1
PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
Pada era milenial sekarang ini, ada banyak fenomena sosial yang terjadi. Salah satu fenomena sosial yang terjadi yaitu penyimpangan atau suatu masalah yang dilakukan anak remaja. Kenakalan remaja kini semakin merusak pola hidup anak remaja. Ada banyak motif kenakalan remaja, salah satunya yaitu balapan liar. Balapan liar merupakan suatu aksi yang sangat membahayakan. Tetapi, di kalangan anak remaja hal ini merupakan kesukaan atau dijadikan sebagai hobi barunya. Padahal, ada banyak dampak yang akan terjadi jika balapan liar ini terus diikuti oleh kalangan anak remaja, baik itu secara psikologi maupun sosiologi.
Penelitian ini berfokus pada anak remaja di wilayah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Klasis Sinabun yang mengikuti aksi balapan liar.
Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Klasis Sinabun terletak di Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo. Klasis ini tersebar di Kecamatan Payung, Kecamatan Tiganderket, dan Kecamatan Kutabuluh. Beberapa runggun/jemaat yang terdampak erupsi Gunung Sinabung ada yang relokasi ke Siosar, Nang Belawan dan ada yang secara mandiri membuat tempat sampai ke Kabanjahe dan Berastagi.1 Penelitian ini terletak di Wilayah GBKP Klasis Sinabun, Kecamatan Tiganderket. Berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa aksi balapan liar pada wilayah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Klasis Sinabun telah mengakibatkan beberapa dampak, “diantaranya pada satu tahun terakhir, ada dua orang anak remaja GBKP yang meninggal akibat kecelakaan balap, dan empat orang luka-luka, serta aktivitas ini sangat mengganggu lalu lintas dan kenyamanan orang-orang disekitarnya.”2 Balapan liar kini menjadi aksi rutin setiap Minggu malam.
Berdasarkan Tata Gereja GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) tahun 2015-2025 Bab 1 Pasal 1:2 yang menyatakan bahwa “anak, remaja, dan pemuda berperan penting dalam kegiatan-kegiatan gereja baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya sehingga regenerasi dan kaderisasi berjalan dengan baik.”3 Dilihat juga dari P3 (Pokok-pokok Peraturan) KAKR GBKP, persekutuan remaja dikenal dengan istilah KAKR (Kebaktian Anak Kebaktian Remaja). Remaja memiliki lembaga secara khusus dan terdapat dalam aspek ruang lingkup Sinode, Klasis, dan Runggun/jemaat. Maka dari itu, persekutuan remaja masuk dalam struktur sebuah organisasi di GBKP. Dengan demikian, anak dan remaja GBKP yang diharapkan menjadi generasi penerus gereja dan masyarakat yang berkualitas menghargai
1 Pdt. Dewi Kharista, Wawancara Pra Penelitian, tanggal 21 September 2022.
2 Pdt. Sri Emita Br Surbakti, S.Th, Wawancara Pra Penelitian, tanggal 21 September 2022.
3 Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) tahun 2015-2025 (Kabanjahe:
Abdi Karya), Bab 1 Pasal 1:2
2
kemanusiaan dengan hidup adil, benar, jujur, mengasihi dan terpercaya dalam segala hal.4Melalui pernyataan ini, anak remaja terkesan kurang mengindahkan perannya sebagai anak, sehingga ia melakukan penyimpangan. Dari penyimpangan yang dilakukan oleh anak remaja tersebut, penulis ingin mendeskripsikan persepsi jemaat di GBKP Klasis Sinabun terhadap balapan liar di kalangan anak remaja.
Pada dasarnya, suku Batak Karo memiliki tradisi saling menghormati atau mehamat, peduli atau metenget, dan mengasihi atau metami. Artinya, sesama orang Karo memiliki prinsip saling menjaga hubungan baik antar sesamanya.5 Berdasarkan informasi yang diterima, kata saling menghormati atau mehamat bagi anak remaja yang diharapkan oleh orang yang lebih tua yakni “menghargai orang yang lebih tua baik dari segi perkataan dan tingkah laku serta patuh terhadap nasehat yang diberikan oleh orang yang lebih tua.
Mengingat aksi balap liar ini, orang tua merasa anak remaja yang mengikuti ajang ini la mehamat man pandangen atau tidak sopan untuk dilihat. Anak remaja seakan-akan tidak menghargai dirinya dan orang lain. Anak remaja yang mengikuti balapan liar ini menjadi kurang peduli terhadap lingkungannya, mereka kurang mengikuti kegiatan positif lainnya seperti kegiatan gereja. Remaja ini juga suka berbohong karena berangkat dari rumah ia tidak jujur, karena jika ia jujur pasti tidak akan diberi izin oleh orangtuanya.”6
Remaja merupakan masa peralihan mulai dari anak-anak ke dewasa. Kata remaja berasal dari bahasa latin yakni adolescere atau dapat disebut sebagai adolescentia yang artinya berproses menjadi dewasa. Adolescere memiliki arti yang cukup luas yakni tentang emosional, sosial, fisik, dan kematangan mental.7 Berdasarkan hasil klarifikasi dari World Health Organization (WHO) batas usia remaja yakni mulai dari 10 tahun sampai 19 tahun.
Tahap ini remaja dikenal sebagai kelompok yang memiliki gaya dan dunia unik tersendiri yang sulit dicapai oleh orangtua. Tahap pertama, perubahan inteligensi dimana remaja mulai berpikir logis, mengembangkan rasa penasaran atau ingin tahu yang tinggi dan memikirkan masa depan mereka. Tahap kedua, remaja memiliki tingkat emosional seperti gampang marah, gampang sedih, dan memiliki perasaan yang sensitif. Tahap ketiga, perubahan moral pada remaja tidak hanya mencari kepuasan secara fisik, tetapi juga kepuasan secara psikologis serta memiliki keinginan untuk diterima oleh banyak orang. Tahap keempat,
4 Moderamen GBKP, P3 (Pokok-pokok Peraturan) KAKR GBKP, 2010-2015 (Kabanjahe: Abdi Karya), 2.
5 Ribka Lidwina Sebayang, Skripsi, Gambaran Alasan Penolakan Terhadap Penyintas Erupsi Gunung Sinabung di Desa Lingga Kabupaten Karo (Medan, Universitas Sumatera Utara, 2018),11.
6 Moria (kaum ibu) Nd. Ira Br Ginting, Wawancara Pra Penelitian, Desa Susuk, pada bulan Maret 2022.
7 Ratna Dewi, Tiga Fase Penting Pada Wanita (Jakarta: PT Elex Media, 2012), 11.
3
perubahan dimensi sosial pada remaja yang lebih memilih bermain bersama dengan temannya daripada berdiam diri di rumah.8
Masa perkembangan remaja juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kebutuhan pertama, yaitu kebutuhan yang bersifat biologis atau ingin memiliki kekuatan motivasi. Kebutuhan kedua, yaitu kebutuhan yang bersifat psikologis yakni secara agama dan keadaan rasa aman. Kebutuhan yang terakhir yakni kebutuhan yang bersifat sosial yakni kebutuhan ingin dikenal, ingin menjadi bagian dari suatu kelompok, dan kebutuhan memenuhi potensi diri.9 Pada masa remaja sangat memerlukan pembentukan karakter pribadi.
Dalam proses perkembangannya pun dapat muncul melalui perubahan sosial.10 Rice dan Dolgin menjelaskan bahwa interaksi remaja dengan teman sebayanya adalah cara untuk berbagi perasaan, masalah, dan pikiran. Remaja dapat mulai membentuk persahabatan di usia yang muda dengan memiliki sikap yang sama, mencapai tujuan, dan aktif dalam kegiatan sosial.11
Pada usia remaja, mereka enggan dianggap sebagai anak kecil. Maka dari itu, remaja sudah belajar memusatkan diri terhadap tingkah laku yang dilakukan oleh orang dewasa.12 Pada saat proses pertumbuhan remaja, ia akan mengalami adaptasi sosial. Penyesuaian diri merupakan proses tersulit yang akan mereka rasakan. Remaja juga akan merasakan beberapa hal dalam proses penyesuaikan diri seperti kelompok sosial yang baru, melakukan penilaian dalam memilih pertemanan, penolakan sosial, dan memikirkan cara bagaimana menjadi seorang pemimpin.13 Remaja juga tidak terhindar dari semua pengaruh lingkungan, maka tak jarang masa remaja masuk ke masa dimana ia mencari jati dirinya. Sehingga, masa remaja juga penuh dengan kenakalannya, baik itu kenakalan pribadi maupun kenakalannya yang berdampak ke sekitar.
Dalam buku Kartono, kata kenakalan remaja berasal dari istilah “Juvenile” dan bahasa Latinnya “Juvenilis” yang berarti sifat atau ciri anak remaja, kemudian “Delinquent”
atau bahasa Latin dari “Delinquere” yang artinya hal-hal yang bersifat pengabaian, nakal, kriminal, dan lain sebagainya. Jadi, kenakalan remaja atau “Juvenile Delinquency”
merupakan perilaku atau tingkah laku yang buruk pada anak remaja yang disebabklan oleh
8 Sri Bulan, Nuryani dan Saefudin, Selamat Datang Masa Remaja (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2019), 10.
9 Sofyan S Willis, Remaja dan Masalahnya (Bandung: Alfabeta, 2008), 49-54.
10 Daniel Nuhamara, PAK Remaja (Bandung: Jurnal Info Media, 2008), 9.
11 Sri Lestari, Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga (Jakarta: Kanisius, 2010), 61-62.
12 E.B Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Erlangga, Jakarta, 1999), 19.
13 E.B Hurlock, Psikologi Perkembangan, 23.
4
kurangnya kepedulian sosial. Hal ini dapat menimbulkan pola perilaku yang menyimpang bagi mereka. Istilah “kenakalan remaja” mengacu pada berbagai perilaku, mulai dari perilakunya yang tidak dapat diterima secara sosial hingga melakukan suatu pelanggaran yang sifatnya kriminal.14
Menurut pendapat Santrock, kenakalan remaja artinya terjadinya tindakan kriminal yang menyebabkan remaja tidak dapat diterima secara sosial. Faktor-faktor terjadinya kenakalan remaja ini dapat dilihat dari dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal, faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan, kurangnya perhatian dan kurangnya kasih sayang dari orangtua, kurangnya pengetahuan keagamaan, serta faktor internal yaitu kurangnya mengontrol diri dan mencari identitas atau jati diri sendiri. Adapun dampak yang ditimbulkan dari kenakalan remaja ini yakni berdampak kepada lingkungan sekitar, bagi remaja tersebut, dan bagi keluarga.15 Secara iman Kristen, faktor dari kenakalan remaja juga dapat dilihat dari pengaruh teman, lingkungan, bahkan iblis.16
Balapan liar adalah salah satu dari kenakalan remaja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “Balap” artinya ajang adu kecepatan dan kata “Liar” artinya tidak resmi atau tidak diakui oleh pihak yang berwewenang serta tidak menurut aturan hukum.
Jadi, balap liar merupakan ajang adu kecepatan yang dilakukan secara tidak resmi dan tidak sesuai dengan aturan hukum.17 Balapan liar merupakan kegiatan adu kecepatan berkendara menggunakan sepeda motor dan dilakukan pada jalan raya ataupun jalan lainnya yang memungkinkan untuk diadakannya aksi ini. Peraturan balap liar ini hampir sama dengan drag bike yang artinya dua sepeda motor yang diadu kecepatannya serta melintas disepanjang 201 meter. Drag bike itu sendiri merupakan ajang kejuaraan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang tinggi.18
Hal yang kini terlihat yakni banyaknya remaja yang mengikuti kegiatan balapan liar menggunakan sepeda motor secara ilegal. Hal ini sangat dinikmati oleh kalangan remaja.
Kegiatan ini dianggapnya sebagai hobi, penuh dengan kegembiraan, dan menjadi tentangan yang sangat menarik bagi mereka.19 Kini, banyak remaja yang memilih ikut balapan liar sebagai acuannya untuk bisa dikenal orang banyak, mereka menganggap bahwa balapan liar
14 Kartini Kartono, Patologi Sosial Kenakalan Remaja (Rajawali: Jakarta Pers, 2007), 21-23.
15Dadan Sumara, Sahadi Humaedi, dan Meilanny Budiarti Santoso, “Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya”Jurnal Penelitian dan PPM, Vol 4, No.2, Juli 2017, 347-349.
16Doni K, Kriminalitas Remaja Ditinjau dari Iman Kristen https://remaja.sabda.org/kriminalitas- remaja-ditinjau-dari-iman-kristen diakses pada September 2022 pukul 16:30 WIB
17 Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
18 IMI, Peraturan Drag Bike, http://www.imi.co.id/kejurnas/dragbike/rules.php diakses pada September 2022 pukul 23.58 WIB
19 Dwi Joko, “Kenakalan Remaja Balap Liar”http://sobatbaru.blogspot.com/2009/10/kenakalan- remaja-balapan-liar.html diakses pada September 2022 pukul 17:30 WIB
5
sebagai ajang “keren” dikalangannya. Mereka merasa terpenuhi secara sosial didepan teman sebayanya. Sehingga, akibat-akibat di samping itupun terabaikan, seperti resahnya masyarakat yang tinggal pada sekitar jalan raya yang digunakan sebagai ajang balapan.
Pada penelitian sebelumnya, Dimas Prasetiya yang melakukan penelitian di Bandar Lampung menyatakan bahwaanak remaja zaman sekarang memiliki pergaulan yang tidak ada batasnya, maka dari itu ia sering kali melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya.
Remaja juga sering terpengaruh dari media, balap liar adalah salah satu aksi yang ditiru dan kegiatan ini sangat menyimpang. Maka dari itu, menurut penelitiannya juga masyakarat juga merasa resah akan adanya balap liar ini pada wilayah mereka tinggal, suara bising yang datangnya dari “knalpot” membuat mereka merasa terganggu. Namun, masyarakat tidak mengetahui cara menghentikan aksi balap liar ini.20 Pada penelitian sebelumnya juga, Dhanang Sigit Tri P yang melakukan penelitian di Kabupaten Bantul mengatakan bahwa ada dampak positif dan negatif terjadinya aksi ini. Dampak positifnya yaitu ada sebagian masyarakat di daerah Pacar bekerja sebagai tukang tambal ban dan ada juga sebagai pedagang. Hal ini membuat matapencairan baru yang bersifat tidak tetap bagi masyarakat.
Sedangkan dampak negatifnya ialah timbulnya polusi suara, sering terjadinya kecelakaan dan juga terjadi perkelahian. Sebagian besar masyarakat sangat merasa terganggu dan merasa tidak tenang.21Pada penelitian Sonny Hendra Septian yang melakukan penelitian di Jombang menyatakan bahwa remaja mengikuti balap liar karena putus sekolah. Jadi, anak remaja tidak lagi memiliki kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya.22
Oleh sebab itu, penulis akan melakukan penelitian secara khusus terhadap anak remaja dan jemaat yang ada di wilayah GBKP Klasis Sinabun. Penelitian yang dilakukan oleh penulis memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Dimas pada tahun 2016 dan Dhanang pada tahun 2010, perbedaannya adalah tempat penelitian, metode penelitian, serta jumlah dan umur peserta yang akan diteliti.
Penulis akan menggunakan teori Labeling yang dikemukakan oleh Edwin M. Lemert.
Menurut Lemert dalam buku Sunarto, teori labeling merupakan suatu tindakan yang disebabkan oleh pemberian cap atau label dari masyarakat terhadap seseorang yang telah melakukan penyimpangan. Labeling digunakan untuk memberikan identitas diri terhadap
20 Dimas Prasetiya, Skripsi, Respon Masyarakat terhadap Balap Liar Di Kalangan Remaja (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2016), 70-71.
21 Dhanang Sigit Tri P, Skripsi, Persepsi Masyarakat Terhadap Balap Liar di Kalangan Remaja (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2010), 90.
22 Sonny Hendra Septian, Remaja dalam Fenomena Balap Liar (Surabaya: Universitas Airlangga, 2017), 12.
6
seseorang.23 Individu atau kelompok dikatakan menyimpang, jika ada pandangan tentang penentuan situasi atau definition of the situation dan akan adanya sebuah konsekuensi yang sesuai dengan perilakunya. Ada dua proposisi dari teori Labeling ini yaitu pertama, melakukan suatu penyimpangan bukan berarti melakukan perlawanan terhadap norma, tetapi berbagai tindakan perilaku yang bisa diartikan atau dikatakan sebagai menyimpang.
Penyimpangan itu datang tidak selalu berasal dari tindakan itu sendiri tetapi juga berasal dari persepsi atau respon orang dalam melihat tindakan penyimpangan itu sendiri. Kedua “label”
itu sendiri yang menghasilkan suatu penyimpangan. Hal ini terlihat dari respon orang-orang yang menyimpang terhadap fenomena sosial dimana mereka akan mendapatkan identitas diri.24
Kajian ini dipakai untuk melihat bagaimana gereja dalam memberikan perannya terhadap realita balapan liar di kalangan anak remaja dan agar terlihat bagaimana gereja turut ikut serta dalam kehidupan sosial jemaat dan mengkaitkannya dengan teori labeling.Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis memilih judul : Balapan Liar di Kalangan Remaja dalam Persepsi Jemaat GBKP Klasis Sinabun: Perspektif Teori Labeling.
Berdasarkan latar belakang ini, maka rumusan masalah penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi jemaat GBKP Klasis Sinabun terhadap balapan liar yang mendapat
“label” sebagai penyakit sosial dan kenakalan remaja.
Secara teoritis, manfaat penelitian ini untuk memberikan kontribusi pemikiran dan sebagai referensi mengenai dampak dari kenakalan remaja yang terjadi pada masa kini. Hal ini menjadi suatu gejala sosial serta sangat penting supaya anak remaja lebih terarah dalam menempuh pendidikan dan disiplin terhadap mendengarkan nasehat orangtua dengan cara memberikan sosialisasi tentang wujud kenakalan remaja dan cara penanggulangannya. Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi jemaat dan keluarga agar memberikan kegiatan yang dapat menyalurkan bakat remaja kearah yang lebih positif baik itu di lingkungan maupun gereja.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan penulis yaitu metode kualitatif. Metode kualitatif menurut Sukmadinata yaitu penelitian yang berfungsi untuk mendeskripsikan serta menganalisis suatu persepsi, sikap, fenomena sosial, suatu peristiwa secara individu maupun
23 Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI, 2004), 48.
24 Erianjoni, Pembelaan Orang Minangkabau pada Pelaku Penyimpangan Sosial,Jurnal Ilmiah Humaniora, Vol. XIV No.1, 2015, 32.
7
kelompok.25 Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif menurut Nazir merupakan suatu metode pendekatan dalam meneliti suatu objek, kondisi, pemikiran atau suatu fenomena yang terjadi secara mendalam, luas dan menyeluruh.26
Pada proses mengumpulkan data, penulis menggunakan teknik wawancara.
Wawancara merupakan suatu teknik yang berguna untuk memperoleh data atau informasi sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya. Biasanya, teknik ini sama seperti membangun suatu percakapan.27 Pada proses wawancara, penulis menggunakan teknik Purposive Sampling yang artinya teknik pemilihan sampel dengan mempertimbangkan secara khusus agar data dari hasil penelitian dapat diperoleh berdasarkan fakta yang terjadi.28 Pada proses wawancara, yang menjadi informan kunci yaitu jemaat (kategorial) yang ada di GBKP Klasis Sinabun meliputi Mamre (kaum bapak), Moria (kaum ibu), PERMATA (kaum pemuda- pemudi), Saitun (kaum lansia), dan anak remaja yang mengikuti balapan liar.
Sistematika penulisan tugas akhir ini dibagi menjadi lima yakni Bagian pertama yang terdiri dari pendahuluan yang berisikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sumber pengumpulan data. Bagian kedua yaitu dasar teori mengenai balapan liar di kalangan remaja dalam persepsi jemaat GBKP Klasis Sinabun dan teori Labeling. Bagian ketiga tentang penelitian serta hasil wawancara penelitian. Bagian keempat pembahasan hasil penelitian berdasarkan teori.
Bagian kelima yaitu berisikan kesimpulan serta saran yang akan diusulkan untuk penelitian- penelitian penulis tugas akhir selanjutnya.
25 Muh, Fitriah dan Luthfiyah, Metodelogi Penelitian; Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas dan Studi Kasus (Sukabumi: CV Jejak, 2017), 44.
26 Moh. Nazir, Metode Penelitian (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), 54.
27 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), 160.
28 Mamik, Metodologi Kualitatif (Taman Sidoarjo: Zifatama, 2015), 53.
8
Kenakalan Remaja dan Teori Labeling A. Remaja
Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere atau adolescentia yang memiliki arti tumbuh menjadi dewasa. Kata dari adolescere dapat diartikan secara meluas yakni secara fisik, mental, emosional, dan sosial.29 Masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan mulai dari anak-anak menuju dewasa, namun untuk menyamakan mereka dengan orang dewasa, masa remaja masih belum matang secara psikologi maupun sosiologi.
Pembagian fase remaja dimulai dari remaja awal atau early adolescence yakni pada usia 12- 15 tahun, remaja madya atau middle adolescence yakni pada usia 16-18 tahun, dan remaja akhir pada usia 18-20 tahun.30
B. Kenakalan Remaja dan Balapan Liar
Kenakalan remaja merupakan segala penyimpangan dari norma etika maupun hukum yang telah diperbuat oleh remaja. Perilaku yang dilakukan oleh remaja akan merugikan dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Kata kenakalan memiliki kata dasar nakal yang artinya melakukan perbuatan yang tidak baik, tidak nurut, dan mengganggu. Sedangkan arti kenakalan itu sendiri artinya perbuatan yang nakal dan perbuatan yang tidak baik yang bersifat meresahkan kehidupan bermasyarakat dan mengganggu ketenangan orang lain.31 Dalam bahasa Inggris, istilah dari kenakalan remaja yaitu juvenile delinquency yang artinya suatu gejala patologis sosial dalam bentuk pengembangan perilaku yang bersifat menyimpang dari aturan, serta bentuk pengabaian sosial. Rice yang dikutip oleh Gunarsa menjelaskan faktor yang mendorong terjadinya kenakalan remaja32 yakni sebagai berikut:
1. Faktor psikologis (faktor internal)
Faktor ini dihubungkan kepada diri remaja itu sendiri dan hubungan remaja dengan orangtua. Peran orangtua sangat mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja, salah satunya pengabaian terhadap remaja. Sedangkan pada diri remaja itu sendiri contohnya kurang kasih sayang, kurangnya pengendalian diri, dan merasa memiliki harga diri yang rendah.
2. Faktor biologis (faktor internal)
29Sri Rumini, dkk, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: UNY Press, 2006), 32.
30Daniel Nuhamara, PAK Remaja (Bandung: Jurnal Info Media, 2008), 59.
31Desy Anwar, “nakal” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Surabaya: Amelia, 2003), 287.
32Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 273.
9
Memiliki kelainan pada pemikirannya sehingga mempengaruhi elemen fisik dan organik pada remaja.
3. Faktor sosiologis (faktor eksternal)
Pengaruh lingkungan yang kurang baik sehingga terjadinya kenakalan pada remaja, misalnya komunitas yang diikuti remaja, lingkungan sekolah yang kurang diperhatikan, serta cara remaja berelasi dengan sesamanya.
Wujud dari kenakalan remaja yaitu berbagai tindakan atau perilaku anak remaja yang tidak dapat diterima secara sosial sehingga terjadilah sebuah tindakan yang bersifat kriminal.33 Arti kenakalan remaja secara lebih luasnya dalam buku Sudarsono yaitu perilaku atau pelanggaran yang dilakukan oleh remaja serta melawan secara hukum, menyalahi norma agama, anti sosial, dan anti susila.34 Secara garis besar, kenakalan remaja dapat dibagi menjadi 2 kelompok35, yaitu:
1. Kenakalan yang bersifat a-sosial atau a-moral serta tidak ada aturan dalam undang-undang sehingga sulit dinyatakan sebagai sebuah pelanggaran hukum jika seseorang melakukan perilaku penyimpangan.
2. Kenakalan yang sifatnya melanggar hukum serta sesuai dengan aturan hukum yang berlaku apabila seseorang melakukan perilaku penyimpangan.
Wujud-wujud perilaku kenakalan remaja36 sebagai berikut:
a. Seks bebas antar remaja.
b. Mabuk-mabukan sebagai wujud pesta pora.
c. Kebut-kebutan di jalanan yang dapat mengganggu keamanan lalu lintas serta dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
d. Ugal-ugalan yang dapat mengacaukan lingkungan sekitar.
e. Perkelahian antar kelompok.
f. Bolos sekolah.
g. Kriminalitas anak atau remaja berupa pengancaman.
h. Perjudian yang berakhir dengan kriminalitas.
Balapan liar merupakan salah satu wujud kenakalan remaja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata balap merupakan adu kecepatan, dan kata liar merupakan titak tertata. Jadi, pengertian balap liar merupakan suatu kegiatan adu kecepatan bermotor yang dilakukan secara tidak tertata, tidak memiliki izin secara resmi. Balapan liar menggunakan sepeda motor merupakan kegiatan yang memiliki resiko yang tinggi yang dapat mengganggu
33Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya (Yogyakarta : Andi, 2006), 21.
34Sudarsono, Kenakalan Remaja (Jakarta: Rineka Cipta), 10.
35J. Singgih D Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980), 31.
36Kartini Kartono, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), 21-23.
10
tertib lalulintas bahkan tak jarang balapan liar ini dapat menyebabkan peristiwa kecelakaan yang dapat menimbulkan banyak korban yang luka-luka maupun meninggal dunia.37
Menurut Sarlinto W. Sarwono, balapan liar termasuk dalam golongan kenakalan sosial yang menimbulkan korban baik secara fisik maupun sosial. Pelaku balap dapat memekakkan telinga, juga dapat menimbulkan rasa takut bagi masyarakat pengguna jalan dalam melintasi lokasi balapan liar.38 Pada saat remaja melakukan hal ini, mereka tidak sadar secara moral dan sosial. Tidak juga terbentuk super ego dan ego didalamnya, karena mereka sedang menggunakan instinktif yang primitif. Dorongan-dorongan serta emosional dari dalam diri yang menyebabkan mereka terkendalikan. Perilaku yang dilakukan oleh remaja bermaksud untuk diakui status sosial, mendapat perhatian yang lebih dari lingkungan sekitar dan mempertahankan harga dirinya.39 Faktor penyebab remaja melakukan balapan liar yakni pengaruh teknologi, lingkungan, hobi, dan kurangnya perhatian keluarga.40 Faktor lain yang mempengaruhi remaja melakukan balapan liar adalah sebuah kesenangan semata yang dianggap memacu adrenalin. Mereka mendapatkan sebuah sensasi kesenangan yang tidak dapat digambarkan. Balapan liar ini juga digunakan sebagai ajang adu bergengsi bagi remaja yang mengkutinya.41
C. Teori Labeling
Teori penjulukan atau penamaan dapat difokuskan terhadap pemahaman kenakalan remaja. Hal ini ditujukan untuk membantu pembentukan identitas diri. Dasar pemikiran dari teori labeling adalah seseorang yang berbeda, diperlakukan berbeda, dan akan menjadi berbeda. Hal ini merujuk pada pemikiran dasar bahwa ketika memberi label pada seseorang, maka orang lain akan memperlakukan orang tersebut sesuai dengan label yang diberikan kepadanya. Edwin M. Lemert dianggap sebagai penemu pendekatan “reaksi sosial”. Edwin M. Lemert mengemukakan teori ini terhadap seseorang yang melakukan penyimpangan.42 Pendekatan reaksi sosial ini membedakan antara perilaku menyimpang pertama atau primary deviance dan perilaku menyimpang kedua atau secondary deviance. Penyimpangan primer atau yang utama ialah penyimpangan yang dilakukan setiap orang sesekali, dan dapat ditangani sebagai peran yang dapat diterima secara sosial. Meskipun begitu, norma dan
37 George Ritzer & Douglas J Goodman, Teori Sosiologi (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), 137.
38 Sarlito W. Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 256-257.
39 Kartini Kartono, Patologi Sosial 3 Gangguan-gangguan Kejiwaan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), 209.
40 Ni Putu Rai Yuliartini, “Kajian Kriminologis Kenakalan Anak dalam Fenomena Balapan Liar di Wilayah Hukum Polres Buleleng”, Jurnal Psikologi, Vol 7, No. 3, 2014.
41 Kartini Kartono, Patologi Sosial Kenakalan Remaja (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), 44.
42 Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2004), 179.
11
perilaku tetap dinyatakan menyimpang. Sedangkan penyimpangan sekunder ialah seseorang yang melakukan menyimpangan dan dianggap negatif oleh masyarakat. Penyimpangan sekunder memiliki proses yang secara dinamis melibatkan penyimpangan seseorang dan reaksi masyarakat terhadapnya.43 Ada dua jenis masyarakat yang melakukan penjulukan yakni, pertama, hard labeling. Jenis ini merupakan orang-orang yang percaya bahwa sakit secara mental itu tidak ada. Ini hanyalah sekedar penyimpangan tingkah laku dari norma masyakarat yang menyebabkan orang-orang percaya akan adanya sakit mental. Sakit mental merupakan sebuah penyakit hasil dari konstruksi sosial yang sebenarnya tidak ada. Kedua, soft labeling. Jenis ini adalah orang-orang yang percaya bahwa sakit mental itu ada, dan memang ada. Sehingga, jenis ini meyakini bahwa sakit mental itu adalah hasil dari konstruksi sosial. Lemert juga membuat empat elemen dasar dari teori labeling yaitu kriminalitas disebabkan oleh peraturan sosial, kontrol sosial memperburuk masalah kriminal, adanya kekuatan yang saling berhubungan antara orang yang diberi julukan dengan penjulukan yang diberikan, dan label sosial yang diberikan kepada tingkah laku tertentu secara fakta diciptakan oleh harapan sosial.44
Teori labeling dapat dikaitkan dengan masalah yang timbul pada lingkungan sosial serta digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang melakukan penyimpangan.45 Sesuai dengan perkembangannya, teori labeling muncul menjadi labelling formal dan labelling infomal. Labeling formal digunakan kepada seseorang yang melakukan penyimpangan terhadap sistem yang resmi sehingga ada pihak yang berwewenang secara resmi juga dalam memberikan penjulukan kepada mereka.46 Sedangkan labeling informal yaitu pemberian julukan secara langsung untuk para pelaku yang tidak melakukan penyimpangan maupun pelaku yang melakukan penyimpangan.47
Sosiologi agama memiliki fungsi untuk mengatasi berbagai kesulitan yang timbul pada masyakarat serta menunjukkan solusi sebagai pengembangan dan perbaikan. Sosiologi agama juga membantu pemimpin agama dalam mengatasi berbagai persoalan yang bersifat sosio-religius. Sosiologi tidak berhak memberikan evaluasi tentang moralitas tingkah laku pemeluk agama, karena tugasnya hanya bersifat menyaksikan (konstatatif). Melalui batasan
43 Robert M. Regoli, John D. Hewitt, dan Matt Delisi, Delimquency In Society (London: Jones and Bartlett Publishers, 2010), 225.
44Dadi Ahmadi dan Aliyah Nuraini, Teori Penjulukan, Jurnal Mediator, Vol.6, No.2, Desember 2015, 300-301.
45 Becker, H.S, Studies in The sociology of Deviance (New York: FreePress, 1963), 32.
46 Chiricos, T., Barrick K., Bales, W., & Bontrager S, The Labelling of Convicted Felons and its Consequences for Recidivism.Journal of Criminology Vol 45. No. 3, 581 diakses pada Oktober 2022.
47 Xiaoru Liu, The conditional Effect of Peer Groups on the Relationship Between Parental Labelling and Youth Delinquency.Sociological Perspectives Vol. 43 No.3 (2000), 504.
12
ini, sosiologi hanya mengumpulkan pendapat atau penilaian yang diberikan pemilik agama yang bersangkutan, serta memberi motivasi yang melatarbelakangi tindakan itu. Sebagaimana halnya tentang larangan yang diajarkan agama tertentu berpengaruh pada proses sosial dalam kehidupan bermasyarakat, ajaran ini merupakan ajaran moral yang bersifat deterministis yang berpengaruh pada cara berpikir dan pola perilaku para pemilik agama yang bersangkutan.
Apa yang terjadi di dunia yang kelihatan baik dan yang menyenangkan maupun yang menyusahkan diberikan kepada siapapun yang bertanggungjawab atas perbuatan manusia itu sendiri.48
Semua organisasi sosial bertujuan untuk membentuk perilaku manusia sesuai dengan pola yang telah ditentukan, baik pola yang ditetapkan oleh ajaran etik maupun doktrin agama, semua pasti mengalami sebuah masalah. Organisasi keagamaan juga demikian harus diperhadapkan dengan pilihan antara melestarikan kemurnian etik dan spiritualnya dengan resiko lingkungan pengaruh sosialnya terbatas, atau jika organisasi tersebut ingin berpengaruh kuat dalam masyarakat tertentu. Untuk menguraikan persoalan ini, ada dua hal yang bisa dideskripsikan, yakni pertama berhubungan dengan masalah mempertahankan disiplin kelompok, hal ini terlihat bahwa disiplin etik dan keagamaan yang erat akan bertentangan dengan perilaku sebagian besar terhadap kelompok atau manusia. Kedua berhubungan dengan bagaimana masalah mempengaruhi perilaku manusia yaitu bahwa biasanya tujuan etik dari keagamaan tidak sejalan dengan tujuan konvensional masyarakat.
Terdapat konflik mendasar antara kepentingan keagamaan dengan masyarakat duniawi.
Sosiologi melakukan pembedaan yang jelas antara agama yang dipahami sebagai hubungan individu dengan Tuhan dan tujuan terakhir dari keyakinan dengan agamanya sebagai suatu lembaga kemanusiaan, dan menunjukkan pandangan sosiologi yang terpenting yaitu jika agama bersifat manusiawi maka ia terikat dengan semua keadaan yang membatasi organisasi kemanusiaan pada umumnya.49
48 D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1983), 71.
49 Elizabeth K. Nottingham, Agama dan Masyarakat (Jakarta: CV Rajawali, 1985), 145-151.
13
HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Tempat Penelitian
Pada bagian ini berisikan hasil penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara.
Penelitian tersebut dilaksanakan di wilayah GBKP Klasis Sinabun. GBKP Klasis Sinabun berada di Sumatera Utara, Kabupaten Karo, Kecamatan Tiganderket, Jalan Singarimbun No.316 Tiganderket.50 Penelitian ditujukkan kepada enam orang jemaat perwakilan setiap kategorial GBKP yakni Moria (kaum ibu), Mamre (kaum bapak), Permata (kaum pemuda), dan Saitun (kaum lansia) serta dua orang perwakilan sebagai pelaku balap liar yang statusnya sebagai remaja GBKP. Pada usia remaja umumnya antara 10-19 tahun, dalam GBKP usia ini masuk ke dalam kategorial Remaja dan Permata (kaum pemuda).
Tabel 1. Profil Partisipan
No. Partisipan Nama Perwakilan Usia
1. P1 Berna Netta H Br Bangun Permata Runggun Kutabuluh 29 tahun 2. P2 Pt. Em. Nd. Kori Br Keliat Saitun Runggun Susuk 59 tahun 3. P3 Roslianna Br Bangun Moria Runggun Kutabuluh 46 tahun 4. P4 Bp. Indra Sembiring Mamre Runggun Tanjung Merawa 59 tahun
5. P5 Domi Tarigan Mamre Runggun Jandimeriah 36 Tahun
6. P6 Dico A Perangin-angin Permata Runggun Susuk 26 tahun
7. P7 EHS Pelaku Runggun Tanjung Merawa 19 tahun
8. P8 EB Pelaku Runggun Jandimeriah 16 tahun
Pemahaman Jemaat tentang Balap Liar
Berdasarkan wawancara dengan para partisipan, arti balap liar merupakan suatu aktivitas sekelompok orang yang menimbulkankeresahan dan bersifat ilegal. Balapan liar adalah balapan yang dilakukan tidak pada tempatnya sehingga dapat mengganggu orang lain.
Bahkan P5 menyatakan arti balap liar ini dengan kegiatan “bunuh diri” karena dapat merusak masa depan, mengundang penyakit, bahkan masuk penjara.51 Sedangkan menurut pendapat EHS dan EB sebagai pelaku, balap liar merupakan ajang kesenangan semata selaku anak muda masa kini. Ketika mereka mengikuti balapan liar, selain menggunakan sepeda motor sewaan, mereka juga diberi upah dan hadiah sebanyak 10% dari harga taruhan.52 Jadi mereka mendapatkan rasa senang yang mungkin saja tidak mereka dapatkan dari ruang lingkup
50Wawancara dengan Pdt. Dewi Kharista Br Tarigan pada Senin, 31 Oktober 2022.
51Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun dan Pt. Em. Nd Kori Br Keliat pada Jumat, 04 November 2022 dan Roslianna Br Bangun, Bp. Indra Sembiring, Domi Tarigan, serta Dico Andreas PA pada Sabtu 05 November 2022.
52 Hasil Wawancara dengan EHS dan EB selaku pelaku pada Sabtu, 05 November 2022.
14
apapun. Menurut pendapat partisipan, hal-hal yang melatarbelakangi remaja atau permata (kaum pemuda) mengikuti balap ini yakni sebagai hobi, kurangnya perhatian dan pengawasan dari orangtua, pengaruh lingkungan, tingkat emosional yang tinggi sehingga menyalurkan segala egonya itu ke balap, kurangnya kegiatan positif yang dapat diikuti, mencari sensasi lewat media sosial.53 Kartini Kartono menyatakan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja yakni anak yang kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntutan pendidikan yang baik dari orangtua. Kebutuhan fisik dari anak tidak terpenuhi, jadi kenakalan remaja dijadikan sebagai penyalur kebutuhan anak tersebut, mereka tidak dibiasakan hidup disiplin. Maka dari itu, sangat dibutuhkan peran orangtua dalam membentuk fisik dan intelektual remaja sehingga terbentuk kepribadian yang baik dalam dirinya.54
Perkembangan dan Perubahan Pembalap Liar
Menurut partisipan, perkembangan remaja secara fisik dan inteletual setelah mengikuti kegiatan ini adalah secara intelektual, kurangnya semangat belajar yang sangat mempengaruhi perkembangan dirinya selaku anak muda yang tidak memiliki daya tarik untuk menatap masa depan yang cerah. Remaja terkesan sudah fokus hanya ke balap, sehingga para pelaku pemain balapan liar ini tidak ada yang memiliki prestasi di sekolahnya.
Mereka meyakini bahwa dengan mengikuti balapan ini, mereka menemukan identitasnya.
Secara fisik, mereka hanya menonjolkan kekuatan dan kehebatannya, sehingga tidak ada perkembangan yang menguntungkan tetapi menimbulkan kerugian.55 Menurut P6, balapan sebenarnya salah satu olahraga, tetapi disalahgunakan yang secara fisik dapat menimbulkan kecelakaan. Pelaku yang mengikuti ini mengutamakan balapan liar daripada pendidikan, jadi mereka dapat dikatakan kurang pintar secara akademik.56
Persepsi para partisipan sebagai jemaat mengenai adanya balapan liar ini yaitu jemaat terkhusus orangtua merasa resah, khawatir, dan sangat kecewa. Terutama bagi orangtua yang memiliki anak remaja serta anak tersebut menggunakan sepeda motor. Para partisipan juga menjelaskan bahwa ada anak remaja GBKP yang kecelakaan bahkan meninggal dunia. Aksi balapan ini dilakukan di jalan umum, jadi jemaat yang lewat pada waktu bersamaan dengan
53 Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun dan Pt. Em. Nd Kori Br Keliat pada Jumat, 04 November 2022 dan Roslianna Br Bangun, Bp. Indra Sembiring, Domi Tarigan, serta Dico Andreas PA pada Sabtu 05 November 2022.
54 Dadan Sumara, Sahadi Humaedi, Meilanny Budiarti Santoso, Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, Jurnal Penelitian dan PPM, Vol.4 No,2, Juli 2017, 348.
55Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun dan Pt. Em. Nd Kori Br Keliat pada Jumat, 04 November 2022 dan Roslianna Br Bangun, Bp. Indra Sembiring, Domi Tarigan pada Sabtu 05 November 2022.
56Hasil wawancara dengan Dico Andreas PA pada Sabtu, 05 November 2022.
15
waktu balapan, maka jemaat akan ketakutan bahkan tidak diizinkan melewati jalan tersebut.57 Kegiatan ini juga menjadi ketakutan sejak dini, apalagi ada jemaat yang khawatir dengan anaknya walau masih kecil, karena dengan adanya kegiatan ini secara jangka panjang, tidak menutup kemungkinan ketika anaknya sudah menjadi remaja, ia pun melakukan hal yang sama seperti remaja sekarang ini.58 Pelaku juga mengakui bahwa akan adanya sebuah doa yang tidak baik bagi mereka yang menjadi pembalap serta mereka juga menyadari bahwa semua hal yang dilakukannya itu sangat merugikan orang lain.59
Partisipan yang mewakili jemaat juga memiliki nilai masing-masing kepada pelaku.
Dalam kehidupannya sehari-hari, mereka tampak tidak lagi mendengarkan nasehat dari orang sekitarnya.60 Mereka juga kelihatannya tidak lagi mempedulikan kegiatan positif yang ada di gereja, mereka tidak lagi memiliki rasa takut akan Tuhan, jika diingatnya Tuhan maka mereka tidak akan menjalani yang tidak benar di mata Tuhan.61 Menurut P4, biaya hidup anak remaja ini juga akan bertambah karena adanya taruhan, otomatis sumber uang mereka yakni dari orangtua. Ada juga yang tidak memiliki uang sama sekalipun mereka diberi upah dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari menjadi suka bertarung. Kehidupan mereka sebagai remaja bukan lagi menimbukan semangat belajar namun hanya menimbulkan biaya tak terduga yang semakin meningkat.62 Pendapat P5 juga menyatakan bahwa kebanyakan dari pelaku memiliki rasa sayang kepada sepeda motornya daripada kepada nyawanya sendiri.63 P6 juga berpendapat bahwa pelaku tidak lagi fokus dengan pendidikannya. Mereka hanya berfokus pada balap liar, terutama berfokus untuk memodifikasi sepeda motor yang otomatis berpengaruh pada orangtua. Mereka juga terlihat lebih menjadi pembangkang, tidak mendengarkan nasehat. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mereka yang sebagai pelaku balapan ini juga sering berkelahi antar sesama kelompok dalam kehidupannya sehari-hari.64 EHS dan EB juga menyatakan bahwa dalam kehidupannya sehari-hari, mereka selalu hidup dengan penuh nasehat, sebab apa yang mereka lakukan itu tidak benar serta tidak ada satupun yang mendukung perilakunya tersebut.65
Nenden menjelaskan bahwa kenakalan remaja adalah segala perilaku remaja yang sudah melampaui sebuah batas toleransi serta tingkah laku tersebut sudah melanggar aturan
57Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun dan Pt. Em. Nd Kori Br Keliat pada Jumat, 04 November 2022 dan Roslianna Br Bangun, Bp. Indra Sembiring, pada Sabtu 05 November 2022.
58Hasil Wawancara dengan Domi Tarigan pada Sabtu 05 November 2022.
59Hasil Wawancara dengan EHS dan EB pada Sabtu, 05 November 2022.
60Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun pada Jumat, 04 November 2022.
61Hasil Wawancara dengan Pt. Em. Nd Kori Br Keliat pada Jumat, 04 November 2022.
62Hasil Wawancara dengan Bp. Indra Sembiring pada Sabtu, 05 November 2022.
63Hasil Wawancara dengan Domi Tarigan pada Sabtu, 05 November 2022.
64 Hasil Wawancara dengan Dico Andreas PA pada Sabtu, 05 November 2022.
65Hasil Wawancara dengan EHS dan EB pada Sabtu, 05 November 2022.
16
hidup yang berlaku di lingkungan bermasyarakat.66 Sumiati dalam bukunya juga menjelaskan bahwa kenakalan remaja merupakan segala tingkah laku yang menyimpang dari norma serta tingkah laku ini dapat merugikan dirinya sendiri dan orang yang ada disekitarnya.67 Semua perilaku yang dilakukan oleh pelaku berupa mengganggu, merugikan serta tidak dikehendaki masyarakat maka akan menyebabkan sebuah masalah sosial. Artinya, dapat terjadinya penyakit sosial dalam bentuk penyimpangan kepada norma apabila hal ini dilakukan secara terus-menerus. Arti kata lain dari penyakit sosial yakni patologi sosial. Patologi sosial merupakan ilmu yang membahas tentang suatu tingkah laku yang menimbulkan masalah dalam masyarakat yang bertentangan dengan norma, moral, disiplin, dan kebaikan. Ciri-ciri patologi sosial ini yakni memunculkan keresahan masyarakat umum, ketidaksesuaian terhadap kebudayaan yang berlaku pada masyarakat, masalah sosial yang menyebabkan masyarakat resah, merasa tidak aman dan takut, serta menyangkut kepentingan umum.68
Partisipasi Remaja dalam Mengikuti Kegiatan Gerejawi
Berdasarkan hasil wawancara, persepsi partisipan mengenai tingkat partisipasi remaja dalam mengikuti kegiatan gerejawi seperti PA, Perpulungen Jabu-jabu (PJJ) yakni mereka berpartisipasi dalam kegiatan gerejawi tergantung kepada jadwal aktivitas di balapan serta bergantung kepada sesama grupnya. Mereka mengutamakan hobi dibanding dengan kegiatan keagamaan. Selama tidak mengganggu waktu balapan, mereka aktif dalam kegiatan gerejawi.69 Ada juga tingkat partisipasinya tampak seperti “hlang timbul”.70 Tingkat partisipasi kegiatan gerejawi ini masih bisa dipisah-pisahkan. Sebagian orang yang aktif mengikuti PA biasanya mereka menyalurkan bakatnya dengan melakukan sosialisasi dan bersekutu kepada sesamanya. Sekalipun yang tidak aktif ber PA dan yang mengikuti balap itu berstatus GBKP sebagian besar memang tidak aktif di kegiatan gerejawi. Jika mereka aktif berarti remaja ini memiliki cara dalam menyalurkan berkatnya sendiri dan paham cara beretika yang baik.71 Persepsi ini diluar realitas yang dialami oleh pelaku. Pelaku EHS mengaku bahwa EHS tidak memiliki tingkat partisipasi sama sekali ketika sudah berfokus pada balapan liar.72 Dan EB juga menyatakan bahwa ia merasa bahwa PA tidak memiliki
66Nenden Rilla Artistiana, Penyakit Penyimpangan Sosial (Bogor: Regina Eka Utama, 2010), 25.
67D Sumiati, Kesehatan Jiwa Remaja dan Konseling (Jakarta: Trans Indo Media, 2009), 54.
68Yohanes Ayom Prabawani, Agama dan Patologi Sosial (Surakarta: Universitas Kristen Surakarta, 2019), 4-6.
69Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun pada Jumat, 04 November 2022, Domi Tarigan, dan Dico Andreas PA pada Sabtu, 05 November 2022.
70Hasil Wawancara dengan Roslianna Br Bangun pada Sabtu, 05 November 2022.
71Hasil Wawancara dengan Bp. Indra Sembiring pada Sabtu, 05 November 2022.
72Hasil Wawancara dengan EHS pada Sabtu, 05 November 2022.
17
keuntungan apapun. Baginya, tidak ada apapun yang menyenangkan selain bersama dengan teman-teman.73
Emile Durkheim berpendapat bahwa agama merupakan suatu sistem kepercayaan yang berhubungan dengan hal-hal suci. Sebagai orang yang memiliki agama, kita harus meningkatkan keimanan kita melalui ibadah. H. Moenawar Chalil juga berpendapat bahwa agama merupakan sebuah sebuah cara perlibatan perilaku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural sebagai konsekuensi atas pengakuannya. Menurut D Hendropuspito, agama juga merupakan suatu sistem nilai yang mengatur hubungan antara manusia dengan alam yang berkaitan juga dengan keyakinan. Jadi melalui pengertian ini, agama merupakan jalan hidup manusia agar lebih teratur dalam menjalani kehidupan.74 Melalui pengertian ini, realita yang terjadi pada remaja kini menjadi sangat memprihatinkan serta tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan karena mereka mementingkan hobinya daripada menjalani kegiatan gerejawi dengan semestinya.
Peran Orangtua dan Gereja
Menurut hasil wawancara bersama dengan partisipan, peran orangtua dan gereja sangat diharapkan untuk merangkul para pelaku balapan liar. Menurut P1, pada dasarnya orangtua harus terlebih dahulu memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Ketika orangtua memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka orangtua pasti paham cara mendekatkan diri dengan anak. Orangtua membangun komunikasinya dengan Tuhan untuk membimbing anaknya ke jalan Tuhan maka anak juga tidak mencari penyaluran yang lain sebagai pelampiasan. Gereja juga diharapkan membuat program pengalihan. Anak remaja atau permata yang mengikuti balap liar biasanya memiliki andrenalin serta kekuatan yang tinggi.
Gereja memberikan apresiasi kepada mereka yang memiliki talenta dibidang otomotif. Gereja dapat menyalurkan talenta ini dengan membuat program olahraga. Gereja mencari cara agar anak remaja dan permata tidak lagi mengikuti itu. Kita berusaha mengubah kekuatan yang mereka punya ke arah yang lebih positif.75
Partisipan P2 juga berpendapat bahwa sebagai orangtua harus dapat meluangkan waktu bersama anak-anaknya dengan mengutarakan hal yang baik dan buruk. Menjalin waktu bersama agar bisa memberikan pandangan yang positif demi kebaikannya. Harapannya, seiring dengan berjalannya waktu pelaku akan menyadari semua nasehat yang diberikan oleh
73Hasil Wawancara dengan EB pada Sabtu, 05 November 2022.
74Yohanes Ayom Prabawani, Agama dan Patologi Sosial (Surakarta: Universitas Kristen Surakarta, 2019), 3.
75Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun, pada Jumat, 04 November 2022.
18
orangtua. Sebagai jemaat gereja juga harus berusaha mendekatkan diri dengan mereka, menganggap ia teman sama seperti anak muda lainnya, sering bertukar pikiran, dan menjelaskan apa yang terbaik untuk kehidupannya. Gereja diharapkan tidak menjauh kepada mereka melainkan turut ikut memperhatikannya.76 P3 juga berpendapat bahwa sebagai orangtua harus melibatkan anak dalam kegiatan dirumah, misalnya melibatkan anak ke ladang walaupun dari segi tenaga tidak diharapkan setidaknya ia memiliki aktivitas yang membuat mereka tidak ikut kegiatan balapan. Orangtua diharapkan lebih tegas dan disiplin dalam mendidik anak. Secara organisasi gereja, anak remaja dan permata dapat terlibat dalam tugas gereja, dan sebagai majelis gereja juga diharapkan mendampingi mereka dalam mengikuti PA. Gereja juga dapat membuat anggaran untuk pembinaan anak remaja dan permata. Gereja harus bersikap berbeda dengan masyarakat umum, dengan tidak men”judge”
mereka.77 Menurut P4, sebagai orangtua harus “terjun langsung” dalam menasehati anak, memberikan pengertian kepada mereka serta memberikan edukasi. Jika orangtua sudah sampai ke tingkat resah, orangtua dapat meminta perlindungan kepada gereja agar anaknya diberikan himbauan.78
P5 berpendapat sedikit berbeda dengan partisipan lain. P5 sebagai mantan pelaku ketika masa lajangnya ia juga melakukan hal yang sama seperti remaja dan permata. Jadi, menurut P5 sebagai orangtua harus mendukung hobi mereka dengan menyarankan anak mengikuti balapan di zona yang resmi. Misalnya di stadion atau track. Hal ini juga mengurangi tingkat kecelakaan.79 P6 yang berperan sebagai permata, menurutnya sebagai sesama permata ikut mengingatkan mereka tentang berbagai resiko yang menyangkut tentang kerugian yang terjadi pada dirinya sendiri dan orang lain. Gereja juga dapat memperhatikan mereka yang memiliki potensi berotomotif ke arah yang lebih berguna.80 EHS juga mengarapkan hal yang sama seperti para partisipan. EHS mengharapkan gereja dapat membuat kegiatan yang bisa mereka ikuti, sehingga terlihat bahwa gereja tetap ikut memperhatikan mereka.81 Begitu juga dengan EB juga menjelaskan bahwa gereja memberi pengajaran dalam hal mendengarkan firman Tuhan, PA, membaca Alkitab serta gereja tetap membuat kegiatan agar mereka dapat melupakan balapan ini.82
76Hasil Wawancara dengan Pt. Em. Nd Kori Br Keliat pada Jumat, 04 November 2022.
77Hasil Wawancara dengan Roslianna Br Bangun, pada Sabtu, 05 November 2022.
78Hasil Wawancara dengan Bp. Indra Sembiring pada Sabtu, 05 November 2022.
79Hasil Wawancara dengan Domi Tarigan pada Sabtu, 05 November 2022.
80Hasil Wawancara dengan Dico Andreas PA pada Sabtu, 05 November 2022.
81Hasil Wawancara dengan EHS pada Sabtu, 05 November 2022.
82Hasil Wawancara dengan EB pada Sabtu, 05 November 2022.
19
Orangtua harus melatih anggota keluarga untuk mengembangkan kemampuan agar tetap semangat dalam berdoa agar dapat ikut serta menasehati orang lain dan juga membawa orang lain kepada Tuhan.83 Orangtua sudah memenuhi persyaratan sebagai pemimpin sehingga ia harus mampu mengatur keluarganya dengan baik serta mendidik anaknya agar menjadi pribadi yang baik. Sebagai orangtua juga memiliki peranan dan tanggung jawab yang penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak agar mengalami pertumbuhan iman.84 Orangtua yang takut akan Tuhan akan menjadi pengarah rohani dalam keluarga.
Orangtua yang takut akan Tuhan dan menggunakan perannya dengan baik, terbukti juga maka anak-anaknya perlahan-lahan menjadi takut akan Tuhan serta mencintai firmanNya.
Anak-anak yang takut akan Tuhan membuat orangtua tidak mengkhawatirkan masa depannya.85 James Dobson menyatakan bahwa orangtua harus mampu memberikan teladan kasih Allah kepada anaknya ditengah-tengah berbagai kesibukan dalam bentuk kasih sayang.
Kehadiran orangtua sangat penting bagi kenyamanan hidup anak. 86 Penjelasan ini memperkuat berbagai persepsi jemaat serta pelaku berdasarkan hasil wawancara tentang sikap dan peranan orangtua agar anak remaja dan permata tetap hidup dalam Tuhan serta jauh dari kenakalan remaja.
83Julianto Simanjuntak, Psikologi Pendidikan Agama Kristen (Yogyakarta: Andi, 2016), 60-70.
84Charles F. Boyd, Menyikapi Perilaku Anak Sesuai dengan Karakternya (Bandung: Kalam Hidup, 2006), 158.
85Khui Fa Chang, Garam dan Terang bagi Keluarga (Malang: Pionir Jaya, 2009), 50-51.
86James Dobson, Masalah Membesarkan Anak (Bandung: Kalam Hidup, 2005), 21.
20
PEMBAHASAN
Kenakalan remaja merupakan ciri cari gejala patologis sosial dalam bentuk pengabaian sosial. Mereka juga mengembangkan bentuk-bentuk perilaku yang menyimpang.
Santrock menjelaskan bahwa kenakalan remaja yakni suatu bentuk kumpulan berbagai perilaku yang berbeda secara sosial yang tidak dapat diterima hingga tindakan kriminal.
Perilaku yang dilakukan anak remaja yang terus mencari identitas dapat mengganggu ketenangan orang lain. Faktor-faktor yang melatarbelakangi remaja melakukan kenakalan yakni pertama, krisis identitas. Perubahan sosial dan biologis mengakibatkan remaja mencapai terbentuknya kemantapan dalam bertindak dihidupnya. Pada krisis identitas ini juga remaja mencapai pengenalan karakter. Kedua, kontrol diri yang tidak kuat. Remaja tidak dapat memperlajari sendiri perilaku yang dilakukannya. Mereka hanya bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka. Ketiga, kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua.
Lingkungan keluarga akan mempengaruhi penyebab kenakalan remaja. Dengan begitu, remaja merasa tidak terpenuhi baik dalam aspek kebutuhan, keinginan, serta harapan yang tidak tersalurkan dengan baik, serta mereka tidak mendapatkan pengajaran disiplin serta bimbingan pengendalian diri yang baik. Keempat, minimnya pemahaman tentang keagamaan.
Agama merupakan peranan yang penting dalam mencapai perkembangan moral untuk melindungi remaja dari kejahatan serta mempersiapkan masa depan. Kelima, pengaruh lingkungan. Kebanyakan remaja awalnya hanya mencoba hingga akhirnya jatuh ke dalamnya.
Lingkungan sangat dapat mempengaruhi karakter dan tingkah laku anak remaja. Jika mereka hidup dalam lingkungan yang tidak baik, maka demikian juga terjadi pada remaja, ia akan mengalami kemerosotan moral. Keenam, tempat pendidikan. Tempat pendidikan juga mempengaruhi kenakalan remaja, karena memiliki kemungkinan mereka tidak fokus dalam menjalani kehidupannya didunia pendidikan. Mereka hanya fokus kepada kesenangan atau hobinya saja.87
Faktor-faktor diatas kemungkinan besar tidak disadari oleh anak remaja. Mereka hanya melakukan perbuatan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Sehingga, remaja sering menimbulkan masalah dan seringkali mengganggu ketenangan serta kedamaian masyarakat sekitar. Maka dari itu, sesuai dengan hasil wawancara bersama dengan partisipan terlihat wujud-wujud perilaku yang mereka lakukan. Berbanding terbalik dengan pengakuan anak remaja sebagai pelaku, mereka hanya berpikir tentang kesenangan sehingga penyesalan akan
87Asiyah Jamilah, Aista Wisnu Putra, Pengaruh Labelling Negatif terhadap Kenakalan Remaja, Jurnal Hukum dan Kemanusiaan, Vol. 12, No. 1, Juni 2022, 70-73.
21
dirasakannya belakangan. Permasalahan ini dapat dianalisis menggunakan teori labeling.
Teori labeling menjelaskan tentang perilaku yang sudah sampai ditahap penyimpangan sekunder atau secondary deviance. Teori labeling memiliki dua pendekatan diantaranya adalah persoalan tentang bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh label sebagai reaksi dari masyakarat dan dampak label terhadap perilaku seseorang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.88
Edwin M. Lemert dalam bukunya Social Pathology mencontohnya teori ini yang dijuluki kepada seorang anak yang gagap. Bagi anak tersebut, ia merasakan perbedaan dalam dirinya. Tetapi orang lain yang melihatnya malah “buruk atau tidak diinginkan”. Bagi anak tersebut, gagap bukan berarti tidak dapat berbicara sama sekali, tetapi memiliki sedikit kelemahan dalam berbicara. Namun, ia tidak bisa mengendalikan persepsi orang lain terhadapnya. Jadi, Labeling merupakan sebuah identitas diri yang diberikan dan yang mempunyai suatu penyimpangan perilaku yang memang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Menurut Lemert seseorang berbuat hal yang menyimpang karena terjadinya suatu proses pelabelan. Teori pelabelan ini dipakai untuk mendefinisikan individu sebagai perilaku menyimpang.89
Balapan liar di pembahasan ini dapat diartikan sebagai sebuah tindakan yang menakutkan dan meresahkan antara kelompok dengan masyarakatnya. Kelompok dalam fokus penelitian yang dibahas adalah para remaja dan permata GBKP, sedangkan masyakarat dalam fokus penelitian yang dibahas adalah jemaat GBKP Klasis Sinabun. Para remaja dan permata yang sempat diberikan julukan sebagai remaja dan permata yang nakal. Berdasarkan hasil penelitian, persepsi P1 menganggap bahwa adanya kemirisan dalam hati ketika remaja dan permata diberikan julukan nakal, tidak seutuhnya perilaku ini dilakukannya karena keinginan secara pribadi tetapi ada juga dari dorongan sosial atau ajakan teman.90 Jemaat P1 juga menganggap julukan nakal ini benar diberikan kepada mereka sebagai pelaku, karena balapan liar ini tidak memiliki dampak positif dan hal ini dapat menyebabkan remaja tidak berprestasi di sekolah.91 Jemaat P4 juga sepakat dengan pemberian julukan ini, karena saat ini remaja dianggap kurang pengarahan dari orangtua serta orangtua tidak mampu menyalurkan bakat anak-anaknya ke arah yang lebih baik, bahkan ada gereja yang kurang memberikan
88 J. Dwi Harwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004), 114.
89 Edwin M. Lemert, Social Pathology : A Systematic Approach To The Theory Of Sociopathic Behavior (New York, 1951), 161-165.
90Hasil Wawancara dengan Berna Netta H Br Bangun pada Jumat, 04 November 2022.
91Hasil Wawancara dengan Roslianna Br Bangun pada Sabtu, 05 November 2022.
22
sarana untuk mengembangkan bakat, dan mengaplikasian etika dengan benar.92 Jemaat P5 juga menyatakan sepakat dengan penjulukan ini, tapi penjulukan ini dituju kepada pelaku balapan liar, bukan sama rata bersama dengan penonton juga. Ketika mereka berperan sebagai pelaku, mereka memang dapat disebut nakal baik dari sisi sosiologi maupun finansial dalam memenuhi biaya yang diperlukan selama balapan. Jika mereka yang hanya menonton, ia tidak dapat dikategorikan sebagai nakal.93 Jemaat P6 juga sepakat dengan penjulukan itu, sebab hal yang mereka lakukan itu merupakan sebuah perilaku yang mengganggu kenyamanan orang lain.94 Begitu juga dengan pelaku balapan liar ini, EHS dan EB juga sepakat bahwa ia dijuluki nakal, karena mereka secara sadar melakukannya tetapi tidak sadar bagaimana dampak yang sudah dilakukannya melalui semua perbuatan yang tidak sesuai dengan norma dan moral. EHS berpendapat bahwa ia tidak mempermasalahkan tentang julukan apapun yang diberikan kepadanya ketika ia masih menikmati kesenangan semata tersebut.95 Sedangkan EB menganggap bahwa julukan itu menunjukkan kepedulian oranglain kepada dirinya.96
Berdasarkan penelitian ini, dua pendekatan yang sudah dijelaskan diatas dapat digunakan sebagai bahan analisis. Perdekatan yang pertama, persoalan tentang bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh label sebagai reaksi dari masyarakat. Dalam permasalahan ini, remaja dan permata sebagai pelaku pembalap memperoleh label dari jemaat karena melakukan balap liar di jalanan umum sehingga meningkatkan ketakutan dan keresahan jemaat. Pendekatan yang kedua, dampak label terhadap perilaku seseorang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya. Dalam penelitian ini, remaja dan permata sudah mendapatkan label sebagai remaja yang nakal, jadi kemungkinan besar mereka tidak sungkan lagi melakukan ini. Kecil kemungkinan mereka untuk tidak melakukan kegiatan balap liar.
Untuk memahami teori labeling harus diuji melalui reaksi-reaksi jemaat terhadap sebuah penyimpangan. Penyimpangan dalam masalah ini adalah balapan liar yang oleh jemaat GBKP Klasis Sinabun dianggap sebagai tindakan yang negatif. Pelabelan disini terjadi akibat dari reaksi jemaat GBKP Klasis Sinabun terhadap kegiatan para remaja dan permata dan jemaat mendapatkan secara langsung dampak dari aktivitas tersebut.
92Hasil Wawancara dengan Bp. Indra Sembiring pada Sabtu, 05 November 2022.
93Hasil Wawancara dengan Domi Tarigan pada Sabtu, 05 November 2022.
94Hasil Wawancara dengan Dico Andreas PA pada Sabtu, 05 November 2022.
95Hasil Wawancara dengan EHS pada Sabtu, 05 November 2022.
96Hasil Wawancara dengan EB pada Sabtu, 05 November 2022.
23
Menurut Tata Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) pasal 1:2 menjelaskan tentang
“anak, remaja, dan pemuda berperan penting dalam kegiatan-kegiatan gereja baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya sehingga regenerasi dan kaderisasi berjalan dengan baik.”97 Jemaat GBKP secara khusus pada jemaat GBKP Klasis Sinabun juga menginginkan para remaja dan permata menjadi harapan gereja, sebagai regenerasi pendahulunya. Jemaat GBKP Klasis Sinabun merasa prihatin melihat kenyataan bahwa para remaja dan permata melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat dan menimbulkan kerugian bagi diri mereka, orangtua, dan lingkungan sekitarnya.
Labeling informal dapat dikaitkan dengan peran orangtua terhadap karakter anak.
Pada saat ini jemaat dengan mudahnya memberikan label bersifat negatif kepada anak tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi pada karakter anak tersebut. Sehingga, tidak menutup kemungkinan maka remaja juga terus masuk ke dalam tingkah laku yang menyimpang atau nakal seperti julukannya. Dari sudut pandang sosiologi, pelabelan akan berkaitan dengan gejala patologi sosial atau penyakit sosial. Memberi label tertentu kepada seseorang akan memiliki dampak besar yang kemungkinan besar menyebabkan terjadinya perilaku yang menyimpang. Sama seperti pelaku balapan liar yang dijuluki nakal oleh jemaat maka stigma ini terus terjadi dalam hidupnya. Hal ini juga tidak tertutup dari latar belakang dari keluarga yang kurang memperhatikan serta pergaulan mereka yang sangat bebas membuat anak remaja dan permata lupa diri akibat kesenangan semata yang dialaminya.
Anak remaja dan permata GBKP Klasis Sinabun yang menjadi pelaku balapan ini tampak tidak menggunakan waktunya sebagai anak muda dengan benar. Bahkan, kegiatan keagamaan juga seringkali tidak mereka pedulikan hanya karena hobi yang mereka banggakan itu. Padahal, tidak semua stigma pelabelan itu adalah karakter asli mereka tapi semua ini akibat anak remaja dan permata melakukan penyimpangan. Karena pada dasarnya label itu terjadi lahir dari reaksi jemaat serta secara langsung merasakan dampaknya.
Disamping pelabelan ini, gereja dan orangtua juga ingin membantu dan merangkul anak remaja dan permata GBKP agar tidak terus menerus melakukan penyimpangan ini.
Sesuai dengan hasil wawancara bersama dengan para partisipan menjelaskan bahwa sebagai orangtua dan gereja kedepannya harus ikut memperhatikan mereka. Jadi, remaja ini juga harus memperbaiki dirinya serta tingkah lakunya untuk menjadi lebih baik lagi. Orangtua dan gereja bekerja sama untuk memberikan himbauan, nasehat, dan perlindungan yang baik kepada pelaku, agar remaja dan permata sadar atas apa yang mereka lakukan serta ia pun bisa
97Moderamen GBKP, Tata Gereja Batak Karo Protestan tahun 2015-2025 (Kabanjahe: Abdi Karya).