PENDAHULUAN PENGELOLAAN GUGUS SEKOLAH DASAR SEBAGAI STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH (STUDI SITUS DI GUGUS I SLAMET RIYADI UPTD DIKPORA KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA).

10  11  Download (2)

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Jenjang pendidikan di Sekolah Dasar merupakan jenjang pendidikan yang sangat penting bagi usaha awal pembinaan dan pengembangan SDM. Hal ini dikuatkan dengan amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat.

Berdasarkan amanat tersebut, dapat diketahui bahwa bahwa Sekolah Dasar merupakan lembaga pendidikan yang menanamkan Basic Fundamental

bagi peserta didik, terutama dalam koridor pengembangan budaya belajar, budaya bekerja dan budaya membangun. Untuk mewujudkan visi tersebut diawali dengan peningkatan kualitas kemampuan guru yang dilaksanakan melalui Pembinaan Sistem Gugus Sekolah Dasar.

(2)

sekolah terdapat kelompok yang aktif melakukan kegiatan pemberdayaan, yaitu kelompok kerja guru (KKG) dan kelompok kerja kepala sekolah (KKKS).

Dalam mekanisme organisasi, gugus sekolah SD merupakan bentuk kerjasama kelompok, seperti yang dirumuskan oleh McDavid dan Harari (Pagewa, 2004:128), bahwa kelompok merupakan suatu sistem yang terorganisir terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berhubungan sedemikian rupa, sehingga sistem tersebut melakukan fungsi tertentu, mempunyai serangkaian peran hubungan antara para anggotanya, dan mempunyai serangkaian norma yang mengatur fungsi kelompok dan tiap-tiap anggotanya dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Sistem pembinaan profesionalisme guru tersebut, menurut Bafadal (2006: 58), dijelaskan sebagai suatu sistem pembinaan yang diberikan kepada guru dengan menekankan bantuan pelayanan profesi berdasarkan kebutuhan guru di lapangan melalui berbagai wadah profesional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Sebagai suatu sistem, pembinaan profesional di dalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lainnya punya peran dan jalinan erat, sehingga apabila ada satu atau beberapa komponen yang tidak berperan sesuai fungsinya maka sistem itu sendiri tidak akan berjalan dengan baik.

(3)

evaluasi. Gugus sekolah sebagai lembaga/organisasi dimana SPP dilaksanakan perlu dikelola dengan baik dan dikembangkan terus pertumbuhannya, sehingga berfungsi secara efektif. Hal tersebut perlu ditempuh karena kondisi tenaga pendidikan di sekolah dasar saat ini masih memerlukan upaya pembinaan dan peningkatan melalui pemberian bantuan profesional seiring dengan lajunya perkembangan dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Bafadal, 2006: 60).

Peningkatan profesionalisme guru, khususnya pada pendidikan dasar, menurut Goodwin dan Kosnik (2013: 336) memerlukan pembinaan yang dilakukan oleh guru-guru yang lebih berpengalaman. Hal ini dikarenakan bahwa untuk mengajar di jenjang pendidikan dasar merupakan sesuatu yang kompleks dan membutuhkan pengetahuan yang khusus dan metode-metode yang profesional yang hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan pembinaan. Hal ini dikemukakan oleh Goodwin dan Kosnik sebagai berikut:

learning to teach for Pā€“12 is complex and requires the acquisition of specialized knowledge and professional methods through formal study and apprenticeship.

Pembinaan Sistem Gugus Sekolah Dasar merupakan satu bentuk sistem

(4)

prasurvey ditemui berbagai fenomena yang diduga menghambat pelaksanaan Pembinaan Sistem Gugus SD secara efektif dan efisien.

Fenomena tersebut antara lain: (1) perencanaan Gugus SD belum berdasarkan kepentingan SD secara keseluruhan dalam Gugus, (2) belum menerapkan prinsip dialogis, (3) penunjukan Pengurus Kelompok Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru belum didasarkan pada tingkat kemampuan dan relevansi pendidikan. (4) Selalu terjadi "overlapping" antara tugas-tugas anggota pengurus, (5) banyak kebijakan yang berubah dan tidak konstan, (6) Banyak di antara guru setempat yang enggan mengikuti pertemuan KKG, (7) sistem pengawasan yang dilakukan selama ini belum berjalan optimal, masih adanya status quo yang mencari kesalahan, bukan perbaikan.

Gugus sekolah merupakan wadah pengembangan profesional guru

dalam bentuk kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala

Sekolah (KKKS), dan Forum Komite Sekolah Tingkat Gugus sekolah dari

beberapa sekolah yang letaknya berdekatan dan mudah dijangkau. Sebagai

wadah yang mempersatukan beberapa kelompok kerja, Gugus sekolah

tentunya harus memiliki beberapa program yang bersifat umum dan

koordinatif.

(5)

Perencanaan yang matang harus iimbangi dengan pengorganisasian. Dalam pengorganisasian harus jelas tugas kedudukan tanggungjawab dan fungsinya. Apakah sebagai ketua, pemandu atau sebagai anggota. Untuk memperjelas kedudukan tugas dan fungsi perlu disusun uraian tugas dengan tepat. Selanjutnya dari perencanaan dan uraian tugas tersebut perlu dilakukan pengendalian dan pengontrolan agar kegiatan tidak meympang dari program yang telah direncanakan. Langkah terakhir perlu dilakukan evaluasi terhadap seluruh program, apakah telah berjalan sesuai rencana atau belum. Jika belum perlu dilakukan perbaikan-perbaikan serta pemecahannya. Jika dirasa telah berhasil tinggal dilakukan pemantapan.

Adanya pengelolaan gugus sekolah yang baik pada gilirannya akan sejalan dengan gagasan utama pembentukan gugus sekolah, yaitu pemanfaatan sumber daya bersama oleh sekolah-sekolah yang berdekatan sehingga pemerataan kualitas pendidikan dapat tercapai dengan biaya yang lebih efektif. Hal ini sejalan dengan pendapat McNeill (2004) yang mengatakan bahwa pembentukan gugus sekolah merupakan suatu gerakan untuk ā€œuniversalize access to quality education in a cost effective mannerā€.

Lebih lanjut, McNeill menjelaskan bahwa:

(6)

Menurut penjelasan McNeill, dikatakan bahwa pengembangan profesionalitas guru melalui kegiatan in-service yang dilakukan berbasis gugus sekolah merupakan suatu alternatif yang menjanjikan. Pendekatan tersebut mencakup partisipasi masyarakat, pelatihan guru yang terlekat dengan kurikulum berbasis sekolah akan menjadi semakin efektif biaya. Pengembangan model ini sudah dilakukan di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang.

Salah satu gugus Sekolah Dasar di UPTD Dikpora Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta yang terkelola dengan baik adalah Gugus I Slamet Riyadi. Gugus ini merupakan gabungan dari 5 Sekolah Dasar yang masuk ke dalam satu rumpun. Kelima Sekolah Dasar tersebut terdiri dari SD Negeri Mangkubumen Kidul No. 16 Surakarta sebagai SD Inti, dan empat SD Imbas yang meliputi SD Muhammadiyah Program Khusus Surakarta; SD Negeri Purwotomo No. 97 Surakarta; SD Negeri Mangkubumen Kulon No. 83 Surakarta; dan SD Negeri Tegalayu No. 96 Surakarta.

(7)

Berangkat dari gejala tersebut peneliti tertarik untuk mengangkat kepermukaan, terutama mencari akar permasalahan serta memberikan solusi praktis berdasarkan kerangka teoritis yang relevan. Permasalahan yang hendak digali adalah berkaitan dengan efektivitas Pengelolaan Gugus Sekolah Dasar yang dilakukan di lingkungan Gugus Sekolah Dasar di Gugus I Slamet Riyadi UPTD Dikpora Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Dengan penelitian yang dilakukan tersebut, maka diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas pengelolaan gugus untuk dijadikan sebagai percontohan bagi gugus gugus sekolah lain.

B. Fokus Penelitian

Merujuk pada latar belakang penelitian di atas, selanjutnya dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengelolaan Gugus Sekolah Dasar sebagai strategi untuk meningkatkan mutu sekolah, yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian, di Gugus I Slamet Riyadi UPTD Dikpora Kecamatan Laweyan Kota Surakarta?

(8)

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan pada bagian sebelumnya, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan pengelolaan Gugus Sekolah Dasar sebagai strategi untuk meningkatkan mutu sekolah, yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian, di Gugus I Slamet Riyadi UPTD Dikpora Kecamatan Laweyan Kota Surakarta.

2. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pengelolaan Gugus Sekolah Dasar dalam memfasilitasi kegiatan guru dan kepala sekolah di Gugus I Slamet Riyadi UPTD Dikpora Kecamatan Laweyan Kota Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun secara praktis. Manfaat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

1. Manfaat Praktis

a. Secara teoretis, penelitian ini dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai tambahan pengetahuan mengenai pengelolaan gugus SD yang efektif dan efisien.

(9)

2. Manfaat Teoretis

a. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan gambaran tentang pengelolaan gugus SD bagi gugus-gugus SD lain.

(10)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...