PAPER
OLEH :
RAMADHIANTIE KARNAIN / 160301199 AGROEKOTEKNOLOGI IVB
L A B O R A T O R I U M A G R O K L I M A T O L O G I P R O G R A M S T U D I A G R O E K O T E K N O L O G I
F A K U L T A S P E R T A N I A N UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PAPER
OLEH :
RAMADHIANTIE KARNAIN / 160301199 AGROEKOTEKNOLOGI IVB
Paper sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Agroklimatologi Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
Ditugaskan Oleh Dosen Penanggung Jawab
( Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, MS) NIP: 19610831 198803 2 004
L A B O R A T O R I U M A G R O K L I M A T O L O G I P R O G R A M S T U D I A G R O E K O T E K N O L O G I
F A K U L T A S P E R T A N I A N UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
NIM : 160301199
Group : AGROEKOTEKNOLOGI IV B
Diperiksa Oleh Asisten Koordinator
(Muhammad Ridho Catur Prasetya) NIM: 130301279
Diperiksa Oleh Diperiksa Oleh
Asisten Korektor I Asisten Korektor II
(Maysyarah Sinambela) (Albi Abdillah)
i
atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.
Adapun judul paper ini adalah “Hubungan Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Teratai Putih (Nymphaea alba)” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Agroklimatologi, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Agroklimatologi : Bapak atau Ibu Dosen Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, M.S; Dr. Nini Rahmawati, S.P, M.S;
Dr. Ir. Yaya Hasanah; Ir. Irsal, M.P; Ir. T. Irmansyah, M.P; Ir. Lisa Mawarni, M.P, serta kepada Abang dan Kakak Asisten Laboratorium Agroklimatologi yang telah membantu dalam penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu serta menyempurnakan paper ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, November 2016
ii
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
PENDAHULUAN Latar Belakang... 1
Tujuan Penulisan...3
Kegunaan Penulisan...3
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman... 4
Syarat Tumbuh...6
Iklim...6
Tanah...7
HUBUNGAN EVAPORASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN TERATAI PUTIH (Nymphaea alba) Pengertian Evaporasi...8
Pengertian Evapotranspirasi...9
Faktor- Faktor yang Memengaruhi Evaporasi...11
Hubungan Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Tanaman Teratai Putih (Nymphaea alba)......14
Dampak Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Teratai Putih (Nymphaea alba)...15
Klimatologi pada dasarnya berisikan pembahasan unsur-unsur cuaca dan iklim yang menyangkut distribusinya baik dalam skala global (dunia), regional (wilayah), maupun local (setempat). Pembahasan bidang klimatologi sangat erat kaitannya dengan aspek geografi seperti garis lintang, ketinggian tempat, posisi permukaan bumi, dan aspek lainnya. Setiap usaha dalam bidang pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan priduktivitas yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang sebaik-baiknya. Untuk itu maka persyaratan tumbuh tanaman sedapat mungkin dapat terpenuhi agar proses pertumbuhan dan perkembangannya berlangsung optimal (Sabarudin,2012).
Evaporasi atau penguapan adalah proses berubahnya bentuk zat cair menjadi gas (uap air) dan masuk ke atmosfer. Ada dua macam penguapan, yaitu evaporasi (penguapan air secara langsung dari lautan, dll) dan transpirasi (penguapan air dari tumbuh-tumbuhan, mahluk hidup, dll). Gabungan antara evaporasi dan transpirasi disebut evapotranspirasi (Wuryanto,2000).
Penguapan cenderung untuk menjadi sangat tinggi pada daerah-daerah yang mempunyai suhu tinggi, angin kuat, dan kelembapan yang rendah. Daerah subtropik biasanya merupakan daerah yang langsung menerima insolasi (pemanasan dari matahari) tanpa terlindung oleh adanya awan. Juga merupakan daerah yang mempunyai angin yang kuat dan mempunyai nilai kelembapan yang rendah. (Hutabarat,1986)
Tanaman teratai termasuk keluarga besar "Nymphaeaceae". Bunga teratai memiliki keistimewaan, ia dapat hidup seolah-olah dalam tiga dunia yang berbeda yaitu akarnya terpancang di tanah, tangkai dan ujung daunnya hidup di air, bunganya sendiri menyembul di udara. Selain itu bunga teratai juga dilambangkan sebagai Dewa Tri Murti. Tanaman teratai banyak dimanfaatkan sebagai sarana upacara adat/banten di Bali, tanaman teratai dapat juga digunakan sebagai obat karena mengandung beberapa kandungan kimia yang berbeda disetiap bagiannya. (Supartha,1998)
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui Hubungan antara Evaporasi dan tanaman teratai putih(Nymphaea alba)
Kegunaan Penulisan
Tanaman Teratai (Nymphaea sp.) diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisi: Angiospermae, Class: Dicotyledoneae, Ordo: Nymphaeales, Famili: Nymphaeaceae, Genus: Nymphaea, Tanaman teratai hingga sekarang rata-rata berjumlah sekitar 50 species.Nymphaea nouchali Brum F, Nymphaea alba L. (teratai putih), Nymphaea lotus (teratai kecil), Nymphaea rubra (teratai merah). (Warianto,2011).
Akar tanaman Teratai memiliki akar yang berongga. Akar tanaman teratai kurang berkembang dengan baik karena tidak memiliki bulu akar atau tudung akar. Akar disini lebih berfungsi sebagai jangkar atau pencengkraman tanaman agar tanaman bisa berdiri tegak. (Anwar,2011).
Oxoushinsunine yang terdapat pada kulit biji teratai berkhasiat menekan perkembangan kanker hidung dan tenggorokan, sedangkan biji dan tangkai teratai berkhasiat anti hipertensi. (Rismunandar,1995).
Tangkai bunga teratai tumbuh tegak, sehingga bunga-bunga teratai dapat muncul dan menyembul keluar dari permukaan air. Teratai memiliki batang dengan ruang udara kecil di dalamnya. Rongga-rongga udara ini fungsinya adalah untuk membawa oksigen ke batang dan akar. Walaupun batang dan akarnya berada di dalam air, dengan adanya rongga-rongga udara pada batang, teratai tetap dapat bernapas. Ciri khusus pada tumbuhan teratai ini juga berfungsi membantu teratai untuk tetap tegak dan mengapung di atas permukaan air.(Novary,1997).
Syarat Tumbuh Iklim
Kondisi iklim/cuaca mikro secara langsung mempengaruhi proses fisiologi karena berhubungan dengan atmosfer di lingkungan tanaman sejak perakaran hingga puncak tajuk. Unsur yang berpengaruh kuat terutama radiasi surya, suhu udara, suhu tanah, kelembapan, kecepatan angin, presipitasi dan evapotranspirasi (Bey, A.1991)
Penyebaran berbagai jenis tumbuhan akan dibatasi oleh kondisi iklim dan tanah serta daya adaptasi dari masing – masing spesies tumbuhan tersebut. Sesungguhnya hubungan antara vegetasi dan iklim merupakan hubungan saling pengaruh. Selain iklim dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, keberadaan vegetasi juga dapat mempengaruhi iklim di sekitarnya. Semakin besar total biomassa vegetasi yang terlibat dan semakin nyata pengaruhnya terhadap iklim wilayah tersebut. Peran vegetasi mirip bentang dan air. Hal ini disebabkan karena tumbuhan mengandung banyak air dan tumbuhan menyumbang banyak uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi (Lakitan, 1994).
TANAH
Tanah yang gembur dan kaya unsur hara sangat disukai teratai untuk pertumbuhan yang optimal. Teratai dapat hidup dengan baik di tanah lumpur ataupun tanah merah. Lumpur seperti lumpur sawah juga baik bagi teratai. PH yang baik untuk teratai tumbuh optimal berkisar antara 4-5 sampai 6. (Asdak,1995).
Jika tanah terlalu asam, bisa ditambahkan kapur pada tanah. Namun yang perlu diperhatikan adalah pengaplikasian kapur sebaiknya dilakukan 3 bulan sebelumnya agar kapur dapat mengubah pH profil tanah secara lebih merata. Pengolahan tanah juga dapat menambahkan kadar pH tanah menjadi tidak terlalu asam. Jika tanah terlalu asam, kapur bisa di aplikasikan di setiap 2/3 tanaman.
Evaporasi
Penguapan adalah pengubahan cairan/es menjadi gas (uap air). Proses ini bisa berlangsung pada permukaan bumi (benda mati) ataupun pada permukaan tanaman (benda hidup). Penguapan yang diperankan oleh benda mati disebut evaporasi, sedangkan penguapan yang diperankan oleh tanaman disebut transpirasi. Dibidang pertanian kedua penguapan berjalan bersamaan, maka penguapan ini disebut evapotranspirasi. Evapotranspirasi juga disebut kebutuhan konsumtif tanaman. Proses ini merupakan komponen dasar daur hidrologi yang membutuhkan energi. Proses ini juga membutuhkan energi yang cukup besar yaitu l.k 2.442 KJ/kg air atau 583 cal/g air. Pada penguapan ini terjadi hilangnya air dan terambilnya energi dari permukaan benda yang menguap. (Asdak,1995).
Penguapan bisa dihitung secara gravimetri. Cara ini kurang teliti, tetapi setidaknya memberikan gambaran kasar berapa penguapan harian di suatu tempat, misalnya pada rumah kaca. Besarnua penguapan ini dapat digunakan sebagai dasar pemberian air dalam pot di suatu tempat. Pada acara ini akan dipraktikkan pendugaan penguapan air dengan panci evaporasi. (Hakim, et.all, 1986)
Tiga istilah evaporasi yang sering digunakan di dalam studi agroklimatologi adalah (1) evaporasi (Epan), yang menggambarkan jumlah air menguap dari permukaan air langsung ke atmosfir (misalnya dari danau dan sungai), (2) evapotranspirasi aktual (ETa), yang menggambarkan jumlah air pada permukaan tanah yang berubah menjadi uap air pada kondisi normal, dan (3) evapotranspirasi potensial (ETp) adalah kehilangan air yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan vegetasi yang terjadi pada saat kondisi air tanah jenuh (Runtunuwu, et. All,2008).
Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air yang hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling banyak digunakan sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan panci ini dipengaruhi oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu udara dan besarnya angin pada tempat pengukuran (Hanum, 2009).
Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan gabungan dua istilah yang menggambarkan proses fisika transfer air ke dalam atmosfer, yakni evaporasi air dari permukaan tanah, dan transpirasi melalui tumbuhan. Evapotranspirasi merupakan komponen penting dalam keseimbangan hidrologi. Di lingkungan terestrial, evapotranspirasi merupakan komponen tunggal terbesar siklus air.
Evapotranspirasi (ET) adalah ukuran total kehilangan air (penggunaan air) untuk suatu luasan lahan melalui evaporasi dari permukaan tanaman. Secara potensial ET ditentukan hanya oleh unsur – unsur iklim, sedangkan secara aktual ET juga ditentukan oleh kondisi tanah dan sifat tanaman (Handoko,1995). Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan terus hampir tanpa berhenti disiang hari dan kerap kali dimalam hari, perubahan dari keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi, proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi (Wahyuningsih,2004).
Pengukuran evapotranspirasi meliputi evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual. Evapotranspirasi potensial (ETo) adalah penguapan air dari areal tanaman rumput hijau setinggi 8-15 cm dengan ketinggian seragam dan seluruh permukaan tanah teduh tanpa bagian yang menerima sinar matahari langsung, rumput masih tumbuh aktif tanpa kekuranagn air (Doonrenbos dan Pruitt, 1977).
Eto ini dapat diduga dengan menggunakan rumus empiris. Rumus yang digunakan dapat dengan metode Biancy-cridle, Radiasi, dan Penman. ETo juga dapat diukur langsung dengan panci evaporasi, yaitu panci evaporasi klas A, diameter 121 cm dan kedalaman panic 25,5 cm.(Usman,2004).
Perkiraan evaporasi dan transpirasi adalah sangat penting dalam pengkajian-pengkajian hidrometeorologi. Pengukuran langsung evaporasi maupun evapotranspirasi dari air ataupun permukaan lahan yang besar adalah tidak mungkin pada saat ini. Akan tetapi beberapa metode yang tidak langsung telah dikembangkan yang akan memberikan hasil-hasil yang dapat diterima (Supartha,1998)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Evaporasi 1. Radiasi Matahari
Pada setiap perubahan bentuk zat; dari es menjadi air (pencairan), dari zat cair menjadi gas (penguapan) dan dari es lengsung menjadi uap air (penyubliman) diperlukan panas laten (laten heat). Panas laten untuk penguapan berasal dari radiasi matahari dan tanah. Radiasi matahari merupakan sumber utama panas dan mempengaruhi jumlah evaporasi di atas permukaan bumi, yang tergantung letak pada garis lintang dan musim.
Radiasi matahari di suatu lokasi bervariasi sepanjang tahun, yang tergantung pada letak lokasi (garis lintang) dan deklinasi matahari. Pada bulan Desember kedudukan matahari berada paling jauh di selatan, sementara pada bulan Juni kedudukan matahari berada palng jauh di utara.
2. Temperatur
Temperatur udara pada permukaan evaporasi sangat berpengaruh terhadap evaporasi. Semakin tinggi temperatur semakin besar kemampuan udara untuk menyerap uap air.
Selain itu semakin tinggi temperatur, energi kinetik molekul air meningkat sehingga molekul air semakin banyak yang berpindah ke lapis udara di atasnya dalam bentuk uap air. Oleh karena itu di daerah beriklim tropis jumlah evaorasi lebih tinggi, di banding dengan daerah di kutub (daerah beriklim dingin). Untuk variasi harian dan bulanan temperatur udara di Indonesia relatif kecil. (Yatini,2004)
3. Kelembaban Udara
Pada saat terjadi penguapan, tekanan udara pada lapisan udara tepat di atas permukaan air lebih rendah di banding tekanan pada permukaan air. Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan terjadinya penguapan. Pada waktu penguapan terjadi, uap air bergabung dengan udara di atas permukaan air, sehingga udara mengandung uap air.
Udara lembab merupakan campuran dari udara kering dan uap air. Apabila jumlah uap air yang masuk ke udara semakin banyak, tekanan uapnya juga semakin tinggi. Akibatnya perbedaan tekanan uap semakin kecil, yang menyebabkan berkurangnya laju penguapan. Apabila udara di atas permukaan air sudah jenuh uap air tekanan udara telah mencapai tekanan uap jenuh, di mana pada saat itu penguapan terhenti. Kelembaban udara dinyatakan dengan kelembaban relatif.
4. Kecepatan Angin
Penguapan yang terjadi menyebabkan udara di atas permukaan evaporasi menjadi lebih lembab, sampai akhirnya udara menjadi jenuh terhadap uap air dan proses evaporasi terhenti. Agar proses penguapan dapat berjalan terus lapisan udara yang telah jenuh tersebut harus diganti dengan udara kering. Penggantian tersebut dapat terjadi apabila ada angin.
Oleh karena itu kecepatan angin merupakan faktor penting dalam evaporasi. Di daerah terbuka dan banyak angin, penguapan akan lebih besar daripada di daerah yang terlindung dan udara diam.
Untuk di negara Indonesia, kecepatan angin relatif rendah. Pada musim penghujan angin dominan berasal dari barat laut yang membawa banyak uap air, sementara pada musim kemarau angin berasal dari tenggara yang kering. (Triadtmojo,2010).
5. Kelembaban relatif
Hubungan Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Teratai Putih (Nymphea alba)
Pada tumbuhan , terjadi peristiwa kohesi karena adanya ikatan hydrogen yang berperan pada pengangkutan transport. air yang melawan gravitasi Air mencapaidaun melalui pembuluh-pembuluh mikroskopik yang menjulur ke atas dari akar. Air yang menguap dari daun digantikan oleh air dari pembuluh dalam urat daun. Ikatan hydrogen menyebabkan molekul air yang keluar dari urat daun dapat menarik molekul air yang berada lebih jauh dalam pembuluh, dan tarikan ke depan tersebutakan terus ditransmisi sepanjang pembuluh sampai ke akar. Adhesi air pada dinding pembuluh membantu melawan gravitasi (Campbell,2010).
Akar mengabsorbsi air dengan cara osmosis oleh karena itu absorsi air oleh tanaman mungkin dilakukan dengan mengendalikan potensial air larutan dimana akar itu berada. Jika potensial osmotik larutan luar lebih rendah dari potensial osmotik sel-sel akar, maka air dapat masuk dari larutan luar ke dalam system akar. Dengan meningkatnya konsentrasi zat-zat terlarut maka masuknya air ke dalam akar akan menjadi lebih lambat sampai arah pergerakan air mungkin akan terbalik.
Evaporasi & transpirasi adalah proses penguapan air dari sel-sel yang hidup pada jaringan tumbuhan. Sel hidup tumbuh-tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan lenti sel. (Anggarwulan,2005).
Air di dalam jaringan tanaman selain berfungsi sebagai penyusun utama jaringan yang aktif mengadakan kegiatan fisiologis juga berperan penting dalam memelihara turgiditas yang diperlukan untuk pembesaran dan pertumbuhan sel. Peranan yang penting ini menimbulkan konsekuensi bahwa secara langsung atau tidak langsung defisit air tanaman akan mempengaruhi semua proses metabolisme dalam tanaman yang mengakibatkan tergantungnya proses pertumbuhan (Lestari, 2006).
Tanaman juga memiliki rehidrasi atau cekapan air, tidak hanya kondisi air dan salinitas tinggi. Cekaman kekeringan dapat mempengaruhi sebagai mekanisme seluler, biokimia, dan fisiologi tanaman. Pada tingkat seluler kekeringan mengakibatkan kehilangan air protoplastik sehingga konservasi ion meningkat. Menghambat fungsi-fungsi metabolik dan meningakatkan kemungkinan terjadinya interaksi antar molekul yang dapat menyebabkan denaturasi protein dan fusi membran. Pengaruh negatif cekaman kekeringan terhadap tanaman ditentukan oleh tingkat cekaman dan fase pertumbuhan saat mengalami cekaman (Magnard, 2008).
Dampak Evaporasi Terhadap Pertumbuhan Teratai Putih (Nymphaea alba)
Air mempunyai fungsi penting dalam tanah, dimana air penting dalam pelapukan mineral dan bahan organik, reaksi yang menyiapkan hara laut bagi pertumbuhan tanaman, juga membantu proses metabolisme.(Seyhan,1990).
Air berfungsi sebagai media penggerak hara ke akar akar hara tanaman. Bila air terlalu banyak, hara-hara yang lewat atau ada yang tercuci dan hilang dari perakaran.(Hardjowigeno,1987).
Pergerakan air pada tumbuhan, khususnya pada tanaman teratai putih (Nymphea alba) berjalan secara osmosis dan difusi yang berupa pengisapan air dalam tanah.
Akan tetapi pemasukan air pada tumbuhan itu haruslah seimbang dengan pengeluaran air, agar tercapai keseimbangan air pada tumbuhan tersebut yakni dengan cara penguapan, yaitu transpirasi dan evaporasi. (Budi,2008).
Daun berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar dan tipis yang terpotong pada jari-jari menuju ke tangkai. Daun teratai yang bundar, lebar, dan tipis berfungsi memudahkan proses fotosintesis dan mengurangi penguapan.
terkandung dalam suatu larutan (cair) maupun dalam bentuk padatan menjadi uap.
2. Evapotranspirasi adalah perpaduan dua proses yakni evaporasi dan transpirasi.
3. Faktor-faktor yang memengaruhi evaporasi adalah suhu air, suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, tekanan udara, radiasi surya, dan lainnya yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
4. Hubungan evaporasi terhadap petumbuhan Teratai (Nymphea alba) membentuk kurva stasioner, artinya mempunyai batas toleransi maksimum
Hasanudin
Agustina, H., 2009. Efisiensi Penggunaan Air Pada Tiga Teknik Hidroponik Untuk Biaya Rancangan Bayam Hijau. Skripsi. FMIPA UI
Anggarwulan, E., W. Mudyantini, 2005. Pengaruh Ketersediaan Air terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Bahan Aktif Saponin Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.). Biofarmasi 3
Anwar, J.T., 2011. Aplikasi Formulasi Insektidi Nabati Campuran Ekstrak Piper retrofactum Vahl. Dan Annona squomosa L. Pada pertanaman Teratai. Jurnal. Respository IPB
Apriyana, E. 2000. Bahan Ajar Etnobotani "Usada". Jurusan Biologi, FMIPA, UNUD Denpasar.
Asdak, C., 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Budi, A.F.S., 2008. Pengelolaan Air Permukaan sebagai Bahan Baku. Jurnal. FITB ITB
Campbell, Neil A., 2010. Biologi JILID I. Jakarta: Erlangga
Doorenbos, R.J. dan W.O. Pruit. 1976. Agrometeorological Field Station Irrigation and Drainage Paper no 27. FAO. Rome.
Dwidjoseputro, D., 1990. Dasar- Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan
Hakim, N, M. Y. Nyakpa, S. G. Nugroho, A.M. Lubis, M.R. Saul, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.
Hanum, C. 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi Agronomi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Hardjowigeno, Sarwono. 1987.Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Hardjowigeno, sarwono. Ilmu tanah . sifat-sifat kimia tanah “penetapan ph tanah”. 2010. Jakarta.
Hutabarat. 1986. Manfaat Klimatologi Bagi Pertanian. Bumi Penerbit. Surabaya Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi, PT. Raja Grafindo. Persada, Jakarta. Lestari, Endang G. 2006. Hubungan antara Kerapatan Stomata dengan Ketahanan
Novary, E.W., 1997. Penanganan dan Pengolahan Sayuran Segar. Penebar Swadaya. Jakarta
Prawirwardoyo, S., 1996. Meteorologi UGM PRESS. Yogyakarta Rismunandar,. 1995. Kayu Manis. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. Sabaruddin,Laode.2012.Agroklimatologi.Alfabeta:Bandung.
Supartha, N.O.1998. Fungsi Tumbuh-tumbuhan Dalam Upacara Agama Hindu. Prosiding Seminar Nasional Etnobotani III. Denpasar.
Suryatmojo, H. 2006. Konsep Dasar Hidrologi Hutan. Jurusan Konservasi.Sumber Daya Hutan. Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.
Triatmojo, B., 2010. Hidrologi Terapan BetaOffset. Yogyakarta
Warianto. 2011. Ketrampilan Proses Sains. Kencana Prenada Media Group. Jakarta
ADAT SUMAMPAN, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN GIANYAR, BALI
THE BENEFITS OF THE LOTUS PLANT (Nymphaea sp., Nymphaeaceae) IN SUMAMPAN VILLAGE, DISTRICT OF SUKAWATI, GIANYAR REGENCY,
BALI.
Gusti Ayu Nyoman Budiwati , Eniek Kriswiyanti
Lab. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Kuta
Email :[email protected]
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat tanaman teratai di Desa Adat Sumampan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 4 - 16 Februari 2013. Metode yang digunakan survei eksploratif dengan cara observasi langsung dan wawancara terhadap 1 narasumber utama dan 15 KK dari 3 banjar. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 macam teratai berdasarkan warna bunga: teratai sudamala (Nymphoides indica) (4,54%), teratai kuning (21,21%), teratai biru tua (Nymphaea stellata Wild) (12,12%), teratai merah muda (16,66%), teratai ungu tua (9,09%), teratai ungu muda (9,09%), teratai putih (Nymphaea nouchali Burm f.) (18,18%), teratai biru muda (Nymphaea stellata Wild) (3,03%), teratai tutur (1,51%), teratai dedari (1,51%) dan teratai brumbun (3,03%). Tanaman teratai tersebut digunakan sebagai sarana upakara/banten 77,41%, sebagai tanaman hias 16,12 %, dan sebagai bahan obat 6,45 %, untuk obat kanker payudara, rematik, sakit kepala, menghilangkan stress, rasa takut, dan membersihkan hati serta pankreas. Dengan cara penggunaan tempel, minum, pupuk dan boreh.
Kata kunci : Survai eksploratif, Manfaat teratai,tempel, pupuk, boreh
ABSTRACT
This purpose of this research was to determine the benefits of the lotus plant in Sumampan Village, District of Sukawati, Gianyar, Bali. The research was conducted from 4 to 16 February 2013. The method was used in this study is exploratory survey by direct observation and interviews with one main informant and 15 KK from 3 banjar. The results showed there were 11 kinds of lotus : lotus sudamala ( Nymphoides indica ) (4.54 %), yellow lotus (21.21 %), dark blue lotus ( Nymphaea stellata Wild ) (12.12 %), pink lotus (16.66 % ), violet lotus (9.09 %), purple lotus (9.09 %), white lotus (Nymphaea nouchali Burm f.) (18.18 %), light blue lotus (Nymphaea stellata Wild ) (3.03 %), lotus tutur (1.51 %), lotus dedari (1.51 %) and lotus brumbun (3.03 %). The lotus plant is used as a upakara / banten 77.41 % , 16.12 % as ornamental plants, while 6.45 % as a medicine for breast cancer drug, arthritis, headaches, stress, fear, and cleanser the liver and pancreas. As a medicine, lotus plant was used in it’s from as tempel, solutions, pupuk and boreh.
Key word: exploratory survey, benefits lotus, tempel, pupuk, boreh
PENDAHULUAN
Pulau Bali atau pulau Dewata
memang sangat terkenal di dunia. Pulau
Bali memiliki daya tarik tersendiri bagi
keindahan alamnya, tradisi ataupun
kebudayaannya yang masih dipertahankan
hingga sekarang. Tradisi tersebut
diwariskan secara turun – temurun oleh
para tetua kepada cucu – cucunya melalui
interaksi secara langsung ataupun dari
mulut ke mulut. Budaya yang unik antara
lain pengobatan tradisional yang disebut
Usada dan upacara keagamaan yang
dilakukan oleh umat Hindu yang disebut
upacara Yadnya. Usada berasal dari kata
“ausadhi” (bahasa sansekerta) yang berarti
tumbuhan berkhasiat obat. Pengobatan
tradisional banyak memanfaatkan bahan –
bahan yang ada disekitar kita, baik berupa
tanaman, hewan maupun mineral.
Pengobatan tradisional paling tidak
melibatkan tiga pihak yaitu penderita sakit,
dukun (balian) dan penyedia bahan obat
seperti alam atau pusat pengembangan
obat tradisional maupun pedagang
terutama di pasar – pasar tradisional
(Kriswiyanti, 2004).
Tanaman digunakan sebagai
sarana upacara yadnya sesungguhnya
bertujuan untuk menanamkan nilai
pelestarian alam pada jiwa setiap umat.
Diharapkan dengan nilai tersebut akan
tumbuh suatu upaya nyata untuk
memelihara dengan sungguh - sungguh
kesejahteraan alam tersebut (Lembaga
Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Udayana, 2004).
bagi masyarakat Bali khususnya umat
Hindu adalah tanaman teratai. Dalam
prosesi ritual agama Hindu, khususnya di
Bali, bunga teratai dipandang memiliki
makna yang dalam. Bunga teratai
dilukiskan sebagai padma astadala, yang
merupakan simbolis alam semesta stana
Hyang Widhi Wasa (Lembaga Pengabdian
Kepada Masyarakat Universitas Udayana,
2004). Bunga teratai lebih dikenal dengan
nama bunga tunjung oleh umat Hindu di
Bali. Bunga teratai memiliki
keistimewaan, ia dapat hidup seolah – olah
dalam tiga dunia yang berbeda yaitu
akarnya terpancang di tanah, tangkai dan
ujung daunnya hidup di air, bunganya
sendiri menyembul di udara. Selain itu
bunga teratai juga dilambangkan sebagai
Dewa Tri Murti. Selain digunakan sebagai
sarana upakara/banten, tanaman teratai
dapat juga digunakan sebagai obat karena
mengandung beberapa kandungan kimia
yang berbeda disetiap bagiannya (Ruang
Berkascom., 2013). Di desa adat
Sumampan, bunga teratai hampir ditanam
disetiap rumah warga, oleh karena itu
dilakukan penelitian mengenai manfaat
tanaman teratai di Desa Adat Sumampan,
Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,
Metode penelitian survei
eksploratif dengan cara observasi langsung
dan mewawancarai narasumber
menggunakan kuisioner (Waluyo, 2004).
Secara acak diambil 15 KK sebagai
narasumber yang merupakan perwakilan
dari 3 banjar yaitu banjar Sumampan,
Medahan dan Batu sepih. Data hasil
kuisioner penelitian dikumpulkan dan
jumlah serta bagian tanaman teratai yang
digunakan kemudian dihitung
persentasenya, selanjutnya data
disampaikan dalam bentuk histogram.
Variabel penelitian meliputi manfaat
teratai, macam - macam teratai, jumlah
teratai yang ditemukan serta bagian
tanaman teratai yang digunakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Berdasarkan hasil penelitian
diketahui terdapat 11 macam tanaman
teratai berdasarkan warna bunga yaitu
teratai sudamala (Nymphoides indica)
yang berwarna putih dengan mahkota
bunga yang berukuran kecil dan berbulu
halus pada permukaannya (4,54%), teratai
kuning (21,21%), teratai biru tua
(Nymphaea stellata Wild) (12,12%),
teratai merah muda (16,66%), teratai ungu
tua (9,09%), teratai ungu muda (9,09%),
teratai putih (Nymphaea nouchali Burm
f.) (18,18%), teratai biru muda
(Nymphaea stellata Wild) (3,03%), teratai
tutur dengan bunga berwarna merah tua
(1,51%), teratai dedari dengan bunga
yang berubah warna setiap minggunya
(1,51%) dan teratai brumbun dengan
bunga berwarna putih (3,03%). Tanaman
teratai di Desa Adat Sumampan banyak
dimanfaatkan sebagai sarana
upakara/banten (77,41%) yang meliputi :
upacara pebayuhan, penglukatan, otonan,
bunga hiasan canang, sarana
persembahyangan dan upacara ngaben,
serta tanaman hias (16,12%) dan bahan
ramuan obat tradisional (6,45%).
\
Gambar 1. Jenis – jenis tanaman teratai di Desa Adat Sumampan Keterangan :
1.Teratai sudamala dengan bunga bewarna putih (Nymphoides indica) (Harta, 2011); 2. Teratai biru tua (Nymphaea stellata Wild) (Kriswiyanti, 2007); 3. Teratai putih (Nymphaea nouchali Burm f.) ; 4. Teratai kuning ; 5. Teratai biru muda (Nymphaea stellata Wild) (Kriswiyanti, 2007); 6. Teratai brumbun dengan bunga berwarna putih; 7. Teratai ungu tua; 8.Teratai ungu muda; 9. Teratai merah muda; 10. Teratai tutur dengan bunga berwarna merah tua; 11. Teratai dedari dengan bunga yang berubah warna setiap minggunya.
3 2
1
6 5
4
9 8
7
Gambar 2. Persentase Penggunaan Tanaman Teratai Berdasarkan Pemanfaatannya
Gambar 3. Diagram Persentase Jumlah Teratai dan Jenis Teratai yang ditemukan di Desa Adat Sumampan
Pembahasan
Teratai yang ditemukan di Desa
Adat Sumampan ada 11 macam teratai
berdasarkan warna bunganya yaitu teratai
sudamala dengan bunga berwarna putih
dengan mahkota bunga yang berukuran
kecil dan berbulu halus pada
permukaannya (Nymphoides indica)
(4,54%), teratai kuning (21,21%), teratai
biru tua (Nymphaea stellata Wild) 77,41%
16,12% 6,45%
M anfaat Tanaman Teratai
Sarana upakara/ bant en (77,41%)
Tanam an Hias (16,12%)
Ram uan obat t radisional (6,45%)
Terat ai Biru M uda
Terat ai Brum bun
Terat ai Tut ur
teratai ungu tua (9,09%), teratai ungu
muda (9,09%), teratai putih (Nymphaea
nouchali Burm f.) (18,18%), teratai biru
muda (Nymphaea stellata Wild) (3,03%),
teratai tutur dengan bunga berwarna
merah tua (1,51%), teratai dedari dengan
bunga yang berubah warna setiap
minggunya (1,51%) dan teratai brumbun
dengan bunga berwarna putih (3,03%).
Teratai juga dimanfaatkan berdasarkan
warna bunganya, teratai yang paling
banyak ditemukan adalah teratai kuning
sebesar 21,21% sedangkan yang paling
sedikit ditemukan adalah teratai tutur dan
teratai dedari yaitu sebesar 1,51%.
Berdasarkan hasil wawancara
dengan narasumber disebutkan bahwa
teratai tutur dan dedari merupakan teratai
yang paling jarang ditemukan, teratai ini
juga jarang berbunga. Teratai tutur
bunganya berwarna merah tua sedangkan
teratai dedari warna bunganya mengalami
perubahan warna setiap seminggu sekali,
mulai dari kuning setelah satu minggu
menjadi kuning merah, minggu
berikutnya berubah menjadi merah, lalu
seminggunya lagi merah kehijauan
sampai hijau sekali lalu menjadi hijau
kekuningan, selain itu daun teratai dedari
memiliki perbedaan dengan daun teratai
pada umumnya, daun teratai dedari
menyerupai daun kangkung. Teratai
sudamala (Nymphoides indica) memiliki
bunga teratai lainnya, bunga berwarna
putih berukuran kecil dengan tepi bunga
seperti bulu ayam sehingga disebut juga
sebagai teratai bulu ayam. Daun teratai
sudamala (Nymphoides indica) berukuran
lebih kecil dibandingkan daun teratai pada
umumnya dengan tepi daun rata.
Teratai kuning lebih banyak
dimanfaatkan dibandingkan teratai
lainnya karena selain warna bunganya
indah, pada setiap upacara piodalan,
ngaben serta nyekah selalu menggunakan
teratai kuning. Menurut kidung Aji
Kembang penggunaan teratai kuning
dalam upacara piodalan merupakan
simbolis dari Dewa Mahadewa yang
berstana di barat, sedangkan penggunaan
teratai kuning pada upacara ngaben serta
nyekah bertujuan agar orang yang sudah
meninggal tersebut dalam kelahiran
berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia
yang tekun mengerjakan tapa, brata, dan
mempunyai budi yang luhur (Lembaga
Pengabdian Kepada Masyarakat, 2004).
Teratai kuning merupakan teratai yang
susah ditemukan di tempat lain, oleh
karena itu warga berkeinginan untuk
memiliki pot sendiri sehingga pada saat
memerlukan bunga teratai kuning, tidak
susah dicari. Langkanya teratai ini dapat
disebabkan karena sering digunakan tanpa
penanaman kembali serta masyarakat
tanaman ini.
Pemanfaatan tanaman teratai di
Desa Adat Sumampan antara lain sebagai
sarana upakara/banten (77,41%),
tanaman hias (16,12%) dan bahan ramuan
obat (6,45%). Sarana upakara/banten
meliputi : upacara pebayuhan,
penglukatan, otonan, bunga hiasan
canang, sarana persembahyangan dan
upacara ngaben. Pemanfaatan tanaman
teratai sebagai sarana upakara/banten
memiliki jumlah persentase paling tinggi
dalam penggunaannya yaitu sebesar 77,41
% sedangkan pemanfaatan tanaman
teratai sebagai tanaman hias dengan
persentase sebesar 16,12% dan
pemanfaatan tanaman teratai sebagai
bahan ramuan obat memiliki persentase
terendah sebesar 6,45 %. Teratai
melambangkan alam kedewataan dan
tempat duduk para Dewa di sembilan
penjuru mata angin yang dikenal dengan
nama dengan Dewata Nawa Sanga
(Supartha, 1998).
Dalam kidung Aji Kembang,
bunga teratai digunakan sebagai simbol
Dewata Nawa Sanga. Bunga teratai warna
putih digunakan sebagai simbol Dewa
Iswara yang berstana di timur, Bunga
teratai warna dadu digunakan sebagai
simbol Dewa Maheswara yang berstana
di tenggara, Bunga teratai warna merah
digunakan sebagai simbol Dewa Brahma
warna jingga digunakan sebagai simbol
Dewa Rudra yang berstana di barat daya,
Bunga teratai warna kuning digunakan
sebagai simbol Dewa Mahadewa yang
berstana di barat, Bunga teratai warna
hijau digunakan sebagai simbol Dewa
Sangkara yang berstana di barat laut,
Bunga teratai warna hitam digunakan
sebagai simbol Dewa Wisnu yang
berstana di utara, Bunga teratai warna
biru digunakan sebagai simbol Dewa
Sambu yang berstana di timur laut, Bunga
teratai warna lima (panca warna)
digunakan sebagai simbol Dewa Siwa
yang berstana di tengah (Lembaga
Pengabdian Kepada Masyarakat, 2004).
Dalam lontar Aji Kembang
dan lontar Siwa Pakarana, Bunga teratai
dilukiskan sebagai padma astadala. Hal
ini merupakan simbolis alam semesta
stana Sang Hyang Widhi Wasa. Bunga
teratai merupakan bunga yang istimewa
karena ia dapat hidup seolah – olah dalam
tiga dunia yang berbeda yaitu akarnya
terpancang di tanah, tangkai daun dan
ujung daun hidupnya di air, sedangkan
bunganya sendiri menyembul di udara.
Selain itu dalam lontar sejarah perjalanan
Dang Hyang Dwijendra, dapat pula
dijumpai penjelasan tentang bunga teratai
sebagai lambang Tri Murti (Lembaga
dengan narasumber dapat diketahui
bahwa pemanfaatan teratai sebagai sarana
upakara/banten di Desa Adat Sumampan
antara lain: upacara pebayuhan,
penglukatan, otonan, bunga hiasan
canang, sarana persembahyangan dan
upacara ngaben. Beberapa contoh
pemanfaatan teratai sebagai sarana
upakara/banten yaitu pada upacara
ngenteg linggih, khususnya pada banten
tebasan panca lingga yang menggunakan
lima macam teratai yaitu teratai merah,
putih, kuning, biru dan sudamala. Selain
upacara ngenteg linggih yaitu pada
upacara catur / nyatur menggunakan 4
jenis teratai antara lain teratai merah,
putih, kuning dan biru. Pada Sekar Bagia
/ Pulekerti menggunakan 11 macam
teratai.
Menurut sastra: Lontar Jyotisha
mebayuh atau metubah dilakukan untuk
“mengurangi keburukan dan menambah
kebaikan” maka upacara itu dilakukan
pada saat otonan dimana waktu
pelaksanaannya menurut perhitungan:
wuku, sapta wara, dan panca wara (Nuse,
2013). Teratai yang digunakan pada
upacara pebayuhan adalah teratai putih
(Nymphaea nouchali Burm f.) dan teratai
brumbun (Hasil wawancara). Penglukatan
dari kata lukat dan ruwatan ada konotasi
pengertian yaitu suatu peningkatan
kualitas diri. Istilah lukat umum
dan istilah ruwat pada masyarakat
berbudaya Jawa (Putra, 2013). Melukat
mempunyai arti yang sama dengan
mebayuh, namun perbedaannya yaitu
pada benten yang digunakan, melukat
bantennya lebih kecil dibanding dengan
mebayuh. Teratai yang biasa digunakan
untuk upacara penglukatan adalah teratai
sudamala (Nymphoides indica), teratai
putih (Nymphaea nouchali Burm f.) dan
teratai kuning (Hasil wawancara).
Otonan berasal dari kata pawetuan
dan lebih mendasar lagi berasal dari kata
wetu, yang artinya keluar atau lebih
tepatnya dalam kaitan ini : lahir. Jadi
otonan adalah upacara memperingati hari
kelahiran kita (manusia) ( Nuse, 2013).
Teratai yang biasa digunakan untuk
upacara otonan adalah teratai merah
muda, putih, kuning dan biru, salah satu
contohnya pada saat upacara gogo –
gogoan bayi tiga bulanan menggunakan
teratai 4 warna, karena melambangkan
dewa – dewa yang berstana pada seluruh
penjuru mata angin. Dalam Dewata Nawa
Sanga terdiri dari dari 4 warna dasar yaitu
: merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini
disebabkan karena warna hijau yang
berada di barat laut ( barat dan utara )
merupakan perpaduan antara kuning dan
hitam ; warna dadu yang berada di
tenggara ( timur dan selatan ) merupakan
barat dan selatan ) merupakan perpaduan
antara merah dengan kuning (Lembaga
Pengabdian Kepada Masyarakat, 2004).
Bunga teratai memiliki warna yang
indah dan berbau harum sehingga bagus
digunakan sebagai bunga hiasan canang
dan sarana persembahyangan. Teratai
yang biasa digunakan sebagai bunga
hiasan canang dan sarana
persembahyangan adalah teratai putih
(Nymphaea nouchali Burm f.), teratai
merah muda, teratai kuning dan teratai
biru. Dalam persembahyangan Catur,
akan ditentukan warna bunga yang dipilih
sesuai dengan warna Dewa – dewa Catur
Lokapala, yang harum, salah satu
contohnya yaitu teratai putih dipilih untuk
muspa kehadapan Dewa Iswara, dan
teratai kuning dipilih untuk muspa ke
hadapan Dewa Mahadewa (Supartha,
1998).
Upacara Ngaben sesungguhnya
berasal dari kata "beya" artinya bekal,
yakni berupa jenis upakara yang
diperlukan dalam upacara ngaben
tersebut. Kata beya yang berarti bekal,
kemudian dalam bahasa Indonesia
menjadi biaya atau "prabeya" dalam
bahasa Bali. Orang yang
menyelenggarakan beya dalam bahasa
Bali disebut "meyanin". Kata Ngaben atau
meyanin, sudah menjadi bahasa baku,
untuk menyebutkan upacara "sawa
adalah upacara penyelenggaraan sawa
(jenasah) bagi orang yang sudah
meninggal (Ardana, 2010). Teratai yang
digunakan pada upacara ngaben
menggunakan teratai putih (Nymphaea
nouchali Burm f.) dan kuning yaitu pada
saat potong rambut sekah (Hasil
wawancara). Pemanfaatan tanaman teratai
sebagai sarana upakara/banten di Desa
Adat Sumampan hanya terbatas pada
bagian bunganya saja, namun bagian
daunnya juga dapat digunakan yaitu pada
saat upacara Pitra yadnya, ketika
dilaksanakan upacara nyiramang layon
(memandikan jenasah), daun teratai untuk
menutup kemaluan pada jenasah wanita
diharapkan agar bhaga atau vaginanya
berbentuk bagus dan harum seperti bunga
teratai (Supartha, 1998).
Teratai dimanfaatkan sebagai
tanaman hias karena bunganya yang indah
dan beraneka macam serta multifungsi.
Selain untuk sarana upakara/banten dan
tanaman hias, di Desa Adat Sumampan
teratai juga digunakan sebagai bahan
ramuan obat tradisional untuk obat kanker
payudara, menghilangkan stress dan rasa
takut, meningkatkan percaya diri,
membersihkan hati (hepar),
membersihkan pankreas, obat sakit kepala
dan obat rematik. Selain itu teratai juga
dapat digunakan sebagai obat diare,
darah, mimisan, batuk darah, sakit
jantung, beri-beri, berak dan kencing
darah, anemia, ejakulasi dan lain – lain
(Ruang Berkascom., 2013).
Seluruh bagian tanaman teratai
meliputi rimpang, daun dan tangkai,
bunga dan benang sari, biji dan
penyangga bunga yang seperti sarang
tawon/ spons (reseptacle), serta tunas biji
dapat digunakan untuk pengobatan.
Pemakaian segar atau yang telah
dikeringkan. Teratai mengandung
beberapa kandungan kimia yang berbeda
disetiap bagiannya. Pada bunga
mengandung lutiolin, isokuersitrin,
kuersetin, dan kaemferol. Benang sari
mengandung alkaloid, isokersitrin,
leteolin, kuersetin dan galuteolin.
Penyangga bunga mengandung protein,
lemak, karbohidrat karoten, asam
nikotinat, vitamin B1, B2, dan C. Biji
teratai mengandung zat pati yang
mengandung raffinosa, protein, lemak,
karbohidrat, kalsium, posfor, dan zat besi.
Tunas biji mengandung liensinin,
isoliensinin, neferin, nuciferin,
prouciferin, lotusina, methylcorypallin,
demethylcoclaurine, geluteolin dan
hyperin. Rimpang mengandung pati,
protein, asparagin, vitamin C,
d-gallacotechol, neochlorogenik acid,
leucocyanidin dan peroksidasi. Akar
mengandung zat tanat, dan asparagin.
nornuciferin. Tangkai daun mengandung
roemerin, nornuciferin, resin, dan zat
tanat (Ruang Berkascom., 2013).
Menurut Nuraini (2007), berdasarkan uji
aktivitas antibakteri dan antioksidan
terhadap ekstrak biji teratai (Nymphaea
pubescens Willd), diketahui biji teratai
mengandung senyawa gula, asam amino,
glikosida, dan karbohidrat dalam jumlah
yang besar sehingga dapat digunakan
sebagai obat anti diare, insomnia,
penambah stamina, dan penunda penuaan
(obat awet muda). Di Desa Adat
Sumampan bagian tanaman teratai yang
biasa dimanfaatkan sebagai ramuan obat
hanya bagian bunga dan daun saja (Hasil
wawancara). Berdasarkan hasil
wawancara dengan narasumber maka
didapatkan resep ramuan obat yang
menggunakan bagian bunga dan daun
tanaman teratai adalah sebagai berikut :
1). Obat kanker payudara; bahan : daun
sirih 3 lembar, kemiri setengah biji, garam
secukupnya, daun teratai biru. Cara
pengolahan dan penggunaan : semua
bahan diulek atau diparut kemudian di
tempel pada payudarayang sakit. 2)
Menghilangkan rasa takut , stress, dan
meningkatkan percaya diri; bahan: bunga
teratai kuning. Cara penggunaan yaitu
dengan mandi bunga teratai kuning.
3). Membersihkan hati dan pankreas;
(Nymphaea stellata Wild) direndam
dengan air putih satu gelas selama
beberapa menit kemudian air rendaman
tersebut diminum. 4) Obat sakit kepala;
bahan: bunga teratai sudamala
(Nymphoides indica). Cara penggunaan:
bunga teratai sudamala (Nymphoides
indica) diletakkan di ubun – ubun. 5).
Obat rematik; bahan: bunga teratai merah.
Cara pengolahan dan penggunaan : sintok
(rempah – rempah secukupnya, bunga
teratai merah muda, kencur dan beras
kemudian dicampur dengan air arak.
Selanjutnya diusapkan pada bagian tubuh
yang sakit.
Beberapa bentuk, pengolahan dan
cara penggunaan bahan obat tradisional
atau Tempel (Kriswiyanti, 2004).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat dibuat
kesimpulan sebagai berikut:
1. Teratai yang ditemukan di Desa Adat
Sumampan terdiri dari 11 macam
berdasarkan warna bunga yaitu teratai
sudamala dengan bunga berwarna putih
dengan mahkota bunga yang berukuran
kecil dan berbulu halus pada
permukaannya (Nymphoides indica)
(4,54%), teratai kuning (21,21%), teratai
muda (Nymphaea stellata Wild) (3,03%),
teratai tutur dengan bunga berwarna
2. merah tua (1,51%), teratai dedari dengan
bunga yang berubah warna setiap
minggunya (1,51%) dan teratai brumbun
yang berwarna putih (3,03%).
3. Pemanfaatan tanaman teratai sebagai
sarana upakara/banten 77,41% , tanaman
hias 16,12 % dan sebagai bahan ramuan
obat memiliki persentase terendah sebesar
6,45 %. Digunakan untuk obat kanker
payudara, rematik, sakit kepala,
menghilangkan stress, rasa takut, dan
membersihkan hati serta pankreas.
Penggunaan dengan cara tempel, minum,
Dari hasil penelitian ini,
diharapkan dilakukan penelitian lebih
lanjut mengenai perbedaan kandungan
pada bunga teratai berdasarkan perbedaan
warna bunganya, apakah warna bunga
yang berbeda memiliki kandungan yang
khasiatnya sebagai obat. Selain itu
diharapkan penelitian ini dapat digunakan
sebagai dasar dari penelitian taksonomi,
reproduksi, pemuliaan tanaman dan
konservasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardana I. W. Upacara Ngaben di Bali.
Tersedia di:
http://baliohbali.blogspot.com/2010 /02/upacara-ngaben-di-bali.html [17 Februari 2013].
Harta, P. E. W. 2011. Studi Pola Reproduksi dan Uji Viabilitas Serbuk Sari
Tanaman Teratai Nymphaea
pubescens, Nelumbium nelumbo, dan Nymphoides indica. [Skripsi].
Jurusan Biologi, Universitas
Udayana. Bali.
Kriswiyanti, E. 2004. Bahan Ajar
Etnobotani “Usada” . Jurusan
Biologi, F. MIPA, UNUD.
Denpasar.Lembaga Pengabdian
Kepada Masyarakat, 2004. Taman
Gumi Banten. Pelawasari ;
Universitas Udayana.
Nuraini. A. D. 2007. Ekstraksi Komponen Antibakteri dan Antioksidan dari Biji Teratai (Nymphaea pubescens
Willd).[Skripsi]. Fakultas
Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.
Nuse, H. 2013. Mebayuh Oton
Sembahyang di Merajan. Tersedia di: Tanaman Teratai. Tersedia di: http://www.khasiatbuahcom/terata i.html [11 Februari 2013].
Supartha, N. O. 1998. Fungsi Tumbuh – tumbuhan dalam Upacara Agama
Hindu. Prosiding Seminar
Nasional Etnobotani III.Denpasar.
Waluyo, E.B. 2004. Pedoman
Pengumpulan Data
Daur Hidrologi
Daur hidrologi menunjukkan gerakan air di permukaan bumi. Selama
berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke atmosfer
kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut yang tidak pernah habis
tersebut, air tersebut akan tertahan sementara di sungai, danau, dalam tanah
sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia atau mahkluk lain. Siklus hidrologi
adalah proses yang diawali oleh evaporasi kemudian terjadinya kondensasi dari
awan hasil evaporasi (Dumairy, 2002).
Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi aliran
permukaan (surface run off). Aliran permukaan sebagian akan meresap kedalam
tanah menjadi aliran bawah permukaan melalui proses infiltrasi (infiltration) dan
perkolasi (percolation). Apabila kondisi tanah memungkinkan sebagian air infiltrasi
akan mengalir kembali ke dalam sungai (river), atau genangan lainnya seperti
waduk, danau sebagai interflow. Sebagian dari air dalam tanah dapat muncul lagi ke
permukaan tanah sebagai air eksfiltrasi (exfiltration) dan dapat terkumpul lagi dalam
alur sungai atau langsung menuju ke laut (Soewarno, 2000).
Zona Agroklimat
Cuaca dan iklim dinyatakan dengan susunan nilai unsur fisika atmosfer
(disebut unsur cuaca atau unsur iklim) yang terdiri dari : radiasi surya, lama
penyinaran surya, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan arah
awan, presipitasi dan evapotranspirasi. Cuaca adalah nilai sesaat angin, penutupan
awan, presipitasi dan evapotransipirasi.
adalah sintetis atau kesimpulan dari unsur-unsur cuaca (hari demi hari dan bulan
demi bulan) dalam jangka panjang di suatu tempat atau di suatu wilayah.
Klimatologi atau ilmu iklim dapat dibagi menjadi berbagai cabang keilmuan iklim.
Salah satunya adalah klimatologi yang menekankan pembahasan tentang
permasalahan iklim di bidang pertanian (Handoko, 1995).
Oldeman (1979) mengklasifikasikan iklim berdasarkan pertumbuhan
vegetasi. Kriteria dalam klasifikasi iklim ini didasarkan pada perhitungan bulan
basah (BB), bulan lembab (BL), dan bulan kering (BK) yang batasannya
memperhatikan peluang hujan, hujan efektif, dan kebutuhan air tanaman. Dalam
penentuan klasifikasi iklimnya, Oldeman menggunakan ketentuan panjang periode
bulan dan bulan kering berturut-turut. Untuk keperluan praktis klasifikasi iklim
menurut Oldeman ini cukup berguna khususnya dalam klasifikasi lahan pertanian
pangan di Indonesia. Bulan basah adalah bulan dengan rata-rata curah hujan lebih
besar 200 mm, bulan lembab adalah bulan dengan rata-rata curah hujan100 mm –
200 mm, sedangkan bulan kering adalah bulan dengan rata-rata curah hujan lebih
kecil 100 mm, angka 200 mm dipergunakan dengan alasan kebutuhan air tanaman
padi sawah termasuk perkolasinya mendekati angka sekitar 200 mm. Sedangkan
angka 100 mm karena untuk tanaman palawija akan kekurangan air jika curah hujan
lebih kecil dari 100 mm. Setelah menentukan kriteria bulan basah dan bulan kering
langkah selanjutnya adalah mencari harga rerata curah hujan masing-masing bulan.
Dari situ ditentukan berapa bulan basah dan bulan kering yang berturutan
(Wisnubroto, 1999).
yang didasarkan kepada jumlah bulan kering berturut-turut, termasuk pembagian
iklim utama dan subdivisinya. Dari 5 iklim utama dan 4 subdivisinya tersebut maka
tipe iklim dapat dikelompokkan menjadi 16 daerah agroklimat Oldeman mulai dari
A1 sampai E5 (Guslim, 2007).
Topografi
Topografi (relief) adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah,
termasuk perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Peran topografi melalui 4 cara,
yaitu :
1. Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah.
2. Kedalaman air tanah.
3. Besarnya erosi yang terjadi.
4. Arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat
yang tinggi ke tempat yang rendah.
(Hanafiah, 2005).
Topografi mempengaruhi pembentukan tanah secara langsung menyebabkan
terbukanya permukaan bumi terhadap pengaruh matahari, angin dan udara dan
secara tak langsung mempengaruhi drainase run off. Melihat pengaruhnya terhadap
genesis tanah, pada garis besarnya dapat dibedakan atas :
tempat penggenangan air atau penimbunan bahan yang dihanyutkan.
2. Topografi miring : permukaan tanah miring yang menampakkan adanya
tanda-tanda run off yang lambat dan adanya erosi kecil yang oleh
vegetasi lebat biasanya tersembunyi.
3. Topografi curam : permukaan tanah curam sudah jelas menampakkan
tanda-tanda run off dan erosi yang merusak, hanya tak tampak jika
tertutup hutan.
(Darmawijaya, 1992)
Sifat Fisik Tanah
Sebagai benda alam, tanah merupakan sistem dispersi tiga fase yang selalu
berada dalam keseimbangan dinamis. Ketiga fase tersebut, yaitu fase padat, fase cair
dan fase gas, merupakan sistem yang selalu berubah tetapi selalu berada dalam
keadaan seimbang. Pada keadaan kering, misalnya rongga yang ditempati udara
tanah lebih banyak dibandingkan rongga yang ditempati cairan. Jika tanah itu
berubah menjadi basah, baik yang terjadi akibat pengairan atau hujan, maka rongga
yang berisi udara berkurang dan rongga yang berisi cairan bertambah. Jika tanah
digemburkan, misalnya dengan pengolahan tanah, maka bagian relatif yang terisi
udara bertambah, dan bagian relatif padatan berkurang. Sebaliknnya, jika tanah
Sifat fisis tanah tergantung pada jumlah, bentuk, susunan dan komposisi
mineral dari partikel-partikel tanah, macam dan jumlah bahan organik, volume dan
bentuk pori-porinya serta perbandingan air dan udara menempati pori-pori pada
waktu tertentu. Beberapa sifat fisik tanah yang terpenting adalah tekstur, bobot isi,
porositas dan permeabilitas.
A. Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi-fraksi pasir,
debu, dan liat. Tekstur tanah penting kita ketahui karena komposisi ketiga fraksi
butir-butir tanah tersebut akan menentukan sifat fisik tanah. Jika tanah lapisan atas
yang bertekstur liat dan dan berstruktur granuler mempunyai bobot isi 1,0 sampai
dengan 1,3 gr/cm3 , sedangkan yang bertekstur kasar mempunyai bobot isi antara 1,3
sampai dengan 1,8 gr/cm3 dan bobot isi air yaitu 1 gr/cm3 (Hanafiah, 2005).
Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro
(besar) disebut lebih porous, tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai
pori-pori messo (sedang) agak porous, sedangkan yang didominasi liat akan banyak
mempunyai pori-pori mikro atau tidak poreus. Makin porous tanah maka akan
mudah akar untuk berpenetrasi serta makin mudah air dan udara untuk bersirkulasi
(drainase dan aerasi baik : air dan udara banyak tersedia bagi tanaman), tetapi
makin mudah pula air untuk hilang dari tanah. Makin tidak porous tanah maka akan
makin sulit akar untuk berpenetrasi serta makin sulit air dan udara untuk
bersirkulasi (drainase dan aerasi buruk : air dan udara sedikit tersedia), tetapi air
debu dan lempung akan akan mempunyai ketersediaan yang optimum bagi
tanaman, namun dari segi nutrisi tanah lempung lebih baik dari tanah bertekstur
debu (Foth, 1998).
Tekstur tanah dibagi menjadi 12 kelas dan pada diagram segitiga tekstur
tanah USDA. Tanah yang berkomposisi ideal adalah 22,5 – 52,5 % pasir, 30 – 50 %
debu, dan 10 -30 % liat dan disebut bertekstur lempung.
Berdasarkan kelas tekstur tanahnya maka tanah digolongkan menjadi :
a. Tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang
mengandung minimal 70% pasir atau bertekstur pasir atau pasir berlempung
b. Tanah bertekstur halus atau tanah berliat berarti tanah yang mengandung
minimal 37,5% liat atau bertekstur liat, liat berdebu atau liat berpasir.
c. Tanah bertekstur sedang atau tanah berlempung, terdiri dari :
1. Tanah bertekstur sedang tetapi agak kasar meliputi tanah yang
bertekstur lempung berpasir (sandy loam) atau lempung berpasir
halus.
2. Tanah bertekstur sedang meliputi yang bertekstur lempung berpasir
sangat halus, lempung (loam), lempung berdebu (silty loam) atau
debu (silt).
liat berdebu (sandy silt loam).
Tanah berlempung merupakan tanah dengan proporsi pasir, debu dan liat
sedemikian rupa sehingga sifatnya berada diantara tanah berpasir dan berliat. Jadi
aerasi dan tata udara serta air yang cukup baik, kemampuan menyimpan,
menghantarkan dan menyediakan air untuk tanaman tinggi serta mampu
menyediakan hara tanaman (Islami dan Utomo, 1995).
B. Bobot Isi
Bobot isi atau kerapatan massa tanah kondisi lapangan yang
dikering-ovenkan persatuan volume. Contoh tanah yang digunakan untuk menetapkan berat
jenis harus diambil secara hati-hati dari dalam tanah. Pengambilan contoh tanah
tidak boleh merusak struktur tanah asli. Terganggunya struktur tanah dapat
mempengaruhi jumlah pori-pori tanah, demikian pula berat persatuan volume.
Gumpal-gumpal tanah yang diambil dari lapangan untuk penentuan kerapatan isi
atau bobot isi itu dibawa ke laboratorium untuk dikering-ovenkan dan ditimbang
(Darmawidjaja, 1992).
C. Porositas
Porositas adalah proporsi ruang pori total (ruang kosong) yang terdapat
dalam satuan volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara, sehingga
indikator kondisi drainase dan aerasi tanah (Kartasapoetra, 1989).
pori-pori tanah tidak mudah tertutup oleh partikel tanah halus hingga infiltrasi
tertahan dan run off menjadi besar (Sarief, 1985).
Gumpal tanah yang digunakan untuk menentukan kerapatan isi juga dapat
pula digunakan untuk menentukan ruang pori-pori total. Untuk menentukan ruang
pori-pori, gumpalan tanah diletakkan di atas pan yang berisi air, hingga tanah jenuh
air dan kemudian tanah ditimbang. Persentase volume yang ditempati oleh
pori-pori kecil, dalam tanah-tanah berpasir adalah rendah, yang menunjukkan kapasitas
memegang air yang rendah. Sebaliknya pada top soil bertekstur halus, memiliki
lebih banyak ruang pori total yang sebagian besar terdiri dari pori-pori kecil.
Hasilnya adalah tanah dengan kapasitas memegang air yang besar (Foth, 1998)
Tanah yang mempunyai struktur yang baik, ruang porinya tinggi sehingga
bobot volumenya rendah. Apabila terjadi seperti itu maka akan sangat berpengaruh
pada tingkat penyediaan oksigen di daerah perakaran dan pada akhirnya juga akan
mempengaruhi kemampuan tanaman untuk menyerap hara. Nilai porositas pada
tanah pertanian bervariasi dari 40 sampai 60%. Porositas dipengaruhi oleh ukuran
partikel dan struktur. Tanah berpasir mempunyai porositas rendah (40%) dan tanah
lempung mempunyai porositas tinggi, jika strukturnya baik dapat mempunyai
porositas 50-60% (Islami dan Utomo, 1995).
Permeabilitas merupakan tanah untuk mentransfer air atau udara.
Permeabilitas biasanya diukur dengan istilah jumlah air yang mengalir melalui
tanah dalam waktu yang tertentu dan ditetapkan sebagai cm/jam.
E. Kedalaman Efektif
Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman tanah yang baik bagi
pertumbuhan akar tanaman, yaitu sampai pada lapisan yang tidak dapat ditembus
akar tanaman. Kedalaman efektif tanah diklasifikasikan sebagai berikut :
K0 = lebih dari 90 cm (dalam)
K1 = 90 cm sampai 50 cm (sedang)
K2 = 50 cm sampai 25 cm (dangkal)
K3 = kurang dari 25 cm (sangat dangkal)
(Arsyad, 1989)
Hubungan Antara Air Permukaan dan Air Tanah
Menurut Sosrodarsono dan Takeda (1980), air tanah adalah air yang bergerak
di dalam tanah yang terdapat di dalam ruang- ruang antar butir-butir tanah dan di
dalam retak-retak batuan. Linsley et al (1989), menyebutkan sumber-sumber air
tanah antara lain : air meteorik (meteoric water), hampir semua air tanah
merupakan air meteorik yang berasal dari hujan, air tersekap (connate water),
terdapat pada batuan pada pembentukannya dan seringkali banyak mengandung
jumlah kecil.
Jika suatu aliran berhubungan langsung dengan air tanah pada suatu akuifer
bebas, aliran tersebut dapat menerima atau memberikan air tanah, tergantung pada
permukaan air nisbi. Ada tiga tipe sungai yang diklasifikasikan menurut permukaan
air nisbi, yaitu :
a) Aliran emeferal, yang hanya mengalir setelah terjadinya hujan badai yang
menghasilkan limpasan permukaan yang memadai. Permukaan air tanah selalu
berada di bawah dasar sungai.
b) Aliran intermitten (terputus), yang mengalir selama musim penghujan saja.
Selanjutnya debit air ini terdiri atas pemberian limpasan permukaan dan air
tanah pada dasar sungai. Permukaan air tanah berada di atas dasar sungai hanya
selama musim-musim hujan. Pada musim kemarau, permukaan tersebut berada
di bawah dasar sungai.
c) Aliran perennial (sungai permanen), mengalir sepanjang tahun dengan debit-
debit yang lebih tinggi selama musim-musim penghujan. Debit sungai terdiri
atas pemberian limpasan permukaan dan air tanah pada dasar sungai.
Permukaan air tanah selalu berada di atas dasar sungai (Sechyan, 1990)
Debit adalah suatu koefisien yang menyatakan banyaknya air yang mengalir
dari suatu sumber per satuan waktu, biasanya diukur dalam satuan liter per detik.
Untuk memenuhi kebutuhan air pengairan (irigasi bagi lahan-lahan pertanian),
debit air harus lebih cukup untuk disalurkan ke saluran-saluran
(induk-sekunder-tersier) yang telah dipersiapkan di lahan-lahan pertanian (Dumairy, 1992).
Agar supaya penyaluran air pengairan ke suatu areal lahan pertanian dapat
diatur dengan sebaik-baiknya (dalam arti tidak berlebihan atau agar dapat
dimanfaaatkan seefisien mungkin) maka dalam pelaksanaannya perlu dilakukan
pengukuran-pengukuran debit air. Dengan distribusi yang terkendali, dengan
bantuan pengukuran-pengukuran tersebut, maka masalah kebutuhan air pengairan
selalu teratasi tanpa menimbulkan gejolak di masyarakat petani pemakai air
(Kartasapoetra, 1994).
Pengukuran debit dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain :
a) Pengukuran volume air sungai
b) Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas
penampang melintang sungai (untuk pengukuran kecepatan digunakan
pelampung atau pengukur arus dengan kincir)
c) Pengukuran dengan menggunakan bahan kimia (pewarna) yang dialirkan dalam
aliran sungai.
(Arsyad, 1989).
Dari berbagai cara tersebut di atas, yang paling sering dilakukan adalah cara
ke-b, pengukuran berdasarkan kecepatan aliran dan luas penampang melintang,
sebab mudah dilaksanakan. Debit air sungai yang diukur dengan cara ini dapat
dihitung berdasarkan rumus :
Q = V x A ………... (1)
Dimana :
Q = Debit air (m3/detik)
V = Kecepatan aliran air rata-rata (m/detik)
A = Luas penampang yang melintang (m3)
(Asdak, 1995).
Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (dalam m/detik) adalah :
V = t L
………. (2)
Dimana :
L = Jarak antara dua titik pengamatan (m)
T = Waktu perjalanan benda apung (detik)
(Linsley dan Franzini, 1989).
Irigasi adalah usaha pengadaan dan pengaturan air secara buatan, baik air
tanah maupun air permukaan, untuk menunjang pertanian. Pengaturan pengairan
bagi pertanian tidak hanya tertuju untuk penyediaan air di daerah-daerah yang
kurang mendapatkan curah hujan saja, melainkan juga untuk mengurangi
berlimpahnya air hujan di daerah-daerah yang kelebihan air dengan maksud untuk
mencegah peluapan air dan kerusakan tanah (Kodoatie dan Sjarief, 2005).
Berdasarkan teknik bangunannya, irigasi digolongkan menjadi irigasi teknis,
irigasi semi teknis, dan irigasi sederhana. Irigasi teknis adalah irigasi yang
dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan atau teknik bangunan air, wilayah
layanannya sangat luas, sumber airnya juga besar, berupa sungai atau waduk yang
besar. Irigasi semi teknis adalah irigasi yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip
teknik bangunan air tetapi hanya untuk melayani wilayah yang tidak begitu luas,
meliputi 2 – 4 desa. Sumber airnya merupakan sungai yang tidak begitu besar.
Irigasi sederhana adalah irigasi yang dibuat secara sangat sederhana, hanya
melayani satu desa, sumber airnya berupa sungai yang kecil (Kartasapoetra, 1994).
Yang dimaksud dengan jaringan irigasi adalah prasarana irigasi, yang pada
pokoknya terdiri dari bangunan dan saluran pemberi air pengairan beserta
perlengkapannya. Berdasarkan pengelolaannya dapat dibedakan menjadi :
1. Jaringan Irigasi Utama
Meliputi bangunan bendung, saluran-saluran primer dan sekunder termasuk