• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Kampus Dalam Struktur Ruang Kawasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Kampus Dalam Struktur Ruang Kawasan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

| 1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sebuah kawasan adalah hal yang sangat unik dengan berbagai dinamika dan potensinya yang selalu berkembang sesuai dengan perubahan zaman, tak terkecuali kawasan kampus. Keberadaan kampus dari suatu Perguruan Tinggi atau Universitas dalam ruang kota akan memberikan citra tersendiri bagi suatu kawasan. Universitas merupakan sarana yang menyediakan layanan jasa pendidikan bagi masyarakat, keberadaan universitas dalam suatu kawasan akan memberikan dampak terhadap perkembangan kawasan, dampak dan pengaruh tersebut ditandai dengan berubahnya tata guna lahan akibat adanya pemusatan aktivitas masyarakat terutama di sekitar kawasan. Dan perubahan tata guna lahan dalam suatu kawasan memberikan dampak berubahnya struktur ruang kawasan (urban space) dan ruang terbuka (open space), dimana ruang kawasan terbentuk oleh permukaan bangunan dan lantai kawsan yang berupa jalur jalan, plasa atau ruang terbuka lainnya.

1. Kampus Dalam Struktur Ruang Kawasan

Kampus merupakan area lingkungan bangunan utama dari perguruan tinggi, universitas atau akademi, tempat dimana semua aktivitas belajar-mengajar dan administrasi berlangsung serta berfungsi sebagai prasarana penunjang aktivitas pendidikan, sehingga keberadaan suatu kampus menjadi daya tarik dan generator pertumbuhan bagi kawasan sekitarnya. Dengan adanya kampus dalam suatu kawasan memberikan peluang usaha yang mampu menggerakkan sektor ekonomi masyarakat, yaitu dengan munculnya berbagai usaha jasa hunian sewa dan hunian milik (kos-kosan dan kontrakan), jasa pertokoan/perdagangan dan jasa perkantoran, yang pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder khususnya mahasisiwa dan masyarakat di sekitar kampus pada umumnya. Melihat indikasi tersebut penting kiranya perencanaan dan perancangan yang spesifik tentang kawasan di sekitar area kampus, kemudahan dan kenyamanan akses masyarakat disekitar kawasan kampus salah satu faktor yang harus diprioritaskan. Sehingga keberadaan kampus

(2)

| 2 dalam struktur ruang kawasan mampu berperan sebagai ruang publik yang ramah sekaligus sebagai pusat aktivitas masyarakat.

Fenomena dan arah pertumbuhan kota mempunyai karakteristiknya masing- masing, sangat terkait dengan potensi yang dimiliki oleh kota atau suatu wilayah itu sendiri, diantaranya potensi keunikan budaya, potensi sebagai pusat perdagangan, pusat pendidikan, pelabuhan, ataupun pertanian yang seandainya dikelola dengan baik akan mampu memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi kota. Demikian pula keberadaan kampus mampu memberikan pengaruh terhadap terjadinya proses pembentukan kawasan perkotaan (urban areas) yang demikian pesat, dan pada saat yang bersamaan pada kawasan pinggiran (peri-peri) kota dimana kampus berada terjadi pula proses urbanisme yang sangat pesat, hal ini yang menjadikan corak masyarakat kawasan peri-peri menjadi berubah membentuk masyarakat perkotaan (urban society).

Kota Surakarta atau dengan nama lain kota Solo adalah satu diantaranya, kota yang terus berkembang secara ekonomi maupun spasialnya dan memunculkan fenomena kota-kota satelit ataupun peri-peri di sekitarnya, satu diantaranya adalah kota Kartasura yang secara administratif merupakan kawasan Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah, dimana Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta berada.

Gambar : 1.1 Peta Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah Sumber: Analisis, 2014

Letak kota Kartasura berada pada jalur lintas utama jalan raya Yogyakarta- Surabaya, posisi strategis tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi kawasan

(3)

| 3 kota tersebut, yaitu memberikan pengaruh terhadap pola pertumbuhan kawasan berbentuk linier sejajar dengan sumbu imaginer dan aktivitas jalan. Pengaruh dari semakin pesatnya pertumbuhan kawasan tersebut memunculkan adanya buffer area yaitu kawasan peralihan antara wilayah kota Kartasura dengan kota Surakarta. Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adalah salah satu landmark kawasan yang terletak pada kawasan peralihan tersebut, dimana dari aspek spasial kota UMS berada pada wilayah administratif kota Kartasura Kabupaten Sukoharjo, dan dari aspek yang lain yaitu ‘branding’ masyarakat lebih mengenal UMS sebagai bagian wilayah Kota Surakarta.

2. Peran Kampus UMS Dalam Kawasan

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adalah lembaga pendidikan tinggi dibawah persyarikatan Muhammadiyah. UMS berdiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0330/O/1981 tanggal 24 Oktober 1981 sebagai perubahan bentuk dari IKIP Muhammadiyah Surakarta.

Hingga saat ini UMS memiliki 11 Fakultas, 44 Program Studi Diploma sampai Doktorat, 2 Program Double Degree International, 8 Program Kelas Internasional, 4 Twinning Program, dan 4 Program Profesi, memiliki 618 dosen pengajar plus dosen-dosen luar, memiliki 340 karyawan, 23.357 mahasiswa Diploma dan Strata 1, serta 4.211 mahasiswa pascasarjana. Beberapa prestasi UMS antara lain :

a) Salah satu dari 50 Universitas Menjanjikan (Promising Universities) di Indonesia (oleh DIKTI, 2006/2007;

b) Pada tahun 2009 UMS masuk peringkat 35 terbaik PTN dan PTS di Indonesia versi Webometrics, kemudian tepatnya tanggal 20 Juli 2009, UMS menembus peringkat 11 universitas terbaik di Indonesia, rangking ke-77 tingkat ASEAN dan 2685 tingkat dunia dari 6000 perguruan tinggi yang dinilai Webometrics berdasarkan para meter Size, Visibility, Rich Files dan Scholar.

Peran UMS dari aspek non fisik diantaranya adalah mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas sesuai visi, misi, dan tujuan utamanya, yaitu;

(4)

| 4 a) Visi :

Menjadi pusat pendidikan Islam dan pengembangan iptek yang islami dan memberi arah perubahan

b) Misi :

1. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sebagai bagian dari ibadah kepada Allah (integrated) yang memberi impak terwujudnya masyarakat utama

2. Mengembangkan sumber daya manusia berdasarkan nilai-nilai keislaman dan memberi arah perubahan dalam rangka mewujudkan masyarakat utama c) Tujuan :

Menjadi universitas yang unggul dibidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dan menghasilkan lulusan berkualitas yang mengamalkan nilai-nilai Islam Menjadi universitas yang sustainable (berkelanjutan) dengan tata kelola yang baik

Dari aspek fisik/spasial kampus UMS terletak pada kawasan strategis, berfungsi sebagai gerbang kota sekaligus batas antara dua wilayah yaitu Kartasura dan Surakarta, peran kampus UMS dalam kawasan diantaranya:

a) Aspek sosial, yaitu dengan adanya kampus UMS memberikan dampak perubahan terhadap struktur sosial masyarakat yang lebih baik dan sejahtera.

b) Aspek ekonomi, yaitu dari masyarakat agraris dengan sumber mata pencaharian sebagai petani berubah menjadi masyarakat dengan aktivitas ekonomi dalam bentuk wirausaha perdagangan ataupun jasa yang memberikan dampak perbaikan kualitas ekonomi.

c) Aspek budaya, yaitu dengan adanya kampus UMS memberikan dampak perubahan terhadap tatanan hidup masyarakat di sekitar kawasan, dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.

d) Aspek tata ruang, yaitu adanya kampus UMS memberikan dampak semakin padatnya pemukiman dan meningkatnya kebutuhan akan hunian, sehingga membawa dampak terhadap perubahan struktur ruang kawasan dari pemukiman pedesaan menjadi peri-peri dan urban.

(5)

| 5

Gambar : 1.2 Lokasi dan situasi Kampus UMS, Pabelan, Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah

Sumber: http://www.sangpencerah.com/2013/12/ums-membangun-kawasan-hutan-kota-atau.html, 2014

3. Kampus UMS Sebagai Ikon Kawasan

Letak kampus UMS yang strategis berada pada jalur jalan utama (arteri primer) menjadikan kampus UMS sebagai salah satu tujuan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) favorit bagi masyarakat di Propinsi Jawa Tengah dan sekitarnya untuk menempuh jenjang Pendidikan Tinggi. Hal tersebut terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah penerimaan mahasiswa dan bertambahnya jumlah program studi dari tahun ke tahun.

Seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa atau civitas akademika, maka keberadaan kampus UMS semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi ikon bagi kawasan, dalam implementasinya pemerintah daerah menempatkan kecamatan Kartasura yang merupakan lokasi kampus UMS, sebagai salah satu kawasan strategis dalam struktur tata ruang kabupaten Sukoharjo.

Gambar : 1.3 Peta Rencana Pola Ruang Kab. Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah Sumber: www.sukoharjo.go.id

Lokasi

(6)

| 6 Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sukoharjo tahun 2011- 2031 kutipan butir kebijakan diantaranya menyebutkan bahwa; Kecamatan Kartasura sebagai kawasan strategis untuk kepentingan sosial budaya, serta pengembangan kawasan perkotaan Kartasura sebagai pusat pendidikan. Berdasarkan pada kutipan keputusan tersebut, maka keberadaan kampus UMS selayaknya menjadi salah suatu ikon kawasan untuk mendukung terwujud dan tercapainya arah pembangunan Kabupaten Sukoharjo yang berdaya guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan.

4. Kampus UMS Sebagai Trigger Pertumbuhan Kawasan

Dampak dari keberadaan kampus diantaranya adalah menarik para pendatang, terutama mahasiswa yang ingin melanjutkan studi pada Perguruan Tinggi, kondisi tersebut memicu adanya urbanisasi yang menyebabkan tingkat density atau kepadatan populasi di sekitar kawasan semakin meningkat. Dampak lain dari meningkatnya kepadatan populasi dan kebutuhan hunian adalah perubahan aktivitas di sekitar kawasan. Aktivitas dalam kampus Perguruan Tinggi sendiri dibedakan menjadi aktivitas akademis dan non akademis;

a) Aktivitas akademis disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: aktivitas pendidikan, aktivitas penelitian, dan aktivitas pengabdian pada masyarakat.

b) Aktivitas non akademis berupa kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, yaitu:

olahraga, keterampilan, kepemimpinan ataupun yang lainnya.

Selain terkait dengan kedua aktivitas tersebut mahasiswa atau civitas akademika membutuhkan sarana penunjang aktivitas yang lain seperti: tempat tinggal, tempat belanja, tempat hiburan, tempat makan, pelayanan kesehatan, serta layanan penunjang lainnya, guna memenuhi kelangsungan hidup mereka sehari-hari. Faktor tersebut yang menjadi trigger perubahan fungsi ruang di sekitar kawasan kampus UMS.

Pertimbangan kemudahan akses dan keterjangkauan adalah yang menjadi salah satu pertimbangan utama mahasiswa dalam memilih lokasi hunian, kondisi tersebut diadaptasi dan direspon masyarakat di sekitar kampus dengan membuka berbagai peluang usaha yang mampu menggerakkan roda perekonomian kawasan, dan pada akhirnya memunculkan kawasan-kawasan sebagai pendukung aktivitas di sekitar lokasi kampus. Site kampus yang berbatasan langsung dengan kawasan pendukung yaitu ;

(7)

| 7 fungsi komersial, fungsi hunian, fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan memberikan warna yang berbeda dengan kawasan lainnya, serta keberadaan site kampus yang terbelah oleh jalan penghubung antar kawasan menghadirkan keunikan tersendiri dalam tata ruang kawasan di sekitar kampus UMS tersebut.

Gambar : 1.4 Kawasan Kampus UMS dengan Kawasan Pendukungnya Sumber: www.googleearth.com

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukoharjo 2011-2031 juga menyebutkan bahwa; Kecamatan Kartasura merupakan salah satu kawasan strategis untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi dalam kategori kawasan strategis Kabupaten. Hal tersebut tentu merupakan dampak positif dari keberadaan dan peran kampus UMS sebagai faktor pembangkit kawasan, dari kawasan yang sebelumnya merupakan lahan pertanian seiring laju pertumbuhan kampus maka berubah menjadi kawasan dengan pola dan aktivitas yang mempunyai ciri perkotaan. Namun pada sisi lain dengan adanya pertumbuhan kampus yang pesat tersebut membawa dampak negatif terhadap perubahan dan pola aktivitas kawasan yang tidak dapat dihindari, dan membutuhkan suatu kebijakan untuk diselesaikan.

Dengan semakin padatnya populasi, hunian, dan aktivitas di sekitar kawasan kampus UMS, maka semakin tinggi pula mobilitas masyarakat dalam kawasan, dan berbanding lurus dengan kebutuhan sarana transportsi yang mampu mengakomodasi aktivitas masyarakat. Dampak nyatanya adalah meningkatnya jumlah kendaraan

(8)

| 8 bermotor di sekitar kawasan yang tidak dapat dihindarkan. Ketergantungan terhadap transportasi yang bersifat individu seperti motor dan mobil pribadi sangat tinggi akibat belum terintegrasinya mass transportation di kawasan tersebut, serta belum tersedianya sarana akses yang nyaman bagi pejalan kaki yang mampu mengakomodasi kepentingn pejalan kaki. Oleh sebab itu diperlukan adanya penataan aksesibilitas yang inklusif bagi pejalan kaki kususnya di sekitar kawasan kampus UMS, supaya masyarakat baik civitas akademika maupun non civitas akademika mudah dalam bertransportasi tanpa harus tergantung dengan kendaraan bermotor, selaras dengan VIsi dan Misi Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai pusat pendidikan Islam dan pengembangan Iptek yang Islami dan memberi arah terwujudnya perubahan.

B. RUMUSAN MASALAH

Keberadaan kampus selayaknya memberikan nilai-nilai positif pada lingkungan dan kawasan sekitarnya, bukan hanya sebagai pembangkit sektor ekonomi, keberadaan kampus diharapkan menjadi teladan dan pembangkit aktivitas yang mampu menjadi inspirasi dan motor penggerak masyarakat di sekitar kawasan. Dalam upaya meningkatkan kepedulian dan kepekaan terhadap perbaikan kualitas ruang dan lingkungan di sekitar kawasan kampus, mengakomodasi dan memfasilitasi kepentingan masyarakat pejalan kaki (pedestrian) dan bersepeda adalah suatu contoh dan peran nyata yang harus dikembangkan oleh lingkungan Akademik, selain faktor lain yang tidak kalah penting yaitu untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor di sekitar kawasan kampus.

1. Permasalahan Umum

Mewujudkan lingkungan yang ramah terhadap pejalan kaki merupakan keharusan, mengutip pernyataan Gall Podlaszewski, mahasiswa Program Doktor di Bauhaus University, Weimar, Jerman dalam Kuliah Umum Dosen Tamu pada tanggal 23 Januari 2014, bertempat di kampus 1 Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dengan tema Perancangan Jalur Pejalan Kaki Yang Nyaman Belajar Dari Kondisi Jerman. Gall menyampaikan bahwa jalur pejalan kaki merupakan elemen penting perancangan kota, karena vitalitas kota terlihat dari adanya aktivitas pejalan kaki diruangnya. Menurutnya

(9)

| 9 ruang pejalan kaki dalam konteks kota dapat berperan untuk menciptakan lingkungan yang manusiawi dan ramah.

Di Indonesia peraturan terkait penyelenggaraan aksesibilitas diatur dan berpedoman dalam Permen PU No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas Dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan, yang merupakan pedoman dan acuan bagi terselenggaranya penyediaan fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan.

2. Permasalahan Khusus

Di kawasan sekitar kampus UMS masyarakat pejalan kaki belum mendapatkan fasilitas yang layak, jalur pedestrian hanya menjangkau disebagian area dengan kondisi yang buruk, bergelombang, berlubang, terhalang pohon, terhalang PKL, terhalang parkir kendaraan, sempit dan kumuh. Kondisi tersebut mendapatkan kritik sekaligus reaksi dari civitas akademika UMS yang menuntut adanya perbaikan infrastruktur di sekitar kawasan kampus, dan dituangkan dalam Koran lokal kampus yang bernama KORAN PABELAN yang terbit sejak 2005.

Gambar : 1.5 Koran Kampus Dengan Nama Koran Pabelan Yang Menyuarakan Kebijakan Kampus Sumber: http://pabelannews.wordpress.com/2007/12/13/trotoar-harus-segera-dibangun/

(10)

| 10 Dalam salah satu artikelnya civitas akademika menyuarakan supaya pihak- pihak terkait segera berkoordinasi untuk merealisasikan pembangunan trotoar atau jalur pedestrian diarea sekitar kampus, agar hak pejalan kaki kususnya bisa terakomodasi dan mengurangi resiko kecelakaan. Dalam artikel tersebut di uraikan beberapa kasus kecelakaan yang terjadi yaitu pejalan kaki yang tertabrak sepeda motor, hal tersebut terjadi akibat tidak adanya jalur kusus bagi pejalan kaki sehingga mereka harus berjalan berdampingan, berpacu dengan arus kendaraan bermotor.

Terkait dengan uraian tersebut maka:

a) Diperlukan penataan aksesibilitas komprehensif bagi pejalan kaki di sekitar kawasan kampus yang bersifat inklusif, yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman, supaya memotivasi baik civitas akademika maupun non civitas akademika lebih memilih berjalan kaki dan bersepeda karena merasa nyaman, dibandingkan dengan menggunakan kendaraan bermotor.

b) Penataan akses yang mudah dijangkau terutama dengan berjalan kaki bagi semua kalangan termasuk disabilitas di sekitar kawasan kampus untuk mendukung aktivitas kawasan.

C. PERTANYAAN PENELITIAN

Rumusan pertanyaan penelitiannya adalah :

1) Bagaimanakah tingkat inklusivitas jalur pedestrian di sekitar kawasan kampus UMS?

2) Elemen-elemen apa saja yang mempengaruhi inklusivitas pada jalur pedestrian di sekitar kawasan kampus UMS?

3) Bagaimanakah rekomendasi terhadap inklusivitas jalur pedestrian di sekitar kawasan kampus UMS?

(11)

| 11 D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat inklusivitas jalur pedestrian dilingkungan kampus UMS terhadap kawasan sekitar, ditinjau dari kelengkapan elemen-elemen fisik pada jalur pedestrian yang mampu mengakomodasi kebutuhan disabilitas, berdasarkan kajian persepsi dan aktivitas di sekitar kawasan kampus.

E. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1) Sebagai bahan referensi pengetahuan dan pertimbangan dalam upaya penataan aksesibilitas jalur pedestrian di kawasan sekitar kampus, yang bertujuan untuk mewujudkan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor.

2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak-pihak lain dalam meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya penataan aksesibilitas yang mengakomodasi kepentingan pejalan kaki di kawasan sekitar kampus kususnya.

F. KEASLIAN PENELITIAN

Beberapa penelitian yang mempunyai tema terkait dengan jalur pedestrian yang pernah dilakukan sebelumnya, diantaranya adalah :

(12)

| 12 NO. PENELITI DAN JUDUL

PENELITIAN

FOKUS LOKUS METODE

1 Widi Purwanto (2002), MDKB UGM

Meminimalisasi konflik pada jalur pedestrian dengan elemen-elemen urban design

Jl.A Yani,

Wonosobo, Jawa Tengah

Kualitatif - deduktif Elemen-elemen Urban

Yang Signifikan Pada Jalur pedestrian Di Penggal Jalan A.Yani Wonosobo

2 Tri Yuniastuti (2003), MDKB UGM

Pengembangan Jalur Pedestrian berdasarkan prilaku pejalan kaki

Jl. KH.Agus Salim, Kauman,

Yogyakarta

Kualitatif - deduktif Rancangan

Pengembangan Jalur Pedestrian Dengan Perilaku Wisatawan Dan Masyarakat Sebagai Tolak Ukur Rancangan

3 Agung Budhi Satriyo (2011), MDKB UGM

Pengaruh pertumbuhan kawasan kampus terhadap privatisasi street space

Jl. Jawa dan Jl.

Kalimantan, kawasan Kampus Universitas Jember

Kualitatif - deduktif Pengaruh

Pertumbuhan Kawasan Kampus Terhadap

Fenomena Privatisasi Ruang Jalan

4 Lukluk Zuraida Jamal (2013), MDKB UGM

Konsep walkability yang berbasis pada Nodal TOD

Kawasan stasiun Lempuyangan, Yogyakarta

Kualitatif- kuantitatif Walkability Pada

Kawasan Berbasis Transit Oriented Development 5 Hendarwan (2014),

MDKB UGM

Setting fisik jalur pedestrian yang memberikan kenymanan

Jalan Cihampelas Bandung

Kualitatif

Kajian Jalur Pedestrian Pada Jalan Cihampelas Bandung

(13)

| 13 Uraian dari tema-tema penelitian terkait jalur pedestrian adalah sebagai berikut;

1) Elemen-elemen Urban Yang Signifikan Pada Jalur pedestrian Di Penggal Jalan A.Yani Wonosobo ditulis oleh Widi Purwanto th. 2002, dengan wilayah penelitian penggal Jl. A Yani Wonosobo, Jawa Tengah. Penelitian tersebut membahas tentang fungsi pedestrian sebagai ruang pergerakan dan interaksi yang mendorong terjadinya konflik dari konfigurasi elemen-elemen pada jalur pedestrian, sehingga menghambat dan mengurangi kenyamanan pejalan kaki.

Tidak ada pembahasan temuan dari penelitian tersebut.

2) Rancangan Pengembangan Jalur Pedestrian Dengan Perilaku Wisatawan Dan Masyarakat Sebagai Tolak Ukur Rancangan, ditulis oleh Tri Yuniastuti th. 2003, dengan wilayah penelitian jalur trotoar Jl. KH. Agus Salim Kauman, Yogyakarta.

Fokus penelitian adalah amatan terhadap perilaku pejalan kaki dengan obyek penelitian masyarakat pengguna jalur pedestrian JL. KH Agus Salim, Kauman dan wisatawan yang berjalan kaki dari area parkir Alun-alun Utara menuju Keraton Yogyakarta. Tidak ada pembahasan temuan dari penelitian tersebut.

3) Pengaruh Pertumbuhan Kawasan Kampus Terhadap Fenomena Privatisasi Ruang Jalan ditulis oleh Agung Budhi Satriyo th. 2011, dengan wilayah penelitian Jl. Jawa dan Jl. Kalimantan kawasan Kampus Universitas Jember. Penelitian tersebut membahas tentang privatisasi ruang jalan di sekitar kampus Universitas Jember oleh Pedagang Kaki Lima (PKL). Ada 3 hasil temuan dari penelitian tersebut yang di kategorikan dalam skala makro, meso dan mikro, pokok temuannya adalah;

pola pertumbuhan kawasan secara linier dan radial yang berpeluang menjadi kawasan tumbuh cepat dan adanya privatisasi ruang publik di sekitar kampus.

4) Walkability Pada Kawsan Berbasis Transit Oriented Development ditulis oleh Lukluk Zuraida Jamal th. 2013, dengan wilayah penelitian Kawasan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Penelitian tersebut membahas tentang upaya menarik minat masyarakat memanfaatkan transportasi publik dengan mengintegrasikan sistem layanan transportasi massal dengan TOD yang baik, dalam menghubungkan fungsi-fungsi strategis area TOD tersebut didukung oleh konsep walkability yaitu kemampuan atau jangkauan aktivitas jalan kaki yang nyaman dan menyenangkan. Temuan dari penelitian tersebut antara lain; desain

(14)

| 14 ruang pejalan kaki pada area magnet kawasan memiliki kondisi yang lebih baik, dalam walkarea kawasan stasiun Lempuyangan belum tersedia signage, jalur pejalan kaki yang lurus memiliki nilai destination accessibility yang lebih baik.

5) Kajian Jalur Pedestrian Pada Jalan Cihampelas Bandung ditulis oleh Hendarwan th.

2014, dengan wilayah penelitian jalan Cihampelas, Bandung. Penelitian tersebut membahas tentang keprihatinan terhadap pejalan kaki di kawasan komersial yang tidak mendapatkan fasilitas jalur pedestrian yang baik, sehingga perlu adanya suatu kajian untuk mendapatkan setting jalur pedestrian yang dapat memberikan kenyamanan. Tidak ada pembahasan temuan dari penelitian tersebut.

Pada penelitian kali ini mempunyai mempunyai fokus dan lokus yang berbeda dari beberapa penelitian sebelumnya, dengan mengambil fokus tentang inklusivitas jalur pedestrian di sekitar kawasan kampus, dengan lokus penelitian adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sukoharjo, Jawa Tengah.

G. BATASAN PENELITIAN 1. Fokus Penelitian

Kampus sebagai ruang publik harus mempunyai kemudahan akses yang mampu mengakomodasi aktivitas khususnya pejalan kaki, aksesibilitas diperuntukkan bagi semua masyarakat, semua usia, termasuk penyandang disabilitas. Jalur pedestrian diperlukan sebagai komponen penting yang harus disediakan untuk meningkatkan efektivitas mobilitas masyarakat di sekitar kawasan.

Ketersediaan jaringan jalur pedestrian yang bersifat inklusif dalam suatu kawasan terutama kawasan perkotaan di Indonesia pada umumnya belum dapat terpenuhi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas standar penyediaannya. Selain itu keterpaduan antar jalur pejalan kaki dengan tata bangunan, aksesibilitas antar lingkungan, dan sistem transportasi masih belum terwujud. Oleh sebab itu diperlukan pedoman perencanaan dan perancangan yang memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana jaringan pejalan kaki, acuan peraturan perundangan terkait jalur pejalan kaki adalah ; UU No. 26/2007 pasal 28 huruf C yang menyatakan :

“rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki,

(15)

| 15 angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan ruang evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah” (dalam Rukmana,D.DR., Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki, 2013).

Berpedoman pada UU No. 26/2007 dan Permen PU No. 30/PRT/M/2006 tersebut fokus penelitian ini adalah tingkat inklusivitas jalur pedestrian pada penggal jalan di sekitar kawasan kampus UMS.

Gambar : 1.6. Fokus Penelitian Jalur Pedestrian Kawasan Sekitar Kampus UMS.

Sumber: Analisis ,2014

Terminologi inklusivitas yang dimaksud adalah suatu kondisi dimana seluruh masyarakat tanpa terkecuali mempunyai hak dan kemudahan yang sama dalam segala aspek kehidupan, termasuk penyandang disabilitas, sehingga jalur pedestrian yang inklusif didefinisikan sebagai jalur yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi penyandang cacat (disabilitas) secara mandiri yang berdasarkan kebutuhan orang untuk bergerak secara aman, mudah, nyaman dan tanpa hambatan. Oleh sebab itu ada beberapa poin yang harus terpenuhi untuk mencapai kondisi tersebut.

2. Lokus Penelitian

Penelitian dilakukan dengan mengambil lokus jalur pedestrian pada ruang jalan di sekitar kawasan Kampus UMS, dimana area sekitar kampus UMS merupakan jalan kolektor dan berfungsi sebagai penghubung antar kawasan, berada pada kawasan dengan peruntukan lahan campuran (mixed use). Kawasan kampus UMS

(16)

| 16 dilingkupi dan berbatasan langsung dengan lahan-lahan dengan fungsi hunian,

pertokoan, pendidikan, juga kesehatan.

Gambar : 1.7 Lokus Penelitian Ruang Jalan Kawasan Sekitar Kampus UMS.

Sumber: Analisis ,2014

H. STRUKTUR PENULISAN

Untuk mempermudah pemahaman dalam laporan penelitian, maka sistematika atau struktur penulisannya adalah sebagai berikut:

1) BAB I. PENDAHULUAN

Dalam Bab Pendahuluan, pembahasan meliputi Latar Belakang Penelitian, Rumusan Masalah, Pertanyaan Penelitian, Tujuan penelitian, Manfaat Penelitian, Keaslian Penelitian, Batasan Penelitian dan Struktur Penulisan.

2) BAB II. TINJAUAN TEORI

Dalam Bab Tinjauan Teori, membahas tentang kajian dan tautan teori-teori pendukung dari pokok bahasan, yaitu teori yang terkait dengan keberadaan kampus dan pengaruhnya terhadap struktur ruang kota ataupun kawasan,

(17)

| 17 serta teori tentang inklusivitas penataan jalur pedestrian dengan fokus dan lokus di sekitar ruang jalan kawasan kampus UMS.

3) BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam Bab Metodologi Penelitian membahas metode yang digunakan dalam penelitian, lingkup penelitian, penentuan lokasi penelitian, dan tahapan penelitian.

4) BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Dalam Bab Gambaran Umum Wilayah Penelitian membahas gambaran secara umum lokasi dari wilayah penelitian yaitu Kota Kartasura Kabupaten Sukoharjo.

5) BAB V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dalam Bab Analisis dan Pembahasan memaparkan tentang hasil identifikasi dan temuan-temuan yang ada dilapangan sesuai dengan metode penelitian yang digunakan. Selanjutnya hasil pemelitian tersebut dianalisa.

6) BAB VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dalam Bab Kesimpulan Dan Rekomendasi membahas kesimpulan berdasarkan analisis hasil penelitian. Dari kesimpulan tersebut dibuat saran atau masukan terhadap beberapa pihak terkait (stakeholder) dan peneliti selanjutnya, serta rekomendasi berupa arahan desain (design guidelines)

Gambar

Gambar : 1.1 Peta Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah  Sumber: Analisis, 2014
Gambar : 1.2 Lokasi dan situasi Kampus UMS, Pabelan, Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah
Gambar : 1.4 Kawasan Kampus UMS dengan Kawasan Pendukungnya  Sumber: www.googleearth.com
Gambar : 1.5 Koran Kampus Dengan Nama Koran Pabelan Yang Menyuarakan Kebijakan Kampus Sumber: http://pabelannews.wordpress.com/2007/12/13/trotoar-harus-segera-dibangun/
+3

Referensi

Dokumen terkait

Banyaknya Tenaga Kesehatan Menurut Desa Wilayah Desa 42 Tabel 4.12.. Banyaknya Tenaga Kesehatan Menurut

Sengaja tindakan ini dipilih karena siswa sekolah dasar masih menyukai pembelajaran apabila ada unsur bermain di dalamnya (learning by doing and playing). Tetapi

Berdasarkan hasil pengujian data yang telah dilakukan dan analisis deskripsi diperoleh kesimpulan bahwa berdasarkan garis kontinum Auditor yang bekerja pada BUMN

Singkat kata, kewirausahaan ekonomis, tentu saja bisa mencanangkan pen- carian profit atau untung sebagai tujuan, tetapi hal itu mesti dilakukan dengan nilai

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang proses perkembangan masyarakat Sangihe di kelurahan Pintukota, dan pola hidup Masyarakat Sangihe baik

Peningkatan prestasi ini terlihat dengan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar misalnya mereka mampu dan bisa bila disuruh untuk menjabarkan kembali hasil

Bagi PT Royal Coconut khususnya PT Royal Coconut Airmadidi sebagai masukan yang dapat dipertimbangkan untuk mengetahui kinerja industri tepung kelapa ditinjau dari

Menurut hasil pengamatan penulis, rendahnya kompetensi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : (1) siswa kurang tertarik pada pelajaran IPS, (2) siswa