20 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
ANALISIS TINGKAT RISIKO KEBANGKRUTAN PERUSAHAAN
MENGGUNAKAN MODEL ALTMAN Z-SCORE MODIFIKASI PADA BANK UMUM SWASTA NASIONAL NON DEVISA YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIATAHUN 2016-2018
1
Karnila Ali,
2Nani Septiana,
3Rangga Aditya Universitas Muhammadiyah Metro
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko kebangkrutan menggunakan model Altman Z-Score dapat pada perusahaan perbankan non devisa yang terdaftar di BEI. Adapun Jenis dalam penelitian ini adalah studi kasus pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2018. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria tertentu.
Teknik pengumpulan data menggunakan metode dan teknik Studi Kepustakaan (Library Research). Teknik analisis Altman z-score modifikasi menggunakan beberapa rasio yaitu: Working Capital to Total Assets, Retained Earnings to Total Assets, Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets, dan Market Value of Equity to Book Value of Debt.
Kesimpulannya, hasil penelitian menggunakan model Altman Z-Score pada perusahaan perbankan umum swasta non devisa yang terdaftar di BEI 2016-2018, menyimpulkan bahwa dari 23 perusahaan yang dijadikan sampel 9 perusahaan mendapatkan penilaian buruk sedangkan 14 perusahaan lainnya dinyatakan sehat.
Kata kunci: Prediksi Kebangkrutan, Altman Z-Score Modifikasi.
PENDAHULUAN
Perbankan merupakan urat nadi perekonomian di seluruh bangsa.
Perbankan di Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting, salah satunya menjaga kestabilan moneter yang di sebabkan atas kebijakannya terhadap simpanan masyarakat serta sebagai lalu lintas pembayaran. Bank sendiri merupakan suatu badan usaha yang tujuannya menghasilkan
keuntungan atau laba. Dalam hal ini
maka berlaku prinsip going concern
yang artinya kegiatan usaha harus
dilakukan secara terus-menerus tidak
hanya sesaat atau sekali selesai lalu
tidak berkelanjutan. Di samping itu,
sejak bangsa Indonesia mengalami
krisis ekonomi di tahun 1997 hingga
2005 sudah banyak bank yang
dilikuidasi totalnya ada 90 bank yang
telah di tutup. Selain itu sejak tahun
21 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
2006 hingga sekarangpun jumlah
bank yang dilikuidasi masih tetap bertambah lebih dari 21 bank.
Bank-bank tersebut dilikuidasi oleh pemerintah dikarenakan bank- bank tersebut mengalami ketidak mampuan atau kegagalan dalam ekonomi dan keuangan. Kegagalan ekonomi berkaitan dengan ketidak seimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. Sementara itu, kegagalan keuangan disebabkan oleh biaya modal perusahaan yang lebih besar daripada tingkat laba biaya historis investasi. Terjadinya likuidasi pada sejumlah bank telah
menimbulkan beberapa
permasalahan yang berkaitan dengan stakeholder dan shareholder.
Dengan melakukan analisis secara mendalam terhadap keuangan, tanda-tanda melemahnya kondisi fundamental perusahaan dapat terlihat. Walaupun begitu, apabila tidak tersandardisasi, jika 10 orang membuat analisis potensi kebangkrutan suatu bisnis, maka akan muncul juga 10 hasil analisis yang berbeda. Belum lagi apabila penggunaan rasio-rasio yang jika dipergunakan secara bersamaan
terkadang memberikan hasil yang saling bertentangan. (Parahita.2011).
Kasus Bank Century merupakan kegagalan operasional Bank Century bukan karena krisis finansial global, tapi karena perilaku buruk pemiliknya. Persoalan kemana aliran dana dari Bank Century, bukan hanya persoalan Bank 5 Indonesia saja, tetapi juga menjadi persoalan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil alih Bank Century
(Anwar Nasution,
www.waspada.co.id), dan Bank IFI yang memiliki rasio kecukupan modal bank anjlok di bawah 8%.
Modal bank merosot akibat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang tinggi
mencapai 24%. BI
mempertimbangkan dampak sistemik atas penutupan Bank IFI terhadap bankbank lain, pasar saham, pasar surat utang, sistem pembayaran, dampak psikologis, dan dampak ke sektor riil (www.suaramerdeka.com).
Kebangkrutan sebuah bank
bisa dipicu oleh berbagai faktor, baik
yang bersifat langsung maupun tidak
langsung. Bank bisa bangkrut dan
harus ditutup kalau kinerjanya buruk
22 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
akibat naiknya kredit macet, atau aset
bermasalah secara signifikan.
Penyebab lain adalah banyaknya pemilik bank yang ikut campur tangan dalam operasional bank sehari-hari, pemberian kredit yang tidak hati-hati serta praktek bank dalam bank, sehingga kurang memperhatikan sama sekali aspek manajemen risiko, good governance, dan kehati-hatian. Jadi, jelas bahwa pemicu bangkrutnya sebuah bank bisa datang dari bank itu sendiri maupun sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang memburuk.
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada Bank Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di BEI mengenai keandalan analisis rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan disuatu perusahaan yan dituangkan dalam judul: “Analisis Tingkat Risiko Perusahaan Menggunakan Model Altman Z- Score Modifikasi pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang Terdaftar di Bursa Efek IndonesiaTahun 2016-2018 “.
Identifikasi, Perumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian
1. Identifikasi Masalah
1) Banyaknya bank yang mengalami kebangkrutan dipicu oleh berbagai faktor baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung seperti kinerja yang buruk akibat naiknya kredit macet, pemilik bank yang ikut campur dalam oprasional bank sehari-hari, pemberian kredit yang tidak hati-hati, dan kondisi ekonomi negara yang buruk.
2) Penutupan bank tertentu berpengaruh terhadap bank- bank lain, pasar saham, pasar surat utang, sistem pembayaran, dampak psikologis, dan dampak ke sektor riil.
3) Bangkrutnya ratusan bank sejak tahun 1997 hingga saat ini.
4) Adanya khawatir para
investor dan kreditur jika
perusahaannya mengalami
kesulitan keuangan yang
23 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
bisa mengarah
kekebangkrutan.
2. Perumusan Masalah
Berdasarakn dari apa yang telah di uraikan pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah yaitu, bagaimana analisis model Altman Z-Score dapat menunjukan kebangkrutan pada perusahaan perbankan swasta non devisa yang terdaftar di BEI ?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian laporan akhir ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko kebangkrutan menggunakan model Altman Z-Score dapat pada perusahaan perbankan non devisa yang terdaftar di BEI ?
KAJIAN TEORITIK Laporan Keuangan
Laporan keuangan
menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu pencatatan akuntansi dan juga
merupakan ringkasan dari transaksi- transaksi keuangan yang terjadi selama saru periode akuntansi.
Menurut Zaki (2008:17) menyatakan laporan keuangan adalah: “laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi- transaksikeuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan”.
Sedangkan Munawir (2010:5) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah:
“Dua daftar yang disusun oleh Akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba.
Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseoan- perseroan untukmenambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba ditahan)”.
Menurut Kasmir (2013:7)
laporan keuangan adalah: “dalam
pengertian yang sederhana, laporan
keuangan adalah laporan yang
menunjukkankondisi keuangan
24 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
perusahaan pada saat ini atau dalam
suatu periode tertentu”.
Berdasarkan pengertian- pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah daftar ringkasan dari transaksi- transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, untuk mempertanggung-jawabkan tugas-tugas yang diberikan kepada pihak manajemen oleh para pemilik
perusahaan serta
menunjukkankondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.
Kebangkrutan
Istilah “pailit” dijumpai dalam perbendaharaan bahasa Belanda, Perancis, Latin dan Inggris. Dalam bahasa Perancis, istilah “failite”
artinya pemogokan atau kemacetan dalam melakukan pembayaran.
Orang yang mogok atau macet atau berhenti membayar hutangnya disebut dengan Le falli. Di dalam bahasa Belanda dipergunakan istilah faillit yang mempunyai arti ganda
yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Sedangkan dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah to fail, dan di dalam bahasa Latin dipergunakan istilah failire. Di Negara-negara yang berbahasa Inggris, untuk pengertian pailit dan kepailitan dipergunakan istilah
“bankrupt” dan “bankruptcy”.
Menurut Toto (2011:332), kebangkrutan (bankcruptcy) merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya. Kondisi ini biasanya tidak muncul begitu saja di perusahaan, ada indikasi awal dari perusahaan tersebut yang biasanya dapat dikenali lebih dini kalau laporan keuangan dianalisis secara lebih cermat dengan suatu cara tertentu. Rasio keuangan dapat digunakan sebagai indikasi adanya kebangkrutan di perusahaan.
Kebangkrutan sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada sebuah perusahaan didefinisikan dalam beberapa pengertian menurut Martin dalam Fahkrurozie (2007:15)yaitu:
1. Kegagalan Ekonomi
(Economic Distressed)
25 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
Kegagalan dalam ekonomi
artinya bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.
Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan.
2. Kegagalan keuangan (Financial Distressed)
Pengertian financial distressed mempunyai makna kesulitan dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja.
Sebagai assetliability management sangat berperan dalam pengaturan untuk menjaga agar tidak terkena financial distressed. Kebangkrutan akan cepat terjadi pada perusahaan yang berada di Negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan
perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit kemudian semakin sakit dan bangkrut.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, bahwa kebangkrutan merupakan kondisi perusahaan yang tidak sehat dalam melanjutkan usahanya dikarenakan ketidakmampuan dalam bersaing sehingga mengakibatkan penurunan profitabilitas.
Model Altman Z-score
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mendapatkan model analisis yang merupakan gabungan dari beberapa rasio keuangan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Edward I Altman pada tahun 1966 untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan.
Dalam studinya, Altman mengambil
sampel 66 perusahaan dimana
setangah dari sampel tersebut
merupakan perusahaan yang telah
bangkrut. Selanjutnya dipilih 22
rasio yang potensial untuk dievaluasi
yang dikelompokan dalam 5
kelompok, yaitu Liquidity,
Profitability, Leverage, Solvency,
dan Activity. Selanjutnya dari 22
26 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
variabel tersebut kemudian dipilih
yang merupakan kombinasi terbaik untuk memprediksi kebangkrutan.
Berdasarkan metode Multiple Discriminant Analysis, koefisien dari kelima rasio keuangan tersebut kemudian di tentukan penjumlahan dan perkalian antara masing-masing koefisien dengan rasio keuangan menghasilkan nilai multivariate.
Altman Z-score Modifikasi
Kemudian Altman
mengembangkan model ketiga, model ini digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan non manucfaturing seperti usaha-usaha kecil, retail, sales, wholesaler, dan sektor jasa. Model ini mengeliminasi nilai X
5(sales to total assets) karena selalu berubah-ubah secara signifikan dalam industri. Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
Z = 6,56X
1+ 3,26X
2+ 6,72X
3+ 1,05X
4Keterangan:
Z = Bankruptcy Index
X
1= Working Capital / Total Asset X
2= Retained Earnings / Total Asset
X
3= Earning Before Interest and Taxes / Total Asset
X
4= Market Value of Equity / Total Debt
Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z-score model Altman Modifikasi yaitu:
1) Jika nilai Z < 1,1 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.
2) Jika nilai 1,1 < Z < 2,6 maka termasuk grey area (tidak dapat ditentukan apakah perusahaan sehat ataupun mengalami kebangkrutan).
3) Jika nilai Z > 2,6 maka
termasuk perusahaan yang
tidak bangkrut
27 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
Kerangka Pemikiran
Analisis Tingkat Risiko Perusahaan Menggunakan Model Altman Z-Score Modifikasi pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia
Laporan Keuangan
(Data-data keuangan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018)
Perhitungan Rasio-rasio Keuangan
Rasio Modal kerja terhadap total harta
Rasio Laba ditahan terhadap total harta
Rasio Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta
Nilai pasar ekuitas
terhadap nilai buku dari utang
Analisis Altman Z-Score Modifikasi (Non-Manufaktur) Z = 6,56 + 3,26 + 6,72 + 1,05
Penilaian Kelangsungan Keuangan Perusahaan
Tidak Bangkrut Grey area Bangkrut
28 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
METODELOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian merupakan prinsip dasar tentang metode riset yang diterapkan dalam proses penelitian. Metodologi berbeda dengan metode. Kedua istilah tersebut memang sering kali digunakan secara bergantian karena memiliki arti yang mirip. Ilmuwan sosial bernama Andrew Abbott (2001) membedakan definisi kedua istilah tersebut sebagai berikut:
metodologi merupakan prinsipdasar, sedangkan metode adalah teknik penerapannya.
Jenis penelitian yang di gunakan studi kasus pada Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan yang termasuk dalam Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa yaitu: Amar Bank, Bank BCA Syariah, Bank Jasa Jakarta, Bank Kesejahteraan Ekonomi, Bank Ina Perdana, Bank Fama Internasional, Bank Sahabat Sampoerna, Bank Dinar Indonesia Tbk, Bank Mayora, Bank Mitra Niaga, Bank Multi Arta Sentosa (Mas), Bank Nationalnobu Tbk, Bank Panin Syariah Tbk, Prima
Master Bank, Bank Pundi Indonesia Tbk, Bank Royal Indonesia, Bank Oke Indonesia, Bank Syariah BRI, Bank Syariah Bukopin, Bank BTPN Tbk, Bank Victoria Internasional, Tbk, Bank Victoria Syariah, dan Bank Jabar Banten Syariah.
Tehnik pengumpulan dalam hal ini peneliti mengunakan tehnik sampling nonprobaility sampling yaitu Purposive Sampling.
Untuk menganalisis data diperlukan suatu cara atau metode analisis data. Metode analisis data digunakan untuk menganalisis data hasil studi kasus ini agar dapat diinterpretasikan sehingga laporan yang dihasilkan mudah dipahami.Dengan fungsi persamaan sebagai berikut untuk masing-masing Bank Swasta Nasional Non Devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia:
Z-Score = 6,56X
1+ 3,26X
2+ 6,72X
3+ 1,05X
4(Altman Z-Score Modifikasi )
Keterangan :
= Modal kerja terhadap total harta
(working capital to total assets)
29 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
=
=Laba yang ditahan terhadap total harta (retained earnings to total Assets)
=
=Pendapatan sebelum pajak dan bunga terhadap total harta (earnings beforeinterest and taxes to total assets)
=
= Nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku dari hutang (Market Value of Equity to Book Value of Debt)
=
Dalam Z-score modifikasi ini variabel X4 diganti menjadi Market Value of Equity to Book Value of Debt dan menyingkirkan variable X5 (sales to total asset) karena rasio ini sangat bervariatif pada industri dengan ukuran aset yang berbeda- beda.
HASIL ANALISIS
Setelah diperoleh nilai-nilai rasio keuangan masing-masing perusahaan, maka langkah penelitian selanjutnya adalah melakukan perhitungan Z-Score dari hasil interpelasi nilai rasio tersebut.
Kemudian nilai Z-Score tersebut dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan Altman agar dapat memprediksi kondisi kesehatan keuangan dari masing-masing perusahaan. Berdasarkan perusahaan yang diteliti, yakni Bank yang telah Go Public maka penulis memilih model Altman Z-Score untuk digunakan dalam penelitian ini.
Adapun rumus dari Model Altman Z- Score adalah sebagai berikut :
Z-Score = 6,56X
1+ 3,26X
2+ 6,72X
3+ 1,05X
4Keterangan:
Z = Bankruptcy Index
X
1= Working Capital / Total Asset X
2= Retained Earnings / Total Asset X
3= Earning Before Interest and
Taxes / Total Asset
X
4= Market Value of Equity / Total Debt
Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z-score model Altman Modifikasi yaitu:
1) Jika nilai Z < 1,1 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.
2) Jika nilai 1,1 > Z < 2,6
maka termasuk grey
area / daerah abu-abu.
30 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
3) Jika nilai Z > 2,6 maka
termasuk perusahaan yang tidak bangkrut Nilai Z-Score untuk masing- masing perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus persamaan model original Z-Score diatas. Contoh perhitungannya pada
PT Amar Bank pada tahun 2016 sebagai berikut
Z-Score = 6,56X
1+ 3,26X
2+ 6,72X
3+ 1,05X
4= 6,56(5,061) + 3,26(-0,166) + 6,72(- 0,446) + 1,05(-0,446)
= 10,825
Tabel 5, Altman Z-Score Pada Bank Swasta Nasional Devisa Periode 2016-2018
NO Bank 2016 2017 2018
Z-Score Prediksi
Z-
Score Prediksi Z-
Score Prediksi 1 Amar Bank 10,825
Tidak
Bangkrut 3,865
Tidak
Bangkrut 1,494 Grey area 2 Bank BCA Syariah 8,640
Tidak
Bangkrut 7,282
Tidak
Bangkrut 7,382
Tidak Bangkrut 3 Bank Jasa Jakarta 1,887 Grey area 1,906
Grey
area 2,026
Grey area
4 Bank
Kesejahteraan
Ekonomi 1,327 Grey area 0,896 Bangkrut 0,950 Bangkrut 5 Bank Ina Perdana 1,594 Grey area 1,691 Grey area 3,757
Tidak Bangkrut 6
Bank Fama
Internasional 2,013 Grey area 2,113 Grey area 2,373 Grey area 7
Bank Sahabat
Sampoerna 1,180 Grey area 1,205 Grey area 1,077 Bangkrut 8
Bank Dinar
Indonesia Tbk 1,032 Bangkrut 0,974 Bangkrut 1,017 Bangkrut 9 Bank Mayora 1,592 Grey area 1,461 Grey area 1,474
Grey area 10 Bank Mitra Niaga 0,596 Bangkrut 0,659 Bangkrut 0,671 Bangkrut 11
Bank Multi Arta
Sentosa (Mas) 1,412 Grey area 1,031 Bangkrut 1,095 Bangkrut 12
Bank Nationalnobu
Tbk 1,142 Grey area 0,993 Bangkrut 0,954 Bangkrut 13
Bank Panin
Syariah Tbk 6,948
Tidak
Bangkrut 5,156
Tidak
Bangkrut 7,525
Tidak Bangkrut 14 Prima Master Bank 0,404 Bangkrut 0,615 Bangkrut 0,400 Bangkrut 15
BPDaerah Banten,
Tbk -0,941 Bangkrut -0,486 Bangkrut
-
0,627 Bangkrut 16
Bank Royal
Indonesia 1,724 Grey area 2,163 Grey area 2,266 Grey area 17
Bank Oke
Indonesia 3,366
Tidak
Bangkrut 4,320
Tidak
Bangkrut 4,463
Tidak Bangkrut
31 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
NO Bank 2016 2017 2018
18 Bank Syariah BRI 4,946
Tidak
Bangkrut 5,062
Tidak
Bangkrut 5,049
Tidak Bangkrut 19
Bank Syariah
Bukopin 5,376
Tidak
Bangkrut 5,180
Tidak
Bangkrut 5,143
Tidak Bangkrut 20 Bank BTPN Tbk 2,218 Grey area 4,439
Tidak
Bangkrut 4,614
Tidak Bangkrut 21
Bank Victoria
Internasional, Tbk 0,967 Bangkrut 1,086 Bangkrut 0,836 Bangkrut 22
Bank Victoria
Syariah 6,490
Tidak
Bangkrut 7,133
Tidak
Bangkrut 5,954
Tidak Bangkrut 23
Bank Jabar Banten
Syariah 5,642
Tidak
Bangkrut 5,704
Tidak
Bangkrut 5,559
Tidak Bangkrut
(Sumber:Pengolahan Data)
PEMBAHASAN
Di tahun 2016 totalnya ada 8 perusahaan prediksi tidak bangkrut, 10 perusahaan masih masuk Grey area dan sisanya 5 prusahaan dalam prediksi bangkrut. Di tahun 2017 totalnya ada 10 perusahaan prediksi tidak bangkrut, 5 perusahaan masih masuk Grey area dan sisanya 8 prusahaan dalam prediksi bangkrut.
Di tahun 2018 totalnya ada 9 perusahaan prediksi tidak bangkrut, 5 perusahaan masih masuk Grey area dan sisanya 9 prusahaan dalam prediksi bangkrut. Mayoritas Bank non devisa di BEI selama 2016-2018 masih digolongkan aman, akan tetapi tidak sedikit juga beberapa perusahaan yang di tahun-tahun tertentu mengalami penilaian buruk di beberapa tahun bahkan ada 5
perusahaan yang mengalami
penilayan buruk di tiga tahun secara
berturut-turut yaitu pada Bank Dinar
Indonesia Tbk, Bank Mitra Niaga,
Prima Master Bank, BPDaerah
Banten Tbk,dan Bank Victoria
Internasional Tbk hal ini terjadi
karna hasil dari nilai z-score nya
yang rendah sebagai contoh Bank
PD Banten Tbk yang tiap tahun nya
mengalami kerugian dari tahun 2016
sampai tahun 2018 yaitu -0,941 -
0,486 -0,627 hal ini terjadi karna
total hutang lancar perusahaan lebih
besar dari pada aktiva lancar seperti
yang terjadi di tahun 2018, hal ini
sangat sesuai dengan dengan laporan
perusahaan yang mencatakan
kerugian bersih sebesar Rp 100,13
miliar sepanjang 2018, naik dari
periode yang sama tahun sebelunya
32 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
yang mengalami kerugian sebesar Rp
76,28
miliar(m.bisnis.com/finansial/perban kan) kondisi ini dikarenakan nilai Working Capital to Total Assets bernilai negatif. Tanda negatif pada nilai ini berarti bahwa perusahaan mempunyai modal kerja bersih negatif (nilai hutang lancar lebih besar daripada harta lancar). Jadi dapat diartikan bahwa perusahaan kekurangan aktiva lancar untuk membayar hutang lancar yang jatuh tempo dari total aktiva perusahaan.
Hal ini menunjukan bahwa bank yang termasuk kriteria sangat buruk dan buruk berpotensi tidak dapat melunasi hutang-hutang lancarnya yang jatuh tempo dengan menggunakan harta lancar perusahaan dan perusahaan mengalami kesulitan modal kerja.
Selain itu juga hal yang menyebabkan nilai tersebut negatif adalah karena pada tahun tersebut disebabkan oleh nilai current liabilities yang lebih besar dibandingkan dengan nilai current asset-nya. Nilai current liabilities yang besar akan menimbulkan beban bunga yang besar dan apabila nilai
current liabilities lebih besar dibandingkan nilai current asset-nya akan membuat perusahaan tidak likuid dan cenderung mengalami krisis karena tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya sehingga dapat berakibat pada kebangkrutan.
Kasus lain terjadi pada Bank
Dinar Indonesia Tbk, Bank Mitra
Niaga,dan Bank Kesejahteraan
Ekonomi dalam penelitian z-score
mengalami kebangkrutan berturut-
turut tahun namun di tahun 2017
sampai tahun 2018 masih terjadi
peningkatan yang mungkin pada
tahun berikutnya akan membaik .
Hal lain yang menyebabkan nilai Z-
Score naik tiap tahunnya adalah nilai
Market Value of Equity to Book
Value of Liabilities yang tiap
tahunnya dari 2016- 2018 terus
mengalami kenaikan, sehingga dapat
diartikan bahwa kemampuan
perusahaan dalam memenuhi
kewajiban-kewajibannya yang
didapat dari nilai pasar modal sendiri
tiap tahunnya berusaha untuk
mengantispasi apabila terjadi
penurunan.
33 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
KESIMPULAN DAN SARAN
Rasio-rasio keuangan hasil dari model Altman Z-Score pada perusahaan perbankan umum swasta non devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai Working Capital / Total Asset setiap tahun nya rata–rata perusahaan terjadi penurunan yang menunjukkan modal kerja yang tersedia pada perusahaan jika dibandingkan dengan nilai total aset yang di miliki semakin menurun setiap tahun, berbeda dengan penilaian rata-rata Retained Earnings / Total Asset, Earning Before Interest and Taxes / Total Asset, dan Market Value of Equity to Book Value of Total Debt yang rata-rata setiap tahun semakin meningkat.
Hasil analisis model Altman Z- Score dapat menunjukan kebangkrutan pada perusahaan perbankan umum swasta non devisa yang terdaftar di BEI 2016-2018, nilai Z-Score terdapat 9 prusahaan mendapatkan penilaian buruk, bahkan diantara nya ada 5 prusahaan yang mendapatkan penilaian buruk di 3 tahun berturut-turut yaitu pada Bank Dinar Indonesia Tbk, Bank
Mitra Niaga, Prima Master Bank, BPDaerah Banten Tbk,dan Bank Victoria Internasional Tbk.
Sedangkan 14 perusahaan dinyatakan sehat yaitu pada Amar Bank, Bank BCA Syariah, Bank Jasa Jakarta, Bank Ina Perdana, Bank Fama Internasional, Bank Mayora, Bank Panin Syariah Tbk, Bank Royal Indonesia, Bank Oke Indonesia, Bank Syariah BRI, Bank Syariah Bukopin, Bank BTPN Tbk, Bank Victoria Syariah, Bank Jabar Banten Syariah.
Peneliti menyadari adanya kekurangan dalam penelitian ini dan jauh dari kata sempurna, untuk itu peneliti memberikan beberapa saran bagi prusahaan dan peneliti yang akan datang yaitu:
1. Dengan mengetahui kondisi prusahaan sejak dini diharapkan meningkatkan kinerja, meningkatkan stabilitas modal kerja dan prusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan keadaan keuangan prusahaan dan terhindar dari kebangkrutan.
2. Terdapat beberapa hal yang
harus di perhatikan manajer
34 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643
prusahaan perbankan yaitu salah
satu nya dengan meningkatkan working capital dengan cara meningkatkan aset lancar perusahaan karna aset lancar juga dapat berpengaruh terhadap tingkat likuiditas.
3. Kepada peneliti selanjutnya
diharapkan dapat
mempertimbangkan pula beberapa faktor seperti ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan peraturan pemerintah yang menyebabkan kebangkrutan suatu perusahaan sehingga hasil yang di dapatkan semakin akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2008. Intermediate Accounting. Edisi 8.
Yogyakarta: BPFE.
Choirudin. 2016. Perbandingan Analisis Kebangkrutan Menggunakan Metode Altman Pertama, Revisi, dan Modifikasi Dengan
Ukuran dan Umur
Perusahaan Pada PT.Toba Sejahtera,TBK di Bursa
Efek Indonesia. Jurnal Akutansi
Eka Oktarina. 2017. Analisis Prediksi Kebangkrutan Dengan Metode Altman Z- Score Pada PT. BRI Syariah Fakhrurozie, 2007. Analisis
Pengaruh Kebangkrutan Bank Dengan Metode Altman Z-Score Terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Jakarta; Skripsi Universitas Negeri Semarang.
Ivhan Idhe Harnanta. 2013. Analisis Prediksi kebangkrutan Perusahan Menggunakan Metode Altman Z-Score dan Metode Springate Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Priode 2008- 2011. Jurnal Ekonomi Kasmir. 2013. Analisis Laporan
Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Munawir. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta:
Liberty.
35 Jurnal DINAMIKA Vol. 4 No. 2 – Desember2018 | ISSN:2460-3643