• Tidak ada hasil yang ditemukan

“REPRESENTASI AMBISI DALAM IKLAN A MILD” (Studi Semiotik Tentang Representasi Ambisi Pada Iklan A Mild Versi “Go A Head Cari Muka” di media billboard).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "“REPRESENTASI AMBISI DALAM IKLAN A MILD” (Studi Semiotik Tentang Representasi Ambisi Pada Iklan A Mild Versi “Go A Head Cari Muka” di media billboard)."

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

oleh :

RATIH ARDILLA KUSUMAHSARI

NPM. 0843010119

YAYASAN KESEJ AHTERAAN DAN PERUMAHAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN ” J AWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

SURABAYA

(2)

Ver si “Go A Head Car i Muka” di media billboar d)

Disusun Oleh :

Ratih Ar dilla Kusumahsar i NPM. 0843010119

Telah disetujui untuk mengik uti Ujian Skr ipsi

Menyetujui,

PEMBIMBING

Dr a. Dyva Clar etta, M. Si NPT. 366019400251

Mengetahui,

DEKAN

(3)

Disusun Oleh : Ratih Ar dilla Kusumahsar i

NPM. 0843010119

Telah diper tahankan dihadapan dan diter ima oleh Tim Penguji Skr ipsi Pr ogram Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Univer sita s Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur Pada tanggal 13 J uni 2012

PEMBIMBING TIM PENGUJ I :.

1. Ketua

Dr a. Dyva Clar etta, M. Si Ir . H. Didiek Tranggono, M. Si

NPT. 366019400251 NIP. 195812251990011001

2. Seker tar is

Dr a. Her lina Suksmawati, M. Si NIP. 196412251993092001

3. Anggota

Dr a. Dyva Cla r etta, M. Si NPT. 366019400251

Mengetahui, DEKAN

(4)

dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul :

“REPRESENTASI AMBISI DALAM IKLAN A MILD” (Studi Semiotik

Tentang Repr esentasi Ambisi Pada Ik lan A Mild Ver si “Go A Head Car i

Muka” di media billboar d).

Penulis akui bahwa kesulitan selalu ada di setiap proses pembuatan skripsi

ini, tetapi faktor kesulitan itu lebih banyak datang dari diri sendiri. Semua proses

kelancaran pada saat pembuatan skripsi penelitian tidak lepas dari segala bantuan

dari berbagai pihak yang sengaja maupun tak sengaja telah memberikan

sumbangsihnya.

Selama melakukan penulisan penelitian ini, tak lupa penulis

menyampaikan rasa terima kasih pada Ibu Dra. Dyva Claretta M.Si selaku Dosen

Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan,

nasehat serta motivasi kepada penulis selama menyelesaikan proposal skripsi ini.

Dan penulis juga banyak menerima bantuan dari berbagai pihak, baik itu

berupa moril, spiritual maupun materil. Untuk itu penulis mengucapkan terima

kasih kepada :

1. Allah SWT. Karena telah melimpahkan segala karuniaNya, sehingga penulis

mendapatkan kemudahan selama proses penulisan proposal skripsi ini.

(5)

FISIP UPN “Veteran” Jatim.

5. Bapak Drs. Syaifuddin Zuhri, M.si seabagai sekretaris Program Studi Ilmu

Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jatim.

6. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi beserta staff karyawan

FISIP UPN “Veteran” Jatim.

Serta tak lupa penulis memberikan rasa terima kasih secara khusus kepada:

1. Papaku Dedih SP, mamaku Rusilaningsih, kakakku Gilang Aditiya dan

adikku Elsa Ayu M yang telah mendukung dan membimbing dengan penuh

kasih sayang serta perhatiannya secara moril maupun materil, dan juga atas

do’a yang tak henti-hentinya beliau haturkan untuk penulis.

2. Keluarga besar Jabar dan Jatim, walaupun sering roaming dalam

berkomunikasi, terimakasih telah mendukung dan membimbing dengan

penuh kasih sayang serta perhatian yang penuh dan juga atas do’a yang tak

henti-hentinya beliau haturkan untuk penulis.

3. Buat gank huru-hara Lisa, Angel, Rani, Burky, Maria, Aridah, Citra,

terimakasih untuk semuanya. Kita benar-benar mengawali pertemuan

pertemanan kita dengan kekurangan kita untuk saling melengkapi. Semua

pertengkaran kita, awal kita untuk saling memahami satu per satu, bukan

yang menjadikan kita semakin jauh ataupun mantan teman. Kalian teman

(6)

4. Buat dulur X-Phose terima kasih atas pembelajaran akan kekeluargaan yang

seru dan pelajaran membidiknya, penulis jadi bisa mengeksplorasikan

pemikiran penulis ke sebuah karya seni tanpa batas.

5. Seluruh teman-teman Ilmu Komunikasi juga kakak-kakak kelas, semua

teman-teman kampus FISIP, KKN kel.7 D’Anarchy Team, teman cangkruk

di lumpia, yang telah membantu serta membimbing penulis selama ini.

6. Seluruh teman-teman ku, dulur TK Aisyiyah Bustanul Athfal REWWIN

angkatan 1994, dulur SDN Wedoro I Waru angkatan 1996, dulur SMPN 2

Waru angkatan 2002, dulur SMA Hangtuah 2 Sidoarjo angkatan 2005, serta

teman-teman rumah REWWIN, terima kasih sudah menemani kembang

kuncup pertemanan penulis dan menjadikan penulis diri yang lebih dewasa.

7. Seluruh pihak yang tak dapat penulis sebutkan atas keterbatasan halaman

ini, untuk segala bantuan yang diberikan, penulis ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari bahwa penulisan proposal skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah

dibutuhkan guna memperbaiki kekurangan yang ada.

Akhir kata semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca,

khususnya teman-teman di Jurusan Ilmu Komunikasi.

Surabaya, 14 Mei 2012

(7)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

ABSTRAKSI ... x

BAB I. PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Rumusan Masalah ...9

1.3 Tujuan Penelitian ……….…..……….. 9

1.4 Manfaat Penelitian ……….….……...……….. 9

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ...11

2.1 Landasan Teori ………...11

2.1.1 Iklan Media Cetak ...……...…...………11

2.1.2 Billboard Sebagai Media Iklan ...…………...…..12

2.1.3 Komunikasi Nonverbal ...13

2.1.4 Komunikasi Interpesonal ... 19

(8)

2.1.6 Definisi Remaja ………... 28

2.1.6.1 Tahap – Tahap Perkembangan Remaja ... 29

2.1.6.2 Ciri-Ciri Masa remaja ... 30

2.1.6.3 Berpikir Kritis ... 32

2.1.6.4 Karakteristik Remaja ... 34

2.1.6.5 Eksistensi Diri ... 34

2.1.7 Makna Denotatif dan Konotatif ………...… 36

2.1.8 Persepsi ………... 37

2.1.9 Representasi ………...…. 38

2.1.10 Pendekatan Semiotik ………..………... 40

2.1.11 Model Semiotika Charles S. Peirce ………..………. 42

2.1.12 Pemaknaan Warna ………..………... 45

2.2. Kerangka Berpikir ... 46

BAB III. METODE PENELITIAN... 49

3.1 Metode Penelitian …………...…………... 49

3.2. Corpus ... 50

3.3Unit Analisis ... 51

(9)

3.4Teknik Pengumpulan Data ... 52

3.5Teknik Analisis Data ... 53

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 56

Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data 4.1 Rokok A Mild ... 56

4.2 Penyajian Data ... 61

4.3 Ikon, Indeks, dan Simbol ... 61

4.4 Analisis Iklan A Mild Versi GO A Head Cari Muka ... 64

4.4.1 Ikon ... 65

4.4.2 Indeks ... 66

4.4.3 Simbol ... 67

4.5 Makna Keseluruhan Pada Iklan A Mild Versi Go A Head Cari Muka ... 67

4.6 Interpretasi Keseluruhan Iklan A Mild Versi Go A Head Cari Muka ... 69

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

5.1 Kesimpulan ... 77

5.2 Saran ... 78

Daftar Pustaka ... 79

(10)
(11)

Tujuan dari penelitian ini adalah agar bisa mengerti penggambaran tentang suatu ambisi dalam iklan A Mild ini bersifat positif. Iklan tersebut menunjukan bahwa pengguna rokok tersebut / konsumen tersebut dapat membantu mengeluarkan ambisi yang bersifat positif.

Teori yang digunakan adalah iklan media cetak, billboard sebagai media iklan, makna denotatif dan konotatif, ambisi, representasi, pemaknaan warna, serta model semiotika Charles S. Peirce.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan semiotik. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar.

Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan konsep tanda yang membagi tanda menjadi tiga kategori, yaitu ikon, indeks, dan simbol serta dengan menggunakan konsep triangle meaning. Dari hasil pemaknaan tanda-tanda tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ikon, indeks, dan simbol dalam penelitian ini saling berhubungan atau terkait. Dan dari hasil pemaknaan tanda-tanda tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan adanya sebuah representasi mengenai ambisi berdasarkan pemaknaan tanda-tanda yang ada, yaitu ekspresi wajah yang merupakan penggambaran suatu emosi untuk menunjukkan eksistensi dirinya melalui suatu ambisi dan diperkuat dengan kata “Cari Muka” yang terdapat dipojok kanan atas gambar iklan.

Kata kunci : Representasi Ambisi, Semiotik Charles Sanders Pierce, Iklan

ABSTRACT

RATIH ARDILLA KUSUMAHSARI, REPRESENTATION OF AMBITION IN A MILD ADVERTISING GO AHED TRYING TO LOOK GOOD VERSION (Semiotic Studies of Representation of Ambition in A Mild Advertising “Go Ahead Trying To Look Good” Version on A Billboard).

The purpose of this research was to determine the representation of ambition in an advertising of A Mild has a positive meaning. It wants to show that the consumer can expressing positive ambition.

Theory used in this study is printed advertising, billboard as the media, denotative and conotative meaning, ambition, representation, the meaning of colors and Charles S. Pierce’s semiotic models.

The method that used in this research is a qualitative descriptive method by using semiotic analysis. Data analysis in this research is descriptive method and contains words and picture.

(12)

1.1Latar Belakang Masalah

Pada masa yang sedang berkembang teknologinya seperti saat ini

kebutuhan manusia semakin bertambah seiring dengan kemajuan tegnologi yang

dapat menunjang kemajuan dibidang lainnya, yang salah satunya adalah bidang

komunikasi. Dalam kegiatan sehari-hari manusia tidak lepas dari kegiatan

komunikasi, kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan secara tatap muka namun ada

juga kegiatan komunikasi yang membutuhkan alat bantu media untuk

menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan, atau penyampaian

informasi kepada masyarakat luas. Media yang menyadiakan jasa dalam

penyampaian pesan pada khalayak disebut media massa.

Didalam penyampaian informasinya, media mempunyai cara pengemasan

yang beragam yang disesuaikan dengan khalayaknya, orientasi internal dari media

itu sendiri dan banyak faktor-faktor kepentingan yang lain. Kegiatan komunikasi

massa ini yang dilakukan secara rutin dan konstan bukan hanya bersifat

normative, yaitu agar orang lain jadi tahu dan mengerti, tetapi juga mengandung

unsur persuasi agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan

atau juga melakukan suatu perbuatan. Saat ini iklan sudah menjadi sarana bagi

kebanyakan pengusaha yang memiliki anggaran besar untuk kegiatan promosi

sebagai cara untuk mendongkrak penjualan produknya. Iklan tersebut

(13)

elektronik. Para pemasang iklan tentunya berlomba-lomba untuk dapat

menampilkan iklan semenarik mungkin agar selalu dapat diingat oleh

konsumennya.

Kehadiran media massa adalah suatu gejala yang menandai kehidupaan

masyarakat modern. Memasuki penghujung dasarwasa 1990-an masyarakat

seolah-olah diserbu disetiap pemburu waktu oleh berita, hiburan atau informasi

mengalir begitu saja dari berbagai media massa yang ada. Mulai dari media

elektronik seperti televise, radio, bahkan internet dan media komunikasi. Maka

hampir tiada waktu tanpa kehadiran informasi. Perkembangan teknologi

komunikasi yang sedemikian canggihnya dalam penggunaan teknologi dan system

elektronik modern, membuat semakin terbukanya saluran komunikasi dalam

masyarakat yang akhirnya menggiring massyarkat kea abad informasi dan

teknologi.

Komunikasi massa (mass comunication) adalah komunikasi yang

menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah, baliho, billboard,

poster pamphlet, dan tabloid) atau elektronik (radi, televise, dan internet) yang

dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang tersebar dibanyak tempat, anonym,

heterogen. (Mulyana, 2003:75).

Di Indonesia, masyarakat periklanan Indonesia mengartikan iklan sebagai

segala bentuk pesan tentang produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu media

dan ditujukan pada sebagian atau seluruh masyarakat (Widyatama, 2005:16).

Menurut Suhadang (2005:13) periklanan adalah suatu proses komunikasi massa

(14)

membayar jasa sebuah media massa atas penyiaran iklannya. Adapun iklan itu

sendiri biasanya dibuat atas pesanan si pemasang oleh sebuah agen atau biro iklan,

atau bias saja oleh Humas lembaga pemasangan iklan itu sendiri. Bisa

disimpulkan bawha periklanan adalah kegiatan untuk mengkomunikasikan

informasi tentang suatu produk atau jasa kepada khalayak luas.

Tujuan dari periklanan adalah untuk membujuk konsumen untuk

melakukan sesuatu, biasanya untuk membeli sebuah produk. Agar iklan dapat

menarik dan berkomunikasi dengan khalayaknya dalam cara tertentu sehingga

membuahkan hasil yang diinginkan, pengiklan harus memahami khalayak

mereka. Mereka harus mengakrabkan diri dengan cara berfikir konsumen, dengan

factor-faktor yang memotivasi mereka, serta lingkungan dimana mereka hidup

(Lee&Johson, 2004:108). Jadi yang diutamakan bukan hanya bagaimana pesan

dari iklan tersebut dapat menarik minat konsumen, tapi bagaimana pesan dari

iklan tersebut dapat tepat sasaran dan meningkatkan penjualan produk.

Dalam komunikasi periklanan, yang digunakan bukan hanya bahasa

sebagai alatnya, tetapi juga alat komunikasi lainya seperti gambar, warna, dan

bunyi. Sering juga kita jumpai dalam mengiklankan suatu produk, produk tersebut

tidak ditampilkan secara langsung, daya tarik iklannya ditampilkan hanya melalui

logo dari produk tersebut, warna-warna beserta kalimat pesan yang mengandung

makna konotatif.

Dalam dunia periklanan sendiri ada tiga produk yang selalu menimbulkan

kontroversi yaitu, alcohol, rokok, dan kondom. Karena itu dibuatlah

(15)

produk rokok dengan bahasa simboliknya mengajak audience untuk bermimpi, melayang, dan membayangkan suatu kesenangan atau kenikmatan yang pada

akhirnya mau mengkonsumsi produk yang ditawarkan

(http://puslit.petra.ac.id/journals/desaign/). Oleh karena itu sebuah iklan rokok

hanya boleh menampilkan image atau citra dari produk tanpa ada perwujudan dari

produk tersebut. Hal ini membuat iklan produk mereka kepada khalayak luas.

A Mild adalah salah satu brand rokok yang di produksi oleh PT. HM Sampoerna. PT. HM Sampoerna, Tbk sebagai perusahaan yang memproduksi

pertama kali di bangun oleh keluarga sampoerna secara turun memurun.

Kesuksesan diawali dari perintisan bisnis oleh Liem Seeng Tee, dilanjutkan

dengan kesuksesan Liem Swie Ling membangun pondasi bisnis yang kokoh, lalu

diteruskan hingga kini oleh putra Sampoerna dan Michael Joseph Sampoerna,

Putranya bersma produk-produk andalanya seperti Dji Sam Soe, Sampoerna

Hijau, dan Sampoerna A Mild. Perusahaan ini sebenarnya telah menjadi salah satu

perusahaan yang paling kokoh di dunia usaha Indonesia. Dengan demikian ketika

awal Maret 2005 ini diumumkan akuisisi Philip Moris International, produsen

Malioboro, atas PT. HM. Sampoerna, maka menjadi wajar jika ada yang

mempertanyakannya kemampuan produk-produk Sampoerna bertahan dijalur

rokok yang memiliki brand image sebagai Indonesia.

(16)

Penggarapan atas iklan tersebut tetap dipercayakan pada agency periklanan di

Jakarta, Ogilvy & ditangani oleh Bob Krabbe dari RT Film dengan menggunakan

teknologi modern dan animasi terbaru dan tim produksi Indonesia, yang

berpengalaman (http://www.prospek.biz/indexphp 05 Mei 2010) “Sama halnya

dengan produk yang ditawarkan, iklan A Mild selama ini juga menjadi trend setter

dalam dunia iklan. Untuk itu, selalu mencoba memunculkan sesuatu yang

berbeda. Kami berharap iklan ini tidak saja mampu menyampaikan keunggulan

produk Sampoerna A Mild, tetapi juga menghibur dan mampu memberikan

inspirasi bagi ide-ide kreatif baru”, ujar senior Brand Manager A Mild Sendi

Sugianto. (http://www.prospek.biz/indeks.php 05 Mei 2010).

Sisi menarik lain dari tampilan iklan A adalah justru produk yang

ditawarkan yaitu, (rokok A Mild) disajikan dalam skala yang kecil dan nyaris

tidak menonjol. Padahal sebagai suatu produk yang dipasarkan, biasanya tampil

mencolok dan cenderung menjadi fokus dari sajian iklan namun hal ini justru

tidak dilakukan oleh iklan rokok A Mild tersebut.

Sebuah iklan A Mild ternyata tidak semata-mata mempunyai fungsi untuk

mendorong, membujuk pada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang

ditampilkan iklan rokok A Mild melainkan iklan ini menghadirkan sebuah

prospektif dari keinginan-keiginan yang terjadi di masyarakat atas sebuah

perubahan. Tampilan iklan rokok A Mild bukanlah sebuah produk yang dihasilkan

melalui suatu aturan yang kaku, iklan A Mild membawa pesan-pesan filosofis atas

(17)

Pada aspek simbolis inilah sajian iklan harus dibaca sebagai suatu sistim

pemaknaan. Rosalind Coward dan John Ellis seperti diikuti freddy h. Istanto

dalam (http://pulsit.petra.ac.id/journals/desaign) mengatakan bahwa semua

praktek dapat dianggap sebagai makna, sebagai penandaan (signification) dan

sebagai pertukaran (exchange) diantara subyek-subyek dan karenanya dapat

bersandar pada linguistic sebagai model untuk mengembangkan realitasnya secara

sistematis.

Berturut-turut iklan-iklan tematik A Mild bias di uraikan sebagai berikut : versi How Low Can You Go, versi Bukan Basa Basi, versi Other Can Only Follow, versi go With the Real Now, versi Benda Bisa Bicara dan yang terbaru Go A Head. Iklan A Mild versi Go A Head Cari Muka yang menampilkan gambar dua orang laki-laki yang sedang menutupi wajahnya dengan menggunakan telapak

tangannya, iklan ditampilkan melalui media billboard.

Iklan A Mild versi Go A Head Cari Muka yang di muat di media luar ruangan billboard juga bisa dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan oleh

A Mild kepada masyarakat, mengenai iklan tersebut menggambarkan dua orang

laki-laki yang sedang menutupi wajahnya dengan menggunakan telapak

tangannya, dan dibagian punggung tangannya terdapat gambar ilustrasi mata,

hidung, dan mulut sehingga menyerupai gambar wajah.

Penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian berkaitan dengan

keunikan iklannya. Sekilas tidak tampak tentang apa yang ingin disampaikan oleh

(18)

membuat iklan tentang suatu produk atau kegiatan yang disponsori oleh produsen

tersebut tanpa ada pesan yang ingin disampaikan.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis merasa tertarik untuk

menganalisis iklan A Mild versi Go A Head Cari Muka tersebut dengan studi semiotic Charles Sanders Pierce yang mengetahui membagi tanda atas icon,

index, dan symbol untuk mengetahui bagaimana representasi ambisi dalam iklan

rokok A Mild versi Go A Head Cari Muka di media luar ruangan tersebut.

Ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi

(memperoleh, mencapai) sesuatu seperti (pangkat, kedudukan) dan atau

melakukan sesuatu. (www.artikata.com )

Setiap manusia harus memiliki ambisi untuk mengubah dirinya lebih baik

dari kondisi yang saat ini tengah dijalaninya. Sikap ambisi menjadi suatu

dorongan dalam diri yang memacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang

baik dengan tujuan yang ingin ditempuh. Contohnya, seorang mahasiswa yang

memiliki ambisi untuk dapat menyelesaikan study S1 dengan tepat waktu. Maka

ia akan terus belajar, bimbingan kepada dosen, berdo’a, dan terus berusaha hingga

mencapai tujuan yang ia inginkan yaitu menjadi Sarjana.

Menurut psikolog ternama Tika Bisono MPsi Psi, setiap manusia harus

memiliki sikap ambisi. “Ambisi itu sesuatu yang baik, setiap orang harus

memilikinya. Karena ambisi merupakan cita-cita atau apa yang ingin dituju atau

roh seorang manusia untuk survive dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki

(19)

Pada dasarnya memiliki sifat ambisi itu bagus selama masih bisa

dikendalikan dengan baik, namun jika tidak akan menimbulkan sikap ambisius.

“Ambisius itu kata sifat dari ambisi. Yang namanya kata sifat ada positif dan

negatifnya. Ambisi yang positif dimiliki oleh orang supaya bisa berprestasi

dengan baik dan menghasilkan karya terbaik, sementara kalau yang negatif itu

sebuah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga dia

akan memaksakan segala cara,”

Ambisius yang berlebihan, akan membuat mereka memiliki minat dan

keinginan yang menggebu-gebu terhadap suatu bidang. Dengan begitu mereka

dapat menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya itu. “Ciri-ciri

mereka yang ambisius itu misalnya secara finansial atau kemampuan lainnya

sudah tidak mampu, tapi tetap memaksakan kehendaknya. Yaitu dengan

menghalalkan segala cara, menjatuhkan lawannya atau sudah tahu kalah malah

mencari-cari kesalahan lawannya. Padahal sifat ksatria (menerima kekalahan,

rendah hati kalau menang) itu dibutuhkan untuk meredakan ambisius negatif

seseorang,”

Agar ambisi yang dimiliki tak berubah menjadi ambisius, maka setiap

orang harus memiliki kerangka program dan ukuran-ukuran yang jelas. setiap

orang harus memiliki kerangka program dan ukuran-ukuran yang mengacu pada

kemajuannya, kalau berkompetisi berarti sudah tepat. Tapi agar tidak melebihi

kompetensi maka harus terukur.

(20)

dari seseorang untuk mencapai kinerja yang baik. Aspek-aspek ini termasuk sifat,

motif-motif, sistem nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi akan

mengarahkan tingkah laku yang menghasilkan kinerja.

(http://lifestyle.okezone.com)

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang penulis uraikan diatas, maka perumusan

masalah dalam penelitian ini adalah : “ Bagaimana Representasi Ambisi Pada

Iklan Rokok A Mild versi “Go A Head Cari Muka”?” secara keseluruhan.

1.3Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui reprsentasi

ambisi pada rokok A Mild melalui penggambaran iklan rokok A Mild versi “Go A

Head Cari Muka” secara keseluruhan.

1.4manfaat Penelitian

Ada dua manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini, yaitu :

1. Manfaat Teoristis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada

perkembangan dan pendalaman studi komunikasi tentang analisi iklan

(21)

2. Manfaat Praktis

Untuk memberikan masukan kepada para praktisi periklana, khususnya

bagi para kreator-kreator iklan, dalam kaitannya dengan penciptaan

konsep-konsep iklan yang ditampilkan ketengah masyarakat. Selain itu

juga memberikan wacana kepada masyarakat agar bisa mencermati dengan

(22)

2.1. Landasan Teor i

2.1.1. Iklan Media Cetak

Menurut Burnet Wells dan Moriarty, iklan merupakan bentuk komunikasi

non personal dari sebuah produsen yang dikenal dengan menggunakan media

massa untuk mempersuasi atau mempengaruhi khalayak. Sedangkan Lee dan

Johnson mengatakan bahwa iklan adalah komunikasi komersil dan non personal

tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu

khalayak melalui media bersifat massal, seperti televisi, radio, koran, majalah,

direct mail, reklame ruang atau kendaraan umum. Dan pada komunitas global, iklan dapat disampaikan melalui media internet (Yuli & Catur, 2006:3).

Media dari iklan salah satunya adalah media cetak yang berarti sebagai

sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan iklan kepada khalayak. Iklan

media cetak menurut Rendra Widyatama dalam bukunya “Pengantar Periklanan”

adalah iklan yang dibuat dan dipasang dengan menggunakan teknik cetak, baik

cetak dengan teknologi sederhana maupun teknologi tinggi. Media yang

digunakan dalam teknik cetak tersebut sangat beragam, mulai dari pelat metal,

kulit, plastik, kaca, kain, dan sebagainya. Iklan yang dibuat dengan menggunakan

teknik cetak ini, pada akhirnya lebih populer disebut dengan nama sesuai dengan

bentuk dan format media cetak. Beberapa bentuk iklan cetak yaitu, iklan cetak

(23)

produk, stiker, balon udara, bus panel, dan berbagai iklan cetak lainnya

(Widyatama, 2007:79-80).

Iklan yang ditampilkan media cetak akan menimbulkan daya ingat pada

pembacanya secara maksimal tentang isi pesan yang disampaikan. Dengan

demikian, daya ingat khalayak pembaca relatif baik bila dibandingkan dengan

khalayak sasaran media yang lainnya, seperti radio dan televisi dalam menanggapi

suatu iklan (Widyatama, 2007:78).

2.1.2. Billboar d Sebagai Media Ik lan

Berasal dari kata bill yang berarti poster, karena poster-poster iklan

tersebut kemudian ditempel di papan agar lebih eye chating maka kemudian

dinamakan billboard. Ada tiga format billboard : poster panel, painted bullentins,

dan spectaculars ( Sigit, 2002, p.16 ).

Billboard adalah salah satu media luar ruang yang dewasa ini telah

menjadi bagian dari kehidupan masyarakat urban, yang memiliki tujuan

menyampaikan pesan promosi suatu produk atau jasa. Lokasi strategis merupakan

kunci keberhasilan pemasangan billboard, agar dapat memberikan rangsangan

stimulasi visual secara langsung kepada khalayak public melalui pengaturan

visual, seperti tampilan warna, gambar, tipografi / huruf, serta layout.

Elemen-elemen ini diatur sedemikian rupa menjadi sebuah satu kesatuan dan ditampilkan

pada media billboard agar tampak menarik perhatian dan pesan-pesannya dapat

(24)

Permasalahan kemudian timbul ketika masing-masing billboard berusaha

bersaing dengan billboard lainnya, dengan memperebutkan area publik yang

dianggap strategis, sehingga ruang-ruang public tersebut menjadi semakin

terbatas. Bahu jalan, façade dan atap gedung, area hijau semua dioptimalisasi dan

di eksploitasi untuk pemasangan titik-titik billboard, seperti yang terjadi pada

kawasan Jl. Prapen Surabaya. Karena itu para pengguna jalan akan mendapatkan

pemandangan pada sebuah ruas kawasan yang dipenuhi oleh ragam media

billboard, sehingga menimbulkan sebuah pertanyaan mengenai bagaimana

penggunaan jalan sebagai subyeknya dapat mengidentifikasi dan tertarik pada

tampilan visual media billboard tersebut, mengingat tingginya tingkat kepadatan

media billboard. ( http://www.dumitos.com/tell-products/billboard1.htm )

2.1.3 Komunikasi Nonver bal

Citra diri yang ditampilkan seseorang dapat dimunculkan dengan cara

verbal dan nonverbal. Seringkali tanda-tanda yang di tampilkan secara nonverbal

inilah yang memberikan banyak makna. Istilah nonverbal biasanya digunakan

untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan

tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan

perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian

ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat

nonverbal (Knapp dalam Mulyana, 2007:347).

Tidak ada struktur yang pasti mengenai hubungan antara komunikasi verbal dan

(25)

perbedaan pokok antara komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Pertama,

sementara perilaku verbal adalah saluran tunggal, perilaku nonverbal bersifat

multisaluran. Kata-kata datang dari satu sumber, tetapi isyarat nonverbal dapat

dilihat, didengar, dirasakan, dibaui, atau dicicipi, dan beberapa isyarat boleh jadi

berlangsung secara simultan (Verderber dalam Rakhmat, 2007:348). Kedua, pesan

verbal terpisah-pisah, sedangkan pesan nonverbal sinambung. Artinya orang dapat

mengawali dan mengakhiri pesan verbal kapanpun ia menghendakinya, sedangkan

pesan nonverbalnya tetap mengalir, sepanjang ada orang yang hadir di dekatnya.

Ketiga, komunikasi nonverbal mengandung lebih banyak muatan emosional

daripada komunikasi verbal. Kata-kata umumnya digunakan untuk menyampaikan

kata-kata sedangkan pesan nonverbal lebih potensial untuk menyatakan perasaan

seseorang.

Studi tentang isyarat wajah sebagai ekspresi emosi khusus memiliki

riwayat yang panjang. Salah satu ilmuwn yang paling terkenal menguji hal ini

adalah Charles Darwin. Charles Darwin mencoba menemukan apakah isyarat

wajah yang berhubungan dengan emosi tertentubersifat universal. Metode yang

digunakan adalah meminta subjek untuk mengidentifikasi emosi khusus yang

tampak dari foto-foto wajah orang. Dalam buku The Expression of the Emotion in

Man and Animals (1872), Darwin menyajikan beberapa kesimpulan dan pemikiran

tentang perilaku ekspresif. Menurut Darwin, sebagian besar dari tindakan ekspresif

manusia, seperti halnya binatang, merupakan perilaku yang bersifat instinktif,

(26)

dan 3 tahun, bahkan yang dilahirkan tunanetra, wajahnya memerah bila merasa

malu”.

Argumen Darwin tentang ekspresi wajah anak-anak tunanetra didukung

oleh studi-studi berikutnya. Ilmuwan Jerman, Eibl Eibesfeldt menemukan bahwa

ekspresi wajah merupakan gerak isyarat bawaan. Sedangkan Ekman, Friesen, dan

Sorenson mendukung beberapa keyakinan Darwin tentang gerak isyarat bawaan

ketika mereka mempelajari ekspresi wajah orang-orang dari lima kebudayaan yang

berbeda. Mereka menemukan bahwa tiap kebudayaan memakai isyarat wajah dasar

yang sama untuk menunjukan emosi. Hal ini membuat mereka menyimpulkan

bahwa gerak isyarat merupakan bawaan. Mereka menyadari adanya perbedaan

budaya tapiberanggapan bahwa perbedaan tersebut direfleksikan “dalam

lingkungan yang menimbulkan emosi, serta dalam menerapkan aturan yang

mempengaruhi pengelola perilaku wajah dalam tata sosial tertentu”.

Ada enam emosi yang umum ditampilkan dari ekspresi wajah, yaitu :

senang, sedih, terkejut, marah, takut, dan muak/jijk. Emosi-emosi tersebut dapat

diamati dari ekspresi bagian-bagian wajah, seperti : mata, alis, mulut, dahi, hidung,

pipi, dan mulut.

a. Mata

Mata adalah alat indera untuk menerima rangsangan optik. Untuk

menerima rangsangan secara optimal, maka mata dibuka lebar-lebar

sehingga pupil tidak terhalangi. Kalau mengantuk, maka mata tidak

(27)

membesar/mengecilnya pupil, sejauh mana kelopak mata terbuka (Barbara,

1990).

b. Dahi

Ekspresi gerak isyarat ini berhubungan erat dengan pernyataan mata.

Beberapa gerak isyarat yang tampak dari dahi adalah :

• Kerut-kerut horizontal

Terjadi jika mata dibuka selebar mungkin sehingga kulit dahi

terangkat. Ditemukan pada mimik takut, terkejut, kagum, kurang

mengerti. Ditemukan pula pada keadaan lelah atau mengantuk

namun berusaha untuk tetap terjaga.

• Kerut-kerut vertikal

Disebut juga kerut kemauan. Kerutan ini terdapat di dahi di atas

pangkal hidung. Kerutan ini muncul bila mengerjakan sesuatu yang

menuntut perhatian/konsentrasi, juga berpikir untuk mengambil

keputusan. Selain itu, kerutan juga muncul pada orang yang kecewa

atau keras kepala.

• Kerut-kerut bahaya

Kerutan ini merupakan kombinasi dari kerutan horizontal dan

kerutan vertikal, merupakan isyarat bahwa orang tersebut dalam

kesukaran itu menjadi beban baginya. Kedua arah kerutan muncul

karena ada rasa takut/terkejut (sehingga muncul kerutan horizontal),

tapi yang bersangkutan berusaha mengatasinya (muncul kerutan

(28)

kerutan menunjukan keadaan tidak berdaya, penakut dan tidak

dapat menolong diri sendiri, menderita dan tidak dapat mencari

jalan keluar.

c. Mulut

• Reaksi mengecap

Pernyataan mulut berhubungn dengan fungsi mulut yaitu menerima,

merasakan, dan mencicipi makanan. Ada tiga reaksi yaitu : reaksi

rasa pahit, reaksi rasa asam, dan reaksi rasa manis.

• Variasi mulut terbuka

Mulut menganga lebar, bisa bermakna terkejut, bingung atau takut

(harus dilihat juga ekspresi ata). Mulut monyong bisa bermakna

memperhatikan sesuatu dengan kritis, protes, penolakan (ditambah

dengan ekspresi mata membesar yang ditujukan ke arah orang yang

diprotes).

• Cara menutup mulut

Mulutt tertutup biasa tanpa ketegangan, tidak memiliki makna

apa-apa. Mulut tertutup dengan tekanan, memperlihatkan tidak ada

keinginan untuk berhubungan dengan orang lain, menghindari

hubungan kata-kata. Mulut tertutup rapat, bibir seolah-olah diperas,

menunjukan adanya tekanan yang sangat besar, menghindari

(29)

• Rahang gigi

Gigi yang dikatupkan, bermakna adanya kemarahan, ketakutan.

Menggigit bibir, terjadi bila orang menghadapi situasi tertentu

secara mendadak dan harus berpikir dahulu sebelum mengatasi

situasi tersebut, menunggu dan berusaha menguasai diri.

• Tertawa

Tertawa terbagi atas dua jenis yaitu tertawa lepas dan keras

dikarenakan lucu sehingga membuat senang, dan tertawa kecil yang

bisa bermakna menghina, merendahkan.

d. Hidung

• Cuping hidung mengembang, biasanya terjadi bila orang marah

atao merasa bangga

• Menaikan hidung (cuping hidung ditarik keatas), bermakna hal

yang tidak menyenangkan. Namun memaknai gerak isyarat

menaikkan hidung ini harus dihubungkan dengan gerak isyarat lain,

misalnya reaksi pahit, dimana bibir atas nai sehingga cuping hidung

naik.

e. Emosi dan gerak isyarat wajah

Menggambarkan tentang ekspresi emosi yang tampak dari bagian-bagian

wajah (kumar, 2004). Ada enam emosi yang umum ditampilkan dari

(30)

1. Senang : mata dan alis bagian bawah kelopak mata agak terangkat,

terlihat ada kerutan, dan mata menyempit, pipi memerah dan

membesar, bibir dan mulut melebar, terkadang gigi terlihat.

2. Sedih : ujung dalam alis terangkat, dahi berkerut, sudut mulut tertarik

kebawah dan bibir gemetar

3. Terkejut : seluruh alis terangkat dan mata membesar, rahang menurun

dan mulut terbuka.

4. Takut : kelopak mata bagian atas terangkat, bagian putih mata terlihat

jelas, kelopak mata bagian bawah menegang dan terangkat, dahi

berkerut, bibir ditarik.

5. Marah : alis ditarik kedalam, mata menyempit, beberapa orang

mengembangkan hidung mereka, bibir tertutup rapat.

6. Muak : kelopak mata bagian bawah terangkat dan berkerut, hidung

berkerut, mulut merapat, kedua bibir terangkat atau cemberut.

2.1.4 Komunikasi Inter per sonal

Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian

pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok

kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan

umpan balik dengan segera (Effendy, 2003:30). Definisi lain, dikemukakan oleh

Arni Muhammad (2005:153), komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran

(31)

di antara dua orang yang dapat diketahui langsung balikannya (komunikasi

langsung).

Secara sederhanana dapat dikemukakan suatu asumsi bahwa proses

komunikasi interpersonal akan terjadi apabila ada pengirim menyampaikan

informasi berupa lambang verbal maupun nonverbal kepada penerima dengan

medium suara manusia (human voice), maupun dengan medium tulisan.

Berdasarkan asumsi ini maka dapat dikatakan bahwa dalam proses komunikasi

interpersonal terdapat komponen-komponen komunikasi yang secara integratif

saling berperan sesuai dengan karakteristik komponen itu sendiri, yaitu:

1. Sumber / komunikator

Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi,

yakni keinginan untuk membagi keadaan internal sendiri, baik yang

bersifat emosional maupun informasional dengan orang lain. Kebutuhan

ini dapat berupa keinginan untuk memperoleh pengakuan sosial sampai

pada keinginan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain.

Dalam konteks komunikasi interpersonal komunikator adalah individu

yang menciptakan, memformulasikan, dan menyampaikan pesan.

2. Encoding

Encoding adalah suatu aktifitas internal pada komunikator dalam menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol verbal dan

nonverbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa, serta

disesuaikan dengan karakteristik komunikan. Encoding merupakan

(32)

dan sebagainya sehingga komunikator merasa yakin dengan pesan yang

disusun dan cara penyampaiannya.

3. Pesan

Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-simbol baik

verbal maupun non verbal, atau gabungan keduanya, yang mewakili

keadaan khusus komunikator untuk disampaikan kepada pihak lain. Dalam

aktivitas komunikasi, pesan merupakan unsur yang sangat penting. Pesan

itulah yang disampaikan oleh komunikator untuk diterima dan

diinterpretasi oleh komunikan. Komunikasi akan efektif apabila

komunikan menginterpretasi makna pesan sesuai yang diinginkan oleh

komunikator.

4. Saluran

Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber ke penerima atau

yang menghubungkan orang ke orang lain secara umum. Dalam konteks

komunikasi interpersonal, penggunaan saluran atau media semata-mata

karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan dilakukan komunikasi

secara tatap muka. Prinsipnya, sepanjang masih dimungkinkan untuk

dilaksanakan komunikasi secara tatap muka, maka komunikasi

interpersonal tatap muka akan lebih efektif.

5. Penerima / komunikan

Adalah seseorang yang menerima, memahami, dan menginterpretasi

pesan. Dalam proses komunikasi interpersonal, penerima bersifat aktif,

(33)

memberikan umpan balik. Berdasarkan umpan balik dari komunikan inilah

serang komunikator akan dapat mengetahui keefektifan komunikasi yang

telah dilakukan, apakah makna pesan dapat dipahami secara bersama oleh

kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan.

6. Decoding

Decoding merupakan kegiatan internal dalam diri penerima. Melalui indera penerima mendapatkan macam-macam data dalam bentuk

“mentah”, berupa kata-kata dan simbol-simbol yang harus diubah ke

dalam pengalaman-pengalaman yang mengandung makna. Secara bertahap

dimulai dari proses sensasi, yaitu proses di mana indera menangkap

stimuli. Proses sensasi dilanjutkan dengan persepsi, yaitu proses memberi

makna atau decoding.

7. Respon

Yakni apa yang telah diputuskan oleh penerima untuk dijadikan sebagai

sebuah tanggapan terhadap pesan. Respon dapat bersifat positif, netral,

maupun negatif. Respon positif apabila sesuai dengan yang dikehendaki

komunikator. Netral berarti respon itu tidak menerima ataupun menolak

keinginan komunikator. Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang

diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator. Pada

hakikatnya respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat

menilai efektivitas komunikasi untuk selanjutna menyesuaikan diri dengan

(34)

8. Gangguan (noise)

Gangguan atau noise atau barier beraneka raga, untuk itu harus

didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam

komponen-komponen manapun dari sistem komunikasi. Noise merupakan apa saja

yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian dan penerimaan

pesan termasuk yang bersifat fisik dan psikis.

9. Konteks komunikasi

Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, paling tidak ada

tiga dimensi yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada

lingkungan kongkrit dan nyata tempat terjadinya komunikasi, seperti

ruangan, halaman, jalanan. Konteks waktu menunjuk pada waktu kapan

komunikasi tersebut dilaksanakan. Konteks nilai, meliputi nilai sosial dan

budaya yang mempengaruhi suasana komunikasi. Agar komunikasi

interpersonal dapat berjalan secara efektif, maka masalah konteks

komunikasi ini kiranya perlu menjadi perhatian. Artinya pihak

komunikator dan komunikan perlu mempertimbangkan konteks

komunikasi ini (Suranto, 2011:7).

Model komunikasi Sirkular Osgood dan Schramm berbeda sekali dengan

model komunikasi Matematikal Shannon dan Weaver. Kalau dalam model

komunikasi Matematikal Shannon dan Weaver sifat alurnya searah, maka

dalam model komunikasi Osgood dan Schramm alur komunikasinya bersifat

timbal balik atau berbalik arah. Artinya dalam satu sisi Penyandi kode informasi

(35)

akan menjadi decoder (penerima informasi), jika decoder pertama tersebut telah menginterpretasikan / menafsirkan pesan dari encoder pertama. Dengan demikian

apabila dalam proses komunikasi menggunakan model Osgood dan Schramm,

maka besar kemungkinan akan terjadi sebuah sistem komunikasi yang akan

menghasilkan pemahan terhadap sesuatu hal (pesan komunikasi) menjadi lebih

berkembang karena proses komunikasi tidak berhenti ketika pesan komunikasi

telah sampai kepada penerima pesan.

(http://www.scribd.com/doc/21215557/Model-Komunikasi).

2.1.5 Ambisi

Setiap manusia harus memiliki ambisi untuk mengubah dirinya lebih baik

dari kondisi yang saat ini tengah dijalaninya. Sikap ambisi menjadi suatu

dorongan dalam diri yang memacu untuk mengerjakan sesuatu dengan hasil yang

baik dengan tujuan yang ingin ditempuh. Contohnya, seorang mahasiswa yang

memiliki ambisi untuk dapat menyelesaikan study S1 dengan tepat waktu. Maka

ia akan terus belajar, bimbingan kepada dosen, berdo’a, dan terus berusaha hingga

mencapai tujuan yang ia inginkan yaitu menjadi Sarjana.

Ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi

(memperoleh, mencapai) sesuatu seperti (pangkat, kedudukan) dan atau

melakukan sesuatu. (www.artikata.com )

Menurut psikolog ternama Tika Bisono MPsi Psi, setiap manusia harus

(36)

roh seorang manusia untuk survive dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki

ambisi, berarti dia tidak mengisi kehidupannya,”.

Pada dasarnya memiliki sifat ambisi itu bagus selama masih bisa

dikendalikan dengan baik, namun jika tidak akan menimbulkan sikap ambisius.

“Ambisius itu kata sifat dari ambisi. Yang namanya kata sifat ada positif dan

negatifnya. Ambisi yang positif dimiliki oleh orang supaya bisa berprestasi

dengan baik dan menghasilkan karya terbaik, sementara kalau yang negatif itu

sebuah ambisi yang tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga dia

akan memaksakan segala cara,”

Ambisius yang berlebihan, akan membuat mereka memiliki minat dan

keinginan yang menggebu-gebu terhadap suatu bidang. Dengan begitu mereka

dapat menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya itu. “Ciri-ciri

mereka yang ambisius itu misalnya secara finansial atau kemampuan lainnya

sudah tidak mampu, tapi tetap memaksakan kehendaknya. Yaitu dengan

menghalalkan segala cara, menjatuhkan lawannya atau sudah tahu kalah malah

mencari-cari kesalahan lawannya. Padahal sifat ksatria (menerima kekalahan,

rendah hati kalau menang) itu dibutuhkan untuk meredakan ambisius negatif

seseorang,”

Agar ambisi yang dimiliki tak berubah menjadi ambisius, maka setiap

orang harus memiliki kerangka program dan ukuran-ukuran yang jelas. setiap

(37)

kemajuannya, kalau berkompetisi berarti sudah tepat. Tapi agar tidak melebihi

kompetensi maka harus terukur.

Kompetensi tetap harus diasah dan diusahakan untuk selalu menghasilkan

tingkah laku yang sesuai diinginkan. Kompetensi merupakan aspek-aspek pribadi

dari seseorang untuk mencapai kinerja yang baik. Aspek-aspek ini termasuk sifat,

motif-motif, sistem nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi akan

mengarahkan tingkah laku yang menghasilkan kinerja.

(http://lifestyle.okezone.com)

2.1.5.1Kenali Ambisi

Ambisi berasal dari bahasa Inggris, ambition yang berarti desired to achieved something atau will to succes. Jadi ambisi adalah keinginan

untuk mencapai sesuatu atau kemauan untuk mencapai sukses. Terlihat

jelas, arti ambisi bermakna positif, bukan sebaliknya. Sedangkan ambisius

menunjuk pada orang yang memiliki ambisi.

Bisa dikatakan ambisi merupakan petunjuk arah hidup kita. Karena

itu, ambisi (sesungguhnya) penting dimiliki. Ambisilah yang

menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin diraih

dalam hidup ini. Bisa jadi, tanpa ambisi, seseorang seolah-olah tidak

(38)

2.1.5.2Sisi Positif Ambisi

Ambisi diperlukan agar kita semangat dan termotifasi dalam

melakukan apapun. Kita berambisi untuk segera menelesaikan kuliah.

Begitu juga ketika sudah mulai bekerja. Persaingan dalam berkarir berkarir

semakin kompetitif. Oleh karena itu, ambisi dibutuhkan untuk membuat

kita bergerak maju.

Dalam buku “Think and Grow Rich” disebutkan kurang ambisi

adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan seseorang.

Kurang ambisi, maka jalan mencapai tujuan menjadi tersendat-sendat,

akibat tidak memiliki motifasi. Akhirnya karena terlalu lamban, seseorang

pun menemui kegagalan.

2.1.5.3Sisi Negatif Ambisi

Ada ‘Yin’ pasti ada ‘Yang’. Begitu juga dengan ambisi, ada sifat

positif pasti ada sifat nagatif. Ambisi bisa berubah jadai ‘racun’ jika ketika

mewujudkan ambisi, seseorang menjadi terlalu obsesi, sehingga ambisinya

berlebihan dan tak jarang samapai menghalalkan segala cara. Tak heran

jika akhirnya orang yang berambisi ‘dicap’ buruk.

Kita bisa melihat ambisi mendapatkan nilai bagus, kita jadi

memaksa teman sekelompok terus mengerjakan tugas itu. Padahal masih

(39)

memaksa, teman-teman sekelompok justru mengerjakan dengan setengah

hati dan mulai menjauhi kita.

Selain reaksi orang lain, tubuh kita juga ‘pintar’ menunjukkan

bahwa ambisi kita sudah berlebihan. Dibebani tugas untuk mewujudkan

bahwa ambisi, tubuh kita jadi lupa istirahat. Alhasil, fisik mendera dan

mental pun tertekan. Karena itu kita perlu memiliki batasan dalam

mengejar ambisi. Pastinya dengan mempertimbangkan lingkungan,

nilai-nilai moral, norma-norma yang berlaku, lingkungan sekitar kita, dan yang

paling penting kondisi diri sendiri. (http://forum.kompas.com)

2.1.6 Definisi Remaja

Masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat

dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua

melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya masalah hak.

Mengenai umur masa remaja, para psikolog tidak sepakat, namun yang umum

digunakan adalah pendapat Luella Cole, seoarang ahli psikologi, yaitu 13 – 15

tahun (masa remaja awal) , 15 – 18 tahun (masa remaja pertengahan) , 18 – 21

tahun ( masa remaja akhir).

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia.

Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke

(40)

perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada

umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun.

Menurut Soetjiningsih (2004).

2.1.6.1 Tahap – Tahap Per kembangan Remaja

Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap

perkembangan remaja:

a. Remaja awal (early adolescent)

Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan

perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-

dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka

mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan

mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh

lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini

ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan para

remaja awal ini sulit dimengerti dan dimengerti orang dewasa.

b. Remaja madya (middle adolescent)

Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia

senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan

narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang

sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan

karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai

(41)

(perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa anak-anak) dengan mempererat

hubungan dengan kawan-kawan.

c. Remaja akhir (late adolescent)

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan

ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu:

• Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.

• Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain

dan dalam pengalaman- pengalaman baru.

• Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.

• Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti

dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang

lain.

• Tumbuh ”dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan

masyarakat umum (Sarwono, 2010).

2.1.6.2Cir i-Cir i Masa r emaja

Pada dasarnya setiap usia mempunyai ciri-ciri baik usia anak-anak,

remaja, dewasa, dan usia tua. Menurut Elizabeth Hurlock (2000), masa

remaja memiliki ciri-ciri yang terdiri dari:

1. Masa remaja sebagai periode perubahan. Remaja mengalami

perubahan penting dalam hidupnya baik dari segi fisik maupun

mentalnya untuk menuju kedewasaan diri.

2. Masa remaja sebagai periode peralihan. Dalam setiap periode

(42)

perannya yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi

seorang anak dan juga bukan orang dewasa.

3. Masa remaja sebagai periode perubahan. Ada empat perubahan yang

hampir bersifat universal.

• meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat

perubahan fisik dan psikologis yang terjadi.

• perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok

sosial, menimbulkan masalah baru. Bagi remaja masalah baru yang

timbul tampaknya lebih banyak dan remaja akan tetap merasa

ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut

kepuasannya.

• berubahnya nilai-nilai, apa yang di masa anak-anak dianggap

penting sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi.

• sebagaian besar remaja bersifat ambivalen terhadap setiap

perubahan,mereka menginginginkan perubahan dan menuntut

kebebasan, tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan

akibatnya.

4. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Masalah masa remaja sering

menjadi masalah yang sulit diatasi. Ketidakmampuan mereka untuk

mengatasi masalah membuat banyak remaja akhirnya menemukan

bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.

5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada periode ini remaja

(43)

6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan. Adanya

stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang berperilaku

merusak, mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya

sendiri dan akhirnya membuat peralihan ke masa dewasa menjadi sulit.

7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Remaja cenderung

melihat kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat

dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan

sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita.

8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Remaja mulai

memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status

kedewasaan, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan

obat-obatan, dan seks bebas.

Disimpulkan adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri

remaja, kecenderungan remaja akan mengalami masalah dalam

penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat

menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan penuh tanggung

jawab.

2.1.6.3Ber pikir Kr itis

Masa remaja adalah masa yg paling penting dalam siklus

kehidupan, yang menjadi penanda dan perantara antara masa kanak-kanak

dengan masa dewasa. Masa ini adalah masa dimana perubahan cara

(44)

di alami, masa remaja akan mempertanyakan dan menolak jika

bertentangan dengan keinginannya.

Jika keterampilan-keterampilan penting (seperti membaca dan

berhitung) tidak berkembang dalam masa kanak-kanak, keterampilan

berpikir juga tidak berkembang kearah kematangan di masa remaja. Para

remaja yang kekurangan ketrampilan fundamental umunya mengalami

kesulitan meraih pencapaian-pencapaian yang potensial. Pada remaja lain,

masa ini adalan periode transisional yang penting dalam perkembangan

berpikir kritis.

Beberapa perubahan kognitif yang memampukan remaja berpikir

kritis terjadi selam masa remaja, mencakup hal-hal berikut ini :

1. Meningkatkan kecepatan, otomatisasi dan kapasitas pemrosesan

informasi, sehingga membebaskan sumberdaya-sumberdaya kognitif

untuk tujuan-tujuan yang lain.

2. Peningkatan pengetahuan dalam berbagai bidang

3. Kemampuan yang meningkat dalam menyusun kombinasi-kombinasi

pengetahuan baru

4. Penggunaan strategi atau prosedur secara spontan dan dalam rentang

yang lebih luas, mencakup perencanaan, pertimbangan

alternative-alternatif, dan pemonitoran koknitif pada pola piker (Santrock, john.

(45)

2.1.6.4Kar akter istik Remaja

Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada

masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial

anak pertama-tama masih sangat terbatas dengan orang tuanya dalam

kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin

meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis

maupun lain jenis (dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139).

2.1.6.5Eksistensi Dir i

Kata eksistensi berasal dari kata Latin Existere, dari ex keluar

sitere = membuat berdiri. Artinya apa yang ada, apa yang memiliki

aktualitas, apa yang dialami. Konsep ini menekankan bahwa sesuatu itu

ada. Dalam konsep eksistensi, satu-satunya faktor yang membedakan

setiap hal yang ada dari tiada adalah fakta. Setiap hal yang ada itu

mempunyai eksistensi atau ia adalah suatu eksisten.

Dengan demikian Menurut Bapak Gerakan Eksistensialis

Kierkegaard, menegaskan bahwa yang pertama-tama penting bagi keadaan

manusia yakni keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Ia

menegaskan bahwa eksistensi manusia bukanlah ‘ada’ yang statis,

melainkan ‘ada’ yang ‘menjadi’. Dalam arti terjadi perpindahan dari

‘kemungkinan’ ke ‘kenyataan. Apa yang semula berada sebagai

(46)

yang bebas, yang terjadi dalam kebebasan dan keluar dari kebebasan. Ini

terjadi karena manusia mempunyai kebebasan memilih.

Dengan demikian eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang

dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti muncul dalam suatu

perbedaan, yang harus dilakukan tiap orang bagi dirinya sendiri.

Kierkegaard menekankan bahwa eksistensi manusia berarti berani

mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka barang siapa tidak

berani mengambil keputusan, ia tidak hidup bereksistensi dalam arti

sebenarnya.

Menurut Zainal Abidin (2008) Eksistensi tidak bersifat kaku dan

terhenti, melainkan lentur dan mengalami perkembangan atau sebaliknya

kemunduran, tergantung pada kemampuan individu dalam

mengaktualisasikan potensi-potensinya. Oleh sebab itu, arti istilan

eksistensi analog dengan ‘kata kerja’ bukan ‘kata benda’. Eksistensi

adalah milik pribadi. Tidak ada dua individu yang identik. Oleh sebab itu,

eksistensi adalah milik pribadi, yang keberadaannya tidak bisa disamakan

satu sama lain. (

(47)

2.1.7 Makna Denotatif dan Konotatif

Salah satu cara yang digunakan para ahli untuk membahas lingkup makna

yang lebih besar ini adalah dengan membedakan antara makna denotatif dan

makna konotatif.

Makna denotatif suatu kata adalah makna yang biasa kita temukan dalam

kamus. Sedangkan konotasi itu sendiri berasal dari bahasa Latin connotare, “menjadi tanda”, dan mengarah kepada makna-makna kultural yang terpisah /

berbeda dengan kata (dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi).

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada

sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran

(Lyons, dalam Petada, 2001:98). Menurut Berger, makna denotasi bersifat

langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya

dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda (2000:55). Harimurti

Kridalaksana (2001:40) mendefinisikan denotasi sebagai “makna kata atau

kelompok kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar

bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu; sifatnya obyektif”. Sedangkan

konotasi diartikan sebagai “aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang

didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada

(48)

2.1.8 Per sepsi

Dalam psikologi, persepsi secara umum merupakan proses perolehan,

penafsiran, pemilihan dan pengaturan informasi indrawi. Persepsi social dapat

diatrikan sebagai proses perolehan, penafsiran, pemilihan, dan pengaturan

informasi indrawi tentang orang lain. Apa yang diperoleh, ditafsirkan, dipilih, dan

diatur adalah informasi indrawi dari lingkungan social serta yang menjadi

fokusnya adalah orang lain.

Secara umum, persepsi social adalah aktivitas mempresepsikan orang lain

dan apa yang membuat mereka dikenali. Melalui persepsi sosial, kita berusaha

mencari tahu dan mengerti orang lain. Sebagai bidang kajian, persepsi sosial,

adalah studi terhadap bagaimana orang membentuk kesan dan membuat

kesimpulan tentang orang lain (Teifrod, 2008). Teori-teori dan penelitian persepsi

sosial berurusan dengan kodrat, penyebab-penyebab, dan konsekuensi dari

persepsi terhadap satuan-satuan sosial, seperti diri sendiri, individu lain,

kategori-kategori sosial, dan kumpulan atau kelompok tempat seseorang tergabung atau

kelompok lainnya. Persepsi sosial juga merujuk pada bagaimana orang mengerti

dan mengategorisasi dunia. Seperti persepsi lainya, persepsi sosial merupakan

sebuah konstruksi. Sebagai hasil konstruksi, pengetahuan dan pengalaman yang

diperoleh dari persepsi sosial tidak selalu sesuai dengan kenyataannya.

Isi dari persepsi bisa berupa apa saja. Atribut-atribut individual dapat

mencakup kepribadian, sifat-sifat, disposisi tingkah laku, karakteristik fisik, dan

kemampuan menilai. Atribut-atribut kelompok dapat mencakup property-properti

(49)

legitimasi, dan unsure-unsur sejarah. Akan tetapi, ruang lingkup persepsi sosial

biasanya ditekankan pada sisi mikro, terarah kepada penyimpulan individual

berkaitan dengan karakteristiknya sendiri atau karakteristik individu lain.

Lebih khusus lagi, dengan persepsi sosial kita berusaha [1] mengetahui apa

yang dipikirkan, dipercaya, dirasakan, diniatkan, dikehendaki, dan didambakan

orang lain; [2] membaca apa yang ada didalam diri orang lain berdasarkan

ekspresi wajah, tekanan suara, gerak-gerik tubuh, kata-kata, dan tingkah laku

mereka; [3] menyesuaikan tindakan sendiri dengan keberdaan orang lain

berdasarkan pengetahuan dan pembacaan terhadap orang tersebut. (Sarwono &

Eko, 2009 : 24)

2.1.9. Repr esenta si

Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial

pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia : dialog, tulisan, video, film,

fotgrafi, dan sebagainya. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna

melalui bahasa (http://kuaci.or.id). Yang pasti persoalan utama dalam representasi

adalah bagaimana realitas atau objek tersebut ditampilkan. Dengan kata, kalimat

atau gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan khalayak.

Konsep representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan

pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Karena makna

sendiri juga tidak pernah tetap, ia selalu berada dalam prses negosiasi dan

disesuaikan dengan situasi yang baru. Intinya adalah makna tidak inhern dalam

(50)

representasi. Makna adalah hasil dari praktek penandaan. Praktek yang membuat

sesuatu hal bermakna sesuatu (http://kuaci.or.id).

Melalui representasi, maka makna (meaning) dapat berfungsi dan pada akhirnya diungkap. Representasi disampaikan melalui tanda-tada (sign). Tanda-tanda tersebut seperti, bunyi, kata-kata, tulisan, ekspresi, sikap, pakaian, dan

sebagainya merupakan bagian dari dunia material kita (Hall, 1997). Tanda-tanda

tersebut merupakan media yang membawa makna-makna tertentu dan

merepresentasikan mening tertentu yang ingin disampaikan kepada dan oleh kita.

Melalui tanda-tanda tersebut, kita dapat merepresentasikan pikiran, perasaan, dan

tindakan kita. Pembacaan terhadap tanda-tanda tersebut tentu saja dapat dipahami

dalam konteks sosial tertentu (http://www.readingculture.net).

Menurut kamus besar bahasa Indonesia representasi berarti apa yang

mewakili atau perwakilan. Piliang (2003:21), dalam bukunya Hipersemiotika,

mengungkapkan bahwa representasi merupakan tindakan yang menghadirkan

sesuatu lewat sesuatu yang lain diluar dirinya, biasanya berupa tanda atau symbol.

Representasi jugaberarti sebuah konsep yang digunakan dalam proses pemaknaan

melalui system penandaan yang tersedia : dialog, tulisan, video, film, fotografi,

dsb. Secara ringkas, representasi adalah produksimakna melalui bahasa. Oleh

karena itu, yang dimaksud dengan representasi eksploitasi yaitu eksploitasi itu

sendiri yang dihadirkan atau diperlihatkan melalui tanda-tanda pada model

(51)

2.1.10 Pendekatan Semiotik

Secara singkat, analisis semiotik merupakan cara atau metode untuk

menganalisis dan memberikan makna-makna terhadap lambang-lambang pesan

atau teks. Teks yang dimaksud dalam hubungan ini adalah segala bentuk serta

sistem lambang (sign) baik yang terdapat pada media massa maupun yang

terdapat di luar media massa. Urusan analisis semiotik adalah melacak

makna-makna yang diangkut dengan teks berupa lambang-lambang (sign). Dengan kata lain, pemaknaan terhadap lambang-lambang dalam tekslah yang menjadi pusat

perhatian analisis semiotik (Pawito, 2007:155).

Menurut Littlejohn (1996:64), sign (tanda / lambang) adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda dapat melakukan

komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal bisa dikomunikasikan di dunia ini.

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.

Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari

jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.

Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak

mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things).

Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat mencampuradukkan dengan

mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek

tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak

berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda

(52)

Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas

berurusan dengan simbol, bahasa, wacana, dan bentuk–bentuk nonverbal,

teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan

bagaimana tanda disusun. Secara umum, studi tentang tanda merujuk kepada

semiotika. Dengan tanda–tanda kita mencari keteraturan ditengah–tengah dunia

yang centang–prenang ini, setidaknya agar kita sedikit punya pegangan. ”Apa

yang dikerjakan oleh semiotika adalah mengajarkan kita bagaimana menguraikan

aturan–aturan tersebut dan membawanya pada sebuah kesadaran” ujar Pines

(Sobur, 2006:16) .

Dengan semiotika kita lantas berurusan dengan tanda. Semiotika seperti

kata Lechte (2001:191), adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk

komunikasi yang terjadi dengan sarana signs tanda–tanda yang berdasarkan pada

sign system (code) tanda–tanda (Segers, 2000:4). Yang perlu kita garis bawahi dari berbagai definisi di atas adalah bahwa para ahli melihat semiotika atau

semiosis itu sebagai ilmu atau proses yang berhubungan dengan tanda. Begitulah

semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda, secara

sistematik menjelaskan esensi, ciri–ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses

signifikasi yang menyertainya (Sobur, 2006:16).

Tokoh–tokoh dalam ilmu semiotika itu adalah Ferdinand de Saussure,

seorang ahli linguistik asal Swiss dan Charles Sanders Pierce, seorang ahli filsafat

(53)

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda

yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap

sebagai tanda adanya api. Tanda dapat pula mengacu ke denotatum melalui

konvensi. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol.

Jadi simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda

dan pentandanya. Simbol tidak harus mempunyai kesamaan, kemiripan, atau

hubungan dengan objeknya (Sobur, 2006:39).

2.1.11 Model Semiotika Char les S. Peir ce

Charles Sanders Peirce ialah seorang ahli matematika dari AS yang sangat

tertarik pada persoalan lambang-lambang.

Gambar

Gambar II.1. Hubungan Tanda, Objek dan Interpretan Pierce Sumber : John Fiske, 1990
Gambar II.2. Model Kategori Tanda oleh Pierce Sumber : John Fiske, 1990
Gambar II.3. Bagan kerangka berpikir
gambar dua orang laki-laki remaja dengan segala

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil pemaknaan dan penjelasan peneliti mengenai Iklan Kondom Sutra di Televisi, maka dapat terlihat kategori tanda yang terdiri dari ikon, indeks, dan simbol dalam

mereka dengan menanamkan sebuah ideologi baru mengenai merokok yang diharapkan akan menjadi konsumen jangka panjang dari industri tembakau di Indonesia..

Ikon pada gambar tersebut adalah laut, pulau kecil yang hanya memiliki satu buah pohon kelapa yang terletak di tengah-tengah laut, kemudian ada seorang pria yang

tersebut dengan tanda-tanda yang lain serta dapat memperdalam sebuah pesan. dari

Shalawat dan salam saya haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW atas syafaat yang diberikan kepada penulis, akhirnya skripsi berjudul REPRESENTASI KONFLIK INTERNAL DAN

Dari keseluruhan tanda visual dan verbal di dalam iklan tersebut (C2) dapat diperoleh sebuah makna konotasi yang pada hakekatnya merupakan benang merah dari iklan

Berkenaan dengan hal-hal yang telah diuraikan di atas, peneliti merasa tertarik melakukan sebuah studi untuk mengetahui makna gaya hidup dalam iklan rokok A Mild Go Ahead

Artinya identitas menjadi sesuatu yang cair sehingga peneliti melihat iklan rokok U-mild mampu membuat sebuah identitas alternatif mengenai “cowo” dalam