KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN DALAM PERATURAN JAKSA AGUNG NOMOR 15 TAHUN 2020 TENTANG PENGHENTIAN
PENUNTUTAN
BERDASARKAN KEADILAN RESTORATIF
TESIS
Diajukan Untuk Mencapai Gelar Magister Ilmu Hukum
Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana
JATI INSAN PRAMUJAYANTO NIM: 322020021
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA
2022
i
Lembar Persetujuan
KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN DALAM PERATURAN JAKSA AGUNG NOMOR 15 TAHUN 2020 TENTANG PENGHENTIAN
PENUNTUTAN
BERDASARKAN KEADILAN RESTORATIF
Diajukan Untuk Gelar Magister Hukum
Jati Insan Pramujayanto NIM : 322020021
Telah disetujui untuk diuji pada tanggal 30 bulan September tahun 2022
Pembimbing I
Dr. Christina Maya I, SH.,M.Hum.
ii
Lembar Pengesahan
KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN DALAM PERATURAN JAKSA AGUNG NOMOR 15 TAHUN 2020 TENTANG PENGHENTIAN
PENUNTUTAN
BERDASARKAN KEADILAN RESTORATIF
Jati Insan Pramujayanto NIM : 322020021
Program Studi Magister Ilmu Hukum Penguji I Penguji II
Dr. Christina Maya I, SH.,M.Hum. Dr. Tri Budiyono,SH.,M.Hum.
Penguji III Penguji IV
Dr. Jeferson Kameo,SH.,LLM Yafet Yosafet W R,SH.,Msi,LLM.,Ph.D
Diuji pada tanggal 30 September 2022 Mengesahkan,
Ketua Program Studi Ilmu Hukum,
Dr. Tri Budiyono, SH., M.Hum
iii
Lembar Pernyataan Orisinalitas Tesis
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Jati Insan Pramujayanto
NPM : 322020021
Judul Tesis : Kepastian Hukum dan Keadilan Dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa dalam menulis Tesis yang berjudul: “Kepastian Hukum dan Keadilan Dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif”, tidak melakukan tindakan plagiasi atau mengambil alih sebagian atau seluruh karya tulis orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.
Jika di kemudian hari terbukti melakukan plagiasi, saya bersedia dicabut hak saya sebagai lulusan Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum UKSW atau dicabut gelar yang telah diberikan serta akibat hukum lainnya.
Demikian pernyataan ini dibuat tanpa paksaan dari pihak manapun.
Salatiga, 19 September 2022 Penulis,
Jati Insan Pramujayanto
iv
UCAPAN TERIMA KASIH
Yang utama dan terutama mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus karena atas berkat dan karuania-Nya penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dengan menulis tesis yang diberi judul “Kepastian Hukum Dan Keadilan Dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif”.
Dengan penuh rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Christina Maya Indah, S.H., M.Hum. selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan serta arahan dengan penuh kesabaran sehingga tesis ini dapat diselesaikan;
2. Bapak Dr. Tri Budiyono, S.H., M.Hum, Bapak Dr. Jeferson Kameo, S.H., LL.M., dan Bapak Yafet Yosafat W.R., S.H., M.Si., LL.M., Ph.D, selaku penguji yang telah memberikan masukan dan arahan bagi kesempurnaan tesis yang dibuat oleh penulis;
3. Bapak Dr. Umbu Rauta, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Satya Wacana Salatiga;
4. Ibu Dr. Christina Maya Indah, S.H., M.Hum. selaku Kepala Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga;
5. Seluruh pengajar pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang telah membagikan ilmu dan pengetahuannya;
6. Seluruh staf Akademika dan Tata Usaha Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang sangat membantu selama penulis menempuh pendidikan;
v
Rasa syukur dan ucapan terima kasih yang tak terhingga tidak lupa penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Dr. Yulianto, S.H., M.H., selaku Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur pada waktu itu (Tahun 2021) yang telah memberikan ijin dan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga;
2. Bapak Dr. Febrie Adriansyah, S.H., M.H. dan Bapak Tiyas Widiarto, S.H., M.H. yang selalu memberikan dorongan dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi;
3. Bapak Farhan, S.H., M.H. yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga;
4. Keluarga besar Bapak Dr. M. Haryanto, S.H., M.Hum. dan Bapak Gregorius Waloko yang tidak henti-hentinya memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk dapat menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga;
5. Istri Christina Widhi Kurniawati, S.Si, dan anak-anak: Nathanael Baladan, Maheswara Vito Baladan serta Nathania Belu Artanti yang selalu memberikan dukungan dan mendoakan yang terbaik untuk penulis;
6. Daeng Abdul Hakim, S.H. dan om Abdul Rahman, S.H., sebagai sahabat yang saling mengisi dan mengingatkan serta mendorong sehingga dapat bersama- sama menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga;
7. Benny Hutabarat dan Adinda Putri serta Staf pada Sub Bagian Penyusunan Program dan Laporan pada Sekretariat Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus yang telah membantu menyelesaikan pekerjaan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis;
vi
8. Saudara, adik Joni Liunima yang telah memberikan sumbangsih dan pemikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis;
9. Saudara, sahabat dan teman-teman penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Kiranya Tuhan Yesus membalas segala kebaikan yang telah diberikan dan semoga tesis ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan untuk menambah pengetahuan, pengalaman bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
vii
KATA PENGANTAR
Sistem peradilan pidana di Indonesia pada dasarnya sudah mengenal penghentian penuntutan dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140 ayat (2) huruf a KUHAP, yaitu karena tidak cukup bukti, peristiwa bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum (Ne bis in idem) dengan ketentuan dapat dilakukan penuntutan apabila ternyata ada alasan baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140 ayat (2) huruf d KUHAP, akan tetapi KUHAP tidak mengatur tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif atau penghentian penuntutan karena sudah dilakukan penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula dan bukan pembalasan.
Penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif merupakan kebijakan penegakan hukum yang berdasarkan hati nurani dan aktualisasi dari asas Ultimum Remedium yang diharapkan mampu mewujudkan kepastian hukum, ketertiban hukum, keadilan, dan kebenaran berdasarkan hukum dan mengindahkan norma keagamaan, kesopanan, dan kesusilaan, serta wajib menggali nilai-nilai kemanusiaan, hukum, dan keadilan yang hidup dalam masyarakat. Oleh karena itu penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif seharusnya memiliki kepastian hukum yang secara normatif dapat diartikan sebagai sebuah peraturan perudang-undangan yang dibuat dan diundangkan untuk mengatur dengan jelas
viii
serta logis dan tidak menimbulkan keragu-raguan serta menghindari benturan dan konflik pada masa yang akan datang.
Sebagai alternatif penyelesaian perkara pidana diluar pengadilan, penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif dengan mengacu pendapat dari kaum legalistik yang yang menyatakan kepastian hukum sifanya hanya sekedar membuat produk perundang-undangan, dan menerapkan dengan sekedar menggunakan “kacamata kuda” yang sempit, maka Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2021 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Resoratif dihubungkan dengan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Peraturan Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan pada dasarnya tidak memiliki legal standing yang kuat sehingga dapat menimbulkan kekacauan hukum dan mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum karena tidak ada harmonisasi antara aturan hukum yang satu dengan aturan hukum yang lain baik secara hierarkis.
Penghentian penuntutan dengan alasan keadilan restoratif, apabila dilihat berdasarkan ketentuan Pasal 140 ayat (2) huruf a KUHAP, penuntut umum dapat menghentikan penuntutan, dengan alasan-alasan tidak cukup bukti, peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum.
Merujuk pada uraian singkat di atas, penghentian penuntutan dengan menggunakan pendekatan keadilan restoratif tidak termasuk dalam kriteria penghentian penuntutan sebagaimana dimaksud dalam KUHAP, namun lebih fokus pada kesepakatan perdamaian antara pelaku dan korban dan bagaimana kemudian pendekatan keadilan restoratif mengakui keberadaan kesepakatan perdamaian tersebut sebagai dasar untuk menghentikan penuntutan padahal di dalam KUHAP sebagai pedoman pelaksanaan kewenangan Penuntut Umum untuk meghentikan penuntutan tidak mengenal penghentian penuntutan selain
ix
karena tidak cukup bukti, peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum.
Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2021 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif masih sebatas mengatur pemenuhan kewajiban masing-masing pihak sebelum diterbitkan surat ketetapan penghentian penuntutan, apabila masing-masing pihak tidak memenuhi kewajibannya dalam waktu paling lama 14 (empat belas hari) sejak tersangka dan barang bukti diserahkan ke Penuntut umum sebelum penuntutan dihentikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (5) maka kesepakan perdamaian dinyatakan tidak tercapai, sehingga Penuntut Umum wajib melimpahkan perkara ke pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (6), tetapi tidak mengatur secara tegas mekanisme penuntutan apabila kesepakatan perdamaian (baik dengan syarat pemenuhan kewajiban tertentu maupun tanpa syarat) tidak ditaati oleh masing- masing pihak terhadap perkara yang sudah dihentikan penuntutannya.
Sebagai akutualisasi asas Ultimum Remedium sebagai salah satu asas pemidanaan di Indonesia, yang mengatakan hukum pidana hendaklah dijadikan upaya terakhir dalam penegakan hukum, penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif memberikan ruang yang cukup untuk para pihak yang berperkara menyelesaikan permasalahannya secara adil dengan melibatkan para pihak untuk membuat kesepakatan perdamaian yang tentunya bermanfaat bagi para pihak karena kesepakatan perdamaian tidak akan terlaksana apabila tidak ada keadilan dan manfaat proses perdamaian tersebut.
Teori hukum atau pendapat hukum akan terus berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan jaman tetapi keadilan dalam masyarakat tidak dapat diabaikan hanya dengan kepastian atau faktor-faktor lain yang dapat menodai keadilan, maka secara garis besar penulis berkesimpulan bahwa kehadiran dari Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 Tentang
x
Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif yang merupakan aktualisasi dari asas Ultimum Remedium, merupakan pola penanganan perkara yang cukup ideal saat ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan keadilan.
Jakarta, Januari 2023 Penulis
Jati Insan Pramujayanto
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iv
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... xi
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 7
1. Tujuan Penelitian ... 7
2. Manfaat Penelitian ... 8
a. Manfaat Teoritis ... 8
b. Manfaat Praktis ... 8
D. Originalitas Penelitian ... 9
E. Metode Penelitian ... 10
1. Jenis Penelitian ... 10
xii
2. Pendekatan Masalah ... 11
3. Sumber Bahan Hukum ... 11
4. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum ... 12
5. Teknik Analisis ... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15
A. Tinjauan Tentang Teori Kepastian Hukum ... 15
B. Tinjauan Tentang Keadilan Restoratif ... 25
1. Istilah dan Pengertian dari Keadilan Restoratif ... 25
2. Sejarah Perkembangan Konsep Keadilan Restoratif ... 30
3. Pendekatan dan Prinsip Keadilan Restoratif ... 31
C. Tinjauan Tentang Lembaga Kejaksaan dan Jaksa ... 34
1. Tinjauan Tentang Lembaga Kejaksaan ... 34
2. Tinjauan tentang Jaksa Penuntut Umum ... 37
3. Tugas dan Kewenangan dari Jaksa Penuntut Umum ... 40
D. Tinjauan Umum Tentang Penuntutan ... 41
1. Dasar Hukum dan Pengertian Penuntutan ... 41
2. Tahapan dalam Acara Penuntutan ... 43
E. Tinjauan Tentang Penghentian Penuntutan Oleh Jaksa Penuntut Umum 47
1. Pengertian ... 47
2. Dasar-Dasar Penghentian Penuntutan ... 48
xiii
3. Tata Cara dan Mekanisme Penghentian Penuntutan ... 51
BAB III HASIL PENELITIAN ... 53
A. Penghentian Penuntutan Dalam KUHAP ... 53
B. Penghentian Penuntutan Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 ... 56
BAB IV PEMBAHASAN ... 69
A. Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Oleh Penuntut Umum Pada Tahap Penuntutan ... 69
B. Kewenangan Jaksa Selaku Penuntut Umum Dalam Penghentian Penuntutan ... 77
C. Problematika Kepastian dan Keadilan Pada Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ... 93
1. Problematika Kepastian Hukum Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ... 94
2. Problematika Keadilan Dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ... 98
BAB V PENUTUP ... 105
A. Kesimpulan ... 105
B. Saran ... 106
DAFTAR PUSTAKA ... 107
xiv ABSTRAK
Penghentian penuntutan dengan menggunakan pendekatan keadilan restoratif berdasarkan Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 dalam perkara pidana memberikan ruang yang cukup untuk para pihak yang berperkara menyelesaikan permasalahannya secara adil dengan melibatkan para pihak untuk membuat kesepakatan perdamaian yang tentunya bermanfaat bagi para pihak karena kesepakatan perdamaian tidak akan terlaksana apabila tidak ada keadilan dan manfaat bagi para pihak sehingga upaya pemulihan kembali pada keadaan semula dapat terwujud. Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif yang merupakan aktualisasi dari asas Ultimum Remedium, merupakan pola penanganan perkara yang cukup ideal saat ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan keadilan.
Kata Kunci: Penghentian Penuntutan, Keadilan Restoratif, Ultimum Remidium
xv ABSTRACT
Termination of prosecution by using a restorative justice approach based on the Indonesian Prosecutor's Office Regulation Number 15 of 2020 in criminal cases provides sufficient space for litigants to resolve their problems fairly by involving the parties to make a peace agreement which is certainly beneficial for the parties, because a peace agreement will not carried out if there is not fair and does not provide benefits for the parties, so that efforts to restore it to its original state can be realized. The Indonesian Prosecutor's Office Regulation Number 15 of 2020 concerning Termination of Prosecution Based on Restorative Justice that is the actualization of the Ultimum Remedium principle is an ideal case-handling pattern at this time to answer the community's need for justice.
Keywords: Termination of Prosecution, Restorative Justice, Ultimum Remedium.