• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Laba Akuntansi

1. Pengertian Laba Akuntansi

Salah satu informasi yang sangat penting bagi para pengguna laporan keuangan dalam mengmbil keputusan adalah laba akuntansi yang biasa disebut juga laba komersial.

Laba akuntansi (accounting income) adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan.

Laba akuntansi (accounting income) menurut AICPA yang dikutip Harahap (2008) adalah perubahan dalam ekuitas dari suatu entity selama satu periode tertentu yang diakibatkan oleh transaksi dan kejadian atau peristiwa yang berasal bukan dari pemilik.

Menurut IAI dalam PSAK No.46 tahun 2009 laba akuntansi dan laba bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.

Menurut Framework yang dikutip Epstein and Jermakowicz, mengartikan income sebagai berikut:

“ Income is increases in economic benefits during the accounting period in the form of inflows or enhancements of inflows or enhancements of assets or decreases of liabilities that result in increases in equity, other than those realiting to contributions from equity participants.”

Dari pengertian diatas, definisi income adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau

(2)

penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Dari penjelasan diatas, income mencakup baik pendapatan dan keuntungan, dan penghasilan yang timbul dari kegiatan perusahaan, seperti penjualan, biaya, bunga, deviden, royalti, dan sewa.

Laba akuntansi dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:

a. Laba kotor

Laba kotor (gross profit) adalah selisih antara pendapatan dari penjualan bersih dengan harga pokok penjualan. Format dasar dari laba kotor adalah sebagai berikut:

Penjualan XXX

Retur Penjuaan ( XXX ) Pot. Penjualan ( XXX )

Penjualan Bersih XXX

Harga Pokok Penjualan ( XXX )

Laba kotor XXX

b. Laba operasi

Laba operasi (operating income) adalah selisih antara laba kotor dengan beban operasi. Secara umum beban operasi adalah seluruh beban operasi kecuali beban bunga dan pajak penghasilan. Sehingga laba operasi dapat juga disebut laba sebelum bunga dan pajak (earning before interest and taxes/ EBIT) . Format dasar dari laba operasi adalah sebagai berikut:

(3)

Laba kotor XXX Beban operasi ( XXX ) Laba operasi XXX c. Laba sebelum pajak penghasilan

Laba sebelum pajak penghasilan (erning before taxes/EBT) merupakan hasil dari laba operasi yang ditambah atau dikurangi dengan pendapatan atau beban lain-lain. Format dasar dari laba sebelum pajak penghasilan adalah sebagai berikut:

Laba operasi XXX Beban Lain-lain bersih XXX Laba (Rugi) sebelum pajak XXX d. Laba bersih

Laba bersih (net income) merupakan hasil pengurangan antara laba sebelum pajak penghasilan dengan beban pajak penghasilan dan disesuaikan dengan pos-pos luar biasa. Pos-pos luar biasa adalah penghasilan atau bebanyang timbul dari kejadian atau transaksi yang secara jelas berbeda dari aktivitas normal perusahaan dan karenanya tidak diharapkan untuk sering kali terjadi atau terjadi secara teratur. Format dasar dari laba bersih adalah sebagai berikut:

Laba operasi XXX

Biaya bunga (XXX)

Pajak Penghasilan (PPh) (XXX)

Laba bersih XXX

(4)

e. Laba per saham

Laba per saham (ernings per share) adalah keuntungan yang diberikan kepada pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dipegangnya.

Laba per saham didapat dengan membagi laba bersih dengan jumlah saham yang beredar. Format dasar dari laba per saham adalah sebagai berikut:

Laba bersih XXX

Jumlah saham yang beredar XXX :

Laba per saham XXX

(1). Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual (accrual basis) terutamayang berasal dari penjualan barang dan jasa

Laba akuntansi memiliki lima karekteristik menurut Anis Chairiri dan Imam Ghozali (2001:302) yaitu

(2). Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodisasi

(3). Laba akuntansi mengacu pada kinerja perusahaan selama satu periode tertentu serta didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan pemahaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan.

(4). Laba akuntansi memerlukan pengukuran tentang biaya dalam bentuk cost histories (5). Dalam laba akuntansi diperlukan juga konsep penandingan (matching) antara

pendapatan dengan biaya yang relevan dan berkaitan denganpendapatan tersebut.

(5)

2. Keunggulan dan Kelemahan Laba Akuntansi a. Keunggulan laba akuntansi adalah

(1). Laba akuntansi maih bermanfaat untuk membantu menggambil keputusan ekonomi,

(2). Dapat di uji kebenarannya karena didasarkan pada transaksi atau fakta aktual yang didukung bukti objektif,

(3). Memenuhi kriteria konservatisme artinya laba akuntansi tidak mengakui perubahan nilai tetapi hanya mengakui laba yang direalisasi (4). Masih dipandang bermanfaat untuk tujuan pengendalian terutama

untuk tanggung jawab manajemen.

b. Kelemahan laba akuntansi adalah

(1). Laba akuintansi gagal mengakui kenaikan nilai aktiva yang belum direalisasi dalam suatu periode karena prinsip biaya historis dan prinsip realisasi,

(2). Laba akuntansi yang didasarkan pada prinsib biaya historis mempersulit perbandingan laporan keuangan karena adanya perbedaan metode perhitungan cost dan metode alokasi,

(3). Laba akuntansi yang didasarkan pada prinsip realisasi, biaya historis dan konservatisme dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan tidak relevan.

(6)

3. Pendapatan dan Beban Akuntansi

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (PSAK, 2009: par 6 nomor 23),

“Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.

Sementara itu, dalam undang-undang perpajakan No. 36 tahun 2008 menjelaskan bahwa “penghasilan dalam undang-undang ini tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi adanya tambahan kemampuan ekonomis”.

Untuk menentukan kapan penghasilan diterima atau diperoleh undang-undang perpajakan menujukan kapan metode pembukuan yang diselenggarakan wajib pajak berdasarkan accrual basis atau cash basis.

Pendekatan accrual basis mengakui penghasilan pada saat diperoleh, pendekatan cash basis mengikuti penghasilan pada saat diterima.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi keuangan (PSAK), beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban juga mencakup kerugian yang belum terealisasi, misalnya kerugian yang timbul karena selisih kurs mata uang asing.

(7)

B. Laba Fiskal

1. Pengertian laba Fiskal

Untuk menentukan besarnya pajak yang harus disetor pada negara, perusahaan harus menghitung dulu besarnya laba pajak yang biasa disebut laba fiskal.

Menurut IAI dalam PSAK No.46 tahun 2009 laba fiskal (taxable profit) adalah laba selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan

perpajakan dan yang menjadi dasar perhitungan pajak penghasilan.

Laba fiskal atau yang lebih dikenal dengan Penghasilan Kena Pajak (PKP) merupakan laba yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku, yaitu Undang-Undang Pajak No.17 Tahun 2000 tentang pajak penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya.

Penghasilan Kena Pajak (PKP) berdasarkan taxability deductability, dengan prinsip ini suatu biaya baru dapat dikurangkan dari penghasilan bruto apabila pihak yang menerima pengeluaran atas biaya yang bersangkutan, melaporkannya sebagai penghasilan dan penghasilan tersebut dikenakan pajak (taxable). Untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) minimal ada lima komponen yang perlu diperhatikan, yaitu:

a. Penghasilan yang menjadi objek pajak

b. Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak c. Penghasilan yang pajaknya dikenakan final

d. Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto e. Biaya yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto

(8)

Dalam rangka menghitung laba fiskal perlu dilakukan penyusuaian- penyesuain terhadap laba akuntansi sebelum pajak penghasilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pajak penghasilan beserta peraturan pelaksanaannya yang lebih dikenal dengan istilah rekonsiliasi fiskal.

2. Rekonsiliasi Fiskal

Rekonsiliasi Fiskal dilakukan oleh wajib pajak karena terdapat perbedaan perhitungan khususnya laba menurut akuntansi (komersial) dengan menurut perpajakan (Fiskal). Laporan keuangan komersial ditunjukkan untuk menilai kinerja ekonomi dan keadaan finansial dari sektor privat, sedangkan laporan keuangan fiskal lebih ditunjukan untuk menghitung pajak. Untuk kepentingan komersial, laporan keuangan disusun berdasarkan prinsip yang diterima umum yaitu Standar akuntansi Keuangan (SAK). Sedangkan, untuk kepentingan fiskal laporan keuangan disusun berdasarkan peraturan perpajakan Undang-undang Pajak Penghasilan.

Proses rekonsiliasi fiskal untuk mendapatkan laba fiskal adalah sebagai berikut:

a. Penghasilan atau pendapatan diklasifikasikan antara penghasilan yang bukan pajak dan penghasilan yang merupakan objek pajak

b. Dari penghasilan yang merupakan objek pajak, tentukan penghasilan mana yang pengenaan pajaknya bersifat final, selebihnya merupakan penghasilan yang merupakan objek pajak yang tidak termasuk penghasilan yang permanen pajaknya bersifat final.

(9)

c. Biaya atau pengeluaran diklasifikasikan antara biaya atau pengeluaran yang tidak boleh dikurangkan

Selisih antara peghasilan yang merupakan objek pajak tidak termasuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final dengan biaya atau pengeluaran yang boleh dikurangkan merupakan laba atau rugi fiskal.

C. Persistensi Laba Akuntansi

Definisi persistensi laba akuntansi menurut Penman (1992) dan Wijayanti (2006) adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan dimasa mendatang (expected future ernings) yang tercermin pada laba tahun berjalan (current ernings). Persistensi laba diukur dengan melakukan regresi antara laba akuntansi sebelum pajak tahun berjalan dengan laba akuntansi sebelum pajak tahun depan.

Persistensi laba merupakan salah satu alat ukur kualitas laba. Laba yang berkualitas adalah laba yang mencerminkan kelanjutan laba (sustainable earnings) dimasa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan aliran

kasnya. Selain itu laba akuntansi yang berkualitas adalah laba akuntansi yang yang memiliki sedikit atau tidak mengandung gangguan persepsian, dan dapat

mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya ( Djamaluddin, 2008).

Salah satu penyebab rendahnya kualitas laba akuntansi adalah dikarenakan adanya manajemen laba. Manajemen laba didefinisikan sebagai intervensi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi tujuan pribadi (Djamaluddin, 2008).

(10)

D. Laporan Keuangan 1. Pengertian

Media yang dapat dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan berisikan data-data yang menggambarkan keadaan keuangan suatu perusahaan dalam satu periode tertentu sehingga piha-pihak yang berkepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan dapat mengetahui keadaan keuangan dari laporan keuangan yang disusun dan disajikan oleh perusahaan. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan antara lain para pemilik perusahaan, manajer, perusahaan yang bersangkutan, para kreditur, investor, karyawan dan masyarakat.

Laporan Keuangan merupakan laporan pertanggungjawaban manajemen kepada pemakai tentang pengelolaan keuangan yang dipercayakan kepadanya. Pemakai akan membaca laporan keuangan sebagai sebuah laporan pertanggungjawaban.

Menurut Harahap (2008) “Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah Neraca, Laporan rugi laba, Laporan Arus Kas dan Laporan Perubahan posisi Keuangan”.

2. Tujuan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Tujuan Laporan Keuangan adalah menyediakan

(11)

informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta prubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambil keputusan.

Laporan keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan pada saat ini dan untuk memperkirakan hasil operasi serta arus kas di masa depan. Dari pengertian diatas tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber- sumber ekonomi dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.

3. Komponen laporan keuangan

Pada waktu tertentu manajemen suatu perusahaan harus menyusun dan menyajikan laporan keuangan guna memenuhi kebutuhan para pihak yang berkepentingan atas suatu perusahaan ini. Mengenai laporan keuangan yang disajikan dan disusun oleh manajemen sesuai Ikatan Akuntan Indonesia, (2007 : 2) menyatakan “Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen sebagai berikut: neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan.

a. Neraca (Balance sheet)

Neraca adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut.

Informasi yang dapat dilihat dari neraca antara lain adalah posisi sumber kekayaan perusahaan dan sumber pembiayaan untuk memperoleh

(12)

kekayaan perusahaan tersebut dalam suatu periode akuntansi (Triwulan, Kwartal, atau tahunan). Bentuk neraca dapat disusun dalam dua bentuk yakni:

(1). Bentuk Skontro ( T ) artinya

Menyusun harta perusahaan pada sisi kiri dan menyusun utang perusahaan pada sisi kanan.

(2). Bentuk Staffel (Bentuk laporan) artinya

Menempatkan harta perusahaan pada bagian atas neraca dan menempatkan utang serta modal perusahaan pada bagian bawah neraca.

b. Laporan Laba rugi (Income Statement)

Laporan laba/ rugi adalah dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur- unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba/

rugi bersih. Laporan keuangan terdiri dari dua unsur, yaitu

(1). Pendapatan (revenue) adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan perusahaan seperti penjualan barang dagang, memberikan jasa kepada pelanggan, sewa dari hak milik yang mengarah untuk mendapatkan hasil.

(2.) Expenses (biaya/ beban) adalah pengeluaran uangatau prestasi yang diterima untuk menjalankan perusahaan atau proses produksi yang dipergunakan dalam rangka mendapatkan hasil tersebut.

(13)

c. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang menggambarkan perubahan ekuitas sebuah perusahaan pada saat tertentu. Laporan perubahan ekuitas ini disajikan setelah diketahui kondisi laba atau rugi perusahaan.

Saat tertentu disini dinyatakan sama dengan neraca di atas.

d. Laporan Arus kas

Laporan arus kas ( cash flow statement) adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan aliran masuk dan keluar uang (kas) perusahaan. Laporan arus kas menggambarkan keadaan masa yang akan datang, karena informasinya dapat digunakan untuk melakukan prediksi dimasa yang akan datang

e. Catatan atas laporan Keuangan.

Catatan atas laporan keuangan adalah bagian dari laporan keuangan yang digunakan untuk memberikan penjelasan semua perkiraan yang ada dalam neraca, laba rugi, dan laporan perubahan ekuitas. Penjelasan tentang perkiraan-perkiraan seperti daftar pelanggan yang berutang ke perusahaan, jenis-jenis persediaan dan daftar aktiva tetap serta rincian perkiraan lainnya disajikan pada catatan atas laporan keuangan ini.

4. Keterbatasan Laporan Keuangan a. Ikhtisar

Analisis keuangan adalah bagian penting dari manajemen usaha kecil. Pemilik bisnis sering penelaahan informasi keuangan untuk

(14)

memastikan usaha mereka menghasilkan cukup modal untuk membayar biaya dan memberikan pemilik dengan keuntungan. Sementara berbagai jenis analisis keuangan yang ada di lingkungan bisnis, analisa laporan keuangan adalah alat manajemen yang sama. Analisis laporan keuangan biasanya melibatkan review pribadi oleh pemilik bisnis informasi keuangan perusahaannya.

b. Fakta

Analisis laporan keuangan biasanya meliputi review kuantitatif dan kualitatif dengan pemilik bisnis. Sebuah tinjauan kuantitatif mencakup penggunaan berbagai rasio keuangan. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek, profitabilitas barang atau jasa yang dijual kepada konsumen, penggunaan aset keuangan untuk menghasilkan pendapatan dan informasi lainnya. Tinjauan kualitatif menggunakan pertimbangan pribadi atau kesimpulan ketika membuat keputusan berdasarkan informasi tersebut.

c. Keterbatasan Rasio Keuangan

Rasio keuangan memberikan analisis terbatas laporan keuangan perusahaan. Rasio ini menghitung indikator numerik atau nilai-nilai persentase berdasarkan informasi keuangan yang terdapat dalam laporan. Namun, indikator-indikator ini berarti sangat sedikit jika tidak dibandingkan dengan bisnis yang bersaing atau standar industri.

Pemilik usaha kecil mungkin merasa sulit untuk membandingkan

(15)

informasi mereka untuk perusahaan lain dengan operasi bisnis serupa atau kewajiban keuangan.

d. Review kualitatif Keterbatasan

Pemilik bisnis menggunakan analisis kualitatif terhadap laporan keuangan dapat membatasi tinjauan mereka terhadap output akhir informasi keuangan. Sementara laporan keuangan biasanya menunjukkan berapa banyak keuntungan perusahaan telah dihasilkan selama suatu periode akuntansi tertentu, laporan keuangan biasanya tidak memberikan informasi yang cukup tentang efisiensi operasi bisnis. Usaha kecil sering dapat menghasilkan keuntungan meskipun terlalu banyak uang yang dihabiskan untuk menghasilkan pendapatan ini.

E. Perbedaan Antara Laba Akuntansi Dan Laba Fiskal

Laba akuntansi merupakan termonologi yang digunakan setandar akuntansi yang berarti laba bersih atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi dengan beban pajak. Disisi lain, penghasilan kena pajak atau laba fiskal merupakan terminologi pada perpajakan yang berarti laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan menjadi dasar perhitungan pajak penghasilan.

Pada tingkat perusahaan, manajemen menghitung laba perusahaan untuk tujuan setiap tahunnya, yaitu tujuan untuk pelaporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan (SAK) dan pelaporan pajak berdasarkan peraturan pajak untuk menentukan besarnya penghasilan kena

(16)

pajak (taxable income) atau laba fiskal. Peraturan pajak di Indonesia mengharuskan laba fiskal dihitung berdasarkan metode akuntansi yang menjadi dasar perhitungan laba akuntansi, yaitu metode akrual, sehingga perusahaan tidak perlu melakukan pembukuan ganda untuk dua tujuan pelaporan laba tersebut , karena setiap akhir tahun perusahaan diwajibkan melakukan rekonsiliasi fiskal untuk menentukan besarnya laba fiskal dengan cara melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap laba akuntansi berdasarkan peraturan pajak.

Rekonsiliasi fiskal diakhir periode pembukuan menyebabkan terjadi perbedaan antara laba fiskal dengan laba akuntansi. Perbedaan tersebut disebabkan oleh ketentuan pengakuan dan pengukuran yang berbeda antara standar akuntansi keuangan dan pengaturan pajak. Penyebab perbedaan tersebut secara umum dikelompokkan kedalam perbedaan tetap dan perbedaan temporer atau waktu.

1. Perbedaan Tetap (Permanent Different)

Perbedaan permanen adalah perbedaan-perbedaan yang disebabkan berbagai ketentuan Undang-undang perpajakan. Misalnya ada beberapa jenis pendapatan yang dikenakan pajak penghasilan final sehingga tidak dapat digabungkan kedalam penghasilan lainnya yang dikenakan pajak penghasilan yang tidak bersifat final.

Perbedaan permanen disebabkan oleh adanya pengelompokan penghasilan dan beban oleh peraturan perpajakan. Peraturan perpajakan penghasilan kedalam dua kelompok yaitu:

(17)

a. Penghasilan yang menjadi objek pajak (taxable income)

b. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak (non-taxable income).

Penghasilan yang menjadi objek pajak (taxble income) dibedakan menjadi dua, yaitu penghasilan yang dikenakan pajak final dan penghasilan yang tidak dikenakan pajak final. Sedangkan pajak dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Pengeluaran atau beban yang boleh dikurangkan (deductible expenses) b. Pengeluaran atau beban yang tidak boleh dikurangkan (non- deductible

expenses).

Pada umumnya perbedaan permanen disebabkan oleh pengaturan yang berbeda, terkait dengan rekonisi penghasilan dan biaya antara Standar Akuntansi Keuangan dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan yang terdapat pada:

(1). Pasal 4 ayat (3)

(2). Pasal 9 ayat (1) dan (2)

(3). Pasal 18

2. Perbedaan Sementara (Temporary Different)

Perbedaan sementara terjadi karena pengakuan pembebanan dalam periode yang berbeda, namun kejadian- kejadian tersebut tetap diakui baik

(18)

dalam laporan keuangan maupun dalam laporan fiskal tetapi dalam periode yang berbeda.

Menurut IAI dalam PSAK No.46 tahun 2009 perbedaan sementara adalah perbedaan antara jumlah tercatat aktiva atau kewajiban dengan dasar pengenaan pajaknya (DPP).

Perbedaan sementara dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Perbedaan sementara kena pajak (taxable temporary differences)

Menurut IAI dalam PSAK No.46 tahun 2009 paragraf 7 perbedaan temporer kena pajak adalah perbedaan temporer yang menimbulkan satu jumlah kena pajak dalam perhitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat asset dipulihkan atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi.

b. Perbedaan sementara yang boleh dikurangkan (deductible temporary differences)

Menurut IAI dalam PSAK No.46 tahun 2009 paragraf 7 perbedaan sementara yang boleh dikurangkan adalah perbedaan sementara yang menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan dalam perhitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat asset dipulihkan atau nilai tercatat kewajiban dilunasi.

(19)

Pasal- pasal yang terkait dengan perbedaan sementara, adalah:

(1). Pasal 6 ayat (1) huruf (h)

(2). Pasal 10 ayat (6)

(3). Pasal 11 dan pasal 11 A

F. Penyebab Perbedaan Antara Laba akuntansi Dan Laba Fiskal

Menurut Resmi (2005) penyebab perbedaan laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal adalah karena terdapat perbedaan pengakuan prinsip; perbedaan metode dan prosedur akuntansi; perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya.

Secara garis besar prinsip dasar akuntansi pajak penghasilan adalah sebagai berikut :

1. Pajak penghasilan tahun berjalan yang kurang bayar atau terutang diakui sebagai Kewajiban Pajak Kini (Hutang Pajak) sedangkan yang lebih dibayar disebut Aktiva Pajak Kini (Piutang Pajak),

2. konsekuensi pajak mendatang yang dapat didistribusikan perbedaan temporer kena pajak diakui Kewajiban Pajak Tangguhan, sedangkan efek perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kerugian belum dikompensasikan diakui Aktiva Pajak Tangguhan,

3. pengukuran kewajiban dan aktiva pajak didasarkan peraturan pajak berlaku.

(20)

Perbedaan metode dan prosedur akuntansi menurut Resmi (2005) adalah:

1. Metode penilaian persediaan. Akuntansi komersial membolehkan memilih beberapa metode penghitungan harga perolehan persediaan.

Sementara itu menurut perpajakan hanya memperbolehkan metode FIFO dan Average untuk penilaian persediaan.

2. Metode penyusutan dan amortisasi. Akuntansi komersial memperbolehkan memilih metode penyusutan seperti metode garis lurus, jumlah angka tahun, saldo menurun, metode jumlah unit produksi dan lainnya. Sementara berdasarkan perpajakan hanya mengakui metode garis lurus dan saldo menurun untuk kelompok harta berwujud jenis non bangunan, sedangkan harta berwujud bangunan dibatasi hanya bisa menggunakan metode garis lurus

G. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual merupakan sistematis dari tinjauan teori dan tinjauan penelitian terdahulu merupakan sistematis dari tinjauan teori dan tinjauan penelitian terdahulu. Variabel perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal merupakan variabel moderasi yang dapat mempengaruhi hubungan variabel dependen dan variabel independen menjadi positif atau negatif.

Variabel laba sebelum pajak saat ini sebagai variabel independen serta variabel laba sebelum pajak yang akan datang sebagai variabel dependen.

Perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal sebagai variabel moderasi dapat mempengaruhi hubungan antara laba akuntansi sebelum pajak saat ini

(21)

terhadap laba akuntansi sebelum pajak periode yang akan datang. Pengaruh yang diberikan dapat memperkuat atau memperlemah hubungan variabel independen terhadap variabel dependen. Persistensi laba akuntansi merupaka suatu ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan laba yang diperoleh sekarang dimasa depan.

Hubungan dengan laba akuntansi sebelum pajak saat ini dan perbedaan dengan laba akuntansi dan laba fiskal terhadap laba akuntansi sebelum pajak periode yang akan datang dapat digambarkan sebagai berikut:

H. Hasil Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan pihak lain yang dapat dipakai sebagai bahan kajian yang berkaitan dengan Persistensi Laba adalah:.

1. Djamaluddin dkk (2008)

Penelitian yang berjudul” Analisis Pengaruh Antara laba Akuntansi dan laba Fiskal Terhadap Persistensi laba, Akrual, dan Variabel Independen (X):

Laba akuntansi sebelum pajak saat ini

Variabel Dependen (Y):

Laba akuntansi sebelum pajak periode yang akan datang

Variabel Moderasi:

Perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal baik perbedaan permanen maupun perbedaan sementara

(22)

Arus Kas Pada perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEJ” yang menggunakan sampe l 20 bank yang terdaftar di BEJ selama periode tahun 2000 sampai tahun 2005, menyimpulkan bahwa:

a) Perusahan dengan large (negative) positive book-tax differences tidak terbukti secara statistik mempunyai persistensi laba akuntansi yang lebih rendah dibanding peruisahan dengan small book-tax differences.

b) Perusahaan dengan large (negative) positive book- tax differences tidak terbukti secara sitatistik mempunyai persistensi komponen akrual lebih rendah dibanding perusahaan dengan small book-tax differences.

Akrual tidak terbukti secara statistik dapat mempengaruhi persistensi laba.

Referensi

Dokumen terkait

DAFTAR JEMAAH BERHAK LUNAS TAHAP I TAHUN 1441H/2020M PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR... ADI

Interaksi lama pengeringan dengan lama perendaman dalam krioprotektan berpengaruh nyata dalam menurunkan kadar air benih.Rataan kadar air benih dari lama

[r]

Selama melakukan kerja praktek saya diberi tugas untuk meracang Flowcart, membuat diagram dan deskripsi usecase, menentukan fungsi apa saja yang akan digunakan

Koefisien korelasi antara lingkar dada dengan bobot badan sapi Bali betina pada poel 1, 2, 3 dan 4 menunjukkan bahwa, lingkar dada pada setiap umur memiliki keeratan

bertindak sebagai K+ntrakt+r yang dalam hal ini disebut sebagai P!"AK K#'(A 'engan ini kedua belah ihak menyatakan untuk saling mengikat diri mengadakan erjanjian

Motivasi kesehatan dengan berendam air Dari wawancara lisan dengan pengunjung, kebanyakan informasi mengenai obyek wisata alam air panas Cangar dikenal juga dengan istilah

Dari analisis data yang peneliti lakukan, terlihat bahwa sebagian kecil anak kelas III Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Lima Puluh Kota yang