• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. anak perempuan tersebut wajib dikubur hidup-hidup karena dianggap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. anak perempuan tersebut wajib dikubur hidup-hidup karena dianggap"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kekerasan terhadap perempuan telah terjadi sejak sebelum kemunculan islam atau pada jaman jahiliyah (kebodohan), yang mana ketika seseorang atau sebuah keluarga memiliki seorang anak perempuan, anak perempuan tersebut wajib dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib besar. Kejadian tersebut tercantum dalam kitab suci Al-Quran surah An-Nahl ayat 58-59:

“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Lalu dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang diterimanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah, alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan.” (Q.S. An-Nahl: 58-59)

Perempuan seringkali mengalami ketidakadilan dan kekerasan.

Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslimpun tidak terhindarkan dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Melalui situs Pew Research Center tahun 2019, Indonesia berada pada tingkat pertama sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan total populasi sebesar 219 juta jiwa (Diamant, 2019). Akan tetapi, hal tersebut tidak mengurangi tingkat kekerasan seksual di Indonesia yang cenderung tinggi dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Dalam Catatan Tahunan (CATAHU) tahun 2020 oleh Komisi

Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)

mencatat bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak

(2)

2

perempuan mengalami peningkatan sebanyak 792% dalam kurun waktu 12 tahun. Hal tersebut juga dibuktikan melalui peningkatan tiap tahunnya, tahun 2017 sebanyak 348.446 kasus, tahun 2018 sebanyak 406.178 kasus, tahun 2019 sebanyak 431.471 kasus. Data kekerasan berdasarkan provinsi mencatat Jawa Barat dengan kasus tertinggi yaitu 2.738 kasus, Jawa Tengah 2.525 kasus, DKI 2.222 kasus, Jawa Timur 1.121 kasus, DIY 868 kasus.

Berlandaskan hal di atas, Komnas Perempuan ingin kekerasan seksual dihapuskan dengan mengajukan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), karena dianggap sebagai payung hukum yang kuat untuk melindungi korban kekerasan seksual dan juga hukuman yang sesuai terhadap pelaku kekerasan seksual. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Kemen PPPA, RUU PKS tidak hanya menghukum pelaku kekerasan seksual akan tetapi yang paling penting adalah untuk melindungi dan pemulihan trauma korban kekerasan seksual. Komnas Perempuan juga menyatakan RUU PKS dinilai lebih lengkap daripada UU Pemerkosaan dan Pencabulan karena tidak membahas semua bentuk-bentuk kekerasan seksual. Dalam RUU PKS tentang penghapusan kekerasan seksual bertujuan a) mencegah segala bentuk kekerasan seksual, b) menangani, melindungi dan memulihkan korban, c) menindak pelaku, d) mewujudkan lingkungan bebas kekerasan seksual.

Akan tetapi pada Juli 2020, RUU PKS yang digadang sebagai RUU

yang menghapuskan kekerasan seksual dikeluarkan dari Program Legislasi

Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020 bahkan hampir dicabut dari RUU.

(3)

3

Menurut Marwan Dasopang, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, mengatakan bahwa pembahasan RUU PKS sulit dilakukan. Hal ini menimbulkan protes dari feminis dan pendukung RUU PKS sampai tagar

#SahkanRUUPKS trending di media sosial twitter. Hal tersebut bukan tanpa alasan, ini di dasari oleh kasus kekerasan saat pandemi Covid-19 tahun 2020 mengalami peningkatan pesat. Melalui Detik.com, Kemen PPPA dan Komnas Perempuan mencatat terjadi lonjakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sebanyak 75% dengan total 14.719 kasus.

Kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk mengeluarkan RUU PKS dari Prolegnas 2020 menimbulkan kemarahan dan kekecewaan dari berbagai pihak terutama feminis. Hal ini dikarenakan RUU PKS merupakan isu utama yang diperjuangkan oleh feminis Indonesia saat ini. Feminis menganggap pemerintah tidak serius menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan saat lonjakan kasus meningkat pada masa pandemi ini. Pihak feminis dan pendukung RUU PKS mengirimkan surat terbuka kepada Presiden sebagai bentuk desakan dan kekecewaannya terhadap pemerintah. Feminis bersikukuh bahwa RUU PKS adalah payung hukum yang tepat untuk menghapuskan kekerasan seksual di Indonesia, dan nilai –nilai yang terdapat pada RUU PKS sesuai dengan peraturan yang ada.

Melalui website International NGO Forum on Indonesian Development

(INFID) pada 20 Juli 2020 menyampaikan surat terbuka kepada Presiden

Joko Widodo serta Ketua DPR RI Puan Maharani yang berisi desakan untuk

segera melakukan pembahasan dan pengesahan RUU PKS, surat tersebut

mendapat dukungan sebanyak 126 orang dari berbagai kalangan seperti,

(4)

4

Najwa Shihab (Pendiri Narasi), Joko Anwar (Sineas), Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Kalis Mardiasih (Aktivis Perempuan dan Penulis), Arie Kriting (Komedian) dan lain-lain.

Disisi lain, banyak terjadi pro dan kontra terhadap RUU PKS.

Terdapat pihak-pihak yang tidak setuju dan melakukan penolakan terhadap RUU PKS. Dilansir melalui website Komnas Perempuan, Siti Aminah, peneliti Indonesian Legal Resource Center (ILRC) menyatakan “alasan penolakan terhadap RUU PKS dikarenakan penilaian bahwa RUU PKS berasal dari barat dan mengadopsi nilai-nilai feminisme, sehingga RUU PKS adalah produk feminis”. Alasan tersebut semakin ditegaskan oleh pernyataan dari Marwan Dasopang, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI melalui Kompas.com bahwa “RUU PKS terlalu liberal, bebas dan feminis”.

Ini disebabkan karena feminisme sendiri tidak diterima dengan baik oleh sebagian pihak. Prabasmoro (2006) mengidentifikasikan bahwa feminisme seringkali disalahtafsirkan: Pertama, sebagai gerakan dari barat, atau bahkan lebih dari itu diidentifikasi sebagai Barat. Kedua, mengikuti kesalahtafsiran yang pertama adalah feminisme merupakan gerakan perempuan membenci laki-laki, pengikut seks bebas dan/atau lesbian, sehingga feminisme dimaknai sebagai gerakan liberal, tidak islami atau bahkan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila.

Pro dan kontra RUU PKS juga ramai terlihat di media daring dan media sosial. Melalui media daring, dapat dilihat pihak pro RUU PKS melalui petisi “Sahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual #MulaiBicara

#GerakBersama” yang telah mendapatkan 343.000 tandatangan, sedangkan

(5)

5

petisi tandingan dari pihak kontra melalui #GagalkanRUUPKS yang mendapatkan 3.000 tandatangan. Di media sosial instagram, pihak pro RUU PKS menggunakan hastag #SahkanRUUPKS yang telah mencapai 24.800 postingan, sedangkan pihak kontra dengan #TolakRUUPKS mendapatkan 16.000 postingan tertanggal Januari 2020. Jika dilihat melalui postingan instagram, pihak pro RUU PKS banyak datang dari feminis, sedangkan pihak kontra RUU PKS cenderung datang dari pihak islam konservatif.

Pihak islam konservatif menuduh RUU PKS merupakan produk feminis dengan pemikiran liberal. RUU PKS seringkali disalahtafsirkan sebagai RUU yang melegalkan seks bebas, mendukung LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer) dan memenjarakan suami. Hal tersebut turut menghambat pengesahan RUU PKS.

Kesalahtafsiran terhadap RUU PKS juga disebabkan dari pemberitaan media yang cenderung fokus memberitakan problematik dalam RUU PKS. Media arus utama (cetak maupun televisi) dan media alternatif atau daring turut memberitakan kebijakan pemerintah terkait dikeluarkannya RUU PKS dari Prolegnas 2020. Menurut data dari Remotivi.or.id, sejak dihentikan pembahasannya, RUU PKS lebih banyak

diberitakan dengan sentimen negatif. Catatan Binokular menunjukkan dari

2.490 berita RUU PKS di media daring pada kurun 2 Juli – 20 Desember

2020, 1.601 artikel (64%) memuat sentimen negatif, 632 artikel (25%)

sentimen positif, dan netral 257 artikel (11%). Hal ini berbanding terbalik

dengan isu UU Cipta Kerja yang diberitakan sebanyak 10.000 kali pada

periode yang sama dengan 48% bersentimen positif, dan isu vaksin Covid-

(6)

6

19 yang diberitakan dalam 10.000 berita dengan 69% sentimen positif.

Padahal ketiganya merupakan isu yang sama pentingnya.

Kehadiran teknologi dan media daring menjadi penting bagi feminis sebagai penunjang gerakan ini. Melalui pandangan feminis, media daring berperan sebagai wadah kritik sekaligus pemberdayaan bagi perempuan.

Selain itu, media daring juga digunakan feminis dalam mengangkat isu-isu kekerasan seksual yang dilihat dari perspektif feminisme. Pemanfaatan media daring ini juga pernah dilakukan oleh feminis luar negeri dalam memberikan dukungan terhadap sesama perempuan di seluruh dunia. Salah satu kampanye yang paling populer adalah Kampanye #Metoo yang didirikan pada tahun 2006 oleh aktivis Tarana Burke dilandasi karena maraknya kekerasan terhadap perempuan di dunia. Akan tetapi, kampanye tersebut tidak berjalan dengan baik, hingga pada Oktober tahun 2017 ketika aktris Alyssa Milano mempopulerkan tagar #MeToo di twitter. Setelah itu, perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan mulai menggunakan tagar #MeToo di media sosial untuk menunjukkan meluasnya penyebaran kekerasan dan pelecehan seksual.

Melalui hal tersebut, pentingnya kehadiran media daring pro RUU PKS untuk memberitakan RUU PKS. Menurut Jones (1997) dikutip melalui Remotivi.or.id dijelaskan bagaimana framing media melalui berita-

beritanya dapat mempengaruhi pemikiran masyarakat hingga penentu

kebijakan. Dalam teori kebijakan publik, agar suatu permasalahan

mendapatkan perhatian penentu kebijakan, maka ia harus terus berada

dalam pusaran pemikiran publik atau masyarakat. Hal tersebut digunakan

(7)

7

untuk mengadakan diskusi-diskusi yang meluas dalam memanfaatkan media sebagai penyebar berita maupun informasi. Secara teoretis, pemberitaan yang dilakukan oleh media akan memberikan pengaruh pada kebijakan yang diambil legislatif maupun eksekutif.

Montiel (2015) mengungkapkan bahwa organisasi media memiliki kekuatan untuk mengkonstruksi konsep gender melalui konsep yang disampaikan. Kritik feminis melalui media daring dapat digunakan untuk mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU PKS. Selain itu, media daring juga dapat dimanfaatkan untuk memberitakan terkait informasi dan urgensi RUU PKS dari perspektif feminisme. Salah satu media daring berperspektif feminisme adalah Magdalene.co. Melalui situs resminya, Magdalene.co mengklaim diri sebagai “Artikel Perempuan Berperspektif Feminisme”. Magdalene.co merupakan media alternatif yang berfokus pada feminisme, kelompok marjinal dan kesetaraan gender gencar memberitakan isu-isu yang sedang berkembang maupun isu-isu yang luput dari media mainstream. Data dari Remotivi.or.id menunjukkan bahwa pembaca Magdalene.co didominasi oleh perempuan. Sebagai media feminis Magdalene.co kerap mengkritik kebijakan pemerintah terkait pengeluaran RUU PKS. Bertepatan pada kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, Magdalene.co mengkritik pemerintah melalui tagar #MerdekaKokGini terkait dikeluarkannya RUU PKS dari Prolegnas Prioritas 2020.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yusnia (2020)

menghasilkan bahwa artikel Magdalene.co tidak seperti media mainstream

lainnya. Artikel dalam Magdalene.co cenderung berpihak pada perempuan

(8)

8

sebagai korban yang banyak mengalami kekerasan. Tanpa harus menyudutkan korban kekerasan, Magdalene.co menampilkan perempuan sebagai sosok yang harus dilindungi untuk mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat. Dalam artikel Magdalene.co juga menampilkan bagaimana perempuan mengalami penderitaan akibat kekerasan yang dialaminya.

Keberadaan Magdalene.co menjadi penting sebagai media daring yang mewakili feminis dalam menyampaikan pendapat terkait RUU PKS dari perspektif feminisme. Magdalene.co sering melakukan kritik dan tuntutan terhadap pemerintah terutama terkait RUU PKS. Kritik Magdalene.co sangat terlihat melalui beberapa judul artikelnya, salah satunya artikel yang berjudul “RUU PKS Dicabut dari Prolegnas, Pemerintah Berpihak Kepada Siapa?”. Melalui judul tersebut dapat terlihat bagaimana kekecewaan Magdalene.co terhadap pemerintah dikarenakan menunda pengesahan RUU PKS disaat angka kekerasan terhadap perempuan terus mengalami peningkatan. Perjalanan Magdalene.co dalam melawan kekerasan seksual tidaklah mudah. Situs Magdalene yaitu Magdalene.co pernah menjadi sasaran peretasan hacker karena membahas isu kekerasan seksual. Dilansir dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Magdelene.co dan Konde mendapat serangan cyber atau cybercrime pada Mei 2020 setelah memberitakan terkait misoginisme, prostitusi, dan diskusi tentang kekerasan seksual.

Kritik feminis dalam mendesak pemerintah untuk segera

mengesahkan RUU PKS tetap dan akan terus dilakukan secara luring

(9)

9

maupun daring. Sampai saat ini RUU PKS sedang gencar-gencarnya digaungkan agar masuk ke dalam Prolegnas Prioritas 2021 dan segera disahkan. Magdalene.co sebagai salah satu media daring berperspektif feminisme sangat berperan dalam menyebarkan informasi dan urgensi RUU PKS kepada masyarakat. Oleh karena itu, yang mendasari peneliti tertarik pada penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui lebih dalam mengenai wacana feminis dalam mengkritik kebijakan pemerintah terkait RUU PKS yang saat ini menjadi isu utama feminis Indonesia. Melalui penelitian ini juga dapat diketahui bagaimana pentingnya RUU PKS sebagai payung hukum dalam melawan kekerasan seksual dari perspektif feminisme.

Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana feminis memanfaatkan media daring sebagai wadah menyuarakan isu-isu, kritik, dan pemberdayaan.

Diharapkan melalui penelitian ini dapat menjadi bahan koreksi serta

pertimbangan bagi media dalam memberitakan perempuan, feminisme dan

RUU PKS. Hal ini untuk menghindari adanya kesalahpahaman terhadap

feminisme dan RUU PKS, sehingga masyarakat dapat melihat nilai-nilai

feminisme dan RUU PKS yang sebenarnya. Selanjutnya, melalui penelitian

ini juga dapat menjadi bahan acuan feminis dalam menyampaikan kritik

kedepannya.

(10)

10

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti paparkan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana wacana kritik feminis pada kebijakan pemerintah terkait Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual di Majalah Web Magdalene.co?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk membongkar wacana kritik feminis pada kebijakan pemerintah terkait Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual di Majalah Web Magdalene.co.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti berharap adanya manfaat penelitian baik secara akademis dan praktis, yakni sebagai berikut:

a. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan di bidang ilmu komunikasi dalam konteks kajian tentang analisis wacana, gender dan media.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan

peran media dalam membingkai perempuan dan feminisme, karena

media sangat berperan penting dalam menggambarkan perempuan,

feminisme, serta urgensi RUU PKS dari perspektif feminisme.

Referensi

Dokumen terkait

Apasajakah kendala yang dihadapi dalam perlindungan hukum bagi perempuan dalam perkawinan perspektif Undang-Undang Nomor 23 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga di

Kendala yang dihadapi POLRI dalam memberikan perlindungan hukum terhadap korban dari tindakan kekerasan seksual dalam rumah tangga dikarenakan korban tidak pernah

Data primer dalam penelitian ini adalah sumber data pokok yang dikumpulkan dari objek penelitian yaitu aktivitas advokasi pengesahan RUU PKS yang ada pada platform petisi daring

Berdasar ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat: (1) Fenomena kekerasan seksual terhadap perempuan yang meliputi kekerasan seksual secara fisik, verbal dan nonverbal di

Upaya apa yang dilakukan polisi wanita untuk mengatasi hambatan yang dihadapi dalam menangani penyidikan tindak pidana kasus kekerasan perempuan dan anak di

Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menyebutkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap

Dengan dikriminalisasikannya perbuatan kekerasan dalam rumah tanggasebagai tindak pidana dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tetang penghapusan kekerasan dalam