• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVAPORASI DAN TRANSPIRASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "EVAPORASI DAN TRANSPIRASI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

EVAPORASI DAN TRANSPIRASI

(2)

Evaporasi perpindahan/perubahan air dari permukaan tanah dan permukaan air bebas menjadi uap ke atmosfer, terjadi pada sungai, danau, laut, waduk dan permukaan tanah

Transpirasi perpindahan/perubahan air dari atmosfer dari permukaan tanaman, terjadi pada tanaman melalui sel2 stomata.

Evapotranspirasi

merupakan gabungan peristiwa evaporasi

dan transpirasi, kedua proses ini merupakan perubahan air menjadi uap air dari

permukaan bumi ke atmosfer.

Review Pengertian

(3)

FIGURE 4.1

Evapotranspiration divided into subprocesses.

(4)

Faktor

2

yang mempengaruhi evapotranspirasi

Dalam analisis dibedakan dua faktor utama yaitu:

evaporasi dan transpirasi

Transpirasi yang mempengaruhi:

1. Faktor metereologis (matahari = 95% transpirasi terjadi pada siang hari, sedangkan malam hari sel2 stomata tertutup);

2. Jenis Tumbuhan (menentukan ketersediaan air dalam tumbuhan dan ukuran stomata, semakin besar kemampuan menyerap air dan ukuran maka transpirasi akan semakin besar)

3. Jenis tanah (akan membatasi ketersediaan air

dalam tanah).

(5)

F AKTOR P ENGARUH E VAPOTRANSPIRASI

F a k t o r yang dapat mempengaruhi perubahan intensitas evaporasi, secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu ;

Faktor Meteorologi

Faktor Fisiologi

(6)

F

AKTOR

M

ETEOROLOGI

a) Radiasi Matahari

b) Suhu udara dan permukaan

c) Kelembaban

d) Angin

e) Tekanan Barometer

(7)

FAKTOR F ISIOLOGI

1.

Penutupan stomata.

2.

Jumlah dan ukuran stomata.

3.

Jumlah daun.

4.

Kedalaman akar.

(8)

J

ENIS

E

VAPOTRANSPIRASI

Berdasarkan pembagian faktor diatas, maka evapotranspirasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu;

1. Evapotranspirasi Potensial (PET) Dipengaruhi oleh faktor Meteorologi.

2. Evapotranspirasi Aktual (AET) Dipengaruhi oleh faktor Fisiologi.

(9)

E

VAPOTRANSPIRASI

P

OTENSIAL

secara umum besarnya PET akan meningkat ketika suhu, radiasi panas matahari, kelembaban, dan kecepatan angin bertambah besar.

Evapotranspirasi berlangsung ketika vegetasi yang bersangkutan sedang tidak kekurangan suplai air. Dengan kata lain evapotranspirasi potensial berlangsung ketika kondisi kelembaban tanah berkisar antara titik wilting point dan field capacity.

(10)

E

VAPORASI

P

OTENSIAL

(11)

E

VAPOTRANSPIRASI

A

KTUAL

Terbukanya stomata daun dianggap sebagai faktor dominan untuk berlangsungnya ET. Ketika stomata daun terbuka, laju transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya evaporasi, demikian seterusnya sampai stomata daun setengah tertutup. Pada keadaan ini tampak bahwa pengaruh fisiologi tanaman terhadap ET adalah dominan.

(12)

E

VAPOTRANSPIRASI

A

KTUAL

(13)

P

ENGUKURAN

E

VAPOTRANSPIRASI

Perkiraan evapotranspirasi adalah sangat penting dalam kajian-kajian hidrometeoro-logi.

Pengukuran langsung evaporasi maupun evapotranspirasi dari air maupun permukaan lahan yang luas akan mengalami banyak kendala. Untuk itu maka dikembangkan beberapa metode pendekatan dengan menggunakan input data-data yang diperkirakan berpengaruh terhadap besarnya evapotranspirasi.

(14)

M

ETODE

P

ENGUKURAN

1.

Panci Evaporasi

2.

Alat ukur lysimeter

3.

Metode Thornthwaite

4.

Metode Blanney-Criddle

5.

Analisis neraca kelembaban tanah

6.

Perhitungan evapotranspirasi potensial

7.

Metode Penman

(15)

P

ANCI

E

VAPORASI

Teknik pengukuran ET paling sederhana adalah dengan menggunakan Panci untuk mendapatkan angka indeks potensial evapotranspirasi

PET = Ce.Ep Keterangan :

Ce = angka koefisien panci

Ep = evaporasi panci (mm/hari)

(16)

LYSIMETER

Alat ini memberikan hasil yang teliti karena

menggunakan perangkat penelitian dengan batas yang jelas dan sistem kebocoran air tanah tidak menjadi persoalan.

Evapotranspirasi = Presipitasi + Irigasi – Drainase

(17)

T

HORNTHWAITE

Metode ini memanfaatkan suhu udara sebagai indeks

ketersediaan energi panas untuk berlangsungnya proses ET dengan asumsi suhu udara tersebut berkorelasi dengan efek radiasi matahari dan unsur lain yang mengendalikan proses ET.

PET = 1,6 [(10Ta)/I]a

Keterangan :

Ta = suhu rata-rata bulanan (oC)

I = indeks panas tahunan = Σ [(Ta/5)]1,5

i=1

a = 0,49 + 0,0179 I – 0,0000771 I2 + 0,000000675 I3

(18)

B

LANEY

C

RIDLE

Metode ini untuk memprakirakan besarnya evapotranspirasi potensial (PET) pada awalnya dikembangkan untuk memprakirakan besarnya konsumsi air irigasi di Amerika Serikat.

(19)

C

ARA

B

LANEY

– C

RIDDLE

U = k . f

U : banyaknya evapotranspirasi bulanan (inch).

k : koefisien yang tergantung dari jenis tanaman.

f : t+p/100

t : suhu udara rata-rata bulanan (oF)

(20)

A

NALISIS

N

ERACA KELEMBABAN

T

ANAH

Teknik model simulasi dengan memanfaatkan perangkat komputer saat ini sedang menggejala, terutama dinegara maju. Teknik yang banyak digunakan adalah bentuk perbandingan AET dan PET.

Teknik yang banyak digunakan adalah bentuk perbandingan AET dan PET.

AET/PET = f(AW/AWC)

(21)

Keterangan :

AET = evapotranspirasi aktual (panjang/waktu)

PET = evapotranspirasi potensial (panjang/waktu)

AW = jumlah air dalam tanah yang dapat diserap oleh akar tanaman (SM-PWP)

AWC = kapasitas air tersedia (FC-PWP)

PWP = tingkat kelembaban tanah ketika tanaman tidak mampu lagi menyerap air tanah (wilting point)

(22)

P

ERHITUNGAN

E

VAPOTRANSPIRASI

P

OTENSIAL

Perhitungan Evapotranspirasi Potensial dengan Pendekatan Keseimbangan Energi Keseimbangan energi untuk daerah bervegetasi

Qs –Qrs – Qlw + Qv = Qet + Qh + Qc

Keterangan :

Qs = radiasi matahari datang

Qrs = α Qs = radiasi matahari terpantul

α = albedo (pantulan radiasi matahari dari permukaan vegetasi)

Qlw= radiasi gelombang panjang netto dari permukaan vegetasi ke udara bebas

Qv = energi adveksi tanaman

Qet = energi yang diperlukan untuk berlangsungnya ET

Qh = pindahan energi dari tanaman ke udara dalam bentuk panas tampak

Qc = perubahan energi yang tersimpan dalam tanah dan tanaman

Referensi

Dokumen terkait

peta tutupan lahan dengan peta satuan tanah; (3) analisis respons hidrologi untuk memperoleh total hasil air, limpasan permukaan, evapotranspirasi, dan erosi tanah, dilakukan

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan air pada beberapa penggunaan lahan di masing- masing kedalaman tanah dengan menggunakan dua pendekatan yaitu

Pada lahan rawa pasang surut, tinggi muka air tanah akan mengalami fluktuasi karena adanya pengaruh pasang surut air laut sehingga komoditas tanaman yang akan dikembangkan

Pengelolaan lahan pasang surut terdapat kendala yaitu kondisi permukaan air yang selalu berubah dan kedalaman lapisan sulfidik atau pirit dalam tanah.Untuk

Pengukuran erosi tanah ( soil erosion ) pada lahan sawah didasarkan pada tanah yang terangkut oleh aliran air di permukaan tanah sawah, dengan cara mengambil contoh sampel air

Metode pengamatan langsung di lapangan melalui pengukuran-pengukuran seperti kecepatan air sungai dan luas penampang tegak lurus aliran air sungai untuk mendapatkan

Analisis yang dilakukan menggunakan program Solver diperoleh Pola tanam yang optimum sesuai dengan kendala ketersediaan air, tenaga kerja dan luas lahan yang dimiliki

Pada umumnya daerah yang mengalami kritis air mempunyai jumlah penduduk yang tinggi dan lahan sawah yang luas sehingga kebutuhan air banyak. Karena apabila diperhatikan, kebutuhan