• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN EVAPORASI TERHADAP PERTUMBUHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN EVAPORASI TERHADAP PERTUMBUHAN"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER

OLEH :

RAMADHIANTIE KARNAIN / 160301199 AGROEKOTEKNOLOGI IVB

L A B O R A T O R I U M A G R O K L I M A T O L O G I P R O G R A M S T U D I A G R O E K O T E K N O L O G I

F A K U L T A S P E R T A N I A N UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PAPER

OLEH :

RAMADHIANTIE KARNAIN / 160301199 AGROEKOTEKNOLOGI IVB

Paper sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Agroklimatologi Program Studi Agroekoteknologi

Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara

Ditugaskan Oleh Dosen Penanggung Jawab

( Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, MS) NIP: 19610831 198803 2 004

L A B O R A T O R I U M A G R O K L I M A T O L O G I P R O G R A M S T U D I A G R O E K O T E K N O L O G I

F A K U L T A S P E R T A N I A N UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

NIM : 160301199

Group : AGROEKOTEKNOLOGI IV B

Diperiksa Oleh Asisten Koordinator

(Muhammad Ridho Catur Prasetya) NIM: 130301279

Diperiksa Oleh Diperiksa Oleh

Asisten Korektor I Asisten Korektor II

(Maysyarah Sinambela) (Albi Abdillah)

(4)

i

atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul paper ini adalah “Hubungan Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Teratai Putih (Nymphaea alba) yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Agroklimatologi, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Agroklimatologi : Bapak atau Ibu Dosen Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, M.S; Dr. Nini Rahmawati, S.P, M.S;

Dr. Ir. Yaya Hasanah; Ir. Irsal, M.P; Ir. T. Irmansyah, M.P; Ir. Lisa Mawarni, M.P, serta kepada Abang dan Kakak Asisten Laboratorium Agroklimatologi yang telah membantu dalam penulisan ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu serta menyempurnakan paper ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, November 2016

(5)

ii

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

PENDAHULUAN Latar Belakang... 1

Tujuan Penulisan...3

Kegunaan Penulisan...3

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman... 4

Syarat Tumbuh...6

Iklim...6

Tanah...7

HUBUNGAN EVAPORASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN TERATAI PUTIH (Nymphaea alba) Pengertian Evaporasi...8

Pengertian Evapotranspirasi...9

Faktor- Faktor yang Memengaruhi Evaporasi...11

Hubungan Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Teratai Putih (Nymphaea alba)......14

Dampak Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Teratai Putih (Nymphaea alba)...15

(6)

Klimatologi pada dasarnya berisikan pembahasan unsur-unsur cuaca dan iklim yang menyangkut distribusinya baik dalam skala global (dunia), regional (wilayah), maupun local (setempat). Pembahasan bidang klimatologi sangat erat kaitannya dengan aspek geografi seperti garis lintang, ketinggian tempat, posisi permukaan bumi, dan aspek lainnya. Setiap usaha dalam bidang pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan priduktivitas yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang sebaik-baiknya. Untuk itu maka persyaratan tumbuh tanaman sedapat mungkin dapat terpenuhi agar proses pertumbuhan dan perkembangannya berlangsung optimal (Sabarudin,2012).

Evaporasi atau penguapan adalah proses berubahnya bentuk zat cair menjadi gas (uap air) dan masuk ke atmosfer. Ada dua macam penguapan, yaitu evaporasi (penguapan air secara langsung dari lautan, dll) dan transpirasi (penguapan air dari tumbuh-tumbuhan, mahluk hidup, dll). Gabungan antara evaporasi dan transpirasi disebut evapotranspirasi (Wuryanto,2000).

(7)

Penguapan cenderung untuk menjadi sangat tinggi pada daerah-daerah yang mempunyai suhu tinggi, angin kuat, dan kelembapan yang rendah. Daerah subtropik biasanya merupakan daerah yang langsung menerima insolasi (pemanasan dari matahari) tanpa terlindung oleh adanya awan. Juga merupakan daerah yang mempunyai angin yang kuat dan mempunyai nilai kelembapan yang rendah. (Hutabarat,1986)

Tanaman teratai termasuk keluarga besar "Nymphaeaceae". Bunga teratai memiliki keistimewaan, ia dapat hidup seolah-olah dalam tiga dunia yang berbeda yaitu akarnya terpancang di tanah, tangkai dan ujung daunnya hidup di air, bunganya sendiri menyembul di udara. Selain itu bunga teratai juga dilambangkan sebagai Dewa Tri Murti. Tanaman teratai banyak dimanfaatkan sebagai sarana upacara adat/banten di Bali, tanaman teratai dapat juga digunakan sebagai obat karena mengandung beberapa kandungan kimia yang berbeda disetiap bagiannya. (Supartha,1998)

(8)

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui Hubungan antara Evaporasi dan tanaman teratai putih(Nymphaea alba)

Kegunaan Penulisan

(9)

Tanaman Teratai (Nymphaea sp.) diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisi: Angiospermae, Class: Dicotyledoneae, Ordo: Nymphaeales, Famili: Nymphaeaceae, Genus: Nymphaea, Tanaman teratai hingga sekarang rata-rata berjumlah sekitar 50 species.Nymphaea nouchali Brum F, Nymphaea alba L. (teratai putih), Nymphaea lotus (teratai kecil), Nymphaea rubra (teratai merah). (Warianto,2011).

Akar tanaman Teratai memiliki akar yang berongga. Akar tanaman teratai kurang berkembang dengan baik karena tidak memiliki bulu akar atau tudung akar. Akar disini lebih berfungsi sebagai jangkar atau pencengkraman tanaman agar tanaman bisa berdiri tegak. (Anwar,2011).

(10)

Oxoushinsunine yang terdapat pada kulit biji teratai berkhasiat menekan perkembangan kanker hidung dan tenggorokan, sedangkan biji dan tangkai teratai berkhasiat anti hipertensi. (Rismunandar,1995).

Tangkai bunga teratai tumbuh tegak, sehingga bunga-bunga teratai dapat muncul dan menyembul keluar dari permukaan air. Teratai memiliki batang dengan ruang udara kecil di dalamnya. Rongga-rongga udara ini fungsinya adalah untuk membawa oksigen ke batang dan akar. Walaupun batang dan akarnya berada di dalam air, dengan adanya rongga-rongga udara pada batang, teratai tetap dapat bernapas. Ciri khusus pada tumbuhan teratai ini juga berfungsi membantu teratai untuk tetap tegak dan mengapung di atas permukaan air.(Novary,1997).

(11)

Syarat Tumbuh Iklim

Kondisi iklim/cuaca mikro secara langsung mempengaruhi proses fisiologi karena berhubungan dengan atmosfer di lingkungan tanaman sejak perakaran hingga puncak tajuk. Unsur yang berpengaruh kuat terutama radiasi surya, suhu udara, suhu tanah, kelembapan, kecepatan angin, presipitasi dan evapotranspirasi (Bey, A.1991)

Penyebaran berbagai jenis tumbuhan akan dibatasi oleh kondisi iklim dan tanah serta daya adaptasi dari masing – masing spesies tumbuhan tersebut. Sesungguhnya hubungan antara vegetasi dan iklim merupakan hubungan saling pengaruh. Selain iklim dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, keberadaan vegetasi juga dapat mempengaruhi iklim di sekitarnya. Semakin besar total biomassa vegetasi yang terlibat dan semakin nyata pengaruhnya terhadap iklim wilayah tersebut. Peran vegetasi mirip bentang dan air. Hal ini disebabkan karena tumbuhan mengandung banyak air dan tumbuhan menyumbang banyak uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi (Lakitan, 1994).

(12)

TANAH

Tanah yang gembur dan kaya unsur hara sangat disukai teratai untuk pertumbuhan yang optimal. Teratai dapat hidup dengan baik di tanah lumpur ataupun tanah merah. Lumpur seperti lumpur sawah juga baik bagi teratai. PH yang baik untuk teratai tumbuh optimal berkisar antara 4-5 sampai 6. (Asdak,1995).

Jika tanah terlalu asam, bisa ditambahkan kapur pada tanah. Namun yang perlu diperhatikan adalah pengaplikasian kapur sebaiknya dilakukan 3 bulan sebelumnya agar kapur dapat mengubah pH profil tanah secara lebih merata. Pengolahan tanah juga dapat menambahkan kadar pH tanah menjadi tidak terlalu asam. Jika tanah terlalu asam, kapur bisa di aplikasikan di setiap 2/3 tanaman.

(13)

Evaporasi

Penguapan adalah pengubahan cairan/es menjadi gas (uap air). Proses ini bisa berlangsung pada permukaan bumi (benda mati) ataupun pada permukaan tanaman (benda hidup). Penguapan yang diperankan oleh benda mati disebut evaporasi, sedangkan penguapan yang diperankan oleh tanaman disebut transpirasi. Dibidang pertanian kedua penguapan berjalan bersamaan, maka penguapan ini disebut evapotranspirasi. Evapotranspirasi juga disebut kebutuhan konsumtif tanaman. Proses ini merupakan komponen dasar daur hidrologi yang membutuhkan energi. Proses ini juga membutuhkan energi yang cukup besar yaitu l.k 2.442 KJ/kg air atau 583 cal/g air. Pada penguapan ini terjadi hilangnya air dan terambilnya energi dari permukaan benda yang menguap. (Asdak,1995).

Penguapan bisa dihitung secara gravimetri. Cara ini kurang teliti, tetapi setidaknya memberikan gambaran kasar berapa penguapan harian di suatu tempat, misalnya pada rumah kaca. Besarnua penguapan ini dapat digunakan sebagai dasar pemberian air dalam pot di suatu tempat. Pada acara ini akan dipraktikkan pendugaan penguapan air dengan panci evaporasi. (Hakim, et.all, 1986)

(14)

Tiga istilah evaporasi yang sering digunakan di dalam studi agroklimatologi adalah (1) evaporasi (Epan), yang menggambarkan jumlah air menguap dari permukaan air langsung ke atmosfir (misalnya dari danau dan sungai), (2) evapotranspirasi aktual (ETa), yang menggambarkan jumlah air pada permukaan tanah yang berubah menjadi uap air pada kondisi normal, dan (3) evapotranspirasi potensial (ETp) adalah kehilangan air yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan vegetasi yang terjadi pada saat kondisi air tanah jenuh (Runtunuwu, et. All,2008).

Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air yang hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling banyak digunakan sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan panci ini dipengaruhi oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu udara dan besarnya angin pada tempat pengukuran (Hanum, 2009).

Evapotranspirasi

Evapotranspirasi merupakan gabungan dua istilah yang menggambarkan proses fisika transfer air ke dalam atmosfer, yakni evaporasi air dari permukaan tanah, dan transpirasi melalui tumbuhan. Evapotranspirasi merupakan komponen penting dalam keseimbangan hidrologi. Di lingkungan terestrial, evapotranspirasi merupakan komponen tunggal terbesar siklus air.

(15)

Evapotranspirasi (ET) adalah ukuran total kehilangan air (penggunaan air) untuk suatu luasan lahan melalui evaporasi dari permukaan tanaman. Secara potensial ET ditentukan hanya oleh unsur – unsur iklim, sedangkan secara aktual ET juga ditentukan oleh kondisi tanah dan sifat tanaman (Handoko,1995). Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan terus hampir tanpa berhenti disiang hari dan kerap kali dimalam hari, perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi (Wahyuningsih,2004).

Pengukuran evapotranspirasi meliputi evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual. Evapotranspirasi potensial (ETo) adalah penguapan air dari areal tanaman rumput hijau setinggi 8-15 cm dengan ketinggian seragam dan seluruh permukaan tanah teduh tanpa bagian yang menerima sinar matahari langsung, rumput masih tumbuh aktif tanpa kekuranagn air (Doonrenbos dan Pruitt, 1977).

Eto ini dapat diduga dengan menggunakan rumus empiris. Rumus yang digunakan dapat dengan metode Biancy-cridle, Radiasi, dan Penman. ETo juga dapat diukur langsung dengan panci evaporasi, yaitu panci evaporasi klas A, diameter 121 cm dan kedalaman panic 25,5 cm.(Usman,2004).

(16)

Perkiraan evaporasi dan transpirasi adalah sangat penting dalam pengkajian-pengkajian hidrometeorologi. Pengukuran langsung evaporasi maupun evapotranspirasi dari air ataupun permukaan lahan yang besar adalah tidak mungkin pada saat ini. Akan tetapi beberapa metode yang tidak langsung telah dikembangkan yang akan memberikan hasil-hasil yang dapat diterima (Supartha,1998)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Evaporasi 1. Radiasi Matahari

Pada setiap perubahan bentuk zat; dari es menjadi air (pencairan), dari zat cair menjadi gas (penguapan) dan dari es lengsung menjadi uap air (penyubliman) diperlukan panas laten (laten heat). Panas laten untuk penguapan berasal dari radiasi matahari dan tanah. Radiasi matahari merupakan sumber utama panas dan mempengaruhi jumlah evaporasi di atas permukaan bumi, yang tergantung letak pada garis lintang dan musim.

Radiasi matahari di suatu lokasi bervariasi sepanjang tahun, yang tergantung pada letak lokasi (garis lintang) dan deklinasi matahari. Pada bulan Desember kedudukan matahari berada paling jauh di selatan, sementara pada bulan Juni kedudukan matahari berada palng jauh di utara.

(17)

2. Temperatur

Temperatur udara pada permukaan evaporasi sangat berpengaruh terhadap evaporasi. Semakin tinggi temperatur semakin besar kemampuan udara untuk menyerap uap air.

Selain itu semakin tinggi temperatur, energi kinetik molekul air meningkat sehingga molekul air semakin banyak yang berpindah ke lapis udara di atasnya dalam bentuk uap air. Oleh karena itu di daerah beriklim tropis jumlah evaorasi lebih tinggi, di banding dengan daerah di kutub (daerah beriklim dingin). Untuk variasi harian dan bulanan temperatur udara di Indonesia relatif kecil. (Yatini,2004)

3. Kelembaban Udara

Pada saat terjadi penguapan, tekanan udara pada lapisan udara tepat di atas permukaan air lebih rendah di banding tekanan pada permukaan air. Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan terjadinya penguapan. Pada waktu penguapan terjadi, uap air bergabung dengan udara di atas permukaan air, sehingga udara mengandung uap air.

Udara lembab merupakan campuran dari udara kering dan uap air. Apabila jumlah uap air yang masuk ke udara semakin banyak, tekanan uapnya juga semakin tinggi. Akibatnya perbedaan tekanan uap semakin kecil, yang menyebabkan berkurangnya laju penguapan. Apabila udara di atas permukaan air sudah jenuh uap air tekanan udara telah mencapai tekanan uap jenuh, di mana pada saat itu penguapan terhenti. Kelembaban udara dinyatakan dengan kelembaban relatif.

(18)

4. Kecepatan Angin

Penguapan yang terjadi menyebabkan udara di atas permukaan evaporasi menjadi lebih lembab, sampai akhirnya udara menjadi jenuh terhadap uap air dan proses evaporasi terhenti. Agar proses penguapan dapat berjalan terus lapisan udara yang telah jenuh tersebut harus diganti dengan udara kering. Penggantian tersebut dapat terjadi apabila ada angin.

Oleh karena itu kecepatan angin merupakan faktor penting dalam evaporasi. Di daerah terbuka dan banyak angin, penguapan akan lebih besar daripada di daerah yang terlindung dan udara diam.

Untuk di negara Indonesia, kecepatan angin relatif rendah. Pada musim penghujan angin dominan berasal dari barat laut yang membawa banyak uap air, sementara pada musim kemarau angin berasal dari tenggara yang kering. (Triadtmojo,2010).

5. Kelembaban relatif

(19)

Hubungan Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Teratai Putih (Nymphea alba)

Pada tumbuhan , terjadi peristiwa kohesi karena adanya ikatan hydrogen yang berperan pada pengangkutan transport. air yang melawan gravitasi Air mencapaidaun melalui pembuluh-pembuluh mikroskopik yang menjulur ke atas dari akar. Air yang menguap dari daun digantikan oleh air dari pembuluh dalam urat daun. Ikatan hydrogen menyebabkan molekul air yang keluar dari urat daun dapat menarik molekul air yang berada lebih jauh dalam pembuluh, dan tarikan ke depan tersebutakan terus ditransmisi sepanjang pembuluh sampai ke akar. Adhesi air pada dinding pembuluh membantu melawan gravitasi (Campbell,2010).

Akar mengabsorbsi air dengan cara osmosis oleh karena itu absorsi air oleh tanaman mungkin dilakukan dengan mengendalikan potensial air larutan dimana akar itu berada. Jika potensial osmotik larutan luar lebih rendah dari potensial osmotik sel-sel akar, maka air dapat masuk dari larutan luar ke dalam system akar. Dengan meningkatnya konsentrasi zat-zat terlarut maka masuknya air ke dalam akar akan menjadi lebih lambat sampai arah pergerakan air mungkin akan terbalik.

Evaporasi & transpirasi adalah proses penguapan air dari sel-sel yang hidup pada jaringan tumbuhan. Sel hidup tumbuh-tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan lenti sel. (Anggarwulan,2005).

(20)

Air di dalam jaringan tanaman selain berfungsi sebagai penyusun utama jaringan yang aktif mengadakan kegiatan fisiologis juga berperan penting dalam memelihara turgiditas yang diperlukan untuk pembesaran dan pertumbuhan sel. Peranan yang penting ini menimbulkan konsekuensi bahwa secara langsung atau tidak langsung defisit air tanaman akan mempengaruhi semua proses metabolisme dalam tanaman yang mengakibatkan tergantungnya proses pertumbuhan (Lestari, 2006).

Tanaman juga memiliki rehidrasi atau cekapan air, tidak hanya kondisi air dan salinitas tinggi. Cekaman kekeringan dapat mempengaruhi sebagai mekanisme seluler, biokimia, dan fisiologi tanaman. Pada tingkat seluler kekeringan mengakibatkan kehilangan air protoplastik sehingga konservasi ion meningkat. Menghambat fungsi-fungsi metabolik dan meningakatkan kemungkinan terjadinya interaksi antar molekul yang dapat menyebabkan denaturasi protein dan fusi membran. Pengaruh negatif cekaman kekeringan terhadap tanaman ditentukan oleh tingkat cekaman dan fase pertumbuhan saat mengalami cekaman (Magnard, 2008).

Dampak Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Teratai Putih (Nymphaea alba)

Air mempunyai fungsi penting dalam tanah, dimana air penting dalam pelapukan mineral dan bahan organik, reaksi yang menyiapkan hara laut bagi pertumbuhan tanaman, juga membantu proses metabolisme.(Seyhan,1990).

Air berfungsi sebagai media penggerak hara ke akar akar hara tanaman. Bila air terlalu banyak, hara-hara yang lewat atau ada yang tercuci dan hilang dari perakaran.(Hardjowigeno,1987).

(21)

Pergerakan air pada tumbuhan, khususnya pada tanaman teratai putih (Nymphea alba) berjalan secara osmosis dan difusi yang berupa pengisapan air dalam tanah.

Akan tetapi pemasukan air pada tumbuhan itu haruslah seimbang dengan pengeluaran air, agar tercapai keseimbangan air pada tumbuhan tersebut yakni dengan cara penguapan, yaitu transpirasi dan evaporasi. (Budi,2008).

Daun berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar dan tipis yang terpotong pada jari-jari menuju ke tangkai. Daun teratai yang bundar, lebar, dan tipis berfungsi memudahkan proses fotosintesis dan mengurangi penguapan.

(22)

terkandung dalam suatu larutan (cair) maupun dalam bentuk padatan menjadi uap.

2. Evapotranspirasi adalah perpaduan dua proses yakni evaporasi dan transpirasi.

3. Faktor-faktor yang memengaruhi evaporasi adalah suhu air, suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, tekanan udara, radiasi surya, dan lainnya yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

4. Hubungan evaporasi terhadap petumbuhan Teratai (Nymphea alba) membentuk kurva stasioner, artinya mempunyai batas toleransi maksimum

(23)

Hasanudin

Agustina, H., 2009. Efisiensi Penggunaan Air Pada Tiga Teknik Hidroponik Untuk Biaya Rancangan Bayam Hijau. Skripsi. FMIPA UI

Anggarwulan, E., W. Mudyantini, 2005. Pengaruh Ketersediaan Air terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Bahan Aktif Saponin Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.). Biofarmasi 3

Anwar, J.T., 2011. Aplikasi Formulasi Insektidi Nabati Campuran Ekstrak Piper retrofactum Vahl. Dan Annona squomosa L. Pada pertanaman Teratai. Jurnal. Respository IPB

Apriyana, E. 2000. Bahan Ajar Etnobotani "Usada". Jurusan Biologi, FMIPA, UNUD Denpasar.

Asdak, C., 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Budi, A.F.S., 2008. Pengelolaan Air Permukaan sebagai Bahan Baku. Jurnal. FITB ITB

Campbell, Neil A., 2010. Biologi JILID I. Jakarta: Erlangga

Doorenbos, R.J. dan W.O. Pruit. 1976. Agrometeorological Field Station Irrigation and Drainage Paper no 27. FAO. Rome.

Dwidjoseputro, D., 1990. Dasar- Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan

Hakim, N, M. Y. Nyakpa, S. G. Nugroho, A.M. Lubis, M.R. Saul, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.

Hanum, C. 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi Agronomi,

Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Hardjowigeno, Sarwono. 1987.Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.

Hardjowigeno, sarwono. Ilmu tanah . sifat-sifat kimia tanah “penetapan ph tanah”. 2010. Jakarta.

Hutabarat. 1986. Manfaat Klimatologi Bagi Pertanian. Bumi Penerbit. Surabaya Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi, PT. Raja Grafindo. Persada, Jakarta. Lestari, Endang G. 2006. Hubungan antara Kerapatan Stomata dengan Ketahanan

(24)

Novary, E.W., 1997. Penanganan dan Pengolahan Sayuran Segar. Penebar Swadaya. Jakarta

Prawirwardoyo, S., 1996. Meteorologi UGM PRESS. Yogyakarta Rismunandar,. 1995. Kayu Manis. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. Sabaruddin,Laode.2012.Agroklimatologi.Alfabeta:Bandung.

Supartha, N.O.1998. Fungsi Tumbuh-tumbuhan Dalam Upacara Agama Hindu. Prosiding Seminar Nasional Etnobotani III. Denpasar.

Suryatmojo, H. 2006. Konsep Dasar Hidrologi Hutan. Jurusan Konservasi.Sumber Daya Hutan. Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

Triatmojo, B., 2010. Hidrologi Terapan BetaOffset. Yogyakarta

Warianto. 2011. Ketrampilan Proses Sains. Kencana Prenada Media Group. Jakarta

(25)

ADAT SUMAMPAN, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN GIANYAR, BALI

THE BENEFITS OF THE LOTUS PLANT (Nymphaea sp., Nymphaeaceae) IN SUMAMPAN VILLAGE, DISTRICT OF SUKAWATI, GIANYAR REGENCY,

BALI.

Gusti Ayu Nyoman Budiwati , Eniek Kriswiyanti

Lab. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Kuta

Email :[email protected]

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat tanaman teratai di Desa Adat Sumampan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 4 - 16 Februari 2013. Metode yang digunakan survei eksploratif dengan cara observasi langsung dan wawancara terhadap 1 narasumber utama dan 15 KK dari 3 banjar. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 macam teratai berdasarkan warna bunga: teratai sudamala (Nymphoides indica) (4,54%), teratai kuning (21,21%), teratai biru tua (Nymphaea stellata Wild) (12,12%), teratai merah muda (16,66%), teratai ungu tua (9,09%), teratai ungu muda (9,09%), teratai putih (Nymphaea nouchali Burm f.) (18,18%), teratai biru muda (Nymphaea stellata Wild) (3,03%), teratai tutur (1,51%), teratai dedari (1,51%) dan teratai brumbun (3,03%). Tanaman teratai tersebut digunakan sebagai sarana upakara/banten 77,41%, sebagai tanaman hias 16,12 %, dan sebagai bahan obat 6,45 %, untuk obat kanker payudara, rematik, sakit kepala, menghilangkan stress, rasa takut, dan membersihkan hati serta pankreas. Dengan cara penggunaan tempel, minum, pupuk dan boreh.

Kata kunci : Survai eksploratif, Manfaat teratai,tempel, pupuk, boreh

ABSTRACT

This purpose of this research was to determine the benefits of the lotus plant in Sumampan Village, District of Sukawati, Gianyar, Bali. The research was conducted from 4 to 16 February 2013. The method was used in this study is exploratory survey by direct observation and interviews with one main informant and 15 KK from 3 banjar. The results showed there were 11 kinds of lotus : lotus sudamala ( Nymphoides indica ) (4.54 %), yellow lotus (21.21 %), dark blue lotus ( Nymphaea stellata Wild ) (12.12 %), pink lotus (16.66 % ), violet lotus (9.09 %), purple lotus (9.09 %), white lotus (Nymphaea nouchali Burm f.) (18.18 %), light blue lotus (Nymphaea stellata Wild ) (3.03 %), lotus tutur (1.51 %), lotus dedari (1.51 %) and lotus brumbun (3.03 %). The lotus plant is used as a upakara / banten 77.41 % , 16.12 % as ornamental plants, while 6.45 % as a medicine for breast cancer drug, arthritis, headaches, stress, fear, and cleanser the liver and pancreas. As a medicine, lotus plant was used in it’s from as tempel, solutions, pupuk and boreh.

Key word: exploratory survey, benefits lotus, tempel, pupuk, boreh

PENDAHULUAN

Pulau Bali atau pulau Dewata

memang sangat terkenal di dunia. Pulau

Bali memiliki daya tarik tersendiri bagi

(26)

keindahan alamnya, tradisi ataupun

kebudayaannya yang masih dipertahankan

hingga sekarang. Tradisi tersebut

diwariskan secara turun – temurun oleh

para tetua kepada cucu – cucunya melalui

interaksi secara langsung ataupun dari

mulut ke mulut. Budaya yang unik antara

lain pengobatan tradisional yang disebut

Usada dan upacara keagamaan yang

dilakukan oleh umat Hindu yang disebut

upacara Yadnya. Usada berasal dari kata

“ausadhi” (bahasa sansekerta) yang berarti

tumbuhan berkhasiat obat. Pengobatan

tradisional banyak memanfaatkan bahan –

bahan yang ada disekitar kita, baik berupa

tanaman, hewan maupun mineral.

Pengobatan tradisional paling tidak

melibatkan tiga pihak yaitu penderita sakit,

dukun (balian) dan penyedia bahan obat

seperti alam atau pusat pengembangan

obat tradisional maupun pedagang

terutama di pasar – pasar tradisional

(Kriswiyanti, 2004).

Tanaman digunakan sebagai

sarana upacara yadnya sesungguhnya

bertujuan untuk menanamkan nilai

pelestarian alam pada jiwa setiap umat.

Diharapkan dengan nilai tersebut akan

tumbuh suatu upaya nyata untuk

memelihara dengan sungguh - sungguh

kesejahteraan alam tersebut (Lembaga

Pengabdian Kepada Masyarakat

Universitas Udayana, 2004).

bagi masyarakat Bali khususnya umat

Hindu adalah tanaman teratai. Dalam

prosesi ritual agama Hindu, khususnya di

Bali, bunga teratai dipandang memiliki

makna yang dalam. Bunga teratai

dilukiskan sebagai padma astadala, yang

merupakan simbolis alam semesta stana

Hyang Widhi Wasa (Lembaga Pengabdian

Kepada Masyarakat Universitas Udayana,

2004). Bunga teratai lebih dikenal dengan

nama bunga tunjung oleh umat Hindu di

Bali. Bunga teratai memiliki

keistimewaan, ia dapat hidup seolah – olah

dalam tiga dunia yang berbeda yaitu

akarnya terpancang di tanah, tangkai dan

ujung daunnya hidup di air, bunganya

sendiri menyembul di udara. Selain itu

bunga teratai juga dilambangkan sebagai

Dewa Tri Murti. Selain digunakan sebagai

sarana upakara/banten, tanaman teratai

dapat juga digunakan sebagai obat karena

mengandung beberapa kandungan kimia

yang berbeda disetiap bagiannya (Ruang

Berkascom., 2013). Di desa adat

Sumampan, bunga teratai hampir ditanam

disetiap rumah warga, oleh karena itu

dilakukan penelitian mengenai manfaat

tanaman teratai di Desa Adat Sumampan,

Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,

(27)

Metode penelitian survei

eksploratif dengan cara observasi langsung

dan mewawancarai narasumber

menggunakan kuisioner (Waluyo, 2004).

Secara acak diambil 15 KK sebagai

narasumber yang merupakan perwakilan

dari 3 banjar yaitu banjar Sumampan,

Medahan dan Batu sepih. Data hasil

kuisioner penelitian dikumpulkan dan

jumlah serta bagian tanaman teratai yang

digunakan kemudian dihitung

persentasenya, selanjutnya data

disampaikan dalam bentuk histogram.

Variabel penelitian meliputi manfaat

teratai, macam - macam teratai, jumlah

teratai yang ditemukan serta bagian

tanaman teratai yang digunakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan hasil penelitian

diketahui terdapat 11 macam tanaman

teratai berdasarkan warna bunga yaitu

teratai sudamala (Nymphoides indica)

yang berwarna putih dengan mahkota

bunga yang berukuran kecil dan berbulu

halus pada permukaannya (4,54%), teratai

kuning (21,21%), teratai biru tua

(Nymphaea stellata Wild) (12,12%),

teratai merah muda (16,66%), teratai ungu

tua (9,09%), teratai ungu muda (9,09%),

teratai putih (Nymphaea nouchali Burm

f.) (18,18%), teratai biru muda

(Nymphaea stellata Wild) (3,03%), teratai

tutur dengan bunga berwarna merah tua

(1,51%), teratai dedari dengan bunga

yang berubah warna setiap minggunya

(1,51%) dan teratai brumbun dengan

bunga berwarna putih (3,03%). Tanaman

teratai di Desa Adat Sumampan banyak

dimanfaatkan sebagai sarana

upakara/banten (77,41%) yang meliputi :

upacara pebayuhan, penglukatan, otonan,

bunga hiasan canang, sarana

persembahyangan dan upacara ngaben,

serta tanaman hias (16,12%) dan bahan

ramuan obat tradisional (6,45%).

(28)

\

Gambar 1. Jenis – jenis tanaman teratai di Desa Adat Sumampan Keterangan :

1.Teratai sudamala dengan bunga bewarna putih (Nymphoides indica) (Harta, 2011); 2. Teratai biru tua (Nymphaea stellata Wild) (Kriswiyanti, 2007); 3. Teratai putih (Nymphaea nouchali Burm f.) ; 4. Teratai kuning ; 5. Teratai biru muda (Nymphaea stellata Wild) (Kriswiyanti, 2007); 6. Teratai brumbun dengan bunga berwarna putih; 7. Teratai ungu tua; 8.Teratai ungu muda; 9. Teratai merah muda; 10. Teratai tutur dengan bunga berwarna merah tua; 11. Teratai dedari dengan bunga yang berubah warna setiap minggunya.

3 2

1

6 5

4

9 8

7

(29)

Gambar 2. Persentase Penggunaan Tanaman Teratai Berdasarkan Pemanfaatannya

Gambar 3. Diagram Persentase Jumlah Teratai dan Jenis Teratai yang ditemukan di Desa Adat Sumampan

Pembahasan

Teratai yang ditemukan di Desa

Adat Sumampan ada 11 macam teratai

berdasarkan warna bunganya yaitu teratai

sudamala dengan bunga berwarna putih

dengan mahkota bunga yang berukuran

kecil dan berbulu halus pada

permukaannya (Nymphoides indica)

(4,54%), teratai kuning (21,21%), teratai

biru tua (Nymphaea stellata Wild) 77,41%

16,12% 6,45%

M anfaat Tanaman Teratai

Sarana upakara/ bant en (77,41%)

Tanam an Hias (16,12%)

Ram uan obat t radisional (6,45%)

Terat ai Biru M uda

Terat ai Brum bun

Terat ai Tut ur

(30)

teratai ungu tua (9,09%), teratai ungu

muda (9,09%), teratai putih (Nymphaea

nouchali Burm f.) (18,18%), teratai biru

muda (Nymphaea stellata Wild) (3,03%),

teratai tutur dengan bunga berwarna

merah tua (1,51%), teratai dedari dengan

bunga yang berubah warna setiap

minggunya (1,51%) dan teratai brumbun

dengan bunga berwarna putih (3,03%).

Teratai juga dimanfaatkan berdasarkan

warna bunganya, teratai yang paling

banyak ditemukan adalah teratai kuning

sebesar 21,21% sedangkan yang paling

sedikit ditemukan adalah teratai tutur dan

teratai dedari yaitu sebesar 1,51%.

Berdasarkan hasil wawancara

dengan narasumber disebutkan bahwa

teratai tutur dan dedari merupakan teratai

yang paling jarang ditemukan, teratai ini

juga jarang berbunga. Teratai tutur

bunganya berwarna merah tua sedangkan

teratai dedari warna bunganya mengalami

perubahan warna setiap seminggu sekali,

mulai dari kuning setelah satu minggu

menjadi kuning merah, minggu

berikutnya berubah menjadi merah, lalu

seminggunya lagi merah kehijauan

sampai hijau sekali lalu menjadi hijau

kekuningan, selain itu daun teratai dedari

memiliki perbedaan dengan daun teratai

pada umumnya, daun teratai dedari

menyerupai daun kangkung. Teratai

sudamala (Nymphoides indica) memiliki

bunga teratai lainnya, bunga berwarna

putih berukuran kecil dengan tepi bunga

seperti bulu ayam sehingga disebut juga

sebagai teratai bulu ayam. Daun teratai

sudamala (Nymphoides indica) berukuran

lebih kecil dibandingkan daun teratai pada

umumnya dengan tepi daun rata.

Teratai kuning lebih banyak

dimanfaatkan dibandingkan teratai

lainnya karena selain warna bunganya

indah, pada setiap upacara piodalan,

ngaben serta nyekah selalu menggunakan

teratai kuning. Menurut kidung Aji

Kembang penggunaan teratai kuning

dalam upacara piodalan merupakan

simbolis dari Dewa Mahadewa yang

berstana di barat, sedangkan penggunaan

teratai kuning pada upacara ngaben serta

nyekah bertujuan agar orang yang sudah

meninggal tersebut dalam kelahiran

berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia

yang tekun mengerjakan tapa, brata, dan

mempunyai budi yang luhur (Lembaga

Pengabdian Kepada Masyarakat, 2004).

Teratai kuning merupakan teratai yang

susah ditemukan di tempat lain, oleh

karena itu warga berkeinginan untuk

memiliki pot sendiri sehingga pada saat

memerlukan bunga teratai kuning, tidak

susah dicari. Langkanya teratai ini dapat

disebabkan karena sering digunakan tanpa

penanaman kembali serta masyarakat

(31)

tanaman ini.

Pemanfaatan tanaman teratai di

Desa Adat Sumampan antara lain sebagai

sarana upakara/banten (77,41%),

tanaman hias (16,12%) dan bahan ramuan

obat (6,45%). Sarana upakara/banten

meliputi : upacara pebayuhan,

penglukatan, otonan, bunga hiasan

canang, sarana persembahyangan dan

upacara ngaben. Pemanfaatan tanaman

teratai sebagai sarana upakara/banten

memiliki jumlah persentase paling tinggi

dalam penggunaannya yaitu sebesar 77,41

% sedangkan pemanfaatan tanaman

teratai sebagai tanaman hias dengan

persentase sebesar 16,12% dan

pemanfaatan tanaman teratai sebagai

bahan ramuan obat memiliki persentase

terendah sebesar 6,45 %. Teratai

melambangkan alam kedewataan dan

tempat duduk para Dewa di sembilan

penjuru mata angin yang dikenal dengan

nama dengan Dewata Nawa Sanga

(Supartha, 1998).

Dalam kidung Aji Kembang,

bunga teratai digunakan sebagai simbol

Dewata Nawa Sanga. Bunga teratai warna

putih digunakan sebagai simbol Dewa

Iswara yang berstana di timur, Bunga

teratai warna dadu digunakan sebagai

simbol Dewa Maheswara yang berstana

di tenggara, Bunga teratai warna merah

digunakan sebagai simbol Dewa Brahma

warna jingga digunakan sebagai simbol

Dewa Rudra yang berstana di barat daya,

Bunga teratai warna kuning digunakan

sebagai simbol Dewa Mahadewa yang

berstana di barat, Bunga teratai warna

hijau digunakan sebagai simbol Dewa

Sangkara yang berstana di barat laut,

Bunga teratai warna hitam digunakan

sebagai simbol Dewa Wisnu yang

berstana di utara, Bunga teratai warna

biru digunakan sebagai simbol Dewa

Sambu yang berstana di timur laut, Bunga

teratai warna lima (panca warna)

digunakan sebagai simbol Dewa Siwa

yang berstana di tengah (Lembaga

Pengabdian Kepada Masyarakat, 2004).

Dalam lontar Aji Kembang

dan lontar Siwa Pakarana, Bunga teratai

dilukiskan sebagai padma astadala. Hal

ini merupakan simbolis alam semesta

stana Sang Hyang Widhi Wasa. Bunga

teratai merupakan bunga yang istimewa

karena ia dapat hidup seolah – olah dalam

tiga dunia yang berbeda yaitu akarnya

terpancang di tanah, tangkai daun dan

ujung daun hidupnya di air, sedangkan

bunganya sendiri menyembul di udara.

Selain itu dalam lontar sejarah perjalanan

Dang Hyang Dwijendra, dapat pula

dijumpai penjelasan tentang bunga teratai

sebagai lambang Tri Murti (Lembaga

(32)

dengan narasumber dapat diketahui

bahwa pemanfaatan teratai sebagai sarana

upakara/banten di Desa Adat Sumampan

antara lain: upacara pebayuhan,

penglukatan, otonan, bunga hiasan

canang, sarana persembahyangan dan

upacara ngaben. Beberapa contoh

pemanfaatan teratai sebagai sarana

upakara/banten yaitu pada upacara

ngenteg linggih, khususnya pada banten

tebasan panca lingga yang menggunakan

lima macam teratai yaitu teratai merah,

putih, kuning, biru dan sudamala. Selain

upacara ngenteg linggih yaitu pada

upacara catur / nyatur menggunakan 4

jenis teratai antara lain teratai merah,

putih, kuning dan biru. Pada Sekar Bagia

/ Pulekerti menggunakan 11 macam

teratai.

Menurut sastra: Lontar Jyotisha

mebayuh atau metubah dilakukan untuk

“mengurangi keburukan dan menambah

kebaikan” maka upacara itu dilakukan

pada saat otonan dimana waktu

pelaksanaannya menurut perhitungan:

wuku, sapta wara, dan panca wara (Nuse,

2013). Teratai yang digunakan pada

upacara pebayuhan adalah teratai putih

(Nymphaea nouchali Burm f.) dan teratai

brumbun (Hasil wawancara). Penglukatan

dari kata lukat dan ruwatan ada konotasi

pengertian yaitu suatu peningkatan

kualitas diri. Istilah lukat umum

dan istilah ruwat pada masyarakat

berbudaya Jawa (Putra, 2013). Melukat

mempunyai arti yang sama dengan

mebayuh, namun perbedaannya yaitu

pada benten yang digunakan, melukat

bantennya lebih kecil dibanding dengan

mebayuh. Teratai yang biasa digunakan

untuk upacara penglukatan adalah teratai

sudamala (Nymphoides indica), teratai

putih (Nymphaea nouchali Burm f.) dan

teratai kuning (Hasil wawancara).

Otonan berasal dari kata pawetuan

dan lebih mendasar lagi berasal dari kata

wetu, yang artinya keluar atau lebih

tepatnya dalam kaitan ini : lahir. Jadi

otonan adalah upacara memperingati hari

kelahiran kita (manusia) ( Nuse, 2013).

Teratai yang biasa digunakan untuk

upacara otonan adalah teratai merah

muda, putih, kuning dan biru, salah satu

contohnya pada saat upacara gogo –

gogoan bayi tiga bulanan menggunakan

teratai 4 warna, karena melambangkan

dewa – dewa yang berstana pada seluruh

penjuru mata angin. Dalam Dewata Nawa

Sanga terdiri dari dari 4 warna dasar yaitu

: merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini

disebabkan karena warna hijau yang

berada di barat laut ( barat dan utara )

merupakan perpaduan antara kuning dan

hitam ; warna dadu yang berada di

tenggara ( timur dan selatan ) merupakan

(33)

barat dan selatan ) merupakan perpaduan

antara merah dengan kuning (Lembaga

Pengabdian Kepada Masyarakat, 2004).

Bunga teratai memiliki warna yang

indah dan berbau harum sehingga bagus

digunakan sebagai bunga hiasan canang

dan sarana persembahyangan. Teratai

yang biasa digunakan sebagai bunga

hiasan canang dan sarana

persembahyangan adalah teratai putih

(Nymphaea nouchali Burm f.), teratai

merah muda, teratai kuning dan teratai

biru. Dalam persembahyangan Catur,

akan ditentukan warna bunga yang dipilih

sesuai dengan warna Dewa – dewa Catur

Lokapala, yang harum, salah satu

contohnya yaitu teratai putih dipilih untuk

muspa kehadapan Dewa Iswara, dan

teratai kuning dipilih untuk muspa ke

hadapan Dewa Mahadewa (Supartha,

1998).

Upacara Ngaben sesungguhnya

berasal dari kata "beya" artinya bekal,

yakni berupa jenis upakara yang

diperlukan dalam upacara ngaben

tersebut. Kata beya yang berarti bekal,

kemudian dalam bahasa Indonesia

menjadi biaya atau "prabeya" dalam

bahasa Bali. Orang yang

menyelenggarakan beya dalam bahasa

Bali disebut "meyanin". Kata Ngaben atau

meyanin, sudah menjadi bahasa baku,

untuk menyebutkan upacara "sawa

adalah upacara penyelenggaraan sawa

(jenasah) bagi orang yang sudah

meninggal (Ardana, 2010). Teratai yang

digunakan pada upacara ngaben

menggunakan teratai putih (Nymphaea

nouchali Burm f.) dan kuning yaitu pada

saat potong rambut sekah (Hasil

wawancara). Pemanfaatan tanaman teratai

sebagai sarana upakara/banten di Desa

Adat Sumampan hanya terbatas pada

bagian bunganya saja, namun bagian

daunnya juga dapat digunakan yaitu pada

saat upacara Pitra yadnya, ketika

dilaksanakan upacara nyiramang layon

(memandikan jenasah), daun teratai untuk

menutup kemaluan pada jenasah wanita

diharapkan agar bhaga atau vaginanya

berbentuk bagus dan harum seperti bunga

teratai (Supartha, 1998).

Teratai dimanfaatkan sebagai

tanaman hias karena bunganya yang indah

dan beraneka macam serta multifungsi.

Selain untuk sarana upakara/banten dan

tanaman hias, di Desa Adat Sumampan

teratai juga digunakan sebagai bahan

ramuan obat tradisional untuk obat kanker

payudara, menghilangkan stress dan rasa

takut, meningkatkan percaya diri,

membersihkan hati (hepar),

membersihkan pankreas, obat sakit kepala

dan obat rematik. Selain itu teratai juga

dapat digunakan sebagai obat diare,

(34)

darah, mimisan, batuk darah, sakit

jantung, beri-beri, berak dan kencing

darah, anemia, ejakulasi dan lain – lain

(Ruang Berkascom., 2013).

Seluruh bagian tanaman teratai

meliputi rimpang, daun dan tangkai,

bunga dan benang sari, biji dan

penyangga bunga yang seperti sarang

tawon/ spons (reseptacle), serta tunas biji

dapat digunakan untuk pengobatan.

Pemakaian segar atau yang telah

dikeringkan. Teratai mengandung

beberapa kandungan kimia yang berbeda

disetiap bagiannya. Pada bunga

mengandung lutiolin, isokuersitrin,

kuersetin, dan kaemferol. Benang sari

mengandung alkaloid, isokersitrin,

leteolin, kuersetin dan galuteolin.

Penyangga bunga mengandung protein,

lemak, karbohidrat karoten, asam

nikotinat, vitamin B1, B2, dan C. Biji

teratai mengandung zat pati yang

mengandung raffinosa, protein, lemak,

karbohidrat, kalsium, posfor, dan zat besi.

Tunas biji mengandung liensinin,

isoliensinin, neferin, nuciferin,

prouciferin, lotusina, methylcorypallin,

demethylcoclaurine, geluteolin dan

hyperin. Rimpang mengandung pati,

protein, asparagin, vitamin C,

d-gallacotechol, neochlorogenik acid,

leucocyanidin dan peroksidasi. Akar

mengandung zat tanat, dan asparagin.

nornuciferin. Tangkai daun mengandung

roemerin, nornuciferin, resin, dan zat

tanat (Ruang Berkascom., 2013).

Menurut Nuraini (2007), berdasarkan uji

aktivitas antibakteri dan antioksidan

terhadap ekstrak biji teratai (Nymphaea

pubescens Willd), diketahui biji teratai

mengandung senyawa gula, asam amino,

glikosida, dan karbohidrat dalam jumlah

yang besar sehingga dapat digunakan

sebagai obat anti diare, insomnia,

penambah stamina, dan penunda penuaan

(obat awet muda). Di Desa Adat

Sumampan bagian tanaman teratai yang

biasa dimanfaatkan sebagai ramuan obat

hanya bagian bunga dan daun saja (Hasil

wawancara). Berdasarkan hasil

wawancara dengan narasumber maka

didapatkan resep ramuan obat yang

menggunakan bagian bunga dan daun

tanaman teratai adalah sebagai berikut :

1). Obat kanker payudara; bahan : daun

sirih 3 lembar, kemiri setengah biji, garam

secukupnya, daun teratai biru. Cara

pengolahan dan penggunaan : semua

bahan diulek atau diparut kemudian di

tempel pada payudarayang sakit. 2)

Menghilangkan rasa takut , stress, dan

meningkatkan percaya diri; bahan: bunga

teratai kuning. Cara penggunaan yaitu

dengan mandi bunga teratai kuning.

3). Membersihkan hati dan pankreas;

(35)

(Nymphaea stellata Wild) direndam

dengan air putih satu gelas selama

beberapa menit kemudian air rendaman

tersebut diminum. 4) Obat sakit kepala;

bahan: bunga teratai sudamala

(Nymphoides indica). Cara penggunaan:

bunga teratai sudamala (Nymphoides

indica) diletakkan di ubun – ubun. 5).

Obat rematik; bahan: bunga teratai merah.

Cara pengolahan dan penggunaan : sintok

(rempah – rempah secukupnya, bunga

teratai merah muda, kencur dan beras

kemudian dicampur dengan air arak.

Selanjutnya diusapkan pada bagian tubuh

yang sakit.

Beberapa bentuk, pengolahan dan

cara penggunaan bahan obat tradisional

atau Tempel (Kriswiyanti, 2004).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat dibuat

kesimpulan sebagai berikut:

1. Teratai yang ditemukan di Desa Adat

Sumampan terdiri dari 11 macam

berdasarkan warna bunga yaitu teratai

sudamala dengan bunga berwarna putih

dengan mahkota bunga yang berukuran

kecil dan berbulu halus pada

permukaannya (Nymphoides indica)

(4,54%), teratai kuning (21,21%), teratai

muda (Nymphaea stellata Wild) (3,03%),

teratai tutur dengan bunga berwarna

2. merah tua (1,51%), teratai dedari dengan

bunga yang berubah warna setiap

minggunya (1,51%) dan teratai brumbun

yang berwarna putih (3,03%).

3. Pemanfaatan tanaman teratai sebagai

sarana upakara/banten 77,41% , tanaman

hias 16,12 % dan sebagai bahan ramuan

obat memiliki persentase terendah sebesar

6,45 %. Digunakan untuk obat kanker

payudara, rematik, sakit kepala,

menghilangkan stress, rasa takut, dan

membersihkan hati serta pankreas.

Penggunaan dengan cara tempel, minum,

(36)

Dari hasil penelitian ini,

diharapkan dilakukan penelitian lebih

lanjut mengenai perbedaan kandungan

pada bunga teratai berdasarkan perbedaan

warna bunganya, apakah warna bunga

yang berbeda memiliki kandungan yang

khasiatnya sebagai obat. Selain itu

diharapkan penelitian ini dapat digunakan

sebagai dasar dari penelitian taksonomi,

reproduksi, pemuliaan tanaman dan

konservasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ardana I. W. Upacara Ngaben di Bali.

Tersedia di:

http://baliohbali.blogspot.com/2010 /02/upacara-ngaben-di-bali.html [17 Februari 2013].

Harta, P. E. W. 2011. Studi Pola Reproduksi dan Uji Viabilitas Serbuk Sari

Tanaman Teratai Nymphaea

pubescens, Nelumbium nelumbo, dan Nymphoides indica. [Skripsi].

Jurusan Biologi, Universitas

Udayana. Bali.

Kriswiyanti, E. 2004. Bahan Ajar

Etnobotani “Usada” . Jurusan

Biologi, F. MIPA, UNUD.

Denpasar.Lembaga Pengabdian

Kepada Masyarakat, 2004. Taman

Gumi Banten. Pelawasari ;

Universitas Udayana.

Nuraini. A. D. 2007. Ekstraksi Komponen Antibakteri dan Antioksidan dari Biji Teratai (Nymphaea pubescens

Willd).[Skripsi]. Fakultas

Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.

Nuse, H. 2013. Mebayuh Oton

Sembahyang di Merajan. Tersedia di: Tanaman Teratai. Tersedia di: http://www.khasiatbuahcom/terata i.html [11 Februari 2013].

Supartha, N. O. 1998. Fungsi Tumbuh – tumbuhan dalam Upacara Agama

Hindu. Prosiding Seminar

Nasional Etnobotani III.Denpasar.

Waluyo, E.B. 2004. Pedoman

Pengumpulan Data

(37)

Daur Hidrologi

Daur hidrologi menunjukkan gerakan air di permukaan bumi. Selama

berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke atmosfer

kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut yang tidak pernah habis

tersebut, air tersebut akan tertahan sementara di sungai, danau, dalam tanah

sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia atau mahkluk lain. Siklus hidrologi

adalah proses yang diawali oleh evaporasi kemudian terjadinya kondensasi dari

awan hasil evaporasi (Dumairy, 2002).

Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi aliran

permukaan (surface run off). Aliran permukaan sebagian akan meresap kedalam

tanah menjadi aliran bawah permukaan melalui proses infiltrasi (infiltration) dan

perkolasi (percolation). Apabila kondisi tanah memungkinkan sebagian air infiltrasi

akan mengalir kembali ke dalam sungai (river), atau genangan lainnya seperti

waduk, danau sebagai interflow. Sebagian dari air dalam tanah dapat muncul lagi ke

permukaan tanah sebagai air eksfiltrasi (exfiltration) dan dapat terkumpul lagi dalam

alur sungai atau langsung menuju ke laut (Soewarno, 2000).

Zona Agroklimat

Cuaca dan iklim dinyatakan dengan susunan nilai unsur fisika atmosfer

(disebut unsur cuaca atau unsur iklim) yang terdiri dari : radiasi surya, lama

penyinaran surya, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan arah

awan, presipitasi dan evapotranspirasi. Cuaca adalah nilai sesaat angin, penutupan

awan, presipitasi dan evapotransipirasi.

(38)

adalah sintetis atau kesimpulan dari unsur-unsur cuaca (hari demi hari dan bulan

demi bulan) dalam jangka panjang di suatu tempat atau di suatu wilayah.

Klimatologi atau ilmu iklim dapat dibagi menjadi berbagai cabang keilmuan iklim.

Salah satunya adalah klimatologi yang menekankan pembahasan tentang

permasalahan iklim di bidang pertanian (Handoko, 1995).

Oldeman (1979) mengklasifikasikan iklim berdasarkan pertumbuhan

vegetasi. Kriteria dalam klasifikasi iklim ini didasarkan pada perhitungan bulan

basah (BB), bulan lembab (BL), dan bulan kering (BK) yang batasannya

memperhatikan peluang hujan, hujan efektif, dan kebutuhan air tanaman. Dalam

penentuan klasifikasi iklimnya, Oldeman menggunakan ketentuan panjang periode

bulan dan bulan kering berturut-turut. Untuk keperluan praktis klasifikasi iklim

menurut Oldeman ini cukup berguna khususnya dalam klasifikasi lahan pertanian

pangan di Indonesia. Bulan basah adalah bulan dengan rata-rata curah hujan lebih

besar 200 mm, bulan lembab adalah bulan dengan rata-rata curah hujan100 mm –

200 mm, sedangkan bulan kering adalah bulan dengan rata-rata curah hujan lebih

kecil 100 mm, angka 200 mm dipergunakan dengan alasan kebutuhan air tanaman

padi sawah termasuk perkolasinya mendekati angka sekitar 200 mm. Sedangkan

angka 100 mm karena untuk tanaman palawija akan kekurangan air jika curah hujan

lebih kecil dari 100 mm. Setelah menentukan kriteria bulan basah dan bulan kering

langkah selanjutnya adalah mencari harga rerata curah hujan masing-masing bulan.

Dari situ ditentukan berapa bulan basah dan bulan kering yang berturutan

(Wisnubroto, 1999).

(39)

yang didasarkan kepada jumlah bulan kering berturut-turut, termasuk pembagian

iklim utama dan subdivisinya. Dari 5 iklim utama dan 4 subdivisinya tersebut maka

tipe iklim dapat dikelompokkan menjadi 16 daerah agroklimat Oldeman mulai dari

A1 sampai E5 (Guslim, 2007).

Topografi

Topografi (relief) adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah,

termasuk perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Peran topografi melalui 4 cara,

yaitu :

1. Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah.

2. Kedalaman air tanah.

3. Besarnya erosi yang terjadi.

4. Arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat

yang tinggi ke tempat yang rendah.

(Hanafiah, 2005).

Topografi mempengaruhi pembentukan tanah secara langsung menyebabkan

terbukanya permukaan bumi terhadap pengaruh matahari, angin dan udara dan

secara tak langsung mempengaruhi drainase run off. Melihat pengaruhnya terhadap

genesis tanah, pada garis besarnya dapat dibedakan atas :

(40)

tempat penggenangan air atau penimbunan bahan yang dihanyutkan.

2. Topografi miring : permukaan tanah miring yang menampakkan adanya

tanda-tanda run off yang lambat dan adanya erosi kecil yang oleh

vegetasi lebat biasanya tersembunyi.

3. Topografi curam : permukaan tanah curam sudah jelas menampakkan

tanda-tanda run off dan erosi yang merusak, hanya tak tampak jika

tertutup hutan.

(Darmawijaya, 1992)

Sifat Fisik Tanah

Sebagai benda alam, tanah merupakan sistem dispersi tiga fase yang selalu

berada dalam keseimbangan dinamis. Ketiga fase tersebut, yaitu fase padat, fase cair

dan fase gas, merupakan sistem yang selalu berubah tetapi selalu berada dalam

keadaan seimbang. Pada keadaan kering, misalnya rongga yang ditempati udara

tanah lebih banyak dibandingkan rongga yang ditempati cairan. Jika tanah itu

berubah menjadi basah, baik yang terjadi akibat pengairan atau hujan, maka rongga

yang berisi udara berkurang dan rongga yang berisi cairan bertambah. Jika tanah

digemburkan, misalnya dengan pengolahan tanah, maka bagian relatif yang terisi

udara bertambah, dan bagian relatif padatan berkurang. Sebaliknnya, jika tanah

(41)

Sifat fisis tanah tergantung pada jumlah, bentuk, susunan dan komposisi

mineral dari partikel-partikel tanah, macam dan jumlah bahan organik, volume dan

bentuk pori-porinya serta perbandingan air dan udara menempati pori-pori pada

waktu tertentu. Beberapa sifat fisik tanah yang terpenting adalah tekstur, bobot isi,

porositas dan permeabilitas.

A. Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi-fraksi pasir,

debu, dan liat. Tekstur tanah penting kita ketahui karena komposisi ketiga fraksi

butir-butir tanah tersebut akan menentukan sifat fisik tanah. Jika tanah lapisan atas

yang bertekstur liat dan dan berstruktur granuler mempunyai bobot isi 1,0 sampai

dengan 1,3 gr/cm3 , sedangkan yang bertekstur kasar mempunyai bobot isi antara 1,3

sampai dengan 1,8 gr/cm3 dan bobot isi air yaitu 1 gr/cm3 (Hanafiah, 2005).

Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro

(besar) disebut lebih porous, tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai

pori-pori messo (sedang) agak porous, sedangkan yang didominasi liat akan banyak

mempunyai pori-pori mikro atau tidak poreus. Makin porous tanah maka akan

mudah akar untuk berpenetrasi serta makin mudah air dan udara untuk bersirkulasi

(drainase dan aerasi baik : air dan udara banyak tersedia bagi tanaman), tetapi

makin mudah pula air untuk hilang dari tanah. Makin tidak porous tanah maka akan

makin sulit akar untuk berpenetrasi serta makin sulit air dan udara untuk

bersirkulasi (drainase dan aerasi buruk : air dan udara sedikit tersedia), tetapi air

(42)

debu dan lempung akan akan mempunyai ketersediaan yang optimum bagi

tanaman, namun dari segi nutrisi tanah lempung lebih baik dari tanah bertekstur

debu (Foth, 1998).

Tekstur tanah dibagi menjadi 12 kelas dan pada diagram segitiga tekstur

tanah USDA. Tanah yang berkomposisi ideal adalah 22,5 – 52,5 % pasir, 30 – 50 %

debu, dan 10 -30 % liat dan disebut bertekstur lempung.

Berdasarkan kelas tekstur tanahnya maka tanah digolongkan menjadi :

a. Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang

mengandung minimal 70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung

b. Tanah bertekstur halus atau tanah berliat berarti tanah yang mengandung

minimal 37,5% liat atau bertekstur liat, liat berdebu atau liat berpasir.

c. Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung, terdiri dari :

1. Tanah bertekstur sedang tetapi agak kasar meliputi tanah yang

bertekstur lempung berpasir (sandy loam) atau lempung berpasir

halus.

2. Tanah bertekstur sedang meliputi yang bertekstur lempung berpasir

sangat halus, lempung (loam), lempung berdebu (silty loam) atau

debu (silt).

(43)

liat berdebu (sandy silt loam).

Tanah berlempung merupakan tanah dengan proporsi pasir, debu dan liat

sedemikian rupa sehingga sifatnya berada diantara tanah berpasir dan berliat. Jadi

aerasi dan tata udara serta air yang cukup baik, kemampuan menyimpan,

menghantarkan dan menyediakan air untuk tanaman tinggi serta mampu

menyediakan hara tanaman (Islami dan Utomo, 1995).

B. Bobot Isi

Bobot isi atau kerapatan massa tanah kondisi lapangan yang

dikering-ovenkan persatuan volume. Contoh tanah yang digunakan untuk menetapkan berat

jenis harus diambil secara hati-hati dari dalam tanah. Pengambilan contoh tanah

tidak boleh merusak struktur tanah asli. Terganggunya struktur tanah dapat

mempengaruhi jumlah pori-pori tanah, demikian pula berat persatuan volume.

Gumpal-gumpal tanah yang diambil dari lapangan untuk penentuan kerapatan isi

atau bobot isi itu dibawa ke laboratorium untuk dikering-ovenkan dan ditimbang

(Darmawidjaja, 1992).

C. Porositas

Porositas adalah proporsi ruang pori total (ruang kosong) yang terdapat

dalam satuan volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara, sehingga

indikator kondisi drainase dan aerasi tanah (Kartasapoetra, 1989).

(44)

pori-pori tanah tidak mudah tertutup oleh partikel tanah halus hingga infiltrasi

tertahan dan run off menjadi besar (Sarief, 1985).

Gumpal tanah yang digunakan untuk menentukan kerapatan isi juga dapat

pula digunakan untuk menentukan ruang pori-pori total. Untuk menentukan ruang

pori-pori, gumpalan tanah diletakkan di atas pan yang berisi air, hingga tanah jenuh

air dan kemudian tanah ditimbang. Persentase volume yang ditempati oleh

pori-pori kecil, dalam tanah-tanah berpasir adalah rendah, yang menunjukkan kapasitas

memegang air yang rendah. Sebaliknya pada top soil bertekstur halus, memiliki

lebih banyak ruang pori total yang sebagian besar terdiri dari pori-pori kecil.

Hasilnya adalah tanah dengan kapasitas memegang air yang besar (Foth, 1998)

Tanah yang mempunyai struktur yang baik, ruang porinya tinggi sehingga

bobot volumenya rendah. Apabila terjadi seperti itu maka akan sangat berpengaruh

pada tingkat penyediaan oksigen di daerah perakaran dan pada akhirnya juga akan

mempengaruhi kemampuan tanaman untuk menyerap hara. Nilai porositas pada

tanah pertanian bervariasi dari 40 sampai 60%. Porositas dipengaruhi oleh ukuran

partikel dan struktur. Tanah berpasir mempunyai porositas rendah (40%) dan tanah

lempung mempunyai porositas tinggi, jika strukturnya baik dapat mempunyai

porositas 50-60% (Islami dan Utomo, 1995).

(45)

Permeabilitas merupakan tanah untuk mentransfer air atau udara.

Permeabilitas biasanya diukur dengan istilah jumlah air yang mengalir melalui

tanah dalam waktu yang tertentu dan ditetapkan sebagai cm/jam.

E. Kedalaman Efektif

Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman tanah yang baik bagi

pertumbuhan akar tanaman, yaitu sampai pada lapisan yang tidak dapat ditembus

akar tanaman. Kedalaman efektif tanah diklasifikasikan sebagai berikut :

K0 = lebih dari 90 cm (dalam)

K1 = 90 cm sampai 50 cm (sedang)

K2 = 50 cm sampai 25 cm (dangkal)

K3 = kurang dari 25 cm (sangat dangkal)

(Arsyad, 1989)

Hubungan Antara Air Permukaan dan Air Tanah

Menurut Sosrodarsono dan Takeda (1980), air tanah adalah air yang bergerak

di dalam tanah yang terdapat di dalam ruang- ruang antar butir-butir tanah dan di

dalam retak-retak batuan. Linsley et al (1989), menyebutkan sumber-sumber air

tanah antara lain : air meteorik (meteoric water), hampir semua air tanah

merupakan air meteorik yang berasal dari hujan, air tersekap (connate water),

terdapat pada batuan pada pembentukannya dan seringkali banyak mengandung

(46)

jumlah kecil.

Jika suatu aliran berhubungan langsung dengan air tanah pada suatu akuifer

bebas, aliran tersebut dapat menerima atau memberikan air tanah, tergantung pada

permukaan air nisbi. Ada tiga tipe sungai yang diklasifikasikan menurut permukaan

air nisbi, yaitu :

a) Aliran emeferal, yang hanya mengalir setelah terjadinya hujan badai yang

menghasilkan limpasan permukaan yang memadai. Permukaan air tanah selalu

berada di bawah dasar sungai.

b) Aliran intermitten (terputus), yang mengalir selama musim penghujan saja.

Selanjutnya debit air ini terdiri atas pemberian limpasan permukaan dan air

tanah pada dasar sungai. Permukaan air tanah berada di atas dasar sungai hanya

selama musim-musim hujan. Pada musim kemarau, permukaan tersebut berada

di bawah dasar sungai.

c) Aliran perennial (sungai permanen), mengalir sepanjang tahun dengan debit-

debit yang lebih tinggi selama musim-musim penghujan. Debit sungai terdiri

atas pemberian limpasan permukaan dan air tanah pada dasar sungai.

Permukaan air tanah selalu berada di atas dasar sungai (Sechyan, 1990)

(47)

Debit adalah suatu koefisien yang menyatakan banyaknya air yang mengalir

dari suatu sumber per satuan waktu, biasanya diukur dalam satuan liter per detik.

Untuk memenuhi kebutuhan air pengairan (irigasi bagi lahan-lahan pertanian),

debit air harus lebih cukup untuk disalurkan ke saluran-saluran

(induk-sekunder-tersier) yang telah dipersiapkan di lahan-lahan pertanian (Dumairy, 1992).

Agar supaya penyaluran air pengairan ke suatu areal lahan pertanian dapat

diatur dengan sebaik-baiknya (dalam arti tidak berlebihan atau agar dapat

dimanfaaatkan seefisien mungkin) maka dalam pelaksanaannya perlu dilakukan

pengukuran-pengukuran debit air. Dengan distribusi yang terkendali, dengan

bantuan pengukuran-pengukuran tersebut, maka masalah kebutuhan air pengairan

selalu teratasi tanpa menimbulkan gejolak di masyarakat petani pemakai air

(Kartasapoetra, 1994).

Pengukuran debit dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain :

a) Pengukuran volume air sungai

b) Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas

penampang melintang sungai (untuk pengukuran kecepatan digunakan

pelampung atau pengukur arus dengan kincir)

c) Pengukuran dengan menggunakan bahan kimia (pewarna) yang dialirkan dalam

aliran sungai.

(48)

(Arsyad, 1989).

Dari berbagai cara tersebut di atas, yang paling sering dilakukan adalah cara

ke-b, pengukuran berdasarkan kecepatan aliran dan luas penampang melintang,

sebab mudah dilaksanakan. Debit air sungai yang diukur dengan cara ini dapat

dihitung berdasarkan rumus :

Q = V x A ………... (1)

Dimana :

Q = Debit air (m3/detik)

V = Kecepatan aliran air rata-rata (m/detik)

A = Luas penampang yang melintang (m3)

(Asdak, 1995).

Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (dalam m/detik) adalah :

V = t L

………. (2)

Dimana :

L = Jarak antara dua titik pengamatan (m)

T = Waktu perjalanan benda apung (detik)

(Linsley dan Franzini, 1989).

(49)

Irigasi adalah usaha pengadaan dan pengaturan air secara buatan, baik air

tanah maupun air permukaan, untuk menunjang pertanian. Pengaturan pengairan

bagi pertanian tidak hanya tertuju untuk penyediaan air di daerah-daerah yang

kurang mendapatkan curah hujan saja, melainkan juga untuk mengurangi

berlimpahnya air hujan di daerah-daerah yang kelebihan air dengan maksud untuk

mencegah peluapan air dan kerusakan tanah (Kodoatie dan Sjarief, 2005).

Berdasarkan teknik bangunannya, irigasi digolongkan menjadi irigasi teknis,

irigasi semi teknis, dan irigasi sederhana. Irigasi teknis adalah irigasi yang

dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan atau teknik bangunan air, wilayah

layanannya sangat luas, sumber airnya juga besar, berupa sungai atau waduk yang

besar. Irigasi semi teknis adalah irigasi yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip

teknik bangunan air tetapi hanya untuk melayani wilayah yang tidak begitu luas,

meliputi 2 – 4 desa. Sumber airnya merupakan sungai yang tidak begitu besar.

Irigasi sederhana adalah irigasi yang dibuat secara sangat sederhana, hanya

melayani satu desa, sumber airnya berupa sungai yang kecil (Kartasapoetra, 1994).

Yang dimaksud dengan jaringan irigasi adalah prasarana irigasi, yang pada

pokoknya terdiri dari bangunan dan saluran pemberi air pengairan beserta

perlengkapannya. Berdasarkan pengelolaannya dapat dibedakan menjadi :

1. Jaringan Irigasi Utama

Meliputi bangunan bendung, saluran-saluran primer dan sekunder termasuk

Gambar

Gambar 2. Persentase Penggunaan Tanaman Teratai Berdasarkan Pemanfaatannya
Tabel 2. kode permeabilitas profil tanah
Tabel 3. klasifikasi kelas erodibilitas tanah di Indonesia
Tabel 4. klasifikasi indeks bahaya erosi

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan air tanaman merupakan jumlah air yang hams tersedia untuk mengimbangi air yang hilang akibat evapotranspirasi (Sasrodarsono dan Takeda, 1978).. Air sering

Bentuk permukaan bumi yang dibuat dalam bidang datar disebut ..... Air yang menguap berubah

Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan studi efek pendinginan dalam cerobong evaporasi dengan variasi jenis-jenis distribusi semprotan nosel yang terdapat di

Location based services adalah layanan berbasis lokasi atau istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan teknologi yang digunakan untuk menemukan

Curah hujan ialah jumlah air yang jatuh pada permukaan tanah selama periode tertentu bila tidak terjadi penghilangan oleh proses evaporasi, pengaliran dan peresapan, yang diukur

Kadar air cenderung menurun dengan bertambahnya suhu perlakuan, karena selama proses penguapan suhu yang lebih tinggi akan mempengaruhi kecepatan evaporasi sehingga

Dengan niai konduktivitas termal yang tinggi menyebabkan kemampuan alir panas dari permukaan pelat penyerap menuju air menjadi lebih besar, sehingga temperatur

EVAPORASI 𝐸𝑜 penguapan yang terjadi dari permukaan air seperti laut, danau, sungai, genangan di permukaan tanah dan permukaan air tanah INTERSEPSI penguapan yang terjadi dari permukaan