1 A. Latar Belakang
Kanker adalah sekelompok besar penyakit yang dapat dimulai di hampir semua organ atau jaringan tubuh ketika sel abnormal tumbuh tak terkendali, melampaui batas biasanya untuk menyerang bagian tubuh yang berdekatan dan/atau menyebar ke organ lain. Kanker merupakan penyebab kematian kedua secara global, terhitung sekitar 9.6 juta kematian, atau satu dari enam kematian, pada tahun 2018. Kanker paru-paru, prostat, kolorektal, lambung dan hati adalah jenis kanker yang paling umum pada pria, sedangkan jenis kanker yang paling umum pada wanita antara lain, payudara, kanker kolorektal, paru-paru, serviks, dan tiroid (WHO, 2018).
Kanker payudara masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan saat ini menjadi penyebab kematian utama pada wanita. Kanker payudara adalah penyakit di mana sel-sel di payudara tumbuh di luar kendali (CDC, 2020).
Kanker payudara menyumbang satu dari 4 kasus kanker dan satu dari 6 kematian akibat kanker, dan menempati urutan pertama penyakit dalam hal insidensi dan mortalitas di sebagian besar negara di seluruh dunia (World Health Organisation, 2018). Berdasarkan data dari International Agency for Research on Cancer (World Health Organisation, 2018), kanker payudara pada wanita adalah kanker yang paling sering terjadi di seluruh dunia (11.7% dari total kasus baru), diikuti oleh kanker paru-paru (11.4%), kanker kolorektal (10.0%), kanker prostat (7.3%), dan kanker perut (5.6%). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2020, menyatakan bahwa kanker payudara menjadi penyakit kanker paling umum di dunia. Data dari WHO (2020) mencatat terdapat 2.3 juta wanita yang didiagnosis dengan kanker payudara dan 685,000 kematian secara global. Hingga akhir tahun 2020, terdapat 7.8 juta wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara dalam 5 tahun terakhir.
Kanker payudara mayoritas terjadi pada wanita dan jumlah kasusnya 100 kali lipat lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria (Siegel et al., 2020). Mayoritas penderita kanker payudara ditemukan pada wanita mendekati usia
menopause dan jarang ditemukan pada wanita dibawah usia 45 tahun. Berdasarkan data epidemiologi, sebesar 50% kanker payudara terjadi pada wanita usia lanjut, 50-69 tahun (Kamińska et al., 2015). Kanker payudara merupakan penyakit yang mayoritas menyerang wanita, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada laki- laki dengan perbandingan 1:100. Penyebab kanker payudara belum diketahui pasti, namun sering dikaitkan dengan hormon reproduksi wanita. Hormon tersebut adalah hormon estrogen yang berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi wanita mulai dari menstruasi pertama hingga menopause (Utami, 2012). Kanker payudara berkembang tidak hanya paparan hormon estrogen melainkan juga didukung dengan adanya faktor risiko lain (Rasjidi, 2007).
Kanker payudara dapat terjadi karena beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar tubuh. Faktor dari dalam yaitu faktor keturunan, dimana mutasi genetik yang diwariskan hanya dengan persentase sebesar kurang dari 10%. Faktor yang sering mempengaruhi terjadinya kanker payudara antara lain faktor lingkungan, faktor reproduksi dan faktor gaya hidup, dimana beberapa diantaranya dapat dimodifikasi (Rojas and Stuckey, 2016). Kejadian kanker payudara meningkat dengan faktor risiko mayoritas disebabkan oleh usia menarche yang muda, usia lanjut pada kehamilan pertama, paritas, lama menyusui dan usia menopause. Faktor risiko lain yang dapat menambah beban kanker payudara adalah obesitas, konsumsi beralkohol dan penggunaan terapi hormon (Howell et al., 2014).
Faktor-faktor risiko tersebut menambah kemungkinan seorang wanita untuk terkena kanker payudara, terutama pada kelompok wanita berisiko tinggi.
Overweight dan obesitas merupakan masalah kesehatan yang umum dan secara global prevalensinya semakin meningkat. Masalah kelebihan berat badan dikaitkan dengan kejadian penyakit tertentu, salah satunya adalah kanker payudara, dan meningkatkan kejadian morboditas serta yang disebabkan oleh overweight dan obesitas. Obesitas didefinisikan sebagai indeks massa tubuh (BMI) ≥ 30 kg/m2, mempengaruhi lebih dari 650 juta orang dewasa di seluruh dunia atau 13% dari populasi dunia. Sedangkan overweight didefinisikan sebagai indeks massa tubuh (BMI) ≥ 25 kg/m2, dimana kasus overweight di dunia tahun 2016 diderita sebanyak 1.9 juta orang dewasa (WHO, 2020). Obesitas adalah masalah kesehatan utama yang sangat penting di negara maju, seperti Amerika Serikat, di mana obesitas
mempengaruhi lebih dari 36% orang dewasa (Ogden et al., 2016). Secara global, overweight dan obesitas menjadi penyumbang sebanyak 120 juta tahun hidup yang disesuaikan dengan kecacatan (DALY) dan 4 juta kematian yang diakibatkan oleh penyebab apa pun (Collaborators GBDO, 2017).
Berdasarkan studi epidemiologi yang telah dilakukan, ditemukan hubungan yang konsisten antara peningkatan indeks massa tubuh dengan perkembangan penyakit kronis diantaranya penyakit hipertensi, diabetes, stroke, kardiovaskular, gangguan musculoskeletal dan berbagai tipe tumor (Iyengar et al., 2013).
Berdasakan hasil penelitian meta-analisis Chan et al (2014) menunjukkan bahwa obesitas menjadi faktor prognostik yang buruk pada kanker payudara, dimana kekambuhan dan kematian akibat kanker payudara meningkat sebesar 30% pada wanita obesitas dibandingkan dengan wanita yang memiliki berat badan normal.
Overweight dan obesitas mempengaruhi kanker payudara dengan berbagai macam mekanisme termasuk peningkatan sintesis estrogen, menyebabkan resistensi insulin dan menghambat sintesis globulin pengikat hormon seks (Arcidiacono et al., 2012).
Indeks Massa Tubuh (IMT) memiliki hubungan beragam dengan risiko kanker payudara yang bervariasi dengan status menopause. Indeks Massa Tubuh menunjukkan hubungan terbalik yang signifikan pada wanita premenopause dan hubungan positif pada wanita pascamenopause terhadap kanker payudara (Friedenreich, 2001). Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Awatef et al. (2011) merupakan penelitian kasus kontrol berbasis rumah sakit dengan tujuan untuk menentukan hubungan IMT dengan kanker payudara pada wanita Tunisia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa IMT yang telah diukur tidak memiliki hubungan dengan risiko kejadian kanker payudara pada wanita premenopause sedangkan pada wanita pascamenopause IMT yang telah diukur memiliki hubungan positif dengan risiko kejadian kanker payudara. Hasil penelitian tersebut serupa dengan hasil penelitian meta-analisis sebanyak 50 studi primer yang dilakukan oleh Cheraghi et al., (2012) menunjukkan bahwa terdapat hubungan terbalik tetapi tidak signifikan antara IMT dan risiko kanker payudara pada wanita premenopause (OR
= 0.93; p= 0.001). Hasil penelitian yang berbeda ditunjukkan pada penelitian Wada et al., (2014), bahwa wanita yang memiliki IMT lebih dari 27 kg/m2 secara
signifikan berhubungan positif dengan kejadian kanker payudara pada wanita premenopause.
Risiko kejadian kanker payudara pada wanita pascamenopause dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hubungan positif yang signifikan. Hasil penelitian Awatef et al (2011) menunjukkan bahwa IMT berhubungan secara positif dengan kejadian kanker payudara, risiko kanker payudara meningkat dengan meningkatnya IMT. Wanita dengan IMT > 27 kg/m2 berisiko 2.08 kali mengalami kanker payudara dibandingkan dengan seorang dan memiliki IMT normal (OR=2.08; 95% CI=1.09-3.94) dan wanita dengan IMT > 31 kg/m2 berisiko 3.81 kali mengalami kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang memiliki IMT normal (OR=3.81; 95% CI=1.02-13.85). Sejalan dengan hasil penelitian kasus kontrol yang dilakukan oleh Gravena et al (2018) menunjukkan bahwa obesitas pada wanita pascamenopause menjadi faktor risiko terjadinya kanker payudara, dimana wanita dengan BMI ≥ 30 kg/m pada pengukuran terbaru saat penelitian lebih berisiko 1.56 kali untuk mengalami kanker payudara. Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa terdapat hubungan positif antara indeks massa tubuh dengan kejadian kanker payudara, baik pada wanita premenopause maupun pascamenopause (Wada et al, 2014).
Berdasarkan latar belakang tersebut, diperlukan penelitian komprehensif dari berbagai penelitian primer tentang overweight dan obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause dan pascamenopause. Data yang didapatkan akan dianalisis menggunakan tinjauan sistematis dan meta-analisis dengan melakukan sistesis hasil studi untuk mengurangi bias.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Berapa besar pengaruh overweight sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause?
2. Berapa besar pengaruh overweight sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause?
3. Berapa besar pengaruh obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause?
4. Berapa besar pengaruh obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengestimasi rata-rata besarnya pengaruh overweight dan obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause dan pascamenopause.
2. Tujuan Khusus
a. Mengestimasi rata-rata besarnya pengaruh overweight sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause.
b. Mengestimasi rata-rata besarnya pengaruh overweight sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause.
c. Mengestimasi rata-rata besarnya pengaruh obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause.
d. Mengestimasi rata-rata besarnya pengaruh obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian meta-analisis ini diharapakan mampu menjadi bahan referensi guna membuat penelitian terkait dengan overweight dan obesitas dengan kejadian kanker payudara pada wanita premenopause dan pascamenopause.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian meta-analisis ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber rujukan dalam memberikan promosi kesehatan tentang overweight dan obesitas sebagai faktor risiko kanker payudara pada wanita premenopause dan pascamenopause.