ISSN 1978-4783
9 771978 478399
Foto: Internet
Susunan Redaksi
Penasehat/Pembina
Prof. Dr. E.S. Margianti, SE., MM.
Prof. Suryadi Harmanto, S.Si., MMSI.
Drs. Agus Sumin, MMSI.
Penanggung Jawab
Dr. Ir. Hotniar Siringoringo, M.Sc.
Editor
Dr. Ing Mohamad. Yamin (Teknik Mesin) Prof. Dr. Busono Soerwirdjo (Teknik Elektro)
Dr. rer. Pol. Sudaryanto (Tek Industri) Dr. Imam Subaweh, SE., Ak., MM. (Akuntansi) Prof. Dr. Ir. Budi Hermana, MM. (Tekno Sosial)
Dr. Rita Sutjiati (Sastra)
Dr. Iman Murtono Soenhaji (Manajemen) Dr. Yuhilza Hanum, S.Si., M.Sc. (Sistem Informasi) Dr. M.M. Nilam Widyarini, M.Si. (Psikologi) Dr. Raziq Hasan, ST., MT. (Arsitektur) Dr. Haryono Putro (Sipil)
Editor Pelaksana
Dr. Devi Hellystia, SS., M.Hum Risnawati, SP., M.Si.
Keuangan
Dr. Anacostia Kowanda, S.Kom., MMSI.
Distribusi
Rino Rinaldo, SE., MM.
Muhammad Daniel Rivai., S.Kom., MMSI.
Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya 100, Depok 16424.
Gedung 2 Lantai 3 Telp. (021) 78881112 – pes. 455.
Email : [email protected]
UG
JURNAL
UG JURNAL
VOL. 13 EDISI. 08 TAHUN 2019
JENIS PENYUNTINGAN DALAM PENERJEMAHAN TEKS MENGGUNAKAN GOOGLE TERJEMAHAN OLEH PEMELAJAR MATA KULIAH PENERJEMAHAN BERBANTUAN KOMPUTER
Nurlaila ... 1 KOMPONEN KEPEMIMPINAN SPIRITUAL DALAM LINGKUNGAN UNIVERSITAS
Hernama, Sri Hermawati ... 6 UJI FITOTOKSISITAS EKSTRAK METANOL BIJI MIMBA (AZADIRACHTA INDICA) TERHADAP BEBERAPA TANAMAN SECARA HIDROPONIK
Risnawati, Evan Purnama Ramdan, Putri Irene Kanny... 14 SISTEM PENGOLAHAN DATA PELANGGAN YANG BAIK DALAM KELOMPOK BISNIS INDIVIDU DI PT. TRIHAMAS FINANCE
Natallios Peter Sipasulta ... 23 IDENTIFIKASI KONKRESI FE DAN MN PADATEGAKANJATI (TECTONA GRANDIS) DAN LAHAN BEKAS SAWAH DI KECAMATANMANDE, KABUPATENCIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT
Ratih Kurniasih, Paranita Asnur ... 30 FIGURES OF SPEECH FOUND IN THE NOVEL DEMIAN: THE STORY OF EMIL SINCLAIR’S YOUTH
Lensary Suseno Puteri, Erni Hastuti ... 37
UJI FITOKIMIA EKSTRAK PROPOLIS LEBAH TRIGONA LAEVICEPS DARI PROVINSI BANTEN
Icha Khoirunisa, Siska Yuliani, Atia Aryuni Putri, Sulikah, Moh. Ega Elman Miska ... 49 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MENGGUNAKAN ELECTRONIC WALLET OVO
Widyatmini, Lutfani Nabila ... 54 PENGENDALIAN PERSEDIAAN CAT BADAN MOBIL TOYOTA FORTUNER DI PT TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA KARAWANG PLANT
Yuyun Yuniar Rohmatin, Nur Hafiz Fauzi ... 64
UG JURNAL VOL.13 NO.8 1 JENIS PENYUNTINGAN DALAM PENERJEMAHAN TEKS MENGGUNAKAN GOOGLE TERJEMAHAN OLEH PEMELAJAR MATA
KULIAH PENERJEMAHAN BERBANTUAN KOMPUTER
Nurlaila
Universitas Gunadarma, [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penyuntingan yang dilakukan pemelajar mata kuliah penerjemahan berbantuan komputer dalam menerjemahkan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia menggunakan Google Terjemahan. Data yang digunakan berupa hasil terjemahan Google Terjemahan tanpa penyuntingan serta hasil terjemahan Google Terjemahan yang telah disunting. Pengumpulan data dilakukan dengan menugaskan mahasiswa untuk menerjemahkan teks menggunakan Google Terjemahan, menuliskan hasil terjemahan tersebut tanpa menyuntingnya, dan menuliskan hasil penyuntingan terjemahan tersebut. Analisis dokumen dilakukan untuk memeriksa dan mengelompokkan jenis penyuntingan yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pemelajar melakukan penyuntingan. Penyuntingan yang dilakukan sebanyak sembilan (9) jenis yang meliputi penggunaan pilihan kata lain atau sinonim, penambahan unsur kalimat, pengurangan unsur kalimat, pengubahan urutan unsur kalimat, pengubahan jenis kalimat aktif ke pasif atau sebaliknya, penghilangan keseluruhan kalimat, pengubahan kelas gramatika, penyederhanaan unsur kalimat, dan pengubahan makna kalimat.
Kata Kunci: jenis penyuntingan, penerjemahan berbantuan komputer, Google Terjemahan
PENDAHULUAN
Sin-Wai (2017) dalam bukunya yang berjudul “The Future of Translation Technology: Towards a World without Babel” menjelaskan secara rinci mengenai kemajuan pengembangan mesin penerjemah. Di buku tersebut dijelaskan bahwa mesin mulai dikembangkan untuk digunakan dalam penerjemahan mulai tahun 1947.
Pada saat itu, pengembangan dilakukan untuk membuat mesin yang dapat menghasilkan terjemahan yang langsung dapat digunakan tanpa bantuan manusia. Sayangnya, pada tahun 1963, proyek pengembangan tersebut dihentikan karena biaya penerjemahan oleh mesin penerjemah (MT) dua kali lebih mahal dari pada oleh manusia (HT). Hal tersebut tidak sesuai dengan harapan pengguna sehingga pengembangan MT dinilai tidak mendesak.
Penghentian proyek tersebut berdampak pada dimulainya pengembangan komputer sebagai alat bantu penerjemahan yang dilakukan manusia (MAT atau CAT). MAT atau CAT mulai dikembangkan pada tahun 1967 dan terus berkembang hingga saat ini. Perbedaan mendasar MT dengan MAT atau CAT terletak pada subjek yang melakukan penerjemahan. MT menerjemahkan teks tanpa bantuan manusia. Dengan kata lain, pengguna dapat menggunakan hasil terjemahan tanpa melakukan penyuntingan.
Sementara itu, MAT atau CAT bertindak sebagai alat yang meringankan tugas penerjemah. MAT atau CAT memberikan saran hasil terjemahan dan memungkinkan penerjemah untuk menyempurnakannya dengan cara melakukan penyuntingan, seperti menghapus, menambahi,
2 UG JURNAL VOL.13 NO.8 mengurangi atau mengganti bagian
terjemahan.
Saat ini, berbagai software MAT atau CAT dapat dengan mudah didapatkan, baik secara gratis maupun secara berbayar. Beberapa contoh software MAT atau CAT gratis meliputi Across Personal Edition, AppleTrans, Omega T, Tr-AID dan Wordfast Classic. Adapun beberapa contoh software MAT atu CAT berbayar meliputi PROMT, SDL Trados, Swordfish dan Wordfast. Selain itu, software MAT atau CAT tersedia dalam bentuk online dan offline.
Software MAT atau CAT online memerlukan jaringan internet untuk dapat digunakan. Beberapa contoh software MAT atau CAT online meliputi Google Terjemahan, Google Translator Toolkit, Isometry dan Wordfast Anywhere. Sementara itu, software MAT atau CAT offline dapat digunakan tanpa ketersediaan jaringan internet. Beberapa contoh software MAT atau CAT offline meliputi Memsource, Transit, Prompt dan Microsoft Translator App.
Salah satu software MAT atau CAT online gratis yang populer digunakan di kalangan mahasiswa adalah Google Terjemahan. MAT atau CAT ini memiliki versi lain yakni Google Translator Toolkit. Google Translator Toolkit memiliki menu yang memungkinkan pengguna mengunggah berbagai jenis berkas, termasuk video, yang akan diterjemahkan, menggunakan daftar istilah khusus, mengundang teman untuk membantu menerjemahkan, mengirim teks, melakukan penyuntingan, menyimpan histori teks yang telah diterjemahkan, menyimpan memori terjemahan dan berbagai aktivitas lain. Sementara itu, pada Google Translate, pengguna harus mengetikkan teks ke dalam kolom yang disediakan sebelum menerjemahkannya ke bahasa lain. Google Translate tidak memungkinkan pengguna untuk
mengunggah berkas, menggunakan daftar istilah khusus, dan berbagai aktivitas sebagaimana pada Google Translator Toolkit. Meski demikian, hingga saat ini Google Terjemahan selalu memperbarui fiturnya, seperti menambahkan fitur penyimpanan hasil terjemahan, fitur histori, dan fitur komunitas yang berfungsi untuk membantu menyempurnakan dan memvalidasi terjemahan Google Translate.
Penelitian mengenai penggunaan CAT dalam penerjemahan pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, yang salah satunya adalah Santoso (2010). Di dalam penelitiannya mengenai analisis kesalahan kebahasaan hasil terjemahan Google Translate teks Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman, Santoso (2010) menyimpulkan bahwa Google Translate menerjemahkan secara kata per kata tanpa memperhatikan konteks kalimat. Santoso (2010) menambahkan bahwa hasil teks terjemahan Google Translate harus disempurnakan oleh penerjemah. Arifatun (2012) menemukan sejumlah kesalahan terjemahan yang dominan di dalam penelitiannya yang berjudul kesalahan penerjemahan teks Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab melalui Google Translate (studi analisis sintaksis). Sama halnya dengan Santoso (2010), Arifatun (2012) juga menyimpulkan bahwa Google Translate dapat menerjemahkan kata secara akurat namun tidak dapat menerjemahkan kalimat secara akurat.
Adriana (2012) dalam penelitiannya yang berjudul kesalahan kebahasaan hasil terjemahan teks Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia mahasiswa STAIN Pamekasan pengguna Google Translate juga menyimpulkan bahwa Google Translate digunakan dalam tahap pre-translation process sehingga masih memerlukan banyak perbaikan sebelum digunakan.
Berkaitan dengan kesimpulan yang diberikan oleh tiga (3) peneliti di
UG JURNAL VOL.13 NO.8 3 atas, pemeriksaan dan perbaikan hasil
terjemahan harus dilakukan setelah proses penerjemahan selesai sebagaimana diungkapkan oleh Nida dan Taber (1982), Larson (1988) dan House (2015). Hal tersebut merupakan salah satu desain MAT atau CAT yang memang didesain berbeda dengan MT.
Jika MT diharapkan dapat menghasilkan terjemahan yang siap digunakan, MAT atau CAT didesain untuk melibatkan campur tangan manusia. Campur tangan dalam hal ini adalah pemeriksaan dan penyuntingan hasil terjemahan perangkat MAT atau CAT. Berdasarkan teori dan penelitian sejenis yang pernah dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penyuntingan yang dilakukan pemelajar mata kuliah penerjemahan berbantuan komputer dalam menerjemahkan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia menggunakan Google Terjemahan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Data yang digunakan berupa hasil terjemahan Google Terjemahan tanpa penyuntingan serta hasil terjemahan Google Terjemahan yang telah disunting. Pengumpulan data dilakukan dengan menugaskan pemelajar mata kuliah penerjemahan berbantuan komputer untuk menerjemahkan teks berisi 300 kata menggunakan Google Terjemahan dan menuliskan terjemahan di tabel kolom isian. Mahasiswa diberikan tabel tiga (3) kolom yang masing-masing untuk teks Bahasa Inggris, isian Google Terjemahan tanpa penyuntingan dan isian Google Terjemahan yang telah dilakukan penyuntingan. Analisis dokumen dilakukan untuk memeriksa dan mengelompokkan jenis penyuntingan yang dilakukan. Tahap yang dilakukan meliputi memeriksa hasil terjemahan Google Terjemahan
tanpa penyuntingan dan
membandingkannya dengan hasil terjemahan dengan penyuntingan, menandai bagian yang disunting, menuliskan jenis penyuntingan dalam tabel, mengelompokkan jenis penyuntingan dan menghitung jenis penyuntingan. Sampling dilakukan dengan teknik snowball. Validasi dilakukan dengan focus group discussion.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh pemelajar melakukan penyuntingan. Penyuntingan yang dilakukan sebanyak sembilan (9) jenis yang meliputi penggunaan pilihan kata lain atau sinonim, penambahan unsur kalimat, pengurangan unsur kalimat, pengubahan urutan unsur kalimat, pengubahan jenis kalimat aktif ke pasif atau sebaliknya, penghilangan keseluruhan kalimat, pengubahan kelas gramatika, penyederhanaan unsur kalimat, dan pengubahan makna kalimat.
Persentase penyunting pada Tabel 1 menunjukkan jumlah pemelajar yang melakukan jenis penyuntingan.
Sebagaimana disajikan dalam Tabel 1, sebanyak 3 jenis penyuntingan dilakukan oleh seluruh pemelajar, meliputi penggunaan pilihan kata lain atau sinonim, pengurangan unsur kalimat dan pengubahan urutan unsur kalimat. Sementara itu, 3 jenis penyuntingan, yang meliputi penambahan unsur kalimat, pengubahan kelas gramatika dan pengubahan makna kalimat, dilakukan oleh 80% pemelajar.
Jenis penyuntingan penghilangan keseluruhan kalimat dilakukan oleh 50% pemelajar. Adapun jenis penyuntingan pengubahan jenis kalimat aktif ke pasif atau sebaliknya dan penyederhanaan unsur kalimat dilakukan 20% mahasiswa.
Jenis penyuntingan penggunaan pilihan kata lain atau sinonim dapat
4 UG JURNAL VOL.13 NO.8 dilihat pada contoh berikut: TSU:
Apply as needed, TSA Google Terjemahan: Terapkan sesuai kebutuhan, TSA dengan penyuntingan:
Gunakan sesuai kebutuhan. Pada contoh di atas, kata teks sumber (TSU) apply diterjemahkan dalam teks sasaran (TSA) oleh Google Terjemahan menjadi terapkan. Kata tersebut diganti dengan sinonimnya yakni gunakan.
Tabel 1.
Jenis Penyuntingan Oleh Pemelajar Mata Kuliah Penerjemahan
Berbantuan Komputer No Jenis Penyuntingan Persentase
Penyunting 1.
Penggunaan pilihan kata lain atau sinonim
100%
2. Penambahan unsur
kalimat 80%
3. Pengurangan unsur
kalimat 100%
4. Pengubahan urutan
unsur kalimat 100%
5.
Pengubahan jenis kalimat aktif ke pasif atau sebaliknya
20%
6.
Penghilangan keseluruhan kalimat
50%
7. Pengubahan kelas
gramatika 80%
8. Penyederhanaan
unsur kalimat 20%
9. Pengubahan makna
kalimat 80%
TSA dengan penyuntingan: melindungi sementara luka kecil, luka goresan dan luka bakar.
Adapun pengurangan unsur kalimat dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Reduces the appearance of fine, dry lines. TSA Google Terjemahan: mengurangi penampilan garis-garis halus dan kering. TSA
dengan penyuntingan: mengurangi garis-garis halus dan kering.
Pada contoh di atas, pemelajar menghilangkan kata penampilan, yang merupakan padanan kata appearance di TSU.
Jenis penyuntingan pengubahan urutan unsur kalimat dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Temporarily protects and helps relieve chapped or cracked skin and lips. TSA Google Terjemahan: Melindungi dan membantu meringankan kulit dan bibir yang pecah-pecah atau sementara.
TSA dengan penyuntingan: Sementara waktu melindungi dan membantu meringankan kulit dan bibir yang pecah-pecah.
Pada contoh di atas, pemelajar memindahkan letak keterangan sementara yang semula ada di akhir kalimat menjadi di awal kalimat.
Jenis penyuntingan pengubahan jenis kalimat aktif ke pasif atau sebaliknya dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Heads are formed up to 28’’ – 6’’ in diameter. TSA Google Terjemahan: kepala dibentuk dengan diameter 28’’ – 6’’. TSA dengan penyuntingan: kepala-kepalanya berbentuk 28’’ – 6’’ diameter.
Pada contoh di atas, kalimat pasif yang dihasilkan Google Terjemahan merupakan padanan kalimat pasif TSU.
Kalimat pasif tersebut diubah menjadi aktif oleh pemelajar.
Jenis penghilangan keseluruhan kalimat dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Helps protect from the drying effects of wind and cold weather TSA Google Terjemahan: membantu melindungi dari efek pengeringan angina dan cuaca angina. TSA dengan penyuntingan: - Pada contoh di atas, pemelajar menghilangkan TSA pada proses penyuntingan.
Jenis penyuntingan pengubahan kelas gramatika dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Uses. TSA Google Terjemahan: Menggunakan
UG JURNAL VOL.13 NO.8 5 TSA dengan penyuntingan:
Penggunaan.
Pada contoh di atas, kata mengunakan TSA merupakan bentuk verba. Kata tersebut diganti menjadi penggunaan yang merupakan bentuk nomina
Jenis penyuntingan
penyederhanaan unsur kalimat dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Helps protects minor cuts, scrapes, burns.
TSA Google Terjemahan: Membantu melindungi luka kecil, goresan dan luka bakar. TSA dengan penyuntingan: Membantu melindungi segala luka. Pada contoh di atas, pemelajar menyederhanakan penyebutan tiga jenis luka yakni luka kecil, goresan dan luka bakar m luka kecil, goresan dan luka bakar menjadi segala luka.
Jenis penyuntingan pengubahan makna kalimat dapat dilihat pada contoh berikut: TSU: Wonderfilled.
TSA Google Terjemahan: Terpenuhi TSA dengan penyuntingan: Penuh Keajaiban. Pada contoh di atas, kata terpenuhi yang bermakna dapat dipenuhi diganti menjadi penuh keajaiban.
KESIMPULAN DAN SARAN
Sebagaimana yang disimpulkan oleh Santoso (2010), Arifatun (2012) dan Adriana (2012) bahwa hasil Google
Terjemahan masih perlu
disempurnakan, serta Nida dan Taber (1982), Larson (1988) dan House (2015) yang mengemukakan bahwa hasil terjemahan harus diperiksa dan diperbaiki, seluruh pemelajar dalam penelitian ini telah melaksanakan teori tersebut. Banyaknya jenis penyuntingan yang dilakukan keseluruhan pemelajar menunjukkan bahwa hasil Google Translate belum memenuhi kebutuhan mereka dalam menghasilkan terjemahan dengan pilihan diksi, unsur kalimat, struktur kalimat, jenis kalimat, kelas kata dan makna yang tepat.
Meskipun demikian, hasil terjemahan yang telah disunting oleh mahasiswa belum diuji kualitasnya dalam tingkat keakuratan, keberterimaan dan keterbacaannya. Pengujian tersebut serta diskusi mengenai frekuensi masing-masing jenis penyuntingan akan dilakukan pada penelitian selanjutnya agar dapat memberikan saran untuk pengembangan Google Translate.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana, I. (2012). Kesalahan kebahasaan hasil terjemahan teks Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia mahasiswa STAIN Pamekasan. Jurnal Nuansa Vol 9. 2.
Arifatun, N. (2012). Kesalahan penerjemahan teks Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab melalui Google Translate (Studi Analisis Sintaksis).
Journal of Arabic Learning and Teaching.
House, J. (2015). Translation quality assessment: past and present. New York: Routledge.
Larson, M. L. (1998). Meaning-based translation: a guide to cross-language equivalence (2nd
ed). Maryland:
University Press of America.
Nida, E A., & Taber, C. R. (1982). The Theory And Practice of Translation.
Leiden: E. J. Brill.
Santoso, I. (2010). analisis kesalahan kebahasaan hasil terjemahan Google Translate teks Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jerman. Seminar Internasional Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman UNY.
Sin-Wai, C. (2017). The Future of Translation Technology. New York:
Routledge.
6 UG JURNAL VOL.13 NO.8 KOMPONEN KEPEMIMPINAN SPIRITUAL DALAM LINGKUNGAN
UNIVERSITAS
1Hernama
2Sri Hermawati
1Universitas Gunadarma, [email protected],
2Universitas Gunadarma [email protected] ABSTRAK
Kepemimpinan spiritual diperlukan untuk motif intrinsik dengan memotivasi diri sendiri dan orang lain dalam mencapai kesejahteraan berdasarkan nilai spiritual, oleh karena itu dalam melaksanakan aktivitas akademik di perlukan kepemimpinan spiritual. Aktivitas akademik tersebut berupaya mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini bertujuan untuk menguji instrumen pengukuran kepemimpinan spiritual di lingkungan universitas berdasarakan perepsi pengikut.
Dimensi kepemimpinan spiritual yang digunakan didasarkan pada dimensi kepemimpinan spiritual dari Fry (2003) yang selanjutnya dikembangkan oleh Fry dan Matherly (2012). Sample penelitian diambil berdasar tenik purposive sampling, sebanyak 200 responden. untuk menguji instrumen pengukur kepemimpinan digunakan confirmatory Factor analysis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengembangan faktor pengukur dimensi kepemimpinan yang dibenti layak diguakan untuk mengukur kepemimpinan spiritual dilingkungan perguruan tinggi dari sisi mahasiswa. Fry dan Matherly.
Kata Kunci: kepemimpinan spiritual, perguruan tinggi, faktor konfirmatori.
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan nilai spiritual bersifat fundamental. Kepemimpinan spiritual diperlukan sebagai motif intrinsik untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain dalam mencapai kesejahteraan berdasarkan nilai spiritual. Oleh karena itu dalam melaksanakan aktivitas akademik suatu universitas penanaman dan pelaksanaan nilai spiritual sangat penting. Segala aktivitas akademik berupaya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga nilai-nilai spiritual menjadi perhatian untuk diimplementasikan, terutama dalam kepemimpinan.
Penelitian tentang kepemimpinan sangat sering dilakukan. Namun demikian penelitian tentang kepemimpinan spiritual masih jarang dilakukan khususnya di Indonesia.
Menurut Fray (2003) sejak tahun 1980an mulai terjadi pergeseran dari
teori kepemimpinan perilaku menuju kepemimpinan strategis yang menekankan pada sisi spiritual, visi, motivasi dan pengendalian melalui nilainilai atau budaya. Selanjutnya Frey menyerukan percepatan spiritualitas di tempat kerja, yang menggambarkan kebutuhan universal manusia untuk bertahan hidup secara spiritual.
Penelitian tentang kepemimpinan spiritual yang dilakuan oleh Mario et.al (2009) hanya mengungkapkan unsur- unsur spiritual pemimpin dan kaitannya dengan kepemimpian spiritual pada umumnya dan kepemimpinan transendental. Spiritualisme sebagai elemen kepemimpinan transaksional, transformasional dan transendental diukur berdasarkan pada temuan Sanders et.al (2003) yang meliputi kesadaran, karakter moral dan keimanan.
Teori kepemimpinan Fry (2003) dibentuk berdasarkan berdasarkan pada
UG JURNAL VOL.13 NO.8 7 motivasi intrinsik yang menggabungkan
model motivasi intrinsik yang menggabungkan visi, harapan / iman, dan cinta altruistik, spiritualitas di tempat kerja kerohanian, dan kesejahteraan spiritual. Tujuan dari kepemimpinan spiritual adalah untuk memanfaatkan kebutuhan mendasar dari kedua sisi yakni sisi pemimpin dan sisi pengikut untuk kesejahteraan spiritual melalui panggilan dan keanggotaan, untuk menciptakan visi dan nilai kesesuaian lintas individu, tim yang diberdayakan, dan organisasi tingkat dan, pada akhirnya, untuk mendorong tingkat kesejahteraan karyawan yang lebih tinggi, komitmen organisasi, kinerja keuangan, dan tanggung jawab sosial.
Keberhasilan kepemimpinan dapat dilihat baik dari sisi pemimpin sendiri maupun dari sisi pengikut.
Mario et al (2009) menetapkan pengukuran elemen spiritualitas kepemimpinan dari sisi pemimpin.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bahwa lokus internal tinggi yang didorong oleh spiritualitas pemimpin, hasrat yang kuat untuk memberi dan merawat para pengikutnya, dan spiritualitas melambangkan konsep kepemimpinan transendental. Menurut Hoffi-Hofstetter dan Mannheim dalam Mario et.al (2009) locus of control internal berhubungan positif dengan keanggotaan dalam perusahaan dan harga diri manajer.
Secara operasional kepemimpinan spiritual yang dikembangkan oleh Fry berasal dari kehidupan batin atau latihan spiritual untuk mengembangkan nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi secara intrinsic diri sendiri dan orang lain sehingga mereka memiliki rasa kesejahteraan secara spiritual. Teori kepemimpinan spiritual dari Fry secara eksplisit memasukkan pemimpin dan pengikut yang spesifik dan relevan secara teoretis, serta kebutuhan tingkat
tinggi budaya dan efektivitas organisasi ke dalam kerangka model sebab-akibat.
Pengukuran kepemimpinan dari sisi pengikut juga perlu dilakukan.
Pemimpin tidak saja memberikan arahan akan tetapi pemimpin juga dapat menjadi acuan perilaku dari pengikut.
Dalam kepemimpinan spiritual tujuan yang akan dicapaiadalah kesejahteraan spiritual. Mengingat pentingnya kepemimpinan dalam mendorong pencapaian tujuan organisasi serta perkembangan kepemimpinan saat ini yang melibatkan unsur spiritual khususnya pada kepemimpian spiritual maka penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah instrumen pengukuran kepemimpinan dari sisi pengikut valid.
Pengukuran kepemimpinan berdasar teori kepemimpinan spiritual ini akan dilihat dari sisi pengikut untuk kalangan organisasi pendidikan tinggi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif yang dilakukan dilingkungan perguruan tinggi swasta di Jakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 200 responden. Dimensi kepemimpinan yang akan diuji adalah dimensi kepemimpinan spiritual dari Frey yang terdiri dari tujuh dimensi. Selanjutnya dari setiap dimensi kepemimpinan spiritual tersebut dikebangkan faktor pengukurnya. Tujuh dimensi dan faktor pengukur dalat dilihat pada tabel 1.
Untuk menguji apakah instrumen tersebut valid gibunakan untuk mengukur elemen kepemimpinan spiritual digunakan confornmatory factor analysis.
8 UG JURNAL VOL.13 NO.8 Tabel 1.
Faktor dan Variabel Kepemimpinan Spiritual
Faktor Variabel
Visi Saya mempunyai komitmen terhadap visi almamater saya (Visi1) Saya implementasikan visi almamater di dalam kelas (Visi2) Visi almamater menginspirasi performa studi saya (Visi3)
Saya mempunyai iman dalam melaksanakan visi almamater saya (Visi4) Visi almamater saya menarik (Visi5)
Harapan Saya melaksanakan misi almamater dengan keimanan (Harapan1) Saya selalu melakukan hal terbaik dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa berdasarkan iman (Harapan2)
Saya yakin akan memperoleh kehidupan lebih baik setelah kuliah di alamater saya (Harapan3)
Saya mempunyai cara-cara agar studi saya berhasil (Harapan4) Cinta
Altruistik
Pimpinan almamater saya peduli terhadap mahasiswa (Altruistik1) Pimpinan almamater saya suka berkomunikasi dengan mahasiswa (Altruistik2)
Pimpinan almamater saya dapat dipercaya (Altruistik3)
Peraturan di almamater saya dilaksanakan dengan adil(Altruistik4) Pimpinan almamater saya, memperhatikan kepentingan
mahasiswa(Altruistik5)
Arti Kuliah di almamater saya penting untuk kehidupan saya (Arti1) Kegiatan belajar merupakan hal yang penting (Arti2)
Kegiatan ektra kulikuler berarti bagi saya(Arti3)
Saya merasa pengetahuan saya bertambah semenjak saya kuliah (Arti4) Keanggotaan Pimpinan almamater tanggap terhadap masalah akademis yang dihadapi
mahasiswa (Anggota1)
Pimpinan almamater mengerti keprihatinan saya (Anggota2) Teman-teman di kampus dapat menerima saya (Anggota3) Saya merasa sebagai bagian dari almamater saya (Anggota4) Komitmen Saya merasa senang kuliah di almamater saya (Komitmen1)
Saya akan merekomendasi untuk kuliah di almamater saya (Komitmen2) Saya merasa kebutuhan untuk memperoleh ilmu terpenuhi (Komitmen3) Saya merasa perlu menjaga nama baik almamater saya (Komitmen4) Produktivitas Saya sibuk belajar (Produktivitas1)
Dosen banyak memberikan tugas (Produktivitas2)
Mahasiswa berusaha memahami materi kuliah (Produktivitas3) Di kelas mahasiswa aktif bertanya (Produktivitas4)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Responden sebanyak 200 responden yang merupakan mahasiswa yang masih aktif. .Pada tabel 2 tampak profil responden yang dilihat dari sisi umur. Sebagian besar resesponden dalam penelitian ini berusia antara 19 tahun hingga 20 tahun. Nereka berasal dari beberapa perguruan tnggi di wilayah Jakarta dan berasal dari beberapa fakultas yang berbeda.
Kisaran usia responden dianggap cukup untuk menilai kepemiminan spiritual pemimpin universitas.
Hasil uji KMO and Bartlett’s test of sphericity menunjukkan uji kelayakan dari suatu analisis faktor . hasil uji KMO and Bartlet dalam penelitian ini tersaji pada table 2.
Nilai KMO dihitung dari korelasi antar variabel. Secara umum analisis faktor dapat dilakkan jika
UG JURNAL VOL.13 NO.8 9 indeks KMO lebih besar dari 0,5. Pada
tabel 1 tampak bahwa nilai KMO sebesar 0,852 yang berarti bahwa analisis faktor untuk instrumen yang dibangun dalam penelitian ini dapat dilakuakan. Bartletts test digunakan untuk menguji apakah matrik korelasi hubungan antar variabe merupakan matrik identitas. Hal ini untuk menguji kecukupan hubungan antar variabel.
Hasil uji diharapkan menunjukkan bahwa matrik korelasi yang terbentuk bukan merupakan matrik identitas.
Hasil pengujian instrumen penelitian ini menjukkan bahwa nilai KMO lebih besar dari 0,05 dan p-value Barttlet’test sebesar 0,000, sehinga dapat disimpulkan bahwa faktor yang terbentuk layak digunakan untuk mengukur kepemimpinan spiritual.
Setelah pemeriksaaan pada nilai KMO and Bartlett's Test maka harus diperiksa apakah faktor pengukur memiliki nilai anti image corellation.
Pada instrumen yang diuji kai ini ternyata semua faktor pengukur memiliki dari anti image correlatiom lebh besar dari 0,5. Dengan demikian faktor-faktor penguur sehinga layak digunakan.
Distribusi faktor pengukur pada dimensi pengukuran kepemiminan yang faktor yang terbentuk dapat dilihat pada tabel 3. Pada tabel di atas terlihat ketujuh faktor penelitian membentuk 62,862 % varian yang dapat dijelaskan oleh data tersebut, sedang sisanya sebanyak 37,138 % dijelaskan oleh faktor lainnya. Selanjutnya akan dilihat loading factor untuk setiap faktor dalam tiap dimensi. Nilai loading instrumen yang diuji dalam penelitian ini terlihat pada tabel 4.
Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa faktor pengukur yang terhapus adalah angota 3, komitmen 3 dan komitmen 4 karena memiliki korelasi dibawah 0,50. Hal ini berarti faktor- faktor tersebut tidak dapat diguakan untuk mengukur dimensi terkait.
Beberapa faktor pengukur ternyata tidak dapat digunkanan untuk mengulir suatu dimensi yang dimaksud sebelumnya akan tetapi ternyata dapat digunakan untuk mengulur dimensi yang lain. Sebagai conoth pertanyaan produktivitas 4 sebelumnya dimaksuskan untuk mengukr dimensi produktivitas, akan tetapi ternyata pertanyaan yang ada lebih terhubung dengan arti 3 dan arti 4, sehingga pernyataan-pernyataan tersebut digunakan untuk mengukur dimensi yang sama.
Beberapa faktor penguur yang sebelumnya dimaksudkan untuk mengukur suatu dimensi tertentu, setelah rotasi ternyata memiliki hubungan dengan fakyor pengukur dimensi lain sehingga harus dipindahkan.Pengelompokan faktor pengukur yang benar setelah melihat nilai loading factor dapat dilihat pada tabel tabel 5 kemudian dirangkum ke dalam tabel 4.
Faktor visi merupakan sajian dari kepemimpinan spiritual (Fry dan Matherly,2012). Faktor visi berkaitan dengan harapan yang lebih baik. Faktor visi tidak hanya berupa penguatan semata melalui seremoni spiritual ,tapi diimplikasikan dengan secara nyata.Hasil rotasi matriks faktor visi terdiri atas variabel : pimpinan almamater saya peduli terhadap mahasiswa,pimpinan almamater saya suka berkomunikasi dengan mahasiswa,pimpinan almamater saya dapat dipercaya, peraturan di almamater saya dilaksanakan dengan adil, pimpinan almamater saya memperhatikan kepentingan mahasiswa, dan pimpinan almamater tanggap terhadap masalah akademis yang dihadapi mahasiswa, serta pimpinan almamater mengerti keprihatinan saya (tabel 4).
Harapan mempengaruhi visi kepemimpinan. Pada tabel 6 tampak faktor harapan terdiri atas : saya
10 UG JURNAL VOL.13 NO.8 mempunyai komitmen terhadap visi
almamater saya, saya implementasikan visi almamater di dalam kelas, visi almamater menginspirasi performa studi saya , saya mempunyai iman dalam melaksanakan visi almamater saya, visi almamater saya menarik, dan saya mempunyai cara-cara agar studi saya berhasil.
Cinta altruistik mempunyai karakteristik perikemanusiaan berdasar ketuhananan dan keikhasan. Cinta altruitik akan mempengaruhi harapan.
Pada tabel 6 faktor cinta altruistik terdiri atas :saya selalu melakukan hal terbaik dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa berdasarkan iman, saya yakin akan memperoleh kehidupan lebih baik setelah kuliah di alamater saya, dan saya mempunyai cara-cara agar studi saya berhasil.
Faktor arti merupakan pemanggilan untuk eksekusi.Faktor arti mempunyai karakteristik perbedaan dan makna hidup. Faktor arti terdiri atas variabel :saya sibuk belajar, dosen banyak memberikan tugas, dan mahasiswa berusaha memahami materi kuliah.
Faktor keanggotaan merupakan penerimaan mahasiswa yang
mempunyai karakteristik memahami dan mengapresiasi kepemimpinan.
Faktor keanggotaan terdiri atas: saya merasa senang kuliah di almamater saya dan saya akan merekomendasi untuk kuliah di almamater saya.
Komitmen merupakan kebutuhan untuk terus melestarikan hubungan dan mengembangkan nya jika dari hubungan adanya nilai (Wright dan Grace, 2011) yang bermanfaat.Pola hubungan dibangun atas dasar kepercayaan, serta manfaat. Faktor komitmen terdiri atas variabel : kuliah di almamater saya penting untuk kehidupan saya,kegiatan belajar merupakan hal yang penting, dan saya merasa sebagai bagian dari almamater saya (tabel 6).
Komitmen dari pemimpin ini akan mempengaruhi manfaat yang akan diberikan yaitu berupa produktivitas.
Pada tabel 6 tampak faktor produktivitas terdiri atas variabel:
kegiatan ekstra kulikuler berarti bagi saya, saya merasa pengetahuan saya bertambah semenjak saya kuliah, dan di kelas mahasiswa aktif bertanya.
Gambar 1 Frekuensi responden berdasarkan usia
UG JURNAL VOL.13 NO.8 11 Tabel 2.
KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .852 Bartlett's Test of
Sphericity
Approx. Chi-Square 2661.203
Df 435
Sig. .000
Tabel 3.
Total Variance Explained
Kompone -n
Initial eigenvalue Extraction sums of squared loadings
Rotation sums of squared loading Tota
-l
% of varianc
-e
Cumula
-tive % Total
% of varianc
e
Cumula
-tive % Total
% of varianc
-e
Cumula -tive %
1 8.02
5 26.7 26.7 8.0 26.7 26.7 4.2 13.9 13.9
2 3.5 11.7 38.4 3.5 11.7 38.4 4.1 13.6 27.5
3 2.2 7.5 45.9 2.3 7.5 45.9 2.9 9.6 37.1
4 1.4 4.9 50.9 1.5 4.9 50.9 2.3 7.7 44.8
5 1.4 4.6 55.5 1.4 4.6 55.5 1.8 6.2 50.9
6 1.2 3.9 59.4 1.2 3.9 59.4 1.8 5.9 56.9
7 1.02 3.4 62.9 1.1 3.4 62.9 1.7 5.9 62.9
8 0.9 3.1 66.0
Tabel 4.
Rotasi Komponen Matriks
Variabel Komponen
1 2 3 4 5 6 7
Visi1 .763
Visi2 .801
Visi3 .748
Visi4 .783
Visi5 .658
Harapan1 .717
Harapan2 .527
Harapan3 .722
Harapan4 .676
Altruistik1 .780 Altruistik2 .779 Altruistik3 .706 Altruistik4 .637 Altruistik5 .777
Arti1 .676
Arti2 .544
Arti3 .564
Arti4 .590
Anggota1 .763
Anggota2 .706
Anggota3
Anggota4 .598
Komitmen1 .713
12 UG JURNAL VOL.13 NO.8 Lanjutan Tabel 4
Komitmen2 .746
Komitmen3 Komitmen4
Produktivitas1 .730
Produktivitas2 .718
Produktivitas3 .655
Produktivitas4 .762
Tabel 5.
Faktor dan Variabel Kepemimpinan Spiritual Akhir
Faktor Variabel
Visi Pimpinan almamater saya peduli terhadap mahasiswa (Altruistik1) Pimpinan almamater saya suka berkomunikasi dengan mahasiswa (Altruistik2)
Pimpinan almamater saya dapat dipercaya (Altruistik3)
Peraturan di almamater saya dilaksanakan dengan adil (Altruistik4) Pimpinan almamater saya, memperhatikan kepentingan mahasiswa (Altruistik5)
Pimpinan almamater tanggap terhadap masalah akademis yang dihadapi mahasiswa (Anggota1)
Pimpinan almamater mengerti keprihatinan saya (Anggota2) Harapan Saya mempunyai komitmen terhadap visi almamater saya (Visi1)
Saya implementasikan visi almamater di dalam kelas (Visi2) Visi almamater menginspirasi performa studi saya (Visi3)
Saya mempunyai iman dalam melaksanakan visi almamater saya (Visi4) Visi almamater saya menarik (Visi5)
Saya mempunyai cara-cara agar studi saya berhasil (Harapan4) Cinta
Altruistik
Saya selalu melakukan hal terbaik dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai mahasiswa berdasarkan iman (Harapan2)
Saya yakin akan memperoleh kehidupan lebih baik setelah kuliah di alamater saya (Harapan3)
Saya mempunyai cara-cara agar studi saya berhasil (Harapan4) Arti Saya sibuk belajar (Produktivitas1)
Dosen banyak memberikan tugas (Produktivitas2)
Mahasiswa berusaha memahami materi kuliah (Produktivitas3) Keanggotaan Saya merasa senang kuliah di almamater saya (Komitmen1)
Saya akan merekomendasi untuk kuliah di almamater saya (Komitmen2) Komitmen Kuliah di almamater saya penting untuk kehidupan saya (Arti1)
Kegiatan belajar merupakan hal yang penting (Arti2)
Saya merasa sebagai bagian dari almamater saya (Anggota4) Produktivitas Kegiatan ekstra kulikuler berarti bagi saya(Arti3)
Saya merasa pengetahuan saya bertambah semenjak saya kuliah (Arti4) Di kelas mahasiswa aktif bertanya (Produktivitas4)
KESIMPULAN DAN SARAN
Pengukuran kepemimpinan spiritual dilihkungan perguruan tinggi dari sisi anggota organisasi dapat dilihat dari tujuh dimensi yang terdiri dari visi,
harapan, cinta altruistik, erti, keanggotaan, komitmen dan produktivitas. Faktor pengukur untuk setiap dimensi yang terbentuk dari hasil analisis faktor dalam penelitianini dapat
UG JURNAL VOL.13 NO.8 13 digunakan untuk mengukur setiap
dimensi kepemimpinan spiritual yang terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Fernando, Mario; Frederick Beale, Gary D. Geroy. 2009. The Spiritual Dimension in Leadership at Dilmah Tea. Leadership & Organization Development Journal, Vol. 30 No. 6, p: 522-539
Fry, Louis W. 2003. Toward A Theory of Spiritual Leadership, The Leadership Quarterly, Vol. 14, p:
693–727
Fry, L.W. & Matherly, L.L. 2012.
Spiritual Leadership and Organizational Performance: An
Exploratory Study.
http://www.tarlenton.edu diakses 9 Maret 2015.
Fry; Louis W. and Melanie P. Cohen.
2009. Spiritual Leadership as a Paradigm for Organizational Transformation and Recovery from Extended Work Hours Cultures, Journal of Business Ethics, Vol. 84, p: 265–278.
Sanders, J.E. III, Hopkins, W.E. and Geroy, G.D. 2003. From Transactional to Transcendental : Toward an Integrated Theory of Leadership, Journal of Leadership &
Organizational Studies, Vol. 9 No.
4, p: 21-31.
Singgih Santoso. 2014. Statistik Multivariat Edisi Revisi: Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Wright, O. dan Grace, A. 2011. Trust and Commitment within Franchise Systems: an Australian and New Zealand Perspective, Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics, Vol. 23, Iss: 4, p: 486 – 500.
14 UG JURNAL VOL.13 NO.8 UJI FITOTOKSISITAS EKSTRAK METANOL BIJI MIMBA (AZADIRACHTA
INDICA) TERHADAP BEBERAPA TANAMAN SECARA HIDROPONIK
1Risnawati
2Evan Purnama Ramdan
3Putri Irene Kanny
1Universitas Gunadarma, [email protected]
2Universitas Gunadarma, [email protected]
3Universitas Gunadarma, [email protected]
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi sediaan ekstrak metanol biji mimba (Azadirachta indica) terhadap tanaman sawi, pakcoy, dan bayam yang ditanam pada sistem hidroponik. Ekstraksi serbuk biji mimba menggunakan metode perendaman dengan pelarut metanol. Pengujian dilakukan dengan metode residu pada daun (penyemprotan). Sediaan ekstrak diuji pada 2 taraf konsentrasi yaitu pada konsentrasi 0.25 dan 0.5% dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil pengujian fitotoksisitas menunjukkan bahwa sediaan ekstrak metanol biji mimba pada konsentrasi 0.25% dan 0.5% tidak menyebabkan terjadinya gejala fitotoksit pada tanaman sawi, pakcoy, dan bayam yang ditanam secara hidroponik. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sediaan ekstrak metanol biji mimba aman terhadap tanaman sawi, pakchoi dan bayam yang ditanam secara hidroponik. Penelitian aktivitas residu ekstrak metanol biji mimba asal tumbuh Situbondo (Jawa Timur) terhadap tanaman hidroponik perlu dilakukan.
Kata kunci: mimba, Azadirachta indica, ekstrak, hidroponik, insektisida botani.
PENDAHULUAN
Praktek budidaya tanaman baik secara konvensional maupun menggunakan sistem tanam secara hidroponik tidak terlepas dari serangan serangga hama, sebagai salah satu faktor yang menghambat dalam meningkatkan produksi tanaman budidaya. Kehadiran serangga hama tersebut jika sudah berada pada ambang ekonomi maka segera untuk dilakukan tindakan pengendalian.
Tindakan pengendalian yang sering dilakukan petani yaitu penggunaan insektisida kimia sintetik.
Petani lebih mengandalkan penggunaan insektisida kimia sintetik dalam pengendalian terhadap tanamannya karena praktis dan mudah diperoleh.
Namun, penggunaan insektisida kimia sintetik tersebut berakibat yang tidak baik terhadap pengonsumsi tanaman
dan terhadap serangga sasaran tersebut, di antaranya seperti adanya bahan aktif insektisida yang belum atau lama terurai oleh lingkungan (residu), dan ketahanan (resistensi) serangga (Syahbirin et al., 2001).
Penggunaan tanaman sebagai insektisida merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Tanaman potensial insektisida yang diketahui toksik terhadap serangga banyak ditemukan dari berbagai famili tanaman yang ada di Indonesia. Famili tanaman tersebut di antaranya Annonaceae, Clusiaceae, Lauraceae, Leguminoceae, Piperacea, Fabaceae, Sapindaceae, Simaroubaceae dan Meliaceae (Dadang et al. 2011;
Lina et al. 1995; Pebrualita et al. 2013;
Prijono et al. 1994; Rakhman dan Prijono 2014; Ramanibai et al., 2016;
Risnawati et al. 2013; Risnawati et al.
UG JURNAL VOL.13 NO.8 15 2017, Susanto dan Prijono 2014;
Syahputra dan Endarto 2012).
Azadiracta indica (mimba) merupakan salah satu tanaman dari famili Meliaceae telah diketahui toksik terhadap berbagai jenis serangga, di antaranya Crocidolomia pavonana, Plutella xyllostella, Helopeltis sp, dan Aedes aegypti, Bractocera sp.
Nilaparvata lugens Theobroma cacao (Indrayani dan Sudarmaja 2018;
Nuriana dan Mastura 2018; Risnawati et al. 2007; Wisuda 2015; Wiryadiputra 1998). Berdasarkan informasi tesebut, dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian fitotoksisitas ekstrak metanol biji mimba (A. indica) asal tumbuh Situbondo, Jawa Timur.
Pengujian fitotoksisitas tersebut dilakukan untuk melihat adanya pengaruh toksik terhadap tanaman seperti adanya gejala nekrosis pada tanaman. Hal tersebut yang dilaporkan dalam penelitian (Dono et al. 2006) bahwa terdapat bercak nekrotik sebesar 20% pada tanaman lobak yang diaplikasikan sediaan fraksi aktif ekstrak ranting Aglaia odorata yaitu fraksi etil asetat, fraksi diklorometana dan fraksi diklorometana:isopropanol (9:1) masing-masing menyebabkan fitotoksit terhadap tanaman brokoli dan kedelai masing-masing berturut-turut sebesar 3.34%, 0.20%, 12%, 7.46%, 7.23% dan 0.94% pada 3 hari setelah perlakuan. Hasil penelitian lebih lanjut (Syahputra dan Endarto 2012) melaporkan bahwa ekstrak etanol buah Brucea javanica famili Simaroubaceae pada konsentrasi 0.5% menyebabkan fitotoksit pada daun muda tanaman jeruk setelah tiga dan tujuh hari penyemprotan tanaman masing-masing sebesar 11.7% dan 27.5%. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan diuji sifat fitotoksisitas sediaan ekstrak metanol biji mimba terhadap beberapa jenis tanaman pada media hidroponik.
Pengujian tanaman pada media hidroponik dilakukan karena
pertumbuhan tanaman pada hidroponik berbeda bila dibandingkan tanaman non hidroponik, di antaranya berat basah.
Berat basah tanaman mempengaruhi kebugaran tanaman seperti sifat tekstur yang dimiliki daun tanaman yaitu sekulen atau lebih sekulen. Wananto (2017) melaporkan bahwa bobot basah daun tanaman pakcoy yang diaplikasikan pupuk kipahit dan dosis pupuk kandang ayam dalam bentuk masih padat dengan dosis 14 ton/ha memiliki berat sebesar 76.71 gram sedangkan dalam bentuk cair memiliki berat sebesar 117.43 gram.
Berdasarkan hal tersebut dalam penelitian ini akan diuji ekstrak metanol biji mimba terhadap ketahanan pada pembentukan nekrotik atau gejala fitotoksisitas terhadap beberapa jenis tanaman hidroponik, yaitu tanaman pakcoy, sawi dan bayam.
Tanaman hidroponik berupa pakcoy, sawi dan bayam yang digunakan sebagai tanaman uji pada pengujian fitotoksitas tersebut karena jenis-jenis tanaman sayuran tersebut banyak dan digemari oleh petani urban dalam memenuhi kebutuhan akan sayuran. Selain mudah dikembangkan tanaman sayuran tersebut juga memiliki kebutuhan nutrisi dalam jumlah yang sama pada media hidoponik yaitu berkisar 1000-1400 ppm. Bertanam ketiga jenis sayuran tersebut dalam satu wadah hidroponik akan sangat menguntungkan, karena selain variasi jenis juga terdapat variasi rasa.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengevalusi aktivitas fitotoksisitas ekstrak metanol biji mimba asal Situbondo (Jawa Timur) terhadap tanaman pakcoy, sawi dan bayam yang dibudidayakan secara hidroponik.
16 UG JURNAL VOL.13 NO.8 METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi dan Rumah Kaca Universitas Gunadarma, dari Juni 2019 sampai Juli 2019.
Bahan Tumbuhan Sumber Ekstrak Bahan tumbuhan yang digunakan sebagai sumber ekstrak adalah biji mimba (A. indica) yang berasal dari Laboratorium Institut Pertanian Bogor, yang dikoleksi dari Kawasan Situbondo, Jawa Timur.
Ekstraksi Mimba
Biji mimba dikupas, lalu dikering udarakan selama 1 minggu.
Potongan biji mimba kering udara digiling secara terpisah menggunakan blender hingga menjadi serbuk, kemudian diayak menggunakan pengayak kawat kasa berjalinan 0.5 mm. Serbuk biji mimba sebanyak 40 g direndam dalam metanol (perbandingan 1:10, w/v), dengan metode perendaman.
Perendaman bahan tumbuhan dilakukan selama 72 jam, perendaman ulang sebanyak 3 kali hingga larutan dalam perendaman tidak berwarna. Cairan hasil rendaman disaring menggunakan corong kaca yang dialasi kertas saring Whatman No. 41 diameter 185 mm.
Hasil saringan larutan metanol biji mimba diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator diuapkan pada suhu 50 0C dan tekanan 580-750 mmHg sehingga diperoleh ekstrak kasar.
Setiap ekstrak yang diperoleh disimpan dalam lemari es (± 4 0C) hingga saat digunakan (Dadang dan Prijono, 2008).
Penyiapan Tanaman Uji Fitotoksisitas secara Hidroponik Penyemaian Tanaman Hidroponik
Benih yang digunakan dalam penyemaian hidroponik yaitu benih sawi varietas Tosakan, pakchoy varietas Nauli F1, dan bayam varietas. Sebelum dilakukan penyemaian, benih tanaman
tersebut masing-masing dilakukan perendaman menggunakan air hangat selama satu jam dengan tujuan untuk mempercepat proses perkecambahan dalam persemaian.
Selanjutnya membuat larutan hidroponik dengan menggunakan larutan nutrisi vegemix A Hydrofarm, larutan nutrisi vegemix B Hydrofarm, larutan untuk menaikkan pH, larutan untuk menurunkan pH. Larutan hidroponik untuk benih sawi, pakcoy dan bayam memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan tanaman tersebut dalam konsentrasi yang sama yaitu sebanyak 1400 ppm. Air dimasukkan pada wadah yang banyaknya volume air tersebut sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dalam proses penyemaian.
Sebelum ditambahkan larutan nutrisi vegemix A dan larutan nutrisi vegemix B, sebaiknya melakukan pengukuran kualitas air terlebih dahulu yaitu jumlah padatan terlarut dalam air, suhu dan pH air, masing-masing menggunakan TDS&EC meter dan PH meter. PH meter terdiri atas PH up dan PH down.
Jumlah padatan yang terlarut dalam air tidak boleh melebihi 300 ppm, suhu berkisar 18-33 , pH air berkisar antara 5.5 – 6.5. Pemeriksaan kualitas air berfungsi agar tanaman dapat menyerap nutrisi dengan optimal (Istiqomah 2007).
Larutan nutrisi semaian benih dibuat dengan perbandingan 1: 3: 3 (1 liter air : 3 ml larutan nutrisi vegemix A Hydrofarm : 3 ml larutan nutrisi vegemix B Hydrofarm). Selanjutnya menyiapkan rokwool sesuai dengan jumlah benih yang akan disemai.
Ukuran rockwoll yang digunakan dipotong kecil sesuai dengan ukuran volume lubang tray penyemaian.
Rockwoll direndam dengan posisi serat- serat horizontal ke dalam larutan nutrisi persemaian selama kurang lebih 30 detik. Rockwoll diangkat dengan empat jari di setiap sisi rockwoll dengan menekan sekali bagian bawah agar air
UG JURNAL VOL.13 NO.8 17 keluar sedikit sehingga dihasilkan
rockwoll yang lembab. Rockwoll diletakkan pada tray benih dan dilubangi dengan menggunakan tusuk gigi di bagian tengah rockwoll. Benih ditanam dengan posisi titik tumbuh di atas dan menyisakan 10% bagian benih muncul ke permukaan. Rockwoll merupakan salah satu media semai sekaligus media tanam yang berfungsi sebagai tempat melekatnya akar tanaman dan menyimpan air dalam waktu yang agak lama sehingga air yang mengandung nutrisi tertahan dan dapat tersedia terus menerus bagi tanaman hidroponik (Herwibowo &
Budiana 2014).
Setelah semua benih disemai, maka tray semaian ditutup dengan plastik hitam selama 24 jam hingga benih berkecambah. Benih yang sudah berkecambah kemudian dipaparkan di bawah sinar matahari selama 3 jam setiap hari selama 3 hari. Kelembaban benih dijaga dengan melakukan peyemprotan larutan nutrisi sebanyak dua kali sehari (pagi dan sore) (Lingga 2011).
Pemindahan Tanaman Semaian ke Media Hidroponik (Transplanting)
Sebelum ditambahkan nutrisi vegemix A dan vegemix B pada wadah mini NFT yang berisi air dilakukan terlebih dahulu pengukuran kadar ppm air, dengan tujuan untuk memperkirakan banyaknya nutrisi vegemix A dan vegemix B yang akan ditambahkan pada wadah mini NFT yang berisi air tersebut. Nutrisi A ditambahkan dengan volume tertentu pada larutan yang berisi air (Istiqomah 2007).
Bibit yang sudah memiliki 4 daun siap untuk ditransplanting ke sistem hidroponik NFT. Langkah pertama dalam proses transplanting yaitu memeriksa kualitas air yang digunakan seperti yang dilakukan ketika persemaian. Langkah kedua
adalah membuat larutan nutrisi dengan konsentrasi sesuai dengan perlakuan yaitu 1200 ppm, suhu berkisar antara 18
oC – 33 oC, dan pH air berkisar antara 5.5 – 6.5. Tahap selanjutnya, masukkan bibit ke netpot yang telah diberi sumbu, dan letakkan di dalam lubang sistem hidroponik NFT. Larutan nutrisi hidroponik diganti setiap 2 minggu (Istiqomah 2007).
Tanaman sawi, pakcoy dan bayam dibudidayakan dengan sistem hidroponik. Prosedur kerja yang dilakukan yaitu persemaian benih, transplanting, dan pengamatan.
Persemaian benih dilakukan pada tray benih dengan media tanam rockwool.
Sebelum penyemaian, rockwool dibasahi dengan larutan nutrisi vegemix A dan B, lalu dibuat lubang tanam di tengah rockwool menggunakan tusuk gigi. Meletakkan benih di lubang tanam pada rockwool tersebut, dan meletakkan tray benih pada tempat gelap selama 12-24 jam hingga benih pecah. Benih yang sudah pecah diletakkan di bawah sinar matahari selama 3 jam setiap hari selama 3 hari.
Rockwool disiram dengan larutan nutrisi sebanyak 2 kali sehari setiap pagi dan sore.
Selanjutnya melakukan transplanting ke sistem NFT. Langkah pertama dalam proses transplanting yaitu memeriksa air yang akan digunakan dengan menghitung tekanan air, suhu, dan pH air. Tekanan air disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing jenis tanaman, suhu 18-33oC, dan pH air 5,5-6,5. Tahap kedua adalah membuat larutan nutrisi yang terdiri atas campuran masing-masing nutrisi A (unsur nutrisi makro) dan B (unsur nutrisi mikro) dengan perbandingan sesuai kebutuhan masing-masing jenis tanaman. Suhu larutan nutrisi yaitu 18- 33oC dan pH 5,5-6,5. Tahap selanjutnya, masukkan bibit ke netpot, dan letakkan di dalam lubang sistem
18 UG JURNAL VOL.13 NO.8 hidroponik (Wibowo dan Asriyanti,
2013).
Uji Fitotoksisitas Beberapa Tanaman Hidroponik
Uji fitotoksisitas bahan tanaman dalam bentuk sediaan ekstrak metanol biji mimba dilakukan pada tanaman sawi, pakcoy dan bayam yang ditanam secara hidroponik. Pengujian menggunakan ekstrak metanol biji mimba pada konsentrasi 0.25% dan 0.5%. Sediaan ekstrak disiapkan dengan menggunakan pelarut metanol dan pengemulsi rinso dengan konsentrasi masing-masing 1% dan 0.1%. Larutan pengencer dibuat sebanyak 500 ml dengan kandungan pengemulsi rinso sebanyak 0.5 gr serta metanol sebanyak 5 ml. Ekstrak metanol biji mimba ditimbang menggunakan timbangan analitik sebanyak 0.5 gr pada labu takar dengan volume 100 ml. Sediaan ekstrak disemprotkan pada tanaman uji hingga basah merata. Larutan kontrol hanya mengandung aquades, metanol dan rinso (Dadang dan Prijono 2008).
Sebagai pembanding juga digunakan insektisida curaron 500 EC berbahan aktif profenofos. Sedian insektisida dibuat dengan menggunakan konsentrasi median anjuran 0.09%.
Pengamatan dilaksanakan pada 3 dan 7 hari setelah aplikasi. Setiap perlakuan diulang tiga kali (Syahputra, 2010). Pengamatan terhadap fitotoksisitas dilakukan pada helaian daun yang mengalami gejala nekrotik dengan kertas millimeter.
Perhitungan manual luas bercak nekrotik = x 100%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian Fitotoksisitas Sediaan Ekstrak Metanol Biji Mimba terhadap Beberapa Tanaman Hidroponik
Daun sawi, pakchoi dan bayam yang ditanam secara hidroponik setelah disemprot dengan sediaan ekstrak metanol biji mimba pada konsentrasi masing-masing sebesar 0.25% dan 0.5% baik pada hari ketiga dan ketujuh hari setelah perlakuan (HSP) tidak menunjukkan adanya gejala fitotoksit (Tabel 1). Perlakuan dengan insektisida sintetik yaitu Curacron 500EC juga tidak menunjukkan gejala fitotoksik, hal yang sama juga terjadi pada tanaman kontrol (Tabel 1). Gejala fitotoksit tidak ditemukan pada tanaman sawi, pakchyoi dan bayam setelah aplikasi ekstrak methanol biji mimba kemungkinan disebabkan rendahnya kandungan senyawa penyebab fitotoksit dan kuatnya jaringan daun tanaman sawi, pakchoi dan bayam yang ditanam secara hidroponik. Kemungkinan lainnya tidak terdapat fitotoksik pada tanaman uji yang telah disemprot sediaan ekstrak metanol biji mimba dikarenakan konsentrasi bahan aktif pada tanaman uji semakin berkurang disebabkan pada tanaman system hidroponik tanaman secara terus menerus menyerap secara kontinu larutan air yang berisi nutrisi tanaman akibatnya residu bahan aktif pada tanaman semakin larut di semua jaringan tanaman yang pada akhirnya residu bahan aktif tersebut tidak dapat menyebabkan fitotoksit terhadap tanaman uji. Berdasarkan hal tersebut ekstrak metanol biji mimba berpotensi untuk pengendalian serangga hama pada tanaman hidroponik.
Hal tersebut berbeda dengan yang dilaporkan oleh (Loke et al. 1990) bahwa penyemprotan ekstrak biji mimba pada konsentrasi 0.5% dapat menimbulkan gejala fitotoksit pada tanaman sawi, padi dan kubis yang berumur empat minggu yang ditanam secara konvensional (menggunakan media tanah).
Penggunaan ekstrak sebagai aplikasi di lapangan memberi
UG JURNAL VOL.13 NO.8 19 keuntungan yaitu di antaranya bahan
aktif dapat tahan lama karena dapat disimpan dalam kulkas dengan suhu - 4 Kemudian keuntungan lainnya dapat digunakan kapan saja saat membutuhkan bahan sudah tersedia, tidak perlu mencari di lapangan. Akan tetapi kekurangan dari sediaan tersebut
perlu dilakukan dengan berulang-ulang untuk diaplikasikan ke lapangan, karena bahan aktif mudah terdegradasi oleh mikroorganisme pengurai dan faktor pengurai lainnya seperti sinar matahari (Dadang & Prijono 2008).
a b c
Gambar 1 a. sediaan ekstrak metanol biji mimba. b. tanaman sawi, pakchoy dan bayam tujuh hari setelah penyemprotan sediaan ekstrak metanol biji mimba. c.
tanaman kontrol.
Tabel 1.
Gejala Fitotoksisitas Pada Daun Sawi, Pakchoi Dan Bayam Yang Ditanam Secara Hidroponik Setelah Disemprot Dengan Sediaan Ekstrak Metanol Biji Mimba
No Spesies tumbuhan Konsentrasi (%)
Jenis tanaman hidroponik
Gejala fitotoksisitas (%) pada hari ke (HSP)
3 7
1.
A. indica
0.25
Sawi 0 0
2. Pakchoi 0 0
3. Bayam 0 0
4.
0.25
Sawi 0 0
5. Pakchoi 0 0
6. Bayam 0 0
7.
Curacron 500EC
Sawi 0 0
8. Pakchoi 0 0
9. Bayam 0 0
10.
Kontrol 0
Sawi 0 0
11. Pakchoi 0 0
12. Bayam 0 0
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Sediaan ekstrak metanol biji mimba tidak menyebabkan adanya gejala fitotoksisitas pada tanaman sawi, pakchoi dan bayam yang ditanam secara hidroponik, mengindikasikan
bahwa sediaan sederhana tersebut aman dan memiliki peluang sebagai pengendali serangga hama bagi tanaman sawi, pakchoi dan bayam yang ditanam secara hidroponik.
20 UG JURNAL VOL.13 NO.8 Saran
Pengujian aktivitas residu ekstrak metanol biji mimba terhadap tanaman hidroponik perlu dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Dadang, Prijono D. 2008. Insektisida Nabati: Prinsip, Pemanfaatan, dan Pengembangan. Bogor (ID):
Departemen Proteksi Tanaman.
Institut Pertanian Bogor.
Dadang MH, Irawadi TT, Prijono D.
2011. Potensi sirih hutan (Piper aduncum) sebagai insektisida botani terhadap larva Crocidolomia pavonana. [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Delya B, Tusi A, Lanya B, Zulkarnain I. 2014. Rancang bangun system hidroponik pasang surut otomatis untuk budidaya tanaman cabai.
Jurnal Teknik Pertanian Lampung.
3(3): 205-212.
Dono D, Prijono D, Manuwoto S.
2006. Fitotoksisitas rokaglamida dan ekstrak ranting Aglaia odorata (Meliaceae) terhadap tanaman brokoli dan kedelai. Agrikultura.
17(1): 7-14.
Fazolin M, Estrella JL, Catani V, Lima de MS, Alecio MR. 2005.
Toxicidade do oleo de Piper aduncum L. A adulttos de Cerotoma tingomarianus Bechyne (Coleoptera:
Chrysomelidae). Neotrop Entomol.
34(3): 485-489, [abstract in English].
Herwibowo, K dan Budiana, N. S.
2014. Hidroponik Sayuran untuk Hobi dan Bisnis. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Indrayani LM, Sudarmaja IM. 2018.
Efektifitas ekstrak etanol daun mimba (Azadirachta indica) terhadap kematian larva nyamuk aedes aegypti. E-Jurnal Medica. 7(1):6-9.
Istiqomah, S. 2007. Menanam Hidroponik. Jakarta: Azka Press.
Lina EC, Dadang, Manuwoto S, Syahbirin G. 2015. Gangguan fisiologi dan biokimia Crocidolomia
pavonana (F.) (Lepidoptera:
Crambidae) akibat perlakuan ekstrak campuran Tephrosia vogelii dan Piper aduncum. Jurnal Entomologi Indonesia 12(2): 100-107.
Lingga P. 2011. Hidroponik Bercocok Tanam tanpa Tanah. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Locke WH, CK Heng, Basirun N, Rejab A. 1990. Non-target effects of neem (Azairachta indica A. Juss) on Apanatales plutellae Kurdj, cabbage, sawi and padi. Proceedings 3rd International Conference on Plant Protection in the Tropics. March 20- 23 1990. Genting highland, Pahang, Malaysia: Malaysian Plant Protection Society. Pp 108-110.
Mendes JA, Dadang, Ratna ES. 2016.
Efek mortalitas dan penghambatan makan beberapa ekstrak tumbuhan asal Kabupaten Merauke, Papua terhadap larva Crocidolomia pavonana (F.) (lepidoptera:
Crambidae). J. HPT. Tropika 16(2):
107-114.
Nuriana, Mastura. 2018. Potensi ekstrak daun mimba (Azadiracta indica) sebagai pestisida alami terhadap hama pengisap pada tanaman kakao (Theobroma cacao L.)
Pebrulita YM, Dadang, Prijono D.
2013. Aktivitas insektisida sirih hutan (Piper aduncum) asal Riau terhadap ulat krop kubis Crocidolomia pavonana. Prosiding Lokakarya Nasional dan Seminar Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia. Bogor, 2-4 September 2013. Departemen Proteksi Tanaman, Faperta, IPB. hlm 605-614.
Prijono D, Manuwoto S, Soemawinata RAT. 1994. Insecticidal activity of sugar apple (Annona squamosa L.) and pond apple (A. glabra L.) seed extracts rice brown planthopper, Nilaparvata lugens (Stal). Di dalam:
Proceeding of the UNESCO National Seminar on Chemistry of
UG JURNAL VOL.13 NO.8 21 Natural Products of Indonesian
Plants; 15-16 Des 1994. Depok (ID):
Chemistry of Natural Products of Indonesian Plants. hlm 335-341.
Rakhman A, Prijono D. 2014.
Kerentanan Plutella xylostella dari Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat terhadap lima jenis insektisida komersial, Ekstrak Piper aduncum, serta campuran P.
Aduncum dan Tephrosia vogelii.
[skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Rali T, Wossa SW, Leach DN, Waterman PG. 2007. Volatile chemical constituents of Piper aduncum L. And Piper gibbilimbum C. DC (Piperacea) from Papua New Guinea. Molecules 12(2007): 389- 394. [Internet]. [diunduh 2017 Okt
18]. Tersedia pada:
http://www.mdpi.com/1420- 3049/12/3/389.
Ramanibai R, Parthiban E, Boothapandi M. 2016. Effect seed kernel aqueous extract from Annona squamosa against three mosquito vectors and its impact on non-target aquatic organisms. Asian pac J Trop Dis 6(9):741-745.
Ravaomanrivo LHR, Razafindraleva
HA, Raharimalala FN,
Rasoahantaveloniaina B, Ravelonandro PH, mavingui P.
2014. Efficacy of seed extracts of Annona squamosa and Annona muricata (Annoanceae) for the control of Aedes albopictus and Culex quinquefasciatus (Culicidae).
Asian Pac J Trop Biomed 4(10):
798-806.
Risnawati, Syahputra E, Indarti I. 2007.
Aktivitas insektisida ekstrak mimba terhadap larva Crocidolomia pavonana. [skripsi]. Fakultas Pertanian: Univesitas Tanjungpura.
Risnawati, Dadang, Prijono D. 2013.
Aktivitas biologi campuran ekstrak Tephrosia vogelii dan Annona squamosal terhadap Crocidolomia
pavonana. Prosiding Lokakarya Nasional dan Seminar Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia. Bogor, 2-4 September 2013. Departemen Proteksi Tanaman, Faperta, IPB. hlm 587-597.
Risnawati, Evan Purnama Ramdan, Herik Sugeru. 2017. Inventarisasi tanaman potensial insektisida botani pada arboretum Universitas Gunadarma. UG Jurnal. 11(4):1-14.
Risnawati, Putri Irene Kanny, Fitri Yulianti. 2019. Uji fitotoksisitas sediaan sederhana tanaman sirih hutan (Piper aduncum) terhadap beberapa tanaman hidroponik. UG Jurnal. 13(2):95-103.
Sarido L, Junia. 2017. Uji pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) dengan pemberian pupuk organic cair pada system hidroponik.
Jurnal Agrifor XVI (1): 65-74.
Susanto MS, Prijono D. 2014.
Sinergisme ekstrak Piper aduncum dan Tephrosia vogelii terhadap penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas. [Skripsi].
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Syahbirin G, Purnama H, Prijono D.
2001. Residu pestisida pada tiga jenis buah impor (Pesticide residues in three kinds of imported fruits).
Bul Kimia. 1(2):113-118.
Syahputra E. 2010. Sediaan insektisida ekstrak biji Mimosops elengi:
pengaruh terhadap perkembangan dan kepiridian Crocidolomia pavonana serta pengaruh terhadap lingkungan dan tanaman. Bionatura- Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik:
12(1): 25-30.
Syahputra E, Endarto O. 2012.
Aktivitas insektisida ekstrak tumbuhan terhadap Diaporina citri dan Toxoptera citridus serta pengaruhnya terhadap tanaman dan predator. Bionatura Jurnal Ilmu- Ilmu Hayati dan Fisik. 14(3):207- 214.