K E L AT H I Klaten Kilas Informasi
Majalah Media Informasi Kabupaten Klaten
Edisi I / 2023
TANGAN TERAMPIL PARA IBU DI BALIK KEINDAHAN GERABAH MELIKAN DAN BATIK BAYAT
Siapa sangka, ternyata dari tangan para ibulah aneka kerajinan gerabah Desa Melikan yang
Foto Cover : DISKOMINFO KABUPATEN KLATEN
COVER STORY :
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah,
Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga majalah Kelathi ini dapat terselesaikan. Majalah Kelathi ini bertujuan untuk mengulas informasi-informasi yang ada di Kabupaten Klaten dan setiap bulannya ada tema besar yang dibahas. Selain itu dengan harapan majalah ini bisa menjadi buah bibir yang positif bagi Kabupaten Klaten.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh narasumber yang sudah berkenan untuk membagikan informasi, dan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan majalah Kelathi ini.
Kami mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dan bagi pembaca yang kurang berkenan. Semoga majalah Kelathi ini ke depan bisa lebih baik.
Potret Pembuatan Batik Tulis oleh Para Ibu di Melikan Bayat
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Drs. Amin Mustofa, M.Si
Kepala Dinas Komunikasi Informatika Kabupaten Klaten Penanggung Jawab Kelathi
02
Daftar Isi
Penanggung Jawab I : Drs. Amin Mustofa, M.Si Penanggung Jawab II : Aris Pramana, SE, MM Pemimpin Redaksi : Pinandita Bima M, S.T Fotographer : Hendra Kurniawan, Muhammad Tomi Tri A Videographer : Alfin Maulana, A d a m F a j a r i , J o u r n a l i s t : P r i m u s Supriyono, Titi Rochman, Angga Purnama, Desain: Warih Nugroho, Administrasi : Nur Fadilah Zahriayti, A.md, Art Dwica, Alamat Redaksi : Jalan Pemuda nomor 294 Klaten, Jawa Tengah, email : kominfo.klaten
@gmail.com, instagram : @kominfo.klaten, twiiter : @kominfo_klt, youtube : DISKOMINFO KABUPATEN KLATEN
Teras Klaten
Keindahan Gerabah Desa Melikan
03
Teras Klaten
Klaten Dalam Lensa Meriah, Perayaan Malam Tahun Baru 2023 di Alun Alun Klaten
Keindahan Batik Bayat
06
Tangan Terampil Para Ibu di Balik Keindahan Gerabah Melikan dan Batik Bayat
11
Klaten BisaMenengok Sentra Industri Mebel Klaten Di Desa Sajen
dan Gombang
15
T E R A S K L A T E N
TANGAN TERAMPIL PARA IBU
DI BALIK KEINDAHAN GERABAH MELIKAN DAN BATIK BAYAT
Sejak zaman dahulu, perempuan seolah ditakdirkan hanya untuk melaksanakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Ia hanya pantas bekerja di sektor domestik. Dalam kehidupan sehari-hari, pandangan itu telah menempatkan para ibu sebagai makhluk lemah yang yang tidak mampu menghadapi kerasnya kehidupan.
Namun anggapan itu tidak berlaku bagi para ibu di Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Demikian juga stigma itu tidak tepat diberikan kepada para ibu di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Di desa itu, para ibu justru mempunyai peran yang sangat penting. Para ibu di sana tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, namun juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Dari tangan merekalah seni keterampilan membuat gerabah tetap lestari hingga hari ini. Lebih dari itu, berkat keterlibatan para ibulah ditemukan teknik putaran miring dalam pembuatan gerabah. Teknik itu hanya ada pada pembuatan gerabah Desa Melikan yang khas dan indah tanpa menggunakan bahan-bahan kimia.
Industri kerajinan gerabah Desa Melikan merupakan usaha industri kerajinan berbahan baku tanah liat dengan pewarna tanah dan daun munggur. Industri kerajinan gerabah menghasilkan berbagai macam barang, misalnya kendi, pot, vas bunga, cangkir, mangkuk, nampan, guci, alat-alat dapur, aneka permainan anak dan hiasan, dan sebagainya. Siapa sangka, ternyata dari tangan para ibulah aneka kerajinan gerabah Desa Melikan yang khas dan unik dikenal di berbagai daerah hingga ke luar negeri.
T E R A S K L A T E N
Keindahan Gerabah Desa Melikan
Tuntutan kehidupan yang semakin berat dan beragam, telah mengubah stigma negatif para ibu yang hanya diposisikan sebagai konco wingking. Keadaan ini mengakibatkan status para perempuan di Desa Melikan tidak lagi hanya sebagai ibu rumah tangga saja. Mereka dituntut peranannya dalam berbagai kehidupan sosial-ekonomi, seperti turut bekerja membantu suami. Bahkan, tidak sedikit para ibu di Desa Melikan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Sebagaimana dituturkan Darwanti, salah seorang ibu yang menekuni profesi sebagai pengrajin gerabah Desa Melikan. Selain harus memasak, mengurus anak dan suami, serta pekerjaan rumah tangga lainnya, ia setiap hari bekerja membuat aneka bentuk gerabah. Seni keterampilan membuat gerabah ini ia geluti sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek dan leluhurnya. Aneka produk gerabah buatan Darwanti inilah yang menopang ekonomi keluarga dan kebutuhan sekolah anak-anaknya.
T E R A S K L A T E N
Setelah memasak di pagi hari dan menyiapkan keperluan anak untuk sekolah, Darwanti langsung bekerja membuat gerabah yang telah dipesan oleh pelanggan. “Biasanya mulai pukul 06.00 saya sudah mulai bekerja membuat gerabah. Dalam sehari, rata-rata saya bisa membuat 300 sampai 400 buah gerabah ukuran kecil dengan menggunakan teknik putaran miring. Butuh sekitar 10 sampai 15 hari untuk menyelesaikan pesanan pelanggan,” katanya.
“Kalau ditanya capek atau tidak, ya tentu capek sekali. Dengan posisi duduk miring, kaki kiri harus menggerakan papan tatakan agar putaran tanah liat dapat dibentuk menjadi gerabah. Sedangkan tangan kanan dan kiri harus terampil mengatur bentuk dan ukuran gerabah. Tidak bisa asal membuat. Tidak bisa asal jadi atau yang penting cepat, tapi harus dipadukan dengan rasa dan nilai seni,” imbuhnya.
T E R A S K L A T E N
Ia dan para ibu pengrajin gerabah, setelah bekerja beberapa tahun mengeluhkan rasa sakit pada bagian kaki dan punggung. Darwanti dan para ibu pengrajin gerabah yang telah bergelut bertahun-tahun, merasakan tidak bisa berjalan kaki secara normal. Pembuatan gerabah asal Desa Melikan yang terkenal indah dengan teknik putaran miring ini, memang mengharuskan para pengrajin duduk di atas dingklik (kursi pendek) dalam posisi miring secara berlama- lama.
Teknik putaran miring ini digunakan karena sebagian pengrajin adalah para ibu. Pengrajin biasa bekerja dengan menggunakan kain jarik. Untuk menjaga kesopanan, para ibu ini menggunakan teknik miring, yang mengharuskan mereka untuk duduk miring. Duduk dengan posisi miring seperti itu akan menjaga etika dan kesopanan ketika mereka bekerja. Teknik putaran miring ini memang dibuat untuk menghargai kaum perempuan. Itulah salah satu kearifan lokal yang ada pada masyarakat Desa Melikan, teknik itu didapatkan secara turun temurun dan akan terus dilestarikan.
Mengulas Klaten Dalam Informasi05
T E R A S K L A T E N
Keindahan
Batik Bayat
T E R A S K L A T E N
T E R A S K L A T E N
Dunia mengakui batik Indonesia, termasuk Batik Bayat sarat dengan teknik, simbol, budaya, dan makna yang begitu mendalam.
Sebab, nilai dan keindahan batik bukan hanya terletak pada kenampakan fisik seperti motif dan warna batik. Namun, siapa mengira di balik keindahan ragam hias dan motif batik Bayat ada tangan-tangan terampil penuh ketekunan para ibu.
Membatik memang bukan pekerjaan utama bagi para ibu buruh batik. Namun, dari wajah mereka tampak ketekunan dan keseriusan bagaimana mereka menggoreskan cairan malam panas membentuk motif batik yang indah, rumit, dan kecil-kecil. Di sela-sela ketekunan dan keheningan itu, tetap ada canda dan tawa di antara mereka.
Para ibu pembatik itu, datang dari berbagai tempat di Desa Jarum yang memang terkenal dengan batik tulis warna khas alamnya. Ada yang datang membatik pagi hari, namun ada pula yang datang pada tengah siang. Maklum saja, mereka adalah ibu rumah tangga. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan utama mereka sebagai petani, peternak, pedagang, dan tentu saja sebagai ibu rumah tangga.
T E R A S K L A T E N
Sri Utami (47), perempuan pembatik di Batik Sekar Mawar menuturkan, ia membatik setelah memasak dan mengantar anaknya ke sekolah. “Jam 12.00 harus pulang lagi ke rumah untuk menjemput anak dari sekolah. Setelah menyiapkan makanan buat anak-anak dan suami, saya kembali ke sini untuk meneruskan membatik,” tuturnya.
Tidak tercermin sedikit pun rasa lelah dari wajahnya. Tidak pula tampak wajah lesu dari seberapa banyak upah yang ia terima dari membatik. Sri Utami menerima upah Rp150.000 setiap lembar kain batik yang ia selesaikan. Butuh waktu 2 sampai 4 minggu untuk menghasilkan satu lembar kain batik yang indah dengan warna khas alam.
Membatik memang dibutuhkan ketekunan dan ketelitian, sekaligus kecintaan yang besar pada warisan budaya bangsa ini. Sumini (56), pembatik yang paling lama bekerja di Batik Sekar Mawar mengatakan, membatik harus hening dan wening. “Kalau ada masalah keluarga, ya harus bisa dilupakan dulu. Kalau pikiran kita tidak bersih, akan mempengaruhi goresan pada motif batik yang kita hasilkan. Saya bekerja bukan semata-mata hanya cari uang, tetapi lebih karena kecintaan saya pada batik,” tandasnya.
Mengulas Klaten Dalam Informasi09
Dari tangan terampil dan wajah tulus para perempuan pembatik ini, seorang pengusaha batik menjual satu lembar kain batik ke toko atau galeri dengan harga sekitar Rp400.000. Kemudian, dari toko atau galeri inilah kita membelinya dengan harga bisa mencapai Rp1.500.000 setiap lembar kain batik tulis.
Dengan motif batik penuh makna ini, kita bangga mengenakannya sebagai busana pada berbagai peristiwa besar dan penting. Batik kini menjadi salah satu identitas kebanggaan bangsa. Dunia pun mengakui, batik Bayat merupakan warisan budaya bernilai tinggi. Sebab, batik bukan hanya mengekspresikan keindahan, tetapi juga memancarkan nilai-nilai filosofi dan pengalaman spiritual yang mendalam. Di balik perjuangan kaum ibulah karya agung kebanggaan bangsa itu terjaga hingga hari ini.
Penulis: Primus Supriono (Kominfo Klaten)
KLATEN DALAM LENSA
MERIAH,
Perayaan Malam Tahun Baru 2023
di Alun Alun Klaten
Meriah, Perayaan Malam Tahun Baru 2023 di Alun Alun Klaten
Malam pergantian tahun 2023 di Kabupaten Klaten sangat meriah. Hal tersebut terlihat masyarakat kota bersinar tumpah ruah di Alun-Alun Kabupaten Klaten, Sabtu (31/12/2022). Turut hadir Forkopimda, Kepala OPD, Camat, Kepala Desa, dan tamu undangan.
Seluruh pengunjung Alun-Alun Klaten larut dalam sajian pentas musik yang disajikan di kawasan baru Alun-alun Klaten. Sejumlah artis yang sedang naik daun ditampilkan di panggung tersebut. Seperti Abah Lala dengan lagu andalannya Ojo Dibandingke, Budi Cilok, Evan Loss, Aneth Koeswoyo, dan masih banyak lagi.
Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut masyarakat yang hadir menyaksikan bersama video keberhasilan Pemerintah Kabupaten Klaten dalam segala sektor.
KLATEN DALAM LENSA
Dalam sambutannya, Bupati Klaten, Sri Mulyani mengatakan malam tahun baru 2023 ini sangat istimewa, karena sebelumnya selama dua tahun (pandemi Covid-19) tidak ada perayaan.
“Alhamdulillah, pada malam hari ini kita dianugerahi sehat bisa sama-sama merayakan tahun baru 2023,” ujarnya.
Ia menyampaikan Kabupaten Klaten telah bangkit dari pandemi karena berkat dukungan semua pihak dan khususnya masyarakat Klaten.
“Kami Pemerintah Daerah terus berbuat, kami terus berbenah untuk membangun Kabupaten Klaten. Selama satu tahun Alun-alun Klaten direvitalisasi. Alhamdulillah malam hari ini kita buka kembali,” terangnya.
Ia juga memapaparkan setelah Alun- Alun masih akan akan ada peresmian Pasar Gede Klaten, Graha Bung Karno dan kedepan akan ada revitalisasi GOR Gelarsena.
Ia minta dukungannya seluruh warga masyarakat Kabupaten Klaten agar Pemkab Klaten terus bisa membahagiakan dan mensejahterakan seluruh warga masyarakat Kabupaten Klaten.
“Selamat Tahun Baru 2023. Semoga keberkahan kesehatan dan keselamatan selalu menyertai kita semua warga masyarakat Kabupaten Klaten,” jelas Sri Mulyani.
Mengulas Klaten Dalam Informasi13
Terakhir, sajian pentas musik malam pergantian tahun 2023 tepat tengah malam atau jam 00.00 ditutup dengan pesta kembang api yang sangat indah mewarnai kota bersinar.
Penulis: Titi R (Kominfo Klaten)
#KLATENBISA
MENENGOK SENTRA INDUSTRI MEBEL KLATEN
DI DESA SAJEN DAN GOMBANG
#KLATENBISA
Kerajinan membuat mebel atau bentukan kayu yang diukir menjadi aneka perobot rumah tangga, telah menjadi keahlian turun-temurun masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa. Tidak hanya Jepara yang telah menjadi ikon kerajinan mebel, sebenarnya masih banyak sentra industri mebel di Jawa yang tidak kalah hebat. Sebut saja misalnya sentra industri mebel di Kabupaten Klaten.
Di Kabupaten Klaten, selain di Desa Serenan Kecamatan Juwiring, kita juga dapat menjumpai sentra industri mebel di Desa Sajen Kecamatan Trucuk dan Desa Gombang Kecamatan Cawas. Memang belum seterkenal kerajinan mebel di Jepara, namun ukiran dan bentukan kerajinan kayu pada sentra industri mebel di Kabupaten Klaten menampilkan keindahan dan ciri khas yang berbeda dengan daerah lain.
Sebenarnya masih banyak lagi desa di Kabupaten Klaten yang masyarakatnya memiliki keahlian ukiran dan bentukan kerajinan kayu. Namun, memang Desa Serenan Kecamatan Juwiring, Desa Sajen Kecamatan Trucuk, dan Desa Gombang Kecamatan Cawas yang dinobatkan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten sebagai sentra industri mebel. Menurut Badan Perencanaan
#KLATENBISA
Pengerjaan mebel di Desa Sajen Kecamatan Trucuk dan Desa Gombang Kecamatan Cawas sebagian besar dilakukan oleh industri rumahan. Mayoritas warga masyarakat di wilayah tersebut bermata pencaharian sebagai pengrajin, baik sebagai pemilik maupun sebagai pekerja pada industri mebel.
Seni ukiran dan bentukan kerajinan kayu, memang telah menjadi keahlian bahkan tradisi bagi sebagian masyarakat Klaten. Ibu Subandi, salah seorang perajin mebel di Desa Sajen Kecamatan Trucuk menuturkan, keahlian membuat mebel ia warisi dari orang tuanya. “Dahulu orang tua saya mengajarkan bagaimana membuat dipan atau tempat tidur dari kayu. Saat ini, sesuai dengan permintaan pasar, kami juga membuat aneka mebel seperti macam-macam meja dan kursi, meja rias, almari, bufet, rak, pintu, dan berbagai perabot rumah tangga lainnya,” katanya.
Mengulas Klaten Dalam Informasi17
#KLATENBISA
Ibu Sudandi menambahkan, dalam keluarganya, tidak hanya dirinya yang menekuni dan mengembangkan industri mebel. Kakak dan saudara- saudaranya yang lain juga bergerak dalam bisnis mebel. “Kakak dan saudara- saudara saya semua telah berhasil mengembangkan industri mebel. Kami berusaha meneruskan dan mengembangkan industri mebel sesuai permintaan pasar. Kami selalu menjaga kualitas produk agar tetap mampu bersaing,”
jelasnya.
Ibu Subandi menerima pesanan pelanggan dari berbagai daerah. Ada produk yang ia kerjakan untuk memenuhi pesanan masyarakat Klaten. Namun, tidak sedikit produk yang ia buat untuk memenuhi permintaan masyarakat di Solo, Yogyakarta, Jakarta, bahkan sampai luar Jawa.
#KLATENBISA
Kerajinan mebel yang dikembangkan masyarakat di Desa Sajen Kecamatan Trucuk dan Desa Gombang Kecamatan Cawas menggunakan kayu akasia. Saat ini hampir seluruh produksi mebel menggunakan bahan baku kayu akasia.
Kebutuhan bahan baku kayu akasia dipenuhi dari daerah-daerah di sekitar Kabupaten Klaten seperti Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan.
Penggunaan bahan baku kayu akasia pada pembuatan mebel di Desa Sajen Kecamatan Trucuk dan Desa Gombang Kecamatan Cawas ini memiliki keunggulan tersendiri. Produk mebel yang berbahan baku kayu akasia dibandrol dengan harga yang jauh lebih murah dibanding mebel dengan bahan baku kayu mahoni dan jati.
“Harga mebel berbahan baku kayu akasia bisa lebih murah tiga hingga empat kali lipat dibanding mebel berbahan baku kayu mahoni dan jati. Kayu akasia lebih ringan dan mudah diolah menjadi mebel. Jadi, dengan menggunakan kayu akasia, maka proses pembuatan mebel menjadi relatif lebih cepat,” kata Suyadi salah seorang pengrajin mebel di Desa Gombang Kecamatan Cawas.
Tantangan ke depan adalah bagaimana sentra industri mebel di Desa Sajen Kecamatan Trucuk dan Desa Gombang Kecamatan Cawas ini dikelola agar dapat memenuhi standar untuk memenuhi pasar ekspor. Bahkan jika memungkinkan, Desa Sajen Kecamatan Trucuk dan Desa Gombang Kecamatan Cawas dapat menjadi sentra edukasi mebel dan destinasi wisata yang menarik.
Keunggulan Mebel Berbahan Kayu Akasia
Penulis: Primus Supriono (Kominfo Klaten)
Mengulas Klaten Dalam Informasi19
LEGITNYA GETUK YOKO DESA KURUNG OLEH-OLEH
KHAS KLATEN SEJAK 1976
M A K A N E N A K
M A K A N E N A K
Getuk adalah makanan ringan yang diolah dari bahan baku singkong atau ketela pohon. Singkong direbus lalu ditumbuk sampai halus, diberi gula, dan biasanya ditaburi kelapa parut saat dikonsumsi. Kudapan tradisional ini banyak kita dapatkan di sejumlah daerah di Jawa Tengah seperti Sokaraja, Magelang, dan Klaten.
Di tepi jalan raya Karangwuni-Pedan, tepatnya di Desa Kurung, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, ada oleh-oleh khas Klaten yang bernama Getuk Yoko.
Karena sejak dulu cukup banyak masyarakat Desa Kurung yang membuat dan menjajakan jajanan ini, maka tidak sedikit orang yang menyebutnya dengan Getuk Kurung.
Mengulas Klaten Dalam Informasi21
Berbeda dengan daerah lain, Getuk Yoko dari Desa Kurung ini memiliki tekstur yang lembut, kenyal, dan rasa manisnya yang khas. Kelegitan rasa Getuk Yoko inilah yang terkenal dan dipertahankan hingga sekarang.
Getuk disajikan dengan varian rasa seperti cokelat, vanilla, melon, dan selai nanas. Untuk menambah daya tarik, getuk diberi warna alami coklat, kuning, hijau, dan merah muda. Getuk disajikan dengan bentuk persegi maupun lonjong. Ada pun favorit para pembeli getuk oleh-oleh khas Klaten ini adalah varian cokelat.
Rugi rasanya jika berkunjung ke Klaten tidak mencicipi dan membeli oleh-oleh Getuk Yoko dari Desa Kurung ini. Seperti yang diungkapkan Bu Yanti asal Yogyakarta ini. “Setiap kali mau berkunjung saudara di Wonogiri, ketika melintas di jalan ini saya selalu membeli Getuk Yoko. Selain untuk camilan
M A K A N E N A K
Getuk Yoko menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak diburu masyarakat, baik pemudik maupun wisatawan. Terlebih saat momen libur seperti hari Sabtu, Minggu, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru seperti saat ini.
Harga Getuk Yoko terbilang tidak mahal. Satu kotak getuk kemasan kecil dijual dengan harga hanya Rp10.000. Sedangkan satu kotak getuk kemasan besar dibanderol dengan harga Rp20.000. Baik kotak kemasan kecil maupun besar sudah disajikan dengan getuk semua varian rasa.
M A K A N E N A K
Mengulas Klaten Dalam Informasi23
Banyak orang tidak tahu, mengapa getuk khas Klaten dari Desa Kurung ini diberi nama Getuk Yoko. Sepintas seperti istilah asing atau nama orang Jepang.
Getuk Yoko dirintis oleh Sujiyem sejak 1976, atau sekitar 46 tahun silam. Saat ini Getuk Yoko merupakan generasi kedua Ibu Sujiyem.
Awalnya, Sujiyem membuat getuk dengan cara belajar dari saudaranya yang tinggal di Magelang. Kita tahu, Magelang memang dikenal sebagai Kota Getuk.
Akhirnya, Sujiyem membuat getuk dengan racikannya sendiri dan menjualnya dengan cara berkeliling terutama di wilayah Kecamatan Pedan. Getuk tersebut dijajakan dengan menggunakan gerobak dorong. Kurang lebih selama satu tahun, ia menjajakan getuk buatannya sendiri itu dengan cara keliling kampung sebelum akhirnya menetap di tepi jalan raya Karangwuni-Pedan hingga kini.
Nama Getuk Yoko diambil dari nama panggilan anak Sujiyem yang bernama Sarjiyoko. Kala itu Sarjiyoko baru berusia satu tahun. Sujiyem dan tetangga sekitar kerap memanggil Sarjiyoko dengan Yoko. Sejak saat itu Yoko digunakan untuk memberi nama getuk yang dibuat oleh Sujiyem tersebut.
Faiz, salah seorang adik Sujiyem mengisahkan, dahulu tidak sedikit pembeli yang salah sangka. “Mereka mengira nama Yoko itu diambil dari nama atau istilah asing. Banyak juga yang protes. Namun, setelah dijelaskan bahwa nama itu diambil dari nama Sarjiyoko, maka semua orang bisa menerimanya,”
jelasnya.
Pada hari-hari biasa, tidak kurang 40 kg singkong diolah menjadi getuk per harinya. Getuk Yoko diproduksi di rumah keluarga Sarjiyem yang berlokasi di Dukuh Putatan, Desa Kurung, Kecamatan Ceper. Pada hari libur, produksi getuk meningkat hingga tiga kali lipat terutama saat musim Lebaran dan Tahun Baru.
M A K A N E N A K
Begini Asal Usulnya
Ternyata tidak terlalu rumit cara membuat Getuk Yoko dari Desa Kurung ini.
Bahan utamanya adalah singkong atau ketela pohon yang sudah tua dan kualitasnya bagus.
Begini cara membuatnya. Singkong dikupas lalu direbus hingga empuk. Giling sampai halus dengan mesin atau ditumbuk. Tambahkan minyak goreng secukupnya agar tidak lengket saat dihaluskan.
Setelah itu, diuleni dengan ditambahkan perasa sesuai selera seperti coklat, vanila, melon, atau nanas. Uleni lagi dengan ditambahkan gula halus yang sudah diblender. Jika sudah menyatu, selanjutnya dicetak sesuai keiginan.
Tahap akhir, buatlah toping dari parutan kelapa dan gula halus yang telah diblender halus. Getuk Yoko oleh-oleh khas Klaten pun siap dikonsumsi. Manis legitnya getuk ini bisa bertahan hingga 24 jam.
M A K A N E N A K
Begini Cara Membuatnya
Penulis: Primus Supriono (Kominfo Klaten)
Selain kaya akan wisata sumber airnya yang disebut umbul, Kabupaten Klaten juga memiliki banyak candi peninggalan sejarah pada masa kerajaan. Untuk menggenapi kunjungan Anda dari kompleks Candi Prambanan dan Candi Plaosan, sayang jika Anda tidak berkunjung ke Candi Merak.
Candi Merak berada di Dusun Candi, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten. Jaraknya kurang lebih 10 km dari pusat Kota Klaten, atau sekitar 20 menit berkendara.
Untuk dapat menikmati keindahan dan keunikan candi, Anda sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi, sewaan ataupun dengan jasa paket tour perjalanan. Sebab, lokasi candi yang dibangun pada abad VIII-IX Masehi ini tidak dilalui jalur transportasi umum.
Mengulas Klaten Dalam Informasi27
Keelokan arsitektur bangunan Candi Merak tidak kalah jika dibandingkan dengan candi-candi lainnya, seperti Candi Prambanan, Candi Plaosan, dan Candi Sewu. Candi ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,38 m x 8,38 m dan tingginya mencapai 12 meter.
Bangunan Candi Merak terdiri dari sebuah candi induk yang berbentuk bujur sangkar dan tiga buah candi perwara. Candi induk menghadap ke timur dan candi perwara menghadap ke barat. Candi ini dilengkapi dengan pintu gerbang dan tangga masuk di sebelah timur yang memiliki pipi tangga berhiaskan kalamakara. Bagian badan candi terdapat lima buah relung, salah satunya terdapat arca Durgamahisasuramardhini.
Pada bagian bilik candi induk terdapat sebuah Yoni dan juga Arca Ganesha yang juga terdapat Arca Durga yang berada di relung candi. Atap candi terdiri dari tiga tingkat dan berbentuk bujur sangkar yang dihiasi oleh 12 relung. Terdapat satu relung yang memilki relief arca duduk di atas padmasana.
Keunikan lainnya, Candi Merak miliki banyak motif geometris dan ragam hias tumbuhan. Motif geometris yang terdapat di relief candi berbentuk lingkaran oval dan bujur sangkar yang di luarnya dibingkai oleh kelopak bunga.
Sedangkan ragam hias tumbuhan umumnya berbentuk ornamen tumbuhan berupa bunga teratai yang disebut Purnakalasa sebagai lambang kebahagiaan dan keberuntungan. Selain itu, terdapat juga ragam hias kombinasi, yaitu percampuran antara motif geometris belah ketupat dengan ragam hias tumbuhan.
Tata bangunan candi lengkap dengan motif dan ragam hiasnya ini, menunjukkan bahwa pada masa itu di wilayah Klaten telah berkembang sebuah peradaban masyarakat yang maju. Pada masa itu telah berkembang ilmu pengetahuan dan tata kehidupan masyarakat yang teratur.
Motif dan Ragam Hias
Mengulas Klaten Dalam Informasi29
Susanto, salah seorang penjaga Candi Merak menceritakan, di lokasi candi ini dahulu berupa sebidang tanah yang ditumbuhi sebuah pohon raksasa bernama pohon joho. Pohon joho memiliki batang yang besar serta dahan dan daun yang rimbun. Kerimbunan pohon joho ini menyebabkan setiap hari banyak burung merak bertengger dan tidur di atas dahan-dahannya. Karena semakin besar dan tuanya umur pohon joho, suatu ketika pohon raksasa ini tumbang.
“Tidak diduga, ternyata di bawah perakaran pohon joho itu, terdapat reruntuhan sebuah candi berupa arca dan bebatuan. Setelah sekian lama, masyarakat sekitar menyebut nama candi itu dengan Candi Merak,” kata Susanto.
Menurut sejarah, Candi Merak ditemukan sekitar tahun 1925, yang merupakan salah satu candi peninggalan Hindhu dari kerajaan Mataram Kuno Wangsa Syailendra. Usianya diperkirakan sama dengan candi Karangnongko yang lokasinya tidak jauh dari Candi Merak. Konon katanya, candi ini sama usianya dengan Candi Bima yang ada di Dieng.
Candi Merak sejak ditemukan telah mengalami beberapa kali pemugaran.
Pemugaran tahap pertama pada bagian kaki dan tubuh candi yang
Nama dan Sejarah
Penulis: Primus Supriono (Kominfo Klaten)
“Pemugaran dilakukan dengan mengganti batu-batu penyusun candi yang telah lapuk dan rusak dengan batu-batu baru yang sesuai. Masih ada beberapa bagian candi seperti pintu gerbang dan perwara yang tidak dapat dibangun kembali. Hal ini karena, lebih dari separuh batu penyusun candi telah lapuk atau hilang,” imbuh Susanto.
Walaupun demikian, saat ini Candi Merak telah tersusun dengan rapi dan terawat dengan baik. Anda bersama keluarga dapat berkunjung ke candi ini dengan harga tiket masuk Rp5.000. Anda dapat berkunjung mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB.
Candi Merak berada tepat di tengah permukiman penduduk. Kesopanan dan keramahan masyarakat sekitar justru menjadi daya tarik tersendiri. Anda dapat bertanya dan mendengarkan cerita dari masyarakat tentang sejarah dan keunikan Candi Merak. Banyak orang yang berkunjung ke sini merasa betah dan nyaman. Mereka seolah berada di rumah sendiri.
“Tidak menyangka, ternyata di sini ada candi yang sangat indah. Candi ini menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia. Ditambah lagi dengan keramahan dan kesopanan masyarakat di sekitar Candi Merak ini,” tutur Yovita, wisatawan dari Jakarta.
Meskipun masih tergolong sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang baru dan tidak seterkenal Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, dan Candi Plaosan, namun fasilitas Candi Merak tergolong lengkap. Meskipun terbilang sederhana, Candi Merak telah dilengkapi dengan area parkir kendaraan, mushola sebagai tempat ibadah umat Islam, kamar mandi, hingga penginapan.
Ayo, segera berkunjung ke Candi Merak yang menyimpan keindahan dan keunikan wisata sejarah tersendiri.
Nama dan Sejarah
Referensi:
Fakhruddin Mustofa. 2016. Atlas Budaya (Edisi Candi) Meneropong Candi dari Aspek Geospasial Tahun 2015. Jakarta: Badan Informasi Geospasial.
M. Rita Istari. 2013. Motif Hias Pada Pelipit Candi. Yogyakarta: Badan Arkeologi Yogyakarta vol. 33 No. 1 Mei 2013.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/candi-merak-2/ Mengulas Klaten Dalam Informasi31