• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Pramuka Dalam Membentuk Karakter Pancasilais Di SMPN 1 Batukliang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Peranan Pramuka Dalam Membentuk Karakter Pancasilais Di SMPN 1 Batukliang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

61 Peranan Pramuka Dalam Membentuk Karakter Pancasilais Di SMPN 1 Batukliang

Zunnurain1, Lestari2, dan Ahmad Ikmal3

Abstrak

Pancasila sebagai ideologi Bangsa menuntut adanya pengamalan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dalam kehidupan sehari-hari, demi terwujudnya masyarakat yang pancasilais dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dalam rangka mewujudkannya, dibutuhkan suatu pola, salah satunya adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Penelitian ini mengkaji tentang peranan pramuka dalam penanaman karakter pancasila di SMPN 1 Batukliang. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang menggunakan model penelitian kualitatif dan berlokasi di SMPN 1 Batukliang. Metode penelitian yan digunakan diantaranya; metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan memilih dan memusatkan data yang muncul dari catatan lapangan, dan dikuatkan dari data hasil wawancara dan dokumentasi, kemudian menyusun pola hubungan dari hasil penelitian dalam bentuk naratif dan menarik kesimpulan dari data-data yang diperoleh. Perifikasi dilakukan dalam bentuk penyajian dan penarikan kesimpulan dari data-data yang telah terkumpul di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan karakter-karakter pancasila yang dihasilkan dari kegiatan kepramukaan meliputi:

sikap saling menghormati dan menghargai, sikap saling menerima, sikap kerja sama, sikap bertanggung jawab, sikap bermusyawarah, dan sikap gotong royong.

Keyword: Peranan, Pramuka, Karakter, Pancasilais

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, ras dan agama yang sudah ada sebelum negara ini merdeka. Sehingga Indonesia merupakan Negara dan Bangsa yang dibentuk diatas pluralitas itu sendiri. perbedaan yang ada dari berbagai aspek tersebut jika tidak dirawat dengan baik akan berperan besar dalam melahirkan konplik khorizontal ditengah- tengah masyarakat, dan itu bisa menyebabkan disintegrasi bangsa. Oleh karena itu dibutuhkan keterlibatan penuh dari semua konponen Bangsa untuk merawat perbedaan dengan baik, sehingga Indonesia tetap bersatu dalam perbedaan.

Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam mengajarkan dan menyebarkan sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Di dalam lembaga pendidikan, penanaman pendidikan karakter selalu bersamaan dengan kegiatan belajar mengajar, guru dituntut untuk memberikan

1 MA Al-Falah Pancor Dao

2 STIT Darussalimin NW Praya Lombok Tengah

3 STIT Darusalimin NW Praya Lombok Tengah

(2)

62 pendidikan karakter disetiap memberikan materi pelajaran yang diajarkan. Lembaga pendidikan menyediakan kegiatan-kegiatan non formal (ekstrakulikuler) seperti Pramuka, PMR, Teater, dsb, sebagai tempat penanaman pendidikan karakter sekaligus pengasahan skill yang dimiliki oleh siswa.

Pramuka merupakan salah satu ekstrakulikuler yang dipercayai mampu membentuk dan menanamkan karakter luhur panca sila melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan seperti pelatihan kedisiplinan melalui praktik baris berbaris, pelatihan kreativitas melalui kegiatan hasta karya, pelatihan kemandirian melalui kegiatan kemah, dan sebagainya. Melihat keistimewaan pramuka dalam membentuk karakter pancasilais, maka ekstrakulikuler pramuka dijadikan sebagai ekstrakulikuler wajib disetiap sekolah sesuai dengan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia nomor 63 tahun 2014. Melihat keistimewaan pramuka tersebut, maka penelitian ini fokus pada upaya melihat Peranan Pramuka dalam Membentuk Karakter Pancasilais Di SMPN 1 Batukliang.

Kajian Teori

Dalam kamus besar bahasa Indonesia Pramuka merupakan singkata dari praja muda karana;

organisasi untuk pemuda yang mendidik para anggotanya dalam berbagai keterampilan, disiplin, kepercayaan pada diri sendiri, saling menolong dan sebagainya (W.J.S. Poerwadarminto, 1984). Pengertian pramuka menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2014 pramuka adalah proses pendidikan yang menyenangkan bagi anak muda, dibawah tanggung jawab anggota dewasa, yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dan keluarga, dengan tujuan prinsip dasar dan metode pendidikan tertentu.

Pada dasarnya penekanan kata pramuka lebih ditekankan kepada para peserta didik yang mengikuti atau termasuk ke dalam anggota organisasi pramuka, baik anggota pramuka siaga, penggalang, penegak, pandega, pembina, pelatih, majelis pembimbing, andalan dan sebagainya.

Kepramukaan menurut Lord Baden Powell (terjemahan) yaitu: “kepramukaan itu bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari dengan tekun, bukan pula merupakan kumpulan ajaran-ajaran dan naskah-naskah dari suatu buku. Bukan! Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan sebagai kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan untuk member pertolongan bagi yang membutuhkan” (Sunardi. Andri Bob, 2014: 3).

Dari penjelasan bapak pramuka dunia tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kepramukaan adalah permainan yang mengandung pendidikan.

(3)

63 Dalam lampiran Keputusan Ketua Kwartir Nasional gerakan Pramuka Nomor 203 tahun 2009 Tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka Bab III pasal 8 tentang pendidikan kepramukaan dijelaskan sebagai berikut: Pendidikan Kepramukaan adalah proses pendidikan yang praktis, diluar linfkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga yang dilakukan di alam terbuka dalam bentuk kegiatan yang menarik, menyenangkan, sehat, teratur, dan terarah dengan menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya adalah membentuk watak, Kepribadian dan akhlak mulia (Kementerian Pemuda dan Olahraga, 2011: 2).

Dengan landasan uraian di atas, maka kepramukaan mempunyai fungsi sebagai berikut (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014:13):

1. Sebagai kegiatan menarik bagi anak atau pemuda 2. Sebagai pengabdian bagi orang dewasa

3. Sebagai alat bagi masyarakat dan organisasi

Selain itu fungsi gerakan pramuka sebagai penyelenggara pendidikan nonformal diluar sekolah dan diluar keluarga dan sebagai wadah pembinaan dan pengembangan kaum muda dengan menerapkan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan serta berlandaskan sistem among (berdasarkan AD dan ART Gerakan Pramuka Pasal 5). Gerakan pramuka berfungsi sebagai wadah untuk mencapai tujuan pramuka melalui:

1. Pendidikan dan pelatihan pramuka 2. Pengembangan pramuka

3. Pengabdian masyarakat dan orang tua

4. Permainan yang berorientasi pada pendidikan.

Adapun tujuan dan prinsip dasar kepramukaan adalah untuk membentuk setiap orang agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun NKRI, mengamalkan pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup (Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2013: 18). Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip-Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia.

Motto Gerakan Pramuka adalah “Satyaku Kudarmakan Darmaku Kubaktikan”. Manfaat Motto Gerakan Pramuka terhadap Jiwa anggota Pramuka, antara lain:

1. Menanamkam rasa percaya diri.

2. Menambah semangat pengabdian pada masyarakat, bangsa dan negara.

(4)

64 3. Siap mengamalkan Satya dan Darma Pramuka.

4. Rasa bangga sebagai Pramuka.

5. Memiliki Buadaya Kerja yang dilandasi pengabdiannya

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Bodgan dan Taylor mendefinisakan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang menghasilkan data dekskriptif berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati (Lexy J.Moleong, 2002: 9). Penelitian yang dilakukan akan melihat peran pramuka dalam penanaman sikap toleransi.

Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh melalui berbagai macam tekhnik pengumpulan, diantaranya observasi, wawancara, analisis, dokumen dan diskusi berfokus (FGD). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.

Sumber data seluruhnya adalah data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari responden oleh peneliti saat penelitian ini dilaksanakan. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:

1. Program kerja gerakan pramuka SMPN 1 Batukliang 2. Guru dan Pembina Pramuka SMPN 1 Batukliang 3. Anggota pramuka SMPN 1 Batukliang.

Agar mendapatkan data yang akurat, maka diperlukan suatu tekhnik atau metode untuk mengumpulkan data. Adapun tekhnik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, yakni metode observasi, yakni pengamatan yang dilakukan secara sengaja mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan (P.Joko Subagyo, 1997: 63). Tekhnik ini dilakukan untuk mengetahui peran pramuka dalam penanaman sikap toleransi.

Metode wawancara dalam bentuk percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Lexy J.Moleong, 2009:

186). Tekhnik ini digunakn untuk mengetahui peran pembina pramuka dalam penanaman sikap toleransi terhadap peserta didiknya.

Metode dokumentasi sebagai bentuk catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2009: 329).

(5)

65 Dokumen yang ditunjukkan dalam hal ini adalah segala dokumen yang berkaitan dengan kegiatan- kegiatan kepramukaan yang mempunyai hubungan dengan toleransi.

Sedangkan tekhnik analisis data dalam penelitian ini adalah mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman. Miles dan Huberman mengungkapkan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara intraktif fan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas. Komponen dalam analisis data: reduksi data. Data yang diperoleh dari laporan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Setelah itu dilakukan penyajian data dalam bentuk uraian singkat, bagian, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Setalah itu dilakukan penyimpulan data. Jika kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementra. Dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisiten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakn merupakan kesimpulan yang kredibel ((Sugiyono, 2009: 249-252).

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Kegiatan kepramukaan di SMPN 1 Batukliang dimulai dari pukul 15.00 WITA. Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan esktrakulikuler pramuka yang rumahnya jauh dari sekolah biasanya tidak pulang kerumahnya, melainkan menunggu disekolah dan ada juga mengisi dengan mengikuti kegiatan esktrakulikuler lain. Pada saat memulai kegiatan pembina memberikan jadwal sebagai pemimpin do’a kepada anggotanya untuk memimpin teman-temannya, dalam hal ini pembina bertujuan untuk melatih mental anggotanya dan sekaligus memberikan pengetahuan bahwa ketika menjadi memimpin harus memperhatikan kondisi peserta sehingga do’a yang digunakan adalah do’a secara umum.

Pembina pramuka SMPN 1 Batukliang menyatakan bahwa dalam perencanaan kegiatan kepramukaan selalu ditekankan penanam karakter peserta didik, terutama yang paling dasar adalah mampu menghormati dan menghargai sesama teman-temannya, mampu bekerja sama dengan baik, berkomunikasi dengan baik. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah:

a. Latihan Rutin

b. Ketangkasan pionering

c. LKBB (Latihan Ketangkasan Baris Berbaris) d. Pentas seni

(6)

66 e. Bakti sosial

f. Permainan kekompakan

Pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan telah berusaha untuk melakukan pendidikan kepramukaan kearah pencapaian tujuan pendidikan kepramukaan SMPN 1 Batukliang. Perencanaan program kegiatan biasanya dibuat pada awal semester atau awal tahun ajaran, pada awal tahun ajaran semua ekstrakulikuler pramuka akan menyampaikan program kerja yang sudah dilakukan dan aprogram kerja yang akan dilakukan kedepannya.

Kemudian program kerja dikembangkan oleh pembina pramuka dalam bentuk kegiatan- kegiatan yang menarik dan menyenangkan sebagaimana yang sudah ditekankan dalam organisasi pramuka itu sendiri. Bentuk-bentuk kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkembangkan kepribadian peserta didik menjadi lebh baik, terutama pada sikap toleransi beragama siswa. Karena melihat kondisi di SMPN 1 Batukliang memiliki siswa yang beragama Islam dan Hindu begitupun dengan guru-gurunya ada yang beragama Islam dan ada yang beragama Hindu, sehingga sikap toleransi beragama sangat diperlukan sekali.

Disamping kegiatan-kegiatan di atas pramuka SMPN 1 batukliang juga sering melakukan kegiatan pada hari asyura untuk mengajarkan keapada seluruh siswa SMPN 1 Batukliang khususnya anggota pramuka agar bias saling membantu satu dengan yang lain tampa harus melihat perbedaan agama. Dalam perayaan hari asyura’ pramuka SMPN 1 Batukliang memprogramkan kegiatan santunan anak yatim yang dikoordinasi oleh anggota pramuka SMPN 1 Batukliang. Seperti kegiatan:

1. Pelaksanaan kegiatan pramuka dalam meningkatkan toleransi beragama siswa SMPN 1 Batukliang. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kegiatan yang telah direncanakan oleh pembina pramuka yang dapat meningkatkan sikap toleransi beragama siswa, adapun kegiatan tersebut antara lain:

a. Latihan Rutin Mingguan. Latihan rutin diadakan setiap hari senin disekolah untuk membekali siswa tentang ilmu kepramukaan. Kegiatan rutin mingguan dijadikan pembiasaan dalam menumbuhkembangkan sikap siswa dan dapat diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari sesuai dengan kode kehormatan dan ketentuan moral pramuka.

b. Ketangkasan Pionering. Dalam ketangkasan membuat pionering peserta didik diharuskan untuk mampu bekerja sama dengan teman-temannya sehingga menghasilkan kreasi pionering yang rapi dan mampu diselesaikan dengan tepat waktu. Dalam pelaksanaannya peserta didik yang beragama Hindu dan Islam digabung dalam satu kelompok dan diberikan intruksi untuk membuat pionering dalam jangka waktu yang sudah ditentukan dan peserta didik langsung

(7)

67 membuat pionering dengan cepat, peserta didik yang mempunyai keahlian tali-temali akan mengajarkan kepada teman-temannya yang belum bisa. Dalam proses pembuatan pionering peserta didik yang beragama islam mampu bekerja sama dengan peserta didik yang beragama hindu begitupun sebaliknya.

c. LKBB (Latihan Ketangkasan Baris Berbaris). LKBB merupakan latihan ketangkasan baris berbaris, dengan tujuan untuk membentuk fisik peserta didik. Pelatihan LKKB juga mampu membentuk mental peserta didik. Dalam pelaksanaannya peserta didik diminta untuk memimpin kelompok-kelompok yang sudah dibagikan oleh pembina, disamping melatih jiwa kepemimpinan peserta didik LKKB juga mengharuskan peserta didik untuk menghormati teman-temannya yang menjadi pemimpin tampa melihat perbedaan agama yang mereka anut.

d. Pentas Seni. Pentas seni merupakan kegiatan menampilkan sebuah karya seni didepan penonton. Pentas seni di pramuka SMPN 1 Batukliang lebih difokuskan kepada tarian, adapun tariannya berupa tarian tradisional, tarian modern dan tarian kreasi. Pembina membebaskan anggotanya untuk menggunakan tarian yang mereka suka dan pada tarian tradisional pembina memamfaatkan kemampuan peserta didiknya yang beragama Hindu untuk menampilkan tarian khas mereka, setelah menampilkan tarian tersebut peserta didik yang berminat akan diajarkan oleh teman-temannya yang beragama Hindu tarian tersebut.

e. Bakti Sosial. Bakti sosial merupakan kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh pramuka SMPN 1 Batukliang kepada masyarakat, adapun bentuk kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh Pramuka SMPN 1 Batukliang berupa pembersihan tempat-tempat ibadah, pembersihan jalan, pembersihan sarana-sarana umum, pemberian sumbangan dan lain-lain. Kegiatan bakti sosial biasanya menjadi kegiatan wajib disetiap perkemahan yang dilakukan oleh pramuka SMPN 1 Batukliang, biasanya ketika ada kegiatan-kegiatan bertepatan dengan mendekati hari-hari raya umat beragama pembina mengajak anggotanya untuk ikut serta membantu membersihkan tempat ibadah yang akan digunakan pada saat hari raya.

f. Permainan Kekompakan. Segala bentuk materi yang ada di pramuka diharuskan untuk dibuat seperti permainan, sehingga materi tersebut menjadi menarik dan menyenangkan. Pada saat perkemahan atau latihan rutin pembina selalu menyempatkan melakukan permainan- permainan kekompakan seperti, game rawa beracun, game kereta buta, game latihan konsentrasi, game pemecahan masalah dll. Sehingga setelah menyelesaikan game tersebut akan menambah keakraban peserta didik baik dengan kelompok masing-masing ataupun dengan kelompom yang lain.

(8)

68 Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kepramukaan SMPN 1 Batukliang menghasilkan sikap-sikap sebagai berikut.

a. Sikap Menghargai b. Sikap menerima c. Sikap kerja sama

d. Sikap bertanggung jawab

e. Sikap Toleran antar umat beragama yang terwujud dalam sikap:

1. Peserta didik yang beragama hindu mampu menghormati temna-temannya yang beragama islam beribadah shalat ashar pada saat istirahat waktu latihan.

2. Peserta didik yang beragama islam tidak mengejek peserta didik yang beragama hindu ketika mereka menggunakan alat-alat ibadahnya seperti bija dan kemenyan.

3. Peserta didik yang beragama islam tidak merasa terganggu ketika teman-temannya yang beragama hindu harus beribadah ditenda mereka.

4. Saling menjaga ketika beribadah.

5. Saling menolong dan mampu bekerja sama dengan baik tampa memandang perbedaan agama.

6. Memberikan dan membersihkan tenda sebagai tempat ibadah kepada yang beragama hindu.

7. Menjaga kerukunan dengan teman-temannya yang beragama lain.

8. Mampu membangun solidaritas yang baik walaupun berbeda agama.

9. Tidak memaksa kepada temannya untuk memeluk agama yang dianut.

10. Saling mengingatkan ketika waktu ibadah tiba.

Kesimpualan

Pramuka SMPN 1 Batukliang dalam perencanaan kegiatan kepramukaan untuk membentuk karakter pancasilai kepada anggotanya, sudah merencanakan kegiatan-kegiatan yang mampu mendidik anggotanya sesuai dengan tujuan dari gerakan pramuka itu sendiri terutama dalam menanamkan sikap persatuan, kerjasama, saling menghargai, toleransi dalam perbedaan agama, sikap saling menerima, sikap kerja sama, sikap bertanggung jawab, sikap bermusyawarah, dan sikap gotong royong. Pembentukan karakter pancasilais tersebut dilakukan melalui kegiatan-kegiatan kepramukaan seperti: Kreasi pioneering, LKBB, Pentas seni, Bakti Sosial, Game-game Kekompakan dan kegiatan santunan anak yatim pada hari asyura’ 10 Muharram.

Daftar Pustaka

(9)

69 Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Edisi ketiga.

J.Moleong. Lexy, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, 2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka, Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014. Kepramukaan. Jakarta.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2013. Materi Umum Gelar Ajar. Jakarta: Karang Pamitran.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2011, Panduan Penyelesaian Kecakapan Umum Pramuka Penggalang. Jakarta: Pustaka Media

Subagyo. P.Joko, 1997. Metode Penelitian dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Santoso .Lukman, 2011, Buku Pintar Pramuka, Yogyakarta, Interpree Book.

Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).

Bandung: Alfabeta. cet IV & cet IX.

Sunardi. Andri Bob, 2014. Boyman Ragam Latihan Pramuka. Bandung: Nuansa Muda.

Wijaya. Aksin, 2019. Hidup Beragama Dalam Sorotan UUD 1945 dan Piagam Madinah.

Ponorogo: STAIN Ponorogo.

W.J.S. Poerwadarminto, 1984, Kamus Umum Bahasa Indonesia, , Jakarta:PN Balai Pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

Dari penyebaran kuesioner tanggapan responden tentang jumlah koleksi di layanan sirkulasi, diperoleh hasil sebagian besar responden (54 responden atau 54%)

Berdasarkan perencanaan laba yang diharapkan pada tahun 2014 adalah sebesar Rp 42.330.124.100, jumlah ini melampaui jumlah laba maksimal pada tahun 2013 sehingga perusahaan

yang telah dilakukan oleh (Amelia et al., 2013) 1 bahwa recall 24 jam dapat mempengaruhi hubungan asupan energi dengan status gizi, akan tetapi pada penelitian ini tidak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh perbandingan sukrosa dan sirup glukosa terhadap karakteristik hard candy berbasis sari buah

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang

Raja Ali Haji dalam sejarahnya pernah disebut sebagai seorang penyair sufi Melayu yang jika dilihat dari pola persajakkannya tampaklah pola-pola rima yang tampak

Tabel LXX Pengujian Proses Hapus Data Kategori Barang ...129. Tabel LXXI Pengujian Proses Tambah Sub Kategori

www.exocare.id Layanan Konsumen: Email: [email protected].. kemasan sekunder maka QR Code dicantumkan pada kemasan sekunder dan kemasan primer tidak wajib dicantumkan.