• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KONSUMSIFAST FOOD DAN SOFT DRINKDENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJAUSIA 15-17 TAHUN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUBUNGAN KONSUMSIFAST FOOD DAN SOFT DRINKDENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJAUSIA 15-17 TAHUN."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

vii

Falah Indriawati Barokah. S531208006. 2014. HUBUNGAN KONSUMSI FAST FOOD DAN SOFT DRINK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA USIA 15-17 TAHUN. TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr. Ambar Mudigdo, dr.,Sp.PA, II: Dr. Adi Prayitno drg.MKes. program Studi Ilmu Gizi, Program PascasarjanaUniversitas Sebelas Maret.

ABSTRAK

Latar Belakang : Fast food dan soft drink keduanya banyak mengandung gula, terutama gula buatan. Gula buatan terbukti tidak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan obesitas jika dikonsumsi terus menerus. Sehingga penulis tertarik untuk mengetahui hubungan konsumsi fast food dan soft drink dengan kejadian obesitas pada remaja umur 15-17 tahun.

Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan

cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA

Muhamaddiyah 3 Jakarta dengan jumlah subjek 105 siswa. Teknik pengumpulan data dengan food frequency questionnaire dan formulir food recall. Data yang terkumpul dianalisis dengan Regresi Linear Berganda.

Hasil :Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food dengan kejadian obesitas remaja (β = 0,111) dan (p = <0,001) dengan persamaan (Y = 0,1X). Terdapat hubungan yang signifikan antara selera konsumsi soft drink dengan kejadian obesitas remaja (β = 0,05) dan (p = 0,018) dengan persamaan (Y = 0,05X). Semakin banyak remaja mengkonsumsi soft drink, dan fast food maka semakin tinggi risiko kejadian obesitas pada remaja umur 15-17 tahun. Kadar kortisol rata-rata pada siswao besitas (A) dan non obesitas (B) berbeda tidak signifikan (A:B = 9,47:9,76).

Kesimpulan :Fast food dan soft drink keduanya banyak mengandung karbohidrat. Selanjutnya kelebihan karbohidrat akan diubah menjadi asam lemak oleh hormone kortisol yang ditandai dengan terjadinya obesitas.

(2)

vii

Falah Indriawati Barokah. S531208006. 2014. RELATIONSHIP FAST FOOD CONSUMPTION AND SOFT DRINK WITH EVENTS IN ADOLESCENT OBESITY AGE 15-17 YEARS. TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr. Ambar Mudigdo, dr.,Sp.PA, II: Dr. Adi Prayitno drg.MKes. Nutrition Science Study Program, Postgraduate Program of Sebelas Maret University.

ABSTRACT

Background: Fast food and soft drinks are both much sugar, especially artificial sugars. Artificial sugar proved to be good for health as it can cause obesity if consumed continuously. So the authors are interested in knowing the relationship of consumption of fast food and soft drinks with obesity in adolescents aged 15-17 years.

Methods: This study design was observational with cross sectional approach. The population of this study were all students of class X and XI SMA 3 Jakarta Muhamaddiyah the number of samples 105 students. Data collection techniques with a food frequency questionnaire and a food recall form. The data were analyzed with multiple linear regression. Results: There is a significant correlation between the consumption of fast food with adolescent obesity (β = 0,111) and (p = <0,001) with equation (Y = 0,1x). There is a significant relationship between soft drink consumption tastes with adolescent obesity (β = 0,05) and (p = 0,018) with equation (Y = 0,05X). More and more teenagers consume soft drinks, and fast food, the higher the risk of obesity in adolescents aged 15-17 years. Average cortisol levels in obese students (A) and non-obese (B) do not differ significantly (A: B = 9,47: 9,76).

Conclusion: Fast food and soft drinks contain a lot of carbohydrates both. Furthermore, excess carbohydrates are converted into fatty acids by the hormone cortisol, which is characterized by the occurrence of obesity.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

i II Menteri Keuanga n Menteri Keuanga n Ditjen Angga ran Ditjen Angga ran Ditjen Pajak Ditjen Pajak Ditjen Perbe ndahar aan Ditjen Perbe ndahar aan Ditjen Kekay aan Negar a

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLII-2/W6, 2017 International Conference on Unmanned Aerial Vehicles

 Ada dua cara pelaporan audit manajemen, yaitu : (a) cara penyajian yang mengikuti arus informasi yang diperoleh selama tahapan-tahapan audit dan (b) cara penyajian yang mengikuti

Results from feature reduction analyses suggested that four spectral regions were important for wetland species discrimination. In terms of feature reduction

Istilah Tax Auditing hendaknya disebut dengan istilah Audit Pajak yang dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, dan mengolah data dan

Hal ini menunjukkan bahwa pada populasi B69 × Numbu dan B69 × Kawali terdapat individu tanaman yang sangat beragam terutama pada karakter bobot biji per malai, artinya

melakukan manajemen laba pada periode dua tahun menjelang IPO dan tidak terdapat