• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara global sekitar 63% penyebab kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit kronis yang panjang dengan proses penyembuhan atau pengendalian klinis yang umumnya lambat dan mahal. Pola hidup yang tidak sehat seperti diet yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik dan merokok yang dapat meningkatkan prevalensi hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah dan berbagai jenis kanker yang menjadi penyebab terbesar kematian (Kemenkes RI, 2017).

Berdasarkan informasi National Cancer Data Base and the SEER (Surveillance, Epidemiology, and End Results) and SEER-Medicare diperkirakan 14,5 juta orang Amerika dengan riwayat kanker pada 1 Januari 2014 sampai 1 Januari 2024, jumlahnya akan meningkat menjadi hampir 19 juta. Jenis kanker yang paling umum terjadi pada pria adalah kanker prostat (43%), kanker kolorektal (9%), dan melanoma (8%), sedangkan pada wanita adalah kanker payudara (41%), korpus uterus (8%) dan usus besar dan rektum (8%). Sehingga kanker payudara merupakan jenis kanker pertama menyebabkan kematian pada wanita (DeSantis et al., 2014).

Kanker merupakan penyebab kematian kedua dengan jumlah kasus baru 18,1 juta dan 9,6 juta kematian pada tahun 2018. Beban kanker terus meningkat secara global, memberikan tekanan fisik, emosional dan finansial yang luar biasa pada individu, keluarga, komunitas dan sistem kesehatan. Banyak sistem kesehatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah paling tidak siap untuk menangani beban tersebut dan sejumlah besar pasien kanker secara global tidak memiliki akses diagnosis dan pengobatan yang berkualitas (WHO, 2019). Pada tahun 2012 sekitar 1,7 juta kasus baru (25%) dan 0,5 juta kematian akibat kanker (15%). Kanker payudara merupakan diagnosis kanker pada wanita di 140 negara dan penyebab kematian akibat kanker tersering di 101 negara (Stewart dan Wild, 2016).

(2)

2

Berdasarkan data dari International Agency For Research on Cancer dalam Global Cancer Observatory (GCO) pada tahun 2018, jumlah kasus baru kanker payudara 2,1 juta orang (11,6%) dengan jumlah kematian sebesar 626.679 orang (6,6%) diseluruh dunia. Jumlah kasus tertinggi kanker payudara adalah di negara Asia sebanyak 911.014 orang (43,6%) per 100.000 penduduk dengan jumlah kematian 310.577 orang (49,6%) (Globocan Observatory, 2020).

Gambar 1.1 Jumlah Kasus Baru Kanker Di Dunia Tahun 2018. Globocan Observatory. (2020).

Kanker payudara merupakan penyebab kematian pertama pada wanita di banyak negara termasuk Indonesia. Kanker payudara merupakan jenis kanker yang banyak ditemukan oleh wanita di Indonesia dengan jumlah kasus baru sebanyak 58.256 orang (30,9%) dan jumlah kematian sebesar 22.692 orang (11%) (WHO, 2020). Di negara- negara berpenghasilan rendah dan menengah, kejadian ini terus meningkat karena kebanyakan wanita didiagnosis pada stadium lanjut, perubahan pola reproduksi, dan kebiasaan gaya hidup. Hal ini juga disebabkan termasuk kesadaran yang terbatas di pihak masyarakat dan penyedia layanan kesehatan, dan kurangnya akses ke diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu, terjangkau dan efektif. Ada dua strategi deteksi dini kanker payudara adalah diagnosis dini dan skrining. Sehingga deteksi dini sangat diperlukan untuk meningkatkan kelangsungan hidup penyintas kanker payudara (Globocan Observatory, 2020).

(3)

3

Gambar 1.2 Jenis Kanker pada Wanita di Indonesia Tahun 2018. Globocan Observatory. (2020).

Perkembangan dalam diagnosis dan pengobatan kanker sangat berdampak pada kelangsungan hidup penyintas kanker. Istilah “penyintas kanker” merupakan individu yang memiliki riwayat kanker dari saat didiagnosis hingga akhir hidup (American Cancer Society, 2019). Penyintas kanker juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan dalam hidup (Speck et al., 2010). Berdasarkan hasil penelitian Kushi et al (2007) Pathways Study adalah studi tentang kelangsungan hidup kanker payudara yang dapat memberikan pengumpulan data secara langsung dalam beberapa bulan pertama setelah diagnosis dengan fokus pada faktor gaya hidup (misalnya diet, aktivitas fisik dan penggunaan terapi komplementer) dengan tujuan untuk mendaftarkan ribuan wanita dengan memberikan kuesioner. Namun studi ini memiliki keterbatasan seperti lamanya waktu yang bervariasi antara penilaian diet dan diagnosis kanker, bias terkait kelangsungan hidup selektif, dan tidak adanya informasi tentang faktor gaya hidup pasca diagnosis. Tujuan kelangsungan hidup adalah untuk memperkirakan kemungkinan bertahan hidup di dunia di mana kanker yang diteliti adalah satu-satunya kemungkinan penyebab kematian (Lambert et al., 2010). Dengan adanya kemajuan dalam deteksi dan pengobatan dini, jumlah penderita kanker di Amerika Serikat diperkirakan melebihi 12 juta dan terus bertambah terus-menerus, sehingga kira-kira satu dari setiap 25 orang Amerika sekarang adalah penyintas kanker. Ada 3 (tiga) fase untuk bertahan hidup pada

(4)

4

penderita kanker yaitu 1) pengobatan dan pemulihan aktif; 2) hidup setelah pemulihan termasuk orang yang selamat dari penyakit atau yang memiliki penyakit stabil dan 3) kanker stadium lanjut dan akhir hidup (Rock et al., 2012)

Aktivitas fisik merupakan setiap gerakan tubuh yang di hasilkan oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi seperti berjalan kaki, bersepeda, olahraga dan rekreasi. Tujuan melakukan aktivitas fisik adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan satu atau lebih komponen kebugaran jasmani (WHO, 2020).

Pedoman aktivitas fisik 2008 dari United States Department of Health and Human Services merekomendasikan 2,5 jam per minggu (MET-hours/week) intensitas aktivitas sedang hingga tinggi dapat menurunkan risiko semua penyebab kematian penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi, diabetes tipe 2, penambahan berat badan yang berlebihan, jatuh dengan cedera pada orang tua, kanker payudara, usus besar, endometrium, esofagus, ginjal, perut, dan paru-paru. Intensitas aktivitas fisik sering dinyatakan sebagai metabolic equivalents (METs) dan analytic guidelines for international physical activity questionnaires merekomendasikan untuk mendefinisikan aktivitas sedang sebagai 4 MET dan aktivitas tinggi sebagai 8 MET.

Nilai-nilai ini konsisten dengan pedoman aktivitas fisik yang menetapkan 3 hingga 5.9 MET sebagai aktivitas fisik sedang dan ≥ 6 METs sebagai aktivitas fisik yang tinggi (Beasley et al., 2012). MET (Metabolic Equivalent) adalah rasio tingkat energi yang dikeluarkan selama aktivitas dengan tingkat energi yang dikeluarkan saat istirahat. Beberapa aktivitas dengan intensitas sedang (bersepeda, berkebun, jalan cepat, water aerobics) sedangkan aktivitas intensitas tinggi seperti joging/lari, berenang,fast dancing, aerobic dance, bersepeda lebih cepat dari 10 mil per jam dan mendaki bukit (Garcia & Thomson, 2014).

Aktivitas fisik adalah intervensi yang berpotensi menarik yang dapat mengurangi gejala sisa terkait kanker dan membantu pasien kembali ke status kesehatan yang mereka miliki sebelum pengobatan. Aktivitas fisik juga terbukti memiliki efek positif secara klinis pada fungsi fisik dan kualitas hidup pada pasien yang telah menyelesaikan pengobatan kanker seperti kanker payudara, kanker prostat, paru-paru lambung, kolorektal dan lain sebagainya (Fong et al., 2012). Di antara penderita

(5)

5

kanker payudara, aktivitas fisik setelah diagnosis secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko kekambuhan kanker payudara dan kematian spesifik kanker payudara. Dalam studi observasional prospektif telah menunjukkan bahwa penyintas kanker yang aktif secara fisik memiliki risiko kekambuhan kanker yang lebih rendah dan meningkatkan kelangsungan hidup dibandingkan dengan mereka yang tidak aktif.

Beberapa penelitian juga menyebutkan aktivitas fisik dapat meningkatkan kecepatannya penyelesaian kemoterapi. Namun dalam pelaksanaan aktivitas fisik ini harus sesuai dengan kondisi dan keinginan pribadi pasien. Setelah perawatan, program aktivitas fisik secara teratur sangat penting untuk membantu proses pemulihan dan meningkatkan kebugaran Rock et al., 2012.

Laporan dari World Cancer Research Fund (2018) menyebutkan aktivitas fisik yang sesuai akan menciptakan lingkungan metabolisme didalam tubuh yang dapat mengurangi kerentanan terhadap beberapa jenis kanker. Aktivitas fisik terbukti dapat meningkatkan sistem kekebalan/imunitas tubuh, hormonal yang sehat dan dapat mempromosikan pengawasan tumor. Selanjutnya aktivitas fisik juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi kadar insulin yang dapat menurunkan risiko kanker payudara. Oleh karena itu efek aktivitas fisik sangat memberikan keuntungan kepada penderita kanker. Berdasarkan hasil penelitian dari (Blanchard et al., 2008) menyatakan bahwa aktivitas fisik dan nutrisi sangat penting untuk mengurangi kesakitan dan kematian. Aktivitas fisik dapat meningkatkan kelangsungan hidup penyintas kanker dan dapat menurunkan risiko kematian (Ballard-Barbash et al., 2012)

Berdasarkan jumlah kasus baru, jumlah kematian dan hasil dari berbagai penelitian mengatakan bahwa adanya pengaruh aktivitas fisik terhadap kelangsungan hidup penyintas kanker payudara, sehingga mendorong peneliti untuk melakukan meta analisis. Peneliti tertarik untuk menggabungkan dan menganalisis hasil penelitian yang sudah ada dan menarik kesimpulan dari laporan penelitian terdahulu yang membahas aktivitas fisik terhadap keberlangsungan hidup penyintas kanker payudara.

(6)

6 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Apakah ada pengaruh aktivitas fisik terhadap kelangsungan hidup penyintas kanker payudara sebelumnya?

C. Tujuan Penelitian

Mengestimasi besarnya pengaruh aktivitas fisik terhadap kelangsungan hidup penyintas kanker payudara.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Memberikan pengetahuan mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap kelangsungan hidup penyintas kanker payudara yang dapat digunakan sebagai referensi penelitian meta analisis selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Hasil kajian dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber rujukan dalam memberikan informasi dan promosi kesehatan tentang pengaruh aktivitas fisik terhadap kelangsungan hidup penyintas kanker payudara.

Gambar

Gambar  1.1  Jumlah  Kasus  Baru  Kanker  Di  Dunia  Tahun  2018.  Globocan  Observatory
Gambar 1.2 Jenis Kanker pada Wanita di Indonesia Tahun 2018. Globocan  Observatory. (2020)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, keabsahan akta notaris meliputi bentuk isi, kewenangan pejabat yang membuat, serta pembuatannya harus memenuhi

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Hasil penelitian untuk faktor permintaan secara simultan ada pengaruh nyata antara tingkat pendapatan, selera, jumlah tanggungan dan harapan masa yang akan datang

Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak- bercak eritema berbatas tegas, ditutupi oleh skuama yang tebal berlapis-lapis

Hak Cipta dari tulisan yang tertera di bawah ini dialihkan kepada jurnal Buletin Penelitian Kesehatan dan berlaku efektif sejak tulisan diterima untuk dipublikasikan. Pengalihan