• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TINGKAT RISIKO KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN MENGGUNAKAN MODEL ALTMAN Z-SCORE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS TINGKAT RISIKO KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN MENGGUNAKAN MODEL ALTMAN Z-SCORE"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

20 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

ANALISIS TINGKAT RISIKO KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN

MENGGUNAKAN MODEL ALTMAN Z-SCORE MODIFIKASI PADA BANK UMUM SWASTA NASIONAL NON DEVISA YANG

TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIATAHUN 2016-2018

1

Karnila Ali,

2

Nani Septiana,

3

Rangga Aditya Universitas Muhammadiyah Metro

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko kebangkrutan menggunakan model Altman Z-Score dapat pada perusahaan perbankan non devisa yang terdaftar di BEI. Adapun Jenis dalam penelitian ini adalah studi kasus pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2018. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria tertentu.

Teknik pengumpulan data menggunakan metode dan teknik Studi Kepustakaan (Library Research). Teknik analisis Altman z-score modifikasi menggunakan beberapa rasio yaitu: Working Capital to Total Assets, Retained Earnings to Total Assets, Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets, dan Market Value of Equity to Book Value of Debt.

Kesimpulannya, hasil penelitian menggunakan model Altman Z-Score pada perusahaan perbankan umum swasta non devisa yang terdaftar di BEI 2016-2018, menyimpulkan bahwa dari 23 perusahaan yang dijadikan sampel 9 perusahaan mendapatkan penilaian buruk sedangkan 14 perusahaan lainnya dinyatakan sehat.

Kata kunci: Prediksi Kebangkrutan, Altman Z-Score Modifikasi.

PENDAHULUAN

Perbankan merupakan urat nadi perekonomian di seluruh bangsa.

Perbankan di Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting, salah satunya menjaga kestabilan moneter yang di sebabkan atas kebijakannya terhadap simpanan masyarakat serta sebagai lalu lintas pembayaran. Bank sendiri merupakan suatu badan usaha yang tujuannya menghasilkan

keuntungan atau laba. Dalam hal ini

maka berlaku prinsip going concern

yang artinya kegiatan usaha harus

dilakukan secara terus-menerus tidak

hanya sesaat atau sekali selesai lalu

tidak berkelanjutan. Di samping itu,

sejak bangsa Indonesia mengalami

krisis ekonomi di tahun 1997 hingga

2005 sudah banyak bank yang

dilikuidasi totalnya ada 90 bank yang

telah di tutup. Selain itu sejak tahun

(2)

21 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

2006 hingga sekarangpun jumlah

bank yang dilikuidasi masih tetap bertambah lebih dari 21 bank.

Bank-bank tersebut dilikuidasi oleh pemerintah dikarenakan bank- bank tersebut mengalami ketidak mampuan atau kegagalan dalam ekonomi dan keuangan. Kegagalan ekonomi berkaitan dengan ketidak seimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. Sementara itu, kegagalan keuangan disebabkan oleh biaya modal perusahaan yang lebih besar daripada tingkat laba biaya historis investasi. Terjadinya likuidasi pada sejumlah bank telah

menimbulkan beberapa

permasalahan yang berkaitan dengan stakeholder dan shareholder.

Dengan melakukan analisis secara mendalam terhadap keuangan, tanda-tanda melemahnya kondisi fundamental perusahaan dapat terlihat. Walaupun begitu, apabila tidak tersandardisasi, jika 10 orang membuat analisis potensi kebangkrutan suatu bisnis, maka akan muncul juga 10 hasil analisis yang berbeda. Belum lagi apabila penggunaan rasio-rasio yang jika dipergunakan secara bersamaan

terkadang memberikan hasil yang saling bertentangan. (Parahita.2011).

Kasus Bank Century merupakan kegagalan operasional Bank Century bukan karena krisis finansial global, tapi karena perilaku buruk pemiliknya. Persoalan kemana aliran dana dari Bank Century, bukan hanya persoalan Bank 5 Indonesia saja, tetapi juga menjadi persoalan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil alih Bank Century

(Anwar Nasution,

www.waspada.co.id), dan Bank IFI yang memiliki rasio kecukupan modal bank anjlok di bawah 8%.

Modal bank merosot akibat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang tinggi

mencapai 24%. BI

mempertimbangkan dampak sistemik atas penutupan Bank IFI terhadap bankbank lain, pasar saham, pasar surat utang, sistem pembayaran, dampak psikologis, dan dampak ke sektor riil (www.suaramerdeka.com).

Kebangkrutan sebuah bank

bisa dipicu oleh berbagai faktor, baik

yang bersifat langsung maupun tidak

langsung. Bank bisa bangkrut dan

harus ditutup kalau kinerjanya buruk

(3)

22 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

akibat naiknya kredit macet, atau aset

bermasalah secara signifikan.

Penyebab lain adalah banyaknya pemilik bank yang ikut campur tangan dalam operasional bank sehari-hari, pemberian kredit yang tidak hati-hati serta praktek bank dalam bank, sehingga kurang memperhatikan sama sekali aspek manajemen risiko, good governance, dan kehati-hatian. Jadi, jelas bahwa pemicu bangkrutnya sebuah bank bisa datang dari bank itu sendiri maupun sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang memburuk.

Berdasarkan pemaparan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada Bank Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di BEI mengenai keandalan analisis rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan disuatu perusahaan yan dituangkan dalam judul: “Analisis Tingkat Risiko Perusahaan Menggunakan Model Altman Z- Score Modifikasi pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang Terdaftar di Bursa Efek IndonesiaTahun 2016-2018 “.

Identifikasi, Perumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian

1. Identifikasi Masalah

1) Banyaknya bank yang mengalami kebangkrutan dipicu oleh berbagai faktor baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung seperti kinerja yang buruk akibat naiknya kredit macet, pemilik bank yang ikut campur dalam oprasional bank sehari-hari, pemberian kredit yang tidak hati-hati, dan kondisi ekonomi negara yang buruk.

2) Penutupan bank tertentu berpengaruh terhadap bank- bank lain, pasar saham, pasar surat utang, sistem pembayaran, dampak psikologis, dan dampak ke sektor riil.

3) Bangkrutnya ratusan bank sejak tahun 1997 hingga saat ini.

4) Adanya khawatir para

investor dan kreditur jika

perusahaannya mengalami

kesulitan keuangan yang

(4)

23 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

bisa mengarah

kekebangkrutan.

2. Perumusan Masalah

Berdasarakn dari apa yang telah di uraikan pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah yaitu, bagaimana analisis model Altman Z-Score dapat menunjukan kebangkrutan pada perusahaan perbankan swasta non devisa yang terdaftar di BEI ?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian laporan akhir ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko kebangkrutan menggunakan model Altman Z-Score dapat pada perusahaan perbankan non devisa yang terdaftar di BEI ?

KAJIAN TEORITIK Laporan Keuangan

Laporan keuangan

menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu pencatatan akuntansi dan juga

merupakan ringkasan dari transaksi- transaksi keuangan yang terjadi selama saru periode akuntansi.

Menurut Zaki (2008:17) menyatakan laporan keuangan adalah: “laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi- transaksikeuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan”.

Sedangkan Munawir (2010:5) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah:

“Dua daftar yang disusun oleh Akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba.

Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseoan- perseroan untukmenambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba ditahan)”.

Menurut Kasmir (2013:7)

laporan keuangan adalah: “dalam

pengertian yang sederhana, laporan

keuangan adalah laporan yang

menunjukkankondisi keuangan

(5)

24 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

perusahaan pada saat ini atau dalam

suatu periode tertentu”.

Berdasarkan pengertian- pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah daftar ringkasan dari transaksi- transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, untuk mempertanggung-jawabkan tugas-tugas yang diberikan kepada pihak manajemen oleh para pemilik

perusahaan serta

menunjukkankondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.

Kebangkrutan

Istilah “pailit” dijumpai dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan Inggris. Dalam bahasa Perancis, istilah “failite”

artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran.

Orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar hutangnya disebut dengan Le falli. Di dalam bahasa Belanda dipergunakan istilah faillit yang mempunyai arti ganda

yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Sedangkan dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah to fail, dan di dalam bahasa Latin dipergunakan istilah failire. Di Negara-negara yang berbahasa Inggris, untuk pengertian pailit dan kepailitan dipergunakan istilah

“bankrupt” dan “bankruptcy”.

Menurut Toto (2011:332), kebangkrutan (bankcruptcy) merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya. Kondisi ini biasanya tidak muncul begitu saja di perusahaan, ada indikasi awal dari perusahaan tersebut yang biasanya dapat dikenali lebih dini kalau laporan keuangan dianalisis secara lebih cermat dengan suatu cara tertentu. Rasio keuangan dapat digunakan sebagai indikasi adanya kebangkrutan di perusahaan.

Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada sebuah perusahaan didefinisikan dalam beberapa pengertian menurut Martin dalam Fahkrurozie (2007:15)yaitu:

1. Kegagalan Ekonomi

(Economic Distressed)

(6)

25 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

Kegagalan dalam ekonomi

artinya bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.

Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan.

2. Kegagalan keuangan (Financial Distressed)

Pengertian financial distressed mempunyai makna kesulitan dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja.

Sebagai assetliability management sangat berperan dalam pengaturan untuk menjaga agar tidak terkena financial distressed. Kebangkrutan akan cepat terjadi pada perusahaan yang berada di Negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan

perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit kemudian semakin sakit dan bangkrut.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, bahwa kebangkrutan merupakan kondisi perusahaan yang tidak sehat dalam melanjutkan usahanya dikarenakan ketidakmampuan dalam bersaing sehingga mengakibatkan penurunan profitabilitas.

Model Altman Z-score

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mendapatkan model analisis yang merupakan gabungan dari beberapa rasio keuangan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Edward I Altman pada tahun 1966 untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan.

Dalam studinya, Altman mengambil

sampel 66 perusahaan dimana

setangah dari sampel tersebut

merupakan perusahaan yang telah

bangkrut. Selanjutnya dipilih 22

rasio yang potensial untuk dievaluasi

yang dikelompokan dalam 5

kelompok, yaitu Liquidity,

Profitability, Leverage, Solvency,

dan Activity. Selanjutnya dari 22

(7)

26 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

variabel tersebut kemudian dipilih

yang merupakan kombinasi terbaik untuk memprediksi kebangkrutan.

Berdasarkan metode Multiple Discriminant Analysis, koefisien dari kelima rasio keuangan tersebut kemudian di tentukan penjumlahan dan perkalian antara masing-masing koefisien dengan rasio keuangan menghasilkan nilai multivariate.

Altman Z-score Modifikasi

Kemudian Altman

mengembangkan model ketiga, model ini digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan non manucfaturing seperti usaha-usaha kecil, retail, sales, wholesaler, dan sektor jasa. Model ini mengeliminasi nilai X

5

(sales to total assets) karena selalu berubah-ubah secara signifikan dalam industri. Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :

Z = 6,56X

1

+ 3,26X

2

+ 6,72X

3

+ 1,05X

4

Keterangan:

Z = Bankruptcy Index

X

1

= Working Capital / Total Asset X

2

= Retained Earnings / Total Asset

X

3

= Earning Before Interest and Taxes / Total Asset

X

4

= Market Value of Equity / Total Debt

Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z-score model Altman Modifikasi yaitu:

1) Jika nilai Z < 1,1 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.

2) Jika nilai 1,1 < Z < 2,6 maka termasuk grey area (tidak dapat ditentukan apakah perusahaan sehat ataupun mengalami kebangkrutan).

3) Jika nilai Z > 2,6 maka

termasuk perusahaan yang

tidak bangkrut

(8)

27 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

Kerangka Pemikiran

Analisis Tingkat Risiko Perusahaan Menggunakan Model Altman Z-Score Modifikasi pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia

Laporan Keuangan

(Data-data keuangan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018)

Perhitungan Rasio-rasio Keuangan

Rasio Modal kerja terhadap total harta

Rasio Laba ditahan terhadap total harta

Rasio Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta

Nilai pasar ekuitas

terhadap nilai buku dari utang

Analisis Altman Z-Score Modifikasi (Non-Manufaktur) Z = 6,56 + 3,26 + 6,72 + 1,05

Penilaian Kelangsungan Keuangan Perusahaan

Tidak Bangkrut Grey area Bangkrut

(9)

28 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

METODELOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan prinsip dasar tentang metode riset yang diterapkan dalam proses penelitian. Metodologi berbeda dengan metode. Kedua istilah tersebut memang sering kali digunakan secara bergantian karena memiliki arti yang mirip. Ilmuwan sosial bernama Andrew Abbott (2001) membedakan definisi kedua istilah tersebut sebagai berikut:

metodologi merupakan prinsipdasar, sedangkan metode adalah teknik penerapannya.

Jenis penelitian yang di gunakan studi kasus pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan yang termasuk dalam Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yaitu: Amar Bank, Bank BCA Syariah, Bank Jasa Jakarta, Bank Kesejahteraan Ekonomi, Bank Ina Perdana, Bank Fama Internasional, Bank Sahabat Sampoerna, Bank Dinar Indonesia Tbk, Bank Mayora, Bank Mitra Niaga, Bank Multi Arta Sentosa (Mas), Bank Nationalnobu Tbk, Bank Panin Syariah Tbk, Prima

Master Bank, Bank Pundi Indonesia Tbk, Bank Royal Indonesia, Bank Oke Indonesia, Bank Syariah BRI, Bank Syariah Bukopin, Bank BTPN Tbk, Bank Victoria Internasional, Tbk, Bank Victoria Syariah, dan Bank Jabar Banten Syariah.

Tehnik pengumpulan dalam hal ini peneliti mengunakan tehnik sampling nonprobaility sampling yaitu Purposive Sampling.

Untuk menganalisis data diperlukan suatu cara atau metode analisis data. Metode analisis data digunakan untuk menganalisis data hasil studi kasus ini agar dapat diinterpretasikan sehingga laporan yang dihasilkan mudah dipahami.Dengan fungsi persamaan sebagai berikut untuk masing-masing Bank Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia:

Z-Score = 6,56X

1

+ 3,26X

2

+ 6,72X

3

+ 1,05X

4

(Altman Z-Score Modifikasi )

Keterangan :

= Modal kerja terhadap total harta

(working capital to total assets)

(10)

29 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

=

=Laba yang ditahan terhadap total harta (retained earnings to total Assets)

=

=Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (earnings beforeinterest and taxes to total assets)

=

= Nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku dari hutang (Market Value of Equity to Book Value of Debt)

=

Dalam Z-score modifikasi ini variabel X4 diganti menjadi Market Value of Equity to Book Value of Debt dan menyingkirkan variable X5 (sales to total asset) karena rasio ini sangat bervariatif pada industri dengan ukuran aset yang berbeda- beda.

HASIL ANALISIS

Setelah diperoleh nilai-nilai rasio keuangan masing-masing perusahaan, maka langkah penelitian selanjutnya adalah melakukan perhitungan Z-Score dari hasil interpelasi nilai rasio tersebut.

Kemudian nilai Z-Score tersebut dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan Altman agar dapat memprediksi kondisi kesehatan keuangan dari masing-masing perusahaan. Berdasarkan perusahaan yang diteliti, yakni Bank yang telah Go Public maka penulis memilih model Altman Z-Score untuk digunakan dalam penelitian ini.

Adapun rumus dari Model Altman Z- Score adalah sebagai berikut :

Z-Score = 6,56X

1

+ 3,26X

2

+ 6,72X

3

+ 1,05X

4

Keterangan:

Z = Bankruptcy Index

X

1

= Working Capital / Total Asset X

2

= Retained Earnings / Total Asset X

3

= Earning Before Interest and

Taxes / Total Asset

X

4

= Market Value of Equity / Total Debt

Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z-score model Altman Modifikasi yaitu:

1) Jika nilai Z < 1,1 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.

2) Jika nilai 1,1 > Z < 2,6

maka termasuk grey

area / daerah abu-abu.

(11)

30 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

3) Jika nilai Z > 2,6 maka

termasuk perusahaan yang tidak bangkrut Nilai Z-Score untuk masing- masing perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus persamaan model original Z-Score diatas. Contoh perhitungannya pada

PT Amar Bank pada tahun 2016 sebagai berikut

Z-Score = 6,56X

1

+ 3,26X

2

+ 6,72X

3

+ 1,05X

4

= 6,56(5,061) + 3,26(-0,166) + 6,72(- 0,446) + 1,05(-0,446)

= 10,825

Tabel 5, Altman Z-Score Pada Bank Swasta Nasional Devisa Periode 2016-2018

NO Bank 2016 2017 2018

Z-Score Prediksi

Z-

Score Prediksi Z-

Score Prediksi 1 Amar Bank 10,825

Tidak

Bangkrut 3,865

Tidak

Bangkrut 1,494 Grey area 2 Bank BCA Syariah 8,640

Tidak

Bangkrut 7,282

Tidak

Bangkrut 7,382

Tidak Bangkrut 3 Bank Jasa Jakarta 1,887 Grey area 1,906

Grey

area 2,026

Grey area

4 Bank

Kesejahteraan

Ekonomi 1,327 Grey area 0,896 Bangkrut 0,950 Bangkrut 5 Bank Ina Perdana 1,594 Grey area 1,691 Grey area 3,757

Tidak Bangkrut 6

Bank Fama

Internasional 2,013 Grey area 2,113 Grey area 2,373 Grey area 7

Bank Sahabat

Sampoerna 1,180 Grey area 1,205 Grey area 1,077 Bangkrut 8

Bank Dinar

Indonesia Tbk 1,032 Bangkrut 0,974 Bangkrut 1,017 Bangkrut 9 Bank Mayora 1,592 Grey area 1,461 Grey area 1,474

Grey area 10 Bank Mitra Niaga 0,596 Bangkrut 0,659 Bangkrut 0,671 Bangkrut 11

Bank Multi Arta

Sentosa (Mas) 1,412 Grey area 1,031 Bangkrut 1,095 Bangkrut 12

Bank Nationalnobu

Tbk 1,142 Grey area 0,993 Bangkrut 0,954 Bangkrut 13

Bank Panin

Syariah Tbk 6,948

Tidak

Bangkrut 5,156

Tidak

Bangkrut 7,525

Tidak Bangkrut 14 Prima Master Bank 0,404 Bangkrut 0,615 Bangkrut 0,400 Bangkrut 15

BPDaerah Banten,

Tbk -0,941 Bangkrut -0,486 Bangkrut

-

0,627 Bangkrut 16

Bank Royal

Indonesia 1,724 Grey area 2,163 Grey area 2,266 Grey area 17

Bank Oke

Indonesia 3,366

Tidak

Bangkrut 4,320

Tidak

Bangkrut 4,463

Tidak Bangkrut

(12)

31 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

NO Bank 2016 2017 2018

18 Bank Syariah BRI 4,946

Tidak

Bangkrut 5,062

Tidak

Bangkrut 5,049

Tidak Bangkrut 19

Bank Syariah

Bukopin 5,376

Tidak

Bangkrut 5,180

Tidak

Bangkrut 5,143

Tidak Bangkrut 20 Bank BTPN Tbk 2,218 Grey area 4,439

Tidak

Bangkrut 4,614

Tidak Bangkrut 21

Bank Victoria

Internasional, Tbk 0,967 Bangkrut 1,086 Bangkrut 0,836 Bangkrut 22

Bank Victoria

Syariah 6,490

Tidak

Bangkrut 7,133

Tidak

Bangkrut 5,954

Tidak Bangkrut 23

Bank Jabar Banten

Syariah 5,642

Tidak

Bangkrut 5,704

Tidak

Bangkrut 5,559

Tidak Bangkrut

(Sumber:Pengolahan Data)

PEMBAHASAN

Di tahun 2016 totalnya ada 8 perusahaan prediksi tidak bangkrut, 10 perusahaan masih masuk Grey area dan sisanya 5 prusahaan dalam prediksi bangkrut. Di tahun 2017 totalnya ada 10 perusahaan prediksi tidak bangkrut, 5 perusahaan masih masuk Grey area dan sisanya 8 prusahaan dalam prediksi bangkrut.

Di tahun 2018 totalnya ada 9 perusahaan prediksi tidak bangkrut, 5 perusahaan masih masuk Grey area dan sisanya 9 prusahaan dalam prediksi bangkrut. Mayoritas Bank non devisa di BEI selama 2016-2018 masih digolongkan aman, akan tetapi tidak sedikit juga beberapa perusahaan yang di tahun-tahun tertentu mengalami penilaian buruk di beberapa tahun bahkan ada 5

perusahaan yang mengalami

penilayan buruk di tiga tahun secara

berturut-turut yaitu pada Bank Dinar

Indonesia Tbk, Bank Mitra Niaga,

Prima Master Bank, BPDaerah

Banten Tbk,dan Bank Victoria

Internasional Tbk hal ini terjadi

karna hasil dari nilai z-score nya

yang rendah sebagai contoh Bank

PD Banten Tbk yang tiap tahun nya

mengalami kerugian dari tahun 2016

sampai tahun 2018 yaitu -0,941 -

0,486 -0,627 hal ini terjadi karna

total hutang lancar perusahaan lebih

besar dari pada aktiva lancar seperti

yang terjadi di tahun 2018, hal ini

sangat sesuai dengan dengan laporan

perusahaan yang mencatakan

kerugian bersih sebesar Rp 100,13

miliar sepanjang 2018, naik dari

periode yang sama tahun sebelunya

(13)

32 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

yang mengalami kerugian sebesar Rp

76,28

miliar(m.bisnis.com/finansial/perban kan) kondisi ini dikarenakan nilai Working Capital to Total Assets bernilai negatif. Tanda negatif pada nilai ini berarti bahwa perusahaan mempunyai modal kerja bersih negatif (nilai hutang lancar lebih besar daripada harta lancar). Jadi dapat diartikan bahwa perusahaan kekurangan aktiva lancar untuk membayar hutang lancar yang jatuh tempo dari total aktiva perusahaan.

Hal ini menunjukan bahwa bank yang termasuk kriteria sangat buruk dan buruk berpotensi tidak dapat melunasi hutang-hutang lancarnya yang jatuh tempo dengan menggunakan harta lancar perusahaan dan perusahaan mengalami kesulitan modal kerja.

Selain itu juga hal yang menyebabkan nilai tersebut negatif adalah karena pada tahun tersebut disebabkan oleh nilai current liabilities yang lebih besar dibandingkan dengan nilai current asset-nya. Nilai current liabilities yang besar akan menimbulkan beban bunga yang besar dan apabila nilai

current liabilities lebih besar dibandingkan nilai current asset-nya akan membuat perusahaan tidak likuid dan cenderung mengalami krisis karena tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya sehingga dapat berakibat pada kebangkrutan.

Kasus lain terjadi pada Bank

Dinar Indonesia Tbk, Bank Mitra

Niaga,dan Bank Kesejahteraan

Ekonomi dalam penelitian z-score

mengalami kebangkrutan berturut-

turut tahun namun di tahun 2017

sampai tahun 2018 masih terjadi

peningkatan yang mungkin pada

tahun berikutnya akan membaik .

Hal lain yang menyebabkan nilai Z-

Score naik tiap tahunnya adalah nilai

Market Value of Equity to Book

Value of Liabilities yang tiap

tahunnya dari 2016- 2018 terus

mengalami kenaikan, sehingga dapat

diartikan bahwa kemampuan

perusahaan dalam memenuhi

kewajiban-kewajibannya yang

didapat dari nilai pasar modal sendiri

tiap tahunnya berusaha untuk

mengantispasi apabila terjadi

penurunan.

(14)

33 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

KESIMPULAN DAN SARAN

Rasio-rasio keuangan hasil dari model Altman Z-Score pada perusahaan perbankan umum swasta non devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai Working Capital / Total Asset setiap tahun nya rata–rata perusahaan terjadi penurunan yang menunjukkan modal kerja yang tersedia pada perusahaan jika dibandingkan dengan nilai total aset yang di miliki semakin menurun setiap tahun, berbeda dengan penilaian rata-rata Retained Earnings / Total Asset, Earning Before Interest and Taxes / Total Asset, dan Market Value of Equity to Book Value of Total Debt yang rata-rata setiap tahun semakin meningkat.

Hasil analisis model Altman Z- Score dapat menunjukan kebangkrutan pada perusahaan perbankan umum swasta non devisa yang terdaftar di BEI 2016-2018, nilai Z-Score terdapat 9 prusahaan mendapatkan penilaian buruk, bahkan diantara nya ada 5 prusahaan yang mendapatkan penilaian buruk di 3 tahun berturut-turut yaitu pada Bank Dinar Indonesia Tbk, Bank

Mitra Niaga, Prima Master Bank, BPDaerah Banten Tbk,dan Bank Victoria Internasional Tbk.

Sedangkan 14 perusahaan dinyatakan sehat yaitu pada Amar Bank, Bank BCA Syariah, Bank Jasa Jakarta, Bank Ina Perdana, Bank Fama Internasional, Bank Mayora, Bank Panin Syariah Tbk, Bank Royal Indonesia, Bank Oke Indonesia, Bank Syariah BRI, Bank Syariah Bukopin, Bank BTPN Tbk, Bank Victoria Syariah, Bank Jabar Banten Syariah.

Peneliti menyadari adanya kekurangan dalam penelitian ini dan jauh dari kata sempurna, untuk itu peneliti memberikan beberapa saran bagi prusahaan dan peneliti yang akan datang yaitu:

1. Dengan mengetahui kondisi prusahaan sejak dini diharapkan meningkatkan kinerja, meningkatkan stabilitas modal kerja dan prusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan keadaan keuangan prusahaan dan terhindar dari kebangkrutan.

2. Terdapat beberapa hal yang

harus di perhatikan manajer

(15)

34 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

prusahaan perbankan yaitu salah

satu nya dengan meningkatkan working capital dengan cara meningkatkan aset lancar perusahaan karna aset lancar juga dapat berpengaruh terhadap tingkat likuiditas.

3. Kepada peneliti selanjutnya

diharapkan dapat

mempertimbangkan pula beberapa faktor seperti ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan peraturan pemerintah yang menyebabkan kebangkrutan suatu perusahaan sehingga hasil yang di dapatkan semakin akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2008. Intermediate Accounting. Edisi 8.

Yogyakarta: BPFE.

Choirudin. 2016. Perbandingan Analisis Kebangkrutan Menggunakan Metode Altman Pertama, Revisi, dan Modifikasi Dengan

Ukuran dan Umur

Perusahaan Pada PT.Toba Sejahtera,TBK di Bursa

Efek Indonesia. Jurnal Akutansi

Eka Oktarina. 2017. Analisis Prediksi Kebangkrutan Dengan Metode Altman Z- Score Pada PT. BRI Syariah Fakhrurozie, 2007. Analisis

Pengaruh Kebangkrutan Bank Dengan Metode Altman Z-Score Terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Jakarta; Skripsi Universitas Negeri Semarang.

Ivhan Idhe Harnanta. 2013. Analisis Prediksi kebangkrutan Perusahan Menggunakan Metode Altman Z-Score dan Metode Springate Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Priode 2008- 2011. Jurnal Ekonomi Kasmir. 2013. Analisis Laporan

Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Munawir. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta:

Liberty.

(16)

35 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643

Pihadi, Toto, 2011. Analisis Laporan

Keuangan Lanjutan Proyek dan Valuasi. Jakarta:PPM.

Yoga Rhesana Tristanto. 2013.

Analisis Model Altman Z-

Score Dalam Memprediksi

Kebangkrutan Pada

Perusahaan Perbankan

Swasta Nasional Devisa

yang Go Public di BEI.

Referensi

Dokumen terkait

berbeda-beda sesuai dengan jiwa zamannya, sebagaimana ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia setelah merdeka sampai sekarang ketika menafsir dan memaknai dua peristiwa yang

Januari 2018, di Ruang Dekan FTK UIN Ar-Raniry.. Membahas tentang pelaksanaan Pasal 23 terhadap pegaulan mahasiswa di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan hasil wawancara dengan

Straipsnyje pateikiami Lietuvos aukštųjų mokyklų veiklos lauko ekonominių, socialinių ir politinių veiksnių analizės apmatai, parengti atliekant Vilniaus universiteto

Kemudian sejak Miosen Tengah mulai terjadi proses susut laut di daerah ini dengan terendapkannya Formasi Airbenakat yang tersusun oleh batulempung dengan sisipan batupasir

Melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing daerah kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur. Menganalisis faktor-faktor apa saja yang

[r]

Jawab :.. Sifat dari gerbang dasar yang dibentuk oleh universal NAND Gate adalah memiliki sifat yang sama dengan gerbang dasar logika itu sendiri. Hanya saja yang membedakan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran model bisnis saat ini dari HALMADE, lalu dilakukan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan