• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN BRAND IMAGE, PRESTISE DAN PESAN IKLAN TERHADAP MINAT BELI KOSMETIK WARDAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN BRAND IMAGE, PRESTISE DAN PESAN IKLAN TERHADAP MINAT BELI KOSMETIK WARDAH"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN BRAND IMAGE, PRESTISE DAN PESAN IKLAN TERHADAP MINAT

BELI KOSMETIK WARDAH

Widiyarsih

[email protected] dan De Henovita [email protected]

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Jalan Margonda Raya No. 100. Pondok Cina Depok 16424

Abstark

Industri kosmetik di Indonesia mempunyai prospek yang bagus, kebutuhan masyarakat untuk merawat kulit dan menjaga penampilan semakin meningkat , hal ini menjadi peluang yang besar bagi produsen kosmeti, untuk bisa tetap exis di pasaran maka peran iklan dan mempertahankan brand emage dibutuhkan guna memperkenalkan produk-produk baru dan mempertahankan produk lama tetap dikenal masyaraka . Sampel dari penelitian ini di ambil didaerah Cimanggis Depok selama kurun waktu 3 minggu pada bilan Februari 2020. Metode Statistik yang dipakai untuk mengolah data yaitu regresi linier berganda . Sebagai variabel dependen atau variabel terikat yaitu Minat beli konsumen dan untuk variabel independenya adalah Brand Image dan iklan . Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 23.00 uji t(secara parsial) di peroleh hasil bahwa brand image tidak terdapat peran mempengaruhi minat beli konsumen, sedang iklan terdapat hubungan dan saling mempengaruhi . Secara Silmultan atau Uji F peran Bran image dan iklan terdapat hubungan yang mempengaruhi minat beli konsumen. Kesimpulan yang bisa diambil adalah kelangsungan hidup PT Paragon Tecnology and Inovation. dipengaruhi oleh beberapa faktor , dari semua faktor yang mempengaruhi ternyata peran iklan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan penjualan produk di pasaran.

Kata kunci: Brand Image, Iklan , Kosmetik

1.PENDAHULIAN

Semakin Persaingan bisnis yang ketat membuat para produsen mempertimbangan keinginan dan kebutuhan konsumen untuk bisa bersaing di pasaran dibutuhkan usaha yang gencar , baik saat memperkenalkan produk baru atau mengingatkan produk lama kepada konsumen, untuk itu peran iklan sangat dibutuhkan . Banyak konsumen yang membutuhkan produk sebagai bagian dari hidup meraka , gaya hidup konsumen berbeda-beda , hal ini akan berpengaruh terhadap produk yang di tawarkan dan keputusan membali yang akan dilakukan konsumen.

Merk merupakan faktor penting suatu produk, sebagai pembanding dan tanda antara produk yang satu dengan lainya, walaupun produk tersebet memiliki jenis yang sama konsumen dapat mengidientifikasi perbedaan yang ada dalam produk tersebut. Tuntutan seorang konsumen terhadap produk yang meraka butuhkan membuat produsen

(2)

harus berlomba- lomba untuk memperkenalkan dan mempertahankan citra merk ( brand emage) yang meraka dapatkan. Semakin baik brand emage produk yang meraka tawarkan maka akan memiliki dampak bagi loyalitas konsumen. Setiap konsumen tidak hanya melihat harga sebagai indikator pembelian produk, melainkan kualitas contoh pemakaian dalam membidik melalui iklan hasil dari penngunaan produk tersebut juga brand image di masyarakat .karena konsumen untuk menggunakan produk yang mereka beli akan mempertimbangkan dampak dan maanfaat dari produk yang meraka dapatkan dengan menggunakan produk tersebut. Memiliki brand image yang kuat merupakan kunci salah satu keberhasilan perusahaan dalam mengembangkan usahanya, dibutuhkan waktu yang lama serta kerja keras bagi produsen untuk membangun reputasi dan brand image yang sesuai dengan keinginan konsumen. Dari latar belakang tersebut maka penulis mengambil tema Peran Brand image, Prestise dan Pesan Iklan terhadap minat beli konsumen. Kosmetik Wardah di Cimanggis Depok.

1.1 Rumusan Masalah dan batasan masalah:

Bagaimana peran Brand Image,Prestise dan Pesan Iklan terhadap minat beli konsumen baik secara parsial maupun secara simultan

Dalam penelitian ini dibatasi hanya pengguna kosmetik wardah di daerah Depok Jawa Barat yang sering belanja di gerai Pusat Pembelanjaan Matahari jalan Marggonda Raya maupun Gerai Matahari Cimanggis Jalan Raya Bogor ..

1.2 Obyek Penelitian

Data penelitian mengambil Obyek di gerai Kosmetik Wardah yang berlokasi di Pusat Pembelajaan Matahari jalan Margonda Raya Depok dan Jalan Raya Bogor Cimanggis, dengan menggunakan 100 responden sebagai subyek yang mengisi kuesioner yang dibagikan .

1.3 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang belanja di gerai wardah di jalan raya bogor cimanggis dan gerai di jalan Margonda Depok, Adapun teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling. Teknik pengambilan sampel dalam penulisan ini menggunakan metode Convenience sampling, dimana mengambil sampling tidak ditetapkan lebih dahulu namun langsung mengumpulkan data dari unit sampilng yang ditemuinya. Pengambilan sampel didasarkan bahwa konsumen pernah menggunakan kosmetik wardah.

(3)

1.4 Jenis dan Sumber Data

Dalam penulisan ini data yang digunakan adalah data promer yang diperoleh secara langsung dari responden melalui daftar pertanyaan yang diajukan tentang keputusan pembelian yang menyangkut Brand Image, Prestise dan Ikaln yang digunakan perusahaan kosmetik wardah.

1.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data primer yang digunakan dengan membagikan kuesioner responden yang membeli produk cosmetik wardah di gerai wardah Matahari Jalan Margonda dan Matahari Jalan Raya Bogor.

1.5.1 Teknik Analisis

Alat analisis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variable independent yaitu X1 Brand Image, ,X2 (Prestise) , X3 (Pesan Iklan) dan terhadap minat beli konsumen ( Y ) yang bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara dua atau lebih variabel bebas menggunak regresi linier berganda dengan bantuan peangkat lunak applikasi SPSS :

Dimana: Y : Variabel terikat a : Konstanta b1,b2 : koefisienregresi X1,X2 : Variabel bebas e : Standar error

Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data primer, dimana data diperoleh langsung dari konsumen Kosmetik Wardah di daerah Cimanggis Depok dengan menyebarkan kuesioner. Kuesioner tersebut berisikan daftar pertanyaan mengenai Brand Image, prestise, Pesan Iklan di media elektronik dan Minat Beli .

Untuk menghasilkan suatu model yang baik, analisis regresi memerlukan uji validitas dan reliabilitas serta Uji validitas bertujuan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Menurut Ghozali (2011) suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji signifikasi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel, jika r hitung > r tabel dan bernilai positif, maka variabel tersebut valid sedangkan jika r hitung < r tabel, maka variabel

(4)

tersebut tidak valid. ,Reliabilitas Menurut Ghozali (2011) reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai (α) 0,60.

2. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pemasaran

Pemasaran merupakan faktor kunci keberhasilan produsen dalam mengembagkan usahanya di masyarakat. Pemasaran bukan hanya menjual barang maupun jasa tetapi juga kegiatan untuk memenuhi keinginan ,kebutuhan dan meyakinkan tentang produk tersebut pada konsumen supaya konsumen merasa terpuaskan dengan produk yang dikonsumsi.

Menurut Kotler dan Keller (2009:5) Pemasaran (Marketing) adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial.

Menurut Staton (1996:6) Pemasaran adalahsuatu Sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

2.2. Brand Image

Citra produk merupakan persepsi masya-rakat terhadap produk yang dihasilkan per-usahaan. Citra produk dibangun agar menjadi postitif dimata publik, baik publik yang telah menggunakan produk itu maupun potensial customer yang hendak dibidik agar mengkonsumsi produk tersebut. Manakala citra suatu merek produk telah menancap dalam pikiran konsumen, maka pada saat dia mempunyai rencana untuk membeli barang sejenis produk tersebut , yang pertama kali muncul dalam ingatan adalah merek produk yang sudah tertancap di pikirannya . Sehingga secara reflek mereka membelinya. Produsen sabun menggunakan bin-tang-bintang film terkenal yang cantik untuk mempromosikan produknya. Harapannya adalah publik mempersepsikan sabun pro-duknya dikonsumsi oleh bintang-bintang film itu. produsen jamu menggunakan

(5)

seorang tokoh intelektual terkenal untuk mencitrakan konsumen penggunanya. Produsen pelumas mempergunakan figur pembalap mobil formula sebagai ikon untuk membagun citra produknya. Pada era kompetisi semua perusahaan berlomba-lomba membangun citra produknya. Sekali citra produk mengalami kecelakaan tergelincir jatuh maka diperlukan ‘perjuangan’’ yang jauh lebih mahal untuk mengangkatnya kembali. Kecelakaan bisa disebabkan dari dalam maupun serangan dari luar. Beberapa minggu yang lalu ketika sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) mengeluarkan hasil penelitiannya bahwa banyak minuman isotonik pengganti ion tubuh yang beredar di Indonesia mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan, maka ramai-ramailah perusa-haan penghasil minuman isotonik itu pasang iklan besar-besar di media massa untuk ”mela-wan” dan meyakinkan publik bahwa produk-nya aman untuk dikonsumsi.itra adalah cara masyarakat mempersepsi (memikirkan) perusahaan atau produk. Menurut Kostker Citra dibentuk untuk menguatkan posisi merek di benak konsumenya, karena merek yang kuat afalah kemampuannya untuk menciptakan persepsi konsisten berdasarkan hubunganya dengan pelanggan. Sedangkan citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang tertanam didalam ingatan konsumen.

2.3 . Iklan

Iklan adalah bagian dari bauran promosi, dan bauran promosi adalah bagian dari bauran pemasaran. Secara sederhana iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media . Iklan merupakan suatu pesan persuasif untuk komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk (barang, jasa, atau ide) yang disampaikan melalui media, dibiayai oleh pemrakarsa serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Iklan juga sebagai bentuk komunikasi massa, di mana iklan terjadi bukan melalui proses tatap muka sebagaimana komunikasi interpersonal. Setelah sedikit memahami tentang bagaimana dan sejauhmana efek iklan bekerja, maka pembahasan kali ini seputar iklan yang berguna untuk mempertahankan atau bahkan memperbaiki citra produk. Mengapa hal itu perlu diperhatikan, sebab citra merupakan salah satu faktor keberhasilan sebuah perusahaan yang ingin memasarkan produknya, baik berupa barang maupun jasa. . iklan memang dapat dipakai untuk

(6)

mempertahankan atau memperbaiki citra produk, atau bahkan perusahaan itu sendiri. Tidak hanya sekadar memperkenalkan (launching) produk baru, baik barang maupun jasa. Karena yang melihat citra produk bagus atau tidak bukanlah produsen, tapi justru konsumen atau masyarakat yang menjadi target group (market) produk tersebut. Seandainya sebuah produk baik, maka produsen sudah memiliki satu poin supaya konsumen tertarik membelinya. Kemudian baru pertimbangan harga, perbandingan dengan produk sejenis, manfaat, kemasan dan lain-lain. Namun sebaliknya, jika sebuah produk sudah dicap jelek apalagi “bermasalah,” maka konsumen perlahan-lahan akan menjauhinya. Sehingga jangan kaget jika produk itu tidak laku di pasaran. Di sisi lain, pemasangan iklan sebuah produk hendaknya disesuaikan dengan media massanya. Misal, produk kecantikan dan alat-alat rumah tangga sangat tepat dimuat di majalah khusus wanita. Namun demikian, media massa cetak lokal pun sebenarnya bisa dipakai, tapi dalam salah satu halamannya harus ada berita yang memuat kehidupan atau tren wanita masa kini. Artinya, segmentasi pasar dengan target group yang ingin dicapai oleh produsen.

2.4. Pesan Iklan

Pesan Iklan Dalam dunia periklanan pesan yang disampaikan dalam iklan sangatlah penting dalam pencapaian tujuan iklan yang dimaksud. Pemasang iklan harus memperhitungkan apa yang harus disampaikan agar mendapat tanggapan sesuai dengan yang diinginkan. Pesan iklan adalah apa yang direncanakan perusahaan untuk disampaikan dalam iklannya dan bagaimana perencanaan penyampaian pesan itu secara verbal dan nonverbal” (Sumartono, 2002:14). Sedangkan menurut Bovee (1996: 141) pesan iklan adalah ide atau berita yang dikomunikasikan atau yang disampaikan kepada audiens melalui media iklan. Adapun yang harus diperhatikan dalam penyusunan pesan iklan adalah: si pesan. Komunikator harus memperhitungkan apa yang harus disampaikan kepada khalayak sasaran supaya mendapat tanggapan yang diinginkan. Struktur pesan. Keefektifan suatu pesan tergantung pada struktur dan isinya. Struktur iklan yang baik adalah dapat memberi pernyataan dan membiarkan pembaca dan pemirsa menarik kesimpulan sendiri. Format pesan yang dibuat komunikator harus mencolok. Bila disiarkan melalui televisi maka semua elemen tersebut ditambah dengan bahasa tubuh (isyarat nonverbal) yang direncanakan. , Dampak pesan yang dirasakan oleh khalayak juga dipengaruhi oleh penerimaan khalayak terhadap pengirim pesan.

(7)

2.5 Preatise

Menurut Kuenzel dan Halliday (2008) gengsi adalah peresepsi orang lain, pendapat yang dihargai, dihormati, dikagumi atau terkenal. Sumber gengsi menyebabkan orang untuk mengasosiasikan dirinya dengan merek yang bergengsi untuk meningkatkan harga mereka. Gengsi adalah keadaan dimana seseorang merasa mempunyai kebanggaan tersendiri, pada saat mengkonsumsi barang dan jasa tertentu. Setiap orang yang normal membutuhkan penghargaan diri dan penghargaan dari lingkungannya. Semakin tinggi status dan kedudukan seseorang semakin tinggi pula kebutuhan prestise (gengsi) diri yang bersangkutan (Atmodjo, 2012). Dapat disimpulkan gengsi adalah keadaan dimana seseorang memiliki kebanggaan tersendiri setelah mengonsumsi barang atau jasa tertentu. Dalam penelitian ini mengacu pada definisi yang dipaparkan oleh AtmodjoPrestise adalah sebuah status sosial ,kehormatan dan kedudukan yang dimiliki oleh seseorang didalam kehidupanya yang mana orang tersebut akan memiliki unsur lebih tinggi dari pada orang lain yang ada dilingkungan sekitarnya. Pada umumnya orang yang memiliki prestis dalam kehidupan sosial akan lebih dihormati dan disegani oleh masyarakat disekitarnya dan hal tersebut akan membuatnya menjadi seorang pribadi yang istimewa dan

menonjol diantara banyak orang Jika sebuah merek telah mampu memberikan kepercayaan dan

keahlian kepada konsumen, maka niat pembelian konsumen pun akan tinggi (Wang dan Yang, 2010).

2.6. Keputusan Pembelian

Keputusan Pembelian Menurut Kotler dan Keller (2009) keputusan pembelian konsumen membentuk preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan, konsumen mungkin juga membentuk maksud untuk membeli merek yang paling disukai.Ketika konsumen telah menggunakan sebuah produk, mereka mengevaluasi kinerja didasarkan pada harapan mereka. Ada tiga kemungkinan: pertama jika kinerja sebenarnya sama dengan yang diharapkan maka terjadi neutral feelings, kedua ketika kinerja melebihi harapan menyebabkan kepuasan dan ketiga ketika kinerja dibawah harapan terjadi ketidakpuasan (Schiffman & Kanuk, 2007). Perasaan-perasaan itu akan membedakan apakah konsumen akan membeli kembali produk tersebut dan membicarakan hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan tentang produk tersebut kepada orang lain (Kotler, 2003). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah keputusan untuk membeli merek yang paling disukai. Dalam penelitia

(8)

3. Analisis Data

3.1 Skala Likert

Pertanyaan-pertanyaan pada angket dibuat dengan skalata Likert, Pertanyaan dalam skala likert ini menggunakan 5 katagori respon yang berkisar anatara “ Sangat setuju dan Sangat Tidak Setuju”.Skala 1-5 untuk memperoleh data yang bersifat numerical dan diberi skor atau nilai.

Table 3.1 Skala Lokert

NO. Jenis Jawaban Bobot

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 Ragu-ragu (R) 3

4 Tidak Setuju (ST) 2

5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Angaka 1 menunjukan jawaban yang negatif ( sangat tidak setuju)terhadap pertanyaan yang diajukan sedang angka 5 menunjukan tanggapan yang positif ( Sangat Setuju)

3.2 Karateristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi usia, pekerjaan, pendapatan dari setiap respoden. Karakteristik responden didapatkan dari hasil pengisian kuesioner dari 100 responden yang merupakan konsumen kosmetik wardah di Cimanggis Depok. Informasi karakteristik responden yang diperoleh adalah sebagai berikut:

(9)

Tabel.3.2 Karateristik Responden

Indikator Frekuensi Presentase

Usia 18-20 ahun 21 21% >20 Tahun 79 79% Total 100 100% Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa 29 29% Pegawe Negeri 22 22% Pegawe Swasta 25 23% Wiraswasta 10 10% Lain-lain 14 14% Total 100 100% Tingkat Pendapatan < Rp 1.800.000 30 30%% Rp 1800.000- 2.000.000 25 25% Rp. 2.000.000-4000.000 13 13% Rp 4000000- Rp 5000000 13 13% >Rp 5000.000 19 19% Total 100 100%

data Primer, 2020 Sumber: Hasil Pengolahan

3.3. Uji Validitas

Uji validitas adalah uji ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukut apa yang ingin diukur. Teknik pengujian yang sering digunakan untuk uji validitas adalah menggunakan korelasi Bivariate pearson ( Produk momen Person). Bivariate pearsonadalah analisis yang mengkorelasi masing-masing skor item dengan skor total .

Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir pertanyaan dalam mendefinisikan suatu daftar variabel.Suatu pertanyaan dikatakan valid jika ada kesamaan antara yang terkumpul dengan data sesungguhnya yang terjadi pada obyek peneliatian.

(10)

Tabel 3.3. Uji Validitas

Variable Indikator Corrected

Item-Alpha Total

Correlation

Croncbach;S A Keterangan

Brand Image Brand image 1 .317 .809 Valid

Brand image 2 .349 .807 Valid

Brand image 3 .428 .803 Valid

Brand image 4 .139 .818 Valid

Brand image 5 .369 .806 Valid

Prestise Prestise1 .507 .798 Valid

Prestise2 .355 .807 Valid

Prestise3 .267 .811 Valid

Prestise4 .498 .801 Valid

Prestise5 -426 .803 Valid

Pesan Iklan Iklan 1 .531 .796 Valid

Iklan 2 .551 .796 Valid

Iklan 3 .469 .800 Valid

Iklan 4 .480 .799 Valid

Iklan 5 .434 .803 Valid

Minat Beli Minat Beli 1 .351 .803 Valid

Minat Beli 2 .337 .807 Valid

Minat Beli 3 .362 .808 Valid

Minat Beli 4 .337 .806 Valid

Minat Beli 5 .113 .819 Valid

Sumber SPSS 23, 2020

Berdasarkan tabel 3.2 hasil pengolahan data pada tabel diketahui bahwa seluruh pernyataan telah valid, karena dengan menggunakan persyaratan minimal r- hitung > r – tabel. Diketahui r tabel sebesar 0,1996 diambil dari:

(11)

a. Tingkat siknifikan sebesar 0,05

b. Derajat kebebasan (df) = n-3 = 80-3 = 77 didapat r tabel 0,1996 (( nilai r tabel uji dari dua sisi)dimana n adalah jumlah sampel

c. Jika r hitung positif dan r hitung > dari r tabel maka variabel tersebut valid

3.4. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Menurut Ghozali (2013 suatu penelitian dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan sejalan atau stabil dari waktu ke waktu

Uji reliablitas merupakan tingkat kehandlan suatu instrumen penelitian. Pengujian reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan Cronbach’S Alpha. Hasil pengolahan data untuk uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4. Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach’S Alpha N of Items .813 20 Sumber SPSS 23, 2020

Berdasarkan Tabel 3.4 menunjukan bahwa setiap variabel atau keseluruhan di atas memiliki nilai Cronbach’S Alpha >0,60, Jadi dapat disimpilkan bahwa alat ukur atau kuesioner dalam penelitian ini reliabel.

3.5. Uji Multikoliniaritas

Pada dasarnya model persamaan linier berganda dengan menggunakan dua variabel bebeas atau lebih, hampir selalu terdapat kolinier ganda. Uji Multikolinearitas dimaksudkan untuk mengetahui adanya hubungan yang sempurna antara variabel bebas dalam model regresi.

Apa bula terjadi Multikoliniaritas maka variabel bebas yang berkolonier dapat dihilangkan untuk mengetahui ada tidaknya Multikolinier menurut perhitungan yang dilakukan dengan program SPSS dapat diketahui dengan berpedoman bahwa nilai VIF < 10 dan Tilerance > 0,1. Hasil pengolahan data dengan menggunakan program SPSS untuk Uji Multikoliniaritas selengkapnya ada pada lampiran dan selanjutnya dijelaskan pada tabel 3.5 berikut ini:

(12)

Tabel 3.5. Uji Multikoliniaritas

Model Sig. Collinearity Statistics

Tolerance VIF 1 Constanta 000 Brand Imade .652 .689 1.451 Prastise .342 .936 1.068 PesanIklan .014 .682 1.467 Sumber SPSS 23, 2020

Berdasarkan tabel 3.5 menunjukan bahwa nilai toleransi dan nilai VIF semua variabel memiliki nilai diatas 0,1 untuk toleransi dan nilai VIF di bawah 10 , maka model regresi pada penelitian ini dinyatakan bebas dari multikoliniaritas

3.6. Regresi Linier Berganda

Dalam penulisan ini kegunaan analisis regresi linier berganda adalah untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent.

Tabel.3.6. Regresi Linier Berganda

Model Unstandardized Coeficients standardized Coeficients t Sig. B Std.Error Beta 1 (Constant) 12.609 2.356 .5.351 .000 Brand Image .102 .106 .096 .957 .341 Prastise .-050 .111 .-053 .-453 .652 Pesan Iklan .255 .102 .295 .2.510 .014 Sumber SPSS 23, 2020

Berdasarkan tabel 3.6 menunjukan persamaan:

Y = 12.6096α+0,102X1-m,050X2 + 0,255X3

- Nilai konstanta (a) sebesar 12.609 artinya Jika variabel Brand Image X1, Prestise, X2, Pesan Iklan X3 maka variabel minat beli konsumen ( Y ) bernilai positif yakni sebesar 12.609.

(13)

- Nilai koefisian regresi Brand Image ((X1) sebesar 0,102 artinya, setiap kenaikan sebesar 1 satuan maka variabel Brand Image akan mengalami kenaikan sebesar 0,102 dengan asumsi variabel independent lain bernilai teteap.

- Nilai koefisian regresi Prestise ((X2) sebesar -0.050 artinya, setiap kenaikan sebesar 1 satuan maka variabel prestase akan mengalami penurunan sebesar 0,050 dengan asumsi variabel independent lain bernilai teteap.

- Nilai koefisian Peran Iklan ((X3) sebesar 0,255 artinya, setiap kenaikan sebesar 1 satuan maka variabel Peran Iklan akan mengalami kenaikan sebesar 0,255 dengan asumsi variabel independent lain bernilai teteap.

3.7. Uji t(Parsial)

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi hubungan antara variabel independent dan variabel dependent, apakah variabel Brand Image, Prestise dan Pesan Iklan berpengaruh terhadap variabel dependent ( Minat beli) secara parsial. Berikut merupakan hasil uji parsial:

Tabel.3.7. Uji t (Parsial)

Model Unstandardized Coeficients standardized Coeficients t Sig. B Std. error Beta 1 (Constanta) 12.609 2.356 5.351 .000 Brand Image .102 .106 .096 .957 .341 Prestase .-050 .111 -.053 -.453 -652 Pesan Iklan .255 .102 .295 .2.510 .014 Sumber SPSS 23, 2020 Dimana : - 1 Lavel of significant (α ) = 5% --- 0,05 - Derajat Bebas (df) = n – k – 1 - T tabel = 100 – 3 – 1 = 96 = 1,66088

(14)

Penjelasan pada tabel 3.7 sebagai berikut:

1. Nilai t hitung variabel brand image sebesar 0,957 dan nilai t tabel pada tingkat signifikan α = 5% (0,05) dengan df = n-k-1 atau df = 100-3-1 = 96 (n adalah jumlah responden dan k adalah jumlah variabel bebas) maka hasil yang diperoleh untuk thitung < dari t tabel ( 0,957 < 1,66088) dan nilai siknifikan > 0,05 (0,341> 0,05) maka kesimpulanya secara parsial Bran Image tidak berperan dalam mempengaruhi keputusan minat beli konsumen.

2. Nilai t hitung variabel Prastise sebesar-0,453 dan nilai t tabel pada tingkat signifikan α = 5% (0,05) dengan df = n-k-1 atau df = 100-3-1 = 96 (n adalah jumlah responden dan k adalah jumlah variabel bebas) maka hasil yang diperoleh untuk thitung < dari t tabel ( -0.453 < 1,66088) dan nilai siknifikan > 0,05 (0,6521> 0,05) maka kesimpulanya secara parsial Prestise tidak berperan dalam mempengaruhi keputusan minat beli konsumen.

3. Nilai t hitung variabel Iklan sebesar 2,510 dan nilai t tabel pada tingkat signifikan α = 5% (0,05) dengan df = n-k-1 atau df = 100-3-1 = 96 (n adalah jumlah responden dan k adalah jumlah variabel bebas) maka hasil yang diperoleh untuk thitung < dari t tabel ( 2,510 > 1,66088) dan nilai siknifikan < 0,05 (0,014< 0,05) maka kesimpulanya secara parsial Iklan berperan dalam mempengaruhi keputusan minat beli konsumen.

3.8 . Uji F(Uji Statistik secara Simultan)

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independent secara bersama-sama (simultan) dapat berpengaruh terhadap variabel dependent. Hasil uji simultan dapat berpengaruh terhadap variabel dependent . Hasil Uji F disajikan pada tabel 3.8 sebagai berikut:

Tabel 3.8 Uji F ( Uji statistik secara simultan)

Model Sum of Squares df Mean of squari F Sig 1 Regresion 74.761 3 24.920 3.290 .024 Residual 727.239 96 7.575 Total 802.000 99 Sumber SPSS 23, 2020

(15)

Dimana :

- Lavel of signifikan α = 5% (0,05) - Derajat bebas (df1) = 3

- Derajat bebas (df2) = n-k = 100-3 = 97

- Ftabel = 2,70

Berdasarkan Tabel 3.8 Menunjukan bahwa nilai F hitung sebesar 3,290. dan nilai F tabel pada tingkat signifikan α = 5% (0,05 dari hasil perhitunngan yang diperolah Ftabel < dari Fhitung yaitu (2,70 < 3,290) dan nilai signifikan < 0,05 ( 0,024 <0,05), maka kesimpulan yang bisa diambil semua variabel independen secara bersama sama berperan mempengaruhi yang signifikan terhadap variabel dependen.

3.9 Uji Koefisien determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independent menjelaskan variabel dependent. Kelemahan mendasar dalam penggunaan koefisien determinasi adalah jumlah variabel independent yang dimasukan model. Setiap tambahan variabel independent , maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara siknifikan terhadap variabel dependent. Oleh karena itu banyak peneliti yang menganjurkan untuk menggunakan nilai R2 pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti nilai R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independent ditambahkan ke dalam model.Untuk melihat besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, salah satu indikator yang dapat digunakan adalah nilai beta (Standardized Coefficient) yang terdapat pada tabel “Coefficient” angka ini dapat menunjukan besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Hasil uji koefisien determinasi (R2)dapat disajikan pada tabel 3.9 sebagai berikut:

Tabel 3.9. Uji Koefisien determinasi (R2)

Model R R Square Adjusted R

Square

Std.error of the Estimate

1 .305 .093 .065 2.752

(16)

a. Predictor : (Constant) Brand Image , Iklan b. Dependent Variabel Minat Beli

Berdasarkan Tabel 3.9 nilai Adjusted R Square sebesar 0,065 (6,5%) Hasil ini Menunjukan bahwa variabel independen yaitu Brand image, Prestise dan Pesan Iklan mempunyai peranan dalam mempengaruhi minat beli konsumen sebesar 6,5% sedangkan sisanya (100%-6,5%) = 93,5% dipengaruhi variabel lain yang tidak di jelaskan dalam penelitian ini.

4. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian terhadap konsumen pengguna kosmetik wardah di daerah Cimanggis Depok Secara parsial menunjukan bahwa Brand Image tidak berberan dalam mempengaruhi minat beli konsumen, Prestise tidak berperan mempengaruhi terhadap minat beli konsumen sedang Pesan iklan ada peran dalam mempengaruhi minat beli para pengguna kosmetik wardah.

Secara simultan variabel brand image dan iklan mempunya peran dalam mempengaruhi minat beli para pengguna kosmetik wardah.

Referensi

Albert Kurniawan, SE.210. Belajar Mudah SPSS untuk Pemula. Yogyakarta: Mediakom Alvina, Eko S. 2017, Pengaruh Gaya Hidup Prestise dan Kelompok Referensi terhadap

Keputusan Pembelian, Prosiding “Perkembangan Konsep dan Riset E-Business di Indonesia. ISBN: 978-602-361-067-9

Basuswasta dan Hani Handoko.2011. Manajemen Pemasaran – Analisis Perilaku Konsumen. Yogyakarta : BPFE.

Ghozali, Imam.2013 Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 PLS Regresi. Semarang : Badan penerbit Universitas Diponegoro

Kotler, Philip.2005 Manajemen Pemasaran di Indonesia Terjemahan Susanto, AB buku ke .2 Jakarta: Penerbit SalembaEmpat.

(17)

Kuenzel, S dan Halliday, S.V. 2008. Investigating Antecendents and Consequences of Brand

Identification. Journal of Product and Brand Management, Vol. 17, No. 5

Rahmat S, 2017 Pesan Iklan dalam Membangun Merek. Journal Bisnis Terapan, Volume 01, Nomor 01, Juni 2017

Gambar

Table 3.1 Skala Lokert
Tabel 3.3. Uji Validitas  Variable   Indikator  Corrected
Tabel 3.5. Uji Multikoliniaritas
Tabel 3.8 Uji F ( Uji statistik secara simultan)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan berdasarkan uji Determinasi, ternyata pengaruh antara iklan brand positioning Axe Apollo di RCTI terhadap minat beli mahasiswa FISIP USU

Upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan Telkomsel pada produk Simpati Loop dengan memberikan Iklan, Brand Trust dan Brand Image, tentunya berujung pada minat beli

Untuk melihat pengaruh variabel iklan dan brand image sirup bunga padi 168 terhadap minat beli konsumen secara bersama-sama dapat dilihat dari hasil statistik

Dengan demikian pada hipotesis keempat yang berbunyi “terdapat pengaruh antara brand image (X1), kualitas produk (X2) dan jingle iklan (X3) terhadap keputusan pembelian Produk Sari

Penelitian ini membahas pengaruh dua variabel bebas yaitu Attention (X1), Interest (X2), Desire (X3), dan Action (X4) terhadap satu variabel terikat yaitu minat beli

Celebrity Endorser tidak berpengaruh terhadap minat beli Wardah kosmetik. Yang berarti hipotesis di tolak. Citra Merek berpengaruh terhadap minat beli wardah

Variabel X1 yaitu iklan produk dan Variabel X2 yaitu kualitas produk dapat disimpulkan bahwa berpengaruh positif secara simultan iklan dan kualitas produk terhadap minat

Tabel 1 Komunalitas Variabel Variabel Communality Servicescape X1 0,816 Pesan Kampanye X2 0,733 Kualitas Produk Kopi X3 0,722 Minat Beli Ulang Y 0,761 Sumber: data olahan