• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. TALANG, SUMATERA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "G. TALANG, SUMATERA BARAT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

G. TALANG, SUMATERA BARAT

KETERANGAN UMUM

Nama Lain : Talang, Salasi, Sulasih

Nama Kawah : Danau Talang dan Danau Kecil Lokasi

a. Geografi Puncak b. Administrasi

: :

0°58'42" LS dan 100°40'46"BT

Kecamatan Kota Anau, Kabupaten Solok Propinsi Sumbar

Ketinggian : 2597 m dpl Kota Terdekat : Solok Tipe Gunungapi : Strato

Pos Pengamatan : Pos Pengamatan G. Talang, Limau Purut Nagari, Kec.

Lembang Jaya, Kab. Batu Bajanjang Solok tel. 0755- 7707568, Sumbar 27283

Geografis 0o 56’ 34,68” LS dan 100o 42’ 24,18” BT

PENDAHULUAN

Cara Mencapai Puncak

Dari arah timur yaitu melalui Bukit Sileh, Batubarjanjang, Batu Rajo Awa dan Bt.

Palangkakan melalui cabang jalan terobosan dari jalan besar Alahan Panjang, Padang, sedangkan untuk mencapai daerah fumarola dari Batubarjanjang ke Gabuo Gadang dan Gabuo Belerang Tanah memerlukan waktu 2-3 jam.

(2)

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi

Dengan adanya mata air panas menunjukan adanya potensi sumberdaya gunungapi panas bumi yang bisa dikembangkan, baik untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi, untuk industri atau untuk keperluan pemanas ruangan. Selain itu di bagian tubuh G. Talang ini tersimpan potensi air didalamnya, merupakan potensi sumberdaya air dari gunungapi yang besar dan banyak manfaatnya untuk pengairan dan bisa untuk pengembangan energi listrik dari tenaga air (mikro hydro).

Wisata

Potensi wisata daerah G. Talang yaitu dengan terdapatnya mata air panas di kaki Gunung api yaitu di daerah Bt. Kili, Batubarjanjang, Buah Batung dan Sapan. Juga terdapat 2 buah danau, yaitu Danau Talang dan Danau Kecil.

Puncak G. Talang banyak menarik minat para pencinta alam dan para pendaki, terutama anak-anak muda pelajar dan mahasiswa yang senang melakukan pendakian.

SEJARAH LETUSAN

1833 Korthals melihat suatu letusan dari Padang dalam Oktober 1833, berupa tiang asap tebal dan batu membara, yang disemburkan dari kawahnya (Junghunhn,1853, p.1243). Neumann van Padang ( 1951, p.29 ) menganggapnya sebagai esplosi normal dalam kawah parasit.

1843 Kern ( 1845, p.94 ) melaporkan terjadi letusan pada 21 Oktober.

1845 Stumpe menggambarkan tiang asap raksasa berwarna hitam yang besar pada 22 April, hinggga rakyat menjadi panik karenanya. Letusannya terjadi juga dari kawah parasit (Junghuhn, 1853 p.1243 ).

1883 Verbeek ( 1883, p.505 ) menyebut - nyebut adanya dua buah rekahan dengan jurus timurlaut- baratdaya.Yang giat adalah rekahan sebelah selatan. Neumann van Padang ( 1951,p.29 ) mencantumkannya juga sebagai letusan dari kawah parasit.

1963 Kenaikan kegiatan

1967 Seorang pengamat gunungapi melaporkan, bahwa pada 10 Oktober terdapat kenaikan kegiatan tembusan fumarola pada sebuah celah sepanjang lk 800 m selebar 10 hingga 50 m dengan jurus timurlaut. Kegiatan utamanya terjadi pada 7 lubang utama,lk 200 m dibawah puncak. Tidak terjadi letusan

( Kusumadinata, 1967, p.3 ).

1972 Tidak ada hal yang menyolok. Suhu mataair panas batu barjanjang pada 9 September adalah 58oC (55oC dalam Juni 1952 dan 61oC dalam Nopember 1967 ).

1981 23 Maret terdengar suara gemuruh dan asap tebal serta bau belerang kuat, yang sebelumnya didahului oleh adanya gempa yang terjadi sejak Agustus 1980 hingga Maret 1981

10 April, terjadi peningkatan kegempaan secara sporadic setelah gempa tektonik Mentawai.

(3)

2005 11 April, dari pukul 17.27 s/d 06.00 tercatat 158 gempa vulkanik dalam Pukul 07.30 status dinaikkan ke waspada

12 April pukul 03.40 WIB terjadi letusan abu dengan ketinggian lebih kurang 1000 m di atas kawah.

2006 Sejak 9 September 2006 terjadi peningkatan kegiatan. Tremor vulkanik menerus dengan amplitudo mencapai 25 mm. Asap putih tipis-tebal. tekanan sedang-kuat, tinggi asap berkisar 100-300 m keluar dari kawah. Peningkatan aktifitas ini berlangsung sampai 24 Januari 2007

2007 Sejak 17 Maret 2007, terjadi peningkatan kegiatan dengan menunjukkan jumlah peningkatan gempa Vulkanik-Dalam sampai 15 kejadian per hari dan tremor menerus pada tanggal 18-3-2007 dari pkl. 00.00-24.00.

Karakter Letusan

Letusan bersifat eksplosif.

Foto letusan G. Talang, 13 April 2005

GEOLOGI

Morfologi

Bentuk dan struktur G. Talang, menurut Neumann van Padang (1951, p.28 ), adalah kembar dengan Pasar Arbaa yang telah padam. Puncaknya tidak mengandung kawah. Tempat terjadinya letusan dan tembusan fumarola merupakan sebuah lembah sepanjang lk 300 m dan selebar 30 - 90 m antara garis ketinggian 2360 hingga 2460 m dml.

Menurut Akkersdijk (1927, p.74 ) terbagi-bagi oleh tembereng lingkaran dari andesit menjadi kawah selebar 10 - 40 m sedalam-dalamnya 50 m.

(4)

Terdapat dua buah danau, mungkin tadinya kawah, ialah Danau Talang, luas 1950 x 1050 m dan sedalam 88 m, 1674 m dml, dan Danau Kecil seluas 400 x 100 dan setinggi 1707 m.

Mataair panas terdapat di kaki gunung, ialah di Bt. Kili, Batubarjanjang, Buah Batung dan Sapan. Berdasarkan data geologi yang terangkum, dijumpai adanya sebaran awan panas yang terdiri dari blok dan abu vulkanik yang cukup luas di bagian lereng dan kaki G. Talang, juga sebaran lava yang cukup luas, menandakan bahwa G. Talang pernah meletus cukup besar dalam sejarah pertumbuhannya.

GEOFISIKA

Seismik

Pengamatan seismik dilakukan dari pos PGA di Batu Barjanjang, Gempa-gempa umumnya sering didominasi oleh gempa tektonik, baik tektonik lokal maupun tektonik jauh. Peningkatan kegempaan G. Talang sering dipengaruhi oleh terjadinya Gempa Tektonik di sekitarnya. Kegempaan yang terjadi selama tahun 2005 – 2010 adalah sebagai berikut:

1/1/2005 1/1/2006 1/1/2007 1/1/2008 1/1/2009 1/1/2010

200 4060 10080 120140

Jumlah Gempa

TJ 0

20 40 60 80

100 TL

200 4060 10080 120140

VA 0

105 1520 2530

VB 200

4060 10080

120140 Padang, Mw 7.5

Sept 2009 Mentawai, Mw 6.6

Agust 2009 Bengkulu, Mw 8.5

Sept 2007 Singkarak

Mw 6.4, Mar 2007 Nias, Mw 6.7

Mei 2006 Mentawai

Mw 6.7, Apr 2005

Low Frekuensi

Grafik Kegempaan G. Talang Januari 2005 – Februari 2010

(5)

GEOKIMIA

Kimia Batuan

Hasil analisis Batuan G. Talang Diambil pada 11 Agustus 1973

- SiO2 59,65%

- Fe203 3,53

- Fe0 1,79

- Al203 19,98

- Ca0 6,32

- Mg0 1,95

- Ti0 0,54

- Mn0 0,01

- S03 0,20

- P205 0,49

- Na20 2,65

- K20 1,37

- H20 0,99

- Hilang dibakar 1,70 Analisis 30 Desember 1973 oleh : D. Darsadudin.

Lokasi fumarola G. Talang dan hasil pengukuran suhu :

Lapangan fumarola Juni 1952 Nopember 1967 9 Sept 1972 Okt 2001

1. Gadang Atas I 95oC 96oC 95o, 80oC 115 o C

2. Gadang Atas II 95oC 96oC 92o, 94o, 94oC 110 o C 3. Belerang Tanah 97oC 86oC 93 o , 88o, 94oC 100 o C

Kimia Air

Hasil analisis air dari mata air panas di sekitar Gunung Talang pada bulan Nopember 1967 :

Bt. Kili Batubarjanjang Buah Batung Sapan

Kekeruhan jernih jernih jernih jernih

Warna t.a t.a t.a t.a

Bau t.a t.a t.a t.a

Rasa t.a t.a t.a t.a

pH 7,0 6,7 6,7 6,4

Dalam mg/1

Sisa Kering 1140,0 500,0 900,0 620,0

Sisa Pijar 940,0 400,0 800,0 520,0

Hilang dalam pemijaran 200,0 100,0 100,0 100,0

Ca++ 51,3 27,1 89,0 28,5

Mg++ 35,1 18,2 49,4 35,5

SiO2 56,8 64,0 76,4 34,0

Zat organic(KMn04) 4,4 4,0 3,1 6,5

CO2 bebas 9,5 19,0 19,0 9,3

HCO3_ 504,8 208,4 129,1 129,1

CO3--- t.a t.a t.a t.a

Fe jumlah t.a t.a t.a 0,05

Mn++ t.a t.a t.a t.a

(6)

SO4-- 57,1 67,5 264,7 124,6

Cl- 158,0 25,0 160,0 88,0

K+ dan Na+ (dihitung sebagai

Na+ ) 196,2 61,4 51,3 66,2

Juni 1952 Batu Barjanjang Buah Batung Sapan

Sisa Kering 465,0 853,0 1102,0

Sisa pijar 375,0 621,0 847,0

Hilang dalam pemijaran 90,0 231,0 255,0

Asam bebas t.a t.a t.a

H2S t.a 28,8 t.a

SiO2 173,0 128,0 145,0

Ca++ 52,8 110,0 132,9

Mg++ 2,6 32,4 57,3

Fe++(energi) t.a t.a t.a

Mn+ t.a t.a t.a

HCO3- 192,2 192,2 219,6

SO4 59,3 187,6 331,6

Cl- 15,4 8,7 127,8

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Pemantauan yang dilakukan adalah dengan metoda visual dan instrumental, yang dilakukan dari Pos Pengamatan G. Api Talang, pada posisi, 100 o 22,004’ BT dan 0o 25,147 LS di Kampung Limau Purut Nagari, Kec. Lembang Jaya, Kab. Batu Bajanjang Solok Sumbar .

Visual

Pengamatan warna asap, tinggi asap dan kekuatan hembusannya.

Seismik

Kegiatan pemantauan berupa pemantauan seismik (kegempaan) yang menerus selama 24 jam, dengan seismometer PS - 2 Kinemetrik sistim pancar (telemetri) dan sensor diletakan di lereng G. Talang pada bagian atas dari mata air panas Gabuo Atas pada posisi geografi 00o57’ 30,2” LS dan 100o41’ 50,6” BT, pada ketinggian 1607 m.

KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNGAPI

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Talang dibagi dalam tiga tingkat kerawanan dari rendah ke tinggi yaitu Kawasan Rawan Bencana III, Kawasan Rawan Bencana II dan Kawasan Rawan Bencana I.

(7)

Kawasan Rawan Bencana III

Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI 13-4689-1998) Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran atau guguran batu (pijar), dan gas racun.

Berdasarkan morfologi, daerah puncak dan lokasi titik kegiatan saat ini, kawasan rawan bencana III meliputi daerah kawah pusat dan sekitarnya hingga radius 2 km dari pusat erupsi untuk lontaran batu (pijar) dan untuk aliran massa seperti lava dan atau gas racun sepanjang rekahan yang berarah baratdaya-timurlaut.

Kawasan Rawan Bencana III G. Talang terdiri atas dua bagian:

a. Kawasan yang sering terlanda aliran massa: aliran lava, gas racun, dan kemungkinan awan panas

b. Kawasan yang sering terlanda lontaran: jatuhan piroklastik (hujan abu lebat) dan lontaran batu (pijar).

Dalam peta, Kawasan Rawan Bencana III digambarkan dengan warna merah tua solid (tegas) untuk aliran massa dan garis putus-putus berbentuk lingkaran untuk bahaya lontaran.

Kawasan Rawan Bencana II

Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda aliran lava, lahar, hujan abu lebat, lontaran batu (pijar), gas racun dan kemungkinan awan panas.

Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu:

Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa lava, lahar, gas beracun, dan kemungkinan awan panas

Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan Rawan Bencana I terdiri atas dua bagian yaitu:

kawasan berpotensi terlanda aliran massa: lahar

kawasan berpotensi terlanda lontaran: hujan abu dan kemungkinan lontaran batu (pijar).

(8)

Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Talang

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Kusumadinata, K, 1979, Data Dasar Gunungapi

Effendi, A.C,1990, G. Talang, Berita Berkala Vulkanologi edisi khusus.

Manalu, L, 1992, Laporan Pengumpulan data G. Talang.

Ervan, R.D, dkk, 1996, Laporan Pengumpulan Bahan Informasi G. Talang.

Kriswati, E, dkk, 1998, Laporan Pengamatan Visual dan Seismik G. Tandikat, G.Talang, G. Kerinci dan G. Kaba.

Purbawinata, M. A, dkk , 2001, Laporan aktivitas G. Talang September 2001.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan peta kawasan rawan bencana gunungapi Merapi, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi

Metode yang digunakan adalah dengan memperhitungkan kerentanan jumlah penduduk di kawasan rawan bencana Merapi sebagai penentuan lokasi titik kumpul, pengamatan untuk menilai

Kawasan permukiman menjadi fokus pada lokasi-lokasi kawasan rawan bencana tanah longsor, sebab pada daerah pemukiman yang memiliki tingkat longsor yang tingi,

Pada bagian hulu, kawasan rawan bencana ini merupakan kawasan hutan dan tegalan tanpa pemukiman penduduk, sedangkan pada bagian hilir kawasan rawan bencana ini berada pada

Metode yang digunakan adalah dengan memperhitungkan kerentanan jumlah penduduk di kawasan rawan bencana Merapi sebagai penentuan lokasi titik kumpul, pengamatan untuk menilai

Kawasan rawan bencana alam geologi yang berupa kawasan rawan letusan gunung berapi di wilayah Kabupaten Magetan berada pada lokasi rawan bencana aliran lahar lewat media sungai,

1) Di dalam kawasan hutan lindung, kawasan cagar alam, kawasan cagar budaya dan kawasan rawan bencana gunung berapi pada kawasan rawan III, tidak diperbolehkan melakukan

CALON LOKASI KAWASAN Terdapat 4 empat lokasi berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan khusus industri manufaktur kapal, antara lain :  CALON LOKASI 1 Daerah Bungus Teluk Kabung