
• Kerugian sebanyak 3.557 (69%) permasalah- an senilai Rp2,34 triliun
• Potensi kerugian sebanyak 513 (10%) permas- alahan senilai Rp1,03 triliun.
• Kekurangan penerimaan sebanyak 1.102 (21%) permasalahan senilai Rp6,69 triliun.
Selain itu, terdapat 2.858 (36%) permasalahan ketidakpatuhan yang mengakibatkan penyim- pangan administrasi. 204 permasalahan ketida- khematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan senilai Rp1,49 triliun, terdapat 29 (14%) perma- salahan ketidakhematan senilai Rp1,20 triliun, 5 (3%) permasalahan ketidakefisienan senilai Rp237,26 miliar, dan 170 (83%) permasalahan ketidakefektifan senilai Rp48,18 miliar. Terhadap permasalahan ketidakpatuhan yang dapat men- gakibatkan kerugian, potensi kerugian, dan keku- rangan penerimaan, pada saat pemeriksaan enti- tas yang diperiksa telah menindaklanjuti dengan menyerahkan aset atau menyetor ke kas negara/
daerah/ perusahaan senilai Rp676,15 miliar (7%).
Berdasarkan IHPS Semester 1 tahun 2018 BPK-
RI tidak menyinggung mengenai kecukupan pen-
gungkapan pada LKPP tahun 2017. Hal tersebut
bertentangan dengan Buletin Teknis Standar Pe-
meriksaan Keuangan Negara No. 01 tentang Pel-
aporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuan-
gan Pemerintah (Bultek SPKN No. 01) (2012),
yakni apabila laporan keuangan tidak menyajikan pengungkapan yang diharuskan oleh SAP, maka auditor harus menyatakan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atau Tidak Wajar (TW).
Hal serupa juga disebutkan dalam Undang-un- dang No 15 tahun 2004 bahwa Kecukupan pe- ngungkapan (adequate disclosures) merupakan salah satu kriteria pemberian opini laporan keuan- gan oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).
Kecukupan Pengungkapan Laporan Keuangan
P engungkapan secara lengkap merepre- sentasikan penyajian informasi-informasi keuangan pemerintah yang dibutuhkan
(Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan, 2010).
Suwardjono (2014) menyatakan bahwa pen- gungkapan menuntut lebih dari sekedar pelapo- ran keuangan, namun juga mencakup informasi kuantitatif dan kualitatif. Suwardjono (2014) juga mengemukakan bahwa pengungkapan di- tujukan untuk pihak yang lebih luas daripada sekedar investor dan kreditor. Oleh Karena itu, informasi akuntansi keuangan pemerintah harus mengungkap secara jelas seluruh informasi akun- tansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pengguna agar tidak terjadi kekeliruan dalam penggunaannya.
Suwardjono (2014) mengemukakan bahwa pe- ngungkapan laporan keuangan meliputi pen- gungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure).
Pengungkapan wajib adalah pengungkapan yang dipersyaratkan oleh standar akuntansi dan/atau regulasi yang berlaku. Sedangkan pengungkapan sukarela adalah pengungkapan di luar pengungka- pan wajib. SAP menetapkan beberapa pengung- kapan wajib yang harus disajikan oleh pemerintah daerah dalam laporan keuangannya (SAP, 2010).
Pengungkapan wajib tersebut meliputi penyajian item-item elemen-elemen laporan keuangan, baik di lembar muka maupun penjelasan pos-pos lapo- ran keuangan pada CaLK.
UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN (2007)
memberlakukan standar pelaporan audit laporan
keuangan yang diberlakukan IAI, yakni pemuatan
formatif dalam laporan keuangan menurut standar tersebut harus dipandang memadai, kecuali din- yatakan lain dalam laporan audit (SPKN, 2007).
Bultek SPKN No. 01 (2012) menyatakan bahwa opini didasarkan pada kesesuaian dengan Stan- dar Akuntansi Pemerintahan (SAP), kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan efektivitas sistem pengendalian internal. Bultek SPKN No. 01 menyatakan bahwa pengungka- pan yang tidak cukup dalam laporan keuangan dapat dianggap penyimpangan dari SAP, sehingga apabila laporan keuangan (termasuk catatan atas laporan keuangan) tidak menjelaskan informasi- yang diharuskan oleh SAP, maka auditor harus menyatakan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atau Tidak Wajar (TW).
ISA 700 tentang Forming An Opinion and Re- porting on Financial Statements, dan ISA 705 tentang Modifications to the Opinion in the Independent Auditor’s Report (ISSAI [2010]) menyebutkan bahwa auditor dapat memberikan opini standar (unmodified opinion), atau disebut juga dengan unqualified opinion, apabila laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam sega- la hal yang material, sesuai dengan standar akun- tansi. Laporan keuangan yang dimaksud dalam pernyataan tersebut adalah paket lengkap laporan keuangan, termasuk CaLK (ISA 700, 2010). Se- cara terpisah, ISA 700 (2010) menyebutkan bah- wa auditor wajib mengevaluasi kepatuhan penya- jian laporan keuangan dengan standar akuntansi sebagai berikut:
1. Laporan keuangan telah secara cukup men- gungkapkan (adequately disclose) kebijakan akuntansi signifikan yang telah dipilih dan dit- erapkan;
2. Kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterap-
kan konsisten dengan standar akuntansi dan cocok dengan karakteristik bisnis entitas;
3. Estimasi akuntansi yang diformulasikan oleh manajemen layak untuk diterapkan;
4. Informasi yang disajikan dalam laporan keuan- gan relevan, andal, dapat diperbandingkan, dan dapat dipahami;
5. Laporan keuangan menyediakan pengungka- pan yang cukup guna memungkinkan penggu- na memahami dampak dari transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian material dari informasi yang disampaikan pada laporan keuangan; dan 6. Terminologi yang digunakan dalam laporan
keuangan, termasuk judul pada masing-mas-
ing laporan keuangan, cocok atau layak untuk
dipakai.
ISA 705 (2010) menyatakan bahwa perbedaan antara pengungkapan dengan ketentuan da- lam standar akuntansi sebagai suatu salah saji (misstatement). Selanjutnya ISA 700 (2010) menyebutkan bahwa dalam hal pengungkapan laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan standar akuntansi, maka auditor harus memodi- fikasi opininya (modified opinion). Apabila tidak ditemukan salah saji dalam pengungkapan lapo- ran keuangan, namun auditor berkeyakinan bah- wa terdapat pengungkapan yang dapat mempen- garuhi keputusan pengguna secara signifikan, atau
Sumber: million.co.id