SKRIPSI
oleh :
RATIH ARDILLA KUSUMAHSARI
NPM. 0843010119
YAYASAN KESEJ AHTERAAN DAN PERUMAHAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN ” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
SURABAYA
Ver si “Go A Head Car i Muka” di media billboar d)
Disusun Oleh :
Ratih Ar dilla Kusumahsar i NPM. 0843010119
Telah disetujui untuk mengik uti Ujian Skr ipsi
Menyetujui,
PEMBIMBING
Dr a. Dyva Clar etta, M. Si NPT. 366019400251
Mengetahui,
DEKAN
Disusun Oleh : Ratih Ar dilla Kusumahsar i
NPM. 0843010119
Telah diper tahankan dihadapan dan diter ima oleh Tim Penguji Skr ipsi Pr ogram Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Univer sita s Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur Pada tanggal 13 J uni 2012
PEMBIMBING TIM PENGUJ I :.
1. Ketua
Dr a. Dyva Clar etta, M. Si Ir . H. Didiek Tranggono, M. Si
NPT. 366019400251 NIP. 195812251990011001
2. Seker tar is
Dr a. Her lina Suksmawati, M. Si NIP. 196412251993092001
3. Anggota
Dr a. Dyva Cla r etta, M. Si NPT. 366019400251
Mengetahui, DEKAN
dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul :
“REPRESENTASI AMBISI DALAM IKLAN A MILD” (Studi Semiotik
Tentang Repr esentasi Ambisi Pada Ik lan A Mild Ver si “Go A Head Car i
Muka” di media billboar d).
Penulis akui bahwa kesulitan selalu ada di setiap proses pembuatan skripsi
ini, tetapi faktor kesulitan itu lebih banyak datang dari diri sendiri. Semua proses
kelancaran pada saat pembuatan skripsi penelitian tidak lepas dari segala bantuan
dari berbagai pihak yang sengaja maupun tak sengaja telah memberikan
sumbangsihnya.
Selama melakukan penulisan penelitian ini, tak lupa penulis
menyampaikan rasa terima kasih pada Ibu Dra. Dyva Claretta M.Si selaku Dosen
Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan,
nasehat serta motivasi kepada penulis selama menyelesaikan proposal skripsi ini.
Dan penulis juga banyak menerima bantuan dari berbagai pihak, baik itu
berupa moril, spiritual maupun materil. Untuk itu penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Allah SWT. Karena telah melimpahkan segala karuniaNya, sehingga penulis
mendapatkan kemudahan selama proses penulisan proposal skripsi ini.
FISIP UPN “Veteran” Jatim.
5. Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, M.si seabagai sekretaris Program Studi Ilmu
Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jatim.
6. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi beserta staff karyawan
FISIP UPN “Veteran” Jatim.
Serta tak lupa penulis memberikan rasa terima kasih secara khusus kepada:
1. Papaku Dedih SP, mamaku Rusilaningsih, kakakku Gilang Aditiya dan
adikku Elsa Ayu M yang telah mendukung dan membimbing dengan penuh
kasih sayang serta perhatiannya secara moril maupun materil, dan juga atas
do’a yang tak henti-hentinya beliau haturkan untuk penulis.
2. Keluarga besar Jabar dan Jatim, walaupun sering roaming dalam
berkomunikasi, terimakasih telah mendukung dan membimbing dengan
penuh kasih sayang serta perhatian yang penuh dan juga atas do’a yang tak
henti-hentinya beliau haturkan untuk penulis.
3. Buat gank huru-hara Lisa, Angel, Rani, Burky, Maria, Aridah, Citra,
terimakasih untuk semuanya. Kita benar-benar mengawali pertemuan
pertemanan kita dengan kekurangan kita untuk saling melengkapi. Semua
pertengkaran kita, awal kita untuk saling memahami satu per satu, bukan
yang menjadikan kita semakin jauh ataupun mantan teman. Kalian teman
4. Buat dulur X-Phose terima kasih atas pembelajaran akan kekeluargaan yang
seru dan pelajaran membidiknya, penulis jadi bisa mengeksplorasikan
pemikiran penulis ke sebuah karya seni tanpa batas.
5. Seluruh teman-teman Ilmu Komunikasi juga kakak-kakak kelas, semua
teman-teman kampus FISIP, KKN kel.7 D’Anarchy Team, teman cangkruk
di lumpia, yang telah membantu serta membimbing penulis selama ini.
6. Seluruh teman-teman ku, dulur TK Aisyiyah Bustanul Athfal REWWIN
angkatan 1994, dulur SDN Wedoro I Waru angkatan 1996, dulur SMPN 2
Waru angkatan 2002, dulur SMA Hangtuah 2 Sidoarjo angkatan 2005, serta
teman-teman rumah REWWIN, terima kasih sudah menemani kembang
kuncup pertemanan penulis dan menjadikan penulis diri yang lebih dewasa.
7. Seluruh pihak yang tak dapat penulis sebutkan atas keterbatasan halaman
ini, untuk segala bantuan yang diberikan, penulis ucapkan terimakasih.
Penulis menyadari bahwa penulisan proposal skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah
dibutuhkan guna memperbaiki kekurangan yang ada.
Akhir kata semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca,
khususnya teman-teman di Jurusan Ilmu Komunikasi.
Surabaya, 14 Mei 2012
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI ... ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRAKSI ... x
BAB I. PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...9
1.3 Tujuan Penelitian ……….…..……….. 9
1.4 Manfaat Penelitian ……….….……...……….. 9
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ...11
2.1 Landasan Teori ………...11
2.1.1 Iklan Media Cetak ...……...…...………11
2.1.2 Billboard Sebagai Media Iklan ...…………...…..12
2.1.3 Komunikasi Nonverbal ...13
2.1.4 Komunikasi Interpesonal ... 19
2.1.6 Definisi Remaja ………... 28
2.1.6.1 Tahap – Tahap Perkembangan Remaja ... 29
2.1.6.2 Ciri-Ciri Masa remaja ... 30
2.1.6.3 Berpikir Kritis ... 32
2.1.6.4 Karakteristik Remaja ... 34
2.1.6.5 Eksistensi Diri ... 34
2.1.7 Makna Denotatif dan Konotatif ………...… 36
2.1.8 Persepsi ………... 37
2.1.9 Representasi ………...…. 38
2.1.10 Pendekatan Semiotik ………..………... 40
2.1.11 Model Semiotika Charles S. Peirce ………..………. 42
2.1.12 Pemaknaan Warna ………..………... 45
2.2. Kerangka Berpikir ... 46
BAB III. METODE PENELITIAN... 49
3.1 Metode Penelitian …………...…………... 49
3.2. Corpus ... 50
3.3Unit Analisis ... 51
3.4Teknik Pengumpulan Data ... 52
3.5Teknik Analisis Data ... 53
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 56
Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data 4.1 Rokok A Mild ... 56
4.2 Penyajian Data ... 61
4.3 Ikon, Indeks, dan Simbol ... 61
4.4 Analisis Iklan A Mild Versi GO A Head Cari Muka ... 64
4.4.1 Ikon ... 65
4.4.2 Indeks ... 66
4.4.3 Simbol ... 67
4.5 Makna Keseluruhan Pada Iklan A Mild Versi Go A Head Cari Muka ... 67
4.6 Interpretasi Keseluruhan Iklan A Mild Versi Go A Head Cari Muka ... 69
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 77
5.1 Kesimpulan ... 77
5.2 Saran ... 78
Daftar Pustaka ... 79
Tujuan dari penelitian ini adalah agar bisa mengerti penggambaran tentang suatu ambisi dalam iklan A Mild ini bersifat positif. Iklan tersebut menunjukan bahwa pengguna rokok tersebut / konsumen tersebut dapat membantu mengeluarkan ambisi yang bersifat positif.
Teori yang digunakan adalah iklan media cetak, billboard sebagai media iklan, makna denotatif dan konotatif, ambisi, representasi, pemaknaan warna, serta model semiotika Charles S. Peirce.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan semiotik. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar.
Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan konsep tanda yang membagi tanda menjadi tiga kategori, yaitu ikon, indeks, dan simbol serta dengan menggunakan konsep triangle meaning. Dari hasil pemaknaan tanda-tanda tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ikon, indeks, dan simbol dalam penelitian ini saling berhubungan atau terkait. Dan dari hasil pemaknaan tanda-tanda tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan adanya sebuah representasi mengenai ambisi berdasarkan pemaknaan tanda-tanda yang ada, yaitu ekspresi wajah yang merupakan penggambaran suatu emosi untuk menunjukkan eksistensi dirinya melalui suatu ambisi dan diperkuat dengan kata “Cari Muka” yang terdapat dipojok kanan atas gambar iklan.
Kata kunci : Representasi Ambisi, Semiotik Charles Sanders Pierce, Iklan
ABSTRACT
RATIH ARDILLA KUSUMAHSARI, REPRESENTATION OF AMBITION IN A MILD ADVERTISING GO AHED TRYING TO LOOK GOOD VERSION (Semiotic Studies of Representation of Ambition in A Mild Advertising “Go Ahead Trying To Look Good” Version on A Billboard).
The purpose of this research was to determine the representation of ambition in an advertising of A Mild has a positive meaning. It wants to show that the consumer can expressing positive ambition.
Theory used in this study is printed advertising, billboard as the media, denotative and conotative meaning, ambition, representation, the meaning of colors and Charles S. Pierce’s semiotic models.
The method that used in this research is a qualitative descriptive method by using semiotic analysis. Data analysis in this research is descriptive method and contains words and picture.
1.1Latar Belakang Masalah
Pada masa yang sedang berkembang teknologinya seperti saat ini
kebutuhan manusia semakin bertambah seiring dengan kemajuan tegnologi yang
dapat menunjang kemajuan dibidang lainnya, yang salah satunya adalah bidang
komunikasi. Dalam kegiatan sehari-hari manusia tidak lepas dari kegiatan
komunikasi, kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan secara tatap muka namun ada
juga kegiatan komunikasi yang membutuhkan alat bantu media untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan, atau penyampaian
informasi kepada masyarakat luas. Media yang menyadiakan jasa dalam
penyampaian pesan pada khalayak disebut media massa.
Didalam penyampaian informasinya, media mempunyai cara pengemasan
yang beragam yang disesuaikan dengan khalayaknya, orientasi internal dari media
itu sendiri dan banyak faktor-faktor kepentingan yang lain. Kegiatan komunikasi
massa ini yang dilakukan secara rutin dan konstan bukan hanya bersifat
normative, yaitu agar orang lain jadi tahu dan mengerti, tetapi juga mengandung
unsur persuasi agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan
atau juga melakukan suatu perbuatan. Saat ini iklan sudah menjadi sarana bagi
kebanyakan pengusaha yang memiliki anggaran besar untuk kegiatan promosi
sebagai cara untuk mendongkrak penjualan produknya. Iklan tersebut
elektronik. Para pemasang iklan tentunya berlomba-lomba untuk dapat
menampilkan iklan semenarik mungkin agar selalu dapat diingat oleh
konsumennya.
Kehadiran media massa adalah suatu gejala yang menandai kehidupaan
masyarakat modern. Memasuki penghujung dasarwasa 1990-an masyarakat
seolah-olah diserbu disetiap pemburu waktu oleh berita, hiburan atau informasi
mengalir begitu saja dari berbagai media massa yang ada. Mulai dari media
elektronik seperti televise, radio, bahkan internet dan media komunikasi. Maka
hampir tiada waktu tanpa kehadiran informasi. Perkembangan teknologi
komunikasi yang sedemikian canggihnya dalam penggunaan teknologi dan system
elektronik modern, membuat semakin terbukanya saluran komunikasi dalam
masyarakat yang akhirnya menggiring massyarkat kea abad informasi dan
teknologi.
Komunikasi massa (mass comunication) adalah komunikasi yang
menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah, baliho, billboard,
poster pamphlet, dan tabloid) atau elektronik (radi, televise, dan internet) yang
dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang tersebar dibanyak tempat, anonym,
heterogen. (Mulyana, 2003:75).
Di Indonesia, masyarakat periklanan Indonesia mengartikan iklan sebagai
segala bentuk pesan tentang produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu media
dan ditujukan pada sebagian atau seluruh masyarakat (Widyatama, 2005:16).
Menurut Suhadang (2005:13) periklanan adalah suatu proses komunikasi massa
membayar jasa sebuah media massa atas penyiaran iklannya. Adapun iklan itu
sendiri biasanya dibuat atas pesanan si pemasang oleh sebuah agen atau biro iklan,
atau bias saja oleh Humas lembaga pemasangan iklan itu sendiri. Bisa
disimpulkan bawha periklanan adalah kegiatan untuk mengkomunikasikan
informasi tentang suatu produk atau jasa kepada khalayak luas.
Tujuan dari periklanan adalah untuk membujuk konsumen untuk
melakukan sesuatu, biasanya untuk membeli sebuah produk. Agar iklan dapat
menarik dan berkomunikasi dengan khalayaknya dalam cara tertentu sehingga
membuahkan hasil yang diinginkan, pengiklan harus memahami khalayak
mereka. Mereka harus mengakrabkan diri dengan cara berfikir konsumen, dengan
factor-faktor yang memotivasi mereka, serta lingkungan dimana mereka hidup
(Lee&Johson, 2004:108). Jadi yang diutamakan bukan hanya bagaimana pesan
dari iklan tersebut dapat menarik minat konsumen, tapi bagaimana pesan dari
iklan tersebut dapat tepat sasaran dan meningkatkan penjualan produk.
Dalam komunikasi periklanan, yang digunakan bukan hanya bahasa
sebagai alatnya, tetapi juga alat komunikasi lainya seperti gambar, warna, dan
bunyi. Sering juga kita jumpai dalam mengiklankan suatu produk, produk tersebut
tidak ditampilkan secara langsung, daya tarik iklannya ditampilkan hanya melalui
logo dari produk tersebut, warna-warna beserta kalimat pesan yang mengandung
makna konotatif.
Dalam dunia periklanan sendiri ada tiga produk yang selalu menimbulkan
kontroversi yaitu, alcohol, rokok, dan kondom. Karena itu dibuatlah
produk rokok dengan bahasa simboliknya mengajak audience untuk bermimpi, melayang, dan membayangkan suatu kesenangan atau kenikmatan yang pada
akhirnya mau mengkonsumsi produk yang ditawarkan
(http://puslit.petra.ac.id/journals/desaign/). Oleh karena itu sebuah iklan rokok
hanya boleh menampilkan image atau citra dari produk tanpa ada perwujudan dari
produk tersebut. Hal ini membuat iklan produk mereka kepada khalayak luas.
A Mild adalah salah satu brand rokok yang di produksi oleh PT. HM Sampoerna. PT. HM Sampoerna, Tbk sebagai perusahaan yang memproduksi
pertama kali di bangun oleh keluarga sampoerna secara turun memurun.
Kesuksesan diawali dari perintisan bisnis oleh Liem Seeng Tee, dilanjutkan
dengan kesuksesan Liem Swie Ling membangun pondasi bisnis yang kokoh, lalu
diteruskan hingga kini oleh putra Sampoerna dan Michael Joseph Sampoerna,
Putranya bersma produk-produk andalanya seperti Dji Sam Soe, Sampoerna
Hijau, dan Sampoerna A Mild. Perusahaan ini sebenarnya telah menjadi salah satu
perusahaan yang paling kokoh di dunia usaha Indonesia. Dengan demikian ketika
awal Maret 2005 ini diumumkan akuisisi Philip Moris International, produsen
Malioboro, atas PT. HM. Sampoerna, maka menjadi wajar jika ada yang
mempertanyakannya kemampuan produk-produk Sampoerna bertahan dijalur
rokok yang memiliki brand image sebagai Indonesia.
Penggarapan atas iklan tersebut tetap dipercayakan pada agency periklanan di
Jakarta, Ogilvy & ditangani oleh Bob Krabbe dari RT Film dengan menggunakan
teknologi modern dan animasi terbaru dan tim produksi Indonesia, yang
berpengalaman (http://www.prospek.biz/indexphp 05 Mei 2010) “Sama halnya
dengan produk yang ditawarkan, iklan A Mild selama ini juga menjadi trend setter
dalam dunia iklan. Untuk itu, selalu mencoba memunculkan sesuatu yang
berbeda. Kami berharap iklan ini tidak saja mampu menyampaikan keunggulan
produk Sampoerna A Mild, tetapi juga menghibur dan mampu memberikan
inspirasi bagi ide-ide kreatif baru”, ujar senior Brand Manager A Mild Sendi
Sugianto. (http://www.prospek.biz/indeks.php 05 Mei 2010).
Sisi menarik lain dari tampilan iklan A adalah justru produk yang
ditawarkan yaitu, (rokok A Mild) disajikan dalam skala yang kecil dan nyaris
tidak menonjol. Padahal sebagai suatu produk yang dipasarkan, biasanya tampil
mencolok dan cenderung menjadi fokus dari sajian iklan namun hal ini justru
tidak dilakukan oleh iklan rokok A Mild tersebut.
Sebuah iklan A Mild ternyata tidak semata-mata mempunyai fungsi untuk
mendorong, membujuk pada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang
ditampilkan iklan rokok A Mild melainkan iklan ini menghadirkan sebuah
prospektif dari keinginan-keiginan yang terjadi di masyarakat atas sebuah
perubahan. Tampilan iklan rokok A Mild bukanlah sebuah produk yang dihasilkan
melalui suatu aturan yang kaku, iklan A Mild membawa pesan-pesan filosofis atas
Pada aspek simbolis inilah sajian iklan harus dibaca sebagai suatu sistim
pemaknaan. Rosalind Coward dan John Ellis seperti diikuti freddy h. Istanto
dalam (http://pulsit.petra.ac.id/journals/desaign) mengatakan bahwa semua
praktek dapat dianggap sebagai makna, sebagai penandaan (signification) dan
sebagai pertukaran (exchange) diantara subyek-subyek dan karenanya dapat
bersandar pada linguistic sebagai model untuk mengembangkan realitasnya secara
sistematis.
Berturut-turut iklan-iklan tematik A Mild bias di uraikan sebagai berikut : versi How Low Can You Go, versi Bukan Basa Basi, versi Other Can Only Follow, versi go With the Real Now, versi Benda Bisa Bicara dan yang terbaru Go A Head. Iklan A Mild versi Go A Head Cari Muka yang menampilkan gambar dua orang laki-laki yang sedang menutupi wajahnya dengan menggunakan telapak
tangannya, iklan ditampilkan melalui media billboard.
Iklan A Mild versi Go A Head Cari Muka yang di muat di media luar ruangan billboard juga bisa dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan oleh
A Mild kepada masyarakat, mengenai iklan tersebut menggambarkan dua orang
laki-laki yang sedang menutupi wajahnya dengan menggunakan telapak
tangannya, dan dibagian punggung tangannya terdapat gambar ilustrasi mata,
hidung, dan mulut sehingga menyerupai gambar wajah.
Penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian berkaitan dengan
keunikan iklannya. Sekilas tidak tampak tentang apa yang ingin disampaikan oleh
membuat iklan tentang suatu produk atau kegiatan yang disponsori oleh produsen
tersebut tanpa ada pesan yang ingin disampaikan.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merasa tertarik untuk
menganalisis iklan A Mild versi Go A Head Cari Muka tersebut dengan studi semiotic Charles Sanders Pierce yang mengetahui membagi tanda atas icon,
index, dan symbol untuk mengetahui bagaimana representasi ambisi dalam iklan
rokok A Mild versi Go A Head Cari Muka di media luar ruangan tersebut.
Ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi
(memperoleh, mencapai) sesuatu seperti (pangkat, kedudukan) dan atau
melakukan sesuatu. (www.artikata.com )
Setiap manusia harus memiliki ambisi untuk mengubah dirinya lebih baik
dari kondisi yang saat ini tengah dijalaninya. Sikap ambisi menjadi suatu
dorongan dalam diri yang memacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang
baik dengan tujuan yang ingin ditempuh. Contohnya, seorang mahasiswa yang
memiliki ambisi untuk dapat menyelesaikan study S1 dengan tepat waktu. Maka
ia akan terus belajar, bimbingan kepada dosen, berdo’a, dan terus berusaha hingga
mencapai tujuan yang ia inginkan yaitu menjadi Sarjana.
Menurut psikolog ternama Tika Bisono MPsi Psi, setiap manusia harus
memiliki sikap ambisi. “Ambisi itu sesuatu yang baik, setiap orang harus
memilikinya. Karena ambisi merupakan cita-cita atau apa yang ingin dituju atau
roh seorang manusia untuk survive dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki
Pada dasarnya memiliki sifat ambisi itu bagus selama masih bisa
dikendalikan dengan baik, namun jika tidak akan menimbulkan sikap ambisius.
“Ambisius itu kata sifat dari ambisi. Yang namanya kata sifat ada positif dan
negatifnya. Ambisi yang positif dimiliki oleh orang supaya bisa berprestasi
dengan baik dan menghasilkan karya terbaik, sementara kalau yang negatif itu
sebuah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga dia
akan memaksakan segala cara,”
Ambisius yang berlebihan, akan membuat mereka memiliki minat dan
keinginan yang menggebu-gebu terhadap suatu bidang. Dengan begitu mereka
dapat menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya itu. “Ciri-ciri
mereka yang ambisius itu misalnya secara finansial atau kemampuan lainnya
sudah tidak mampu, tapi tetap memaksakan kehendaknya. Yaitu dengan
menghalalkan segala cara, menjatuhkan lawannya atau sudah tahu kalah malah
mencari-cari kesalahan lawannya. Padahal sifat ksatria (menerima kekalahan,
rendah hati kalau menang) itu dibutuhkan untuk meredakan ambisius negatif
seseorang,”
Agar ambisi yang dimiliki tak berubah menjadi ambisius, maka setiap
orang harus memiliki kerangka program dan ukuran-ukuran yang jelas. setiap
orang harus memiliki kerangka program dan ukuran-ukuran yang mengacu pada
kemajuannya, kalau berkompetisi berarti sudah tepat. Tapi agar tidak melebihi
kompetensi maka harus terukur.
dari seseorang untuk mencapai kinerja yang baik. Aspek-aspek ini termasuk sifat,
motif-motif, sistem nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi akan
mengarahkan tingkah laku yang menghasilkan kinerja.
(http://lifestyle.okezone.com)
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang penulis uraikan diatas, maka perumusan
masalah dalam penelitian ini adalah : “ Bagaimana Representasi Ambisi Pada
Iklan Rokok A Mild versi “Go A Head Cari Muka”?” secara keseluruhan.
1.3Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui reprsentasi
ambisi pada rokok A Mild melalui penggambaran iklan rokok A Mild versi “Go A
Head Cari Muka” secara keseluruhan.
1.4manfaat Penelitian
Ada dua manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini, yaitu :
1. Manfaat Teoristis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada
perkembangan dan pendalaman studi komunikasi tentang analisi iklan
2. Manfaat Praktis
Untuk memberikan masukan kepada para praktisi periklana, khususnya
bagi para kreator-kreator iklan, dalam kaitannya dengan penciptaan
konsep-konsep iklan yang ditampilkan ketengah masyarakat. Selain itu
juga memberikan wacana kepada masyarakat agar bisa mencermati dengan
2.1. Landasan Teor i
2.1.1. Iklan Media Cetak
Menurut Burnet Wells dan Moriarty, iklan merupakan bentuk komunikasi
non personal dari sebuah produsen yang dikenal dengan menggunakan media
massa untuk mempersuasi atau mempengaruhi khalayak. Sedangkan Lee dan
Johnson mengatakan bahwa iklan adalah komunikasi komersil dan non personal
tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu
khalayak melalui media bersifat massal, seperti televisi, radio, koran, majalah,
direct mail, reklame ruang atau kendaraan umum. Dan pada komunitas global, iklan dapat disampaikan melalui media internet (Yuli & Catur, 2006:3).
Media dari iklan salah satunya adalah media cetak yang berarti sebagai
sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan iklan kepada khalayak. Iklan
media cetak menurut Rendra Widyatama dalam bukunya “Pengantar Periklanan”
adalah iklan yang dibuat dan dipasang dengan menggunakan teknik cetak, baik
cetak dengan teknologi sederhana maupun teknologi tinggi. Media yang
digunakan dalam teknik cetak tersebut sangat beragam, mulai dari pelat metal,
kulit, plastik, kaca, kain, dan sebagainya. Iklan yang dibuat dengan menggunakan
teknik cetak ini, pada akhirnya lebih populer disebut dengan nama sesuai dengan
bentuk dan format media cetak. Beberapa bentuk iklan cetak yaitu, iklan cetak
produk, stiker, balon udara, bus panel, dan berbagai iklan cetak lainnya
(Widyatama, 2007:79-80).
Iklan yang ditampilkan media cetak akan menimbulkan daya ingat pada
pembacanya secara maksimal tentang isi pesan yang disampaikan. Dengan
demikian, daya ingat khalayak pembaca relatif baik bila dibandingkan dengan
khalayak sasaran media yang lainnya, seperti radio dan televisi dalam menanggapi
suatu iklan (Widyatama, 2007:78).
2.1.2. Billboar d Sebagai Media Ik lan
Berasal dari kata bill yang berarti poster, karena poster-poster iklan
tersebut kemudian ditempel di papan agar lebih eye chating maka kemudian
dinamakan billboard. Ada tiga format billboard : poster panel, painted bullentins,
dan spectaculars ( Sigit, 2002, p.16 ).
Billboard adalah salah satu media luar ruang yang dewasa ini telah
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat urban, yang memiliki tujuan
menyampaikan pesan promosi suatu produk atau jasa. Lokasi strategis merupakan
kunci keberhasilan pemasangan billboard, agar dapat memberikan rangsangan
stimulasi visual secara langsung kepada khalayak public melalui pengaturan
visual, seperti tampilan warna, gambar, tipografi / huruf, serta layout.
Elemen-elemen ini diatur sedemikian rupa menjadi sebuah satu kesatuan dan ditampilkan
pada media billboard agar tampak menarik perhatian dan pesan-pesannya dapat
Permasalahan kemudian timbul ketika masing-masing billboard berusaha
bersaing dengan billboard lainnya, dengan memperebutkan area publik yang
dianggap strategis, sehingga ruang-ruang public tersebut menjadi semakin
terbatas. Bahu jalan, façade dan atap gedung, area hijau semua dioptimalisasi dan
di eksploitasi untuk pemasangan titik-titik billboard, seperti yang terjadi pada
kawasan Jl. Prapen Surabaya. Karena itu para pengguna jalan akan mendapatkan
pemandangan pada sebuah ruas kawasan yang dipenuhi oleh ragam media
billboard, sehingga menimbulkan sebuah pertanyaan mengenai bagaimana
penggunaan jalan sebagai subyeknya dapat mengidentifikasi dan tertarik pada
tampilan visual media billboard tersebut, mengingat tingginya tingkat kepadatan
media billboard. ( http://www.dumitos.com/tell-products/billboard1.htm )
2.1.3 Komunikasi Nonver bal
Citra diri yang ditampilkan seseorang dapat dimunculkan dengan cara
verbal dan nonverbal. Seringkali tanda-tanda yang di tampilkan secara nonverbal
inilah yang memberikan banyak makna. Istilah nonverbal biasanya digunakan
untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan
tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan
perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian
ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat
nonverbal (Knapp dalam Mulyana, 2007:347).
Tidak ada struktur yang pasti mengenai hubungan antara komunikasi verbal dan
perbedaan pokok antara komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Pertama,
sementara perilaku verbal adalah saluran tunggal, perilaku nonverbal bersifat
multisaluran. Kata-kata datang dari satu sumber, tetapi isyarat nonverbal dapat
dilihat, didengar, dirasakan, dibaui, atau dicicipi, dan beberapa isyarat boleh jadi
berlangsung secara simultan (Verderber dalam Rakhmat, 2007:348). Kedua, pesan
verbal terpisah-pisah, sedangkan pesan nonverbal sinambung. Artinya orang dapat
mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapanpun ia menghendakinya, sedangkan
pesan nonverbalnya tetap mengalir, sepanjang ada orang yang hadir di dekatnya.
Ketiga, komunikasi nonverbal mengandung lebih banyak muatan emosional
daripada komunikasi verbal. Kata-kata umumnya digunakan untuk menyampaikan
kata-kata sedangkan pesan nonverbal lebih potensial untuk menyatakan perasaan
seseorang.
Studi tentang isyarat wajah sebagai ekspresi emosi khusus memiliki
riwayat yang panjang. Salah satu ilmuwn yang paling terkenal menguji hal ini
adalah Charles Darwin. Charles Darwin mencoba menemukan apakah isyarat
wajah yang berhubungan dengan emosi tertentubersifat universal. Metode yang
digunakan adalah meminta subjek untuk mengidentifikasi emosi khusus yang
tampak dari foto-foto wajah orang. Dalam buku The Expression of the Emotion in
Man and Animals (1872), Darwin menyajikan beberapa kesimpulan dan pemikiran
tentang perilaku ekspresif. Menurut Darwin, sebagian besar dari tindakan ekspresif
manusia, seperti halnya binatang, merupakan perilaku yang bersifat instinktif,
dan 3 tahun, bahkan yang dilahirkan tunanetra, wajahnya memerah bila merasa
malu”.
Argumen Darwin tentang ekspresi wajah anak-anak tunanetra didukung
oleh studi-studi berikutnya. Ilmuwan Jerman, Eibl Eibesfeldt menemukan bahwa
ekspresi wajah merupakan gerak isyarat bawaan. Sedangkan Ekman, Friesen, dan
Sorenson mendukung beberapa keyakinan Darwin tentang gerak isyarat bawaan
ketika mereka mempelajari ekspresi wajah orang-orang dari lima kebudayaan yang
berbeda. Mereka menemukan bahwa tiap kebudayaan memakai isyarat wajah dasar
yang sama untuk menunjukan emosi. Hal ini membuat mereka menyimpulkan
bahwa gerak isyarat merupakan bawaan. Mereka menyadari adanya perbedaan
budaya tapiberanggapan bahwa perbedaan tersebut direfleksikan “dalam
lingkungan yang menimbulkan emosi, serta dalam menerapkan aturan yang
mempengaruhi pengelola perilaku wajah dalam tata sosial tertentu”.
Ada enam emosi yang umum ditampilkan dari ekspresi wajah, yaitu :
senang, sedih, terkejut, marah, takut, dan muak/jijk. Emosi-emosi tersebut dapat
diamati dari ekspresi bagian-bagian wajah, seperti : mata, alis, mulut, dahi, hidung,
pipi, dan mulut.
a. Mata
Mata adalah alat indera untuk menerima rangsangan optik. Untuk
menerima rangsangan secara optimal, maka mata dibuka lebar-lebar
sehingga pupil tidak terhalangi. Kalau mengantuk, maka mata tidak
membesar/mengecilnya pupil, sejauh mana kelopak mata terbuka (Barbara,
1990).
b. Dahi
Ekspresi gerak isyarat ini berhubungan erat dengan pernyataan mata.
Beberapa gerak isyarat yang tampak dari dahi adalah :
• Kerut-kerut horizontal
Terjadi jika mata dibuka selebar mungkin sehingga kulit dahi
terangkat. Ditemukan pada mimik takut, terkejut, kagum, kurang
mengerti. Ditemukan pula pada keadaan lelah atau mengantuk
namun berusaha untuk tetap terjaga.
• Kerut-kerut vertikal
Disebut juga kerut kemauan. Kerutan ini terdapat di dahi di atas
pangkal hidung. Kerutan ini muncul bila mengerjakan sesuatu yang
menuntut perhatian/konsentrasi, juga berpikir untuk mengambil
keputusan. Selain itu, kerutan juga muncul pada orang yang kecewa
atau keras kepala.
• Kerut-kerut bahaya
Kerutan ini merupakan kombinasi dari kerutan horizontal dan
kerutan vertikal, merupakan isyarat bahwa orang tersebut dalam
kesukaran itu menjadi beban baginya. Kedua arah kerutan muncul
karena ada rasa takut/terkejut (sehingga muncul kerutan horizontal),
tapi yang bersangkutan berusaha mengatasinya (muncul kerutan
kerutan menunjukan keadaan tidak berdaya, penakut dan tidak
dapat menolong diri sendiri, menderita dan tidak dapat mencari
jalan keluar.
c. Mulut
• Reaksi mengecap
Pernyataan mulut berhubungn dengan fungsi mulut yaitu menerima,
merasakan, dan mencicipi makanan. Ada tiga reaksi yaitu : reaksi
rasa pahit, reaksi rasa asam, dan reaksi rasa manis.
• Variasi mulut terbuka
Mulut menganga lebar, bisa bermakna terkejut, bingung atau takut
(harus dilihat juga ekspresi ata). Mulut monyong bisa bermakna
memperhatikan sesuatu dengan kritis, protes, penolakan (ditambah
dengan ekspresi mata membesar yang ditujukan ke arah orang yang
diprotes).
• Cara menutup mulut
Mulutt tertutup biasa tanpa ketegangan, tidak memiliki makna
apa-apa. Mulut tertutup dengan tekanan, memperlihatkan tidak ada
keinginan untuk berhubungan dengan orang lain, menghindari
hubungan kata-kata. Mulut tertutup rapat, bibir seolah-olah diperas,
menunjukan adanya tekanan yang sangat besar, menghindari
• Rahang gigi
Gigi yang dikatupkan, bermakna adanya kemarahan, ketakutan.
Menggigit bibir, terjadi bila orang menghadapi situasi tertentu
secara mendadak dan harus berpikir dahulu sebelum mengatasi
situasi tersebut, menunggu dan berusaha menguasai diri.
• Tertawa
Tertawa terbagi atas dua jenis yaitu tertawa lepas dan keras
dikarenakan lucu sehingga membuat senang, dan tertawa kecil yang
bisa bermakna menghina, merendahkan.
d. Hidung
• Cuping hidung mengembang, biasanya terjadi bila orang marah
atao merasa bangga
• Menaikan hidung (cuping hidung ditarik keatas), bermakna hal
yang tidak menyenangkan. Namun memaknai gerak isyarat
menaikkan hidung ini harus dihubungkan dengan gerak isyarat lain,
misalnya reaksi pahit, dimana bibir atas nai sehingga cuping hidung
naik.
e. Emosi dan gerak isyarat wajah
Menggambarkan tentang ekspresi emosi yang tampak dari bagian-bagian
wajah (kumar, 2004). Ada enam emosi yang umum ditampilkan dari
1. Senang : mata dan alis bagian bawah kelopak mata agak terangkat,
terlihat ada kerutan, dan mata menyempit, pipi memerah dan
membesar, bibir dan mulut melebar, terkadang gigi terlihat.
2. Sedih : ujung dalam alis terangkat, dahi berkerut, sudut mulut tertarik
kebawah dan bibir gemetar
3. Terkejut : seluruh alis terangkat dan mata membesar, rahang menurun
dan mulut terbuka.
4. Takut : kelopak mata bagian atas terangkat, bagian putih mata terlihat
jelas, kelopak mata bagian bawah menegang dan terangkat, dahi
berkerut, bibir ditarik.
5. Marah : alis ditarik kedalam, mata menyempit, beberapa orang
mengembangkan hidung mereka, bibir tertutup rapat.
6. Muak : kelopak mata bagian bawah terangkat dan berkerut, hidung
berkerut, mulut merapat, kedua bibir terangkat atau cemberut.
2.1.4 Komunikasi Inter per sonal
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian
pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok
kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan
umpan balik dengan segera (Effendy, 2003:30). Definisi lain, dikemukakan oleh
Arni Muhammad (2005:153), komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran
di antara dua orang yang dapat diketahui langsung balikannya (komunikasi
langsung).
Secara sederhanana dapat dikemukakan suatu asumsi bahwa proses
komunikasi interpersonal akan terjadi apabila ada pengirim menyampaikan
informasi berupa lambang verbal maupun nonverbal kepada penerima dengan
medium suara manusia (human voice), maupun dengan medium tulisan.
Berdasarkan asumsi ini maka dapat dikatakan bahwa dalam proses komunikasi
interpersonal terdapat komponen-komponen komunikasi yang secara integratif
saling berperan sesuai dengan karakteristik komponen itu sendiri, yaitu:
1. Sumber / komunikator
Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi,
yakni keinginan untuk membagi keadaan internal sendiri, baik yang
bersifat emosional maupun informasional dengan orang lain. Kebutuhan
ini dapat berupa keinginan untuk memperoleh pengakuan sosial sampai
pada keinginan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain.
Dalam konteks komunikasi interpersonal komunikator adalah individu
yang menciptakan, memformulasikan, dan menyampaikan pesan.
2. Encoding
Encoding adalah suatu aktifitas internal pada komunikator dalam menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol verbal dan
nonverbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa, serta
disesuaikan dengan karakteristik komunikan. Encoding merupakan
dan sebagainya sehingga komunikator merasa yakin dengan pesan yang
disusun dan cara penyampaiannya.
3. Pesan
Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-simbol baik
verbal maupun non verbal, atau gabungan keduanya, yang mewakili
keadaan khusus komunikator untuk disampaikan kepada pihak lain. Dalam
aktivitas komunikasi, pesan merupakan unsur yang sangat penting. Pesan
itulah yang disampaikan oleh komunikator untuk diterima dan
diinterpretasi oleh komunikan. Komunikasi akan efektif apabila
komunikan menginterpretasi makna pesan sesuai yang diinginkan oleh
komunikator.
4. Saluran
Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber ke penerima atau
yang menghubungkan orang ke orang lain secara umum. Dalam konteks
komunikasi interpersonal, penggunaan saluran atau media semata-mata
karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan dilakukan komunikasi
secara tatap muka. Prinsipnya, sepanjang masih dimungkinkan untuk
dilaksanakan komunikasi secara tatap muka, maka komunikasi
interpersonal tatap muka akan lebih efektif.
5. Penerima / komunikan
Adalah seseorang yang menerima, memahami, dan menginterpretasi
pesan. Dalam proses komunikasi interpersonal, penerima bersifat aktif,
memberikan umpan balik. Berdasarkan umpan balik dari komunikan inilah
serang komunikator akan dapat mengetahui keefektifan komunikasi yang
telah dilakukan, apakah makna pesan dapat dipahami secara bersama oleh
kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan.
6. Decoding
Decoding merupakan kegiatan internal dalam diri penerima. Melalui indera penerima mendapatkan macam-macam data dalam bentuk
“mentah”, berupa kata-kata dan simbol-simbol yang harus diubah ke
dalam pengalaman-pengalaman yang mengandung makna. Secara bertahap
dimulai dari proses sensasi, yaitu proses di mana indera menangkap
stimuli. Proses sensasi dilanjutkan dengan persepsi, yaitu proses memberi
makna atau decoding.
7. Respon
Yakni apa yang telah diputuskan oleh penerima untuk dijadikan sebagai
sebuah tanggapan terhadap pesan. Respon dapat bersifat positif, netral,
maupun negatif. Respon positif apabila sesuai dengan yang dikehendaki
komunikator. Netral berarti respon itu tidak menerima ataupun menolak
keinginan komunikator. Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang
diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator. Pada
hakikatnya respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat
menilai efektivitas komunikasi untuk selanjutna menyesuaikan diri dengan
8. Gangguan (noise)
Gangguan atau noise atau barier beraneka raga, untuk itu harus
didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam
komponen-komponen manapun dari sistem komunikasi. Noise merupakan apa saja
yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian dan penerimaan
pesan termasuk yang bersifat fisik dan psikis.
9. Konteks komunikasi
Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, paling tidak ada
tiga dimensi yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada
lingkungan kongkrit dan nyata tempat terjadinya komunikasi, seperti
ruangan, halaman, jalanan. Konteks waktu menunjuk pada waktu kapan
komunikasi tersebut dilaksanakan. Konteks nilai, meliputi nilai sosial dan
budaya yang mempengaruhi suasana komunikasi. Agar komunikasi
interpersonal dapat berjalan secara efektif, maka masalah konteks
komunikasi ini kiranya perlu menjadi perhatian. Artinya pihak
komunikator dan komunikan perlu mempertimbangkan konteks
komunikasi ini (Suranto, 2011:7).
Model komunikasi Sirkular Osgood dan Schramm berbeda sekali dengan
model komunikasi Matematikal Shannon dan Weaver. Kalau dalam model
komunikasi Matematikal Shannon dan Weaver sifat alurnya searah, maka
dalam model komunikasi Osgood dan Schramm alur komunikasinya bersifat
timbal balik atau berbalik arah. Artinya dalam satu sisi Penyandi kode informasi
akan menjadi decoder (penerima informasi), jika decoder pertama tersebut telah menginterpretasikan / menafsirkan pesan dari encoder pertama. Dengan demikian
apabila dalam proses komunikasi menggunakan model Osgood dan Schramm,
maka besar kemungkinan akan terjadi sebuah sistem komunikasi yang akan
menghasilkan pemahan terhadap sesuatu hal (pesan komunikasi) menjadi lebih
berkembang karena proses komunikasi tidak berhenti ketika pesan komunikasi
telah sampai kepada penerima pesan.
(http://www.scribd.com/doc/21215557/Model-Komunikasi).
2.1.5 Ambisi
Setiap manusia harus memiliki ambisi untuk mengubah dirinya lebih baik
dari kondisi yang saat ini tengah dijalaninya. Sikap ambisi menjadi suatu
dorongan dalam diri yang memacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang
baik dengan tujuan yang ingin ditempuh. Contohnya, seorang mahasiswa yang
memiliki ambisi untuk dapat menyelesaikan study S1 dengan tepat waktu. Maka
ia akan terus belajar, bimbingan kepada dosen, berdo’a, dan terus berusaha hingga
mencapai tujuan yang ia inginkan yaitu menjadi Sarjana.
Ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi
(memperoleh, mencapai) sesuatu seperti (pangkat, kedudukan) dan atau
melakukan sesuatu. (www.artikata.com )
Menurut psikolog ternama Tika Bisono MPsi Psi, setiap manusia harus
roh seorang manusia untuk survive dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki
ambisi, berarti dia tidak mengisi kehidupannya,”.
Pada dasarnya memiliki sifat ambisi itu bagus selama masih bisa
dikendalikan dengan baik, namun jika tidak akan menimbulkan sikap ambisius.
“Ambisius itu kata sifat dari ambisi. Yang namanya kata sifat ada positif dan
negatifnya. Ambisi yang positif dimiliki oleh orang supaya bisa berprestasi
dengan baik dan menghasilkan karya terbaik, sementara kalau yang negatif itu
sebuah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga dia
akan memaksakan segala cara,”
Ambisius yang berlebihan, akan membuat mereka memiliki minat dan
keinginan yang menggebu-gebu terhadap suatu bidang. Dengan begitu mereka
dapat menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya itu. “Ciri-ciri
mereka yang ambisius itu misalnya secara finansial atau kemampuan lainnya
sudah tidak mampu, tapi tetap memaksakan kehendaknya. Yaitu dengan
menghalalkan segala cara, menjatuhkan lawannya atau sudah tahu kalah malah
mencari-cari kesalahan lawannya. Padahal sifat ksatria (menerima kekalahan,
rendah hati kalau menang) itu dibutuhkan untuk meredakan ambisius negatif
seseorang,”
Agar ambisi yang dimiliki tak berubah menjadi ambisius, maka setiap
orang harus memiliki kerangka program dan ukuran-ukuran yang jelas. setiap
kemajuannya, kalau berkompetisi berarti sudah tepat. Tapi agar tidak melebihi
kompetensi maka harus terukur.
Kompetensi tetap harus diasah dan diusahakan untuk selalu menghasilkan
tingkah laku yang sesuai diinginkan. Kompetensi merupakan aspek-aspek pribadi
dari seseorang untuk mencapai kinerja yang baik. Aspek-aspek ini termasuk sifat,
motif-motif, sistem nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi akan
mengarahkan tingkah laku yang menghasilkan kinerja.
(http://lifestyle.okezone.com)
2.1.5.1Kenali Ambisi
Ambisi berasal dari bahasa Inggris, ambition yang berarti desired to achieved something atau will to succes. Jadi ambisi adalah keinginan
untuk mencapai sesuatu atau kemauan untuk mencapai sukses. Terlihat
jelas, arti ambisi bermakna positif, bukan sebaliknya. Sedangkan ambisius
menunjuk pada orang yang memiliki ambisi.
Bisa dikatakan ambisi merupakan petunjuk arah hidup kita. Karena
itu, ambisi (sesungguhnya) penting dimiliki. Ambisilah yang
menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin diraih
dalam hidup ini. Bisa jadi, tanpa ambisi, seseorang seolah-olah tidak
2.1.5.2Sisi Positif Ambisi
Ambisi diperlukan agar kita semangat dan termotifasi dalam
melakukan apapun. Kita berambisi untuk segera menelesaikan kuliah.
Begitu juga ketika sudah mulai bekerja. Persaingan dalam berkarir berkarir
semakin kompetitif. Oleh karena itu, ambisi dibutuhkan untuk membuat
kita bergerak maju.
Dalam buku “Think and Grow Rich” disebutkan kurang ambisi
adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan seseorang.
Kurang ambisi, maka jalan mencapai tujuan menjadi tersendat-sendat,
akibat tidak memiliki motifasi. Akhirnya karena terlalu lamban, seseorang
pun menemui kegagalan.
2.1.5.3Sisi Negatif Ambisi
Ada ‘Yin’ pasti ada ‘Yang’. Begitu juga dengan ambisi, ada sifat
positif pasti ada sifat nagatif. Ambisi bisa berubah jadai ‘racun’ jika ketika
mewujudkan ambisi, seseorang menjadi terlalu obsesi, sehingga ambisinya
berlebihan dan tak jarang samapai menghalalkan segala cara. Tak heran
jika akhirnya orang yang berambisi ‘dicap’ buruk.
Kita bisa melihat ambisi mendapatkan nilai bagus, kita jadi
memaksa teman sekelompok terus mengerjakan tugas itu. Padahal masih
memaksa, teman-teman sekelompok justru mengerjakan dengan setengah
hati dan mulai menjauhi kita.
Selain reaksi orang lain, tubuh kita juga ‘pintar’ menunjukkan
bahwa ambisi kita sudah berlebihan. Dibebani tugas untuk mewujudkan
bahwa ambisi, tubuh kita jadi lupa istirahat. Alhasil, fisik mendera dan
mental pun tertekan. Karena itu kita perlu memiliki batasan dalam
mengejar ambisi. Pastinya dengan mempertimbangkan lingkungan,
nilai-nilai moral, norma-norma yang berlaku, lingkungan sekitar kita, dan yang
paling penting kondisi diri sendiri. (http://forum.kompas.com)
2.1.6 Definisi Remaja
Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat
dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua
melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya masalah hak.
Mengenai umur masa remaja, para psikolog tidak sepakat, namun yang umum
digunakan adalah pendapat Luella Cole, seoarang ahli psikologi, yaitu 13 – 15
tahun (masa remaja awal) , 15 – 18 tahun (masa remaja pertengahan) , 18 – 21
tahun ( masa remaja akhir).
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia.
Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke
perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada
umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun.
Menurut Soetjiningsih (2004).
2.1.6.1 Tahap – Tahap Per kembangan Remaja
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap
perkembangan remaja:
a. Remaja awal (early adolescent)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-
dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka
mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan
mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh
lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini
ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para
remaja awal ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa.
b. Remaja madya (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia
senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan
narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang
sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan
karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai
(perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat
hubungan dengan kawan-kawan.
c. Remaja akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan
ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu:
• Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
• Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain
dan dalam pengalaman- pengalaman baru.
• Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
• Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti
dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang
lain.
• Tumbuh ”dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyarakat umum (Sarwono, 2010).
2.1.6.2Cir i-Cir i Masa r emaja
Pada dasarnya setiap usia mempunyai ciri-ciri baik usia anak-anak,
remaja, dewasa, dan usia tua. Menurut Elizabeth Hurlock (2000), masa
remaja memiliki ciri-ciri yang terdiri dari:
1. Masa remaja sebagai periode perubahan. Remaja mengalami
perubahan penting dalam hidupnya baik dari segi fisik maupun
mentalnya untuk menuju kedewasaan diri.
2. Masa remaja sebagai periode peralihan. Dalam setiap periode
perannya yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi
seorang anak dan juga bukan orang dewasa.
3. Masa remaja sebagai periode perubahan. Ada empat perubahan yang
hampir bersifat universal.
• meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat
perubahan fisik dan psikologis yang terjadi.
• perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok
sosial, menimbulkan masalah baru. Bagi remaja masalah baru yang
timbul tampaknya lebih banyak dan remaja akan tetap merasa
ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut
kepuasannya.
• berubahnya nilai-nilai, apa yang di masa anak-anak dianggap
penting sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi.
• sebagaian besar remaja bersifat ambivalen terhadap setiap
perubahan,mereka menginginginkan perubahan dan menuntut
kebebasan, tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan
akibatnya.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Masalah masa remaja sering
menjadi masalah yang sulit diatasi. Ketidakmampuan mereka untuk
mengatasi masalah membuat banyak remaja akhirnya menemukan
bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada periode ini remaja
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan. Adanya
stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang berperilaku
merusak, mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya
sendiri dan akhirnya membuat peralihan ke masa dewasa menjadi sulit.
7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Remaja cenderung
melihat kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat
dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan
sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita.
8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Remaja mulai
memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status
kedewasaan, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan
obat-obatan, dan seks bebas.
Disimpulkan adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri
remaja, kecenderungan remaja akan mengalami masalah dalam
penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat
menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan penuh tanggung
jawab.
2.1.6.3Ber pikir Kr itis
Masa remaja adalah masa yg paling penting dalam siklus
kehidupan, yang menjadi penanda dan perantara antara masa kanak-kanak
dengan masa dewasa. Masa ini adalah masa dimana perubahan cara
di alami, masa remaja akan mempertanyakan dan menolak jika
bertentangan dengan keinginannya.
Jika keterampilan-keterampilan penting (seperti membaca dan
berhitung) tidak berkembang dalam masa kanak-kanak, keterampilan
berpikir juga tidak berkembang kearah kematangan di masa remaja. Para
remaja yang kekurangan ketrampilan fundamental umunya mengalami
kesulitan meraih pencapaian-pencapaian yang potensial. Pada remaja lain,
masa ini adalan periode transisional yang penting dalam perkembangan
berpikir kritis.
Beberapa perubahan kognitif yang memampukan remaja berpikir
kritis terjadi selam masa remaja, mencakup hal-hal berikut ini :
1. Meningkatkan kecepatan, otomatisasi dan kapasitas pemrosesan
informasi, sehingga membebaskan sumberdaya-sumberdaya kognitif
untuk tujuan-tujuan yang lain.
2. Peningkatan pengetahuan dalam berbagai bidang
3. Kemampuan yang meningkat dalam menyusun kombinasi-kombinasi
pengetahuan baru
4. Penggunaan strategi atau prosedur secara spontan dan dalam rentang
yang lebih luas, mencakup perencanaan, pertimbangan
alternative-alternatif, dan pemonitoran koknitif pada pola piker (Santrock, john.
2.1.6.4Kar akter istik Remaja
Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada
masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial
anak pertama-tama masih sangat terbatas dengan orang tuanya dalam
kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin
meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis
maupun lain jenis (dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139).
2.1.6.5Eksistensi Dir i
Kata eksistensi berasal dari kata Latin Existere, dari ex keluar
sitere = membuat berdiri. Artinya apa yang ada, apa yang memiliki
aktualitas, apa yang dialami. Konsep ini menekankan bahwa sesuatu itu
ada. Dalam konsep eksistensi, satu-satunya faktor yang membedakan
setiap hal yang ada dari tiada adalah fakta. Setiap hal yang ada itu
mempunyai eksistensi atau ia adalah suatu eksisten.
Dengan demikian Menurut Bapak Gerakan Eksistensialis
Kierkegaard, menegaskan bahwa yang pertama-tama penting bagi keadaan
manusia yakni keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Ia
menegaskan bahwa eksistensi manusia bukanlah ‘ada’ yang statis,
melainkan ‘ada’ yang ‘menjadi’. Dalam arti terjadi perpindahan dari
‘kemungkinan’ ke ‘kenyataan. Apa yang semula berada sebagai
yang bebas, yang terjadi dalam kebebasan dan keluar dari kebebasan. Ini
terjadi karena manusia mempunyai kebebasan memilih.
Dengan demikian eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang
dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti muncul dalam suatu
perbedaan, yang harus dilakukan tiap orang bagi dirinya sendiri.
Kierkegaard menekankan bahwa eksistensi manusia berarti berani
mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka barang siapa tidak
berani mengambil keputusan, ia tidak hidup bereksistensi dalam arti
sebenarnya.
Menurut Zainal Abidin (2008) Eksistensi tidak bersifat kaku dan
terhenti, melainkan lentur dan mengalami perkembangan atau sebaliknya
kemunduran, tergantung pada kemampuan individu dalam
mengaktualisasikan potensi-potensinya. Oleh sebab itu, arti istilan
eksistensi analog dengan ‘kata kerja’ bukan ‘kata benda’. Eksistensi
adalah milik pribadi. Tidak ada dua individu yang identik. Oleh sebab itu,
eksistensi adalah milik pribadi, yang keberadaannya tidak bisa disamakan
satu sama lain. (
2.1.7 Makna Denotatif dan Konotatif
Salah satu cara yang digunakan para ahli untuk membahas lingkup makna
yang lebih besar ini adalah dengan membedakan antara makna denotatif dan
makna konotatif.
Makna denotatif suatu kata adalah makna yang biasa kita temukan dalam
kamus. Sedangkan konotasi itu sendiri berasal dari bahasa Latin connotare, “menjadi tanda”, dan mengarah kepada makna-makna kultural yang terpisah /
berbeda dengan kata (dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi).
Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada
sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran
(Lyons, dalam Petada, 2001:98). Menurut Berger, makna denotasi bersifat
langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya
dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda (2000:55). Harimurti
Kridalaksana (2001:40) mendefinisikan denotasi sebagai “makna kata atau
kelompok kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar
bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu; sifatnya obyektif”. Sedangkan
konotasi diartikan sebagai “aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang
didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada
2.1.8 Per sepsi
Dalam psikologi, persepsi secara umum merupakan proses perolehan,
penafsiran, pemilihan dan pengaturan informasi indrawi. Persepsi social dapat
diatrikan sebagai proses perolehan, penafsiran, pemilihan, dan pengaturan
informasi indrawi tentang orang lain. Apa yang diperoleh, ditafsirkan, dipilih, dan
diatur adalah informasi indrawi dari lingkungan social serta yang menjadi
fokusnya adalah orang lain.
Secara umum, persepsi social adalah aktivitas mempresepsikan orang lain
dan apa yang membuat mereka dikenali. Melalui persepsi sosial, kita berusaha
mencari tahu dan mengerti orang lain. Sebagai bidang kajian, persepsi sosial,
adalah studi terhadap bagaimana orang membentuk kesan dan membuat
kesimpulan tentang orang lain (Teifrod, 2008). Teori-teori dan penelitian persepsi
sosial berurusan dengan kodrat, penyebab-penyebab, dan konsekuensi dari
persepsi terhadap satuan-satuan sosial, seperti diri sendiri, individu lain,
kategori-kategori sosial, dan kumpulan atau kelompok tempat seseorang tergabung atau
kelompok lainnya. Persepsi sosial juga merujuk pada bagaimana orang mengerti
dan mengategorisasi dunia. Seperti persepsi lainya, persepsi sosial merupakan
sebuah konstruksi. Sebagai hasil konstruksi, pengetahuan dan pengalaman yang
diperoleh dari persepsi sosial tidak selalu sesuai dengan kenyataannya.
Isi dari persepsi bisa berupa apa saja. Atribut-atribut individual dapat
mencakup kepribadian, sifat-sifat, disposisi tingkah laku, karakteristik fisik, dan
kemampuan menilai. Atribut-atribut kelompok dapat mencakup property-properti
legitimasi, dan unsure-unsur sejarah. Akan tetapi, ruang lingkup persepsi sosial
biasanya ditekankan pada sisi mikro, terarah kepada penyimpulan individual
berkaitan dengan karakteristiknya sendiri atau karakteristik individu lain.
Lebih khusus lagi, dengan persepsi sosial kita berusaha [1] mengetahui apa
yang dipikirkan, dipercaya, dirasakan, diniatkan, dikehendaki, dan didambakan
orang lain; [2] membaca apa yang ada didalam diri orang lain berdasarkan
ekspresi wajah, tekanan suara, gerak-gerik tubuh, kata-kata, dan tingkah laku
mereka; [3] menyesuaikan tindakan sendiri dengan keberdaan orang lain
berdasarkan pengetahuan dan pembacaan terhadap orang tersebut. (Sarwono &
Eko, 2009 : 24)
2.1.9. Repr esenta si
Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial
pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia : dialog, tulisan, video, film,
fotgrafi, dan sebagainya. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna
melalui bahasa (http://kuaci.or.id). Yang pasti persoalan utama dalam representasi
adalah bagaimana realitas atau objek tersebut ditampilkan. Dengan kata, kalimat
atau gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan khalayak.
Konsep representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan
pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Karena makna
sendiri juga tidak pernah tetap, ia selalu berada dalam prses negosiasi dan
disesuaikan dengan situasi yang baru. Intinya adalah makna tidak inhern dalam
representasi. Makna adalah hasil dari praktek penandaan. Praktek yang membuat
sesuatu hal bermakna sesuatu (http://kuaci.or.id).
Melalui representasi, maka makna (meaning) dapat berfungsi dan pada akhirnya diungkap. Representasi disampaikan melalui tanda-tada (sign). Tanda-tanda tersebut seperti, bunyi, kata-kata, tulisan, ekspresi, sikap, pakaian, dan
sebagainya merupakan bagian dari dunia material kita (Hall, 1997). Tanda-tanda
tersebut merupakan media yang membawa makna-makna tertentu dan
merepresentasikan mening tertentu yang ingin disampaikan kepada dan oleh kita.
Melalui tanda-tanda tersebut, kita dapat merepresentasikan pikiran, perasaan, dan
tindakan kita. Pembacaan terhadap tanda-tanda tersebut tentu saja dapat dipahami
dalam konteks sosial tertentu (http://www.readingculture.net).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia representasi berarti apa yang
mewakili atau perwakilan. Piliang (2003:21), dalam bukunya Hipersemiotika,
mengungkapkan bahwa representasi merupakan tindakan yang menghadirkan
sesuatu lewat sesuatu yang lain diluar dirinya, biasanya berupa tanda atau symbol.
Representasi jugaberarti sebuah konsep yang digunakan dalam proses pemaknaan
melalui system penandaan yang tersedia : dialog, tulisan, video, film, fotografi,
dsb. Secara ringkas, representasi adalah produksimakna melalui bahasa. Oleh
karena itu, yang dimaksud dengan representasi eksploitasi yaitu eksploitasi itu
sendiri yang dihadirkan atau diperlihatkan melalui tanda-tanda pada model
2.1.10 Pendekatan Semiotik
Secara singkat, analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk
menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang pesan
atau teks. Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk serta
sistem lambang (sign) baik yang terdapat pada media massa maupun yang
terdapat di luar media massa. Urusan analisis semiotik adalah melacak
makna-makna yang diangkut dengan teks berupa lambang-lambang (sign). Dengan kata lain, pemaknaan terhadap lambang-lambang dalam tekslah yang menjadi pusat
perhatian analisis semiotik (Pawito, 2007:155).
Menurut Littlejohn (1996:64), sign (tanda / lambang) adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda dapat melakukan
komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal bisa dikomunikasikan di dunia ini.
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari
jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.
Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak
mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things).
Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat mencampuradukkan dengan
mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek
tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak
berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda
Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas
berurusan dengan simbol, bahasa, wacana, dan bentuk–bentuk nonverbal,
teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan
bagaimana tanda disusun. Secara umum, studi tentang tanda merujuk kepada
semiotika. Dengan tanda–tanda kita mencari keteraturan ditengah–tengah dunia
yang centang–prenang ini, setidaknya agar kita sedikit punya pegangan. ”Apa
yang dikerjakan oleh semiotika adalah mengajarkan kita bagaimana menguraikan
aturan–aturan tersebut dan membawanya pada sebuah kesadaran” ujar Pines
(Sobur, 2006:16) .
Dengan semiotika kita lantas berurusan dengan tanda. Semiotika seperti
kata Lechte (2001:191), adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk
komunikasi yang terjadi dengan sarana signs tanda–tanda yang berdasarkan pada
sign system (code) tanda–tanda (Segers, 2000:4). Yang perlu kita garis bawahi dari berbagai definisi di atas adalah bahwa para ahli melihat semiotika atau
semiosis itu sebagai ilmu atau proses yang berhubungan dengan tanda. Begitulah
semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda, secara
sistematik menjelaskan esensi, ciri–ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses
signifikasi yang menyertainya (Sobur, 2006:16).
Tokoh–tokoh dalam ilmu semiotika itu adalah Ferdinand de Saussure,
seorang ahli linguistik asal Swiss dan Charles Sanders Pierce, seorang ahli filsafat
Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda
yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap
sebagai tanda adanya api. Tanda dapat pula mengacu ke denotatum melalui
konvensi. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol.
Jadi simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda
dan pentandanya. Simbol tidak harus mempunyai kesamaan, kemiripan, atau
hubungan dengan objeknya (Sobur, 2006:39).
2.1.11 Model Semiotika Char les S. Peir ce
Charles Sanders Peirce ialah seorang ahli matematika dari AS yang sangat
tertarik pada persoalan lambang-lambang.